Anda di halaman 1dari 13

Mirza Firdyah Astari

20012681519024
Pengelolaan Sumber Daya Alam
Program Studi Pengelolaan Lingkungan
Universitas Sriwijaya

Macam-macam Kearifan Lokal di Indonesia

1. AWIG-AWIG (Lombok Barat dan Bali): Awig-Awig memuat


aturan adat yang harus dipenuhi setiap warga masyarakat di
Lombok Barat dan Bali, dan sebagai pedoman dalam
bersikap dan bertindak terutama dalam berinteraksi dan
mengelola sumberdaya alam & lingkungan .

2. REPONG DAMAR (Krui-Lampung Barat): Repong Damar atau


hutan damar, merupakan model pengelolaan lahan bekas
lading dalam bentuk wanatani yang dikembangkan oleh
masyarakat Krui di Lampung Barat, yaitu menanami lahan
bekas lading dengan berbagai jenis tanaman, antara lain
damar, kopi, karet, durian.

3. HOMPONGAN (Orang Rimba-Jambi): Hompongan merupakan


hutan belukar yang melingkupi kawasan inti pemukiman
Orang Rimba (di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas,
Jambi) yang sengaja dijaga keberadaannya yang berfungsi
sebagai benteng pertahanan dari gangguan pihak luar.

4. TEMBAWAI (Dayak Iban-Kalimantan Barat): Tembawai


merupakan hutan rakyat yang dikembangkan oleh
masyarakat Dayak Iban di Kalimantan Barat, yang
didalamnya terdapat tanaman produktif, seperti durian.

5. SASI (Maluku): Sasi merupakan aturan adat yang menjadi


pedoman setiap warga masyarakat Maluku dalam mengelola
lingkungan termasuk pedoman pemanfaatan sumber daya
alam.

6. PAMALI MAMANCING IKAN (Desa Bobaneigo-Maluku Utara):


Pamali Mamancing Ikan merupakan aturan adat yaitu
larangan atau boboso. Pamali Mamancing Ikab ini secara
yurisdiksi terbatas pada nilai-nilai adat, dan agama, tetapi
konsep property right ini terbentuk dari pranata sosial
masyarakat yang telah berlangsung sejak lama dalam
mengatur pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut.

7. SIMPUK MUNAN/LEMBO (Dayak Benuaq-Kalimantan Timur):


Simpuk Munan atau lembo bangkak merupakan hutan
tanaman buah-buahan (agroforestry) yang dikembangkan
oleh masyarakat Dayak Benuaq di Kalimantan Timur.

8. KOKO DAN TATTAKENG (To Bentong-Sulawesi Selatan):


Sebelum mengenal pertanian padi sawah, orang To Bentong
mewariskan lahan bagi keturunannya berupa kebun (Koko)
dan lading yang ditinggalkan (Tattakeng). Koko adalah lahan
perladangan yang diolah secara berpindah, sedangkan
Tattakeng adalah lahan bekas perladangan yang sedang
diberakan.

9. MAPALUS (Minahasa-Sulawesi Utara): Mapalus pada


masyarakat Minahasa, merupakan pranata tolong menolong
yang melandasi setiap kegiatan sehari-hari orang Minahasa,
baik dalam kegiatan pertanian, yang berhubungan dengan
sekitar rumah tangga, maupun untuk kegiatan yang
berkaitan dengan kepentingan umum.

10. MOPOSAD DAN MODUDURAN (Bolaang Mongondow-


Sulawesi Selatan): Moposad dan Moduduran merupakan
pranata tolong menolong yang penting untuk menjaga
keserasian lingkungan sosial.

11. KAPAMALIAN (Banjar Kalimantan Selatan):


Kapamalian merupakan aturan-aturan (pantangan) dalam
pengelolaan lingkungan, misalnya larangan membuka hutan
keramat.

12. PAHOMBA ( Sumba Timur- Nusa Tengara Timur ):


Gugus hutan yang disebut Pahomba, terlarang keras untuk
dimasuki apalagi untuk diambil hasil hutanya. Pada
hakekatnya pohon-pohon di setiap pahomba itu berfungsi
sebagai pohon-pohon induk yang dapat menyebarkan benih
ke padang-padang rumput yang relatif luas.Karena itu, jika
api tidak menghangus matikan anakan pepohonan itu,
proses perluasan hutan secara alamiah dapat berlangsung.
Pepohonan di pahomba disekitar batang sungai berfungsi
sebagai riparian atau tumbuhan tepain sungai yang
berfungsi sebagai filter terhadap materi erosi, dan sekaligus
berfungsi sebagai sempadan alamiah sungai dan untuk
pelestarian air sungai.

13. SUBAK (Bali): Salah satu teknologi tradisional


pemakaian air secara efisien dalam pertanian dilakukan
dengan cara Subak. Lewat saluran pengairan yang ada
pembagian aliran berdasarkan luas areal sawah dan masa
pertumbuhan padi dilakukan dengan menggunakan alat bagi
yang terdiri dari batang pohon kelapa atau kayu tahan air
lainnya. Kayu ini dibentuk sedemikian rupa dengan cekukan
atau pahatan dengan kedalaman berbeda sehingga debit air
yang mengalir di satu bagian berbeda dengan debit air yang
mengalir di bagian lainnya. Kayu pembagi air ini dapat
dipindah-pindah dan dipasang diselokan sesuai dengan
keperluan, yang pengaturannya ditentukan oleh Kelihan Yeh
atau petugas pengatur pembagian air.

14. TRI HITA KARANA (Bali): Tri Hita Karana, suatu konsep
yang ada dalam kebudayaan Hindu-Bali yang berintikan
keharmonisan hubungan antara Manusia-Tuhan, manusia-
manusia, dan manusia-alam merupakan tiga penyebab
kesejahteraan jasmani dan rohani. Ini berarti bahwa nilai
keharmonisan hubungan antara manusia dengan lingkungan
merupakan suatu kearifan ekologi pada masyarakat dan
kebudayaan Bali.

15. BERSIH DESO (Desa Gasang-Jawa Timur): Bersih Deso


(bersih desa) adalah suatu acara adat dan sekaligus tradisi
pelestarian lingkungan yang masih dilaksanakan masyarakat
Desa Gasang sampai sekarang. Dilakukan setiap tahun pada
bulan Jawa Selo (Longkang) dipilih dari hari Jumat Pahing.
Masyarakat secara berkelompok membersihkan lingkungan
masing-masing seperti jalan, selokan umum dan sungai.
Setelah selesai melaksanakan bersih deso secara
berkelompok mereka menyelenggarakan upacara semacam
sedekah bumi dengan sajian satu buah buceng besar, satu
buceng kecil, sayur tanpa bumbu lombok tanpa daging,
berbagai macam hasil bumi yang biasa disebut pala
kependhem dan pala gumantung.

16. WEWALER (Desa Bendosewu-Jawa Timur): Tradisi


bersih desa di Desa Bendosewu dikenal dengan wewaler
yang merupakan pesan dari leluhur yang babad desa. Isi
pesan adalah jika desa sudah rejo (damai, sejahtera) maka
hendaknya setiap tahun diadakan upacara bersih desa.
Tradisi bersih desa disertai kegiatan kebersihan lingkungan
secara serentak, yaitu membersihkan jalan-jalan, rumah-
rumah, pekarangan, tempat-tempat ibadah, makam dan
sebagainya. Kegiatan ini disebut pula dengan tata gelar
atau hal yang sifatnya lahiriah. Hal yang berkaitan dengan
tata gelar dalam bersih desa bagi masyarakat Bendosewu
sudah menjadi bagian hidupnya, sehingga tidak perlu
diperintah lagi.

17. SEREN TAUN (Kasepuhan Sirnaresmi-Jawa Barat):


Seren Taun memiliki banyak arti bagi masyarakat kasepuhan
diantaranya adalah puncak prosesi ritual pertanian yang
bermakna hubungan manusia, alam, dan pencipta-Nya.
Seren Taun adalah perayaan adat pertanian kasepuhan
sebagai ungkapan rasa syukur setelah mengolah lahan
pertanian sengan segala hambatan dan perjuangannya
untuk mendapatkan hasil yang optimal. Seren Taun adalah
pesta masyarakat adat Kasepuhan sebagai ungkapan rasa
gembira ketika panen datang. Seren Taun juga merupakan
pertunjukan kesenian-kesenian tradisional yang ada di
masyarakat Kasepuhan. Adat istiadat yang berlaku di dalam
Kasepuhan ini mengatur pola kehidupan masyarakat dalam
berhubungan dengan sang pencipta (Hablum minallah),
hubungan antar manusia (Hablum minan naas) dan
hubungan manusia dengan alam lingkungannya (Hablum
minal alam).

18. TALUN (Kampung Dukuh-Jawa Barat): Bentuk kearifan


dalam pengelolaan SDA dan lingkungan hidup yang
dikembangkan masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan
diwujudkan dalam penataan ruang hutan, pelestarian dan
pengelolaan air, pengelolaan lahan dengan pengembangan
talun. Selain itu juga diwujudkan dalam pengetahuan
tradisional tentang berbagai jenis sumber daya alam, seperti
padi varitas lokal. Nilai yang menekankan pentingnya
melestarikan lingkungan itu dikuatkan lewat berbagai
upacara tradisional, mitos dan tabu. Menurut warga
Kasepuhan, hutan digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu:
Leuweung Kolot atau Leuweung Geledegan atau hutan tua,
yaitu hutan yang masih lebat ditumbuhi berbagai jenis
pohon dengan kerapatan yang tinggi, dan masih banyak
ditemukan binatang liar hidup di dalamnya. Hutan ini masih
ada di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Halimun.
Leuweung Titipan atau hutan keramat. Hutan ini tidak boleh
dimasuki apalagi dieksploitasi oleh siapa pun, kecuali ada
izin dari Abah Anom. Hutan ini akan dimasuki apabila Abah
Anom menerima wangsit atau ilapat dari nenek moyang
yang memerlukan sesuatu dari kawasan gunung tersebut.
Kawasan hutan keramat adalah kawasan Gunung Ciwitali
dan Gunung Girang Cibareno;
Leuweung Sampalan atau Leuweung bukaan, yaitu hutan
yang dapat digunakan dan dieksploitasi serta dibuka oleh
warga Kasepuhan. Di sini warga boleh membuka lading,
kebun sawah, menggembala ternak, mengambil kayu bakar
dan hasil hutan lainnya yang ada. Yang termasuk lahan
bukaan adalah lahan di sekitar tempat pemukiman
penduduk. Bekas lahan lading ataupun sawah yang sudah
dipanen lalu ditanami dengan tanaman musiman dan
tanaman keras sehingga membentuk hutan buatan disebut
Talun. Tanaman buah-buahan sering digunakan seperti
duren, rambutan, atau tanaman lainnya seperti petai,
cengkeh, dan sebagainya. Setelan Talun ditanami biasanya
akan ditinggal begitu saja. Artinya pemeliharaannya tidak
begitu intrnsif disbanding dengan kebun.

19. PIIL PASENGGIRI (Lampung): Piil Pasenggiri merupakan


falsafah hidup atau pedoman dalam bertindak bagi setiap
warga masyarakat Lampung, yakni: menemui muimah
(ramah lingkungan), nengah nyappur (keseimbangan
lingkungan), sakai sambayan (pemanfaatan lingkungan), dan
juluk adek (pertumbuhan lingkungan).

20. UNDANG-UNDANG SIMBUR CAHAYA (Lahat Sumatera


Selatan): Undang-Undang Simbur Cahaya yang sebagian
substansinya mengatur tentang pentingnya pelestarian
lingkungan.

21. KE-KEAN (Sumatera Selatan): Pengetahuan Ke-Kean


adalah perhitungan waktu yang tepat untuk menanam jenis
tanaman tertentu yang dikaitkan dengan ilmu perbintangan.

22. TEBAT (Pasemah-Sumatera Selatan): Salah satu


bentuk kearifan lingkungan masyarakat Pagar Alam adalah
Tebat milik komunal. Tebat dapat dimiliki secara individual
maupun kolektif. Tebat memiliki fungsi sosial, untuk
memperkuat rasa solidaritas dan integrasi masyarakat.
Setiap kali ikan dipanen, dilakukan bobos tebas, yaitu
menguras isi kolam oleh semua warga desa secara bersama-
sama.

23. MAROMU (Ngata Toro-Sulawesi Tengah): merupakan


sistem kerja sama yang berlaku dalam pengelolaan
tanah/hutan bagi masyarakat adat Ngata Toro. Sistem ini
mengandung nilai saling membantu meringankan beban
pekerjaan satu sama lain. Dari awal pengelolaan hingga
panen, sistem Maromu dilakukan secara bergiliran dari satu
keluarga/pribadi kepada yang lain. Pengelolaan tanah/hutan
melalui beberapa tahapan dan struktur yang diatur menurut
ketegorisasi hutan.

24. WANA NGKIKI (Ngata Toro Sulawesi Tengah): Wana


Ngkiki merupakan salah satu kategori dari pandangan
tentang hutan menurut orang Toro.Orang Toro membagi
hutan menurut pengetahuan asal pemanfaatannya sesuai
kategorinya. Wana Ngkiki adalah kawasan hutan di puncak-
puncak gunung yang jauh dari pemukiman, yang ditumbuhi
oleh pohon-pohon yang tidak terlalu besar, rerumputan,
banyak lumut, hawanya dingin, dan merupakan habitat dari
beberapa jenis burung. Di dalam hutan ini, tidak ada
aktivitas manusia. Hutan ini sangat jarang dikunjungi.
Menurut hasil pemetaan luas Wana Ngkiki sekitar 2.300 ha.

25. WANA (Ngata Toro Sulawesi Tengah): Wana


merupakan salah satu kategori dari pandangan tentang
hutan menurut orang Toro. Wana adalah kawasan hutan
belantara/hutan rimba dimana belum pernah ada kegiatan
manusia mengolahnya menjadi kebun. Wana adalah tempat
berkembang biaknya binatang Anoa (lupu), babi rusa
(dolodo) dan lain-lain. Wana merupakan hutan primer
sebagai penyangga kandungan air yang banyak (sumber
air). Sehubungan dengan itu, Wana tidak pernah diolah jadi
kebun. Bilamana diolah/dibuka akan membawa bencana
kekeringan. Begitulah pemahaman yang berkembang pada
masyarakat adat Toro secara turun-temurun. Wana
dimanfaatkan khusus untuk mengambil damar, rotan,
wewangian, obat-obatan dan sewaktu-waktu tempat untuk
berburu binatang dan mencari ikan di sungai-sungainya,
bilamana ada pesta di Ngata. Di beberapa alur sungai pada
waktu itu dilakukan kegiatan mendulang emas secara
tradisional. Dari hasil pemetaan partisipatif membuktikan
wana merupakan hutan yang terluas di wilayah adat Toro
dengan luas sekitar 11.290 Ha.

26. PANGALE (Ngata Toro Sulawesi Tengah): Pangale


merupakan salah satu kategori dari pandangan tentang
hutan menurut orang Toro. Pangale adalah hutan yang
berada di pegunungan dan dataran. Pangale termasuk
kategori hutan sekunder yang bercampur dengan primer
karena sebagian sudah pernah diolah tetapi telah kembali
menjadi hutan seperti semula. Bagi orang Toro pangale
dipersiapkan untuk kebun dan datarannya untuk sawah.
Pangale dimanfaatkan juga untuk mengambil kayu, rotan
yang dipergunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga.
Pandan hutan dipergunakan untuk membuat tikar dan bakul,
obat dan wewangian. Daun melinjo dipergunakan untuk
sayur. Pangale seluas 2.950 Ha biasa digunakan juga untuk
tempat berburu secara tradisional.

27. PAHAWA PONGKO (Ngata Toro Sulawesi Tengah):


Pahawa Pongko merupakan salah satu kategori dari
pandangan tentang hutan menurut orang Toro. Pahawa
Pongko adalah hutan bekas kebun yang telah ditinggalkan
25 tahun ke atas. Sudah hampir menyerupai hutan sekunder
semi primer (pangale). Pohon-pohonnya sudah tumbuh
besar, karena itu untuk menebangnya sudah harus
menggunakan pongko (tempat menginjakkan kaki yang
terbuat dari kayu) yang agak tinggi dari tanah agar dapat
menebang dengan baik dan tonggaknya diharapkan dapat
tumbuh tunas kembali, sehingga sesuai dengan namanya
yaitu Pahawa Pongko. Pahawa artinya ganti. Dalam
pemetaan hutan pahawa pongko dimasukkan dalam kategori
pangale.

28. OMA (Ngata Toro Sulawesi Tengah): Oma merupakan


salah satu kategori dari pandangan tentang hutan menurut
orang Toro. Oma adalah hutan bekas kebun yang sering
diolah. Oma banyak dimanfaatkan untuk tanaman kopi,
kakao dan tanam-an tahunan lainnya. Luas Oma yang
tumpang tindih dengan TNLL berdasarkan pemetaan
partisipatif sekitar 1.820 Ha. Menurut usia pemanfaatannya
Oma terdiri dari 3 (tiga) jenis yaitu :
Oma Ntua; Bekas kebun yang ditinggalkan 16 25 tahun.
Usia pemanfaatannya tergolong tua, dalam arti tingkat
kesuburannya sudah kembali normal. Untuk itu sudah dapat
diolah kembali menjadi kebun.
b. Oma Ngura; Bekas kebun yang ditinggalkan 3 15 tahun.
Merupakan jenis hutan yang lebih muda dibanding oma
ntua. Pohon-pohon belum tumbuh besar dan masih dapat
ditebas dengan menggunakan parang. Rerumputan dan
belukar merupakan ciri khasnya.
Oma Ngkuku; Bekas kebun yang berusia 1 2 tahun.
Didominasi tumbuhan rerumputan.

29. BALINGKEA (Ngata Toro Sulawesi Tengah): Balingkea


merupakan salah satu kategori dari pandangan tentang
hutan menurut orang Toro. Balingkea adalah bekas kebun
yang usianya 6 bulan 1 tahun. Sering diolah untuk
tanaman palawija berupa jagung, ubi kayu, kacang-
kacangan, rica dan sayur-sayuran.

30. NAKI KA BUKIT (Kampung Raba Kalimantan Barat):


Naki Ka Bukit merupakan Upacara adat yang lakukan apabila
dalam musim panen tahun sebelumnya mengalami
gangguan entah berupa hama penyakit atau gangguan
hewan. Upacara ini dilakukan setiap lima tahun sekali dan
sudah menjadi agenda yang tetap.
31. MIJAR BUNGA BUAH (Kampung Raba Kalimantan
Barat): Upacara adat Mijar Bunga Buah dilakukan
berdasarkan ada tidaknya tanaman-tanaman buah
berbunga. Tujuan dari upacara ini adalah untuk menjaga
agar buah-buahan yang akan dimakan tidak menimbulkan
hal-hal yang negatif. Kegiatan ini dipusatkan di tempat
khusus yang sekarang ini dilakukan di Malantokng. Sampai
saat ini tempat tersebut dikeramatkan menjadi Keramat
Buah.

32. MALINAU KAPAL (Sungai Pisang Sumatera Barat):


Malinau kapal memiliki dua versi, yaitu malinau kapal baru
yang pertama kali mau turun kelaut, dan jika kapal-kapal
nelayan selalu sial dalam setiap operasi (selalu ada halangan
atau kesulitan memperoleh hasil tangkapan).
Malimau kapal baru; Malimau kapal baru perisipnya
merupakan suatu upacara untuk minta izin kepada Allah swt.
untuk mengelola isi lautan.
Malimau kapal untuk membuang sial; Upacara malimau
kapal yang berkaitan dengan membuang sial ini relatif lama
dan rangkaian upacara tergantung dari pantanagan yang
dilanggarnya, tetapi jika nahkoda (=tungganai untuk kapal
tonda atau bagan, = pawang untuk perahu payang) bersama
ABKnya tidak tahu sebab kesialan yang menimpa, biasanya
mereka langsung datang ke dukun kapal untuk kapalnya
dilimaui.

33. PERELAK, KEBUN MUDO-UMO RENAH dan UMO


TALANG (Melayu-Jambi): Orang Melayu Jambi mengenal dan
menggolongkan perladangan dalam beberapa bentuk, yaitu
perelak, kebun mudo, umo renah dan umo talang. Perelak
ialah sebidang tanah disekitar desa (kampung) yang ditaami
berjenis tanaman untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-
hari seperti cabai, kunyit, serai, laos, tomat, kacang gulai,
ubi rambat, ubi kayu dan pisang. Kebun Mudo ialah sebidang
tanah yang ditanami satu jenis tanaman muda tertentu,
misalnya pisang, kedelai atau kacang tanah. Umo Renah
ialah lading cukup luas yang ditanami padi dengan selinga
tanaman muda, seperti cabai, tomat, terong, labu dan
mentimun. Di sekitar lading itu mereka juga menanami
tanaman keras seperti duku, durian, karet dan sebagainya.
Umo Talang adalah lading jauh di tengah hutan yang
biasanya ditanami padi. Disini juga mereka menanam
tanaman keras seperti karet dan durian. Mereka juga
membuat rumah sementara yang dihuni selama musim
menunggu panen padi. Setelah panen, lading tersebut akan
menjadi kebun karet atau kebun durian.

34. RIMBA KEPUNGAN SIALANG (Melayu-Riau): Masyarakat


Melayu mengenal pembagian hutan tanah yang terdiri dari
tiga bagian, yakni tanah perladangan, rimba larangan, rimba
simpanan (hak ulayat) dan rimba kepungan sialang.

35. BONDANG (Desa Silo-Asahan-Sumatera Utara):


Masyarakat Desa Silo menerapkan tradisi berupa upacara
buka Bondang dan tutup Bondang dalam aktivitas pertanian.
Buka Bondang dilakukan pada saat akan memulai
penanaman, sedangkan Tutup Bondang diselenggarakan
saat panen. Apa yang menarik dari kegiatan ini adalah
bahwa selain bersandarkan pada kearifan tradisional, konsep
pertanian bondang ini ternyata cukup sinergiss dengan
upaya menciptakan keseimbangan lingkungan. Dalam
aktivitas pertanian, petani sama sekali tidak menggunakan
zat-zat kimia maupun obat-obatan yang dapat
mengakibatkan berbagai dampak pada kesehatan dan
kerusakan lingkungan. Kegiatan pengolahan lahan pertanian
dari mulai tanam hingga panen sepenuhnya dilakukan
secara tradisional, tanpa menggunakan bahan-bahan kimia.

36. LUBUK LARANGAN (Mandailing-Sumatera Utara):


Lubuk Larangan adalah bagian sungai yang dilindungi. Di
dalamnya terdapat ikan jurung yang merupakan ikan langka
dan bernilai simbolik sebagai peralatan upacara pada
Masyarakat Tapanuli Selatan (Mandailing). Di Mandailing
Natal terdapat 114 lubuk larangan yang dikelola oleh
masyarakat. Konsep ini merupakan kearifan tradisional yang
terlaksana secara berkesinambungan dari, oleh dan untuk
masyarakat.

37. MACCERA TASI (Luwu-Sulawesi Selatan): Maccera Tasi


terbukti efektif dalam menggugah emosi keagamaan
(spiritual) warga masyarakat. Pada saat pelaksanaan
upacara, mereka diingatkan atas tanggungjawabnya untuk
menghormati laut, menjaga kebersihannya, tidak merusak
dan tidak menguras potensi ikan laut secara berlebihan.

38. BAU NYALE (Sasak, Nusa Tenggara Barat): Kearifan


masyarakat setempat tercermin dalam upaya masyarakat
memelihara dan melestarikan tradisi Bau Nyale yang
dikaitkan dengan kesuburan. Nyale atau cacing laut jelmaan
dari putri kemudian memenuhi air laut dengan warna-warni
dan mudah ditangkap. Setiap tahun dilakukan upacara Bau
Nyale oleh pendudukk Sasak.

39. LEBUNG (Sumatera Selatan): Dalam praktek


pengelolaan sumber daya alam, lebung tidak hanya
merupakan cekungan tanah tetapi juga salah satu teknik
penduduk setempat untuk menampung ikan saat genangan
air di lebak surut. Lebih dari itu, untuk mengambil ikan yang
terdapat di lebung ada mekanisme yang berada diluar
aturan lelang yang mengakomodir hubungan-hubungan
antara pengemin dan pemilik lebung supaya kepentingan
kedua belah pihak terpenuhi. Untuk memenuhi kepentingan-
kepentingan dari pihak tersebut, pengemin memberikan
sejumlah uang kepada pemilik lebung sebagai tanda ucapan
terima kasih, bukan sebagai ganti rugi atas pengambilan
ikan di lebung.

40. TANAH SEBAGAI IBU KANDUNG (Amungme-Papua


Barat): Masyarakat Amungme yang hidup disekitar
Tambagapura yang kini menjadi kawasan eksploitasi PT.
Freeport Indonesia, mempercayai tanah sebagai ibu kandung
atau mama. Kearifan budaya Amungme yang berpersepsi
tanah sebagai mama, menjadi motivasi budaya bagi
resisstensi warga Amungme terhadap penggalian gunung biji
Erstberg dan Grassberg. Kedua gunung ini dipercaya sebagai
kepala mama. Kasus Freeport merupakan suatu perlawanan
budaya para tokoh adat Amungme yang tampil dengan
pesan budaya te aro neweak lako (alam adalah aku) atau
tanah dipandang sebagai bagian dari hidup manusia.
Konsekuensi dari strukktur kepercayaan budaya tadi adalah
ketika dampak pencemaran dari limbah PTFI, dalam bentuk
pembuangan tailing ke dalam sungai Ajkwa dan Agawaghon
dan semua anak sungai sekitarnya, menyebabkan rusaknya
ekosistem dan budaya Amungme. Sebaliknya adanya
pandangan bahwa tanah adalah mama atau bagian dari
hidup manusia, menuntun prilaku pemanfaatan sumber daya
alam, terutama tanah, secara hati-hati, tidak merusak dan
tidak mencemari.

41. PASANG RI KAJANG (Ammatoa, Kajang, Sulawesi


Selatan): Masyarakat adat Ammatoa bermukim di Desa Tana
Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, yang
berjarak kurang lebih 540 km ke arah tenggara dari kota
Makassar, Sulawesi Selatan. Pasang Ri Kajang merupakan
pandangan hidup komunitas Ammatoa, yang mengandung
etika dan norma, baik yang berkaitan dengan perilaku sosial,
maupun perilaku terhadap lingkungan dan alam sekitarnya,
maupun hubungan manusia dengan PenciptaNya. Ammatoa
bertugas untuk melestarikan Pasang Ri Kajang dan
menjaganya agar komunitas Ammatoa tetap tundukk dan
patuh kepada Pasang. Pasang merupakan pandangan yang
bersifat mengatur, tidak dapat dirobah, ditambah maupun
dikurangi.

42. MOHOTO O WUTA (Tolaki, Sulawesi Tenggara): Upacara


Mohoto O Wuta agar kelak nanti hutan yang mereka tebangi
dapat menghutan kembali agar dapat dimanfaatkan oleh
generasi berikutnya. Hal ini dibuktikan dengan konsep-
konsep (kenyataan empirik) seperti ana homa, o sambu, dan
laliwata yang merupakan suatu bukti jika kawasan hutan
bekas perladangan dapat pulih kembali.

43. O KARUNA-O KANDADI (Muna, Sulawesi Tenggara):


Pemberaan sebidang lahan setelah satu atau dua kali tanam
disebut O Karuna (dedaunan yang masih muda) dan
pepohonannya disebut O Kandadi. Konsepp ini mengandung
makna pemulihan kesuburan lahan. Caranya ialah dengan
memelihara anak kayu yang tumbuh.

44. PANGALE KAPALI (Tau Taa atau To Wana, Sulawesi


Tenggara): To Wana berarti orang dalam hutan. Mereka
memiliki kawasan hutan suaka adat yang disebut pangale
kapali. Upaya-upaya komunitas masyarakat adat Tau Taa
untuk menjaga kelestarian pangale kapali tersebut,
ditempuh melalui penegakan hukum adat beserta pemberian
sanksi pelanggarannya yang terkait dengan pengelolaan
pangale kapali. Hutan konservasi binaan masyarakat adat
Tau Taa tersebut senantiasa berada dalam pengawasan
masyarakat. Berbagai upacara ritual, tabu serta tradisi
pelestarian pangale kapali tetap dipertahankan. Demikian
juga hutan adat dan berbagai keputusan adat lainnya
diterapkan di tengah-tengah warganya guna menjaga
kelestarian atau kelangsungan hutan larangan tersebut.