Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

GENETIKA TUMBUHAN

ACARA V
PENYIMPANGAN HUKUM MENDEL

Semester :
Ganjil 2015

Oleh :
Sungging Birawata
A1L114097 / Rombongan 14

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
LABORATURIUM PEMULIAN TANAMAN DAN BIOTEKNOLOGI
PURWOKERTO
2015
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Umumnya gen memiliki pekerjaan sendirisendiri untuk menumbuhkan

karakter, tetapi ada beberapa gen yang berinteraksi atau menumbuhkan karakter. Gen

tersebut mungkin terdapat pada kromosom yang sama atau pada kromosom yang

berbeda. Interaksi antar gen akan menimbulkan perbandingan fenotipe keturunan

yang menyimpang dari hukum Mendel, keadaan ini disebut penyimpangan Hukum

Mendel.

Pewarisan sifat menurut Mendel mempunyai ciri atau karaker yang menjadi

teori sampai sekarang dalam peyilangan atau perkawinan. Teori ini disebut pula

dengan Hukum Mendel. Hukum Mendel I membahas tentang ekspresi gen yang

terjadi akibat pemisahan gen sealel.

Hukum Mendel II dalam F2 akan menghasilkan rasio klasik 9:3:3:1. rasio ini

menjadi acuan untuk persilangan dihirid atau lebih. Kenyataannya tidak semua

perkawinan memenuhi rasio klasik Hukum Mendel. Namun terjadi perubahan rasio

pada fenotip. Perubahan rasio ini terjadi akibat adanya interaksi antara gen yang satu

dengan yang lainya serta adanya penutupan ekspesi oleh pasangan gen lain atau

epistasis.

Setelah penemuan Mendel dan penelitian awal tentang pewarisan sifat secara

bebas, diketahui bahwa tidak semua keturunan yang segregasi dapat dipisahkan
menjadi kelas kelas yang jelas dengan frekuensi yang sederhana. Keragaman

perbandingan genetika Mendel dapat dijelaskan berdasarkan adanya interaksi gen,

yaitu pengaruh satu gen terhadap gen lainnya.

Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita mengetahui bahwa cara

diwariskannya sifat keturunan tidak mungkin deterangkan dengan pedoman tersebut

di atas, karena sulit sekali disesuaikan dengan hukum-hukum mendel. Oleh karena

itu, untuk membuktikan ada tidaknya penyimpangan hukum Mendel, dilakukan

praktikum interaksi gen.

Kenyataannya memang terjadi banyak penyimpangan yang tidak sesuai dengan

hukum Mendel. Hasil persilangan yang dilakukan memiliki jumlah fenotip yang

saman namun rasionya berbeda, hal ini yang sering disebut dengan penyimpangan

semu pada hukum Mendel. Penyimpangan-penyimpangan ini terjadi karena gen yang

berperan membentuk karakter justru saling berinteraksi dengan gen lain yang

menumbuhkan karakter.

B. Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui penyimpangan hukum mendel.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Orang yang pertama mengadakan percobaan perkawinan silang ialah Gregor

Mendel, seorang rahib Australia yang hidup pada tahun 1822-1884, dan dia dikenal

sebagai pencipta atau Bapak Genetika. Beliau melakukan serangkaian percobaan

persilangan pada kacang ercis (Pisum sativum). Percobaan yang dilakukannya selama

bertahun-tahun tersebut, Mendel berhasil menemukan prinsip-prinsip pewarisan sifat

yang kemudian menjadi landasan utama bagi perkembangan genetika sebagai suatu

cabang ilmu pengetahuan (Suryo, 2008).


Keturunan yang dihasilkan oleh induknya banyak yang tidak dapat dianalisis

dengan cara Mendel sederhana, seperti dihibrid dan monohibrid. Oleh karena itu,

terjadi penyimpanagan semu pada hukum mendel. Penyimpangan semu hukum

mendel adalah penyimpangan yang tidak keluar dari hukum Mendel walaupun terjadi

perubahan pada rasio F2-nya karena genmemiliki sifat yang berbeda-beda sehingga

rasio fenotipe tidak sama dengan yang diuraikan oleh hukum Mendel (Abdurrahman,

2008).
Penyimpangan semu hukum Mendel disebabkan oleh genetik dan interaksi alel

dimana alel-elel yang berasal dari gen yang berbada terkadang berinteraksi dengan

memunculkan perbandingan fenotipe yang tidak umum. Hal tersebut menyebabkan

dominasi suatu alel terhadap alel lain tidak selalu terjadi. Contohnya interaksi bentuk

pial pada ayam yang berbentuk rose dan walnut (Yunus, dkk., 2006).
Penyimpangan semu hukum mendel memiliki lima bentuk, yaitu:

komplementer, polimer, epistatis, hipostatis dan kriptomeri.


1. Komplementer, merupakan bentuk gen yang saling melengkapi. Jika salah satu

gen tidak muncul, maka sifat yang dimaksud oleh gen tersebutjuga tidak muncul
atau muncul tidak sempurna. Berdasarkan hasil persilangan, perbandingan

penyimpangan semu ini adalah 9 : 7.


2. Polimer, adalah dua gen atau lebih yang menempati lokus yang berbeda tetapi

memiliki sifat yang sama. Berdasarkan hasil persilangan, penyimpangan semu ini

menghasilkan perbandingan 15 : 1.
3. Epistatis
Epistatis dan hipostatis saling berinteraksi. Epistatis merupakan sifat yang

menutupi, sedangkan hipostatis adalah sifat yang tertutupi.


a. Epistatis dominan, adalah adanya gen dminan yang menutupi (bersifat

epistatis). Perbandingannya 12 : 3 : 1.
b. Epistatis resesif, yaitu terdapat satu gen resesif yang bersifat epistatis.

Perbandingannya 9 : 3 : 4.

Kriptomeri, adalah suatu sifat tersembunyi pada induk dan akan muncul pada

keturunannya karena adanya dua gen dominan yang bertemu membentuk sifat lain

dan adanya satu gen yang bersifat epistatis. Perbandingan persilangan ini 9 : 3 : 4

(Abdurrahman, 2008).

Hasil persilangan dari Mendel diantaranya setelah kering ada yang berbiji

keriput dan bulat, polong ada yang berwarna hijau dan kuning. Hasil tersebut selama

penyerbukan Mendel memperhatikan bahwa varietas-varietas tersebut terus menerus

menghasilkan keturunan yang identik dengan induknya (Kimball, 1983).


III. METODE PRAKTIKUM

A. Bahan dan Alat


Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini antara lain adalah kantong

plastik dan kancing warna. Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah

lembar pengamatan dan alat tulis.

B. Prosedur Kerja

1. Satu kantong pastik berisi kancing warna diambil, dikocok hingga homogen.
2. Satu butir kancing diambil, dicatat hasilnya.
3. Dilakukan sebanyak 90x dan 160x, dicatat dilembar pengamatan.
4. Data dianalisa dengan uji X2.
5. Kode kantong plastik dicantumkan di bagian atas.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

A. Epistasis Resesif Duplikat


Perhitungan X 90x Pengambilan Kancing

Karakteristik yang diamati Total


Kuning Hijau
O 56 34 90
E 50,62 39,37 89,99
1 23,81 23,71 47,52
(|O-E| - 2 )
1 0,47 0,6 1,07
( OE )
2
E

X table = 3,84

Kesimpulan: X table (3,84) > X hitung (1,07) ; maka hasil hipotesis diterima

dan hasil observasi sesuai dengan perbandingan

Perhitungan X 160x Pengambilan Kancing

Karakteristik yang diamati Total


Kuning Hijau
O 92 68 160
E 90 70 160
1 2,25 2,25 4,5
(|O-E| - 2 )
1 0,025 0,032 0,057
( OE )
2
E

X table = 3,84

Kesimpulan: X table (3,84) > X hitung (0,057); maka hasil hipotesis

diterima dan hasil observasi sesuai dengan perbandingan

B. Epistasis Dominan Resesif

Karakteristik yang diamati Total


Kuning Hijau
O 75 15 90
E 73,12 16,87 90
1 1,904 1,87 3,77
(|O-E| - 2 )
1 0,03 0,11 0,14
( OE )
2
E

X table = 3,84

Kesimpulan: X table (3,84) > X hitung (0,14); maka hasil hipotesis diterima

dan hasil observasi sesuai dengan perbandingan

Perhitungan X 160x Pengambilan Kancing

Karakteristik yang diamati Total


Putih Coklat
O 118 42 160
E 130 30 160
1 132,25 132,25 264,5
(|O-E| - 2 )
1 1,01 4,40 5,41
( OE )
2
E

X table = 3,84

Kesimpulan: X table (3,84) < X hitung (5,41); maka hasil observasi tidak

sesuai dengan perbandingan

C. Dominan Duplikat
Perhitungan X 90x Pengambilan Kancing

Karakteristik yang diamati Total


Kuning Hijau
O 87 3 90
E 84,375 5,625 90
1 4,51 4,51 9,02
(|O-E| - 2 )
1 0,053 0,8 0,853
( OE )
2
E

X table = 3,84

Kesimpulan: X table (3,84) > X hitung (0,853); maka hasil hipotesis

diterima dan hasil observasi sesuai dengan perbandingan.

Perhitungan X 160x Pengambilan Kancing

Karakteristik yang diamati Total


Kuning Hijau
O 153 7 160
E 150 10 160
1 6,25 6,25 12,5
(|O-E| - 2 )
1 0,041 0,625 1,835
( OE )
2
E

X table = 3,84

Kesimpulan: X table (3,84) > X hitung (1,853); maka hasil hipotesis

diterima dan hasil observasi sesuai dengan perbandingan.

D. Gen Duplikatif dengan Efek Kumulatif


Perhitungan X 90x Pengambilan Kancing

Karakteristik yang diamati Total


Kuning Hijau Hitam
O 58 29 3 90
E 50,62 33,75 5,62 90
1 54,46 22,56 6,86 83,88
(|O-E| - 2 )
1 1,07 0,66 1,22 2,95
( OE )
2
E

X table = 5,99

Kesimpulan: X table (5,99) > X hitung (2,95); maka hasil hipotesis diterima

dan hasil observasi sesuai denga perbandingan.

Perhitungan X 160x Pengambilan Kancing

Karakteristik yang diamati Total


Kuning Hijau Hitam
O 103 51 6 160
E 90 60 10 160
(|O-E|) 169 81 16 266
OE 1,87 1,35 1,6 4,82



X table = 5,99

Kesimpulan: X table (5,99) > X hitung (4,82); maka hasil hipotesis diterima

dan hasil observasi sesuai dengan perbandingan.

E. Epistasis dominan
Perhitungan X 90x Pengambilan Kancing

Karakteristik yang diamati Total


Coklat Kuning Hijau
O 71 14 5 90
E 67,5 16,9 5,6 90
(|O-E|) 12,25 8,41 0,36 21,02
OE 3,24 0,25 0,0036 3,5



X table = 5,99

Kesimpulan: X table (5,99) > X hitung (3,5); maka hasil hipotesis diterima

dan hasil observasi sesuai dengan perbandingan.

Perhitungan X 160x Pengambilan Kancing

Karakteristik yang diamati Total


Kuning Hijau Merah
O 125 33 4 160
E 120 30 10 160
(|O-E|) 25 9 36 70
OE 0,04 0,09 12,96 13,09



X table = 5,99

Kesimpulan: X table (5,99) < X hitung (13,09); maka hasil observasi tidak

sesuai dengan perbandingan.

F. Epistasis Resesif
Perhitungan X 90x Pengambilan Kancing

Karakteristik yang diamati Total


Kuning Hijau Merah
O 55 21 14 90
E 50,62 16,87 22,5 90
(|O-E|) 19,18 17,05 72,25 108,48
OE 0,37 1,01 3,21 4,59



X table = 5,99
Kesimpulan: X table (5,99) > X hitung (4,59); maka hasil hipotesis diterima

dan hasil observasi sesuai dengan perbandingan.

Perhitungan X 160x Pengambilan Kancing

Karakteristik yang diamati Total


Hitam Kuning Pink
O 81 25 54 160
E 90 30 40 160
(|O-E|) 81 25 196 302
OE 0,9 0,83 4,9 6,63



X table = 5,99

Kesimpulan: X table (5,99) < X hitung (6,63); maka hasil observasi tidak

sesuai dengan perbandingan.

B. Pembahasan

Penyimpangan semu hukum mendel adalah penyimpangan yang tidak keluar dari

hukum Mendel walaupun terjadi perubahan pada rasio F2-nya karena genmemiliki

sifat yang berbeda-beda sehingga rasio fenotipe tidak sama dengan yang diuraikan

oleh hukum Mendel (Abdurrahman, 2008). Penyimpangan semu hukum Mendel

disebabkan oleh genetik dan interaksi alel dimana Alel-elel yang berasal dari gen

yang berbada terkadang berinteraksi dengan memunculkan perbandingan fenotipe

yang tidak umum. Hal tersebut menyebabkan dominasi suatu alel terhadap alel lain

tidak selalu terjadi. Contohnya interaksi bentuk pial pada ayam yang berbentuk rose

dan walnut (Yunus, dkk, 2006).


Penyimpangan hukum Mendel yang disebabkan oleh interaksi gen memiliki

bentuk - bentuk tersendiri diantaranya komplementer, kriptomeri, epistasis,

hipostasis, dan polimeri.


1. Semi kodominsi

Dua alele (dominan dan resesif) menghasilkan hasil yang sama, kecuali dalam

keadaan tertentu, alele resesif tidak menghasilkan sesuatu. Heterozigot menghasilkan

jumlah yang lebih sedikit dari homozigot dominan, tetapi lebih banyak dari

homozigot resesif. Artinya pada semi kodominasi gen dominan tidak menutupi

pengaruh alel resesifnya dengan sempurna, sehingga muncul sifat antara

(intermedier), makaindividu heterozigot memiliki fenotipe yang berbeda dengan

fenotipe individu homozigot dominan. Akibatnya, pada generasi F2 didapatkan

nisbah 1 : 2 : 1.

Contoh pada gen yang mengatur warna bunga pukul empat.

P1 : RR x rr

merah putih

F1 : Rr

merah muda

F2 : 1 RR : 2 Rr : 1 rr

merah merah muda putih

2. Kodominasi
Dua alele menghasilkan produk berbeda yang kerjanya berlainan dan dapat

diketahui pada heterozigot. Suatu contoh alele kodominan yaitu alele yang

menghasilkan hemoglobin dalam sistem golongan darah ABO pada manusia. Darah

mengandung antigen A dan B.Seperti halnya semi dominansi, kodominansi

menghasilkan nisbah fenotipe 1 : 2 : 1 pada generasi F2. Tetapi pada kodominansi

tidak memunculkan sifat antara pada individu heterozigot, tetapi merupakan hasil

ekspresi masing-masing alel, kedua alel akan sama-sama diekspresikan dan tidak

saling menutupi.

Peristiwa kodominansi pada pewarisan golongan darah sistem ABO pada

manusia. Gen IA dan IB menyebabkan terbentuknya antigen A dan antigen B. Pada

golongan darah (genotipe IAIB) terdapat antigen A dan antigen B yang diekspresikan

pada individu heterozigot tersebut. Perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang

bergolongan darah AB akan menghasilkan keturunan sebagai berikut ;

IAIB x IAIB

1 IAIA (golongan darah A)

2 IAIB (golongan darah AB)

1 IBIB (golongan darah B)

Golongan darah A : AB : B = 1 : 2 : 1

3. Gen Letal
Gen letal merupakan alele yang menghasilkan suatu produk, atau tidak ada

produk yang dihasilkan, dan menghalangi suatu individu untuk berkembang biak atau

menyebabkan kematian. Gen letal terdiri dari gen letal dominan dan gen letal resesif.

Gen letal dominan dalam keadaan heterozigot dapat menimbulkan efek subletal atau

kelainan fenotipe, sedangkan gen letal resesif cenderung menghasilkan fenotipe

normal pada individu heterozigot.

Contoh gen letal yaitu pada kedelai. Kedelai dengan gen resesif tidak mampu

membentuk klorofil, sehingga tanaman akan mati.

Gg x Gg

Hijau Hijau

1 GG 2 Gg 1 gg

Hijau Hijau Albino (mati)

Interaksi antar alele pada lokus yang berbeda yaitu pengruh suatu gen pada

suatu lokus terhadap penampakan (ekspresi) gen pada lokus lain ; mungkin ada

interaksi antar kedua gen atau tekanan terhadap penampakan gen yang lain. Umpama

ada dua pasang gen yang memisah secara bebas tetapi saling interaksi. Pada banyak

peristiwa interaksi nisbah yang diharapkan 9:3:3:1 akan berubah (Crowder, 2006).

Gen Koepistatik yaitu apabila dua gen yang bukan alelenya (pada lokus yang

berbeda) kerjanya berlainan, seperti pada alele kodominan. Contohnya adalah

persilangan antar jengger mawar dn jengger kacang menghasilkan fenotipe baru yaitu

tipe walnut dan nisbahnya 9:3:3:1. Ini dapat digambarkan sebagai berikut :

P1 : RRpp x rrPP
Rose Pea

RpRp

Walnut

F2 : 9 R-P- : 3 R-pp : 3 rrP- : 1 rrpp

Epistasi merupakan penutupan ekspresi suatu gen oleh gen lain yang bukan

alelnya. Gen yang menutupi disebut epistasis, dan yang ditutupi disebut hipostasis.

Epistasis dibedakan menjadi 3, yaitu :

1. Epistasis dominan

Menurut Crowder (2006), pada peristiwa epistasis dominan terjadi penutupan

ekspresi gen oleh suatu gen dominan yang bukan alelnya. Perbandingan fenotipe pada

generasi F2 dengan adanya epistasis dominan adalah 12 : 3 : 1.Peristiwa epistasis

dominan dapat dilihat misalnya pada pewarisan warna buah waluh besar (Cucurbita

pepo). Terdapat gen Y yang menyebabkan buah berwarna kuning dan alelnya y yang

menyebabkan buah berwarna hijau. Selain itu, ada gen W yang menghalangi

pigmentasi dan w yang tidak menghalangi pigmentasi. Persilangan antara waluh

putih (WWYY) dan waluh hijau (wwyy) menghasilkan nisbah fenotipe generasi

F2 sebagai berikut :

P : WWYY x wwyy

putih hijau

F1 : WwYy

Putih

F2 : 9W-Y- :3 W-yy : 3 wwY- : 1 wwyy


Putih putih kuning Hijau

: 12 3 1

Putih Kuning Hijau

2. Epistasis resesif

Menurut Crowder (2006), peristiwa epistasis resesif terjadi apabila suatu gen

resesif menutupi ekspresi gen lain yang bukan alelnya. Akibat peristiwa ini, pada

generasi F2 akan diperoleh nisbah fenotipe 9 : 3 : 4. Contoh epistasis resesif dapat

dilihat pada pewarisan warna bulu mencit(Mus musculus). Ada dua pasang gen

nonalelik yang mengatur warna bulu pada mencit, yaitu gen A menyebabkan bulu

berwarna kelabu, gen a menyebabkan bulu berwarna hitam, gen C menyebabkan

pigmentasi normal, dan gen c menyebabkan tidak ada pigmentasi. Persilangan antara

mencit berbulu kelabu (AACC) dan albino (aacc) dapat digambarkan seperti pada

diagram berikut ini :

P : AACC x aacc

Kelabu albino

AaCc

Kelabu

F2 : 9 A-C- 3 A-cc 3 aaC- 1 aacc

Kelabu albino hitam albino

9 3 4
Kelabu Hitam Albino
3. Epistasis Dominan-Resesif

Menurut Crowder (2006), epistasis dominan-resesif terjadi apabila gen dominan

dari pasangan gen I epistatis terhadap pasangan gen II yang bukan alelnya, sementara

gen resesif dari pasangan gen II ini juga epistatis terhadap pasangan gen I. Epistasis

ini menghasilkan nisbah fenotipe 13 : 3 pada generasi F2.

Contoh peristiwa epistasis dominan-resesif dapat dilihat pada pewarisan warna

bulu ayam ras. Dalam hal ini terdapat pasangan gen I, yang menghalangi pigmentasi,

dan alelnya, i, yang tidak menghalangi pigmentasi. Selain itu, terdapat gen C, yang

menimbulkan pigmentasi, dan alelnya, c, yang tidak menimbulkan pigmentasi. Gen I

dominan terhadap C dan c, sedangkan gen c dominan terhadap I dan i.

P : IICC x iicc

Putih putih

IiCc

Putih

F2 : 9 I-C- : 3 I-cc : 3 iiC- : 1 iicc

Putih putih berwarna putih


F2 : 13 : 1

Putih Berwarna

Misalnya pada persilangan bunga Linaria maroccana merah (Aa) dengan bunga

Linaria maroccana putih (Bb). Apabila kedua alel dominan A dan B ada dalam satu

induvidu (AB) maka warna bunga ungu. Apabila alel dominan saja yang ada sedang
gen interaksinya hanya alel resesif b-nya yang ada (Ab) maka bunga akan berwarna

merah. Apabila alel A dominan tidak ada dan alel B ada atau tidak ada maka warna

bunga putih semua. Oleh karena itu hasil F 2 fenotipnya yaitu terdiri dari 3 kelas

diantaranya warna ungu, merah, dan putih, dengan perbandingan 9:3:4. Epistasis dan

hipostasis, epistasis merupakan peristiwa dimana suatu gen menutupi atau

mengalahkan pengaruh gen dominan lainnya yang tidak sealel. Epistasi terbagi

menjadi beberapa macam diantaranya epistasis resesif merupakan dua pasang gen

dominan yang lengkap tetapi gen resesif pada satu lokus menekan penampakan pada

lokus lain, epistasis dominan merupakan dua pasang gen dominan lengkap yang

memiliki fungsi mengatur sifat yang sama tetapi satu alel dominan pada satu lokus

dapat menghasilkan fenotip tertentu dan tidak tergantung gen pada lokus lain

dominan atau resesif, epistasis resesif ganda merupakan dua gen homozigot resesif

yang menghasilkan keturunan fenotip yang sama, dan yang terakhir epistasis dominan

dan resesif merupakan satu gen dominan dalam satu lokus dan homozigot resesif

dalam lokus yang lain bersifat epistatik (Campbell, 2001).

Penyimpangan hukum Mendel sangat bermanfaat dalam kehidupan.

Penyimpangan hukum Mendel bermanfaat dalam banyak bidang salah satunya yaitu

dalam bidang pertanian. Manfaat dari penyimpangan hukum Mendel diantaranya

adalah kita dapat mengetahui berbagai macam variasi keturunan yang baru, dapat

juga mengetahui pengaruh dari gen pengubah (modifying gen), dan dengan

mempelajari penyimpangan hukum Mendel kita dapat mengetahui pengaruh

lingkungan yang bermacam-macam yang dapat mempengaruhi penampakan gen dan


modifikasi perkembangan sifat yang nampak pada makhluk hidup. Itulah mengapa

kita harus mempelajari hukum Mendel karena jika kita melihat seluruhnya maka kita

dapat menyimpulkan bahwa ada hubungan antara hukum Mendel dengan dunia

pertanian sendiri seperti yang sudah saya jelaskan diatas.

Praktikum acara V dilakukan pengamatan pada kancing warna yang diibaratkan

sebagai suatu alel dengan karakteristik yang diamati yaitu warna hijau, warna kuning

dan warna merah pada pengambilan kancing sebanyak 90X. Hasil yang diperoleh dari

observasi yaitu 55 warna kuning, 21 warna hijau dan 14 warna merah dengan

perbandingan harapan 9 : 3 : 4 atau 50.62 warna kuning, 16.87 warna hijau, dan 22.5

warna merah. Hasil yang diperoleh dengan menggunakan uji Chi Squere yaitu 4.59,

kemudian dibandingan dengan X2tabel = 5.99, menghasilkan kesimpulan X2hitung <

X2tabel, signifikan artinya pengujian sesuai dengan harapan perbandingan.

Karakteristik yang diamati pada pengambilan sebanyak 160X yaitu warna hijau dan

warna hitam. Hasil observasi yang diperoleh yaitu 81 kancing berwana hitam, 25

warna kuning dan 54 warna pink, dengan perbandingan yang sama yaitu 9 : 3 : 4 atau

90 warna hitam, 30 warna kuning dan 40 warna pink. Hasil akhir yang diperoleh

dengan meneggunakan uji Chi Squere yaitu 6.63, kemudian dibandingan dengan

X2tabel, menghasilkan kesimpulan X2hitung > X2tabel, tidak signifikan artinya pengujian

tidak sesuai dengan perbandingan harapan. Hasil ini didapatkan karena kemungkinan

saat melakukan pengambilan bentuk dari kancing yang tidak homogeny sehingga data

yang didapat tidak akurat.


V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa

penyimpangan hukum Mendel disebabkan oleh genetik dan interaksi alel dimana

alel-elel yang berasal dari gen yang berbeda terkadang berinteraksi dengan

memunculkan perbandingan fenotipe yang tidak umum. Penyimpangan hukum

Mendel meliputu komplementer, kriptomeri, polimeri, epistatis dan hipostatis.

B. Saran

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, saran yang dapat disampaikan

diantaranya adalah diharapkan kancing yang digunakan pada praktikum ini sama dari

segi bentuknya sehingga ketika pengambilan nantinya data yang di dapatkan dapat

signifikan sesuai yang biasanya.

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Deden.et al. 2008.Biologi Kelompok Pertanian. Grafindo Media
Pratama.Bandung.

Campbell, dkk. 2001. Biologi Jilid I Edisi Kedelapan. Erlangga. Jakarta.

Crowder. 2006. Genetika Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Kimball, John W. 1994. Biologi Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta.

Suryo. 2008. Genetika. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Yunus, Rosman.et al. 2006.Teori Darwin dalam Pendangan Sains dan Islam.
Prestasi.Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai