Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN EPIDURAL HEMATOMA


Disusun untuk Memenuhi Tugas Laporan Individu Profesi Ners Departemen Surgical di
Ruang 12 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Oleh :
NI KOMANG MIMING WIDIYASIH
150070300011061
KELOMPOK 7

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN EPIDURAL HEMATOMA
DI RUANG 12

Oleh :
Ni Komang Miming Widiyasih
NIM. 150070300011061

Telah diperiksa dan disetujui pada :


Hari :
Tanggal :

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

(____________________________) (___________________________)
NIP : NIP.
LAPORAN PENDAHULUAN

A. KONSEP ANATOMI FISIOLOGI OTAK

Otak dilindungi dari cedera oleh rambut, kulit, dan tulang yang membungkusnya.
Tanpa perlindungan ini, otak yang lembut akan mudah sekali terkena cedera dan mengalami
kerusakan. Selain itu, begitu rusak, neuron tidak dapat diperbaiki lagi. Tepat di atas
tengkorak terletak galea aponeurotika, yaitu jaringan fibrosa padat, dapat digerakkan
dengan bebas, yang membantu menyerap kekuatan trauma eksternal.Di antara kuliat dan
galea terdapat suatu lapisan lemak dan lapisan membrane dalam yang mengandung
pembuluh-pembuluh besar. Bila robek, pembuluh-pembuluh ini sukar mengadakan
vasokontriksi dan dapat menyebabkan kehilangan darah bermakna pada penderita laserasi
kulit kepala.

Otak dibungkus oleh selubung mesodermal, meninges. Lapisan luarnya adalah


pachymeninx atau duramater dan lapisan dalamnya, leptomeninx, dibagi menjadi
arachnoidea dan piamater.

1. Durameter

Dura kranialis atau pachymeninx adalah suatu struktur fibrosa yang kuat dengan
suatu lapisan dalam (meningeal) dan lapisan luar (periostal). Kedua lapisan dural yang
melapisi otak umumnya bersatu, kecuali di tempat di tempat dimana keduanya berpisah
untuk menyediakan ruang bagi sinus venosus (sebagian besar sinus venosus terletak di
antara lapisan-lapisan dural), dan di tempat dimana lapisan dalam membentuk sekat di
antara bagian-bagian otak.

2. Arachnoidea

Membrana arachnoidea melekat erat pada permukaan dalam dura dan hanya
terpisah dengannya oleh suatu ruang potensial, yaitu spatium subdural. Ia menutupi spatium
subarachnoideum yang menjadi liquor cerebrospinalis, cavum subarachnoidalis dan
dihubungkan ke piamater oleh trabekulae dan septa-septa yang membentuk suatu anyaman
padat yang menjadi system rongga-rongga yang saling berhubungan.

3. Piameter

Piamater merupakan selaput jaringan penyambung yang tipis yang menutupi


permukaan otak dan membentang ke dalam sulcus,fissure dan sekitar pembuluh darah di
seluruh otak. Piamater juga membentang ke dalam fissure transversalis di abwah corpus
callosum. Di tempat ini pia membentuk tela choroidea dari ventrikel tertius dan lateralis, dan
bergabung dengan ependim dan pembuluh-pembuluh darah choroideus untuk membentuk
pleksus choroideus dari ventrikel-ventrikel ini. Pia dan ependim berjalan di atas atap dari
ventrikel keempat dan membentuk tela choroidea di tempat itu.

B. KONSEP EPIDURAL HEMATOMA

1. Definisi

Epidural Hematom adalah perdarahan intrakranial yang terjadi karena fraktur tulang
tengkorak dalam ruang antara tabula interna kranii dengan duramater. Hematoma epidural
merupakan gejala sisa yang serius akibat cedera kepala dan menyebabkan angka
mortalitas sekitar 50%. Hematoma epidural paling sering terjadi di daerah perietotemporal
akibat robekan arteria meningea media.

Beberapa pengertian mengenai epidural hematoma (EDH) sebagai berikut:

a. Epidural hematom adalah salah satu akibat yang ditimbulkan dari sebuah trauma kepala
(Greenberg et al, 2002).
b. Epidural hematom adalah hematom/perdarahan yang terletak antara durameter dan
tubula interna/lapisan bawah tengkorak, dan sering terjadi pada lobus temporal dan
paretal (Smeltzer&Bare, 2001).
c. Epidural hematom sebagai keadaan neurologist yang bersifat emergency dan biasanya
berhubungan dengan linear fraktur yang memutuskan arteri yang lebih besar, sehingga
menimbulkan perdarahan (Anderson, 2005).
Gambar 1. Epidural Hematoma dan Subdural Hematoma

2. Etiologi
Epidural hematom utamanya disebabkan oleh gangguan struktur duramater dan
pembuluh darah kepala biasanya karena fraktur.Akibat trauma kapitis,tengkorak
retak.Fraktur yang paling ringan, ialah fraktur linear.Jika gaya destruktifnya lebih kuat, bisa
timbul fraktur yang berupa bintang (stelatum), atau fraktur impresi yang dengan kepingan
tulangnya menusuk ke dalam ataupun fraktur yang merobek dura dan sekaligus melukai
jaringan otak (laserasio).Pada pendarahan epidural yang terjadi ketika pecahnya pembuluh
darah, biasanya arteri, yang kemudian mengalir ke dalam ruang antara duramater dan
tengkorak.
Epidural hematom terjadi karena laserasi atau robekan pembuluh darah yang ada
diantara durameter dan tulang tengkorak akibat benturan yang menyebabkan fraktur
tengkorak seperti kecelakaan kendaraan dan trauma (Japardi, 2004). Perdarahan biasanya
bersumber dari robeknya arteri meningica media (paling sering), vena diploica (karena
fraktur kalvaria), vena emmisaria, dan sinus venosus duralis (Bajamal, 1999).

3. Patofisiologi
Epidural hematom secara khas timbul sebagai akibat dari sebuah luka atau trauma
atau fraktur pada kepala yang menyebabkan laserasi pada pembuluh darah arteri,
khususnya arteri meningea media dimana arteri ini berada diantara durameter dan
tengkorak daerah temporal. Rusaknya arteri menyebabkan perdarahan yang memenuhi
epidural. Apabila perdarahan terus mendesak durameter, maka darah akan memotong atau
menjauhkan daerah durameter dengan tengkorak, hal ini akan memperluas hematoma.
Perluasan hematom akan menekan hemisfer otak dibawahanya yaitu lobus temporal ke
dalam dan ke bawah. Seiring terbentuknya hematom maka akan memberikan efek yang
cukup berat yakni isi otak akan mengalami herniasi. Herniasi menyebabkan penekanan
saraf yang ada dibawahnya seperti medulla oblongata yang menyebabkan terjadinya
penurunan hingga hilangnya kesadaran. Pada bagian ini terdapat nervus okulomotor yang
menekan saraf sehingga menyebabkan peningkatan TIK, akibatnya terjadi penekanan saraf
yang ada diotak (Japardi, 2004 dan Mcphee et al, 2006).

4. Tanda dan Gejala


Gejala yang sangat menonjol pada epidural hematom adalah kesadaran menurun
secara progresif. Pasien dengan kondisi seperti ini seringkali tampak memardisekitar mata
dan dibelakang telinga. Sering juga tampak cairan yang keluar pada saluran hidung dan
telingah. Setiap orang memiliki kumpulan gejala yang bermacam-macam akibat dari cedera
kepala. Banyak gejala yang timbul akibat dari cedera kepala. Gejala yang sering tampak :
1. Penurunan kesadaran , bisa sampai koma

2. Bingung

3. Penglihatan kabur

4. Susah bicara

5. Nyeri kepala yang hebat

6. Keluar cairan dari hidung dan telingah

7. Mual

8. Pusing

9. Berkeringat

Tanda dan gejala yang biasanya dijumpai pada orang yang menderita epidural
hematom diantaranya adalah mengalami penurunan kesadaran sampai koma secara
mendadak dalam kurun waktu beberapa jam hingga 1-2 hari, adanya suatu keadaan lucid
interval yaitu diantara waktu terjadinya trauma kepala dan waktu terjadinya koma terdapat
waktu dimana kesadaran penderita adalah baik, tekanan darah yang semakin bertambah
tinggi, nadi semakin bertambah lambat, sakit kepala yang hebat, hemiparesis, dilatasi pupil
yang ipsilateral, keluarnya darah yang bercampur CSS dari hidung (rinorea) dan telinga
(othorea), susah bicara, mual, pernafasan dangkal dan cepat kemudian irregular, suhu
meningka, funduskopi dapat memperlihatkan papil edema (setelah 6 jam kejadian), dan foto
rontgen menunjukan garis fraktur yang jalannya melintang dengan jalan arteri meningea
media atau salah satu cabangnya (Greenberg et al, 2002).

5. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Doengoes (2004), pemeriksaan penunjang yang biasa dilakukan pada
kasus epidural hematom yaitu sebagai berikut:
1. CT Scan : untuk mengidentifikasi adanya hemoragik, menentukan ukuran ventrikuler
pergeseran otak. CT Scan merupakan pilihan primer dalam hal mengevaluasi trauma
kepala. Sebuah epidural hematom memiliki batas yang kasar dan penampakan yang
bikonveks pada CT Scan dan MRI. Tampakan biasanya merupakan lesi bikonveks
dengan densitas tinggi yang homogen, tetapi mingkin juga tampok sebagai ndensitas
yang heterogen akibat dari pencampuran antara darah yang menggumpal dan tidak
menggumpal. Pemeriksaan CT-Scan dapat menunjukkan lokasi, volume, efek, dan
potensi cedara intracranial lainnya. Pada epidural biasanya pada satu bagian saja
(single) tetapi dapat pula terjadi pada kedua sisi (bilateral), berbentuk bikonfeks,
paling sering di daerah temporoparietal. Densitas darah yang homogen (hiperdens),
berbatas tegas, midline terdorong ke sisi kontralateral. Terdapat pula garis fraktur
pada area epidural hematoma, Densitas yang tinggi pada stage yang akut ( 60 90
HU), ditandai dengan adanya peregangan dari pembuluh darah.

Gambar 2. Epidural hematoma


2. MRI : memberikan foto berbagai kelainan parenkim otak dengan lebih jelas karena
mampu melakukan pencitraan dari berbagai posisi apalagi dalam pencitraan
hematom dan cedera batang otak. MRI akan menggambarkan massa hiperintens
bikonveks yang menggeser posisi duramater, berada diantara tulang tengkorak dan
duramater. MRI juga dapat menggambarkan batas fraktur yang terjadi. MRI
merupakan salah satu jenis pemeriksaan yang dipilih untuk menegakkan diagnosis.
3. Angiografi serebral : untuk menunjukan kelainan sirkulasi serebral seperti pergeseran
jaringan otak karena edema dan trauma.
4. EEG : untuk memperlihatkan gelombang patologis.
5. Sinar X : untuk mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (fraktur), pergeseran
struktur dari garis tengah (karena perdarahan/edema), dan adanya fragmen tulang.
6. BAER (brain auditory evoked respons) : untuk menentukan fungsi korteks dan
batang otak.
7. PET (positron emmision topography): untuk menunjukan metabolisme otak.
8. Pungsi lumbal : untuk menduga kemungkinan perdarahan subarachnoid.
9. AGD : untuk melihat masalah ventilasi/oksigenasi yang meningkatkan TIK.

6. Penatalaksanaan
a. Penanganan Darurat
Dekompresi dengan trepanasi sederhana
Kraniotomi untuk mengevakuasi hematom

b. Terapi Medikamentosa
1. Memperbaiki/mempertahankan fungsi vital
Usahakan agar jalan nafas selalu babas, bersihkan lendir dan darah yang dapat
menghalangi aliran udara pemafasan. Bila perlu dipasang pipa naso/orofaringeal dan
pemberian oksigen. Infus dipasang terutama untuk membuka jalur intravena : guna-
kan cairan NaC10,9% atau Dextrose in saline.
2. Mengurangi edema otak
Beberapa cara dapat dicoba untuk mengurangi edema otak:
a. Hiperventilasi : Bertujuan untuk menurunkan paO2 darah sehingga mencegah
vasodilatasi pembuluh darah. Selain itu suplai oksigen yang terjaga dapat
membantu menekan metabolisme anaerob, sehingga dapat mengurangi
kemungkinan asidosis. Bila dapat diperiksa, paO2 dipertahankan > 100 mmHg
dan paCO2 diantara 2530 mmHg.
b. Cairan hiperosmoler : Umumnya digunakan cairan Manitol 1015% per infus
untuk menarik air dari ruang intersel ke dalam ruang intra-vaskular untuk
kemudian dikeluarkan melalui diuresis. Untuk memperoleh efek yang
dikehendaki, manitol hams diberikan dalam dosis yang cukup dalam waktu
singkat, umumnya diberikan : 0,51 gram/kg BB dalam 1030 menit. Cara ini
berguna pada kasus-kasus yang menunggu tindak-an bedah. Pada kasus biasa,
harus dipikirkan kemungkinan efek rebound; mungkin dapat dicoba diberikan
kembali (diulang) setelah beberapa jam atau keesokan harinya.
c. Kortikosteroid : Penggunaan kortikosteroid telah diperdebatkan manfaatnya
sejak beberapa waktu yang lalu. Pendapat akhir-akhir ini cenderung menyatakan
bahwa kortikosteroid tidak/kurang ber-manfaat pada kasus cedera kepala.
Penggunaannya berdasarkan pada asumsi bahwa obat ini menstabilkan sawar
darah otak. Dosis parenteral yang pernah dicoba juga bervariasi : Dexametason
pernah dicoba dengan dosis sampai 100 mg bolus yang diikuti dengan 4 dd 4
mg. Selain itu juga Metilprednisolon pernah digunakan dengan dosis 6 dd 15 mg
dan Triamsinolon dengan dosis 6 dd 10 mg.
d. Barbiturat : Digunakan untuk membius pasien sehingga metabolisme otak dapat
ditekan serendah mungkin, akibatnya kebutuhan oksigen juga akan menurun;
karena kebutuhan yang rendah, otak relatif lebih terlindung dari kemungkinan
kemsakan akibat hipoksi, walaupun suplai oksigen berkurang. Cara ini hanya
dapat digunakan dengan pengawasan yang ketat.

c. Terapi Operatif
Terapi operatif bisa menjadi penanganan darurat yaitu dengan melakukan
kraniotomi. Terapi ini dilakukan jika hasil CT Scan menunjukan volume perdarahan/hematom
sudah lebih dari 20 CC atau tebal lebih dari 1 cm atau dengan pergeseran garis tengah
(midline shift) lebih dari 5 mm. Operasi yang dilakukan adalah evakuasi hematom untuk
menghentikan sumber perdarahan sedangkan tulang kepala dikembalikan. Jika saat operasi
tidak didapatkan adanya edema serebri sebaliknya tulang tidak dikembalikan (Bajamal,
1999).
Indikasi operasi di lakukan bila terdapat :
Volume hamatom > 30 ml
Keadaan pasien memburuk
Pendorongan garis tengah > 5 mm
Fraktur tengkorak terbuka, dan fraktur tengkorak depres dengan kedalaman >1 cm
EDH dan SDH ketebalan lebih dari 5 mm dan pergeseran garis tengah dengan GCS
8 atau kurang .
Tanda-tanda lokal dan peningkatan TIK > 25 mmHg.
7. Pathway
C. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

I. Pengkajian

1) Aktivitas istirahat
Lemah, lelah, hilang keseimbangan, kaku, perubahan kesadaran, letargi, hemiparesis,
tetraplegi, dan kehilangan tonus otot.
2) Sirkulasi
Perubahan tekanan darah (hipertensi), bradikardi. Takilardi yang diselingi bradikardi.
3) Integritas ego
Perubahan tingkah laku/kepribadian, cemas, delirium, bingung, dan depresi.
4) Eliminasi
Inkontinensia kemih atau usus.
5) Neurosensori
Kehilangan kesadaran sementara, amnesia kejadian, vertigo, sinkop, hilang
pendengaran, baal ekstremitas, gangguan penglihatan dan pengecapan, penciuman,
perubahan pupil, refleks tendon lemah dan tak ada.
6) Nutrisi
Mual, muntah (muntah proyektil).
7) Nyeri
Sakit kepala, gelisah, tak bisa istirahat, dan merntih.
8) Pernafasan
Mengi (+), ronkhi (+), perubahan pola nafas.
9) Interaksi sosial
Afasia motorik sensorik, bicara tanpa arti, bicara berulang-ulang.

II. Diagnosa Keperawatan


Menurut Herdman (2011), diagnosa yang mungkin muncul pada klien dengan
epidural hematom sebagai berikut:
a) Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral.
b) Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik.
c) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan neuromuskular.
d) Pola nafas tidak efektif.
III. Rencana Asuhan Keperawatan

DIAGNOSA BATASAN TUJUAN INTERVENSI RASIONAL


KARAKTERISTIK
Risiko Pasien mengalami trauma Setelah dilakukan tindakan 1. Monitot TTV klien 1. Penurunan tekanan
2. Berikan posisi semi fowler
gangguan kepala. keperawatan 3x24 jam diharapkan sistolik merupakan tanda-
3. Pertahankan tirah baring
perfusi perfusi jaringan serebral pasien 4. Evaluasi keadaan pupil tanda gejala peningkatan
5. Kaji peningkatan rigiditas,
jaringan otak adekuat dengan kriteria hasil: TIK.
regangan, dan serangan
2. Meningkatkan aliran
1. TTV normal kejang.
2. Urine output dan intake normal balik vena dari kepala,
3. Motorik baik sehingga mengurangi

Keterangan: edema.

1: tidak pernah menunjukan 3. Tirah baring membuat

2: jarang menunjukan konsumsi O2 tidak terlalu

3: kadang-kadang menunjukan banyak.

4: sering menunjukan 4. Melihat apakah fungsi

5: konsisten menunjukan batang otak masih bai8k.


5. Merupakan indikasi in
fewksi meningeal.
Nyeri Akut b.d Perubahan tekanan darah Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji nyeri dengan format 1. Berguna dalam
Perubahan frekuensi jantung
agen injuri keperawatan 3x24 jam diharapkan PQRST. pengawasan
Perubahan frekuensi
2. kontrol lingkungan yang dapat
fisik pasien dapat mengontrol nyeri keefektifan terapi yang
pernafasan
berkontribusi terhadap nyeri
Mengekspresikan perilaku dengan kriteria hasil: diberikamn.
seperti suhu, suara, dan 2. Lingkungan yang tidak
(mis.: gelisah, merengek, 1. Frekuensi nyeri berkurang
2. TTV normal cahaya. nyaman dapat
menangis, waspada,
3. Menggunakan non analgetik 3. Ajarkan pasien teknik non
meningkatkan nyeri
iritabilitas, mendesah). 4. Menggunakan analgetik
farmakologis seperti nafas
Fokus menyempit (mis.: bertambah parah.
dalam. 3. Relaksasi membantu
gangguang persepsi nyeri, Keterangan:
4. Kolaborasikan pemberian
mengurangi nyeri
hambatan proses pikir, 1= konsisten
farmakologik untuk
dengan menutup gate
penurunan interaksi dengan 2= sering
mengurangi nyeri.
receptor.
orang dan lingkungan). 3= kadang-kadang 4. Analgetik cepat
Dilatasi pupil.
4= jarang menurunkan nyeri.
5= tidak pernah
Hambatan Penurunan waktu reaksi. Setelah dilakukan tindakan 1. Ubah posisi klien setiap 2 1. Meningkatkan
Kesulitan membolak-balikan
mobilitas fisik keperawatan 3x24 jam diharapkan jam sekali. sirkulasi
posisi. 2. Bantu klien melakukan 2. Mempertahankan
b.d pasien tidak mengalami gangguan
Keterbatasan rentang
rentang gerak. fungsi sendi,
kelemahan mobilitas fisik dengan kriteria sebagai
pergerakan sendi. 3. Berikan masase.
mobilisasi dan
neuromuskula berikut: 4. Periksa kemampuan dan
menurunkan vena
r 1. Dapat melakukan mobilisasi keadaan secara fungsional
yang statis.
sendiri pada kerusakan yang
3. Meningkatkan
2. Tidak tergantung
terjadi.
3. Tidak terjadi dekubitus sirkulasi dan
elastisitas kulit.
4. Identifikasi
kemungkinan
Keterangan : kerusakan secara
1 : Tidak pernah dilakukan fungsional dan
2 : jarang dilakukan mempengaruhi pilihan
3 : Kadang-kadang dilakukan intervensi yang
4 : sering dilakukan dilakukan.
5 : selalu dilakukan
DAFTAR PUSTAKA

Bajamal. A.H. (1999). Epidural Hematom (EDH = Epidural Hematom).


Doengoes, M.E. (2002). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3. Jakarta: EGC.
Heardman. (2011). Diagnosa Keperawatan. Jakarta. EGC.
Japardi. (2002). Cedera Kepala. Jakarta: PT Bhauna Ilmu Populer.
Johnson, Meridian Maas, & Sue Moorhead. (2000). Nursing Outcame Clasification. Mosby.
Philadelphia.
McCloskey & Gloria M Bulechek. (1996). Nursing Intervention Clasification. Mosby. USA.
Smeltzer & Bare. (2001). Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8 Vol.1. Alih Bahasa : Agung
waluyo. Jakarta. EGC.
Greenberg, D. A., Michael J. A., dan Roger P. S. (2002). Intracranial Hemorrhage, Clinical
Neurology, 5th edition. United States of America: Lange Medical Books, McGraw-
Hill,.
Price, D.D. (2003). Epidural Hematoma. www.emedicine.com
McPhee, S. J., dan William F.G. (2006). Vascular Territories and Clinical Features in
Ischemic Stroke, Pathophysiology of Disease An Introduction to Clinical Medicine,
5th edition. United States of America: Lange Medical Books, McGraw-Hill,.