Anda di halaman 1dari 28

Peran dan Tugas Manusia di Muka Bumi

.: Home > Artikel > PDM


07 Mei 2013 23:24 WIB
Dibaca: 34883
Penulis : Madropi, Drs.

PERAN DAN TUGAS MANUSIA DI MUKA BUMI

Oleh : Drs. Madropi

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna di bandingkan dengan
makhluk -makhluk lainnya,kesempurnaan manusia karena Allah telah menganugrahkanNya
akal pikiran yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya, begitulah Allah memuliakan
manusia.

Kalau saja kita diperkenankan memilih, tentu kita akan memilih hidup di syurga
saja, tidak ada beban dan tidak ada tugas, nikmat sepanjang masa.Tetapi ketentuan Allah
berlaku bagi ciptaanya. Manusia diciptakan dan ditentukan harus melalui proses perjalan
hidup yang panjang dan berliku. Satu proses hidup yang harus dilalui adalah hidup di dunia.
Mau jadi apa di dunia manusia harus berusaha. Posisi manusia ditentukan oleh pikirannya.
Muhammad Al-Gozali menyatakan. Anda adalah hasil dari kreatifitas pemikiran anda. Baru
nanti ditentukan di syurga atau di neraka, tergantung siapakah yang paling baik amalnya
(ayyukum ahsanu amala). Mengapa harus hidup di dunia? karena Allah mempunyai maksud
dan misi. Manusia diciptakan bukan untuk main-main. Allah berfirman dalam QS AL-
MUMINUN ,23:115

Artinya: Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu
secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami ?

Atas dasar misi tersebut, Allah menilai manusia sejauh mana bisa
mengimplementasikannya dalam bentuk tugas dan tanggung jawab. Dengan demikian,
manusia telah mengambil peran yang pasti dalam hidup, sehingga tidak masuk kategori
statemen Allah main-main.

Peran dan tugas pokok utama manusia di muka bumi adalah:

1. Manusia sebagai abid; artinya hamba Allah, sebagai hamba Allah dimuka bumi
memiliki tugas untuk mengabdi atau beribadah kepadaNya. Sebagaimana firmannya Q.S.Adz
Dzaariyat, 51: 56:

Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liyabuduun.

Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku.
Dan firman Allah Q.S.Al Bayyinh ayat 5:

wamaa umiruu illa liyabudullaha mukhlisiina lahuddin

Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya

Semua kehidupan manusia bertumpu untuk mencerminkan kepercayaan Tauhid dalam


hidup dan kehidupan manusia, dalam wujud dan bentuk bidup dan kehidupan yang semata -
mata untuk beribadah kepada Allah SWT. Dalam arti yang luas dan penuh, seperti makna
pengertian ibadah dalam islam, ibadah adalah Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah
dengan mentaati segala perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan mengamalkan yang di
izinkan-Nya. Ibadah dibagi kedalam dua bagian, yaitu:

a. Ibadah khusus (makhdah) ialah apa yang telah ditetapkan Allah


perinciannya, tingkah dan tatacaranya tertentu. Contoh shalat, zakat, puasa,
haji.

b. Ibadah umum (ghairo makhdah) ialah segala amalan yamg di izinkan


oleh Allah SWT. termasuk segala aktivitas manusia mengandung unsur
ibadah, bila diniatkan dengan ikhlas karena Allah SWT.

Hal ini tercermin dalam hidup kita,pada saat hendak melaksanakan


shalat.Sesungguhnya shalatku ,ibadahku,hidupku,dan matiku hanya untuk Allah,
Tuhan semesta alam.Tiada sekutu bagiNya,dan demikian itulah yang
diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama kali menyerahkan
diri(kepada Allah.Q.S.Al Anaam 162-163.

2 Manusia sebagai khalifah; artinya pemimpindi muka bumi.

Bila direnungkan dengan mata batin yang mendalam, kemudian dipakai daya nalar dengan
pikiran yang tajam, akan disadari betapa kehadiran manusia di muka bumi ini bukanlah atas
kemauan sendiri, melainkan merupakan kreasi terindah dari Al Khalik. Manusia dilahirkan
sebagai khalifah, yang harus mampu mengubah dunia menjadi Alam abdiyah yang terang
benderang karena peran manusia sebagai rahmatan lil alamin.

Kehadiran manusia dimuka bumi harus memberi manfaat bagi lingkungan, menjadi regulator,
memberi kesejukan dan menyejukan arah kehidupan yang terang benderang (Q.S. Al Ahzab,3
: 46).

Allah SWT menciptakan langit dan bumi bukan tanpa maksud (iradah). Diciptakan bumi dan
isinya untuk manusia. Bagaimana manusia mampu mengelola dan mendapatkan manfaat, di
situlah letaknya tantangan bagi manusia. Ketika seseorang mampu menyelesaikan tantangan
dan merobah sesuatu menjadi lebih baik serta melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan
umat manusia, maka dialah yang layak mendapatkan penilaian terbaik dari Allah
sebagaimana dalam Q.S.Al Kahfi, 18: 7, yang artinya: Sesungguhnya Kami telah
menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya. Kami menguji mereka,
siapakah yang terbaik diantara mereka (perbuatannya).

Agama islam berisi ajaran yang mendorong dan membangkitkan semangat inovatif bagi
pemeluknya. Mengubah yang statis menjadi dinamis, terus bergerak maju memberantas
kebodohan dan mengikis keterbelakangan. Karena itu seorang muslimyang berhasil dan
sukses bukanlah mereka yang sanggup memikul tanggung jawab kepada keluarga semata.
Muslim yang sukses adalah orang yang hidupnya produktif, mampu menggerakan lingkungan
tempat tinggalnya untuk maju, dan keberadaannya bermanfaat bagi masyarakat/lingkungan
(rahmatan lil alamin).

Tidak ada amal yang patut diacungi jempol di dunia, selain sikap tanggap dan cepat bertindak
di saat orang lain memerlukan pertolongan. Tidak ada pekerjaan yang bisa menyelamatkan
dan dibanggakan di akhirat kecuali pekerjaan yang dilakukan dengan ikhlas. Responsif
adalah ciri khas dari akhlak Rasulullah. Keteladanan dan langsung turun kebawah
adalahkepribadian Rasullulah. Pepatah menyatakan: Lisanul haali afshahu min lisaanil
maqaal (berbuat nyata lebih membekas di hati daripada kata -kata). Beliau sangat tegas
terhadap penyimpangan, tetapi disampaikan dengan santun dan dengan tutur kata yang lemah
lembut. Beliau penuh kasih sayang terhadap sesama, memberikan pujian kepada orang yang
berprestasi dan berbuat baik, mencela orang yang berbuat aib dan merusak tatanan.

Manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi mempunyai tugas menjaga keseimbangan dan
ekosistemnya,tidak boleh membiarkan terjadinya kerusakan dan kehancuran.

Sebagai pemakmur,manusia dalam melaksanakan tugasnya.perlu pengenalan dan penguasaan


ilmu pengetahuan berupa :

a. Mengenal bumi yang menjadi lingkungan wilayah yuridisnya.

b. Mengenal dan menggali rahasia-rahasia alam dan hukum yang ada di balik
alam (takdir) dan hukumAllah yang tersembunyi (sunatullah).

c. Menjaga dan memelihara bumi dari kerusakan termasuk pencemaran


lingkungan.Sebagai khalifah ,manusia bertanggung jawab terhadap kelangsungan
hidup di muka bumi.Oleh karena itu setiap manusia agar tidak kehilangan jati
dirinya wajib menyingsingkan lengan untuk mengelola, memakmurkan bumi
sekaligus melestarikannya.Firman Allah.Dia telah mencitakan kamu dari
bumi(tanah)dan menjadikan kamu pemakmurnya.Karena itu mohonlah
ampunannya,kemudian bertobatlah kepadaNya.Sesungguhnya Tuhanku amat
dekat(rahmatNya)lagi memperkenankan(doa hambaNya).Q.S.Hud 61

http://bogor-kota.muhammadiyah.or.id/artikel-peran-dan-tugas-manusia-di-muka-
bumi-detail-349.html Oleh : Drs. Madropi
Pengertian manusia menurut para ahli

NICOLAUS D. & A. SUDIARJA

Manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan rohani akan
tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang

ABINENO J. I

Manusia adalah tubuh yang berjiwa dan bukan jiwa abadi yang berada atau yang
terbungkus dalam tubuh yang fana

UPANISADS

Manusia adalah kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa, pikiran, dan prana ataubadan
fisik

I WAYAN WATRA

Manusia adalah mahluk yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu cipta, rasa dan karsa

OMAR MOHAMMAD AL-TOUMY AL-SYAIBANY

Manusia adalah mahluk yang paling mulia, manusia adalah mahluk yang berfikir, dan
manusia adalah mahluk yang memiliki 3 dimensi (badan, akal, dan ruh), manusia dalam
pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan.

ERBE SENTANU

Manusia adalah mahluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan bisa dikatakan bahwa manusia
adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan mahluk yang lain

PAULA J. C & JANET W. K

Manusia adalah mahluk terbuka, bebas memilih makna dalam situasi, mengemban tanggung
jawab atas keputusan yang hidup secara kontinu serta turut menyusun pola berhubungan dan
unggul multidimensi dengan berbagai kemungkinanan.

Pengertian manusia menurut agama islam

Dalam Al-Quran manusia dipanggil dengan beberapa istilah, antara lain al-insaan, al-naas, al-
abd, dan bani adam dan sebagainya. Al-insaan berarti suka, senang, jinak, ramah, atau
makhluk yang sering lupa. Al-naas berarti manusia (jama). Al-abd berarti manusia sebagai
hamba Allah. Bani adam berarti anak-anak Adam karena berasal dari keturunan nabi Adam.
Namun dalam Al-Quran dan Al-Sunnah disebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang
paling mulia dan memiliki berbagai potensi serta memperoleh petunjuk kebenaran dalam
menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.

Allah selaku pencipta alam semesta dan manusia telah memberikan informasi lewat wahyu
Al-quran dan realita faktual yang tampak pada diri manusia. Informasi itu diberi- Nya melalui
ayat-ayat tersebar tidak bertumpuk pada satu ayat atau satu surat. Hal ini dilakukan-Nya agar
manusia berusaha mencari, meneliti,memikirkan, dan menganalisanya. Tidak menerima
mentah demikian saja. Untuk mampu memutuskannya, diperlukan suatu peneliti Alquran dan
sunnah rasul secara analitis dan mendalam. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan
penelitian laboratorium sebagai perbandingan, untuk merumuskan mana yang benar
bersumber dari konsep awal dari Allah dan mana yang telah mendapat pengaruh lingkungan.

Hasil peneliti Alquran yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpuannya bahwa manusia
terdiri dari unsur-unsur: jasad, ruh, nafs, qalb, fikr, dan aqal.

A. Jasad

Jasad merupakan bentuk lahiriah manusia, yang dalam Alquran dinyatakan diciptakan dari
tanah. Penciptaan dari tanah diungkapkan lebih lanjut melalui proses yang dimulai dari sari
pati makanan, disimpan dalam tubuh sampai sebagiannya menjadi sperma atau ovum (sel
telur), yang keluar dari tulang sulbi (laki-laki) dan tulang depan (saraib) perempuan (a-
Thariq: 5-7). Sperma dan ovum bersatu dan tergantung dalam rahim kandungan seorang ibu
(alaqah), kemudian menjadi yang dililiti daging dan kenpmudian diisi tulang dan dibalut lagi
dengan daging. Setelahnia berumur 9 (sembilan) bulan, ia lahir ke bumi dengan dorongan
suatu kekuatan ruh ibu, menjadikan ia seorang anak manusia.

Meskipun wujudnya suatu jasad yang berasal dari sari pati makanan, nilai-nilai kejiwaan
untuk terbentuknya jasad ini harus diperhatikan. Untuk dapat mewujudkan sperma dan ovum
berkualitas tinggi, baik dari segi materinya maupun nilainya, Alquran mengharapkan agar
umat manusia selalu memakan makanan yang halalan thayyiban (Surat Al-baqarah: 168,
Surat Al-maidah 88, dan surat Al-anfal 69). Halal bermakna suci dan berkualitas dari segi
nilai Allah. Sedangkan kata thayyiban bermakna bermutu dan berkualitas dari segi materinya.

B. Ruh

Ruh adalah daya (sejenis makhluk/ciptaan) yang ditiupkan Allah kepada janin dalam
kandungan (Surat Al-Hijr 29, Surat As-Sajadah 9, dan surat Shaad 27) ketika janin berumur 4
bulan 10 hari. Walaupun dalam istilah bahasa dikenal adanya istilah ruhani, kata ini lebih
mengarah pada aspek kejiwaan, yang dalam istilah Al-Quran disebut nafs.

Dalam diri manusia, ruh berfungsi untuk :

1. Membawa dan menerima wahyu (Surat As-Syuara 193)

2. Menguatkan iman (Surat Al-Mujadalah 22)


Dari ayat ini dapat dipahami bahwa manusia pada dasarnya sudah siap menerima beban
perintah-perintah Allah dan sebagai orang yang dibekali dengan ruh, seharusnya ia elalu
meningkatkan keimanannya terhadap Allah. Hal itu berarti mereka yang tidak ada usaha
untuk menganalisa wahyu Allah serta tidak pula ada usaha untuk menguatkan keimanannya
setiap saat berarti dia mengkhianati ruh yang ada dalam dirinya.

C.Nafs

Para ahli menyatakan manusia itu pasti akan mati. Tetapi Al-Quran menginformasikan
bahwa yang mati itu nafsnya. Hal ini diungkapkan pada Surat Al-Anbiya ayat 35 dan Surat
Al-Ankabut ayat 57, Surat Ali-Imran ayat 185. Hadist menginformasikan bahwa ruh manusia
menuju alam barzah sementara jasad mengalami proses pembusukan, menjelang ia
bersenyawa kembali secara sempurna dengan tanah.

Alquran menjelaskan bahwa, nafs terdiri dari 3 jenis:

1. Nafs Al-amarah (Surat Yusuf ayat 53), ayat ini secara tegas memberikan pengertian bahwa
nafs amarah itu mendorong ke arah kejahatan.

2. Nafs Al-lawwamah (Surat Al-Qiyamah ayat 1-3 dan ayat 20-21) dari penjelasan ayat
tersebut terlihat bahwa yang dimaksud dengan nafs lawwamah ini adalah jiwa yang condong
kepada dunia dan tak acuh dengan akhirat.

3. Nafs Al-Muthmainnah (Surat Al-Fajr ayat 27-30). Nafs muthmainnah ini adalah jiwa yang
mengarah ke jalan Allah untuk mencari ketenangan dan kesenangan sehingga hidup
berbahagia bersama Allah.

2.2 Penciptaan manusia

hal ini merupakan prinsip pertama dari perkembangan yang dapat dipahami dalam al-quran,
ketika menyatakan bahwa allah maha pencipta. Dengan kata lain, kehidupan manusia
memiliki pola dalam tahapan-tahapan tertentu yang termasuk tahapan dari perubahan samapi
kematian.

(Q.S Nuh 13-14) menyatakan bahwa manusia diciptakan dan ditentukan untuk perkembangan
dalam tahapan. Ayat ini dalam pengertian bahwa manusia diciptakan dari nutfah (tetesan),
kemudian diubah menjadi alaqah (segumpal pendarahan), kemudian menjadi mudhgah
(segumpal darah), dan seterusnya.

(Q.S al-insyqaq 19) dalam pengertian surat ini bahwa manusia tumbuh dari satu keadaan lain
sedemikian rupa, menjadi kanak-kanak setelah bayi, menjadi tua setelah muda dan kuat.

Dalam surat almuminun ayat 12-15Allah S.W.T berfirman ;


Artinya :

12. Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari
tanah.13. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang
kokoh (rahim).14. Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah
itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang,
lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk
yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.15. Kemudian,
sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.(QS. Al- Muminuun 23 :
12-15).

Dari ayat diatas ini diketahui bahwa perkembangan embrio terjadi secara bertahap. Tahapan-
tahapan yang digambarkan dua ayat ini sama persis dengan temuan ilmu pengetahuan
modern. Secara global, pentahapan itu dapat dijelaskan sebagai berikut :

Sel telur yang belum dibuahi diproduksi oleh organ wanita dan diletakan pada semacam
tabung yang disebut fallopian. Saat bersenggama, akan ada satu sperma laki-laki yang
membuahi sel telur. Sel telur yang dibuahi akan bergerak ke rahim (uterus)dan menempel
pada dinding rahim.

Ketika menempel di dinding rahim, embrio akan berkembang sekitar 3 bulan.Setelah itu,
terjadi perkembangan janin selama kurang lebih 6 bulan pada masa persalinan.

Dalam surat assajadah ayat 7-9 yang berbunyi:

Artinya : Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai
penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air
yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya
roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati;
(tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.(Q.S assajadah 7-9)

Dari ayat al-quran diatas, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa manusia diciptakan oleh Allah
dari tanah. Tanah yang diinjak-injak sehari-hari, tanah yang dijadikan tempat bercocok
tanam,tanah yang kering dan yang basah, tanah yang dijadikan tempat hidup bagi cacing-
cacing, tanah yang dijadikan sebagai bahan baku membuat genting,bata merah untuk
membuat bangunan tempat tinggal, itulah bahan baku untuk kejadian seorang anak manusian
dan tiap-tiap manusia tanpa terkecuali. Di mulai dari apa yang dimakan sehari-hari, misalnya
nasi,gandum,jagung,sayur-mayur dan buah-buahan hingga daging, segala makanan yang
dikonsumsi manusia itu tumbuh dan mengambil sari makanan dari tanah.
Di dalam segala makanan itu ada segala macam saringan yang ditakdirkan Allah atas alam.
Di dalam makanan itu terdapat protein, karbohidrat, zat besi, berbagai macam vitamin dan
zat-zat lain yang memang sangat diperlukan bagi keperluan tubuh manusia. Sehingga dengan
makanan itu segala kebutuhan tubuh dapat tercukupi, makanan masuk ke dalam sisitem
pencernaan, kemudian makanan ini menjadi dua bagian, yaitu sari makanan dan sisa makanan
yang akhirnya dibuang oleh tubuh. Sedangkan sari makanan tadi diproses lebih lanjut
sehingga sebagian menjadi darah, hormon, air susu, lemak dan lain-lainnya termasuk air
mani( bagi laki-laki) yang tersimpan dalam tulang sulbi dan ovum ( sel telur) bagi
perempuan yang tersimpan dalam tulang dada. Dan dengan kehendak Allah maka pria dan
wanita pun diciptakan untuk berpasang-pasangan karena dengan perpaduan gender mereka
terciptalah suatu nutfah, sebagaimana dijelaskan oleh Allah S.W.T dalam firmannya :


(45)

(46)

Artinya : dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan


wanita. dari air mani, apabila dipancarkan (Q.S an-najm ayat 45-46)

Dan kehendak ilahi berpadulah satu dengan zat mani pada perempuan yang merupakan telur
yang sangat kecil. Perpaduan keduanya itulah yang dinamakan nutfah, kian lama kian
besarlah nutfah itu, dalam empat puluh hari.

Dan dalam masa 40 hari mani yang telah berpadu, berangsur menjadi darah segumpal. Untuk
melihat contoh peralihan berangsur kejadian itu, dapatlah kita memecahkan telur ayam yang
sedang dierami induknya. Tempatnya aman dan terjamin, panas seimbang dengan dingin, di
dalam rahim bunda kandung, itulah qararin makin, tempat yang terjamin dan terpelihara.

Lepas 40 hari dalam bentuk segumpal air mani berpadu dan bertukar rupa menjadi segumpal
darah. Ketika ibu telah hamil setengah bukan. Penggeligaan itu sangat berpengaruh atas
badan si ibu,pendingin,pemarah, berubah-ubah perangai, kadang-kadang tak enak makan.
Dan setelah 40 hari berubah darah, dia berangsur membeku terus hingga jadi segumpal
daging, membeku terus hingga berubah sifatnya menjadi tulang. Dikelilingi tulang itu masih
ada persendian air yang kelaknya menjadi daging untuk menyelimuti tulang-tulang itu.

Mulanya hanya sekumpulan tulang, tetapi kian hari telah ada bentuk kepala, kaki dan tangan
dan seluruh tulang-tulang dalam badan. Kian lama kian diselimuti oleh daging. Pada saat itu
dianugrahkan kepadanya ruh, makanya bernafaslah dia. Dengan dihembuskan nafas pada
sekumpulan tulang dan daging itu, berubahlah sifatnya. Itulah calon yang akan menjadi
manusia. (Dudung Abdullah ; 1994 :3).

Dalam surat al-Hijr ayat 28-29 dijelaskan bahwa:



Artinya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:


Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang
berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan
kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu
kepadanya dengan bersujud . (al-hijr(15);28-29).

Tentang ruh (ciptaan-Nya) yang ditiupkan ke dalam rahim wanita yang mengandung embrio
yang terbentuk dari saripati (zat) tanah itu, hanya sedikit pengetahuan manusia, sedikitnya
juga keterangan tentang makhluk ghaib itu diberikan tuhan dalam. Al-quran. Dan (ingatlah),
ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya aku akan menciptakan
seorang manusia dari tenah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (al-hajr(15);28-29). Yang
dimaksuddengan bersujud dalam ayat ini bukanlah menyembah, tetapi memberi
penghormatan.

Alquran tidak member penjelasan tentang sifat ruh. Tidak pula ada larangan di dalam al-
quran intuk menyelidiki ruh yang gaib, sebab penyelikikan tentang ruh, mungkin berguna,
mungkin pula tidak berguna, dalam hubungan dengan masalah ruh ini tuhan berfirman dalam
surat al-isra:85

Artinya : Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: Roh itu termasuk
urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit (Q.S. Al-
Isra:85).

Ayat-ayat diatas menunjukan bahwa manusia tumbuh dan berkembang mengikuti tahapan
tertentu. Jika analisis, al-quran dan hadits secara umum membagi kehidupan manusia
pertumbuhan dan perkebangan di dunia menjadi dua katagori besar, kelahiran dan pasca
kelahiran. Al-quran juga menyatakan, sebagimana petikan (Q.S Al-hajj 5) bahwa periode
perkelahiran telah ditentukan (biasanya 9 bulan dalam keadaan normal). Namun Al-quran
juga menyebutkan bahwa ada kasus-kasus pengecualian dimana periode prakelahiran
dihentikan, sebelum atau setelah waktu yang normal.

2.3 Persamaan dan perbedaan manusia dengan makluk lain

Manusia tidak berbeda dengan binatang dalam kaitan dengan fugsi tubuh dan fisiologisnya.
Fungsi kebinatangan di temukan oleh naluri, pola-pola tingkah laku yang khas, yang pada
gilirannya ditentukan oleh struktur susunan syaraf bawaan. Semakin tinggi tingkat
perkembangan binatang, semakin fleksibel pola tindakannya. Pada primata (bangsa monyet)
yang lebih tinggi dapat di temukan intelegensi, yaitu penggunaan pikiran guna mencapai
tujuan yang diinginkan, sehinnag memungkinkan binatang melampaui pola kelakuan yang
telah di gariskan secara naluri. Namun setinggi-tingginya perkembangan binatang, elemen-
elemen dasar ekstensinya yang tertentu masih tetap sama.

Manusia pada hakikatnya sama saja dengan makhluk hidup lainnya, yaitu memiliki hasrat
dan tujuan. Ia berjuang untuk meraih tujuannya dengan di dukung oleh pengetahuan dan
kesadaran. Perbedaan di antara keduanya terletak pada dimensi pengtahuan, kesadaran, dan
tingkat tujuan. Di sinilah letak kelebihan dan keunggulan yang di banding dengan makhluk
lain.

Manusia sebagai salah satu makhluk yang hidup di muka bumi merupakan makhluk yang
memiliki karakter yang paling unik. Manusia secara fisik tidak begitu berbeda dengan
binatang, sehingga para pemikir menyamakan dengan binatang. Letak perbedaan yang paling
utama antara manusia dengan makhluk yang lain adalah dalam kemampuannya melahirkan
kebudayaan. Kebudayaan hanya manusia saja yang memilikinya, sedangkan binatang hanya
memiliki kebiasaan-kebiasaan yang bersifat instinctif.

Di banding makhluk lainnya, manusia mempunyai kelebihan. Kelebihan itu membedakan


manusia dengan makhluk lainnya. Kelebihan menusia adalah kemampuan untuk bergerak di
darat, di laut maupun di udara. Sedan binatang hanya mampu bergerak di ruang yang terbatas.
Walaupun ada binatang yang dapat hidup di darat dan di air, namun tetap saja mempunyai
kterbatasan dan tidak bisa melampaui manusia. Mengenai kelebihan manusia atau makhluk
lain di i surat al-Isra ayat 70.

Di samping itu manusia memiliki akal dan hati sehingga dapat memahami ilmu yang
diturunkan Allah, berupa al-Quran. Dengan ilmu manusia mampu berbudaya. Allah
menciptakan manusia dalam keadaan sebaik-baiknya. Oleh karena itu ilmunya manusia di
lebihkan dari makhluk lainnya.

Manusian memiliki karakter yang khas, bahkan di bandingkan makhluk lain yang paling
mirip sekalipun. Kekhasan inilah yang menurut al-Quran menyebabkan adanya konsekuensi
kemanusiaan di antaranya kesadaran, tanggung jawab, dan pembalasan. Diantara karakteristik
manusia adalah:

1. Aspek kreasi

Apapun yang ada pada tubuh manusia sudah di rakit dalam suatu tatanan yang terbaik dan
sempurna. Hal ini bisa di bandingkan dengan makhluk lain dalam aspek penciptaannya.
Mungkin banyak kesamaannya, tetapi tangan manusia lebih fungsional dari tangan sinpanse,
demikian pula organ-organ lainnya.

2. Aspek ilmu

Hanya manusia yang punya kesempatan memahami lebih jauh hakekat alam semesta di
sekelilingnya. Pengatahuan hewan hanya berbatas pasa naluri dasar yang tidak bisa di
kembangkan melalui pendidikan dan pengajaran. Manusia menciptakan kebudayaan dan
peradaban yang terus berkembang.

3. Aspek kehendak
Manusia memiliki kehendak yang menyebabkan bisa mengadakan pilihan dalam hidup.
Makhluk lain hidup dalam suatu pola yang telah baku dan tak akan pernah berubah. Para
malaikat yang mulia tak akan pernah menjadi makhluk yang sombong atau maksiat.

4. Pengarahan akhlak

Manusia adalah makhluk yang dapat di bentuk akhlaknya. Ada manusia yang sebelulmnya
baik, tetapi karena pengaruh lingkungan tertentu dapat menjadi penjahat. Demikian pula
sebaliknya. Oleh karena itu lembaga pendidikan diperlukan untuk mengarahkan kehidupan
generasi yang akan datang.

Jika manusia hidup dengan ilmu selain ilmu Allah, maka manusia tidak bermartabat lagi.
Dalam keadaan demikian manusia disamakan dengan binatang. Seperti dalam surat al- Araaf,
129 dan at-Tin, 4.

2.4 Tujuan penciptaan manusia

Tujuan penciptaan manusia adalah untuk penyembahan Allah. Pengertian penyembahan


kepada Allah tidak boleh diartikan secara sempit, dengan hanya membayangkan aspek ritual
yang tercermin salam solat saja. Penyembahan berarti ketundukan manusia pada hukum Allah
dalam menjalankan kehidupan di muka bumi, baik ibadah ritual yang menyangkut hubungan
vertical (manusia dengan Tuhan) maupun ibadah sosial yang menyangkut horizontal
( manusia dengan alam semesta dan manusia).

Penyembahan manusia pada Allah lebih mencerminkan kebutuhan manusia terhadap


terwujudnya sebuah kehidupan dengan tatanan yang adil dan baik. Oleh karena itu
penyembahan harus dilakukan secara sukarela, karena Allah tidak membutuhkan sedikitpun
pada manusia termasuk pada ritual-ritual penyembahannya. Dalam hal ini Allah berfirman:

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyambah-Ku. Aku
tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka
member aku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah maha pemberi Rezeki yang mempunyai
kekuatan lagi sangat kokoh. (az-Zaariyaat, 51:56-58).

Dan mereka telah di perintahkan kecuali supaya mereka menyembah Allah


dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan
supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan degnan dekimikian itulah
agama yang lurus. (Bayinnah, 98:5)

Penyembahan yang sempurna dari seseorang manusia akan menjadikan dirinya sebagai
khalifah Allah di muka bumi dalam mengelola kehidupan alam semesta. Keseimbangan alam
dapat terjaga dengan hukum-hukum alam yang kokoh. Keseimbangan pada kehidupan
manusia tidak sekedar akan menghancurkan bagian-bagian alam semesta yang lain, inilah
tujuan penciptaan manusia di tengah-tengah alam.
2.5 Fungsi dan peranan manusia dalam islam

Berpedoman kepada QS Al Baqoroh 30-36, maka peran yang dilakukan adalah sebagai
pelaku ajaran Allah dan sekaligus pelopor dalam membudayakan ajaran Allah. Untuk menjadi
pelaku ajaran Allah, apalagi menjadi pelopor pembudayaan ajaran Allah, seseorang dituntut
memulai dari diri dan keluarganya, baru setelah itu kepada orang lain.

Peran yang hendaknya dilakukan seorang khalifah sebagaimana yang telah ditetapkan Allah,
diantaranya adalah :

1. Belajar (surat An naml : 15-16 dan Al Mukmin :54) ; Belajar yang dinyatakan pada
ayat pertama surat al Alaq adalah mempelajari ilmu Allah yaitu Al Quran.

2. Mengajarkan ilmu (al Baqoroh : 31-39) ; Khalifah yang telah diajarkan ilmu Allah
maka wajib untuk mengajarkannya kepada manusia lain.Yang dimaksud dengan ilmu Allah
adalah Al Quran dan juga Al Bayan

3. Membudayakan ilmu (al Mukmin : 35 ) ; Ilmu yang telah diketahui bukan hanya
untuk disampaikan kepada orang lain melainkan dipergunakan untuk dirinya sendiri dahulu
agar membudaya. Seperti apa yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW.

Di dalam Al Quran disebutkan fungsi dan peranan yang diberikan Allah kepada manusia.
Menjadi abdi Allah. Secara sederhana hal ini berarti hanya bersedia mengabdi kepada Allah
dan tidak mau mengabdi kepada selain Allah termasuk tidak mengabdi kepada nafsu dan
syahwat. Yang dimaksud dengan abdi adalah makhluk yang mau melaksanakan apapun
perintah Allah meski terdapat resiko besar di dalam perintah Allah. Abdi juga tidak akan
pernah membangkang terhadap Allah. Hal ini tercantum dalam QS Az Dzariyat : 56Dan
tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu
Menjadi saksi Allah. Sebelum lahir ke dunia ini, manusia bersaksi kepada Allah bahwa
hanya Dialah Tuhannya.Yang demikian dilakukan agar mereka tidak ingkar di hari akhir
nanti. Sehingga manusia sesuai fitrahnya adalah beriman kepada Allah tapi orang tuanya
yang menjadikan manusia sebagai Nasrani atau beragama selain Islam. Hal ini tercantum
dalam QS Al Araf : 172
Dan (ingatlah), keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):Bukankah Aku ini Tuhanmu?. Mereka
menjawab:Betul (Engkau Tuhan Kami),kami menjadi saksi.(Kami lakukan yang demikian
itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini(keesaan Tuhan)
Khalifah Allah sebenarnya adalah perwakilan Allah untuk berbuat sesuai dengan misi yang
telah ditentukan Allah sebelum manusia dilahirkan yaitu untuk memakmurkan bumi.
Khalifah yang dimaksud Allah bukanlah suatu jabatan sebagai Raja atau Presiden tetapi yang
dimaksud sebagai kholifah di sini adalah seorang pemimpin Islam yang mampu
memakmurkan alam dengan syariah-syariah yang telah diajarkan Rosulullah kepada umat
manusia. Dan manusia yang beriman sejatilah yang mampu memikul tanggung jawab ini.
Karena kholifah adalah wali Allah yang mempusakai dunia ini.
Tanggung jawab manusia sebagai Hamba Allah

Kewajiban manusia kepada khaliknya adalah bagian dari rangkaian hak dan kewajiban
manusia dalam hidupnya sebagai suatu wujud dan yang maujud. Didalam hidupnya manusia
tidak lepas dari adanya hubungan dan ketergantungan. Adanya hubungan ini menyebabkan
adanya hak dan kewajiban. Hubungan manusia dengan allah adalah hubungan makhluk
dengan khaliknya. Dalam masalah ketergantungan, hidup manusia selalu mempunyai
ketergantungan kepada yang lain. Dan tumpuan serta ketergantungan adalah ketergantungan
kepada yang maha kuasa, yang maha perkasa, yang maha bijaksana, yang maha sempurna,
ialah allah rabbulalamin, Allah Tuhan yang Maha Esa.

Kebahagian manusia di dunia dan akhirat, tergantung kepada izin dan ridho allah. Dan untuk
itu Allah memberikan ketentuan-ketentuan agar manusia dapat mencapainya. Maka untuk
mencapainya kebahagian dunia dan akhirat itu dengan sendirinya kita harus mengikuti
ketentuan-ketentuan dari allah SWT. Apa yang telah kita terima dari allah SWT. Sungguh ak
dapat dihitung dan tak dapat dinilai dengan materi banyaknya. Dan kalau kita mau
menghitung-hitung nikmat dari Allah, kita tidak dapat menghitungnya, karena terlalu amat
sangat banyaknya. Secara moral manusiawi manusia mempunyai kewajiban Allah sebagai
khaliknya, yang telah memberi kenikmatan yang tak terhitung jumlahnya.

Jadi berdasarkan hadits AL-Lulu uwal kewajiban manusia kepada Allah pada garis besar
besarnya ada 2 :

1) mentauhidkan-Nya yakni tidak memusyrik-Nya kepada sesuatu pun.

2) beribadat kepada-Nya

Orang yang demikian ini mempunyai hak untuk tidak disiksa oleh Allah, bahkan akan diberi
pahala dengan pahala yang berlipat ganda, dengan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali
lipat bahkan dengan ganda yang tak terduga banyaknya oleh manusia. Dalam al-quran
kewajiban ini diformulasikan dengan :

1) iman.

2) amal saleh

Beriman dan beramal saleh itu dalam istilah lain disebut takwa. Dalam ayat (Q.S al-baqorah
ayat 177) iman dan amal saleh, yang disebut takwa dengan perincian :

1) iman kepada Allah : kepada hari akhir, kepada malaikat-malaikat, kepada kitab-kitab, dan
kepada nabi-nabi.

2) amal saleh :

a. Kepada sesama manusia : dengan memberikan harta yang juga senang terhadap harta itu,
kepada kerabatnya kepada anak-anak yatim kepada orang-orang miskin kepada musafir yang
membutuhkan pertolongan (ibnu sabil)
b. Kepada Allah : menegakan / mendirikan shalat, menunaikan zakat

c. Kepada diri sendiri : menempati janji apabila ia berjanji, sabar delam kesempitan,
penderitaan dan peperangan.

Kesemuanya itu adalah dalam rangka ibadah kepada allah memenuhi manusia terhadap
khalik.

Tanggung jawab manusia sebagai khalifah Allah

Sebagai makhluk Allah, manusia mendapat amanat yang harus di pertanggung jawabkan di
hadapan-Nya. Tugas hidup yang di pikul manusia di muka bumi adalah tugas kekhalifahan,
yaitu tugas kepemimpinan; wakil Allah di muka bumi untuk mengelola dan memelihara alam.

Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang kekuasaan. Manusia menjadi khalifah,
berarti manusia memperoleh mandate Tuhan untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi.

Kekuasaan yang di berikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya
m,engolah dan mendayagunakanvapa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidupnya
sesuai dengan ketentuan yang di tetapkan oleh Allah. Agar manusia bisa menjalankan
kekhalifahannya dengan baik, Allah telah mengajarkan kepadanya kebenaran dalam segala
ciptaan-Nya dan melalui pemahaman serta penguasaan terhadap hukum-hukum yang
terkandung dalam ciptaan-Nya, manusia bisa menyusun konsep-konsep serta melakukan
rekayasa membentuk wujud baru dalam alam kebudayaan.

Dua peran yang di pegang manusia di muka bumi. Sebagai khalifah dan abd merupakan
perpaduan tugas dan tanggung jawab yang melahirkan dinamika hidup, yang sarat dengan
kreatifitas dan amaliah yang selalu berpihak pada nilai-nilai kebenaran. Oleh karena itu hidup
seorang muslim akan di penuhi dengan amaliah, kerja keras yang tiada henti, sebab bekerja
bagi seorang muslim adalah membentuk satu amal shaleh. Kedudukan manusia di muka bumi
sebagai khalifah dan sebagai makhluk Allah, bukanlah dula hal yang bertentangan melainkan
suatu kesatuan yang padu dan tidak terpisahkan. Kekhalifaan adalah ralisasi dari
pengabdiannya kepada Allah yang menciptakannya.

Dua sisi tugas dan tanggung jawab ini tertata dalam diri setiap muslim sedemikian rupa.
Apabila terjadi ketidakseimbangan, maka akan lahir sifat-sifat tertentu yang menyebabkan
derajat manusia meluncur jatuh ke tingkat yang paling rendah, seprti firman Allah dalam
surat ath-Thin:4.

Dengan demikian, manusia sebagai khalifah Allah merupakan satu kesatuan yang
menyampurnakan nilai kemanusiaan yang memiliki kebebasan berkreasi dan sekaligus
menghadapkannya pada tuntutan kodrat yang menempatkan posisinya pada ketrbatasan.

Perwujudan kualitas keinsanian manusia tidak terlepas dari konteks sosial budaya, atau
dengan kata lain kekhalifaan manusia pada dasarnya diterapkan pada konteks indvisu dan
sosial yang berporos pada Allah, seperti firman Allah dalam Muthathohirin:112.

BAB 3
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Berdasarkan berbagai aspek yang telah kami bahas, maka kami dapat menyimpulkan bahwa
hakekat manusia dalam pandangan islam yaitu sebagai khalifah di bumi ini. Yang mampu
merubah bumi ini kearah yang lebih baik. Hal yang menjadikan manusia sebagai khalifah
adalah karena manusia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki makhluk lainnya, seperti akal
dan perasaan. Selain itu manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang paling baik, ciptaan
Allah yang paling sempurna.

Daftar pustaka

Djatnika, Rachmat. 1996. Sistem Ethika Islam. Jakarta: pustaka panjimas.

Hasan, Aliah B purwakania . 2006 . Psikologi Perkembangan Islam . Jakarta: Rajagrafindo


persada.

Husnan, Djaelan, dkk. 2009. Islam Integral Membangun Kepribadian Islami. Jakarta:
Universitas Negeri Jakarta.

Rachmat, Noor. 2009. Islam dan Pembentukan Akhlak Mulia. Depok: Ulinnuha press.

http://carapedia.com/pengertian_definisi_manusia_menurut_para_ahli_info508.html

http://limubermanfaat.blogspot.com/2011/01/fungsi-dan-peran-manusia.html

http://monggominarak.blogspot.com/2011/12/proses-kejadian-manusia-dalam.html

http://www.scribd.com/doc/48595986/6/Tanggung-Jawab-Manusia-sebagai-Hamba-dan-
Khalifah-Allah

Knowledge Fungsi dan peranan manusia dalam islamfungsi ruhhakikathakikat islamhakikat


manusiahakikat manusia adalahhakikat manusia dalam islamHAKIKAT MANUSIA
MENURUT ISLAMJasadjenis nafsmacam hakikat manusiamakalah hakikat manusia dalam
islammanusiamanusia adalahNafsNafs Al-amarahNafs Al-lawwamahNafs Al-
MuthmainnahPenciptaan manusiaPengertian manusia menurut agama islamPengertian
manusia menurut para ahliPersamaan dan perbedaan manusia dengan makluk
lainRuhtanggung jawab manusiaTanggung jawab manusia sebagai Hamba AllahTanggung
jawab manusia sebagai khalifah Allahtugas agamaTujuan penciptaan manusia
KEDUDUKAN, TUGAS, DAN FUNGSI MANUSIA DI MUKA
BUMI

A. HAKIKAT MANUSIA DAN ASAL-USUL PENCIPTANYA

1. Hakikat Manusia

Pada tahun 1809-1882, seorang Ilmmuwan yang bernama


Charles Darwin mengeluarkan sebuah hipotesis evolusi hayat
yang menyatakan bahwa manusia itu adalah bentuk akhir dari
evolusi hayat, sedang binatang bersel satu sebagai awal
evolusi. Dari hipotesis itu, jelas bahwa Darwin telah
menganggap bahwa manusia berada dalam alam binatang,
baik akal budinya, kesadaran moral agamanya dan semua itu
merupakan hasil perkembangan evolusioner.

Jika kita mengkaji hipotesis tresebut, tentunya sangat bertolak


belakang dengan ajaran agama kita. Namun, hipotesis Darwin
ini juga tidak mutlak salah karena manusia dan binatang tidak
berbedajika ditinjau dari fungsi tubuh dan pisiologisnya.
Misalnya jika dikaji dari hidup lakunya, keduanya mempunyai
cirri hidup yaitu melakukan garak, bernafas, makan, reproduksi,
dll. Dari segi biologis instingtif, maka keduanya juga sama-
sama memiliki naluri, misalnya naluri untuk makan,
mempertahankan diri, berketurunan, dan benci. Hal-hal diatas
menunjukan bahwa ada persamaan antara manusia dan
binatang.
Perbedaan antara manusia dengan binatang dalam hal naluri
adalah factor volume. Manusia mampu mengembangkan dan
mengarahkan kehidupan naluri-naluri itu, sedang binatang
bersifat konstan. Sebagai contoh, dalam hal mendapatkan
makanan, dari dulu sampai sekarang ayam masih mencari
makanan dengan mengais-ngais ditanah. Tetapi berbeda
dengan manusia, manusia mampu berkembang dari system
alamiah menuju kesistem produksi, distribusi, dan
konsumsi.Selain itu perbedaan manusia dan binatang kaitannya
dengan naluri, terletak pada norma-norma, moral, dan kode
etik. Dalam hal makanan, manusia mengenal prinsip halal dan
haram, sedangkan binatang tidak menggunakan prinsip itu.
Dalam pemenuhan hasrat seksual, binatangtidak mengsnal
suami-istri, ayah, anak dan saudara. Akan tetapi manusia
mengenal suatu pernikahan, hubungan nasab (muhrim) dan
undang-undang tentang perkawinan. Dalam masyarakat,
manusia mempunyaiadab yang mengacu pada prinsip hukum
untuk mewujudkan keadilan, sedang dalam dunia binatang
hanya mengacu pada hokum kekuatan. Dan dari semua
perbedaan diatas, perbedaan yang paling fundamental adlah
kode etik. Yang mampu memberikan kode etikyang bernilai
absolute untuk mengangkat martabat manusia dan
membedakannya dengandengan binatang adalah agama.
Sebab itu agama adalah kebutuhan primer dari manusia. Jika
dalam kehidupan manusia tidak lagi ditemukan lagi kode etik
beragama, maka manusia sama seperti binatang, bahkan lebih
hina.
Perbedaan menyeluruh antara manusia dangan binatang ialah
manusia dikaruniai akal oleh tuhan. Maka dalam ilmu manfiq,
manusia dirumuskan dangan hayawanun nafiq (hewan yang
berfikir) atau dalam teori kognitif manusia disebut homo
sapiens (hewan yang berfikir).

Dri uraian diatas, dapat dimengerti bahwa secara


biologis/basyar, manusia sepadan dengan binatang, dan dilihat
dari aspek kecerdasannya (dalam artian insan/nas), manusia
diberi akal oleh tuhan. Jadi komponen yang membedakan
hakikat manusia dengan binatang adalah potensi untuk
mengembangkaniman dan ilmu.

2. Penciptaan manusia

Dari aspek historis penciptanya, manusia disebut sebagai Bani


adam. Dalam al Quran tidak terinci secara kronologis
penciptaan manusia menyangkut waktu dan tempatnya.
Namun Al Quran menjelaskan bahwa awal mula manusia
bersifat air. Dalam kenyataannya, air adalah komponen paling
penting dari sel-sel, hidup tanpa air menjadi tidak mungkin. Hal
ini berdasar pada firman allah dalam surat An Nur ayat 45 yang
artinya : Dan Allah telah menciptakan semua jhenis hewan
dari air .

Secara biologis, manusia dibentuk dari komponen-komponen


yang terkandung dalam tanah. Gambaran ini sangat jelas
diuraikandalam berbagai ayat yang menunjukan komponen-
komponen pembetuk tersebut dengan berbagai nama, seperti :
a. Turaab, yang berarti tanah gemuk ( Al kahfi : 37 )

b. Tiin ( Tanah lempung ) ( As Sajadsah : 27 )

c. Tiinul laqzib, yaitu tanah lempung yang pekat ( As


Jafaat : 11 )

d. Salsalun, lempung yang dikatakan mirip tembikar

e. Jalsalun min hamain masnuun ( Lempung dari Lumpur


yang dicetak ) ( Al Hiji : 26 )

f. Sulalutun min tiin, yaitu dari saripati lempung

g. Air ( Al Furqar : 54 )

Asal-usul keberadaan manusia ditinjau dari sisi reproduksinya


banyak sekali dijelaskan dalam ayat-ayat Al Quran. Dalam surat
Al Qiyamah ayat 37, disebutkan bahwa manusia berasal dari
Nutfatam min maniyyin yumna (setetes sperma yang
ditumpahkan). Mutfah sering dikaitkan dengan setetes air,
kemudian sperma tersebut membuahi sel telur. Setelah proses
pembuahan, mutfah berubah menjadi alaqah yang terus
menerus melalui prosas yang berurutan hingga menjadi suatu
bentuk dan kemudian di tiupkan Ruh kedalam bentuk tersebut.
Seperti firman Allah dalam surat Al Hiji : 28-29 yang artinya :
Ketika tuhan mereka berfirman kepada para malaikat, Aku
hendak membentuk seorang manusia dari lempung, dari
Lumpur yang di bentu. Bila aku telah membentuknya secara
selaras dan meniupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka sujudlah
kepadanya .
B. FITRAH MANUSIA

Fitrah berasal dari kata fatara yg artinya ciptaan,suci dan


seimbang. Menurut Louis Maluf dalam kamus Al Munjid, fitrah
adalah sifat yg ada pada setiap yg ada pada awal
penciptaanya, sifat alami manusia, agama dan sunah. Menurut
Imam Al Marighi, fitrah adalah kondisi di mana Allah
menciptakan manusia yg menghadapkan dirinya pada
kebenaran kesiapan untuk menggunakan pikiranya. Dengan
demikian, dari segi bahasa fitrah dapat di artikan sebagai
kondisi awal manusia yg memiliki potensi untuk mengetahui
dan cenderung kepada kebenaran.

1. Hanief

Fitrah dalam arti hanief sejalan dengan firman Allah dalam


surat Ar Ruum ayat 30 yg artinya : Maka hadapkanlah
wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), ( tetaplah atas )
fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.
Tidak ada perubahan fitrah Allah ( itulah ) agama yg lurus,
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui .

Dari ayat di atas, hanief berarti lurus atau kecenderungan


kepada kebaikan/kebenaran. Fitrah hanief ini di
milikiolehmanusia karna sebelum terlahir ke dunia, manusia
terlebih dahulu terikat suatu proses persaksian dengan Allah
SWT seperti yg di paparkan pada surat Al-Araaf ayat 172 yg
artinya : Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan
keturunan anak-anak adam dari Sulbi mereka dan Allah
mengambil kesaksian atas jiwa mereka .
2. Potensi Akal

Potensi adalah kelengkapan yg diberikan pada saat manusia


lahir ke dunia. Potensi yg dimiliki manusia, terbagi menjadi
potensi fisik dan rohaniah. potensi akal termasuk potensi
rohaniah. Akalsecara bahasa berarti pikiran atau rasio . Dalam
Al Quran sendiri akal di artikan dengan kebijaksanaan
(wisdom ), intelegensia (intelligent ) dan pengertian
( understanding ). Dengan demikian, Al Quran menempatkan
akal bukan hanya pada hal rasio , tetapi juga rasa bahkan bisa
dikatakan hikmah atau bijaksana.

3. Qoib

Seperti halnya akal, qaib jg termasuk potensi rohaniah dari


manusia. Al Qoib berasal dari kata qalaba yg berarti berubah,
berpindah atau berbalik. Menurut Ibnu Sayyidah berarti hati. Al
Qoib diartikan dalam dua pengertin. Yang pertama bias berarti
segumpal daging/jantung, dan yg kedua adalah pengertian yg
bersifat ketuhanan dan rohaniah yaitu hakikat manusia yg
dapat menangkap segala pengertian , berpengetahuan dan arif.
Qoib adalah pusat kegiatan untuk mengingat tuhan. Lain
halnya dengan akal yg digunakan untuk memikirkan alam.
Namun, akal dan qaib merupakan kesatuan rohani untuk
memahami kebenaran sehinggamanusia dapat memasuki
suatu kesadaran tertinggi yg bersatu dengan kebenaran ilahi.
4. Nafsu

Adalah suatu kekuatan yg mendorong manusia untuk


mencapai keinginanya. Biasanya nafsu bersifat bebas tanpa
mengenal baik dan buruk. Dengan nafsu, manusia dapat
bergerak dinamis dari suatu keadaan ke keadaan yg lain. Jika
nafsu tidak terkendali dapat menyebabkan manusia masuk
dalam kondisi yg berbahaya. Untuk mengendalikan nafsu
tersebut, manusia menggunakan akalnyauntuk mengikuti jalan
yg ditunjukan oleh agama agar tercipta An-nafs Al-
mutmainah

C. KARAKTERISTIK MANUSIA

Manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang sangat berbeda


dengan mahluk lainnya dialam semesta ini. Manusia memiliki
kekhasan yang menyebabkan konsekuensi-konsekuensi
kemanusiaan diantaranya kesadaran, tanggung jawab, dan
pembalasan. Berikut ini adalah beberapakarakteristik dari
manusia :

1. Aspek Kreasi

Segala sesuatu yang ada pada tubuh manusia sudah


dirancang secara baik dan sempurna. Misalnya tangan
simpanse memang mirip/sama bentuknya dengan manusia,
tapi tangan manusia lebih fungsional, demikian pula dengan
organ-organ lainnya. Allah berfirman dalam surat At Tiin ayat 4
yang artinya : sesungguhnya kami telah menciptakan
manusia dengan sebaik-baik bentuk .
2. Aspek ilmu

Hanya manusia yang dapat mengembangkan nalurinya


melalui pendidikan dan pengajian. Dengan kemampuan itu,
manusia bisa menciptakan kebudayaan dan peradaban yang
terus berkembang.

3. Aspek Kehendak

Manusia memiliki kehendak yang menyebabkannya bias


memilih dan berubah. Mahluk lain termasuk malaikat hanya
hidup pada ssatu pola yang tetap.

4. Pengarahan Ahlak

Manusia adalah mahluk yang dapat dibentuk ahlaknya.

D. KEDUDUKAN, TUGAS, DAN FUNGSI MANUSIA

Setelah kita mengungkap tentang penciptaan, fitrah, dan


karakteristik manusia, telah jelas bahwa manusia adalah
mahluk yang paling sempurna diantara mahluk lainnya.
Manusia diberi kemampuan untuk mengembangkan naluri-
nalurinya, baik yang bersifat biologis maupun yang bersifat
spiritual. Sehingga manusia bisa mengangkat derjatnya dari
mahluk yang lain.

Tuhan menciptakan manusia bukan tanpa rencana, dari segi


hubungannya dengan tuhan, manusia berkedudukan sebagai
hamba (makhluq) dan kedudukan manusia dalam konteks
makhluk tuhan adalah makhluk yang terbaik.
Manusia adalah hamba Allah yang diciptakan untuk
menjalankan rencana Allah SWT. Allah menciptakan manusia
dengan suatu misi agar manusia menyembah dan tunduk pada
hukum-hukum Allah dalam menjalankan kehidupan dimuka
bumi ini, baik yang menyangkut hubungan dengan Allah atau
dengan sesama manusia. Dari misi diatas, dapat dimengerti
bahwa tugas manusia didunia adalah untuk beribadah secara
ikhlas, karena Allah tidak membutuhkan manusia melainkan
manusia yang membutuhkan-Nya.

Jika Allah menciptakan sesuatu, pasti sesuatu tersebut


mempunyai guna/fungsi, tak terkecuali manusia. Manusia
diciptakan Allah adalah sebagai makhluk yang paling sempurna
dimuka bumi, maka secara otomatis manusia adalah pemimpin
(khalifah) yang nantinya akan dimintai pertanggung
jawabannya. Sebagai khalifah berarti manusia adalah wakil
Allah damuka bumi dan bertanggung jawab atas apa yang
dilakukannya di bumi. Jika manusia dapat menjalankan
fungsinya sebagai khalifah, maka kesatuan manusia dan alam
semesta ini dapat terjaga dangan baik.

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari semua uraian yg tertulis pada bab-bab sebelumnya dapat
disimpulkan bahwa:

1. Manusia berbeda dengan binatang karma manusia dapat


mengembangkan naluri-naluri yg dimilikinya berdasarkan kode
etik, dalam hal ini adalah agama.

2. Bahwasanya fitrah hanief, akal, qaib, dan nafsu harus saling


terkait satu sama lain.

3. Manusia berbeda dengan binatang karena manusia


mempunyai beberapa karakteristik, yaitu bentuk yg sempurn,
berilmu, berkehendak, dan akhlaknya dapat dibentuk.

4. Kedudukan manusia adalah sebagai hamba Allah yg


bertugas untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas.

5. Fungsi manusia dimuka bumi adalah sebagai kholifah.

B. SARAN

Berdasarkan uraian-uraian diatas, penulis menyarankan

1. Hendaknya kita sebagai manusia menyadari Fungsi dan


Tugas kita sebagai manusia yg hidup dimuka bumi.

2. Hendaknya pemahaman tentang seluk beluk manusia


dikenalkan sedini mungkin.

Diposkan 27th July 2012 oleh melyme


Fungsi Peranan dan Fungsi Manusia
sebagai Khalifah

Dari sekian banyaknya makhluk ciptaan Allah, hanya ada satu golongan
makhluk ciptaan yang sempurna. Yang mempunyai akal pikiran, akhlak dan pengetahuan,
bahkan lebih mulia dibanding makhluk ciptaan Allah yang lain. Tidak lain dan tidak bukan,
yaitu manusia.
Allah berfirman dalam QS. Al-Isra:70 yang artinya:
Dan sungguh Kami telah muliakan keturunan Adam, dan Kami angkat
mereka di daratan dan di lautan dan Kami beri rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan
mereka dari kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan dengan kelebihan yang
sempurna.

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan kesempurnaan tersebut


Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Pengertian khalifah disini adalah
penguasa atau pengganti Allah yang mengatur segala sesuatu yang terkandung di bumi. Agar
bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umat manusia.
Dalam QS. Al-Baqarah:30 Allah berkata,
Dan ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepaada malaikat, Sesungguhnya
Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi. Mereka berkata,Mengapa Engkau hendak
menjadikan khalifah di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan
menumpahkan darah padanya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan
mensucikan Engkau? Rabb berfirman, Sesungguhnya aku lebih mengetahui yang tidak
kamu ketahui.

Dengan demikian, Allah telah memilih manusia untuk dijadikan khalifah di


muka bumi. Walaupun manusia itu dikenal sebagai perusak yang akan selalu menumpahkan
darah di muka bumi, Dibanding malaikat yang selalu memuji, bertasbih, kepada Allah Sang
Pencipta. Semua ini hanya Allah lah yang tahu, kehendak Allah tak terbatas, meliputi langit,
bumi dan seluruh alam semesta. Selain itu Allah hanya meridhoi bahwa kehalifahan itu
dipegang oleh hamba-Nya yang shalih, yang dapat mengemban tugasnya dengan baik.
Manusia sebagai khalifah di muka bumi, memunyai peranan penting yang
dijalankan samapai akhir zaman ataupun kiamat, dan peranan penting ini pun sebagai bagian
dari fungsi manusia sebagai khalifah, diantaranya :
1. Memakmurkan Bumi (al'imarah)
Berupa pembangunan materi, dengan memanfaatkan kekayaan alam yang
telah disediakan Allah di muka bumi tercinta ini dengan arahan dan syariat yang lurus, yaitu
berdasarkan Al-Quran (hikmah) dan As-Sunah (hadist). Khalifah pun berupaya untuk
menjadikan umatnya atau manusia pada zamannya yang bermoral dan memiliki peradaban
yang baik.
2. Memelihara Bumi (arri'ayah)
Khalifah dalam menjalankan tugasnya harus memilki tujuan yaitu dengan
menciptakan akidah dan akhlakulkarimah. Selain menciptakan juga agar selalu
terpeliharanya akidah dan akhlakulkarimah tersebut. Menjaga bumi dari kerusakan atau
kehancuran alam, baik itu yang disebabkan alam sendiri maupun oleh tangan-tangan jahil
para manusia.
3. Perlindungan
Khalifah memiliki fungsi untuk melindungi bumi dan seisinya, yang
terkandung atas lima pokok kehidupan yaitu, agama (aqidah), jiwa manusia,harta
kekayaan,akal pikiran, dan keturunan (kehormatan). Tugas yang ketiga ini sangat berat
diembannya, dan apabila dapat dilaksanakan, jika seorang khalifah tersebut dapat
menunjukkan suatu kebenaran sebagai kebenaran dan dapat menegakkan di tengah-tengah
kehidupan umat manusia. Serta dapat menunjukkan kepada umat manusia, bahwa kebatilan
adalah kebatilan dan dapat mengajak seluruh umat manusia untuk menumbangkannya
bersama demi mencapai tujuan bersama yang diharapkan.

Selain fungsi khalifah di muka bumi, manusia juga mempunyai tujuan hidup
di bumi sebagai khalifah. Ada 3 hal yang menjadi tujuan penciptaan manusia sebagai kahlifah
di muka bumi, di antaranya:
1. Manusia diciptakan untuk beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla.
Hal ini terdapat dalam QS. Adz-Dzariyat(51):56, artinya, Dan Aku (Allah)
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu.
Berarti, semua kehidupan yang dilakukan oleh manusia itu, dalam rangka peribadahannya
kepada Sang Pencipta, dan juga ketaatannya yang dapat membimbingnya ke surganya Allah.
Karena itulah, jika kita dalam setiap melakukan aktivitas selalu merujuk pada konsep
peribadahan kepada Allah, akan selalu berdasarkan kepada keikhlasan yang menjadi
penyempurna suatu amal perbuatan.

2. Manusia diciptakan untuk mempersembahkan amal-amal terbaik dalam rangka ketaatan


kepada Allah.
Inilah proses penghambaan kepada Allah swt. Seorang hamba dituntut untuk
memberi yang terbaik kepada Sang Khalik. Dalam QS Al Mulk, 67:2, Allah berfirman,
(Dialah Allah) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa yang lebih
baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Jadi, manusia sepatutnya memiliki amal yang sholeh dan berlomba-lomba dalam kebaikan.
3. Manusia diciptakan menjadi khalifah di muka bumi.
Amanah ini diberikan hanya kepada manusia, kekhalifahan ini adalah suatu
amanah yang berat. Menjadi khalifah manusia berkedudukan sebagai wakil Allah, yang
bertugas mengatur atau pun mengelola alam raya sebaik mungkin. Sesuai keinginan Allah
yang memberikan amanah kepada setiap manusia serta yang diwakili.
Dari penjelasan-penjelasan tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa
manusia dituntut untuk mengembangkan potensi yang ada. Menjalankan fungsi dan tujuan
yang diberikan dengan baik. Dan hal itu merupakan amanah yang tidak bisa dikatakan mudah
untuk dijalaninya. Mengajak kepada setiap umat tertuju pada satu dzat, yaitu Allah swt, yang
senantiasa memberikan perlindungan-Nya kepada setiap hamba yang selalu patuh pada
perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan berpedoman pada Al Quran dan As
Sunah, serta menegakkan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga kita menjadi khalifah yang baik di sisi-Nya. Amin.......

Diposkan oleh mutiara khoirunnisa di 03.44


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest