Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Tubuh manusia memiliki suatu sistem pertahanan untuk melindungi diri dari
benda asing yang mungkin bersifat patogen. Sistem pertahanan tubuh inilah yang disebut
sistem imun. Sistem imun terdiri dari semua sel, jaringan, dan organ yang membentuk
imunitas, yaitu kekebalan tubuh terhadap infeksi atau suatu penyakit. Sistem imun
memiliki beberapa fungsi pada tubuh, yaitu penangkal benda asing yang masuk ke
dalam tubuh, menjaga keseimbangan fungsi tubuh, sebagai pendeteksi adanya sel-sel
yang tidak normal, termutasi, atau ganas dan segera menghancurkannya Dalam
lingkungan sekitar kita terdapat banyak substansi bermolekul kecil yang bisa masuk ke
dalam tubuh. Substansi kecil tersebut bisa menjadi antigen bila dia melekat pada protein
tubuh kita. Substansi kecil yang bisa berubah menjadi antigen tersebut dikenal dengan
istilah hapten. Substansi-substansi tersebut lolos dari barier respon non spesifik (eksternal
maupun internal), kemudian substansi tersebut masuk dan berikatan dengan sel limfosit B
yang akan mensintesis pembentukan antibodi.

Sebelum pertemuan pertamanya dengan sebuah antigen, sel-sel-B menghasilkan


molekul immunoglobulin IgM dan IgD yang tergabung pada membran plasma untuk
berfungsi sebagai reseptor antigen. Jumlahnya mencapai 50.000 sampai 100.000 per sel
dan semuanya spesifik bagi satu determinan antigen. Sebuah antigen merangsang sel
untuk membuat dan menyisipkan dalam membrannya molekul immunoglobulin yang
memiliki daerah pengenalan spesifik untuk antigen itu. Setelah itu, limfosit harus
membentuk immunoglobulin untuk antigen yang sama. Pemaparan kedua kali terhadap
antigen yang sama memicu respon imun sekunder yang segera terjadi dan meningkatkan
titer antibodi yang beredar sebanyak 10 sampai 100 kali kadar sebelumnya. Sifat
molekul antigen yang memungkinkannya bereaksi dengan antibodi disebut antigenisitas.
Kesanggupan molekul antigen untuk menginduksi respon imun disebut imunogenitas

Salah satu upaya tubuh untuk mempertahankan diri terhadap masuknya antigen
adalah dengan cara meniadakan antigen tersebut, secara non spesifik yaitu dengan cara
fagositosis. Dalam hal ini, tubuh memiliki sel-sel fagosit yang termasuk ke dalam 2
kelompok sel, yaitu kelompok sel agranulosit dan granulosit. Kelompok sel agranulosit
adalah monosit dan makrofag, sedangkan yang termasuk kelompok sel granulosit adalah
neutrofil, basofil, eosinofil yang tergolong ke dalam sel PMN (polymorphonuclear ).
Respon imun spesifik bergantung pada adanya pemaparan benda asing dan pengenalan
selanjutnya, kemudian reaksi terhadap antigen tersebut. Sel yang memegang peran
penting dalam sistem imun spesifik adalah limfosit. Limfosit berfungsi mengatur dan
bekerja sama dengan sel-sel lain dalam sistem fagosit makrofag untuk menimbulkan
respon immunologik.

1
B. RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah:

1. Apa yang dimaksud dengan antibody?


2. Bagaimana sifat antibody?
3. Apa saja jenis-jenis antibody?
4. Bagaimana mekanisme pembentukan antibody?

C. TUJUAN

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:


1. Mengetahui pengertian dari antibody
2. Mengetahui sifat antibody
3. Mengetahui jenis-jenis antibody
4. Mengetahui mekanisme pembentukan antibody

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ANTIBODI

Wikipedia Indonesia

o Antibodi (antibody, gamma globulin) adalah glikoprotein dengan


struktur tertentu yang disekresi dari pencerap limfosit-B yang telah teraktivasi
menjadi sel plasma, sebagai respon dari antigen tertentu dan reaktif terhadap
antigen tersebut.

David L. Nelson and Michael M. Cox; Lehninger


PRINCIPLES OF BIOCHEMISTRY Fourth Edition

o Antibody atau immunoglobulins sering kali disingkat dengan


Ig.Immunoglobulins mengikat bacteri, virus, atau molekul besar yang
diidentifikasi sebagai benda asing. Immunoglobulins diproduksi oleh
limfositB atau sel B.

R.H.Garrett, C.M.Grisham; Biochemistry;125

o Antibody atau immunoglobulin merupakan protein pelindung yang


dihasilkanoleh limfosit vertebrata. Antibody memiliki kemampuan luar biasa
untuk menolak atau mengabaikan bagian instriksik molekul dari organisme
inangnya.
Secara khusus antibody dapat mengenali dan menetralkan molekulasing yang
dihasilkan dari invasi organism virus, bakteri, atau sesuatu (agen)menular
lainnya.
Secara umum dan luas antibodi dapat diartikan sebagai protein yangdapat
ditemukan pada plasma darah dan digunakan oleh sistem kekebalan tubuh
untuk mengidentifikasikan dan menetralisir benda asing seperti bakteri dan
virus.Mereka terbuat dari sedikit struktur dasar yang disebut rantai. Tiap
antibodimemiliki dua rantai berat besar dan dua rantai ringan. Antibodi
diproduksi olehtipe sel darah yang disebut sel limfosit B

3
Antibodi merupakan senjata yang tersusun dari protein dan dibentuk untuk
melawan sel-sel asing yang masuk ke tubuh manusia. Senjata ini diproduksioleh sel-sel
B, sekelompok prajurit pejuang dalam sistem kekebalan. Antibodi akan menghancurkan
musuh-musuh penyerbu. Antibodi mempunyai dua fungsi, pertama untuk mengikatkan
diri kepada sel-sel musuh, yaitu antigen. Fungsi kedua adalah membusukkan struktur
biologi antigen tersebut lalu menghancurkannya.

Berada dalam aliran darah dan cairan non-seluler, antibodi mengikatkan diri
kepada bakteri dan virus penyebab penyakit. Mereka menandai molekul-molekul asing
tempat mereka mengikatkan diri. Dengan demikian sel prajurit tubuh dapat membedakan
sekaligus melumpuhkannya,

Tubuh manusia mampu memproduksi masing-masing antibodi yang cocok untuk


hampir setiap musuh yang dihadapinya. Antibodi bukan berjenistunggal. Sesuai dengan
struktur setiap musuh, maka tubuh menciptakan antibody ikhusus yang cukup kuat untuk
menghadapi si musuh (antigen).

Terdapat beberapa tipe antibody yang berbeda dari rantai berat antibodi,dan
beberapa tipe antibodi yang berbeda, yang dimasukan kedalam isotype yang berbeda
berdasarkan pada tiap rantai berat mereka masuki. Lima isotype antibodiyang berbeda
diketahui berada pada tubuh mamalia, yang memainkan peran yang berbeda dan
menolong mengarahkan respon imun yang tepat untuk tiap tipe bendaasing yang berbeda
yang ditemui.

4
B. SIFAT ANTIBODI

Antibodi mempunyai sifat yang sangat luar biasa, karena untuk membuat antibodi
spesifik untuk masing-masing musuh merupakan proses yang luar biasa dan pantas
dicermati. Proses ini dapat terwujud hanya jika sel-sel B mengenal struktur musuhnya
dengan baik. Dan, di alam ini terdapat jutaan musuh (antigen).

Hal ini seperti membuat masing-masing kunci untuk jutaan lubang kunci.Perlu
diingat, dalam hal ini si pembuat kunci harus mengerjakannya tanpamengukur kunci atau
menggunakan cetakan apa pun. Dia mengetahui polanya berdasarkan perasaan.

Sulit bagi seseorang untuk mengingat pola kunci, walau cuma satu, Akan tetapi,
satu sel B yang sedemikian kecil untuk dapat dilihat oleh mata, menyimpan jutaan bit
informasi dalam memorinya, dan dengan sadar menggunakannya dalamkombinasi yang
tepat. Tersimpannya jutaan formula dalam suatu sel yang sangat kecil merupakan
keajaiban yang diberikan kepada manusia. Yang tak kurang menakjubkan adalah bahwa
kenyataannya sel-sel menggunakan informasi ini untuk melindungi kesehatan manusia.

C. JENIS JENIS ANTIBODI

Antibodi (immunoglobulin) adalah molekul glikoprotein yang tersusunatas asam


amino dan karbohidrat. Secara sederhana molekul Immunoglobulin dapat digambarkan
menyerupai huruf Y dengan engsel (hinge). Molekul immunoglobulin dapat dipecah oleh
enzim papain atau pepsin (protease) menjadi 2 bagian yakni Fab (fragment antigen
binding) yaitu bagian yang menentukanspesifitas antibodi karena berfungsi untuk
mengikat antigen, dan Fc (fragmentcrystalizable) yang menentukan aktivitas biologisnya
dan yang akan berikatandengan komplemen, sebagai contoh immunoglobulin G
mempunyai kemampuan menembus membran plasenta. Molekul immunoglobulin
berdasarkan ukuran molekulnya dapat dibedakan menjadi 5 kelas yakni kelas
immunoglobulin G, A,M, D, dan E, dan masing-masing kelas masih dapat dibedakan
menjadi subkelas- subkelas. Tiap kelas Ig memiliki karakteristik tersendiri misalnya berat
molekul,komposisi asam amino, dan strukturnya.

5
1. Immunoglobulin G (IgG)

Imunoglobulin G adalah divalen antigen. Antibodi ini adalah imunoglobulin yang


paling sering/banyak ditemukan dalam sumsum tulang belakang, darah, lymfe dan cairan
peritoneal. Ia mempunyai waktu paroh biologik selama 23 hari dan merupakan imunitas
yang baik (sebagai serum transfer). Ia dapat mengaglutinasi antigen yang tidak larut. IgG
adalah satu-satunya imunoglobulin yang dapat melewati plasenta.

Kemampuannya melewati plasenta untuk setiap jenis hewan berturut-turut adalah:


Rodentia>primata>anjing/kucing> manusia=babi=kuda. IgG adalah opsonin yang baik
sebagai pagosit pada ikatan IgG reseptor. Imunoglobulin ini merangsang antigen-
dependen cel-mediated cytotoxicity (ADCC)-IgG Fab untuk mengikat target sel,
Natural Killer(NK) Fc-reseptor, mengikat Ig Fc, dan sel NK membebaskan citotoksik
pada sel target. IgFc juga mengaktifkan komplemen, menetralkan toksin, imobilisasi
bakteri dan menghambat serangan virus.

IgG terbentuk 2-3 bulan setelah infeksi, kemudian kadarnya meninggi dalam satu
bulan, menurun perlahan-lahan, dan terdapat selama bertahun-tahun dengan kadar yang
rendah. IgG beredar dalam tubuh dan banyak terdapat pada darah, sistem getah bening,
dan usus. Senyawa ini akan terbawa aliran darahlangsung menuju tempat antigen berada
dan menghambatnya begitu terdeteksi.Senyawa ini memiliki efek kuat antibakteri
maupun virus, serta menetralkan racun.

IgG juga mampu menyelinap diantara sel-sel dan menyingkirkanmikroorganisme


yang masuk ke dalam sel-sel dan kulit.Karena kemampuan serta ukurannya yang kecil,
IgG merupakan satu-satunya antibodi yang dapat dipindahkan melalui plasenta dari ibu
hamil ke janin dalam kandungannya untuk melindungi janin dari kemungkinannya infeksi
yang menyebabkan kematian bayi sebelum lahir. Selanjutnya immunoglobulin dalam
kolostrum (air susu ibu atau ASI yang pertama kalikeluar), memberikan perlindungan
kepada bayi terhadap infeksi sampai system kekebalan bayi dapat menghasilkan antibodi
sendiri.

6
2. Immunoglobulin A (IgA)

Immunoglobulin A atau IgA ditemukan pada bagian-bagian tubuhyang dilapisi oleh


selaput lendir, misalnya hidung, mata, paru-paru, dan usus.IgA juga ditemukan di dalam
darah dan cairan tubuh lainnya, seperti air mata,air liur, ASI, getah lambung, dan sekresi
usus. Antibodi ini melindungi janindalam kandungan dari berbagai penyakit. IgA yang
terdapat dalam ASI akanmelindungi sistem pencernaan bayi terhadap mikroba karena
tidak terdapatdalam tubuh bayi yang baru lahir.

Fungsi dari IgA ini ialah:


Mencegah kuman patogen menyerang permukaan sel mukosa
Tidak efektif dlam mengikat komplemen
Bersifat bakterisida dengan kondisinya sebagai lysozim yang ada dalam
cairan sekretori yang mengandung IgA
Bersifat antiviral dan glutinin yang efektif

3. Immunoglobulin M (IgM)

Imunoglobulin m ditemukan pada permukaan sel B yang matang. IgM


mempunyai waktu paroh biologi 5 hari, mempunyai bentuk pentamer dengan lima
valensi. Imunoglobulin ini hanya dibentuk oleh faetus. Peningkatan jumlah IgM
mencerminkan adanya infeksi baru atau adanya antigen (imunisasi/vaksinasi).

IgM adalah merupakan aglutinin yang efisien dan merupakan isohem- aglutinin
alamiah. IgM sngat efisien dalam mengaktifkan komplemen. IgM dibentuk setelah
terbentuk T-independen antigen, dan setelah imunisasi dengan T-dependent antigen.

Antibodi ini terdapat pada darah, getah bening, dan pada permukaan sel-sel B.
Pada saat antigen masuk ke dalam tubuh, Immunoglobulin M (IgM)merupakan antibodi
pertama yang dihasilkan tubuh untuk melawan antigen tersebut. IgM terbentuk segera
setelah terjadi infeksi dan menetap selama 1-3 bulan, kemudian menghilang.Janin dalam
rahim mampu memproduksi IgM

7
pada umur kehamilan enam bulan. Jika janin terinfeksi kuman penyakit, produksi
IgM janin akan meningkat. IgM banyak terdapat di dalam darah, tetapi dalam keadaan
normal tidak ditemukan dalam organ maupun jaringan. Untuk mengetahui apakah janin
telah terinfeksi atau tidak, dapat diketahui dari kadar IgM dalam darah.

4. Immunoglobulin D (IgD)

Imunoglobulin D ini berjumlah sedikit dalam serum. IgD adalah penenda


permukaan pada sel B yang matang. IgD dibentuk bersama dengan IgM oleh sel B
normal. Sel B membentuk IgD dan IgM karena untuk membedakan unit dari RNA.

Immunoglobulin D atau IgD juga terdapat dalam darah, getah bening,dan pada
permukaan sel-sel B, tetapi dalam jumlah yang sangat sedikit. IgD ini bertindak dengan
menempelkan dirinya pada permukaan sel-sel T, mereka membantu sel-sel T menangkap
antigen.

5. Immunoglobulin E (IgE)

Imunoglobulin E ditemukan sedikit dalam serum, terutama kalau berikatan


dengan mast sel dan basophil secara efektif, tetapi kurang efektif dengan eosinpphil. IgE
berikatan pada reseptor Fc pada sel-sel tersebut. Dengan adanya antigen yang spesifik
untuk IgE, imunoglobulin ini menjadi bereaksi silang untuk memacu degranulasi dan
membebaskan histamin dan komponen lainnya sehingga menyebabkan reaksi
anaphylaksis. IgE sangat berguna untuk melawanparasit.

8
9
10
D. MEKANISME PEMBENTUKAN ANTIBODI

Leukosit yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh terdiri atas fagosit dan
limfosit. Fagosit merupakan sel yang akan menghancurkan bendaasing yang masuk ke
dalam tubuh dengan cara menelannya (fagositosis). Fagosit terdiri atas neutrofil dan
makrofag. Neutrofil terdapat di dalam darah, sedangkanmakrofag mampu memasuki ke
dalam jaringan ataupun rongga tubuh. Limfosit terdiri dari dua jenis, yaitu limfosit B dan
limfosit T.

1. Limfosit B

Limfosit B terbentuk dandimatangkan dalam sumsum tulang (bonemarrow).


Dalam sumsum tulang, limfosit B berdeferensiasi menjadi sel plasma yang berfungsi
bertugas menyekresikan antibodike dalam cairan tubuh dan sel limfosit B memori yang
berfungsi menyimpan informasi antigen. Informasi ini disimpan dalam bentuk DNA yang
dapat memproduksi antibodi yang cocok dengan antigen. Sel limfosit B hidup dalam
waktuyang lama.

2. Limfosit T

Limfosit T dimatangkan di kelenjar timus. Di kelenjar timus,limfosit T juga


berdeferensiasi menjadi sel T sitotoksik (cytotoxic T cell) sel T penolong (helper T cell),
sel T supressor (supressor T cell), dan sel T memori (memory T cell). Masing masing
memiliki fungsi yang berbeda.Sel T sitotoksik berfungsi dalam membunuh sel yang
terinfeksi.
Sel T penolong berfungsi mengaktifkan limfosit B dan limfosit T. Sel
supressor berfungsi dalam mengutangi produksi antibodi oleh sel-sel plasma dengancara
menghambat aktivitas sel T penolong dan sel T sitotoksik.
SelT memori diproduksi untuk mengingat antigen yang telah masuk ke
dalamtubuh. Jika kelak antigen yang sama menyerang tubuh kembali, maka dengan
adanya sel T memory akan terjadi respon sekunder yang lebih cepatdan kuat. Akibatnya,
sering antigen telah diluncurkan sebelum terjadi demam atau radang. Baik limfosit B dan
limfosit T akan masuk ke dalam sistem peredaran limfatik atau getah bening.
Sel limfosit banyak terdapat pada sistem peredaran darah limfatik, sumsum
tulang,kelenjar timus, kelenjar limfa, amandel(tonsil), darah dan sistem pencernaan.

11
Di dalam tubuh manusia, antibodi dihasilkan oleh organ limfoid sentral yang
terdiri atas sumsum tulang dan kelenjar timus, terutama oleh sel-sel limfosit. Ada dua
macam sel limfosit, yaitu sel limfosit B dan sel limfosit T. Kedua sel ini bekerja sama
untuk menghasilkan antibodi dalam tubuh.
Baik antibodi maupun antigen keduanya mempunyai hubungan spesifik yang
sangat khas. Keadaan ini terlihat sewaktu antigen masuk ke dalam tubuh. Saat itu, dengan
seketika sel limfosit T mendeteksi karakteristik dan jenis antigen. Kemudian sel limfosit
T bereaksi cepat dengan cara mengikat antigen tersebut melalui permukaan reseptornya.
Setelah itu, sel limfosit T membelah dan membentuk klon.
Sementara pada permukaan membrannya menghasilkan immunoglobulin
monomerik. Berikutnya, molekul antigen dan molekul antibodi saling berikatan dan
ikatan kedua molekul ini ditempatkan pada makrofaga. Secara berurutan, makrofaga
menghadirkan antigen pada sel limfosit B. Lantas, sel limfosit B berpoliferasi dan
menjadi dewasa, sehingga mampu membentuk antibodi untuk masing - masing antigen.
akan lebih jelas simak Gambar 1.

Gambar 1.Reaksi antigen dan antibody

12
Gambar 2. Mekanisme pelenyapan antigen

Netralisasi merupakan cara yang digunakan antibodi untuk berikatan dengan


antigen supaya aktivitasnya terhambat. Sebagai contoh, antibodi melekat pada molekul
yang akan digunakan virus untuk menginfeksi inangnya. Pada proses ini, antibodi dan
antigen dapat mengalami proses opsonisasi, yakni proses pelenyapan bakteri yang diikat
antibodi oleh makrofaga melalui fagositosis.
Cara pelenyapan antigen berikutnya adalah aglutinasi. Aglutinasi atau
penggumpalan merupakan proses pengikatan antibodi terhadap bakteri atau virus
sehingga mudah dinetralkan dan diopsonisasi. Misalnya, IgG yang berikatan dengan dua
sel bakteri atau virus secara bersama-sama.
Mekanisme yang sama juga terjadi pada cara berikutnya yakni presipitasi.
Presipitasi atau pengendapan merupakan pengikatan silang molekul-molekul antigen
yang terlarut dalam cairan tubuh. Setelah diendapkan, antigen tersebut dikeluarkan dan
dibuang melalui fagositosis. Selain berbagai cara tersebut, pembuangan antigen dapat
melalui fiksasi komplemen. Fiksasi komplemen merupakan pengaktifan rentetan molekul
protein komplemen karena adanya infeksi. Prosesnya menyebabkan virus dan sel - sel
patogen yang menginfeksi bagian tubuh menjadi lisis.

13
Ketika Anda mendapatkan luka, maka selain reaksi pembekuan darah,tubuh juga
dengan cepat melindungi bukaan pada luka dari infeksi bakteri danmikroorganisme
lainnya. Adanya luka secara langsung telah merusakkan sistem pertahanan tubuh non
spesifik eksternal. Ketika terjadi luka, histamin dilepaskan oleh mast cell (mastosit), dan
sel basofil yang tersebar di seluruh jaringan.

Histamin yang diterima reseptor pada otot polos dan endotelium di dindingkapiler
darah menyebabkan kapiler darah mengalami vasodilatasi (penambahandiameter),
sementara vena menyempit. Hal ini menyebabkan kapiler darahmenjadi lebih permeabel.
Daerah tersebut akan terlihat memerah danmembengkak.Selain mengeluarkan histamin,
mastosit juga menghasilkan faktor kemotaksis untuk menarik dan mengaktifkan
eosinofil, neutrofil, dan monosit(sel fagosit), serta faktor pengaktif keping darah yang
akan terlibat dalam proses pembekuan darah.

Sel fagosit, baru akan terlihat di sekitar daerah luka setelah sekitar 30 sampai 90
menit kemudian.Eosinofil berperan dalam menghambat dan mengurangi
konsentrasihistamin yang dikeluarkan mastosit, agar tidak terjadi reaksi yang berlebihan.
Jikaterjadi infeksi oleh bakteri, maka neutrofil akan mengaktifkan lisosom.

Lisosom melepaskan enzim lysozim yang akan mendegradasi bakteri dan sel-sel
dari jaringan yang rusak di sekitar luka.Monosit dan makrofag juga menghasilkan
endogenous pyrogen. Zat ini memberikan sinyal pada pengatur suhu di hipotalamus,
untuk menaikkan suhu tubuh beberapa derajat. Kita menyebut situasi ini sebagai demam.
Hal ini terjaditerutama jika infeksi yang diderita cukup berat. Naiknya suhu tubuh
dimaksudkan untuk menghambat pertumbuhan bakteri atau organisme patogen, agar
lebihmudah dilumpuhkan.

Respons tubuh ini dapat dikatakan sebagai respons sistem pertahanan tubuh
nonspesifik dan belum melibatkan sel-sel limfosit.Makrofag, yang jumlahnya hanya
beberapa persen dari jumlahkeseluruhan leukosit ini memainkan peranan penting.
Makrofag memiliki protein MHC (macrophages histocompatibility complex) yang
kemudian akan berikatandengan antigen pada mikroba. Kompleks MHC-antigen ini
kemudiandimigrasikan ke membran sel makrofag.

Sel limfosit juga turut serta dalam melumpuhkan mikroba yangmasuk ke dalam
tubuh, hanya saja dengan mekanisme yang berbeda. Sel limpositB dengan reseptor
komplemen berikatan dengan antigen dari bakteri atau organisme patogen. Hal ini untuk
mengenali antigen tersebut. Limfosit B akanmembelah dan berdiferensiasi menjadi sel
memori dan sel plasma. Sel plasma menyekresikan antibodi yang dapat melumpuhkan
mikroba yang masuk ke dalamcairan tubuh (humor).

14
Target operasi limfosit B adalah bakteri, virus yang beradadi luar sel, jamur dan
protista. Limfosit T membentuk sistem kekebalan seluler.Sel sitotoksik akan menempel
pada sel yang sudah terinfeksi virus, sel kanker,atau sel asing yang ditransplantasikan ke
tubuh. Reseptor pada sel T penolong berikatan dengan kompleks MHC-antigen
makrofag. Ikatan ini menyebabkan selT penolong menghasilkan hormon interleukin yang
menginduksi sel T penolonguntuk membelah dan berdiferensiasi menjadi sel memori. Sel
T penolong jugadapat berikatan dengan sel limfosit B dan menginduksi (dengan bantuan
hormoninterleukin) sel limfosit B untuk membelah dan berdiferensiasi menjadi
selmemori dan sel plasma.

Sel plasma akan menyekresikan antibodi.Antibodi yang disekresikan sel plasma


akan berikatan denganantigen mikroba, untuk kemudian dapat dikenali oleh makrofag
dan dicerna.Fenomena ini disebut opsonic adherence (Opsin adalah istilah yang berarti
bersiap untuk makan) atau opsonisasi. Proses ini pada dasarnya adalah
mekanisme penandaan sel mikroba pelumpuh antigen dengan antibodi. Sel Tsitotoksik
juga dapat aktif membelah dan berdiferensiasi dengan bantuan hormoninterleukin yang
disekresikan dari sel T penolong. Sel sitotoksik mengenali sel-selasing atau sel yang
terinfeksi virus di dalam tubuh, kemudian menguraikanmembran selnya dengan protein
yang dihasilkannya. Hal ini sangat penting,karena antibodi tidak dapat menyerang
patogen yang telah menginfeksi sel tubuh.

15
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN:

Antigen adalah bahan yang dapat merangsang respon imun dan dapat bereaksi
dengan antibodi. Antibodi adalah protein serum yang mempunyai respon imun
(kekebalan) pada tubuh yang mengandung Imunoglobulin (Ig).

Immunoglobulin sebagai rantai panjang dibagi menjadi 5 yaitu :


Immunoglobulin A : imunoglobulin utama dalam sekresi
Immunoglobulin D : imunoglobuin yang terdapat pada permukaan
limfosit bayi
Immunoglobulin E : imunoglobulin yang timbul pada infeksi parasit,
penyebab atopic allergy
Immunogloblulin G : imunoglobulin yang terbanyak dalam cairan tubuh
Immunoglobulin M : imunoglonulin yang aglutinin efektif produksi dini
reaksi imun

Apabila ada antigen masuk ke dalam tubuh ternak maka tubuh akan terangsang
dan memunculkan suatu respon awal yang disebut sebagai respon imun primer.
Respon ini memerlukan waktu lebih lama untuk memperbanyak limfosit dan
membentuk ingatan imunologik berupa sel-sel limfosit yang lebih peka terhadap
antigen. Kalau antigen yang sama memasuki tubuh kembali maka respon yang
muncul dari tubuh berupa respon imun sekunder. Respon ini muncul lebih cepat ,
lebih kuat dan berlangsung lebih lama daripada respon imun primer

SARAN:

Diharapkan dengan disusunnya makalah ini, dapat menjadi suatu bahan


pembelajaran bagi pembaca.Serta untuk selanjutnya makalah (Imunologi) yang dibuat
penyusun, diharapkan adanya saran-saran yang membangun.Dikarenakan penyusun
menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunannya.

16
DAFTAR PUSTAKA

Bellanti, Joseph A. 1983. Imunologi III . Gadjah Mada University Press,


Yogyakarta Nurlita, 2008. Antigen Dan Antibody.

David S. Wilkes, William J. Burlingham. 2004. Immunobiology of organ


transplantation. Springer.

Fedik, A Rantam. 2003. Metode Imunologi. Surabaya : Airlangga University


Press.

Stoane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula (Anatomy and
physiology: an easy learner) ISBN 979-448-622-1. Jakarta: EGC

17