Anda di halaman 1dari 46

SISTEM PERKEMIHAN

ASUHAN KEPERAWATAN INFEKSI SALURAN KEMIH


(PIELONEFRITIS)

Herman. M. Kep., Ners.

Disusun oleh Kelompok 3 :

1. Hany Luqianie:I1032141004 9. Yolanda Yuniati : I1032141035


2. Suci Ramadhanty : I1032141005 10. Ananda Maharani P I1032141037
3. Deska Kurnia S : I1032141018 11. Siti Annisa NH:I1032141041
4. Irenius Efferen : I1032141019 12. Eka Putri F:I1032141042
5. Teguh Ayatullah : I103214124 13. Delima Ritonga : I1032141044
6. Agung Triputra : I1032141028 14. Eni Sartika:I1032141047
7. Destura : I1032141030 15. Riri Fitri Sari : I1032141048

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS TANJUNGPURAPONTIANAK

2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang
telah memberikan rahmat dan karunia Nya, sehingga kami dapat menyusun dan
menyelesaikan makalah ini tepat waktu.

Makalah Asuhan Keperawatan Pielonefritis Sistem Perkemihan ini disusun


untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Perkemihan kelompok 3 PSIK APK
mahasiswa keperawatan UNTAN

Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada :

1. Herman M.Kep., Ners. selaku dosen mata kuliah sistem perkemihan yang
telah memberikan bimbingan dan pengarahan demi terselesaikannya
makalah ini.
2. Rekan rekan dan semua pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan makalah ini.

Namun, kami menyadari bahwa kekurangan dalam penyusunan makalah ini


pasti ada. Oleh karena itu, masukan berupa kritik dan saran yang bersifat
membangun senantiasa kami harapan demi perbaikan makalah ini.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca baik itu mahasiswa
maupun masyarakat dan dapat menjadi sumber ilmu pengetahuan yang berguna
untuk kita semua. Akhir kata kami ucapkan terimakasih.

Pontianak, 24 September 2016

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang.............................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah........................................................................................3

1.3 Tujuan...........................................................................................................3

1.4 Manfaat........................................................................................................4

BAB II TINJAUAN TEORITIS 5

2.1 Definisi.........................................................................................................5

2.2 Klasifikasi....................................................................................................6

2.3 Etiologi.........................................................................................................7

2.4 Manifestasi Klinis........................................................................................9

2.5 Patofisiologi.................................................................................................9

2.6 Pathway .....................................................................................................12

2.7 Komplikasi.................................................................................................15

2.8 Penatalaksanaan.........................................................................................15

2.9 Pemeriksaan Penunjang.............................................................................16

2.10 Pencegahan.................................................................................................18

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 20

3.1 Pengkajian..................................................................................................20

3.1.1 Status Kesehatan....................................................................................21

3.1.2 Pola Fungsi Kesehatan..........................................................................22

ii
3.1.3 Pemeriksaan Fisik..................................................................................23

3.1.4 Pemeriksaan Urologi.............................................................................25

3.2 Analisa Data...............................................................................................27

3.3 Diagnosa.....................................................................................................31

3.4 Intervensi....................................................................................................31

3.5 Implementasi..............................................................................................39

3.6 Evaluasi......................................................................................................39

BAB IV PENUTUP 44

4.1 Kesimpulan................................................................................................44

4.2 Saran...........................................................................................................44

DAFTAR PUSTAKA 45

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara tropis, dimana infeksi masih merupakan
penyakit utama dan penyebab kematian nomor satu. Oleh karena itu,
penggunaan antibiotik atau antiinfeksi masih paling dominan dalam
pelayanan kesehatan. Jumlah dan jenis antibakteri sangat banyak dan selalu
bertambah seiring perkembangan infeksi, sehingga diperlukan penelitian
lebih lanjut mengenai mikroba apa yang sensitif terhadap antibakteri
tertentu dan bagaimana perkembangan resistensi serta kinetiknya (Priyanto,
2008).
Penyakit infeksi merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang
signifikan, khususnya pada orang orang yang paling rentan terhadap
penyakit ini: mereka yang berusia sangat muda, orang lanjut usia, orang
dengan tanggap imun yang lemah, dan kaum papa. Patogenesis penyakit
infeksi bergantung pada hubungan antara manusia sebagai tuan rumah, agen
infeksi, dan lingkungan luar. Agen infeksi dapat bersifat eksogen
(normalnya tidak ditemukan di tubuh) atau endogen (mikroba yang secara
rutin dapat dibiak dari suatu bagian anatomis tertentu tetapi dalam keadaan
normal tidak menyebabkan penyakit pada tuan rumah). Infeksi terjadi ketika
suatu agen eksogen masuk ke dalam tuan rumah dari lingkungan atau ketika
suatu agen endogen mengalahkan imunitas bawaan tuan rumah dan
menyebabkan penyakit. Insiden infeksi saluran kemih pasca transplantasi
bervariasi dari 35% - 79%. (Tolkof et al.,) melaporkan angka kejadian
infeksi saluran kemih pasca transplantasi 30-40 %. Kuman gram negatif
merupakan penyebab utama infeksi saluran kemih (76 %) dan kuman gram
negatif paling sering adalah E. coli 33 %.Infeksi saluran kemih dapat
mengenai baik laki laki maupun perempuan dari semua umur baik pada
anak, remaja, dewasa maupun pada umur lanjut akan tetapi dari kedua jenis

1
kelamin, ternyawanita lebih sering dari pria dengan angka populasi umum,
kurang lebih 515%. Infeksi saluran kemih dinyatakan apabila ditemukan
bakteri di dalam urin, mikroorganisme yang paling sering menyebabkan ISK
adalah jenis aerob. Pada saluran kemih yang normal tidak dihuni oleh
bakteri aerob atau mikroba yang lain, karena itu urin dalam ginjal dan buli
buli biasanya steril. Walaupun demikian uretra bagian bawah terutama pada
wanita dapat dihuni oleh bakteri yang jumlahnya berkurang di bagian yang
mendekati kandung kemih. Escherichia coli menduduki persentasi biakan
paling tinggi yaitu sekitar 50 90%. Antibiotika yang diberikan untuk
pengobatan ISK yang sebagian besar disebabkan oleh Escherichia coli ini
adalah floroquinolones dan nitrofurantoin sedangkan untuk alternatifnya
yaitu trimetoprim-sulfametoksazol, sefalosporin, dan fosfomisin (Kumala, et
al., 2009).
Penggunaan antibiotik adalah pilihan utama dalam pengobatan infeksi
saluran kemih. Pemakaian antibiotik secara efektif dan optimal memerlukan
pengertian dan pemahaman mengenai bagaimana memilih dan memakai
antibiotik secara benar. Pemilihan berdasarkan indikasi yang tepat,
menentukan dosis, cara pemberian, lama pemberian, maupun evaluasi efek
antibiotik. Pemakaian dalam klinik yang menyimpang dari prinsip dan
pemakaian antibiotik secara rasional akan membawa dampak negatif dalam
bentuk meningkatnya resistensi, efek samping dan pemborosan. Idealnya
antibiotik yang dipilih untuk pengobatan infeksi saluran kemih harus
memiliki sifat-sifat sebagai berikut: dapat diabsorpsi dengan baik,
ditoleransi oleh pasien, dapat mencapai kadar yang tinggi dalam urin, serta
memiliki spektrum terbatas untuk mikroba yang diketahui atau dicurigai. Di
dalam pemilihan antibiotik untuk pengobatan infeksi saluran kemih juga
sangat penting untuk mempertimbangkan peningkatan resisten E.coli dan
patogen lain terhadap beberapa antibiotik. Resistensi E.coli terhadap
amoksisilin dan antibiotik sefalosporin diperkirakan mencapai 30%. Secara
keseluruhan, patogen penyebab infeksi saluran kemih masih sensitif
terhadap kombinasi trimetoprim-sulfametoksazol walaupun kejadian

2
resistensi di berbagai tempat telah mencapai 22%. Pemilihan antibiotik
harus disesuaikan dengan pola resistensi local, disamping juga
memperhatikan riwayat antibiotik yang digunakan pasien (Coyle dan Prince,
2005).
Evidence Based Medicine (EBM) bertujuan membantu klinisi
memberikan pelayanan medis yang lebih baik agar diperoleh hasil klinis
yang optimal bagi pasien dengan cara memadukan bukti terbaik yang ada,
keterampilan klinis, dan nilai-nilai pasien. Berdasarkan latar belakang
penelitian bertujuan menganalisis penggunaan antibiotik pada infeksi
saluran kemih di RSUD X Januari-Juni 2013 berdasarkan evidence based
medicine (EBM). Hal ini disebabkan oleh karena penggunaan antibiotik
dalam bidang kesehatan banyak yang digunakan dengan tidak tepat dengan
kondisi penyakit, satu hal yang perlu ditekankan bahwa antibiotik hanya
dapat membunuh bakteri, sehingga penyakit-penyakit yang disebabkan oleh
virus seperti influenza tidak dapat disembuhkan dengan antibiotik.
Penggunaan dosis antibiotik juga haruslah tepat, tidak boleh lebih dan tidak
boleh kurang. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk meneliti analisis
penggunaan antibiotik pada pasien infeksi saluran kemih.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana definisi dan klasifikasi Pielonefritis ?
2. Bagaimana epidemiologi Pielonefritis ?
3. Apa saja etiologi Pielonefritis ?
4. Bagaimana tanda dan gejala Pielonefritis ?
5. Bagaimana patofisiologi Pielonefritis ?
6. Bagaimana komplikasi dan prognosis Pielonefritis ?
7. Bagaimana pengobatan dan pencegahan Pielonefritis ?
8. Bagaiamana asuhan keperawatan pada anak dengan Pielonefritis ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui dasar tentang pielonefritis
2. Untuk mengetahui pembagian pielonefritis
3. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien pielonefritis.

3
1.4 Manfaat

1. Bagi institusi : Sebagai tambahan sumber bacaan di perpustakaan

2. Bagi pembaca : Untuk menambah wawasan kita mengenai pengertian,


penyebab, patofisiologi, tanda gejala, serta tatalaksana dari penyakit
pielonefritis

3. Bagi penulis : Terpenuhinya tugas keperawatan medical bedah yang


berupa makalah gangguan system perkemihan bagian atas.

4
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Definisi
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri piala ginjal, tubulus, dan
jaringan intestinal dari salah satu atau kedua ginjal. Bakteri mencapai
kandung kemih melalui uretra dan naik ke ginjal. Meskipun ginjal menerima
20% sampai 25% curah jantung, bakteri jarang yang mencapai ginjal melalui
aliran darah; kasus penyebaran secara hematogen kurang dari 3%.
Pielonefritis sering sebagai akibat dari refluks ureterovesikal, dimana katup
ureterovesikal yang tidak kompeten menyebabkan urin mengalir balik
(refluks) ke dalam ureter. Obstruksi trakktus urinarius (yang meningkatan
kerentanan ginjal terhadap infeksi), tumor kandung kemih, striktur,
hiperplasia prostat benigna, dan batu urinarius merupakan penyebab yang
lain. Pielonefritis dapat akut ataupun kronis. (Suddarth, 2001).
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri yang menyerang ginjal, yang
sifatnya akut maupun kronis. Pielonefritis akut biasanya akan berlangsung
selama 1 sampai 2 minggu. Bila pengobatan pada pielonefritis akut tidak
sukses maka dapat menimbulkan gejala lanjut yang disebut dengan
pielonefritis kronis. Pielonefritis merupakan infeksi bakteri pada piala ginjal,
tunulus, dan jaringan interstinal dari salah satu atau kedua ginjal pielonefritis
merupakan suatu infeksi dalam ginjal yang dapat timbul secara hematogen
atau retrograde aliran ureterik (Brunner & Suddarth, 2002).
Pielonefritis adalah inflamasi atau infeksi akut pada pelvis renalis,
tubula dan jaringan interstisial. Penyakit ini terjadi akibat infeksi oleh bakteri
enterit (paling umum adalah Escherichia Coli) yang telah menyebar dari
kandung kemih ke ureter dan ginjal akibat refluks vesikouretral. Penyebab
lain pielonefritis mencakup obstruksi urine atau infeksi, trauma, infeksi yang
berasal dari darah, penyakit ginjal lainnya, kehamilan, atau gangguan
metabolik (Nettina, 2001).

5
Inflamasi pelvis ginjal disebut Pielonefritis, penyebab radang pelvis
ginjal yang paling sering adalah kuman yang berasal dari kandung kemih
yang menjalar naik ke pelvis ginjal. Pielonefritis ada yang akut dan ada yang
kronis (Tambayong. 2000).
Pielonefritis adalah inflamasi atau infeksi akut pada pelvis renalis,
tubula dan jaringan interstisiel. Penyakit ini terjadi akibat infeksi oleh bakteri
enterit (paling umum adalah Escherichia Coli) yang telah menyebar dari
kandung kemih ke ureter dan ginjal akibat refluks vesikouretral. Penyebab
lain pielonefritis mencakup obstruksi urine atau infeksi, trauma, infeksi yang
berasal dari darah, penyakit ginjal lainnya, kehamilan, atau gangguan
metabolik (Sandra M. Nettina, 2001).
Penyebab pielonefritis yang paling sering adalah Escherichia Coli.
Tanda dan gejalanya adalah demam timbul mendadak, menggigil, malaise,
nyeri tekan daerah kostovertebral, leukositosis, dan bakteriuria (Sylvia A.
Price dan M. Willson, 2005).

2.2 Klasifikasi
1. Pielonefritis akut
Pielonefritis akut biasanya singkat dan sering terjadi infeksi
berulang karena terapi tidak sempurna atau infeksi baru. Dimana 20%
dari infeksi yang berulang terjadi dua minggu setelah terapi selesai.
Infeksi bakteri dari saluran kemih bagian bawah ke arah ginjal, hal ini
akan mempengaruhi fungsi ginjal. Infeksi saluran urinarius atas dikaitkan
dengan selimut antibodi bakteri dalam urin. Ginjal biasanya
membesar disertai infiltrasi interstisial sel sel inflamasi. Abses dapat
dijumpai pada kapsul ginjal dan pada taut kortikomedularis. Pada
akhirnya, atrofi dan kerusakan tubulus serta glomerulus terjadi (Indra,
2011).
Pielonefritis akut merupakan salah satu penyakit ginjal yang sering
ditemui. Gangguan ini tidak dapat dilepaskan dari infeksi saluran kemih.
Infeksi ginjal lebih sering terjadi pada wanita, hal ini karena saluran
kemih bagian bawahnya (uretra) lebih pendek dibandingkan laki laki,
dan saluran kemihnya terletak berdekatan dengan vagina dan anus,

6
sehingga lebih cepat mencapai kandung kemih dan menyebar ke ginjal.
Insiden penyakit ini juga akan bertambah pada wanita hamil dan pada
usia di atas 40 tahun. Demikian pula, penderita kencing manis/diabetes
mellitus dan penyakit ginjal lainnya lebih mudah terkena infeksi ginjal
dan saluran kemih (Indra, 2011).
2. Pielonefritis kronis
Pielonefritis kronis juga berasal dari adanya bakteri, tetapi dapat
juga karena faktor lain seperti obstruksi saluran kemih dan refluk urin.
Pielonefritis kronis dapat merusak jaringan ginjal secara permanen akibat
inflamasi yang berulang kali dan timbulnya parut dan dapat
menyebabkan terjadinya renal failure (gagal ginjal) yang kronis.
Ginjal pun membentuk jaringan parut progresif, berkontraksi dan
tidak berfungsi. Proses perkembangan kegagalan ginjal kronis dari
infeksi ginjal yang berulang-ulang berlangsung beberapa tahun atau
setelah infeksi yang gawat. (Indra, 2011)

2.3 Etiologi
a. Bakteri
1) Escherichis colli
Escherichia coli (bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan
diusus besar) merupakan penyebab infeksi yang sering ditemukan
pada pielonefritis akut tanpa komplikasi
2) Basilus proteus dan Pseudomonas auroginosa.
Pseudomonas juga merupakan patogen pada manusia dan
merupakan penyebab infeksi pada saluran kemih.
3) Klebsiella enterobacter
Klebsiella enterobacter merupakan salah satu patogen menular
yang umumnya menyebabkan infeksi pernapasan, tetapi juga dapat
menyebabkan infeksi saluran kemih
4) Species proteus
Proteus yang pada kondisi normal ditemukan di saluran cerna,
menjadi patogenik ketika berada di dalam saluran kemih.
5) Enterococus
Mengacu pada suatu spesies streptococus yang mendiami saluran
cerna dan bersifat patogen di dalam saluran kemih
6) Lactobacillus

7
Adalah flora normal di rongga mulut, saluran cerna, dan vagina,
dipertimbangkan sebagai kontaminan saluran kemih. Apabila
ditemukan lebih dari satu jenis bakteri, maka spesimen tersebut harus
dipertimbangkan terkontaminasi. Hampir semua gambaran klinis
disebaban oleh endotoksemia. Tidak semua bakteri bersifat patogen
disaluran perkemihan tetapi semua bakteri tersebut ditemukan dalam
sampel biakan urine. Namun, bakteri bakteri tersebut tetap
merupakan kontaminan.
b. Obstruksi urinari track. Misal batu ginjal atau pembesaran prostat.
c. Refluks, yang mana merupakan arus balik air kemih dari kandung kemih
kembali ke dalam ureter.
d. Kehamilan
Kehamilan dapat mempengaruhi aliran darah dan aliran plasma efektif
ke ginjal dan saluran kencing. Kecepatan filtrasi glomerulus dan fungsi
tubuler meningkat 30 - 50%. Dibawah keadaan yang normal peningkatan
kegiatan penyaringan darah bagi ibu dan janin yang tumbuh tidak
membuat ginjal dan uretra bekerja ekstra. Keduanya menjadi dilatasi
karena peristaltik uretra menurun. Sebagai akibat gerakan urin kekandung
kemih lebih lambat, statis urin ini meningkatkan kemungkinan
pielonefritis Estrogen dapat meningkatkan resiko terjadinya infeksi yang
terjadi pada kadung kemih yang akan naik ke ginjal. Bendungan dan atoni
ureter dalam kehamilan mungkin disebabkan oleh progesteron, obstipasi
atautekanan uterus yang membesar pada ureter. Pada saluran kemih yang
sehat, naiknya infeksi ini biasanya bisadicegah oleh aliran air kemih yang
akan membersihkan organisme dan oleh penutupan ureter di tempat
masuknya ke kandung kemih. Berbagai penyumbatan fisik pada aliran air
kemih (misalnya batu ginjal atau pembesaran prostat) atau arus balik air
kemih dari kandung kemih ke dalamureter, akan meningkatkan
kemungkinan terjadinya infeksi ginjal (Wilkinson, 2006).

2.4 Manifestasi Klinis


1. Pielonrfritis Akut

8
Pasien pielonefritis akut mengalami demam dan menggigil, nyeri
panggul, nyeri tekan pada sudut kostovertebral (CVA), lekositosis, dan
adanya bakteri dan sel darah putih dalam urin. Selain itu, gejala saluran
urinarius bawah seperti disuria dan sering berkemih umumnya terjadi.
Infeksi saluran urinarius atas dikaitan dengan selimut antibodi bakteri
dalam urin. (Selimut antibodi bakteri dalam medula renalis; ketika
bakteri diekskresikan ke dalam urin, tes imunofluoresen (dapat
mendeteksi selimut antibodi tersebut). Ginjal pasien pielonefritis akut
biasanya membesar disertai infiltrasi interstisial sel sel inflamasi. Abses
dapat dijumpai pada kapsul ginjal dan pada taut kortiko medularis. Pada
akhirnya, atrofi dan kerusakan tubulus serta glomerulus terjadi. Ketika
pielonefritis menjadi kronis, ginjal membentuk jaringan parut,
berkontraksi dan tidak berfungsi.

2. Pielonefritis Kronis
Pasien pielonefritis kronis biasanya tanpa gejala infeksi, kecuali
terjadi eksersebasi. Tanda-tanda utama mencakup keletihan, sakit kepala,
nafsu makan rendah, poliuria , haus yang berlebihan dan kehilangan berat
badan. Infeksi yang menetap atau kambuh dapat menyebabkan jaringan
parut progresif di ginjal, di sertai gagal ginjal pada akhirnya.(Wilkinson,
2006).

2.5 Patofisiologi
Umumnya bakteri seperti Eschericia coli, Streptococus fecalis,
Pseudomonas aeruginosa, dan Staphilococus aureus yang menginfeksi
ginjal berasal dari luar tubuh yang masuk melalui saluran kemih bagian
bawah (uretra), merambat ke kandung kemih, lalu ke ureter (saluran kemih
bagian atas yang menghubungkan kandung kemih dan ginjal) dan tibalah ke
ginjal, yang kemudian menyebar dan dapat membentuk koloni infeksi dalam
waktu 24 48 jam. Infeksi bakteri pada ginjal juga dapat disebarkan melalui
alat alat seperti kateter dan bedah urologis. Bakteri lebih mudah
menyerang ginjal bila terdapat hambatan atau obstruksi saluran kemih yang

9
mempersulit pengeluaran urin, seperti adanya batu atau tumor. Patogenesis
infeksi saluran kemih sangat kompleks karena tergantung dari banyak
faktor seperti faktor pejamu (host) dan faktor organisme penyebab. Bakteri
dalam urin dapat berasal dari ginjal, ureter, vesika urinaria atau dari uretra.
Beberapa faktor predisposisi pielonefritis adalah obstruksi urin, kelainan
struktur, urolitiasis, benda asing, refluks. Bakteri uropatogenik yang melekat
pada pada sel uroepitelial, dapat mempengaruhi kontraktilitas otot polos
dinding ureter dan menyebabkan gangguan peristaltik ureter. Melekatnya
bakteri ke sel uroepitelial, dapat meningkatkan virulensi bakteri tersebut
(Hanson, 1999 dalam Kusnawar, 2001).
Mukosa kandung kemih dilapisi oleh glycoprotein mucin layer yang
berfungsi sebagai anti bakteri. Rusaknya lapisan ini akibat dari mekanisme
invasi bakteri seperti pelepasan toksin dapat menyebabkan bakteri dapat
melekat, membentuk koloni pada permukaan mukosa, masuk menembus
epitel dan selanjutnya terjadi peradangan. Bakteri dari kandung kemih dapat
naik ke ureter dan sampai ke ginjal melalui lapisan tipis cairan (films of
fluid), apalagi bila ada refluks vesikoureter maupun refluks intrarenal. Bila
hanya vesika urinaria yang terinfeksi, dapat mengakibatkan iritasi dan
spasme otot polos vesika urinaria, akibatnya rasa ingin miksi terus menerus
(urgency) atau miksi berulang kali (frekuensi), dan sakit waktu miksi
(disuria). Mukosa vesika urinaria menjadi edema, meradang dan perdarahan
(hematuria). Infeksi ginjal dapat terjadi melalui collecting system. Pelvis
dan medula ginjal dapat rusak, baik akibat infeksi maupun oleh tekanan urin
akibat refluks berupa atrofi ginjal. Pada pielonefritis akut dapat ditemukan
fokus infeksi dalam parenkim ginjal, ginjal dapat membengkak, infiltrasi
lekosit polimorfonuklear dalam jaringan interstitial, akibatnya fungsi ginjal
dapat terganggu. Pada pielonefritis kronik akibat infeksi, adanya produk
bakteri atau zat mediator toksik yang dihasilkan oleh sel yang rusak,
mengakibatkan parut ginjal (renal scarring) (Hanson, 1999 dalam Kusnawar,
2001).
Pada pielonefritis akut, inflamasi menyebabkan pembesaran ginjal
yang tidak lazim. Korteks dan medula mengembang dan multipel abses.

10
Kalik dan pelvis ginjal juga akan berinvolusi. Resolusi dari inflamasi
menghsilkan fibrosis dan scarring. Pielonefritis kronis muncul stelah
periode berulang dari pielonefritis akut. Ginjal mengalami perubahan
degeneratif dan menjadi kecilserta atrophic. Jika destruksi nefron meluas,
dapat berkembang menjadi gagal ginjal.

11
2.6 Pathway Diabetes
Penurunan Kehamilan
Imunitas

Peradangan Obstruksi kandung


Bakteri : E.coli,
Klebsielle, kemih, VUR
ISK bawah
Streptococus
Peyebaran bakteri memasuki sal. Kemih atas di bagian medulla-kortek

Infeksi tubulus dan penyebaran ke interstitial

PIELONEFRITIS
Stress tubuh

Terjadi reaksi inflamasi Adanya lesi di


pelvis ginjal
Antigen
Kerusakan Reaksi antigen-antibodi
mengeluargan
parenkim ginjal
endositosik Pelepasan mediator inflamasi Keluarnya eritrosit
terbawa oleh urin

Ep Perangsangan pusat
endogen pirogen Nyeri akibat
Kalekrein Histamin
Histamin
thermostat di peradangan
Pengaktifan
hipotalamus Merangsang pusat
parenkim ginjal 12
prostaglandin sensori nyeri
Peningkatan
Peningkatan tersmostat
suhu tubuh
Anemia
Vasodilatasi
pembuluh darah
Nyeri menyebar ke Oksihemoglobin
pinggang Peningkatan aliran
darah pembuluh renal
Nyeri pinggang Otot kekurangan
Peningkatan vol. darah
energi
aa. afferent

Hipertermi Nyeri Akut


Kelemahan
Peningkatan suplai
darah filtrasi

Peningkatan GFR Intoleransi


aktivitas

Gangguan dalam
Laju filtrasi > kecepatan Defisiensi
pemekatan kemih
reabsorsi reabsorsi

Laju filtrasi > kecepatan


Gangguan dalam
reabsorsi Defisiensi reabsorsi
pemekatan kemih

13
Terbentuknya urin encer Elektrolit dan air
Penurunan Penurunan
hanya sedikit dapat eabsorsi K+ dan
transport cairan ke
diserap ion lainnya
sel
Peningkatan vol. urin Penurunan kontraktilitas
Dehidrasi sel2 otot polos dan
Cairan dlm lumen tubuh penurunan peristaltik
Peningkatan frekuensi banyak
berkemih Penurunan nafsu makan
Kekurangan Volume
dan mual-muntah
Cairan
Poliuri Pengeluaran cairan
berlebih
Nutrisi kurang dari
Gangguan Eliminasi kebutuhan tubuh
Urin

14
2.7 Komplikasi
1. Akut
Ada tiga komplikasi penting dapat ditemukan pada pielonefritis akut
(Patologi Umum & Sistematik J. C. E. Underwood, 2002: 669)
a. Nekrosis papila ginjal. Sebagai hasil dari proses radang, pasokan
darah pada area medula akan terganggu dan akan diikuti nekrosis
papila ginjal, terutama pada penderita diabetes melitus atau pada
tempat terjadinya obstruksi.
b. Fionefrosis. Terjadi apabila ditemukan obstruksi total pada ureter yang
dekat sekali dengan ginjal. Cairan yang terlindung dalam pelvis dan
sistem kaliks mengalami supurasi, sehingga ginjal mengalami
peregangan akibat adanya pus.
c. Abses perinefrik. Pada waktu infeksi mencapai kapsula ginjal, dan
meluas ke dalam jaringan perirenal, terjadi abses perinefrik.
2. Kronis
Komplikasi pielonefritis kronis mencakup penyakit ginjal stadium
akhir (mulai dari hilangnya progresifitas nefron akibat inflamsi kronis
dan jaringan parut), hipertensi dan pembentukan batu ginjal (akibat
infeksi kronis disertai organisme pengurai urea yang mengakibatkan
terbentuknya batu).

2.8 Penatalaksanaan
1. Medis
Pasien pielonefritis akut berisiko terhadap bakteremia dan
memerlukan terapi antimikrobial yang intensif. Terapi parenteral
diberikan selama 24 48 jam sampai pasien afebril., pada waktu
tersebut, agens oral dapat diberikan. Pasien dengan kondisi yang sedikit
kritis akan efektif apabila ditangani hanya dengan agens oral. Untuk
mencegah berkembang biaknya bakteri yang tersisa, maka pengobatan
pielonefritis akut biasanya lebih lama daripada sistitis. Masalah yang
mungkin timbul dalam penanganan adalah infeksi kronik atau kambuhan
yang muncul sampai beberapa bulan atau tahun tanpa gejala. Setelah
program antimikrobial awal, pasien dipertahankan untuk terus dibawah

15
penanganan antimikrobial sampai bukti adanya infeksi tidak terjadi,
seluruh faktor penyebab telah ditangani dan dikendalikan, dan fungsi
ginjal stabil. Kadar kreatinin serum dan hitung darah pasien dipantau
durasinya pada terapi jangka panjang.
2. Keperawatan
Penatalaksanaan keperawatan menurut Barbara K. Timby dan
Nancy E.Smith (2007) :
a. Mengkaji riwayat medis, obat-obatan dan alergi.
b. Monitor Vital Sign
c. Melakukan pemeriksaan fisik
d. Mengobservasi dan mendokumentasi karakteristik urine klien.
e. Mengumpulkan spesimen urin segar untuk urinalisis.
f. Memantau input dan output cairan.
g. Mengevaluasi hasil tes laboratorium (BUN, creatinin, serum
electrolytes)
h. Memberikan dorongan semangat pada klien untuk mengikuti
prosedur pengobatan. Karena pada kasus kronis, pengobatan
bertambah lama dan memakan banyak biaya yang dapat membuat
pasien berkecil hati.

2.9 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan yang dilakukan untuk memperkuat diagnosis pielonefritis
adalah:
a. Whole blood
Whole blood: biasanya digunakan untuk pemeriksaan sel-sel darah,
kadar hemoglobin (Hb), biakan kuman.

b. Urinalisisc.
Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting
adanya ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit / lapang
pandang besar (LPB) sediment air kemih.
Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB
sedimentair kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan
patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis.
c. USG dan Radiologi

16
USG dan rontgen bisa membantu menemukanadanya batu ginjal,
kelainan struktural atau penyebab penyumbatan air kemih lainnya.
d. BUN
Blood Urea Nitrogen (BUN) pemeriksaan ini untuk mengetahui
fungsi ginjal. BUNmengukur kadar nitrogen yang disaring oleh ginjal
dan dibuang lewat airseni.
e. Creatinin
Biasa digunakan untuk menghitung Glomerular Filtration Rate (GFR)
f. Serum Electrolytes
g. Biopsi ginjal
Merupakan prosedur diagnostik yang dilakukan dengan cara
pengambilan sampel berukuran kecil dari ginjal untuk melihat dan
menilai kondisi jaringan organ tersebut melalui mikroskop, yang akan
digunakan untuk mendiagnosa ada atau tidaknya penyakit pada organ
tersebut, juga dikenal dengan nama biopsi rena
h. Pemeriksaan IVP : Pielogram intravena (IVP) mengidentifikasi
perubahan atau abnormalitas struktur
Pielografi (IVP), msistografi dan ultrasonografi juga dapat
dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas
traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau
hiperplasie prostate.
Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur
urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab
kambuhnya infeksi yang resisten

2.10 Pencegahan

Untuk membantu perawatan infeksi ginjal, berikut beberapa hal yang


harus dilakukan :

a. Minumlah banyak air (sekitar 2,5 liter ) untuk membantu pengosongan


kandung kemih serta kontaminasi urin.
b. Perhatikan makanan (diet) supaya tidak terbentuk batu ginjal
c. Banyak istirahat di tempat tidur
d. Terapi antibiotika
Untuk mencegah terkena infeksi ginjal adalah dengan memastikan
tidak pernah mengalami infeksi saluran kemih, antara lain dengan
memperhatikan cara membersihkan setelah buang air besar, terutama pada

17
wanita. Senantiasa membersihkan dari depan ke belakang, jangan dari
belakang ke depan. Hal tersebut untuk mencegah kontaminasi bakteri dari
feses sewaktu buang air besar agar tidak masuk melalui vagina dan
menyerang uretra. Pada waktu pemasangan kateter harus diperhatikan
kebersihan dan kesterilan alat agar tidak terjadi infeksi.Tumbuhan obat atau
herbal yang dapat digunakan untuk pengobatan infeksi ginjal mempunyai
khasiat sebagai antiradang, antiinfeksi, menurunkan panas, dan diuretik
(peluruh kemih). Tumbuhan obat yang dapat digunakan, antara lain :
a. Kumis kucing (Ortthosiphon aristatus)
b. Meniran (Phyllanthus urinaria)
c. Sambiloto (Andrographis paniculata)
d. Pegagan (Centella asiatica)
e. Daun Sendok (Plantago major)
f. Akar alang alang (Imperata cyllindrica)
g. Rambut Jagung (Zea mays)
h. Krokot (Portulaca oleracea)
i. Jombang (Taraxacum mongolicum)
j. Rumput mutiara (Hedyotys corymbosa)

18
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
3.1.1 Identitas Klien
a. Nama
Berisi nama lengkap klien yang mengalami pielonefritis.
b. Jenis Kelamin
Pielonefritis kronis 2 kali lebih sering terjadi pada wanita
dibandingkan pada pria. Penyakit infeksi ini lebih sering terjadi
pada wanita dibandingkan dengan laki-laki, karena anatomi dari
sistem
perkemihan wanita (terutama uretra) yang lebih pendek dari pria
sehingga mudah terserang infeksi yang disebabkan oleh bakteri.
c. Usia
Anak-anak dan orang dewasa memiliki resiko tinggi terhadap
penyakit pielonefritis ini. Dan pielonefritis kronis terjadi lebih
sering pada bayi dan anak-anak muda dibandingkan dengan anak
yang lebih tua dan orang dewasa.
d. Alamat
Lingkungan tempat tinggal yang kotor dan tidak sehat dapat
meningkatkan resiko terkena penyakit pielonefritis terutama temapt
sanitasi yang buruk, karena dapat menjadi tempat berkembang
biaknya bakteri yang menyebabkan infeksi.
e. Agama
Agama tidak mempengaruhi sesorang untuk terkena penyakit
pielonefritis.
f. Pekerjaan
Seseorang yang bekerja di tempat dan gaya hidup yang tidak bersih
maka akan berisiko lebih tinggi terkena infeksi pielonefritis.

3.1.1 Status Kesehatan


a. Keluhan Utama

19
Klien dengan penyakit pielonefritis biasanya mengeluhkan nyeri di
punggung bagian bawah, dan juga gejala yang timbul secara tiba-
tiba berupa demam, menggigil, mual dan muntah.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Kaji seberapa lamanya gejala berlangsung (saat proses masuknya
bakteri ke kandung kemih sehingga menyebabkan infeksi), nyeri
abdomen atau punggung belakang, demam atau gejala peradangan
lainnya, perubahan selera makan, penurunan berat badan, dan
kebiasaan buang air kecil/BAK (frekuensi, warna, dll). Perhatikan
juga adanya riwayat transfusi darah, dan penggunaan obat-obat
intravena.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Kaji penyakit kesehatan terdahulu Klien yang dapat berhubungan
dengan timbulnya penyakit pielonefritis yang diderita. Misalnya
infeksi saluran kemih/ISK, kencing manis, batu ginjal, riwayat
kehamilan pada wanita yang memungkinkan terjadinya infeksi oleh
bakteri yang naik dari saluran kemih bawah, dipermudah oleh stasis
urine akibat adaptasi kehamilan.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Kaji riwayat penyakit keluarga apakah ada keluarga yang memiliki
penyakit infeksi atau gangguan sistem perkemihan. Namun
penyakit pielonefritis bukan penyakit genetik.
e. Riwayat Imunisasi
Imunisasi berfungsi sebagai penunjang sistem pertahanaan tubuh,
sehingga apabila seorang anak tidak diberikan imunisasi tepat pada
usianya maka anak tersebut dapat beresiko terserang oleh bakteri
yang dapat memicu terjadinya penyakit pielonefritis.

3.1.2 Pola Fungsi Kesehatan


a. Pola Persepsi terhadap Kesehatan dan Penyakit
Pada anak yang mengalami penyakit pielonefritis pola hidup sehat
harus ditingkatkan dalam menjaga kebersihan diri, perawatan, gaya
hidup sehat. Ibu juga berkewajiban rutin memeriksakan anaknya
dan melakukan imunisasi secara rutin. Ibu hamil harus sering

20
melakukan pemeriksaan urin untuk mengetahui penyakit secara
dini.
b. Pola Nutrisi Metabolisme

Pada umumnya setelah menderita penyakit ini pola makannya tidak


teratur karena mengalami penurunan nafsu makan, dan juga nausea
dan vomitus. Sehingga berat badan Klien akan menurun dan
terlihat lemah karena intake nutrisi yang tidak adekuat dan
gangguan metabolisme.
c. Pola Eliminasi
Klien yang mengalami pielonefritis akan mengalami gangguan
pada pola eliminasi, seperti disuria saat berkemih pada pielonefritis
akut dan poliuria pada pielonefritis kronis. Selain itu juga terdapat
nyeri saat berkemih, hal ini bisa diakibatkan karena kejang ureter
dari hasil infeksi.
d. Pola Istirahat dan Tidur

Istirahat dan tidur klien pielonefritis biasanya tidak bisa nyenyak,


sering terbangun karena terganggu akibat nyeri yang dirasakan
pada punggung belakang. Biasanya nyeri disebabkan oleh kejang
ureter karena adanya infeksi.
e. Pola Persepsi dan Konsep Diri

Klien dengan penyakit pielonefritis jarang mengalami gangguan


konsep diri, hanya saja menimbulkan kecemasan atau kekhawatiran
karena kurangnya pengetahuan terhadap penyakit yang dialami.

f. Pola Latihan dan Aktivitas

Aktivitas yang dilakukan oleh klien dengan penyakit pielonefritis


terbatas dan terganggu, tidak dapat melakukannya secara bebas.
Hal ini dikarenakan nyeri pada punggung bagian belakang. Selain
itu klien juga merasakan lemas.
g. Pola Hubungan dan Peran

21
Mampu berorientasi terhadap orang, waktu, dan tempat dengan
baik. Hubungan dengan keluarga yang baik akan memberikan
dukungan pada Klien untuk cepat sembuh, dapat terlihat dengan
adanya keluarga yang menemaninya di rumah sakit. Hubungan
Klien dengan tim medis maupun perawat yang baik dan kooperatif
akan memudahkan proses perawatan.
h. Pola Reproduksi/ Seksual
Kaji apakah selama sakit terdapat gangguan atau tidak yang
berhubungan dengan reproduksi sosial. Pada anak yang menderita
pielonefritis bisa saja mengalami gangguan dalam reproduksi,
apabila infeksi yang terjadi pada saluran perkemihan menimbulkan
komplikasi pada sistem reproduksi yang secara letak anatomi dekat
dengan sistem perkemihan.
i. Pola Koping dan Toleransi Stres

Dukungan keluarga sangat berpengaruh dalam memotivasi klien


untuk mengurangi tingkat stres atau kecemasan yang dirasakan.
j. Pola Keyakinan dan Nilai

Meyakini bahwa penyakit yang diderita merupakan takdir dan


kehendak Tuhan. Klien tetap bisa menjalankan ibadah sesuai
dengan agama yang diyakininya. Kaji apakah ada keyakinan yang
dapat memperparah infeksi.

3.1.3 Pemeriksaan Fisik


a. Keadaan Umum
Seorang anak dengan penyakit pielonefritis didapatkan keadaan
umum yang lemah dan lemas.
b. Kesadaran
Klien dengan pielonefritis umumnya tidak mengalami penurunan
kesadran dan kompos mentis.
c. Tanda-tanda vital
Tekanan darah klien mengalami peningkatan tekanan darah atau
hipertensi, denyut nadi juga meningkat, suhu tubuh meningkat

22
dapat mencapai 40C, dan frekuensi pernapasan pada klien juga
meningkat di atas 24 x / menit.
d. Berat badan
Berat badan biasanya ditemukan mengalami penurunan karena
klien yang mengalami mual dan muntah sehingga intake nutrisi
tidak adekuat.
e. Kepala
Bentuk kepala biasanya simetris, tidak ada nyeri tekan. Tidak ada
kelainan pada bagian kepala.
f. Wajah
Wajah simetris, ekspresi wajah meringis bila terjadi kejang ureter
yang mengakibatkan nyeri, dan tidak adanya nyeri tekan.
g. Mata
Pada mata klien dengan pielonefritis tampak simetris, sklera
terlihat putih, konjungtiva tidak anemis (kecuali pada klien yang
mengalami hemolisis akibat endotoksin sehingga klien
mengalami anemia akut), gerakan bola mata normal, refleks pupil
terhadap cahaya normal (jika diberi cahaya pupil akan mengecil),
keadaan bulu mata normal, dan tidak adanya nyeri tekan.
h. Hidung dan Sinus
Tidak ada kelainan pad bagian ini. Hidung tampak simetris dan
tidak adanya nyeri tekan.

i. Leher
Pada kelenjar tiroid tidak mengalami pembengkakan. Perlu juga
dikaji apakah ada peningkatan tekanan vena jugularis atau tidak.
j. Thorax
Bentuk dada klien yang menderita pielonefritis biasanya simetris.
Sekitar 1 sampai 2 persen wanita dengan pielonefritis anterpartum
mengalami insufisiensi pernapasan dengan keparahan beragam
akibat edema paru dan cedera alveolus yang disebabkan oleh
endotoksin. Pada beberapa wanita, paru-paru mengalami
gangguan berat disertai timbulnya sindrom distres pernapasan
akut yang memerlukan ventilasi mekanis.
k. Genetalia dan anus: Pada penderita pielonefritis tidak
ditemukannya kelainan pada organ genetalia dan anus.
l. Abdomen

23
Pada klien dengan penyakit pielonefritis ditemukan adanya nyeri
pegal di satu atau kedua daerah pinggang lumbal dan nyeri tekan
pada sudut kostovertebra. Dapat juga terjadi pembesaran di salah
satu atau kedua ginjal saat dilakukan palpasi dan terkadang otot
perut mengalami kontraksi yang kuat.
m. Ekstermitas: Pada ekstermitas tidak terdapat kelainan / normal.

3.1.4 Pemeriksaan Urologi


a. Pemeriksaan ginjal
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui adanya pembesaran
atau pembengkakan pada daerah pinggang atau abdomen sebelah
atas dan mengkaji ada atau tidaknya nyeri tekan. Ginjal teraba
membesar.
b. Pemeriksaan Buli-Buli
Pada pemeriksaan buli buli diperhatikan adanya benjolan/massa
atau jaringan parut bekas irisan/operasi di suprasimfisis.

c. Pemeriksaan Neurologi

Ditujukan untuk mencari kemungkinan adanya kelainan


neurologik yang mengakibatkan kelainan pada sistem
urogenetalia, seperti pada lesi motor neuron atau lesi saraf perifer
yang merupakan penyebab dari buli-buli neurogen.
1. Inspeksi
a) Dapat dilihat ada atau tidaknya pembesaran pada daerah
pinggang atau abdomen sebelah atas
b) Ekspresi atau mimik wajah meringis
c) Klien tampak menggigil
d) Klien tampak memegang area pinggang atau abdomen
e) Klien tampak tidak bisa menahan BAK

2. Palpasi
Palpasi ginjal dilakukan secara bimanual yaitu dengan
memakai dua tangan. tangan kiri diletakkan di sudut kosto-
vertebra untuk mengangkat ginjal ke atas sedangkan tangan
kanan meraba ginjal dari depan.
a) Terdapat nyeri pada pinggang dan perut

24
b) Adanya pembengkakan ginjal (ginjal membesar)
c) Dahi dan kulit tubuh teraba panas

3. Perkusi
Dilakukan dengan memberikan ketokan pada sudut kosto-vertebra
(yaitu sudut yang dibentuk oleh kosta terakhir dengan tulang
vertebra). Pada klien pielonefritis akan terdengar suara
tenderness.
4. Auskultasi
Suara usus melemah seperti ileus paralitik.

3.2 Analisa Data

Etiologi Masalah
No Data
keperawatan
DS: Nyeri akut Nyeri akut
- Klien mengatakan
1
merasa kesakitan
nyeri pinggang
jika berkemih
- Klien mengeluh
nyeri
Nyeri menyebar ke
dipunggungbagia
pinggang
n bawah dan
abdomen
nyeri akibat peradangan
ginjal
DO:
- Urin sangat pekat
- TTV :
TD : 145/90 merangsang pusat sensori

mmHg nyeri
N : 110 x/mnt
T : 38oC
RR : 25 x/mnt
Mediator Kalekrein
- Diaforesis

25
DS: Gangguan Eliminasi Urin Gangguan Eliminasi
- Klien mengatakan Urin
2
bahwa dia sering
Poliuri
ke kamar mandi
untuk miksi lebih
banyak dari Peningkatan frekuensi
biasanya. berkemih

DO : Peningkatan volume urin


- Output urine :
Frek 1500/hari
Warna kuning
Terbentuknya urin encer
pekat
Bau menyengat
Komposisi
Gangguan dalam
bakteri dan
Pemekatan Urin
leukosit
- Noktoria

DS : Hipertermi Hipertermi
- Klien mengatakan
3
bahwa ia merasa
Peningkatan Suhu Tubuh
menggigil dan
badannya terasa
hangat. Peningkatan Thermostat
Tubuh

DO:
- Suhu tubuh Klien Perangsangan thermostat
mencapai 38 C tubuh di Hipotalamus
- TTV :
TD : 145/90

26
mmHg Pengaktifan Prostaglandin
N : 110 x/mnt
T : 38oC
RR : 25 x/mnt
Pelepasan Mediator
Endogen Pirogen

DS : Kekurangan Volume Kekurangan volume


Cairan cairan berhubungan
4 Klien mengeluh
dengan peningkatan
bahwa badannya
laju metabolik
terasa lemas. Dehidrasi sel-sel tubuh.
(demam) dan
pengeluaran cairan
DO: yang berlebihan
Penurunan transport
- Urin output Klien (poliuria)
cairan ke sel
lebih dari 1500
ml/hari dan
frekuensi Defisiensi Reabsorbsi
berkemih Klien
meningkat.
- Memberane Peningkatan GFR

mukosa kering
- Turgor kulit
menurun
- Kulit kering
- Urine kuning
pekat
- Haus berlebihan
- Suhu 38oC

DS : Nutrisi kurang dari Ketidakseimbangan


kebutuhan tubuh. nurisi kurang dari
5 Klien mengatakan
kebutuhan tubuh
kurang nafsu makan

27
dan sering mual dan Penurunan nafsu makan
muntah dan mual-muntah

DO : Penurunan kontraktilitas
- Klien tampak otot polos dan penurunan
letih dan peristaltik
makanan Klien
utuh.
- BB 20% atau Penurunan Rearbsorpsi
lebih dibawah BB ion K dan ion lainnya
ideal
- Bising usus
hiperaktif Defisiensi Rearbsopsi
- Membrane
mukosa pucat
- Diare Peningkatan GFR

DS : Intoleransi Aktivitas Intoleransi Aktivitas

6 Klien mengatakan
bahwa dia merasa Kelemahan
lemas dan tidak
dapat beraktivitas.
Otot kekurangan energy

DO:
- Klien tidak dapat Oksihemoglobin menurun
beraktivitas dan
hanya diam di
Anemia
tempat tidur
- Dispnea saat

28
beraktivitas Keluarnya eritrosit
terbawa oleh urin

Adanya lesi pada pelvis


ginjal

3.3 Diagnosa
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi dan infeksi pada sistem
urinaria
2. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan infeksi pada saluran kemih
3. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan atau infeksi
4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan laju
metabolik (demam) dan pengeluaran cairan yang berlebih (poliuria)
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan mual dan muntah.
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan

3.4 Intervensi
No Dx NOC NIC
1 Nyeri Tujuan : setelah Mandiri
dilakukan tindakan 3 x
Pain Management
24 jam. Skala nyeri
1. Lakukan pengkajian nyeri secara
klien berkurang atau
komprehensif termasuk lokasi,
hilang, dengan:
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
NOC :
dan factor presipitasi
Pain level 2. Observasi reaksi non-verbal dari
Pain control ketidaknyamanan
Comfort level 3. Gunakan teknik komunikasi terapeutik
untuk mengetahui pengalaman nyeri
Kriteria Hasil :
pasien
Mampu
4. Kaji kultur yang mempengaruhi respon

29
mengontrol
nyeri (tahu
penyebab nyeri,
mampu
menggunakan nyeri
tehnik 5. Kontrol lingkungan yang dapat
nonfarmakologi mempengaruhi nyeri seperti suhu
, untuk ruangan, pencahayaan dan kebisingan
6. Pilih dan lakukan penanganan nyeri
mengurangi
(farmakologi, non farmakologi, dan
nyeri, mencari
interpersonal)
bantuan) Analgesik Administration
Melaporkan 7. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas
bahwa nyeri dan derajat nyeri sebelum pemberian obat
berkurang 8. Cek intruksi dokter tentang jenis obat,
denga n dosis dan frekuensi
9. Tentukan pilihan analgesik sesuai tipe
menggunakan
dan barat nyeri serta rute dan dosis
manajemen
pemberian
nyeri 10. Monitor vital sign sebelum dan sesudah
Mampu
intervensi
mengenali nyeri 11. Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan
(skala, gejala
intensitas,
Kolaborasi:
frekuensi, dan
12.Kolaborasi pemberian analgesic untuk
tanda nyeri.
Menyatakan mengurangi nyeri

rasa nyaman
rasa nyaman
setelah nyeri
berkurang.
2 Gangguan Tujuan : Setelah Urinary Retention Care
eliminasi dilakukan tindakan
1. Lakukan penilaian kemih yang
urinarius keperawatan pola

30
eliminasi urine. Klien komprehensif berpokus pada
kembali optimal, inkontinensia (misalnya, output urin,
dengan : pola berkemih-kemih, fungsi kognitif,
NOC :
dan masalah kencing praeksisten).
Urinary
2. Memantau penggunaan obat dengan
elimination sifat antikolinergik atau properti alfa
Urinary
agonis.
continuenc 3. Memonitor efek dari obat-obatan yang
Kriteria Hasil:
Kandung diresepkan, seperti calcium channe

kemih kosong blockers dan antikolinergik.


4. Gunakan kekuatan sugesti dengan
secara penuh
Tidak ada menjalankan air atau disiram toilet.
5. Sediakan waktu yang cukup untuk
residu urin
pengosongan kandung kemih (10
>100-200 cc
Intake cairan menit).
6. Gunakan spirit wintergreen di pisvot
dalam rentang
atau urin.
normal bebas 7. Anjurkan pasien atau keluarga untuk
dari ISK merekam output urin.
Tidak ada 8. Intruksikan cara-cara untuk menghindar
spasme bladder konstipasi atau impaksi tinja.
9. Memantau asupan dan keluaran.
10. Memantau tingkat distensi kandung
kemih dengan palpasi dan perkusi.
11. Merujuk ke spesialis kontinensia kemih

3 Hipertermia Tujuan :Setelah Mandiri


dilakukan tindakan
Fever treatment
keperawatan . Klien
1. Monitor suhu sesering mungkin
menunjukkan : suhu 2. Monitor IWL
tubuh dalam batas 3. Monitor warna dan suhu kulit
4. Monitor tekanan darah, nadi, dan
normal dengan :
RR
NOC : 5. Monitor penurunan tingkat
Thermoregulati kesadaran
on 6. Monitor intake dan output

31
7. Selimuti pasien
Kriteria Hasil :
8. Kompres pasien pada lipat paha dan
Suhu tubuh
aksila
dalam renang 9. Tingkatkan sirkulasi udara
normal Temperature Regulation
Nadi dan RR
10. Monitor suhu minimal tiap 2 jam
dalam rentang 11. Rencanakan monitoring suhu secara
normal kontinyu
Tidak ada 12. Ajarkan pada klien cara mencegah
perubahan keletihan akibat panas
warna kulit dan 13. Ajarkan indikasi dari hipotermi dan

tidak ada penanganan yang diperlukan

pusing Vital sign monitoring


14. Catat adanya fluktuasi TD
15. Monitor vital sign saat klien
berbaring, duduk, atau berdiri
16. Auskultasi TD pada kedua lengan
17. Monitor TD, Nadi, dan RR sebelum,
selama, dan setelah aktivitas
18. Monitor adanya cushing triad
( tekanan nadi melebar, bradikardi,
peningkatatn sistolik )
19. Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign

Kolaborasi
20. Kolaborasi pemberian cairan
intravena
21. Berikan pengobatan untuk
mengatasi penyebab demam
22. Berikan pengobatan untuk
mencegah terjadinya menggigil
4 Kekurangan Tujuan :Setelah Management fluid
volume cairan dilakukan tindakan
1. Pertahankan catatan intake dan
keperawatan, defisit

32
volume cairan teratasi, output yang akurat
2. Monitor status hidrasi (kelembaban
dengan :
membran mukosa, nadi adekuat,
NOC :
tekanan darah ortostatik), jika di
Fluid balance perlukan
Hydration 3. Monitor masukan makanan / cairan
Nutritional
dan hitung intake kalori harian
Status : food 4. Kolaborasikan pemberian cairan
and fluid IV, dan berikan cairan IV pada suhu
Intake ruangan
5. Monitor status nutrisi
Kriterial hasil 6. Dorong masukan oral
7. Dorong keluarga untuk membantu
Mempertahank
pasien makan
an urine ouput
sesuai dengan
Hypovolemia management
usia dan BB,
BJ urine 8. Monitor status cairan termaksud

normal (1,003- intake dan output cairan


9. Pelihara IV line
1,030), HT 10. Monitor tingkat Hb dan hematokrit
normal 11. Monitor tanda vital
12. Monitor respon pasien terhadap
wanita(37-
penambahan cairan
47%) dan pada 13. Monitor berat badan
pria (40-54%) 14. Dorong pasien untuk menambah
Tekanan darah intake oral
normal (120/80 15. Pemberian cairan IV, monitor

mmHg), nadi adanya tanda dan gejala kelebihan

normal (60-100 volume cairan


16. Monitor adanya tanda gagal ginjal
x/ menit), suhu
tubuh normal
(360c)
Tidak ada
tanda-tanda

33
dehidrasi
Elastisitas
tugor kulit
baik, membran
mukosa
lembab, tidak
ada rasa haus
yang
berlebihan

5 Ketidakseimban Tujuan: setelah Nutrition Management


1. Tentukan status gizi pasien dan
gan nutrisi diberikan intervensi,
kemampuan pasien untuk memenuhi gizi
kurang dari nutrisi klien baik
2. Identifikasi adanya alergi atau intoleransi
kebutuhan terhindar dari
makanan yang dimiliki pasien
tubuh kekurangan nutrisi, 3. Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi
dengan : yang dibutuhkan untuk memenuhi
NOC :
persyaratan gizi
Nutritional
4. Kaji kemampuan klien untuk
status : mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
Nutritional
status (food and Nutrition Monitoring
5. Monitor mual muntah
fluit) 6. Monitor kulit kering dan perubahan
Intake
Nutritional pigmentasi
7. Monitor kadar albumin, total protein, Hb
status : nutrient
dan Ht
intake
Weight control
Kriteria Hasil :
Adanya
peningkatan
berat badan
sesuai dengan
tujuan
Berat badan
ideal sesuai

34
dengan tinggi
badan
Mampu
mengidentifikasi
kebutuhan
nutrisi
Tidak ada tanda-
tanda malnutrisi
Menunjukkan
peningkatan
fungsi
pengecapan dan
menelan
Tidak terjadi
penurunan berat
badan yang
berarti
6 Intoleransi Tujuan : Setelah Activity Therapy
1. Kolaborasikandengantenagarehabilitasi
aktivitas diberikan intervensi,
medic dalammerencanakan program
mobilisasi klien baik,
terapi yang tepat
dengan :
2. Bantu klien untuk mengidentifikas
NOC :
Energi iaktivitas yang mampu dilakukan
3. Bantu untuk mengidentivikasi aktivitas
conservtion
Activity yang disukai.
4. Monitor respon fisik, emosi, sosial dan
toleran
Self care : spiritual
5. Sediakan penguatan positif bagi yang
ADLs
Kriteria Hasil : aktif beraktivitas
Mampu
melakukan
aktivitas
sehari-hari atau
ADls secara

35
mandiri
Tanda tanda
vital normal
Mampu
berpindah
tanpa alat
bantuan

3.5 Implementasi
Implementasi merupakan tahap keempat dalam tahap proses
keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan (tindakan
keperawatan)yang telah direncanakan dalam rencana tindakan keperawatan
(Hidayat, 2004). Dalam tahap ini perawat harus mengetahui berbagai hal
seperti bahaya fisik dan perlindungan pada klien, tehnik komunikasi,
kemampuan dalam prosesdur tindakan, pemahaman tentang hak-hak pasien
serta memahami tingkat perkembangan pasien.
Pelaksanaan mencakup melakukan, membantu atau mengarahkan
kinerja aktivitas sehari-hari. Setelah dilakukan, validasi, penguasaan
keterampilan interpersonal, intelektual dan tehnik intervensi harus dilakukan
dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan
psikologi dilindungi dan dokumentasi keperawatan berupa pencatatan dan
pelaporan (Nursalam, 2008).

3.6 Evaluasi
Bentuk evaluasi ini lazimnya menggunakan format SOAP. Tujuan
evaluasi adalah untuk mendapatkan kembali umpan balik rencana
keperawatan, nilai serta meningkatkan mutu asuhan keperawatan melalui
hasil perbandingan standar yang telah ditentukan sebelumnya (Nursalam,
2008).

No Diagnosa Hari/tgl Intervensi Evaluasi

36
1 Nyeri Akut Senin, Lakukan pengkajian nyeri S: Klien sudah tidak lagi
berhubungan dengan 03 secara komprehensif merasakan nyeri pada
proses infalamasi dan Septem (PQRST) punggung dan abdomen
infeksi pada sistem ber O: Nadi: 80 x/menit,
Observasi reaksi non nyeri rentang 0
urinaria 2016
verbal
dari A: Masalah nyeri akut
ketidaknyamanan berhubungan dengan
proses inflamasi dan
Kurangi faktor presipitasi
infeksi pada sistem
nyeri
urinaria sudah teratasi
P: Intervensi dihentikan,
Pilih dan lakukan
monitor adanya tanda
penanganan nyeri (non
nyeri
farmakologi dan
interpersonal)

Tingkatkan istirahat

Kolaborasikan pemberian
analgetik

2 Gangguan eliminasi Selasa, Kaji pemasukan dan S: Klien mengatakan


urin berhubungan 04 pengeluaran dan tidak nyeri saat miksi
dengan infeksi pada Septem O: Outout Urin: 1100
karakteristik urin
saluran kemih ber Kaji keluhan kandung cc/hari
2016 kemih penuh. A: Gangguan eliminasi
Awasi pemeriksaan urin berhubungan dengan
laboratorium; elektrolit, infeksi pada saluran
BUN, kreatinin. kemih sudah teratasi
Lakukan tindakan untuk
P: Intervensi dihentikan,
memelihara asam urin.
tetap monitor output urin
Kolaborasikan dalam
pemberian antibiotic

3 Hipertermi Senin, Monitor suhu sesering S: klien mengatakan

37
berhubungan dengan 03 mungkin tidak mengigil, demam
proses peradangan Septem Pantau suhu lingkungan, O: Suhu: 36,8 oC, tidak

atau infeksi ber batasi atau tambahkan ada perubahan warna dan

2016 linen tempat tidur, sesuai turgor kulit


A:Hipertermi
indikasi
Berikan kompres hangat berhubungan dengan
Jelaskan kepada orang tua proses peradangan atau
ttg gejala dan prosedur infeksi sudah teratasi
Kolaborasikan dengan P: Intervensi dihentikan,
dokter dalam pemberian tetap monitor tanda-
anti piretik dan analgesik tanda peningkatan suhu
tubuh
4 Kekurangan volume Rabu, Pantau adanya retensi S: Klien mengatakan
cairan berhubungan 05 cairan mudah untuk berkemih
dengan peningkatan Septem Timbang berat badan O: turgor kulit baik,
laju metabolik ber harian dan pantau gejala intake=ouput cairan
Minimalkan asupan A: Kekurangan volume
(demam) dan 2016
makanan dan minuman cairan berhubungan
pengeluaran cairan
dengan diuretic atau dengan peningkatan laju
yang berlebihan
pencahar metabolik (demam) dan
(poliuria)
Pertahankan catatan intake pengeluaran cairan yang
dan output yang akurat berlebihan (poliuria)
Tempatkan pasien pada
sudah teratasi
posisi P: Intervensi dihentikan,
telentang/tredelenburg tetap monitor volume
sesui kebutuhan cairan
Pantau mambran mukosa
kering, torgor kulit yang
kurang baik, dan rasa haus
Monitor hasil lab yang
sesuai dengan retensi
cairan (BUN , Hmt ,
osmolalitas urin)
5 Ketidakseimbangan Senin, Tentukan status gizi S: Nafsu makan klien

38
nutrisi kurang dari 03 pasien dan kemampuan baik, terhindar dari mual
kebutuhan tubuh Septem pasien untuk memenuhi muntah
berhubungan dengan ber gizi O: BB klien ideal

mual dan muntah 2016 Tentukan jumlah kalori A: Ketidakseimbangan


dan jenis nutrisi yang nutrisi kurang dari

dibutuhkan untuk kebutuhan tubuh

memenuhi persyaratan berhubungan dengan

gizi mual dan muntah sudah


Monitor mual muntah teratasi
Monitor kulit kering dan P: Intervensi dihentikan,
perubahan pigmentasi tetap monitor asupan
Monitor kadar albumin, nutrisi
total protein, Hb dan Ht
6 Intoleransi Aktivitas Kamis, Kolaborasikan dengan S: Klien merasakan
berhubungan dengan 06 tenaga rehabilitasi medic mudah untuk
kelemahan Septem dalam merencanakan beraktivitas, tanpa
ber program terapi yang tepat hambatan berarti
2016 Bantu klien untuk O: TD Klien dalam
mengidentifikasi aktivitas rentang normal saat
yang mampu dilakukan beraktivitas
Bantu untuk A: Intoleransi aktivitas
mengidentifikasi aktivitas berhubungan dengan
yang disukai. kekurangan energi sudah
Monitor respon fisik, teratasi
emosi, sosial dan spiritual P: Intervensi dihentikan,
Sediakan penguatan monitor aktivitas klien
positif bagi yang aktif
beraktivitas

39
BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri piala ginjal, tubulus, dan jaringn
intestinal dari salah satu atau kedua ginjal.Bakteri mencapai kandung kemih
melalui uretra dan naik ke ginjal. Meskipun ginjal menerima 20% sampai
25% curah jantung, bakteri jarang yang mencapai ginjal melalui aliran darah;
kasus penyebaran secara hematogen kurang dari 3%. Pielonefritis sering
sebagai akibat dari refluks ureterovesikal, dimana katup ureterovesikal
yang tidak kompeten menyebabkan urin mengalir balik (refluks) ke dalam
ureter. Obstruksi trakktus urinarius (yang meningkatan kerentanan ginjal
terhadap infeksi), tumor kandung kemih, striktur, hiperplasia prostat benigna,
dan batu urinarius merupakan penyebab yang lain. Pielonefritis dapat akut
atau kronis. Pielonefritis di bedakan menjadi akut dan kronis, yang
desebabkan oleh Bakteri, Obstruksi urinari track, Refluks, dan pada
kehamilan. Gejala yang dapat di timbulkan dari pieloneferitis seperti demam
dan menggigil, nyeri panggul, nyeri tekan pada sudut kostovertebral (CVA),
lekositosis, dan adanya bakteri dan sel darah putih dalam urin. Hal tersebut
dapat menyebabkan berbagai komplikasi seperti Nekrosis papila ginjal,
Fionefrosis dan Abses perinefrik. Dengan mengaplikasikan Asuhan
keperawatan yang ada pada penyakit tersebut.

4.2 Saran
Kita sebagai tenaga medis khususnya perawat harus tepat dalam
menentukan asuhan keperawatan derngan benar-benar mempertimbangkan
hal-hal yang mungkin terjadi baik efek dari terapi maupun dari segi finansial.
Oleh karena itu, hati- hatilah dalam mengmbil keputusan dalam penyakit
pielonefritis dengan membutuhakn banyak materi dan kesiapan fisik yang
baik dari segi pemberian Asuahan keperawatan pada klien.

40
DAFTAR PUSTAKA

Baungman, Diane C. 2000. BukuSakuKeperawatanMedikalBedah. Jakarta: EGC.

Coyle, E.A. & Price, R. A. 2005.Urinary Tract Infection and Prostatitis. USA:
The McGraw Hill Comparies.

Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC.

Kumala, et al. 2009. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Jakarta: EGC.

Kusnawar, Yanto. 2001. Hubungan Infeksi Saluran Kemih dengan Partus


Prematurus. Tesis.

Hidayat, A.. 2004. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Salemba


Medika.

Nursalam. 2008. Proses dan Dokumentasi Keperawatan. Ed 2. Jakarta: Salemba


Medika.

Muttaqin, Arif et al. 2012. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan.


Jakarta: Salemba Medika.

NANDA. 2011. Diagnosa Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi. 2009 2011.


Jakarta: EGC.

Nettina, Sandra M. (2001). Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta: EGC.

Price, Sulvia A. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses Proses Penyakit


Volume 2. Jakarta: EGC.

Priyanto. 2008. Farmakologi Dasar Untuk Mahasiswa Farmasi & Keperawatan,


Edisi; II. Jakarta: Leskonfi.

Sloane Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta: EGC.

Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Brunner & Suddarth
Edisi 8 Bedah Volume 2. Jakarta: EGC.

Sylvia, dkk. (2005). Patofisiologi Konsep Klinis Proses Proses Penyakit Edisi 6.
Jakarta: EGC.

41
Tambayong. 2000. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.

Tambayong, jan. 2000. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC

Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosa Keprawatan. Edisi 9.


Jakarta : EGC.

Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosa Keprawatan Edisi 7. Jakarta:


EGC

42