Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tembaga (Cu) merupakan logam transisi golongan IB yang memiliki

nomor atom 29 dan berat atom 63,55 g/mol. Tembaga dalam bentuk logam

memiliki warna kemerah-merahan, namun lebih sering ditemukan dalam

bentuk berikatan dengan ion-ion lain seperti sulfat sehingga memiliki warna

yang berbeda dari logam tembaga murni. Tembaga sulfat pentahidrat

(CuSO4.5H2O) merupakan salah satu bentuk persenyawaan Cu yang sering

ditemukan. Senyawa tersebut biasa digunakan dalam bidang industri,

misalnya untuk pewarnaan tekstil, untuk penyepuhan, pelapisan, dan

pembilasan pada industri perak. Selain itu, tembaga sulfat pentahidrat juga

marak digunakan dalam bidang pertanian dan peternakan, yaitu sebagai

fungisida, algasida, pupuk Cu, dan sebagai zat pengatur pertumbuhan untuk

babi (Alloway, 1995).

Penggunaan Cu yang semakin meluas akan meningkatan kadar Cu di

lingkungan. Proses produksi seperti pewarnaan, penyepuhan, dan

pembilasan yang menggunakan logam Cu akan menghasilkan limbah yang

mengandung Cu kadar tinggi, misalnya saja limbah padat proses deinking

industri kertas. Limbah padat tersebut mengandung Cu sebesar 110 ppm

sedangkan ambang batas Cu dalam limbah sesuai peraturan Bapedal

(Kep.04/Bapedal/09/1995) hanya sebesar 100 mg/kg (Hardiani, 2009).

1
Selain dari bidang industri kadar Cu dalam tanah juga bisa meningkat akibat

dari pemakaian pupuk, pestisida maupun growth regulator yang berlebihan.

Menurut Alloway (1995), lumpur habitat babi mengandung Cu dengan

kadar mencapai 1990 mg/kg. Sedangkan menurut Fernandes dan Henriques

(1991), kadar Cu yang ditemukan di tanah sekitar daerah tambang mencapai

lebih dari 2000 ppm.

Kadar Cu yang tinggi dapat memberikan dampak negatif terhadap

lingkungan biotik maupun abiotik. Hal ini karena Cu termasuk dalam

golongan logam berat. Logam berat merupakan unsur yang stabil dan tidak

mudah rusak, sehingga Cu yang masuk ke tanah akan cenderung

terakumulasi dan kandungannya akan meningkat secara terus menerus.

Peningkatan kadar Cu yang terlalu tinggi dapat memberikan dampak negatif

bagi hewan dan manusia karena sifatnya yang karsinogenik dan

terakumulasi dalam jaringan tubuh (Hardiani, 2009). Perubahan lingkungan

tersebut akan berdampak nyata pada tumbuhan karena tumbuhan merupakan

organisme yang memiliki respon paling cepat terhadap perubahan

lingkungan dibandingkan dengan manusia dan hewan (Sumiyati dkk. 2009).

Datura metel merupakan satu dari dua spesies genus Datura yang

ditemukan di Indonesia, D. metel lebih mudah ditemukan dibandingkan

dengan tanaman satu genusnya yaitu D. stramonium. Datura merupakan

salah satu genus anggota keluarga Solanaceae. Penelitian sebelumnya

menyebutkan bahwa genus ini memiliki sifat yang toleran terhadap

beberapa logam berat. Oleh karena itu, tanaman tersebut telah banyak

2
disarankan untuk dijadikan salah satu agen fitoremediasi tanah maupun air

tanah yang terkontaminasi logam berat (Bhattacharjee et al., 2004).

Meski Datura merupakan tanaman yang toleran terhadap logam berat,

kadar logam berat yang terlalu tinggi akan tetap memberikan pengaruh

terhadap tanaman tersebut. Fitotoksisitas logam berat dapat mempengaruhi

beberapa aspek dari tumbuhan misalnya aspek fisiologis, anatomis, dan

biokimia. Dampak nyata dari fitotoksisitas logam berat adalah munculnya

nekrosis, klorosis dan kelayuan. Selain itu, fitotoksisitas logam berat akan

menginduksi perubahan anatomi tanaman, misalnya munculnya penebalan

bentuk U pada dinding periklinal bagian dalam endodermis dan munculnya

penebalan lignin pada sel-sel epidermis akar tanaman Brachiaria

decumbens (Gomes et al., 2011).

Akar merupakan organ yang langsung bersentuhan dengan tanah. Jika

tanah di sekitar tanaman terkontaminasi, akar merupakan organ yang paling

awal terpengaruh sebelum mempengaruhi organ batang maupun daun.

Selain itu, akar merupakan organ yang paling penting dalam proses

penyerapan hara dan air. Trakea merupakan salah satu unsur xilem pada

akar yang berpengaruh besar terhadap tinggi rendahnya proses

pengangkutan air dan mineral. Diameter dan jumlah trakea dapat

dipengaruhi oleh kontaminasi logam berat (Gomes et al., 2011). Oleh

karena itu, dalam penelitian ini perlu dipelajari mengenai fitotoksisitas Cu

dosis tinggi terhadap anatomi akar tanaman D. metel.

3
B. Permasalahan

Permasalahan yang dikaji dalam penelitian kali ini adalah:

1. Bagaimanakah respon anatomi akar D. metel terhadap toksisitas

logam berat tembaga secara kualitatif?

2. Bagaimanakah pengaruh cekaman beberapa konsentrasi tembaga

terhadap nilai diameter akar, diameter daerah xilem, diameter dan

jumlah trakea, serta panjang akar?

C. Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mempelajari respon anatomi akar D. metel terhadap toksisitas tembaga

secara kualitatif.

2. Mempelajari pengaruh cekaman beberapa konsentrasi tembaga terhadap

nilai diameter akar, diameter daerah xilem, diameter dan jumlah trakea,

serta panjang akar.

D. Manfaat

Manfaat dari penelitian ini adalah

1. Sebagai salah satu acuan mengenai toksisitas tembaga terhadap

anatomi tanaman terutama D. metel.

2. Sebagai bahan acuan tentang bahaya dari penggunaan produk

berbahan dasar Cu secara berlebihan.