Anda di halaman 1dari 23

Sustainable Energy

Topik :
Pemanfaatan Limbah Ternak Untuk Produksi Biogas,
Teknologi dan Potensinya di Indonesia

Disusun oleh :
Adi Widiyanto NPM 100687672
Yanri N. Thaher NPM ..................
I Ketut Sukariawan NPM 1006787722

Program Studi Manajemen Gas


Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
2011
Abstrak
Kenaikan harga minyak bumi membuat harga-harga produk refinerinya juga naik dengan cukup besar.
Kenaikan harga minyak juga mendorong naiknya bahan bakar lain seperti gas. Untuk mengatasi
kecenderungan ini, maka diperlukan adanya usaha-usaha untuk memanfaatkan sumber-sumber energi
lain. Biogas muncul sebagai salah satu solusi energi alternatif yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan
ramah lingkungan. Biogas dapat diproduksi dengan materi-materi organik seperti sampah, limbah ternak
dan biomassa lain. Penggunaan biogas secara tidak langsung juga mendukung program kebersihan
lingkungan karena sebagian besar pengolahan biogas menggunakan bahan-bahan sisa atau kotoran
ternak sebagai bahan baku.
Limbah ternak selama ini selalu dilihat sebagai salah satu permasalahan lingkungan, baik dari bau
maupun kandungan-kandungan berbahaya yang terkandung didalamnya. Dengan proses anaerob
digestion, kotoran ternak dapat menghasilkan biogas dengan kandungan gas CH 4 mencapai 70%. Proses
ini memanfaatkan peran bakteri anaerob untuk proses fermentasi kotoran ternak sehingga dihasilkan gas
CH4.
Pemanfaatan limbah ternak dilakukan dengan menggunakan digester yang disesuikan dengan jumlah
ternak yang tersedia. Digester menghasilkan biogas yang dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari
seperti memasak dan untuk penerangan. Dengan sistem ini maka dapat dilakukan penghematan pada
penggunaan minyak tanah dan kayu bakar. Untuk satu keluarga yang secara umum diasumsikan
konsumsi minyak tanah 1.23 liter per hari, maka sebanding dengan biogas hasil produksi digester
dengan kapasitas 2 m3 dan suplai bahan baku dari 2 ekor ternak sapi atau kerbau. Hasil samping proses
pembuatan biogas yaitu pupuk organik dapat digunakan untuk pertanian.
Indonesia dengan tingkat konsumsi hewan ternak dan olahan hasil peternakan yang cukup tinggi
memerlukan sentra pusat peternakan yang sangat besar, sehinga potensi pengembangan biogas dalam skala
besar sangat terbuka dan dengan nilai ekonomi yang sangat baik.

1. Pendahuluan
Dengan semakin mahalnya harga minyak bumi yang saat ini berada pada kisaran US$ 80 90
per-barrel, maka harga bahan bakar produk pengilangan minyak bumi juga semakin mahal.
Kenaikan harga minyak juga mendorong kenaikan harga gas alam. Akibatnya beban subsidi
pemerintah akan semakin tinggi. Sebagai ilustrasi, setiap kenaikan US$ 1 per-barrel minyak
mentah akan menaikkan angka subsidi sebesar Rp 0.8 triliun (sumber Kompas.com: Bisnis &
Keuangan, 26 Sepembert 2011). Beban subsidi yang semakin naik akan menekan alokasi APBN
bidang-bidang yang lain seperti infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan lain-lain.
Untuk mengatasi hal di atas maka diperlukan terobosan-terobosan dalam bidang penggunakan
bahan bakar dengan lebih mendorong pemanfaatan dan pemakaian bahan bakar alternatif. Salah
satu yang sangat potensial di Indonesia adalah potensi bahan bakar BIOGAS. Indonesia sebagai
negara agraris memiliki potensi peternakan yang tinggi. Limbah peternakan selama ini belum
banyak dimanfaatkan sebagai sumber biogas.
Selama ini limbah ternak hanya dipakai sebagai pupuk kandang saja dan bahkan dibeberapa
daerah sentra peternakan sapi, limbah kotoran sapi dibuang ke sungai sehingga menimbulkan
pencemaran yang mengancam kesehatan masyarakat pemakai air sungai.
Berdasarkan hasil riset Dr. Doso Sarwanto, Doktor Pengelolaan Sumberdaya Alam dan
Lingkungan IPB yang dituangkan dalam disertasinya tanggal 30 Agustus 2011 di kampus IPB :
Limbah ternak berupa feses dan urine, mengandung nitrogen dan fosfor sangat tinggi. Nitrogen
umumnya akan dikonversi menjadi nitrat yang mudah tercuci dan mengalami presipitasi ke
tanah, sehingga akan mencemari air tanah. Air minum berkadar nitrat tinggi inilah yang
mengakibatkan methemoglobinemia pada bayi dan penyakit kanker perut.
Feses dan urine juga mengandung gas NH3 dan H2S. Bau menyengat dari kedua gas itu dapat
mengganggu lingkungan sekitarnya. Bayangkan saja, NH3 dan H2S bisa tercium pada radius
sekitar 50 meter dari sumber limbah ternak. Gas NH3 berkonsentrasi tinggi bila menguap ke
udara, kemudian diserap oleh stomata daun mengakibatkan tanaman kekurangan kalsium.
Sedangkan hidrogen sulfida (H2S) akan bereaksi dengan oksigen (O2) membentuk air dan sulfur
diokasida (SO2). Sulfur dioksida mempunyai pengaruh negative terhadap saluran pernafasan.
Orang yang mempunyai pernafasan peka terhadap SO2 bisa terkena iritasi dan sekresi mucus.
Selain penyakit, limbah ternak juga dapat memacu eutrofikasi yaitu peningkatan laju input bahan
organik ke sebuah perairan yang akan merangsang pertumbuhan algae di perairan. Akibatnya,
keseimbangan algae terganggu dan biota perairan mengalami kematian secara booming. Kasus
red tide di Teluk Jakarta beberapa waktu silam cukup menjadi bukti.
Secara garis besar, pemanfaatan limbah ternak terbagi menjadi dua yaitu :
1. Pupuk organik
2. Biogas (dengan hasil samping pupuk organik)
Pada paper ini, kelompok I akan menjelaskan potensi dan keuntungan pemanfaatan limbah
ternak untuk biogas.
2. Sejarah pemanfaatan BIOGAS
Istilah Biogas biasanya merujuk kepada suatu gas yang diproduksi dengan cara pemecahan
secara bilogi unsur-unsur organik dalam kondisi ketidaktersediaan oksigen.

Sejarah teknologi Biogas :


Europe/Germany
1770 Allesandro Volta dari Italia melakukan penelitian terhadap gas rawa.
1821 Avogadro mengidentifikasi gas methane (CH4 ).
1875 Propoff menyatakan bahwa biogas diproduksi dalam kondisi anaerobik.
1884 Pasteur melakukan riset biogas dari kotoran binatang. Dia mengusulkan pemanfaatan
kotoran kuda untuk pembuatan biogas yang digunakan untuk lampu penerangan jalan.
1906 Anaerobic wastewater-treatment plant pertama di Jerman.
1913 Anaerobic digester pertama dengan fasilitas pemanas.
1920 Sewage plant pertama di Jerman sebagai sumber biogas yang dimasukkan ke sistem
distribusi gas untuk publik.
1940 Penambahan residu organik (lemak) untuk meningkatkan sewage gas production.
1947 Riset menunjukkan bahwa kotoran dari seekor sapi dapat menghasilkan biogas 100 kali
dari kotoran yang dihasilkan seorang manusia.
Pembentukan kelompok kerja mengenai biogas di Jerman.
1950 Pembangunan agricultural biogas plant pertama dengan skala yang lebih besar
1950s Dibangun sekitar 50 biogas plants dengan bahan baku campuran kotoran ternak dan air.
Harga minyak yang rendah dan problem teknis telah menyebabkan penutupan biogas
plant dan hanya menyisakan dua plant saja yang beroperasi.
1974 Setelah the first energy crisis, dimulai peningkatkan penelitian dan pengembangan
biogas teknologi oleh EC dan federal`departments.
1985 Pembangunan dan perencanaan 75 biogas plants.
1990 Adanya jaminan harga biogas untuk pembangkit listrik. Perkembangan optimalisasi
campuran substrate, pemakaian biogas untuk berbagai keperluan.
1992 Pembentukan The German Biogas Association Fachverband Biogas
1997 Lebih dari 400 agricultural biogas plants telah berdiri di Jerman.

China and India


Sejarah pemanfaatan biogas di China telah berlangsung lebih dari 50 tahun yang lalu. Biogas
plant pertama di bangun pada tahun 1940-an oleh keluarga-keluarga kaya di China. Sejak tahan
1970-an, riset dan teknologi biogas mengalami kemajuan yang pesat dan biogas teknologi
diperkenalkan secara besar-besaran di China. Di daerah pedesaan, lebih dari 5 juta biogas
digester skala kecil telah dibangun dan saat ini lebih dari 20 juta rakyat China memakai biogas
sebagai sumber bahan bakar.
Di India, pembangunan biogas plant sederhana untuk rumah tangga telah dimulai sejak tahun
1950-an. Perkembangan pembangunan biogas plant secara besar-besaran dimulai tahun 1970-an
lewat dukungan pemerintah India. Saat ini lebih dari satu juta biogas plants ada di India.

Indonesia
Di Indonesia, teknologi biogas masuk pada 1970-an yang perkembangannya diawali di daerah
perdesaan. Pengembangan biogas di Indonesia tidak segencar negara-negara lainnya didunia
karena beberapa alasan :
Harga bahan bakar yang murah karena subsidi
Kurangnya dukungan dari Pemerintah
Keenganan masyarakat memakai bahan bakar biogas karena menganggap bahwa bahan
bakar dari kotoran hewan adalah bahan bakar yang tidak bersih dan menimbulkan bau.
Setelah harga minyak makin tinggi dan beban subsidi naik maka pemerintah menggalakkan
pemanfaatan biogas melalu program Pengembangan Bioenergi Pedesaan. Program ini
merupakan implementasi dari kebijakan Pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Presiden
Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional yaitu untuk
menjamin keamanan pasokan energi dalam negeri dan untuk mendukung pembangunan yang
berkelanjutan.
Secara garis besar, biogas diproduksi dengan menggunakan anaerobic digestion atau fermentasi
dari biodegradable materials seperti biomasa, kotoran ternak, limbah rumah tangga, limbah
pertanian dan limbah organik lainnya.
Komposisi Biogas terutama adalah gas methane (CH4) yang berkisar antara 50 70%, kemudian
CO2 30 - 40 % dan campuran gas lainnya dalam jumlah yang kecil.
Table 1.1.Composition of Biogas
Substances Symbol Percentage
Methane CH4 50 -70
Carbondioxide CO2 30 40
Hydrogen H2 5 10
Nitrogen N2 1 -2
Water vapor H2O 0.3
Hydrogen sulphide H2S Traces
Sources: Yadav and Hesse 1981

Biogas mempunyai sifat 20% lebih ringan dari udara dan mempunyai temperatur penyalaan pada
antara 650 - 750 C. Biogas merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak berbau yang
mempunyai nyala api biru terang mirip dengan gas LPG (Sathianathan, 1975). Nilai kalor sekitar
20 MJ/m3 (536.8 BTU/cuft) dan mempunyai efisiensi pembakaran sekitar 60% di kompor biogas
konvensional.
Beberapa pemanfaatan Biogas saat ini adalah :
Bahan bakar untuk berbagai keperluan pemanasan seperti memasak, mengeringkan hasil
pertanian dan lain-lain.
Bahan bakar gas engine untuk menghasilkan listrik dan panas.
Biogas dapat dikompresi seperti natural gas dan dipakai untuk bahan bakar kendaraan
(BBG). Contohnya di UK, Biogas diestimasi mempunyai potensi untuk menggantikan
sekitar 17% dari bahan bakar kendaraan.
Table 1.2. Gas Production Potential of Various Types of Dung
Types of Dungs Gas Production per-Kg Dung (m3)
Cattle (cows and buffaloes) 0.023 - 0.040
Pig 0.040 - 0.059
Poultry (chickens) 0.065-0.116
Human 0.020- 0.028
Source: Updated Guidebook on Biogas Development, 1984

3. Proses Pembentukan Biogas dari Limbah Ternak


Limbah ternak merupakan salah satu sumber bahan yang dapat digunakan dalam memproduksi
biogas. Biogas yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh jenis limbah ternak yang diolah. Secara
umum proses pembentukan biogas dari kotoran ternak terdiri dari 3 (tiga) tahapan yaitu :
Stage 1 Hydrolysis: Material limbah dari hewan tersusun dari sebagian besar
karbohidrat, lemak, protein dan material anorganik. Molekul kompleks yang besar
terlarutkan ke dalam molekul yang lebih sederhana dengan bantuan enzim ekstraselular
(Extracellular Enzyme) yang dikeluarkan oleh bakteri. Tahapan ini juga dikenal sebagai tahap
pemecahan polimer (polymer breakdown stage). Penguraian senyawa kompleks atau senyawa
rantai panjang seperti lemak, protein, karbohidrat menjadi senyawa yang sederhana, perubahan
struktur bentuk primer menjadi bentuk monomer. Sebagai contoh, selulosa yang terdiri glukosa
terpolimerisasi, dipecah menjadi dimeric dan kemudian menjadi monomeric sugar molecules
(glucose) dengan bantuan Cellulolytic bacteria.
Stage 2 Acidification (pengasaman): Monomer seperti contohnya glukosa yang telah diproduksi
pada tahap 1 kemudian difermentasi dalam kondisi anaerobik menjadi bermacam-macam asam
dengan bantuan enzim-enzim yang diproduksi oleh bakteri pembentuk asam. Pada tahap ini,
bakteri pembentuk asam akan memecah molekul-molekul dari glukosa (molekul dengan 6 atom
carbon) menjadi molekul-molekul dengan rantai karbon yang lebih sederhana yaitu asam (acid)
Asam-asam utama yang diproduksi pada tahap ini adalah acetic acid, propionic acid, butyric
acid dan ethanol.
Stage 3 Methanization: Asam-asam yang diproduksi pada tahap-2 selanjutanya mengalami
proses lanjutan dengan bantuan methanogenic bacteria menghasilkan gas methane (CH4).
Reaksi pengubahan asam menjadi gas methane ini disebut Methanization dan digambarkan
dengan reaksi sebagai berikut (Karki and Dixit. 1984).
CH3COOH CH4 + CO2
Acetic acid Methane Carbon dioxide

2CH3CH2OH + CO2 CH4 + 2CH3COOH


Ethanol Carbon dioxide Methane Acetic acid

CO2 + 4H2 CH4 + 2H2 O


Carbon dioxide Hydrogen Methane Water

N-ORGANIC (PROTEIN) NH3


Ammonia
Persamaan reaksi di atas menunjukkan bahwa produk utama, produk samping dan produk
tengahan diproduksi dalam proses pemecahan pada kondisi anaerobik sebelum produk akhir gas
methane dihasilkan.
Untuk mencapai reaksi ideal diperlukan beberapa kondisi penunjang diantaranya adalah :
pH value : Produksi biogas yang optimum dicapai pada kondisi pH campuran masuk digester
antara 6 - 7. pH di dalam digester juga merupakan fungsi dari retention time di mana pada tahap
awal fermentasi akan dihasilkan sejumlah besar asam yang akan menurunkan ph sampai di
bawah 5. Pada kondisi ini maka proses pembentukan methane akan terhenti karena bakteri
Methanogenic sangat sensitif terhadap pH dan akan berhenti bekerja jika pH di bawah 6.5. Saat
proses lanjutan akan dihasilkan NH4 yang makin meningkat sehingga pH naik menjadi di atas 8.
Dan ketika proses produksi sudah pada kondisi stabil maka pH akan berada pada kisaran 7. 2
8.2. his inhibits or even stops the digestion or fermentation process.
Temperature: Bakteri Methanogenic akan tidak aktif pada temperatur yang sangat tinggi atau
sangat rendah. Temperature optimum bagi bakteri Methanogenic adalah di antara 25 - 35 C.
Untuk itu, di daerah dengan temperatur ambient di bawah 20 C, seperti di daerah pegunungan,
diperlukan insulasi yang baik untuk digester sehingga temperture optimum tetap terjaga. Untuk
daerah di dataran rendah Indonesia yang berkisar antara 30 34 C, temperatur bukan menjadi
masalah. Ketika temperatur ambient berkisar 30 C atau kurang, rata-rata temperatur di dalam
dome digester adalah sekitar 4 C di atas temperatur ambient (Lund, Andersen and Tony-Smith,
1996).
Loading Rate: Loading rate adalah jumlah raw material yang diumpankan ke digester persatuan
waktu. Jika overfed maka asam akan terakumulasi sehingga pH turun dan akibatnya produksi
methane terhambat.
Retention Time: Retention time (detention time) adalah rata-rata waktu dari mulai umpan
masuk sampai menjadi gas menthane. Retention time juga dipengaruhi oleh temperature dengan
batasan maksimal 35 C di mana semakin tinggi temperatur maka retention time akan semakin
pendek (Lagrange, 1979). Sebagai contoh di proyek FAO di Nepal, retention time adalah sekitar
50 sampai 60 hari sehingga sebuah digester harus mempunyai volume 50 sampai 60 kali umpan
harian.
Toxicity: Ion-ion mineral, logam berat dan deterjen adalah material toksik yang bisa
menghambat proses perkembangan bakteri di dalam digester. Dalam jumlah kecil, ion-ion seperti
sodium, potassium, calcium, magnesium, ammonium dan sulphur akan mendorong pertumbuhan
bakteri, akan tetapi konsentrasi yang tinggi dari ion-ion tersebut akan memberikan efek racun
terhadap bakteri. Sebagai contoh, adanya NH4 antara 50 sampai 200 mg/L akan mendorong
pertumbuhan bakteri, sedangkan konsentrasi di atas 1500 mg/L akan menghasilkan racun.
Hal yang sama juga berlaku untuk kandungan logam-logam berat seperti tembaga (copper), nikel
( nickel), kromium (chromium), seng (zinc), timbal (lead) dan lain-lain. Pada jumlah yang kecil,
logam-logam tersebut menjadi mineral yang esensial untuk pertumbuhan bakteri, tapi pada
jumlah yang besar akan menjadi racun bagi bakteri. Sedangkan untuk deterjen, antibiotik, pelarut
organik dan lain-lain akan menghambat pertumbuhan bakteri sehingga masuknya bahan-bahan
ini ke dalam digester harus dihindari.
Table 1.4 Toxic Level of Various Inhibitors
No Inhibitors Inhibiting Concentration
1 Sulphate (SO4--) 5 mg/L
2 Sodium Chloride or common salt (NaCl) 40,000 mg/L
3 Nitrate (calculated as N) 0.05 mg/L
4 Copper (Cu++) 100 mg/L
5 Chromium (Cr+++) 200 mg/L
6 Nikel (Ni+++) 200 500 mg/L
7 Sodium (Na+) 3,500 5,500 mg/L
8 Potassium (K+) 2,500 4,500 mg/L
9 Calcium (Ca++) 2,500 4,500 mg/L
10 Magnesium (Mg++) 1,000 1,500 mg/L
11 Manganese (Mn++) Above 1,500 mg/L

Source: The Biogas Technology in China, BRTC, China (1989)


Rasio C/N Syarat ideal untuk proses digesti adalah C/N = 2530. Karena itu, untuk
mendapatkan produksi biogas yang tinggi, maka penambangan bahan yang mengandung karbon
(C) seperti jerami, atau N (misalnya: urea) perlu dilakukan untuk mencapai rasio C/N = 2530.
Berikut tabel yang menunjukkan kadar N & rasio C/N dari beberapa jenis bahan organik.

Table 1.5 Rasio C/N Bahan Organik Sumber Biogas


Kebutuhan Nutrisi - Bakteri fermentasi membutuhkan beberapa bahan gizi tertentu dan sedikit
logam. Kekurangan salah satu nutrisi atau bahan logam yang dibutuhkan dapat memperkecil
proses produksi metana. Nutrisi yang diperlukan antara lain ammonia (NH 3) sebagai sumber
Nitrogen, nikel (Ni), tembaga (Cu), dan besi (Fe) dalam jumlah yang sedikit. Selain itu, fosfor
dalam bentuk fosfat (PO4), magnesium (Mg) dan seng (Zn) dalam jumlah yang sedikit juga
diperlukan. Tabel berikut adalah kebutuhan nutrisi bakteri fermentasi.
Table 1.6 Kebutuhan Nutrisi Bakteri Fermentasi

Kadar Bahan Kering Tiap jenis bakteri memiliki nilai kapasitas kebutuhan air tersendiri.
Bila kapasitasnya tepat, maka aktifitas bakteri juga akan optimal. Proses pembentukan biogas
mencapai titik optimum apabila konsentrasi bahan kering terhadap air adalah 0,26 kg/L.
Pengadukan Pengadukan dilakukan untuk mendapatkan campuran substrat yang homogen
dengan ukuran partikel yang kecil. Pengadukan selama proses dekomposisi untuk mencegah
terjadinya benda-benda mengapung pada permukaan cairan dan berfungsi mencampur
methanogen dengan substrat. Pengadukan juga memberikan kondisi temperatur yang seragam
dalam biodigester.

4. Teknologi Biogas
Proses pembentukan biogas biasa disebut sebagai proses anaerobic digestion. Pada sistem
pembuatan biogas teknologi utama yang digunakan adalah sistem digester yang menjadi tempat
utama proses pembentukan biogas terjadi.
4.1 Jenis Digester

1. Dari segi konstruksi, digester dibedakan menjadi:


Balloon Plants Balon plastic ditanam secara horizontal

Gambar 4.1. Digester Tipe Balloon Plants

Fixed dome Digester ini memiliki volume tetap sehingga produksi gas akan
meningkatkan tekanan dalam reactor (digester). Karena itu, dalam konstruksi ini gas yang
terbentuk akan segera dialirkan ke pengumpul gas di luar reaktor.

Gambar 4.2. Digester Tipe Fixed dome


Floating dome Pada tipe ini terdapat bagian pada konstruksi reaktor yang bisa bergerak
untuk menyesuaikan dengan kenaikan tekanan reaktor. Pergerakan bagian reaktor ini juga
menjadi tanda telah dimulainya produksi gas dalam reaktor biogas. Pada reaktor jenis ini,
pengumpul gas berada dalam satu kesatuan dengan reaktor tersebut.

Gambar 4.3. Digester Tipe Floating dome

2. Dari segi aliran bahan baku reaktor biogas, digester dibedakan menjadi:

Bak (batch) Pada tipe ini, bahan baku reaktor ditempatkan di dalam wadah (ruang
tertentu) dari awal hingga selesainya proses digesti. Umumnya digunakan pada tahap
eksperimen untuk mengetahui potensi gas dari limbah organik.

Mengalir (continuous) Untuk tipe ini, aliran bahan baku masuk dan residu keluar pada
selang waktu tertentu. Lama bahan baku selama dalam reaktor disebut waktu retensi
hidrolik (hydraulic retention time / HRT).

3. Dari segi tata letak penempatan digester, dibedakan menjadi:

Seluruh digester di permukaan tanah Biasanya berasal dari tong-tong bekas minyak
tanah atau aspal. Kelemahan tipe ini adalah volume yang kecil, sehingga tidak mencukupi
untuk kebutuhan sebuah rumah tangga (keluarga). Kelemahan lain adalah kemampuan
material yang rendah untuk menahan korosi dari biogas yang dihasilkan.
Sebagian tangki digester di bawah permukaan tanah Biasanya digester ini terbuat dari
campuran semen, pasir, kerikil, dan kapur yang dibentuk seperti sumuran dan ditutup dari
plat baja. Volume tangki dapat diperbesar atau diperkecil sesuai dengan kebutuhan.
Kelemahan pada sistem ini adalah jika ditempatkan pada daerah yang memiliki suhu
rendah (dingin), dingin yang diterima oleh plat baja merambat ke dalam bahan isian,
sehingga menghambat proses produksi.

Seluruh tangki digester di bawah permukaan tanah Model ini merupakan model yang
paling popular di Indonesia, dimana seluruh instalasi digester ditanam di dalam tanah
dengan konstruksi yang permanen, yang membuat suhu biodigester stabil dan mendukung
perkembangan bakteri methanogen.

4.2 Komponen Digester

Gambar 4.4. Komponen Dasar Digester


Komponen pada digester sangat bervariasi, tergantung pada jenis yang digunakan. Tetapi, secara
umum digester terdiri dari komponen-komponen utama sebagai berikut:
1. Saluran masuk Slurry (kotoran segar) - Saluran ini digunakan untuk memasukkan
slurry (campuran kotoran ternak dan air) ke dalam reaktor utama. Pencampuran ini
berfungsi untuk memaksimalkan potensi biogas, memudahkan pengaliran, serta
menghindari terbentuknya endapan pada saluran masuk.
2. Saluran keluar residu Saluran ini digunakan untuk mengeluarkan kotoran yang telah
difermentasi oleh bakteri. Saluran ini bekerja berdasarkan prinsip kesetimbangan tekanan
hidrostatik. Residu yang keluar pertama kali merupakan slurry masukan yang pertama
setelah waktu retensi. Slurry yang keluar sangat baik untuk pupuk karena mengandung
kadar nutrisi yang tinggi.
3. Katup pengaman tekanan (control valve) Katup pengaman ini digunakan sebagai
pengatur tekanan gas dalam biodigester. Katup pengaman ini menggunakan prinsip pipa
T. Bila tekanan gas dalam saluran gas lebih tinggi dari kolom air, maka gas akan keluar
melalui pipa T, sehingga tekanan dalam digester akan turun.
4. Sistem pengaduk Pengadukan dilakukan dengan berbagai cara, yaitu pengadukan
mekanis, sirkulasi substrat digester atau sirkulasi ulang produksi biogas ke atas digester
menggunakan pompa. Pengadukan ini bertujuan untuk mengurangi pengendapan dan
meningkatkan produktifitas digester karena kondisi substrat yang seragam.
5. Saluran gas Saluran gas ini disarankan terbuat dari bahan polimer untuk menghindari
korosi. Untuk pembakaran gas pada tungku, pada ujung saluran pipa bisa disambung
dengan pipa baja antikarat.
6. Tangki penyimpan gas Terdapat dua jenis tangki penyimpan gas, yaitu tangki bersatu
dengan unit reaktor (floating dome) dan terpisah dengan reaktor (fixed dome). Untuk
tangki terpisah, konstruksi dibuat khusus sehingga tidak bocor dan tekanan yang terdapat
dalam tangki seragam, serta dilengkapi H2S Removal untuk mencegah korosi.

4.3 Prosedur Perancangan Digester

Gambar 4.5. Prosedur Perancangan Digester


Urutan perancangan fasilitas digester dimulai dengan perhitungan volume digester, penentuan
model digester, perancangan tangki penyimpan dan diakhiri dengan penentuan lokasi.

A. Penentuan ukuran digester

Ukuran digester yang akan dibangun ditentukan dari besarnya bahan baku yang tersedia, dalam
hal ini jumlah limbah ternak.

Tabel 4.1 Kapasitas Reaktor Digester (Source : Program Biru 2010)

B. Penentuan Model Digester

Penentuan model digester didasari oleh beberapa pertimbangan, yaitu:

1. Jenis tanah yang akan dipakai

2. Kebutuhan

3. Biaya

C. Perancangan Fasilitas Digester


Gambar 4.6. Instalasi Digester untuk 12 Ekor Sapi

Kronologi Tahapan Pembuatan Digester


Gambar 4.7. Tahapan Pembuatan Digester

D. Penentuan Lokasi Fasilitas Digester

Penentuan lokasi untuk pembuatan digester harus memperhatikan beberapa hal pokok berikut :
1. Lokasi harus mempermudah pekerjaan konstruksi (tanah datar dan daerah dengan rentang
suhu 20-25oC)
2. Lokasi yang dipilih harus dapat meminimalkan biaya (tidak terlalu jauh dari rumah
sehingga tidak memerlukan banyak pipa.)
3. Lokasi harus mudah dijangkau untuk penggunaan dan pemeliharaan.
4. Lokasi tempat pengolahan harus aman( tidak di dearah pepohonan, karena digester bisa
rusak akibat akar pohon.)
E. Perancangan Manajemen Operasional Digester
Tabel 4.2 Rencana Anggaran Pembangunan Sistem Digester

5. Keekono
mian
Biogas
dari
Limbah
Ternak
Tabel
5.1 Nilai
Kalori
Bahan
Bakar

Perhitungan nilai keekonomian pada pemamfaatan biogas tidak dapat secara keseluruhan
dihitung dengan nilai uang. Karena banyak manfaat seperti kebersihan lingkungan, kenyamanan
lingkungan yang cukup sulit untuk dijustifikasi nilainya.

Pada makalah ini analisa ekonomi pada pemanfaatan biogas dari limbah ternak dilakukan dengan
menggunakan data dari direktorat Bididaya Ternak Ruminansia (Dirjen Peternakan) tahun 2010.
Tabel 5.2. Jumlah Populasi Ternak Yang Perlu Dikelola Berdasarkan Potensi KTS Yang
Dihasilkan Untuk Skala Rumah Tangga.(Dirjen. Peternakan, 2010)

Dari data di atas maka dengan menggunakan biodigester kapasitas 2 m3 sudah dapat mencukupi
kebutuhan energi pengganti minyak tanah yang diasumsikan sebesar 1.23 liter per hari. Dengan
harga minyak tanah yang semakin melambung mencapai Rp. 6.500 per liter di daerah-daerah.
Maka untuk 1,23 liter setara dengan Rp 8.000 per hari. Dengan biaya instalasi digester kapasitas
2m3 adalah 2 jt maka pengembalian investasi dapat dihitung sebagai berikut :
Investasi awal (berdasarkan data pada tabel 4.2) : Rp 6.791.000,-
Penghematan (dari minyak tanah) per tahun = Rp 8.000 x 365 hari = Rp 2.920.000,-/thn
Proses pemeliharan dilakukan secara mandiri dengan
asumsi biaya 10% investasi awal per tahun : Rp 200.000,-/ thn
Maka total penghematan per tahun = Rp 2.920.000 - Rp 200.000 = Rp 2.720.000,-
Maka investasi awal sudah kembali (payback period) dalam kurun waktu 2.5 tahun

Sebagai perbandingan data dari Dirjen Peternakan tahun 2010.

Pemanfaatan biogas dan pupuk organik sebagai Unit Bisnis Kelompok (UBK) dengan jumlah
populasi ternak sebanyak 200 ekor ternak ruminansia besar dengan bervariasi umur dewasa,
muda dan anak. Dari 1 unit biodigester yang mempunyai populasi ternak ruminansia besar
sebanyak 200 ekor per tahun dapat dihasilkan 2.400 KTS per hari, yang diperlukan bangunan
biodigester utama dengan volume 202 M3. Investasi untuk membangun biodigester dengan
volume tersebut membutuhkan dana Rp. 100 juta. Bangunan tersebut berupa unit biodigester,
unit prosesing pupuk organik dan alat-alat untuk membuat pupuk organik serta alat/bahan untuk
distribusi gas-bio ke rumah tangga. Investasi tersebut dapat kembali dalam 2 tahun, juga sudah
membiayai gaji operatornya 2 orang. Dari biodigester dan jumlah ternak tersebut diatas dapat
dihasilkan dalam setahun sebagai berikut :
- Energi biogas setara minyak tanah sebanyak 43.800 liter dengan Rp. 120 juta.
- Pupuk organik padat sebanyak 350.400 kg dengan nilai Rp. 122,6 juta.
- Energi biogas yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan
memasak sebanyak 100 dapur rumah tangga peternak/petani.
(1) Investasi awal.
a. Biaya pembangunan unit biodigester plant sebesar volume 200 M3 Rp. 100 juta
b. Biaya bangunan prosesing pupuk organik Rp. 30 juta
c. Peralatan pembuatan pupuk organik danbahan untuk distribusi biogas
ke rumahpeternak sekitar (slang) Rp. 30 juta
Total Rp. 160 juta
(2) Biaya Operasional
a. Gaji operator yang sekaligus penjaga ternak 2 orang @ Rp. 750.000,- Rp. 18 juta/tahun.
b. Bahan tambahan pembuatan pupuk organik Rp.50,-/kghasil pupuk
c. Biaya pendampingan kelompok sebesar Rp 40.000.000,-.
(3) Pemasukan (Cash In)
Dari biodigester dengan jumlah ternak tersebut dapat dihasilkan :
a. Energi biogas yang dihasilkan setara minyak tanah sebanyak 43.800 liter
(minyak tanah eceran Rp. 6500,-/liter) dengan nilai Rp. 284 juta/tahun.
b. Pupuk organik padat sebanyak 350,4 ton/tahun dengan nilai jual Rp. 122,6 juta/ tahun.

Dari perhitungan tersebut diatas dapat disimpulkan, apabila harga pupuk organik saja yang
terjual sedangkan biogas dipakai sendiri, maka usaha tersebut layak dikelola sebagai Unit Bisnis
Kelompok, apalagi kalau nilai biogas tersebut dihitung nilainya. Sehingga apabila investasi awal
mempergunakan dana pinjaman bank atau dana bergulir, tentunya dalam 2 tahun dapat
dikembalikan/lunas.

6. Potensi biogas di Indonesia

Potensi biogas sangat berkaitan dengan jumlah populasi ternak dan pola
pemeliharaan ternak seiring dengan proses pembangunan peternakan
rakyat. Secara keseluruhan potensi biogas dan pupuk organik di Indonesia
dapat terlihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 6.1. Potensi Biogas Asal Kotoran Ternak Berdasarkan Populasi
Ternak di Indonesia Tahun 2009
Ket : KTS = Kotoran Ternak Segar.

Potensi populasi ternak Indonesia di atas dapat dikelompokkan berdasarkan jenis ternak dan
jumlah kotoran ternak sebagai bahan penghasil biogas dan pupuk organik dengan proporsi
sebagai berikut :
Table 6.2 Potensi Kelompok Ternak Dan Jumlah Kotoran Ternak
Sebagai Bahan Penghasil Gas Dan Pupuk Organik
Potensi seluruh ternak ruminansia di Indonesia sebagai penghasil biogas dan
pupuk organik sebesar 82,79% yang terdiri ternak ruminansia besar (sapi
potong, sapi perah dan kerbau) mempunyai porsi yang paling besar yaitu
74,73% dan ternak ruminansia kecil (kambing dan domba) sebesar 8,06%.
Sedangkan ternak non ruminansia (kuda dan babi) sebesar 7,17% dan ternak
unggas sebanyak 10,04%. Jika dikaitkan dengan efektifitas dan pola
pemeliharaan, maka ternak yang dipelihara secara kelompok dan
dikandangkan menjadi paling efektif dapat dikelola sebagai penghasil biogas
dan pupuk organik.
Kotoran ternak segar (KTS) dari seluruh populasi ternak di Indonesia tahun
2009 sebanyak 88.714.888.170 ton per tahun, apabila diproses menjadi
biogas (asumsi secara keseluruhan) akan menghasilkan biogas yang dapat
dipergunakan untuk memasak di rumah tangga petani peternak setara
dengan minyak tanah sebesar 4.331 juta liter per tahun. Sedangkan untuk
keperluan memasak di dapur 1 rumah tangga petani dengan 4-6 anggota
keluarga memerlukan 1,23 liter minyak tanah per hari.
Dengan demikian potensi biogas tersebut sebagai energi alternatif substitusi
minyak tanah dan bahan bakar lainnya di pedesaan dapat memenuhi 9.6
juta rumah tangga sepanjang tahun. Sedangkan pupuk organik kering dapat
dihasilkan 34,6 juta ton per tahun. Potensi biogas dan pupuk organik
tersebut mempunyai nilai ekonomi sebagai berikut :
1) Biogas, yang setara dengan minyak tanah 4.331 juta liter, dengan nilai
ditingkat petani sebesar Rp. 28,1 triliun per tahun, dengan asumsi harga
minyak tanah ditingkat pengecer di pedesaan sebesar Rp. 6500,-/liter.
2) Pupuk Organik, dengan jumlah 34,6 juta ton per tahun dengan nilai Rp.
20,7 triliun per tahun (asumsi harga pupuk organic Rp. 500,-/kg) dan dapat
dipergunakan pada lahan sawah/kebun seluas 6,9 juta ha (dengan asumsi 1
ha dipupuk dengan 5 ton pupuk organik per tahun).
Nilai ekonomi dari 2 jenis produk samping asal ternak tersebut biogas dan
pupuk organik sebesar Rp. 48.8 triliun/tahun.