Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Polimer pertama kali digunakan oleh kimiawan Swedia, Berzelius pada tahun
1833, sepanjang abad 19 para kimiawan bekerja dengan makromolekul tanpa
memiliki suatu pengertian yang jelas mengenai strukturnya. Sebenarnya beberapa
polimer alam yang termodifikasi telah dikomersialkan. Sebagai contoh, selulosa nitrat
dipasarkan di bawah nama-nama celluloid dan guncotton.
Bahan plastik buatan pertama kali dikembangkan pada abad ke-19, dan saat ini
di awal abad ke-21 jenis bahan ini telah ada di sekeliling kita dalam bentuk dan
kegunaan yang sangat beragam. Cellulose nitrate merupakan salah satu jenis bahan
plastik yang pertama-tama dikembangkan. Bahan ini ditemukan Alexander Parkes di
pertengahan abad ke-19 dan pertama kali dipamerkan pada suatu Pameran Akbar di
London tahun 1862 dalam bentuk sol sepatu dan bola-bola billiard. Pada tahun 1869
John Wesley Hyatt mengembangkan bahan Cellulose nitrate lebih lanjut dengan cara
mencampurkannya dengan camphor menjadi bahan baru yang kemudian diberi nama
Celluloid.
Polimer merupakan material yang sangat penting bagi kehidupan manusia.
Penggunaan material ini sangat beragam dan hampir setiap kehidupan manusia, mulai
dari pembungkus makanan, barang-barang keperluan rumah tangga, sampai pada alat-
alat teknik. Plastik merupakan polimer yang tersusun dari berbagai jenis komoditas
seperti polietilena, polipropilena, polivinilklorida, polietilena tereftalat, polistirena,
dan polikarbonat. Keenam jenis komoditas ini membentuk 98% dari seluruh polimer
dan plastik yang ditemukan dalam kehidupan sehari- hari. Setiap jenis plastik ini
memiliki karakteristik dan penggunaan yang spesifik seperti sifat degradasi dan
ketahanan dari panas, cahaya dan zat kimia.
Dengan semakin banyaknya kebutuhan akan plastik, maka kebutuhan akan
bahan baku plastik pun semakin meningkat. Pellet polipropilena merupakan salah satu
bahan baku yang cukup banyak digunakan pada industri plastik.
Polimer tersusun atas perulangan monomer menggunakan ikatan kimia
tertentu. Ukuran polimer, dinyatakan dalam massa (massa rata-rata ukuran molekul
dan jumlah rata-rata ukuran molekul) dan tingkat polimerisasi, sangat mempengaruhi

1
sifatnya, seperti suhu cair dan viskositasnya terhadap ukuran molekul (misalny seri
hidrokarbon).
Polimer merupakan molekul besar (makromolekul) yang terbangun oleh
susunan unit ulangan kimia yang kecil, sederhana dan terikat oleh ikatan kovalen.
Unit ulangan ini biasanya setara atau hampir setara dengan monomer yaitu bahan awal
dari polimer.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak barang-barang yang digunakan
merupakan polimer sintetis mulai dari kantong palstik untuk belanja, plastic
pembungkus makanan dan minuman, kemasan plastic, alat-alat listrik, alat-alat rumah
tangga, dan alat-alat elektronik.

1.2. Rumusan Masalah

1. Mahasiswa dapat mendefinisikan apa itu polipropilena


2. Mahasiswa dapat mengetahui bahan baku dalam pembuatan polipropilena
3. Mahasiswa dapat mengetahui proses pembuatan polipropilena
4. Mahasiswa dapat mengetahui teknologi yang di gunakan dalam proses pembuatan
polipropilena
5. Mahasiswa dapat mengetahui produk yang di hasilkan dari polipropilen

1.3. Tujuan

1. Untuk mengetahui definisi apa itu polipropilen


2. Untuk mengetahui bahan baku pembuatan polipropilen
3. Untuk mengetahui proses pembuatan polipropilen
4. Untuk mengetahui teknologi yang di gunakan dalam proses pembuatan polipropilen
5. Untuk mengetahui produk yang di hasilkan dari polipropilen

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Propilen

2
Propilena meupakan bahan baku dalam pembuatan polipropilena jenis
homopolimer sedangkan untuk jenis random copolymer dan impact copolymer
selain propilena diperlukan juga etilena dengan komposisi tertentu. Propilena
merupakan hidrokarbon alfatik dengan satu rantainya mempunyai ikatan rangkap dua
atau ikatan tidak jenuh.

Polipropilena merupakan golongan olefin yang diperoleh dari hasil cracking


(perengkahan) minyak bumi pada temperature 700-9000 C, untuk menghilangkan gas
nafhtalena dan dilanjutkan dengan proses fraksionasi.

Proses produksi polipropilena yang digunakan di PT.Chandra Asri


Petrochemical,Tbk (PP Plant) adalah proses fasa gas UNIPOL polypropylene dari
Union Carbide Corporation. Proses ini merupakan proses bersih karena limbah yang
dihasilkan sangat sedikit dan semua sisa bahan baku dapat diambil kembali.
Pembuatan polipropilena sesuai dengan proses produksi pembuatan dipabrik ini,
terdiri dari beberapa tahap, yaitu :

a. Pemurnian bahan baku


b. Polimerisasi fasa gas
c. Pemurnian produk
d. Penambahan aditif
e. Pembuatan pellet
f. Silo dan Bagging

Bahan baku utama yang digunakan adalah propilena dan etilena.


Sedangkan bahan baku penunjangnya adalah berupa katalis, ko-katalis,
Selectivity Control Agent (SCA), nitrogen, hidrogen dan karbon monoksida.
Propilena, etilena, nitrogen dan hidrogen yang disuplai, biasanya diperoleh
dalam kondisi tidak murni. Oleh karena itu, diperlukan suatu pemurnian
(refinery) terhadap bahan baku tersebut sehingga dihasilkan bahan baku yang
memenuhi syarat sebagai umpan ke reaktor. Dalam proses pemurnian,
dilakukan penghilangan kandungan light gas, sulfur, arsen, MAP (Metil
Asetilena/Propadiena), air dan oksigen. Hal ini dilakukan karena dengan adanya
senyawa-senyawa ini dalam reaktor akan dapat meracuni katalis.

Reaksi polimerisasi dilakukan dalam reaktor unggun terfluidakan


(fluidized bed) pada temperatur temperatur 65 C dan tekanan 30 kg/cm2G.
Reaksi ini merupakan reaksi fasa gas dengan pengumpanan bahan baku dan katalis

3
secara kontinu kedalam reaktor. Reakor ini dilengkapi dengan cycle gas blower dan
cycle gas cooler. Cycle gas blower mensirkulasikan gas sisa reaksi dan memberikan
gerakan yang diperlukan oleh fluidisasi.

Cycle gas cooler digunakan untuk menurunkan temperatur didalam reaktor


dengan mendinginkan recycle gas. Temperatur reaktor harus dijaga pada temperatur
yang tetap, yaitu pada temperatur dew point gas. Temperatur yang lebih tinggi dari
temperatur dew point gas didalam reaktor dapat menyebabkan terjadinya
penggumpalan (chunk) polimer yang mengakibatkan reaksi harus dihentikan (shut
down).Reaksi ini merupakan reaksi eksotermis sehingga perlu dilakukan pendinginan.
Akan tetapi,

Reaksi polimerisasi yang dilakukan nantinya akan menghasilkan polipropilena


berupa resin berfasa padat. Setelah resin mencapai ketinggian tertentu dalam reaktor,
resin dikeluarkan dengan Product discharge system (PDS) yang terdiri dari product
chamber dan product blow tank. Secara umum, reaksi polimerisasi propilena menjadi
polipropilena dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Reaksi Polimerisasi Propilena menjadi Polipropilena

Dalam product chamber dan product blow tank tidak hanya mengandung resin
tetapi juga mengandung gas-gas sisa reaksi yang ikut keluar dari reaktor. Oleh karena
itu, resin yang disimpan tersebut kemudian dialirkan ke resin degassing unit. Resin
dipisahkan dengan menggunakan nitrogen dan kukus untuk mendeaktivasi sisa katalis.
Resin yang telah terpisahkan dari gas dialirkan ke unit pelleting dan gas yang

4
terpisahkan dikirim ke vent recovery system untuk didaur ulang. Sebelum masuk ke
pelleter, sebagian resin ditambahkan aditif.

Resin dan aditif ini kemudian dicampur dengan perbandingan tertentu sesuai
dengan sifat yang diinginkan. Dengan aditif yang berbeda maka akan dihasilkan sifat
plastik yang berbeda pula. Dalam pelleter, resin dilelehkan dan dibentuk menjadi
pellet. Resin yang telah menjadi pellet kemudian dikeringkan dan didinginkan. Resin
yang telah kering dialirkan menuju silo untuk disimpan sementara, sebelum dikemas
pada unit pengantongan (bagging).

2.2 Sifat Sifat Propilena

Propilena pada tekanan atmosferik dan temperatur kamar berwujud uap.


Propilena memiliki uap yang tidak berwarna dan bersifat anastetik pada konsentrasi
tinggi (>60% volume) di udara, tetapi gas propilena merupakan salah satu gas yang
tergolong tidak beracun. Senyawa ini mudah terbakar dan mudah meledak bila
bercampur dengan udara sehingga penggunaan propilena harus dilengkapi dengan
ventilasi. Karena gas ini sangat reaktif maka pengunaannya harus dihindarkan dari
kontak dengan asam kuat, garam dari asam logam, aluminium klorida, besi klorida
anhidrat, halogen, oksigen dan senyawa-senyawa pengoksidasi. Propilena juga tidak
baik untuk kondisi panas (temperatur di atas 70 C), percikan api dan flame, tekanan
diatas 400 psig, dan adanya kehadiran katalis.

Sifat Fisik Propilena


Sifat Nilai

Berat molekul, g/mol 42,078

Titik didih pada 101,3 kPa, C -47,7

Titik leleh, C -185,3

Temperatur kritik, C 92

Tekanan kritik, Mpa 4,63

Densitas kritik, g/mL 0,233

Lower explosion limit, %volume dalam udara 2,4

5
Upper explosion limit, %volume dalam udara 11,1

Temperatur autoignition, C 224

Kelarutan dalam air (pada 20 C, 101,3 kPa), 44,6

mL gas/100mL

Rupa Tidak berwarna

Bau Bau gas alam, sweet odor

Titik nyala, C -108

Densitas uap ( untuk udara = 1) 1,5

Spesific gravity (20 C, untuk air=1) 0,516

Tekanan uap (20 C), psig 132

Cp, kal/mol C 15,27

Panas penguapan (-47,7 C), kal/gr 104,67

Panas Peleburan (Hm) (20 C) (kal/g) 16,67

Panas Pembentukan (Hf) (25 C) (kal/g) 4,879

Panas Pembakaran (Hc) (25 C) (kal/g) 11,688

BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Polipropilena

Polipropilena merupakan sebuah polimer hidrokarbon linier hasil reaksi


polimerisasi dari propilena. Polipropilena adalah poliolefin atau polimer jenuh
merupakan bahan baku untuk pembuatan berbagai macam barang plastik. Polimer ini
termasuk jenis polimer termoplastik yang lunak jika dipanaskan, lelehannya bisa
mengalir seperti cairan viscous, dan mudah dibentuk.

6
Secara umum, polipropilena memiliki daya tahan yang baik terhadap pelarut
organik, agensia peluruh dan serangan elektrolitik. Polipropilena memiliki ketahanan
yang baik terhadap asam dan basa namun tidak begitu baik pada pelarut aromatik,
alifatik dan mengandung klor. Polipropilena dapat teroksidasi oleh oksidator kuat
seperti H2SO4 dan HNO3 pekat. Hal ini karena adanya atom hidrogen tersier yang
kurang stabil jika dibandingkan dengan atom hidrogen primer dan sekunder.

Polipropilena termasuk paling ringan jika dibandingkan dengan jenis bijih


plastik lainnya. Permukaan polipropilena licin, tidak menyerap air, kelembaban dan
kekuatan termal lebih besar dari pada polietilena, dan kekuatan renggangnya besar.
Pemanfaatan polipropilena sangat luas di berbagai sektor industri. Polipropilena
dimanfaatkan dalam industri barang plastik rumah tangga, lain-lain termasuk mainan
anak-anak dan peralatan kesehatan.

3.1.1. Struktur Polipropilena

Polipropilena merupakan polimer yang tersusun oleh monomer propilena


dengan unit berulang seperti pada gambar berikut:

Struktur Polipropilena

Tiga faktor struktural yang menentukan sifat dari polipropilena adalah


distribusi molekul, struktur ruang molekul, dan berat molekul rata-rata. Berdasarkan
Textbook of Polymer Science, kimia ruang polipropilena pertama kali dipelajari oleh
Natta. Natta menyatakan bahwa struktur ruang yang mungkin ada pada polipropilena
ada tiga, yaitu isotaktik, sindiotaktik dan ataktik. Struktur taktik pada polipropilena
dapat dilihat dengan NMR (Nuclear Magnetic Resonance) atau dengan menggunakan
prinsip kelarutan untuk mencari persen taksisitas. Perbedaan dari ketiganya dilihat dari
letak gugus metil relatif terhadap rantai utama polipropilena.

1. Polipropilena isotaktik
Pada struktur isotatik, semua gugus metil terletak pada salah satu sisi rantai polimer.
Bersifat kaku pada temperatur ruang, kekuatannya tinggi, dan dapat mengkristal.
7
Struktur Isotaktik

2. Polipropilena sindiotaktik

Pada struktur sindiotatik, gugus metil terletak berselang-seling berlawanan arah secara
teratur pada kedua sisi rantai polimer. Memiliki sifat dapat mengkristal, jenis ini sulit
ditemukan karena pembuatannya sulit (temperatur operasi -78oC).

Struktur Sindiotaktik

3. Polipropilena ataktik

Pada struktur ataktik, gugus metil terletak tak beraturan terhadap sisi rantai polimer
sangat lentur dan tidak bisa mengkristal sehingga polipropilena ataktik bersifat amorf.

Struktur Ataktik

8
Perbedaan sifat fisik polipropilena isotaktik, sindiotaktik, dan ataktik

Sifat fisik Isotaktik Sindiotaktik Ataktik

Densitas, g/cm3 0,92 0,94 0,89 0,91 0,85 - 0,9

Titik leleh, oC 165 135 -

Kelarutan dalam Tidak larut Sedang Tinggi


hidrokarbon pada 20oC

Yield strength Tinggi Sedang Sangat rendah

Temperatur transisi gelas -13 sampai 0 - -18 sampai -5


(Tg), oC

Berat molekul polimer ditentukan sebagai berat molekul rata-rata karena jenis
polimer yang sama bisa memiliki berat molekul yang berbeda, tergantung dari panjang
rantai yang dimilikinya. Pada skala industri, polipropilena yang dihasilkan diharapkan
memiliki rentang berat rata-rata yang sempit dimana hal ini menunjukkan bahwa
polimer tersebut relatif seragam. Penentuan berat molekul rata-rata polipropilena
secara komersial dapat dilakukan dengan menggunakan parameter Melt Flow Index
(MFI). Nilai MFI berbanding terbalik dengan reaksi. Semakin banyak hidrogen dalam
medium reaksi, maka rantai polipropilena yang dihasilkan semakin pendek. Hal ini
menyebabkan polipropilena akan mudah mengalir dan memiliki nilai MFI yang tinggi

3.1.2. Sifat Fisik Polipropilena

Sifat Fisik Polipropilena Homopolymer dan Copolymer

ASTM or Sifat Homopolimer Kopolimer


UL test

Sifat Fisik

D792 Densitas (g/cm3) 0,905 0,897

D570 Daya serap air, 24 jam (%) < 0,01 0,01

Sifat Mekanik

D638 Tensile Strength (psi) 4.800 4.800

9
D638 Tensile Modulus (psi) 195.000 -

D638 Tensile Elongation at Yield (%) 12 23

D790 Flexural Strength (psi) 7.000 5.400

D790 Flexural Modulus (psi) 180.000 160.000

D695 Compressive Strength (psi) 7.000 6.000

D695 Compressive Modulus (psi) - -

D785 Hardness, Rockwell R 92 80

D256 IZOD Notched Impact (ft-lb/in) 1,9 7,5

Sifat Termal

D696 Coefficient of Linear Thermal 6,7 6,6


Expansion ( x 10-5 in/F)

D648 Heat Deflection Temperature


(F/C)

At 66 psi
210/99 173/78
At 264 psi
125/52 110/43

D3418 Melting Temperature (F/C) 327/164 327/164

- Max. Operating Temperature 180/27 170/77


(F/C)

Sifat Elektrik

D149 Dielectric Strength (V/mil) short 500-600 475


time, 1/8thick

D150 Dielectric Constant at 1 kHz 2,25 2,2-2,36

D150 Dissipation Factor at 1 kHz 0,0005-0,0018 0,0017

D257 Volume Resistivity (ohm-cm) at 8,5 x 1014 2 x 1016


50% RH

10
D495 Arc Resistance (sec) 160 100

3.1.3. Jenis - Jenis Polipropilena


Saat ini polipropilena yang diproduksi secara komersial dan beredar di pasaran
terdiri dari tiga jenis yaitu homopolimer, kopolimer random dan kopolimer impak.
1. Homopolimer (Homopolymer)
Homopolimer adalah polimer yang bahan bakunya berasal dari satu macam
monomer yaitu propilena. Untuk membuat homopolimer, cukup dengan menggunakan
satu reaktor. Sifat polimer ini antara lain memiliki berat jenis paling ringan, daya
tahan panas paling tinggi, permukaan kristal yang halus, dan mempunyai daya tahan
yang bagus terhadap tumbukan, kelembaban, abrasi dan gesekan. Homopolimer ini
cocok digunakan dalam berbagai aplikasi seperti films, injection molding, sheet
thermoforming, yarn dan fiber multifilament.
2. Kopolimer acak (random copolymer)
Kopolimer random dibuat dari propilena yang direaksikan dengan etilena
dalam pembentukan rantai polimernya. Pada saat pembuatan polipropilena, 1-7 %
berat monomer etilena ditambahkan ke dalam monomer propilena. Polimer ini
mempunyai sifat pengkristalan yang lebih rendah dengan butiran sperulit yang lebih
kecil serta lebih jernih. Hal ini menghasilkan kekuatan dan transparansi yang lebih
baik dari pada homopolimer.
3. Kompolimer impak (impact copolymer)
Kopolimer impak dihasilkan secara bertahap melalui pembentukan
homopolimer pada reaktor pertama dan diikuti dengan pembuatan propilena-etilena
rubbery pada reaktor kedua. Sifat polipropilena jenis ini adalah memiliki kekakuan
tinggi, ketahanan terhadap tumbukan yang cukup baik pada temperatur rendah (-
20C), sifat insulasi listrik yang baik, tidak tembus cahaya, dan merupakan polimer
kristalin yang memiliki titik leleh yang tinggi dengan dua atau lebih fasa lelehan.
Manfaat utama kopolimer impak adalah pada injection molding bagian kendaraan dan
grade tertentu juga digunakan pada extruded, sheet dan thermoforming.

3.2. Bahan Baku Polipropilena


Bahan baku yang digunakan dalam memproduksi polipropilena dapat dibagi
menjadi dua macam, yaitu bahan baku utama dan bahan baku penunjang.

2.2.1. Bahan Baku Utama

11
Bahan baku utama yang digunakan dalam memproduksi homopolimer
polipropilena adalah propilena, sedangkan etilena digunakan sebagai tambahan pada
pembuatan kopolimer polipropilena

2.2.2. Bahan Baku Penunjang

Bahan penunjang yang diperlukan untuk pembuatan polipropilena antara lain


katalis, kokatalis, H2, N2, CO, Selectivity Control Agent ( SCA ) dan aditif.

2.2.2.1 Katalis

Katalis yang digunakan adalah SHAC (Super High Activity Catalyst) 201 dan
LYNX 1010. SHAC diperoleh dari Shell Company Corporation. SHAC berbentuk
bubuk padatan kuning muda yang dilarutkan dalam minyak mineral putih (White
Mineral Oil). Komposisi utama katalis SHAC adalah TiCl4 dan MgCl2 yang terdapat
dalam bentuk partikel padatan sebanyak 30 % berat. Minyak mineral putih yang
jumlahnya mencapai 70-50 % berat berfungsi untuk melindungi katalis dan dari
kontak udara lembab atau uap air, karena TiCl4 dan MgCl2 sangat reaktif terhadap air,
dan sebagai pembawa katalis, sehingga katalis dapat dipompa kedalam reaktor.

2.2.2.2 Ko-katalis

Ko-katalis berfungsi sebagai pembentuk kompleks katalis aktif sehingga


mempermudah terjadinya proses polimerisasi. Kokatalis yang digunakan adalah TEAl
(Tri Etil Alumunium , (C2H5)3Al) yang terdiri dari tri etil alumunium 92 % berat dan
senyawa lain seperti tri propil alumunium, tri n-butil alumunium, tri isobutil
alumunium, alumunium, klor serta hibrida dalam bentuk AlH3CH4, etilena, dan
isobutilena, TEAl berfasa cair pada kondisi ruang, transparan dan tidak berwarna.

Sifat Fisik TEAl

Sifat Fisik Nilai

Titik didih, C 185

Titik beku, C -58

Densitas ( 25 C ), gr / mL 0,8324

12
Tekanan Uap (20 C), mmHg 0,025

TEAl bersifat phyrophoric, yaitu sangat reaktif terhadap udara dan air,
sehingga diperlukan penanganan secara hati-hati. Hasil dekomposisi TEAl berbahaya,
karena dapat berupa oksida karbon , oksida alumunium, dan uap mudah terbakar yang
mengandung debu. Jika dihasilkan dekomposisi dan terhirup lama dapat menyebabkan
kerusakan paru paru.

2.2.2.3 Selectivity Control Agent (SCA)

Selectivity Control Agent (SCA) digunakan untuk mengatur kecenderungan


rantai isotaktik dalam polimer dengan cara mematikan sisi aktif katalis yang
menghasilkan resin ataktik. SCA memiliki efek racun terhadap katalis sehingga SCA
mengurangi produktivitas katalis.

Katalis SHAC paling cocok menggunakan SCA jenis NPTMS (Normal Para
Ttri Metoksi Silane) sedangkan katalis LYNX 1010 menggunakan SCA jenis CMDMS
(Cyclohexyl Metil Dimethoxy Metil Silane).

2.2.2.4 Hidrogen

Hidrogen digunakan untuk mengakhiri reaksi polimerisasi sehingga polimer


yang dihasilkan memiliki panjang rantai dan berat molekul yang sesuai dengan yang
diinginkan. Panjang rantai molekul polimer berbanding terbalik dengan melt flow
index produk. Untuk menghasilkan produk dengan melt flow tinggi, maka jumlah
hidrogen yang diperlukan juga tinggi. Hidrogen juga digunakan dalam sistem utilitas
yaitu untuk regenerasi bejana deoxo nitrogen dan deoxo etilena serta pada proses
hidrogenasi pada bejana pemisah MAP (Metil Asetilena/Propadiena) pada unit
pemurnian propilena.

Sifat Fisik Hidrogen

Sifat Fisik Nilai

13
Temperatur Autoignition, C 585

Titik beku, C -259,1

Titik didih, C -252,9

Densitas uap (untuk udara = 1) 0,0695

Flammable limit, %-vol 4-75

2.2.2.5 Nitrogen

Nitrogen digunakan karena bersifat inert (tidak bereaksi) sehingga tidak


mengganggu reaksi polimerisasi yang terjadi dalam reaktor.

Sifat Fisik Nitrogen

Sifat Fisik Nilai

Bentuk tidak berwarna, tidak beraroma

Titik beku, C -209,9

Titik didih, ( 1 atm )C -195,8

Densitas gas,( 21C, 1 atm) kg / m 3 1,153

Specific grafity, (untuk udara = 1) 0,967

Kelarutan dalam air (v/v pada 0 C) 0,023

Rasio pengembangan cair terhadap gas (21,1 C) 1 : 96,5

2.2.2.6 Karbon Monoksida

14
Karbon Monoksida merupakan salah satu senyawa yang dapat meracuni
katalis sehingga digunakan untuk menghentikan reaksi (Kill System) bila terbentuk
Chunk (gumpalan padat) dalam reaktor. Gumpalan ini dapat terbentuk akibat
temperatur di dalam reaktor lebih tinggi daripada temperatur pelelehan polipropilena.
Hal ini menyebabkan resin dalam unggun akan membentuk lembaran dan membuat
unggun menjadi gumpalan padat (Chunk) yang memerlukan biaya besar untuk
menanggulanginya.

Sifat Fisik Karbon Monoksida

Sifat Fisik Nilai

Specific grafity 0,96

Titik didih, oC -191,5

Titik beku, oC -205,1

Temperatur autoignition, oC 639

2.2.2.7 Aditif

Aditif ditambahkan untuk memperoleh polipropilena dengan sifat tertentu,


sesuai dengan spesifikasi produk yang diinginkan. Aditif biasanya berbentuk bubuk
padatan dan cairan. Aditif ditambahkan sebelum pembuatan pellet.

Beberapa Aditif yang Digunakan di dalam pembuatan polipropilen

Jenis Aditif Nama Aditif Fungsi

Acid Receptor Calcium Stearate-Zinc Menetralisir residu katalis yang


Oxide bersifat asam dan yang dapat
menyebabkan korosi

Anti Blok Agent Celite White Mist Mencegah produk plastik


menempel

15
Anti Oxidant Irganox 1010 Mencegah terjadinya oksidasi
rantai polimer dan berwarna
kuning

Clarifying Agent Millad 3988 Membuat produk plastik terlihat


jernih

Heat Stabilizer Everfos-168 Mencegah terjadinya degradasi


akibat pengaruh udara panas

Lubricant Arcawax C Sebagai pelicin ketika molding

Nucleating Agent Millad 3905 Untuk produk plastik yang pada


aplikasinya sering mengalami
benturan

Slip Agent Eucamid Membuat produk plastik lebih


licin

UV Stabilizer Cysorb UV-3346 Mencegah kerusakan akibat


sinar matahari

3.3. Mekanisme Reaksi Pembentukan Polipropilena


Reaksi polimerisasi pertumbuhan rantai terdiri dari 3 tahapan, yaitu : inisiasi,
propagasi, dan terminasi. Sebelum terjadi tahapan reaksi ini, katalis TiCl4 diaktifkan
terlebih dahulu oleh ko-katalis Al(C2H5)3 sehingga akan terbentuk pusat aktif (active
center) katalis seperti pada reaksi berikut ini :

C2H5

Cl C2H5 C2H5 Al
C2H5
Cl Ti Cl + C2H5 Al C2H5 Cl
Ti Cl
Cl Pusat Aktif
Titanium Tri Etil Aluminium
Katalis Cl Cl
Klorida

16
Reaksi Pembentukan Pusat Aktif Katalis

2.3.1. Inisiasi

Setelah katalis diaktifkan oleh ko-katalis membentuk radikal bebas Ti, maka
monomer propilen akan menyerang bagian aktif ini dan berkoordinasi dengan logam
transisi, selanjutnya ia menyisip antara metal dan grup alkil. Sehingga mulailah
terbentuk rantai polipropilen. Reaksinya :

C2H5 C2H5
CH3
C2H5 Al C2H5 Al
C2H5 C2H5 CH

Cl + CH2 CH CH3 Cl CH2


Ti Cl Ti Cl
Monomer
Cl Cl Propilen Cl Cl
Pusat Aktif
Katalis

C2H5 C2H5 C2H5

CH CH3 C2H5 Al
C2H5 Al
C2H5 CH CH3
CH2
Cl CH2
Cl
Ti Ti Cl
Rantai Cl
Polipropilen Cl Cl Cl Cl

Reaksi Inisiasi

2.3.2. Propagasi

Radikal propilen terbentuk akan menyerang monomer propilen lainnya terus


menerus dan membentuk radikal polimer yang panjang. Pada tahap ini tidak terjadi
pengakhiran, polimerisasi terus berlangsung sampai tidak ada lagi gugus fungsi yang

17
tersedia untuk bereaksi. Cara penghentian reaksi yang biasa dikenal adalah dengan
penghentian ujung atau dengan menggunakan salah satu monomer secara berlebihan.
Reaksinya adalah :

C2H5 C2H5 C2H5


CH3
CH CH3 CH3
C2H5 Al C2H5 Al
CH2 CH2 - CH - CH2 - CH - C2H5
Cl + CH2 CH CH3 Cl
Ti Cl Monomer Ti Cl
Propilen
Cl Cl Cl Cl
Rantai Radikal Polipropilen yang
Polipropilen Panjang

Reaksi Propagasi

2.3.3. Terminasi

Pada tahap ini diinjeksikan sejumlah hidrogen yang berfungsi sebagai


terminator. Hidrogen sebagai terminator akan bergabung dengan sisi aktif katalis
sehingga terjadi pemotongan radikal polimer yang akan menghentikan reaksi
polimerisasi propilene. Reaksinya :

18
C2H5 C2H5

CH CH3 CH CH3
C2H5 CH2 C2H5 CH2
CH CH3 CH CH3
C2H5 Al + H2 C2H5 Al
CH2 CH2
Hidrogen H
Cl Cl
Ti Cl Ti Cl

Cl Cl Radikal Polipropilen Cl Cl
yang Panjang

Reaksi Terminasi

3.4. Proses Pembuatan Poliropilena

Polipropilena adalah hasil polimerisasi propena. Polimerisasi adalah


penggabungan molekul molekul sejenis menjadi molekul raksasa sehingga berantai
karbon sangat panjang. Molekul yang bergabung disebut monomer monomer.
Sedangkan molekul raksasa yang terbentuk disebut polimer.

Jenis polimerisasi yang terjadi pada pembuatan polipropilena ini adalah


polimerisasi adisi, karena terjadi ikatan antara monomer propilena melalui ikatan
rangkapnya. Pertumbuhan yang terjadi pada polimerisasi ini disebabkan karena
adanya penambahan monomer yang berlangsug secara terus menerus pada pusat
aktif radikal bebas. Polimerisasi adisi menghasilkan berat molekul yang sama dengan
berat semu unit menome yeng tergabung dalam rantai polimer.

Polimerisasi ini akan berlangsung sampai semua monomer habis bereaksi.


Akan tetapi, terminasinya dapat diatur dengan menambah molekul hydrogen yan

19
memutuskan pertumbuhan atau perpanjangan rantai polimer. Polimerisasi adisi pada
umumnya berlangsung dalam kondisi tanpa katalisator dan temperature kamar, pada
polimerisasi adisi juga tidak dihasilkan molekul-molekul ringan sebagai produk
samping.

2.4.1. Diagram Alir Pembuatan Polipropilena

2.4.2. Tahapan proses pembuatan Polipropilena


Persiapan bahan baku, dimana seperti yang telah dijelaskan jika bahan baku utama
pembuatan polipropilena adalah propena yang diambil dari minyak bumi untuk
menjadi polipropilena.
Selanjuutnya bahan dimasukkan ke dalam reactor dimana di dalam reaktor terjadi
reaksi polimerisasi propilen menjadi resin propilena dengan menggunakan fluidized
bed reactor fasa gas, reaksi ini terjadi di dalam unggun resin polipropilena yang
terfluidakan dengan menggunakan unggun resin.
Product Discharge System merupakan suatu system yang digunakan untuk
mengeluarkan resin yang terbentuk di dalam reactor dan dikirim ke product receiver.

20
Pada product receiver ini terjadi proses pemisahan campuran gas hidrokarbon,
hydrogen, dan nitrogen dengan resin polipropilene, dari bagian bawah product
receiver dimasukkan gas nitrogen yang berasal dari nitrogen surge tank.
Purge bin merupakan alat yang digunakan untuk menetralisir sisa katalis dank o
katalis (TEAL) serta menghilangkan sisa-sisa gas yang masih terdapat di dalam resin.
Pelletizing system dimana untuk proses pembuatan pellet polipropilen dari resin
polipropilena. Resin polipropilene yang berasal dari product purge bin dan aditif
masuk ke dalam polipropilen dan additive dicampur dan diletakkan di dalam long
continous mixer masuk ke dalam melt pump yang berfungsi untuk menaikkan tekanan
polimer agar polimer melewati transition piece1, screen changer transition piece 2 dan
die plate.
Hasil dari pelletizing system akan masuk ke dalam silo and bagging dimana pellet
yang dihasilkan akan dimasukkan ke dalam silo dan untuk proses pengantongan
produk.

2.4.3. Bagan pembuatan Polipropilena dapat diringkas sebagai berikut :

21
Resin atau biji plastic yan telah terbentuk kemudian diproses lebih lanjut untuk
dijadikan produk baru. Salah satu caranya adalah dengan metode ekstrusi seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya. Proses ekstrusi adalah proses mengubah bentuk dari bahan baku bijih
plastic menjadi gulungan-gulungan atau roll plastic.

Pertama-tama bijih plastic dilelehkan pada Ekstruder, kemudian diinjeksikan melalui


cetakan, setelah keluar dari cetakan yang sesuai dengan profil yang diinginkan dimasukkan ke
dalam alat kalibrasi. Keluar dari alat kalibrasi masuk tangki air untuk didinginkan, setelah
dingin dimasukka ke bahan penarik kemudian dipotong-potong sesuai dengan ukuran yang
diminta pada alat potong dan disusun pada alat penyusun.

3.5. Perkembangan Teknologi Proses Pembuatan Polipropilena

Produksi polipropilena secara komersial baru dilakukan setelah ditemukannya


katalis yang mempolimerisasi propilena menjadi polipropilena kristal. Laporan
pertama tentang penemuan polipropilena kristal terjadi pada tahun 1950-an. Pada saat
itu, Natta menggunakan katalis heterogen yang ditemukan oleh Ziegler untuk
dipolimerisasi etilena pada tekanan rendah. Penemuan ini menjadikan polipropilena
kristal (isotaktik) sebagai salah satu polimer komersial. Pabrik polipropilena pertama
didirikan di Italia (Montecatini) pada tahun 1957 dan beberapa bulan kemudian diikuti
oleh pendirian pabrik Hercules diAmerika Serikat.

22
Berdasarkan pada fasa reaksi polimerisasinya, proses produksi polipropilena
dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu proses fasa slurry dengan pelarut, fasa cair dan
fasa gas.

2.7.1. Proses Fasa Slurry dengan Pelarut

Proses slurry mendominasi produksi pembuatan resin polipropilena sampai


tahun 1980. Proses fasa slurry yang telah dikembangkan menggunakan katalis
beraktivitas tinggi generasi kedua yang memungkinkan penghilangan tahap degassing
dan dapat mengurangi jumlah polimer ataktik yang diproduksi. Beberapa cara
produksi polipropilena dengan proses slurry adalah teknologi Hercules, teknologi
Mitsui Toatsu, teknologi Montedison, dan teknologi Hoechst AG. Produksi komersial
pada proses fasa slurry awalnya dilakukan secara batch, kemudian diganti dengan
proses kontinu. Teknologi Hercules merupakan proses kontinu pertama dalam
teknologi produksi polipropilena.

2.7.2. Proses Fasa Cair

Proses polimerisasi jenis ini menggunakan monomer propilena cair tanpa


penggunaan pelarut inert dan merupakan teknologi produksi polipropilena pertama
yang dikembangkan. Ciri utama proses fasa cair ialah adanya stirrer (pengaduk) dan
pendinginan yang menggunakan efek evaporatif. Produksi dengan cara ini merupakan
proses yang paling mahal, namun kemurnian yang dihasilkan pun sangat tinggi
(hingga 98%). Proses fasa cair ini masih digunakan hingga sekarang. Beberapa proses
produksi polipropilena fasa cair adalah teknologi Mitsui Petrochemical, teknologi
Rexall, teknologi Phillips, dan teknologi Spheripol.

2.7.3. Proses Fasa Gas

Proses polimerisasi fasa gas mulai dioperasikan secara komersial sejak 1969.
Proses fasa ini banyak digunakan oleh industri-industri polipropilena. Hal ini
disebabkan karena investasi untuk instalasi dan operasi lebih murah dibanding kedua
fasa sebelumnya, selain itu konsumsi energinya juga relatif rendah. Proses produksi
polipropilena fasa gas meliputi teknologi Borstar, teknologi Chisso, teknologi Mitsui,
teknologi Amoco, teknologi Sumitomo, teknologi Novolen dan teknologi UNIPOL.
Proses Novalen merupakan proses polimerisasi propilen fasa gas skala komersial yang
pertama.

23
2.7.4. Proses Unipol

Pada tahun 1960-an, Union Carbide mengembangkan teknologi polimerisasi


etilena pada fasa gas menjadi polimerisasi untuk propilena dengan menggunakan
sistem katalis sangat aktif dari Shell Chemical. Katalis Shell yang dibangun pada
tahun 1981 merupakan katalis yang memiliki aktivitas tinggi, stereospesifisitas yang
tinggi sehingga dengan jumlah katalis yang sedikit dapat digunakan untuk
memproduksi polipropilena. Katalis milik Shell ini ada tiga macam yaitu SHAC-103,
SHAC-201 dan SHAC-205. Versi terbaru, SHAC-201 memberikan aktivitas tertinggi
dan kemampuan untuk mencapai derajat isotaktik hingga 98%.

Proses ini sederhana, ekonomis dan tangguh. Proses Unipol menggunakan dua
buah reaktor unggun terfluidakan yang tersusun secara seri. Satu reaktor digunakan
untuk memproduksi homopolimer dan reaktor lain berukuran lebih kecil digunakan
untuk memproduksi kopolimer.

Bagian produksi utama proses ini terdiri dari penanganan katalis, pemurnian
propilena untuk menghilangkan sejumlah kecil racun katalis, polimerisasi, pencucian
katalis, pembuatan pellet dan penyimpanan. Pada proses ini, propilena segar
dilewatkan ke dalam degassing column untuk menghilangkan gas ringan dan melalui
molecular sieve atau Al2O3 dryer untuk menghilangkan kandungan air sebelum
memasuki reaktor.

Proses polimerisasi dilangsungkan dalam sistem reaktor yang terdiri dari


bejana tekan dengan bagian atas yang membesar. Panas reaksi dipindahkan dengan
mendinginkan gas recycle dengan alat penukar panas.

Katalis yang digunakan pada proses ini adalah TiCl4 dengan penyangga
MgCl2, kokatalis Al-trialkil, ditambah donor elektron berupa alkylphthalate dan
alkoxysilanes. Temperatur operasi polimerisasi umumnya 65oC dengan tekanan 30
bar pada reaktor homopolimer dan tekanan 20 bar pada reaktor kopolimer.

24
3.6. Jenis Kualitas Produk polipropilena

Berdasarkan kualitasnya, produk polipropilena yang dihasilkan oleh PT.


Chandra asri Petrochemical Tbk (PP plant) dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu
:

1. Prime

Merupakan produk PT. Chandra Asri Petrochemical Tbk (PP plant). yang memenuhi
kualitas yang diinginkan.

2. Near Prime
Merupakan produk PT. Chandra Asri Petrochemical Tbk (PP plant) yang
menyimpang sedikit dari kualitas yang diinginkan.
3. Utility
Merupakan produk PT. Chandra Asri Petrochemical Tbk (PP plant) yang tidak
memenuhi kualitas yang diinginkan.

Ketiga jenis kualitas tersebut mempunyai pangsa pasar tersendiri dengan harga
yang semakin murah untuk tingkat kualitas yang semakin turun. Selain ketiga kategori
diatas, sebagai hasil sisa dari produk juga dihasilkan enam jenis hasil sisa (scrap) yang
masing-masing memiliki nilai jual tertentu dan disimpan dalam gudang pokok. Keenam
scrap tersebut adalah :

1. Bongkahan

Merupakan lelehan resin yang keluar dari pelletizer dan memadat membentuk
bongkahan.

2. Dust

Merupakan debu dari resin yang dihasilkan

3. Resin

Merupakan bubuk hasil reaksi yang tidak memenuhi spesifikasi dan tidak
diproses menjadi pellet.

4. Rebagging

25
Merupakan produk yang dikumpulkan dari tumpahan pellet akibat karung yang
rusak atau berlubang, baik dalam proses bagging maupun loading. Produk ini dikemas
dalam karung dan masih dapat diolah tetapi harus dipertimbangkan adanya pengkotor.

5. Sweeping

Merupakan scrap yang sama dengan rebagging yang dikumpulkan dari


tumpahan pellet tetapi kandungan pengotornya banyak.

6. Trash

Merupakan produk yang memiliki sifat-sifat yang diinginkan tetapi ukuran


pelletnya lebih besar (oversize) atau lebih kecil (less than size) dari yang ditentukan.

3.7. Manfaat Polipropilena

Karena polipropilena kebal dari lelah, kebanyakan living hinge (engsel


fleksibel tipis yang terbuat dari plastic yang menghubungkan dua bagian dari palstik
yang kaku), seperti yang ada di botol dengan tutup flip top, dibuat dari bahan ini.

Lembar propilena yang sangat tipis dipakai sebagai dielektrik dalam pulsa
berdaya tinggi tertentu serta kondensator frekuesni radio yang kehilangan
frekuensinya rendah. Kebanyakan barang dari palstik untuk keperluan medis atau
laboratorium bisa dibuat dari polipropilena karena mampu menahan panas di dalam
autoklaf.

Sifat tahan panas ini menyebabkan digunakan sebagai bahan untuk membuat
ketel (ceret) tingkat-konsumen. Wadah penyimpan makan yang terbuat darinya takkan
meleleh di dalam mesin cuci piring dan selama proses pengisian panas industry
berlangsung. Untuk alasan inilah sebagian besar tong plastic untuk produk susu
perahan terbuat dari polpropilena yang ditutupi dengan foil aluminium (keduanya
merupakan bahan tahan panas). Sesuai produk diinginkan, tabung sering diberi tutup
yang terbuat dari bahan yang kurang tahan panas, seperti polietilena berdensitas
rendah (LDPE) atau polistirena. Wadah seperti ini merupakan contoh yang bagus
mengenai perbedaan modulus, karena tampak jelas beda kekenyalan LDPE (lebih
lunak, lebih mudah dilenturkan) dengan polipropilena yang tebalnya sama. Jadi wadah

26
penyimpan makan dari polpropilena sering memiliki tutup yang terbuat dari LDPE
yang lebih fleksibel agar bisa tertutup rapat-rapat.

Polipropilena juga bisa dibuat menjadi botol sekali pakai untuk menyimpan
produk konsumen berbentuk cairan atau tepung, meski HDPE dan polietilena
tereftalatlah yang umumnya dipakai untuk membuat botol semacam itu. Ember
plastic, baterai mobil, container penyejuk, piring dan kendi sering terbuat dari
polipropilena atau HDPE, keduanya memliki penampilan, rasa, serta sifat yang hampir
sama pada suhu ambient.

Polipropilena merupakan sebuah polimer utama dalam barang-barang tak


tertenun. Sekitar 50% digunakan dalam berbagai produk sanitasi yang dipakai untuk
menyerap air (hidrofil), bukan yang secara alami menolak air (hidrofobik).
Penggunaan tak tertenun lainnya yang menarik adalah saringan udara, gas, dan cair
dimana serat bisa dibentuk menjadi lembaran atau jarring yang bisa dilipat untuk
membentuk kartrij atau lapisan yang menyaring dalam batas-batas 0.5 sampai 30
mikron. Aplikasi ini bisa ditemukan di dalam rumah sebagai saringan air atau saringan
tipe pengondisian udara. Wilayah permukaan tinggi serta polipropilena hidrofobik
alami yang tak tertenun merupakan penyerap tumpahan minyak yang ideal dengan
perintang apung yang biasanya diletakkan di dekat tumpahan minyak di sungai.

Polipropilena juga umum digunakan sebagai polipropilena berorientasi dwi


sumbu Biaxially Oriented Polypropilene (BOPP). Lembaran BOPP ini digunakan
untuk membuat berbagai macam bahan seperti clear bag (tas yang transparan). Saat
polipropilena berorientasi dwi sumbu, ia menjadi sejernih Kristal dan berfungsi
sebagai bahan pengemasan untuk berbagai produk artistic eceran.

Polipropilena yang berwarna-warni banyak dipakai dala pembuatan permadani


dan tatakan untuk digunakan di rumah Militer AS pernah menggunakan polipropilena
atau polypro untuk membuat lapisan dasar cuaca dingin seperti kaos lengan panjang
atau celana dalam yang panjang. (Saat ini polyester menggantikan polipropilena
dalam berbagai aplikasi di militer AS). Kaos dari polipropilena tidak mudah terbakar,
tapi bisa meleleh yang berakibat pada bekas terbakar pada bagian baju yang terkena
apapun jenis ledakan atau api.

BAB IV

27
PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Polipropilena merupakan sebuah polimer hidrokarbon linier hasil reaksi polimerisasi dari
propilena. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan polipropilen yaitu propilen dan
etilen sedangkan bahan baku penunjangnya diantara lain katalis (TiCl 4), kokatalis (TEAI), H2,
N2, CO, Selectivity Control Agent ( SCA ) dan aditif. Struktur polipropilena terdiri dari tiga
macam yaitu polipropilena isotaktik, polipropilena sindiotaktik, polipropilena ataktik.
Mekanisme pembuatan polipropilena terdiri dari :

a. Persiapan bahan baku


b. Bahan dimasukkan kedalam reactor dan terjadi reaksi polimerisasi
c. Product discharge system
d. Product receiver
e. Purge bin
f. Pelletizing system
g. Hasil pelletizing masuk ke dalam silo

Manfaat dari polipropilena yaitu bahan untuk membuat ketel, untuk keperluan medis atau
laboratorium, untuk menghubungkan dua bagian dari palstik yang kaku), seperti yang ada di
botol dengan tutup flip top, dibuat dari bahan ini, untuk membuat botol semacam ember
plastic, baterai mobil, container penyejuk, piring dan kendi, banyak dipakai dalam pembuatan
permadani dan tatakan untuk digunakan di rumah Militer AS.

4.2. Saran

Sebaiknya limbah polipropilena lebih di perhatikan kembali agar tidak mencemari lingkungan
dan alangkah baiknya agar bisa di daur ulang kembali oleh alam atau lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

28
http://www.chandra-asri.com/product_types.php

http://id.wikipedia.org/wiki/Polipropilena

http:www/firdaus ali POLIPROPILENA (polypropylene).html

http:www/Polimer Polipropilena (Pp), Acrylonitrile Butadiene Styrene (Abs) , Dan Poliuretan


_tommy putra simeulue.html

29