Anda di halaman 1dari 33

AKHLAK

DISUSUN OLEH:

VINA ANGGRAINI (34)

XI-MIPA 2

SMA NEGERI 47 JAKARTA


Jl. Delman Utama I RT 001 RW 1, Kebayoran Lama Selatan,
12240
Telp. (021) 7260904
Jakarta selatan
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang karena anugerah dari-Nya penulis dapat
menyelesaikan makalah tentang "Akhlak" ini. Sholawat dan salam semoga
senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita, yaitu Nabi Muhammad SAW
yang telah menunjukkan kepada kita jalan yang lurus berupa ajaran agama Islam
yang sempurna dan menjadi anugerah serta rahmat bagi seluruh alam semesta.
Penulis sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah yang menjadi
tugas pendidikan agama dengan judul "Akhlak". Disamping itu, penulis mengucapkan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis selama
pembuatan makalah ini berlangsung sehingga terealisasikanlah makalah ini. Pihak-
pihak tersebut antara lain:

1. Bapak Lalu Abdul Mukmin selaku guru Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekerti serta pembimbing dalam pembuatan makalah ini.
2. Bapak Agus Yuliyono selaku wali kelas XI MIPA 2.
3. Kedua Orang Tua penulis yang telah berjasa dalam mendukung segala
kegiatan penulis,
4. Teman-teman penulis yang telah membantu dalam proses pembuatan
makalah ini.

Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga makalah ini bisa bermanfaat
dan sangat di harapkan kritik dan saran yang membangun supaya dalam
kedepannya penulis dapat menyusun makalah dengan lebih baik lagi.

Tangerang Selatan, 13 Maret 2017

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR . i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1Latar Belakang
.. 1
1.2Rumusan Masalah
...... 2
1.3Tujuan
2
1.4Manfaat
... 2

BAB II PEMBAHASAN ...


3

2.1 Pengertian Akhlak


.. 3
2.2 Konsep Akhlak
.. 5
2.3 Perbedaan Akhlak dan Moral/Etika
. 5
2.4 Hubungan Akhlak dan Tingkah Laku
.. 6
2.5 Skop Akhlak Islam
7
2.6 Kedudukan Akhlak dalam Islam
.. 10
2.7 Kedudukan AKhlak dalam Kehidupan Manusia
. 11
2.8 Ciri-ciri Akhlak Islam
12
2.9 Pembagian Akhlak
13
2.10 Kedudukan Akhlakul Karimah
. 15
2.11 Faktor-faktor Keruntuhan Akhlak ..
.. 18
2.12 Jalan-jalan Pembentuk Akhlak Mulia .
.. 19
2.13 Cara-cara Mengatasi dan Memperbaiki Akhlak
dalam Islam
21

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
. 23
3.2 Saran
23

DAFTAR PUSTAKA . 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Ajaran akhlak dalam Islam berumber dari wahyu Illahi yang


termasuk dalam Al-quran dan sunnah. Akhlak dalam Islam
bukanlah moral yang kondisional dan situasional, tetapi akhlak
yang benar-benar memiliki nilai yang mutlak untuk memperoleh
kebahagian di dunia ini dan di akhirat kelak. Dalam keseluruhan
ajaran Islam, akhlak menempati kedudukan yang istimewa dan
sangat penting.
Di dalam Al-Quran saja banyak ayat-ayat yang
membicarakan masalah akhlak . belum lagi dengan hadits-hadits
Nabi, baik perkataan maupun perbuatan, yang memberikan
pedoman akhlak yang mulia dalam keseluruhan aspek
kehidupan. Akhlak dalam Islam bukanlah moral yang harus
disesuaikan dengan suatu kondisi dan situasi, tetapi akhlak yang
benar-benar memiliki nilai yang mutlak, nilai-nilai baik dan buruk,
terpuji dan tercela berlaku kapan saja, dimana saja dalam segala
aspek kehidupan tidak di batasi oleh ruang dan waktu.
Ajaran akhlak dalam Islam sesuai dengan fitrah manusia.
Manusia akan mendapatkan kebahagiaan hakiki bukan semu bila
mengikuti nilai-nilai kebaikan yang di ajarkan oleh Al-Quran dan
Sunnah, dua sumber akhlak dalam Islam. Akhlak Islam benar-
benar memelikhara eksistensi manusia sebagai makhluk
terhormay sesuai dengan fitrahnya itu. Hati nurani / fitrah dalam
bahasa Al-Quran memang dapat menjadi ukuran baik dan buruk
karena manusia diciptakan oleh Allah SWT memiliki fitrah
bertauhid, mengakui keesaanNya. (QS Ar-Rum :30)
Karena fitrah itulah manusia kepada kesucian dan selalu
cenderung kepada kebenaran. Hati nuraninya selalu
mendambakan dan merindukan kebenaran, ingin mengikuti
ajaran-ajaran Tuhan, karena kebesaran itu tidak akan di dapat
kecuali dengan Allah sebagai sumber kebenaran mutlak. Namun
fitrah manusia tidak selalu terjamin dapat berfungsi dengan baik
karena pengaruh dari luar, misalnya pengaruh pendidikan dan
lingkungan. Fitrah hanyalah merupakan potensi dasar yang perlu
dipelihara dan dikembangkan.
Banyak manusia yang fitrahnya tertutup sehingga hati
nuraninya tidak dapat lagi melihat kebenaran, oleh sebab itu
ukuran baik dan buruk tidak di serahkan sepenuhnya hanya
kepada hati nurani / fitrah manusia semata, harus dikembalikan
kepada penilaian syara yaitu Al-Quran dan Hadits. Semua
keputusan syara tidak akan bertentangan dengan hati nurani
manusia, karena kudua-duanya berasal dari sumber yang sama
yauti Allah SWT.
Demikian juga halnya dengan akal pikiran. Ia hanya lah
salah satu kekuatan yang dimilki manusia untuk mencari
kebaikan / keburukan . Dan keputusannya bermula dari
pengalaman empiris kemudian diolah menurut kemampuan
pengetahuannya, oleh karena itu keputusan yang diberikan akal
hanya bersifat spekulatif dan subjektif. Demikanlah tentang hati
nurani dan akal pikiran.
Di samping istilah akhlak juga di kenal istilah etika dan
moral. Ketiga istilah itu sama-sama menentukan nilai baik dan
buruk sikap dan perbuatan manusia. Perbedaanya terletak pada
standar masing-masing. Bagi akhlak standarnya adalah Al-Quran
dan Sunnah, bagi etika standarnya pertimbangan akal pikiran,
dan bagi moral standarnya adalah adat kebiasaan yang umum
berlaku di masyarakat.

1.2 RUMUSAN MASALAH


a. Apa pengertian akhlak?
b. Bagaimanakah hubungan akhlak dan tingkah laku?
c. Apa saja dan bagaiman pembagian akhlak?
d. Bagaimanakah kedudukan Akhlakul Karimah?

1.3 TUJUAN
a. Untuk mendeskripsikan apa itu akhlak
b. Untuk menjelaskan konsep akhlak
c. Untuk mengetahui pembagian akhlak
d. Untuk mengetahui hubungan akhlak dan tingkah laku

1.4 MANFAAT
a. Menambah wawasan dan sebagai bahan bacaan
b. Memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Pendidikan Agama
Islam.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN AKHLAK

Secara etimologi akhlak adalah bentuk jamak dari khuluq


yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku dan tabiat.
Sinonim kta akhlak adalah budi pekerti, tata krama, sopan
santun, moral dan etic.[1]
Sedangkan akhlak menurut istilah sebagaimana di
ungkapkan oleh Imam Al-Ghazali adalah sebagai berikut : aklhlak
adalah suatu bentuk (naluri asli) dalam jiwa seorang
manusiayang dapat melahirkan suatu tindakan dan kelakuan
dengan mudah dan sopan tanpa memerlukan pemikiran dan
pertimbangan. Apabila naluri tersebut melahirkan suatu tindakan
dan kelakuan yang baik dan terpuji menurut akal dan agama,
maka disebut budi pekerti yang baik. Namun sebaliknya bila
melahirkan tindakan dan kelakuan yang jahat maka disebut budi
pekerti yang buruk.
Yang di maksud melahirkan tindakan dan kelakuan ialah
suatu yang dijelmakan anggota lahir manusia, misalnya tangan,
mulut, demikian juga yang dilahirkan oleh anggota bathin yakni
hati yang tidak dibuat-buat. Kalau kebiasaan yang tidak dibuat-
buat itu baik disebut akhlak yang baik dan kalau kebiasaan yang
buruk disebut akhlak yang buruk.
Jadi dapat kita simpulkan awal perbuatan yang itu lahir
malalui kebiasaan yang mudah tanpa adanya pemikiran dan
pertimbangan terlebih dahulu . contohnya jika seseorang
memaksakan dirinya untuk mendermakan katanya / menahan
amarahnya dengan terpaksa , maka orang yang semacam ini
belum disebut dermawan / orang yang sabar. Seseorang yang
memberikan pertolongan kepada orang lain belumlah dapat
dikatakan ia seorang yang berakhlak baik.
Apabila ia melakukan hal tersebut karena dorongan oleh hati
yang tulus, akhlas, dari rasa kebaikannya / kasihannya sesama
manusia maka ia dapat dikatakan berakhlak dan berbudi pekerti
yang baik. Jadi akhlak adalah masalah kejiwaan, bukan masalah
perbuatan, sedangkan yang tampak berupa perbuatan itu sudah
tanda / gejala akhlak.
Sedangkan akhlak menurut Ibrahim Anis adalah sifat yang
tertanam di dalam jiwa yang dengannya malahirkan macam-
macam perbuatan baik / buruk tampa membutuhkan pemikiran
dan pertimbangan. Dan menurut Abdul Karim Zaidan akhlak
adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa yang
dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai
perbuatan baik / burk untuk kemudian memilih melakukan /
meninggalkannya.
Dari beberapa pengertian tersebut bisa kita ambil
kesimpulan bahwa akhlak / khuluq itu adalah sifat yang tertanam
dalam jiwa manusia sehingga dia akan muncul secara spontan
bilamana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran /
pertimbangan terlebih dahulu serta tidak memerlukan dorongan
dari luar.
Sifat spontanitas dari akhlak tersebut contohnya adalah
apabila ada seseorang yang menyumbang dalam jumlah besar
untuk pembangunan mesjid setelah mendapat dorongan dari
seorang dai (yang mengemukakan ayat-ayat dan hadist-hadist
tentang keutamaan membangun mesjid di dunia), maka orang
tadi belum bisa dikatakan mempunyai sifat pemurah, karena
kemurahannya itu lahir setelah mendapat dorongan dari luar dan
belum tentu muncul lagi pada kesempatan yang lain.
Boleh jadi tanpa dorongan seperti itu, dia tida akan
menyumbang. Dari keterangan di atas jelaslah bagi kita bahwa
akhlak itu brsifat spontan dan tidak memerlukan pemikiran dan
pertimbangan serta dorongan dari luar.
Menurut terminologi, filosofis akhlak Islam yang terpengaruh
oleh filsafat Yunani ia memberikan defenisi akhlak yaitu suatu
keadaan bagi jiwa yang mendorong ia melakukan tindakan. Dari
keadaan itu tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan. Keadaan
ini terbagi 2 ada yang berasal dari tabiat aslinya ada pula yang
diperoleh dari kebiasaan yang berulang-ulang. Boleh jadi
tindakan itu pda mulanya hanya melalui pemikiran dan
pertimbangan, kemudian dilakukan terus menerus maka jadilah
suatu bakat dan akhlak.
Di samping istilah akhlak juga dikenal istilah etika dan
moral. Ketiga istilah itu sama-sama menentukan nilai baik dan
buruk sikap dan perbuatan manusia. Akhlak itu ada yang bersifat
tabrat / alami, maksudnya bersifat fitrah sebagai pembawaan
sejak lahir, misalnya sabar, penyayang, malu, sebagaimana di
dalam hadist Abdil Qais disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW
berkata kepadaku sesungguhnya pada diri kamu ada dua tabiat
yang di sukai Allah, Aku berkata Apa yang dua itu ya
Rasulullah?, rasulullah SAW menjawab Sabar dan malu.
Kata akhlak dipakai untuk perbuatan terpuji dan perbuatan
tercela. Oleh karena itu akhlak memerlukan batasan agar bisa
dikatakan akhlak terpuji / akhlak tercela.
2.2 KONSEP AKHLAK

Dari beberapa pengertian tersebut diatas,dapat disimpulkan


bahwa akhlak adalah tabiat atau sifat seseorang, yakni keadaan
jiwa yang telah terlatih, sehingga dalam jiwa tersebut benar-
benar telah melekat sifat-sifat yang melahirkan perbuatan-
perbuatan dengan mudah dan spontan, tanpa dipikirkan dan
diangan-angankan terlebih dahulu. Hal itu tidak berarti bahwa
perbuatan tersebut dilakukan dengan tidak sengaja atau tidak
dikehendaki. Hanya saja karena yang demikian itu dilakukan
berulang-ulang sehingga sudah menjadi kebiasaan, maka
perbuatan itu muncul dengan mudah tanpa dipikir dan
dipertimbangkan lagi. Sebenarnya akhlak itu sendiri bukanlah
perbuatan, melainkan gambaran batin (jiwa) yang tersembunyi
dalam diri manusia. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa
akhlak adalah nafsiyah (sesuatu yang bersifat kejiwaan/abstrak),
sedangkan bentuknya yang kelihatan berupa tindakan
(muamalah) atau tingkah laku (suluk) merupakan cerminan dari
akhlak tadi. Seringkali suatu perbuatan dilakukan secara
kebetulan tanpa adanya kemauan atau kehendak dan bisa juga
perbuatan itu dilakukan sekali atau beberapa kali saja atau
barangkali perbuatan itu dilakukan tanpa disertai ikhtiar
(kehendak bebas) karena adanya tekanan atau paksaan. Maka
perbuatan-perbuatan tersebut diatas tidak dapat dikategorikan
sebagai akhlak. Sebagai contoh, seseorang tidak dapat dikatakan
berakhlak dermawan, apabila perbuatan memberikan hartanya
itu dilakukan hanya sekali atau dua kali saja,atau mungkin dia
memberikan itu karena terpaksa (disebabkan gengsi atau
dibawah tekanan) yang sebenarnya dia tidak menghendaki untuk
melakukannya atau mungkin untuk memberikan hartanya itu dia
masih merasa berat sehingga memerlukan perhitungan dan
pertimbangan. Padahal factor kehendak ini memegang peranan
yang sangat penting, karena dia menunjukkan adanya unsur
ikhtiar dan kebebasan, sehingga suatu perbuatan bisa disebut
perbuatan akhlak.

2.3 PERBEDAAN AHLAK DAN MORAL/ETIKA


Yang dimaksudkan dengan akhlak secara umum ialah
sistem atau tingkah laku manusia yang bersumberkan kepada
asas wahyu atau syarak. Sementara yang dimaksudkan dengan
etika ialah sistem tingkah laku manusia yang selain daripada
wahyu, tegasnya yang bersumberkan falsafah. Kata etika berasal
daripada bahasa Inggeris "Ethic" dan bahasa Greek "Ethos" yang
membawa maksud nilai-nilai atau perkara yang berkaitan dengan
sikap yang menentukan tingkah laku sesuatu golongan.

Kata moral pula ialah tingkah laku yang telah ditentukan


oleh etika. Tingkah laku yang telah ditentukan oleh etika sama
ada baik atau jahat dinamakan moral. Moral ini terbahagi kepada
dua iaitu baik dan jahat. Yang baik ialah segala tingkah laku yang
dikenal pasti oleh etika sebagai baik. Dan yang jahat ialah
tingkah laku yang dikenal pasti oleh etika sebagai jahat.

1. Perbedaan Antara Akhlak dan Moral/Etika

Akhlak merupakan satu sistem yang menilai tindakan


zahir dan batin manusia manakala moral ialah satu sistem yang
menilai tindakan zahir manusia sahaja.
Akhlak mencakup pemikiran, perasaan dan niat di hati
manusia dalam hubungan manusia dengan Allah, manusia
dengan manusia dan manusia dengan makhluk lain manakala
moral mencakupi pemikiran, perasaan dan niat di hati manusia
dalam hubungan manusia dengan manusia sahaja.
Nilai-nilai akhlak ditentukan oleh Allah swt melalui al-
Quran dan tunjuk ajar oleh Rasulullah saw manakala moral
ditentukan oleh manusia.
Nilai-nilai akhlak bersifat mutlak, sempurna dan tetap
manakala nilai-nilai moral bersifat relatif, subjektif dan
sementara.
2. Contoh perbedaan ahlak dan moral
a. Pakaian
Menurut Islam pakaian bagi seseorang muslim
mestilah menutup aurat. Seandainya mereka tidak menutup
aurat maka ia telah dianggap sebagai orang yang tidak
berakhlak kerana telah melanggar peraturan yang telah
ditetapkan oleh Allah swt. Berbeda dengan moral, jika seseorang
itu mendedahkan aurat tetapi masih mempunyai perlakuan yang
baik, maka mereka masih dianggap bermoral oleh sesetengah
pihak.

b. Pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan


Fenomena seumpama ini sudah menjadi suatu lumrah
baik masyarakat di Barat dan masyarakat kita. Berdasarkan
penilaian Barat perkara ini masih dianggap bermoral, sebaliknya
jika dilihat dari sudut akhlak Islam, perlakuan sedemikian sudah
dianggap tidak berakhlak.

c. Bersalaman

Bersalaman di antara lelaki dan perempuan yang


bukan mahramnya adalah haram menurut Islam walaupun
tujuannya untuk merapatkan hubungan. Tetapi perkara ini
dibolehkan dalam sistem moral.

2.4 HUBUNGAN AKHLAK DAN TINGKAH LAKU


Jika akhlak merupakan sifat diri secara bathiniahyang
bisa diketahui oleh mata hati, tingkah laku merupakan gambara
diri secara lahiriah yang bisa diketahui oleh mata atau dapat kita
katakan bahwa hubungan akhlak dan tingkah laku itu seperti
hubungan antara yang menunjukkan dan yang ditunjukkan.[2]
Jika tingkah laku manusia itu baik serta terpuji,
akhlaknya terpuji, sedangkan jika tingkah lakunya buruk maka
serta tercela maka akhlaknya pun tercela. Inipun terjadi bila tak
ada faktor luar yang mempengaruhi tingkah laku itu, kemudian
menyebabkan tidak mengarakan akhlak secara benar. Contohnya
orang yang bersedekah karena ingin dilihat orang-orang
disampingnya.
Rasulullah juga pernah bersabda Manusia yang paling
banyak dimasukkan ke dalam surga adalah manusia yang
bertaqwa kepada Allah SWT dan akhlak yang baik. Akhlak itu
merupakan suatu keadaan dalam diri, maksudnya ia merupakan
suatu sifat dimilki aspek jiwa manusia, sebagaimana tindakan
merupakan suatu sifat bagi aspek tubuh manusia.
2.5 SKOP AKHLAK ISLAM
Skop akhlak Islam adalah luas merangkumi segenap
perkara yang berkaitan dengan kehidupan manusia sama ada
hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan
manusia dan hubungan manusia dengan makhluk lain.
1. Akhlak dengan Allah : Antara ciri-ciri penting akhlak
manusia dengan Allah swt ialah :
Beriman kepada Allah : yaitu mengakui,
mempercayai dan meyakini bahawa Allah itu wujud
serta beriman dengan rukun-rukunnya dan
melaksanakan tuntutan-tuntutan di samping
meninggalkan sebarang sifat atau bentuk syirik
terhadapnya.
Beribadah atau mengabdikan diri, tunduk, taat dan
patuh kepada Allah : yaitu melaksanakan segala
perintah dan meninggalkan segala larangannya
dengan ikhlas semata-mata kerana Allah swt.
Senatiasa bertaubat dengan tuhannya : yaitu
apabila seseorang mukmin itu terlupa atau jatuh
kepada kecuaian dan kesilapan yang tidak
seharusnya berlaku lalu ia segera sedar dan insaf
lalu meminta taubat atas kecuaiannya.
Mencari keredhaan Tuhannya : yaitu sentiasa
mengharapkan Allah dalam segala usaha dan
amalannya. Segala gerak geri hidupnya hanyalah
untuk mencapai keredhaan Allah dan bukannya
mengharapkan keredhaan manusia walaupun
kadang kala terpaksa membuat sesuatu kerja yang
menyebabkan kemarahan manusia.
Melaksanakan perkara-perkara yang wajib, fardhu
dan nawafil.
Ikhlas menerima Qadha' dan Qadar Allah : Sabda
Rasulullah saw yang bermaksud : "Apabila
mendapat kesenangan dia bersyukur dan apabila
dia ditimpa kesusahan dia bersabar maka
menjadilah baik baginya."
2. Akhlak dengan manusia :
Akhlak dengan Rasulullah : yaitu beriman dengan
penuh keyakinan bahawa nabi Muhammad saw
adalah benar-benar nabi dan Rasul Allah yang
menyampaikan risalah kepada seluruh manusia
dan mengamalkan sunnah yang baik yang
berbentuk suruhan ataupun larangan.
Akhlak dengan ibubapa : yaitu berbuat baik
(berbakti) ke pada ibu bapa. Berbuat baik di sini
mengandungi erti meliputi dari segi perbuatan,
perkataan dan tingkah laku. Contohnya berkata
dengan sopan dan hormat, merendahkan diri,
berdoa untuk keduanya dan menjaga keperluan
hidupnya apabila mereka telah uzur dan
sebagainya. Firman Allah swt yang bermaksud : "
Kami perintahkan manusia berbuat baik kepada
kedua ibu bapa."
Akhlak dengan guru : Maksud dari sebuah hadith
Nabi saw: "Muliakanlah orang yang kamu belajar
daripadanya." Setiap murid dikehendaki
memuliakan dan menghormati gurunya kerana
peranan guru mengajarkan sesuatu ilmu yang
merupakan perkara penting di mana dengan ilmu
tersebut manusia dapat menduduki tempat yang
mulia dan terhormat dan dapat mengatasi
berbagai kesulitan hidup sama ada kehidupan di
dunia ataupun di akhirat.
Akhlak kepada jiran tetangga : Umat Islam dituntut
supaya berbuat baik terhadap jiran tetangga.
Contohnya tidak menyusahkan atau mengganggu
mereka seperti membunyikan radio kuat-kuat,
tidak membuang sampah di muka rumah jiran,
tidak menyakiti hati mereka dengan perkataan-
perkataan kasar atau tidak sopan dan sebagainya.
Malah berbuat baik terhadap jiran tetangga dalam
pengertiannya itu dapat memberikan sesuatu
pemberian kepada mereka sama ada sokongan
moral atau material.
Akhlak suami isteri : Firman Allah swt yang
bermaksud : "Dan gaulilah olehmu isteri-isteri itu
dengan baik."
Akhlak dengan anak-anak : Islam menetapkan
peraturan terhadap anak-anak. Sabda Rasulullah
saw yang bermaksud : "Kanak-kanak lelaki
disembelih aqiqahnya pada hari ketujuh dari
kelahirannya dan diberi nama dengan baik-baik
dan dihindarkan ia daripada perkara-perkara yang
memudharatkan. Apabila berusia enam tahun
hendaklah diberi pengajaran dan pendidikan
akhlak yang baik."
Akhlak dengan kaum kerabat : Firman Allah yang
bermaksud : "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu
berlaku adil dan berbuat kebajikan dan memberi
kepada kaum kerabat."
3. Akhlak terhadap makhluk selain manusia :
Malaikat :Akhlak Islam menuntut seseorang muslim
supaya menghormati para malaikat dengan
menutup kemaluan walaupun bersendirian dan
tidak ada orang lain yang melihat.
Jin : Adab terhadap golongan jin antaranya
Rasulullah melarang membuang hadas kecil di
dalam lubang-lubang di bumi kerana ia adalah
kediaman jin. Sabda Rasulullah saw yang
bermaksud : "Jangan kamu beristinjak dengan tahi
kering dan jangan pula dengan tulang-tulang
kerana sesungguhnya tulang-tulang itu adalah
makanan saudara kamu dari kalangan jin."
Haiwan ternakan : Haiwan yang digunakan untuk
membuat kerja, maka tidak boleh mereka dibebani
di luar kesanggupan mereka atau dianiaya atau
disakiti. Malah ketika hendak menyembelih untuk
dimakan sekalipun, maka hendaklah
penyembelihan dilakukan dengan cara yang paling
baik iaitu dengan menggunakan pisau yang tajam,
tidak mengasah pisau di hadapan haiwan tersebut
atau menyembelih haiwan di samping haiwan-
haiwan yang lain.
Haiwan bukan ternakan : tidak menganiayai
haiwan-haiwan bukan ternakan seperti
mencederakannya dengan menggunakan batu dan
sebagainya.
Alam : Manusia diperintahkan untuk
memakmurkan sumber-sumber alam demi
kebaikan bersama. Islam menetapkan bahawa
alam ini tidak boleh dicemari dengan kekotoran
yang boleh merosakkan kehidupan manusia dan
kehidupan lainnya.
2.6 SUMBER AHLAK ISLAM
Dalam Islam akhlak adalah bersumber dari dua sumber
yang utama iaitu al-Quran dan al-Sunnah. Ini ditegaskan leh
Rasulullah saw dalam sepotong hadith yang
bermaksud : "Sesungguhnya aku diutuskan hanya semata-mata
untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."

Allah swt telah memuji Rasulullah kerana akhlaknya yang baik


seperti yang terdapat dalam al-Quran, firman Allah swt yang
bermaksud : "Sesungguhnya engkau seorang memiliki peribadi
yang agung (mulia)."

2.6 KEDUDUKAN AKHLAK DALAM ISLAM


Akhlak mempunyai kedudukan yang paling penting dalam
agama Islam. Antaranya :
Akhlak dihubungkan dengan tujuan risalah Islam atau
antara perutusan utama Rasulullah saw. Sabda Rasulullah
saw yang bermaksud : "Sesungguhnya aku diutuskan untuk
menyempurnakan akhlak yang mulia." Pernyataan
Rasulullah itu menunjukkan pentingnya kedudukan akhlak
dalam Islam.
Akhlak menentukan kedudukan seseorang di akhirat nanti
yang mana akhlak yang baik dapat memberatkan timbangan
amalan yang baik. Begitulah juga sebaliknya. Sabda
Rasulullah saw yang bermaksud : "Tiada sesuatu yang lebih
berat dalam daun timbangan melainkan akhlak yang baik."
Akhlak dapat menyempurnakan keimanan seseorang
mukmin. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud : "Orang
mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang
paling baik akhlaknya."
Akhlak yang baik dapat menghapuskan dosa manakala
akhlak yang buruk boleh merosakkan pahala. Sabda
Rasulullah saw yang bermaksud : "Akhlak yang baik
mencairkan dosa seperti air mencairkan ais (salji) dan
akhlak merosakkan amalan seperti cuka merosakkan madu."
Akhlak merupakan sifat Rasulullah saw di mana Allah swt
telah memuji Rasulullah kerana akhlaknya yang baik seperti
yang terdapat dalam al-Quran, firman Allah swt yang
bermaksud : "Sesungguhnya engkau seorang yang memiliki
peribadi yang agung )mulia)." Pujian allah swt terhadap
RasulNya dengan akhlak yang mulia menunjukkan betapa
besar dan pentingnya kedudukan akhlak dalam Islam. Banak
lagi ayat-ayat dan hadith-hadith Rasulullah saw yang
menunjukkan ketinggian kedudukan akhlak dan
menggalakkan kita supaya berusaha menghiasi jiwa kita
dengan akhlak yang mulia.
Akhlak tidak dapat dipisahkan dari Islam, sebagaimana
dalam sebuah hadith diterangkan bahawa seorang lelaki
bertanya kepada Rasulullah saw : "Wahai Rasulullah, apakah
itu agama?" Rasulullah menjawab : "Akhlak yang baik."
Akhlak yang baik dapat menghindarkan seseorang itu
daripada neraka sebaliknya akhlak yang buruk
menyebabkan seseorang itu jauh dari syurga. Sebuah hadith
menerangkan bahawa, "Si fulan pada siang harinya
berpuasa dan pada malamnya bersembahyang sedangkan
akhlaknya buruk, menganggu jiran tetangganya dengan
perkataannya. Baginda bersabda : tidak ada kebaikan dalam
ibadahnya, dia adalah ahli neraka."
Salah satu rukun agama Islam ialah Ihsan, iaitu
merupakan asas akhlak seseorang muslim. Ihsan iaitu
beribadat kepada allah seolah-olah kita melihatNya kerana
walauun kita tidak melihatNya, maka sesungguhnya Dia
melihat kita.
2.7 KEDUDUKAN AKHLAK DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
Akhlak merupakan garis pemisah antara yang berakhlak
dengan orang yang tidak berakhlak. Akhlak juga merupakan roh
Islam yang mana agama tanpa akhlak samalah seperti jasad
yang tidak bernyawa. Oleh itu salah satu misi yang dibawa oleh
Rasulullah saw ialah membina kembali akhlak manusia yang
telah runtuh sejak zaman para nabi yang terdahulu ekoran
penyembahan berhala oleh pengikutnya yang telah
menyeleweng.

Hal ini juga berlaku pada zaman jahiliyyah yang mana


akhlak manusia telah runtuh berpunca daripada mewarisi
perangai umat yang terdahulu dengan tradisi meminum arak,
membuang anak, membunuh, melakukan kezaliman sesuka hati,
menindas, suka memulau kaum yang rendah martabatnya dan
sebagainya. Dengan itu mereka sebenarnya tidak berakhlak dan
tidak ada bezanya dengan manusia yang tidak beragama.
Akhlak juga merupakan nilai yang menjamin
keselamatan daripada api neraka. Islam menganggap mereka
yang tidak berakhlak tempatnya dia dalam neraka. Umpamanya
seseorang itu melakukan maksiat, menderhaka kepada ibu bapa,
melakukan kezaliman dan sebagainya, sudah pasti Allah akan
menolak mereka daripada menjadi ahli syurga.Selain itu, akhlak
juga merupakan ciri-ciri kelebihan di antara manusia kerana
ianyalambang kesempurnaan iman, ketinggian taqwa dan
kealiman seseorang manusia yang berakal. Dalam hal ini
Rasulullah saw bersabda yang bermaksud : "Orang yang
sempurna imannya ialah mereka yang paling baik akhlaknya."

Kekalnya sesuatu ummah juga kerana kukuhnya akhlak


dan begitulah juga runtuhnya sesuatu ummah itu kerana
lemahnya akhlaknya. Hakikat kenyataan di atas dijelaskan dalam
kisah-kisah sejarah dan tamadun manusia melalui al-Quran
seperti kisah kaum Lut, Samud, kaum nabi Ibrahim, Bani Israel
dan lain-lain. Ummah yang berakhlak tinggi dan sentiasa berada
di bawah keredhaan dan perlindungan Allah ialah ummah yang
seperti di Madinah pada zaman Rasulullah saw.

Ketiadaan akhlak yang baik pada diri individu atau


masyarakat akan menyebabkan berlaku pelbagai krisis dalaman
dan luaran seperti krisis nilai diri, keruntuhan rumahtangga,
masyarakat belia yang mundur dan boleh membawa kepada
kehancuran sesebuah negara. Presiden Perancis ketika
memerintah Perancis dulu pernah berkata :"Kekalahan Perancis
di tangan tentera Jerman disebabkan tenteranya runtuh moral
dan akhlak."

Pencerminan diri seseorang sering digambarkan melalui


tingkah laku atau akhlak yang ditunjukkan. Malahan akhlak
merupakan perhiasan diri bagi seseorang sebagaimana aqidah
merupakan tunjang agama, syariat merupakan cabang dan
rantingnya manakala akhlak adalah yang mewarnai seperti
bunga-bungaan yang menyerikan hiasan pokok tersebut.

Akhlak tidak dapat dibeli atau dinilai dengan wang


ringgit Ia wujud di dalam diri seseorang hasil daripada didikan
kedua ibu bapa atau penjaga serta pengaruh dari masyarakat
sekeliling mereka. Jika sejak kecil kita didedahkan dengan akhlak
yang mulia, maka secara tidak langsung ia akan mempengaruhi
tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari hinggalah seterusnya.

Proses pembentukan sesebuah masyarakat adalah sama


seperti membina sebuah bangunan. Kalau dalam pembinaan
bangunan, asasnya disiapkan terlebih dahulu, begitu juga
dengan membentuk masyarakat mesti dimulakan dengan
pembinaan asasnya terlebih dahulu. Jika kukuh asas yang dibina
maka tegaklah masyarakat itu. Jika lemah maka robohlah apa-
apa sahaja yang dibina di atasnya.

Akhlak amat penting kerana merupakan asas yang


dilakukan oleh Rasulullah saw ketika memulakan pembentukan
masyarakat Islam. Sheikh Mohamad Abu Zahrah dalam kitabnya
Tanzim al-Islam Li al-Mujtama' menyatakan bahawa budi pekerti
atau moral yang mulia adalah satu-satunya asas yang paling
kuat untuk melahirkan manusia yang berhati bersih, ikhlas
dalam hidup, amanah dalam tugas, cinta kepada kebaikan dan
benci kepada kejahatan.

2.8 CIRI-CIRI AKHLAK ISLAM


1. Islam menyeru agar manusia menghiasi jiwa dengan
akhlak yang baik dan menjauhkan diri dari akhlak
yang buruk. Yang menjadi ukuran baik dan burukna
adalah syarak, iaitu apa yang diperintahkan oleh
syarak, itulah yang baik dan apa yang dilarang oleh
syarak itulah yang buruk.
2. Lingkungan skop akhlak Islam adalah luas meliputi
segala perbuatan manusia dengan Allah, manusia
dengan manusia dan manusia dengan makhluk selain
manusia.
3. Islam menghubungkan akhlak dengan keimanan.
Orang yang paling sempurna keimanannya ialah
orang yang paling baik akhlaknya.
4. Adanya konsep balasan dan ganjaran pahala atau
syurga oleh Allah dan sebaliknya orang yang
berakhlak buruk akan mendapat dosa atau disiksa
dalam neraka.
2.9 PEMBAGIAN AKHLAK
Akhlak dibagi menjadi dua macam :
1. Akhlakul Karimah
Akhlakul karimah adalah akhlak yang mulia atau terpuji.
Akhlak yang baik itu dilahirkan oleh sifat-sifat yang baik pula
yaitu sesuai dengan ajaran Allah SWT dan rasil-rasulNya.
Misalnya :
a. Bertaqwa kepada Allah SWT
Dan bertaqwalah kepada Ku, hai orang-orang yang
berakal. (QS Al-Baqarah : 197)
Rasulullah juga telah bersabda yang mana artinya
adalah sebagai berikut :
Bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada
dan ikutilah suatu keburukan dengan kebaikan, niscaya
akan menghapuskannya dan bergaullah dengan sesma
manusia dengan akhlak yang baik
(H.R Tirmidzi dari Abu Dzar dan Muadz bin Jabal)
b. Berbuat baik kepada kedua orang tua.
Allah SWT telah berfirman yang mana artinya adalah
sebagai berikut :
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak
menyembah selain Dia.dan hendaklah kamu berbuat
baik kepad ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika
salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya
sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka
sekali-kali janganlah kamu membentak mereka dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (QS
Al-Isra : 23)
Rasulullah juga telah bersabda, Ridha Allah SWT itu
terletak pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah
itu terletak pada murkanya kedua orang tua (H.R
Tirmidzi dari Abdullah bin Amr).
c. Suka Menolong Orang yang Lemah
Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-Maidah : 2
yang mana artinya adalah sebagai berikut, Dan tolong
menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan
taqwa. Dan jangan tolong menolong dalam perbuatan
dosa dan pelanggaran.
Rasulullah juga telah bersabda : Dan Allah akan
menolong hambaNya, selama hambaNya itu suka
menolong saudaranya (H.R Muslim dari Abu Hurairah)
2. Akhlakul Madzmumah
Akhlakul madzmumah adalah akhlah tercela / akhlak
yang tidak terpuji. Akhlakul madzmumah (tercela) ialah
akhlak yang lahir dari sifat-sifat yang tidak sesuai
dengan ajaran Allah SWT dan RasulNya. Misalnya :
a. Musyrik (menyekutukan Allah)
Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya :
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata
sesungguhnya Allah ialah Al Masih putra Maryam
padahal Al Masih sendiri berkata Hai Bani Israil,
sembahlan Allah Tuhanku dan Tuhanmu!.
Sesungguhnya orang-orang yang
mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka
pastilah Allah mengharamkam surga kepadanya dan
tempatnya adalah neraka. Orang-orang zalim itu
tidaklah mendapat seorang penolong pun (QS Al
Maidah : 72).
Rasulullah juga bersabda yang artinya sebagai berikut :
Tidaklah kalian mau kuberi tahukah sebesar-besarnya
dosa besar? (beliau mengatakan demikian demikian
sampai 3 kali). Para sahabat menjawab,Tentu ya
Rasulullah . Rasulullah SAW bersabda yang demikian
itu adalah musryik (menyekutukan Allah). (H.R Bukhari
dan Muslim)
b. Pergaulan Bebas (zina)
Allah berfirman Dan janganlah kamu mendekati zina ,
sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan
jalan yang buruk (QS Al-Isra : 32)
Rasulullah telah bersabda yang artinya : Tidak ada
suatu dosa pun setelah musryik (menyekutukan Allah)
yang lebih besar di sisi Allah dari pada seseorang yang
meletakkan spermanya kepada kamaluan perempuan
yang tidak halal baginya (H.R Ahmad dan Thabari dari
Abdullah bin Al-Harits)
c. Meminum Minuman Keras (narkoba)
Dalam hal ini Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-
Maidah : 90, yang artinya : Hai orang-orang yang
beriman, sesungguhnya meminum khamar, berjudi,
berkorban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan
anak panah adalah perbuatan keji yang termasuk
perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan itu agar
kamu mendapat keberuntungan (QS Al-Maidah : 90)
Rasulullah dalam hal ini telah bersabda : Jauhilah
minum minuman keras, karena dia merupakan kunci
segala keburukan (H.R Al-Hakam dari Ibnu Abbas r.a)
1.10 KEDUDUKAN AKHLAKUL KARIMAH
Akhlakul karimah merupakan barometer tinggi rendahnya
derajat seseorang sekalipun orang itu pandai setinggi langit,
namun jika ia suka melanggar norma-norma agama maka ia
tidak bisa dikatakan orang yang mulia.
Akhlakul karimah tidak hanya menentukan tinngi
rendahnya derajat seseorang akan tetapi mencakup pula derajat
suatu bangsa. Suatu bangsa dapat dikatakan mulia karena
kemuliaan dan kebesarannya, kalau mereka berakhlak jahat dan
hinakarena yang akan tinggal itu bukan kemewahan dan
kebesarannya melainkan akhlaknya.
Oleh karena itu akhlak menjadi peninggalan kekal yang
akan terhapus selama dunia di huni manusia, sedang
kemewahan dan kebesaran itu akaj lenyap bila bangsa itu hancur
dan binasa. Lenyapnya kemuliaan suatu bangsa karena
kehilangan akhlak yang baik dan utama dari mereka, demikian
pula sebaliknya kekalnya suatu bangsa karena kekalnya akhlak-
akhlak dari mereka.
Seorang pujangga Mesir bernama Ahmad Syauqi dalam
salah satu qubahannya: Sesungguhnya suatu bangsa akan
menjadi jaya dan terhormat selama bangsa itu memiliki akhlak
yang luhur, apabila bangsa itu telah kehilangan akhlak yang
luhur, maka bangsa itu akan musnah dan hancur lembur.
Oleh karena itu masalah akhlak itu tidak bisa dianggap
sepele, karena mencakup masyarakat luas, yang akan
mengangkat drajat manusia ke tingkat yang semulia-mulianya,
namun bila salah jalan justru akan membawa mareka kepada
derajat yang serendah-rendahnya. Masalah akhlak pada masa
sekarang ini pada umumnya kejahatan mengatasi
kebaikan,kebatilan mengatasi kebenaran, pencemaran menjadi
perbuatan yang lumrah dilakukan orang.
Pada masa sekarang orang tua sangat mengkhawatirkan
moral anaknya, karena rusaknya pergaulan dikalangan manusia,
khususnya pada masa remaja. Masa yang menunjukkan bahwa
ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dipengaruhi oleh hawa
nafsu dan bujukan setan. Namun manusia tidak bisa semata-
mata mengandalkan teknologi dan ilmu pengetahuan ini untuk
membimbingnya ke jalan kebajikan dan mengesampingkan
ajaran dan tuntutan agama.
Kaum muslim sebaiknya mempraktekkan akhlakul karimah
ini, karena kedatangan Nabi Muhammad SAW adalah sebagai
penyempurna akhlak yang baik dan utama. Sebagaimana
diterangkan dalam sabdanya yang artinya:
Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak
yang mulia (H.R Al-Hakim dari Abu Hurairah)
Sebagai anjuran bagi umatnya supaya berakhlak baik,
bliau bersabda, yang artinya adalah :
Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah
orang yang paling baik akhlaknya (H.R Tirmidzi dari Abu
Hurairah)
Dan Nabipun telah mendorong orang tua agar
mengajarkan tata krama dan sopan santun kepada anak-anaknya
tersebut dalam sebuah hadits yang artinya
Muliakanlah anak-anakmu dan baguskanlah budi pekerti
mereka (H.R Ibnu Majah dari Anas bin Malik)
Nabi Muhammad tidak hanya menganjurkan umatnya
supaya berakhlak baik dan mulia, tetapi lebih dahulu beliau
berakhlak mulia, bersopan santun dan berperangai terpuji,
sehingga Allah SWT memberikan pujian kepada beliau yang
belum pernah diberikannya kepada orang lain, sebagaimana
diterangkan dalam firmannya yang berarti, Sesungguhnya
engkau (Muhammad) berbudi pekerti agung (QS Al-qalam : 4)
Oleh karena itu setiap muslim berkewajiban mendidik
dirinya sendiri dan ank-anaknya supaya berakhlak baik. Dan di
perguruan tinggi masalah akhlak ini perlu mendapat perhatian.
Janganlah mereka hanya mementingkan ilmu pngetahuan dan
teknologi saja, sedangkan akhlak tidak diperhatikan.
Ilmu pengetahuan dan teknologi serta penghidupan yang
serba mewah itu, tidaklah memiliki arti apa-apa kalau mereka
dan anak-anak mereka berakhlak jahat dan hina, karena
ketiadaan akhlak yang baik itu bisa membawa mereka kepada
kerusakan dan kerendahan.
Dalam keseluruhan agama Islam akhlak menempati
kedudukan istimewa dan sangat penting, karena Rasulullah SAW
menempatkan penyempurnaan akhlak yang mulia sebagai misi
pokok risalah Islam, beliau bersabda yang artinya :
Sesungguhnya aku di utus untuk menyempurnakan akhlak
yang mulia
(H.R Baihaqi)
Akhlak merupakan salah satu ajaran pokok agama Islam
sebagai Rasulullah Saw pernah mendefenisikan agama itu
dengan akhlak yang baik.
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya pada
Rasulullah SAW:
Ya Rasulullah, apakah agama itu? Beliau menjawab Agama
itu adalah akhlak yang baik. Pendefisian agama (Islam) dengan
akhlak yang baikitu sebanding dengan pendefenisian ibadah haji
dengan wuquf di Arafah. Rasulullah menyebutkan haji adalah
wuquf di Arafah. Artinya tidak sah haji seseorang tanpa wuquf di
Arafah.
Akhlak yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan
seseorang nantipada hari kiamat. Rasulullah bersabda yang
mana artinya :
Tidak ada satupun yang akan lebih memberatkan timbangan
(kebaikan) seorang hamba mukmin nanti pada hari kiamat selain
dari akhlak yang baik (H.R Tirmidzi)
Dan orang yang paling dicintai serta dekat dengan
Rasulllah SAW nanti pada hari kiamat adalah orang yang paling
baik akhlaknya. Rasulullah menjadikan baik buruknya akhlak
seseorang sebagai ukuran klulitas imannya. Hal ini bisa kita lihat
pada sabda rasulullah yang artinya adalah :
Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang
paling baik akhlaknya, misalnya shalat, puasa, zkat, dan haji.
Sebagaiman firman Allah yang artinya :
Dan dirikan lah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari
perbuatan keji dan mungkar. (QS Al-Ankabut : 29:45)
Rasulullah juga pernah bersabda bahwa puasa itu bukan
hanya menahan makan dan minum saja, tapi puasa itu menahan
diri dari perbuatan kotor dan keji. Jika seoarng mencaci, menjahili
kamu maka katakan sesungguhnya aku sedang puasa.
Firman Allah SWT dalam surat At-Taubah 9:103 :
Ambilah zakat dari sebagaian harta mereka, demgan zakat itu
kamu membersihkan dan mensucikan mereka.
Firman allah dalam surat Al-Baqarah : 197
Musim haji adalah beberapa bulan dimaklumi. Barabg siapa
yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan
haji, maka tidak boleh rafats (mengeluarkan perkataan yang
menimbulakan birahi yang tidak senonoh / bersetubuh dalam
masa mengerjakan haji.
Dan beberpa arti dari ayat di atas kita dapat melihat
adanya kaitan langsung antara shalat, puasa, haji dan zakat
dengan akhlak. Seseorang yang mendirikan shalat tentu tidak
akan mengerjakan segala perbuatan yang tergolong keji dan
mungkar. Sebab apalah arti shalat kalau dia tetap saja
mengerjakan kekejian dan kemungkaran. Seseorang yang benar-
benar puasa demi mencari ridha Allah, di samping menahan
keinginannya untuk makan dan minum, tentu saja akan menahan
dirinya dari segala kata-kata yang kotor dan perbuatan yang
tercela. Sebab tanpa meninggalkan perbuatan yang tercela itu
dia tidak akan mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali
hanya lapar dan haus semata.
Begitu juga dengan ibadh, zakat dan haji, di kaitkan oleh
Allah SWT hikmahnya dengan aspek akhlak. Jadi kesimpulannya,
akhlak yang baik dan diterima oleh Allah adalah buah dari
ibadahyang baik atau ibadah yang baik dan diterima oleh Allah
SWTtentu akan melahirkan akhlak yang baik dan terpuji. Nabi
Muhammad Saw selalu berdoa agar Allah SWT membaikkan
akhlak beliau.
Salah satu doa beliau adalah :
Ya Allah tunjukilah aku jalan menuju akhlak yang baik, karena
sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi petunjuk menuju
jalan yang lebih baik selain engkau. Hindarilah aku dari akhlak
yang buruk karena sesungguhnya tidak ada yang dapat
menghindarkan aku dari akhlak yang buruk kecuali engku.
Di dalam Al-Quran banyak terdapat ayat-ayat yang
berhubungan dengan akhlak,baik berupa perintah untuk
berakhlak yang baik serta pujian dan pahala yang diberikan
kepada orang-orang yang mematuhi perintah itu, maupn
larangan berakhlak yang buruk serta celaan dan dosa bagi
orang-orang yang melanggar.

2.11 FAKTOR-FAKTOR KERUNTUHAN AHLAK


1. lingkungan sosial
Faktor lingkungan sosial banyak mempengaruhi
pembentukan peribadi seseorang. Antaranya ialah :

Individu yang hidup dalam keluarga yang tidak


mengamalkan cara hidup yang berakhlak, maka
jiwanya akan terdidik dengan tingkah laku, tutur kata
dan gaya hidup yang tidak baik.
Kehadiran teknologi canggih dalam media
massa sama ada bercetak atau elektronik juga
sedikit sebanyak memberi kesan dalam
pembentukan akhlak seseorang yaitu melalui
adegan-adegan ganas dan berunsur seks yang boleh
merosakkan jiwa mereka.
Pengaruh rakan sebaya dan masyarakat sekeliling
juga merupakan faktor yang membentuk
keperibadian dan akhlak seperti tingkah laku, tutur
kata dan cara bertindak.
Permasalahan keluarga yang melibatkan ibu bapa
contohnya pergaduhan dan perceraian boleh
membawa kepada permasalahan sosial seperti lari
dari rumah, menyertai rakan sebaya mahupun
kumpulan yang rosak akhlaknya sehingga membawa
kepada pergaulan bebas, perzinaan, pengambilan
dadah, pelacuran (bohsia) dan seumpamanya.
Budaya masyarakat yang cenderung ke
arah liberalisme juga membawa masyarakat kini
mudah terjebak dengan budaya rock, rap, lepak dan
seumpamanya.
2. Nafsu
Nafsu adalah anugerah Allah swt kepada manusia dan
nafsu juga adalah musuh sebati dengan diri manusia yang
melaksanakan hasrat nafsu manusia. Manusia yang terlalu
menurut kehendak nafsunya akan terdorong untuk melakukan
keburukan. Seandainya nafsu tidak dapat dikawal, sudah asti
boleh menghilangkan maruah diri, agama dan nilai budaya
sesebuah masyarakat dan membawa kepada kemungkaran
sebagaimana berlaku dalam masyarakat kini.

3. Syaitan

Satu lagi musuh ghaib yang sentiasa mendampingi


manusia dengan memperalatkan nafsu manusia iaitu syaitan.
Fungsi syaitan adalah sebagai agen perosak akhlak manusia
berlaku sejak Nabi Adam a.s. dan berterusan hingga ke hari
kiamat.

Kesimpulannya setiap manusia yang hidup terpaksa


menghadapi ujian dan cubaan hidup dalam usaha melatih diri
menjadi manusia yang berakhlak dan bersedia menghadapi
segala rintangan.

2.12 JALAN-JALAN PEMBENTUK AKHLAK MULIA


Akhlak adalah sesuatu perilaku yang boleh diubah dan
dibentuk, contohnya Saidina Umar al-Khattab, sebagaimana
keadaan beliau semasa berada di zaman jahiliyyah berbanding
keadaannya sesudah memeluk agama Islam. Dari sini dapat
disimpulkan bahawa akhlak merupakan sesuatu yang semulajadi
tetapi ianya perlu dibentuk. Terdapat beberapa cara untuk
membentuk dan membina akhlak mulia. Antara cara-cara itu
ialah melalui :

1. Pendidikan Iman sebagai Asas Akhlak

Pendidikan merupakan salah satu cara untuk mencorak


manusia menjadi seseorang yang beriman. Iman adalah asas
kepada akhlak Islam. Tidak akan sempurna iman seseorang jika
tidak disertai oleh akhlak yang baik. Contohnya dengan
melaksanakan segala perintah Allah yang berupa ibadah kerana
kesemua perintah Allah tersebut bertujuan untuk membersihkan
diri dan menyuburkan jiwa manusia dengan sifat-sifat terpuji.
Lantaran itu setiap ayat al-Quran menyeru manusia
berbuat baik dan mencegah manusia daripada melakukan
perbuatan mungkar. Biasanya didahului dengan
panggilan "Wahai orang-orang yang beriman" kemudian barulah
diikuti dengan perintah atau larangan. Iman yang teguh tetap
memerlukan akhlak yang teguh. Jika berlaku kemerosotan akhlak
di kalangan manusia, puncanya adalah kelemahan iman dan
tertakluk kepada kefasikan atau kejahatan yang dilakukan oleh
seseorang.

Pendidikan iman bolehlah disimpulkan sebagai suatu


pemulihan tenaga keimanan seseorang supaya dapat
mempertahankan diri manusia daripada segala kerendahan dan
keburukan serta dapat mendorong manusia ke arah kemuliaan.

2. Melalui Latihan dan Bimbingan Pendidik Berkualiti

Pendidikan yang diberikan itu hendaklah bermula dari


rumah yang ditangani oleh ibu bapa. Selepas itu barulah
berpindah ke peringkat sekolah hingga ke pusat pengajian tinggi
bagi pendidikan berbentuk formal. Ibu bapa seharusnya
mempunyai keperibadian dan akhlak yang mantap sebagai
pendidik dan pembinbing seperti lemah lembut dalam
pertuturan, pergaulan, sabar, lapang dada, istiqamah,
berwawasan dan seumpamanya.

3. Mengambil Rasulullah saw Sebagai Contoh

Rasulullah adalah contoh teladan dan ikutan yang paling


tepat bagi semua peringkat kehidupan. Bersesuaian dengan itu,
Allah swt telah berfirman bahawa Nabi Muhammad saw
diutuskan kepada manusia untuk menyempurnakan akhlak di
kalangan mereka. Firman Allah yang bermaksud : "Demi
sesungguhnya bagi kamu pada diri Rasulullah saw itu contoh
ikutan yang baik bagi orang-orang yang sentiasa mengharapkan
keredhaan Allah dan balasan baik di hari akhirat serta sentiasa
menyebut dan memperingati Allah dalam masa senang dan
susah." Contoh-contoh akhlak Rasulullah saw :

1. Akhlak Rasulullah saw dengan Allah swt


Mengabdikan diri setiap detik dan masa kepada Allah dengan
penuh kepatuhan, ketaatan, kecintaan dan kesyukuran yang
tidak berbelah bagi terhadap Allah di samping redha dengan apa
yang telah ditentukan oleh Allah kepadanya.

Melaksanakan kewajipan yang wajib atau difardhukan serta


amalan-amalan sunat seperti bangun malam mengadakan
Qiyamullail, berpuasa sunat, zikir, istighfar, doa, tasbih, tahmid
dan sebagainya.

2. Akhlak Rasulullah saw dengan sesama manusia


Akhlak Rasulullah saw meliputi aspek kekeluargaan, soaial,
ekonomi, politik dan sebagainya. Dari aspek kekeluargaan,
Rasulullah saw berjaya mewujudkan suasana yang harmoni dan
Rasulullah saw pernah bersabda :"Rumahku adalah syurgaku."

Rasulullah saw merupakan seorang yang bertanggungjawab,


sentiasa memberi kasih sayang, berlemah lembut dan bertolak
ansur terhadap semua ahli keluarganya.

Rasulullah saw juga selalu berbincang dengan para sahabat dan


menghargai pandangan yang diberikan oleh mereka.

Begitu juga akhlak dan sikap Rasulullah saw terhadap orang


bukan Islam iaitu menghormati mereka, bersopan santun dan
memberi haknya kepada mereka terutama dari segi kejiranan.
Contohnya kisah baginda dengan seorang wanita Yahudi
(jirannya) yang akhirnya wanita Yahudi tersebut telah memeluk
Islam atas keprihatinan, kesabaran dan kemuliaan akhlak yang
ditonjolkan oleh Rasulullah saw.

3. Akhlak Rasulullah saw dengan makhluk lain.


Rasulullah saw begitu peka dan prihatin terhadap makhluk yang
lain seperti haiwan, tumbuha-tumbuhan dan alam sekitar.

Rasulullah saw menasihati umatnya supaya berlaku ihsan


kepada haiwan dan binatang ternakan serta tidak menzalimi atau
menyiksa mereka. Demikian juga tumbuh-tumbuhan dan alam
sekitar.

2.13 CARA-CARA MENGATASI DAN MEMPERBAIKI AKHLAK DALAM


ISLAM

Menguatkan nilai-nilai aqidah dan keimanan dalam jiwa.


Mengawal pancaindera daripada melihat atau mendengar
perkara-perkara yang membangkitkan atau menguatkan
syahwat dan hawa nafsu yang menjadi punca segala sifat
buruk dan keji.
Mempelajari huraian atau penjelasan al-Quran dan
Hadith serta penafsirannya oleh para ulama mengenai
akhlak terpuji untuk membersihkan jiwa.
Melatih diri membiasakan perbuatan-perbuatan baik
seperti ibadah berupa solat, puasa dan lain-lain dan
menjauhkan diri daripada segala perbuatan buruk dan keji.
Berkawan dan berjiran dengan orang-orang yang berakhlak
mulia kerana kawan atau jiran memberi kesan atau
pengaruh dalam pembinaan akhlak seseorang.
Mempelajari kehidupan para nabi, sahabat, ulama atau
auliya dan menjadikan kehidupan mereka sebagai contoh
teladan dalam kehidupan kita.
Dalam segala tindak tanduk kita hendaklah sentiasa
mengikuti dan menggunakan akal fikiran dan janganlah
mengikut perut dan hawa nafsu kita.
Sentiasa berdoa memohon bantuan Allah swt agar
dilengkapkan diri dengan akhlak yang mulia dan
mendapatkan perlindungan daripada perkara-perkara yang
tidak diingini.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN

Ahlak merupakan suatu perlakuan yang tetap sifatnya di


dalam jiwa seseorang yang tidak memerlukan daya pemikiran di
dalam melakukan sesuatu tindakan.Berdasarkan apa yang telah
menjadi pokok bahasan pada materi di atas, maka secara
sederhana dapat di tarik sebuah kesimpulan yaitu ahlak
merupakan cerminan dari agama islam itu sendiri, dimana bila
ahlak seorang manusia mencerminkan sebuah kebaikan,
kesucian, kesopanan dan lain sebagainya yang bertujuan
menggapai rido allah swt. Yang menjadi ukuran baik dan
burukna ahlak adalah syarak, iaitu apa yang diperintahkan oleh
syarak, itulah yang baik dan apa yang dilarang oleh syarak itulah
yang buruk. Perkembangan teknologi dapa mempengaruhi
lingkungan serta kebudayaan masyarakat. Apabila dalam
dingkungan masyarakat tersebut tidak memiliki tembok yang
kuat, niscaya keruntuhan Ahlak dan morallah yang akan terjadi.
Yaitu di mulai dengan hilangnya norma-norma dalam masyarakat
tersebut.

3.2 SARAN
Kerusakan ahlak pada manusia di sebabkan oleh pengaruh
lingkungan yang semakin hari, semakin kebarat baratan yang
selalu menurutu hawa nafsu yang menggebu-gebu dalam
menggapai ataupun meraih sebuah tujuan. Namun dengan
adanya pengaruh syaitan yang sangat kuat dalam diri manusia
itu sendiri, yang menjadikan tujuan yang baik, menjadi merosot
kearah keburukan yang menyesatkan kehidupan manusia baik di
dunia maupun akherat. Untuk itu marilah kita secara sadar dan
bersama-sama menjalanka kaidah dan menguatkan nlai-nilai
aqidah islam dalam jiwa kita degan sebaik-baiknya.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Khairul. 2014. Pengantar Studi Islam : Rajawali Pers.
Diambil dari:
http//www,urgensiakhlakdalamkehidupan.com http//akhlakdalami
slam.com

Gusmawan, Try. 2015. Makalah Akhlak dalam Islam. Diambil dari:


http://tugaskuliah15.blogspot.co.id/2015/10/makalah-akhlak-
dalam-islam.html (20 Oktober 2015).

Muja, Annafi. 2015. MAKALAH AKHLAK Pengertian Akhlak,


Konsep Akhlak, dan Urgensi Akhlak dalam Kehidupan. Diambil
dari: https://annafimuja.wordpress.com/2015/01/17/makalah-
akhlak-pengertian-akhlak-konsep-akhlak-dan-urgensi-akhlak-
dalam-kehidupan/ (17 Januari 2015).

Nurasmawi. 2011. Buku Ajar Aqidah Akhlak, Pekanbaru : Yayasan


Pusaka Riau

Rahmi, Fitri. 2013. Makalah PAI: Pengertian Akhlak dan


Pembagiannya. Diambil dari:
http://fitrirahmiku.blogspot.co.id/2013/04/makalah-pai-
pengertian-akhlak-dan.html (4 Juli 2013).

Rajab, Khairunnas. 2012. Agama Kebahagian.Yogyakarta :


Pustaka Pesantren

Ritonga, Rahman. 2005.Merakit Hubungan dengan Sesama


Manusia. Diambil dari:
http//www.perbedaanakhlakdanmoral.com http//www.pengertian
etika.com