Anda di halaman 1dari 8

Paradigma keperawatan adalah suatu cara pandang yang mendasar atau cara

kita melihat, memikirkan, memberi makna, menyikapi dan memilih tindakan


terhadap fenomena yang ada dalam keperawatan, (La Ode Jumadi, 1999 : 38).

Paradigma adlh pola pikir dalam memahami dan


menjelaskan
aspek tertentu dari dari setiap kenyataan .
( Ferguson )
Sebagai satu perangkat bantuan yang memeiliki
nilai tinggi
dan cara pandang dasar yang khas dlm melihat ,
memeikirkan ,
memberi makna , menyikapi dan
( Poerwanto P, 1977 ) memilih tindakan mengenai
sesuatu
kenyataan
atau fenomena kehidupan manusia
Suatu cara pandang yang mendasar atau cara kita
melihat ,
memikirkan, memberi makna,
menyikapi dan memilih tindakan terhadap berbagai
fenomena
yang ada dalam keperawatan .
AKPER HKB
Prinsip Keperawatan Gawat Darurat Prinsip pada penanganan penderita gawat
darurat harus cepat dan tepat serta harus dilakukan segera oleh setiap orang yang
pertama menemukan/mengetahui (orang awam, perawat, para medis, dokter), baik
didalam maupun diluar rumah sakit karena kejadian ini dapat terjadi setiap saat dan
menimpa siapa saja.

PRINSIP DASAR KEGAWATDARURATAN

1. Prinsip Keperawatan Gawat Darurat

Prinsip pada penanganan penderita gawat darurat harus cepat dan tepat serta harus dilakukan
segera oleh setiap orang yang pertama menemukan/mengetahui (orang awam, perawat, para
medis, dokter), baik didalam maupun diluar rumah sakit karena kejadian ini dapat terjadi setiap
saat dan menimpa siapa saja.

Kondisi gawat darurat dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Kumpulan materi mata kuliah
Gadar:2005):

a. Gawat darurat

Suatu kondisi dimana dapat mengancam nyawa apabila tidak mendapatkan pertolongan
secepatnya. Contoh : gawat nafas, gawat jantung, kejang, koma, trauma kepala dengan
penurunan kesadaran

b. Gawat tidak darurat

Suatu keadaan dimana pasien berada dalam kondisi gawat tetapi tidak memerlukan tindakan
yang darurat contohnya : kanker stadium lanjut

c. Darurat tidak gawat

Pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba tetapi tidak mengancam nyawa atau anggota
badannya contohnya : fraktur tulang tertutup.

d. Tidak gawat tidak darurat

Pasien poliklinik yang datang ke UGD

2. Triage Dalam Gawat Darurat


Triage adalah suatusistem seleksi pasien yang menjamin supaya tidak ada pasien yang tidak
mendapatkan perawatan medis. Tujuan triage ini adalah agar pasien mendapatkan prioritas
pelayanan sesuai dengan tingkat kegawatannya.

Pemberian label dalam triage meliputi :

a. Merah : Untuk kasus-kasus gawat darurat

b. Kuning : Untuk kasus gawat tidak darurat atau darurat tidak gawat

c. Hijau : Untuk kasus-kasus tidak gawat tidak darurat/ringan

d. Hitam : Untuk kasus DOA (datang dalam keadaan sudah meninggal).

3. Tindakan Keperawatan Gawat Darurat Sesuai Aspek Legal

Perawat yang membantu korban dalam situasi emergensi harus menyadari konsekuensi hukum
yang dapat terjadi sebagai akibat dari tindakan yang mereka berikan. Banyak negara-negara yang
telah memberlakukan undang-undang untuk melindungi personal kesehatan yang menolong
korban-korban kecelakaan. Undang-undang ini bervariasi diberbagai negara, salah satu
diantaranya memberlakukan undang-undang Good Samaritan yang berfungsi untuk
mengidentifikasikan bahasa/ istilah hukum orang-orang atau situasi yang memberikan kekebalan
tanggung jawab tertentu, banyak diantaranya ditimbulkan oleh adanya undang-undang yang
umum.

Perawatan yang dapat dipertanggungjawabkan diberikan oleh perawat pada tempat kecelakaan
biasanya dinilai sebagai perawatan yang diberikan oleh perawatan serupa lainnya dalam kondisi-
kondisi umum yang berlaku. Maka perawatan yang diberikan tidaklah dianggap sama dengan
perawatan yang diberikan diruangan emergensi.

Perawat-perawat yang bekerja di emergensi suatu rumah sakit harus menyadari implikasi hukum
dari perawatan yang diberikan seperti memberikan persetujuan dan tindakan-tindakan yang
mungkin dilakukan dalam membantu kondisi mencari bukti-bukti.

4. Fungsi Perawat Dalam Pelayanan Gawat Darurat

a. Melaksanakan asuhan keperawatan gawat darurat

b. Kolaborasi dalam pertolongan gawat darurat

c. Pengelolaan pelayanan perawatan di daerah bencana dan ruang gawat darurat


5. Tindakan tindakan yang Berhubungan dengan bantuan hidup dasar dan bantuan
hidup lanjut.

Pengetahuan medis teknis yang harus diketahui adalah mengenal ancaman kematian yang
disebabkan oleh adanya gangguan jalan nafas, gangguan fungsi pernafasan/ventilasi dan
gangguan sirkulais darah dalam tubuh kita.

Dalam usaha untuk mengatasi ketiga gangguan tersebut harus dilakukan upaya pertolongan
pertama yang termasuk dalambantuan hidup dasar yang meliputi :

a. Pengelolaan jalan nafas (airway)

b. Pengelolaan fungsi pernafasan/ventilasi (breathing management)

c. Pengelolaan gangguan fungsi sirkulasi (circulation management)

Setelah bantuan hidup dasar terpenuhi dilanjutkan pertolongan lanjutan ataubantuan hidup lanjut
yang meliputi :

d. Penggunaan obat-obatan (drugs)

e. Dilakukan pemeriksaan irama/gelombang jantung (EKG)

f. Penanganan dalam kasus fibrilasi jantung (fibrilasi)

Khusus untuk kasus-kasus kelainan jantung pengetahuan tentang ACLS (Advanced Cardiac Life
Sipport) setelah tindakan ABC dilakukan tindakan D (differential diagnosis), untuk kasus-kasus
ATLS (Advanced Trauma Life Support) setelah ABC dilanjutkan dengan D (disability) serta E
(exposure)

Triage adalah usaha pemilahan korban sebelum ditangani, berdasarkan tingkat kegawatdaruratan
trauma atau penyakit dengan mempertimbangkan prioritas penangnanan dan sumber daya yang
ada.

Triage adalah suatu proses yang mana pasien digolongkan menurut tipe dan tingka kegawatan
kondisinya.

Triase (Triage) adalah Tindakan untuk memilah/mengelompokkan korban berdasar beratnya


cidera, kemungkinan untuk hidup, dan keberhasilan tindakan berdasar sumber daya (SDM dan
sarana) yang tersedia.

1. Tujuan
2. Tujuan utama adalah untuk mengidentifikasi kondisi mengancam nyawa

3. Tujuan kedua adalah untuk memprioritaskan pasien menurut ke akutannya

4. Pengkatagorian mungkin ditentukan sewaktu-waktu

5. Jika ragu, pilih prioritas yang lebih tinggi untuk menghindari penurunan triage

Tujuan triase pada musibah massal adalah bahwa dengan sumber daya yang minimal dapat
menyelamatkan korban sebanyak mungkin.KEBIJAKAN:

1. Memilah korban berdasar:

a. Beratnya cidera

b. Besarnya kemungkinan untuk hidup

c. Fasilitas yang ada / kemungkinan keberhasilan tindakan

2. Triase tidak disertai tindakan

3. Triase dilakukan tidak lebih dari 60 detik/pasien dan setiap pertolongan harus dilakukan
sesegera mungkin. PROSEDUR:

1. Penderita datang diterima petugas / paramedis UGD.

2. Diruang triase dilakukan anamnese dan pemeriksaan singkat dan cepat (selintas) untuk
menentukan derajat kegawatannya. Oleh paramedis yang terlatih / dokter.

3. Namun bila jumlah penderita/korban yang ada lebih dari 50 orang, maka triase dapat
dilakukan di luar ruang triase (di depan gedung IGD).

4. Penderita dibedakan menurut kegawatnnya dengan memberi kode warna :

1) Segera- Immediate (I)- MERAH. Pasien mengalami cedera mengancam jiwa yang
kemungkinan besar dapat hidup bila ditolong segera. Misalnya : Tension pneumothorax, distress
pernafasan (RR< 30x/mnt), perdarahan internal vasa besar dsb.

2) Tunda-Delayed (II)-KUNING. Pasien memerlukan tindakan defintif tetapi tidak ada


ancaman jiwa segera. Misalnya : Perdarahan laserasi terkontrol, fraktur tertutup pada ekstrimitas
dengan perdarahan terkontrol, luka bakar <25% luas permukaan.

3) Minimal (III)-HIJAU. Pasien mendapat cedera minimal, dapat berjalan dan menolong diri
sendiri atau mencari pertolongan. Misalnya : Laserasi minor, memar dan lecet, luka bakar
superfisial.
4) Expextant (0)-HITAM. Pasien menglami cedera mematikan dan akan meninggal meski
mendapat pertolongan. Misalnya : Luka bakar derajat 3 hampir diseluruh tubuh, kerusakan organ
vital, dsb.

1. Penderita/korban mendapatkan prioritas pelayanan dengan urutan warna : merah, kuning,


hijau, hitam.

2. Penderita/korban kategori triase merah dapat langsung diberikan pengobatan diruang


tindakan IGD. Tetapi bila memerlukan tindakan medis lebih lanjut, penderita/korban
dapat dipindahkan ke ruang operasi atau dirujuk ke rumah sakit lain.

3. Penderita/korban dengan kategori triase kuning yang memerlukan tindakan medis lebih
lanjut dapat dipindahkan ke ruang observasi dan menunggu giliran setelah pasien dengan
kategori triase merah selesai ditangani.

4. Penderita/korban dengan kategori triase hijau dapat dipindahkan ke rawat jalan, atau bila
sudah memungkinkan untuk dipulangkan, maka penderita/korban dapat diperbolehkan
untuk pulang.

5. Penderita/korban kategori triase hitam dapat langsung dipindahkan ke kamar jenazah.

Tanda-tanda radang mencakup rubor (kemerahan), kalor (panas), dolor (rasa sakit),
dan tumor (pembengkakan)

1.Apa yang di maksud dengan Radang ?


jawab : Radang atau inflamasi adalah satu dari respon utama sistem kekebalan terhadap infeksi
dan iritasi. Inflamasi distimulasi oleh faktor kimia (histamin, bradikinin, serotonin, leukotrien,
dan prostaglandin) yang dilepaskan oleh sel yang berperan sebagai mediator radang di dalam
sistem kekebalan untuk melindungi jaringan sekitar dari penyebaran infeksi.
2. Bagaimana Tanda-tanda adanya Peradangan?
Jawab :Ditandai dengan adanya

tumor atau membengkak

calor atau menghangat

dolor atau nyeri

rubor atau memerah


functio laesa atau daya pergerakan menurun

3.Apa perbedaan Radang kronik dengan radang akut?

Jawab: Perbedaannya dengan radang akut, radang akut ditandai dengan perubahan vaskuler,
edema, dan infiltrasi neutrofil dalam jumlah besar. Sedangkan radang kronik ditandai oleh
infiltrasi sel mononuklir (seperti makrofag, limfosit, dan sel plasma), destruksi jaringan, dan
perbaikan (meliputi proliferasi pembuluh darah baru/angiogenesis dan fibrosis) (Mitchell &
Cotran, 2003).
4. Bagaimana Proses peradangan terjadi ?
Proses terjadinya peradangan yakni pada setiap luka pada jaringan akan timbul reaksi inflamasi
atau reaksi vaskuler.Mula-mula terjadi dilatasi lokal dari arteriole dan kapiler sehingga plasma
akan merembes keluar. Selanjutnya cairan edema akan terkumpul di daerah sekitar luka,
kemudian fibrin akan membentuk semacam jala, struktur ini akan menutupi saluran limfe
sehingga penyebaran mikroorganisme dapat dibatasi. Dalam proses inflamasi juga terjadi
phagositosis, mula-mula phagosit membungkus mikroorganisme, kemudian dimulailah digesti
dalam sel. Hal ini akan mengakibatkan perubahan pH menjadi asam. Selanjutnya akan keluar
protease selluler yang akan menyebabkan lysis leukosit.Setelah itu makrofag mononuclear besar
akan tiba di lokasi infeksi untuk membungkus sisa-sisa leukosit. Dan akhirnya terjadilah
pencairan (resolusi) hasil proses inflamasi lokal

5. Mengapa Rubor atau kemerahan merupakan hal pertama yang terlihat di daerah yang
mengalami peradangan?
Jawab : Karena saat reaksi peradangan timbul, terjadi pelebaran arteriola yang mensuplai darah
ke daerah peradangan. Sehingga lebih banyak darah mengalir ke mikrosirkulasi lokal dan kapiler
meregang dengan cepat terisi penuh dengan darah. Keadaan ini disebut hiperemia atau kongesti,
menyebabkan warna merah lokal karena peradangan akut (Abrams, 1995; Rukmono, 1973).
Tanda-Tanda Kardinal Peradangan Pada peristiwa peradangan akut dapat dilihat tanda-tanda
pokok (gejala kardinal). 1. Rubor (kemerahan) Rubor atau kemerahan biasanya merupakan hal
pertama yang terlihat di daerah yang mengalami peradangan. Waktu reaksi peradangan mulai
timbul maka arteriol yang mensupali daerah tersebut melebar, dengan demikian lebih banyak
darah mengalir ke dalam mikrosirkulasi lokal. Kapiler-kapiler yang sebelumnya kosong atau
sebagian saja yang meregang dengan cepat terisi penuh dengan darah. Keadaan ini yang
dinamakan hyperemia atau kongesti,menyebabkan warna merah lokal karena peradangan akut.
Timbulnya hyperemia pada permulaan reaksi peradangan diatur oleh tubuh baik secara
neurogenik maupun secara kimia,melalui pengeluaran zat seperti histamin. 2. Kalor (panas)
Kalor atau panas terjadi bersamaan dengan kemerahan dari reaksi peradangan yang hanya terjadi
pada permukaan tubuh, yang dalam keadaan normal lebih dingin dari -37 C yaitu suhu di dalam
tubuh. Daerah peradangan pada kulit menjadi lebih panas dari sekelilingnya sebab darah yang
disalurkan tubuh kepermukaan daerah yang terkena lebih banyak daripada yang disalurkan
kedaerah normal. Fenomena panas lokal ini tidak terlihat pada daerah-daerah yang terkena
radang jauh di dalam tubuh, karena jaringan-jaringan tersebut sudah mempunyai suhu inti 37C,
hyperemia lokal tidak menimbulkan perubahan. 3. Dolor (rasa sakit) Dolor atau rasa sakit, dari
reaksi peradangan dapat dihasilkan dengan berbagai cara. Perubahan pH lokal atau konsentrasi
lokal ion-ion tertentu dapat merangsang ujung-ujung saraf. Hal yang sama, pengeluaran zat
kimia bioaktif lainnya dapat merangsang saraf. Selain itu, pembengkakan jaringan yang
meradang mengakibatkan peningkatan tekanan lokal yang tanpa diragukan lagi dapat
menimbulkan rasa sakit. 4. Tumor (pembengkaan) Segi paling menyolok dari peradangan akut
mungkin adalah pembengkaan lokal (tumor). Pembengkaan ditimbulkan oleh pengiriman cairan
dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial. Campuran dari cairan dan sel
yang tertimbun di daerah peradangan disebut eksudat. Pada keadaan dini reaksi peradangan
sebagian besar eksudat adalah cair, seperti yang terjadi pada lepuhan yang disebabkan oleh luka
bakar ringan. Kemudian sel-sel darah putih atau leukosit meninggalkan aliran darah dan
tertimbun sebagai bagian dari eksudat. 5. Fungsio laesa (perubahan fungsi) Fungsio laesa atau
perubahan fungsi adalah reaksi peradangan yang telah dikenal. Sepintas lalu, mudah dimengerti,
mengapa bagian yang bengkak, nyeri disertai sirkulasi abnormal dart lingkungan kimiawi lokal
yang abnormal, berfungsi secara abnormal. Namun sebetulnya kita tidak mengetahui secara
mendalam dengan cara apa fungsi jaringan yang meradang itu terganggu. Berbagai bentuk/Jenis
Radang Bentuk peradangan dapat timbul didasarkan atas jenis eksudat yang terbentuk, organ
atau jaringan tertentu yang terlibat, dan lamanya proses peradangan. Tata nama proses
peradangan memperhitungkan masing-masing variable ini. Berbagai eksudat diberi nama
deskriptif. Lamanya respon peradangan disebut akut;disebut kronik jika ada bukti perbaikan
yang sudah lanjut bersama dengan dumadhsi;dan disebut subakut jika ada bukti awal perbaikan
bersama dengan eksudasi. Lokasi reaksi peradangan disebut dengan akhiran -it is yang
ditambahkan pada nama organ (misalnya; apendisitis, tonsillitis).

Today Deal $50 Off : https://goo.gl/efW8Ef