Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN

PEMBERIAN KOMPRES HANGAT DALAM MENURUNKAN DEMAM


DIRUANG INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD)
RSUD SARAS HUSADA PURWOREJO

Disusun oleh:
Rahma Nur Aini (NIM.140300123)

PROGRAM STUDY NERS


STIKES ALMA ATA YOGYAKARTA
2014

1
LAPORAN ANALISA SINTESA PADA NY.S DENGAN FEBRIS H2
DIRUANG IGD RSUD SARAS HUSADA PURWOREJO

A. Identitas Klien
Nama : Ny. S
Umur : 52 tahun
Suku : Jawa
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Alamat : Grabag RT/RW 03/03, Purworejo
Tanggal masuk : 25/1/2014
Diagnosa medis : Febris hari ke3

B. Keluhan Utama
Klien mengatakan badan mulai demam sejak 3 hari yang lalu, perut kembung,
nafsu makan menurun, badan terasa lemes dan pusing.

C. TRIAS
Hijau

D. PRIMARY SURVEY
1. Airway
Jalan nafas paten, tidak tampak ada sumbatan pada jalan napas
2. Breathing
Pernafasan spontan, RR: 24 kali / menit, irama nafas regular, suara nafas
vesikuler

2
3. Circulation
Tingkat kesadaran klien composmentis TD: 130/90 mmHg, N: 98 kali/ menit,
S: 39,1C, membran mukosa kering, akral teraba hangat, capillary refill 2
detik, turgor kulit baik, warna kulit kemerahan.
4. Disability
Keadaan umum baik, kesadaran Composmentis, GCS (E4 V5 M6)
5. Exsposure
Klien datang dengan keluhan sudah 3 hari demam, perut kembung, mual,
muntah, nafsu makan menurun, 3 hari hanya makan 1 atau 2 sendok saja,
badan terasa lemes. BB 56 kg, LLA 29cm.
6. Fluid
Terpasang iv lin RL 20 tpm, mual, muntah, makan minum mau sedikit-
sedikit/
7. Going to : Ruang Pavilliun
E. ANALISA DATA
N Data Problem
o Etiologi

1 DO: Keadaan umum baik, kesadaran Hipertermi Proses


Composmentis, GCS (E4 V5 M6) penyakit
bibir tampak kering, S: 39,1C TD:
130/90 mmHg, N: 98 kali/ menit,
kulit teraba hangat.

DS: Klien menyatakan sudah 3 hari


demam naik turun, dan pusing

2 DO: Klien tampak lemes, bibir Ketidakseimban Factor


kering gan nutrisi biologis
DS: Klien menyatakan sudah 3 hari
kurang dari
mual, muntah, nafsu makan turun

3
hanya 1 atau 2 sendok, badan terasa kebutuhan.
lemes dan perut kembung, LLA:29
cm

F. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hipertermi berhubungan dengan penyakit
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan factor biologis.
G. INTERVENSI KEPERAWATAN
N Dx NOC NIC Rasional
o

1 Hipertermi Setelah dilakukan -ukur suhu badan -untuk


b/d penyakit tindakan Anjurkan klien untuk mengetahui
keperawatan selama banyak minum. kenaikan sb
-untuk
1 jam diharapkan -Kompres hangat
menghindari
masalah dapat diatasi -Beri selimut
adanya dehidrasi
dengan kriteria: -Kolaborasi untuk
-membantu
pemberian
-Suhu tubuh dalam menurunkan sb
Antipiretik dan -mencegah
rentang normal
pemberian iv line hilangnya
(36,5-37,5)
kehangatan tubuh
-Klien merasa
nyaman

2 Ketidakseim Setelah dilakukan - Kaji pola nutrisi - Mengetahui


bangan tindakan keperawatan - Anjurkan pasien kebiasaan makan
nutrisi selama 3x24 jam makan minum dirumah
kurang dari diharapkan masalah
sedikit-sedikit tapi - Untuk menghindari
kebutuhan dapat diatasi dengan
sering muntah
tubuh b/d kriteria :
- Beri informasi pada - Supaya klien dan
factor
- Klien mempunyai pasien dan keluarga keluarga tahu
biologis

4
kemauan untuk makan pentingnya nutrisi. kegunaan nutrisi.
dan minum - kolaborasi dengan - mengurangi mual
dokter dan muntah.

H. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI


N Tgl J Implementasi Evaluasi T
o a t
m

1 25/1/2 0 1.Mengukur suhu badan S: Klien


015 8. mengatakan mau
2.Menganjurkan klien
3 coba minum
untuk banyak minum.
0 banyak, klien
3.Mengompres hangat menyatakan
masih pusing
4.Menyelimuti pasien
dan panas.
O: SB 38,5C,
5.Memasang infuse RL 20
Mukosa bibir
tpm dan memberi
masih tampak
paracetamol 500mg
kering dan
merah
A: Masalah
teratasi sebagian
P: Lanjutkan
semua intervensi
di bangsal oleh
petugas bangsal

2 13/9/1 1 1. Mengkaji pola nutisi S: Klien


4 3. 2. Menganjurkan pasien menyatakan
0 makan minum sedikit- lemes,belum
0 sedikit tapi sering

5
1 3. Memberi informasi pada nafsu makan.
O: Klien minum
3. pasien dan keluarga
sedikit dipaksa
1 pentingnya nutrisi.
oleh anaknya.
0 4. Melaksanakan advis dari
Selama di igd
dokter Memasang infuse
tidak muntah
1 RL 20 tpm
TD 130/90
3.
mmHg, N: 96
1
kali/ menit
5 A: masalah
belum teratasi
P: lanjutkan
1
semua intervensi
3.
3
0

I. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN
1. Tahap pra interaksi
Cek dokumentasi untuk memverifikasi perlunya tindakan
Cuci tangan
2. Tahap pre orientasi
Beri salam, panggil nama klien, dan perkenalkan diri
Tanyakan tentang keluhan pasien
Jelaskan tindakan yang akan dilakukan
Beri kesempatan klien untuk bertanya, jaga privasi klien.
3. Tahap pelaksanaan
Cuci tangan
Pastikan privacy klien terjaga
Mengukur suhu dan nadi klien

6
Meletakkan bantal tahan air dibawah klien dan melepaskan
pakaian.
Mempertahankan selimut mandi di atas bagian tubuh yang tidak
dikompres, menutup jendela dan pintu untuk mencegah aliran
udara kedalam ruangan.
Memeriksa suhu air (370C)
Mencelupkan lap mandi dalam air dan meletakkan lap yang sudah
basah di masing-masing aksila dan lipatan paha
Dengan perlahan mengompres ekstremitas selama 5 menit,
memeriksa respon klien, menutup ekstremitas berlawanan dengan
lap mandi dingin.
Mengeringkan ekstremitas dan mengkaji ulang nadi dan suhu
tubuh klien, mengobservasi respon klien.
Mengompres ekstremitas yang lain, punggung, pantat, selama 3-5
menit, kaji ulang suhu dan nadi tiap 5 menit
Mengganti air dan melakukan kembali kompres pada aksila dan
lipat paha sesuai kebutuhan
Menghentikan prosedur jika suhu tubuh turun sedikit di atas
normal
Mengeringkan ekstremitas dan bagian tubuh secara menyeluruh,
menyelimuti klien dengan selimut mandi atau selimut
Mengganti peralatan dan linen bila basah

4. TERMINASI
Evaluasi hasil yang dicapai

Beri reinforcement positif pada klien


Kontrak untuk pertemuan selanjutnya

7
Mengakhiri pertemuan dengan baik dan mengucap salam.
5. Dokumentasi
Catat waktu pelaksanaan tindakan
Catat respon klien, paraf, nama perawat

J. ANALISA TINDAKAN
Kompres hangat merupakan salah satu tindakan mandiri dari perawat
untuk penatalaksanaan hypertermi. Kompres hangat adalah suatu prosedur
menggunakan kain/ handuk yang telah dicelupkan pada air hangat dan
kemudian ditempelkan pada bagian tubuh tertentu sedangkan Tapid sponge
adalah mandi air hangat sebagai terapi pada pasien demam tinggi
Pada Ny. S didiagnosa febris H3, masalah keperawatan utama yang
muncul adalah Hipertermi berhubungan dengan penyakit. Salah satu tindakan
yang dilakukan perawat untuk mengatasi hipertermy adalah dengan kompres
hangat. Setelah dilakukan evaluasi selama 1 jam suhu tubuh turun 0,5C yaitu
dari 39,1C turun menjadi 38,5C. Hal ini membuktikan bahwa kompres
hangat terbukti efektif sebagai tindakan mandiri perawat dalam usaha
menurunkan suhu atau mengatasi hypertermi.
Pemberian kompres hangat pada bagian tubuh akan memberikan sinyal ke
hipotalamus melalui sumsum tulang belakang. Ketika reseptor panas
dihipotalamus dirangsang, system effektor mengeluarkan sinyal yang
memulai keringat dan vasodilatasi perifer. Perubahan ukuran pembuluh darah
diatur oleh pusat vasomotor pada medulla oblongata pada tangkai otak
hipotalamik bagian anterior sehingga terjadi vasodilatasi sehingga
menyebabkan kehilangan energi/panas melalui kulit meningkat, diharapkan
akan terjadi penurunan suhu tubuh sehingga menjadi normal kembali.
Tujuan kompres hangat adalah meningkatkan control kehilangan panas tubuh
melalui penguapan.

8
Manfaat kompres hangat adalah
o Memberikan rasa nyaman pasien
o Menurunkan suhu tubuh yang demam
o Dampak fisiologisnya adalah pelunakan jaringan fibrosa, membuat
otot tubuh rileks, menurunkan rasa nyeri, memperlancar aliran darah.
Tindakan kompres hangat terbukti efektif untuk menurunkan panas, hal ini
sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh fatmawati (2011) dengan hasil
bahwa tindakan kompres hangat terbukti efektif dalam menurunkan demam
pada pasien typoid, penelitian tersebut dilakukan di RSUD prof. Dr.Hi. Aloei
saboe Gorontalo. Penelitian dilakukan pada responden yang belum
mendapatkan antipiretik sehingga diperoleh hasil yang akurat. Dari 19
responden yang diteliti terbukti 14 responden yang hasilnya menunjukkan
penurunan suhu tubuh sedangkan 5 responden lainnya tidak menunjukkan
penurunan suhu tubuh. Hal ini dikarenakan, 5 responden tersebut merupakan
pasien dengan diagnosa demam thypoid H-0 yang masa infeksinya masih
tinggi, dimana demam yang dialami oleh pasien tersebut juga sulit untuk
menunjukkan penurunan suhu tubuh.
K. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan diatas dapat diambil beberapa kesimpulan
diantaranya adalah:
1. Ny.S didiagnosis febris
2. Masalah keperawatan yang muncul pada Ny. S yakni Hipertermi dan
Ketidakseimbangan nitrisi kurang dari kebutuhan tubuh
3. Untuk mengatasi hipertermi tindakan mandiri perawat adalah
dilakukan kompres hangat.

L. DAFTAR PUSTAKA

9
1. Ariyanto. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan. Salemba Medika:
Jakarta.
2. Pahlevi R M. 2012 SAP kompres hangat pada pasien
demam.blogspot.com/2012 Diajses 23 September 2014
3. Muhamad fatmawati, 2012, Efektifitas Kompres Hangat Dalam
Menurunkan Demam Pada Pasien Thypoid Abdominalis Di Ruang G1
Lt.2 RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo. Jurnal Digital
Skripsi. Diakses 22 mei 2014.
4. Smealzer & bare. 2002. Keperawatan medical bedah. Edisi 8 vol 1.
Alih bahasa oleh Agung waluyo . jakarta, EGC.

10