Anda di halaman 1dari 13

POIN 1

a. Gawat Tidak Darurat


Gawat tidak darurat merupakan salah satu triage dalam keperawatan kegawat
daruratan. Gawat tidak darurat dilambangkan dengan warna putih. Gawat tidak
darurat merupakan kelompok pasien yang berada dalam keadaan gawat tetapi tidak
memerlukan tindakan darurat (Roffi, 2009).
Contoh kasus yang termasuk keadaan gawat tidak darurat adalah kanker
stadium akhir, fraktur, sickle cell, demam berdarah, diabetes mellitus, CKD (Chronic
Kidney Disease), AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome), PPOK (Penyakit
Paru Obstruksi Kronis), Apenddiks, dan Dismenore (Roffi, 2009).
b. Darurat Tidak Gawat

Darurat tidak gawat merupakan salah satu triage dalam keperawatan kegawat
daruratan. Darurat tidak gawat dilambangkan dengan warna kuning. Darurat tidak
gawat merupakan kelompok pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba, tetapi tidak
mengancam nyawa dan anggota tubuhnya (Roffi, 2009).
Contoh kasus yang termasuk keadaan darurat tidak gawat adalah
Luka robek yang baru, Colic Abdomen, Fraktur tulang tertutup, Vulnus
Lateratum tanpa perdarahan, trauma thorax non asfiksia, luka bakar terbatas
kurang dari 30%, cedera pada bagian/jaringan lunak, Fraktur tertutup pada
tulang panjang, cedera abdomen tanpa syok, trauma dada tertusuk tanpa
ancaman henti napas, trauma ekstremitas, trauma kepala tertutup, dan
trauma mata (Roffi, 2009).
c. Gawat Darurat
Gawat Darurat adalah beberapa situasi yang dapat mengancam nyawa jika
tidak segera diberi penanganan dimana penanganannya menuntut respon yang cepat
dan tepat (UNHCR, 2007). Gawat Darurat adalah Keadaan klinis pasien yang
membutuhkan tindakan medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan
kecacatan lebih lanjut (UU no 44 tahun 2009). Jadi Gawat darurat adalah suatu
keadaan yang dapat mengancam nyawa yang mana penderita memerlukan
pemeriksaan medis segera, apabila tidak dilakukan akan berakibat fatal bagi
penderita. Gawat darurat dilambangkan dengan warna merah.
Pada saat perawatan diberikan pada pasien dalam situasi kedaruratan,
beberapa keputusan penting harus dibuat. Keputusan membutuhkan penilaian yang
didasarkan pada pemahaman tentang kondisi yang menimbulkan kedaruratan dan efek
pada seseorang. Tujuan utama dari pelaksanaaan medis kedaruratan adalah untuk
mempertahankan hidup, mencegah keadaan memburuk sebelum penanganan pasti
dapat diberikan dan untuk memulihkan pasien agar dapat hidup berguna. Selain itu
juga untuk menentukan luas cidera atau kesakitan sehingga pasien akan mendapat
prioritas penanganan. Prioritas ini ditentukan oleh seberapa besar kondisi tersebut
dapat mengnacam kehidupan pasien. Cidera atau kondisi yang mengganggu fungsi
fisiologik vital lebih diutamakan seperti obstuksi jalan nafas , perdarahan massif dan
kondisi lainnya yang khususnya menyangkut bagian pernafasan (Smeltzer & Bare,
2002).
Prinsip yang diterapkan saat penatalaksanaan kedaruratan (Smeltzer & Bare,
2002) adalah :
1) Memelihara jalan nafas dan menyediakan ventilasi yang adekuat, melakukan
resusitasi pada saat diperlukan. Kaji cedera dada dan obstruktif jalan nafas.
2) Kontrol perdarahan dan konsekuensinya
3) Evaluasi dan pemulihan curah jantung
4) Mencegah dan menangani syok, memelihara sirkulasi
5) Melaksanankan pemeriksaan fisik secara terus menerus
6) Menentukan apakah pasien dapat mengikuti perintah (evaluasi ukuran, aktivasi
pupil dan respon motorik)
7) Pantau EKG jka diperlukan
8) Lakukan pembabatan jika diduga terdapat fraktur servikalis dengan cedera
kepala
9) Melindungi luka dengan balutan steril
10) Periksa apakah pasien mempunyai riwayat alergi atau masalah kesehatan lain
11) Mengisis lembar alur tanda vital, tekanan darah dan status neurologik agar
mendapat petunjuk dalam pengambilan keputusan.

Prinsip utama dalam menangani kondisi kegawatdaruratan adalah


dengan memperhatiakan C (Circulation), A (Airway), B (Brathing), D
(Disability) dan E (Eksposure) (UNHCR, 2007).
Contoh kasus yang termasuk keadaan gawat darurat adalah AMI, Fraktur
terbuka, trauma kepala, keracunan metanol, tergigit ular, trauma tulang belakang,
Dengue Shock Syndrome (DSS), chooking, trauma tumpul abdomen, cedera multiple,
heat stroke, reaksi anafilatik (Smeltzer & Bare, 2002).
d. Tidak gawat tidak darurat
Tidak gawat tidak darurat adalah suatu keadaan yang tidak mengancam jiwa
dan tidak menyebabkan kecacatan serta tidak memerlukan tindakan yang cepat.
Gejala dan tanda klinis ringan dan asimptomatis (Roffi, 2009).
Contoh kasus yang termasuk keadaan tidak gawat tidak darurat adalah batuk,
pilek, maag, luka gores, luka lecet, mual, demam biasa, pusing, sakit gigi, penyakit
kulit ringan seperti kutu air, jerawat dan lain-lain (Roffi, 2009).

POIN 2
Prinsip utama dari initial assesment yaitu menyelamatkan pasien dari kematian pada
kondisi gawat darurat. Langkah-langkah dasar dari initial assesment terdiri dari A-B-
C-D (Airway-Breathing-Circulation-Disability).
Algoritma dasar dari initial assesment terdiri dari:
a. Ada pasien tidak sadar

b. Pastikan kondisi tempat pertolongan aman bagi pasien dan penolong yang perlu

diperhatikan yaitu 3A (Aman diri, aman pasien, dan aman lingkungan).

c. Cek kesadaran pasien dengan menggunakan metode AVPU

A (Alert), korban sadar tetapi jika tidak sadar dilanjutkan ke poin V


V (Verbal), cobalah memanggil-manggil korban dengan berbicara di dekat telinga
korban
P (Pain), cobalah beri rangsang nyeri pada pasien yang paling mudah yaitu dengan
menekan bagian putih dari kuku tangan (di pangkal kuku), selain itu dapat juga
dengan menekan bagian tengah tulang dada (sternum) dan areal diatas mata (supra
orbital).
U (Unresponsive), setelah diberi rangsang nyeri tetapi pasien masih tidak bereaksi
maka pasien berada dalam keadaan unresponsive
d. Call for help, meminta bantuan kepada masyarakat sekitar untuk menelpon

ambulans dengan memberitahu jumlah korban, kesadaran korban (sadar atau tidak

sadar), perkiraan usia dan jenit kelamin, tempat terjadi kegawatan

e. Bebaskan korban dari pakaian di daerah dada yang menghalangi dan mengganggu

kenyamanan korban, penolong memposisikan diri di dekat korban.


f. Cek apakah ada trauma atau tidak, jika ada trauma maka tindakan di lakukan dari

poin A yaitu Airway, tetapi apabila tidak terdapat trauma maka tindakan dapat

dilakukan dari poin C yaitu Circulations.

g. Posisikan pasien head tilt and chin lift apabila tidak mengalami trauma, dengan

cara menggunakan dua jari lau mengangkat tulang dagu ke atas dan disertai head

tilt yaitu menahan kepala dan mempertahankan posisi seperti tersebut. Posisi ini

dilakukan untuk membebaskan jalan nafas korban. Jika korban mengalami trauma

maka dapat melakukan dengan jaw thrust atau chin lift.

h. Periksa kondisi Airway (jalan nafas) dan Breathing (pernafasan pasien) dengan

metode Look, Listen, and Feel. Look yaitu melihat apakah ada gerakan dada

(gerakan bernafas), apakah gerakan tersebut simetris. Listen yaitu dengarkan suara

nafas korban, apakah clear atau ada suara tambahan yang abnormal yang timbul

karena ada hambatan nafas.

Jenis suara nafas tambahan karena hambatan sebagian jalan nafas yaitu:
1) Snoring, suara seperti mengorok, kondisi ini menandakan adanya kebuntuan

jalan nafas bagian atas oleh benda padat. Penangannya yaitu lalukan

pengecekan langsung dengan cara cross finger untuk membuka mulut

(menggunakan 2 jari yaitu ibu jari dan jari telunjuk tangan yang digunakan

untuk chin lift tadi, ibu jari mendorong rahang atas ke atas, telunjuk menekan

rahang bawah ke bawah) dilihat apakah ada benda yang menghalangi

tenggorokan korban seperti gigi palsu.

2) Gargling, suara seperti berkumur, kondisi ini terjadi karena ada kebuntuan

yang disebabkan oleh cairan (contoh: darah) maka lakukan cross finger seperti
kasus snoring, lalu lakukan finger sweep yaitu 2 jari yang telah dibalut dengan

kain untuk menyapu atau membersihkan rongga mulut dari cairan-cairan.

3) Crowing, suara dengan nada tinggi, biasanya di sebabkan karena

pembengkakan pada trakea, untuk penanganan yang dilakukan dengan

maneuver head tilt and chin lift atau jaw thrust.

Feel yaitu rasakan dengan tangan atau pipi periksa apakah ada hawa nafas korban
atau tidak.
i. Jika pasien masih bernafas maka lakukan breathing (penilaian pernafasan). Hitung

berapa frekuensi bernafas korban tersebut dalam 1 menit. Pernafasan normal yaitu

12-20 kali permenit. Bila tidak adekuat lakukan bagging (bantuan nafas) atau

dengan mulut ke mulut. jika pernafasan nya cepat maka lakukan rebreathing mask

6-10L/menit

j. Setelah tindakan breathing, maka dilanjutkan dengan circulations yaitu melakukan

pengecekan nadi karotis yang terletak di leher, pengecekan denyut nadi dilakukan

selama 10 detik.

k. Jika tidak ada denyut nadi maka dilakukan pijat jantung dan diikuti dengan

bantuan nafas, ulangi 6 kali siklus pijat jantung-nafas buatan, yang diakhiri

dengan pijat jantung. Bantuan nafas dilakukan cara mouth to mouth tetapi

gunakan kain sebagai pembatas antara mulut penolong dan korban untuk

mencegah penularan penyakit. Tutup hidung korban, mata memperhatikan dada

pasien, tutupilah seluruh mulut korban dengan mulut penolong lalu hembuskan

nafas satu kali tanda jika nafas yang diberikan masuk adalah dada pasien

mengembang, lalu lepaskan penutup hidung dan jauhkan mulut sesaat untuk

membiarkan pasien menghembuskan nafas keluar (ekspirasi), lakukan kembali

pemberian nafas sesuai dengan perhitungan agar nafas kembali normal.


l. Cek kembali nadi karotis, jika teraba lakukan look, listen, dan feel, jika tidak

teraba maka lakukan kembali pijat jantung dengan diikuti bantuan nafas.

m. Pijat jantung dan nafas buatan dihentikan jika penolong kelelahan dan sudah tidak

kuat lagi, pasien sudah menunjukkan tanda-tanda kematian, bantuan sudah datang,

nadi karotis sudah teraba.

n. Setelah berhasil mengamankan kondisi diatas, periksalah tanda-tanda shock pada

pasien:

1) Denyut nadi >100 kali permenit

2) Telapak tangan basah dingin dan pucat

3) Capilarry refill time > 2 detik (CRT dapat diperiksa dengan cara menekan

ujung kuku pasien dengan kuku pemeriksa selama 5 detik lalu lepaskan, cek

berapa lama waktu yang dibutuhkan agar warna ujung kuku kembali normal)

o. Jika pasien shock, maka lakukan shock position pada pasien, yaitu dengan

mengangkat kaki pasien setinggi 45 derajat dengan harapan sirkulasi darah akan

lebih banyak ke jantung. Pertahankan posisi shock sampai bantuan datang atau

tanda-tanda shock menghilang.

p. Jika ada pendarahan pada pasien hentikan pendarahan tersebut dengan menekan

atau membalut luka nya.

q. Setelah kondisi pasien stabil tetap monitor selalu kondisi pasien dengan look,

listen, and feel, karena sewaktu-waktu kondisinya dapat memburuk secara tiba-

tiba.

POIN 3
Langkah-langkah tindakan resusitasi dapat dibagi menjadi tiga tahap:
1. Tahap I: Bantuan hidup dasar (BHD), terdiri atas:
A (Airway) : menguasai jalan nafas
B (Breathing) : membuat nafas buatan
C (Circulation) : membuat aliran darah buatan

2. Tahap II: Bantuan hidup lanjutan (BHL), terdiri dari:


D (Drug) : pengobatan dengan cairan dan obat
E (EKG) : melakukan pemantauan dengan alat elektrokardiografi
F (Fibrilasi) : menilai pengobatan dengan defibrilator (untuk fibrilasi ventrikel)

3. Tahap III: Bantuan hidup jangka panjang (BHJP), terdiri dari:


G (Gauging) : menilai keadaan korban masih dapat diselamatkan atau tidak
H (Human mentatiaon): melakukan resusitasi lanjutan dengan orientasi otak
I (Intensive care): mengelola korban secara intensif
Apa yang akan anda lakukan jika anda menemukan seseorang yang mengalami
kecelakaan atau seseorang yang terbaring di suatu tempat tanpa bernapas spontan?
apakah anda dapat menentukan orang tersebut sudah mati ?

Seseorang yang mengalami henti napas ataupun henti jantung belum tentu ia mengalami
kematian, mereka masih dapat ditolong. Dengan melakukan tindakan pertolongan pertama,
seseorang yang henti napas dan henti jantung dapat dipulihkan kembali.
Tindakan pertolongan pertama yang dilakukan untuk memulihkan kembali seseorang yang
mengalami henti napas dan henti jantung disebut bantuan hidup dasar, atau dalam istilah
Inggris disebut Basic Life Support.

Algoritma Bantuan Hidup Dasar


Jika menemukan seseorang (selanjutnya disebut penderita) dalam keadaan tidak sadar,
lakukan :
* Perhatikan keadaan sekitar. Perhatikan dahulu keselamatan diri anda sebelum menolong
orang lain.
* Periksa apakah penderita tersebut tidak responsif, lakukan dengan mengguncangkan
tubuhnya atau panggil dengan nama sapaan.
* Mintalah bantuan

Jika penderita tidak responsif, lakukan :


* Mulailah ABC, yaitu :

A, Airway. Yang pertama harus dinilai adalah kelancaran jalan napas. Ini meliputi
pemeriksaan adanya sumbatan jalan napas yang dapat disebabkan benda asing, fraktur tulang
wajah, fraktur rahang bawah atau rahang atas, fraktur batang tenggorok. Usaha untuk
membebaskan airway harus melindungi tulang leher. Dalam hal ini dapat dilakukan chin lift
atau jaw thrust. Pada penderita yang dapat berbicara, dapat dianggap jalan napas bersih,
walaupun demikian penilaian ulang terhadap airway harus tetap dilakukan.

B, Breathing. Airway yang baik tidak menjamin ventilasi yang baik. Pertukaran gas yang
terjadi pada saat bernapas mutlak untuk pertukaran oksigen dan mengeluarkan
karbondioksida dari tubuh. Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru, dinding
dada, dan diafragma. Setiap komponen ini harus dievaluasi dengan cepat. Periksa breathing
dengan cara Lihat, Dengar, dan Rasakan.
Jika penderita bernapas :
Jika pernapasannya optimal dengan frekuensi normal, tempatkan penderita pada posisi
pemulihan.
Jika pernapasannya tidak optimal dan frekuensinya lebih cepat atau lebih lambat dari
normal, lakukan tiupan napas dengan 1 tiupan setiap 5 detik.
Periksa denyut nadi pada daerah samping leher, tiap 30 sampai 60 detik.

Jika penderita tidak bernapas :


Lakukan pernapasan dari mulut ke mulut (mouth to mouth) atau dari mulut ke hidung
(mouth to nose), dengan tiupan napas perlahan. Lakukan 2 detik per tiupan napas.
Periksa C (Circulation), dengan cek denyut nadi.

Penderita dengan sirkulasi :


Mulai lakukan pernapasan buatan, 1 tiupan napas tiap 5 detik.
Monitor terus denyut nadi tiap 30 sampai 60 detik.

Penderita tanpa sirkulasi :


Mulailah kompresi dada
Kombinasikan kompresi dan pernapasan buatan (disebut resusitasi jantung paru)
Lakukan dengan 15 kompresi dan 2 tiupan napas.

Lakukan terus kompresi dan pernapasan buatan sampai ditemukan adanya denyut nadi dan
pernapasan spontan dari penderita.

Jika penderita masih terus mengalami henti napas dan henti jantung, lakukan terus tindakan
diatas sampai :
Anda merasa lelah.
Bantuan dari petugas kesehatan datang.

POIN 4
II.1. DEFINISI
Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau Cardiopulmonary Resuscitation

(CPR) adalah suatu tindakan darurat sebagai suatu usaha untuk

mengembalikan keadaan henti nafas atau henti jantung (kematian klinis) ke

fungsi optimal, guna mencegah kematian biologis. Kematian klinis ditandai

dengan hilangnya nadi arteri carotis dan arteri femoralis, terhentinya denyut

jantung dan pembuluh darah atau pernafasan dan terjadinya penurunan atau

kehilangan kesadaran. Kematian biologis dimana kerusakan otak tak dapat

diperbaiki lagi, dapat terjadi dalam 4 menit setelah kematian klinis. Oleh
Karena itu, berhasil atau tidaknya tindakan RJP tergantung cepatnya

dilakukan tindakan dan tepatnya teknik yang dilakukan.3

II.2. INDIKASI

A. Henti Napas
Henti napas primer (respiratory arrest) dapat disebabkan oleh banyak hal, misalnya

serangan stroke, keracunan obat, tenggelam, inhalasi asap/uap/gas, obstruksi jalan

napas oleh benda asing, tesengat listrik, tersambar petir, serangan infark jantung,

radang epiglotis, tercekik (suffocation), trauma dan lain-lainnya(4).


Pada awal henti napas, jantung masih berdenyut, masih teraba nadi, pemberian O2 ke otak

dan organ vital lainnya masih cukup sampai beberapa menit. Kalau henti napas

mendapat pertolongan segera maka pasien akan teselamatkan hidupnya dan sebaliknya

kalau terlambat akan berakibat henti jantung(3,4).


B. Henti Jantung
Henti jantung primer (cardiac arrest) ialah ketidak sanggupan curah jantung untuk

memberi kebutuhan oksigen ke otak dan organ vital lainnya secara mendadak dan dapat

balik normal, kalau dilakukan tindakan yang tepat atau akan menyebabkan kematian

atau kerusakan otak. Henti jantung terminal akibat usia lanjut atau penyakit kronis tentu

tidak termasuk henti jantung(3,4).


Sebagian besar henti jantung disebabkan oleh fibrilasi ventrikel atau takikardi tanpa

denyut (80-90%), kemudian disusul oleh ventrikel asistol (+10%) dan terakhir oleh

disosiasi elektro-mekanik (+5%). Dua jenis henti jantung yang terakhir lebih sulit

ditanggulangi karena akibat gangguan pacemaker jantung. Fibirilasi ventrikel terjadi

karena koordinasi aktivitas jantung menghilang.


Henti jantung ditandai oleh denyut nadi besar tak teraba (karotis femoralis, radialis)

disertai kebiruan (sianosis) atau pucat sekali, pernapasan berhenti atau satu-satu

(gasping, apnu), dilatasi pupil tak bereaksi terhadap rangsang cahaya dan pasien tidak

sadar(3,4).
Pengiriman O2 ke otak tergantung pada curah jantung, kadar hemoglobin (Hb), saturasi Hb

terhadap O2 dan fungsi pernapasan. Iskemi melebih 3-4 menit pada suhu normal akan

menyebabkan kortek serebri rusak menetap, walaupun setelah itu dapat membuat

jantung berdenyut kembali(3,4).

II.3. FASE RJP

Resusitasi jantung paru dibagi menjadi 3 fase diantaranya(3):

1. FASE I :
Tunjangan Hidup Dasar (Basic Life Support) yaitu prosedur pertolongan darurat

mengatasi obstruksi jalan nafas, henti nafas dan henti jantung, dan bagaimana

melakukan RJP secara benar.

Terdiri dari :

C (circulation) : mengadakan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung paru.

A (airway) : menjaga jalan nafas tetap terbuka.

B (breathing) : ventilasi paru dan oksigenisasi yang adekuat.

2. FASE II :
Tunjangan hidup lanjutan (Advance Life Support); yaitu tunjangan hidup dasar

ditambah dengan :

D (drugs) : pemberian obat-obatan termasuk cairan.

E (EKG) : diagnosis elektrokardiografis secepat mungkin setelah dimulai PJL, untuk

mengetahui apakah ada fibrilasi ventrikel, asistole atau agonal ventricular complexes.

F (fibrillation treatment) : tindakan untuk mengatasi fibrilasi ventrikel.

3. FASE III :
Tunjangan hidup terus-menerus (Prolonged Life Support).

G (Gauge) : Pengukuran dan pemeriksaan untuk monitoring penderita secara terus

menerus, dinilai, dicari penyebabnya dan kemudian mengobatinya.


H (Head) : tindakan resusitasi untuk menyelamatkan otak dan sistim saraf dari kerusakan

lebih lanjut akibat terjadinya henti jantung, sehingga dapat dicegah terjadinya

kelainan neurologic yang permanen.

H (Hipotermi) : Segera dilakukan bila tidak ada perbaikan fungsi susunan saraf pusat

yaitu pada suhu antara 30 32C.

H (Humanization) : Harus diingat bahwa korban yang ditolong adalah manusia yang

mempunyai perasaan, karena itu semua tindakan hendaknya berdasarkan

perikemanusiaan.

I (Intensive care) : perawatan intensif di ICU, yaitu : tunjangan ventilasi : trakheostomi,

pernafasan dikontrol terus menerus, sonde lambung, pengukuran pH, pCO2 bila

diperlukan, dan tunjangan sirkulasi, mengendalikan kejang.(3)

Triase gawat darurat Lengkap PPGD


Triase gawat darurat - Pernahkah anda sakit dan harus masuk ruang IGD (Instalasi gawat
darurat), dan kemudian anda tidak langsung mendapatkan penanganan? atau pernahkah anda
merasa kenapa orang lain yang dilayani duluan?. nah jika pernah Kemungkinan salah satu
alasan anda tidak langsung mendapatkan perawatan kesehatan karena mungkin ada pasien
lain yang mengalami penyakit yang lebih serius dan membutuhkan pertolongan segera selain
anda.

Ini merupakan salah satu prinsip Triase dan salah satu metode perawatan gawat darurat
(PPGD) yang mana mereka mendahulukan pelayanan untuk pasien yang terancam jiwa atau
beresiko kecacatan. Mari kita pelajari pembahasan ID Medis - Website kesehatan
selengkapnya tentang apa itu triase dibawah ini:
Triase gawat darurat, triase PPGD

Pengertian dan definisi Triase

Triase Adalah Proses khusus Memilah dan memilih pasien berdasarkan beratnya penyakit
menentukan prioritas perawatan gawat medik serta prioritas transportasi. artinya memilih
berdasarkan prioritas dan penyebab ancaman hidup.

Triase/Triage merupakan suatu sistem yang digunakan dalam mengidentifikasi korban


dengan cedera yang mengancam jiwa untuk kemudian diberikan prioritas untuk dirawat atau
dievakuasi ke fasilitas kesehatan.

Tujuan Triase perawatan gawat darurat

1. Identifikasi cepat korban yang memerlukan stabilisasi segera, Ini lebih ke perawatan yang
dilakukan di lapangan.

2. Identifikasi korban yang hanya dapat diselamatkan dengan pembedahan

3. Untuk mengurangi jatuhnya korban jiwa dan kecacatan. Inilah tiga alasan dan tujuan
dilakukannya triase gawat darurat PPGD

Prinsip-prinsip Triase dan Tata cara melakukan Triase

Triase dilakukan berdasarkan observasi Terhadap 3 hal, yaitu :

1. Pernafasan ( respiratory)
2. Sirkulasi (perfusion)
3. Status Mental (Mental State)

Dalam pelaksanaannya biasanya dilakukan Tag label Triase (Label Berwarna) yang dipakai
oleh petugas triase untuk mengidentifikasi dan mencatat kondisi untuk tindakan medis
terhadap korban.

Pengelompokan Triase berdasarkan Tag label

1. Prioritas Nol (Hitam)


Pasien meninggal atau cedera Parah yang jelas tidak mungkin untuk diselamatkan.
pengelompokan label Triase

2. Prioritas Pertama (Merah)

Penderita Cedera berat dan memerlukan penilaian cepat dan tindakan medik atau transport
segera untuk menyelamatkan hidupnya. Misalnya penderita gagal nafas, henti jantung, Luka
bakar berat, pendarahan parah dan cedera kepala berat.

3. Prioritas kedua (kuning)


Pasien memerlukan bantuan, namun dengan cedera dan tingkat yang kurang berat dan
dipastikan tidak akan mengalami ancaman jiwa dalam waktu dekat. misalnya cedera
abdomen tanpa shok, Luka bakar ringan, Fraktur atau patah tulang tanpa Shok dan jenis-jenis
penyakit lain.

4. Prioritas Ketiga (Hijau)

Pasien dengan cedera minor dan tingkat penyakit yang tidak membutuhkan pertolongan
segera serta tidak mengancam nyawa dan tidak menimbulkan kecacatan. Nah mungkin anda
masuk dalam kategori yang ini, jadi Jangan marah-marah dan jangan heran kenapa anda tidak
langsung mendapatkan perawatan di Ruang UGD sementara mereka harus menolong pasien
lain yang lebih parah.

Lihat juga artikel sebelumnya Kenali tanda dan gejala keracunan makanan.

Klasifikasi Triase

Triase di tempat

Dilakukan Di tempat korban di temukan atau pada tempat penampungan, triase ini dilakukan
oleh tim pertolongan pertama sebelum korban dirujuk ke tempat pelayanan medik lanjutan.

Triase Medic

Dilakukan pada saat Korban memasuki Pos pelayanan medik lanjutan yang bertujuan Untuk
menentukan tingkat perawatan dan tindakan pertolongan yang di butuhkan oleh korban. atau
triase ini sering disebut dengan Triase Unit gawat darurat

Triase Evakuasi

Triase ini ditunjukkan pada korban yang dapat dipindahkan pada rumah sakit yang telah siap
menerima korban. seperti Bencana massal contohnya Saat Tsunami, Gempa bumi, atau
bencana besar lain. Next artikel Bantuan Hidup Dasar

Cukup sekian pembahasan kita tentang Triase Gawat darurat lengkap (PPGD) semoga
bermanfaat dan memudahkan anda dalam pembuatan Askep Triase PPGD