Anda di halaman 1dari 19

BAB I

STATUS PASIEN

Identitas Pasien :

Nama : Ny. IPS Nama Suami : Tn. Andriansyah


Usia : 20 tahun Umur : 25 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku : Melayu Suku : Melayu
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMP
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Petani
Alamat : Sungai Duren Alamat : Sungai Duren

Datang ke ruang VK bagian Obgin RSUD Raden Mattaher, Tanggal 04 Januari


2017 pukul 08.45 wib.

Keluhan Utama :
Perut terasa mulas dan sakit sejak 2 minggu SMRS.

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang dengan keluhan perut terasa mulas dan sakit sejak 2
minggu yang lalu. Os mengeluh sering keluar darah dari jalan lahir awalnya
sedikit sedikit kemudian semakin banyak. Tadi pagi jam 08.00 Os mengaku
keluar darah bergumpal dan gumpalan daging dari jalan lahir saat ingin buang
air kecil. Os merasa perut semakin mulas dan nyeri, kemudian Os dibawa ke
RSUD Raden Mataher karena takut bayi keguguran. Os memiliki riwayat
keguguran sebelumnya. Riwayat kuret sebelumnya (+). Mual dan muntah (-),
keluar jaringan (+). Riwayat trauma (-), riwayat diurut (-).
Riwayat Penyakit Dahulu :
Hipertensi (-), DM (-), Asma (-), PJK (-), Malaria (-)
Riwayat Obstetri :
G2 P0 A1
HPHT : 01 09 - 2016
TP : 08 06 - 2017
UK : 17 18 minggu
Siklus haid 30 hari, lama haid 5 hari.
Minum obat-obatan/jamu (-), Merokok (-), Minum alkohol (-), Hewan
peliharaan tidak ada.
Riwayat persalinan
No. Tahun Umur Jenis Penolong Penyulit Nifas Anak Ket
partus kehamilan Persalinan JK BB
1 2016 AB
2 INI

Pemeriksaan Fisik :
Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Vital Sign : TD : 120/70 mmHg
HR : 88x/menit
RR : 22x/menit
Temp : 37 C
BB : 62 kg
TB : 155 cm

Status Lokalisata
Kepala
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
Hidung : Deviasi septum (-)
Mulut : Simetris, Sianosis (-)
Leher : Kelenjar tiroid tidak membesar
Thorax
Inspeksi : Bentuk statis dan simetris kanan dan kiri,
mamae dbn
Palpasi : Stamp fremitus kanan = kiri
Perkusi : Sonor pada semua lapangan paru
Auskultasi : Vesikuler (+), ronkhi -/-, wheezing -/-
Abdomen
Inspeksi : Abdomen datar
Palpasi : Abdomen Supel, nyeri tekan perut bagian bawah
(+), TFU tidak teraba
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Bising usus normal, DJJ tidak bisa dinilai

Status Ginekologi
Inspekulo : Portio livid, mukosa licin, OUE terbuka dan tampak keluar darah
dan jaringan dari OUE, erosi dan laserasi (-).
Vaginal Toecher : Vulva uretra tenang, portio tebal, dinding vagina
licin, servix utuh, terdapat jaringan, 1 jari longgar, nyeri goyang portio (-)

Ekstremitas
Superior : Akral hangat, edema (-/-), capillary refill time < 2s
Inferior : Akral hangat, edema (-/-), capillary refill time < 2s
Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium : WBC : 13,4 x 103/mm3
RBC : 3,71 x 106/mm3
Hb : 10,5 g/dl
Ht : 28,3 %
PLT : 235.103/mm3
Gravindex test : (+)
USG :-

Diagnosa
G2P0A1 Gravida 17 18 minggu + Pendarahan antepartum ec suspek abortus
Inkomplit

Prognosis :
Dubia ad bonam

Penatalaksaan :
- Observasi TTV dan perdarahan
- IVFD RL 20 gtt/menit + Oksitosin 2 amp 30 gtt/i
- Ceftriaxon 2x1 g
- Metergin 3x1 tablet

Lapor DPJP : Rencana Kuret

Jam 09.30 pasien di USG


- Hasil USG : Terdapat jaringan sisa konsepsi pada uterus
dr. Hanif, Sp.OG Advice : Rencana kuretase 14.00
Laporan Kuretase
Jam 14.20 kuretase dimulai
- Pasien dibaringkan di meja tindakan
- Mengatur posisi pasien dengan letak lithotomi
- Melakukan premedikasi dengan anastesi
- Melakukan tindakan aseptik dan antiseptik
- Melakukan pemasangan SIMS atas dan bawah
- Portio dijepit dengan tenakulum (arah jam 11)
- Ukur uterus dengan memasukkan sonde
- Kuretase dimulai searah jarum jam didapatkan darah 100 cc dan
jaringan plasenta sisa
- Suntikan metargin 1 amp IV
- Kuretase selesai
- Intruksi post kuretase
o Observasi pasien, TTV, dan tanda perdarahan

Follow Up :
Tanggal 5 Januari 2017
S : Keluhan tidak ada
O : Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
TD : 100/70 mmhg
RR : 20x/i
N : 80x/i
T : 36,5 oC
A : Post kuretase hari ke I a/i Abortus Inkomplit
P : Aff infuse
Ampicilin 3x500 mg
Metil ergometrin 3x500 mg
Asam mefenamat 3x500 mg
BLPL

Resume
Seorang wanita 20 tahun datang ke RSUD Raden Mattaher pada tanggal 04
Januari 2017 pukul 08.45 wib hamil 17 18 minggu dengan keluhan perut
terasa mulas dan sakit sejak 2 minggu yang lalu. Os mengeluh sering keluar
darah dari jalan lahir awalnya sedikit sedikit kemudian semakin banyak. Tadi
pagi jam 08.00 Os mengaku keluar darah bergumpal dan gumpalan daging dari
jalan lahir saat ingin buang air kecil. Os merasa perut semakin mulas dan nyeri.
Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan TD: 120/70 mmHg, HR: 88x/menit,
RR: 22x/menit, Temp: 37 C. Pada pemeriksaan didapatkan nyeri tekan perut
bagian bawah (+), TFU tidak teraba. Pada status ginekologi: Pemeriksaan
vaginal toecher didapatkan vulva uretra tenang, portio tebal, OUE terbuka,
dinding vagina licin, servix utuh, teraba jaringan, 1 jari longgar, nyeri goyang
portio (-)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Abortus
2.1.1 Definisi
Abortus istilah yang diberikan untuk semua kehamilan yang berakhir
sebelum periode viabilitas janin, yaitu ancaman atau pengeluaran hasil
konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan
ialah berat jenis kurang dari 500 gram atau kehamilan kurang dari 20
minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir normal yang dapat
dipakai.1,2
Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada
kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya sisa yang tertinggal dalam
uterus yang tertinggal adalah plasenta atau desidua basalis.2,3
Sebagian jaringan hasil konsepsi masih tertinggal di dalam uterus di
mana pada pemeriksaan vagina, kanalis servikalis masih terbuka dan teraba
jaringan dalam kavum uteri atau menonjol pada OUE. Perdarahan biasanya
masih terjadi jumlahnya pun bisa banyak atau sedikit bergantung. Pada
jaringan yang tersisa, yang menyebabkan sebagian placental site masih
terbuka sehingga perdarahan berjalan terus. Pasien dapat jatuh dalam
keadaan anemi atau syok hemoragik sebelum sisa jaringan konsepsi
dikeluarkan.2

2.1.2 Etiologi
Penyebab abortus (early pregnancy loss) bervariasi, umunya lebih
dari satu penyebab.
Penyebab terbanyak diantaranya adalah sebagai berikut:2
1) Genetik
Sebagian besar abortus spontan disebabkan oleh kariotip embrio.
Paling sedikit 50% kejadian abortus pada trimester pertama
merupakan kelainan sitogenetik. Gambaran ini belum termasuk
kelainan yang disebabkan oleh gangguan gen tunggal (misalnya
kelainan Mendelian) atau mutasi pada beberapa lokus (misalnya
gangguan poligenik atau multifaktor) yang tidak terdeteksi dengan
pemeriksaan kariotipe.
Kejadian tertinggi kelainan sitogenik konsepsi terjadi pada awal
kehamilan. Kelainan sitogenik embrio biasanya berupa aneuploidi
yang disebabkan oleh kejadian sporadis. Trisomi 16 dengan kejadian
sekitar 30% dari seluruh trisomi, merupakan penyebab terbanyak.
Semua kromosom trisomi berakhir abortus kecuali pada trisomi
kromosom 1. Sindrom turner merupakan penyebab 20-25% kelainan
sitogenik pada abortus. Sepertiga dari fetus dengan Sindroma Down
(trisomi 21) bisa bertahan. Struktur kromosom merupakan kelainan
kategori ketiga. Kelainan struktural terjadi pada sekitar 3% kelainan
sitogenik pada abortus.
Abortus berulang bisa disebabkan oleh penyatuan dari 2
kromosom yang abnormal, di mana bila kelainannya hanya pada
salah satu orang tua, faktor tersebut tidak diturunkan.
2) Anatomi
Defek anatomi uterus diketahui sebagai penyebab komplikasi
obstetrik, seperti abortus berulang, prematuritas, serta malpresentasi
janin. Insiden kelainan bentuk uterus berkisar 1/200 sampai 1/600
perempuan. Pada perempuan dengan riwayat abortus, ditemukan
anomali uterus pada 27% pasien. Penyebab terbanyak abortus karena
kelainan anatomik uterus adalah septum uterus (40-80%), kemudian
uterus bikornis atau unikornis (10-30%). Mioma uteri bisa
menyebabkan baik infertilitas ataupun abortus berulang. Risiko
kejadiannya antara 10-30% pada perempuan usia reproduksi.
3) Autoimun
Terdapat hubungan yang nyata antara abortus berulang dan
penyakit autoimun. Misalnya pada Systematic Lupus Erythematosus
(SLE) dan Antiphospholipid Antibodies (aPA). Diperkirakan 75%
pasien dengan SLE akan berakhir dengan terhentinya kehamilan.
Sebagian besar kematian janin dihubungkan dengan adanya aPA.
Antiphospolipid syndrom (APS) sering juga ditemukan pada beberapa
keadaan obstetrik, misalnya pada preeklampsia, IUGR dan
prematuritas.
The International Consensus Workshop mengajukan klasifikasi
kriteria untuk APS, yaitu meliputi: trombosis vaskular, kompliksi
kehamilan, kriteria laboratorium dan antibodi fosfolipid.
4) Infeksi
Berbagai teorib diajukan untuk mencoba menerangkan peran
infeksi terhadap risiko abortus, diantaranya sebagai berikut:
- Adanya metabolik toksik, endotoksin, eksotoksin atau
sitokinyang berdampak langsung pada unit atau fetoplasenta.
- Infeksi janin yang bisa berakibat kematian janin atau cacat berat
sehingga janin sulit bertahan hidup.
- Infeksi plasenta yang berakibat insufisiensi plasenta dan bisa
berlanjut kematian janin.
- Infeksi kronis endometrium dari penyebaran kuman genitalia
bawahyang bisa mengganggu proses implantasi.
- Amnionitis (oleh kuman gram positif dan negatif)
- Memacu perubahan genetik dan anatomik embrio, umumnya
oleh karena virus selama kehamilan awal.
5) Lingkungan
Diperkirakan 1-10% malformasi janin akibat dari paparan obat,
bahan kimia atau radiasi dan umunya berakhir dengan abortus,
misalnya paparan terhadap buangan gas anestesi dan tembakau.
Dengan adanya gangguan pada sistem sirkulasi fetoplasenta dapat
tejadi ganggguan pertumbuhan janin yang berakibat terjadinya
abortus.
6) Hormonal
Ovulasi, implantasi, serta kehamilan dini bergantung pada
koordinasi yang baik sistem pengaturan hormom maternal. Oleh
karena itu, perlu perhatian langsung terhadap sistem hormon secara
keseluruhan, fase luteal, dan gambaran hormon setelah konsepsi
terutama kadar progesteron. Misalnya pada kasus diabetes mellitus,
kadar progesteron yang rendah, defek fase luteal, dan pengaruh
hormonal terhadap imunitas desidua.
7) Hematologik
Bebeapa kasus abortus berulang ditandai dengan defek
plasentasi dan adanya mikrotrombi pada pembuluh darah plasenta.
Berbagai komponen koagulasi dan fibrinolitik memegang peran
penting pada implantasi embrio, invasi trofoblas, dan plasentasi. Pada
kehamilan terjadi keadaan hiperkoagulasi dikarenakan:
- Peningkatan kadar faktor prokoagulan
- Penurunan faktor antikoagulan
- Penurunan aktivitas fibrinolitik

2.1.3 Insiden
Lebih dari 80% abortus terjadi dalam 12 minggu pertama. Anomali
kromosom menyebabkan paling sedikit separuh dari abortus dini. Risiko
abortus spontan meningkat seiring dengan paritas serta usia ibu dan ayah.
Abortus spontan yang secara klinis terdeteksi meningkat dari 12% pada
wanita berusia kurang dari 20 tahun, menjadi 26% pada wanita berusia
lebih dari 40 tahun. Akhirnya, insiden abortus meningkat pada wanita yang
hamil dalam 3 bulan setelah melahirkan aterm.4

2.1.4 Patofisiologi
Proses abortus inkomplit dapat berlangsung secara spontan maupun
sebagai komplikasi dari abortus provokatus kriminalis ataupun medisinalis.
Proses terjadinya berawal dari pendarahan pada desidua basalis yang
menyebabkan nekrosis jaringan diatasnya. Selanjutnya sebagian atau
seluruh hasil konsepsi terlepas dari dinding uterus. Hasil konsepsi yang
terlepas menjadi benda asing terhadap uterus sehingga akan dikeluarkan
langsung atau bertahan beberapa waktu. Pada kehamilan kurang dari 8
minggu hasil konsepsi biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi
korialies belum menembus desidua secara mendalam. Pada kehamilan
antara 8 minggu sampai 14 minggu villi koriales menembus desidua lebih
dalam sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat
menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu
umumnya yang mula-mula dikeluarkan setelah ketuban pecah adalah janin,
disusul kemudian oleh plasenta yang telah lengkap terbentuk. Perdarahan
tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan lengkap.3,5

2.1.5 Gejala Klinis


Gejala abortus inkomplit berupa amenorea, sakit perut, dam mulas-
mulas. Perdarahan bisa sedikit atau banyak, dan biasanya berupa stosel
(darah beku); sudah ada keluar fetus atau jaringan. Pada abortus yang sudah
lama terjadi atau pada abortus provokatus yang dilakukan oleh orang yang
tidak ahli, sering terjadi infeksi. Tanda-tanda infeksi alat genital berupa
demam, nadi cepat, perdarahan, berbau, uterus membesar dan lembek, nyeri
tekan, leukositosis. Pada pemeriksaan dalam untuk abortus yang baru saja
terjadi didapati serviks terbuka, kadang-kadang dapat diraba sisa-sia
jaringan dalam kanalis servikalis atau kavum uteri, serta uterus berukuran
kecil dari seharusnya.5

2.1.6 Diagnosis
Diagnosis abortus inkomplit ditegakkan berdasarkan gambaran klinis
melalui anamnesis dan hasil pemeriksaan fisik, setelah menyingkirkan
kemungkinan diagnosis banding lain, serta dilengkapi dengan pemeriksaan
penunjang. Pemeriksaan fisik mengenai status ginekologis meliputi
pemeriksaan abdomen, inspekulo dan vaginal toucher. Palpasi tinggi fundus
uteri pada abortus inkomplit dapat sesuai dengan umur kehamilan atau lebih
rendah. Pemeriksaan penunjang berupa USG akan menunjukkan adanya
sisa jaringan.

Tidak ada nyeri tekan ataupun tanda cairan bebas seperti yang terlihat
pada kehamilan ektopik yang terganggu. Pemeriksaan dengan menggunakan
spekulum akan memperlihatkan adanya dilatasi serviks, mungkin disertai
dengan keluarnya jaringan konsepsi atau gumpalan-gumpalan darah.
Bimanual palpasi untuk menentukan besar dan bentuk uterus perlu
dilakukan sebelum memulai tindakan evakuasi sisa hasil konsepsi yang
masih tertinggal. Menentukan ukuran sondase uterus juga penting dilakukan
untuk menentukan jenis tindakan yang sesuai.7

2.1.7 Diagnosa Banding


Abortus inkomplit dapat di diagnosis banding:2
Abortus iminens
Abortus tingakt permulaan dan merupakan ancaman terjadinya
abortus. Dalam hal ini keluarnya fetus masih dapat dipertahankan
dengan memberikan obat-obat hormonal dan antispasmodik serta
istirahat.
Kalau perdarahan setelah beberapa minggu masih ada, maka perlu
ditentukan apakah kehamilan masih baik atau tidak. Kalau reaksi
kehamilan 2 berturut-turut negatif, maka sebaiknya uterus
dikosongkan (kuret).
Kehamilan ektopik tuba
Kehamilan ektopik adalah kehamilan ovum yang dibuahi
berimplantasi dan tumbuh di tempat yang tidak normal, atau
pertumbuhan sel telur yang telah dibuahi tidak menempel pada
dinding endometrium kavum uteri.
Mola Hidatidosa
Perdarahan pervaginam, yang muncul pada 20 minggu kehamilan
biasanya berulang dari bentuk spotting sampai dengan perdarahan
banyak. Pada kasus dengan perdarahan banyak sering disertai
dengan pengeluaran gelembung dan jaringan mola. Pada
pemeriksaan fisik dan USG tidak ditemukan ballotement dan detak
jantung janin.

2.1.8 Penatalaksanaan
Memperbaiki keadaan umum. Bila perdarahan banyak, berikan
transfusi darah dan cairan yang cukup
Pemberian antibiotik yang cukup tepat
24 sampai 48 jam setelah dilindungi dengan antibiotik atau lebih
cepat bila terjadi perdarahan yang banyak, lakukan dilatasi dan
kuretase untuk mengeluarkan hasil konsepsi
Pemberian infus dan antibiotik diteruskan menurut kebutuhan dan
kemajuan penderita
Setelah tindakan kuretase, pasien abortus dapat segera pulang ke
rumah kecuali bila ada komplikasi seperti perdarahan banyak yang
menyebabkan anemia berat atau infeksi pasien dianjurkan istirahat
selama 1 sampai 2 hari. Pasien dianjurkan kembali kedokter bila
pasien mengalami demam yang memburuk atau nyeri setelah
perdarahan baru yang ringan atau gejala yang lebih berat dimana
tujuan perawatan untuk mengatasi anemia dan infeksi.3

2.1.9 Prognosis
Prognosis pada kasus ini adalah mengarah ke baik, dubius ad bonam
karena dengan kuretase berhasil mengeluarkan semua sisa jaringan sehingga
resiko perdarahan menjadi sangat minimal, setelah observasi dua jam pasca
kuretase tidak didapatkan keluhan dan keadaan umum pasien stabil. Selain
itu pada pasien ini tidak didapatkan adanya penyulit atau komplikasi yang
berbahaya misalnya perdarahan, perforasi, infeksi dan syok.5
BAB III

ANALISIS KASUS

Keluhan utama pada abortus adalah perdarahan pervaginam. pada kasus


ini, Ny. IPS, 20 tahun, hamil 17-18 minggu datang dengan keluhan perut terasa
mulas dan sakit sejak 2 minggu yang lalu. Os mengeluh sering keluar darah
dari jalan lahir awalnya sedikit sedikit. Os mengeluh sering keluar darah dari
jalan lahir awalnya sedikit sedikit kemudian semakin banyak. Tadi pagi jam
08.00 Os mengaku keluar darah bergumpal dan gumpalan daging dari jalan
lahir saat ingin buang air kecil. Os merasa perut semakin mulas dan nyeri.
Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada
kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya sisa yang tertinggal dalam uterus
yang tertinggal adalah plasenta atau desidua basalis. Pada kasus ini telah keluar
sebagian dari hasil konsepsi berupa jaringan namun perdarahan tetap terjadi
karena plasenta masih tertinggal didalam uterus. Etiologi dari abortus yang
terjadi pada kasus ini belum bias diketahui karena perlu pemeriksaan lebih
lanjut namun untuk etiologi akibat faktor anatomi, endokrin, penyakit kronik
dapat disangkal.
Gejala abortus inkomplit berupa amenorea, sakit perut dan mulas-mulas.
Perdarahan bisa sedikit atau banyak dan biasanya berupa stosels (darah beku);
sudah ada keluar fetus atau jaringan. Pada abortus yang sudah lama terjadi atau
pada abortus provokatus yang dilakukan oleh orang yang tidak ahli, sering
terjadi infeksi. Tanda-tanda infeksi alat genital berupa demam, nadi cepat,
perdarahan, berbau, uterus membesar dan lembek, nyeri tekan, leukositosis.
Pada pemeriksaan dalam untuk abortus yang baru saja terjadi didapati serviks
terbuka, kadang-kadang dapat diraba sisa-sia jaringan dalam kanalis servikalis
atau kavum uteri, serta uterus berukuran kecil dari seharusnya. Pada kasus ini
pasien mengeluh amenorea dan sakit perut, mulas-mulas, perdarahan disertai
gumpalan darah dan keluar jaringan sedangkan tanda-tanda infeksi tidak
ditemukan, pada pemeriksaan dalam teraba vagina licin, pembukaan 1 jari
longgar. Pada pemeriksaan fisik, didapatkan nyeri tekan bagian bawah dan TFU
tidak teraba.

Diagnosis untuk pasien ini adalah abortus inkomplit.

Anamnesis : Adanya amenorea pada masa reproduksi, perdarahan


pervaginam disertai jaringan hasil konsepsi, perut terasa mulas-mulas.

Pemeriksaan fisik : Teraba jaringan atau sisa hasil konsepsi dimulut


portio, permukaan licin, tampak dilatasi servik.

Pemeriksaan penunjang : Berupa tes kehamilan (+), leukositosis,


hemoglobin, trombosit, waktu bekuan, waktu perdarahan, GDS dalam
batas normal

Pada pemeriksaan USG :

Tampak jaringan sisa konsepsi pada uterus (abortus inkomplit).


Penatalaksanaan awal pada kasus abortus adalah melakukan penilaian
secara cepat mengenai keadaan umum pasien dan selanjutnya diperiksa apakah
ada tanda-tanda syok. Untuk mengurangi risiko perdarahan dan komplikasi lain
yang mungkin timbul, maka pada kasus abortus inkomplit ini dilakukan
pengeluaran sisa jaringan dengan kuretase, kemudian diberikan medikamentosa
seperti golongan uterotonika, antibiotika dan analgetik.

Dari hasil pemeriksaan klinis didiagnosa dengan abortus inkomplit.


Setelah dilakukan kuretase dan post kuretase keadaan penderita baik dan
dipulangkan 24 jam setelah kuretase. Penderita diberikan obat per oral yaitu
Ampicilin 3x500 mg, Asam mefenamat 3x500 mg, Methylegometrine 3x0,125
mg. Penderita disarankan untuk kontrol ke poliklinik satu minggu kemudian
untuk mengetahui perkembangan penderita. Abortus inkomplit yang di
evakuasi lebih dini tanpa disertai infeksi memberikan prognosis yang baik.
DAFTAR PUSTAKA

1. Moeloek Anfasa Farid, Prof. Dr, dr, SpOG, KFER. Standar Pelayanan
Medik Obstetrik dan Ginekologi. Perkumpulan Obstetrik dan Ginekologi
Indonesia. Jakarta: 2006
2. Wiknjosastro, Hanifa. Prof.dr.SPOG. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawihardjo. Jakarta: 2007. hal. 459-470
3. Manuaba Gde Bagus Ida. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri
Ginekologi an KB. Abortus. 1st Ed. EGC. Jakarta: 2001
4. Leveno J Kenneth. MD, dkk. Obstetri wiliams panduan ringkas. Abortus.
Ed 21. EGC. Jakarta. 2009. Hal. 54-65
5. Valley VT. Abortion Incomplete. Available at: http://www.emedicine.com
6. Mochtar R. Abortus dan kelainan dalam Tua Kehamilan dalam Sinopsis
Obstetri. Jilid I. EGC. Jakarta. 1998. hal: 209-214
7. Abortion. In : Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Bilstrap
LC, Wenstrom KD, editors. William Obsetrics. 22nd ed. USA : The
McGraw-Hills Companies, Inc ; 2005: hal. 231-247.