Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA FISIK II
VOLUM MOLAL PARSIAL

Nama : Umi Sahrun Nimah


NIM : 131810301029
Kelompok :2
Asisten : Cinde Puspita

LABORATORIUM KIMIA FISIK


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2015
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
Menentukan volume parsial komponen dalam larutan.
1.2 Latar Belakang
Kimia merupakan ilmu yang mempelajari tentang materi dan perubahannya. Setiap
benda mati maupun hidup pasti memiliki materi. Materi yang ada di sekitar jarang sekali
ditemukan dalam bentuk murni, melainkan berasal dari campuran dua zat atau lebih.
Campuran tersebut kadang dapat dipisahkan atau dapat ditemukan dalam berbagai metode.
Penggambaran tentang komposisi suatu zat terlebih dahulu harus mengenal sifat-sifat
parsialnya. Salah satu sifat-sifat parsial yang ada yakni sifat molal parsial yang lebih
mudah digambarkan dengan volume molal parsial, yaitu kontribusi pada volume dari satu
komponen dalam sampel terhadap volume total.
Cara penentuan jumlah molal parsial dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana
perubahan sifat-sifat larutan dengan konsentrasi. Terdapat 3 sifat termodinamika molal
parsial utama, yaitu volume molal parsial dari komponen-komponen dalam larutan, entalpi
molal parsial, dan energi bebas molal parsial. Sifat molal parsial dari suatu komponen
dalam suatu larutan dan sifat molal untuk senyawa murni adalah sama jika larutan tersebut
ideal. Volum molar parsial komponen suatu campuran berubah-ubah tergantung pada
komposisi.
Adanya latar belakang diatas menjadikan perlunya untuk melakukan percobaan ini
dengan judul Volum Molal Parsial. Percobaan ini sangat perlu dilakukan karena
praktikan dapat mengetahui dan menentukan volume molal parsial komponen dalam
larutan.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Material Safety Data Sheet (MSDS)


2.1.1 Aquades
Akuades/air (H2O) adalah satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang
terikat pada atom O secara kovalen. Air memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak
zat kimia lainnya, seperti garam, gula, asam, beberapa jenis gas, dan banyak macam
molekul organik. Air merupakan jenis senyawa liquid yang tidak berwarna, tidak berasa,
dan tidak berbau pada keadaan standar. Massa molar dari air adalah 18,01528 g/mol. Titik
didih air sebesar 100C (373,15C) sedangkan titik lelehnya 0C ( 273,15C). Massa jenis
air sebesar 1000 kg/cm3 dan viskositasnya 0,001 Pa/s (20C). Bahan ini tidak berbahaya
dalam kasus inhalasi, non-iritasi untuk paru-paru dan non-korosif terhadap mata, karena
akuades dapat diminum namun kandungan mineralnya telah hilang (Anonim, 2015).
2.1.2 Natrium Klorida (NaCl)
Natrium klorida (NaCl) merupakan salah satu jenis garam dapur yang berasal dari
kristal air laut yang kemudian dibersihkan dan diberi beberapa kandungan mineral lain.
Natrium klorida memilki sifat fisik yaitu tak berwarna/ kristal padatan putih dengan massa
molar 58.443 g/mol. Kerapatan dari garam dapur ini adalah 2.165 g/cm 3, titik leleh dan
titik didihnya adalah 801C dan 1413C. Kelarutan dalam air pada suhu 0C adalah 35.6
g/100 mL, pada suhu 25C adalah 35.9 g/100 mL dan pada suhu 100C adalah 39.1 g/100
mL. kelarutan dari NaCl yaitu larut di gliserol, etilen glikol dan tidak larut di HCl. Natrium
klorida tidak berbahaya bila tertelan namun jika dalam jumlah banyak dapat menyebabkan
penyakit tekanan darah tinggi, jika terkena kulit yang teriritasi akan menimbulkan rasa
perih, dan jika terkena mata dapat menimbulkan iritasi ringan. Tindakan pertolongan
pertama untuk kontak mata dan kulit yaitu dibilas dengan banyak air selama minimal 15
menit (Anonim, 2015).

2.2 Dasar Teori


Volume molar suatu unsur merupakan besarnya ruang yang ditempati oleh suatu mol
unsur. Volume molar pada setiap mol suatu zat pasti memiliki temperatur dan tekanan
tertentu. Volume molar parsial suatu zat ketika dalam larutan dapat diartikan sebagai
perubahan volume yang terjadi apabila satu mol komponen x ditambahkan pada larutan
tersebut dan tidak mengubah komposisi sistem. Volume polar parsial dari komponen x
pada suatu sistem sama dengan kenaikan atau penurunan yang sangat kecil pada volume
dibagi dengan banyaknya mol zat yang ditambahkan pada saat keadaan suhu, tekanan, dan
jumlah komponen lain yang ada pada sistem tersebut dalam keadaan konstan. Volume
molar parsial komponen suatu campuran dapat berubah-ubah tergantung pada komposisi,
karena lingkungan setiap jenis molekul berubah jika komposisinya berubah dari a murni ke
b murni. Perubahan lingkungan molekuler dan perubahan gaya-gaya yang bekerja antara
molekul inilah yang menghasilkan variasi sifat termodinamika campuran jika
komposisinya berubah. Secara matematik, volume molal parsial didefinisikan sebagai :

( Vn )
i T , p ,n j
=V i .................(1)

Keterangan dari rumus tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

V i adalah volume molal parsial dari komponen ke-i atau V i berarti kenaikan V

yang diamati bila satu mol senyawa i ditambahkan ke suatu sistem yang besar, sehingga
komposisinya tetap konstan.
Ketika temperatur dan tekanan konstan, persamaan di atas dapat ditulis sebagai

dV = V i d ni
i dan dapat diintegrasikan menjadi :

V = V i ni
i ..................(2)

(Atkins, 1993).
Perubahan pada volume molar dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya
adalah adanya perbedaan antara gaya intermolekular pada larutan dan pada komponen
murni penyusun larutan tersebut, dan adanya perbedaan antara bentuk dan ukuran molekul


suatu larutan dan pada komponen murni penyusun larutan tersebut. Simbol V i diartikan

sebagai kenaikan dalam bilangan termodinamik V yang menjadikan munculnya tiga sifat
termodinamik molal parsial utama yaitu:
a. Volume molal parsial dari komponen-komponen dalam larutan disebut panas
differensial larutan.
b. Entalpi molal parsial.
c. Energi bebas molal parsial disebut potensial kimia.
Sifat-sifat tersebut dapat ditentukan dengan cara menggunakan metode grafik,
menggunakan hubungan analitik yang menunjukkan V dan ni,, dan menggunakan suatu
fungsi yang disebut besaran molal nyata (Basuki, 2003).
Molal atau molalitas adalah jumlah mol zat terlarut per kg pelarut. Molal ini dapat
diartikan sebagai perbandingan antara jumlah mol zat terlarut dengan massa pelarut dalam
kilogram. Contoh soalnya ialah jika ada larutan 1,00 molal maka larutan tersebut
mengandung 1,00 mol zat telarut dalam 1,00 kg pelarut. Sistematika penulisan rumusnya
sebagai berikut:

mol zat terlarut


Molal= ....................(3)
massa pelarut

(Brady, 1990).

Penentuan volume molal parsial yang paling utama ialah cara menganalisa dan
menetapkan bagian volume larutan biner untuk masing-masing dua komponen. Analisa
tersebut biasanya diperoleh dari data yang umumnya digunakan untuk mendapatkan
informasi volume ialah kerapatan larutan. Faktor penggunaan kerapatan larutan sebagai
data karena untuk larutan dengan berbagai jumlah komponen minor yang disebut sebagai
zat terlarut, dan dalam beberapa jumlah tetap dari komponen utama disebut pelarut.
Densitas juga dapat digunakan untuk menghitung volume larutan dengan jumlah pelarut
tertentu dan berbagai zat terlarut. Volume molal parsial dari kedua komponen dapat
diketahui dengan pengukuran yang tepat untuk menentukan data kerapatan larutan
(Barrow, 1988).
BAB 3. METODE PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
Piknometer
Labu ukur
Gelas beaker
Gelas ukur
Pipet tetes
Pipet mohr
Ball pipet
Timbangan digital

3.1.2 Bahan
NaCl
Akuades
NH4Cl

3.2 Cara Kerja


1. Pengenceran NaCl 3,0 M

NaCl
dibuat bahan menjadi larutan dalam volume 50 ml dalam 3,0 M.
diencerkan larutan dengan konsentrasi , , 1/8, dan1/16 dari konsentrasi semula.
ditimbang piknometer kosong, lalu piknometer berisi akuades, dan piknometer
berisi larutan.
dicatat massa dan suhunya masin-masing.
dihitung densitas larutan.

Hasil

2. Pengenceran NH4Cl 1,0 M

NH4Cl
aquades
dibuat bahan menjadi larutan dalam volume 100 ml dalam 1,0 M.
diencerkan larutan dengan konsentrasi , , 1/8, dan1/16 dari konsentrasi semula.
ditimbang piknometer kosong, lalu piknometer berisi akuades, dan piknometer
berisi larutan.
dicatat massa dan suhunya masin-masing.
dihitung densitas larutan.

Hasil

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Konsentrasi NaCl 3,0 M


Berat Molalitas Nilai V1 Nilai V2
jenis
1,5 M 1,012 1,623 69,93 61,037 53,493
g/ml molal ml/mol ml/mol ml/mol
0,75 M 1,006 0,779 77,63 74,672 66,237
g/ml molal ml/mol ml/mol ml/mol
0,375 M 0,995 0,385 72,32 71,293 64,321
g/ml molal ml/mol ml/mol ml/mol
0,1875 M 0,994 0,191 79,69 79,331 74,052
g/ml molal ml/mol ml/mol ml/mol

Konsentrasi NH4Cl 1,0 M


Berat Molalitas Nilai V1 Nilai V2
jenis
0,5 M 0,983 0,523 68,287 64,595 47,107
g/ml molal ml/mol ml/mol ml/mol
0,25 M 0,980 0,259 70,7 69,412 55,788
g/ml molal ml/mol ml/mol ml/mol
0,125 M 0,978 0,129 74,683 74,233 64,166
g/ml molal ml/mol ml/mol ml/mol
0,0625 M 0,975 0,064 77,412 77,253 70,0
g/ml molal ml/mol ml/mol ml/mol

4.2 Pembahasan

Volume molar suatu unsur merupakan besarnya ruang yang ditempati oleh suatu mol
unsur. Volume molar pada setiap mol suatu zat pasti memiliki temperatur dan tekanan
tertentu. Volume molar parsial suatu zat ketika dalam larutan dapat diartikan sebagai
perubahan volume yang terjadi apabila satu mol komponen x ditambahkan pada larutan
tersebut dan tidak mengubah komposisi sistem. Dasar dari pengertian tersebut telah
dilakukan praktikum tentang volum molal parsial. Tujuan dilakukan praktikum
ini ialah untuk menentukan volum parsial komponen dalam larutan.
Praktikum kali ini menggunakan bahan yaitu NaCl 3,0 M, NH 4Cl 1,0 M
dan akuades. Bahan-bahan yag diguakan dapat mengion secara baik
dan merupakan elektrolit kuat sehingga mampu menyerap air tanpa
mengganggu keadaan larutan yang telah terbentuk. Contoh reaksi yang
akan terjadi antara NaCl dan NH4Cl dengan akuades sebagai berikut:
NaCl(aq) Na+(aq) + Cl-(aq)
NH4Cl(aq) NH4+(aq) + Cl-(aq)
Praktikum ini memiliki beberapa tahapan reaksi yaitu proses
pengenceran, penimbangan pada piknometer kosong; piknometer berisi
larutan; dan piknometer berisi akuades yang digunakan sebagai
pembanding. Pengenceran dilakukan dengan cara membuat larutan
NaCl sebanyak 50 ml dalam 3,0 M kemudian diencerkan kembali
menjadi , , 1/8, dan 1/16 dari konsentrasi awal atau menjadi 1,50 M;
0,750 M; 0,375 M; dan 0,1875 M. Pengenceran dengan dengan berbagai
macam konsentrasi tersebut diharapkan dapat menunjukkan perbedaan
pada densitas, molalitas, dan volume molal parsial. Tahap selanjutnya
yaitu menimbang piknometer kosong kemudian piknometer berisi
akuades dan piknometer berisi larutan. Penimbangan pada setiap
konsentrasi larutan dilakukan hingga 3 kali dengan tujuan agar hasil
yang didapat merupakan hasil yang baik dan akurat sehingga nantinya
dapat dicari nilai rata-ratanya. Proses penimbangan piknometer yang
berisi larutan dimulai dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi,
sehingga saat selesai ditimbang piknometer tidak perlu dicuci terlebih
dahulu hingga benar-benar bersih karena konsentrasi yang rendah tidak
mempengaruhi konsentrasi diatasnya karena terlalu kecil dan dapat
diabaikan. Konsentrasi larutan yang besar dapat mempengaruhi
konsentrasi yang kecil dimana dimungkinkan akan menambah
konsentrasi menjadi lebih besar walaupun tidak terlalu besar.
Suhu pada larutan juga diamati sehigga menghasilkan rata-rata
suhu pada setiap konsentrasi larutan NaCl. Suhu pada larutan NaCl
adalah 1,5 M (30C), 0,75 M (29,8C), 0,375 M (29C), dan 0,1875 M
(28C). Hasil dari proses penimbangan piknometer yang berisi larutan
akan digunakan untuk menghitung berat jenis masing-masing
konsentrasi dengan masing-masing nilai adalah larutan NaCl pada
konsentrasi 1,5 M (1,012 g/ml) ; 0,75 M (1,006 g/ml); 0,375 M (0,995
g/ml); dan 0,1875 M (0,994 g/ml). Hasil dari data tersebut menunjukkan
bahwa semakin besar konsentrasinya maka nilai berat jenis larutan
semakin besar pula. Tahap selanjutnya yaitu menghitung molalitas
larutan degan hasil dari masing-masing konsentrasi larutan NaCl adalah
1,5 M (1,623 mol) ; 0,75 M (0,779 mol); 0,375 M (0,385 mol); dan
0,1875 M (0,191 mol). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa
semakin tinggi konsentrasi maka molalitasnya juga semakin tinggi. Hal
tersebut dapat terjadi karena semakin besarnya konsentrasi maka mol
zat terlarut yang terdapat dalam larutan semakin banyak, jumlah mol
zat pelarutnya semakin sedikit sehingga berpengaruh pada kenaikan
molalitasnya.
Tahapan pengolahan data selanjutnya yaitu menentukan besarnya
nilai volume molal semu (). Volume molal semu merupakan volume
yang akan digunakan untuk menentukan volume molal komponen pada
larutan. Volume molal semu yang dihasilkan dari perhitungan masing-
masing konsentrasi adalah 1,5 M (69,93 ml/mol) ; 0,75 M (77,63
ml/mol); 0,375 M (72,32 ml/mol); dan 0,1875 M (79,69 ml/mol). Hasil
tersebut menunjukkan semakin besar suatu larutan, maka semakin
banyak partikel zat terlarut di dalamnya sehingga semakin besar
volume molal semunya. Namun, terdapat pengecualian pada
konsentrasi 0,375 M yang memilki nilai 72,32 ml/mol. Nilai tersebut
lebih dari konsentarsi 0,75 M adalah 77,63 ml/mol. Hal tersebut dapat
terjadi dimungkinkan dari kesalahan praktikan dalam proses
penimbangan piknometer yang berisi larutan. Tahap selanjutnya yaitu
nilai volum molal semu yang sudah diketahui kemudian diplotkan

terhadap m , dan hasilnya dapat dilihat pada kurva berikut ini :

Grafik vs
80

75 f(x) = - 19.54x + 81.78


R = 0.96
Linear ()
70

65

60
0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8

Gambar 1. Grafik m vs

Tahap selanjutnya yaitu pengolahan data untuk menentukan nilai


dari v1 (volume molal parsial pelarut). Hasil dari nilai v 1 dari masing-
masing konsentrasi adalah 1,5 M (61,037 ml/mol) ; 0,75 M (74,672
ml/mol); 0,375 M (71,293 ml/mol); dan 0,1875 M (79,331 ml/mol). Nilai
volume molal parsial pelarut yang dihasilkan terjadi peningkatan
terhadap molalitas yaitu semakin besar konsentrasi maka nilai volume
parsial zat terlarut semakin kecil, namun terdapat pengecualian pada
konsentrasi 0,375 M. Berikut ini grafik v1 vs m adalah:
Grafik V1 vs m
f(x) = - 11.04x + 79.8
V1 R = 0.81 Linear ()

0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8
m

Gambar 2. Grafik v1 vs m
Tahap selanjutnya yaitu pengolahan data untuk menentukan nilai
dari v2 (volume molal parsial zat terlarut). Hasil dari nilai v 2 dari masing-
masing konsentrasi adalah 1,5 M (53,493 ml/mol) ; 0,75 M (66,237
ml/mol); 0,375 M (64,321 ml/mol); dan 0,1875 M (74,052 ml/mol). Nilai
volume molal parsial pelarut yang dihasilkan terjadi peningkatan
terhadap molalitas yaitu semakin besar konsentrasi maka nilai volume
parsial zat terlarut semakin kecil, namun terdapat pengecualian pada
konsentrasi 0,375 M. Berikut ini grafik v2 vs m adalah:

Grafik V2 vs m
80
60 f(x) = - 12.27x + 73.66
40 R = 0.84
V2 Linear ()
20
0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8
m

Gambar 3. Grafik v2 dan m


Tahap pengenceran kedua dilakukan pada bahan NH 4Cl 1,0 M.
Pengenceran ini dibuat dengan cara membuat larutan NH 4Cl dalam 100
ml. Proses selanjutnya yaitu mengencerkan larutan tersebut dengan
masing-masing konsentrasi yaitu 0,5 M, 0,25 M, 0,125 M, dan 0,0625 M
dari konsentrasi semula yaitu 1,0 M. Prosedur kerjanya juga sam seperti
larutan NaCl. Suhu pada larutan NH4Cl adalah 0,5 M (29,7C), 0,25 M
(29,3C), 0,125 M (29C), dan 0,0625 M (28,5C). Hasil dari proses
penimbangan piknometer yang berisi larutan akan digunakan untuk
menghitung berat jenis masing-masing konsentrasi dengan masing-
masing nilai adalah larutan NH4Cl pada konsentrasi 0,5 M (0,983 g/ml) ;
0,25 M (0,980 g/ml); 0,125 M (0,978 g/ml); dan 0,0625 M (0,975 g/ml).
Hasil dari data tersebut menunjukkan bahwa semakin besar
konsentrasinya maka nilai berat jenis larutan semakin besar pula. Tahap
selanjutnya yaitu menghitung molalitas larutan degan hasil dari masing-
masing konsentrasi larutan NH4Cl adalah 0,5 M (0,523 molal) ; 0,25 M
(0,259 molal); 0,125 M (0,129 molal); dan 0,0625 M (0,064 molal). Hasil
yang diperoleh menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi maka
molalitasnya juga semakin tinggi. Hal tersebut dapat terjadi karena
semakin besarnya konsentrasi maka mol zat terlarut yang terdapat
dalam larutan semakin banyak, jumlah mol zat pelarutnya semakin
sedikit sehingga berpengaruh pada kenaikan molalitasnya.
Tahapan pengolahan data selanjutnya yaitu menentukan besarnya
nilai volume molal semu (). Volume molal semu merupakan volume
yang akan digunakan untuk menentukan volume molal komponen pada
larutan. Volume molal semu yang dihasilkan dari perhitungan masing-
masing konsentrasi adalah 0,5 M (68,287 ml/mol) ; 0,25 M (70,7
ml/mol); 0,125 M (74,683 ml/mol); dan 0,0625 M (77,412 ml/mol). Hasil
tersebut menunjukkan semakin besar suatu larutan, maka semakin
banyak partikel zat terlarut di dalamnya sehingga semakin besar
volume molal semunya. Tahap selanjutnya yaitu nilai volum molal semu

yang sudah diketahui kemudian diplotkan terhadap m , dan hasilnya

dapat dilihat pada kurva berikut ini :


Grafik m vs
80
f(x) = - 19.54x + 81.78
70
R = 0.96
Linear ()
60
0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8

Gambar 4. Grafik m vs

Tahap selanjutnya yaitu pengolahan data untuk menentukan nilai


dari v1 (volume molal parsial pelarut). Hasil dari nilai v 1 dari masing-
masing konsentrasi adalah 0,5 M (64,595 ml/mol) ; 0,25 M (69,412
ml/mol); 0,125 M (74,233 ml/mol); dan 0,0625 M (77,253 ml/mol). Nilai
volume molal parsial pelarut yang dihasilkan terjadi peningkatan
terhadap molalitas yaitu semakin besar konsentrasi maka nilai volume
parsial zat terlarut semakin kecil. Berikut ini grafik v1 vs m adalah:

grafik v1 vs m
80

70 f(x) = - 26.74x + 77.89


R = 0.96
m 60 Linear ()

50
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
V1

Gambar 5. Grafik v1 vs m
Tahap selanjutnya yaitu pengolahan data untuk menentukan nilai
dari v2 (volume molal parsial zat terlarut). Hasil dari nilai v 2 dari masing-
masing konsentrasi adalah 0,5 M (47,107 ml/mol) ; 0,25 M (55,788
ml/mol); 0,125 M (64,166 ml/mol); dan 0,0625 M (70,0 ml/mol). Nilai
volume molal parsial pelarut yang dihasilkan terjadi peningkatan
terhadap molalitas yaitu semakin besar konsentrasi maka nilai volume
parsial zat terlarut semakin kecil. Berikut ini grafik v2 vs m adalah:
Grafik V2 vs m
80
60 f(x) = - 48.02x + 70.97
40 R = 0.95
V2 Linear ()
20
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
m

Gambar 6. Grafik v2 dan m

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dalam praktikum volume molal parsial adalah
volum molal parsial pelarut dan zat terlarut akan semakin besar seiring
dengan semakin kecilnya molalitas.
5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan pada percobaan ini adalah
1 Pengukuran massa piknometer kosong harus dalam keadaan kering
agar massa piknometer tersebut tidak berubah-ubah.
2 Praktikan harus lebih teliti dan lebih mengerti prosedur kerja.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2015. MSDS akuades .www.sciencelab.com.[diakses tanggal26


September 2015].
Anonim. 2015. MSDS NaCl.www.sciencelab.com.[diakses tanggal 26
September 2015].
Atkins, P.W. 1993. Kimia Fisika Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.
Basuki, Atastrina Sri. 2003. Buku Panduan Praktikum Kimia Fisik. Depok: Fakultas
Teknik Universitas Indonesia.
Barrow, W.I . 1988. Komponen Volume Molal Parsial. Jakarta: Erlangga.
Brady, J.E. 1990. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jakarta: Binarupa
Aksara
Tim Kimia Fisik. 2015. Penuntun Praktikum Kimia Fisik II. Jember :
Universitas Jember.
LAMPIRAN

1. Pengenceran dari NaCl 3,0 M


a. Konsentrasi 1,5

M1 x V1 = M2 x V2
0,5 M x 50 mL = 3 M x V2
25 mL
=8,33 mL
V2 = 3

a. Konsentrasi 0,75
M1 x V1 = M2 x V2
0,25 M x 50 mL = 3 M x V2
12,5 mL
=4,17 mL
V2 = 3

b. Konsentrasi 0,375
M1 x V1 = M2 x V2
0,125 M x 50 mL = 3 M x V2
6,25 mL
=2,083 mL
V2 = 3

c. Konsentrasi 0,1875
M1 x V1 = M2 x V2
0,0625 M x 50 mL = 3 M x V2
3,125 mL
=1,042mL
V2 = 3

2. Berat jenis larutan


a. Konsentrasi 1,5
g
d 0 (W W e ) 0,99 ( 41,690 g31,087 g) g
mL
d= (W 0W e ) = = 1,012 mL
( 41,460 g31,087 g)

b. Konsentrasi 0,75
g
d 0 (W W e ) 0,99 ( 41,626 g31,087 g) g
mL
d= (W 0W e ) = = 1,006 mL
(41,460 g31,087 g)

c. Konsentrasi 0,375
g
d 0 (W W e ) 0,99 ( 41,515 g31,087 g) g
mL
d= (W 0W e ) = = 0,995 mL
( 41,460 g31,087 g)

d. Konsentrasi 0,1875
d 0 ( W W e ) g
0,99 ( 41,503 g31,087 g ) g
mL
d= ( W 0 W e ) = = 0,994 mL
( 41,460 g31,087 g )
3. Molalitas larutan
a. Konsentrasi 1,5
1
1 =
g g
d M2 1,012 58,5
m= = mL mol 1,623 molal
M 1000
1,5 M 1000

b. Konsentrasi 0,75
1
1 =
g g
d M 1,006 58,5
m= 2 = mL mol 0,779 molal
M 1000
0,75 M 1000

c. Konsentrasi 0,375
1
1 =
g g
d M 0,995 58,5
m= 2 = mL mol 0,385 molal
M 1000
0,375 M 1000

d. Konsentrasi 0,1875
1
1 =
g g
d M 0,994 58,5
m= 2 = mL mol 0,191 molal
M 1000
0,1875 M 1000

4. Volume molal semu zat terlarut


a. Konsentrasi 1,5
1000 W W 0
=
(
M 2 M 2
m )(
W 0W e ) =
d

g g 1000
58,5
mol (
58,5
mol 1,623 molal )( 41,690 g41,460 g
41,460 g31,087 g )
g = 69,93
1,012
mL

b. Konsentrasi 0,75
W W 0
=
(
M 2 M 2
1000
m )( W 0W e ) =
d

g g 1000
58,5
mol (
58,5
mol 0,779molal )( 41,626 g41,460 g
41,460 g31,087 g )
g = 77,63
1,006
mL

c. Konsentrasi 0,375
W W 0
=
M 2 M 2 (1000
m )( W 0W e ) =
d

g g 1000
58,5
mol (
58,5
mol 0,385molal )( 41,515 g41,460 g
41,460 g31,087 g )
g = 72,32
0,995
mL

d. Konsentrasi 0,1875
W W 0
=
M 2 M 2 (1000
m )( W W )
0 e =
d

g g 1000
58,5
mol (
58,5
mol 0,191molal )( 41,503 g41,460 g
41,460 g31,087 g )
g = 79,69
0,994
mL

5. Grafik m vs

m
1,27
4 69,93
0,88
3 77,63
0,62 72,32
0,43 79,69
7

Grafik vs
80

75 f(x) = - 19.54x + 81.78


R = 0.96 Linear ()
70

65

60
0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8

6. Mencari nilai V1

m d
m
V1= + ( 2 )( d m )

a. Konsentrasi 1,5
m d
m
V1= + ( 2 )( d m )

1,623 molal
1,274
V1 = 69,93+ ( 2 ) (-8,6014)

V1 = 61,037
b. Konsentrasi 0,75
m d
m
V1= + ( 2 )( d m )

0,779
0,883
V1 = 77,63+ ( 2 ) (-8,6014)

V1 = 74,672
c. Konsentrasi 0,375
m d
m
V1= + ( 2 )( d m )

0,385
0,620
V1 = 72,32+ ( 2 ) (-8,6014)

V1 = 71,293
d. Konsentrasi 0,1875
m d
m
V1= + ( 2 )( d m )

0,191
0,437
V1 = 79,69+ ( 2 ) (-8,6014)

V1 = 79,331
5. Grafik V1 vs m

Grafik V1 vs m
100

50 f(x) = - 11.04x + 79.8


V1 R = 0.81 Linear ()
0
0 0.5 1 1.5 2
m

V1 m
61,037 1,623
74,672 0,779
71,293 0,385
79,331 0,191

3 d
m
6. Mencari nilai V2 = + ( 2 )( d m )

a. Konsentrasi 1,5
3 d
m
V2= + ( 2 )( d m )

3
1,274
V2 = 69,93+ ( 2 ) (-8,6014)

V2 = 53,493
b. Konsentrasi 0,75
3 d
m
V2= + ( 2 )( d m )

3
0,883
V2 = 77,63+ ( 2 ) (-8,6014)

V2 = 66,237
c. Konsentrasi 0,375
3 d
m
V2= + ( 2 )( d m )

3
0,620
V2 = 72,32+ ( 2 ) (-8,6014)

V2 = 64,321
d. Konsentrasi 0,1875
3 d
m
V2= + ( 2 )( d m )

3
0,437
V2 = 79,69+ ( 2 ) (-8,6014)

V2 = 74,052

7. Grafik V2 vs m

Grafik V2 vs m
f(x) = - 12.27x + 73.66
V2 Linear ()
R = 0.84
0

0 0.5 1 1.5 2
m

v2 m
53,493 1,623
66,237 0,779
64,321 0,385
74,052 0,191

1. Pengenceran dari NH4Cl 1,0 M


M 1 V 1 =M 2 V 2
a.
0,5 M 100 mL=1 M V 2

V 2=50 mL

M 1 V 1 =M 2 V 2
b.
0,25 M 100 mL=1 M V 2

V 2=25 mL

M 1 V 1 =M 2 V 2
c.
0,125 M 100 mL=1 M V 2

V 2=12,5 mL

M 1 V 1 =M 2 V 2
d.
0,0625 M 100 mL=1 M V 2

V 2=6,25 mL

2. Berat Jenis larutan


W 0 W e 41,744 g31,984 g 9,76 g g
d 0= = = =0,976
V 10 mL 10 m L mL

a. Konsentrasi 0,5 M
d (W W e )
d= 0
(W 0W e )

0,976 g/mL (41,811 g31,984 g)


d= =0,983 g /mL
(41,744 g31,984 g)

b. Konsentrasi 0,25 M
d (W W e )
d= 0
(W 0W e )

0,976 g/mL (41,788 g31,984 g)


d= =0,980 g/mL
(41,744 g31,984 g)

c. Konsentrasi 0,125 M
d 0 (W W e )
d=
(W 0W e )

0,976 g/mL (41,768 g31,984 g)


d= =0,978 g/mL
(41,744 g31,984 g)

d. Konsentrasi 0,0625 M
d (W W e )
d= 0
(W 0W e )

0,976 g/mL (41,729 g31,984 g)


d= =0,975 g/mL
( 41,744 g31,984 g)

3. Molalitas larutan
a. Konsentrasi 0,5 M
1
m=
d M2

M 1000
1
m= =0,523 molal
g g
0,983 53,5
mL mol

0,5 M 1000

b. Konsentrasi 0,25 M
1
m=
d M2

M 1000
1
m= =0,259 molal
g g
0,980 53,5
mL mol

0,25 M 1000

c. Konsentrasi 0,125 M
1
m=
d M2

M 1000
1
m= =0,129 molal
g g
0,978 53,5
mL mol

0,125 M 1000

d. Konsentrasi 0,0625 M
1
m=
d M2

M 1000
1
m= =0,064 molal
g g
0,975 53,5
mL mol

0,0625 M 1000

4. Volume molal semu zat terlarut


a. Konsentrasi 0,5 M
1000 W W o

=
(
M 2 M 2
M )(
W 0W e )
d

1000 41,811 g41,744 g


=
(
53,5 g /mol 53,5 g/mol )(
0,5 M 41,744 g31,984 g
=68,287
)
0,983 g /mL
b. Konsentrasi 0,25
W W o

=
(
M 2 M 2
1000
M )( W W )
0 e

1000 41,788 g41,744 g


=
(
53,5 g /mol 53,5 g/mol )(
0,25 M 41,744 g31,984 g
=70,7
)
0,980 g /mL
c. Konsentrasi 0,125
W W o

=
(
M 2 M 2
1000
M )( W 0W e )
d
1000
=
(
53,5 g /mol 53,5 g/mol
0,125 M )( 41,768 g41,744 g
41,744 g31,984 g )
=74,683
0,978 g /mL
d. Konsentrasi 0,0625 M
W W o

=
(
M 2 M 2
1000
M )( W W )
0 e

1000
=
(
53,5 g /mol 53,5 g/mol
0,0625 M )( 41,729 g41,744 g
41,744 g31,984 g )
= 77.412
0,975 g /mL

5. Grafik m vs
a. Konsentrasi 0,5 M
m= 0,523=0,723
b. Konsentrasi 0,25 M
m= 0,259=0,509
c. Konsentrasi 0,125 M
m= 0,129=0,359
d. Konsentrasi 0,065 M
m= 0,064=0,253

m
0,723 68,287
0,509 70,700
0,359 74,683
0,253 77,412

Grafik m vs
f(x) = - 19.54x + 81.78
R = 0.96
60

0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 Linear ()

6. Mencari nilai V1

=0 + ( ddm ) m
y = -19,53x + 81,77

( ddm )=m=19,53
a. Konsentrasi 0,5 M
V 1= + ( m2 m )( dd m )
V 1=68,287+ ( 0,523
2
0,723) (19,53 )=64,595

b. Konsentrasi 0.25 M
V 1= + ( m2 m )( dd m )
V 1=70.700+ ( 0,259
2
0.509 ) (19,53 ) =69.412

c. Konsentrasi 0.125 M
V 1= + ( m2 m )( dd m )
V 1=74.683+ ( 0,129
2
0.359 ) (19,53 ) =74.233

d. Konsentrasi 0.0625 M
V 1= + ( m2 m )( dd m )
( 0,064
V 1=77.412+
2
0.253 ) (19,53 )=77.253

7. Grafik V1 vs m
m V1
0,523 64,595
0,259 69,412
0,129 74,233
0,064 77,253
grafik v1 vs m
80

70 f(x) = - 26.74x + 77.89


R = 0.96
m 60 Linear ()

50
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
V1

8. Mencari nilai V2
y = -19,53x + 81,77
d
( )
d m
=m=19,53

a. Konsentrasi 0.5 M

V2 = + ( 3 2m )( ddm )
V2 =
68.287+ ( 3 0.723
2 ) (19.53 ) = 47.107

b. Konsentrasi 0.25 M

V2 = + ( 3 2m )( ddm )

V2 =
70.700+ ( 3 0.509
2 )(19.53) = 55.788

c. Konsentrasi 0.125 M

V2 = + ( 3 2m )( ddm )
V2 =
74.683+ ( 3 0.359
2 )(19.53) = 64.166

d. Konsentrasi 0.0625 M

V2 = + ( 3 2m )( ddm )
V2 =
77.412+ ( 3 0.253
2 )(19.53 ) = 70.0

9. Grafik V2 vs m
m V2
0,523 47,107
0,259 55,788
0,129 64,166
0,064 70,000

Grafik V2 vs m
100

50 f(x) = - 48.02x + 70.97


V2 Linear ()
R = 0.95
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
m

Lampiran Lembar Pengamatan