Anda di halaman 1dari 47

TUGAS MAKALAH MANAJEMEN

KUALITAS LINGKUNGAN

JUDUL MAKALAH:
STUDI LITERATUR SISTEM
PENGELOLAAN AIR LIMBAH DKI
JAKARTA

Ditulis oleh :

Sunanto (3312100072) Angkatan 2012


Aron Tampubolon (33......) Angkatan 2012
Galih Eldyawan (33.....) Angkatan 2012
Lucio (33......) Angkatan 2012

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER


SURABAYA
2015

i
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masalah pencemaran lingkungan khususnya masalah pencemaran air di kota besar di
Indonesia, telah menunjukkan gejala yang cukup serius,. Penyebab dari pencemaran tadi
tidak hanya berasal dari buangan industri dari pabrik - pabrik yang membuang begitu saja air
limbahnya tanpa pengolahan lebih dahulu ke sungai atau ke laut, tetapi juga yang tidak kalah
memegang andil baik secara sengaja atau tidak adalah masyarakat Jakarta itu sendiri, yakni
akibat air buangan rumah tangga yang jumlahnya makin hari makin besar sesuai dengan
perkembangan penduduk maupun perkembangan kota Jakarta. Ditambah lagi rendahnya
kesadaran sebagian masyarakat yang langsung membuang kotoran/tinja maupun sampah ke
dalam sungai, menyebabkan proses pencemaran sungai - sungai yang ada di Jakarta
bertambah cepat.
Dengan semakin besarnya laju perkembangan penduduk dan industrialisasi di
Jakarta, telah mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan. Padatnya
pemukiman dan kondisi sanitasi lingkungan yang buruk serta buangan industri yang
langsung dibuang ke badan air tanpa proses pengolahan telah menyebabkan pencemaran
sungai - sungai yang ada di Jakarta, dan air tanah dangkal di sebagian besar daerah di
wilayah DKI Jakarta, bahkan kualitas air di perairan teluk Jakarta sudah menjadi semakin
buruk.
Air limbah kota - kota besar di Indonesia khususnya Jakarta secara garis besar dapat
dibagi menjadi tiga yaitu air limbah industri dan air limbah domestik yakni yang berasal dari
buangan rumah tangga dan yang ke tiga yakni air limbah dari perkantoran dan pertokoan
(daerah komersial). Saat ini selain pencemaran akibat limbah industri, pencemaran akibat
limbah domestik telah menunjukkan tingkat yang cukup serius. Di Jakarta misalnya, sebagai
akibat masih minimnya fasilitas pengolahan air limbah kota (sewerage system)
mengakibatkan tercemarnya badan - badan sungai oleh air limbah domestik, bahkan badan
sungai yang diperuntukkan sebagai bahan baku air minumpun telah tercemar pula. Dari hasil
penelitian yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta bersama-sama
dengan Tim JICA (1989), jumlah unit air buangan dari buangan rumah tangga per orang per
hari adalah 118 liter dengan konsentrasi BOD rata-rata 236 mg/lt dan pada tahun 2010 nanti
diperkirakan akan meningkat menjadi 147 liter dengan konsetrasi BOD rata-rata 224 mg/lt.
Data secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 1.1.
Jumlah air buangan secara keseluruhan di DKI Jakarta diperkirakan sebesar 1.316.113
M3/hari yakni untuk air buangan domestic 1.038.205 M3/hari, buangan perkantoran dan
daerah komersial 448.933 M3/hari dan buangan industri 105.437 M3/hari. Perkiraan jumlah
air limbah di wilayah DKI Jakarta secara lengkap seperti terlihat pada Tabel 1.2 , sedangkan
untuk perkiraan beban polusi ditunjukkan pada Tabel 1.3. Dari tabel tersebut dapat diketahui
bahwa untuk wilayah Jakarta, dilihat dari segi jumlah, air limbah domestik(rumah tangga)
memberikan kontribusi terhadap pencemaran air sekitar 75 %, air limbah perkantoran dan
daerah komersial 15 %, dan air limbah industri hanya sekitar 10 %. Sedangkan dilihat dari
beban polutan organiknya, air limbah rumah tangga sekitar 70 %, air limbah perkantoran 14
%, dan air limbah industri memberikankontribusi 16 %. Dengan demikan air limbah rumah
tangga dan air limbah perkantoran adalah penyumbang yang terbesar terhadap pencemaran
air di wilayah DKI Jakarta. Masalah pencemaran oleh air limbah rumah tangga di wilayah
DKI Jakarta lebih diperburuk lagi akibat berkembangnya lokasi pemukiman di daerah
penyangga yang ada di sekitar Jakarta, yang mana tanpa dilengkapi dengan fasilitas
pengolahan air limbah, sehingga seluruh air limbah dibuang ke saluran umum dan akhirnya
mengalir ke badan-badan sungai yang ada di wilayah DKI Jakarta. Oleh karena itu
berdasarkan latar belakang diatas dalam makalah ini kami ingin membahas mengenai
permasalahan pencemaran air di Jakarta berikut solusi alternatif yang bisa diberikan.
1.2 Rumusan Masalah
Apa pengertian pencemaran air?
Bagaimana kondisi pencemaran air di Jakarta?
Bahaya apa saja yang ditimbulkan oleh air yang tercemar?
Apa yang harus dilakukan untuk mencegah dan mengatasi pencemaran air
di Jakarta?
1.3 Tujuan
untuk dapat memahami definisi pencemaran air.
untuk dapat mengetahui kondisi pencemaran air di Jakarta
untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh air yang tercemar
untuk dapat mengetahui tindakan yang harus dilakukan untuk mencegah
dan mengatasi pencemaran air di Jakarta.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pencemaran Air


Salah satu dampak negatif dari kemjuan ilmu dan teknologi yang tidak
digunakan dengan benar adalah terjadinya polusi. Polusi adalah peristiwa
masuknya zat, unsur, zat atau komponen lain yang merugikan ke dalam
lingkungan akibat aktivitas manusia atau proses alami. Segala sesuatu yang
menyebabkan polusi disebut polutan.
Suatu benda dapat dikatakan polutan bila kadarnya melebihi batas normal,
berada pada tempat dan waktu yang tidak tepat. Polutan dapat berupa suara,
panas, radiasi, debu, bahan kimia, zat- zat yang dihasilkan makhluk hidup dan
sebagainya. Adanya polutan dalam jumlah yang berlebihan dapat menyebabkan
lingkungan tidak dapat mengadakan pembersihan sendiri ( regenerasi). Oleh
karena itu, polusi terhadap lingkungan perlu dideteksi secara dini dan ditangani
segera.
Pencemaran air adalah peristiwa masuknya zat, energi, unsur atau
komponen lainnya ke dalam air, sehingga kualitas air terganggu yang ditandai
dengan perubahan warna, bau dan rasa. Pencemaran air juga diartikan sebagai
suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai,
lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia.Beberapa contoh polutan antara lain:
Fosfat yang berasal dari penggunaan pupuk buatan dan detergen, Poliklorin
Bifenil (PCB) senyawa ini berasal dari pemanfaatan bahan- bahan peluma dan
plastic, Minyak dan Hidrokarbon dapat berasal dari kebocoran pada roda dan
kapal pengangkut minyak, logam- logam berat berasal dari industri bahan kimia
dan bensin, Limbah Pertanian berasal dari kotoran hewana dan tempat
penyimpanan makanan ternak, Kotoran Manusia berasal dari saluran pembuangan
tinja manusia.
2.2 Macam- Macam Sumber Pencemaran dan Polutan Tercemar
Sumber pencemaran air secara umum berasal dari air limbah domestik
yakni air limbah yang berasal dari kegiatan rumah tangga, perkantoran, rumah
makan, hotel, asrama, sekolah dan lainnya, air limbah industri, air limbah
pertanian (agricultural waste water), serta air hujan yang bertercampur dengan air
limbah.

2.2.1 Air Limbah Rumah Tangga


Air limbah rumah tangga dapat dibagi menjadi dua yakni air limbah toilet (black
water) dan air limbah non toilet (grey water). Air limbah toilet terdiri dari tinja, air
kencing serta bilasan, sedangkan air limbah non toilet yakni air limbah yang
berasal dari air mandi, air limbah cucian, air limbah dapur, wastafel, dan lainnya.
Rata-rata tiap orang mengeluarkan kotoran tinja 1,2 liter dengan komposisi
seperti pada tabel. (Iwai, 1978).Secara umum jumlah air limbah rumah tangga
berkisar antara 200 300 liter/orang.hari. Beban polutan per kapita per hari dapat
dilihat pada table berikut
2.2.2 Air Limbah Peternakan dan Potong Hewan
Air limbah peternakan atau potong hewan sangan potensial mencemari
lingkungan, karena mengandung polutan organik yang cukup tinggi. Beberapa
jenis peternakan yang banyak dijumpai antara lain peternakan dan rumah potong
sapi, ayam, dan babi. Beban polutan limbah peternakan dan rumah potong hewan
dapat dilihat pada tabel.

2.2.3 Air Limbah Industri


Air limbah yang berasal dari industri sangat bervariasi tergantung dari
jenis industrinya. Untuk mengetahui jumlah serta beban polutan yang ada di
dalam air limbah industri dapat dilakukan dengan cara pengukuran langsung atau
dapat juga diperkirakan berdasarkan pada jenis industri yang sejenis. Berdasarkan
karakteristiknya air limbah industri secara garis besar dapat dikelompokkan
menjadi beberapa kelompok :
1. Air limbah industri yang mengandung konsentrasi zat organik yang relatif
tinggi : misalnya industri makanan, industri kimia (industri minyak nabati
atau hewan, industri obat-obatan, industri lem atau perekat gelatin, industri
tekstil, industri pulp dan kertas dll
2. Air limbah industri yang mengadung konsentrasi zat organik relatif rendah

: misalnya industri pengemasan makanan, industri pemintalan, industri


serat, industri kimia, industri minyak, industri batu bara, industri laundry,
dll
3. Air limbah industri yang mengandung zat organik berbahaya beracun :

misalnya industri penyamakan kulit, industri barang dengan bahan


baku kulit, industri besi baja, industri kimia insektisida, herbisida
dll.
4. Air limbah industri yang mengandung zat anorganik umum : misalnya

industri kimia seperti industri pupuk anorganik, industri kimia


anorganik, pencucian pada industri logam, industri keramik, dll.
5. Air limbah industri yang mengandung zat anorganik berbahaya beracun :
industri pelapisan logam (elektroplating), industri baterai, industry
Beberapa contoh karakteristik air limbah dari beberapa jenis industri :
Industri Pelapisan Logam ( Metal Plating Industry)
Di dalam proses pelapisan logam terdapat proses pencucian, penetralan,
penghilangan lemak, proses pencucian dengan asam , proses pelapisan.
Air limbah dari industri tersebut umumnya mengadung sianida, khrom,
nikel, zat besi, seng (Zn), tembaga (Cu), cadmium, asam, alkali, flour (F) dll.
Industri Perminyakan (Oil Refinary Industry)
Air limbah industri pemurnian minyak berasal adri air yang mengandung
minyak atau air proses yang mengandung minyak, senyawa sulfida,
amonia, fenol, dll.
Industri Petrokimia
Air limbah industri petrokimia kualitasnya bervariasi tergantung dari
jenis industri atau produk yang dihasilkan. Karakteristik air limbah
industri petrokimia ada yang mengadung BOD, COD, SS dengan
konsentrasi yang tinggi sampai konsentrasi yang relatif rendah.
Industri Pulp dan Kertas
Industri pulp dan kertas merupakan industri yang mengeluarkan
air limbah dalam jumlah yang besar serta mengadung polutan organik
(BOD, COD) serta padatan tersuspensi (SS) dengan konsentrasi yang
sangat tinggi. Di dalam proses pembuatan pulp mengeluarkan air
limbah yang mengandung selulosa, lignin serta senyawa
hemiselulosa dengan konsentrasi yang cukup tinggi. Selain itu pada proses
pemutihan bubur kertas juga menghasilkan air limbah dalam jumlah yang
besar.
Industri Zat Pewarna (Dye Work Industry)
Bahan pewarna banyak digunakan untuk pewarnaan serat alami atau serat
sintetis, serta bahan pembantu pada industri tekstil. Prosesnya sangat
kompleks dan kualitas air limbahyang dihasilkan juga sangat
bervariasi. Umumnya konsentrasi BOD 200 500 mg/l dan
konsentrasi SS 50 400 mg/l.
Industri Bir (Brewery and distillery industry)
Air limbah industri ini umumnya mengandung polutan organik (BOD)
dengan konsentrasi yang tinggi.
Industri Alkohol
Industri mengelurakan air limbah dari hasil proses fermentasi pati
menjadi alkohol. Mengandung polutan organik (COD) mencapai 45000
60.000 ppm. Konsentrasi BOD 10.000 30.000 mg/l.
Industri Farmasi dan Industri Kosmetik
Air limbah industri farmasi dan industri kosmetik mengandung
parameter polutan yang bervariasi tergantung dari jenis prudknya.
Mengandung polutan organik maupun anorganik serta senyawa deterjen
dengan konsentrasi yang cukup tinggi.

2.2.4 Air Limbah Pertanian dan Perikanan

Air limbah pertanian banyak mengandung senyawa nutrien yang berasal


dari sisa-sisa pupuk serta banyak mengadung senyawa pestisida. Senyawa
nutrien yakni nitrogen dan phospor dapat menyebabkan eutrophikasi. Sisa-
sisa makanan dan kotoran ikan dari perikanan juga
dapatmenimbulkan masalah di dalam perairan khususnya dapat
menyebabkan eutrophikasi.

2.2.5 Air Limbah Industri Pertambangan (Mine Industry)

Industri pertambangan menghasilkan air limbah yang bersifat asam,


serta mengandung logam berat yang dapat membahayakan kesehatan.

2.2.6 Lain-lain

Air limbah yang lain adalah air hujan yang tercampur oleh sumber
pencemaran misalnya air limbah yang lindi sampah.

2.3 Bahaya dari Pencemaran Air


Bibit- bibit penyakit berbagai zat yang bersifat racun dan bahan radioaktif
dapat merugikan manusia. Berbagai polutan memerlukan O2 untuk
penguraiannya. Jika O2 kurang, penguraiannya tidak sempurna dan menyebabkan
air berubah warnanya dan berbau busuk. Bahan atau logam yang berbahaya
seperti arsenat, uradium, krom, timah, air raksa, benzon, tetraklorida, karbon dan
lain- lain dapat merusak organ tubuh manusia atau dapatmenyebabkan kanker.
Sejumlah besar limbah dari sungai akan masuk ke laut.
Polutan ini dapat merusak kehidupan air sekitar muara sungai dan
sebagian kecil laut muara. Bahan- bahan yang berbahaya masuk ke laut atau
samudera mempunyai akibat jangka panjang yang belum diketahui. Banyak jenis
kerang- kerangan yang mungin mengandung zat- zat yang berbahaya untuk
dimakan. Laut dapat pula tercemar oleh yang asalnya mungkin dari pemukiman,
pabrik, melalui sungai, atau dari kapal tanker yang rusak. Minyak dapat
mematikan burung dan hewan laut lainnya, sebagai contoh efek keracunan dapat
dilihat di Jepang. Merkuri yang dibuang oleh sebuah industri ke teluk minamata
terakumulasi di jaringan tubuh ikan dan masyarakat yang mengkonsumsinya
menderita cacat dan meninggal.
Banyak akibat yang ditimbulkan oleh polusi air, diantaranya:
1. Terganggunya kehidupan organisme air karena berkurangnya kandungan
oksigen
2. Terjadinya ledakan ganggang dan tumbuhan air
3. Pendangkalan dasar perairan
4. Tersumbatnya penyaring reservoir, dan menyebabkan perubahan ekologi
5. Dalam jangka panjang mengakibatkan kanker dan kelahiran cacat
6. Akibat penggunaan pestisida yang berlebihan selain membunuh hama dan
penyakit, juga membunuh serangga dan makhluk yang berguna terutama
predator
7. Kematian biota kuno, seperti plankton, ikan bahkan burung
8. Dapat mengakibatkan mutasi sel kanker dan leukemia

2.4 Usaha- Usaha untuk Mencegah dan Mengatasi Pencemaran Air


Pengenceran dan penguraian polutan air tanah sulit sekali karena airnya
tidak mengalir dan tidak mengandung bakteri pengurai yang aerob, jadi air tanah
yang tercemar akan tetap tercemar dalam waktu yang lama, walau tidak ada bahan
pencemaran yang masuk. Oleh karena itu banyak usaha untuk menjaga agar air
tanah tetap bersih, misalnya:
1. Menempatkan daerah industri atau pabrik jauh dari daerah pemukiman
atau perumahan
2. Pembuangan limbah industri diatur sehinga tidak mencemari lingkungan
atau ekosistem
3. Pengawasan terhadap penggunaan jenis- jenis pestisida dan zat-zat kimia
lain yang dapat menimbulkan pencemaran
4. Memperluas gerakan penghijauan
5. Tindakan tegas terhadap perilaku pencemaran lingkungan
6. Memberikan kesadaran terhadap masyarakat tentang arti lingkungan hidup
sehingga manusia lebih mencintai lingkungannya
7. Melakukan intensifikasi pertanian
Adapun cara lain untuk mengatasi polusi air atau yang dikenal dengan
sebutan banjir. Banjir ada dua macam yaitu banjir banding dan banjir
genangan.
1. Banjir bandang dapat diatasi secar meluas dengan didukung berbagai
disiplin ilmu.
2. Banjir genangan dapat diatasi dengan memebersihakan air dari
penyumbatan yang mengakibatkan air meluap.
Banyak orang mengatakan lebih baik mencegah dari pada mengatasi,
hal ini berlaku pula pada banjir genangan. Ada beberapa langkah- langkah yang
dilakukan untuk mencegah banjir genangan yaitu:
1. Dalam perencanaan jalan- jalan lingkungan baik program pemerintah maupun
swadaya masyarakat sebaiknya memilih material bahan yang menyerap air
misalnya penggunaan bahan dari pavling blok ( blok- blok adukan beton yang
disusun denagn rongga- rongga resapan air disela- selanya. Hal yang tidak kalah
pentingnya adalah penataan saluran lingkungan, pembuatannyapun harus
bersamaan dengan pembuatan jalan tersebut
2. Apabila di halaman pekarangan- pekarangan rumah kita masih terdapat ruang-
ruang terbuka, buatlah sumur- sumur resapan air hujan sebanyak- banyaknya.
Fungsi sumur resapan air ini untuk mempercepat air meresap ke dalam tanah.
Dengan membuat sumur resapan air tersebut, sebenarnya kita dapat memperoleh
manfaat seperti berikut:
Persediaan air bersih dalam tanah disekitar rumah kita cukup baik dan
banyak
Tanah bekas galian sumur dapat dipergunakan untuk menimbun lahan- lahan
yang rendah atau meninggikan lantai rumah
BAB III
METODE PENULISAN

Didalam penulisan makalah ini kami menggunakan metode studi literatur.


Studi literatur merupakansurvei dan pembahasan literatur pada bidang tertentu
dari suatu penelitian. Studi ini merupakan gambaran singkat dari apa yang telah
dipelajari, argumentasi, dan ditetapkan tentang suatu topik, dan biasanya
diorganisasikan secara kronologis atau tematis.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Kondisi Pencemaran Air Di DKI Jakarta Pencemaran Sungai

Peruntukan air sungai/badan air di Daerah Khusus Ibukota Jakarta


ditetapkan menurut golongan air sesuai dengan peruntukannya, yaitu :

Golongan A : air yang dapat digunakan sebagai air minum


secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu, dengan
konsentrasi zat organik (Angka Permanganat) maksimum 10
mg/l atau setara dengan target BOD maksimum 5 mg/lt.
Golongan B : air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum,
dengan target konsentrasi BOD maksimum 10 mg/l.
Golongan C : air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan
dan peternakan, dengan target konsentrasi BOD maksimum 20
mg/l.
Golongan D : air yang digunakan untuk keperluan pertanian,
dan dapat dimanfaatkan untuk usaha perkotaan, industri
pembangkit tenaga air, dengan target konsentrasi BOD maksimum 20
mg/l.

Klasifikasi peruntukan sungai-sungai di DKI Jakarta seperti terlihat pada


gambar berikut.

Gambar Klasifikasi peruntukan sungai atau badan air di Wilayah DKI Jakarta.
Sumber : Surat Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta No.
582 Tahun 1995.

Dari hasil pemantauan kualitas kualitas air sungai di wilayah DKI


Jakarta sejak tahun 1983 s/d 1989 diketahui bahwa sebagian besar
sungai-sungai yang ada di Jakarta sudah tercemar dengan tingkat
pencemaran ringan sampai berat. Kondisi kualitas air sungai yang ada di
Jakarta (1989) secara lengkap dapat dilihat seperti pada gambar.
Dilihat dari parameter pencemar BOD (Biological Oxygen
Demand) yakni parameter yang menunjukkan banyaknya zat organik,
maka sebagian besar sungai di Jakarta sudah melewati ambang batas
yang diperbolehkan yakni > 30 mg/lt untuk Air Golongan D ( untuk
kehidupan biota air). Hal ini dapat dilihat dari hasil pemantauan yang
dilakukan oleh P4L (sekarang BPLHD DKI) dan Tim JICA (1989).
Dari gambar tersebut terlihat bahwa pencemaran berat dengan kadar
BOD > 90 mg/lt, terdapat pada sungai Cipinang, Kali Baru Barat,
KaliPetukangan, Cakung Drain, Kali Sunter bagian hilir, Kali Cideng,
Saluran Bali-Matramnan, Sungai Ancol, Kali Grogol dan Sungai
Sekretaris.
Selain itu hampir seluruh sungai di Jakarta mengandung
bakteri Fecal Coli yang cukup besar. Hal ini menunjukkan bahwa
sungai-sungai di Jakarta sudah tercemar oleh kotoran manusia (tinja).
Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa, ada beberapa
pencemaran sungai yang diakibatkan oleh industri misalnya Sungai
Cipinang, Kali Baru Barat, Kali Petukangan dan
Cakung Drain serta Saluran Morkevart. Tetapi sebagaian besar
disebabkan karena limbah domestik yakni berasal dari rumah tangga,
restoran, perkantoran, daerah perdagangan dan lainnya.

BPLHD DKI Jakarta tahun 1996 mempublikasikan hasil analisa


kualitas air sungai di wilayah DKI Jakarta dibandingkan dengan
standar kualitas badan air tersebut dapat dilihat bahwa sebagian besar
sungai di DKI Jakarta sudah tidak memenuhi standar peruntukan sungai
sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta No. 582
Tahun 1995 tentang Penetapan Peruntukan Dan Baku Mutu Air Sungai
atau Badan Air Serta Baku Limbah Cair Di Wilayah Daerah Khusus
Ibukota Jakarta.

Pencemaran Air Tanah


Dari hasil pemantauan terhadap kualitas air sumur gali atau
sumur tanah dangkal di DKI Jakarta yang dilakukan oleh P4L DKI
Jakarta, diketahui bahwa sebagian besar contoh yang diperiksa telah
tercemar oleh zat zat kimia antara lain zat organik, amonia,dan sebagian
bahkan telah tercemar oleh bakteri coli yang berasal dari kotoran (tinja)
manusia. Kondisi kualitas air tanah dangkal di wilayah DKI Jakarta
dapat dilihat pada Gambar. Dari gambar-gambar tersebut dapat diketahui
bahwa sebagian besar air tanah dangkal di Jakarta sudah mulai tercemar.
Adanya bakteri coli dalam air tanah menunjukkan gejala adanya
pencemaran oleh buangan rumah tangga (tinja).
Berdasarkan hasil pemerikasan terhadap enam puluh buah sumur
pantau air tanah dangkal di DKI Jakarta oleh KPPL DKI tahun 1996
dibandingkan dengan standar kualitas air minum
Departemen Kesehatan RI (PERMENKES 1990)
sekitar 87,33 % sudah tidak memenuhi syarat sebagai air minum.
Hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel.

Gambar Distribusi konsentrasi BOD di dalam air sungai di wilayah DKI


Jakarta, Oktober 1989.
Sumber : The Study On Urban Drainage and Waste Water Disposal Project
In The City Of Jakarta, 1990.

Gambar Distribusi konsentrasi COD di dalam air sungai di wilayah DKI


Jakarta, Oktober 1989.
Gambar Distribusi konsentrasi Ammonia di dalam air sungai di wilayah DKI
Jakarta, Oktober 1989.

Gambar Distribusi konsentrasi phosphat (PO4-P) di dalam air sungai di


wilayah DKI Jakarta, Oktober 1989.
Sumber : The Study On Urban Drainage and Waste Water Disposal Project
In The City Of Jakarta, 1990.
Gambar Distribusi konsentrasi bakteri Fecal-Coli di dalam air sungai di wilayah DKI Jakarta,
Oktober 1989.

Gambar Kualitas Air Sungai untuk Parameter BOD Tahun 1996 di DKI Jakarta
Sumber : BLHD Propinsi DKI Jakarta, 1996.
Tabel Kondisi Sumur Pantau PerWilayah DI DKI Jakarta Yang Tercemar
Melebihi Standar PERMENKES 1990

KEK AMM KHRO DET OR TOT.CO


LOKAS E % O- % MI % ER- % GA % LIFO %
Jakarta 11 18,33 39 65,0 2 3,33 44 73,3 38 63,33 54 90,00
Jakarta 13 21,67 20 33,3 - 0,00 36 60,0 16 26,67 57 95,00
Jakarta - 0,00 - 0,00 - 0,00 27 45,0 - 0,00 51 85,00
Jakarta - 0,00 - 0,00 5 8,33 15 25,0 - 0,00 49 81,67
Jakarta - 0,00 - 0,00 - 0,00 21 35,0 - 0,00 51 85,00
Rata-rata 8,00 19,6 2,23 47,6 18,00 87,33

Keterangan : Jumlah Sumur Pantau sebanyak 60 buah. Sumber : BPLHD Propinsi DKI Jakarta, 1996

Gambar Distribusi konsentrasi COD di dalam air tanah dangkal di wilayah DKI Jakarta, Oktober
1989.

Sumber : The Study On Urban Drainage and Waste Water Disposal Project In The City Of Jakarta,
1990.
Gambar Distribusi konsentrasi Amonia di dalam air tanah dangkal di wilayah DKI Jakarta,
Oktober 1989.
Sumber : The Study On Urban Drainage and Waste Water Disposal Project In The City Of Jakarta,
1990.

Gambar Distribusi konsentrasi bakteri Coli di dalam air tanah dangkal di wilayah DKI Jakarta,
Oktober 1989.
Sumber : The Study On Urban Drainage and Waste Water Disposal Project In The City Of Jakarta,
1990.

Pencemaran Teluk Jakarta


Seluruh sungai yang mengalir di DKI Jakarta bermuara ke perairan Teluk Jakarta,
sehingga kualitas airnya, sangat dipengaruhi oleh kondisi kualitas air sungai yang mengalir ke
Teluk Jakarta tersebut. Dengan semakin buruknya kualitas air sungai yang mengalir di wilayah
Jakarta, maka kondisi kualitas air di Teluk Jakarta juga semakin buruk pula.
Dari hasil pemantauan kualitas air di perairan Teluk Jakarta (1989) terhadap beberapa
parameter senyawa polutan misalnya COD, ammonium-nitrogen (NH4-N), dan konsentrasi Fecal-
Coliform menujukkan indikasi bahwa perairan teluk Jakarta terutama yang dekat dengan
pantai telah tercemar. Distribusi konsesntrasi COD, Ammonium (NH4-N) dan Bakteri Fecal Coli
ditunjukkan seperti pada Gambar. Sedangkan hasil pemantauan konsentrasi zat organik (COD)
di perairan teluk Jakarta Tahun 1996. Dari survei tersebut dapat dilihat bahwa secara umum
telah terjadi kenaikan konsertasi COD di perairan teluk Jakarta terutama perairan di dekat muara
sungai.
Berdasarkan data BPLHD DKI Jakarta distribusi konsentrasi BOD, COD, dan
deterjen di daerah m serta kawasan teluk Jakarta dari tahun 1999 sampai dengan tahun
2004. Dari data tersebut di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa pencemaran di wilayah
teluk Jakarta akibat pencemaran air limbah domestik maupun industri sudah mencapai taraf
yang cukup serius.

Gambar Sebaran konsentrasi COD di perairan Teluk Jakarta, Pebruari 1990.

Sumber : The Study On Urban Drainage and Waste Water Disposal Project In The City Of
Jakarta, 1990.
Gambar Sebaran konsentrasi Amonia di perairan Teluk Jakarta, Pebruari 1990.

Sumber : The Study On Urban Drainage and Waste Water Disposal Project In The City Of Jakarta,
1990.

Gambar Sebaran konsentrasi bakteri Coli di perairan Teluk Jakarta, Pebruari 1990.

Sumber : The Study On Urban Drainage and Waste Water Disposal Project In The City Of Jakarta,
1990.
ZONA 1 2 3 4 5 6 7
A 27,36 32,49 37,50 34,32 32,62 35,49 34,63
B 33,35 35,30 32,08 37,36 34,95 37,36 41,38
C - 45,71 41,85 46,85 41,10 49,12 -
D - - 54,98 59,30 55,91 54,83 -
Gambar Hasil Pengukuran Rata-rata COD (mg/l) di Teluk Jakarta Tahun 1996

Sumber : BPLHD DKI Jakarta, 1996.


No Titik 1999 2000 2001 2002 2003 2004
M1 21,1 20,33 19,40 19,050 14,55 18,7
M2 29,53 22,07 22,30 19,325 19,93 14,6
M3 20,63 19,93 19,03 12,60 13,20 13,4
M4 20,3 21,25 17,83 22,300 13,08 12,6
M5 21,3 18,12 17,55 19,80 13,23 17,95
M6 21,2 18,7 16,63 20,050 11,73 10,35
M7 20,28 18,72 23,83 21,825 12,20 20,05
M8 23,2 19,53 19,28 18,950 10,80 13,4
M9 24,4 21,62 21,22 21,320 10,27 11,7
Keterangan : M1 = M. Kamal, M2 = M. Cengkareng Drain, M3 = M. Angke, M4 = M.
Karang, M5 = M. Kali Ancol, M6 = M. Sunter,
M7 = M. Kali Cakung M8 = M. Kali Blencong, M9 = M. Kali Bekasi.

Gambar Konsentrasi BOD (mg/l) Di Muara- Muara Teluk Jakarta Tahun 1999 2004 (Saat
Air Pasang). Sumber : BPLHD Propinsi DKI Jakarta.

No Titik 1999 2000 2001 2002 2003 2004


M1 20,65 20,13 20,60 21,10 20,38 17,17
M2 25,15 21,71 20,65 20,250 19,90 20,15
M3 18,15 20 34,50 19,975 16,23 16,72
M4 20,55 21,02 18,60 22,625 19,80 16,2
M5 18,8 19,38 19,13 22,925 19,10 15,25
M6 18,33 21,17 18,25 21,80 14,95 15
M7 22,05 25,7 19,60 20,825 11,55 18,4
M8 20,28 22,3 23,40 22,70 13,85 17
M9 25,13 24,15 18,55 25,600 11,93 14,55
Keterangan : M1 = M. Kamal, M2 = M. Cengkareng Drain, M3 = M. Angke, M4 = M.
Karang, M5 = M. Kali Ancol, M6 = M. Sunter,
M7 = M. Kali Cakung M8 = M. Kali Blencong, M9 = M. Kali Bekasi.

No Titik 1999 2000 2001 2002 2003 2004


M1 0,21 0,49 1,55 3,340 0,28 0,16
M2 0,52 0,79 0,83 0,7650 1,30 0,91
M3 0,34 1,06 0,89 0,6433 0,51 0,74
M4 0,41 1,33 1,27 0,5250 0,57 1,28
M5 0,39 0,68 0,88 0,4250 0,17 0,76
M6 0,44 0,82 0,76 0,9350 0,79 0,47
M7 0,68 0,89 1,02 1,7950 1,01 2,86
M8 0,32 1,8 0,94 0,7250 0,20 0,27
M9 0,32 1,02 1,57 1,1750 0,120 0,07
Keterangan : M1 = M. Kamal, M2 = M. Cengkareng Drain, M3 = M. Angke, M4 = M.
Karang, M5 = M. Kali Ancol, M6 = M. Sunter,
M7 = M. Kali Cakung M8 = M. Kali Blencong, M9 = M. Kali Bekasi.
Keterangan : M1 = M. Kamal, M2 = M. Cengkareng Drain, M3 = M. Angke, M4 = M.
Karang, M5 = M. Kali Ancol, M6 = M. Sunter,
M7 = M. Kali Cakung M8 = M. Kali Blencong, M9 = M. Kali Bekasi.
Gambar Konsentrasi Deterjen (mg/l) Di Muara- Muara Teluk Jakarta Tahun 1999 2004 (Saat
Air Surut) Sumber : BPLHD Propinsi DKI Jakarta.

Tabel Konsentrasi BOD Di Teluk Jakarta Tahun 1999 2004 (Satuan : mg/l).

No Titik 1999 2000 2001 2002 2003 2004

A1 13,35 20,03 18,33 28,60 11,73 5,9


A2 11,55 14,53 17,35 18,60 10,05 5,85
A3 13,8 17,78 18,95 17,30 9,55 5,45
A4 11,33 14,12 13,18 16,725 13,25 4,85
A5 12,33 14,17 13,03 10,30 9,45 7,29
A6 16,1 17,48 16,90 12,50 10,105 5,15
A7 16,38 18,22 17,00 19,750 14,23 6,8
B1 17,1 17,77 21,58 18,775 9,10 6,4
B2 14,9 15,93 14,17 11,45 12,45 7,2
B3 17,93 18,18 20,88 18,20 15,15 8,2
B4 16,55 16,52 18,50 24,50 14,95 10,55
B5 18,1 17,6 21,28 19,55 12,45 10,65
B6 17,18 17,58 16,63 10,30 18,85 8,25
B7 13,85 12,98 14,23 18,225 15,950 13
C2 56,5 10,57 16,13 21,325 13,800 14
C3 17,05 18,07 17,63 14,95 12,100 10,45
C4 19,75 18,92 19,58 25,20 13,700 9,6
C5 20,83 19,97 22,75 18,25 12,025 9,25
C6 19,38 15,83 11,20 20,675 12,275 12
D3 20,93 16,05 18,80 20,50 14,050 9,5
D4 17,4 13,3 19,38 20,50 13,250 10
D5 17,2 14,92 20,30 22,00 14,125 10,3
D6 18,03 17,35 18,58 17,50 13,775 7,05
Sumber : BPLHD Propinsi DKI Jakarta.
KONSENTRASI BOD MUARA TELUK JAKARTA TAHUN 1999-2004
KONSENTRASI (Mg/l)

35
30
25
20
15
10
5
0
M1 M2 M3 M4 M5 M6 M7 M8 M9 TITIK
SAMPLING

1999 2000 2001 2002 2003 2004

Gambar Konsentrasi BOD Di Muara Teluk Jakarta Saat Pasang Tahun 1999 2004 (Satuan :
mg/l).
Sumber : BPLHD Propinsi DKI Jakarta.
Tabel Konsentrasi Deterjen Di Teluk Jakarta Tahun 1999 2004 (Satuan : mg/l).

No 1999 2000 2001 2002 2003 2004


Titik
A1 0 0 0,10 0,035 0,07 0,1
A2 0 0 0,08 0,13 0,05 0,08
A3 0 0 0,03 0,04 0,09 0,08
A4 0 0 0,01 0,00 0,07 0,06
A5 0 0 0,07 0,12 0,06 0,06
A6 0 0 0,08 0,12 0,04 0,07
A7 0 0 0,02 0,04 0,26 0,09
B1 0 0 0,07 0,01 0,07 0,085
B2 0 0 0,18 0,25 0,05 0,11
B3 0 0 0,10 0,12 0,07 0,06
B4 0 0 0,08 0,07 0,04 0,06
B5 0 0 0,22 0,41 0,04 0,06
B6 0 0 0,25 0,44 0,05 0,06
B7 0 0 0,24 0,21 0,09 0,09
C2 0 0 0,37 0,11 0,12 0,2
C3 0 0 0,20 0,13 0,06 0,1
C4 0 0 0,12 0,055 0,07 0,12
C5 0 0 0,35 0,55 0,07 0,09
C6 0 0 0,15 0,06 0,10 0,08
D3 0,03 0,02 0,31 0,315 0,06 0,12
D4 0,04 0,03 0,26 0,21 0,09 0,13
D5 0,05 0,14 0,56 0,17 0,07 0,12
D6 0,06 0,04 0,43 0,19 0,06 0,11
Sumber : BPLHD Propinsi DKI Jakarta.
KONSENTRASI (mg/l)

Gambar Konsentrasi BOD Di Teluk Jakarta Tahun 1999 2004 (Satuan : mg/l).
Sumber : BPLHD Propinsi DKI Jakarta.
KONSENTRASI DETERJEN DI TELUK JAKARTA TAHUN 1999 -
2004
KONSENTRASI (mg/l)

0,6
0,5
0,4
0,3
0,2
0,1
0
A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 B1 B2 B3 B4 B5 B6 B7 C2 C3 C4 C5 C6 D3
D4 D5 D6
1999 2000 2001 2002 2003 2004

Gambar Konsentrasi Deterjen Di Teluk Jakarta Tahun 1999 2004 (Satuan : mg/l).
Sumber : BPLHD Propinsi DKI Jakarta

4.2 Penyebab Terjadinya Pencemaran Air di Jakarta


Adapun penyebab terjadinya pencemaran air di Jakarta adalah sebagai berikut :
1. Penanganan air limbah domestik belum didukung oleh peraturan atau perangkat
hukum yang mengikat. Perdanya belum ada. Sedangkan pergub yang cantolannya ke
sana juga tidak ada.
2. DKI belum mengorganisasikan pengelolaan limbah domestik dengan normal.
Lembaga penanggung jawab atas kegiatan pengelolaan limbah domestik, khususnya
pengelolaan kelembagaan tidak di atur jelas.
3. upaya pengelolaan limbah rumah tangga atau grey water oleh DKI, juga belum
optimal. Padahal, limbah grey water disebut menyumbang 70-80 persen pencemaran
di Jakarta. Air limbah domestik grey water langsung dibuang ke saluran drainase
tanpa diolah terlebih dulu, terindikasi menjadi sumber pencemaran terbesar di badan
air permukaan DKI Jakarta.
4. Penerbitan dokumen rencana tata letak bangunan (RTLB) dan izin mendirikan
bangunan (IMB) yang belum memperhatikan perencanaan atas instalasi air limbah
domestik. Akibatnya, penanganan pencemaran limbah tidak dapat lebih dini daripada
sumber pencemarannya.
5. DKI belum melaksanakan pemeliharaan IPAL komunal secara berkala dan
berkelanjutan. Saat ini, lanjut Efdinal, baru ada 35 komunal di DKI. Itupun 25 unit di
antarannya tidak jelas kepemilikan dan pengelolaannya. Baru 10 yang
diserahterimakan oleh Dinas PU dan ditetapkan dalam Pergub 1701 Tahun 2013.
6. Pengelolaan limbah domestik pada IPLT Pulo Gebang dan Duri Kosambi belum
optimal. Misalnya, instalasi yang tidak terpelihara baik, SOP yang belum lengkap dan
lainnya.
7. Kinerja pengelolaan limbah tinja belum optimal serta pengawasan atas penyedotan
dan pengelolaan limbah septic tank lemah. Beberapa masalah pada poin ini misalnya
penyedotan limbah septic tank yang tidak dikoordinasikan oleh Sudin Kebersihan dan
penerbitan izin pengangkutan limbah septic tank tanpa didahului pemeriksaan fisik
kendaraan.
8. Pengelolaan air limbah domestik oleh PD PAL Jaya pada Waduk Setiabudi belum
optimal. Salah satu permasalahan misalnya, BPK DKI menemukan Aerator IPAL di
waduk itu tidak berfungsi sejak Januari 2014.
9. Pengembangan jaringan air limbah terpusat untuk pelanggan rumah tangga belum
optimal. Beberapa masalah misalnya, PD PAL Jaya tidak mempunyai pemetaan
jaringan pipa air limbah terkini. Selain itu, cakupan pelanggan rumah tangga PD PAL
Jaya masih rendah. Terkait PD PAL, untuk pelanggan rumah tangga presentasinya
sangat kecil. Tidak sampai 1 persen. kebanyakan untuk mal, apartemen, sama
perumah tanggaan yang besar, dengan presentasi 2 persen.
10. Upaya DKI dalam pencapaian indikator kinerja pengelolaan limbah domestik belum
optimal, dan penurunan Biochemical Oxygen Demand (BOD) sebagai prasyarat
dalam rangka percepatan penyelesaian outer sea wall DKI Jakarta sulit tercapai.
Salah satu masalahannya karena target peningkatan kualitas badan air di ibu kota
tahun 2013, terutama air laut atau teluk tidak tercapai. Kesebelas, koordinasi antar
intansi dan sosialisasi pengelolaan limbah domestik belum optimal.

4.3 Dampak Pencemaran Air di DKI Jakarta

Pencemaran Air dapat menyebabkan hal yang sangat buruk bagi kehidupan yang diantaranya
adalah:
1. Sebagai penyebab banjir. Jika musim hujan tiba, maka diberita anda akan disajikan materi
banjir. Banjir terjadi karena penumpukan sampah yang menyumbat dan mendangkalkan
selokan-selokan, sungai serta danau.

2. Sumber air bersih menghilang, Air yang bersih sangat dibutuhkan makhluk hidup, namun
jika pencemaran di air sudah terjadi air bersih lambat laun akan menghilang sehingga seluruh
makhluk bumi ini terancam punah.
3. Sumber Penyakit. Ingat bahwa air yang sudah tercemar oleh sampah organik dan anorganik
dapat menyebabkan terjadinya banyak penyakit.

4. Pencemaran air sangat merusak ekosistem, tidak heran telah banyak tumbuhan dan hewan
yang punah karena ekosistem rusak.

5. Kerugian bagi pencari ikan yang disekitar sungai, muara, danau dan laut yang telah
digunakan sebagai tempat penangkapan ikan menggunakan bom. Zat kimia sulit untuk hilang
sehingga ikan enggan datang ketempat itu lagi dan menjadi sulit untuk menangkap dan
mencarinya.

4.4 Solusi Pengelolaan Air Limbah DKI Jakarta

Ditinjau dari pengelolaannya pengelolaan air limbah DKI Jakarta secara umum mirip dengan
kondisi nasional yakni sebagai berikut :
1. Aksesibilitas Pengelolaan Air Limbah Permukiman
Tingkat pelayanan Air Limbah Permukiman di perkotaan melalui Sistem perpipaan
(sistem sewerage) mencapai 2,33 % dan melalui jamban (pribadi dan fasilitas umum)
yang aman baru mencapai 46,6% (SUSENAS 2004)
Tingkat pelayanan Air Limbah Permukiman di perdesaan melalui pengolahan
setempat (on-site system) berupa jamban pribadi dan fasilitas umum yang aman baru
mencapai 49,33% (SUSENAS 2004)
Jumlah kota yang memiliki sistem pengelolaan Air Limbah terpusat (off-site system)
baru mencapai 11 Kota
Sebagian besar fasilitas pengolahan Air Limbah setempat masih belum memenuhi
standar teknis yang ditetapkan
Rendahnya skala prioritas penanganan pengelolaan Air Limbah Permukiman baik di
tingkat pemerintah pusat maupun di daerah

2. Pendanaan
Penyelenggaraan sistem pengelolaan Air Limbah mengalami kesulitan dalam masalah
pendanaan untuk pengembangan, baik dalam operasional dan pemeliharaan yang
diantaranya disebabkan oleh rendahnya tarif pelayanan serta tingginya biaya investasi
dalam penyelenggaraan sistem Air Limbah Permukiman.
Kurang tertariknya sektor swasta untuk melakukan investasi di bidang Air Limbah
Permukiman karena rendahnya tingkat pemulihan biaya investasi
Rendahnya alokasi pendanaan dari pemerintah untuk pengembangan Air Limbah
Permukiman
Belum optimalnya penggalian potensi pendanaan dari masyarakat
3. Kelembagaan dan Peraturan Perundang-undangan
Belum memadainya perangkat peraturan perundangan yang diperlukan dalam
pengelolaan sistem Air Limbah Permukiman
Belum terpisahnya fungsi regulator dan operator dalam pengelolaan Air Limbah
Permukiman
Kapasitas sumber daya manusia yang terkait dalam pengelolaan Air Limbah
Permukiman masih rendah

5. Teknis
Masih 52% penduduk nasional yang belum mengolah Air Limbahnya secara
memadai (53,4% di perkotaan dan 50,77% di perdesaan)
Kurang optimalnya pemanfaatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan
Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT)
Dari 53 sungai di Jawa, Sumatera, Bali dan Sulawesi 76,3 % tercemar berat oleh
bahan organik Terkontaminasinya air minum perpipaan dan non perpipaan oleh
bakteri coli yang berasal dari Air Limbah Permukiman
Menurunnya kualitas air tanah dan air permukaan akibat dari pencemaran Air Limbah
Permukiman menyebabkan tingginya biaya pengolahan air minum

4. Peran Masyarakat
Rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan Air
LimbahPermukiman
Terbatasnya penyelenggaraan pengembangan sistem Air Limbah Permukiman yang
berbasis masyarakat
Kurang memadainya sosialisasi mengenai pentingnya pengelolaan Air Limbah
Permukiman
Rendahnya koordinasi antar instansi terkait dalam menggerakkan peran masyarakat

TANTANGAN
1 Masih rendahnya cakupan pelayanan baik di perkotaan maupun di perdesaan, yang
mengakibatkan kecenderungan meningkatnya angka penyakit terkait air (Waterborne
Disease), dan menurunnya kualitas air tanah dan air permukaan sebagai sumber air baku
untuk air minum.
2 Target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), yaitu bebasnya dari
pembuangan tinja secara terbuka (open defecation free) sampai dengan tahun 2009 dan
pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs), yaitu terlayaninya 50%
masyarakat yang belum mendapatkan akses air limbah sampai dengan tahun 2015
3 Diperlukannya dana investasi yang besar untuk mencapai target yang ditetapkan dalam
RPJMN dan MDGs
4 Tuntutan pembangunan yang berkelanjutan
5 Pertumbuhan ekonomi dan tingkat pendapatan perkapita secara nasional yang masih
rendah
6 Pertumbuhan penduduk dan tingkat urbanisasi yang tinggi

PE LUAN G
1 Tuntutan keterpaduan penanganan Air Limbah dan pengembangan Sistem Penyediaan Air
Minum sebagaimana tertuang dalam PP 16/2005
2 Tanggung jawab penyelenggaraan Air Limbah Permukiman sebagaimana ketetapan dalam
UU No. 32 tahun 2004 menjadi kewenangan pemerintah daerah
3 Adanya potensi masyarakat baik di perkotaan maupun di perdesaan dalam
penyelenggaraan Air Limbah Permukiman
4 Pentingnya pengelolaan Air Limbah untuk mendukung Konservasi sumber daya air,
seperti yang tertuang dalam UU RI No. 7/2004 tentang Sumber Daya Air
5 Adanya kewajiban bagi setiap orang untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran
dan kerusakan lingkungan hidup sebagaimana tertuang dalam UU RI No.23 tahun 1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup

KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGELOLAAN AIR LIMBAH

Kebijakan Strategi Indikasi Program


Peningkatan
Akses a.Peningkatan pelayanan dan 1.Program peningkatan kapasitas
kualitas sistem Air Limbah pengolahan melalui pembangunan IPAL
b.Pengembangan pelayanan paket
sistem Air Limbah terpusat di 2.Program peningkatan pelayanan Air
perkotaan secara bertahap Limbah melalui sistem terpusat
berdasarkan tanggap (sewerage)di perkotaan
kebutuhan (demand 3.Program pembinaan peningkatan peran
responsive) pemerintah Provinsi, Kota/Kab dalam
c.Meningkatkan cakupan pengembangan Prasarana dan Sarana Air
pelayanan air limbah yang Limbah
dikelola oleh BUMD dan 4.Program pembangunan Prasarana dan
Dinas Sarana Air Limbah untuk masyarakat
d.Meningkatkan cakupan berpenghasilan rendah
pelayanan air limbah yang 5.Program optimalisasi, rehabilitasi dan
dikelola secara langsung oleh ekstensifikasi PS Air Limbah (IPAL dan
masyarakat. IPLT)
e.Meningkatkan kinerja 6.Program pembinaan dan peningkatan
BUMD dan penyelenggara kinerja PS Air Limbah
lainnya dalam pengelolaan air 7.Program pembinaan dan peningkatan PS
limbah Air Limbah untuk daerah tertentu : daerah
f.Prioritas pembangunan pada endemi, daerah bencana, daerah terpencil,
masyarakat daerah miskin dan pulau pulau kecil dan kawasan perbatasan
rawan penyakit terkait air 8.Program pengembangan ilmu
g.Mendorong kerjasama antar pengetahuan dan teknologi tepat guna
kota/Kabupaten dalam upaya
melindungi badan air dari
pencemaran Air Limbah
Permukiman
Pendanaan
a.Mendorong peningkatan 1.Program peningkatan pembiayaan
alternatif sumber pembiayaan pengelolaan Air Limbah
yang murah dan berkelanjutan. 2.Program peningkatan Kerjasama
b.Mendorong peningkatan Pemerintah dan Swasta (KPS) dalam
prioritas pendanaan pemerintah penyelenggaraan PS Air Limbah
daerah dalam pengembangan 3.Program Replikasi Sanimas
sistem pengelolaan air limbah
c.Meningkatkan pembiayaan
melalui kemitraan pemerintah
dan swasta
d.PenyelenggaraanPS Air
Limbahberbasismasyarakat(Co
mmunity Based Development)

Peranserta
Masyarakat a.Meningkatkan kesadaran 1.Programsosialisasidankampanyedalampen
masyarakat terhadap perlunya didikanlingkungandankepedulianlingkungan
PHBS 2.ProgrampembangunanPSAirLimbahberba
b.Meningkatkan partisipasi sismasyarakat(Sanimas)
masyarakat dalam
pembangunan dan pengelolaan
air limbah.
c.Meningkatkan peran serta
badan usaha swasta dan
koperasi dalam pembangunan
dan pengelolaan air limbah.
d.Peningkatan kesadaran
masyarakat untuk merubah
perilaku tidak membuang tinja
ditempat terbuka (open
defecation free)
Kelembagaa
n a.Meningkatkan koordinasi dan -Program Bantuan Teknis penyelengaraan
kerjasama antar kegiatan dan kelembagaan PS Air Limbah
antar wilayah dalam -Program Bantuan Teknis pembentukan
pembangunan air limbah. badan pengelola Air Limbah
b.Fasilitasipeningkatanmanaje -Program peningkatan koordinasi dengan
menpembangunanair sektor lain
limbahdidaerah -Program peningkatan kemauan politik
c.Fasilitasipeningkatanpengelol (Political Will)dalam penanganan Air
aanair Limbah
limbahmelaluipelatihandan -Program peningkatan pengawasan kualitas
pendidikanSDM yang Air Limbah Permukiman
kompeten -Program peningkatan kapasitas
kelembagaan dan SDM (sumber daya
manusia)

Peraturandan
Perundang- a.Revisi peraturan perundang -Program pengembangan perangkat hukum
undangan undangan yang melakukan antara lain : PP, Permen, Standar, Pedoman
pengaturan terhadap BUMD dan Manual (SPM) dalam penyelenggaraan
yang bergerak dalam sistem Air Limbah Permukiman
pembangunan dan pengelolaan -Program fasilitasi (Bantuan Teknis)
air limbah penyusunan Perda dalam penyelenggaraan
b.Peningkatan forum nasional sistem Air Limbah Permukiman
pengelolaan air limbah dalam
mendorong pelaksanaan
pengaturan yang lebih baik
c.Meningkatkan tersedianya
NSPM dalam pengembangan
sistem pembuangan air limbah

STRATEGI PENDEKATAN PROGRAM


Pendekatan pembangunan prasarana dan sarana PLP berpihak pada masyarakat
miskin (pro-poor)
Pengembangan pembangunan yang mengutamakan peningkatan kesehatan dan
kehidupan masyarakat, perlindungan sumber daya air dan lingkungan
Pembangunan dan pengelolaan yang bertumpu pada community based development
dan peran masyarakat sejak tahap perencanaan, pembangunan dan pengelolaan
Pengembangan pembangunan yang bersifat city-wide dan bertahap berdasarkan
demand responsive

Untuk mengatasi masalah pencemaran air di wilayah DKI Jakarta sudah sangat perlu
untuk membangun fasilitas pengolahan air limbah perkotaan yang memadai. Saat ini yang
sering dituding sebagai biang pencemaran lingkungan adalah pihak industri baik industri
besar, menengah maupun industri kecil. Dan untuk industri telah diwajibkan untuk mengolah
air limbahnya sebelum dibuang ke perairan umum sampai standar kualitas yang disyaratkan.
Sedangkan untuk air limbah domestik, perkatoran dan daerah komersial yang kontribusi
pencemaran mencapai sekitar 80 % dari total sumber pencemaran air di DKI Jakarta hanya
sekitar 3 % yang telah diolah (PD PAL Jaya, 1996). Dengan demikian jika strategi
penanggulangan pencemaran air hanya dititikberatkan pada industri saja maka masalah
pencemaran air di DKI Jakarta akan terus berlajut karenasumber pencemarnya yang paling
utama yakni limbah domestik, perkantoran dan limbah daerah komersial belum dilakukan
upaya penanggulangan secara sistematis.
Berdasarkan kondisi pencemaran kualitas air di wilayah DKI Jakarta, Pemerintah
Propinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan Peraturan Gubernur Propinsi Daerah Khusus
Ibukota Jakarta Nomor 122 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Air limbah Domestik di Propinsi
Daerah Ibukota Jakarta.
Bersadarkan peraturan gubernur tersebut di atas, pengelolaan Air Limbah Domestik
diselenggarakan dengan asas tanggung jawab pemerintah, asas berkelanjutan, asas hak dan
kewajiban masyarakat, bertujuan untuk mencegah dan sekaligus menanggulangi pencemaran
tanah dan air tanah akibat pembuangan air limbah domestik (black water maupun grey water)
yang tidak memenuhi Baku Mutu Air Limbah.

Sasaran Pengelolaan Air Limbah Domestik


Sesuai Peraturan Gubernur Nomor 122 tahun 2005, sasaran pelaksanaan pengelolaan air
limbah domestik di DKI Jakarta adalah :
a.Terbangunnya instalasi pengolahan air limbah domestik baik pada bangunan baru maupun
bangunan lama, sesuai dengan tipologi, tata letak bangunan, jenis penggunaan bangunan dan
klasifikasi volume air limbah.
b.Terbangunnya secara bertahap jejaring prasarana dan sarana sanitasi lingkungan bagian-
bagian kota sesuai dengan Rencana Jaringan Sanitasi Kota.
c. Terpenuhinya Baku Mutu Air Limbah Domestik secara bertahap.
d. Meningkatnya kinerja industri jasa konstruksi di bidang peralatan dan perlengkapan
pengolahan air limbah.

Ruang Lingkup Pengelolaan Air Limbah Domestik


Ruang lingkup pengelolaan air limbah domestik di DKI Jakarta adalah:
a Arahan penjabaran Rencana Tata Ruang Wilayah ke dalam Rencana Induk Sanitasi
Lingkungan.
b Cara pengolahan air limbah domestik skala kota, kawasan, bangunan tinggi dan
bangunan individual, baik bangunan baru maupun bangunan lama.
c Arahan pembinaan industri jasa konstruksi di bidang perlengkapan dan peralatan
pengolahan air limbah domestik.
d Koordinasi perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan implementasi
kebijakan pengelolaan air limbah, termasuk kegiatan diseminasi kebijakan bagi aparat
dan sosialisasi kepada berbagai unsur masyarakat dan dunia usaha.

Rencana Induk Sanitasi Lingkungan


Penyusunan Rencana Induk Sanitasi Lingkungan di wilayah Propinsi DKI Jakarta meliputi
beberpa hal yaitu :
1 Instansi yang membidangi perencanaan kota dan Instansi yang membidangi
pembangunan prasarana sanitasi lingkungan menjabarkan Rencana Tata Ruang
Wilayah ke bentuk Rencana Induk Sanitasi Lingkungan secara hirarkhi.
2 Rencana Induk Sanitasi Lingkungan sebagaimana dimaksud di atas mengambarkan
kawasan pengelolaan air limbah domestik perpipaan secara terpusat, kawasan
pengelolaan air limbah komunal dan semikomunal serta kawasan individual.
3 Rencana Induk Sanitasi Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disajikan
pada Peta Skala 1 : 50.000 yang selanjutnya akan menjadi kelengkapan peraturan
gubernur tersebut. Secara garis besar rencana induk sanitasi lingkungan untuk
pengelolaan air limbah domestik di DKI Jakatra berdasarkan pembagian wilayah
pengelolaan air limbah secara jaringan perpipaan terpusat, wilayah dengan
pengelolaan sistem IPAL semi komunal atau komunal, serta wilayah pengelolaan air
limbah domestik dengan sistem IPAL individual.

Berdasarkan pada gambar tersebut di atas maka salah alternatif pengelolaan air limbah di
DKI Jakarta dilakukan dengan cara menggolongkan menjadi tiga wilayah bagian yakni
wilayah dengan keadatan penduduk tinggi (Area A) dimana pengelolaan air limbah domestik
dilakukan dengan sistem jaringan perpipaan secara terpusat, wilayah dengan kepadatan
penduduk sedang (Area B) dilakukan dengan cara pengolahan secara semi komunal atau
secara konunal dan wilayah dengan kepadatan penduduk rendah (Area C) dilakukan dengan
cara pengolahan ditempat (On site treatment) secara individual.
Wilayah Dengan Kepadatan Penduduk Tinggi (Area A)
Yaitu wilayah dengan kepadatan penduduk lebih besar dari 300 orang per hektar. Di
wilayah ini prioritas pengelolaan air limbah domestik harus dilakukan dengan cara
sistem pengolahan terpusat yakni dengan sistem jaringan terpusat (sewerage System)
sampai mencapai baku mutu seperti yang ditetapkan di dalam peraturan gubernur DKI
Jakarta Nomor 122 tahun 2005.
Wilayah Dengan Kepadatan Penduduk Sedang (Area B)
Yakni wilayah dengan kepadatan penduduk antara 100 s/d 300 orang per hektar. Di
wilayah ini prioritas pengelolaan air limbah domestik dilakukan dengan cara
pengolahan sistem semi komunal atau sistem komunal sampai mencapai baku mutu
seperti yang ditetapkan di dalam peraturan gubernur DKI Jakarta Nomor 122 tahun
2005.

Gambar 2.1: Rencana pengembangan zona pengelolaan air limbah domestik di wilayah DKI
Jakarta.
(1) Bangunan rumah tinggal dan non rumah tinggal yang telah dibangun dan belum memiliki
instalasi pengelolaan air limbah domestik yang memenuhi syarat baku mutu air limbah, wajib
memperbaiki dan atau membangun instalasi pengolahan air limbah domestik.
(2) Prosedur dan Panduan Teknik Penyempurnaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik
sebagaimana dimaksud ayat (1) ditetapkan oleh Instansi yang bertanggung jawab dalam
pengelolaan lingkungan hidup.
(3) Penyusunan Prosedur dan Panduan Teknik sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dilakukan melalui koordinasi instansional dan masyarakat serta dunia usaha.

Untuk pengelolaan air limbah domestik di wilayah atau kawasan permukiman dengan
kemampuan ekonomi terbatas merupakan tanggung jawab pemerintah melalui instansi yang
ditunjuk bersama-sama dengan masyarakat, dinyatakan dalam pasal 9 sebagai berikut :
1 Instansi yang bertanggung jawab dalam bidang perumahan bersama instansi terkait
lainnya yang bertanggung jawab dalam bidang pengelolaan air limbah wajib
membangun instalasi pengolahan air limbah domestik bersama masyarakat pada
kawasan permukiman tertentu yang kemampuan ekonomi masyarakatnya terbatas
2 Penyusunan kriteria dan pedoman penetapan kawasan tertentu sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilaksanakan oleh instansi yang bertanggung jawab dalam perencanaan
kota bersama instansi terkait lainnya yang bertanggung jawab dalam bidang
pengelolaan lingkungan hidup.

Persyaratan Teknis Pengolahan Air Limbah Domestik


Berdasarkan Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 122 Tahun 2005, persyaratan teknis
pengolahan air limbah domestik serta baku mutu air olahan yang boleh dibuang ke saluran
umum dinyatakan dalam pasal 10 dan pasal 11 sebagai berikut :
Pasal 10 :
(1) Perancangan instalasi pengolahan air limbah domestik didasarkan pada besaran populasi
penghuni bangunan dan jenis peruntukan bangunan.
(2) Teknis pengaturan pengolahan air limbah domestik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi sistem pengolahan air limbah secara biologis, baik proses biomasa tersuspensi
maupun proses biomasa melekat.
Pasal 11 :
1 Pengolahan air limbah domestik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2)
meliputi jenis pengolahan individual, semi komunal dan komunal di kawasan
pembangunan baru, kawasan perbaikan lingkungan, kawasan pemugaran dan kawasan
peremajaan.
2 Pengolahan air limbah sebagaiman dimaksud pada ayat

(1) harus memenuhi ketentuan tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik dan mengacu pada
Pedoman Umum tentang sistem pengolahan air limbah domestik.
(3) Air Limbah yang akan dibuang ke saluran umum kota wajib memenuhi ketentuan tentang
Baku Mutu Air Limbah Domestik .
(4) Penerapan sistem pengolahan air limbah mengacu pada Pedoman Umum Tentang Sistem
Pengolahan Air Limbah sebagaimana tercantum pada Gambar 2.1. (Lampiran IV Pergub DKI
Jakarta No.122 Th. 2005).
Di dalam Pergub DKI Jakarta No. 122 TH. 2005, pada hakekatnya di dalam melakukan
pengolahan air limbah domestik tidak mengharuskan menggunakan salah satu teknologi
tertentu, yang menjadi acuan adalah kualitas air olahan harus memenuhi baku mutu seperti
yang telah ditetapkan.(Tabel 2.1).
Panduan teknis pengolahan air limbah di dalam Lampiran PERGUB DKI Jakarta Nomor 122
Tahun 2005 dimaksudkan sebagai panduan bagi masyarakat yang akan membangun instalasi
pengolahan air limbah domestik. Di dalam panduan teknis tersebut menjelaskan beberapa
jenis teknologi yang banyak digunakan untuk pengolahan air limbah domestik serta kriteria
perencanaan dan kriteria operasional agar didapatkan hasil pengolahan air limbah domestik
yang baik.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan sebelumnya mengenai Strategi Pengelolaan Air Limbah
DKI Jakarta maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Pencemaran air adalah peristiwa masuknya zat, energi, unsur atau komponen lainnya ke
dalam air, sehingga kualitas air terganggu yang ditandai dengan perubahan warna, bau
dan rasa
2. Telah terjadi pencemaran air di DKI Jakarta yang sebagian besar berasal dari air limbah
domestik. Diantaranya telah terjadi pencemaran serius di badan air sungai dan Teluk
Jakarta
3. Dampak Pencemaran Air Bagi DKI Jakarta adalah sebagai penyebab banjir, air bersih
menghilang, sumber penyakit dan merusak ekosistem perairan maupun daratan.
4. Pengelolaan Air Limbah DKI Jakarta sangat penting untuk dilakukan terutama berkaitan
dengan aspek peningkatan akses, pendanaan, peran serta masyarakat dan kelembagaan.

5.2 Saran
Untuk kesempurnaan makalah ini, maka diperlukan data dan hasil penelitian yang
terbaru dan representatif untuk seluruh kawasan DKI Jakarta.
Daftar Pustaka

http://www.kelair.bppt.go.id/Publikasi/BukuAirLimbahDomestikDKI/BAB2STRATEGI.pdf
http://megapolitan.kompas.com/read/2014/12/19/13550591/Pengelolaan.Limbah.di.Jakarta.L
emah.Ini.11.Penyebabnya. diakses tanggal 20 Maret 2015