Anda di halaman 1dari 3

Standard Operasional Procedure (SOP)

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

Nomor : / SOP / UKM / I / 2017

Revisi Ke :

Berlaku Tgl :

Ditetapkan
Kepala Puskesmas Kota

PEMERINTAH KABUPATEN BANTAENG

DINAS KESEHATAN

PUSKESMAS KOTA Halam


an
Bende

Jln Elang Baru No. 23 Kel. Pallantikang Kec. Bantaeng Kab. Bantaeng

1
DEMAM BERDARAH DENGUE
(DBD)

Nomor :
Terbit ke :
SO No. Revisi :

Dinas Kesehatan
P Tgl. :
Puskesmas Kota
Kab. Bantaeng Halaman : Kab. Bantaeng
Ditetapkan kepala Drg. Ulil Amri Maksud
Puskesmas Kota NIP. 19710728 200312 1 003

a. Pengertian Demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang di tularkan


melalui gigitan nyamuk Aedes aegepty dan Aedes albopictus yang
sebelumnya telah terinfeksi oleh virus Dengeu dari penderita DBD
lainnya terutama menyerang anak-anak, ditandai dengan panas tinggi,
perdarahan dan dapat menimbulkan kematian. Penyakit ini termasuk
salah satu penyakit yang dapat menimbulkan wabah.

b. Tujuan 1. Menurunkan angka insidens kasus DBD sebesar 1/100.000 penduduk di


daerah endemis.
2. Tercapainya angka bebas jentik ( ABJ ) > 95 %.
3. Tercapai nya angka kematian DBD / CFR < 1 %.
4. Daerah KLB DBD < 5 %.

c. Kebijakan 1. SK Kepala Puskesmas Nomor ......./I/2017 Tentang Pengelolaan Dan


Pelaksanaan Kegiatan UKM
d. Referensi Permenkes No 5 tahun 2014 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter
Difasilitas Pelayanan Kesehatan Primer
e. Prosedur 1. Penemuan suspek penderita DBD baik aktif dan pasive di unit pelayanan
kesehatan dengan gejala tidak ada tanda kedaruratan dilakukan uji
Tourniquet dan dilakukan pemeriksaan laboratorium atau RDT.
2.
2. Jika hasil positif dengan Jumlah trombosit 100.000/l, penderita di
rujuk ke Rumah Sakit.

3. Selanjutnya dilakukan Penyelidikan Epidemiologi di wilayah penderita


dan apabila memenuhi kriteria fogging maka dilakukan pengasapan
dengan 2 siklus dengan interval 1 minggu.

4. Jika hasil positif dengan Jumlah trombosit > 100.000/l,penderita tidak


perlu di rujuk cukup dilakukan kontrol dan tetap dilakukan Penyelidikan
Epidemiologi di wilayah penderita apabila memenuhi kriteria fogging
maka dilakukan pengasapan dengan 2 siklus dengan interval 1 minggu.

1. Dan jika hasil negatif maka akan diberikan pengobatan sesuai


simptomatis.
2. Jika ditemukan penderita dengan tanda kedaruratan atau penderita dari
Rumah Sakit,PE dilaksanakan berdasarkan laporan dari RS ( S0 dan
hasil laboratorium )
3. Apabila memenuhi kriteria fogging maka dilakukan pengasapan dengan
2 siklus dengan interval 1 minggu.
2
f. Unit Terkait 1. Dinas Kesehatan. 4. Pustu
2. Puskesmas 5. Rumah sakit
3. Pokesdes

g. REKAMAN HISTORIS

N HALAMA DIBERLAKUKAN
YANG DIRUBAH PERUBAHAN
O N TANGGAL