Anda di halaman 1dari 18

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Umum Sampah adalah bahan buangan padat atau semi padat yang dihasilkan adari aktifitas manusia atau hewan yang dibuang karena tidak diinginkan atau tidak digunakan lagi (tchobanoglous, dkk,1993).Menurut petunjuk Teknis Perencanaan Pembangunan dan Pengelolaan Bidang ke-PLP-an perkotaan dan pedesaan, sampah adalah limbah yang bersifat padat terdiri dari sampah organik, sampah anorganik dan sampah B3yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan

(dep.PU Ditjen Cipta Karya, 1999). Sementara itu, Hadiwiyoto (1983) mendefenisikan sampah adalah sisa-sisa bahan yang mengalami perlakuan-perlakuan, baik karena telah diambil bagian utamanya, atau karena pengelolaan, atau karena sudah tidak ada manfaatnya, yang ditinjau dari aspek pencemaran atau ganguan kelestarian lingkungan. Bila dilihat dari sifatnya, sampah dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu

A. Sampah organik Sampah organik adalah sampah yang mengandung senyawa-senyawa orgaik yang tersusun dari unsur-unsur karbon, hydrogen dan oksigen.Yang termasuk sampah organik adalah daun-daunan, kayu, kertas, karton, sisa-sisa makanan,sayur,buah, yang mudah diuraikan oleh mikroba.

B. Samph non organik Terdiri dari kaleng, plastik, besi, logam, gelas atau bahan lain yang yang tidak tersusun oleh senyawa-senyawa organic. Sampah anorganik tidak dapat diuraikan oleh mikroba.

Berdasarkan data yang ada pada Dinas Kebersihan Kota Medan adapun komposisi unsur-unsur dari sampah organik basis kering dapat dilihat dalam tabel

2.1

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.1 Komposisi Sampah Organik

Bahan Organik

% berat

Sampah dedaunan

32

Makanan

16,2

Kertas

17,5

Kayu

4,5

Air

29,8

(Sumber : Dinas kebersihan kota medan, 2005)

Tabel 2.2 Komposisi Sampah berdasarkan Unsur

Komponen

 

Persentase Massa (berat kering)

 

Sampah

Carbon

Hidrogen

Oksigen

Nitrogen

Sulfur

Abu

Dedaunan

47,80

6,00

38,00

3,40

0,30

4,50

Makanan

48,00

6,40

37,60

2,60

0,10

5,30

Kertas

43,50

6,00

44,00

0,30

0,20

6,00

Kayu

49,50

6,00

42,70

0,20

0,10

1,50

(Sumber : Dinas kebersihan kota medan, 2005)

2.2. Pemanfaatan Sampah Sampah merupakan limbah yang sangat padat yang terdiri dari sampah organik. Beberapa contoh pemanfaatan sampah organic adalah sebagai berikut:

- sebagai pupuk alami untuk menyuburkan tanaman Anaerobik komposting adalah dekomposisi bahan organik tanpa oksigen. Hasil metabolisme dari proses ini adalah metan, CO 2 , dan berbagai produk intermediate (metabolisme)seperti alkohol, asam organik berberat molekul rendah, residu mineral, dan bahan rekalsitran (sulit terurai). Metabolisme menyebabkan bau yang lebih keras dibanding kompos aerobik sehingga cara ini

Universitas Sumatera Utara

agak kurang diminati. Selain itu, pada aerobik komposting, sebagian energi dikeluarkan dalam bentuk limbah, yaitu panas pada timbunan kompos, sedangkan pada proses anaerobik, energi tersebut dikeluarkan dalam bentuk gas metan yang sangat bermanfaat. Adapun reaksi kimia proses anaerobik sebagai berikut :

C 6 H 12 O 6

proses anaerobik sebagai berikut : C 6 H 1 2 O 6 3CH 4 + 3CO

3CH 4 + 3CO 2 + 403 KJ

Selain kompos, produk komersil yang diperoleh dari anaerobik komposting yang bio gas. Biogas adalah campuran gas metan dengan gas-gas lain seperti CO 2 , dan H 2 S yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan pemanfaatan. Dengan anaerobik komposting, seluruh potensi yang ada didalam sampah kota dapat dimanfaatkan sebagai energi, bahan organik, dan nutrisi yang ada didalam kompos. Kelemahan dari proses ini adalah biayanya mahal karena harus membuat reaktor tertutup. Selain itu, komposnya sangat basah karena prosesnya tertutup sehingga perlu perlakuan lanjutan seperti pengepresan dan proses pengeringan kompos yang sangat intensif untuk mengeluarkan air.

Komposisi biogas ditentukan oleh komposisi jenis sampah kota dan sedikit dipengaruhi oleh tipe reaktor serta tipe proses. Komposisi dan nilai kalor biogas adalah sebagai berikut :

CH 4

: 50-85%

CO 2

: 15-50%

H 2 S : <1% Nilai kalor : 20-25 MJ/m 3 (47.000 – 8.000 kkal/m 3 ) atau kira-kira sama dengan kalor

biogas.

2.3. Sejarah Penemuan Biogas Gas methan ini sudah lama digunakan oleh warga Mesir, China, dan Roma Kuno untuk dibakar dan digunakan sebagai penghasil panas. Sedangkan, proses fermentasi lebih lanjut untuk menghasilkan gas methan ini pertama kali ditemukan oleh Alessandro Volta (1776). Hasil identifikasi gas yang dapat terbakar ini dilakukan oleh Wilam Henry pada tahun 1806. dan Becham (1868), murid Louis Pasteur dan Tappeiner (1882), adalah orang pertama yang memperlihatkan asal mikrobiologis dari pembentukan methan.

Universitas Sumatera Utara

Adapun alat penghasil biogas secara anaerobik pertama dibangun pada tahun 1900. pada akhir abad ke-19, riset untuk menjadikan gas methan sebagai biogas dilakukan oleh Jerman dan Perancis pada masa antara dua Perang Dunia. Selama Perang Dunia II, banyak petani di Inggris dan Benua Eropa yang membuat alat penghasil biogas kecil yang digunakan untuk menggerakkan traktor. Akibat kemudahan dalam memperoleh BBM dan harganya yang murah pada

tahun 1950-an, proses pemakaian biogas ini mulai ditinggalkan. Tetapi, di negara- negara berkembang kebutuhan akan sumber energi yang murah dan selalu tersedia selalu ada. Oleh karena itu, di India kegiatan produksi biogas terus dilakukan semenjak abad ke-19. saat ini, negara berkembang lainnya, seperti China. Filipina, Korea, Taiwan dan Papua Nugini, telah melakukan berbagai riset dan pengembangan alat penghasil biogas. Selain di negara berkembang, teknologi

biogas juga telah dikembangkan di negara maju seperti Jerman

penanggulangan sampah organik yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia adalah dengan menerapkan teknologi anerobik untuk menghasilkan biogas. Secara ilmiah, biogas yang dihasilkan dari sampah organik adalah gas yang mudah terbakar (flammable). Gas ini dihasilkan dari proses fermentasi bahan- bahan organik oleh bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi tanpa udara). Umumnya, semua jenis bahan organik bisa diproses untuk menghasilkan biogas. Tetapi hanya bahan organik homogen, baik padat maupun cair yang cocok untuk sistem biogas sederhana. Bila sampah-sampah organik tersebut membusuk, akan dihasilkan gas metana (CH 4 ) dan karbondioksida (CO 2 ). Tapi, hanya CH 4 yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Umumnya kandungan metana dalam reaktor sampah organik berbeda-beda. secara rentang komposisi biogas adalah sebagai berikut Tabel 2.3. Komposisi Biogas

Salah satu cara

Komponen

% Berat

Metana

(CH 4 )

55-75

Karbon dioksida

25-45

(CO 2 ) Nitrogen

 

0-0.3

(N 2 )

1-5

Universitas Sumatera Utara

Hidrogen (H 2 ) Hidrogen sulfida

0-3

0.1-0.5

(H

2 S)

Oksigen (O 2 )

Smber:Zhang et al,1999

2.3. Mekanisme pembentukan biogas

Dialam , proses anaerobik terjadi secara spontan ketika adanya timbunan bahan organik dengan suplai oksigen terbatas. Pada situasi tersebut kegiatan dekomposisi beralih dari proses aerobik menjadi anaerobik, seperti produksi metan didasar danau atau sungai, tumpukan sampah yang sangat rapat, dan perut binatang. Proses anaerobik komposting dapat dipercepat dengan mengatur berbagai kondisi proses yang bisa memacu dekomposisi bahan organik lebih cepat dan sempurna sehingga waktu lebih cepat, produksi metan lebih besar. Proses anaerobik komposting berlangsung dalam 4 tahap sebagai berikut :

1. Tahap Hidrolisis

Proses anaerobik komposting berlangsung dalam 4 tahap sebagai berikut :

Proses hidrolisa, yaitu dekomposisi bahan organik polimer menjadi monomer yang mudah larut dilakukan oleh sekelompok bakteri fakultatif. Pada proses hidrolisa, lemak diuraikan oleh enzim lipase yang diproduksi oleh lipolytic bacteria. Sementara karbohidrat diuraikan oleh enzim lipase yang diproduksi oleh lipolytic bacteria. Sementara karbohidrat diuraikan oleh enzim selulosa yang diproduksi cellulolytic bacteria dan protein diuraikan oleh enzim protease yang diproduksi oleh proteolytic bacteria, menjadi monomer yang mudah larut. Pada proses hidrolisa ini dihasilkan pula asam amino, volatile acid, dan lain-lain.

Lipida dirubah menjadi Asam lemak rantai panjang dan Gliserin

Universitas Sumatera Utara

Lipida • Protei dirubah menjadi Asam amino Protein Asam amino • Asam nukleat dirubah menjadi

Lipida

Lipida • Protei dirubah menjadi Asam amino Protein Asam amino • Asam nukleat dirubah menjadi Purin
Lipida • Protei dirubah menjadi Asam amino Protein Asam amino • Asam nukleat dirubah menjadi Purin

Protei dirubah menjadi Asam amino

Lipida • Protei dirubah menjadi Asam amino Protein Asam amino • Asam nukleat dirubah menjadi Purin

Protein

Asam amino

Asam nukleat dirubah menjadi Purin dan Pirimidin

amino Protein Asam amino • Asam nukleat dirubah menjadi Purin dan Pirimidin Asam nukleat Universitas Sumatera

Asam nukleat

Universitas Sumatera Utara

Pirimidin Purin Pada Asam nukleat terdapat Asam Posfat sebagai pembentuk, asam Pospat akan terionisasi secara

Pirimidin

Purin

Pada Asam nukleat terdapat Asam Posfat sebagai pembentuk, asam Pospat akan terionisasi secara sendirinya saat reaksi terjadi hal disebabkan gugus Posfat memiliki sifat dapat larut didalam air. Sehingga pada Purin dan Pirimidin tidak lagi terdapat asam Posfat yang berasal dari asam nukleat.

Polisakarida dirubah menjadi monosakarida. Polisakarida terbagi atas : - Pati

- Glikogen

- Selulosa

Pati (amilum) merupakan polisakarida yang mengandung 75-80% amilopektin dan amilosa 20-25% yang mana terdiri atas D-Glukopinarosa yang berikatan α(1- 4) glikosidik. Ikatan D-glikopinarosa merupakan polimer dari Glukosa.

Ikatan D-glikopinarosa merupakan polimer dari Glukosa. D-Glukopinarosa Glukosa Glikogen merupakan polisakarida yang

D-Glukopinarosa

Glukosa

Glikogen merupakan polisakarida yang memiliki rantai yang panjang. Sama halnya dengan pati. Glikogen memiliki gugus rantai lurus α(1-4) dan gugus rantai bercabang α(1-6) glikosidik, sehingga Glikogen memiliki ikatan yang lebih panjang dari pada pati.

Universitas Sumatera Utara

α (1-4) Glikogen Glukosa Selulosa merupakann polisakarida. Pati, glikogen, dan selulosa merupakan polisakarida yang

α(1-4) Glikogen

Glukosa

Selulosa merupakann polisakarida. Pati, glikogen, dan selulosa merupakan polisakarida yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan yang berupa kayu. Oleh sebab itu pati, glikogen, selulosa memiliki cabang atau ikatan polimer yang panjang. Selulosa memiliki gugus rantai lurus.

polimer yang panjang. Selulosa memiliki gugus rantai lurus. 2. Tahap Asidogenesis Proses asidogenesis, yaitu

2. Tahap Asidogenesis Proses asidogenesis, yaitu dekomposisi monomer organik menjadi asam- asam organik (asam lemak) dan alkohol. Pada proses asidogenesis, monomer organik diuraikan lebih lanjut oleh aciddogenic bacteria menjadi asam-asam organik seperti asam format, asetat, butirat, propionat, valeriat, serta dihasilkan juga CO 2 , H 2 , dan metanol

Universitas Sumatera Utara

Asam lemak rantai panjang diuraikan menjadi Asam lemak volatil. Asam lemak rantai panjang terdiri atas :

- Asam lemak stearat

- Asam lemak palmitat

- Asam lemak oleat

Asam lemak stearat - Asam lemak palmitat - Asam lemak oleat Asam lemak stearat Asam butirat

Asam lemak stearat

Asam butirat

Metana

- Asam lemak oleat Asam lemak stearat Asam butirat Metana Asam lemak palmitat Asam propionat Hidrogen

Asam lemak palmitat

Asam propionat

Hidrogen

butirat Metana Asam lemak palmitat Asam propionat Hidrogen • Gliserin dirubah menjadi Asam propionat Gliserin Asam

Gliserin dirubah menjadi Asam propionat

Hidrogen • Gliserin dirubah menjadi Asam propionat Gliserin Asam propionat Hidrogen • Asam amino diurai

Gliserin

Asam propionat

Hidrogen

Asam amino diurai menjadi asam akrilat

Hidrogen • Asam amino diurai menjadi asam akrilat Asam amino Asam akrilat • Glukosa diurai menjadi

Asam amino

Asam akrilat

Glukosa diurai menjadi akohol (etanol)

Nitrogen

Hidrogen

Universitas Sumatera Utara

Glukosa Etanol • Puri diurai menjadi Asam propionat Purin 3CH 3 -CH 2 -COOH +

Glukosa

Etanol

Puri diurai menjadi Asam propionat

Glukosa Etanol • Puri diurai menjadi Asam propionat Purin 3CH 3 -CH 2 -COOH + H

Purin

3CH 3 -CH 2 -COOH + H 2 + 2H 3 PO 4

Asam propionate

phospat

Pirimidin diurai menjadi Asam butirat

phospat • Pirimidin diurai menjadi Asam butirat Pirimidin CH 3 CH 2 CH 2 COOH +

Pirimidin

CH 3 CH 2 CH 2 COOH + ½N 2 + H 2

Asam butirat

1.Reaksi pada asam lemak rantai panjang + gliserin

butirat 1.Reaksi pada asam lemak rantai panjang + gliserin Asam lemak stearat Asam butirat Asam lemak

Asam lemak stearat

Asam butirat

rantai panjang + gliserin Asam lemak stearat Asam butirat Asam lemak palmitat Asam propionat Universitas Sumatera

Asam lemak palmitat

Asam propionat

rantai panjang + gliserin Asam lemak stearat Asam butirat Asam lemak palmitat Asam propionat Universitas Sumatera
rantai panjang + gliserin Asam lemak stearat Asam butirat Asam lemak palmitat Asam propionat Universitas Sumatera

Universitas Sumatera Utara

Gliserin

Asam propionat

+

Gliserin Asam propionat +
Gliserin Asam propionat + 5OH-C-C 3 H 7 + 9CH 3 -CH 2 -COOH + CH

5OH-C-C 3 H 7 + 9CH 3 -CH 2 -COOH + CH 3 -CHOH-COOH + 7CO 2 + 10H 2 + 4CH 4

Asam butirat

asam propionate

2. Reaksi pada Asam nukleat

asam laktat

asam propionate 2. Reaksi pada Asam nukleat asam laktat Asam nukleat Purin Pirimidin Pirimidin purin 3CH

Asam nukleat

2. Reaksi pada Asam nukleat asam laktat Asam nukleat Purin Pirimidin Pirimidin purin 3CH 3 -CH

Purin

2. Reaksi pada Asam nukleat asam laktat Asam nukleat Purin Pirimidin Pirimidin purin 3CH 3 -CH

Pirimidin

Pirimidin

purin

3CH 3 -CH 2 -COOH + H 2 + 2H 3 PO 4

Asam propionate

phospat

CH 3 CH 2 CH 2 COOH + ½N 2 + H 2

Asam butirat

+

Universitas Sumatera Utara

Asam nukleat CH 3 CH 2 CH 2 COOH + 3CH 3 CH 2 COOH

Asam nukleat

CH 3 CH 2 CH 2 COOH + 3CH 3 CH 2 COOH +

Asam propionate

Asam butirat

½N 2 + 2H 2 + 2H 3 PO 4

3. Reaksi pada keseluruhan Asam lemak rantai panjang + gliserin, Asam amino, Asam nukleat.

lemak rantai panjang + gliserin, Asam amino, Asam nukleat. 5OH-C-C 3 H 7 + 9CH 3
lemak rantai panjang + gliserin, Asam amino, Asam nukleat. 5OH-C-C 3 H 7 + 9CH 3

5OH-C-C 3 H 7 + 9CH 3 -CH 2 -COOH + CH 3 -CHOH-COOH + 7CO 2 + 10H 2 + 4CH 4

Asam butirat

asam propionate

asam laktat

10H 2 + 4CH 4 Asam butirat asam propionate asam laktat Asam nukleat CH 3 CH

Asam nukleat

CH 3 CH 2 CH 2 COOH + 3CH 3 CH 2 COOH +

Asam propionate

Asam butirat

½N 2 + 2H 2 + 2H 3 PO 4

+ Asam propionate Asam butirat ½N 2 + 2H 2 + 2H 3 PO 4 Asam

Asam amino

Asam akrilat

+

+ Asam amino Asam nukleat 6CH 3 CH 2 COOH + 12CH 3 CH 2
+ Asam amino Asam nukleat 6CH 3 CH 2 COOH + 12CH 3 CH 2
+ Asam amino Asam nukleat 6CH 3 CH 2 COOH + 12CH 3 CH 2

+

+ Asam amino Asam nukleat 6CH 3 CH 2 COOH + 12CH 3 CH 2 CH

Asam amino

Asam nukleat

6CH 3 CH 2 COOH + 12CH 3 CH 2 CH 2 COOH + CH 3 -CHOH-COOH + CH 2 =CH-

Asam butirat

3. Asetogenesis

Asam propionat

COOH + 7CO 2 +

Asam laktat

Asam akrilat

27 H 2 + 4CH 4 + N 2 + H 3 PO 4

2

Proses asidogenesis, yaitu perubahan asam organik dan alkohol menjadi

asam asetat. Pada proses ini senyawa asam organik dan metanol diuraikan

acetogenic bacteria menjadi asam format, asetat, metanol, CO 2 , dan H 2 .

Etanol

Asam Asetat

CH 3 CH 2 COOH + 2H 2 O 2H 2 ………… (pers.2)

CH 3 COOH

CH 3 COOH

+

Asam Propionat

Asam Asetat

CH 3 CH 2 CH 2 COOH + 2H 2 O 2H 2 ………… (pers.3)

CH 3 CH 2 CH 2 COOH + 2H 2 O 2H 2 ………… (pers.3) 2CH

2CH 3 COOH

+

Asam Butirat

Asam Asetat

4. Metanogenesis.

Proses metanogeniesis, yaitu perubahan dari asam asetat menjadi metan.

Pada proses ini asam asetat diuraikan oleh metanogenic bacteria menjadi CH 4 ,

Universitas Sumatera Utara

CO 2 , dan H 2 O. Pembentukan metan sebagian besar (70%) berasal dari asam

asetat, sisanya dari asam format, CO 2 , dan H 2

Reaksi kimia pembentukan metan dari asam asetat dan reduksi CO 2 dapat

dilihat pada persamaan reaksi berikut :

Asetotropik metanogenesis :

CH 3 COOH

CH 4 + CO 2 ……………………. (pers.1) 4 + CO 2 ……………………. (pers.1)

Hidrogenotropik metanogenesis :

CH 2 + CO 2

CH 4 + H 2 O ……………………. (pers.2) 4 + H 2 O ……………………. (pers.2)

2.5. Faktor -Faktor yang Mempengaruhi Proses biogas

Lingkungan besar pengaruhnya pada laju pertumbuhan mikroorganisme

baik pada

proses aerobik maupun anaerobik. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses

anaerobik

antara lain: temperatur, pH, konsentrasi substrat dan zat beracun.

1. Temperatur

Gas dapat dihasilkan jika suhu antara 4 - 60°C dan suhu dijaga konstan.

Bakteri akan menghasilkan enzim yang lebih banyak pada temperatur optimum.

Semakin tinggi temperatur reaksi juga akan semakin cepat tetapi bakteri akan

semakin berkurang. Proses pembentukan metana bekerja pada rentang temperatur

30-40°C, tapi dapat juga terjadi pada temperatur rendah, 4°C. Laju produksi gas

akan naik 100-400% untuk setiap kenaikan temperatur 12°C pada rentang

temperatur 4-65°C. Mikroorganisme yang berjenis thermophilic lebih sensitif

terhadap perubahantemparatur daripada jenis mesophilic. Pada temperatur 38°C,

jenis mesophilic dapat bertahan pada perubahan temperatur ± 2,8°C. Untuk jenis

thermophilic pada suhu 49°C, perubahan suhu yang dizinkan ± 0,8°C dan pada

temperatur 52°C perubahan temperatur yang dizinkan ± O,3°C.

2. pH (keasaman)

sangat sensitif terhadap perubahan pH. Rentang

Hoptimumntuk jenis bakteri penghasil metana antara 6,4 - 7,4. Bakteri yang tidak

menghasilkan metana tidak begitu sensitif terhadap perubahan pH, dan dapat

bekerja pada pH antara 5 hingga 8,5. Karena proses anaerobik terdiri dari dua

tahap yaitu tahap pambentukan asam dan

Bakteri

penghasil

Universitas Sumatera Utara

tahap pembentukan metana, maka pengaturan pH awal proses sangat penting.

Tahap pembentukan asam akan menurunkan pH awal. Jika penurunan ini cukup

besar akan dapat menghambat aktivitas mikroorganisme penghasil metana. Untuk

meningkatkat pH

dapat dilakukan dengan penambahan kapur.

3. Konsentrasi Substrat Sel mikroorganisme mengandung Carbon, Nitrogen, Posfor dan Sulfur

dengan perbandingan 100 : 10 : 1 : 1. Untuk pertumbuhan mikroorganisme, unsur-

unsur di atas harus ada pada sumber makanannya (substart). Konsentrasi substrat

dapat mempengaruhi

proses kerja mikroorganisme. Kondisi yang optimum dicapai jika jumlah

mikroorganisme sebanding dengan konsentrasi substrat. Kandungan air dalam

substart dan homogenitas sistem juga mempengaruhi proses kerja

mikroorganisme. Karena kandungan air yang tinggi akan memudahkan proses

penguraian, sedangkan homogenitas sistem membuat kontak antar

mikroorganisme dengan substrat menjadi lebih intim.

3. Zat Baracun Zat organik maupun anorganik, baik yang terlarut maupun tersuspensi

dapat menjadi penghambat ataupun racun bagi pertumbuhan mikroorganisme jika

terdapat pada

konsentrasi yang tinggi. Untuk logam pads umumnya sifat racun akan semakin

bertambah dengan tingginya valensi dan berat atomnya. Bakteri penghasil metana

lebih sensitif terhadap racun daripada bakteri penghasil asam.

Ada beberapa senyawa yang bisa menghambat (proses) penguraian dalam

suatu unit biogas saat menyiapkan bahan baku untuk produksi biogas, seperti

antiobiotik, desinfektan dan logam berat (Setiawan, 2005).

2.6 Sifat-sifat Gas metana

*Sifat kimia

- Berat molekul 16

- Titik beku 90 Oc

- Titik didih 111,7

Universitas Sumatera Utara

- Titik kritis 190

- Tekanan kritis

- Volume kritis 99,0 cm/ g mol

*Sifat Fisika

- Merupakan gas yang mudah terbakar

- Tidak berbau

- Merupakan gas yang tidak berwarna

- Mempunyai spesifikasi terhadap nyala api sebesar 500-700 k.cal/m3

2.7. Deskripsi Proses Pembuatan gas metana dari sampah organik dapat dilakukan dengan beberapa tahap.Adapun tahap-tahap tersebut adalah:

1. Tahap pemilihan bahan baku Bahan baku adalah sampah organik dengan komposisi

Bahan Organik

% berat

Sampah dedaunan

32

Makanan

16,2

Kertas

17,5

Kayu

4,5

Air

29,8

(Sumber : Dinas kebersihan kota medan, 2005)

Sebelum dikecilkan dengan menggunakan tresser, sampah organik terlebih dahulu dipisahkan darisampah organik yang tidak bisa diolah, seperti plastik,kaca dan lainya. Tresser bertujuan untuk mengecilkan bahan baku sampai menjadi lebih bubur untuk mempermudah proses pengolahan di fermentor.

2. Tahap fermentasi

Fermentsi adalah proses pengolahan bahan organik lahan dilakukan di dalam fermentasi. Khamiryang digunakan dalam fermentor adalah metanobacter

Universitas Sumatera Utara

formicilum.dengan lama fermentasi 6 jam. Pada fermentor ini terjadi konversi glukosa menjadi metana berdasarkan reaksi

C 6 H 12 O 6 + 2H 2 O

berdasarkan reaksi C 6 H 1 2 O 6 + 2H 2 O 2C 2 H

2C 2 H 4 O 2 + 2CO 2 + 4H 2

Konsentrasi metana dihasilkan antara 55- 75% gas metana( sudrajad

2002).Fermentasi adalah proses pegolahan bahan organik menjadi suatu bentuk kimia yang lain dengan menggunnakan proses yang menghasilkan gas dengan cara penambahan mikro organisme.Secara umum khamir yang digunakan diklasifikasikan berdasarkan kemampuan kamir untuk menyerap oksigen. Proses perombakan glukosa menjadi gas metana dipengaruhi rangkaian yang sangat kompleks dimana reaksi kimia yangg terjadi adalah sebagai berikut:

- Tahap Hidrolisa

C 5 H 10 O 5 + H 2 OC 6 H 12 O 6

- Tahap asdogenesis( pembentukan asam) Bakteri pembentuk asam menguraikan senyawa glukosa C 6 H 12 O 6 +2H 2 O 2C 2 H 4 O 2 + 2 CO 2 + 4H 2 Bakteri pembentuk asam menghasilkan asam 2C 2 H 4 O 2 2CH 4 + 2H 2 O

- Tahap metagonesis Bakteri Methan mensintesa H 2 dan CO 2

CO +→+4H CH 2H O

22

42

Bila disatukan, reaksi akan menjadi :

CH O

6

12

6

+

2HO 2
2HO
2

2CHO 2 42
2CHO
2
42
2CHO 2 42
2CHO
2
42

Bakteri

→

2

CH

4

+

2

+ 2 CO + 4H 2 2 CO 2
+
2 CO + 4H
2
2
CO
2
CO 2
CO
2

+

4H 2
4H
2

CH

4

2
2

+ 2H O

+

C H

6

12

O

6

3CH

4

+

3CO

2

3. Pemurnian gas.

Gas

CO2,H2S,N2,H2O,H2 dialirkan langsung pada tangki absorber untuk

yang dihasilkan dari tangki fermentasi seperti CH4,

Universitas Sumatera Utara

memisahkan gas CO2. Gas CO2 yang diikat dengan reagent air ialah gas-gas yang memiliki fasa yang sama dengan fasa air.Kemudian gas H2S Dipisah dengan menggunakan regent air karena gas tersebut dapat mengakibatkan karat.

Dalam Proses pembuatan gas metana ini terdapat hal-hal lainya yaitu COD effluent Lumpur 22370 mg/liter, BOD effluent Lumpur 13980 mg/liter. Laju alir proses 590 m3/hari. Dengan PH 7.

Universitas Sumatera Utara