Anda di halaman 1dari 5

Tanaman Jahe

Jahe (Zingiber officinale Rosc.) merupakan rempah-rempah Indonesia yang sangat


penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam bidang kesehatan. Jahe merupakan
tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu dan termasuk dalam suku temu-
temuan (Zingiberaceae). Jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai
Cina. (Paimin, 2008).
Tanaman jahe termasuk keluarga Zingiberaceae yaitu suatu tanaman rumput -
rumputan tegak dengan ketinggian 30 -75 cm, berdaun sempit memanjang menyerupai pita,
dengan panjang 15 23 cm, lebar lebih kurang dua koma lima sentimeter, tersusun teratur
dua baris berseling, berwarna hijau bunganya kuning kehijauan dengan bibir bunga ungu
gelap berbintik-bintik putih kekuningan dan kepala sarinya berwarna ungu. Akarnya yang
bercabang-cabang dan berbau harum, berwarna kuning atau jingga dan berserat (Paimin,
2008 ; Rukmana 2000).
Sistematika Tanaman Rimpang Jahe :
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Musales
Family : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Spesies : officinale
Berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpang, jahe dibedakan menjadi tiga jenis
yaitu :
1. Jahe putih/kuning besar disebut juga jahe gajah atau jahe badak.
Ditandai ukuran rimpangnya besar dan gemuk, warna kuning muda atau kuning,
berserat halus dan sedikit. Beraroma tapi berasa kurang tajam. Dikonsumsi baik saat
berumur muda maupun tua, baik sebagai jahe segar maupun olahan. Pada
umumnya dimanfaatkan sebagai bahan baku makanan dan minuman.
1. Jahe kuning kecil disebut juga jahe sunti atau jahe emprit.
Jahe ini ditandai ukuran rimpangnya termasuk katagori sedang, dengan bentuk agak
pipih, berwarna putih, berserat lembut, dan beraroma serta berasa tajam. Jahe ini
selalu dipanen setelah umur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari jahe
gajah, sehingga rasanya lebih pedas. Jahe ini cocok untuk ramuan obat- obatan,
atau diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya.
2. Jahe merah ditandai dengan ukuran rimpang yang kecil, berwarna merah jingga,
berserat kasar, beraroma serta berasa tajam (pedas). Dipanen setelah tua dan
memiliki minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil sehingga jahe merah pada
umumnya dimanfaatkan sebagai bahan baku obat-obatan.
Kandungan Kimia. Rimpang jahe mengandung 2 komponen, yaitu:
1. Volatile oil (minyak menguap)
Biasa disebut minyak atsiri merupakan komponen pemberi aroma yang khas
pada jahe, umumnya larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air. Minyak
atsiri merupakan salah satu dari dua komponen utama minyak jahe. Jahe kering
mengandung minyak atsiri 1-3%, sedangkan jahe segar yang tidak dikuliti
kandungan minyak atsiri lebih banyak dari jahe kering. Bagian tepi dari umbi atau di
bawah kulit pada jaringan epidermis jahe mengandung lebih banyak minyak atsiri
dari bagian tengah demikian pula dengan baunya. Kandungan minyak atsiri juga
ditentukan umur panen dan jenis jahe. Pada umur panen muda, kandungan minyak
atsirinya tinggi. Sedangkan pada umur tua, kandungannyapun makin menyusut
walau baunya semakin menyengat.
2. Non-volatile oil (minyak tidak menguap)
Biasa disebut oleoresin salah satu senyawa kandungan jahe yang sering
diambil, dan komponen pemberi rasa pedas dan pahit. Sifat pedas tergantung dari
umur panen, semakin tua umurnya semakin terasa pedas dan pahit. Oleoresin
merupakan minyak berwarna coklat tua dan mengandung minyak atsiri 15-35% yang
diekstraksi dari bubuk jahe. Kandungan oleoresin dapat menentukan jenis jahe. Jahe
rasa pedasnya tinggi, seperti jahe emprit, mengandung oleoresin yang tinggi dan
jenis jahe badak rasa pedas kurang karena kandungan oleoresin sedikit. Jenis
pelarut yang digunakan, pengulitan serta proses pengeringan dengan sinar matahari
atau dengan mesin mempengaruhi terhadap banyaknya oleoresin yang dihasilkan.
Table 1. Komponen Volatil dan Non-volatil Rimpang Jahe
Kandungan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman jahe terutama
golongan flavonoida, fenolik, terpenoida, dan minyak atsiri (Benjelalai, 1984). Senyawa fenol
jahe merupakan bagian dari komponen oleoresin, yang berpengaruh dalam sifat pedas jahe
(Kesumaningati, 2009), sedangkan senyawa terpenoida adalah merupakan komponen-
komponen tumbuhan yang mempunyai bau, dapat diisolasi dari bahan nabati dengan
penyulingan minyak atsiri. Monoterpenoid merupakan biosintesa senyawa terpenoida,
disebut juga senyawa essence dan memiliki bau spesifik. Senyawa monoterpenoid banyak
dimanfaatkan sebagai antiseptik, ekspektoran, spasmolitik, sedative, dan bahan pemberi
aroma makanan dan parfum. Menurut Nursal, 2006 senyawa-senyawa metabolit sekunder
golongan fenolik, flavanoiada, terpenoida dan minyak atsiri yang terdapat pada ekstrak jahe
diduga merupakan golongan senyawa bioaktif yang dapat menghambat pertumbuhan
bakeri.
Antioksidan Pada Jahe. Menurut Kusumaningati RW (2009) kemampuan jahe
sebagai antioksidan alami tidak terlepas dari kadar komponen fenolik total yang terkandung
di dalamnya, dimana jahe memiliki kadar fenol total yang tinggi dibandingkan kadar fenol
yang terdapat dalam tomat dan mengkudu. Gingerol dan shogaol telah diidentifikasi sebagai
komponen antioksidan fenolik jahe. Rimpang jahe juga bersifat nefroprotektif terhadap
mencit yang diinduksi oleh gentamisin, dimana gentamisin meningkatkan Reactive Oxygen
Species (ROS) dan jahe yang mengandung flavanoida dapat menormalkan kadar serum
kreatinin, urea dan asam urat (Laksmi B.V.s ., Sudhakar M, 2010).
Farmakokinetik Jahe. Menurut Zick SM, et al ., 2008. Pada manusia konjugat jahe
mulai muncul 30 menit setelah pemberian melalui oral, dan mencapai Tmax antara 45 -120
menit, dengan t eliminasi 75 120 menit pada dosis dua gram. Pada uji ini tidak ada efek
samping dilaporkan setelah menggunakan 2 g ekstrak jahe.

Kelebihan dan kekurangan jurnal


Beberapa kelebihan dan keurangan dalam jurnal antara lain:
Kelebihan:
1. pada kelompok intervensi sudah dijelaskan dengan rinci tentang prosedur perlakuan
sehingga peneliti mudah dalam mengaplikasikannya pada responden. Peneliti sudah
menjelaskan dengan spesifik tentang jahe yang digunakan, takaran wejdang jahe
dan berapa lama kelompok intervensi akan mengkonsumsi wedang jahe.
2. Berdasarkan hasil yang didapat dari jurnal ini, wedang jahe dapat digunaan sebagai
salah satu alternatif untuk mengurangi mual-muntah pada ibu hamil trimester I
karena terbukti efektif dalam menurunkan mual muntah dan mudah diaplikasikan
oleh semua orang.
Kekurangan:
1. Dalam jurnal ini peneliti tidak menjelaskan tentang faktor inklusi dan eksklusi
responden, seperti apakah responden memiliki penyakit hepatitis atau
gastrointestinal yang dapat memicu mual muntah, apakah responden saat ini sedang
mengkonsumsi obat antiemesis atau data terkait bagaimana managemen mual
muntah yang sudah dilakukan responden sebelumnya.
2. Dalam penelitian ini hanya dijelaskan tentang minuman gula sebagai salah satu
metode untuk mengurangi efek samping mual muntah pada ibu hamil, namun tidak
ada penjelasan terkait pengaruh minum air gula terhadap emesis ibu hamil trimester
1. Selain itu juga tidak dijelaskan secara spesifik berapa takaran dan frekuensi
minuman air gula yang diberikan.
3. Pada penelitian ini tidak dijelaskan apakah minuman wedang jahe yang diberikan
memberikan efek samping tertentu atau tidak
Pembahasan perbandingan dengan jurnal lain
N Jurnal Tahun Design Metode Penelitian Hasil
o (Penulis) Penelitian
Comparison of the 2007 Randomized 126 wanita dengan usia kehamilan 16 Jahe dan vit b6 dapat menurunkan
Effectiveness of Ginger double-blind minggu yang mengalami mual dan frekuensi mual muntah dengan efek
and Vitamin B6 controlled trial. muntah, membutuhkan antiemesis, tidak samping minor seperti desasi,
for Treatment of Nausea ada komlikasi medis dan sedang tidak heartburn dan aritmia. Namun jahe
and Vomiting in Early MRS karena hiperemesis dibagi menjadi 2 lebih efektif daripada vit B6. Efek
Pregnancy: kelompok dengan 1 kelompok diberikan samping dari jahe dilaporkan lebih
A Randomized Double- 650 mg ekstract jahe dan 1 elompok sedikit dan tidak membutuhkan
Blind Controlled Trial diberikan 75 mg vit B6 yang diberikan 3x penanganan apapun.
(Porndee C.; Kasem K.; sehari selama 4 hari penelitian.
Bussaba W.) Derajat mual muntah dikaji dnegan
menggunakan Three Physical Symptomps
of Rhodes Score. Nilai didapatkan
sebelum dilakukan intervensi dan setelah
diberikan intervensi.
Efektifitas Jahe Untuk 2013 One group Peneliti menggunakan 1 kelompok berisi Pemberian jahe memberikan
Menurunkan Mual pretest- 32 responden yang diidentifikasi dengan perbedaan yang signifikan terkait
Muntah Pada Kehamilan posttest pra- kriteria ibu hami trimester 1 yang penurunan frekuensi mual-muntah
Trimester I Di eksperiment mengalami mual dan muntag <10x/hari pada responden sebelum dan
Puskesmas Dolok dan tidak mengkonsumsi obat antiemesis. setelah intervensi.
Masihul Kec. Dolok Responden diberikan jjahe 2x sehari
Masihul Kab. Serdang sebanya 250 mg pada pagi dan malam
Bedagai hari.
(Rahmi Fitria)
Efektifitas Konsumsi 2013 Quasi Sample dalam penelitian ini adalah 36 ibu
Ekstrak Jahe Dengan Eksperiment hamil dengan uk <20 minggu
Frekuensi Mual Muntah
Pada Ibu Hamil Di
Wilayah Kerja
Puskesmas Ungaran
Tahun 2013