Anda di halaman 1dari 18

PAJAK PENGHASILAN

1. SUBJEK DAN OBJEK PAJAK DAN PENGECUALIANNYA


1.1 Subjek Pajak dan Pengecualiaan Subjek Pajak
Subjek pajak adalah istilah dalam peraturan perundang-undangan perpajakan untuk
perorangan (pribadi) atau organisasi (kelompok) berdasarkan peraturan perundang-undangan
perpajakan yang berlaku. Seseorang atau suatu badan merupakan subjek pajak, tapi bukan berarti
orang atau badan itu punya kewajiban pajak. Kalau dalam peraturan perundang-undangan
perpajakan tertentu seseorang atau suatu badan dianggap subjek pajak dan mempunyai atau
memperoleh objek pajak, maka orang atau badan itu jadi punya kewajiban pajak dan disebut wajib
pajak.
Menurut Pasal 1 UU No. 7 Tahun 1983, sebagaimana telah dirubah dan disempurnakan
terakhir dengan UU No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, yang merupakan subyek
pajak adalah:
1. Orang Pribadi;
2. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak;
3. Badan;
Adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha
maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer,
perseroan lainnya, badan usaha milik Negara atau daerah dengan nama dan dalam bentuk
apapun, firma kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi
massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga, dan bentuk badan lainnya
termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap; dan
4. Bentuk Usaha Tetap (BUT).
Adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di
Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh
tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak
bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di
Indonesia, yang dapat berupa:
a. tempat kedudukan manajemen;
b. cabang perusahaan;
c. kantor perwakilan;
d. gedung kantor;
e. pabrik;
f. bengkel;
g. gudang;
h. ruang untuk promosi dan penjualan;
i. pertambangan dan penggalian sumber alam;
1
j. wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi;
k. perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan;
l. proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;
m. pemberian jasa dalam bentuk apa pun oleh pegawai atau orang lain, sepanjang dilakukan lebih
dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan;
n. orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas;
o. agen atau pegawai dari perusahan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau menanggung risiko di Indonesia;
dan
p. komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki, disewa, atau digunakan oleh
penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan kegiatan usaha melalui internet.

Penggolongan Subjek Pajak menurut Statusnya:


1. Subjek Pajak Dalam Negeri adalah:
a. Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau yang berada di Indonesia lebih dari
183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau yang
dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di
Indonesia.
b. Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia, meliputi Perseroan Terbatas,
Perseroan Komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan
nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan,
perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik atau organisasi yang sejenis,
lembaga, dan bentuk badan lainnya termasuk reksadana.
Kecuali unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria:
pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan;
pembiayaannya bersumber dari APBN atau APBD;
penerimaannya dimasukkan dalam anggaran Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah;
pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional negara;
Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak.

2. Subjek Pajak Luar Negeri adalah:


a. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih
dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan
yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menjalankan usaha
atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia.
b. Orang Pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih
dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak
2
bertempat kedudukan di Indonesia yang dapat menerima atau memperoleh panghasilan dari
Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia.
Perbedaan yang penting antara Wajib Pajak dalam negeri dan Wajib Pajak luar negeri
terletak dalam pemenuhan kewajiban pajaknya, antara lain:
a. Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak atas penghasilan baik yang diterima atau diperoleh
dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenai pajak
hanya atas penghasilan yang berasal dari sumber penghasilan di Indonesia;

b. Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak berdasarkan penghasilan neto dengan tarif umum,
sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenai pajak berdasarkan penghasilan bruto dengan tarif
pajak sepadan; dan

c. Wajib Pajak dalam negeri wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan sebagai sarana untuk menetapkan pajak yang terutang dalam suatu tahun pajak,
sedangkan Wajib Pajak luar negeri tidak wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan
Tahunan Pajak Penghasilan karena kewajiban pajaknya dipenuhi melalui pemotongan pajak
yang bersifat final.
Pengecualian sebagai subjek pajak diatur dalam Pasal 3 UU No. 36 Tahun 2008, dimana
dalam pasal tersebut dikemukakan bahwa yang tidak termasuk sebagai Subjek Pajak adalah:
1. Kantor perwakilan negara asing;
2. Pejabat perwakilan diplomatik, dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari negara asing dan
orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal
bersama-sama mereka, dengan syarat:
bukan warga Negara Indonesia;
di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain di luar jabatan atau
pekerjaannya tersebut; serta
negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik;
3. Organisasi-organisasi Internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan
dengan syarat :
Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut;
tidak menjalankan usaha; atau
kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain pemberian pinjaman
kepada pemerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota;
4. Pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri
Keuangan dengan syarat :
bukan warga negara Indonesia; dan
tidak menjalankan usaha atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan
dari Indonesia.

3
Selanjutnya dalam penjelasan pasal 2 ayat (1) huruf b, UU No. 36 Tahun 2008, unit usaha
tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria berikut, tidak termasuk sebagai subjek
pajak yaitu :
1. Dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
2. Dibiayai dengan dana yang bersumber dari APBN atau APBD;
3. Penerimaan lembaga tersebut dimasukan dalam anggaran pemerintah pusat atau pemerintah
daerah;
4. Pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan funfsional negara.
Apabila suatu badan/lembaga memenuhi syaratsyarat tersebut diatas, maka ia tidak termasuk
subjek pajak penghasilan. Sebalikya apabila syarat-syarat tersebut tidak dipenuhi, maka
badan/lembaga tersebut adalah subjek pajak pada pajak penghasilan.

1.2 Objek Pajak dan Pengecualian Objek Pajak


Adalah penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak (WP), baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang
dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib pajak yang bersangkutan
dengan nama dan dalam bentuk apapun termasuk:
1. penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh
termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun atau
imbalan dalam bentuk lainnya kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan;
2. hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan dan penghargaan;
3. laba usaha;
4. keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk:
keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan badan lainnya
sebagai pengganti saham atau penyertaan modal;
keuntungan yang diperoleh perseroan, persekutuan, dan badan lainnya karena pengalihan
harta kepada pemegang saham, sekutu atau anggota;
keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan atau
pengambilalihan usaha;
keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau sumbangan, kecuali yang
diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, dan badan
keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk
koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan
usaha, pekerjaan, kepemilikan atau penguasaan antara pihakpihak yang bersangkutan;
keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan,
tanda turut serta dalam pembiayaan, atau permodalan dalam perusahaan pertambangan.
5. penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya;
6. bunga termasuk premium, diskonto dan imbalan karena jaminan pengembalian utang;
7. dividen dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari perusahaan asuransi
kepada pemegang polis dan pembagian sisa hasil usaha koperasi;
4
8. royalty atau imbalan atas penggunaan hak;
9. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
10. penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;
11. keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang ditetapkan
dengan Peraturan Pemerintah;
12. keuntungan karena selisih kurs mata uang asing;
13. selisih lebih karena penilaian kembali aktiva;
14. premi asuransi;
15. iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari WP yang
menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;
16. tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak;
17. penghasilan dari usaha berbasis syariah;
18. imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan;
19. surplus Bank Indonesia.
Tidak Termasuk Objek Pajak :
1. a. Bantuan atau sumbangan termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau
lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah dan para penerima zakat
yang berhak atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang
diakui di Indonesia;
b. Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat,
dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil
termasuk koperasi atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil yang
ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan,sepanjang tidak
ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak
yang bersangkutan;
2. Warisan;
3. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham atau sebagai
pengganti penyertaan modal;
4. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh
dalam bentuk natura dan atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali yang
diberikan oleh bukan Wajib Pajak, wajib Pajak yang dikenakan pajak secara final atau Wajib
Pajak yang menggunakan norma penghitungan khusus (deemed profit) sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 15 UU PPh;
5. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi
kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna dan asuransi beasiswa;
6. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai WP Dalam
Negeri, koperasi, BUMN atau BUMD dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan
dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat :
dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan

5
bagi perseroan terbatas, BUMN dan BUMD yang menerima dividen, kepemilikan saham
pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) dari
jumlah modal yang disetor;
7. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri
Keuangan , baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai;
8. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun dalam bidang-bidang tertentu yang
ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan;
9. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya
tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma dan kongsi, termasuk
pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif;
10. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian laba dari
badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia dengan
syarat badan pasangan usaha tersebut:
merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah atau yang menjalankan kegiatan dalam
sektor-sektor usaha yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan; dan
sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia.
11. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan
atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan, yaitu:
Diterima atau diperoleh Warga Negara Indonesia dari Wajib Pajak pemberi beasiswa dalam
rangka mengikuti pendidikan formal/ nonformal yang terstruktur baik di dalam negeri
maupun luar negeri;
Tidak mempunyai hubungan istimewa dengan pemilik, komisaris, direksi atau pengurus dari
wajib pajak pemberi beasiswa;
Komponen beasiswa terdiri dari biaya pendidikan yang dibayarkan ke sekolah, biaya ujian,
biaya penelitian yang berkaitan dengan bidang studi yang diambil, biaya untuk pembelian
buku, dan/atau biaya hidup yang wajar sesuai dengan daerah lokasi tempat belajar;
12. Sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam
bidang pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi
yang membidanginya, yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan
bidang pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu paling lama 4
(empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut;
13. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Peenyelenggara jaminan Sosial kepada
Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan.
Objek Pajak yang dikenakan PPh final atas penghasilan berupa:
1. bunga deposito dan tabungan-tabungan lainnya;
2. penghasilan berupa hadiah undian;
3. penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya di bursa efek;
4. penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan atau bangunan, serta
5. penghasilan tertentu lainnya, pengenaan pajaknya diatur dengan Peraturan Pemerintah.
6
2. BENTUK USAHA TETAP
2.1 Definisi Bentuk Usaha Tetap (BUT) Menurut UU PPh
Berdasarkan Pasal 2 ayat (5) UU PPh, yang dimaksud dengan usaha tetap adalah bentuk usaha
yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia tidak lebih dari 183
(seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau badan yang tidak
didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, untuk menjalankan usaha atau melakukan
kegiatan di Indonesia, yang berupa:
a. Tempat kedudukan manajemen;
b. Cabang perusahaan;
c. Kantor perwakilan;
d. Gedung kantor;
e. Pabrik;
f. Bengkel;
g. Gudang;
h. Ruang untuk promosi dan penjualan;
i. Pertambangan dan penggalian sumber alam;
j. Wilayah kerja pengeboran yang digunakan untuk eksplorasi pertambangan minyak dan gas
bumi;
k. Perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan atau kehutanan;
l. Proyek konstruksi, instalasi atau proyek perakitan;
m. Pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau oleh orang lain, sepanjang dilakukan
lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan;
n. Orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas;
o. Agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau menanggung risiko di Indonesia;
p. Komputer, agen elektronik atau peralatan otomatis yang dimiliki, disewa atau digunakan oleh
penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan kegiatan usaha melalui internet.

2.2 Objek Pajak Bentuk Usaha Tetap (BUT)


Ada tiga kelompok jenis penghasilan yang merupakan objek pajak bentuk usaha tetap
berdasarkan Pasal 5 ayat 1 Undang-undang PPh, yaitu:
a. Penghasilan dari usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap tersebut dan dari harta yang dimiliki
atau dikuasai;
b. Penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan, penjualan barang, atau pemberian jasa di
Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap di
Indonesia;
c. Penghasilan sebagaimana tersebut dalam Pasal 26 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000,
yang berupa deviden, bunga, royalti sewa dan penghasilan lain yang sehubungan dengan jasa,
pekerjaan dan kegiatan yang diterima atau diperoleh kantor pusat, sepanjang terdapat

7
hubungan efektif antara bentuk usaha tetap dengan harta atau kegiatan yang memberikan
penghasilan dimaksud.

2.3 Penghitungan Pajak Terhutang BUT


Tarif pajak di terapkan atas Penghasilan Kena Pajak Wajib Pajak Dalam Negeri dan BUT
untuk menghitung Pajak Penghasilan terutang dalam satu tahun pajak atau dalam bagian tahun
Pajak. Tarif ini di bedakan untuk Wajib Pajak Badan Dalam Negeri/BUT dan Wajib Pajak Orang
Pribadi Dalam Negeri.
Tarif Pajak Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri:
Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak
Sampai dengan Rp. 50.000.000 5%
Diatas Rp. 50.000.000 sampai dengan Rp. 250.000.000 15%
Diatas Rp. 250.000.000 sampai dengan Rp. 500.000.000 25%
Diatas Rp.500.000.000 30%

3. BIAYA YANG BOLEH DIKURANGKAN DAN PENGECUALIANNYA


3.1 Biaya yang Boleh Dikurangkan
UU Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 6 menyatakan:
1. Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap,
ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan, termasuk:
a. biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha, antara
lain:
biaya pembelian bahan;
biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus,
gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang;
bunga, sewa, dan royalti;
biaya perjalanan;
biaya pengolahan limbah;
premi asuransi;
biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan;
biaya administrasi; dan
pajak kecuali Pajak Penghasilan;

8
b. penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas
pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa manfaat
lebih dari 1 (satu) tahun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan Pasal 11A;
c. iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan;
d. kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan dalam
perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan;
e. kerugian selisih kurs mata uang asing;
f. biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia;
g. biaya beasiswa, magang, dan pelatihan;
h. piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat:
telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;
Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada
Direktorat Jenderal Pajak;
telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau instansi
pemerintah yang menangani piutang negara; atau adanya perjanjian tertulis mengenai
penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang
bersangkutan; atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus; atau
adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang
tertentu;
syarat sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku untuk penghapusan piutang
tak tertagih debitur kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf k; yang
pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan;
i. sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional yang ketentuannya diatur
dengan Peraturan Pemerintah;
j. sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan di Indonesia yang
ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah;
k. biaya pembangunan infrastruktur sosial yang ketentuannya diatur dengan Peraturan
Pemerintah;
l. sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah;
dan
m. sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
2. Apabila penghasilan bruto setelah pengurangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didapat
kerugian, kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak
berikutnya berturut-turut sampai dengan 5 (lima) tahun.
3. Kepada orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam negeri diberikan pengurangan berupa
Penghasilan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7.
3.2 Biaya yang Tidak Boleh Dikurangkan
UU Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 9 menyatakan:

9
1. Untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan
bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan:
a. pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen, termasuk dividen
yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa
hasil usaha koperasi;
b. biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham,
sekutu, atau anggota;
c. pembentukan atau pemupukan dana cadangan, kecuali:
cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang
menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan pembiayaan
konsumen, dan perusahaan anjak piutang;
cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang dibentuk oleh
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial;
cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan;
cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan;
cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan; dan
cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah industri
untuk usaha pengolahan limbah industri, yang ketentuan dan syarat-syaratnya diatur
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;
d. premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan
asuransi bea siswa, yang dibayar oleh Wajib Pajak orang pribadi, kecuali jika dibayar oleh
pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak yang
bersangkutan;
e. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam
bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh
pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan di daerah
tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;
f. jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau kepada
pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan
yang dilakukan;
g. harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b, kecuali sumbangan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6 ayat (1) huruf i sampai dengan huruf m serta zakat yang diterima oleh badan
amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah atau
sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia,
yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah,
yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah;
h. Pajak Penghasilan;

10
i. biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib Pajak atau orang
yang menjadi tanggungannya;
j. gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseroan komanditer yang
modalnya tidak terbagi atas saham;
k. sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana berupa denda
yang berkenaan dengan pelaksanaan perundangundangan di bidang perpajakan.
2. Pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai
masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun tidak dibolehkan untuk dibebankan sekaligus,
melainkan dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 11 atau Pasal 11A.

4. KOMPENSASI KERUGIAN
Kompensasi kerugian adalah proses membawa kerugian dalam satu tahun pajak ke tahun-
tahun pajak berikutnya. Hai ini terjadi karena kerugian yang didapatkan dalam satu tahun pajak
dapat digunakan untuk menutupi keuntungan pada tahun-tahun berikutnya sehingga pada tahun-
tahun tersebut Pajak Penghasilan nya menjadi lebih kecil atau tidak terutang sama sekali.
Kompensasi kerugian dalam Pajak Penghasilan diatur dalam Pasal 6 ayat (2) Undang-undang
Pajak Penghasilan. Adapun beberapa point penting yang perlu diperhatikan dalam hal kompensasi
kerugian ini adalah sebagai berikut :
1. Istilah kerugian merujuk kepada kerugian fiskal bukan kerugian komersial. Kerugian atau
keuntungan fiskal adalah selisih antara penghasilan dan biaya-biaya yang telah
memperhitungkan ketentuan Pajak Penghasilan.
2. Kompensasi kerugian hanya diperkenankan selama lima tahun ke depan secara berturut-turut.
Apabila pada akhir tahun kelima ternyata masih ada kerugian yang tersisa maka sisa kerugian
tersebut tidak dapat lagi dikompensasikan.
3. Kompensai kerugian hanya untuk Wajib Pajak, baik badan maupun orang pribadi, yang
melakukan kegiatan usaha yang penghasilannya tidak dikenakan PPh Final dan perhitungan
Pajak Penghasilannnya tidak menggunakan norma penghitungan. Kerugian usaha di luar
negeri tidak bisa dikompensasikan dengan penghasilan dari dalam negeri.

5. PENYUSUTAN, AMORTISASI DAN REVALUASI AKTIVA


5.1 Penyusutan
Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa yang
diestimasi. Penyusutan perlu dilakukan karena manfaat yang diberikan dan nilai dari aktiva tersebut

11
semakin berkurang. Pengurangan nilai aktiva dibebankan secara bertahap. Untuk menghitung
besarnya penyusutan harta tetap berwujud dibagi menjadi dua golongan yaitu:
1. Harta berwujud yang bukan berupa bangunan; dan
2. Harta berwujud yang berupa bangunan
Harta berwujud yang bukan bangunan terdiri dari empat kelompok, yaitu:
1. Kelompok harta berwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 4 tahun;
2. Kelompok harta berwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 8 tahun;
3. Kelompok harta berwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 16 tahun; dan
4. Kelompok harta berwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 20 tahun.
Harta berwujud yang berupa bangunan dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Permanen : masa manfaat 20 tahun; dan
2. Tidak permanen : bangunan yang bersifat sementara, terbuat dari bahan yang tidak tahan
lama, atau bangunan yang dapat dipindah-pindahkan. Masa manfaatnya tidak lebih dari 10
tahun.
Asset tetap, kecuali tanah, akan makin berkurang kemampuannya untuk memberikan jasa
bersamaan dengan berlakunya waktu. Jumlah yang dapat disusutkan, dialokasikan ke setiap periode
akuntansi selama masa manfaat asset dengan berbagai metode yang sistematis dan diterapkan secara
konsisten atau taat asas, tanpa memandang tingkat profitabilitas perusahaan dan pertimbangan
perpajakan agar dapat menyediakan daya banding hasil afiliasi perusahaan dari periode ke periode,
penyusutan dapat dilakukan dengan berbagai metode yang dapat dikelompokkan menurut akuntansi
komersial.
Metode penyusutan menurut ketentuan peundang-undangan perpajakan sebagaimana telah
diatur dalam pasal 11 UU PPh No. 36 Tahun 2008 menyatakan:
1. Metode garis lurus (straight line method), atau metode saldo menurun (declining balance
method) untuk Aset Tetap Berwujud Bukan Bangunan; dan
2. Metode garis lurus untuk Aset Tetap Berwujud Berupa Bangunan.
UU PPh No. 36 Tahun 2008 Pasal 11 menyatakan kelompok harta berwujud serta tarif
penyusutannya adalah sebagai berikut:

Tarif penyusutan sebagaimana


Kelompok Harta Berwujud Masa Manfaat dimaksud dalam
Ayat 1 Ayat 2
I. Bukan Bangunan
Kelompok 1 4 Tahun 25% 50%
Kelompok 2 8 Tahun 12,5% 25%
Kelompok 3 16 Tahun 6,25% 12,5%
Kelompok 4 20 Tahun 5% 10%
II. Bangunan
Permanen 20 Tahun 5%
Tidak Permanen 10 Tahun 10%

12
5.2 Amortisasi
Pada UU PPh menggunakan istilah harta tak berwujud tidak dengan asset tetapi mempunyai
pengertian yang sama dengan asset dalam SAK. Seperti yang telah dilakukan pada asset tetap
berwujud, nilai asset tetap tah berwujud harus juga dilakukan penyusutan yang disebut juga dengan
Amortisasi.
Pengertian asset tak berwujud adalah asset tak lancar (non-current asset) dan tak berbentuk
yang memberikan hak keekonomian dan hukum kepada pemiliknya dan dalam laporan keuangan
tidak dicakup secara terpisah dalam klasifikasi asset yang lain (PSAK no 19). Termasuk dalam asset
tak berwujud adalah hak paten, Good Will, hak merk. Harta tak berwujud digolongkan menjadi:
1. Kelompok harta tak berwujud yang mempunyai masa manfaat 4 tahun;
2. Kelompok harta tak berwujud yang mempunyai masa manfaat 8 tahun;
3. Kelompok harta tak berwujud yang mempunyai masa manfaat 16 tahun; dan
4. Kelompok harta tak berwujud yang mempunyai masa manfaat 20 tahun.
Metode amortisasi yang dipergunakan adalah metode garis lurus (straight line method) dan
metode saldo menurun (declining balance method). Wajib pajak diperkenankan untuk memilih
salah satu metode untuk melakukan amortisasi.
Dalam menghitung amortisasi asset tetap tidak berwujud terlebih dahulu harus
dikelompokkan sesuai dengan masa manfaatnya. Untuk lebih jelasnya pengelompokkan masa
manfaat dan tarif penyusutan terlihat sebagai berikut:

Tarif Amortisasi Tarif Amortisasi


Kelompok Harta
Masa Manfaat Berdasarkan Metode Berdasarkan Metode
Tak Berwujud
Garis Lurus Saldo Menurun
Kelompok 1 4 Tahun 25% 50%
Kelompok 2 8 Tahun 12,5% 25%
Kelompok 3 16 Tahun 6,25% 12,5%
Kelompok 4 20 Tahun 5% 10%

5.3 Revaluasi Aktiva


a. Revaluasi Aktiva Tetap Berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan
Revaluasi aktiva tetap dalam akuntansi pada umumnya tidak diperkenankan kecuali
ditentukan berdasarkan ketentuan pemerintah, misalnya peraturan pajak. Dalam PSAK 16
disebutkan bahwa penilaian kembali aktiva tetap pada umumnya tidak diperkenankan karena
standar akuntansi keuangan menganut penilaian aktiva berdasarkan harga perolehan atau harga
pertukaran. Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin dilakukan berdasarkan ketentuan
pemerintah. Dalam hal ini laporan keuangan harus menjelaskan mengenai penyimpangan dari
konsep harga perolehan di dalam penyajian aktiva tetap serta pengaruh penyimpangan tersebut

13
terhadap gambaran keuangan perusahaan. Selisih revaluasi dengan buku (nilai tercatat) aktiva tetap
dibukukan dalam akun modal dengan nama selisih penilaian kembali aktiva tetap.
Revaluasi atau pernyataan kembali (restatement) aktiva dan kewajiban menimbulkan
kenaikan atau penurunan ekuitas. Meskipun memenuhi definisi penghasilan dan beban, menurut
konsep pemeliharaan modal tertentu, kenaikan dan penurunan ini tidak dimasukkan dalam laporan
laba rugi. Sebagai alternative pos ini dimasukkan ke dalam ekuitas sebagai penyesuaian
pemeliharaan modal atau cadangan revaluasi.

b. Revaluasi Aktiva Tetap Berdasarkan Undang-Undang Pajak


Berdasarkan Kepmenkeu No.384/KMK.04/1998 tanggal 14 Agustus 1998 dan Surat Edaran
Dirjen. Pajak No. 29/PJ.42/1998, diatur mengenai:
Yang dapat melakukan penilaian kembali aktiva tetap adalah Wajib Pajak Badan dalam negeri
yang telah memenuhi semua kewajiban pajaknya sampai dengan masa pajak terakhir sebelum masa
pajak dilakukannya penilaian kembali. Kewajiban pajak tersebut adalah semua kewajiban dari
Wajib Pajak yang bersangkutan, seperti Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak
Penjualan atas Barang Mewah, dan Pajak Bumi dan Bangunan yang telah terutang sampai dengan
masa pajak sebelum masa pajak dilakukannya penilaian kembali.
Aktiva tetap yang dapat dilakukan penilaian kembali adalah semua aktiva berwujud dalam
bentuk tanah, kelompok bangunan dan bukan bangunan yang tidak dimaksudkan untuk dialihkan
atau dijual (bukan barang dagangan) yang terletak atau berada di Indonesia. Penilaian kembali harus
dilakukan oleh perusahaan penilai atau penilai yang diakui oleh Pemerintah.
Penilaian kembali aktiva tetap dihitung/dilakukan berdasarkan nilai pasar atau nilai wajar
yang berlaku pada saat dilakukannya penilaian kembali. Dalam hal nilai pasar atau nilai wajar yang
ditetapkan oleh perusahaan penilai ternyata tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya, maka
dalam rangka perhitungan pajak. Direktur Jendral Pajak dapat menetapkan kembali nilai pasar atau
nilai wajar aktiva yang bersangkutan.

c. Perlakuan Pajak Atas Selisih Lebih Penilaian Kembali Aktiva


Selisih lebih antara nilai pasar atau nilai wajar dengan nilai buku fiskal aktiva tetap yang
dinilai kembali, terlebih dahulu wajib dikompensasikan dengan kerugian fiskal tahun berjalan. Jika
masih terdapat sisa lebih, dapat dikompensasikan dengan sisa kerugian fiskal tahun-tahun
sebelumnya yang masih dapat dikompensasikan. Atas selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap
setelah dilakukan kompensasi kerugian, dikenakan PPh yang bersifat final sebesar 10%.

6. PENENTUAN HARGA PEROLEHAN

14
Penentuan harga prolehan aktiva tetap sangat penting karena harga perolehan menjadi dasar
untuk menghitung besarnya biaya penyusutan tiap-tiap tahun. Adapun ketentuan sesuai dengan
pasal 10 UU PPh No. 36 Tahun 2008, penentuan harga perolehan aktiva tetap sebagai berikut:
1. Harga perolehan atau harga penjualan dalam hal terjadi jual beli harta yang tidak dipengaruhi
hubungan istimewa adalah jumlah yang sesungguhnya dikeluarkan atau diterima sedangkan
apabila terdapat hubungan istimewa adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima;
2. Nilai perolehan atau nilai penjualan dalam hal terjadi tukar-menukar harta adalah jumlah yang
seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar;
3. Nilai perolehan atau nilai pengalihan hata yang dialihkan dalam rangka likuidasi, penggabungan,
pleburan pemekaran, pemecahan, atau pengmbilalihan usaha adalah jumlah yang seharunya
dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar, kecuali ditetapkan lain oleh Menteri
Keuangan;
4. Dasar penilaian harta yang dialihkan dalam rangka bantuan sumbangan atau hibah:
a. Yang memenuhi syarat sebagai bukan Objek Pajak bagi yang meneima pengalihan, sama
dengan nilai sisa buku dari pihak yang melakukan pengalihan atau nilai yang ditetapkan
Direktur Jenderal Pajak;
b. Yang tidak memenuhi syarat sebagai bukan Objek Pajak bagi yang menerim pengalihan, sama
dengan nilai pasar dan harta tersebut.
5. Dasar penilaian harta yang dialihkan dalam rangka penyetoran modal (inbreng) bagi badan yang
menerima pengalihan, sama dengan nilai pasar dari harta tesebut.

7. PAJAK FINAL
Pajak Penghasilan Final (PPh Final) adalah pajak yang dikenakan dengan tarif dan dasar
pengenaan pajak tertentu atas penghasilan yang diterima atau diperoleh selama tahun berjalan.
Pembayaran, pemotongan atau pemungutan Pajak Penghasilan Final (PPh Final) yang dipotong
pihak lain maupun yang disetor sendiri bukan merupakan pembayaran dimuka atas PPh terutang
akan tetapi merupakan pelunasan PPh terutang atas penghasilan tersebut, sehingga wajib pajak
dianggap telah melakukan pelunasan kewajiban pajaknya.
Dengan demikian maka penghasilan yang telah dikenakan Pajak Penghasilan Final (PPh final)
ini tidak akan dihitung lagi Pajak Penghasilannya pada SPT Tahunan dengan penghasilan lain yang
non final untuk dikenakan tarif progresssif (pasal 17 UU PPh). Namun atas pelunasan pemotongan
atau pembayaran PPh final tersebut juga bukan merupakan kredit pajak pada SPT Tahunan.
Dari penjelasan tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Penghasilan yang dikenakan
Pajak Penghasilan Final (PPh Final) adalah sebagai berikut:
1. Penghasilan yang dikenakan PPh final tidak perlu digabungkan dengan penghasilan lain (yang
non final) dalam penghitungan Pajak Penghasilan pada SPT Tahunan;
15
2. Jumlah PPh Final yang telah dipotong pihak lain ataupun dibayar sendiri tidak dapat
dikreditkan pada SPT Tahunan;
3. Biaya-biaya yang digunakan untuk menghasilkan, menagih dan memelihara penghasilan yang
pengenaan PPh-nya bersifat final tidak dapat dikurangkan.
Beberapa kategori penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan Final (PPh Final) adalah
sebagai berikut:
1. Penghasilan dari transaksi penjualan saham di bursa efek;
2. Penghasilan atas bunga deposito dan tabungan;
3. Penghasilan dari hadiah atas undian;
4. Penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan;
5. Penghasilan dari persewaan tanah dan/atau bangunan;
6. Penghasilan atas bunga atau diskonto obligasi yang diperdagangkan dibursa efek;
7. Penghasilan atas jasa konstruksi;
8. Penghasilan atas perusahaan pelayaran dalam negeri;
9. Penghasilan atas perusahaan pelayaran/penerbangan luar negeri;
10. Penghasilan BUT perwakilan dagang asing di Indonesia;
11. Penghasilan atas selisih lebih revaluasi aktiva tetap;
12. Penghasilan atas penjualan hasil produksi Pertamina;
13. Penghasilan atas bunga simpanan anggota koperasi;
14. Penghasilan perusahaan modal ventura dari transaksi penjualan saham atau pengalihan
penyertaan modal pada perusahaan pasangan usaha;
15. Penghasilan atas diskonto surat perbendaharaan negara;
16. Penghasilan atas transaksi derivatif berupa kontrak berjangka yang diperdagangkan di bursa;
17. Penghasilan atas deviden yang diterima oleh Orang Pribadi dalam negeri.

Tarif PPh Final


No Jenis Penghasilan
Objek Tarif
. /Peraturan
1. Bunga Bunga yang berasal dari 20% x Jumlah
deposito/tabungan deposito/tabungan bank (yang bruto
didirikan di dalam negeri maupun di
luar negeri melalui melalui cabangnya
di Indonesia), termasuk jasa giro dan
diskonto Sertifikat BI.
Dasar Hukum : Termasuk dalam pengertian bunga
- PP No.131 Tahun 2000 adalah manfaat tabungan/deposito
yang diperoleh dari perusahaan
asuransi.
2. Penghasilan dari Panghasilan yang diterima oleh 0.1% x Jumlah
transaksi saham penyelenggara bursa dari transaksi bruto nilai
Dasar Hukum : saham. transaksi
- PP No.41 Tahun 1994 penjualan seluruh
jo PP No.14 tahun 1997 saham Ditambah
0.5% x nilai pasar
saham saat IPO
untuk saham
pendiri
3. Hadiah atas undian Hadiah dengan nama dan bentuik 25% x Jumlah
16
apapun melalui cara undian yang bruto nilai undian
diterima oleh orang pribadi/badan
dalam negeri dan luar negeri.
Dasar Hukum :
- PP No.132 Tahun 2000
4. Penghasilan dari Nilai pengalihan (nilai tertinggi antara 5 % x Nilai
pengalihan hak atas nilai berdasarkan akta pengalihan dan Pengalihan
tanah dan/atau NJOP tanah dan bangunan) yang
bangunan lebih dari Rp.60 Juta
Dasar Hukum :
- PP No.48 Tahun 1994
jo PP No.27 Tahun 1996
jo PP No.79 Tahun 1999
5. Penghasilan dari Jasa perencanaan konstruksi, jasa 26 2/3% x 15% =
persewaan tanah pengawasan konstruksi 4% x jumlah
dan/bangunan bruto*
Dasar Hukum : - PP Persewaan tanah dan/atau bangunan 10% x jumlah
No. 29 Tahun 1996 jo bruto nilai
PP No 5 Tahun 2002 persewaan (baik
yang
menyewakan
adalah WP
Badan/BUT
maupun WP
Orang Pribadi)
6. Penghasilan bunga atau Bunga atau diskonto obligasi yang 15 % x jumlah
diskonto obligasi diperdagangkan di bursa efek bruto (untuk WP
dalam negeri dan
BUT)
Dasar Hukum : 20 % x jumlah
- PP No. 139 Tahun bruto (untuk WP
2000 luar negeri)
atau (berdasarkan
tarif persetujuan
penghindaran
pajak berganda)
7. Imbalan jasa konstruksi Jasa konstruksi oleh kontraktor 2 % x imbalan
pengusaha kecil bruto jasa
pelaksanaan
konstruksi
Dasar Hukum : 4 % x imbalan
- PP No. 140 Tahun bruto jasa
2000 perencanaan
konstruksi dan
jasa pengawasan
konstruksi

17
18