Anda di halaman 1dari 13

MANUVER PEMBEBASAN TEGANGAN PENYULANG GI KRAPYAK

DAN PENGOPERASIAN PMT OUTGOING 20KV DENGAN SCADA


PLN APD JAWA TENGAH DAN DIY
Sely Kusuma Anggraeni
Pembimbing : Yusnan Badruzzaman
selykusumaanggraeni@gmail.com
Jurusan Teknik Elektro Polines
Jln. Prof. Sudarto Tembalang Semarang INDONESIA

Intisari 1) Bagaimana sistem SCADA pada PLN APD Jawa


Setiap perusahaan listrik harus berupaya Tengah secara umum?
meningkatkan keandalan secara terus menerus. 2) Bagaimana manuver jaringan GI Krapyak?
Tingkat keandalan direpresentasikan dari indikator 3) Bagaimana pengoperasian PMT outgoing 20 kv GI
Krapyak dengan SCADA?
sering terjadinya pemadaman. Manuver jaringan
merupakan salah satu solusi untuk mengatasi 1.3 TUJUAN
pemadaman listrik. Manuver jaringan juga 1) Mengetahui sisrtem SCADA pada PLN APD Jawa
dilakukan saat pemeliharaan trafo di gardu induk. Tengah
Dalam manuver jaringan diperlukan koordinasi dari 2) Mengetahui mekanisme pengoperasian manuver
berbagai pihak terkait. Salah satunya PLN APD jaringan distribusi dalam keadaan pekerjaan
Jateng dapat melakukan pengoperasian PMT terencana
(Pemutus Tenaga) penyulang 20 kV Gardu Induk 3) Mengetahui pengoperasian PMT outgoing 20 kV
secara remote yang dikendalikan dari pengatur GI Krapyak dengan SCADA
distribusi. Sistem kendali secara remote ini disebut
dengan SCADA (Supervisory Control And Data II. DASAR TEORI
Acquisition).
KeywordsManuver jaringan, PMT, SCADA A. SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition)
SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition)
I. PENDAHULUAN merupakan suatu sistem komputerisasi dan sistem
1.1 LATAR BELAKANG komunikasi terintegrasi yang berfungsi melakukan
Setiap perusahaan listrik harus berupaya pengawasan, pengendalian serta akuisisi data dari
meningkatkan keandalan secara terus menerus. Tingkat peralatan proses secara real time dari jarak jauh. Fasilitas
keandalan direpresentasikan antara lain, indikator sering SCADA diperlukan untuk melaksanakan pengusahaan
terjadinya pemadaman. Pemadaman listrik bisa terjadi tenaga listrik terutama pengendalian operasi secara
karena gangguan ataupun pemeliharaan untuk realtime.
meningkatkan keandalan pada system tenaga listrik Suatu sistem SCADA terdiri dari sejumlah RTU
maka dilakukan manuver jaringan pembebasan (Remote Terminal Unit), sebuah Master Station / RCC
tegangan dalam rangka pekerjaan di trafo ataupun di (Region Control Center), dan jaringan telekomunikasi
jaringan tegangan menengah. Manuver-manuver tersebut data antara RTU dan Master Station. RTU dipasang di
harus dilaksanakan secara efisien, sehingga tidak hanya setiap Gardu Induk atau Pusat Pembangkit yang hendak
akan meningkatkan keamanan pekerjaan tetapi juga akan dipantau. RTU ini bertugas untuk mengetahui setiap
mengurangi waktu padam atau bahkan bisa menghindari kondisi peralatan tegangan tinggi melalui pengumpulan
padam di pelanggan, mengurangi daerah padam. besaran-besaran listrik, status peralatan, dan sinyal alarm
PLN APD Jateng dapat melakukan pengoperasian yang kemudian diteruskan ke RCC melalui jaringan
PMT (Pemutus Tenaga) penyulang 20 kV Gardu Induk telekomunikasi data. RTU juga dapat menerima dan
secara remote yang dikendalikan dari pengatur melaksanakan perintah untuk merubah status peralatan
distribusi. Sistem kendali secara remote ini disebut tegangan tinggi melalui sinyal-sinyal perintah yang
dengan SCADA (Supervisory Control And Data dikirim dari RCC.
Acquisition). Dengan diterapkannya pengoperasian PMT Dengan sistem SCADA maka Dispatcher dapat
penyulang 20 kV secara remote diseluruh Gardu Induk mendapatkan data dengan cepat setiap saat (real time)
Distrubusi Jawa Tengah & DIY diharapkan memperbaiki bila diperlukan, disamping itu SCADA dapat dengan
SAIDI (System Average Interuption Duration Index) & cepat memberikan peringatan pada Dispatcher bila
SAIFI (System Average Interuption Frequency Index). terjadi gangguan pada sistem, sehingga gangguan dapat
1.2 RUMUSAN MASALAH dengan mudah dan cepat diatasi / dinormalkan. Data
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan yang dapat diamati berupa kondisi ON / OFF peralatan
permasalahan: transmisi daya, kondisi sistem SCADA sendiri, dan juga
kondisi tegangan dan arus pada setiap bagian di 3. Memberikan informasi /peringatan mengenai
komponen transmisi. Setiap kondisi memiliki indikator gangguan yang terjadi di jaringan (event/alarm
berbeda, bahkan apabila terdapat indikasi yang tidak logger).
valid maka operator akan dapat megetahui dengan 4. Menyimpan data historical mengenai gangguan yang
mudah. pernah terjadi pada jaringan.
Fungsi dasar scada
1. Telesignaling
Telesignaling adalah pengambilan status peralatan B. KOMPONEN SCADA
tenaga listrik di Gardu Induk atau Pusat Pembangkit
untuk dapat dimonitor di Pusat Pengatur, berupa
sinyal Alarm dan Indikasi yang terhubung ke modul
digital input pada RTU (Remote Terminal Unit).
Sinyal Alarm memiliki satu keadaan , yaitu keadaan
ON atau OFF. Sedangkan Indikasi memiliki dua
keadaan, dimana satu keadaan tertutup (close) dan
terbuka (open), seperti pada PMT, PMS rel, PMS
line, dan PMS tanah.
Perintah tele signal yaitu setiap kejadian yang
dicatat oleh system scada disebut Event, Gambar 1. Kompponen SCADA PLN
sedangkan semua indikasi yang menunjukan
adanya perubahan status di scada di sebut Sistem SCADA tidak dapat berdiri sendiri dan
memerlukan dukungan dari berbagai macam
sebagai ALARM. Semua status harus diproses
infrastruktur, yaitu
untuk mendeteksi setiap perubahan status lebih 1) Master Station
lanjut untuk event yang terjadi secara spontan Master station berfungsi untuk :
atau setelah permintaan remote control a) Mengolah data dan informasi dari semua remote
dikirimoleh dispathcer. station di lapangan kemudian menampilkan
2. Telecontrol informasi kepada operator/dispatcher melalui
Telecontrol adalah pengiriman perintah dari pusat
mimic board/monitor. Data dan informasi tersebut
pengatur (Control Center) ke RTU (Remote
Terminal Unit) untuk merubah status peralatan listrik. merupakan status open/close perangkat remote
Seorang Operator Dispathcer melakukan atau (PMT, LBS, Recloser) serta parameter terukur
mengoperasikan ON OFF suatu peralatan yang sudah berupa arus,tegangan,daya, dan power factor dari
terintegrasi ke system scada di Gradu Induk / pada tiap penyulang di semua gardu induk .
Lapangan (Key Point) secara remote dari Control b) Memberikan perintah ke RTU/LBS
Center. Jadi telekontrol hanya dilakukan dari sisi Motorize/Recloser untuk diteruskan ke peralatan
Control center/ sebagai inputnya.
mekanik maupun elektrik untuk memutus atau
3. Telemetering
Telemetering adalah proses pengambilan besaran menyambung PMT pada jaringan 20 kV.
listrik yang terukur pada gardu induk atau pusat c) Menyimpan event logger dari semua gangguan
pembangkit untuk dapat dimonitor di pusat pengatur yang terjadi pada jaringan 20 kV area Jawa
(Control Center) Tengah

Peran SCADA yang diterapkan pada proses distribusi 2) Sistem Telekomunikasi


listrik antara lain : a) PLC (Power Line Carrier) merupakan system
telekomunikasi yang menggunakan saluran
1. Memonitor parameter terukur pada tiap penyulang transmisi tenaga listrik yang ada dengan frekuensi
(arus, tegangan, frekuensi, daya reaktif, daya nyata, yang lebih tinggi dari frekuensi transmisi listrik.
dan lain-lain). Parameter ini digunakan sebagai b) Fiber optik memiliki kecepatan bit persecond
laporan, analisa beban serta acuan dalam yang jauh diatas PLC, bisa dipasang dalam kawat
pengambilan keputusan untuk pengendalian jaringan
tanah pelindung sambaran petir dari saluran
20 kV
2. Mengetahui status dan mengontrol peralatan dari transmisi.
peralatan yang terdapat pada jaringan distribusi Protokol adalah sebuah aturan yang
(PMT,LBS, Recloser, dan lain-lain) mendefinisikan beberapa fungsi yang ada dalam
sebuah jaringan komputer, misalnya mengirim
pesan, data, informasi, dan fungsi lain yang harus
dipenuhi oleh pengirim (transmitter) dan RTU merupakan unit yang pasif, dimana walupun ada
penerima (receiver) agar komunikasi dapat perubahan informasi dilokal proses, RTU tidak akan
berlangsung dengan benar. Saat ini telah mengirimkan perubahan tersebut tanpa adanya
perintah dari master station.
disepakati standar untuk protokol komunikasi
antara lain sebagai berikut:
1. IEC 60870-5-101
2. IEC 60870-5-102
3. IEC 60870-5-103
4. IEC 60870-5-104
5. IEC 60870-6
6. IEC 61850 (masih dalam pengembangan)

3) Remote Terminal Unit (RTU) dan Peripheral


RTU berfungsi sebagai konsentrator pada
remote station (gardu induk atau gardu hubung)
untuk menerima data dari master station dan
melakukan kontrol peralatan tenaga listrik serta
mengirimkan data akuisisi ke master station. Gambar 2. Konfigurasi RTU
RTU terpasang pada setiap Gardu Induk
4) Data Processing System pada SCADA:
(GI) atau pusat pembangkit yang masuk dalam
1) Akuisisi data : menerima dan mengambil data dari
sistem jaringan tenaga listrik. Didalamnya terdapat
peralatan di lapangan ( RTU ).
processor yang berfungsi untuk mengambil data baik 2) Event processing : memberitahukan semua kejadian
status maupun data pengukuran secara scanning yang terjadi pada system tenaga, system telekontrol ,
(polling), melaporkan realisasi apa yang system telekomunikasi , data processing dan lain-lain
diperintahkan HMI lengkap dengan keadaan RTU sehingga dapat dimonitor.
saat itu (real time). 3) Kalkulasi data : data yang diperoleh dari hasil
Semua rangkaian disisi site atau gardu baik metering kalkulasi terhadap data real time yang ada
maupun status circuit breaker yang diproses oleh 4) Threshold overshoot monitoring : memeriksa
RTU selanjutnya data tersebut disimpan dalam data besaran-besaran tertentu dari hasil akuisisi data
memory (RAM) sebelum diminta oleh Front End. ataupun perhitungan-perhitungan apakah ada yang
RTU yang terpasang di GI/Pusat Pembangkit melebihi atau kurang dari batas-batas harga yang
merupakan : telah ditentukan / diset sebelumnya.
a. Unit pengawas langsung terhadap peralatan di 5) Archive (penyimpanan) dan trending data :
sistem penyaluran tenaga listrik. menyimpan data-data historikal yang dapat
dipergunakan untuk keperluan analisa maupun
b. Unit pelaksana operasi dari pusat kontrol (master
investigasi gangguan
station) 6) Human Machine Interface
Selain itu, RTU juga berfungsi untuk : 7) Tagging : Bertujuan untuk memberi peringatan pada
a. Mengolah secara real time data/informasi di peralatan kondisi yang diberi tanda khusus tersebut,
sistem local menghindari dioperasikannya peralatan
b. Mengumpulkan indikasi, nilai analog, dan nilai digital 8) Manual entry : Nilai atau status yang hilang atau
c. Mengumpulkan dan menghitung pengukuran energi salah dapat diisi secara manual dengan nilai atau
d. Meneruskan control on/off, control naik/turun dan set status yang baru. Manual entry memiliki prioritas
point value paling tinggi.
Dapat dikatakan bahwa RTU merupakan perpanjangan tangan
dari master station. Pada dasarnya Remote Control Unit
(RTU) memiliki dua fungsi utama, yaitu: C. KONFIGURASI KOMUNIKASI DATA
a. Fungsi local, yaitu pengontrol piranti-piranti
perangkat keras yang dihubungkan ke local proses.
Fungsi local ini selalu aktif selama RTU beroperasi.
b. Fungsi telekomunikasi, yaitu fungsi pengontrol
piranti-pirati perangkat keras yang berkenaan dengan
transmisi data ke master station. Dalam fungsi ini
1) Point-to-point : menghubungkan master Gambar 3 (d) Multipoint partyline
station dengan remote station. 5) Loop : Jalur komunikasi antara semua
remote station membentuk suatu loop

Gambar 3 (a) Konfigurasi Point to Point


2) Multiple point-to-point:Master station
Gambar 3 (e) Konfigurasi Loop
dihubungkan ke banyak remote station
masing-masing melalui satu kanal
6) Gabungan
komunikasi

Gambar 3 (b) Konfigurasi Multipoint to Point


3) Multipoint star :Master station
dihubungkan ke lebih dari satu remote Gambar 3 (f) Konfigurasi Gabungan
station dengan satu kanal komunikasi yang
sama III. PEMBAHASAN

A. SISTEM SCADA PLN APD JAWA TENGAH


1) SCADA APD JATENG SECARA UMUM

Gambar 3 (c) Konfigurasi Multipoint-Star


4) Multipoint partyline : Master
Station (MS) untuk beberapa RTU pada satu
jalur komunikasi tunggal.

Gambar 4 Kondisis kelistrikan Jateng DIY 2012

PT PLN (Persero) APD Jateng & DIY merupakan satu-


satunya unit dalam struktur organisasi PT PLN
(Persero) Distribusi Jateng & DIY yang mempunyai
tugas dan tanggung jawab untuk mengatur sistem
distribusi 20 kV seluruh wilayah Jateng dan DIY.
a) Wilayah kerja seluas = 35.933 km2
b) Gardu Induk = 71 Unit
c) Penyulang = 526 Unit
Melalui data yang diperoleh dari kondisi eksisting di
seluruh wilayah PLN Distribusi Jawa Tengah dan D.I.
Yogyakarta terdapat :
a) Perangkat manuver jaringan ( LBS dan
Recloser)= 1.356 unit
b) Perangkat manuver yang teremote SCADA =
962 unit
c) RTU = 71 unit
d) Master Station = 1 unit

Gambar 7 Konfigurai SCADA ROPO

Gambar 5. Ruang Dispatcher PT PLN (Persero)


APD Jawa Tengah & DIY

Menurut sistemnya, scada di APD JatengDIY dibagi


menjadi 3 jenis : Gambar 8. Scada Ropo

1. Scada ROPO (Remote Operating Penyulang b) Scada Survalent


Outgoing) Scada Survalent pada mulanya Diterapkan di wilayah
2. Scada Survalent APJ Semarang saja. Dibangun pertama tahun 2004
3. Scada IDAS (intelegen Distribution System) untuk 6 GI 53 Penyulang, 15 Recloser.
Pengembangan kedua tahun 2006 untuk 7 GI, 36
Penyulang, Pengembangan ketiga tahun 2008 untuk
11 Penyulang. Latar belakang : mendukung
perbaikan SAIDI & Citra PLN.
Keunggulan Survalent:

i) Fully distributed;
ii) Sesuai standar internasional (ISO, IEC);
iii) Arsitektur software modular (API application
program interface);
iv) Hardware dan fasilitas lain mudah dicari
dipasaran;
v) Aplikasi SMS Gateway, Historical Server, Offline
database;
Gambar 6. Jenis SCADA Jateng DIY vi) Subsistem komunikasi yang multi protokol (IEC
101, IEC 104, DNP 3.0, Modbus) dan mampu
Masing-masing jenis scada tersebut dijelaskan sebagai berkomunikasi dengan RTU eksisting ataupun
berikut: peralatan data acquisition
a) Scada ROPO (Remote Operator Penyulang vii) Kecepatan komunikasi data minimum:
Outgoing) viii) Antar Master Station 64 Kbps;
Scada ROPO dibuat oleh kerjasama antara PT.PLN ix) Master Station - RTU 1200 bps
(persero) dengan Institut Teknologi Bandung (ITB).
ROPO dibangun pertama tahun 2005 (3 APJ, 11 GI,
63 Penyulang). Pembangunan kedua tahun 2008 (4
APJ, 21 GI, 122 Penyulang).
Gambar 9 Konfigurasi SCADA Survalent
Gambar 11 Konfigurasi SCADA IDAS

Konfigurasi mendatang dalam 1 GI

Gambar 10. Scada Survalent

c) Scada IDAS (intelegen Distribution System)


Scada IDAS merupakan Grant (bantuan
hibah) dari pemerintah Korea Selatan melalui
KEPCO.(Korea Elektric Power Corporation). Sistem
otomatisasi distribusi (DAS) dari Korea telah
diperkenalkan sebagai pilot project di Vietnam, Cina
dan Indonesia di Asia Timur 2007-2010. Jaringan
distribusi dan tegangan, konsep, dan meliputi
wilayah tiga negara dan konsep yang berbeda.
Sebagai contoh, Vietnam membutuhkan gabungan
sistem dengan kontrol pengawasan penuh dan data
Akuisisi (SCADA), Indonesia membutuhkan semi-
SCADA dan DAS, namun China hanya
membutuhkan hanya DAS. makalah ini menjelaskan
DAS meliputi daerah, konfigurasi sistem, fungsi
sistem, perlindungan pengumpan perbedaan dan
Media komunikasi dan protokol komunikasi di Konfigurasi SCADA untuk keypoint
masing-masing tiga negara.
Total Titik Kontrol Keypoint akan diremote
Tahapan pembangunan line

Sistem SCADA Quad Redundant [Normal]

Rencana Quad Redundant Server

Konfigurasi existing

Emergency

Tahap pembangunan server


Penyulang PT. PLN (PERSERO) RAYON Semarang KPK 07, dan KPK 12. Semua penyulang yang ada di GI
Barat Krapak memiliki kemampuan suplai yang sama yaitu 480
A.
1. Krapyak 2 (KPK 2) 14. Randu Garut 4 (RDT 4) 2) Manuver Jaringan GI Krapyak
2. Krapyak 3 (KPK 3) 15. Randu Garut 5 (RDT 5) Manuver / manipulasi jaringan adalah serangkaian
3. Krapyak 4 (KPK 4) 16. Randu Garut 6 (RDT 6) kegiatan membuat modifikasi terhadap operasi normal
4. Krapyak 5 (KPK 5) 17. Randu Garut 7 (RDT 7) dari jaringan akibat adanya gangguan /pekerjaan jaringan
5. Krapyak 6 (KPK 6) 18. Randu Garut 8 (RDT 8) sehingga tetap tercapainya kondisi penyaluran tenaga
6. Krapyak 7 (KPK 7) 19. RanduGarut 9 (RDT 9) listrik yang maksimal atau dengan kata lain yang lebih
7. Krapyak 10 (KPK 10) 20. RanduGarut 10 (RDT 10) sederhana adalah mengurangi daerah pemadaman.
8. Krapyak 11 (KPK 11) 21. RanduGarut 11 (RDT 11) Kegiatan yang dilakukan dalam manuver:
9. Krapyak 12 (KPK 12) 22. RanduGarut 12 (RDT 12) 1) Memisahkan bagian-bagian jaringan yang semula
10. Krapyak 13 (KPK 13) 23. Kalisari 1 (KLS 1) terhubung dalam keadaan bertegangan / tidak
11. Randu Garut 1 (RDT 1) 24. Kalisari 6 (KLS 6) bertegangan.
12. Randu Garut 2 (RDT 2) 25. Kalisari 9 (KLS 9) 2) Menghubungkan bagian-bagian jaringan yang
13. Randu Garut 3 (RDT 3) 26. Kalisari 11 (KLS 11) terpisah menurut keadaan operasi normalnya dalam
27. BSB 6 keadaan bertegangan / tidak bertegangan.
Pengertian Pembebasan Tegangan
Istilah bebas tegangan yang sering dipakai dalam
Data Aset PT. PLN (Persero) Rayon Semarang Barat Per lingkungan kerja sistem distribusi mengandung arti
Januari 2015 bahwa peralatan yang akan dikerjakan
N Data Aset Jumlah pemeliharaan/perbaikan) dalam kondisi aman tidak
o
bertegangan. Aman yang dimaksud adalah aman dari
1 Jumlah Pelanggan 89.451
tegangan 20 kV ataupun aman dari tegangan sisa.
2 Panjang JTM 389.61 kms
Untuk menghindari dari tegangan sisa, peralatan harus
3 Jumlah Feeder 27
4 Asset Trafo 1.945 unit dilocal groundingkan. Sehingga tegangan yang tersisa
5 Asset Recloser 8 unit dari sisi PMT maupun jaring telah dinetralkan ke tanah.
Berikut adalah gambar Single Line Diagram dari Sistem Kemudian setelah aman baru petugas pekerjaan boleh
Jaringan Operasi PT. PLN (Persero) Rayon Semarang Barat: melakukan pekerjaan.
Peralatan yang Harus Bebas Tegangan
Guna menjamin keselamatan dan keamanan petugas
pekerjaan, maka perlu diadakan pembebasan tegangan
pada beberapa peralatan di sisi 20kV.

Gardu Induk Krapyak


Gardu Induk Krapyak memiliki 3 transformator.
Transformator I memiliki daya 60 MVA yang digunakan
untuk menyuplai 5 penyulang antara lain KPK 03, KPK
06, KPK 10, KPK 11, KPK 13.
Untuk transformator II yang berdaya 30 MVA digunakan
untuk menyuplai 2 penyulang yaitu KPK 04 dan KPK 05,
dimana kedua penyulang ini hanya untuk menyuplai 1
pelanggan Tegangan Menengah (TM) yaitu PT.
INGENIS.
Dari gambar di atas dapat dilihat alur komunikasi antara
Transformator III GI Krapyak memiliki daya 20 MVA,
Petugas, Rayon, Area, APD dan GI dalam melakukan
digunakan untuk menyuplai 3 penyulang yaitu KPK 02,
manuver langkah pertama yang diambil adalah piket Rayon 4. Lapor ke Piket Operasi dengan radio komunikasi bahwa
melakukan komunikasi ke piket Area untuk meminta ijin Petugas siap di lokasi dan siap melaksanakan manuver
melakukan pelimpahan beban. Piket Area menerima laporan jaringan.
tersebut, kemudian piket Area melakukan komunikasi ke APD 5. Laksanakan pembukaan / penutupan
dan menayakan tegangan guna penyamaan tegangan antar ABSW/LBS/Reclouser sesuai komando Piket Operasi
penyulang. Jika APD tidak mengetahui data yang dibutuhkan, 6. Laporkan ke Piket Operasi bahwa pelaksanaan
maka APD akan melakukan komunikasi dengan GI yang pembukaan / penutupan ABSW/LBS/Reclouser telah
menjadi tempat penyulang yang akan dimanuver jaringan. dilaksanakan dengan baik termasuk jam pelaksanaannya.
Setelah APD mendapat informasi yang dibutuhkan, APD akan 7. Lakukan pengecekan pada pelanggan terdekat untuk
memberikan informasi tersebut ke Area. Kemudian Piket Area meyakinkan apakah jaringan sudahn sudah bebas
menginformasikan ke Piket Rayon, bahwa pelimpahan beban tegangan atau jaringan telah bertegangan.
dapat dilakukan. Piket rayon menghubungi petugas lapangan
untuk melakukan switching Key Point (LBS, ABSW, Di manuver jaringan distribusi yang dilaksanakan kali ini
Recloser) yang dibutuhkan. beban yang akan dilimpahkan adalah beban penyulang
dari Transformator I Gardu Induk Krapyak, penyulang
Konfigurasi busbar yang digunakan oleh GI Krapyak adalah tersebut antara lain KPK 03, KPK 06, KPK 10, KPK 11,
Busbar Ganda atau double busbar, Adalah gardu induk yang dan KPK 13.
mempunyai dua /double busbar . Kegiatan manuver pelimpahan beban dilakukan karena
adanya pekerjaan pemeliharaan pada Transformator I
Sebelum melakukan manuver jaringan perlu diperhitungkan Gardu Induk Krapyak. Ada 5 (empat) beban penyulang
beban penyulang yang akan dilimpahkan ke penyulang lain, yang akan dilimpahkan sehingga ada 5 manuver pula
hal ini dilakukan untuk melihat apakah penyulang yang akan yang dilaksanakan. Berikut adalah gambar Single Line
dibebani mampu untuk dilimpahi beban dari penyulang lain. Diagram dari ke-lima penyulang tersebut serta cara
Data beban setiap penyulang inilah yang dijadikan sebagai manuver pelimpahan bebannya:
acuan untuk memutuskan penyulang mana yang akan KPK 13
dibebani, karena kemampuan setiap penyulang berbeda-beda
tergantung dengan pengaturan kapasitas beban maksimumnya.

SOP PENGOPERASIAN DAN


MEMANUVER JARINGAN SUTM
PETUGAS / TENAGA KERJA :
2 (Dua ) Petugas Operasi Jaringan
PERALATAN KERJA DAN ALAT KESEMATAN KERJA :
1. Sarung Tangan
2. Topi Pengaman
3. Sepatu Kerja.
4. Keker
5. Kunci ABSW/LBS KPK 6
6. Hot Line Stick 20 KV
7. Tester Tegangan
8. Multimeter
9. Single line diagram SUTM 20 KV.
10. Radio Komunikasi

LANGKAH LANGKAH KERJA :


1. Sebelum pelaksanaan manuver, dibuat gambar jaringan
untuk manuver terlebih dahulu serta dibuat perhitungan
besar beban yang akan dilimpahkan ke penyulang lain
dan mempertimbangkan setting OCR PMT , setting pada
Reclouser dan setting Incomming trafo GI. KPK 10
2. Petugas menuju ke lokasi ABSW / LBS / Reclouser atau
titik manuver sesuai komando Piket Operasi.
3. Lakukan pembukaan gembok ABSW/LBS/Reclouser dan
yakinkan bahwa ABSW/LBS pada posisi
membuka/menutup.
Langkah langkah pelimpahan beban yang dilakukan antara
lain:
1) Memasukkan ABSW B10-67 sehingga beban disuplai dari
2 penyulang
yaitu dari KPK 13 dan KPK 12.
2) Melepas PMT di KPK 13 sehingga beban hanya mendapat
suplai dari
KPK 12
3) Sehingga beban total yang ditangung oleh KPK 12 sebesar :
144 A + 90 A = 234 A
Setelah pemeliharan trafo I di GI Krapyak selesai dilakukan,
KPK11 maka

penormalan jaringan dilakukan dengan cara:


1) Memasukkan PMT di KPK 13 sehingga beban disuplai dari
dua penyulang yakni KPK 13 dan KPK 12 selama sesaat.
Melepas ABSW B10-67. Penormalan telah dilakukan.

Penyulang KPK 06
Penyulang KPK 06 hanya bisa disuplai dari penyulang RDT
11. Sehingga hanya ada 1 (satu) cara manuver yang dapat
dilakukan. Manuver dilakukan dengan menggunakan LBS B6-
09.
Diketahui bahwa beban dari kedua penyulang yakni :
a) KPK 06 memiliki beban sebesar 70 A
KPK3 b) RDT 11 memiliki beban sebesar 0 A. hal ini dikarenakan
penyulang
RDT 11 memang dijadikan penyulang cadangan yang
digunakan untuk pelimpahan beban

Langkah langkah pelimpahan beban yang dilakukan antara


lain:
1) Memasukkan LBS B6-09 sehingga beban disuplai
dari 2 penyulang yaitu dari KPK 06 dan RDT 11.
2) Melepas PMT di KPK 06 sehingga beban hanya
mendapat suplai dari RDT 11
3) Melepas ABSW B2-06 yang merupakan ABSW I di
penyulang KPK 06. Beban dari PMT KPK 06 samapi
Penyulang KPK 13 ABSW I adalah 0 A. Sehingga beban total yang
Penyulang KPK 13 dapat disuplai dari penyulang KPK 12. ditangung oleh RDT 11 sebesar : 70 A + 0 A = 70 A
Ada tiga titik joint yang bisa digunakan untuk manuver Setelah pemeliharan trafo I di GI Krapyak selesai dilakukan,
jaringan. Untuk maneuver pelimpahan beban yang pertama maka penormalan jaringan dilakukan dengan cara:
maupun kedua dilakukan dengan memasukkan ABSW B10-67 1) Memasukkan PMT di KPK 06
atau ABSW B10-21. Setelah ABSW masuk, kemudian PMT 2) Memasukkan ABSW I di KPK 06 yakni ABSW B2-
KPK 13 dilepas. 06, sehingga dalam keadaan ini beban di suplai dari
Sedangkan manuver pelimpahan beban yang ketiga dilakukan dua penyulang yakni KPK 06 dan RDT 11 selama
dengan menggunakan LBS THREE WAY B10-13A. sesaat
Pengoperasiannya tidak berbeda dengan manuver pelimpahan 3) Melepas LBS B6-09. Penormalan telah dilakukan.
beban penyulang KPK 10 ke KPK 11. Pelimpahan beban dapat dilakukan karena beban yang
Manuver dilakukan dengan cara tombol KPK 12 dimasukkan. dilimpahkan tidak melebihi kemampuan suplai
Lalu setelah masuk PMT KPK 13 dilepas. penyulang RDT 11 yaitu 480 A
Dalam kenyataannya manuver dilakukan dengan
melimpahkan beban dari KPK 13 ke KPK 12 dengan Penyulang KPK 10
menggunakan ABSW B10-67. Diketahui Penyulang KPK 10 dapat disuplai dari 2 penyulang lain yaitu
bahwa beban dari kedua penyulang yakni : RDT 07 dan KPK 11. Sehingga ada 2 (dua) cara manuver
a) KPK 13 memiliki beban sebesar 144 A yang bisa dilakukan. Untuk beban yang dilimpahkan adalah
b) KPK 12 memiliki beban sebesar 90 A.
mulai dari seksi 2 sampai dengan seksi 3, karena seksi
pertama tidak digunakan untuk menyuplai pelanggan sehingga
bebannya 0 A. Manuver pelimpahan beban yang pertama
disuplai dari penyulang KPK 11. Manuver dengan disuplai
dari penyulang KPK 11 ini dilakukan dengan menggunakan
LBS THREE WAY KPK13-35. LBS THREE WAY adalah
LBS yang dimana memiliki 2 masukkan penyulang dan satu
keluaran. Didalammnya ada saklar yang digunakan untuk
mengganti suplai dari penyulang satu ke penyulang dua,
ataupun sebaliknya. Manuver dilakukan dengan cara tombol
KPK 11 dimasukkan kemudian PMT KPK 10 dilepas. Setelah
PMT KPK 10 lepas, lalu ABSW B10-01 dilepas.
Dalam kenyataannya manuver dilakukan dengan
melimpahkan beban dari KPK 10 ke RDT 07 dengan
menggunakan ABSW 2/B10-02. Diketahui bahwa beban dari
kedua penyulang yakni : Klik 2x icon Worldview pada desktop atau
a) KPK 10 memiliki beban sebesar 60 A klik start All Programs Worldview
b) RDT 07 memiliki beban sebesar 50 A. Akan muncul tampilan sepeerti berikut

Langkah langkah pelimpahan beban yang dilakukan antara


lain:
1) Memasukkan ABSW 2/B10-02 sehingga beban disuplai
dari 2 penyulang yaitu dari KPK 10 dan RDT 07.
2) Melepas PMT di KPK 10 sehingga beban hanya
mendapat suplai dari RDT 07.
3) ABSW I di KPK 10 tidak dioprasikan karena
mengalami kerusakan sehingga RDT 07 menyuplai
beban hingga ujung PMT di KPK 10. Sehingga beban
total yang ditangung oleh RDT 07 sebesar :
60 A + 50 A = 110A c

Setelah pemeliharan trafo I di GI Krapyak selesai dilakukan, Diikuti tampilan berikut:


maka penormalan jaringan dilakukan dengan cara:
Memasukkan PMT di KPK 10 sehingga beban disuplai dari
dua penyulang yakni KPK 10 dan RDT 07 selama sesaat.
Melepas ABSW 2/B10-02. Penormalan telah dilakukan.

Pembebasan PMT
Semua operasi buka tutup PMT di KPK 13, KPK 06, KPK 10,
KPK 11, KPK 3 menggunakan aplikasi worldview survalent. Klik OK, hingga muncul Jendela Home (Worldview)
Pelepasan PMT untuk pelimpahan beban biasanya didahului
oleh ABSW pertama, karena ABSW hanya disetting untuk
pemisah dalam kondisi tidak berbeban. Lain halnya dengan
PMT outgoing. PMT adalah pemutus arus dalam kondisi
berbeban ataupun tidak berbeban sesuai dengan setting
arusnya. Untuk buka tutup ABSW maka PMT harus lepas
dulu.

Menuju ke Jendela GI
1) Klik kotak di sebelah kiri nama GI yang
diinginkan (hingga kursor berubah menjadi gambar
tangan)
b. Melihat indicator CB

huruf F menunjukkan master dan RTU


tidak berkomunikasi.
2) Klik gambar kotak pada lokasi GI di single line
diagram
status komunikasi dan RTU Scout dalam
3) Klik tombol maps view pada toolbar keadaan normal
Gardu (GI yang diinginkan)
Cara melihat status rele di GI
1. Melalui Jendela GI
a. Menuju Jendela GI.
b. Melihar warna pada indicator CB

rele mendeteksi adanya


gangguan di fasa B, C, dan N dengan waktu instan

Cara melihat status CB


4. Melalui Jendela GI
a. Menuju Jendela GI
b. Melihat warna symbol GI rele dalam keadaan normal

Berikut adalah cara melepas PMT


CB dalam posisi closed outgoing menggunakan scada survalent.
(bertegangan) 1. Klik simbol PMT yang akan dikontrol
satu kali.

CB dalam posisi opened (tidak


bertegangan)
2. Maka akan muncul kotak dialog sebagai
berikut.

CB dalam posisi test

Cara melihat status Local/Remote


1. Melalui Jendela GI
b. Melihat indicator pada CB

CB dalam keadaan remote (posisi siap


command)
Gambar 3.7 Perintah Control open PMT TBL10
3. Klik satu kali pada perintah open.
CB dalam keadaan local (tidak dapat di
4. Kemudian klik execute.
lakukan command secara remote)
Menutup Program Scada
Cara Melihat Status Komunikasi dan RTU Scout
Menutup Jendela Alarm
1. Melalui Jendela GI
Terdapat 2 cara menutup Jendela Alarm
a. Menuju Jendela GI
1. Pilih menu File Exit. 2. PLN APD Semarang mempunyai 3 sistem master
SCADA yaitu Survalent, Ropo, IDAS.
3. Dalam melakukan Manuver Pembebasan tegangan
hendaknya dilakukan sesuai dengan prosedur yang
ada.
4. Manuver jaringan distribusi dilakukan untuk
pemeliharaan trafo 1 GI Krapyak agar terjaminnya
keandalan.
5. Trafo 1 GI Krapyak memiliki 5 penyulang yaitu KPK
03, KPK 06, KPK 10, KPK 11, dan KPK 13.
6. Dalam melakukan pengalihan Beban besar
tegangan, Besar arus, kemampuan dalam memikul
beban sebuah penyulang harus di perhatikan.
7. PLN APD Jateng dapat melakukan pengoperasian PMT
(Pemutus Tenaga) penyulang 20 kV Gardu Induk secara
remote yang dikendalikan dari pengatur distribusi.

REFERENSI
[1] Syahadah Rizka Anefi.2015.Laporan Magang
Manuver Jaringan Untuk Pelimpahan Beban
Penyulang Transformator I Gi Krapyak Pt. Pln
(Persero) Rayon Semarang Barat.POLINES
[2] SPLN S3.001: 2008 PERALATAN SCADA SISTEM
TENAGA LISTRIK
2. Klik tombol [3] http://www.slideshare.net/anggarajasa/konfigurasi-
Menutup Jendela Home scada-apd-semarang

[4] http://www.elektro.undip.ac.id/el_kpta/wp-
IV. KESIMPULAN (PENUTUP) content/uploads/2012/05/21060110141006_MKP.pdf
[5] http://www.elektro.undip.ac.id/el_kpta/wp-
1. SCADA ( Supervisory control and data aqusition) content/uploads/2012/05/L2F607029_MKP.pdf
adalah sistem yang dapat memonitor dan [6] https://www.scribd.com/doc/90088909/01-SCADA-
mengontrol suatu peralatan atau sistem dari jarak di-PLN
jauh secara real time. [7] http://sir.stikom.edu/279/7/BAB%20IV.pdf
[8] https://www.academia.edu/18958243/MAKALAH_S
CADA

Anda mungkin juga menyukai