Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

a. Latar Belakang

Setiap perusahaan yang melakukan suatu perjanjian kerjasama terkadang dapat terjadi suatu

hal yang tidak terduga, seperti halnya suatu kepailitan. Tidak jarang suatu perusahaan, baik itu berupa

suatu perusahaan yang besar atau kecil pasti dapat dipailitkan. Suatu kepailitan itu dapat terjadi

apabila ada suatu perusahaan, dimana sebelumnya melakukan suatu perjanjian kerjasama dengan

perusahaan yang lain, tetapi ternyata setelah berlangsung beberapa lama perjanjian tersebut,

perusahaan yang dapat disebutkan sebagai pihak debitur tersebut terdapat suatu utang, dan debitur

tersebut tidak dapat membayarkan utang tersebut kepada pihak kreditur sebagaimana mestinya, dan

utang tersebut telah dinyatakan jatuh tempo.

Secara tata bahasa dapat kita lihat bahwa kata kepailitan itu sebenarnya berasal dari kata

istilah "pailit", yang biasa dijumpai dalam pembendaharaan bahasa Belanda, Prancis, Latin dan

Inggris. Kepailitan dapat pula kita artikan sebagai suatu proses dimana seorang debitur yang

mempunyai kesulitan keuangan untuk membayarkan utangnya dan dinyatakan pailit oleh pengadilan,

dalam hai ini pengadilan yang dimaksud adalah pengadilan niaga, karena debitur tersebut tidak dapat

membayarkan utangnya.

Pengertian tentang kepailitan sendiri lebih jelas terdapat dalam Undang-Undang Nomor 37

Tahun 2004 Pasal 1 Angka l tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang yaitu

adalah suatu sita umum atas semua kekayaan debitur pailit yang pengurusan dan pemberesannya

dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan hakim pengawas sebagaimana diatur dalam Undang-

undang ini.

Perusahaan yang dinyatakan pailit oleh pengadilan pastinya dapat memiliki suatu resiko yang

besar. Salah satu resikonya tersebut dapat berpengaruh terhadap perusahaannya. Bisa saja perusahaan

tersebut menjadi tutup dan dinyatakan bangkrut. Hingga para karyawan pun tidak jarang jadi terkena

dampaknya juga akibat perusahaan tempatnya bekerja dinyatakan pailit.

PT Telekomunikasi Selular Tbk (Telkomsel) untuk selanjutnya disebut Telkomsel dan PT

Prima Jaya Informatika memulai kerja sama pada 1 Juni 2011 sampai batas waktu Juni 2013 dengan
komitmen awal Telkomsel menyediakan voucher isi ulang bertema khusus olahraga. Namun

kemitraan ini menimbulkan kasus, karena pada Juni 2012 Telkomsel memutuskan kontrak karena

menilai PT Prima Jaya Informatika tidak memenuhi aturan yang dipersyaratkan

Kisruh Telkomsel dengan PT Prima Jaya Informatika berawal dari dihentikannya pasokan

produk prabayar Kartu Prima mulai Juni 2012 lalu. PT Prima Jaya Informatika sebagai mitra

mengajukan permohonan pailit kepada Telkomsel karena dianggap mempunyai utang jatuh tempo atas

penyediaan kartu Prima.

Perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, Telkomsel diputuskan pailit dalam Putusan

No. 48/Pailit/2012/PN.Niaga.JKT.PST oleh majelis hakim Pengadilan Niaga Jakarta. Majelis hakim

permohonan pailit tersebut terdiri dari Agus Iskandar, Bagus Irawan, dan Noer Alli.

Menurut majelis, permohonan pailit yang diajukan PT Prima Jaya Informatika telah memenuhi syarat-

syarat Undang-undang kepailitan yaituTelkomsel terbukti memiliki utang jatuh tempo yang dapat

ditagih oleh PT Prima Jaya Informatika sebesar Rp5,3 miliar dan sejumlah kreditur lain, seperti PT

Extend Media Indonesia senilai Rp21.031.561.274 dan Rp19.294.652.520. Gugatan yang diajukan

oleh CEO PT Prima Jaya Informatika, Tonny Djaya Laksana, oleh karenanya terbukti memenuhi

unsur Pasal 2 Ayat (2) Undang-Undang (UU) Kepailitan, yang Yaitu adanya utang yang jatuh tempo

dan dapat ditagih serta terdapat minimal dua kreditor.

Penerapan hukum atas Putusan Pailit terhadap Telkomsel dinilai sangat controversial dan

tidak masuk akal, karena sebuah Perusahaan Telekomunikasi Terbesar di Indonesia dengan asset

triliunan rupiah, dapat dengan mudah dipailitkan hanya dengan utang sebesar 5.3 Miliar yang itupun

adalah Purchase Order yang dianggap Sebagai Utang. Dan dalam kasus ada kekhilafan hakim didalam

memutuskan perkara tanpa memperhatikan asas hukum "exceptio non adimpleti contractus". Artinya

pihak lawan dalam keadaan lalai, maka dengan demikian tidak dapat menuntut pemenuhan prestasi

pihak lain. Selain itu dalam legal standing dalam perjanjian kerja sama tersebut PT Prima Jaya

Informatika sebagai Pemohon pailit (sebagai kreditor) dan Telkomsel (sebagai Debitor) yang memiliki

aset dan laba triliunan rupiah sebagai perusahaan yang masih sangat solven telah terjadi kekeliruan

dalam penafsiran hukum antara siapa sebagai kreditor dan siapa sebagai Debitor di dalam Perjanjian

kerja sama tersebut.


Banyak pihak yang tidak setuju apabila perusahaan sebesar Telkomsel diputus pailit. Terlebih

Telkomsel memiliki aset yang jauh lebih besar dibanding utang yang diklaim PT. Prima Jaya

Informatika (PJI). Telkomsel memiliki prestasi yang gemilang pada kuartal I/2012. Sepanjang kuartal

pertama 2012, Telkomsel telah berhasil membukukan laba bersih 3,5 triliun Rupiah (Bisnis.com).

utang Telkomsel kepada PJI sebesar Rp 5,3 milyar tersebut tentu tidak seberapa bila dbanding dengan

penghasilan yang diperoleh Telkomsel selama kuartal I 2012 tersebut.

Upaya hukum yang dilakukan oleh PT.Telkomsel Tbk. adalah dengan mengajukan kasasi

kepada pihak Mahkamah Agung. Upaya hukum kasasi tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan

suatu kepastian hukum yang sesungguhnya. Dengan adanya upaya hukum yang dilakukan oleh

PT.Telkomsel Tbk. tersebut, membuat putusan dari Pengadilan Niaga tidak diberlakukan lagi. Bahwa

pada akhrinya adalah putusan pailit yang dilayangkan terhadap perusahaan BUMN tersebut

dihapuskan, dan dinyatakan bebas.

b. Perumusan Masalah

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas, maka penulis akan mengemukakan

beberapa pokok permasalahan yaitu sebagai berikut :

1. Bagaimanakah putusan pailit menurut Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang

Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang?

2. Bagaimanakah penerapan ketentuan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang

Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dalam Putusan Pailit

PT.Telkomsel Tbk?
BAB II

LANDASAN TEORI

a. Pengertian pailit

Pengertian kata pailit itu terdapat dalam pembendaharaan dalam bahasa Belanda,

Prancis, Latin dan Inggris. Kalau dalam bahasa Prancis, istilah kata pailit itu biasanya disebut

dengan faillitie yang artinya adalah pemogokan atau kemacetan dalam melakukan pembayaran.

Orang yang melakukan kegiatan mogok atau macet melakukan tindakan berhenti membayar

utangnya disebut dengan Le failli. Kalau dalam bahasa Belanda dipergunakan istilah faillit yang

memiliki arti ganda yaitu bisa sebagai kata benda dan bisa sebagai kata sifat juga. Sedangkan di

dalan bahasa Inggris istilah yang dipergunakan adalah istilah to fail, dan kalau di dalam bahasa

latin adalah failure.

Pernyataan yang terdapat dalam pasal 1 angka 1 UU No. 37 Tahun 2004 apabila dikaitkan

dengan Pasal 2 Undang-Undang Kepailitan Dan PKPU, dapat diketahui bahwa pernyaan pailit

merupakan suatu putusan pengadilan. Ini berarti bahwa sebelum adanya suatu putusan pailit oleh

pengadilan, seorang debitur tidak dapat dinyatakan berada dalam keadaan pailit. Dengan adanya

pengumuman putusan pernyataan pailit tersebut, maka berlaku umum bagi semua kreditur

konkruen dalam kepanitiaan, tanpa terkecuali, untuk memperoleh pembayaran atas seluruh

piutang-piutang konkruen mereka. Dalam hal yang demikian berarti terjadi sitaan umum terhadap

seluruh harta kekayaan debitur, yang diperlukan untuk memenuhi kewajibannya berdasarkan

ketentuan pasal 1132 Kitab Undang-Undang KUPerdata baik secara pari passa dan prorata.

Berdasarkan defenisi tentang pengertian kepailitan tersebut ada pula yang dapat menjadi

suatu manfaat dan tujuan dari hukum kepailitan tersebut. yang dimana tujuan dari hukum

kepailitan tersebut adalah, untuk melakukan pembagian antara para kreditr atas kekayaan debitur

oleh kurator.
Kepailitan dimaksudkan untuk menghindari terjadinya sitaan terpusah atau eksekusi

terpisah oleh kreditur dan menggantikannya dengan mengadakan sitaan dengan hak masing-

masing. Dan yang menjadi manfaat adanya kepailitan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Untuk melakukan pembagian antara para kreditur atas kekayaan debitur oleh kurator

2. Untuk menghindari terjadinya sitaan terpisah atau eksekusi terpisah oleh kreditur

3. Untuk menggantikannya dengan mengadakan sitaan bersama sehingga kekayaan

debitur dapat dibagikan kepada semua kreditur sesuai dengan hak masing-masing.

b. Syarat Pailit

Dalam melakukan pelaksanaan pailit tidak boleh sembarang atau sesuka hati mematikan

suatu perusahaan, oleh sebab itu maka diperlukanlah syarat-syarat untuk mengajukan

permohonan pernyataan pailit sebagaimana hal tersebut dapat dilihat pada pasal 2 angka 1 UU

No. 37 Tahun 2004, yakni sebagai berikut :

Debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya

satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih dinyatakan pailit dengan putusan

pengadilan, baik atas permohonan satu atau lebih kkreditornya.

Syarat-syarat mengenai permohonan pailit sebagaimana terdapat didalam pasal 2 angka1

UU No. 37 Tahun 2004 tersebut dapatlah dijelaskan lebih mendalam sebagai berikut :

1. Syarat adanya dua Kreditur atau lebih (Concursus Creditorum)

Berdasarkan dari pasal 2 UU No. 37 Tahun 2004, pihak yang dapat mengajukan

permohonan pailit adalah seorang debitur yang mempunyai dua atau lebih krediturnya

dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat

ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan, baik atas permohonannya

sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih krediturnya, kemudian permohonan

tersebut dapat juga diajukan oleh kejaksaan untuk kepentingan umum.

2. Syarat harus adanya utang


Syarat lain yang harus dipenuhi bagi seorang pemohon pernyataan pailit ialah harus

adanya utang. UU No. 37 Tahun 2004 tidak menentukan apa yang dimaksudkan

dengan utang. Dengan demikian para pihak yang terkait dengan suatu permohonan

pernyataan pailit dapat berselisih pendapat mengenai ada atau tidak adanya utang.

Pihak-pihak yang dimaksud ialah (Penasihat hukum dari) pemohon, (penasihat

hukum dari) Debitor, dan majelis Hakim Peninjauan Kembali.

3. Syarat cukup utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih

Dalam pasal 1 ayat (1) UUK tidak membedakan tetapi menyatukan syarat utang yang

telah jatuh waktu dan utang yang telah dapat ditagih. Pada perjanjian kredit

perbankan, kedua hal tersebut jelas dibedakan. Utang yang telah jatuh waktu ialah

utang yang dengan lampaunya waktu penjadwalan yang ditentukan di dalam

perjanjian kredit itu, menjadi waktu dan karena itu pula kreditor berhak menagihnya.

c. Prosedur Permohonan Pernyataan Pailit

Apabila seorang debitur mengalami kesulitan keuangan, artinya tidak mampu membayar

hutang-hutangnya, tentu saja para kreditur akan berusaha menempuh jalan untuk menyelamatkan

piutangnya. Salah satu jalan yang ditempuh adalah kreditur mengajukan permohonan ke

pengadilan agar si debitur dinyataan pailit. Permohonan itu disebut sebagai permohonan

pernyataan kepailitan. Berhubung permohonan tersebut diajukan ke pengadilan, maka harus

melewati prosedur yang benar.

Permohonan pernyataan pailit harus diajukan oleh seorang advokat, dalam UUKepailitan

lama harus diajukan oleh pengacara praktek, karena di pengadilan Niaga hanya ada beberapa

Pengadilan dan tidak semua pengacara praktek itu berada diwilayah pengadilan niaga dimana hal

ini dapat dilihat dalam Pasal 7 UU Kepailitan dan PKPU. Prosedur permohonan pernyatan pailit

sebagaimana dapat dilihat jelas dalam Pasal 6 UU Kepailitan dan PKPU, sebagai berikut:

1. Permohonan pernyatan pailit diajukan kepada Ketua Pengadilan.


2. Panitera mendaftarkan permohonana pernyataan pailit pada tanggal permohonan

yangbersangkutan diajukan, dan kepada permohonan diberikan tanda terima tertulis

yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang dengan tanggal yang sama dengan

tanggal pendaftaran.

3. Panitera wajib menolak pendaftaran permohonan pernyataan pailit bagi institusi

sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 3, ayat 4, dan ayat 5 jika dilakukan

tidaksesuai dengan ketentuan dalam aya-ayat tersebut.

4. Panitera menyampaikan permohonan pailit kepada Ketua Pengadilan paling lambat 2

(dua) Hari setelah tanggal permohonan didaftarkan.

5. Dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) hari setelah tanggal permohonan

pernyataan pailit didaftarkan , pengadilan mempelajari permohonan dan menetapkan

hari sidang.

6. Sidang pemeriksaaan atas permohonsn pernyatan pailit diselenggarakan dalam jangka

waktu paling lambat 20 (dua puluh) hari setelah tanggal permohonan didaftarkan.

7. Atas permohonan Debitur dan berdasarkan alasan yang cukup, Pengadilan dapat

menunda penyelenggaraan sidang sebagaimana dimaksud pada ayat (5) sampai

dengan paling lambat 25 (dua puluh lima) hari setelah tanggal permohonan

didaftarkan.

Apabila seluruh persyaratan untuk dinyatakan pailit telah terpenuhi semuanya, maka

pengadilan akan memberikan putusannya. Tetapi, apabila ternyata harta pailit tidakcukup untuk

membayarkan biaya kepailitan tersebut, maka Pengadilan atas usul Hakim Pengawas dan setelah

mendengar panitia kreditor sementara apabila ada, serta setelah memanggil secara sah atau

mendengarkan dari pihak debitur, dapat memutuskan pencabutan putusa pernyataan pailit. 19

Tujuan utama dalam suatu proses di muka pengadilan adalah untuk memperoleh putusan

Hakim yang berketekunan hukum tetap. Akan tetapi, setiap putusan yang dijatuhkan oleh Hakim

belum tentu dapat menjamin kebenaran secara yuridis, karena putusan itu tidak lepas dari
kekeliruan dan kekilafan, bahkan tidak mustahil bersifat memihak. Agar kekeliruaan dan

kehilafan itu dapat diperbaiki, maka demi tegaknya kebenaran dan keadilan, terhadap putusan

Hakim itu dimungkinkan untuk diperiksa ulang. Cara yang tepat untuk dapat mewujudkan

kebenaran dan keadilan itu adalah dengan melaksanakan upaya hukum.

Terhadap suatu putusan pencabutan pernyataan pailit tersebut dapat pula diajukan suatu

kasasi dan/ atau peninjauan kembali. Apabila setelah pencabutan pernyataan pailit diucapkan

diajukaan kembali permohonan pernyataan pailit, maka debitor atas permohonan wajib

membuktikan bahwa ada cukup harta untuk membayar biaya kepailitan berdasarkan dari pasal 19

UU No.37 Tahun 2004.

Dalam kasus putusan pailitanya PT. Telkomsel Tbk., dapat dilihat bahwa dari pihak PT.

Telkomsel tersebut mengajukan upaya hukum secara kasasi. Dimana pengertian kasasi tersebut

adalah pembatala atas keputusan Pengdilan-pengadilan lain dan para hakim yang bertentangan

dengan hukum, kecuali keputusan Pengadilan dalam perkara pidana yang mengandung

pembebasan terdakwa dari segala tuduhan, hal ini sebagaimana ditentukan dalam Pasal 16 UU

No. 1 Tahun 1950 jo. UU No. 8 Tahun 1981 tentang dan UU No. 14 Tahun 1985 jo. UU No. 5

Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 tentang Makamah

Agung.

d. Puutusan Pailit

Putusan Pailit adalah adjucation order yaitu putusan pengadilan yang menyatakan bahwa

seorang debitur telah dinyatakan pailit sehingga penguasaan dan pemberesan harta debitur

diserahkan kepada kurator untuk kepentingan para kreditur. Tindakan-tindakan hukum yang dapat

dilakukan setelah adanya putusan pernyataan pailit adalah sebagai berikut :

1. Kurator melakukan pemberesan harta pailis

2. Hakim Pengawas mengawasi tindakan Kurator

3. Dilakukan rapat Vertifikasi (pencocokan hitang piutang)

4. Dilakukan rapat kreditor


5. Atas usulan hakim pengawas, permintaan kurator dan permintaan kreditor,Pengadilan

dapat memerintahkan supaya debitor pilit ditahan dibawah pengwasan Jaksa yang

ditunjukan oleh hakim pengawas. (Pasal 93).

Pernyatan putusan pailit harus dikabulkan apabila ternyata terdapat suatu fakta ataupun

keadaan yang telah terbukti secara sederhana bahwa persyaratan untuk dapat dinyatakan pailit

telah dapat terpenuhi. Dalam hal ini yang dimaksud dengan fakta atau keadaan yang telah terbukti

secara sederhana adalah adanya dua atau lebih Kreditor dan adanya fakta utang yang telah jatuh

waktu dan tidak/tidak dapat dibayarkan, sedangkan besarnya utang yang dimiliki oleh pemohon

pailit dan termohon pailit tidak menghalangi dijatuhnya putusan pernyataan pailit.
BAB III

PEMBAHASAN

Di dalam perjanjian kerja sama antara PT Telkomsel dengan PT.Prima Jaya Informatika, pada

dasarnya harus dilihat terlebih dahulu kedudukan hukumnya didalam Perjanjian kerja sama tersebut

antara siapa sebagai Kreditor yang sebenarnya dan siapa sebagai Debitor yang sebenarnya. Menurut

Pasal 1 Angka (3) UU Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang No. 37 Tahun 2004,

yang dimaksud Debitor adalah :

orang yang mempunyai utang karena perjanjian atau Undang-undang yang pelunasannya dapat

ditagih di muka pengadilan.

Dan menurut Pasal 1 Angka (2), yang dimaksud Kreditor adalah :

orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau Undang-Undang yang dapat ditagih di muka

pengadilan.

Kreditor adalah orang yang berdasarkan hubungan pribadi mempunyai hak subyektif untuk

menuntut pemenuhan tagihannya dari debitor dan pada dasarnya berhak untuk memperoleh

pembayaran atas tagihannya tersebut atas harta kekayaan debitor (Polak, 1997: 12). Agar dapat

digolongkan sebagai kreditor sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Kepailitan, maka

kreditor harus dapat menuntut tagihannya di muka pengadilan. Oleh sebab itu, apa yang dikenal

sebagai perikatan alami (natuurlijke verbintenis) tidak dapat menjadi dasar untuk mengajukan

permohonan pernyataan pailit. Apakah yang dimaksud dengan natuulirjke verbintenis

adalah obligation civile manqu oi degeneree (Asser-Rutten, l98l:27-28) artinya perikatan semacam

itu tidak dapat dituntut pemenuhannya di muka pengadilan karena ketentuan undang-undang, baik ab

initio (dari semula) semisal utang karena perjudian atau pertaruhan (Pasal 1788 KUHPerdata) maupun

sesudahnya sebagai akibat daluwarsa yang membebaskan dari suatu kewajiban (Pasal 1967
KUHPerdata). Secara singkat dapat disimpulkan bahwa didalam suatu perjanjian timbal balik,

kreditor adalah pihak yang berhak mendapatkan pembayaran atas sesuatu yang timbul dari perjanjian

tersebut, sedangkan Debitur adalah Pihak yang berkewajiban membayar atas suatu yang timbul dari

perjanjian yang bersangkutan.

Didalam perjanjian kerjasama antara Telkomsel dengan PT.Prima Jaya Informatika terlihat

jelas isi dari perjanjian tersebut Telkomsel memberikan aturan main yang jelas untuk ditaati mitra

kerjanya yaitu PT.Prima Jaya Informatika atas perjanjian tersebut. Telkomsel Menyediakan voucher

isi ulang dan Kartu perdana untuk dijual oleh PT.Prima Jaya Informatika dengan target penjualan

120 juta voucher dan 10 juta Kartu Perdana serta Membentuk komunitas Prima (10 juta anggota),

penetapan jumlah penjualan Voucher dan kartu perdana adalah ditetapkan oleh Telkomsel secara

sepihak berdasarkan asas kebebasan berkontrak dan disetujui untuk ditaati.

Didalam perjanjian kerja sama tersebut Pihak Telkomsel telah melaksanakan pretasinya

dengan menyediakan Voucher isi ulang dan kartu perdana yang telah diminta oleh PT.Prima Jaya

Informatika, akan tetapi ternyata PT.Prima Jaya Informatika justru Tidak Melakukan Pembayaran

Terhadap PO NO.PO/PKIAK/ V/2012/00000026 tanggal 9 Mei 2012 sebesar Rp4.800.000.000,00

(empat milyar delapan ratus juta Rupiah).

Didalam pelaksanaan perjanjian ini terlihat jelas Telkomsel adalah berkedudukan sebagai

kreditor dan PT.Prima Jaya Informatika berkedudukan sebagai Debitor karena mempunyai kewajiban

untuk membayar atas apa yang telah diberikan oleh Telkomsel, dan selain terkait barang yang belum

dibayar PT.Prima Jaya Informatika juga tidak memiliki pilihan lain selain wajib mentaati Peraturan

didalam perjanjian kerjasama tersebut.

Sehingga Syarat untuk dapatnya dijatuhi kepailitan sebagaimana diatur di dalam pasal 2 ayat

(1) UU Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang No. 37 Tahun 2004 yang berbunyi

Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor.. dimana dalam kasus ini PT Telkomsel di

perlakukan atau dianggap sebagai debitor oleh Majelis Hakim Pengadilan Niaga sebagaimana dalam

pasal 2 ayat (1) Undang-undang tersebut diatas adalah penafsiran yang keliru dan terbalik.
Kata utang sebagaimana tersebut dalam ketentuan Pasal 1 ayat 1 UU No. 4/1998 secara

sempit, sehingga hanya mencakup utang yang lahir karena pinjaman uang. Pemahaman yang

demikian jelas bukan maksud pembentuk undang-undang. Oleh sebab itu, untuk memperbaiki salah

pemahaman tersebut hal itu ditegaskan dalam Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang

Kepailitan dan PKPU yang mengambil contoh Pasal 1233 dan Pasal 1234 KUHPerdata, menegaskan

bahwa : Utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang baik

dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul

di kemudian hari (kontinjen), yang timbul karena perjanjian atau undang-undang dan yang wajib

dipenuhi oleh debitor dan bila tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditor untuk mendapatkan

pemenuhannya dari harta kekayaan debitor

Dalam kasus perjanjian kerjasama antara Telkomsel dengan PT.Prima Jaya Informatika, yang

dimaksud utang oleh PT.Prima Jaya Informatika dalam permohonan pailitnya adalah Purchase Order

(PO) atau Perintah Pembelian atau surat Pemesanan Barang yang diterbitkan oleh Pemohon Pailit

kepada Termohon Pailit yang sama sekali bukan merupakan bukti adanya utang ataupun kewajiban

Termohon Pailit kepada Pemohon Pailit. Bahkan dalam Perjanjian Kerjasama tidak pernah disebutkan

bahwa Purchase Order (PO) adalah bukti pembayaran ataupun bukti tagihan kepada Pemohon Pailit.

Sehingga dalam hal Syarat Pokok Permohonan kepailitan tentang adanya UTANG menjadi tidak

terpenuhi. Di dalam proses beracara dalam hukum kepailitan, konsep utang menjadi sangat penting

dan esensial (menentukan) karena tanpa adanya utang maka tidaklah mungkin perkara kepaiiitan akan

dapat diperiksa. Tanpa adanya utang, maka esensi kepailitan tidak ada karena kepailitan adalah

pranata hukum untuk melakukan likuidasi aset debitor untuk membayar utang utangnya terhadap para

kreditornya dan lagi-lagi Majelis hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat keliru didalam menafsirkan

Purchase Order sebagai Utang yang menerbitkan kewajiban untuk membayar.

Tindakan Telkomsel dengan tidak memberikan barang atas Purchase Order (PO) sebagaimana

yang dipesan kembali oleh PT.Prima Jaya Informatika (yang dianggap sebagai utang) adalah

dikarenakan PT.Prima Jaya Informatika telah melakukan Wanprestasi yaitu Tidak Melakukan

Pembayaran Terhadap PO NO.PO/PKIAK/ V/2012/00000026 tanggal 9 Mei 2012 sebesar


Rp4.800.000.000,00 (empat milyar delapan ratus juta Rupiah) Padahal Pesanan PT.Prima Jaya

Informatika tersebut telah disetujui (approved) oleh Telkomsel. Dengan fakta hukum yang terjadi

pada perjanjian kerja sama ini PT.Prima Jaya Informatika terlebih dulu melakukan wanprestasi kepada

Telkomsel, yang artinya Majelis hakim tidak dapat serta merta menjatuhkan pernyataan pailit kepada

Termohon pailit yaitu Telkomsel. Berarti disini Putusan Majelis Hakim Pengadilan Niaga telah keliru

dengan tidak mempertimbangkan asas exceptio non adimpleti contractus. yaitu hakim mengabaikan

asas hukum "exceptio non adimpleti contractus". Artinya pihak lawan dalam keadaan lalai, maka

dengan demikian tidak dapat menuntut pemenuhan prestasi pihak lain. Asas Exceptio Non Adimpleti

Contractus adalah Tidak dipenuhinya kontrak (wanprestasi) terjadi karena pihak lain juga

wanprestasi. Atau bisa berarti sebagai suatu tangkisan, yang mengatakan anda sendiri belum

berprestasi dan karenanya anda tidak patut untuk menuntut saya berprestasi.

Oleh karena itu secara Yuridis jika memang PT.Prima Jaya Informatika ingin agar PT

Telkomsel memenuhi pesanannya apa yang diminta, maka seharusnya PT.Prima Jaya Informatika

membayar terlebih dahulu apa yang menjadi kewajibannya kepada PT Telkomsel.

Secara umum diterima pendapat, bahwa para pihak dalam perjanjian tetap harus memenuhi

kewajibannya, sekalipun pihak lain wanprestasi (Rutten, loc.cit.). Asas exeptio non adimpleti

contractus. Konsekuensinya, seorang penyewa yang mengemukakan, bahwa lawan janjinya

wanprestasi, tidak membebaskan dirinya sendiri untuk berprestasi

PT.Telekomunikasi Selular Adalah Perusahaan Telekomunikasi Yang Sangat Sehat Dan

Dikelola Dengan Sangat Balk Yang Terus Menghasilkan Keuntungan, Proporsi kepemilikan saham

Telkom = 65% Saham Singtel = 35% Saham, Dimana Berdasarkan Laporan Keuangan Tahun 2011

Yang Telah Diaudit Dan Membukukan Keuntungan Sebesar Rp.12.823.670.058.017,00 (dua belas

triliun delapan ratus dua puluh tiga miliar enam ratus tujuh puluh juta lima puluh delapan ribu tujuh

belas Rupiah). Putusan pernyataan pailit yang dikeluarkan oleh Majelis hakim Pengadilan Niaga

Jakarta Pusat sangat bertentangan dengan asas Undang-undang kepailitan itu sendiri, dengan

menciptakan keadaan ketidakpastian Penegak hukum didalam menerapkan Undang-undang kepailitan


yang itu sangat mengancam iklim investasi bagi asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Dan pada akhirnya Pihak asing akan beranggapan bahwa Hukum kepailitan di Negara Indonesia ini

tidak dapat diterima secara Global.

Asas-asas Undang-undang kepailitan pada umumnya, secara tegas menyatakan Putusan

pernyataan pailit tidak dapat dijatuhkan terhadap Debitor yang masih Solven.sikap ini merupakan

sikap Faillissement verordening (Fv) sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 ayat (1) sebelum

kemudian diubah oleh Perpu No.1 Tahun 1998, dengan bunyi sebagai berikut : Setiap pihak yang

berutang (debitur) yang tidak mampu yang berada dalam keadaan berhenti membayar utang-utangnya,

dengan putusan hakim, baik atas permintaannya sendiri maupun atas permintaan seorang atau lebih

pihak berpiutangnya (kreditornya), dinnyatakan dalam keadaan pailit. Untuk dapat menetukan

debitur dalam keadaan solven atau insolven hanya dilakukan berdasarkan financial audit. Putusan

Pernyataan pailit atas Telkomsel ini juga tidak Memberikan Perlindungan yang Seimbang bagi

Kreditor dan Debitor (menjunjung keadilan dan memperhatikan kepentingan keduanya meliputi segi-

segi penting yang dinilai perlu untuk mewujudkan penyelesaian masalah utang-piutang secara cepat,

adil, terbuka, dan efektif. Penerapan pertimbangan hukum yang diambil Majelis hakim Pengadilan

niaga hanya melihat dari sisi Pemohon Pailit secara luarnya saja, tanpa melihat kapasitas Termohon

Pailit sebagai perusahaan Terbesar Telekomunikasi yang masih sangat Solven dalam melaksanakan

kewajiban terhadap mitra kerjanya yang lain. Melihat fakta hukum berdasarkan audit laporan

keuangan Telkomsel yang pada tahun 2011 memiliki keuntungan dua belas trilyun lebih, Majelis

hakim Pengadilan Niaga telah Khilaf dalam menjatuhkan putusan pernyataan pailit

terhadap.Telkomsel tersebut. Majelis Hakim kurang teliti dan berhati-hati didalam menganalisa dan

menjatuhkan putusan pernyataan pailit dalam perkara tersebut.

Oleh karena itu seharusnya Pengadilan Niaga sebagai Ultimum remedium (Upaya Terakhir)

para pelaku bisnis di Indonesia lebih-lebih lagi para penanam modal asing yang menempatkan

modalnya di Indonesia harus mendapatkan kepastian hukum yang dapat diterima secara global oleh

semua pihak-pihak para pelaku bisnis. Jangan sampai keterbatasan pengetahuan para hakim di

Indonesia terutama pada Pengadilan Niaga menjadikan para pelaku-pelaku bisnis menjadi takut untuk
menjalankan kegiatan bisnisnya dikarenakan banyaknya putusan-putusan Pengadilan Niaga terutama

masalah kepailitan yang controversial dan banyak mengundang kecaman dari berbagai pihak baik

dalam negeri maupun diluar negeri.

Disini pentingnya para penegak Hukum terutama para Hakim untuk lebih memahami dan

mendalami permasalahan yang terkait masalah Hukum bisnis terutama kepailitan. Karena jika Melihat

Undang-undang kepailitannya sendiri UU no.37 Tahun 2004 masih banyak sekali kelemahannya yang

itu berarti merupakan celah bagi pihak-pihak yang dapat memanfaatkan kelemahan dari undang-

undang itu sendiri untuk menghabisi nyawa perusahaan yang menjadi lawan bisnisnya, karena begitu

mudahnya syarat untuk mempailitkan suatu perusahaan, dengan akibat hukum yang begitu kompleks

dan besar bagi pihak-pihak yang ada keterkaitannya dengan suatu perusahaan maupun badan yang

dipailitkan. Dan jika dari peraturan perundang-undangannya sendiri sudah begitu banyak kelemahan,

jika para hakim tidak dituntut untuk lebih progresif dan cerdas didalam menangani permasalahan

kepailitan yang dihadapkan kepadanya, bukan tidak mungkin akan menjadi banyak perusahaan

maupun badan-badan usaha yang sebenarnya masih solven dan kegiatannya masih aktif menjadi

korban akan kelemahan undang-undang ini.. Akibat dari penegakan hukum kepailitan yang tidak

sesuai dengan asas dan prinsip hukum kepailitan dampak yang paling besar adalah investor enggan

menanamkan modalnya di Indonesia, karena kurang adanya jaminan perlindungan hukum atas

investasinya tersebut. Salah satu jaminan perlindungan hukum yang dinilai tidak kondusif adalah

ketentuan tentang hukum kepailitan.


BAB IV

PENUTUP

PUTUSAN No. 48/Pailit/2012/PN.Niaga.JKT.PST yang menjatuhkan putusan pernyataan

pailit pada Perusahaan PT.Telekomunikasi Selular.Tbk mengandung hal-hal yang controversial dan

dapat dikatakan tidak sesuai dengan asas dan prinsip hukum Kepailitan.

Pertama , dari sisi kedudukan hukum dalam perjanjian kerja sama antara Telkomsel dengan

PT.Prima Jaya Informatika, bahwa siapakah kreditor dan debitor yang sebenarnya dalam masalah ini,

Pengadilan Niaga Jakarta Pusat telah keliru dalam menafsirkan siapa kreditor dan debitor yang

sebenarnya, faktanya Telkomsel adalah kreditor yang sebenarnya sedangkan PT.Prima Jaya

Informatika adalah Debitor .sehingga secara otomatis penerapan hukumnya pun juga menjadi keliru.

Kedua, Pengadilan Niaga tidak memperhatikan asas Asas Audi et Alteram Partem, sehingga

alat-alat bukti dari Telkomsel yang isinya mengenai kejadian fakta yang sesungguhnya tidak

diperhatikan, sehingga Pengadilan Niaga telah khilaf karena didalam Perjanjian kerjasama tersebut

ternyata PT.Prima Jaya Informatika telah melakukan Wanprestasi yaitu Tidak Melakukan Pembayaran

Terhadap PO NO.PO/PKIAK/ V/2012/00000026 tanggal 9 Mei 2012 sebesar Rp4.800.000.000,00

(empat milyar delapan ratus juta Rupiah) Padahal Pesanan PT.Prima Jaya Informatika tersebut telah

disetujui (approved) oleh Telkomsel, sehingga Pengadilan niaga telah khilaf dengan tidak

memperhatikan asas hukum "Exceptio Non Adimpleti Contractus". Artinya pihak lawan dalam

keadaan lalai, maka dengan demikian tidak dapat menuntut pemenuhan prestasi pihak lain.

Ketiga, Banyak kejanggalan pada Pertimbangan amar putusan Pengadilan Niaga , yang antara

lain pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Niaga, telah secara tegas menyatakan bahwa pengakuan

Pemohon Kasasi (Termohon Pailit) di depan persidangan yang menyatakan telah melakukan

pembayaran terhadap tagihan kreditor lain tersebut di persidangan oleh Majelis Hakim Pengadilan

Niaga dinyatakan merupakan alat bukti yang bersifat sempurna dan bukti tersebut tetap

dipertimbangkan, akan tetapi tiba-tiba dalam paragraph berikutnya majells hakim menyatakan tidak
dapat dipertimbangkan karena bukti t-13 dan bukti t-14 tidak ada asllnya. Yang hal ini patut diduga

bahwa Majelis Hakim yang memutus perkara tersebut tidak obyektif dan tidak netral, yang oleh LSM

National Government Monitoring (NGM) Majelis hakim Pengadilan Niaga Jakarta yang memutus

pailit PT Telkomsel Tbk dilaporkan ke KY. Mereka dilaporkan karena diduga melanggar kode etik

dan pedoman perilaku hakim.

Akhirnya, Mahkamah Agung (MA) telah menjatuhkan sanksi terhadap empat hakim

Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat yang menangani perkara gugatan pailit PT Telkomsel. Keempat

hakim, yaitu Agus Iskandar, Bagus Irawan, Noer Ali dan Sutoto Adiputro, dinilai telah melanggar

Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim yang ditetapkan MA dan Komisi Yudisial. Meskipun para

hakim tersebut merasa keputusan tersebut tidak adil dan mereka menjadi korban dari Telkomsel,

namun jika ditelaah, ada kejanggalan terhadap keputusan pailit Telkomsel dan kewajiban membayar

kurator hingga ratusan milyar rupiah tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Wibiwo Tunardy, 2012,2 Hal Yang Mengakibatkan Telkomsel Pailit, http://www.jurnalhukum.com/2-


hal-yang-mengakibatkan-telkomsel-pailit/ diakses 06 Desember 2014

Robby Andrian, 2013, Tinjauan Yuridis Putusan Kepailitan Pt.Telkomsel ( Studi Kasus Putusan No.
48/Pailit/2012/Pn.Niaga.Jkt.Pst,
ttp://www.academia.edu/5645274/TINJAUAN_YURIDIS_PUTUSAN_KEPAILITAN_PT.TEL
KOMSEL_STUDI_KASUS_PUTUSAN_No._48_Pailit_2012_PN.Niaga.JKT.PST_ diakses 6
Desember 2014

Samosir, Agnes.W,2013, Analisis Yuridis Putusan Pailit Terhadap PT. Telkomsel Tbk.,
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/37561, diakses 6 Desember 2014

http://hukum.kompasiana.com/2012/09/23/kronologi-gugatan-pailit-telkomsel-495528.html diakses
07 Desember 2014

http://tekno.kompas.com/read/2012/11/23/08503149/Telkomsel.Batal.Pailit..Prima.Jaya.Pelajari.Putus
an diakses 07 Desember 2014