Anda di halaman 1dari 56

ANALISIS PERILAKU STRUKTUR RANGKA

BRESING KONSENTRIK KHUSUS (SRBK)


TIPE X-2 LANTAI

PERILAKU STRUKTUR BAJA

Oleh :

I Gede Agus Krisnhawa Putra

NIM : 1681511035

MAGISTER TEKNIK SIPIL

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS UDAYANA

2017

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Struktur baja mempunyai kekuatan yang tinggi serta dapat mengurangi


ukuran struktur dan berat sendiri struktur dikarenakan dimensi profil baja yang
sangat tipis dibandingkan beton, keseragaman yang tinggi dibandingkan dengan
beton, mempunyai sifat elastis, mempunyai daktilitas yang cukup tinggi karena
suatu batang baja menerima tegangan tarik yang tinggi yang akan mengalami
regangan tarik cukup besar sebelum terjadi keruntuhan. Keunggulan yang lain
yaitu kemudahan penyambung antar elemen yang satu dengan yang lainnya
menggunakan alat sambung las atau baut, dan kecepatan pelaksanaan konstruksi
yang mengakibatkan sifat mekanis baja lebih unggul dari material beton
(Setiawan, 2008).

Menurut peraturan perencanaan struktur baja untuk bangunan gedung (SNI


0317292002) terdapat beberapa macam struktur rangka baja yang digunakan
sebagai struktur baja tahan gempa diantaranya adalah Struktur Rangka Pemikul
Momen Khusus (SRPMK), Struktur Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB),
Struktur Rangka Bresing Konsentrik Biasa (SRBKB), Struktur Rangka Bresing
Konsentrik Khusus (SRBKK) dan Struktur Rangka Bresing Eksentrik (SRBE).
Struktur rangka bresing konsentrik menggunakan sambungan sendi (flexible
connection) tetapi sambungan ini kurang kaku sehingga diperlukan adanya
penambahan elemen pengaku lateral yaitu bresing pada struktur. Penambahan
bresing pada struktur akan menambah kekakuan atau meminimalisir deformasi
yang diakibatkan oleh gaya lateral berupa gempa. Dengan adanya beban gempa
lateral yang dapat terjadi dengan arah bolak-balik maka bresing akan mengalami
gaya tarik atau tekan secara bergantian. Bresing mempunyai berbagai macam tipe,
salah satunya ialah bresing konsentrik tipe x-2 lantai dimana jenis bresing ini
banyak digunakan pada gedung-gedung bertingkat. Rangka bresing konsentrik

1
tipe x-2 lantai dapat menjadi pilihan yang lebih baik bila dibandingkan dengan
rangka bresing tipe v atau v-terbalik (Utomo, 2011).

Sebagai upaya untuk melihat perilaku dari struktur rangka bresing


konsentrik tipe x-2 lantai ini, maka dilakukanlah pemodelan struktur tersebut pada
program ETABS. Perilaku yang dimaksud adalah bagaimana simpangan struktur
apakah memenuhi syarat simpangan izin, dan kontrol kekuatan struktur baja
tersebut (rasio tegangan).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan yang dapat


dirumuskan adalah bagaimanakah perilaku struktur seperti dimensi elemen
struktur, rasio tegangan, simpangan, dan sambungan yang dirancang sebagai
SRBKK Tipe X-2 Lantai.

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah mengetahui perilaku struktur seperti


dimensi elemen struktur, rasio tegangan, simpangan, dan sambungan yang
dirancang sebagai SRBKK Tipe X-2 Lantai.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang ingin dicapai adalah agar dapat mengetahui perilaku
struktur rangka baja dengan bresing konsentrik x-2 lantai sehingga dapat dijadikan
bahan pertimbangan dalam perencanaan struktur baja di lapangan.

1.5 Ruang Lingkup/Batasan Masalah

Agar ruang lingkup permasalahan tidak terlalu luas, maka diambil


beberapa batasan masalah sebagai berikut:

1. Pondasi diasumsikan perletakan sendi

2. Tidak menghitung keperluan penghubung geser pada komposit pelat beton


dengan balok baja.
3. Beban gempa vertikal tidak ditinjau.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Struktur Rangka Bresing Konsentrik (SRBK)

Struktur rangka bresing merupakan sistem struktur yang didesain untuk


menahan beban lateral berupa gempa. Elemen bresing berperilaku sebagai rangka
batang yaitu hanya menerima gaya tarik atau tekan. Rangka bresing dikategorikan
menjadi rangka bresing konsentrik dan rangka bresing eksentrik.

Struktur rangka bresing konsentrik (SRBK) merupakan sistem struktur


yang elemen bresing diagonalnya bertemu pada satu titik. SRBK dapat
diklasifikasikan menjadi dua yaitu struktur rangka bresing konsentrik biasa
(SRBKB) dan struktur rangka bresing konsentrik khusus (SRBKK). Rangka
bresing konsentrik memiliki beberapa tipe seperti ditunjukkan pada Gambar 2.1
yaitu tipe x pada nomor a, tipe z pada nomor b, tipe v terbalik pada nomor c, tipe
v pada nomor d, tipe x-2 tingkat pada nomor e, dan tipe k pada nomor f, seperti
ditunjukkan pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 Jenis-jenis konfigurasi SRBK

Sumber: AISC, 2010

3
Mekanisme kerja gaya-gaya yang bekerja pada rangka bresing baik itu konsentrik
atau eksentrik dapat ditunjukkan oleh Dewobroto (2012) seperti gambar di bawah.

Gambar 2.2 Aliran gaya-gaya pada sistem rangka bresing


Sumber: Dewobroto, 2012

Adanya batang tekan (-) dan tarik (+) pada rangka dengan bresing, menunjukkan
bahwa sistem braced-frame lebih optimal terhadap beban lateral daripada sistem
rigid-frame yang mengandalkan penghubung balok horisontal saja. Bentuk
deformasi dari sistem braced-frame ini ditunjukkan pada Gambar 2.4, dimana
deformasi ini diakibatkan oleh momen lentur, geser, dan kombinasi momen lentur
dan geser.

Gambar 2.3 Perilaku brace-frame (a) lentur; (b) geser; (c) kombinasi

4
Sumber: Dewobroto, 2012

Bresing Konsentrik X-2 Lantai


Rangka bresing konsentrik tipe x-2 lantai merupakan rangka bresing x
yang dipasang untuk ketinggian dua lantai. Rangka bresing ini dapat menjadi
pilihan yang lebih baik bila dibandingkan dengan rangka bresing tipe v atau v-
terbalik. Hal ini dikarenakan pada rangka bresing v atau v-terbalik, bila terjadi
tekuk pada pada batang tekan bresing, balok akan mengalami defleksi ke bawah
sebagai akibat dari adanya gaya-gaya yang tidak seimbang pada balok. Defleksi
ini dapat mengakibatkan kerusakan pada sistem pelat lantai di atas sambungan
tersebut. Sehingga untuk mengantisipasi terjadinya defleksi ke bawah pada balok
maka diperlukan konfigurasi bresing yang mencegah terbentuknya gaya-gaya
yang tidak seimbang tersebut dan mendistribusikannya menuju kepada lantai lain
yang tidak mengalami perilaku sebesar lantai yang mengalami defleksi tersebut.
(Utomo, 2011)
Perbandingan mengenai perilaku antara rangka bresing konsentrik tipe x-2
lantai dengan tipe v-terbalik ditunjukkan oleh (Hewitt, et al, 2009) melalui sebuah
skema yang ditunjukkan pada Gambar 2.5 di bawah ini.

Gambar 2.4 Perbandingan perilaku rangka bresing konsentrik


Sumber: Hewitt, et al, 2009

5
Dapat dilihat pada Gambar 2.5 bahwa pada struktur rangka bresing tipe x-
2 lantai, gaya-gaya tidak seimbang pada balok didistribusikan melalui batang tarik
bresing yang berada di lantai atasnya.

2.2 Pembebanan Struktur

Pembebanan struktur megacu kepada Peraturan Pembebanan Indonesia


Untuk Gedung (PPIUG) 1983. Beban yang bekerja pada suatu struktur dapat
digolongkan menjadi beban gravitasi meliputi beban mati (Dead Load) dan beban
hidup (Live Load), dan beban lateral meliputi beban akibat gaya gempa
(Earthquake) dan angin (Wind).

Beban Gravitasi

Beban gravitasi merupakan beban-beban kearah vertikal dari suatu struktur


bangunan, dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

1. Beban Mati

Beban mati meliputi berat sendiri struktur, beban mati tambahan seperti
berat keramik, berat tegel, dan berat MEP (Mechanical Electrical Plumbing).
Berat sendiri dari bahan-bahan bangunan dan dari beberapa komponen gedung
yang harus ditinjau di dalam menentukan beban mati dari suatu gedung, harus
diambil menurut Tabel 2.1 PPIUG 1983 (DPMB, 1983).

2. Beban Hidup

Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau
penggunaan suatu gedung dan ke dalamnya termasuk beban-beban pada lantai
yang berasal dari barang-barang yang dapat berpindah, mesin-mesin serta
peralatannya yang tidak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung dan

6
dapat diganti selama masa hidup dari gedung itu, sehingga mengakibatkan
perubahan dalam pembebanan lantai dan atap tersebut.

Beban hidup pada lantai gedung harus diambil menurut Tabel 3.1 (PPIUG
1983). Untuk gedung perkantoran mempunyai beban hidup sebesar 250 kg/m 2.
Beban hidup pada atap dan/atau bagian atap serta pada struktur tudung (canopy)
yang dapat dicapai dan dibebani oleh orang harus diambil minimum 100 kg/m 2
bidang datar (PPIUG, 1983).

Beban Lateral (Gempa)

Dalam perencanaan beban gempa menurut SNI 1726-2012 terdiri dari


metode statik ekivalen dan respons spektrum.

1. Prosedur gaya lateral ekivalen


a. Geser dasar seismik
Geser dasar seismik (V) dalam arah yang ditetapkan harus ditentukan
berdasarkan persamaan berikut.

V = Cs x W (2.1)
Dimana:

Cs : koefisien respons seismik yang ditentukan sesuai dengan SNI 03


1726-2010 pasal 7.8.1.1

W : berat seismik efektif menurut SNI 1726-2012 pasal 7.7.2.

- Perhitungan koefisien respons seismik


Koefisien respons seismik (Cs) harus ditentukan sesuai dengan persamaan
berikut.

7
S DS
Cs
R

I
e
(2.2)

Dimana:

SDS : parameter percepatan spektrum respons desain dalam rentang


perioda pendek seperti ditentukan pada SNI 1726-2012 pasal 6.3
atau 6.9

R : faktor modifikasi respons berdasarkan SNI 1726-2012 Tabel 9

Ie : faktor keutamaan hunian yang ditentukan sesuai dengan SNI


1726-2012 pasal 4.1.2.

Nilai CS yang dihitung sesuai dengan persamaan 2.2 tidak perlu melebihi

S D1
Cs
R
T
Ie
(2.3)

Nilai CS tidak boleh kurang dari

CS = 0,044.SDS.Ie 0,01 (2.4)

Sebagai tambahan, untuk struktur yang berlokasi di daerah dimana S1


sama dengan atau lebih besar dari 0,6 g, maka Cs tidak boleh kurang dari

0,5S1
Cs
R

I
e
(2.5)

dimana Ie dan R sebagaimana yang didefinisikan dalam SNI 1726-2012


pasal 7.8.1.1, dan

8
SD1 : parameter percepatan spektrum respons desain pada perioda
sebesar 1,0 detik, seperti ditentukan pada SNI 1726-2012 pasal
6.10.4

T : perioda struktur dasar (detik) yang ditentukan pada SNI 1726-


2012 pasal 7.8.2

S1 : parameter percepatan spektrum respons maksimum yang


dipetakan yang ditentukan sesuai dengan SNI 1726-2012 pasal
6.10.4

- Nilai Ss maksimum dan penentuan Cs


Untuk struktur beraturan dengan ketinggian lima tingkat atau kurang dan
mempunyai perioda (T) sebesar 0,5 detik atau kurang, Cs diijinkan dihitung
menggunakan nilai sebesar 1,5 untuk SS.

b. Perioda alami fundamental struktur


Perioda struktur fundamental (T) struktur dalam arah yang ditinjau harus
diperoleh dengan menggunakan properti struktur dan karakteristik deformasi
elemen penahan dalam analisis yang teruji. Perioda fundamental (T) tidak boleh
melebihi hasil koefisien untuk batasan atas pada perioda yang dihitung (Cu) dari
SNI 03-1726-2010 Tabel 7.8-1 dan perioda fundamental pendekatan (Ta) yang
ditentukan dari persamaan 2.22. Sebagai alternatif pada pelaksanaan analisis
untuk menentukan perioda fundamental (T), diijinkan secara langsung
menggunakan perioda bangunan pendekatan (Ta) yang dihitung sesuai dengan
ketentuan SNI 03-1726-2010 pasal 7.8.2.1 untuk struktur yang melebihi 12
tingkat.

Perioda fundamental pendekatan (Ta) dalam detik, harus ditentukan dari


persamaan berikut.

Ta = Ct . hnx (2.6)

Dimana:

9
hn : ketinggian struktur diatas dasar sampai tingkat tertinggi
struktur (m)

Ct dan x : ditentukan dari SNI 1726-2012 Tabel 15.

Untuk struktur dengan ketinggian tidak melebihi 12 tingkat di mana sistem


penahan gaya seismik terdiri dari rangka penahan momen beton atau baja secara
keseluruhan dan tinggi tingkat paling sedikit 3 m diijinkan menggunakan perioda
fundamental pendekatan (Ta) sebagai berikut:

Ta = 0,1N (2.7)
dimana N = jumlah tingkat.

Perioda fundamental pendekatan (Ta) dalam detik untuk struktur dinding


geser batu bata atau beton diijinkan untuk ditentukan dari persamaan berikut.

0,0062
Ta hn
Cw
(2.8)

Nilai Cw dihitung dari persamaan berikut:

2
100 x hn Ai
Cw
AB i 1 h1 hi
2

1 0,83
Di
(2.9)

Dimana:

AB : luas dasar struktur dalam m2

Ai : luas badan dinding geser i dalam m2

Di : panjang dinding geser i dalam m

hi : tinggi dinding geser i dalam m

x :jumlah dinding geser dalam bangunan yang efektif dalam


menahan gaya lateral dalam arah yang ditinjau.

10
c. Distribusi vertikal gaya gempa
Gaya gempa lateral Fx (kN) yang timbul di semua tingkat harus ditentukan
dari persamaan berikut:

Fx = Cvx .V (2.10)
Dan
W hk x
CVX n x
Wi .hik
i x
(2.11)

Dimana:

Cvx : faktor distribusi vertical

V : gaya lateral desain total atau geser di dasar struktur (kN)

wi and wx :bagian berat seismik efektif total struktur (W) yang


ditempatkan atau dikenakan pada Tingkat i atau x

hi and hx : tinggi (m) dari dasar sampai Tingkat i atau x

k : eksponen yang terkait dengan perioda struktur sebagai


berikut:

untuk struktur dengan T 0,5 detik, k = 1


untuk struktur dengan T 2,5 detik, k = 2
untuk struktur dengan 0,5 T 2,5 detik, k harus sebesar 2
atau harus ditentukan dengan interpolasi linier antara 1 dan
2.
d. Distribusi horizontal gaya gempa
Geser tingkat desain gempa di semua tingkat Vx (kN) harus ditentukan
dari persamaan berikut:

n
V X Fi
ix
(2.12)

Dimana:

11
Fi : bagian dari geser dasar seismik V yang timbul di tingkat i (kN).

Geser tingkat desain gempa Vx (kN) harus didistribusikan pada berbagai


elemen vertikal sistem penahan gaya seismik di tingkat yang ditinjau berdasarkan
pada kekakuan lateral relatif elemen penahan vertikal dan diafragma.

2. Spektrum respons desain


Bila spektrum respons desain diperlukan oleh standar ini dan prosedur
gerak tanah dari spesifik-situs tidak digunakan, maka kurva spektrum respons
desain harus dikembangkan dengan mengacu SNI 1726-2012 Gambar 6.4-1 dan
mengikuti ketentuan di bawah ini:

Untuk perioda yang lebih kecil dari T0, spektrum respons percepatan
desain (Sa) harus diambil dari persamaan:
T
S a S DS 0,4 0,6
T0
(2.13)

Untuk perioda lebih besar dari atau sama dengan T0 dan lebih kecil dari
atau sama dengan TS, spektrum respons percepatan desain (Sa) sama dengan SDS.
Untuk perioda lebih besar dari TS, spektrum respons percepatan desain (Sa)
diambil berdasarkan persamaan:
S D1
Sa
T
(2.14)

Dimana:

SDS : parameter respons spektral percepatan desain pada perioda


pendek

SD1 : parameter respons spektral percepatan desain pada perioda 1 detik

T : perioda getar fundamental struktur

S D1
To 0,2
S DS
(2.15)

12
S1
TS
S DS
(2.16)

Gambar 2.5 Desain respon spektrum

Sumber : SNI 03-1729-2012

2.3 Kombinasi Pembebanan

Untuk pemodelan rangka dengan pembebanan gempa berdasarkan SNI


17262012 adalah sebagai berikut:

1. 1,4 D

(2.17)

1,2 D+1,6 L+0,5 ( La atau R )


2. (2.18)

13
1,2 D+1,6 ( La atau R ) + ( L Latau 0,8 W )
3. (2.19)

1,2 D+1,3 W + L L+0,5 ( La atau R )


4. (2.20)

1,2 D 1,0 E+ L L
5. (2.21)

6. 0,9 D ( 1,3 W atau1,0 E ) (2.22)

Keterangan:

D : Beban mati yang diakibatkan oleh berat konstruksi permanen, termasuk

dinding, lantai, atap, plafon, partisi tetap, tangga, dan peralatan layan tetap.

L : Beban hidup yang ditimbulkan oleh penggunaan gedung, termasuk kejut,

tetapi tidak termasuk beban lingkungan seperti angin, hujan, dan lain-lain.

La
: Beban hidup di atap yang ditimbulkan selama perawatan oleh pekerja,

peralatan, dan material, atau selama penggunaan biasa oleh orang dan benda
bergerak.

R : Beban hujan, tidak termasuk yang diakibatkan genangan air.

W : Beban angin.

E : Beban gempa, yang ditentukan menurut SNI 17262012

2.4 Simpangan Antar Lantai Tingkat

Simpangan antar lantai tingkat desain ( ) seperti ditentukan dalam

7.8.6, 7.9.2, atau 12.1, tidak boleh melebihi simpangan antar lantai tingkat ijin

14
( a ) seperti didapatkan dari Tabel 16 untuk semua tingkat. Untuk tipe struktur

ini dengan kategori resiko II , nilai simpangan antar lantai tingkat ijin ( a)

0,020 hsx h sx
sebesar , dimana adalah tinggi tingkat dibawah tingkat x

(Lampiran A).

2.5 Sambungan Struktur Baja

Sambungan merupakan sesuatu hal yang tidak dapat dihindarkan dalam


perencaan struktur baja. Hal ini dikarenakan bentuk struktur bangunan yang
kompleks. Sambungan di dalam struktur baja merupakan bagian yang tidak bisa
diabaikan begitu saja, karena kegagalan pada sambungan dapat mengakibatkan
kegagalan struktur secara keseluruhan. Kegagalan dalam sambungan tersebut
dapat mengakibatkan perubahan fungsi struktur bangunan dan yang paling
berbahaya adalah keruntuhan pada struktur bangunan tersebut. Sehingga untuk
mencegah hal itu maka kekuatan dan kekakuan sambungan tersebut harus baik.
Adapun fungsi/tujuan sambungan baja antara lain:

- Untuk menggabungkan beberapa batang baja membentuk kesatuan konstruksi


sesuai kebutuhan.
- Untuk mendapatkan ukuran baja sesuai kebutuhan (panjang, lebar, tebal, dan
sebagainya).
- Untuk memudahkan dalam penyetelan konstruksi baja di lapangan.
- Untuk memudahkan penggantian bila suatu bagian/batang konstruksi
mengalami rusak.
- Untuk memberikan kemungkinan adanya bagian/batang konstruksi yang dapat
bergerak missal peristiwa muai-susut baja akibat perubahan suhu.
Sesuai dengan alat yang umum digunakan untuk menyambung, maka sambungan
dalam konstsruksi baja terdiri dari sambungan baut, sambungan paku keling, dan
sambungan las lumer. Dari ketiga penyambungan tersebut, penyambungan dengan
las adalah yang paling kaku tetapi memerlukan biaya yang relatif mahal
dibandingkan dengan sambungan lainnya. Sedangkan sambungan dengan paku
keling lebih kaku dibandingkan dengan sambungan baut.
Sambungan diperlukan apabila:

15
- Panjang batang standar tidak cukup.
- Untuk membentuk batang tersusun.
- Sambungan yang dibuat untuk menyalurkan gaya dari bagian yang satu ke
bagian yang lainnya, misal sambungan antara balok dengan kolom.
- Sambungan pada struktur rangka batang dimana batang-batang penyusun
selain membentuk kesetimbangan pada suatu titik simpul, umumnya
diperlukan pelat simpul sebagai penyambung.
- Sambungan yang sengaja dibuat untuk membentuk sendi gerber.
- Pada tempat dimana terdapat perubahan dimensi penampang lintang batang
akibat perubahan besarnya gaya.
Syarat-syarat sambungan yang harus diperhatikan:
- Harus kuat, aman tetapi cukup hemat.
- Karena kekakuan sambungan dari baut, paku keling dan las berbeda, maka
pada suatu titik simpul sambungan sebaiknya dihindari penggunaan alat
penyambung yang berbeda-beda.

2.5.1 Alat Penyambung Konstruksi Baja dengan Baut


Pada umumnya sambungan berfungsi untuk memindahkan gaya-gaya yang
bekerja pada elemen-elemen struktur yang akan disambung, sambungan dibuat
karena keterbatasan bahan yang tersedia serta kemudahan dalam hal
pengangkutan. Alat-alat sambung yang biasa digunakan pada konstruksi baja
adalah:
1) Sambungan dengan baut (bolt)
Baut adalah alat sambung dengan batang bulat dan berulir dimana salah satu
ujungnya dibentuk kepala baut dan ujung yang lain dipasang mur/pengunci.
Berdasarkan SNI 03-1729-2002, suatu baut yang memikul gaya terfaktor, Ru,
harus memenuhi syarat berikut.

Ru .Rn (2.80)

Keterangan:

adalah faktor reduksi kekuatan

Rn adalah kuat nominal baut

Tipe baut dibagi menjadi dua yaitu baut tipe friksi dan tipe tumpu. Pada baut
tipe friksi kekuatan baut didapat dari gesekan yang terjadi antara pelat atau
batang yang disambung. Sedangkan untuk baut tipe tumpu kekuatan didapat

16
dari adanya gaya tumpu pada bidang kontak antara baut dengan pelat yang
disambung.

Untuk baut tipe friksi, kuat nominal baut dapat dihitung dari persamaan
berikut.

Rn = 1,13..Tm.Ns (2.81)

Keterangan :

Rn adalah kuat nominal satu baut

adalah koefisien gesekan

Tm adalah kuat tarik minimum untuk mengencangkan baut

Ns adalah jumlah bidang geser yang terjadi

Sedangkan untuk baut tipe tumpu, kuat nominal baut didapat dari persamaan
berikut.

Rn = Ns.Ab.Fv (2.82)

Fv = r.Fu (2.83)

Dimana :

r = 0,5; untuk bidang geser tidak berulir.

r = 0,4; untuk bidang geser berulir.

Fu adalah tegangan tarik ultimit baut.

Adapun beberapa keuntungan dari sambungan menggunakan baut antara lain


lebih mudah dalam pemasangan/penyetelan konstruksi di lapangan dan
konstruksi sambungan dapat dibongkar pasang. Sedangkan kerugian
menggunakan sambungan baut adalah berkurangnya kekuatan dari komponen
yang disambung. Hal ini dikarenakan adanya lubang pada komponen akibat
dari proses penyambungan menggunakan baut.

17
2.5.2 Sambungan Sederhana (Flexible Connection)
Pada sambungan ini rotasi ujung batang relatif besar, dengan kata lain
derajat pengekangan ujung batang sangat kecil, kurang dari 20% terhadap
kapasitas yang diperlukan untuk mencegah perubahan sudut. Sambungan ini
terutama bekerja untuk memindahkan gaya lintang ke batang lain, misal dari
balok ke kolom. Sambungan sendi harus dapat berubah bentuk agar memberikan
rotasi yang diperlukan pada sambungan. Sambungan tidak boleh mengakibatkan
momen lentur terhadap komponen struktur yang disambung. Detail sambungan
harus mempunyai kemampuan rotasi yang cukup. Sambungan harus dapat
memikul gaya reaksi yang bekerja pada eksentrisitas yang sesuai dengan detail
sambungannya. Tipe sambungan ini tidak dipakai dalam perencanaan plastis,
hanya diterapkan pada struktur dimana dalam perhitungan dianggap sebagai
tumpuan sendi. Jika dikehendaki suatu balok bertumpuan sederhana, tipe
sambungan sederhana harus digunakan. Jika digunakan analisis plastis karena
kontinuitasnya dianggap sama, maka pada keadaan ini penggunaan sambungan
sederhana tidak sesuai. Tetapi dua atau lebih sistem struktur yang dirancang
menggunakan analisis plastis dapat dirangkai dengan rangka sambungan
sederhana yang dikombinasikan dengan suatu sistem rangka berpengaku
(bresing). Struktur yang menggunakan tipe sambungan sederhana disebut sebagai
sambungan Tipe 2 di dalam ASD A2.2, sedangkan di dalam LRFD A2.2
dikenal dengan Tipe PR (Partially Restrained). Penyebutan terkekang sebagian
untuk tipe sambungan ini adalah untuk menunjukkan fakta selalu ada sejumlah
kekangan pada sambungan ini. Detail sambungan sendi ditampilkan pada Gambar
2.13 dan Gambar 2.14.

Gambar 2.6 Sambungan balok ke sayap kolom dengan baut.

18
Sumber: Detail of Steel Framing

Gambar 2.7 Jenis-jenis sambungan sendi


Sumber: McCormac and Csernak, 2011

Menurut LRFD A2.2 jika konstruksi Tipe PR diinginkan sebagai rangka


sederhana, maka harus memenuhi tiga syarat berikut:
- Reaksi balok bertumpuan sederhana akibat beban terfaktor harus mampu
ditahan oleh sambungan tersebut.
- Struktur dan sambungannya harus mampu menahan beban-beban lateral
terfaktor.
- Sambungan harus mempunyai kapasitas rotasi tak elastis yang cukup
sehingga perubahan sudut yang sama dalam rangka sambungan sederhana
dapat terjadi pada beban terfaktor tanpa mengakibatkan pembebanan
berlebih pada sistem penyambung ujung.

Sambungan Bresing

Bresing tidak bisa menerima momen kecuali akibat berat sendiri, sehingga
bresing berperilaku sebagai rangka batang yaitu batang tekan atau batang tarik.

19
Oleh karena itu, sambungan bresing pada join balok-kolom menggunakan
sambungan sederhana atau sendi sehingga hanya pada bagian badan bresing yang
dipasang baut.

Gambar 2.8 Sambungan bresing yang menggunakan sambungan sendi

Sumber: www.newsteelconstruction.com

Gambar 2.9 Sambungan bresing yang terpasang ke kolom

Sumber: www.newsteelconstruction.com

20
Gambar 2.10 Sambungan bresing pada balok yang terpasang pada badan kolom

Sumber: www.newsteelconstruction.com

BAB III

KAJIAN PEMODELAN

3.1. Pemodelan Struktur

Pada penelitian ini akan dibandingkan hasil analisis statik linier pada
Struktur Rangka Bresing Konsentrik Khusus (SRBKK) Tipe X-2 Lantai dengan
sambungan sendi, dengan menggunakan bantuan program ETABS 2013. Denah
struktur ditunjukkan pada gambar 3.1.

21
Bresing Bresing

Bresing Bresing

Bresing Bresing

Gambar 3.1 Denah struktur gedung dengan bresing

22
3,6 m

3,6 m

3,6 m

3,6 m

3,6 m

4,5 m

Gambar 3.2 Portal Arah Melintang

23
3,6 m

3,6 m

3,6 m

3,6 m

3,6 m

4,5 m

Gambar 3.3 Portal Arah Memanjang

24
Gambar 3.4 Model 3D struktur gedung dengan bresing

Struktur gedung yang dimodel memiliki jumlah 6 tingkat termasuk atap,


tinggi per-lantai ialah 4,5 m dari base ke lantai 1, sedangkan dari lantai 1 sampai
atap ialah 3,6 m, dengan tinggi total adalah 22,5 m. Untuk model struktur rangka
bresing, posisi atau letak bresing yang dipasang ditunjukkan pada model 3D
struktur gedung yaitu pada Gambar 3.4.

25
3.2. Data Struktur

Data-data perencanaan dan model struktur yang digunakan disesuaikan


dengan peraturan pembebanan dan perencanaan yang berlaku dimana bangunan
yang ditinjau bersifat fiktif terletak di daerah Denpasar dengan jenis tanah sedang
(KDS tipe D). Material yang digunakan dalam pemodelan struktur gedung ini
adalah baja profil W untuk kolom, balok, dan bresing, sedangkan pelat dimodel
komposit dengan dek baja ketebalan pelat beton lantai 8,75 cm dan pelat atap 7,75
cm. Untuk dimensi kolom, balok, dan bresing menggunakan metode Trial and
Error dengan menggunakan bantuan Auto Select List yang sudah ada pada ETABS
2013.

a. Mutu Material

Mutu baja: Massa jenis, = 7850 kg/m3

fy
Tegangan leleh, = 290 MPa

fu
Tegangan putus, = 500 MPa

Modulus elastisitas, E = 200.000 MPa

Modulus geser, G = 80.000 Mpa

Mutu beton: Massa jenis, = 2400 kg/m3


'
Kuat tekan, f c = 25 MPa

Modulus elastisitas, E = 25749,2 MPa

Mutu tulangan: Massa jenis, = 7850 kg/m3

fy
Tegangan leleh, = 400 MPa
(longitudinal)

26
fy
Tegangan leleh, = 400 Mpa (geser)

Modulus elastisitas, E = 200.000 MPa

b. Beban Gravitasi

Beban gravitasi pada struktur terdiri atas beban mati (dead load), beban mati
tambahan (Dead Load), dan beban hidup (live load). Pada permodelan ini, beban
mati struktur akan dianalisis secara otomatis oleh program ETABS. Beban hidup
terdiri dari beban hidup pada pelat lantai (250 kg/m2) dan beban hidup pada pelat
atap (100 kg/m2), sedangkan untuk dead load dibagi berdasarkan letaknya :

Beban mati (D) = Berat sendiri struktur


Dead Load untuk pelat lantai :
Screed (adukan 30 mm) = 63 kg/m2
Finishing (keramik 10 mm) = 24 kg/m2
Penggantung dan penutup plafond = 18 kg/m2
Mekanikal dan Elektrikal = 40 kg/m2 +
(D+) = 145 kg/m2
Dead Load untuk pelat atap :
Screed (adukan 30 mm) = 63 kg/m2
Penggantung dan penutup plafond = 18 kg/m2
Mekanikal dan Elektrikal = 40 kg/m2 +
(Da+) = 121 kg/m2

c. Beban Gempa
Lokasi gedung berada di daerah Denpasar dengan kategori design gempa D
Variabel Nilai
PGA (g) 0.441
SS (g) 0.977
S1 (g) 0.36
CRS 1.053
CR1 0.952
FPGA 1.059
FA 1.109
FV 1.681
PSA (g) 0.467
SMS (g) 1.084

27
SM1 (g) 0.604
SDS (g) 0.722
SD1 (g) 0.403
T0 (detik) 0.112
TS (detik) 0.558

Gambar 3.5 Spektral Percepatan Gempa

Berat Struktur (W)

Berat struktur bangunan diperoleh dari ETABS, yaitu

Lantai 1 = 4354,62 kN
Lantai 2 = 4329,60 kN
Lantai 3 = 4329,60 kN
Lantai 4 = 4329,60 kN
Lantai 5 = 4329,60 kN
Lantai 6 = 3498,79 kN

Perhitungan Gaya Gempa Per-Tingkat


R =6
I =1
n =6
T = 0,1 n = 0,6 dt
Koefisien respon seismik
S 0,722
CS 1= DS = =0,12033
R 6
Ie 1

28
S D 1 0,403
CS 2= = =0,11194
R 6
T 0,6
Ie 1
CS 3=0,044 S DS Ie=0,044 x 0,722 x 1=0,03177

Syarat : CS3 < CS2 < CS1

Dipakai CS2 = 0,11194

Lantai H (m) W (kN) W x H (kNm)


Story1 4.5 4354.62 19595.81
Story2 8.1 4329.60 35069.80
Story3 11.7 4329.60 50656.37
Story4 15.3 4329.60 66242.95
Story5 18.9 4329.60 81829.52
Story6 22.5 3498.79 78722.73
Jumlah 25171.83 332117.18

Maka beban geser dasar nominal static ekuivalen adalah


V =Cs W t

V =0,11194 x 25171,83=2817,85 kN

Berdasarkan beban geser dasar yang dialami diperoleh beban-beban gempa


nominal statik ekuivalen
Wx zx
Fx= n V
Wi zi
i= x

Gaya Gempa Pada Portal


Fy (KN) per Fx (KN) per
Lantai F (KN)
joint joint
Story1 168.70 33.74 42.17
Story2 300.25 60.05 75.06
Story3 433.69 86.74 108.42
Story4 567.14 113.43 141.78
Story5 700.58 140.12 175.14
Story6 671.91 134.38 167.98

29
3.3. Langkah-Langkah Pemodelan

a. Pemasukan data material dan dimensi struktur


Tahap awal dalam proses penelitian ini ialah pemasukan data material
struktur, setelah itu dilanjutkan dengan input dimensi struktur pada
program dengan auto select list.
b. Pemodelan dan analisis statik linier
Pemodelan struktur dengan Sistem Rangka Bresing Konsentrik dengan
sambungan sendi, sesuai dimensi yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Selanjutnya dilakukan pengerjaan beban pada struktur akibat beban mati,
beban mati tambahan (akibat plafon, penggantung, spesi, tegel, dan lain-
lain), beban hidup, dan beban gempa. Beban mati struktur dihitung sesuai
dengan dimensi struktur pada program (self weight multiplier). Beban
gempa menggunakan Statik Ekivalen yang disesuaikan dengan SNI gempa
03-1726-2012 dan definisikan kombinasi pembebanan sesuai dengan SNI
03-1729-2012, kemudian dilakukan analisis statik linier. Setelah itu
dilanjutkan dengan desain struktur baja menurut AISC 360-10 yang
disesuaikan dengan SNI 03-1729-2015.
c. Kontrol rasio tegangan
Setelah melakukan desain maka harus dikontrol rasio tegangan hingga
memenuhi batasan yang telah ditentukan yaitu 1,00, jika tidak
memenuhi maka kembali ke tahap dimensi struktur.
d. Perilaku struktur
Dari hasil analisis akan didapatkan hasil yaitu perilaku struktur. Perilaku
struktur yang dimaksud ialah rasio tegangan, simpangan struktur dan drift
rasio. Untuk simpangan harus dikontrol juga sesuai dengan SNI 03-1726-
2012.

30
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Dimensi Struktur dan Rasio Tegangan

Dimensi struktur pada model diperoleh melalui proses iterasi atau coba-
coba untuk memenuhi persyaratan rasio tegangan yaitu <1,00. Dimensi arah x dan
arah y berbeda, karena bentang masing-masing arah x dan arah y berbeda pula.
Profil baja yang digunakan pada masing-masing model untuk kolom, balok, dan
bresing adalah profil W. Berikut merupakan tabel dimensi struktur untuk portal
arah x dan portal arah y.

Tabel 4.1 Dimensi Struktur Arah Y

Portal A (Portal Tepi) Portal B (Portal Tengah)


Elemen
Bagian Tepi Bagian Tengah Bagian Tepi Bagian Tengah
K1 W12x58 W14x120 W14x74 W12x96
K2 W12x58 W14x120 W14x74 W12x96
K3 W10x45 W12x96 W12x58 W12x96
K4 W10x45 W12x96 W12x58 W12x58
K5 W10x39 W12x87 W12x58 W12x58
K6 W10x39 W12x87 W12x58 W10x45
B1 W12x26 W12x26 W12x26 W14x30
B2 W12x26 W12x26 W12x26 W14x30
B3 W12x26 W12x26 W12x26 W14x30
B4 W12x26 W12x26 W12x26 W14x30
B5 W12x26 W12x26 W12x26 W14x30
B6 W12x26 W12x26 W12x26 W12x26
Br1 W10x39
Br2 W10x39
Br3 W10x39
Br4 W10x39
Br5 W10x15
Br6 W10x15

31
Tabel 4.2 Dimensi Struktur Arah Y

Portal 1 (Portal Tepi) Portal 2 (Portal Tengah)


Elemen
Bagian Tepi Bagian Tengah Bagian Tepi Bagian Tengah
K1 W12x58 W14x74 W14x120 W12x96
K2 W12x58 W14x74 W14x120 W12x96
K3 W10x45 W12x58 W12x96 W12x96
K4 W10x45 W12x58 W12x96 W12x58
K5 W10x39 W12x58 W12x87 W12x58
K6 W10x39 W12x58 W12x87 W10x45
B1 W12x26 W16x26 W21x50 W21x50
B2 W12x26 W16x26 W21x50 W21x50
B3 W12x26 W16x26 W21x50 W21x50
B4 W12x26 W16x26 W21x50 W21x50
B5 W12x26 W12x26 W21x50 W21x50
B6 W12x26 W12x26 W18x40 W18x40
Br1 W10x39
Br2 W10x39
Br3 W10x17
Br4 W10x17
Br5 W10x15
Br6 W10x15

32
33
Gambar 4.1 Rasio tegangan portal A (arah Y)

Gambar 4.1 menunjukkan rasio tegangan untuk kolom mulai dari 0,4 0,88,
sedangkan balok dari 0,1 0,6, dan bresing dari 0,3 0,69. Dimensi kolom di

34
dekat bresing lebih besar dibandingkan pada kolom yang jauh dari bresing.

Gambar 4.2 Rasio tegangan portal B (arah Y)

35
Gambar 4.3 Rasio tegangan portal 1 (arah X)

36
37
Gambar 4.4 Rasio tegangan portal 2 (arah X)

38
4.2 Simpangan Struktur dan Drift Rasio

Simpangan antar lantai tingkat desain () seperti yang ditentukan dalam


SNI 03-1726-2012 tidak boleh melebihi simpangan antar lantai tingkat ijin (a)
untuk semua tingkat dengan kategori resiko gempa II yaitu simpangan yang
dihitung tidak boleh melampaui 0,020 kali tinggi tingkat.

hs total 22.500mm a 0,020 x 22.500 450mm

Simpangan maksimum terjadi pada lantai teratas (atap) akibat gempa arah
x dan arah y. Simpangan per lantai selengkapnya ditabelkan pada Tabel 4.3
sampai Tabel 4.4.

Tabel 4.3 Simpangan Pada Portal 1 akibat Gempa Arah X

Simpanga Drift
Simpangan Analisis Drift Rasio Analisis
n Izin Rasio Izin
Tingkat
e-X e-X * Cd e-X * Cd
(mm) e-X (%) (%)
(mm) (mm) (%)
0 0 0 0 0 0 2.0
1 4.2 21 90 0.0944 0.472 2.0
2 8.4 42 162 0.116 0.58 2.0
3 15.1 75.5 234 0.1844 0.922 2.0
4 21.7 108.5 306 0.1832 0.916 2.0
5 27.3 136.5 378 0.1571 0.7855 2.0
6 31.3 156.5 450 0.1114 0.557 2.0

Simpanga Drift
Simpangan Analisis Drift Rasio Analisis
n Izin Rasio Izin
Tingkat
e-Y e-Y * Cd e-Y * Cd
(mm) e-Y (%) (%)
(mm) (mm) (%)
0 0 0 0 0 0 2.0
1 2.3 11.5 90 0.0508 0.254 2.0
2 4.6 23 162 0.0642 0.321 2.0

39
3 6.8 34 234 0.061 0.305 2.0
4 9.1 45.5 306 0.0651 0.3255 2.0
5 12.1 60.5 378 0.0831 0.4155 2.0
6 14.3 71.5 450 0.0607 0.3035 2.0

Tabel 4.4 Simpangan Pada Portal A akibat Gempa Arah Y

Simpangan Drift Rasio


Simpangan Analisis Drift Rasio Analisis
Izin Izin
Tingkat
e-Y e-Y * Cd e-Y * Cd
(mm) e-Y (%) (%)
(mm) (mm) (%)
0 0 0 0 0 0 2.0
1 7.6 38 90 0.1693 0.8465 2.0
2 15.3 76.5 162 0.214 1.07 2.0
3 22.6 113 234 0.2033 1.0165 2.0
4 30.4 152 306 0.2168 1.084 2.0
5 40.4 202 378 0.277 1.385 2.0
6 47.7 238.5 450 0.2024 1.012 2.0

Simpangan Drift Rasio


Simpangan Analisis Drift Rasio Analisis
Izin Izin
Tingkat
e-X e-X * Cd e-X * Cd
(mm) e-X (%) (%)
(mm) (mm) (%)
0 0 0 0 0 0 2.0
1 1.3 6.5 90 0.0283 0.1415 2.0
2 2.5 12.5 162 0.0348 0.174 2.0
3 4.5 22.5 234 0.0533 0.2665 2.0
4 6.5 32.5 306 0.0549 0.2745 2.0
5 8.2 41 378 0.0471 0.2355 2.0
6 9.4 47 450 0.0344 0.172 2.0

Berdasarkan tabel 4.3 dan tabel 4.4 diperoleh bahwa simpangan pada portal A
akibat gempa Y, dan portal 1 akibat gempa X masing-masing yang telah dikalikan
dengan Cd telah memenuhi syarat dari simpangan izin. Begitupun dengan drift
rasio sudah memenuhi syarat yaitu kurang dari 2%, sehingga bisa dikatakan

40
struktur tersebut cukup daktail dalam menerima beban gempa. Berikut merupakan
grafik simpangan yang dihasilkan pada analisis.

Simpangan Struktur (Gempa 100%)


6

Tingkat 3 A Akibat Gempa Arah Y


Portal Portal 1 Akibat Gempa Arah X

0
0 50 100 150 200 250
Simpangan (mm)

Gambar 4.5 Simpangan Struktur dengan Beban Gempa 100%

41
Simpangan Struktur (Gempa 30%)
6

Tingkat 3 A Akibat Gempa Arah Y


Portal Portal 1 Akibat Gempa Arah X

0
0 10 20 30 40 50 60 70 80
Simpangan (mm)

Gambar 4.6 Simpangan Struktur dengan Beban Gempa 30%

4.3 Perhitungan Sambungan

Data Profil
W14x12 W12x2
Kolom : 0 Balok : 6
A = 22770 mm2 A = 4940 mm2
d = 368.3 mm d = 309.9 mm
tw = 15 mm tw = 5.8 mm
bf = 373.4 mm bf = 164.8 mm
tf = 23.9 mm tf = 9.7 mm

L4x4x1/2
Pelat : (101.6x203.2x12.7)
A = 2420 mm2
d = 101.6 mm
bf = 101.6 mm
tw = 12.7 mm
tf = 12.7 mm
p = 203.2 mm

42
Data Material Kolom, Balok, dan Pelat Siku (BJ50)
fy : 290 MPa
fu : 500 MPa

Baut A325
fub = 825 Mpa
db = 16 mm (M16)
Ab = 200.96 mm2
m = 1
(tanpa ulir pada bidang
r1 = 0.5 geser)

Dari analisis ETABS 2013


diperoleh
Vu : 19770 N

Syarat Jarak Menurut SNI 1729-


2015
Jarak baut ke tepi (s') = 26 mm
Jarak antar baut (smin) = 41.6 mm

1. Kuat Geser Baut dengan 1 bidang geser


Rn = m x r1 x Ab x fub
= 82896 N
Rn = 0.75 x Rn
62172 N

2. Kuat Tumpu Baut pada bagian web dari balok


Rn = 2.4 x db x tp x fup
= 111360 N
Rn = 0.75 x Rn
= 83520 N

Digunakan Rn
terkecil = 62172 N

3. Jumlah Baut yang diperlukan


n = Vu/Rn
= 0.317989 = 3 buah

43
Digunakan 3 baut

4. Geser blok pada


balok
Agv = 1004.56 mm2

Anv = 743.56 mm2

Agt = 220.98 mm2

Ant = 168.78 mm2

fu * Ant = 84390 N

0.6 * fu * Anv = 223068 N

Karena fu*Ant < 0.6*fu*Anv, maka

Tn = 0.6*fu*Anv + fy.Agt
287152.
2 N
Tn = 0.75*Tn
215364.
2 N

Sehingga Tn > Vu
(OK)
215364.15 > 19770 N

44
W14x120

Baut A325 16 mm

W12x26
30

71.6

71.6

30

38.1

PL 101.6x203.2x12.7

Gambar Sambungan Balok-Kolom

45
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari hasil analisis di atas dapat disimpulkan:

1. Rasio tegangan sudah memenuhi persyaratan <1,00 sehingga tidak ada


penampang yang overstress.
2. Penambahan bresing mengakibatkan dimensi kolom yang terpasang
bresing menjadi lebih besar dan berat, dibandingkan kolom yang tidak
terpasang bresing.

46
3. Simpangan yang diperoleh dan yang telah dikalikan faktor pembesaran
defleksi sudah memenuhi syarat begitu pun dengan drift rasio yang kurang
dari 2%.

DAFTAR PUSTAKA

AISC. 2010. Specification for Structural Steel Building, Chicago, American


Institute of Steel Construction.
BSN. 2002. Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan
Gedung (SNI 03-1726-2002). Badan Standardisasi Nasional.Jakarta.
BSN. 2012. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur
Bangunan Gedung dan Non Gedung (SNI 03-1726-2012). Badan
Standardisasi Nasional. Jakarta.
Construction53.com. 2011. Detail of Steel Framing,
http://www.construction53.com/2011/04/details-of-steel-framing/ Acceesed
on 29/05/2015.
Departemen Pekerjaan Umum. 2002. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja
Untuk Bangunan Gedung.

47
Dewobroto, W. 2012.Menyongsong Era Bangunan Tinggi dan Bentang Panjang
Bagian I : Tinggi, Super-tinggi dan Mega-tinggi. Civil Engineerings Day
2012. 9 Mei 2012, Universitas Atmajaya, Yogyakarta.
Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan. 1983. Peraturan Pembebanan
Indonesia Untuk Gedung.
Hewitt, C, Sabelli, R, and Bray, J. 2009. Economy of Steel-Framed Buildings For
Seismic Loading. Steel TIPS. Moraga, CA:Structural Steel Educational
Council.
McCormac, J. C, and Csernak, S. F. 2011. Structural Steel Design. Prentice Hall,
5th Edition.
Newsteelconstruction.com. 2007. Additional Moments in Braced Bays: 2,
http://www.newsteelconstruction.com/wp/ad-307-additional-moments-in-
braced-bays-2/ Acceesed on 27/05/2015.
Setiawan, A. 2008. Perencanaan Struktur Baja Dengan Metode LRFD
(berdasarkan SNI 03-1726-2002). Semarang: PT. Erlangga.
Sitanggang, N. 2007. Perencanaan Sambungan Profil Baja. Fakultas Teknik
Universitas Negeri Medan. Modul 3 Struktur Baja I, hlm. 6 18.
Utomo, J. 2011. Seismic Column Demands Pada Sistem Rangka Bresing
Konsentrik Khusus Dengan Bresing Tipe X Dua Tingkat, Fakultas Teknik,
Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

LAMPIRAN A

Tabel 1 Katego ririsiko bangunan gedung & non gedung untuk beban gempa
Jenis Pemanfaatan Kategori
risiko
Gedung dengan risiko rendah terhadap jiwa I
manusia
Semua gedung lain II
Gedung dengan risiko tinggi terhadap jiwa III
manusia
GeDung yang ditujukan untuk fasilitas penting IV
Sumber :SNI 03-1726-2012

48
Tabel 2 Faktor keutamaan gempa
Kategori risiko Faktor keutamaan gempa,
Ie

I atau II 1,0
III 1,25
IV 1,50
Sumber :SNI 03-1726-2012

49
0
Tabel 3 FaktorR , Cd , dan untuk sistem penahan gaya gempa

50
0
Tabel 3 FaktorR , Cd , dan untuk sistem penahan gaya gempa

(lanjutan)

51
52
0
Tabel 3 FaktorR , Cd , dan untuk sistem penahan gaya gempa

(lanjutan)

Sumber :SNI 03-1726-2012

53
Tabel 4 Koefisien reduksi beban hidup

Sumber :PPIUG 1987

Tabel 5 Simpangan antar lantai ijin

Sumber :SNI 03-1726-2012

54
55