Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUMLABORATORIUM LINGKUNGAN 1

PENETAPAN SULFAT DAN FOSFAT

Oleh :

Kelompok 3

1. Nanda Maulida (1142005006)


2. Dzalika Nurperbangsari (1152005005)
3. Fadilla Qatrunsalwa (1152005006)
4. Pradhika Ardi Nugraha (1152005007)

Asisten :

Rizki Rahayu

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER

UNIVERSITAS BAKRIE

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Zat yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup termasuk manusia, hewan,
serta tumbuh-tumbuhan adalah air. Manfaat air macam-macam misalnya
untuk diminum, untuk zat makanan pada tumbuhan, zat pelarut, pembersih
dan sebagainya. Oleh karena itu penyediaan air merupakan salah satu
kebutuhan utama bagi manusia untuk kelangsungan hidupnya dan menjadi
faktor penentu dalam kesehatan dan kesejahteraan manusia. Air yang bersih
mutlak diperlukan, kerena air merupakan salah satu media dari berbagai
macam penularan penyakit, terutama penyakit-penyakit perut. Dari
penelitian-penelitian yang dilakukan, bahwasanya penduduk yang
menggunakan air bersih mempunyai kecenderungan lebih kecil untuk
menderita sakit dibandingkan dengan penduduk yang menggunakan air yang
tidak bersih.

Dewasa ini air menjadi masalah yang sangat penting, karena keberadaan air
bersih manjadi barang mahal. Air yang dahulu melimpah akan kandungan
mineral dan oksigen, kini telah banyak terjadi kasus pencemaran air.
Pencemaran air ini disebabkan oleh ulah manusia yang kurang
memperhatikan lingkungan. Diantara ulah manusia itu adalah kebiasaan
manusia membuang sampah ke sungai, mengalirkan limbah MCK,
pembuangan limbah pabrik dan pembuangan limbah rumah tangga. Selain itu
sisa-sisa pupuk atau pestisida dari derah pertanian, limbah kotoran ternak,
hasil kebakaran hutan dan endapan sisa-sisa gunung berapi meletus juga
mengakibatkan terjadinya pencemaran air. Pencemaran air ini dapat
mengakibatkan menurunkan kualitas air yang telah ditentukan, sehingga tidak
dapat untuk memenuhi kebutuhan.
Kualitas sumber air dari sungai-sungai penting di Indonesia umumnya
tercemar amat sangat berat oleh limbah organik yang berasal dari limbah
penduduk, industri dan lainnya. Sungai mempunyai fungsi yang strategis
dalam menunjang pengembangan suatu daerah, yaitu seringnya mempunyai
multi fungsi yang sangat vital diantaranya sebagai sumber air minum, industri
dan pertanian atau juga pusat listrik tenaga air serta mungkin juga sebagai
sarana rekreasi air
Berdasarkan klasifikasi dan kriteria mutu air dalam PP No.82 tahun
2001 tentang Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian Pencemaran Air, air
sungai masuk pada kelas IV, yaitu air yang peruntukkannya dapat digunakan
untuk perikanan. Dalam percobaan kali ini yang akan diamati beberapa
parameter kandungan material kimia yang terkandung dalam sampel air,
meliputi: kadar sulfat (SO4), dan kadar fosfat (PO4).

1.2. Tujuan

1. Untuk mengetahui cara penetapan sulfat dan fosfat


2. Untuk mengetahui tingkat sulfat dan fosfat pada sampel air
3. Untuk mengetahui perhitungan penetapan sulfat dan fosfat pada sampel air
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sulfat

Penentuan sulfat dilakukan dengan metode turbidimetri. Pada metode ini


digunakan reagen kondisi dan kristal barium klorida. Prinsipnya yaitu
terbentuknya koloid BaSO4 berupa larutan keruh karena anion sulfat akan
bereaksi dengan barium klorida dalam suasana asam. Larutan ini kemudian
diukur dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 420
nm (Aprianti, 2008).
Batas kadar sulfat terlarut yang terdapat dalam air yang dapat diukur adalah
1-40 mg/L pada panjang gelombang 420 nm (SNI 06-2426-1991 cari masuk
lampiran). Ion sulfat diendapkan dalam suatu medium HCl dengan
BaCl2 sehingga terbentuk koloid barium sulfat.
SO42- + BaCl2 putih BaSO4 + 2Cl-

2.2. Fosfat

Fosfat terdapat dalam air alam atau air limbah sebagai senyawa ortofosfat,
polifosfat dan fosfat organis. Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam
bentuk terlarut, tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air. Di
daerah pertanian ortofosfat berasal dari bahan pupuk yang masuk ke dalam
sungai melalui drainase dan aliran air hujan. Keberadaan senyawa fosfat
dalam air sangat berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem perairan.
Bila kadar fosfat dalam air rendah, seperti pada air alam (< 0,01 mg P/L),
pertumbuhan dan ganggang akan terhalang.

Fosfat yang berasal dari air atau limbah alami biasanya berbentukl sebagai
senyawa fosfat saja. Senyawa fosfat dapat diklasifikasikan sebagai ortho
fosfat, fosfat yang terkondensasi (pyro, metha, polifosfat lainnya), dan
senyawa fosfat yang terikat secara organik.
Senyawa-senyawa fosfat yang biasa dideteksi dengan cara colorimetry tanpa
hidrolisis atau oksidasi dengan pemanasan sampel disebut sebagai fosfor
reaktif atau ortho fosfat. Hidrolisis asam pada titik didih airmengubah fosfat
terlarut atau fosfat partikulat yang berkondensasi menjadi orthofosfat terlarut.
Istilah fosfat yang terhidrolisis asam lebih disukai daripada fosfat
terkondensasi. Fraksi-fraksi senyawa fosfat yang terkonversi menjadi
orthofosfat hanya oleh proses oksidasi yang dekstruktif dari zat-zat organic
disebut sebagai fosfat organic. Total fosfat seperti juga fraksi fosfat yang
terlarut atau tersuspensi dapat dibagi secara analitik menjadi 3 bagian seperti
tersebut diatas. Metode ini menggunakan teknik oksidasi persulfat untuk
membebaskan/menetapkam fosfat organic. Metode colorimetric yang
dipergunakan adalah metode asam askorbat. Ammonium molibdat dan
potassium antimonil tartrat dalam media asam dengan orthofosfat untuk
membentuk asam heteropoli-asam fosfomolibdat yang tereduksi menjadi
molybdenum yang berwarna biru oleh asam askorbat.

Metode asam askorbat dapat digunakan untuk penetapan bentuk-bentuk fosfat


tertentu didalam air minum, air permukaan, air payau, air limbah rumah
tangga dan limbah industry. Cara uji ini digunakan untuk penentuan kadar
fosfat yang terdapat dalam air/air limbah antara 0,01-1.0 mg/L PO43- dengan
menggunakan metode asam askorbat dengan alat spektrofotometer pada
panjang gelombang 880 nm.
BAB III

METODE KERJA

3.1. Waktu dan Tempat

Hari, tanggal : Rabu, 12 April 2017

Waktu : 07.40 08.05 WIB

Tempat : Jembatan depan Medika (-6.167101,106.784149)

Gambar 3.1 Lokasi Sampling

Kategori sunga : Golongan D (menurut Keputusan Gubernur Kepala


Daerah Khusus Ibukota Jakarta No.582 tahun 1995 tentang penetapan
peruntukan dan baku mutu air sungai/badan air serta baku limbah cair di
wilayah daerah khusus ibukota Jakarta) (Cari bahannya masukin lampiran jgn
lupa print)

3.2. Alat dan Bahan

3.2.1. Sampling

No Jumla
Alat Ukuran Jumlah Bahan Konsentrasi
. h
Botol
1. sampling 500 mL 1 Buah - - -
(sampler)
2. Jirigen 1,5 L 1 Buah - - -
sampel
3. Termometer - 1 Buah - - -
4. Meteran 5m 1 Buah - - -

3.2.2.Penetapan Sulfat

No Konsentras Jumlah
Alat Ukuran Jumlah Bahan
. i
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

3.2.3 Penetapan Ortofosfat

Jumla
No Nama Alat Ukuran Bahan Konsentrasi Jumlah
h
Labu Air
1. 250 mL 1 buah - 50 mL
Erlenmeyer sampel
Spektrofoto Pelarut
2. - 1 buah - 4 mL
meter kombinasi
3. kuvet - 1 buah - - -
Pipet
4. 50 mL 1 buah - - -
volumetri
5. Bulb - 1 buah - - -
6. Pipet Ukur 10 mL 1 buah - - -
7. Stopwatch - 1 buah - - -

3.2.4 Penetapan Polifosfat

No Nama Alat Ukuran Jumlah Bahan Konsentrasi Jumlah


Labu Air
1. 250 mL 1 buah - 50 mL
Erlenmeyer sampel
Spektrofoto
2. - 1 buah H2SO4 - 10 mL
meter
Pelarut
3. kuvet - 1 buah kombina - 8 mL
si
4. Hotplate - 1 buah - - -
5. Bulb - 1 buah - - -
6. Pipet Ukur 10 mL 1 buah - - -
7. pH meter - 1 buah - - -
8. Stopwatch - 1 buah - - -

3.2.5 Penetapan Fosfat Organik

No Nama Alat Ukuran Jumlah Bahan Konsentrasi Jumlah


Labu Air
1. 250 mL 1 buah - 100 mL
Erlenmeyer sampel
Spektrofoto
2. - 1 buah H2SO4 98% 1 mL
meter
3. kuvet - 1 buah HNO3 65% 5 mL
Pipet Indikator
4. 50 mL 1 buah - -
volumetri PP
5. Bulb - 1 buah NaOH - -
Pelarut
6. Pipet Ukur 10 mL 1 buah kombina - 4 mL
si
Labu - -
7. - 1 buah -
pendidih
8. Buret - 1 buah - - -
9. Pipet tetes - 1 buah - - -
10. Labu ukur 100 mL 1 buah - - -
3.3.Langkah Kerja

3.3.1. Sampling

No. Cara kerja Gambar

Menyiapkan water sampler vertikal


1 dan jirigen pada lokasi pengambilan
sampel.

Mengulurkan tali water sampler


2 perlahan hingga mencapai 2/3
kedalaman sungai.

Mendiamkan beberapa saat water


3 sampler hingga water sampler terisi
penuh.

No. Cara Kerja Gambar


Menarik water sampler secara
4
perlahan dari badan sungai

Menuangkan air sampel yang telah


5 terisi pada water sampler ke dalam
jirigen dengan memiringkan jirigen

Mengukur suhu air sampel, lalu


6
membawa ke laboratorium

3.3.2. Penetapan Sulfat


No. Cara kerja Gambar

4
5

3.3.3. Penetapan Ortofosfat

No. Cara kerja Gambar

2
3

6
3.3.4. Penetapan Polifosfat

No
Cara kerja Gambar
.

3.3.5 Penetapan Fosfat Organik

3.4. Metode Analisis


BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Pengamatan Insitu

No
Parameter Gambar Keterangan
.

Cuaca sangat cerah saat


1. Cuaca
pengambilan sampel

Suhu air sampel adalah


2. Suhu
28oC

pH air sampel setelah


3. pH
diukur adalah

DO air sampel setelah


4. DO
diukur adalah
Daya hantar listrik air
Daya Hantar
5. sampel setelah diukur
Listrik
adalah

6. Kecepatan Aliran -

7. Debit -
4.2. Pengamatan Eksitu

No Keterangan
Parameter Gambar
.

1.

2.

3.
4.3. Perhitungan

4.3.1. Nilai Sulfat

4.3.2. Nilai Ortofosfat

4.3.3. Nilai Polifosfat

4.3.4. Nilai Fosfat Organik

4.4. Pembahasan

4.4.1 Sampling

Praktikan melakukan sampling di sungai Sekeretaris pada jembatan


belakang Mall Ciputra yang berada depan Medika (-6.167101,106.784149)
pada pukul 07.40 08.05 WIB dengan kondisi cerah. Menurut Keputusan
Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta No.582 tahun 1995 tentang
penetapan peruntukan dan baku mutu air sungai/badan air serta baku limbah
cair di wilayah daerah khusus ibukota Jakarta, sungai Sekertaris termasuk
dalam golongan D yaitu peruntukkan pertanian dan usaha perkotaan.
Aliran sungai pada saat praktikan mengambil sampling tergolong tidak
konsisten. Maka dari itu praktikan menghitung kecepatan menggunakan
stopwatch untuk menghitung debit, didapatkan data 1,02 m3/s.
Untuk lebar sungai yang terhitung dengan meteran sebesar 18,91 meter
dihitung dari ujung ke ujung tiang jembatan yang mempresentasikan lebar
sungai. Pengambilan sampel menggunakan alat sampling vertikal dan
pemindahan air sampling ke dalam dirigen sebanyak 2-3 kali sehingga dirigen
penuh tanpa adanya gelembung yang berada di dalamnya. Suhu yang
didapatkan pada air sampel di sungai sebesar 28oC dengan nilai suhu air
normal berkisar 26 oC - 28 oC.
4.4.2 Sulfat

Pada percobaan praktikum penetapan sulfat yang menggunakan metode


turbidimetri, yang berfungi untuk mengukur kekeruhan atau turbiditas secara
kuantitatif cahaya yang masuk ke dalam sampel air melewati partikel
tersuspensi. 100 ml sampel air yang diambil ke tabung erlemneyer merupakan
sampel yang mewakili penetapan sulfat ini, larutan penyangga ditambahkan
ke dalam sampel yang telah berada di labu erlemenyer yang berfungsi sebagai
penjaga pH larutan di dalam sampel karena salah satu yan dapat
mempengaruhi perubahan pH adalah masuknya zat-zat partikel bebas dari
luar sehingga perlunya penambahan larutan penyangga. Kemudian,
penambahan BaCl2 berfungsi sebagai oksidator seperti pada persamaan
berikut:
SO42- + BaCl2 putih BaSO4 + 2Cl-
Hal ini dilakukan dengan tujuan agar saat pengecekan menggunakan
fotometer dapat terlihat senyawa BaSO 4 karena SO4 dalam bentuk ion tidak
dapat tertangkap oleh spektofotometer, dari hasil perhitungan diperoleh data
dengan nilai x sebesar 29,73 yang menandakan bahwa larutan ini memiliki
nilai NTU sebesar 110 NTU berdasarkan kurva kaliberasi, dan berdasarkan
PERMENKES RI No. 492 thn. 2010, nilai NTU yang diperbolehkan adalah 5
NTU, hal ini menunjukkan bahwa sampel yang praktikan ambil telah
tercemar. Penetapan sulfat ini telah sesuai dengan SNI mengenai cara uji
sulfat berdasarkan uji turbudimetri yang menggunakan BaCl2.
4.4.3 Ortofosfat

Penetapan fosfat atau ortofosfat dilakukan dengan menggunakan


spektrofotometri/kolorimetri. 50 ml sampel yang dituangkan ke dalam tabung
erlemeyer merupakan perwakilan sampel yang akan dilakukan pengetesan.
Larutan sampel yang ditambahkan sebanyak 8 ml pereaksi kombinasi,
pereaksi kombinasi ini merupakan larutan yang terdiri dari larutan asam
sulfat, kalium amonium tatrat, amonium molibdat, asam askorbat, dan air
suling. Fungsi dari penambahan pereaksi kombinasi ini adalah sebagai
pereduksi sehingga dapat menghasilkan warna biru yang mengindikasikan
bahwa pada kompleks antimon-fosfomolibdat dapat diukur serapannya pada
panjang gelombang 880 nm. Pada hasil data yang didapat nilai x sebesar
0,1834 dan nilai absorban sebesar 0,005 yang mengindikasikan bahwa
konsentrasi ini dapat dijadikan pengairan sebagai tempat penyiraman lahan
taman berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 Tanggal 14
Desember 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
Pencemaran Air.

4.4.4 Polifosfat

Penetapan polifosfat dilakukan sama dengan metode fosfat yaitu


menggunakan spektofotometri. Senyawa polifosfat seperti H4P2O7 harus
diubah menjadi senyawa yang lebih sederhana seperti ortofosfat agar mudah
direaksikan dengan senyawa lain yang kemudian dapat dilakukan pengukuran
dengan memanaskan larutan. 50 ml sampel yang dituangkan ke labu
erlemenyer merupakan perwakilan sampel yang akan di uji. Setelah itu,
larutan yang telah ditambah sampel dituangkan larutan H2SO4 kemudian
dididihkan, tujuan penambahan dan penidihan ini adalah agar larutan dapat
mengikat ion H+ polifosfat yang nanti dengan pemanasan dapat dipecah
menjadi senyawa ortofosfat seperti asam H 3PO4. Selanjutnya, dengan
anggapan bahwa setelah pemanasan telah memecah senyawa polifosfat, untuk
mengurangi kelebihan ion H+ di dalam larutan maka dinetralkan dengan
larutan NaOH, namun pada praktiknya, praktikan sangat kesusahan agar
larutan dapat menjadi pH=7. Praktikan hanya dapat melakukan penambahan
NaOH hingga pH=6,63, selanjutnya, larutan ditambahkan pereaksi campuran,
pada pereaksi ini senyawa dalam larutan akan direduksi sehingga pada sapel
air yan telah diberikan senyawa campuran akan berubah menjadi warna biru
pekat dan diukur menggunakan spektofotometer. Berdasarkan data yang telah
diperoleh melalui perhitungan diperoleh nilai x polifosfat sebesar 9,7945.
Melalui persamaan sebagai berikut:
Polifosfat = Total fosfat Anorganik Ortofosfat = 9,9779 -01834 = 9,7941

Nilai ini mengindikasikan bahwa kandungan polifosfat di perairan cukup tinggi


meskipun kandungan fosfatnya rendah, namun jika polifosfat dapat tercepa seperti
terkena pemanasan atau melalui bakteri, dia dapat meningkatkan jumlah posfat
dalam air yang akan mempengaruhi ekosistem di air.

4.4.5 Fosfat Organik

Pada penetapan fosfat organik masih sama yaitu menggunakan metode


absorbansi yaitu spektrofotometri. 100 ml sampel yang telah di tuangkan ke labu
erlemenyer ditambah 1 ml asam sulfat dan 5 ml HNO3 tujuan pemberian senyawa
ini sebagai oksidator yang kuat di dalam sampel agar senyawa berubah menjadi
ion fosfor setelah dididhkan. Kemudian, diteteskan indikator p.p dan NaOH, dari
hasil pengamatan praktikan setelah sampel diteteskan indikator p.p warna tidak
mengalami perubahan, hal ini menunjukkan bahwa larutan dalam keadaan basa
sehingga tidak menunjukkan adanya perunahan warna, namun setelah di teteskan
larutan NaOH larutan perlahan-lahan berubah warna menjadi merah muda.
Selanjutnya, larutan sampel tadi dipindahkan ke labu eerlemnyer untuk dicampur
larutan perekasi kombinasi yang berfungsi untuk mereduksi senyawa-senyawa
tadi dan juga dengan dilakukannya pemanasan. Selanjutnya, setelah dilakukan
pengukuran data menggunakan spektofotometer 880 nm didapatkan hasil x
sebesar -17,8315, data ini didapat melalui persamaan:

P-Organik = Total P Fosfat Anorganik = -7,8536 9,9779 = -17,8315

Hasil mungkin terjadi akibat kesalahan praktikan saat mengitung data, saat
meneteskan pereaksi campuran juga merupakan salah satu penyebab data yang
kurang valid.
BAB V

KESIMPULAN

1. Nilai
DAFTAR PUSTAKA

Aprianti, M. 2008. Analisis Kandungan Boron, Seng, Mangan dan Sulfat dalam
Air Sungai Mesjid sebagai Air Baku PDAM Dumai. FMIPA-UR,
Pekanbaru.

Lindu, Muhammad, Diana Hendrawan, dan Pramiati Purwaningrum. 2017.


Penuntun Praktikum Laboratorium Lingkungan 1. Jakarta: Universitas
Trisakti Jakarta

Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 Tahun 2010. Persyaratan Kualitas Air
Minum