Anda di halaman 1dari 25

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

1. Sistem Self Assessment

Saat ini pajak masih menjadi salah satu penerimaan negara yang sangat penting bagi
pelaksanaan dan peningkatan pembangunan nasional serta bertujuan untuk meningkatkan
kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat sesuai cita-cita bangsa Indonesia dalam UUD 1945
alinea 4. Seiring dengan upaya optimalisasi penerimaan pajak, sistem perpajakan selalu mengalami
perubahan dari masa ke masa sesuai perkembangan masyarakat dan negara, baik dalam bidang
kenegaraan maupun dalam bidang sosial dan ekonomi. Pemungutan pajak merupakan suatu bentuk
kewajiban warga negara selaku Wajib Pajak (WP) serta peran aktif untuk membiayai berbagai
keperluan negara yaitu berupa pembangunan nasional yang pelaksanaannya diatur dalam undang-
undang dan peraturan untuk tujuan kesejahteraan bangsa dan negara.
Sejak diadakannya reformasi perpajakan tahun 1983, sistem pemungutan pajak di Indonesia
berubah dari official assessment system menjadi self assessment system. Official assessment system
merupakan sistem pemungutan yang memberi wewenang kepada Fiskus untuk menentukan
besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak. Self assessment system merupakan suatu
pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada Wajib Pajak untuk menentukan besarnya pajak
terutang.
Keuntungan self assessment system ini adalah Wajib Pajak diberi kepercayaan oleh
pemerintah (Fiskus) untuk menghitung, membayar, dan melaporkan sendiri pajak yang terutang
sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku. Fungsi penghitungan adalah fungsi yang
memberi hak kepada Wajib Pajak untuk menentukan sendiri pajak yang terutang sesuai dengan
peraturan perpajakan. Atas dasar fungsi penghitungan tersebut Wajib Pajak berkewajiban untuk
membayar pajak sebesar pajak yang terutang ke Bank Persepsi atau kantor pos. Selanjutnya Wajib
Pajak melaporkan pembayaran dan berapa besar pajak yang telah dibayar kepada Kantor Pelayanan
Pajak (KPP).

A. Pendaftaran NPWP
Semua Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan berdasarkan sistem self assessment, wajib
mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak untuk dicatat sebagai Wajib Pajak dan
sekaligus untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak. Disamping itu pendaftaran NPWP juga
dapat dilakukan melalui e-register, yaitu suatu cara pendaftaran NPWP melalui media elektronik on-
line (internet). Tempat pendaftaran dilakukan pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah
kerjanya meliputi tempat tinggal dan kantor. Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya
meliputi tempat kegiatan usaha dilakukan bagi Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu.
NPWP adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana yang merupakan
tanda pengenal atau identitas bagi setiap Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajibannya di
bidang perpajakan. Dengan memiliki NPWP, Wajib Pajak memperoleh beberapa manfaat langsung
lainnya, seperti sebagai pembayaran pajak di muka (angsuran/kredit pajak) atas Fiskal Luar Negeri
yang dibayar sewaktu Wajib Pajak bertolak ke Luar Negeri, memenuhi salah satu persyaratan ketika
melakukan pengurusan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), dan salah satu syarat pembuatan
Rekening Koran di bank-bank.
Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak secara jabatan apabila
Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan subjektif dan objektif tidak mendaftarkan diri untuk
mendapatkan NPWP. Kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak yang diterbitkan Nomor Pokok Wajib
Pajak secara jabatan dimulai sejak saat Wajib Pajak memenuhi persyaratan subjektif dan objektif
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, paling lama 5 (lima) tahun
sebelum terlibatnya Nomor Pokok Wajib Pajak.

1
Kewajiban mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP dibatasi jangka waktu, karena hal ini
berkaitan dengan saat pajak terutang dan kewajiban mengenakan pajak hutang. Jangka waktu
pendaftaran NPWP adalah:
a. Bagi Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dan Wajib Pajak
badan, wajib mendaftarkan diri paling lambat 1 (satu) bulan setelah saat usaha mulai dijalankan.
b. Wajib Pajak orang pribadi yang tidak menjalankan suatu usaha atau tidak melakukan pekerjaan
bebas apabila jumlah penghasilannya sampai dengan suatu bulan yang disetahunkan telah
melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak, wajib mendaftarkan diri paling lambat pada akhir bulan
berikutnya.

B. Melaporkan SPT
Sarana pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak adalah melaporkan Surat
Pemberitahuan (SPT). SPT adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan
penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta
dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Sebelum
melaporkan SPT, Wajib Pajak menggunakan haknya untuk menghitung, menyetor pajak yang
terutang dan disamping itu apabila terdapat kendala yang mengakibatkan tidak selesainya SPT pada
waktunya, Wajib Pajak juga dapat menggunakan haknya untuk mengajukan penundaan
penyampaian SPT.
Apabila pelaporan SPT tidak dilaksanakan tepat waktu maka sesuai Pasal 7 ayat (1) UU KUP
akan dikenakan sanksi denda yang berbunyi :
Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 ayat (3) atau batas waktu perpanjangan penyampaian Surat Pemberitahuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (4), dikenai sanksi administrasi berupa denda
sebesar Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Masa Pajak
Pertambahan Nilai, Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Masa
lainnya, dan sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Tahunan
Pajak Penghasilan Wajib Pajak badan serta sebesar Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah)
untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi.
Namun semua itu tetap dilaksanakan dengan kesadaran sendiri dan pelaporan apa adanya
tanpa ada yang disembunyikan sesuai ketentuan Pasal 4 UU KUP yang berbunyi:
Wajib Pajak wajib mengisi dan menyampaikan Surat Pemberitahuan dengan benar, lengkap,
jelas, dan menandatanganinya.
Adapun yang dimaksud dengan benar, lengkap, dan jelas dalam mengisi Surat Pemberitahuan
adalah:
1. benar adalah benar dalam perhitungan, termasuk benar dalam penerapan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan, dalam penulisan, dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya;
2. lengkap adalah memuat semua unsur-unsur yang berkaitan dengan objek pajak dan unsur-unsur
lain yang harus dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan; dan
3. jelas adalah melaporkan asal-usul atau sumber dari objek pajak dan unsur-unsur lain yang harus
dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan.
Apabila terdapat data yang belum dilaporkan, diberikan hak kepada Wajib Pajak untuk
melakukan pembetulan SPT, sesuai Pasal 8 ayat (1) UU KUP yang berbunyi:
Wajib Pajak dengan kemauan sendiri dapat membetulkan Surat Pemberitahuan yang telah
disampaikan dengan menyampaikan pernyataan tertulis, dengan syarat Direktur Jenderal
Pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan.
Akibat pembetulan SPT ini, Wajib Pajak juga akan menerima sanksi administrasi berupa
bunga keterlambatan pembayaran kekurangan pajak terutang sesuai Pasal 8 ayat (2) dan (2a) yang
berbunyi:
Ayat (2)
Dalam hal Wajib Pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Tahunan yang
mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar, kepadanya dikenai sanksi administrasi
2
berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan atas jumlah pajak yang kurang dibayar,
dihitung sejak saat penyampaian Surat Pemberitahuan berakhir sampai dengan tanggal
pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan
Ayat (2a)
Dalam hal Wajib Pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Masa yang
mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar, kepadanya dikenai sanksi administrasi
berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan atas jumlah pajak yang kurang dibayar,
dihitung sejak jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian
dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.
Namun apabila Wajib Pajak mengisi dan menyampaikan SPT dengan tidak benar dan tidak
melakukan pembetulan atas ketidakbenaran SPT tersebut, serta kemudian ditemukan data yang
berbeda oleh DJP maka Wajib Pajak akan menerima konsekuensi hukum sesuai PER-170/PJ/2007
tentang tata cara pelaksanaan konseling terhadap Wajib Pajak sebagai tindak lanjut surat himbauan
yakni:
1. DJP akan mengirimkan surat himbauan pembetulan SPT kepada Wajib Pajak. Surat himbauan
adalah surat yang diterbitkan oleh Kantor Pelayanan berdasarkan hasil penelitian internal untuk
meminta klarifikasi kepada Wajib Pajak terhadap adanya dugaan belum dipenuhinya kewajiban
perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
2. Apabila tidak direspon oleh Wajib Pajak, maka akan dikirimkan kembali surat himbauan kedua
dengan diberikan batas waktu untuk melakukan pembetulan.
3. Apabila Wajib Pajak tidak juga merespon surat himbauan kedua tersebut, maka DJP melalui
Account Representative akan dilaksanakan konseling dengan mengundang Wajib Pajak untuk
datang ke KPP mengklarifikasikan data yang ditemukan. Konseling adalah sarana yang
disediakan bagi Wajib Pajak untuk melakukan klarifikasi terhadap data yang tercantum dalam
Surat Himbauan.
4. Pelaksanaan konseling ini diibaratkan sebagai penelitian data yang diklarifikasi oleh Wajib Pajak
dengan hasil akhir menimbulkan 2 opsi yakni:
a. Apabila Wajib Pajak/Kuasanya mengakui kebenaran data dan bersedia untuk melaksanakan
pembetulan SPT, Petugas Konseling wajib melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan
pembetulan tersebut. Dengan kata lain apabila Wajib Pajak sudah melakukan pembetulan
dan bersedia membayar kekurangan pajak terutang akibat temuan data tersebut, maka kasus
akan tutup.
b. Namun dalam hal setelah jangka waktu 14 hari sejak tanggal pelaksaan konseling berakhir
Wajib Pajak belum membetulkan Surat Pemberitahuan, terhadap Wajib Pajak tersebut agar
diusulkan untuk dilakukan pemeriksaan.
Berdasarkan hal tersebut di atas, jelas sekali terlihat perbedaan apabila dalam melakukan
pengisian dan penyampaian SPT dengan tidak benar, Wajib Pajak dengan kemauan sendiri
membetulkan dibandingkan tidak mau membetulkan kemudian data yang belum lapor tersebut
ditemukan oleh DJP. Tentukan Wajib Pajak akan dibebani waktu dan tenaga yang lebih besar untuk
menanggapi temuan DJP apabila dikirimkan surat himbauan atau bahkan sampai dilaksanakannya
konseling yang mewajibkan Wajib Pajak untuk hadir memberikan klarifikasi atas temuan data
tersebut. Maka dari itu, poin penting yang bisa diambil dari aspek hukum ini adalah sebaiknya
Wajib Pajak mengisi dan menyampaikan SPT dengn benar, lengkap dan jelas, dan kalaupun masih
belum benar masih diberikan hak oleh undang-undang untuk segera melakukan pembetulan
sehingga tidak akan tersita waktu dan tenaga untuk menanggapi temuan DJP.

C. Pembayaran Pajak
Kewajiban berikutnya yang harus dipenuhi oleh seorang Wajib Pajak setelah mendaftarkan
diri (memperoleh kartu NPWP) dan atau melaporkan kegiatan usahanya (dikukuhkan sebagai
Pengusaha Kena Pajak), dan menyampaikan SPT adalah melunasi atau membayar menyetor pajak
yang masih harus dibayar sebesar jumlah yang tercantum dalam SPT, baik SPT Masa atau SPT
3
Tahunan. Pelunasan tersebut dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) atau sarana
administrasi lain yang disamakan dengan SSP. SSP atau sarana administrasi lain tersebut dianggap
sah apabila telah divalidasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) yang diberikan
oleh petugas di tempat pembayaran.
Surat Setoran Pajak (SSP) adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah
dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas negara
melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.
Tempat Pembayaran Pajak
a. Kantor Pos;
b. Bank Persepsi, yaitu bank baik BUMN/BUMD atau bank swasta yang ditunjuk
langsung untuk menerima pembayaran pajak;
c. Tempat lain yang ditentukan oleh Menteri Keuangan.
Jatuh Tempo Pembayaran Pajak
a. Pembayaran Masa
Sebagai sarana tertib administrasi pembayaran, ditentukan tanggal jatuh tempo
pembayaran untuk masing-masing jenis pajak ,yang dapat dijabarkan sebagai berikut
(Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK/2007 tanggal 28 Desember 2007).
b. Pembayaran Tahunan
Salah satu perubahan yang cukup signifikan dalam UU KUP 2008 adalah tidak ada
lagi tanggal yang pasti mengenai bats waktu pembayaran kekurangan pembayaran
pajak yang terutang berdasarkan SPT Tahunan Pajak Penghasilan. Dalam undang-
undang hanya disebutkan bahwa kekurangan pembayaran pajak yang terutang
berdasarkan SPT Tahunan Pajak Penghasilan tersebut harus dibayar lunas sebelum
SPT Tahunan Pajak Penghasilan disampaikan. Sebelum UU KUP 2008, ditetapkan
bahwa setiap tanggal 25 bulan ketiga setelah Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak
berakhir, sebelum SPT disampaikan, adalah batas waktu pembayaran kekurangan
pajak.
Perubahan ini merupakan imbas dari perunahan batas waktu penyampaian SPT Tahuna
Pajak Penghasilan yang dibedakan antara Wajib Pajak badan. Dengan demikian,
sepanjang belum melewati batas waktu penyampaian SPT Tahunan Pajak dapat
melunasi kekurangan pembayaran pajak terutang kapanpun.
c. Surat Tagihan Pajak (SPT)
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan (SKPKBT), atau Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan,
Putusan Banding, dan Putusan Peninjauan Kembali yang menyebabkan jumlah pajak
yang masih harus dibayar bertambah, harus dilunasi dalam jangka waktu satu bulan
sejak tanggal di terbitkan. Pengecualian dari ketentuan ini dari Wajib Pajak usaha kecil
dan Wajib Pajak daerah tertentu (Wajib Pajak Kriteria Tertentu), adalah jangka waktu
pelunasan dapat diperpanjang paling lama menjadi 2 bulan.

Daftar Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran Pajak


Jenis Pajak Yang Menyetor Tanggal Jatuh Tempo
Pembayaran
PPh Pasal 4 ayat (2) Pemotong/pemungut Tanggal 10 bulan berikutnya
dipungut/dipotong pihak lain setelah masa pajak berakhir
PPh Pasal 4 ayat (2) yang Wajib Pajak Tanggal 15 bulan berikutnya
dibayar sendiri setelah masa pajak berakhir
PPh Pasal 15 yang Pemotong/pemungut Tanggal 10 bulan berikutnya
dipotong/dipungut pihak lain setelah masa pajak berakhir
PPh Pasal 15 yang dibayar Wajib Pajak Tanggal 15 bulan berikutnya
sendiri setelah masa pajak berakhir

4
PPh Pasal 21 Pemotong/pemungut Tanggal 10 bulan berikutnya
setelah masa pajak berakhir
PPh Pasal 22, PPN dan Wajib Pajak Bersamaan dengan saat
PPnBM impor pembayaran Bea Masuk
PPh Pasal 22, PPN dan Wajib Pajak Saat penyelesaian dokumen
PPnBM impor dalam hal Bea pemberitahuan impor barang
Masuk ditunda/dibebaskan
PPh Pasal 22, PPN dan Ditjen Bea dan Cukai Satu hari setelah dilakukan
PPnBM impor dipungut pemungutan pajak
Ditjen Bea da Cukai
PPh Pasal 22 dipungut Bendahara Hari yang sama dengan
Bendara pelaksanaan pembayaran
PPh Pasal 22 atas penyerahan Produsen Tanggal 10 bulan berikutnya
BBM, gas, dan pelumas setelah masa pajak berakhir
PPh Pasal 22 dipungut wajib Wajib Pajak badan Tanggal 10 bulan berikutnya
pajak badan tertentu tertentu setelah masa pajak berakhir
PPh Pasal 23 dan PPh Pasal Pemotong/pemungut Tanggal 10 bulan berikutnya
26 setelah masa pajak berakhir
PPh Pasal 25 Wajib Pajak Tanggal 15 bulan berikutnya
setelah masa pajak berakhir
PPh Pasal 25 dengan kriteria Waib Pajak dengan Paling lama pada akhir masa
tertentu kriteria tertentu yang pajak berakhir
melaporkan beberapa
masa pajak dalam satu
SPT
Pembayaran masa selain PPh Wajib Pajak dengan Paling lama sesuai dengan
Pasal 25 dengan kriteria kriteria tertentu yang batas waktu untu masing-
tertentu melaporkan beberapa masing jenis pajak
masa pajak dalam satu
SPT
PPN atau PPN dan PPnBM Wajib Pajak Akhir bulan berikutnya setelah
berakhirnya masa pajak dan
sebelum masa SPT Masa PPN
disampaikan
PPN atau PPN dan PPnBM Bendahara/instansi Tanggal 7 bulan berikutnya
dipungut oleh pemerintah yang setelah masa pajak berakhir
bendaharawan/instansi ditunjuk
pemerintahan yang ditunjuk
PPN atau PPN dan PPnBM Pemungut selain Tanggal 15 bulan berikutnya
yang dipungut selain bendaharawan/instansi setelah masa pajak berakhir
bendaharawan/instansi pemerintah yang
pemreintah yang ditunjuk ditunjuk
Jika tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak bertepatan dengan hari libur,
termasuk hari Sabtu dan hari libur nasional, pembayaran pajak dapat dilakukan pada hari kerja
berikutnya. Hari libur nasional tersebut termasuk hari yang diliburkan untuk penyelenggaraan
Pemilihan Umum (Pemilu) dan cuti bersama secara nasional yang ditetapkan oleh pemerintah.

5
2. Pembetulan SPT

Surat Pemberitahuan (SPT), baik SPT Tahunan maupun SPT Masa, adalah bentuk
pertangungjawaban pemenuhan kewajiban penghitungan pajak, pembayaran pajak serta
pemotongan atau pemungutan pajak. Penyampaian SPT ini menjadi kewajiban Wajib Pajak ketika
sudah terdaftar dalam administrasi perpajakan dengan dimilikinya NPWP. Pengusaha yang telah
dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) juga berkewajiban untuk menyampaikan SPT
Masa PPN.

Dalam pelaporan kewajiban perpajakan, terkadang terjadi kesalahan yang tidak disengaja
dalam pengisian SPT. Untuk itu Undang-undang perpajakan telah mengatur mengenai aturan/tata
cara mengenai pembetulan SPT ini, yang diatur dalam pasal 8 UU No 6 tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No 28
tahun 2007.

No. Jenis pembetulan Prosedur Sanksi


pembetulan
1 Belum dilakukan Wajib pajakBunga 2 % perbulan
pemeriksaan dalam menyampaikan atas jumlah pajak yang
jangka waktu 2 tahun pernyataa tertulis
kurang dibayar
setelah berakhirnya disertai dengan Surat dihitung sejak saat
masa pajak, bagian Pemberitahuan (SPT) penyampaian(SPT)
tahun pajak, dan pembetulan. sampai tanggal
tahun pajak. pembayaran karena
adanya
pembetulan(SPT)
tersebut.
2 Setelah dilakukan Wajib Pajak Denda sebesar 2 kali
pemeriksaan tetapi mengungkapkan jumlah pajak yang
belum dilakukan ketidak benaran SPT kurang dibayar.
tindakan penyidikan disertai SPT
sepanjang berkaitan pembetulan dan
dengan pasal 38 KUP. pelunasan
pembayaran pajak
yang sebenarnya
terutang.
3 Lebih dari 2 tahun Wajib pajak Kenaikan 50% dari
belum diterbitkan mengungkapkan jumlah pajak yang
SKP dengan syarat: ketidak benaran kurang dibayar.
1. Pajak yang harus pengisian SPT disertai
dibayar menjadi lebih SPT pembetulan dan
besar. pelunasan pajak
2. Rugi menjadi lebih sebelum
kecil. pengungkapan
3. Jumlah harta menjadi tersebut disampaikan.
lebih besar.
4. Modal menjadi lebih
besar.
4 Lebih dari 2 tahun Wajib pajak
tetapi belum mengajukan
6
dilakukan pembetulan SPT
pemeriksaan dalam dalam jangka waktu 3
hal adanya keputusan bulan setelah
keberatan, putusan keputusan
banding mengenai keberatan/banding
SKP tahunan pajak diterima.
sebelumnya yang
menyatakan rugi
fiskal yang berbeda
dengan ketetapan
pajak yang diajukan
keberatan/ banding.

3. Pembukuan dan Pencatatan

A. Pembukuan
Berdasarkan Pasal 1 angka 29 UU KUP, Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang
dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta,
kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau
jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca, dan laporan laba rugi untuk
periode Tahun Pajak tersebut.
Ketentuan pokok pembukuan diatur dalam Pasal 28 UU KUP. Menurut ketentuan ini Wajib
Pajak yang diwajibkan untuk melakukan pembukuan adalah :
1. Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan
2. Wajib Pajak badan, termasuk BUT
Sedangkan bagi Wajib Pajak lainnya :
1. Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan diperbolehkan menghitung
penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto dan
2. Wajib Pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.
tidak diwajibkan (dikecualikan) untuk melakukan pembukuan, tetapi wajib melakukan
pencatatan.
Pembukuan atau pencatatan harus memenuhi syarat sebagai berikut :
1. Diselenggarakan dengan memperhatikan iktikad baik dan mencerminkan keadaan atau kegiatan
usaha yang sebenarnya
2. harus diselenggarakan di Indonesia
3. menggunakan huruf latin, angka Arab, satuan mata uang rupiah, dan disusun dalam bahasa
Indonesia atau dalam bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri Keuangan.
4. diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel akrual dan stelsel kas.
5. Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri atas catatan mengenai harta, kewajiban, modal,
penghasilan dan biaya, serta penjualan dan pembelian sehingga dapat dihitung besarnya pajak
yang terutang.
6. Pembukuan harus diselenggarakan dengan cara atau sistem yang lazim dipakai di Indonesia,
misalnya berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, kecuali diatur lain oleh peraturan
perundang-undangan perpajakan.
Prinsip taat asas yaitu menerapkan prinsip yang sama/konsisten dalam metode pembukuan
dengan tahun-tahun sebelumnya untuk mencegah pergeseran laba atau rugi misalnya dalam hal :
Stelsel pengakuan penghasilan;
Tahun buku (periode pembukuan);
Metode penilaian persediaan atau;
Metode penyusutan dan amortisasi

7
Apabila Wajib Pajak ingin melakukan perubahan terhadap metode pembukuan dan/atau tahun
buku harus mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak. Pengakuan Penghasilan dapat
dilakukan dengan 2 (dua) cara atau stelsel, yaitu :
1. Stelsel akrual, yaitu suatu metode penghitungan penghasilan dan biaya dalam arti penghasilan
diakui saat diperoleh dan biaya diakui saat terutang (tidak tergantung kapan penghasilan diterima
atau kapan tersebut dibayar secara tunai). Pengakuan penghasilan dengan stelsel akrual adalah
yang paling banyak digunakan karena lebih sesuai dengan prinsip akuntansi.
2. Stelsel kas, yaitu suatu metode penghitungan penghasilan dan biaya dalam arti penghasilan
diakui saat diterimanya dan biaya diakui saat diabayr secara tunai. Menurut stelsel kas,
penghasilan baru diakui apabila benar-benar telah diterima secara tunai dan biaya baru baru
dibebankan setelah dibayar secara tunai. Perusahaan yang biasa menggunakan stelsel kas adalah
perusahaan kecil Orang Pribadi dan perusahaan jasa (transportasi, hiburan dan restoran).
Untuk penghitungan pajak penghasilan dengan menggunakan Stelsel Kas harus
memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Jumlah penjualan dalam suatu periode harus meliputi seluruh penjualan baik tunai maupun
kredit;
2. Dalam menghitung HPP harus diperhitungkan seluruh pembelian dan persediaan;
3. Atas perolehan harta yang dapat disusutkan atau hak-hak yang dapat diamortisasi, pembebanan
dilakukan hanya dapat dilakukan melalui penyusutan/amortisasi;
4. Stelsel kas harus dilakukan secara taat asas (konsisten).
Apabila Wajib Pajak menghendaki pembukuan menggunakan bahasa asing dan mata uang
selain Rupiah, harus mendapat izin Menteri Keuangan. Wajib Pajak yang diijinkan untuk
menggunakan pembukuan dengan bahasa asing atau mata uang selain Rupiah ini adalah :
1. WP dalam rangka Penanaman Modal Asing yang beroperasi berdasarkan ketentuan
peraturanperindang-undangan Penanaman Modal Asing;
2. WP dalam rangka Kontrak Karya yang beroperasi berdasarkan kontrak dengan Pemerintah RI
sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan pertambangan selain
pertambangan minyak dan gas bumi
3. WP Kontraktor Kontrak Kerja Sama yang beroperasi berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan pertambangan minyak dan gas bimi;
4. Bentuk Usaha Tetap (BUT) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5) PPh atau berdasarkan
Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B/tax treary) terkait;
5. WP yang mendaftarkan emisi sahamnya baik sebagian atau seluruh di bursa efek luar negeri;
6. Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang menerbitkan reksadana dalam denominasi satuan mata
uang USDdan telah memperoleh Surat Pemberitahuan Efektif Pernyataan Pendaftaran dari
Bapepam-LK sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan pasar modal;
7. WP yang berafiliasi langsung dengan perusahaan induk di luar negeri, yaitu perusahaan anak
(subsidiary company) yang dimiliki atau dikuasi oleh perusahaaninduk (parent company) di luar
negeri yang mempunyai hubungan istimewa sebagaimana dimaksud oleh Pasal 18 ayat (4) huruf
a dan huruf b UU PPh; atau
8. WP yang menyajikan laporan keuangan dalam mata uang fungsionalnya menggunakan mata
uang USD sesuai dengan Standar AkuntansiKeuangan (SAK) yang berlaki di Indonesia.
Buku, catatan, dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen
lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau secara
program aplikasi on-line wajib disimpan selama 10 (sepuluh) tahun di Indonesia, yaitu tempat
kegiatan atau tempat tinggal Wajib Pajak orang pribadi, atau ditempat kedudukan Wajib Pajak
badan.

B. Pencatatan
Wajib Pajak yang tidak melakukan keguatan usaha atau pekerjaan bebas (hanya berprofesi
sebagai karyawan atau pegawai), dikecualikan dari kewajiban membuat/menyelenggarakan

8
pembukuan. Akan tetapi mereka diwajibkan unruk membuat/menyelenggarakan pencatatan.
Pencatatan yang harus dibuat meliputi:
1. Catatan atas penghasilan bruto yang menurut ketentuan dikenakan PPh bersifat tidak final serta
biaya-biaya yang terkait;
2. Catatan atas penghasilan yang menurut ketetuan dikenai PPh bersifat final maupun penghasilan
yangbykan objek PPh; dan
3. Catatan atas harta dan kewajiban yang dimiliki.
WPOP lainnya yang dikecualikan dari kewajiban untuk menyelenggarakan/membuat
pembukuan adalah WPOP yangmelakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas (WPOP pengusaha
atau WPOP non-pegawai) yang memenuhi persyaratan Pasal 14 ayat (2) UU PPh. Namun sama
seperti WPOP pegawai diatas, mereka juga wajib menyelenggarakan pencatatan guna penerapan
Norma Penghitungan Penghasilan Neto. Ketentuan mengenai kewajiban
membuat/menyelenggarakan Pencatatan ini diatur secara khusus oleh Peraturan Menteri Keuangan
(PMK) Nomor 197/PMK.03/2007 dan Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-4/PJ/2009. Pencatatan
harus memenuhi syarat sebagai berikut :
1. diselenggarakan secara teratur dan mencerminkan keadaan yang sebenarnya;
2. menggunakan huruf latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan disusun dalam bahasa
Indonesia;
3. pencatatan dalam satu tahun harus diselenggarakan secara kronologis;
4. catatan dan dokumen yang menjadi dasar pencatatan harus disimpan di tempat tinggal Wajib
Pajak atau tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dilakukan selama 10 (sepuluh) tahun;
5. pencatatan harus dapat menggambarkan antara lain:
a. Peredaran atau penerimaan bruto dan/atau jumlah penghasilan bruto yang diterima dan/atau
diperoleh;
b. Penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau penghasilan yang pengenaan pajaknya
bersifat final.
Bagi Wajib Pajak yang mempunyai lebih dari satu jenis usaha dan/atau tempat usaha,
pencatatan harus dapat menggambarkan secara jelas untuk masing-masing jenis usaha dan/atau
tempat usaha yang bersangkutan. Selain kewajiban untuk menyelenggarakan pencatatan peredaran
usaha, Wajib Pajak Orang pribadi harus menyelenggarakan pencatatan atas harta dan kewajiban.

9
KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN (II)

1. Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak

A. Pemeriksaan
Pemeriksaan pajak merupakan salah satu hak yang dimiliki oleh fiskus. Landasan dari
pemeriksaan pajak adalah Undang-undang no 6 tahun 1983 tetang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang no 28 Tahun 2007 (sekarang
UU KUP No.16 Thn 2009 ). Pemeriksaan pajak dilakukan oleh pemeriksa pajak yang telah
memiliki tanda pengenal pemeriksa serta dilengkapi surat perintah pemeriksaan yang harus
diperlihatkan kepada wajib pajak yang akan diperiksa. pasal 1 angka 25 menyebutkan bahwa yang
dimaksud dengan pemeriksaan adalah :
serangkaian keg.mnghimpun dan mngolah data, ket, dan atau bukti yg dilaksanakan scra
objetif dan profesional brdasarkan suatu standar pemeriksaan utk mnguji kepatuhan
kewajiban perpajakan dan atau untuk tjuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan
peraturan perundang2an perpajakan

Tujuan Pemeriksaan
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat diambil bahwa tujuan dari pemeriksaan ada dua
macam, yaitu sebagai berikut :
1. Untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dalam rangka memberi kepastian
hukum, keadilan dan pembinaan kepada wajib pajak. Dalam tujuan ini,pemeriksaan dilakukan
apabila terdapat hal-hal sebagai berikut :
a. Surat Pemberitahuan menunjukan kelebihan pembayaran pajak, termasuk yang telah
diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak;
b. Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan menunjukan rugi;
c. Surat Pemberitahuan tidak disampaikan atau disampaikan tidak pada waktu yang telah
ditetapkan;
d. Surat Pemberitahuan yang memenuhi criteria seleksi yang ditentukan oleh Direktur Jenderal
Pajak;
e. Ada indikasi kewajiban perpajakan yang tidak dipenuhi.
2. Untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan, yaitu sebagai berikut :
a. Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak secara jabatan;
b. Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak;
c. Pengukuhan atau pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak;
d. Wajib Pajak mengajukan keberatan;
e. Pengumpulan bahan guna penyusunan Norma Penghitungan Penghasilan Neto;
f. Pencocokan data dan/atau alat keterangan;
g. Penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil;
h. Penentuan satu atau lebih tempat terutang Pajak Pertambahan Nilai;
i. Pemeriksaan dalam rangka penagihan pajakPenentuan saat mulai berproduksi sehubungan
dengan fasilitas perpajakan;
j. Pemenuhan permintaan informasi dari negara mitra Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda.

Jenis Pemeriksaan
Berdasarkan dengan tujuan di atas, pelaksanaan pemeriksaan perpajakan terbagi menjadi 2
jenis pemeriksaan, yaitu sebagai berikut :
10
1. Pemeriksaan Lapangan
Pemeriksaan lapangan dilakukan atas suatu jenis pajak atau seluruh jenis pajak untuk tahun
berjalan dan atau tahun-tahun sebelumnya dan atau tujuan lain yang dilakukan di tempat wajib
pajak. Pemeriksaan lapangan ini dilaksanakan dapat dengan cara pemeriksaan lengkap atau
pemeriksaan sederhana. Pemeriksaan lengkap terhadap wajib pajak dilakukan dengan menerapkan
teknik-teknik pemeriksaan yang lazim digunakan dalam pemeriksaan pada umumnya sedangkan
pemeriksaan sederhana dilakukan dengan menerapkan teknik-teknik pemeriksaan dengan bobot dan
kedalaman yang sederhana sesuai dengan ruang lingkup pemeriksaan.
Pemeriksaan lapangan dapat dilakukan dalam jangka waktu tempat bulan dan dapat
diperpanjang paling lama delapan bulan yang dihitung sejak Wajib Pajak datang memenuhi Surat
Panggilan dalam rangka pemeriksaan kantor sampai dengan tanggal Laporan Hasil Pemeriksaan.
2. Pemeriksaan Kantor
Pemeriksaan kantor dilakukan atas suatu jenis pajak tertentu baik tahun berjalan dan atau
tahun-tahun sebelumnya yang dilakukan di kantor Direktorat Jenderal Pajak. Pemeriksaan ini hanya
dapat dilaksanakan dengan pemeriksaan sederhana. Pemeriksaan kantor dapat dilakukan dalam
jangka waktu tiga bulan dan dapat diperpanjang paling lama enam bulan yang dihitung sejak Wajib
Pajak datang memenuhi Surat Panggilan dalam rangka pemeriksaan kantor sampai dengan tanggal
Laporan Hasil Pemeriksaan.
Dari perbedaan ruang lingkup pemeriksaan di atas berpengaruh pada jangka waktu
penyelesaianya. Untuk pemeriksaan lengkap, harus diselesaikan dalam jangka waktu dua bulan dan
dapat diperpanjang paling lama delapan bulan. Untuk pemeriksaan sederhana harus diselesaikan
dalam jangka waktu satu bulan dan dapat diperpanjang paling lama dua bulan. Sedangkan
pemeriksaan kantor yang dilakukan secara sederhana harus diselesaikan dalam jangka waktu empat
minggu dan dapat diperpanjang paling lama enam minggu.
Apabila dalam pelaksanaan pemeriksaan kantor yang dilakukan ternyata ditemukan indikasi
adanya transaksi yang mengandung unsur transfer pricing, maka lingkup pemeriksaanya
ditingkatkan menjadi pemeriksaan lapangan, sedangkan apabila dalam pemeriksaan lapangan
ditemukan indikasi unsur transfer pricing yang memerlukan pemeriksaan yang lebih mendalam
serta waktu yang lebih lama, pemeriksaanya dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama dua
tahun, akan tetapi jangka waktu dua tahun tersebut tidak berlaku apabila pemeriksaan yang
dilaksanakan berkenaan dengan surat pemberitahuan yang menyatakan permohonan pengembalian
kelebihan pembayaran pajak.
*Sebenarnya seluruh pemeriksaan di lakukan dengan jenis pemeriksaan lapangan. Hanya beberapa
pemeriksaan saja yang dilakukan dengan pemeriksaan kantor. contoh pemeriksaan kantor adalah
pemeriksaan terhadap badan/perusahaan go public yang laporan keuangan nya WTP (wajar tanpa
pengucualian).

Pelaksanaan Pemeriksaan Pajak


Dalam pelaksanaan pemeriksaan, keputusan menteri keuangan no 100/PMK.03/2007 juga
telah menetapkan adanya wewenang pemeriksa pajak baik pemeriksaan lapangan maupun
pemeriksaan kantor. Wewenang tersebut adalah sebagai berikut :
1. Wewenang Pemerisa Pajak dalam Melakukan Pemeriksaan Lapangan
a. Memeriksa dan atau meminjam buku-buku, catatan dan dokumen-dokumen pendukung
lainya termasuk keluaran atau media komputer dan perangkat elektronik pengelola data
lainya.
b. Meminta keterangan lisan dan atau tertulis dari wajib pajak yang diperiksa.
c. Memasuki tempat atau ruangan yang diduga merupakan tempat menyimpan dokumen,
uang, barang yang dapat memberi petunjuk tentang keadaan usaha wajib pajak dan atau
tempat-tempat lain yang dianggap penting serta melakukan pemeriksaan di tempat-tempat
tersebut.
d. Apabila wajib pajak tidak menginjinkanya, maka pemeriksa berhak melakukan penyegelan
terhadap hal-hal di atas.
11
e. Melakukan penyegelan tempat atau ruangan apabila Wajib pajak atau wakil atau kuasanya
tidak memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan dimaksud atau tidak
ada di tempat pada saat pemeriksaan dilakukan.
f. Meminta keterangan dan atau darta yang diperlukan dari pihak ketiga yang mempunyai
hubungan dengan wajib pajak yang diperiksa
2. Wewenang Pemeriksa Pajak Dalam Melakukan Pemeriksaan Kantor
a. Memeriksa dan atau meminjam buku-buku dan catatan-catatab wajib pajak.
b. Meminta keterangan lisan dan atau tertulis dari wajib pajak yang diperiksa.
c. Meminta keterangan dan atau data yang diperlukan dari pihak ketiga yang
d. Mempunyai hubungan dengan wajib pajak yang diperiksa.
Pemeriksaan merupakan tahap sebelum proses penyidikan. Apabila di dalam pemeriksaan
didapatkan kejanggalan-kejanggalan maka akan ditindaklanjuti dengan proses penyidikan.

B. Penyidikan
Menurut undang-undang no 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang no 28 Tahun 2007, pengertian
penyidikan adalah sebagai berikut :
Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan adalah serangkaian tindakan yang
dilakukan oleh penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu
membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan yang terjadi serta menemukan
tersangkanya.

Tujuan Penyidikan
Berdasarkan pengertuan di atas sangat jelas dapat kita simpulkan bahwa tujuan utama dari
dilakukanya proses penyidikan adalah untuk menemukan tersangka yang melakukan tindak pidana
dalam perpajakan. Dengan dilakukanya penyidikan, barang bukti untuk menemukan tersangka
diharapkan dapat ditemukan untuk kemudian segera menjadi dasar dalam menetapkan tersangka.

Pihak Yang Melakukan Penyidikan


Dalam Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan, pihak yang berwenang untuk
melakukan proses penyidikan adalah Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan Direktorat
Jenderal Pajak yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik tindak pidana di bidang perpajakan.
Wewenang tersebut adalah sebagai berikut:
1. Menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan
tindak pidana di bidang perpajakan agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap
dan jelas.
2. Meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang
kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan.
3. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan
tindak pidana dibidang perpajakan.
4. Memeriksa buku, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang
perpajakan.
5. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan, dan
dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;
6. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan;
7. Menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat
pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang, benda, dan/atau dokumen
yang dibawa;
8. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana di bidang Perpajakan.
9. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi.

12
10. Menghentikan penyidikan;dan/atau melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran
penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan menurut ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Dalam melaksanakan proses penyidikan, penyidik memeberitahukan dimulainya penyidikan
dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum melalui penyidik pejabat Polisi
Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undang-Undang Hukum
Acara Pidana. Apabila diperlukan, penyidik juga dapat meminta bantuan aparat penegak hukum lain
demi kelancaran proses penyidikan.

Penghentian Pelaksanaan Penyidikan


Sesuai dengan Pasal 44 Undang-Undang no 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan
Tatacara Perpajakan, wewenang untuk menghentikan proses penyidikan dimilki oleh Menteri
Keuangan. Apabila Wajib Pajak telah melunasi utang pajak yang tidak atau kurang dibayar, atau
yang tidak seharusnya dikembalikan ditambah dengan sanksi administrasi berupa denda sebesar
empat kali jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar, atau yang tidak seharusnya dikembalikan,
maka Menteri Keuangan dapat meminta Jaksa Agung untuk segera menghentikan penyidikan.
Selanjutnya, Jaksa Agung dapat melakukan pengehentian penyidikan sesuai dengan yang diminta
oleh menteri keuangan paling lama enam bulan setelah Menteri Keuangan
menyampaikan suratpermintaanya.

2. Ketetapan Pajak

Penerbitan suatu Surat Ketetapan Pajak (SKP) hanya terbatas kepada Wajib Pajak tertentu
yang disebabkan oleh ketidakbenaran dalam pengisian Surat Pemberitahuan (SPT) atau karena
ditemukannya data fisik yang tidak dilaporkan oleh Wajib Pajak. Surat Ketetapan Pajak (SKP)
diterbitkan setelah proses pemeriksaan selesai dilakukan dan belum dilakukan penyidikan. Surat
Ketetapan Pajak (SKP) memiliki fungsi, yaitu sebagai:
1. Koreksi atas jumlah pajak terhutang menurut SPT Wajib Pajak;
2. Sarana untuk mengenakan sanksi;
3. Sarana untuk menagih pajak;
4. Sarana untuk mengembalikan kelebihan pajak dalam hal lebih bayar;
5. Sarana untuk memberitahukan jumlah pajak yang terhutang.
Surat Ketetapan Pajak terdiri atas enam macam, yaitu Surat Tagihan Pajak (STP), surat
keterangan berupa Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar Tambahan (SKPKBT), Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB), Surat Ketetapan Pajak
Nihil (SKPN), dan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT).

Surat Tagihan Pajak


Surat Tagihan Pajak (STP) adalah surat yang diterbitkan untuk melakukan tagihan pajak
dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda. Surat Tagihan Pajak diatur dalam Pasal
14 UU No.6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah
diubah dengan UU No.6 Tahun 2000. Surat Tagihan Pajak dapat diterbitkan dalam hal-hal sebagai
berikut:
1. Apabila PPh dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar;
2. Apabila dari hasil penelitian Surat Pemberitahuan terdapat kekurangan pembayaran pajak
sebagai akibat salah tulis dan/atau salah hitung;
3. Apabila Wajib Pajak dikenakan sanksi administrasi berupa denda dan/atau bunga;
4. Apabila pengusaha yang dikenakan pajak berdasarkan UU PPN dan perubahannya tidak
melaporkan kegiatan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP);

13
5. Apabila pengusaha yang tidak dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak, tetapi membuat
Faktur Pajak;
6. Pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak tidak membuat atau membuat
Faktur Pajak, tetapi tidak tepat waktu atau tidak mengisi selengkapya Faktur Pajak.
Penerbitan Surat Tagihan Pajak akan ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2%
sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak atau
bagian tahun pajak atau tahun pajak sampai dengan diterbitkannya Surat Tagihan Pajak.

Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB)


Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) adalah Surat Ketetapan Pajak yang
menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran
pokok pajak, besarnya sanksi administrasi, dan jumlah yang masih harus dibayar. SKPKB
diterbitkan dalam hal-hal sebagai berikut:
1. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terhutang tidak atau
kurang dibayar;
2. Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu yang telah ditetapkan dan
setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam
Surat Teguran;
3. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atas PPN dan PPnBM ternyata tidak seharusnya
dikompensasikan selisih lebih pajak atau tidak seharusnya dikenakan tariff 0%;
4. Apabila Wajib Pajak tidak melakukan kewajiban pembukuan dan tidak memenuhi permintaan
dalam pemeriksaan pajak, sehingga tidak dapat diketahui besarnya pajak yang terutang.
Penerbitan SKPKB akan diikuti dengan sanksi administrasi yang bisa berupa denda maupun
berupa kenaikan. Sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% sebulan akan dikenakan apabila
berdasarkan hasil pemeriksaan diketahui bahwa Wajib Pajak tidak atau kurang membayar besarnya
pajak yang terutang.

Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT)


Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT) adalah Surat Ketetapan Pajak
yang diterbitkan untuk menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan dalam
SKPKBT. Penerbitan SKPKBT dilakukan apabila ditemukan data baru dan/atau data yang semula
belum terungkap yang dapat menyebabkan penambahan pajak yang terutang. SKPKBT diterbitkan
untuk menampung beberapa kemungkinan yang terjadi seperti:
1. Adanya SKPKBT yang telah ditetapkan ternyata lebih rendah daripada perhitungan yang
sebenarnya;
2. Adanya proses pengembalian pajak yang telah ditetapkan dalam SKPLB yang seharusnya tidak
dilakukan; dan
3. Adanya pajak terutang dalam Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN) yang ditetapkan ternyata
lebih rendah.

Surat Ketetapn Pajak Lebih Bayar (SKPLB)


Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar adalah Surat Ketetapan Pajak yang diterbitkan untuk
menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada
pajak yang terutang atau tidak seharusnya terutang. SKPLB diterbitkan jika ada permohonan tertulis
dari wajib pajak. Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) harus sudah menerbitkan SKPLB paling
lambat 12 bulan sejak permohonan diterima, kecuali untuk kegiatan tertentu akan ditetapkan lain
oleh Direktur Jenderal Pajak. Apabila jangka 12 bulan telah lewat, maka permohonan Wajib Pajak
dianggap diterima dan Wajib Pajak berhak memperoleh pengembalian atas kelebihan pajaknya.
Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan ternyata pajak yang lebih dibayar jumlahnya lebih besar dari
kelebihan pembayaran pajak yang telah ditetapkan, maka SKPLB masih dapat diterbitkan lagi.

Surat Ketetapan Pajak Nihil


14
Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN) adalah Surat Ketetapan Pajak yang diterbitkan untuk
menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak
terutang dan tidak ada kredit pajak.

3. Penagihan Pajak

Direktur Jenderal Pajak dapat melakukan tindakan penagihan pajak, apabila jumlah pajak
yang terutang berdasarkan Surat Tagihan Pajak (STP), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
(SKPKB), serta Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), dan Surat Keputusan
Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali yang
menyebabkan jumlah pajak yang masih harus dibayar bertambah, yang tidak dibayar oleh
Penanggung Pajak sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam peraturan perundang-
undangan perpajakan.
Peraturan perundang-undangan perpajakan menetapkan bahwa STP, SKPKB, serta SKPKBT
dan Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan
Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, harus
dilunasi dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan, kecuali untuk WP usaha kecil
dan WP di daerah tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan,
jangka waktu pelunasan dapat diperpanjang menjadi paling lama 2 (dua) bulan.
Surat Tagihan Pajak Bumi dan Bangunan (STPPBB), Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak
Atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar (SKBKB), Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak Atas
Tanah dan Bangunan Kurang Bayar Tambahan (SKBKBT), serta Surat Tagihan Bea Perolehan Hak
Atas Tanah dan Bangunan (STB), dan Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan,
Putusan Banding serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah Bea Perolehan Hak
Atas Tanah dan Bangunan yang harus dibayar bertambah, harus dilunasi dalam jangka waktu 1
(satu) bulan sejak tanggal diterima oleh WP.
Dalam hal WP keberatan atas SKPKB atau SKPKBT, jangka waktu pelunasan pajak untuk
jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan keberatan sebesar pajak yang tidak disetujui
dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, tertangguh sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal
penerbitan Surat Keputusan Keberatan. Dalam hal WP mengajukan banding atas Surat Keputusan
Keberatan sehubungan dengan SKPKB atau SKPKBT, jangka waktu pelunasan pajak tertangguh
sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding.

Tindakan Penagihan Pajak


Apabila utang pajak sampai dengan tanggal jatuh tempo pembayaran belum dilunasi, akan
dilakukan tindakan penagihan pajak sebagai berikut:
1. Surat Teguran
a. Dalam hal WP tidak menyetujui sebagian atau seluruhnya jumlah pajak yang masih harus
dibayar dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan dan WP tidak mengajukan keberatan
atas SKPKB atau SKPKBT, kepada WP disampaikan Surat Teguran setelah lewat 7 (tujuh)
hari sejak saat jatuh tempo pengajuan keberatan;
b. Dalam hal WP tidak menyetujui sebagian atau seluruh jumlah pajak yang masih harus
dibayar dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, dan WP mengajukan permohonan
banding atas keputusan keberatan sehubungan dengan SKPKB atau SKPKBT, kepada WP
disampaikan Surat teguran setelah 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pengajuan banding;
c. Dalam hal WP tidak menyetujui sebagian atau seluruh jumlah pajak yang masih dibayar
dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, dan mengajukan permohonan banding atas
keputusan keberatan sehubungan dengan SKPKB atau SKPKBT, kepada WP disampaikan
Surat teguran setelah 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pelunasan pajak yang masih
harus dibayar berdasarkan Putusan Banding;

15
d. Dalam hal WP menyetujui seluruh jumlah pajak yang masih harus dibayar dalam
pembahasan akhir hasil pemeriksaan, kepada WP disampaikan Surat Teguran setelah 7
(tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pelunasan;
e. Dalam hal WP mencabut pengajuan keberatan atas SKPKB atau SKPKBT setelah tanggal
jatuh tempo pelunasan tetapi sebelum tanggal diterima Surat Pemberitahuan Untuk Hadir
oleh WP, kepada WP disampaikan Surat Teguran setelah 7 (tujuh) hari sejak tanggal
pencabutan pengajuan keberatan tersebut; dan
f. Dalam rangka Penagihan Pajak atas utang Bumi dan Bangunan dan/atau Bea Perolehan
Hak Atas Tanah dan Bangunan yang tercantum dalam STPPBB, SKBKB, SKBKBT, STB
atau Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, atau Putusan Banding,
yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, kepada WP disampaikan
Surat teguran setelah 7 (tujuh) hari sejak tanggal jatuh tempo pelunasan. Penyampaian
Surat Teguran dapat dilakukan secara langsung, melalui pos atau melalui jasa ekspedisi
atau jasa kurir dengan bukti pengiriman surat.
2. Surat Paksa Utang pajak setelah lewat 21 (dua puluh satu) hari dari tanggal Surat Teguran
tidak dilunasi, diterbitkan Surat Paksa yang diberitahukan oleh Jurusita Pajak dengan dibebani
biaya penagihan pajak dengan Surat Paksa sebesar Rp50.000,00 (lima puluh ribu rupiah).
Utang pajak harus dilunasi dalam jangka waktu 2 x 24 jam setelah Surat Paksa diberitahukan
oleh Jurusita Pajak.
3. Surat Sita Utang pajak dalam jangka waktu 2 x 24 jam setelah Surat Paksa diberitahukan oleh
Jurusita Pajak tidak dilunasi, Jurusita Pajak dapat melakukan tindakan penyitaan, dengan
dibebani biaya pelaksanaan Surat Perintah Melakukan Penyitaan sebesar Rp 100.000,00
(seratus ribu rupiah).
4. Lelang Dalam jangka waktu paling singkat 14 (empat belas) hari setelah tindakan penyitaan,
utang pajak belum juga dilunasi akan dilanjutkan dengan pengumuman lelang melalui media
massa. Pengumuman lelang untuk barang bergerak dilakukan 1 (satu) kali dan untuk barang
tidak bergerak dilakukan 2 (dua) kali. Penjualan secara lelang melalui Kantor Lelang Negara
terhadap barang yang disita, dilaksanakan paling singkat 14 (empat belas) hari setelah
pengumuman lelang. Dalam hal biaya penagihan paksa dan biaya pelaksanaan sita belum
dibayar maka akan dibebankan bersama-sama dengan biaya iklan untuk pengumuman lelang
dalam surat kabar dan biaya lelang pada saat pelelangan. Catatan Barang dengan nilai paling
banyak Rp.20.000.000,- tidak harus diumumkan melalui media massa.

4. Penagihan Pajak

Pada hakikatnya, pengenaan sanksi perpajakan diberlakukan untuk menciptakan kepatuhan


Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya. Itulah sebabnya, penting bagi Wajib
pajak memahami sanksi-sanksi perpajakan sehingga mengetahui konsekuensi hukum dari apa yang
dilakukan ataupun tidak dilakukan. Untuk dapat memberikan gambaran mengenai hal-hal apa saja
yang perlu dihindari agar tidak dikenai sanksi perpajakan, di bawah ini akan diuraikan tentang
jenis-jenis sanksi perpajakan dan perihal pengenaannya. Ada 2 macam Sanksi perpajakan, yaitu:

a. Sanksi Administrasi yang terdiri dari:


Sanksi Adrninistrasi Berupa Denda
Sanksi denda adalah jenis sanksi yang paling banyak ditemukan dalam UU perpajakan.
Terkait besarannya denda dapat ditetapkan sebesar jumlah tertentu, persentase dari jumlah
tertentu, atau suatu angka perkalian dari jumlah tertentu.
Pada sejumlah pelanggaran, sanksi denda ini akan ditambah dengan sanksi pidana.
Pelanggaran yang juga dikenai sanksi pidana ini adalah pelanggaran yang sifatnya alpa
atau disengaja.
Sanksi Aministrasi Berupa Bunga
16
Sanksi administrasi berupa bunga dikenakan atas pelanggaran yang menyebabkan utang
pajak menjadi lebih besar. Jumlah bunga dihitung berdasarkan persentase tertentu dari
suatu jumlah, mulai dari saat bunga itu menjadi hak/kewajiban sampai dengan saat
diterima dibayarkan.
Terdapat beberapa perbedaan dalam menghitung bunga utang biasa dengan bunga utang
paiak. Penghitungan bunga utang pada umumnya menerapkan bunga majemuk (bunga
berbunga). Sementara, sanksi bunga dalam ketentuan pajak tidak dihitung berdasarkan
bunga majemuk.
Besarnya bunga akan dihitung secara tetap dari pokok pajak yang tidak/kurang dibayar.
Tetapi, dalam hal Wajib Pajak hanya membayar sebagian atau tidak membayar sanksi bunga
yang terdapat dalam surat ketetapan pajak yang telah diterbitkan, maka sanksi bunga
tersebut dapat ditagih kembali dengan disertai bunga lagi
Perbedaan lainnya dengan bunga utang pada umumnya adalah sanksi bunga dalam ketentuan
perpajakan pada dasarnya dihitung 1 (satu) bulan penuh. Dengan kata lain, bagian dari bulan
dihitung 1 (satu) bulan penuh atau tidak dihitung secara harian.
Sanksi Administrasi Berupa Kenaikan
Jika melihat bentuknya, bisa jadi sanksi administrasi berupa kenaikan adalah sanksi yang
paling ditakuti oleh wajib Pajak. Hal ini karena bila dikenakan sanksi tersebut, jumlah pajak
yang harus dibayar bisa menjadi berlipat ganda. Sanksi berupa kenaikan pada dasarnya
dihitung dengan angka persentase tertentu dari jumlah pajak yang tidak kurang dibayar.
Jika dilihat dari penyebabnya, sanksi kenaikan biasanya dikenakan karena Wajib Pajak tidak
memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan dalam menghitung jumlah pajak terutang.

b. Sanksi Pidana
UU KUP menyatakan bahwa pada dasarnya, pengenaan sanksi pidana merupakan upaya
terakhir untuk meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak. Namun, pemerintah masih memberikan
keringanan dalam pemberlakuan sanksi pidana dalam pajak, yaitu bagi Wajib Pajak yang baru
pertama kali melanggar ketentuan Pasal 38 UU KUB tidak dikenai sanksi pidana, tetapi dikenai
sanksi administrasi. Pelanggaran Pasal 38 UU KUP adalah tidak menyampaikan SPT atau
menyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yang
isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara.
Hukum pidana diterapkan karena adanya tindak pelanggaran dan tindak kejahatan.
Sehubungan dengan itu, di bidang perpajakan, tindak pelanggaran disebut dengan kealpaan, yaitu
tidak sengaja, lalai, tidak hati-hati, atau kurang mengindahkan kewajiban pajak sehingga dapat
menimbulkan kerugian pada pendapatan negara. Sedangkan tindak kejahatan adalah tindakan
dengan sengaja tidak mengindahkan kewajiban pajak sehingga dapat menimbulkan kerugian pada
pendapatan negara.
Meski dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, tindak pidana di bidang
perpajakan tidak dapat dituntut setelah jangka waktu 10 (sepuluh) tahun terlampaui. Jangka waktu
ini dihitung sejak saat terutangnya pajak, berakhirnya masa pajak, berakhirnya bagian tahun pajak,
atau berakhirnya tahun pajak yang bersangkutan. Penetapan jangka waktu 10 (sepuluh) tahun ini
disesuaikan dengan daluarsa penyimpanan dokumen-dokumen perpajakan yang dijadikan dasar
penghitungan jumlah pajak yang terutang, yaitu selama 10 (sepuluh) tahun.
Dalam UU Perpajakan Indonesia, ketentuan mengenai sanksi pidana pada intinya diatur
dalam Bab VIII UU KUP sebagai hukum pajak format. Namun, dalam UU Perpajakan lainnya,
dapat juga diatur sanksi pidana. Sanksi pidana biasanya disertai dengan sanksi administrasi berupa
denda, walaupun tidak selalu ada.

5. Restitusi

17
Pengembalian kelebihan pembayaran pajak (restitusi) terjadi apabila jumlah kredit pajak atau
jumlah pajak yang dibayar lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang atau telah dilakukan
pembayaran pajak yang tidak seharusnya terutang, dengan catatan WP tidak punya hutang pajak
lain. Tata Cara Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak :
1. Wajib Pajak (WP) dapat mengajukan permohonan restitusi ke Direktur Jenderal Pajak melalui
Kantor Pelayanan Pajak (KPP) setempat.
2. Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan pemeriksaan, menerbitkan Surat Ketetapan Pajak
Lebih Bayar (SKPLB) dalam hal:
Untuk PPh, jika jumlah Kredit Pajak lebih besar dari jumlah pajak yang terutang atau
telah dilakukan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang;
Untuk PPN, jika jumlah Kredit Pajak lebih besar dari jumlah pajak yang terutang atau
telah dilakukan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang. Apabila terdapat pajak
terutang yang dipungut oleh Pemungut PPN, maka jumlah pajak yang terutang adalah
jumlah pajak Keluaran setelah dikurangi Pajak yang dipungut oleh Pemungut PPN
tersebut;
Untuk PPnBM, jika Pajak yang dibayar lebih besar dari jumlah pajak yang terutang, atau
telah dilakukan pembayaran pajak yang tidak seharusnya terutang.
3. SKPLB diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak paling lambat 12 (dua belas) bulan sejak
surat permohonan diterima secara lengkap, kecuali untuk kegiatan tertentu ditetapkan lain
dengan keputusan Direktur Jenderal Pajak.
4. Apabila dalam jangka waktu 12 bulan sejak permohonan restitusi, Direktur Jenderal Pajak
tidak memberikan keputusan, maka permohonan dianggap dikabulkan, dan SKPLB
diterbitkan dalam waktu paling lambat 1 (satu) bulan setelah jangka waktu berakhir.

Pengembalian Pendahuluan :
1. WP dengan kriteria tertentu dapat mengajukan restitusi dan Direktur Jenderal Pajak dapat
menerbitkan Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak.
2. Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak adalah surat keputusan yang
menentukan jumlah pengembalian pendahuluan kelebihan pajak untuk Wajib Pajak tertentu.
3. Wajib Pajak dengan kriteria tertentu adalah WP yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak
dengan syarat:
a. SPT disampaikan tepat waktu dalam 2 (dua) tahun terakhir.
b. Dalam tahun terakhir penyampaian SPT Masa yang terlambat tidak lebih dari 3 (tiga)
masapajak untuk setiap jenis pajak dan tidak berturut-turut. Untuk SPT Masa yang
terlambat tersebut harus telah disampaikan tidak lewat dari batas waktu penyampaian SPT
Masa masa pajak berikutnya;
c. Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak kecuali telah memperoleh
izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak dan tidak termasuk tunggakan
pajak sehubungan dengan STP yang diterbitkan untuk 2 (dua) masa pajak terakhir.
d. Tidak pernah dijatuhi hukuman tindak pidana di bidang perpajakan dalam jangka waktu
10 tahun terakhir.
e. Laporan Keuangan diaudit oleh akuntan publik atau BPKP dengan:
- pendapat Wajar Tanpa Pengecualian atau pendapat Wajar Dengan Pengecualian,
sepanjang pengecualian tersebut tidak mempengaruhi laba rugi fiskal;
- laporan audit disusun dalam bentuk panjang (long form report) dan menyajikan
rekonsiliasi laba rugi komersial dan fiskal.
4. Wajib Pajak yang laporan keuangannya tidak diaudit akuntan publik, juga dapat mengajukan
permohonan untuk ditetapkan sebagai wajib Pajak kriteria tertentu paling lambat 3 (tiga)
bulan sebelum tahun buku berakhir dengan syarat memenuhi kriteria pada angka 3 huruf a, b,
dan c, d (diatas) ditambah dengan syarat :
a. dalam 2 (dua) tahun pajak terakhir menyelenggarakan pembukuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 28 UU tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan;
18
b. Apabila dalam 2 (dua) tahun terakhir terhadap Wajib Pajak pernah dilakukan
pemeriksaan pajak, maka koreksi fiskal untuk setiap jenis pajak yang terutang tidak lebih
dari 10% (sepuluh persen).
5. Kepala Kantor Wilayah DJP atas nama Direktur Jenderal Pajak menetapkan Wajib Pajak yang
memenuhi kiteria tertentu setiap bulan Januari dan berlaku untuk jangka waktu 2 (dua) tahun.
6. Wajib Pajak yang penghitungan jumlah peredaran usahanya mudah diketahui karena berkaitan
dengan pengenaan cukai sepanjang memenuhi persyaratan WP kriteria tertentu, dapat
diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran PPN.
7. Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak diterbitkan paling lambat 3
(tiga) bulan untuk PPh dan 1 (satu) bulan untuk PPN, sejak permohonan diterima lengkap.
8. Direktur Jenderal Pajak dapat melakukan pemeriksaan dan menerbitkan surat ketetapan pajak
berupa SKPKB atau SKPLB atau SKPN dalam jangka waktu 10 tahun, terhadap WP yang
telah memperoleh pengembalian pendahuluan kelebihan pajak.
9. SKPKB yang diterbitkan ditambah dengan sanksi administrasi kenaikan 100% dari jumlah
kekurangan pembayaran pajak.
Batas akhir pemeriksaan SPT Lebih Bayar tertunda bila terhadap Wajib Pajak dilakukan
pemeriksaan bukti permulaan. Kemudian Wajib Pajak yang dapat diberikan pengembalian
pendahuluan kelebihan pembayaran pajak diperluas yaitu :
1. Wajib Pajak orang pribadi yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;
2. Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dengan jumlah
peredaran usaha dan jumlah lebih bayar sampai dengan jumlah tertentu;
3. Wajib Pajak badan dengan jumlah peredaran usaha dan jumlah lebih bayar sampai dengan
jumlah tertentu; dan
4. Pengusaha Kena Pajak yang menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan
Nilai dengan jumlah penyerahan dan jumlah lebih bayar sampai dengan jumlah tertentu.

6. Tata Cara Keberatan

Keberatan merupakan suatu cara yang dilakukan oleh Wajib Pajak kepada Direktorat Jenderal
Pajak apabila merasa kurang/tidak puas atas suatu ketetapan pajak yang dikenakan kepadanya atau
atas pemotongan/pemungutan oleh pihak ketiga.

Hal-hal yang Dapat Diajukan Keberatan


Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan atas:
a. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB);
b. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT);
c. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB);
d. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN);
e. Pemotongan atau Pemungutan oleh pihak ketiga.

Ketentuan Pengajuan Keberatan


Keberatan diajukan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di tempat WP terdaftar,
dengan syarat:
a. Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia.
b. Wajib menyebutkan jumlah pajak yang terutang atau jumlah pajak yang dipotong atau
dipungut atau jumlah rugi menurut penghitungan WP dan disertai alasan-alasan yang
jelas.
c. Satu keberatan harus diajukan untuk satu jenis pajak dan satu tahun/masa pajak.
Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar pajak dan pelaksanaan
penagihan pajak dan keberatan yang tidak memenuhi syarat, dianggap bukan Surat
Keberatan, sehingga tidak diproses.
19
d. Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan atas surat ketetapan pajak, Wajib Pajak
wajib melunasi pajak yang harus dibayar paling sedikit sejumlah yang disetujui Wajib
Pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, sebelum surat keberatan disampaikan.
Jangka Waktu Pengajuan Keberatan
Wajib Pajak dapat mengajukan dalam jangka waktu lebih dari 3 (tiga) bulan apabila dapat
menunjukkan bahwa jangka waktu tersebut tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar
kekuasaannya.

Penyelesaian Keberatan
Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal
surat keberatan diterima, harus memberikan keputusan atas keberatan yang diajukan. Apabila
dalam jangka waktu 12 (dua belas ) telah lewat dan Direktorat Jenderal Pajak tidak memberi
suatu keputusan, maka keberatan yang diajukan tersebut dianggap diterima Keputusan
keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian, menolak atau menambah
besarnya jumlah pajak terhutang.

Permintaan Penjelasan/Pemberian Keterangan Tambahan


a. Untuk keperluan pengajuan keberatan WP dapat meminta penjelasan/ keterangan
tambahan dan Kepala KPP wajib memberikan penjelasan secara tertulis hal-hal yang
menjadi dasar pengenaan, pemotongan, atau pemungutan.
b. WP dapat menyampaikan alasan tambahan atau penjelasan tertulis sebelum surat
keputusan keberatannya diterbitkan.

Gugatan
Wajib Pajak atau Penanggung Pajak dapat mengajukan gugatan kepada Penanggung Pajak
terhadap:
1. Pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, atau Pengumuma
Lelang;
2. Keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan keputusan perpajakan selain yang
ditetapkan dalam Pasal 25 ayat (1) dan Pasal 26 UU KUP;
3. Keputusan pembetulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 UU KUP yang
berkaitan dengan STP;
4. Keputusan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 yang berkaitan dengan STP.

Jangka Waktu Pengajuan Gugatan


1. Gugatan terhadap angka 1 diajukan paling lambat 14 hari sejak pelaksanaan Surat Paksa,
Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan atau Pengumuman Lelang;
2. Gugatan terhadap angka 2, 3, dan 4 diajukan paling lambat 30 hari sejak tanggal diterima
Keputusan yang digugat.

7. Tata Cara Banding

Wajib pajak dapat mengajukan permasalahan keberatan ke tingkat banding yaitu kepada
Badan Peradilan Pajak (Badan Penyelesaian Sengketa Pajak/BPSP) yang diatur dalam UU 17/1997.
Pengajuan permohonan banding tidak menunda kewajiban membayar pajak dan pelaksanaan
penagihan pajak.

20
Syarat dan tata cara pengajuan banding:

a. diajukan sendiri oleh pembayar pajak, ahli warisnya, seorang pengurus atau kuasa
hukumnya

b. tertulis dalam bahasa Indonesia dengan alasan yang jelas

c. dalam jangka waktu 3 bulan sejak keputusan atas keberatan diterima

d. dilampiri salinan surat keputusan atas keberatan

e. terhadap satu surat keputusan keberatan, diajukan satu permohonan banding

f. banding terhadap besarnya jumlah pajak terhutang hanya dapat diajukan apabila jumlah
pajak yang terhutang dimaksud telah dibayar lunas.

Bentuk Putusan Banding

a. Putusan Banding Penyelesaian Sengketa Pajak dapat berupa

1. menolak;

2. mengabulkan sebagian atas seluruhnya;

3. menambah pajak yang harus dibayar;

4. tidak dapat diterima;

5. membetulkan kesalahan tulis dan atau kesalahan hitung.

b. Putusan banding oleh BPSP merupakan putusan akhir dan bersifat tetap serta bukan
merupakan keputusan Tata Usaha Negara.

Apabila pengajuan permohonan banding diterima sebagaian atau seluruhnya, maka kelebihan
pembayaran dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% sebulan untuk selama-
lamanya 24 bulan. Pengajuan banding dilakukan karena :

Pengajuan keberatan ditolak oleh KKP PBB karena data objek tidak sesuai dengan keadaan
sebenarnya atau adanya perbedaan penafsiran per undang-undangan antar wajib pajak dan
aparat pajak.

Subjek pajak tidak bersedia menjadi wajib pajak atas penunjukan Direktur Jendral Pajak.

Keputusan banding berlaku mengikat serta mempunyai kepastian dan kekuatan hukum baik
terhadap Dirjen Pajak maupun terhadap wajib pajak.

21
8. Pengadilan Pajak

Pengadilan Pajak adalah badan peradilan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi
Wajib Pajak atau penanggung Pajak yang mencari keadilan terhadap Sengketa Pajak. Pengadilan
Pajak berdasarkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002 adalah kelanjutan dari Badan
Penyelesaian Sengketa Pajak sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun
1997.

Kedudukan Pengadilan Pajak

1. Pengadilan Pajak berkedudukan di Ibukota Negara;

2. Sidang Pengadilan Pajak dilakukan di tempat kedudukannya;

3. Apabila dipandang perlu dapat dilakukan ditempat lain yang ditetapkan oleh Ketua.

Kekuasaan Pengadilan Pajak ( Pasal 31, 32 & 33)

1. Pengadilan Pajak merupakan Pengadilan tingkat pertama dan terakhir dalam memeriksa
dan memutus Sengketa Pajak oleh karenanya putusan Pengadilan Pajak tidak dapat
diajukan Gugatan ke Peradilan Umum, Peradilan Tata Usaha Negara atau Badan
Peradilan lain, kecuali putusan berupa "tidak dapat diterima" yang menyangkut
kewenangan/kompetensi;

2. Pengadilan pajak mempunyai tugas dan wewenang memeriksa dan memutus Sengketa
Pajak;

3. Pengadilan Pajak dalam hal Banding hanya memeriksa dan memutus sengketa atas
keputusan keberatan kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan yang
berlaku;

4. Pengadilan Pajak dalam hal Gugatan memeriksa dan memutus sengketa atas pelaksanaan
penagihan Pajak atau Keputusan pembetulan atau, Keputusan lainnya sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000 dan peraturan perundang-
undangan perpajakan yang berlaku;

22
5. Pengadilan Pajak mengawasi kuasa hukum yang memberikan bantuan hukum kepada
pihak-pihak yang bersengketa dalam sidang-sidang Pengadilan Pajak;

6. Pengadilan Pajak dapat memanggil atau meminta data atau keterangan yang berkaitan
dengan Sengketa Pajak dari pihak ketiga sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

Susunan Pengadilan Pajak (Pasal 6 dan 7)

1. Pengadilan Pajak terdiri dari Pimpinan, Hakim Anggota, Sekretaris dan Panitera;

2. Pimpinan Pengadilan pajak terdiri seorang Ketua dan paling banyak 5 (lima) orang Wakil
Ketua.

9. Peninjauan Kembali

Apabila pihak yang bersangkutan tidak/belum puas dengan putusan Pengadilan Pajak, maka
pihak yang bersengketa dapat mengajukan Peninjauan Kembali kepada Mahkamah Agung melalui
Pengadilan Pajak dan hanya dapat diajukan satu kali.

Alasan Peninjauan Kembali

1. Putusan Pengadilan Pajak didasarkan pada kebohongan atau tipu muslihat;

2. Terdapat bukti tertulis baru penting dan bersifat menentukan;

3. Dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau lebih dari yang dituntut;

4. Ada suatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa dipertimbangkan sebab-sebabnya;

5. Putusan nyata-nyata tidak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang


berlaku.

Jangka Waktu Peninjauan Kembali

23
1. Permohonan Peninjauan Kembali dengan alasan sebagaimana dimaksud dalam angka
1 dan 2 diajukan paling lambat 3 bulan sejak diketahuinya kebohongan atau tipu
muslihat atau ditemukan bukti tertulis baru;

2. Permohonan Peninjauan Kembali dengan alasan sebagaimana dimaksud dalam angka


3, 4, dan 5 diajukan paling lambat 3 bulan sejak putusan dikirim oleh Pengadilan
Pajak.

24
25