Anda di halaman 1dari 2

KASUS GOOGLE

Kasus beberapa perusahaan teknologi informasi asing yang menolak untuk membayar pajak
kepada pemerintah sempat menggegerkan masyarakat. Sebab, pemerintah tengah mengejar
penerimaan negara, salah satunya dari penerimaan perpajakan.

Salah satu perusahaan teknologi informasi yang membangkang untuk membayar pajak, yaitu
Google. Hal ini bermula Google mengembalikan Surat Perintah Pemeriksaan (SPP) dari
Ditjen Pajak beberapa bulan lalu.

Kepala Kantor Wilayah Pajak Khusus Jakarta, Muhammad Haniv mengatakan, atas
tindakannya tersebut, Google terindikasi melakukan tindak pidana. Hal ini menjadi bukti
awal pemeriksaan (Buper) bagi Kementerian Keuangan untuk melakukan investigasi.

"Sebulan lalu mereka ingin coba lakukan action dengan melakukan pemulangan surat
perintah pemeriksaan, artinya mereka menolak untuk diperiksa," kata Haniv di Kantor Pusat
Ditjen Pajak, Jakarta, Kamis (15/9).

Selain menolak diperiksa, lanjutnya, Google juga menolak penetapan status Badan Usaha
Tetap (BUT). Padahal Google terdaftar sebagai badan hukum dalam negeri di Kantor
Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tanah Abang Tiga, dengan status Penanaman Modal Asing
(PMA) sejak 2011.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kala itu mengancam bakal membawa kasus pajak
Google ke pertemuan internasional. Jika diperlukan, akan dibentuk forum khusus untuk
menyatukan persepsi mengenai pajak perusahaan over the top (OTT).

"Saya lihat saja di negara-negara lain kompleksitas pemungutan pajak dari aktivitas ekonomi
seperti ini, akan kita sikapi. Dan kalau kita merasa perlu ada forum internasional untuk
menteri keuangan-menteri keuangan bisa sepakat sehingga tidak memiliki interpretasi sendiri,
ya kita akan bawa," ujar Sri Mulyani di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat
(16/9)
Pertanyaan:
1) Identifikasi jenis pelanggaran yang dilakukan oleh Google. Sertakan alasan Anda dengan
menyebutkan dasar hukum UU Perpajakan di Indonesia sebagai referensi!
2) Jelaskan jenis-jenis pajak yang dapat dikenakan Dirjen Pajak kepada Google.
3) Berapakah besarnya pajak-pajak yang harus dibayarkan Google ke otoritas pajak
Indonesia (DJP) untuk tahun pajak 2015? Jelaskan jawaban Anda!
4) Bagaimana caranya menarik pajak yang Anda identifikasi pada soal no. 3 di atas? Berikan
analisa Anda dengan menyebutkan dasar hukum UU Perpajakan di Indonesia sebagai
referensi.
5) Langkah-langkah apa yang seharusnya diambil oleh Pemerintah Indonesia qq
Kementerian Keuangan dan/atau Dirjen Pajak untuk menghindari Kasus Google terulang
lagi di masa depan oleh perusahaan OTT yang lain?
6) Menurut berita terakhir di pertengahan bulan Desember 2016, Tim negosiasi Kementrian
Keuangan dan Dirjen Pajak sudah mencapai kesepakatan dengan pihak Google yang
berjanji akan membayar pajak sesuai perhitungan Dirjen Pajak Indonesia.
Menurut anda apa yang menjadi pertimbangan Google dalam memutuskan akan
membayar pajak di Indonesia tersebut?
7) Menurut Anda adakah praktik tax evasion atau avoidance yang dilakukan oleh Google?
Jelaskan jawaban Anda!