Anda di halaman 1dari 5

ANTIPIRETIK

Antipiretik yaitu obat atau zat yang digunakan sebagai penurun demam, mekanisme
kerja dari obat antipiretik ini yaitu dengan cara menghambat aktivitas enzim siklooksigenase
sehingga konversi asam arakidonat menjadi PPG2 terganggu. Setiap obat menghambat
siklooksigenase dengan kekuatan dan selektivitas berbeda-beda (Gan Sulisia, 2009).

Suhu badan diatur oleh keseimbangan antara produksi dan hilangnya panas. Alat
pengatur suhu tubuh berada di hipotalamus, pada keadaan demam keseimbangan ini
terganggu tetapi dapat dikembalikan ke normal oleh obat antipiretik. Mekanisme terjadinya
demam diawali dengan pelepasan suatu zat pirogen endogen atau sitokin misalnya
interleukin-1 (IL-1) yang memacu pelepasan PG yang berlebihan di daerah preoptik
hipotalamus (Gan Sulisia, 2009). Peningkatan pembentukan sitokin seperti IL-1, IL-6,
interferon alfa dan, serta TNF. Sitokin meningkatkan sintesis PGE 2 pada organ
sirkumventrikular di dalam dan di dekat daerah hipotalamus praoptik, dan PGE 2 melalui
peningkatan AMP siklik, memicu hipotalamus untuk menaikkan suhu tubuh dengan cara
meningkatkan pembentukkan panas dan mengurangi hilangnya panas (Goodman dan Gilman,
).

Efek farmakodinamik obat antipiretik, seperti aspirin akan menurunkan suhu badan
hanya pada keadaan demam. Walaupun kebanyakan obat ini memperlihatkan efek anti piretik
secara in vitro, tidak semuanya berguna sebagai antipiretik karena bersifat toksik bila
digunakan secara rutin atau terlalu lama (Gan Sulisia, 2009).

Secara umum obat-obat ini berpotensi menyebabkan efek samping pada 3 sistem organ yaitu
saluran cerna, ginjal dan hati (Gan Sulisia, 2009).

Pembahasan Obat

1. Senyawa salisilat

Salisilat, khususnya aspirin merupakan obat yang paling sering digunakan sebagai
obat analgetik-antipiretik dan inflamasi, aspirin dosis terapi bekerja cepat dan efektif
sebagai antipiretik. Dosis toksik obat ini justru memperlihatkan efek piretik sehingga
pada keracunan berat terjadi demam hiperhidrosis.
Misalnya Aspirin :

MK : mengasetilasi secara ireversibel dengan demikian menginaktivir enzim


siklooksigenase-1, yang umumnya mengubah arachidonat menjadi endoperoksida.

I : Antipiretik, analgetik, demam rematik akut, artitis reumatoid dan penggunaan lain.

KI : pasien ulser lambung

ES : sifat merangsang terhadap mukosa lambung dengan resiko psendarahan, yang


berkaitan dengan penghambatan prostasiklin (PgI2), yang dibentuk oleh dinding
pembuluh.

Dosis : untuk dewasa ialah 325 mg-650 mg, diberikan secara oral tiap 3-4 jam. Untuk
anak 15-20 mg/kg BB, diberikan tiap 4-6 jam (Gan Sulisia, 2009).

Dosis toksik : obat ini beragam tergantung sediaan salisilat. Na.salisilat atau aspirin
sebanyak 10-30 gram telah menyebabkan kematian pada orang dewasa, tetapi jumlah
yang jauh lebih banyak (130 gram aspirin, dalam satu kasus) telah teringesti tanpa akibat
yang fatal. Dosis letal metil salisilat jauh lebih kecil dari pada Natrium salisilat yaitu
sebanyak 4 mL (4,7 g) bisa fatal terhadap anak-anak.

Toksisitas : keracunan serius sering terjadi pada anak-anak dan kadang-kadang fatal.
Intoksikasi salisilat kronis yang ringan disebut dengan salisilisme.

Gejala dan tanda-tanda : jika telah berkembang penuh, sindrom meliputi sakit kepala,
pusing, telinga berdengung, kesulitan pendengaran, penglihatan buram, kebingungan
mental, kelesuan, mengantuk, berkeringat, haus, hipeventilasi, mual, muntah dan kadang-
kadang diare. Intoksikasi salisilat dalam tingkat yang lebih parah ditandai dengan
gangguan SSP yang lebih jelas (kejang dan koma),erupsi kulit, perubahan nyata dalam
keseimbangan asam-basa. Demam biasanya menonjol terutama pada anak-anak.

Mekanisme Keracunan :

2. Turunan Para-Aminofenol : Asetaminofen

Asetaminofen merupakan metabolit fenasetin dengan efek antipiretik. Efek


antipiretik ini ditimbulkan oleh gugus aminobenzen.
MK : sebagai antipiretik asetaminofen menghambat siklooksigenase di otak, yang tonus
piroksidanya rendah.

I : analgetik dan antipiretik

KI :

ES : reaksi hipersensitivitas dan kelainan darah, hepatotoksik, eritema atau urtikaria dan
gejala yang lebih berat berupa demam dan lesi pada mukosa.

Dosis : dosis asetaminofen untuk dewasa : 300-1000 mg/kali, maksimum 4 gram/hari ;


untuk anak 1-6 tahun : 60-120 mg/hari dan bayi dibawah 1 tahun : 60 mg/kali ; pada
keduanya diberikan maksimum 6 kali sehari.

Efek toksik : akibat dosis toksik yang paling serius ialah nekrosis hati. Nekrosis tubuli
renalis serta koma hipoglikemik dapat juga terjadi. Hepatotoksisitas dapat terjadi pada
pemerian dosis tunggal 10-15 gram (200-250 mg/kg BB).

Mekanisme bagaimana keracunan asetaminofen menyebabkan kerusakan sel hati dan


kematian melibatkan konversi asetaminofen menjadi suatu metabolit reaktif yang toksik.
Jalur minor eliminasi asetaminofen melalui konjugasi dengan glukuronida dan sulfat.
Jalur metabolisme utama melalui sitokrom P450 membentuk senyawa antara, N-asetil-
para-benzokuinonimin, yang sangat elektrofilik. Pada keadaan normal, senyawa antara
ini dieliminasi melalui konjugasi dengan glutation (GSH) dan kemudian dimetabolisme
lebih lanjut menjadi asam merkapturat dan diekskresi ke dalam urin. Namun pada
overdosis asetaminofen, kadar GSH dalam sel hati menjadi sangat rendah, berkurangnya
GSH ini mengakibatkan dua hal. Karena GSH merupakan faktor penting dalam
pertahanan anti oksidan, sel-sel hati cenderung sangat rentan terhadap cedera oleh
oksidan. Berkurangnya GSH juga memungkinkan senyawa antara yang rektif tersebut
berikatan secara kovalen pada makromolekul sel, yang menyebabkan disfungsi berbagai
sistem enzim.

3. Indometasin

Indometasin digunakan sebagai analgetik dan antipiretik yang digunakan secara luas
dan efektif, tetapi toksisitasnya sering membatasi penggunaannya.
MK : indometasin merupakan suatu inhibitor kuat siklooksigenase ; obat ini menghambat
motilitas leukosit polimorfonuklear. Indometasin juga mencegah berpasangannya
fosfolirasi oksidatif pada konsentrasi diatas terapeutik dan menekan biosintesis
mukopolisakarida.

I : tidak umum digunakan sebagai terapi analgetik dan antipiretik. Tetapi obat ini dapat
terbukti berguna sebagai antipiretik pada keadaan tertentu (misalnya penyakit hodgkin)
jika demam tidak memberi respons terhadap obat lain.

KI : tidak boleh digunakan bersama obat obat antikoagulan karena dapat membahayakan
meningkatkan resiko pendarahan saluran cerna, dikontraindikasikan juga pada individu
yang mengalami penyakit ginjal atau lesi ulser pada lambung atau usus.

ES : efek SSP berupa sakit kepala bagian depan.

Dosis : 25 mg 2 atau 3 kali sehari. Namun, jika 75 100 mg indometasin gagal


memberikan manfaat dalam 2-4 minggu, harus dipertimbangkan terapi lain.

Efek toksik : pada dosis terapeutik yang lazim sekitar 35-50% mengalami gejala yang
tidak diinginkan. Keluhan saluran cerna dan komplikasi terdiri atas anoreksia, mual, dan
nyeri abdomen.

4. Pirazolon dan Derivat

Kelompok ini termasuk dipiron, fenilbutazon, oksifenbutazon, antipirin dan aminopirin.

Dipiron

I : analgetik-antipiretik, tapi telah dianjurkan dipiron oral hanya digunakan jika analgetik-
antipiretik lain tidak berhasil.

Dosis : 3 x 0,3-1 gram sehari.

ES dan intoksikasi : agranulositosis, anemia aplastik dan trombositopenia.

5. Senyawa Fenamat

Merupakan turunan asam N-fenilantranilat. Senyawa ini meliputi asam mefenamat,


asam meklofenamat, dan asam flufenamat.
MK : menghambat siklooksigenase. Asam meklofenamat bahkan dapat mengantagonis
efek prostaglandin tertentu.

I : antipiretik, antiradang, dan analgetik.

ES : dispepsia atau rasa tidak nyaman pada saluran cerna bagian atas, dan diare parah
yang disertai dengan steatorea dan radang usus.

KI : pada pasien yang memiliki riwayat penyakit saluran cerna

Efek toksik dan perhatian : anemia hemolitik yang kemungkinan merupakan satu tipe
autoimun. Jika tampak diare atau ruam kulit, obat ini harus segera dihentikan.