Anda di halaman 1dari 12

Makalah Teknologi Pulp dan Kertas

Pulp Propertise

DisusunOleh :

Andrew Herstiawan 5213415050


Reki Wicaksono 5213415056
Muhammad Yasir Adhi Utomo 5213415058
Putra Maulana 5213415062

Universitas Negeri Semarang


Jurusan Teknik Kimia
Prodi Teknik Kimia
2017

Pendahuluan

Pada proses pembuatan pulp dan paper, bahan baku yang digunakan adalah kayu.
Kualitas pulp sangat ditentukan oleh jenis kayu yang digunakan. Diharapkan jenis kayu
yang digunakan untuk menghasilkan kualitas pulp yang bagus adalah yang mempunyai
kandungan selulosa yang tinggi, lignin yang rendah, tidak rapuh, tidak banyak getah dan
tidak berkulit tebal. Dalam proses pembuatan pulp digunakan dua jenis bahan baku, yaitu:
a. Bahan baku primer
Untuk memperoleh serat ini diperoleh dari tumbuh-tumbuhan dengan jenis kayu
(wood) atau bukan kayu (non wood).
Kayu (wood)
Kayu dapat dibedakan berdasarkan ukuran daun yang dimiliki yaitu kayu
berdaun lebar (hard wood), dan kayu berdaun jarum (soft wood). Kayu berdaun lebar
(hard wood), umumnya menggugurkan daunnya pada musim kemarau seperti Albazia
falcatera, Euclyptus sp, dan Antochehalus candabia. Sedangkan kayu berdaun jarum
(soft wood), sering disebut kayu jarum adalah jenis daun yang bersal dari pohon
berdaun jarum. Jenis pohon ini selalu hijau sepanjang tahun dan tidak menggugurkan
daunnya pada musim kemarau, seperti Pinlis sp (tusam) dan Aganthis sp (dammar).
Analisis sifat pengolahan kayu digunakan untuk mengetahui jenis kayu yang
cocok sebagai bahan baku pulp. Analisis ini meliputi rendemen pulp, konsumsi alkali,
bilangan permanganate, panjang putus dan factor retak.

Bahan Kayu (non wood)


Beberapa jenis tumbuhan bukan kayu merupakan sumber serat untuk bahan baku pulp,
baik itu yang berasal dari kulit batang, daun, tangkai, buah/biji dan bulu biji.
Berdasarkan sumber serat, tumbuhan bukan kayu dapat diklasifikasikan sebagai
berikut:
Serat kulit batang : Fax, Jule, Hemo, Rami Kenaf, Haramay
Serat daun : Manila, Abaca, Sisal, Palm, Nenas
Serat bulu biji : Kapas, Kapuk
Serat rerumpunan : Merang, Jerami, Baggase, Bambu, Gelaga
Tabel: Rata-rata komposisi kimia kayu dan bukan kayu
Kandungan Serat Panjang Serat Pendek Bukan Kayu
Bahan Kimia (soft wood) (hard wood) (non wood)
Selulosa 42 +/- 2 % 40 +/- 2 % (36 38) %
Hemiselulosa 27 +/- 2 % 30 +/- 5 % (38 40) %
Lignin 28 +/- 3 % 28 +/- 3 % (12 16) %
Zat ekstraktif 5 +/- 3 % 3 +/- 3 % -

b. Bahan Baku Sekunder


Guna penghematan atau efisiansi serat dari bahan baku primer, maka dewasa
ini telah diusahakan pemanfaatan kertas bekas (waste paper) dari berbagai jenis kertas
dan karton sebagai bahan baku pulp. Serat yang dihasilkan dari kertas, karton
bahkandario baju bekas yanh dikenal sebagia sebutan serat primer.
Kayu merupakan hasil hutan dari sumber kekayaan alam dan merupakan
bahan mentah yang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai kemajuan
teknologi. Berikut adalah properti-properti lain yang akan digunakan pada proses
pembuatan pulp :

1. Kandungan Abu dalam pulp


Kandungan abu dalam bubur kertas dapat terdiri dari berbagai bahan kimia yang
digunakan selama pembuatan pulp / pemutihan, bahan mineral dari kayu atau logam dari
pipa dan mesin lainnya. Parameter ini tidak penting dari bubur kertas. Abu adalah residu
yang tersisa setelah menyalakan pulp pada 525 oC (Sesuai TAPPI T 211). Prosedur
standar untuk mengukur kadar abu tercantum dalam (TAPPI T 211, ISO 1762)

2. Kecerahan Pulp
a. Pemutihan Menggunakan Klorindioksida (ClO2)
Warna dari pulp yang belum diputihkan umumnya disebabkan oleh lignin yang
tersisa didalam pulp setelah proses pemasakan. Penghilangan lignin dapat lebih
banyak pada proses pemasakan, tetapi akan mengurangi hasil yang banyak sekali dan
merusak serat, sehingga menghasilkan kualitas pulp yang rendah. Klorindioksida
adalah salah satu bahan kimia pengoksidasi kuat, berwarna hijau kekuning-kuningan
pada konsentrasi tinggi warnanya berubah menjadi orange, dapat larut dengan air
dingin, merupakan campuran yang terdiri dari air dan 16 % Cl2 memiliki titik beku
-59oC, dan titik didihnya +11oC. Kerja dari cara proses pemutihan ini umumnya
dengan cara mengoksidasi terhadap lignin dan bahanbahan berwarna lain yang
terdapat didalam pulp. Digunakan untuk memutihkan pulp yang berkualitas sebab
dapat mengoksidasi bahan yang bukan merupakan selulosa dengan kerusakan pada
selulosa yang minimum, dan brightness tinggi yang dihasilkan dengan klorindioksida
adalah stabil. (Suhunan.S, 2003)
b. Pemutihan menggunakan Hidrogen Peroksida (H2O2)
Pada umumnya ion perhidroksil, OOH- yang memberikan aksi pemutihan didalam
pemutihan pulp oleh H2O2. Untuk alsan ini, digunakan larutan alkali didalam sistem
agar dihasilkan ion perhidroksil tersebut sebagai ion aktifnya.
Kalkulasi tersebut didapatkan pada pH 10,5, dimana kurang dari 10 % dari
hidrogen peroksida diubah menjadi ion perhidroksil. Pada pH yang tinggi
kesetimbangan tersebut tidak membentuk ion perhidroksil tetapi mempercepat
terjadinya dekomposisi dari pda hydrogen peroksida menjadi air dan oksigen.
H2O2 H2O + O2
Hidrogen peroksida sebagai larutan asam yang lemah untuk menjaga
kestabilannya. Oleh karena itu, laruta alkali harus ditambahkan pada tahap sebelum
penambahan hidrogen peroksida ditambahkan sebagai larutan pemutih. Salah satu nya
adalah larutan natrium hidroksida.
Hidrogen peroksida sebagai pengoksidasi lignin untuk menghasilkan brightness
yang tinggi dan stabil di dalam pulp. Nilai dari pemutihan pulp dengan menggunakan
hidrogen peroksida meningkat dengan meningkatnya temperatur. Sayangnya
dekomposisi dari hidrogen peroksida juga meningkat seiring dengan meningkatnya
temperatur. Untuk tujuan tersebut proses pemutihan dengan hidrogen peroksida
dilakukan pada suhu antara 104 oF-158 oF atau sekitar 45 oC sampai 70 oC. Dimana
pada saat pemutihan oleh hydrogen peroksida telah berlangsung dengan sempurna ,
brightness yang dihasilkan didalam pulp harus distabilkan dengan penambahan sulfur
dioksida. (Kenneth.E, 1981)

3. Kualitas Pulp
Kualitas pulp meliputi ukuran, berat rata-rata serat per satuan panjang, biasanya
dalam satuan mg / m. Hal ini paling mudah diukur dengan menggunakan penganalisis
optik. Untuk serat dengan panjang rata-rata yang diberikan, ini adalah ukuran luas
penampang serat. Untuk diameter rata-rata yang diberikan, itu adalah ukuran ketebalan
dinding. Serabut kasar dianggap kurang selaras dibandingkan dengan serat halus dan
tidak mudah berikatan. Serabut kasar juga menghasilkan serat lebih sedikit per massa
pulp, yang memiliki dampak signifikan pada pembentukan lembaran dan potensi
hamburan cahaya.

4. Konduktivitas Pulp
Kertas kelas listrik seperti kertas kabel, jaringan kondensor atau kertas insulasi dll,
membutuhkan konduktivitas yang sangat rendah terhadap listrik. Adanya ion logam, ion
besi berkontribusi terhadap konduktivitas pulp. Pulp yang digunakan untuk nilai listrik,
dicuci dengan air demineralized, pemukul atau pemurni menggunakan lava atau batang
non-logam lainnya dan permukaan yang berhubungan dengan semua peralatan terbuat
dari baja tahan karat.
Nilai untuk konduktivitas ekstrak air pulp dinyatakan dalam S / m.

S = Siemen (satuan SI konduktansi listrik) = 1 mho.

5. Kotoran di Pulp
Kandungan kotoran pulp terutama pulp daur ulang penting untuk kesesuaiannya untuk
membuat kertas halus. Kotoran merupakan bahan asing dalam bubur kertas. Pada TAPPI
mendefinisikan kotoran sebagai benda asing dalam selembar kertas yang, bila diperiksa
oleh pantulan, cahaya yang tidak ditransmisikan, memiliki warna kontras yang ditandai
dan memiliki area hitam ekuivalen 0,04 mm2 atau lebih.
Prosedur standar untuk mengukur kandungan kotoran diletakkan pada TAPPI T213

6. Waktu Drainase Pulp


Di sini waktu pengeringan bubur kertas dibahas mengacu pada pulp pasar dan / atau
pulp yang tidak dimurnikan. Waktu penguraian bubur kertas ata atau kelambatan pulp
dimodifikasi untuk memiliki beberapa sifat yang diinginkan dalam pembuatan kertas.
Drainase bubur yang tidak dimurnikan yang diukur sebagai keputihan dapat memberi
indikasi pada: 1) Panjang Serat pulp, karena pulp serat panjang lebih banyak freeness
dibandingkan dengan pulp serat pendek, 2) Kerusakan serat pada saat pulp, pemutihan
atau pengeringan sebagai serat pendek atau serat., 3) Pemurnian energi yang dibutuhkan
untuk mencapai kelambatan tertentu selama persiapan stok. Prosedur standar pengukuran
drainase pulp dituangkan dalam TAPPI T221, T227, ISO 5267-1 dan ISO 5267-2

7. Tingkat Dry pada Pulp


Konsistensi merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kandungan
padat pulp selama pengolahan pulp. Pada pembuat pulp dan kertas hal ini menjadi
parameter proses yang paling penting. Semua peralatan dirancang untuk menangani pulp
sampai konsistensi tertentu. Konsistensi Pulp kira-kira terbagi dalam tiga rentang:
Konsistensi Rendah: <5%
Konsistensi Sedang: 5 - 15%

Konsistensi Tinggi:> 15%

Tetapi konsistensi aktual yang lebih berharga untuk rentang ini dalam berbagai
operasi unit pembuatan kertas berbeda.

Unit Operation Actual Consistency


Low Consistency Medium Consistency High Consistency
(LC) % (MC) % (HC) %
Repulping <6.0 <12.0 12 - 28
Screening <1.5 <4.5 -
Centrifugal <1.5 <2.5 2.5 - 6.0
Cleaning
Bleaching - 10 - 15 25 - 35
Refining 3-6 10 - 15 28 - 35
Headbox <1.0 - >1.0

8. Moisture Content of Market Pulp / Tingkat kelembaban Pulp dalam Pemasaran


Tingkat kelembaban pulp menjadi hal penting dari sudut pandang penyimpanan,
transportasi dan penanganan. Sebagian besar pulp pasar dijual, disimpan, diangkut dan
digunakan sebagai udara kering. Bagian yang dapat digunakan dari pulp adalah serat
kering saja, jadi tendensinya adalah meminimalkan kandungan lemak bubur kertas.
Sejumlah kecil bubur kertas juga dijual sebagai lap basah. Bubur kertas lap basah
tidak dikeringkan pada sumbernya dan diangkut sekitar 50% kadar air. Hal
memungkinkan untuk transportasi jarak pendek dan jika pulp untuk segera digunakan
pada akhir bagian.

9. Ekstraktif (Karbohidrat Berat Molekul Rendah) di Pulp


Karbohidrat molekul rendah menunjukkan tingkat degradasi selulosa selama proses

pulping dan bleaching, yang dapat mempengaruhi kekuatan pulp dan sifat lainnya. Pulp

diolah dengan larutan NaOH 1% panas selama satu jam untuk memperkirakan hilangnya

hasil panen akibat ekstraksi. Prosedur standar untuk mengukur 1% Hot Alkali Solubility

tercantum dalam TAPPI T212

10. Diameter Serat


Efek dari diameter serat, ketebalan dinding dan kekasaran pada sifat lembaran agak
rumit dan tidak jelas. Kualitas ini terutama akan mempengaruhi fleksibilitas serat.
Diameter serat dapat dinyatakan sebagai penampang melintang atau rasio ketebalan
dinding terhadap diameter disebut kerapatan serat.

11. Panjang Serat Pulp


Panjang serat (rata-rata aritmatika, rata-rata tertimbang, dll.) adalah salah satu
parameter pulp yang paling penting. Kekuatan Pulp berbanding lurus dengan panjang
serat dan menentukan penggunaan akhirnya. Pulp serat panjang bagus untuk dicampur
dengan pulp serat pendek untuk mengoptimalkan biaya serat, kekuatan dan pembentukan
kertas. Kayu lunak pulp pada umumnya memiliki serat lebih panjang dibandingkan pulp
kayu keras. Pulp yang terbuat dari kayu yang tumbuh di iklim dingin pada umumnya
memiliki serat lebih panjang dibandingkan kayu yang ditanam di daerah beriklim hangat.
Pulp kimia pada umumnya memiliki panjang serat yang lebih tinggi dibandingkan
pulp setengah kimia dan pulp mekanik, bila dibuat dari kayu yang sama. Lebih banyak serat
rusak / diperpendek dengan tindakan mekanis daripada tindakan kimia.

Panjang Serat Bahan Baku

Raw Material Fiber Length (mm) Raw Material Fiber Length (mm)
Temperate softwoods 2.7-5.6 Esparto grass 1.5
Temperate hardwoods 0.7-1.7 Flax tow, seed 25-30
Tropical mixed hardwoods 0.7-3.0 Hemp, bast 20
Acacia 0.7 Jute, bast 2.5
Eucalyptus 0.7-1.3 Kenaf, bast 2.4-2.6
Gmelina 0.8-1.3 Kenaf, core 0.6
Abaca (ie: manila hemp) 6.0 Ramie 200
Bagasse, depithed 1.0-1.5 Reed 0.5-2.5
Bamboo 1.2-4.0 Rice straw 0.8-1.0
Corn stalk, depithed 1.0-1.5 Sisal 3.0-3.5
Cotton fiber 20-25 Sunn hemp, bast 2.5-3.5
Cotton linters 1.0-3.5 Switchgrass 1.4
Cotton stalks 0.6-0.8 Wheat straw 0.7-1.5

Fiber Population of Pulp

Raw Material Length (mm) Width (mm) Population (Million/gm)


Eucalyptus 0.7 0.016 13-18
Acacia 0.7 0.016 13-18
Scandinavian Birch 1.1 8.0
Scandinavian Pine 3.0 1.5
Tropical Mixed Hardwood 0.9 0.004 5.0
Southern Pine 3.5 1.0

12. Kekuatan Serat


Kekuatan serat, yaitu kekuatan intrinsik serat tunggal, mempengaruhi kekuatan
lembaran, meskipun kekuatan lembaran lebih dipengaruhi oleh ikatan serat. Kekuatan
serat adalah indikasi kekuatan maksimum yang dapat diperoleh dari pulp tertentu.
Kekuatan maksimum tidak tercapai dalam praktik karena fakta bahwa ikatan interfiber
adalah faktor penentu. Kekuatan serat biasanya diukur dengan nol uji tarik spam.

13. Fines conten


Ukuran tambahan dari ukuran partikel pulp adalah persentasedari fines. Hal ini terdiri
dari partikel berukuran kurang dari 0,2 mm yang diukur dengan penganalisis optik, atau
persentase berat fraksi P200 yang diperoleh dari penggolong Bauer McNett. Fine content
dapat berdampak signifikan terhadap pemrosesan, terutama berkaitan dengan penyaringan
atau operasi drainase. Kandungan fine dari pulp kraft bisa berkisar antara 5-15%. Untuk
pulp mekanik tanah liat, kandungan fine bisa melebihi 40%.

14. Hemiselulosa di Pulp


Kandungan hemiselulosa dari pulp adalah indikator perbedaan kimia yang berasal dari
pohon dan dipengaruhi oleh proses pulping yang digunakan. Pulp dengan kandungan
hemiselulosa yang lebih tinggi mengembangkan kekuatan lebih cepat saat pemukulan /
pemurnian. Hemiselulosa membantu ikatan serat selulosa. Softwood hemiselulosa jauh
lebih efektif dalam ikatan serat daripada hemiselulosa kayu keras. Pulp dari jerami
gandum, cornstalks dan tanaman non-kayu lainnya memiliki kandungan hemiselulosa
jauh lebih tinggi daripada pulp kayu. Pulp yang mengandung terlalu banyak hemiselulosa
hidrat terlalu cepat dan kehilangan freeness sebelum kekuatan yang cukup dikembangkan.
Hemiselulosa semula diduga merupakan senyawa antara dalam biosintesa selulosa.
Namun saat ini diketahui bahwa hemiselulosa termasuk dalam kelompok polisakarida
heterogen yang dibentuk melalui jalan biosintesis yang berbeda dari selulosa.
Hemiselulosa merupakan heteropolisakarida, hemiselulosa berfungsi sebagai bahan
pendukung dalam dinding-dinding sel. Kebanyakan hemiselulosa mempunyai derajat
polimerisasi hanya 200. Jumlah hemiselulosa dari berat kering kayu biasanya antara 20-
30 %. Komposisi dan struktur hemiselulosa dari kayu lunak dan kayu lunak secara khas
berbeda dengan kayu keras.perbedaan-perbedaan yang besarjuga dalam kandungan dan
komposis hemisellulosa dalam batang, cabang-cabang, akar, dan kulit kayu.
Hemiselulosa kayu lunak

15. Kappa Number


Nomor Kappa adalah penentuan kekerasan relatif, kemampuan pemutihan atau derajat
delignifikasi pulp. Ini adalah parameter penting pada proses pembuatan pulp. Pulp dengan
Kappa rendah lebih mudah untuk pemutih. Pulp dengan Kappa yang tinggi biasanya
membutuhkan lebih banyak energi dalam pemurnian, namun seringkali menghasilkan kertas
atau papan yang lebih kuat (terutama berkenaan dengan kekuatan sobek).
Pulp yang telah dikelantang sepenuhnya dapat memiliki Kappa # serendah 1 dan bubur
kertas hasil yang sangat tinggi mungkin memiliki kappa # setinggi 100. Berikut Kappa khas #
dari beberapa pulp.

Proses Kappa #
Hardwood Pulp for Bleaching 14 - 20
Softwood Pulp for Bleaching 20 - 30
Wood pulp to be used Unbleached 40 -100
The method to find kappa # of pulp is described in TAPPI T236.

16. Lignin di Pulp


Lignin merupakan suatu polimer alami yang sukar yang berkaitan dengan strukturdan
heterogenitasnya. Dalam kebanyakan penggunaan kayu lignin digunakan sebagai bagian
integral kayu. Hanya dalam pembuatan pulp dan pengelantangan lignin dilepaskan
dilepaskan dari kayu dalam bentuk terdegredasi dan berubah, dan merupakan sumber
karbon lebih dari 35 juta ton tiap tiap tahun diseluruh dunia yang sangat potensial untuk
keperluan kimia dan energi. Yang disebut lignin klason diperoleh seelah penghilangan
polisakarida yang dari kayu yang ekstraksi (bebas damar) degan hidrolisis dengan asam
sulfat 72 %. Lignin juga larut sebagai alkali lignin bila kayu diperlakukan pada suhu
tinggi.(170 oC) dengan natrium hidroksida atau lebih baik, dengan campuran natrium
hidroksida dan natrium sulfida (lignin sulfat atau lignin kraft). Lignin lebih lanjut diubah
menjadi turunan yang larut alkali dengan larutan asam klorida dan asam tioglikolal pada
100 oC.
Lignin kayu lunak dapat ditentukan secara gravimetri dengan metoda Klakson. Kayu
lunak normal megandung 26-36 % lignin sedangkan kandungan lignin kayu keras adalah
35-40 %. Lignin yang terdapat dalam kayu keras. Sebagian larut selama hidrolisis asam
dan karena itu harga-harga gravimetri harus dikoreksi untuk lignin yang larut dalam
asam dengan menggunakan spectrometri UV. (Wegener,D, 1985)

17. Nomor Permanganat (Nomor K)


Uji kimia dilakukan pada pulp untuk mengetahui tingkat delignifikasi. Ada
hubungan matematis antara K Number dan Kappa Number.

18. Proses Pulping

Meskipun proses pulping yang digunakan secara langsung bukan merupakan


properti bubur kertas tapi ini adalah salah satu parameter terpenting yang digunakan
dalam menentukan pulp. Saat kita berpindah dari mekanis penuh ke proses
pengelompokan kimia penuh, kekuatan pulp dan kemampuan pemutihan meningkat.
Kekuatan meningkat karena berkurangnya degradasi serat dan daya tahan pemutihan
karena lebih banyak lignin yang dikeluarkan secara kimia daripada proses
pengeringan mekanis.
Hasil bubur kertas diatur oleh proses pulping. Proses pulping mekanis yang
memberikan hasil tinggi, mempertahankan hampir semua konstituen kayu. Lignin
yang merupakan selulosa tertinggi kedua, tidak terikat pada serat selulosa sendiri
sebagai serat, tidak berkontribusi pada ikatan apapun, mengakibatkan bubur kertas
lemah. Kedua lignin berwarna coklat dan untuk mempertahankan hasil pulp pulp yang
tinggi, lignin tidak dilepaskan saat pemutihan, namun hanya dimodifikasi secara
kimia.

19. Penyulingan Khusus Energi


Energi yang digunakan per unit berat pada basis kering oven (KWH / MT atau
HPD / Ton) selama pemurnian. Nilai yang lebih tinggi menyebabkan formasi yang
baik (dan dengan demikian kekuatan) dan banyak permukaan interiter (untuk opasitas
dan kecerahan).
Grade Net HP Day/Ton Net KWH/Ton
Fine Paper Hardwood Kraft 2-5 36 - 90
Softwood Kraft 3-7 54 - 126
Linerboard Base 5-7 90 - 126
Top 10 - 12 180 - 216
Newspaper Softwood Kraft 2-5 36 - 90
TMP/GWD 1-5 18 - 90
GWD Printing Paper Softwood Kraft 3-7 54 - 126
TMP/GWD 3-6 54 - 108

Perkiraan kebutuhan energi spesifik dapat dibuat untuk jenis pulp tertentu jika
freeness bubur kertas yang tidak dimurnikan dan tingkat kecerahan target diketahui.
Dengan mengurangi freeness target dari freeness yang tidak dimurnikan, jumlah total
perubahan freeness akan dihitung.

Nilai dalam tabel berikut kemudian dapat digunakan untuk memprediksi kira-kira
berapa banyak energi yang harus dibutuhkan untuk mencapai penurunan kecerahan
yang diinginkan.

Furnish Freeness Drop Net HP Day/Ton


Bleached Hardwood Kraft 60 - 100 ml
Bleached Softwood Kraft 20 - 40 ml
GWD 3 - 7 ml
OCC 40 - 70 ml
Mixed Office Waste 50 - 70 ml
Newsprint 20 - 35 ml

20. Kekuatan Tarik Pulp


Hal ini bukan kekuatan tarik serat individu, yang bahkan lebih tinggi dari atau
setara dengan baja. Kekuatan tarik yang dibahas di sini adalah kekuatan maksimal
dari serat pulp berorientasi acak saat dibentuk dalam lembaran. Kekuatan tarik ini
memberi indikasi kekuatan pulp maksimum yang dipukul dalam kondisi ideal dan
kekuatan tarik apa yang bisa dicapai dalam lingkungan pembuatan kertas asli.

21. Viskositas Pulp


Viskositas larutan pulp memberikan perkiraan tingkat rata-rata polimerisasi serat
selulosa. Jadi viskositas menunjukkan degradasi relatif serat selulosa selama proses
pulp / bleaching. Menghilangkan pulp dari kayu yang mengandung sebagian besar
selulosa alfa, memberikan nilai viskositas lebih tinggi daripada pulp kertas. Prosedur
standar untuk mengukur viskositas pulp tercantum dalam TAPPI T230

22. Zero-Span Tensile


Salah satu cara untuk mengukur kekuatan tarik pulp adalah "zero span breaking
strength" yang dijelaskan TAPPI T231. Data tarik bentang nol menentukan kekuatan
maksimum serat pulp saat dipukul dalam kondisi laboratorium ideal.

23. Potensi Zeta


Potensi zeta adalah parameter yang menentukan interaksi listrik antar partikel,
bernilai tinggi, positif atau negatif, mencegah flokulasi. Perubahan potensial zeta
dapat mempengaruhi nilai retensi, kekuatan, dekosisi pitch dan persyaratan aditif.
Potensi zeta pulp dan partikel lainnya dalam prosesnya dapat bervariasi untuk
beberapa alasan, mis. Perubahan penyulingan, pH, sumber pulp, pecahnya kandungan
dan jumlah aditif yang digunakan.

Some of the commonly used Pulp & Fiber Test

TAPPI Test *Related *Related


Method ISO Method ASTM
number
T211 Ash in Wood, Pulp, Paper :(525oC) 1762 D1102
T234 Coarseness of Pulp Fibers
T240 Consistency 4119
T213 Dirt in Pulp 5350/1,
5350/2
T221 Drainage time of Pulp 5267-1,
5267-2
T232 Fiber Length by Projection 16065-1,
16065-2
T233 Fiber Length by Classification 16065-1,
16065-2
T271 Fiber Length by Automated Optical analyzer
T227 Freeness of Pulp (CSF) 5267/2
T236 Kappa Number 302
T200 Laboratory Beating (Valley Beater method) 5264
T248 Laboratory Beating (PFI Mill method) 5264/2
T220 Physical testing of Pulp Hand sheets 5270
T204 Solvent Extractives of Wood & Pulp 624 D1107,
D1108
T259 Species Identification of Nonwood Plant
Fibers
T230 Viscosity of Pulp (Capillary Viscometer 5351/1
method)
T207 Water Solubility of Wood & Pulp D1110
T231 Zero Span Breaking Strength (Dry) 15361 D5804

o Bowyer, J.L., R., Schmulsky, J. G. Haygreen. 2007.Forest Products and Wood


Science : An Introduction. 5th Ed . Iowa State Press. USA
o Dewi, T. K., , A. Wulandari dan Romy. 2009. Pengaruh Temperatur, Lama
Pemasakan, dan Konsentrasi Etanol pada Pembuatan Pulp Berbahan Baku Jerami Padi
dengan Larutan Pemasak NaOH-Etanol. Jurnal Teknik Kimia, Vol. 16, No. 3: 11 20
o Dhake dan Ilindra. 2008. Microcristalline Cellulose from Bagasse and Rice
Straw. Indian Journal of Chemical Technology. Vol. 15 halaman 497-49
o Johansson, A., Aaltonen, O., & Ylinen, P. (1987). Organosolv pulpingmethods and
pulp properties. Biomass, 13(1), 45-65.
o Shatalov, A.A. dan H. Pereira. 2006. Papermaking Fibers From Giant Reed (Arundo
donax L) Advanced Ecologically Friendly Pulping and Bleaching
Technologies.Bioresources Journal 1 (1) 2006. 45-61
o Sixta, H., 2006. Handbook of Pulp and Paper Technology, Volume 1