Anda di halaman 1dari 1

Dompet dari kulit ular dan buaya hukumnya haram.

Karena dompet tersebut terbuat dari


kulit yang tidak boleh dimanfaatkan, yaitu kulit dari binatang yang haram dimakan, yang dalam
kasus ini adalah ular dan buaya.
Dalil haramnya memanfaatkan kulit binatang yang haram dimakan, adalah hadits tentang
bangkai kambing milik Maimunah ra. Rasulullah SAW bertanya kepada para shahabat,
Mengapa kalian tidak mengambil kulitnya? Mereka menjawab,Bangkai kambing itu adalah
najis. Maka bersabda Rasulullah SAW,Kulit apa pun yang sudah disamak, maka ia menjadi
suci. Karena sesungguhnya menyamaknya sama dengan menyembelihnya. (ayyumaa ihaabin
dubigha faqad thahura, fa-inna dabghahu dzakaatuhu). (HR Ahmad no 1895 & 2003,
Daruquthni no 127, Abu Dawud Ath Thayalisi, 1/217, hadits shahih).
Syeikh Atha Abu Ar Rasytah menjelaskan bahwa dalam hadits di atas terdapat illat
(alasan penetapan hukum) bolehnya memanfaatkan kulit bangkai, yaitu adanya penyamakan
kulit dari binatang yang halal dimakan. (Atha Abu Ar Rasytah, Taisir Wushul Ila Al Ushul, hlm.
163; Al Mausuah Al Fiqhiyyah, 15/251).
Demikian pula sebaliknya, jika illat tersebut tidak ada, yaitu jika yang disamak adalah
kulit dari binatang yang haram dimakan, maka hukumnya haram memanfaatkan kulitnya. Hal ini
berdasarkan kaidah fiqih: al hukmu al muallal yaduuru maa illatihi wujuudan wa
adaman (hukum yang mengandung illat beredar mengikuti illatnya, baik pada saat illat itu ada
maupun pada saat illat itu tidak ada). (M. Khair Haikal, Al Jihad wa Al Qital fi As Siyasah As
Syariyyah, 1/340).
Padahal telah terdapat dalil-dalil syari yang mengharamkan memakan ular dan buaya.
Keharaman memakan ular, karena ada hadits shahih bahwa Nabi SAW telah memerintahkan
untuk membunuh ular. (HR Bukhari no 3297, Muslim no 2233, Abu Dawud no 5252, Tirmidzi
no 1483). (Syihabuddin Asy Syafii, At Tibyan Limaa Yuhallal wa Yuharram min Al Hayawan,
hlm. 65). Imam Syaukani dalam Nailul Authar menjelaskan bahwa adanya perintah syara untuk
membunuh suatu binatang, merupakan dalil haramnya memakan binatang itu. (Imam
Syaukani, Nailul Authar, 10/211).
Adapun keharaman memakan buaya, karena ada hadits shahih yang melarang memakan
binatang buas yang bertaring. Dari Abu Tsalabah Al Khusyani ra bahwa Rasulullah SAW
bersabda, Setiap-tiap binatang buas yang mempunyai taring, maka memakannya adalah
haram. (kullu dzi naabin min as sibaa` fa-akluhu haram). (HR Ahmad, Muslim, Tirmidzi, &
Nasa`i). (Imam Syaukani, Nailul Authar, 10/192).
Berdasarkan dalil-dalil syari di atas, jelaslah bahwa ular dan buaya haram dimakan.
Maka dari itu, jika kulit ular dan kulit buaya disamak, lalu dibuat menjadi dompet, atau tas, atau
jaket, atau barang yang semisalnya, haram hukumnya untuk memanfaatkannya.
Di samping haram memanfaatkan, haram pula memproduksi dan menjualbelikan dompet
dari kulit ular dan kulit buaya. Keharaman memproduksi dompet dari kulir ular dan buaya,
didasarkan pada sebuah kaidah fikih: ash shinaaatu ta`khudzu hukma maa tuntijuhu (hukum
membuat/memproduksi barang mengikuti hukum barang yang dihasilkan). (Abdurrahman Al
Maliki, As Siyasah Al Iqtishadiyah Al Mutsla, hlm. 30; Taqiyuddin An Nabhani, Muqaddimah Ad
Dustur, 2/135).
Adapun keharaman menjualbelikan dompet dari kulir ular dan buaya, didasarkan pada
sebuah kaidah fikih: kullu maa hurrima ala al ibaad fa-baiuhu haraam (setiap-tiap benda
yang telah diharamkan syara atas para hamba, maka menjualbelikannya haram pula hukumnya).
(Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakhshiyyah Al Islamiyyah, 2/287). Wallahu alam.