Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIKUM

INSTRUMENTASI KIMIA
Analisis Kandungan Logam dengan Spektroskopi X-Ray Fluorescence (XRF)

Disusun Oleh :

Nama : Afrizal Afifudin

NIM : 011400362

Prodi : Teknokimia Nuklir

Semester : III

Kelompok : A2

Teman Kerja : 1. Elsa Fitrianti P


2. Nuri Jannat W E

Tanggal Praktikum : 4 Novembr 2015

Asisten : Haries Handoyo, SST

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR


BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2015

Analisis Kandungan Logam dengan Spektroskopi X-Ray Fluorescence (XRF)

I. Tujuan
1. Memahami prinsip kerja alat spektrometer X-Ray Fluorescence (XRF).
2. Menganalisis kandungan logam dalam standar (Nickel Waspalloy) dan sampel.
3. Menganalisis hubungan waktu penembakan dengan % logam
4. Menganalisis hubungan waktu penembakan dengan jumlah logam penyusun

II. Dasar Teori

XRF (X-ray fluorescence spectrometry) merupakan teknik analisa non-destruktif yang


digunakan untuk identifikasi serta penentuan konsentrasi elemen yang ada pada padatan, bubuk
ataupun sample cair. XRF mampu mengukur elemen dari berilium (Be) hingga Uranium pada
level trace element, bahkan dibawah level ppm. Secara umum, XRF spektrometer mengukur
panjang gelombang komponen material secara individu dari emisi flourosensi yang dihasilkan
sampel saat diradiasi dengan sinar-X (PANalytical, 2009).

Metode XRF secara luas digunakan untuk menentukan komposisi unsur suatu material.
Karena metode ini cepat dan tidak merusak sampel, metode ini dipilih untuk aplikasi di lapangan
dan industri untuk kontrol material. Tergantung pada penggunaannya, XRF dapat dihasilkan
tidak hanya oleh sinar-X tetapi juga sumber eksitasi primer yang lain seperti partikel alfa, proton
atau sumber elektron dengan energi yang tinggi (Viklund,2008).

Prinsip kerja. Apabila terjadi eksitasi sinar-X primer yang berasal dari tabung X ray atau
sumber radioaktif mengenai sampel, sinar-X dapat diabsorpsi atau dihamburkan oleh material.
Proses dimana sinar-X diabsorpsi oleh atom dengan mentransfer energinya pada elektron yang
terdapat pada kulit yang lebih dalam disebut efek fotolistrik. Selama proses ini, bila sinar-X
primer memiliki cukup energi, elektron pindah dari kulit yang di dalam menimbulkan
kekosongan. Kekosongan ini menghasilkan keadaan atom yang tidak stabil. Apabila atom
kembali pada keadaan stabil, elektron dari kulit luar pindah ke kulit yang lebih dalam dan proses
ini menghasilkan energi sinar-X yang tertentu dan berbeda antara dua energi ikatan pada kulit
tersebut. Emisi sinar-X dihasilkan dari proses yang disebut X Ray Fluorescence (XRF). Proses
deteksi dan analisa emisi sinar-X disebut analisa XRF. Pada umumnya kulit K dan L terlibat pada
deteksi XRF. Sehingga sering terdapat istilah K dan K serta L dan L pada XRF. Jenis
spektrum X ray dari sampel yang diradiasi akan menggambarkan puncak-puncak pada intensitas
yang berbeda (Viklund,2008).

a. Aplikasi
XRF merupakan alat yang digunakan untuk menganalisis komposisi kimia beserta
konsentrasi unsur-unsur yang terkandung dalam suatu sample dengan menggunakan
metode spektrometri. XRF umumnya digunakan untuk menganalisa unsur dalam mineral
atau batuan. Analisis unsur di lakukan secara kualitatif maupun kuantitatif. Analisis
kualitatif dilakukan untuk menganalisi jenis unsur yang terkandung dalam bahan dan
analisis kuantitatif dilakukan untuk menentukan konsentrasi unsur dalam bahan. Selain
itu, X-Ray fluoresensi digunakan dalam berbagai aplikasi, termasuk penelitian di
petrologi beku, sedimen, dan metamorf; survei tanah; pertambangan (misalnya,
mengukur nilai dari bijih; produksi semen; keramik dan kaca manufaktur ;metalurgi
(misalnya, kontrol kualitas); lingkungan studi (misalnya, analisis partikel pada filter
udara); minyak industri (misalnya, kandungan sulfur minyak mentah dan produk minyak
bumi); bidang analisis dalam studi geologi dan lingkungan (menggunakan portabel,
tangan memegang spektrometer XRF). X-Ray fluoresensi sangat cocok untuk
penyelidikan yang melibatkan massal kimia analisis elemen utama (Si, Ti, Al, Fe, Mn,
Mg, Ca, Na, K, P) dalam batuan dan sedimen; massal kimia analisis unsur jejak (dalam
kelimpahan> 1 ppm; Ba, Ce, Co, Cr, Cu, Ga, La, Nb, Ni, Rb, Sc, Sr, Rh, U, V, Y, Zr, Zn)
di batuan dan sedimen - batas deteksi untuk elemen biasanya pada urutan beberapa
bagian per juta.

b. Prinsip kerja XRF


Analisis menggunakan XRF dilakukan berdasarkan identifikasi dan pencacahan
karakteristik sinar-X yang terjadi akibat efek fotolistrik. Efek fotolistrik terjadi karena
electron dalam atom target pada sample terkena sinar berenergi tinggi (radiasi gamma,
sinar-X). berikut penjelasanya :

1. Elektron di kulit K terpental keluar dari atom akibat dari radiasi sinar X yang datang.
Akibatnya, terjadi kekosongan/vakansi elektron pada orbital.

2. Elektron dari kulit L atau M turun untuk mengisi vakansi tersebut disertai oleh
emisi sinar X yang khas dan meninggalkan vakansi lain di kulit L atau M.

3. Saat vakansi terbentuk di kulit L, elektron dari kulit M or N turun untuk mengisi
vakansi tersebut sambil melepaskan Sinar X yang khas.

4. Spektrometri XRF memanfaatkan sinar-X yang dipancarkan oleh bahan yang


selanjutnya ditangkap detector untuk dianalisis kandungan unsur dalam bahan.

c. Karakteristik sampel pada XRF

Beberapa sample yang dapat dianalisis dengan menggunakan XRF yaitu :


a) Sample serbuk 100 mesh

b) Sample cair yang homogen

Tipe sample yang diperoleh dari lingkungan seperti minyak dan air

Tidak membutuhkan preparasi yang rumit

c) Sample padatan dengan batas maximum tinggi 2.5 cm dan diameter 2.5 cm

Logam, plastic dan kaca atau keramik

Pelapisan permukaan akan mempengaruhi komposisi kimia yang terbaca

Ukuran partikel tidak menjadi persoalan

Permukaan harus homogeny

d) Presed Powder

Tipe sample yang dapat dibentuk press powder seperti batuan, semen, lumpur,
alumina, fly ash dan lain-lain

Agen pengikat seperti lilin atau selulosa dapat digunakan untuk memperkuat
sample

e) Serbuk dipress membentuk tabletvpadat menggunakan hydraulic press Fused Beads

Tipe sample yang termasuk dipreparasi seperti fused bead adalah batuan, semen,
bijih besi dan lain-lain

Sample dicmpur dengan flux. Digesti fluxing selalu penting bila dibutuhkan
presisi yang tinggi dan borat Spectromelt dapat digunakan untuk proses ini

Sample dan flux dipanaskan pada suhu 1000 oC

Permukaan harus homogen

d. Kelebihan dan kelemahan XRF

Keunggulan XRF :
1. Mudah digunakan dan Sample dapat berupa padat, bubuk (butiran) dan cairan

2. Tidak merusak sample (Non Destructive Test), sample utuh dan analisa dapat
dilakukan berulang-ulang

3. Banyak unsur dapat dianalisa sekaligus (Na- U)

4. Konsentrasi dari ppm hingga 100%

5. Hasil keluar dalam beberapa detik (hingga beberapa menit, tergantung aplikasi)

6. Menjadi metoda analisa unsur standar dengan banyaknya metoda analisa ISO dan
ASTM yang mengacu pada analisa XRF

Kelemahan dari metode XRF :

1. Tidak dapat mengetahui senyawa apa yang dibentuk oleh unsur-unsur yang
terkandung dalam material yang akan kita teliti

2. Tidak dapat menentukan struktur dari atom yang membentuk material itu

III. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah

1. Alat spektrometer x-ray fluorescence jenis XMET7000.

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah


1. Material standar nickel waspalloy (wrought) dan sertifikatnya.

2. Plat logam no.10

3. Koin Arab

4. Cover COD reactor


Gambar 1. Alat percobaan : XMET7000

IV. Langkah Kerja

1. Alat x-ray fluorescence dinyalakan dan login dengan user supervisor.


2. Alat diset, dengan waktu penembakan 30 detik dan metode 1 alloy mod.
3. Material standar diletakkan di atas meja, dan ditembak dengan alat spektrometer dengan
posisi detektor alat tegak lurus terhadap meja dan sampel.
4. Kadar unsur dalam material standar menurut sertifikatnya dicatat.
5. Langkah 2-4 diulangi dengan variasi waktu 25 s, 20s, 15 s, 10 s, dan 5 s
6. Langkah 2-5 diulangi untuk sampel plat logam masing-masing satu kali pengukuran.
7. Hasil pengukuran dicatat.

8. Sampel Standart (Ni waspalloy)

V. Data Pengamatan

1. Sampel Standart (Ni waspalloy)

T parameter

ELEMEN % +/- LIMIT


T

57.1 0.16 49.0 -


5 Ni 6 2 64.0

19.8 0.13 18.0 -


Cr 9 7 21.0

13.7 0.09
Co 8 4 12.0 -15

0.02
Mo 4.39 9 3.5 -5

0.08 2.75 -
Ti 3.64 9 3.25

0.02
Fe 1.14 8 0 -2

57.5 0.11 49.0 -


10 Ni 1 5 64.0

19.6 0.09 18.0 -


Cr 4 6 21.0

13.7 0.06
Co 8 6 12.0 -15

Mo 4.37 0.02 3.5 5


1

0.06 2.75 -
Ti 3.42 1 3.25

0.01
Fe 1.1 9 0 -2

0.03
Mn 0.14 5 0 -1

57.5 0.09 49.0 -


15 Ni 6 4 64.0

19.7 0.07 18.0 -


Cr 8 9 21.0

13.5 0.05
Co 5 4 12.0 -15

0.01
Mo 4.43 7 3.5 5

0.05 2.75 -
Ti 3.46 1 3.25

0.01
Fe 1.09 6 0 -2

0.02
Mn 0.13 9 0 -1
57.5 0.08 49.0 -
20 Ni 0 2 64.0

19.5 0.06 18.0 -


Cr 7 8 21.0

13.6 0.04
Co 5 7 12.0 -15

0.01
Mo 4.46 5 3.5 5

0.04 2.75 -
Ti 3.48 3 3.25

0.01
Fe 1.1 4 0 -2

0.02
Mn 0.15 5 0 -1

0.02
W 0.09 6

57.6 0.07 49.0 -


25 Ni 0 3 64.0

19.6 0.06 18.0 -


Cr 1 1 21.0
13.6 0.04
Co 0 2 12.0 -15

0.01
Mo 4.43 3 3.5 5

0.03 2.75 -
Ti 3.40 9 3.25

0.01
Fe 1.12 2 0 -2

0.02
Mn 0.12 2 0 -1

0.02
W 0.08 3

0.00
Cu 0.04 6 0 - 0.5

57.5 0.06 49.0 -


30 Ni 2 9 64.0

19.4 0.05 18.0 -


Cr 1 8 21.0

13.6
Co 9 0.04 12.0 -15

0.01
Mo 4.39 2 3.5 5
0.03 2.75 -
Ti 3.50 7 3.25

0.01
Fe 1.11 2 0 -2

0.02
Mn 0.18 1 0 -1

0.02
V 0.09 9

0.02
W 0.08 1

2. Koin Arab

Parameter
ELEME
t NT % +/- LIMIT
0.1 0.0
5 Mn 0 08
0.0 0.0
Fe 3 07
25. 0.0
Ni 81 99
72. 0.0
Cu 74 85
0.0
Zn <0 09
0.0
Se <0 03
0.0
Sn <0 22
0.0
Pb <0 11
0.0 0.0
Bi 1 08
0.1 0.0
10 Mn 0 05
0.0 0.0
Fe 3 05
25. 0.0
Ni 65 70
72. 0.0
Cu 86 60
0.0
Zn <0 06
0.0
Se <0 02
0.0
Sn <0 16
0.0
Pb <0 09
0.0 0.0
Bi 1 06
0.1 0.0
15 Mn 0 05
0.0 0.0
Fe 2 04
25. 0.0
Ni 61 57
72. 0.0
Cu 88 49
0.0
Zn <0 05
0.0
Se 0 01
Sn <0 0.0
12
0.0
Pb <0 07
0.0 0.0
Bi 1 05
0.1 0.0
20 Mn 0 04
0.0 0.0
Fe 2 04
25. 0.0
Ni 74 49
72. 0.0
Cu 81 43
0.0
Zn <0 04
0.0
Se <0 01
0.0
Sn <0 11
0.0
Pb <0 06
0.0 0.0
Bi 1 04
0.1 0.0
25 Mn 0 04 0-1
0.0 0.0
Fe 3 03 0-1
25. 0.0
Ni 68 44 19 - 23
72. 0.0 73.40 -
Cu 83 38 81
0.0
Zn <0 04 0-1
0.0
Se <0 01
0.0
Sn <0 10
0.0
Pb <0 06 0 - 0.05
0.0 0.0
Bi 1 04
0.1 0.0
30 Mn 5 04 0-1
0.1 0.0
Fe 2 04 0-1
24. 0.0
Ni 11 43 19 - 23
74. 0.0 73.40 -
Cu 08 35 81
0.0
Zn <0 04 0-1
0.0
Se <0 01
0.0
Sn <0 09
0.0
Pb <0 05 0 - 0.05
0.0 0.0
Bi 1 03

3. Pelat no. 10

Parameter
ELEMEN
t T % LIMIT
<0. 0.00
5 Cr 00 5
0.00 0.00-
Mn 0.01 4 0.05
0.01 0.00-
Fe 0.33 1 0.40
0.00 0.00-
Ni 0.04 2 1.00
0.00 0.00-
Cu 0.03 1 0.05
0.00 0.00-
Zn 0.00 1 0.07
0.00
Pb 0.00 1
0.01 0.00-
Ti 0.01 3 0.05
0.00 0.00-
Zr 0.00 1 0.1
<0. 0.00
10 Cr 00 4
0.00 0.00-
Mn 0.01 2 0.05
0.00 0.00-
Fe 0.33 8 0.40
0.00 0.00-
Ni 0.04 1 1.00
0.00 0.00-
Cu 0.03 1 0.05
0.00 0.00-
Zn 0.00 0 0.07
0.00
Pb 0.00 1
0.00 0.00-
Ti 0.01 9 0.05
0.00 0.00-
Zr 0.00 0 0.1
<0. 0.00
15 Cr 00 2
0.00 0.00-
Mn 0.01 2 0.05
0.00 0.00-
Fe 0.30 6 0.40
0.00 0.00-
Ni 0.04 1 1.00
Cu 0.03 0.00 0.00-
1 0.05
<0. 0.00 0.00-
Zn 00 0 0.07
<0. 0.00
Pb 00 1
0.00 0.00-
Ti 0.01 7 0.05
<0. 0.00 0.00-
Zr 00 0 0.1
<0. 0.00
20 Cr 00 2
0.00 0.00-
Mn 0.02 2 0.05
0.00 0.00-
Fe 0.32 6 0.40
0.00 0.00-
Ni 0.04 1 1.00
0.00 0.00-
Cu 0.03 1 0.05
<0. 0.00 0.00-
Zn 00 0 0.07
0.00
Pb 0.00 1
0.00 0.00-
Ti 0.00 6 0.05
0.00 0.00-
Zr 0.00 0 0.1
<0. 0.00
25 Cr 00 2
0.00 0.00-
Mn 0.01 2 0.05
0.00 0.00-
Fe 0.30 5 0.40
0.00 0.00-
Ni 0.04 1 1.00
0.00 0.00-
Cu 0.03 1 0.05
<0. 0.00 0.00-
Zn 00 0 0.07
0.00
Pb 0.00 1
0.00 0.00-
Ti 0.01 6 0.05
0.00 0.00-
Zr 0.00 0 0.1
<0. 0.00
30 Cr 00 2
0.00 0.00-
Mn 0.02 1 0.05
0.00 0.00-
Fe 0.31 4 0.40
0.00 0.00-
Ni 0.04 1 1.00
0.00 0.00-
Cu 0.03 0 0.05
<0. 0.00 0.00-
Zn 00 0 0.07
0.00
Pb 0.00 1
0.00 0.00-
Ti 0.01 5 0.05
<0. 0.00 0.00-
Zr 00 0 0.1

4. Sampel bebas : COD reaktor

Parameter
ELEMEN
t T % +/- LIMIT
<0.0 4.34
5 Ti 0 9
V 0.16 0.16
7
25.2 0.22
Cr 7 8
0.08
Mn 1.76 9
47.2 0.22
Fe 2 7
0.12
Co 0.94 7
0.17
Ni 8.31 3
0.04
Cu 0.36 1
0.01
Nb 0.13 1
<0.0 3.18
10 Ti 0 6
0.11
V 0.08 9
25.5 0.16
Cr 4 2
0.06
Mn 1.60 1
46.8 0.16
Fe 5 0
0.09
Co 1.00 2
0.12
Ni 8.45 3
0.03
Cu 0.41 0
0.00
Nb 0.12 8
<0.0 2.44
15 Ti 0 1
0.09
V 0.21 5
24.9 0.13
Cr 6 0
0.05
Mn 1.71 1
47.3 0.13
Fe 9 1
0.07
Co 0.91 3
0.10
Ni 8.58 0
0.02
Cu 0.35 3
0.00
Nb 0.11 6
<0.0 2.53
20 Ti 0 4
0.08
V 0.13 9
26.1 0.11
Cr 8 8
0.04
Mn 1.67 5
45.6 0.11
Fe 6 5
0.06
Co 1.07 8
0.08
Ni 8.31 8
0.02
Cu 0.33 1
0.00
Nb 0.12 6
<0.0 2.48
25 Ti 0 2
0.08
V 0.19 4
Cr 26.8 0.01
3 1
0.04
Mn 1.67 1
44.5 0.10
Fe 4 5
0.06
Co 1.12 5
0.08
Ni 8.29 1
0.02
Cu 0.37 0
0.00
Nb 0.14 5
<0.0 2.03
30 Ti 0 9
0.07
V 0.13 2
26.1 0.09
Cr 8 6
0.03
Mn 1.67 6
45.6 0.09
Fe 6 4
0.05
Co 1.07 6
0.07
Ni 8.31 2
0.01
Cu 0.33 6
0.00
Nb 0.12 5

VI. Grafik

6.1. Grafik Hubungan waktu penembakan dengan % Ni


6.1.1. Sampel Ni Waspalloy

Hubungan Waktu Penembakan dengan % Ni


57.7
57.6
57.5
57.4
% Ni
57.3
57.2
57.1
0 5 10 15 20 25 30 35

Lama Penembakan (s)

6.1.2. Sampel Koin Arab

Hubungan Waktu Penembakan dengan % Cu


74.5

74

73.5

% Ni
73

72.5

72
0 5 10 15 20 25 30 35

6.1.3. Sampel plat no. 10


Hubungan Waktu Penembakan dengan % Ni
0.34

0.33

0.32

0.31

0.3

0.29

0.28
0 5 10 15 20 25 30 35

6.1.4. Sampel Cover COD Reaktor

Hubungan Waktu Penembakan dengan % Fe


48

47

46

45

44

43
0 5 10 15 20 25 30 35

6.2. Grafik Hubungan waktu penembakan dengan jumlah logam penyusun

6.2.1. Sampel Ni Waspalloy


10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
0 5 10 15 20 25 30 35

6.2.2. Sampel Koin Arab

10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
0 5 10 15 20 25 30 35

6.2.3. Sampel plat no. 10


10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
0 5 10 15 20 25 30 35

6.2.4. Sampel Cover COD Reaktor

10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
0 5 10 15 20 25 30 35
VII. Pembahasan

Praktikum ini bertujuan untuk menentukan kadar logam sampel dengan menggunakan
alat spekrtometer X-ray fluorescence XMET7000, dapat mengetahui pengaruh lama
penembakan terhadap kandungan logam, serta dapat menentukan kandungan logam dalam
suatu sampel. Pada praktikum ini, spektrometer XRF digunakan untuk menganalisis
kandungan logam pada tiga sampel logam ( koin arab , plat no.10 dan cover COD reactor )
dan satu plat logam standar sebagai kalibrasi alat.

Prinsip kerja dari spektrometer XRF adalah sampel logam ditembak dengan sinar X yang
terpancar dari alat. Akibat menerima energi dari sinar X yang datang, maka elektron K dari
atom-atom logam akan terpental keluar dan menyebabkan elektron-elektron yang lebih luar
mengisi kulit K dan memancarkan sinar X karakteristik. Sinar X karakteristik inilah yang
kemudian diubah menjadi pulsa listrik dan terbaca detektor. Karena energi sinar X
karakteristik untuk masing-masing unsur spesifik (satu unsur berbeda dengan unsur lain),
maka kandungan unsur dalam sampel pun dapat ditentukan.

Penembakan sampel dengan X-ray fluorescence XMET7000 dilakukan dengan posisi


tegak lurus, hal ini bertujuan agar sinar X yang terpancar dari alat selama beroperasi tidak
sampai mengenai lingkungan sehingga orang-orang di sekitarnya tetap aman dari radiasi
sinar X dari alat. Pada praktikum ini dilakukukan percobaan untuk mengetahui hubungan
lama waktu penembakan dengan % logam yang dominan serta hubungan lama penembakan
dengan banyaknya logam penyusun yang terdeteksi oleh XRF-Gun.

Pengamatan pertama adalah pengukuran plat standar nickel waspalloy (wrought)


untuk kalibrasi alat. Setelah dilakukan penembakan pada sampel, pada layar X-ray
fluorescence XMET7000 muncul tampilan data kandungan-kandungan logam dalam plat
standar, kadar dalam persen, nilai ketidakpastian alat dan limit. Kandungan logam tersebut
antara lain nikel, khrom, kobal, molibden, titan, besi. Kadar tertinggi adalah nikel sebesar
57.16% dengan nilai ketidakpastian sebesar +/- 0.047 dan limit sebesar 49.00-64.00.
Dengan harga limit tersebut berarti nilai kadar sampel masih termasuk dalam rentang nilai.
Tanda warna merah pada titanium menunjukkan bahwa kadar titanium tidak masuk dalam
rentang limit nilai kadar yang dapat terukur oleh spektrometer XRF.

Pada percobaan percobaan pertama adalah menentukan hubungan antara waktu


penembakan dengan kadar % Ni. Pada percobaan ini waktu diatur 5s, 10s, 15s, 20s, , 30s
untuk setiap sampel. Pada sampel pertama yaitu Ni waspalloy. Dari data percobaan secara
didapatkan % Ni secara berturut-turut 57.16%, 57.51%, 57.56%, 57.5%, 57.6%, 57.52%.
Jika dilihat dari grafik nilai tersebut fluktuatif, sehingga dapat dikatakan lama waktu
penembakan tidak berpengaruh pada % logam. Sedangkan jumlah element secara berturut-
turut sebanyak 6, 7, 7, 8, 9, 9. Pada sampel Koin arab element yang lebih dominan adalah
logam Cu. Dari percobaan diperoleh kadar Cu secara berturut-turut 72.74%, 72.86%,
72.88%, 72.81%, 72.83%, 74.08%. Jika dilihat dari grafik nilai tersebut fluktuatif, sehingga
dapat dikatakan lama waktu penembakan tidak berpengaruh pada % logam. Sedangkan
jumlah element tidak mengalami penambahan ataupun pengurangan yaitu 9 element .
Sehingga dapat dikatakan lama waktu penembakan tidak memepengaruhi jumlah element
yang terdeteksi. Pada sampel plat no.10 element yang lebih dominan adalah logam Fe. Dari
percobaan diperoleh kadar Fe secara berturut-turut 0.33%, 0.33%, 0.30%, 0.32%,0.30%,
0.31%. Jika dilihat dari grafik nilai tersebut fluktuatif, sehingga dapat dikatakan lama waktu
penembakan tidak berpengaruh pada % logam. Sedangkan jumlah element tidak mengalami
penambahan ataupun pengurangan yaitu 9 element . Sehingga dapat dikatakan lama waktu
penembakan tidak memepengaruhi jumlah element yang terdeteksi. Pada sampel cover COD
reaktor element yang lebih dominan adalah logam Fe. Dari percobaan diperoleh kadar Fe
secara berturut-turut 47.22%, 46.85%, 47.39%, 45.66%,44.54%, 45.66%. Jika dilihat
dari grafik nilai tersebut fluktuatif, sehingga dapat dikatakan lama waktu penembakan tidak
berpengaruh pada % logam. Sedangkan jumlah element tidak mengalami penambahan
ataupun pengurangan yaitu 9 element . Sehingga dapat dikatakan lama waktu penembakan
tidak memepengaruhi jumlah element yang terdeteksi. Dari setiap sampel kadar mengalami
fluktuatif, hal ini disebabkan sinar karakteristik dari masing-masing sampel yang diterima
alat dalam variasi waktu tidak sama namun jumlah kadar dari masing-masing sampel tidak
terlalu jauh. Sedangkan jumlah element masing-masing sampel cenderung mengalami
peningkatan, hal ini disebabkan element dalam kadar jumlah yang kecil, sehingga sulit
memancarkan sinar karakteristiknya. Kemudian terjadinya fluktuatif pada data kemungkinan
karena terjadi pergeseran sedikit pada waktu penembakan yang mana kemungkinan pada
titik penembakan yang berbeda terdapat komposisi logam yang berbeda pula meskipun tidak
terlalu jauh.

VIII. Kesimpulan

1. Prinsip kerja alat spektrometer X-ray fluorescence adalah tangkapan energi emisi
sinar X karakteristik dari atom yang tereksitasi oleh sistem detektor. Setiap unsur
memancarkan sinar X yang spesifik sehingga kandungan unsur-unsur di dalam
plat dapat diketahui melalui alat spectrometer XRF.

2. Kandungan logam dalam sampel dapat diukur dengan menggunakan alat X-ray
fluorescence gun.

Kadar dominan pada sampel

T
Elemen
Sampel t 5 10 15 20 25 30
57.16 57.51 57.56 57.5 57.6 57.52
Ni waspalloy Ni
72.74 72.86 72.88 72.81 72.83 74.08
Koin Sri Lanka Cu
Pelat No.10 Fe 0.33 0.33 0.3 0.32 0.3 0.31
Cover COD reaktor Fe 47.22 46.85 47.39 45.66 44.54 45.66
3. Lama waktu penembakan tidak berpengaruh pada % logam

4. Lama waktu penembakan tidak memepengaruhi jumlah element yang terdeteksi

IX. Daftar Pustaka


https://indbongolz.wordpress.com/2011/02/20/x-ray-fluoroscence/ ( diakses 9 November
2015 )

http://anekakimia.blogspot.com/2011/06/analisa-instrumen-xrf.html. ( diakses 9 November


2015 )

http://yunitakusumahandayani.wordpress.com/2011/05/09/teknik-analisis-dengan-x-ray-
fluorescence-xrf-spektrometry/. ( diakses 9 November 2015 )

Yogyakarta, 11 November
2015
Asisten
Praktikan,

Haries Handoyo, SST


Afrizal Afifudin