Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sesuai dengan pasal Pasal 28B ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945
Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang
sah. Di dalam konstitusi sudah dinyatakan secara tegas dan jelas bahwa hak membentuk keluarga
dan melanjutkan keturunan harus melalui perkawinan yang sah. Hal tersebut merupakan limitasi
terhadap hak untuk membentuk keluarga dan melanjutkan keturununan yang ada di dalam
konstitusi. Dari pasal 28 B ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 tersebut
pemerintah akhirnya membuat undang- undang sebagai bentuk pengaturan lebih lanjut tentang
perkawinan yang sah di Indonesia. Di dalam undang- undang perkawinan dinyatakan perkawinan
yang sah adalah perkawinan yang sesuai dengan agama dan kepercayaan. Implikasinya
pemerintah hanya wajib mengakui dengan cara melakukan pencatatan dan melindungi
perkawinan- perkawinan yang sah menurut agama dan hukum selebihnya pemerintah tidak
memiliki kewajiban untuk mengakui dan melindungi perkawinan dari setiap warga negara yang
tidak sesuai dengan konstitusi. Perkawinan memang erat hubungannya dengan agama karena
syarat sah perkawinan diatur di masing- masing agama. Sehingga yang menentukan sah atau
tidaknya perkawinan adalah hukum agama masing- masing yang dianutnya selanjutnya apabila
perkawinannya sah menurut agama maka pemerintah wajib untuk mencatat.
Namun saat ini telah marak perkawinan beda agama di Indonesia dan apabila di analisa
perkawinan beda agama tidak sesuai dengan pasal 28 B ayat (1) UUD Negara Republik
Indonesia tahun 1945. Maraknya kasus Perkawinan Beda Agama yang terjadi di Indonesia
khususnya sebagian masyarakat, membuat berbagai pemasalahan yang timbul di berbagai aspek
dalam kehidupan yaitu aspek agama, aspek sosial,danaspek budaya. Dari segi aspek budaya
menjadi pemicu utama dalam peningkatan perkawinanbeda agama, dikarenakan budayabarat
yang perlahanmasukmengikisbudayatimur yang masihkentaldenganmasyarakat yang
beragama.Budaya barat tersebut masuk ke Indonesia melalui gaya hidup selebriti yang
mengadopsi beberapa kehidupan selebriti dari luar negeri yang mudah terekspos oleh media
sehingga hal tersebut juga memicu masyarakat untuk melakukan perkawinan beda agama untuk
mengikuti jejak gaya hidup orang yang mereka idolakan.
Seperti Australia dan Hongkong yang melegalkan perkawinan beda agama. Misalnya di
Australia tempat dimana perkawinan bagi pasangan beda agama yang sering dilakukan,biasanya
hanya dilakukan di depan hakim atau di kantor catatan sipil, tanpa adanya upacara pemberkatan
di gereja atau upacara di masjid atau lembaga agama lainnya.
(http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5429826fd7667/australia--surga-perkawinan-beda-
agama-pasangan-indonesia) . Padahal sudah jelas misalnya untuk agama Islam dan Kristen
terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi menurut hukum agamanya agar perkawinannya
sah.Ketentuan tersebut berlaku secara universal di negara manapun. Hal itu menjadi bukti bahwa
di Australia tidak mendasarkan nilai- nilai agama di dalam kehidupan bernegara. Kasus tersebut
menjadi bukti mengapa perkawinan beda agama di luar negeri tidak dapat dicatatkan di
Indonesia, karena tidak sesuai dengan bunyi pasal 2 ayat (1) undang- undang nomor 1 tahun
1974 dan juga tidak sesuai dengan prinsip negara Indonesia yang berlandaskan pancasila dimana
prinsip ketuhanan diatur didalamnya.

Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang memandang bahwa perkawinan beda agama
boleh dilakukan sama hal nya dengan beberapa negara lain di dunia. Meskipun di Indonesia
perkawinan masuk di dalam bidang hukum hukum privat yang tidak seharusnya diatur oleh
pemerintah, namun yang perlu diingat adalah Indonesia merupakan salah satu negara yang yang
masih memegang teguh nilai- nilai agama. Prinsip ketuhanan menjadi landasan dalam setiap
sendi sendi kehidupan. Oleh karenanya negara bertujuan untuk mewujudkan dasar negara yang
terkandung di dalam konstitusi tersebut. Dasar negara menjadi arah dan penuntun dalam
mengambil langkah atau tindakan bagi negara maupun masyarakat. Sehingga memang Indonesia
tidak dapat mencatatkan perkawinan beda agama karena prinsip ketuhanan yang ada di dalam
dasar negara masih dijaga dan dipegang teguh oleh seluruh masyarakat Indonesia. Salah satu
upaya yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan membuat revisi undang- undang
perkawinan yang mengatur tentang pencatatan perkawinan yang masuk di dalam bidang hukum
publik. Pemerintah memiliki hak untuk mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan
kepentingan umum termasuk pencatatan perkawinan. Sehingga salah satu alasan mengapa
pemerintah perlu melakukan pengaturan terkait dengan pencatatan perkawinan karena
perkawinan beda agama tidak sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia yang berketuhanan
dan untuk melindungi kemurnian nilai- nilai dari seluruh agama yang diakui di Indonesia.
Bahkan atas dorongan rasa cinta yang besar terhadap pasangannya sehingga membuat
calon pasangan tersebut melakukan berbagai hal termasuk diataranya adalah memalsukan
identitas, membayar petugas pencatat untuk dapat mencatatkan perkawinan yang tidak sah
maupun tindakan pembiaran dari keluarga yang berpura- pura tidak mengetauhi bahwa
kerabatnya telah melakukan perkawinan beda agama. Hal tersebut diatas sudah merupakan
perbuatan yang bertentangan dengan norma norma yang berlaku di masyarakat.
Dari aspek sosial permasalahan perkawinan beda agama memang menjadi perdebatan
diantara masyarakat. Perkawinan beda agama di pandang sebagai sesuatu yang tabu sehingga
tidak patut untuk dilakukan oleh sebagian besar masyarakat. Masyarakat Indonesia yang masih
berpegang pada budaya timur menyebabkan masyarakatnya memegang teguh nilai-nilai religi
dalam kehidupannya.Agama melandasi semua tindakan masyarakat Indonesia sebagai
masyarakat ketimuran. Termasuk dalam membangun sebuah perkawinan, masyarakat percaya
bahwa agama menjadi landasan dalam pelaksanaannya. Apabila terjadi perbedaan agama, maka
terdapat adanya perbedaan landasan yang akan sulit untuk disatukan. Banyaknya perbedaan
dasar dapat memicu perbedaan-perbedaan lainnya selanjutnya.

1.2 Identifikasi Masalah


Dengan demikian identifikasi masalah berkaitan dengan penyebarluasan unsur-
unsur perkawinanbeda agama di Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana permasalahan perkawinan beda agama di Indonesia dapat diatasi ?
Mengapa perlu rancangan undang- undang sebagai dasar pemecahan masalah
tersebut ?
2. Apa yang menjadi pertimbangan atau landasan filosofis, sosiologis, yuridis dalam
pembentukan rancangan revisi undang- undang tentang perkawinan ?
3. Apa sasaran yang akan diwujudkan, ruang lingkup pengaturan, jangkauan dan arah
pengaturan dari rancangan revisi undang- undang perkawinan ?

1.3 Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah Akademik


Naskah akademik merupakan suatu proses pembentukan dalam perundang-
undangan yang memuat gagasan-gagasan tentang fakta-fakta dalam suatu permasalahan
maupun hal yang perlu diatur dalam masyarakat yang dilakukan melalui pendekatan, luas
ruang lingkup dan materi muatan suatu peraturan perundang-undangan. Dalam naskah
akademik inilah akan dimuat revisi suatu peraturan perundang-undangan mengenai
perkwinan agama yang telah diatur sebelumnya di dalam Undang-undang nomor 1 tahun
1974 yang revisi nya didasarkan atas landasan-landasan filosofis,sosiologis dan yuridis
serta kondisi masyarakat yang mendukung perlunya revisi atas peraturan perundang-
undangan terdahulu yang telah mengatur mengenai perkawinan.
Sesuai dengan ruang lingkup identifikasi masalah, penyusunan naskah akademik
revisi UU nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang bertujuan untuk menjadikan
sebuah pedoman bagi masyarakat dalam melakukan perkawinandengan kata lain terdapat
batasan-batasan terhadap kegiatan yang dilakukan, jika melanggar batasan-batasan
tersebut maka jelas akan menerima sanksi.

Naskah akademik berguna untuk memberikan gambaran terkait dengan kondisi


dan permasalahan yang sedang dihadapi sehingga nantinya aturan hukum yang dibuat
dapat dilaksanakan dengan efektif sehinggaa permasalahan yang sedang dihadapi dapat
menemui kepastian hukum dan solusinya.

1.4 Metode Penelitian


Metode yuridis normatif adalah metode melalui studi pustaka yang menelaah
(terutama) data sekunder yang berupa Pertaturan Perundang-undangan, putusan
pengadilan, hasil pengkajian,dan referensi lainnya. Metode yuridis normatif dapatberupa
diskusi dengan teman satu kelompok (focus group discussion) untuk mendengarkan
pendapat masing- masing anggota diskusi terkait dengan perkawinan beda agama .
Metode yuridis empiris atau sosiolegal adalah metode penelitian yang diawali
dengan menelaah terhadap Peraturan Perundang-undangan (normatif) yang dilanjutkan
dengan observasi yang mendalam.
Metode roccipi juga digunakan untuk merumuskan naskah akademik ini agar
nantinya rancangan undang- undang yang akan dibuat tepat sesuai dengan perilaku
bermasalah yang dihadapi oleh masyarakat sehingga rancangan revisi undang- undang
perkawinan tersebut dapat dijalankan dan memberikan kepastian terhadap tindakan
pemerintah dalam mencatatkan perkawinan beda agama di Indonesia. Di dalam metode
roccipi ini kami akan memilih beberapa rule occupant sebagai subjek dari rancangan
revisi undang- undang perkawinan dan nantinya perilaku bermasalahnya akan di analisa
menggunakan metode roccipi.
SecarasistematispenyusunanNaskahAkademikiniakankami
lakukanmelaluitahapan-tahapansebagaiberikut :
1. Pengamatan melihat fakta-fakta baik melalui media cetak maupun elektronik tentang
Perkawinan Beda Agama.
2. Pengumpulan data dan bahan hukum yang berhubungan isu maraknya perkawinan
beda agama di masyarakat

3. Mencari identifikasi masalah utama yang ditimbulkan dengan menggunakan metode


roccipi
4. Berdiskusidanmenganalisahal-hal yang menjadipokokpenelitian.
5. Tahap yang terakhiradalahmerancang data-data yang sudahterkumpul, menganalisa,
danmenuliskankedalamNaskahAkademikini.

BAB II
Kajian Teoritis dan Praktek Empiris

1 Kajian Teoritis
a Fungsi Negara Terkait dengan HAM
Pada pasal 1 angka 1 Undang- Undang nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia,
hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia
sebagai makhluk tuhan yang maha esa dan merupakan anugerahnya yang wajib dihormati,
dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi
kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Berdasarkan definisi HAM itu lah
yang menjadi dasar bagi pemerintah untuk membuat suatu kebijakan dan tindakan sebagai upaya
pemerintah dalam melindungi, menghormati dan menjunjung tinggi HAM. Dengan adanya
kewajiban bagi pemerintah tersebut, keberadaan HAM tidak akan direndahkan dan memperkuat
HAM sebagai sesuatu yang esensial oleh individu yang lain. Indonesia merupakan negara
hukum, adapun ciri- ciri negara hukum adalah sebagai berikut:

1 Adanya Undang undang Dasar atau konstitusi yang memuat ketentuan tertulis tentang
hubungan antara penguasa dan rakyat;
2 Adanya pembagian kekuasaan Negara
3 Diakui dan dilindunginya hak hak kebebasan rakyat
Yang menjadi ide sentral dari adanya negara hukum adalah adanya pengakuan dan perlindungan
hak asasi manusia yang bertumpu pada prinsip kebebasan dan persamaan yang dituangkan di
dalam konstitusi. Sehingga adanya Undang- Undang Dasar secara teoritis memberikan jaminan
konstitusional atas kebebasan dan persamaan tersebut.
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37783/4/Chapter%20II.pdf diakses tanggal 14
desember) . Terbukti di dalam konstitusi negara Republik Indonesia pada pasal 28 I terdapat
pengaturan tentang Hak Asasi Manusia sebagai bentuk perlindungan terhadap hak asasi manusia
yang diberikan oleh pemerintah terhadap warga negaranya. Sehingga fungsi negara terkait
dengan HAM dalam negara hukum adalah memberikan perlindungan dan pengakuan.
Pemerintah membuat suatu regulasi yang mengatur tentang pencatatan perkawinan
beda agama yang merupakan bentuk perlindungan terhadap hak asasi manusia. Sedangkan untuk
fungsi pengakuan negara harus mengakui dan menjunjung tinggi setiap hak asasi manusia yang
dimiliki oleh masing- masing individu nya. Menurut flowers (2000) dan Ravindran (1998) ada
beberapa prinsip tentang Hak Asasi Manusia, diantaranya adalah adanya prinsip responsibilty di
dalam HAM yaitu suatu prinsip yang menegaskan perlunya mengambil langkah/ tindakan
tertentu untuk menghormati, melindungi dan memenuhi hak- hak asasi manusia serta
menekankan peran negara sebagai bagian dari organ politik kekuasaan yang harus memberikan
perlindungan terhadap warga negaranya (jurnal ilmu hukum yuridika vol. 20 no 1 januari 2005
ditulis oleh Herlambang Perdana diakses dari
https://herlambangperdana.files.wordpress.com/2008/06/herlambang-konstitutionalisme-dan-
tanggung-jawab-negara2.pdf pada tanggal 14 desember . Hal tersebut dijadikan pijakan oleh
pemerintah bahwa pemerintah sebagai organ politik perlu mengambil suatu tindakan untuk
mengatur pencatatan perkawinan beda agama untuk menghormati hak asasi manusia dalam
beragama dan menegakkan agamanya.

Setiap orang memiliki Hak Berkeluarga dan Melanjutkan Keturunan sebagaimana diatur
pada pasal 10 ayat (1) dan ayat (2) Undang- Undang nomor 39 tahun 1999 artinya bahwa setiap
orang berhak untuk memilih siapa pasangannya, melaksanakan perkawinan dengan adat tertentu
dan di suatu tempat tertentu untuk berkeluarga dan melanjutkan keturunan, namun negara tidak
dapat mencatatkan setiap perkawinan dari warga negara yang dilakukan dengan agama dan
keyakinan yang berbeda karena negara juga harus mengakui dan melindungi hak beragama dari
warga negara yang lain. Dimana perkawinan memang berhubungan dengan agama seseorang dan
setiap orang berhak untuk memilih agama, melaksanakan perintah agamanya tersebut, beribadah
sesuai dengan keyakinan agama dan juga menegakkan hukum agama yang dianutnya. Bahwa hal
tersebut sesuai dengan prinsip interdependesi yaitu dimana setiap hak-hak yang dimiliki setiap
orang itu tergantung dengan hak-hak asasi manusia lainnya dalam ruang atau lingkungan
manapun. https://herlambangperdana.files.wordpress.com/2008/06/herlambang-
konstitutionalisme-dan-tanggung-jawab-negara2.pdf. Dalam hal perkawinan beda agama,
maksudnya adalah tidak ada satupun agama yang memperbolehkan melakukan perkawinan beda
agama sehingga apabila terdapat izin untuk melakukan perkawinan beda agama maka hal itu
sama dengan mencederai agama yang dianutnya. Peran pemerintah dalam hal ini harus
memberikan perlindungan bagi tiap tiap warga negaranya terhadap hak asasi manusia dalam
beragama seperti yang diatur pada pasal 29 ayat (2) UUD NRI 1945. Termasuk pula menjamin
bahwa tidak ada satu orangpun yang berhak untuk mencederai agama yang dipercayainya agar
hukum agama dapat ditegakkan.

b. Pada dasarnya hukum perkawinan merupakan bidang hukum privat karena di dalam
hukum perkawinan mengatur tentang hubungan antara individu dengan individu dengan menitik
beratkan pada hubungan perorangan . (web.unair.ac.id/admin/file/f_20025_a7.ppt tanggal 14
desember ) tetapi Hukum perkawinan juga termasuk di dalam aspek hukum administrasi
sehingga negara memiliki kewenangan untuk mengatur.

Hukum administrasi adalah hukum yang berhubungan dengan fungsi pemerintahan yaitu
fungsi penguasa yang tidak termasuk dalam fungsi pembentukan undang- undang dan kekuasaan
peradilan, sehingga pemerintah berwenang untuk membuat keputusan yang bersifat konkrit dan
juga berwenang untuk membuat keputusan yang berupa pengaturan umum. (pengantar hukum
aministrasi indonesia hal 3- 4 , philipus M hadjon ). Hukum administrasi negara termasuk di
dalam hukum publik yang mengatur tentang hubungan antara negara dengan warga negara.
Sehingga segala hal yang berhubungan dengan kepentingan publik harus diatur oleh negara.
Aspek publik dalam perkawinan adalah pencatatan perkawinan. Pencatatan perkawinan
merupukan bagian dari hukum administrasi karena pemerintah akan mengeluarkan suatu
keputusan tata usaha negara yang berupa akta perkawinan. Akta perkawinan merupakan
keputusan tata usaha negara karena akta perkawinan bersifat konkrit, individual dan final. Hal
tersebut sesuai dengan pasal 1 angka 3 undang- undang nomor 5 tahun 1986 tentang peradilan
tata usaha negara yang menyatakan bahwa keputusan tata usaha negara adalah suatu
penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh badan/ pejabat tata usaha negara yng berisi tindakan
hukum tata usaha negara yang berdasarkaan pearturan perundang- undangan yang berlaku
yang bersifat konkret, individual dan final yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau
badan hukum perdata

Disisi lain dari pencatatan perkawinan akan menimbulkan hak dan kewajiban antara negara
dengan individu seperti memberikan keabsahan hukum untuk ikatan perkawinan antara suami
dan istri sehingga dengan adanya pencatatan perkawinan, negara wajib mengakui keabsahannya.
Oleh karena dengan adanya pencatatan perkawinan akan menimbulkan hubungan hukum antara
negara dengan individu sehingga pencatatan perkawinan termasuk di dalam bidang hukum
publik.

2 Kajian terhadap asas/ prinsip yang terkait dengan penyusunan norma


a Prinsip ketuhanan
Pancasila merupakan dasar negara republik Indonesia yang tercantum di dalam pembukaan
undang- undang dasar, sebagai staatsidee, cita negara sekaligus sebagai cita hukum atau
rechtsidee. (https://lppkb.wordpress.com/2011/06/22/empat-pilar-kehidupan-berbangsa-dan-
bernegara/). Cita hukum memiliki fungsi konstitutif dan regulatif terhadap kehidupan
berbangsa dan bernegara. Sebagai dasar negara, nilai nilai yang terkandung di dalam pancasila
selalu menjadi landasan dan menjiwai setiap sendi- sendi kehidupan. Di dalam pancasila sila
pertama dirumuskan tentang nilai ketuhanan. Arti dari prinsip ketuhanan adalah mengakui
adanya tuhan yang menciptakan seluruh alam semesta yang kemudian diimani oleh masing-
masing individu. Sehingga salah satu bentuk implementasi dari prinsip ketuhanan dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara tersebut adalah diakuinya 5 agama di Indonesia. Setiap
individu pasti mengimani 1 dari kelima agama yang telah diakui sehingga apabila individu
tersebut telah mengimani 1 agama maka tugas dari individu tersebut adalah menjaga
keimanannya dengan cara melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi larangan tuhan

Beranjak dari prinsip ketuhanan pada dasarnya memang tidak ada satupun agama yang
mengatur atau memperbolehkan menikah dengan pasangan dengan agama yang berbeda
sehingga aturan tentang perkawinan beda agama harus dibuat oleh pemerintah untuk
mempertegass hukum agama dalam hal melaksanakan perintah tuhan dan menjadi bukti bahwa
prinsip ketuhanan juga melandasi pembentukan norma. Sesuai dengan fungsi konstitutif pada
pancasila, segala peraturan perundang-undangan harus merupakan derivasi dari prinsip dan nilai
yang terkandung dalam Pancasila. Segala peraturan perundangan-undangan yang tidak sesuai
apalagi bertentangan dengan Pancasila, batal demi hukum. Adanya rumusan norma yang
mengatur tentang perkawinan beda agama memang telah sesuai dengan prinsip ketuhanan dan
berlandaskan pancasila. Meskipun negara Indonesia bukan merupakan negara agama namun
agama menjadi landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang terwujud dalam prinsip
ketuhanan yang maha esa.

b Prinsip persamaan hak


Prinsip persamaan hak menjadi salah satu prinsip di dalam HAM menurut Flowers, prinsip
ini memang sangat dekat dengan prinsip non diskriminasi. Konsep persamaan hak menegaskan
pemahaman tentang penghormatan untuk martabat yang melekat pada setiap manusia. Hal ini
dijelaskan dalam pasal 1 DUHAM 1948, sebagai prinsip hak asasi manusia: Setiap orang
dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat serta hak-hak yang sama. Konsekuensi
pemenuhan persamaan hak- hak juga menyangkut kebutuhan dasar seseorang tidak boleh
dikecualikan. Persamaan, merupakan hak yang dimiliki setiap orang dengan kewajiban yang
sama pula antara yang satu dengan yang lain untuk menghormatinya.
(https://herlambangperdana.files.wordpress.com/2008/06/herlambang-konstitutionalisme-dan-
tanggung-jawab-negara2.pdf diakses pada tanggal 15 desember 2015).

Berdasarkan prinsip persamaan hak tersebut, memang setiap individu yang lahir memiliki
hak dan martabat yang sama termasuk juga hak untuk melanjutkan keturunan dengan siapapun
bahkan melanjutkan keturunan dengan pasangan yang tidak seagama berdasarkan pada prinsip
tersebut. Namun hak melanjutkan keturunan dengan agama yang berbeda tidak dapat dipenuhi
oleh pemerintah Indonesia bukan merupakan suatu bentuk diskrimasi, melainkan karena ada hak
beragama yang juga dihormati sesuai dengan prinsip ini. Pada pasal 29 ayat (2) UUD NRI 1945
dengan jelas menyatakan tugas pemerintah adalah menjamin kemerdekaan penduduk untuk
memeluk agama dan kepercayaan hal tersebut yang menjadi batasan karena adanya kewajiban
bagi pemerintah untuk menghormati hak beragama setiap individu.

Prinsip keseimbangan hak akan terwujud apabila pemerintah tetap mengakui hak untuk
melanjutkan keturunan yang sesuai dengan hukum agama sebagai bentuk perwujudan
menghormati hak beragama masing- masing individu

3 Kajian terhadap praktik penyelenggaraan, kondisi yang ada serta permasalahan yang
dihadapi masyarakat.
Ada 4 cara umum yang dilakukan oleh masyarakat agar dapat melakukan perkawinan
beda agama, diantaranya adalah :
1. Meminta penetapan pengadilan
2. Pernikahan dilakukan menurut masing- masing agama
3. Penundukan pada salah satu hukum agama
4. Menikah di luar negeri. (menurut wahyono darmabrata dalam )
Berdasarkan hasil yang diperoleh melalui beberapa sumber dari media massa dan
internet, dan hasil penelitian tentang perkawinan beda agama, memang saat ini
banyak masyarakat yang melakukan perkawinan beda agama dengan cara cara
tersebut diatas dengan harapan dapat dicatatkan di Indonesia. Berikut ini adalah
data beberapa nama publik figur yang melakukan perkawinan beda agama

Lydia Kandou dan Jamal Mirdad Pada tahun 1986 melalui penetapan
pengadilan
Cornelia Agatha dan Sony Lalwani Pada tahun 2006 di Hongkong
Frans Mohede dan Amara Pada tahun 1 desember 1999 di
Hongkong
Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale Pada tahun 2003 di Perth- Australia
Irfan Bachdim dan Jennifer Pada tahun 2011 di Belanda
Kurniawan
Aqi Alexa dan Audrey Meirina Pada tahun 2012 secara Islam
Deddy Corbuzier dan Kalina Pada tahun 2005, menikah secara
islam padahal deddy corbuzier
memeluk agama katolik

Sejumlah nama nama tersebut memberikan bukti kepada kita bahwa perkawinan beda
agama masih terjadi di Indonesia, kehidupan pribadi mereka yang mudah diketahui oleh
masyarakat dan sengaja di publikasikan serta tidak sedikit pula gaya hidup dan perilaku para artis
juga dijadikan panutan karena popularitas. Sehingga perkawinan beda agama yang mereka
lakukan juga memberikan pengaruh terhadap masyarakat untuk melakukan hal yang sama dan
memperkuat anggapan bahwa perkawinan beda agama tidak dilarang.

Misalnya dalam perkawinan beda agama yang dilakukan melalui penetapaan pengadilan
oleh Lydia Kandou yang memeluk agama kristen dan Jamal Mirdad sebagai seorang
muslim. Pada tahun 1986 keduanya melangsungkan perkawinan, namun pada dasarnya
sesuai dengan aturan hukum perkawinan mereka tidak dapat disahkan karena hukum
agama mereka saling bertentangan sehingga legalitasnya tidak dapat diakui. Mereka
berjuang mati- matian untuk mendapatkan legalitas perkawinannya tersebut melalui
putusan pengadilan negeri. Hingga akhirnya hakim Endang Sri Kawuryan mengizinkan
mereka menikah. Dengan izin itu, pada 30 Juni 1986, Jamal dan Lydia resmi menikah dan diakui
(http://www.kompasiana.com/subari/jamal-lydia-berebut-agama_54ff3d29a33311d34a50f9d8)

Dari perkawinan tersebut memang bertentangan dengan pasal 40 KHI yang mana
perkawinan dilarang dilangsungkan antara seorang pria dengan seorang wanita yang tidak
beragama islam pasal tersebut juga menguatkan bahwa pada pasal 2 ayat (1) Undang- Undang
nomor 1 tahun 1974 bahwa perkawinan adalah sah jika dilakukan menurut hukum masing-
masing agama dan kepercayaannya. Ketentuan larangan perkawinan beda agama juga terdapat
pada Ayat surah al-Baqarah : 221 : Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik
(dengan wanita-wanita mumin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mumin
lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka
sedangkan Allah mengajak ke sorga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan pada agama kristen
perkawinan beda agama adalah dilarang, hal ini sesuai dengan (II Korintus 6: 14-18) Sehingga
apabila di dalam islam sudah secara tegas dilarang melakukan perkawinan dengan seorang
wanita yang tidak beragama islam maka perkawinan tersebut tidak menjadi sah. Meskipun
perkawinan Jamal Mirdad dan Lidya Kandou diizinkan melalui putusan pengadilan namun
apabila aturan hukumnya menyatakkan dilarang, maka putusan pengadilan pun bertentangan
dengan aturan hukum. Sehingga dapat disimpulkan bahwa cara penetapan pengadilan juga tidak
boleh digunakan untuk melegalkan perkawinan beda agama dengan alasan apapun.

Pada kasus perkawinan Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale yang dilakukan di Perth-
Australia pada tahun 2013. Nia yang memeluk agama islam dan Ari Sihasale yang memeluk
agama kristen tetap melangsungkan perkawina beda agama tersebut sehingga Pihak konsulat lalu
mengeluarkan semacam surat kutipan pernikahan untuk Ale dan Nia dengan nomor
0255/Kons/P.02/X/2003 untuk dibawa sebagai surat pengantar untuk mendapatkan pengakuan di
Indonesia. Perkawinan tersebut dilakukan dihadapan petugas Department of Birth, Date and
Marriage Perth, yang setara dengan Kantor Catatan Sipil di Indonesia.

Tanggal 1 Oktober 2003, barulah Ale dan Nia mendaftarkan pernikahannya ke kantor
tersebut dan mendapat sertifikat pernikahan bernomor register 007922X/2003. Surat dan
kelengkapan lainnya itulah yang dibawa ke Konsulat untuk dilaporkan. Meskipun Ari Sihasale
dan Nia Zulkaarnaen sudah memilki surt kutipan pernikahan yanag dapat dicatatkan di
Indonesia, namun tetap pemerintah Indonesia tidak mengakui perkawinan mereka karena hukum
Indonesia tidak mengakui perkawinan beda agama Direktur Urusan Agama Islam Departemen
Agama Imam Masykoer Alie mengatakan bahwa di Indonesia sesungguhnya tak mengenal
pernikahan beda agama. Baik untuk agama Islam maupun yang lain. Dengan begitu, jika ada
perkawinan yang berbeda agama maka hak suami atau istri tak bisa dijamin. Begitu juga dengan
kewajiban masing-masing yang tak bisa dituntut kedua belah pihak. "Di mata hukum mereka
belum menikah. (http://showbiz.liputan6.com/read/219955/pernikahan-nia-dan-ale-tak-diakui-
hukum).
Dari kedua kasus diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat masih memiliki
pemahaman yang buruk terhadap perkawinan beda agama bahwa memang perkawinan beda
agama senyatanya dilarang oleh hukum agama apapun dan hukum positif di Indonesia.
Melakukan perkawinan di beberapa negara tertentu di luar negeri memang diperbolehkan karena
urusan agama dengan negara dipisahkan. Tidak sama halnya dengan di Indonesia, mereka
beranggapan bahwa di Indonesia boleh dan mengakui perkawinan beda agama. Indonesia
berdasarkan pada pancasila, sudah seharusnya nilai- nilai tersebut terutama nilai ketuhanan
tertanam di dalam hati sanubari seluruh masyarakat Indonesia. Bahwa jelas nilai- nilai pancasila
harus melandasi setiap kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Sekalipun di dalam
hukum positif tidak terdapat pelarangan yang jelas terhadap perkawinan beda agama namun di
dalam hukum agama sudah dinyatakan secara tegas dan sudah seharusnya masyarakat Indonesia
memiliki pemahaman yang bagus terhadap hukum agama yang diimaninya itu dan tidak terdapat
alasan lain untuk melakukan perkawinan beda agama.
Disisi lain banyak pemaknaan yang salah terkait dengan perkawinan campuran, hal ini juga
mendorong masyarakat untuk melakukan perkawinan beda agama karena menganggap bahwa
perkawinan beda agama termasuk di dalam perkawinan caampuran seperti yang diatur pada pasal
57 Undang- Undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Bahwa sudah jelas yang
dinyatakan dengan perkawinan campuran adalah hanya perkawinan antara dua orang yang
tunduk pada hukum negara yang berbeda atau memiliki kewarganegaraan yang berbeda sehingga
selama ini masyarakat menjadikan perkawinan campuran sebagai alasan diizinkannya
perkawinan beda padahal keduanya adalah berbeda.

Petugas pencatat juga memerankan hal penting dalam membuat suatu perkawinan menjadi
sah , sehingga perlu ditekankan bahwa tidak semua perkawinan dapat dicatatkan. Hanya
perkawinan yang sesuai dengan rumusann pasal 2 ayat (1) yang kemudia diakui secara hukum.
Petugas pencatatan masih banyak yang melakukan penyelundupan hukum terkait dengan
perkawinan beda agama diantaranya adalah :
1. Memalsukan identitas calon mempelai sehingga calon mempelai seolah- oleh memiliki
agama dan keyakinan yang sama padahal mereka tidak memeluk agama tersebut
2. Tetap mengeluarkan akta perkawinan padahal perkawinannya tidak dilakukan oleh calon
mempelai yang memiliki keyakinan dan agama yang berbeda
Penyelundupaan hukum tersebut dapat muncul karena beberapa faktor diantaranya adalah
faktor :
1. Ekonomi
Ekonomi bisa menjadi faktor utama mengapa pegawai pencatat mau melakukan
penyelundupan hukum untuk mengesahkan perkawinan beda agama. Desakan akan
kebutuhan dan sifat manusia yang senantiasa merasa kurang terhadap apa yang telah
dimilikinya. Untuk memenuhi semua kebutuhan yang tidak akan pernah puas tersebut
manusia memang melakukan segala cara termasuk bekerja untuk memperoleh uang.
Namun apabila uang yang diberikan oleh calon mempelai diterima oleh pegawai pencatat
agar memiliki pemasukan yang lebih dan dengan harapan dapat memenuhi semua
keinginannya maka hal tersebut dipandang salah. Hal ini akan sulit dihindarkan karena
sifat manusia pada dasarnya yang tidak akan pernah merasa puas.
2. Tidak adanya aturan sanksi yang tegas di dalam hukum
Memang di dalam undang- undang perkawinan sejauh ini tidak mengatur mengenai
sanksi bagi pelaku perkawinan beda agama baik untuk calon mempelai maupun untuk
petugas pencatat. Padahal sanksi berfungsi untuk memberikan efek jera sehingga dengan
adanya sanksi petugas pencatat tidak akan pernah berani melakukan pelanggaran hukum
untuk mencatatkan perkawinan yang tidak seagama. Sehingga sanksi memang diperlukan
pada revisi undang- undang perkawinan yang aan dibuat.

Pada rancangan revisi undang- undang perkawinan, sanksi yang akan diberikan adalah sanksi
administratif. Sanksi administrasi/administratif, adalah sanksi yang dikenakan terhadap
pelanggaran administrasi atau ketentuan undang-undang yang bersifat administratif. Pada
umumnya sanksi administrasi/administratif berupa;

- denda

- pembekuan hingga pencabutan sertifikat dan/atau izin

- penghentian sementara pelayanan administrasi hingga pengurangan jatah produksi

- tindakan administratif

(http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4be012381c490/sanksi-hukum-%28pidana,-
perdata,-dan-administratif%29 ). Karena dalam hal ini pencatatan perkawinan
berhubungan dengan sanksi administratif sehingga pemberian sanksi administratif sudah
merupakan hal yang sesuai.

4 Kajian terhadap implikasi penerapan sistem baru yang akan diatur


Dengan dibuatnya aturan yang baru tentang perkawinan yang memperjelas bahwa perkawinan
beda agama tidak boleh dilakukan dan adanya rumusan sanksi yang juga merupakan salah satu
cara efektif untuk mencegah terjadinya perkawinan beda agama. Tentunya dengan adanya
sosialisasi melalui berbagai media komunikasi juga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman
masyarakat terkait dengan larangan perkawinan beda agama. Di sisi lain adanya rancangan
undang- undang yang baru, pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pejabat pencatat juga
diharapkan tidak akan terjadi . Pejabat pencatat menjadi pihak yang penting dalam membuat
suatu perkawinan yang tidak sah menjadi perkawinan yang sah menurut hukum yang berlaku.
Dengan diakuinya perkawinan mereka, akan memberikan implikasi bahwa di depan hukum
mereka memiliki hak dan kewajiban yang diakui dan dilindungi laiknya sepasang suami dan istri
yang melakukan perkawinan secara sah.

Dengan rancangan undang- undang yang baru juga akan memberikan pengaturan tentang
perkawinan secara unifikasi dan jelas. Mempertegas bahwa aturan hukum yang berlaku utuk
perkawinan adalah undang- undang perkawinan beserta perubahannya dan peraturan pelaksana
lainnya yang terkait. Sehingga celah untuk melakukan perkawinan beda agama dengan alasan
aturan hukumnya tidak jelas dipastikan tidak akan terjadi di kemudian hari.
BAB III
EVALUASI DAN ANALISIS
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT DENGAN PERKAWINAN BEDA
AGAMA

Dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Perkawinan beda agama ini,


perlu dilakukan analisa dan evaluasi terhadap peraturan Perundang-undangan yang memiliki
keterkaitan dengan Perkawinan beda agama. Dengan mengevaluasi dan menganalisa Undang-
Undang yang ada maka akan diketahui kelemahan-kelemahan yang perlu direvisi dan
memasukkan pemikiraan dalam rancangan Undang-Undang yang baru. Adapun yang menjadi
landasan evaluasi dan analisa terhadap peraturan Perundang-undangan yang terkait, yaitu Lex
Superiori derogat lex imperiori, Lex Specialisderogat lex generalis, dan Lex posteriori derogat
lex priori. Lex Superiori derogat lex imperiori adalah Undang-Undang yang dibuatoleh penguasa
yang lebih tinggi mempunyai kedudukan yang lebih tinggi pula. Hal ini sesuai dengan teori
Piramida (Stuffenbautheory) dikemukakan oleh Hans Kelsen1, yaitu norma-normahukum itu
berjenjang-jenjang dan berlapis-lapis dalam suatu susunan hierarkis, dimana norma yang lebih

1Maria Farida Indrati, Ilmu Peraturan Perundang-Undangan, Kanisius, Yogyakarta:


1998, hal. 25.
rendah berlaku, bersumber, berasal dan berdasar dari norma yang lebih tinggi, norma yang lebih
tinggi berlaku, bersumber, berasal dan berdasar dari norma yang lebih tinggi lagi, demikian
seterusnya sampai pada suatu norma yang tidak dapat ditelusuri lebih lanjut dan bersifat hipotetis
dan fiktif, yaitu Norma Dasar (Grundnorm).
Hubungan antara materi muatan Rancangan Undang-Undang Perkawinan beda agama
dengan berbagai peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut :
1. Pasal 28B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945
Negara merupakan organisasi yang diadakan oleh satu atau beberapa bangsa yang
berdiam dalam suatu wilayah tertentu; untuk memelihara hukum yang berlaku di kalangan
mereka, membela kepentingan dan kesejahteraan bersama terhadap serangan dari luar dan
menyelenggarakan cita-cita kemakmuran bersama, baik di lapangan kerohanian maupun materi.
Pasal 7 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-
Undang menyebutkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai
peraturan tertinggi dalam hierarki peraturan perundang-undangan di Indonesia menjadi dasar
bagi peraturan perundang-undangan yang ada di bawahnya. Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 menjelaskan dengan tegas dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 disebutkan bahwa Negara Indonesia
adalah negara hukum. Pengaturan ini menunjukkan bahwa supremasi hukum kekuasaan tertinggi
negara adalah hukum. Indonesia sebagai negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berkaitan dengan perlindungan dan
jaminan kepastian hukum perkawinan beda sebagai salah satu bentuk perwujudan pasal Pasal
28B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yang menyatakan bahwa
setiap orang membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah.

2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara


Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3019)

Di dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 ini menyatakan bahwa perkawinan yang
sah adalah apabila dilakukan menurut hokum masing-masing agama dan kepercayaan.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1975 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3050)

Di dalam Pasal 2 ayat (1) dan (2) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1979 ini
menyatakan bahwa pencatatan perkawinan yang melangsungkan perkawinan menurut agama
islam dilakukan oleh pegawai pencatat sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 32
Tahun 1954 tentang pencatatan nikah, talak, dan rujuk. Sedangkan bagi yang melakukan
perkawinan menurut agamanya dan kepercayaannya selain agama islam dilakukan oleh pegawai
pencatat perkawinan pada kantor catatan sipil.

4. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-


Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 15234)

Di dalam pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 ini menyatakan bahwa
jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan terdiri atas:
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;
d. Peraturan Pemerintah;
e. Peraturan Presiden;
f. Peraturan Daerah Provinsi; dan
g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1983 Tentang Penataaan


Dan Peningkatan Pembinaan Dan Penyelenggaraan Catatan Sipil

Di dalam pasal 1 dan 2 Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1983
ini, menyatakan bahwa:
Pasal 1
(1) Menteri Dalam Negeri secara fungsional mempunyai kewenangan dan tanggung jawab
penyelenggaraan Catatan Sipil sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Kewenangan dan tanggung jawab di bidang catatan sipil adalah:
a. menyelenggarakan pencatatan dan penerbitan Kutipan Akta Kelahiran, Akta Kematian, Akta
Perkawinan dan Akta Perceraian bagi mereka yang bukan beragama Islam, Akta Pengakuan dan
Pengesahan Anak;
b. melakukan penyuluhan dan pengembangan kegiatan catatan Sipil;
c. penyediaan bahan dalam rangka perumusan kebijaksanaan dibidang
kependudukan/kewarganegaraan.
Pasal 2
Dalam melaksanakan kewenangan dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1
Keputusan Presiden ini, Menteri Dalam Negeri mempunyai tugas:
a. menetapkan perumusan kebijaksanaan di bidang catatan sipil;
b. melakukan pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan kegiatan catatan sipil;
c. melakukan koordinasi penyelenggaraan kegiatan catatan sipil dengan Departemen dan
Lembaga Pemerintah non Departemen yang ada kaitannya.
BAB IV
LANDASAN FILOSOFIS SOSIOLOGIS DAN YURIDIS

A LANDASAN FILOSOFIS

Indonesia sebagai negara hukum merupakan amanat dari pasal 1 angka 3 Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 (UUD NRI 1945), dimana dirumuskan
bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. Mengenai eksistensi dari Indonesia
sebagai negara hukum juga dipertegas dalam penjelasan Undang-Undang Dasar 1945
dimana Indonesia adalah suatu negara yang berdasar atas hukum (Rechtstaat), tidak
berdasar alas kekuasaan belaka (Machtstaat) dan pemerintah berdasar sistem konstitusi
(hukum dasar), tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas).2
Sebagai negara hukum, adanya unsur-unsur yang berlaku secara umum dalam negara
hukum adalah sebagai berikut :3
1 Adanya suatu sistem pemerintahan yang didasarkan atas kedaulatan rakyat;
2 Bahwa pemerintah dalam melaksanakan tugas dan kewajiban harus berdasar atas
hukum atau peraturan perundang-undangan;
3 Adanya jaminan teradap hak-hak asasi manusia (warga negara);
4 Adanya pembagian kekuasaan dalam negara;

2 Penjelasan Undang-Undang Dasar 1945

3 http://thesis.umy.ac.id/datapublik/t1248.pdf
5 Adanya pengawasan dari badan-badan peradilan (rechterlijke controle) yang bebas dan
mandiri, dalam arti lembaga peradilan tersebut benar-benar tidak memihak dan tidak
berada dibawah pengaruh eksekutif;
6 Adanya peran yang nyata dari anggota-anggota masyarakat atau warga negara untuk
turut serta mengawasi perbuatan dan pelaksanaan kebijaksanaan yang dilakukan oleh
pemerintah;
7 Adanya sistem perekonomian yang menjamin pembagian yang merata sumberdaya
yang diperlukan bagi kemakmuran warga negara.

Sebagai konstitusi bangsa Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik


Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar/sumber hukum tertinggi (supreme law of
the land) dari negara Indonesia dimana didalamnya mengatur mengenai pembatasan
kekuasaan dan perlindungan hak warga negara. Dalam rangka perlindungan hak warga
negara ini, salah satu hak warga negara yang ingin dilindungi oleh Negara Indonesia adalah
mengenai hak untuk membentuk keluarga melalui sebuah perkawinan.4
Mengenai perkawinan beda agama, agaknya memerlukan perhatian khusus. Karena
terlepas dari hak asasi setiap manusia untuk meneruskan keturunan melalui sebuah jalan
perkawinan, maka berkaitan dengan aspek agama maka harus dilihat terlebih dahulu
apakah perkawinan tersebut telah sesuai dengan aturan agama atau tidak. Di Indonesia
sendiriDidalam Pasal 28 B ayat (1) telah diberikan penlindungan terhadap hak warga
negara untuk dapat melangsungkan perkawinan dan meneruskan keturusan, dimana
Setiaporang berhak untuk membentuk keluarga dan menlanjutkan keturunan melalui
perkawinan yang sah. Maka yang menjadi perhatian khusus dalam rumusan pasal ini
adalah mengenai perkawinan yang sah. Mengenai sahnya perkawinan ini diatur lebih lanjut
dalam Undang-Undang Nomor 1Tahun 1974, didalam Pasal 2 ayat (1) dimana perkawinan
adalah sah apabila dilakukan oleh hukum masing-masing agama dan kepercayaan itu.
Sebagai negara yang menganut pluralisme agama, maka perlu dibahas mengenai
perkawinan beda agama dalam pandangan agama yang diakui di Indonesia.
1 Pandangan Agama Islam
Dalam pandangan agama islam mengenai perkawinan beda agama ini pada
dasarnya tidak memperkenankan. Hal ini secara tegas diatur dalam Al-quran yang
merupakan kitab/ pedoman bagi orang islam dimana janganlah kamu nikahi wanita-

4 Pasal 28B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945


wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin
lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hati. Dan janganlah kamu
menikahkan orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin). Sesungguhnya budak
yang mukmin lebih baik daripada orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu [ Al-
Baqarah [2]:221]
Dari hal ketentuan surat Al-Baqarah tersebut jelas merupakan suatu larangan bagi
laki-laki maupun perempuan muslim untuk menikah secara beda agama.

2 Pandangan Agama Katolik

Dalam pandangan agama katolik, salah satu hal yang dapat menyebabkan
perkawinan tidak sah adalah adanya perbedaan agama. Bagi Gereja Katholik
menganggap bahwa perkawinan antar seseorang yang beragama katholik dengan orang
yang bukan katholik, dan tidak dilakukan menurut hukum agama Katholik dianggap
tidak sah. Disamping itu, perkawinan antara seseorang yang beragama Katholik dengan
orang yang bukan Katholik bukanlah merupakan perkawinan yang ideal. Hal ini dapat
dimengerti karena agama Katholik memandang perkawinan sebagai sakramen
sedangkan agama lainnya (kecuali Hindu) tidak demikian karena itu Katholik
menganjurkan agar pengahutnya kawin dengan orang yang beragama katholik.5

3 Pandangan Agama Kristen


Pada dasarnya dalam pandangan agama Kristen melarang adanya perkawinan beda
agama ini. Hal ini biasanya gereja melakukan sebuah penolakan untuk melakukan
pemberkatan atas perkawinan beda agama ini atau bahkan ada gereja yang
mengeluarkan pasangan yang melakukan perkawinan beda agama dari gereja tersbut.
Hal ini dilatarbelakangi atas ketentuan dalam al-kitab sendiri yang merupakan kitab
pedoman agama Kristen dimana 6di dalam Perjanjian Lama (PL) pada umumnya
pernikahan beda agama tidak dikehendaki alasannya adalah kekuatiran bahwa

5 Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusi, Pengkajian
Hukum Perkawinan beda Agama ( Perbandingan Beberapa Negara), Jakarta, 2011, h.166

6 Ibid, h.168-169
kepercayaan kepada Allah Israel akan dipengaruhi ibadah asing dari pasangan yang
tidak seiman (Ezr. 9-10; Neh. 13:23-29; Mal. 2:10).
Larangan yang eksplisit terdapat dalam Ul. 7:3-4, Janganlah juga engkau kawin-
mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-
laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu 70 laki-
laki; sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari pada-Ku,
sehingga mereka beribadah kepada allah lain. Maka murka TUHAN akan bangkit
terhadap kamu dan Ia akan memunahkan engkau dengan segera.
Dalam Perjanjian Baru (PB) Paulus dihadapkan pada permasalahan ini khususnya
di jemaat Korintus. Menjawab pertanyaan mengenai pernikahan kembali apabila
salah satu dari pasangan meninggal, Paulus menyetujuinya asalkan seiman (1 Kor.
7:39). Pendapat Paulus ini kerap kali dianggap sebagai pendirian Paulus bahwa
pernikahan hanya boleh terjadi di antara orang-orang Kristen. Namun dalam kasus
seseorang yang bertobat menjadi percaya namun pasangannya tidak, Paulus tidak
mendorongnya untuk bercerai, kecuali pasangan yang tidak seiman itu
menghendakinya (1 Kor. 7:12-16). Dan harap dicatat bahwa dengan jelas Paulus
menegaskan bahwa yang mengatakan ini bukan Tuhan, tetapi dirinya sendiri, Paulus.
Dari beberapa ketentuan dalam Al-kitab tersebut jelas bahwa agama Kristen sendiri
melarang secara tegas adanya perkawinan beda agama.

4 Pandangan Agama Hindu

Pada dasarnya dalam pandangan agama Hindu melarang adanya perkawinan beda
agama, hal ini berkaitan dengan adanya upacara keagamaan sebelum dilangsungkannya
perkawinan, dimana karena kalau calon mempelai yang bukan Hindu tidak disucikan
terlebih dahulu dan kemudian dilaksanakan perkawinan, hal ini melanggar ketentuan
dalam Seloka V89 kitab Manawadharmasastra, yang berbunyi: Air pensucian tidak
bisa diberikan kepada mereka yang tidak menghiraukan upacara-upacara yang telah
ditentukan, sehingga dapat dianggap kelahiran mereka itu sia-sia belaka, tidak pula
dapat diberikan kepada mereka yang lahir dari perkawinan campuran kasta secara tidak
resmi, kepada mereka yang menjadi petapa dari golongan murtad dan pada mereka
yang meninggaal bunuh diri.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perkawinan antar agama dimana salah
satu calon mempelai beragama Hindu tidak boleh dan pendande/Pendeta akan menolak
untuk mengesahkan perkawinan tersebut.

5 Pandangan Agama Budha


Perkawinan antar agama di mana salah seorang calon mempelai tidak beragama
Budha, menurut keputusan Sangha Agung Indonesia diperbolehkan, asal pengesahan
perkawinannya dilakukan menurut cara agama Budha. Dalam hal ini calon mempelai
yang tidak bergama Budha, tidak diharuskan untuk masuk agama Budha terlebih
dahulu. Akan tetapi dalam upacara ritual perkawinan, kedua mempelai diwajidkan
mengucapkan atas nama Sang Budha, Dharma dan Sangka yang merupakan dewa-
dewa umat Budha.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa agama Budha tidak melarang umatnya
untuk melakukan perkawinan dengan penganut agama lain. Akan tetapi kalau penganut
agama lainnya maka harus dilakukan menurut agama Budha. Di samping itu, dalam
upacara perkawinan itu kedua mempelai diwajibkan untuk mengucapkan atas nama
Sang Budha, Dharma dan Sangka, ini secara tidak langsug berarti bahwa calon
mempelai yang tidak beragama Budha menjadi penganut agama Budha. Sehingga jika
disimpulkan tetap saja dalam pandangan agama budha pun tidak memperbolehkan
adanya perkawinan beda agama. 7

Dari kelima pandangan agama yang dianut di Indonesia jelas bahwa tidak ada satupun
agama yang memperbolehkan dilakukannya perkawinan beda agama. Sehingga ketentuan
Pasal 2 Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang menyandarkan syarat sah nya suatu
perkawinan berdasarkan aturan/ketentuan agama dan tidak ada satupun agama di Indonesia
yang memperbolehkan hal tersebut maka perlindungan hak warga negara untuk membentuk
keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah yang dirumuskan dalam
pasal 28B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia harus tidak dapat
diartikan dalam perkawinan beda agama karena tidak adanya satu agamapun di Indonesia
yang memperbolehkan adanya perkawinan beda agama.
Berdasarkan alasan tersebut diatas jelas bahwa Indonesia membutukan perubahan atas
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan tersebut. Karena perkawian

7 Ibid h.180-181
beda agama tidak diatur secara spesifik dalam undang-undang tersebut, sehingga tidak
menimbulkan kepastian hukum bagi masyarakat atas hukum mengenai perkawinan beda
agama tersebut. Perubahan dalam Undang-Undang Perkawinan ini dimaksudkan untuk
memberikan perlindungan yang terlegalisir agar dapat dipergunakan sebagai payung bagi
masyarakat dalam menjamin hak- hak asasinya.

B LANDASAN SOSIOLOGIS
Indonesia merupakan negara yang sangat luas, dimana terbentang ribuan pulau mulai
dari Sabang yang merupakan penghujung barat Indonesia dan Merauke di penghujung
timur Indonesia. Dari wilayah Indonesia yang membentang luas terdapat kondisi alam yang
berbeda-beda dari satu pulau dengan pulau lainnya, dari satu daerah dengan daerah lainnya,
sehingga menyebabkan berkembangnya suatu kelompok masyarakat yang berbeda satu
sama lainnya. Perbedaan ini terdapat dalam berbagai segi budaya, ras, bahasa suku, sosial
serta agama. Dari kondisi Indonesia yang majemuk inilah dikaitkan dengan sifat sosial dari
manusia yang membutuhkan manusia lainnya, maka kontak sesama masyarakat antas suku
dan etnis tidak dapat dihindarkan lagi. Terlebih lagi pada era kemajuan tekhnologi seperti
sekarang ini, dimana pergaulan di masyarakat tidak lagi terbatas pada lingkungan
masyarakat yang kecil melainkan telah mampu menembus dinding-dinding tebal pembatas
antar golongan, suku, budaya dan agama. Dimana dengan kemajuan tekhnologi ini
seseorang tidak perlu lagi belajar di suatu daerah tertentu untuk mempelajari budaya dari
daerah tersebut melainkan melalui kecanggihan tekhnologi seseorang disuatu daerah
tertentu dalam waktu yang relative singkat dapat mempelajari budaya didaerah lain juga
beberapa daerah sekaligus. Hal inilah yang menyebabkan interaksi diantara suku, etnis dan
golongan semakin mudah dilakukan.
Kemudahan-kemudahan untuk berintaksi antar suku dan golongan inilah yang
menyebabkan banyaknya perkawinan campuran di Indonesia. Perkawinan campuran ini
dapat meliputi perkawinan antar etnis, antar suku, antar golongan, bahkan perkawinan beda
agama. Dimasyarakat sendiri mengenai perkawinan beda agama sendiri jumlahnya semakin
meningkat dari setiap tahunnya. Berdasarkan data yang ada di kabupaten Gunung Kidul,
dimana daerahnya relatif berpenduduk plural dari segi agamanya, dimana di Gereja Katolik
Wonosari (Santo Petrus Kanisius), dimana tempat satu-satunya perkawinan berdasarkan
agama katolik dilangsungkan terdapat rata-rata 32% pertahun diantaranya berasal dari
agama yang berbeda. Dan di beberapa KUA terdapat rata-rata 2,5% pasangan yang berasal
dari agama yang berbeda.8
Di Indonesia sendiri secara tegas berdasarkan Undang-Undang Dasar dan Undang-
Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, melarang adanya perkawinan beda agama ini,
sebagaimana diamanatkan dalam pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
dimana perkawinan adalah sah apabila dilakukan berdasarkan hukum masing-masing
agama dan kepercayaan itu. Tentunya tidak diakuinya perkawinan beda agama secara
hukum di Indonesia ini menimbulkan beberapa konsekuensi yuridis, yaitu salah satunya
terkait perlindungan hak perempuan sebagai istri yang tidak dicover oleh negara, juga
selain itu perlindungan terhadap hak-hak anak, misalnya anak tidak dapat mendapatkan
akta kelahiran dikarenakan perkawinan orang tuanya tidak diakui secara hukum di
Indonesia yang mengakibatkan anak tidak dapat memperoleh pendidikan, juga hak anak
atas warisan dari orang tuanya yang tentunya juga tidak dapat di lindungi oleh negara.
Namun adanya konsekuensi semacam ini, pada realitasnya tidak membuat masyarakat
berfikir dua kali untuk melakukan perkawinan beda agama, justru jumlahnya semakin
meningkat pada setiap tahunnya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut tentunya dibutuhkan suatu aturan yang lebih
rijit dan kompleks dalam mengatur perkawinan beda agama ini. Salah satu solusinya adalah
dengan diadakannya perubahan dari undang-undang perkawinan. Penambahan dan
penyempurnaan pasal yang ada tentunya merupakan setitik harapan bagi pemerintah dan
rakyat Indonesia untuk menutup setiap celah yang ada dalam dilaksakannya perkawinan
beda agama, sehingga grafik perkawinan beda agama di Indonesia diharapkan dapat
menurun.

C LANDASAN YURIDIS
Perkawinan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi kelangsungan kehidupan
manusia untuk meneruskan keturunannya. Perkawinan sendiri sendiri secara yuridis formil
diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan dan Instruksi
Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1981 tentang Kompilasi hukum Islam. Yang
mana mengenai perkawinan beda agama kedua peraturan tersebut melarang adanya
perkawinan beda agama.

8 Sri Wahyuni, M.Ag., M.Hum. Kontroversi Perkawinan Beda Agama di Indonesia


Didalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan
diatur mengenai sahnya perkawinan dimana perkawinan adalah sah apabila dilakukan
menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan itu. Hal ini berarti dalam sebuah
perkawinan harus dilakukan menurut hukum agama dari masing-masing pasangan yang
akan melangsungkan perkawinan, yang juga berarti bahwa tidak diakuinya perkawinan
beda agama, karena seperti yang kita ketahui bahwa tidak ada satupun ketentuan agama
yang dianut di Indonesia yang memperbolehkan adanya perkawinan beda agama.
Hal senada sebagaimana diatur dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1
Tahun1981 tentang Kompilasi Hukum Islam. Adapun menyoroti permasalahan perkawinan
beda agama Kompilasi Hukum Islam mengatur sebagai berikut :
1 Pasal 4 menyatakan bahwa perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum
islam sesuai dengan pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
perkawinan9
2 Pasal 40 menyatakan bahwa dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang
pria dan seorang wanita karena keadaan tertentu :10
a Karena wanita yang bersangkutan masih terikat satu perkawinan dengan pria lain;
b Seorang wanita yang masih berada dalam masa iddah dengan pria lain;
c Seorang wanita yang tidak beragama islam.
3 Pasal 44 menyatakan bahwa seorang wanita islam dilarang melangsungkan
perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama islam11
4 Pasal 61 menyatakan bahwa tidak sekufu tidak dapat dijadikan alasan untuk
mencegah perkawinan, kecuali tidak sekufu karena perbedaan agama atau ikhtilaafu al
dien12

Dari kedua aturan tersebut dapat diketahui bahwa segala instrument yuridis yang
mengatur mengenai perkawinan di Indonesia melarang adanya perkawinan beda agama.
Pengaturan mengenai perkawinan beda agama khususnya didalam Undang-Undang
Perkawinan sifatnya terlalu general yang pada intinya hanya melarang mengenai

9 Pasal 4 Kompilasi Hukum Islam

10 Pasal 40 Kompilasi Hukum Islam

11 Pasal 44 Kompilasi Hukum Islam

12 Pasal 61 Kompilasi Hukum Islam


dilakukannya perkawinan beda agama. Oleh karena itulah masih membuka celah yang
sangat lebar bagi pasangan untuk melangsungkan perkawinan beda agama. Hal ini tentunya
juga berpengaruh dalam kepastian hukum dalam perkawinan beda agama.
Berdasarkan uraian tersebut dan untuk memberikan kepastian hukum serta
perlindungan hukum bagi masyarakat mengenai khususnya perkawinan beda agama. Maka
perubahan dan penambahan norma-norma yang mengatur mengenai perkawinan beda
agama dirasa menjadi solusi yang tepat untuk menjawab segala kebutuhan hukum
masyarakat.

BAB V

JANGKAUAN ARAH PENGATURAN DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN


UNDANG-UNDANG

Sasaran yang akan diwujudkan :


1 Mempertegas aturan perkawinan beda agama di masyarakat
Sasaran utama yang akan diwujudkan adalah untuk mempertegas aturan di dalam undang-
undang perkawinan yang telah ada. Bahwa pada pasal 2 ayat (1) undang undang nomor 1 tahun
1974 menyebutkan perkawinan adalah sah menurut agama dan kepercayaan masing- masing.
Beranjak dari pasal tersebut, di dalam rancangan revisi undang- undang perkawinan nanti akan
mempertegas maksud dari pasal 2 ayat 1 undang- undang perkawinan dengan memberikan
limitasi mengenai perkawinan yang dapat dikatakan sah sesuai dengan hukum positif. Sehingga
dengan sah nya perkawinan tersebut maka perkawinannya dapat dicatatkan dan diakui. Karena
frasa menurut agama dan kepercayaan yang ada di dalam undang- undang perkawinan
menimbulkan makna yang bermacam- macam menurut masyarakat, limitasi tersebut bertujuan
untuk memberikan pengertian dan pandangan yang sama dari frasa tersebut.

Hal ini sengaja dibuat agara dapat menutup celah hukum bagi masyarakat sebagai role
occupant di dalam rancangan revisi undang- undang perkawinan maupun sebagai law
implementing agency yang melakukan penyelundupan hukum untuk melangsungkan
perkawinan beda agama. Penyelundupan hukum tersebut memang muncul dengan alasan bahwa
aturan hukum tentang perkawinan tidak jelas. Sehingga dengan dipertegasnya aturan tentang
perkawinan tersebut, diharapkan tidak akan muncul perbuatan- perbuatan curang yang
bertentangan dengan hukum.

2 Mencegah terjadinya pelanggaran hukum untuk melangsungkan perkawinan beda agama.


Dengan alasan aturan hukum yang mengatur perkawinan tidak jelas sehingga dapat
menimbulkan penafsiran yang bermacam- macam, didalam rancangan revisi undang- undang
sudah diberikan limitasi terkait dengan perkawinan yang sah. Sehingga pelanggaran hukum
untuk melangsungkan perkawinan beda agama yang dilakukan oleh pelaku perkawinan beda
agama, keluarga dan petugas pencatatat perkawinan tidak akan terjadi lagi. Pelanggaran hukum
tersebut misalnya bagi pasangan yang akan melakukan perkawinan beda agama biasanya mereka
memalsukan identitas dengan merubah agar memiliki agama yang sama sehingga mereka dapat
melangsungkan perkawinan atau bagi petugas pencatatat yang tetap mencatatkan perkawinan
beda agama padahal sudah jelas perkawinan mereka tidak sesuai dengan agama dan
kepercayaannya. Salah satu cara yang digunakan untuk mencegah pelanggaran hukum disamping
mempertegas aturan hukum yang sudah ada juga dengan menambahkan aturan sanksi. Sanksi
merupakan salah satu cara paling efektif agar suatu aturan tersebut ditaati sehingga di dalam
suatu aturan dapat dicantumkan sanksi bila perlu. Di dalam rancangan revisi undang- undang
perkawinan yang baru perlu ditambahkan sanksi melihat banyaknya masyarakat yang melakukan
pelanggaran hukum tentang perkawinan beda agama karena faktor tidak adanya tindak tegas dari
pemerintah terkait dengan pelanggaran hukum tersebut.

Jangkauan pengaturan :

Rancangan revisi undang- undang ini ditujukan kepada seluruh masyarakat Indonesia terutama
masyarakat indonesia yang telah memenuhi batas usia minimum untuk melakukan perkawinan.
Tidak hanya itu aturan ini juga berlaku sesuai dengan asas legalitas bagi siapapun yang
melangsungkan perkawinan di Indonesia.

A KETENTUAN UMUM
AdapundalamketentuanumumpadaUndang
Undangberisiketentuanterkaitdenganperkawinan yang
ditujukanuntukmasyarakatdanpejabat-pejabat yang berwenang,
danmemuathalsebagaiberikut:
1 Pengertiandandefinisi
2 Istilah-istilah yang digunakanterkaitdenganketentuanpadapasal-pasalberikutnya
3 Singkatan-singkatanterkaitketentuanpadapasal-pasalberikutnya
Berikutadalahsubstansiketentuanumum:

1 Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara laki


lakidanperempuansebagaisuamiisteridenganperjanjianhukum yang
sahapabilaantaralaki-lakidanperempuantersebutberadadalamkeyakinan yang
samadanusia yang cakapsesuaidenganundang-undang.
2 Kantor Urusan Agama yang selanjutnyadisebut KUA adalahinstansiterkecil yang
merupakanbagtiandariKementrian Agama yang berada di tingkatankecamatan,
bertugasuntukmelaksanakantugaspokokdari Kantor Kementrian Agama
untuktingkatkecamatan.
3 DinasKependudukandanCatatanSipil yang
selanjutnyadisebutDinasadalahlembagaresmipemerintah yang
berwenanguntukmencatat data dancatatanperistiwa sacral seseorang yang
kemudiandituangkandalamsuatuAktaCatatanSipil
4 AktaCatatanSipiladalahsuratresmi yang dibuatolehpejabatcatatansipil yang
berwenang, mengenaisuatuperistiwa sacral yang meliputi: perkawinan,
pembatalanperkawinan, perceraian, kelahiran, pengakuandanpengesahananak,
kependudukan, dankematian.
5 Pegawaipencatatperkawinan yang selanjutnyadisebutpejabatadalahpejabat yang
diberikankewenanganuntukmencatatkansetiapperkawinan yang
sahdanmemilikikewajibanuntukmembatalkanperkawinan yang tidakmemenuhisyarat.

B. MATERI YANG AKAN DIATUR

Berisi norma perilaku maupun norma kewenangan terhadap seluruh pihak yang
terkaitdenganpenyelenggaraanperkawinanbeda agama. Norma
kewenanganyangakanmemberikankewenangankepadapejabatuntukmencatatkansetiap
perkawinan yang sahdanmembatalkansetiapperkawinan yang
tidakmemenuhisyaratataubertentangandenganundang- undangperkawinan. Norma
perilakuadalahaturan yang berisilaranganterhadapparapihak yang
akanmelakukanperkawinanbeda
agama.Larangantersebutberupalaranganatasperkawinanantarapasanganlaki-
lakidanperempuan yang berbeda agama/keyakinan, sertalaranganuntukpejabat yang
berwenang/pegawaipencatatperkawinan agar
tidakmelakukanpenyelundupanhukumberupamembantuataumempermudahjalannyaper
kawinanbeda agama sertapencatatanperkawinanbeda agama, baik yang dilakukan di
dalammaupun di luarnegeri. Norma
danlarangandiatursecaraeksplisitdalammaterimuatandengantujuan agar
terdapatkejelasandankepastianhukummengenaiaturanperkawinanbeda agama di
Indonesia.

C KETENTUAN SANKSI
Diaturnyaketentuansanksiadalahditujukanuntukmemberiefekjerakepadapelaku, juga
agar masyarakat pun mematuhiaturan yang
telahdibuatinidenganmempertimbangkanketentuansanksi yang
ditetapkanuntukpelakupelanggaran.Sanksi yang dikenakanuntukpelaku yang
melanggaraturantentangperkawinanbeda agama
adalahberupasanksiadministratifuntukpasangan yang melangsungkanperkawinanbeda
agama, yaitu:
Pembatalanperkawinanbagipasangan yang melakukanperkawinanbeda agama.
Bagipasangan yang melakukanperkawinanbeda agama di luarnegeri, yang
kemudianinginmencatatkanperkawinannya di Kantor CatatanSipil,
perkawinannyadianggaptidaksahdantidakdiakuisecarahukum di Indonesia

D Ketentuan penutup

Di dalam ketentuan penutup menyatakan bahwa peraturan perundang- undangan tentang


perkawinan sebelum diundangnkannya undnag- undnag perkawinan nomor 1 tahun 1974
dianggap sudah tidak berlaku sejak diundangkannya undnag- undang nomor 1 tahun 1974. Dan
rancangan revisi dari undang- undang perkawinan berlaku sejak tanggal yang akan ditetapkan di
dalam undang- undang perubahan.

E Ketentuan peralihan

Didalam ketentuan peralihan akan berisi mengenai aturan yang terkait dengan perbuatan/
tindakan hukum yang terjadi sebelum diundangkannya revisi undang- undang perkawinan yang
tetap dianggap sah sepanjang tidak bertentangan dengan undang- undang perkawinan yang telah
ada. Apabila terdapat pencatatan perkawinan yang tidak sesuai dengan syarat sah nya
perkawinan dan ada unsur pelanggaran hukum maka perkawinan tersebut harus dinyatakan batal
demi hukum. Ketentuan peralihan dirumuskan di dalam rancangan revisi undang- undang
perkawinan untuk memberikan kepastian dan perlindungan terkait dengan para pihak yang
terkena dampak dari perubahan.
BAB VI
PENUTUP

A. Simpulan
Maraknya kasus perkawinan beda agama yang terjadi di Indonesia yang erat kaitannya
dengan budaya barat memang tidak sesuai dengan budaya ketimuran Indonesia yang
masih memegang teguh nilai- nilai agama. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
Indonesia dilandasi oleh prinsip ketuhanan yang menjadi bukti bahwa nilai- nilai agama
tidak dipisahkan dalam setiap sendi kehidupan termasuk dalam setiap tindakan atau
kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah.
B. Saran
.