Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

Lesi kistik pada ovarium sering ditemukan selama masa anak dan

remaja, seiring dengan aktivasi beberapa hormon reproduksi dan masa

pertumbuhan1,2. Penyebab dari timbulnya lesi kistik pada anak dan masa remaja

diduga karena pengaruh dari hormon steroid yang masih belum stabil dan adanya

pertumbuhan dari organ reproduksi yang dipengaruhi oleh hormon spesifik.

Secara umum, penanganan lesi kistik ovarii pada masa anak dan remaja

diharapkan dengan metode yang non invasif dengan tujuan meningggalkan

jaringan sehat ovarium lebih banyak, dan diperlukan pengawasan jangka panjang

mengenai gejala yang mungkin timbul sebagai akibat dari prosedur yang kita

lakukan1,2,3.

Meskipun sering ditemukan, kista ovarii pada masa anak hanya 1,5%

yang didiagnosis dengan carcinoma ovarii3,4. Dari penelitian yang dilakukan oleh

Chu dkk mendapatkan sebagian besar jenis histopatologi pada tumor ovarium

adalah jenis teratoma2,3.

Mengingat fungsi reproduksi dan kelangsungan hormonal yang masih

sangat dibutuhkan, diagnosis dan manajemen yang tepat menentukan keberhasilan

dari penanganan tumor ovarium pada masa anak dan remaja2,3.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Etiologi dari kista ovarii pada masa anak


Jaringan ovarium berkembang dari tiga komponen embriologi:

jaringan mesenkim dari duktus urogenital, epitel germinal yang meliputi duktus

urogenital dan germ sel yang berkembang dari yolk sac. Folikel dari ovarium

berkembang dari ketiga komponen di atas. Proliferasi dari folikel ovarium dimulai

dari usia gestasi 6-8 minggu. Pada kehamilan 16-20 minggu, oocyte dibentuk dari

granulosa sel, dimana sel ini berkembang dari epitel germinal, dan saat inilah

dimulainya perkembangan folikel. Saat bayi lahir, dan dimulainya periode

kehidupan jumlah folikel yang bertahan akan tereduksi dan hanya sebagian kecil

saja yang dapat menjadi folikel matur saat perempuan menjadi dewasa5,6.

Gambar 1. Prevalensi jenis histopatologi tumor ovarium pada masa anak4


Saat masih dalam kandungan, perkembangan folikel fetus dipengaruhi

oleh kadar estrogen maternal, kadar HCG plasenta dan fetal gonadotropin. Adanya

kista pada fetus juga dipengaruhi adanya faktor maternal, seperti diabetes

gestasional, pengobatan tamoxifen dan Rh isoimunization, yang dimungkinkan

karena hal diatas dapat mempengaruhi peningkatan yang pesat dalam produksi

2
HCG palsenta. Karena pengaruh hormon-hormon tadi, adanya folikel pada fetus

dapat terlihat melalui pemeriksaan USG pada kehamilan 28-32 minggu. Setelah

kelahiran, hampir 98% bayi wanita memiliki kista dengan ukuran kecil yang dapat

terdeteksi melalui pemeriksaan USG. Sekitar 20% kista ini berukuran > 9 mm5,6,7.
Setelah kelahiran, terjadi penurunan serum estrogen dan HCG, karena

terputusnya pengaruh hormon maternal. Menariknya, fetal gonadotropin (FSH

dan LH) menurun selama trimester akhir kehamilan, tapi kemudian meningkat

lagi setelah kelahiran. Kadar FSH dan LH pada bayi baru lahir mencapai puncak

pada usia 3-4 bulan, sebagai respon dari menurunnya pengaruh estrogen maternal

(postnatal estrogen). Kadar FSH dan LH kemudian menurun, sampai periode

pubertas, atau berada pada level datar pada usia 2-3 tahun. Peningkatan kadar

gonadotropin setelah kelahiran dan bertahan sampai beberapa bulan kelahiran

berperan dalam terjadinya maturitas Hipotalamus-pituitary-ovarium axis

(ganadosat). Setelah gonadosat mature, hipotalamus dan pituitary akan sensitif

terhadap adanya umpan balik negatif akibat rendahnya kadar sex steroid, yang

berakibat pada kembalinya kadar FSH dan LH ke batas normal untuk masa

pubertas. Pada keadaan terganggunya pematangan dari gonadosat ini yang

menyebabkan terganggunya regulasi steroid sex pada masa anak dan remaja, dan

diduga sebagai penyebab dari timbulnya kista yang persisten6,7.


Timbulnya kista ovarii pada masa anak disebabkan karena kegagalan

dari involusi folikel. Stimulasi ovarium pada masa anak tergantung dari

gonadotropin yang berkembang sesuai dengan maturitas dari gonadosat. Sekitar 2-

3% semua anak perempuan < 8 tahun dapat diidentifikasi melalui USG adanya

kista dengan ukuran kecil, yaitu diameter < 9 mm. Ukuran kista tunggal dengan

3
diameter < 1 cm dianggap sebagai kista normal dan tidak memerlukan evaluasi

jangka panjang6.7.
B. Gejala klinis
Pada keadaan kista ovarii dengan ukuran kecil, umumnya tidak

menimbulkan gejala atau keluhan apa-apa pada anak atau remaja. Chu dan kawan-

kawan dalam penelitiannya pada 37 anak dengan diagnosis kista ovarii didapatkan

gejala klinis adalah: nyeri abdomen intermiten (48,6%), nyeri akut abdomen

(16,2%), teraba masa diabdomen/abdominal distention (27,0%), mual, muntah

dan penururnan nafsu makan (16,2%), pubertas prekok (5,4%) dan terdiagnosis

secara tidak sengaja (21,6%) kasus1,8,9.


C. Diagnosis Pencitraan
Dengan berkembangnya USG dengan resolusi tinggi, penegakan

diagnosis adanya kista ovarii pada masa anak dapat dilakukan dengan mudah.

Adanya gambaran lesi hipoekoic pada daerah adneksa menunjukan adanya

perkembangan kista pada anak5.

Gambar 2. Diagnosis kista ovarii prenatal5


Penemuan dari pemeriksaan USG ini harus dikonfirmasi dengan

penemuan klinis yang berhubungan dengan adanya gangguan dari fungsi dan

perkembangan steroid sex yang diharapkan dapat membantu dalam menegakan

diagnosis adanya gangguan pada ovarium. Kista dengan ukuran besar,

4
memerlukan evaluasi dan pemeriksaan lebih lanjut, terutama kemungkinan adanya

diferensiasi ke arah keganasan.

Gambar 3. Gambaran kista ovarii unilokulare dan multi lokulare5

D. Manajemen
D.1. penanganan kista ovarii periode fetal
Manajemen fetal cyst dengan ukuran yang besar pernah dilakukan

beberapa ahli bedah, namun hasilnya masih menjadi perdebatan. Fetal cyst masif

dengan ukuran besar berhubungan dengan kejadian polihidramnion, hipoplasi

pulmonal dan distosia, dan pada keadaan ini aspirasi prenatal dapat

dipertimbangkan untuk mereduksi massa kista. Beberapa ahli bedah

merekomendasikan dilakukannya aspirasi kista prenatal bila ukuran kista > 4 cm.

Bagolan melaporkan 14 kasus aspirasi kista prenatal dan dalam evaluasi tidak ada

komplikasi aspirasi yang terjadi, dan tidak memerlukan tindakan pembedahan

lanjutan setelah kelahiran. Dibandingkan dengan kontrol grup, dimana dari 13

janin yang terdiagnosis adanya kista prenatal dan tidak dilakukan intervensi 11

dari 13 anak memerlukan tindakan bedah setelah masa kelahiran. Pada penelitian

ini, ukuran kista yang dilakukan intervensi prenatal adalah anatara 2,1-3,0 cm pad

kehamilan 35 minggu10,11,12.
Namun, walaupun dari penelitian ini aspirasi kista prenatal

memberikan hasil yang baik, data penelitian selanjutnya masih sangat sedikit,

5
sehingga belum dapat dijadikan acuan terapi dan intervensi untuk kasus fetal cyst,

kecuali dengan ukuran kista yang sangat besar, atau menimbulkan komplikasi

berupa torsi kista.

D.2. penanganan kist aovarii pada masa anak


Manajemen dari kista ovarii pada anak tergantung dari ukuran kista

dan adanya gangguan yang ditimbulkan. Kista dengan ukuran yang besar atau

adanya komplikasi torsi kista memerlukan tindakan pembedahan. Pada kista

ovarii yang permagna, sering menimbulkan gejala gangguan respirasi karena

adanya kompresi dari vena cava. Selain itu, gejala akut yang berbahaya adalah

terjadinya torsi kista dan perdarahan intra abdomen sampai terjadinya syok.

Semua kista yang menimbulkan komplikasi memerlukan intervensi

pembedahan13,14.
Kista ovarii berapapun ukurannya, dengan gambaran komplek dengan

septa, adanya bagian padat atau perdarahan, memerlukan manajemen yang hati-

hati. Seperti pada orang dewasa, kista dengan struktur komplek, bersepta dengan

bagian padat berhubungan dengan sifat neoplasma. Dalam era modern, belum ada

laporan ditemukannya kista neoplasma pada awal kelahiran. Namun dalam

faktanya, pernah dilaporkan kejadian neoplasma ovarii pada kedua ovarium bayi

umur 30 minggu pada tahun 194510,11. Keganasan yang paling sering dijumpai

pada tumor ovarium masa anak adalah teratoma maligna.


Kista ovarii pada anak dengan ukuran < 2,5 cm dapat dianggap

sebagai kista yang normal. Kista dengan ukuran 4-5 cm memerlukan observasi

dimana kemungkinan dapat terjadi resolusi spontan. Yang masih menjadi

kontroversi adalah ukuran kista < 5 cm dengan bagian kompleks. Sampai

6
sekarang belum ada laporan tentang penanganan dan prognosis dari kista ovarii

dengan ukuran < 5 cm dimana terdapat bagian kompleks15.


Pada kista ovarii yang besar (> 5cm) direkomendasikan untuk

dilakukan intervensi pembedahan, karena risiko untuk terjadinya torsi kista cukup

tinggi. Kejadian torsi kista pada anak cukup tinggi. Hal ini dikarenakan anatomi

dari rongga abdomen anak, dengan rongga pelvis yang relatif sempit, sehingga

masa kista cenderung terdorong ke rongga abdomen dan pergerakan ini

menimbulkan risiko meningkatnya kejadian torsi kista pada anak15.


Dalam suatu review, dari 257 anak dengan diagnosis kista ovarii,

didapatkan 69 pasien dengan komplikasi torsi kista dan dilakukan tindakan

unilateral oovorectomy2.
Selain tindakan pembedahan (open surgery) pilihan terapi kista pada

masa anak atau bayi adalah dengan melakukan aspirasi perkutaneus atau dengan

tehnik laparoskopy. Laporan kasus mendapatkan, aspirasi kista yang cukup besar

saat masa bayi, mendapatkan hasil yang baik tanpa didapatkan adanya rekurensi

setelah tindakan. Logika ini sejalan dengan makin bertambahnya usia, sehingga

keseimbangan sex hormon terjadi, dan kista tersebut dapat mengalami resolusi

spontan. Aspirasi kista ini juga dapat menghindarkan dari komplikasi terjadinya

torsi kista. Yang harus hati-hati adalah, aspirasi kista tidak direkomendasikan pada

jenis kista kompleks, terutama yang memiliki bagian padat, mengingat risiko

adanya neoplasma dan risiko perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah kista

saat dilakukan aspirasi. Dalam hal ini, pembedahan atau laparoskopi dapat

dipertimbangkan untuk penanganan kista pada anak6,711.


Pada masa pre pubertas, kejadian adanya kista ovarii ditemukan pada

89,2% kelompok umur ini, namun 65% akan mengalami resolusi spontan.

Indikasi dilakukannya intervensi pembedahan termasuk kista yang persisten,

7
kecurigaan adanya tranformasi malignancy atau adanya gejala klinis. Yang masih

menjadi kontroversi adalah, kista ukuran berapa yang dapat mengalami resolusi

spontan. Rekomendasi yang diberikan, kista pada anak harus mengalami

penurunan ukuran dalam observasi 2-3 minggu setelah ditemukanya kista. Bila

terjadi penurunan ukuran, monitoring USG dilakukan setiap bulan sampai terjadi

resolusi spontan. Jika kista tidak mengalami penurunan ukuran setelah evaluasi 1-

6 bulan, intervensi pembedahan diperlukan, sebab risiko keganasan mungkin

terdapat pada kista persisten atau dengan bagian kompleks12,13.

E. Follow up setelah tindakan


Beberapa ahli bedah tidak khawatir dengan prognosis pasca prosedur

yang dilakukan dalam penanganan kista pada bayi dan anak, bila didasarkan

hasil/temuan: (1) kista jelas berasal dari organ ovarium, (2) tidak ditemukan

adanya komponen padat pada kista, atau adanya kecurigaan perdarahan pada

kista, (3) AFP dan -HCG normal, (4) pada pasien asimptomatik5,6.
Observasi dari kista pada anak juga dapat diprediksi dari riwayat

perjalanan penyakitnya. Luzzatto (2000) melaporkan 27 diagnosis prenatal kista

ovarii. 5 pasien dilakukan eksisi setelah kelahiran, 2 dilakukan aspirasi dengan

jarum. 20 kasus dilakukan evaluasi, 7 kasus didapatkan kista simpel dan 13 kasus

dengan kista komplek. Seluruh kista simpel mengalami resolusi setelah 12 bulan.

3 kasus dengan kista kompleks tidak mengalami resolusi setelah pengamatan pada

bulan 6, 8 dan 17.12

8
Pasien dengan kista simpel atau komplek dapat dilakukan observasi,

selama itu tidak ada keluhan. Bila dalam pengamatan terdapat keluhan, atau

bahkan progresive, intervensi pembedahan diperlukan. Tidak ada kesepakatan

jangka waktu yang diperlukan untuk melakukan follow up pada kista ovarii masa

anak. Namun, dari beberapa penelitian, rata-rata terjadinya resolusi adalah anatara

usia10 bulan9,10.

BAB III
KESIMPULAN

Walaupun insidenya relatif jarang, kejadian kista ovarii pada anak

masih sering ditemukan. Sebagian besar jenis histopatologi dari kista ovarii pada

anak adalah teratoma.


Diagnosis dari kista ovarii dapat ditegakan sejak masa prenatal,

terutama dengan perkembangan kemajuan USG dengan resolusi tinggi.


Manajemen dari kista ovarii pada masa anak dan remaja tergantung

dari ukuran dan adanya gejala klinis yang ditimbulkan, termasuk keadaan

emergency misalnya pada torsi kista.


Setelah terapi, follow up yang berkesinambungan diperlukan untuk

menilai adanya kista yang persisten, atau perkembangan ke arah malignancy.

9
Namun, pada kista simplek, resolusi spontan akan terjadi dalam waktu usia 10

bulan seiring dengan perkembangan organ reproduksi dan hormon sex steroid.

DAFTAR PUSTAKA

1. Helmrath MA, Shin CE, Warner BW. Ovarian cysts in the pediatric

population. Semin Pediatr Surg 1998;7:19-28.


2. Strickland JL. Ovarian cysts in neonates, children and adolescents. Curr

Opin Obstet Gynecol 2002;14:459-65.


3. Dolgin SE. Ovarian masses in the newborn. Semin Pediatr Surg 2000;

9:121-7.
4. Vogtlander MF, Rijntjes-Jacobs EG, van den Hoonaard TL, et al. Neonatal

ovarian cysts. Acta Paediatr 2003;92:498-501.


5. Bryant AE, Laufer MR. Fetal ovarian cysts: incidence, diagnosis and

management. J Reprod Med 2004;49:329-37.


6. Luzzatto C, Midrio P, Toffolutti T, et al. Neonatal ovarian cysts:

management and follow-up. Pediatr Surg Int 2000;16:56-9.


7. Chiaramonte C, Piscopo A, Cataliotti F. Ovarian cysts in newborns.

Pediatr Surg Int 2001;17:171-4.


8. Perrotin F, Potin J, Haddad G, et al. Fetal ovarian cysts: a report of three

cases managed by intrauterine aspiration. Ultrasound Obstet Gynecol

2000;16:655-9.
9. Bagolan P, Giorlandino C, Nahom A, et al. The management of fetal

ovarian cysts. J Pediatr Surg 2002;37:25-30


10. Karmazyn B, Steinberg R, Ziv N, et al. Colonic stricture secondary to

torsion of an ovarian cyst. Pediatr Radiol 2002;32:25-7.

10
11. Havlik DM, Nolte KB. Sudden death in an infant resulting from torsion of

the uterine adnexa. Am J Forensic Med Pathol 2002;23:289- 91.


12. Tseng D, Curran TJ, Silen ML. Minimally invasive management of the

prenatally torsed ovarian cyst. J Pediatr Surg 2002;37:1467-9.


13. Dobremez E, Moro A, Bondonny JM, et al. Laparoscopic treatment of

ovarian cyst in the newborn. Surg Endosc 2003;17:328-32.


14. Naik B, Cass D, Brandt M. Spontaneous resolution of prenatal ovarian

torsion. In Progress, 2004. Presented at the Canadian Association of

Pediatric Surgery, September 2004.


15. Muehlstedt S, Hicks MJ, Brandt ML, et al. Incidence of viable ovarian

tissue after resection for ovarian torsion in children. Submitted for

Publication, 2004. Presented at the American Academy of Pediatrics, San

Francisco, October 2004

11