Anda di halaman 1dari 19

PAJAK DIPOTONG ATAU DIPUNGUT PIHAK LAIN

(Withholding Tax)-21, 22, 23, 26

A. Pengertian Withholding Tax System (Pemotongan Pajak Sistem)


Sistem ini merupakan sistem perpajakan dimana pihak ketiga baik Wajib Pajak Orang
Pribadi maupun Wajib Pajak Badan Dalam Negeri diberi kepercayaan oleh peraturan
perundang-undangan untuk melaksanakan kewajiban memotong atau memungut pajak atas
penghasilan yang dibayarkan kepada penerimaan penghasilan. Pihak ketiga tersebut memiliki
peran aktif dalam sistem ini, dan fiskus berperan dalam pemeriksaan pajak, penagihan, maupun
tindakan penyitaan apabila ada indikasi pelanggaran perpajakan, seperti halnya pada self
assessment system. Sistem pajak ini menekankan kepada pemberian kepercayaan pada pihak
ketiga diluar fiskus yaitu, pemberi penghasilan melakukan pemotongan atau memungut pajak
atas penghasilan yang diberikan dengan suatu persentase tertentu dari jumlah pembayaran atau
transaksi yang dilakukannya dengan penerima penghasilan. Jumlah pajak yang dipotong atau
dipungut oleh pihak ketiga tersebut dibayarkan kepada negara melalui penyetoran pajak seperti
pada aktivitas yang dilakukan di self assessment dalam jangka waktu tertentu yang telah
ditetapkan Undang-undang. Nantinya jumlah yang disetorkan ke kas negara itu akan dapat
diperhitungkan kembali oleh Wajib Pajak yang penghasilannya dipotong atau dipungut dengan
melampirkan bukti pemotongan atau pemungutan yang diberikan oleh pihak ketiga saat
transaksi penerimaan penghasilan.

B. Manfaat Withholding Tax System


Withholding Tax System selain memperlancar masuknya dana ke kas Negara tanpa
intervensi fiskus juga dapat menghemat biaya administrasi pemungutan (administrative cost),
seperti pada self assessment, wajib pajak yang dipotong atau dipungut pajaknya secara tidak
terasa telah memenuhi kewajiban perpajakannya.
Manfaat withholding tax system antara lain, dapat menigkatkan kepatuhan secara sukarela
karena pembayar pajak secara tidak langsung telah membayar pajaknya, pengumpulan pajak
secara otomatis bagi pemerintah tanpa mengeluarkan biaya, menigkatkan penerimaan pajak
(optimalisasi perluasan objek pajak), merupakan penerapan prinsip convenience of tax system,
serta meningkatkan penerimaan pajak (optimalisasi perluasan obyek pajak)

1
C. Pajak penghasilan Withholding Tax System
Penerapan withholding tax system di Indonesia seperti yang diatur dalam Undang-undang
Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana yang telah diubah terakhir dengan
Undang-undang Nomor 36 tahun 2008, tidak hanya terbatas atas penghasilan dari pekerjaan
(employment income) seperti gaji dan upah (PPh pasal 21); penghasilan dari modal (passive
income) seperti deviden, bunga, sewa dan royalti (PPh pasal 23 dan 26), tetapi juga diperluas
terhadap penghasilan dari usaha (bussines income). Bahkan, terhadap transaksi yang bukan
penghasilan, seperti pembayaran kepada badan-badan pemerintah dan impor atau kegiatan usaha
dibidang tertentu (PPh pasal 22). Pengaturan atas jenis-jenis penghasilan dan transaksi yang
dikenakan withholding tax tidak seluruhnya diatur oleh Undang-undang PPh, tetapi banyak
didelegasikan kepada Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri Keuangan dan Keputusan
Direktur Jenderal Pajak.

1. PEMOTONG PAJAK

a) Pengertian PPh Pasal 21


Pajak penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh
wajib pajak dalam negeri orang pribadi yang disingkat PPh Pasal 21 adalah pajak atas
penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan
dalam bentuk apapun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan orang
pribadi.
Pemotong PPH Pasal 21 (KEP-545/PJ/2000)
1. Pemberi kerja yang terdiri dari orang pribadi dan badan, baik merupakan pusatmaupun
cabang, perwakilan atau unit yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan dan
prmbayaran lain dengan nama dan bentuk apapun;
2. Bendahara atau pemegang kas pemerintah termasuk bendahara atau pemegang kas pada
Pemerintah pusat;
3. Dana pensiun, badan penyelenggaran jaminan sosial tenaga kerja, dan badan-badan lain
yang membayar uang pensiun dan tunjangan hari tua atau jaminan hari tua;
4. Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta badan yang
membayar;
5. Penyelenggara kegiatan termasuk badan pemerintah, organisasi yang bersifat nasional dan
internasional, perkumpulan, orang pribadi serta lembaga lainnya.

Tidak termasuk sebagai pemberi kerja yang wajib melakukan pemotongan, penyetoran,
dan pelaporan pajak adalah badan atau organisasi internasional yang tidak termasuk subjek

2
pajak penghasilan. Badan atau organisasi internasional yang tidak termasuk subjek pajak
penghasilan diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan RI No. 601/KMK.03/2005.

b) Pengertian PPh Pasal 22


PPh Pasal 22 merupakan pajak yang dipungut oleh bendaharawan pemerintah baik
Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah, instansi atau lembaga pemerintah dan lembaga-
lembaga negara lain, berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan barang; dan badan-badan
tertentu baik badan pemerintah maupun swasta berkenaan dengan kegiatan di bidang impor atau
kegiatan usaha di bidang lain.
PPh Pasal 22 dibayar dalam tahun berjalan melalui pemotongan atau pemungutan oleh
pihak-pihak tertentu. Pemungutan PPh Pasal 22 ada yang bersifat final dan tidak final. Jika
pemungutan PPh pasal 22 bersifat final maka jumlah pajak yang telah dibayar dalam tahun
berjalan tersebut dapat dikreditkan dari total PPh terutang pada akhir tahun saat pengisian Surat
Pemberitahuan Tahunan.
Pemotong Pajak PPh Pasal 22:
1. Bank Devisa dan direktorat jendral bea cukai atas impor barang;
2. Direktorat jendral perbendaharaan, bendahara Pemerintah baik di tingkat pusat maupun
tingkat daerah;
3. BUMN dan BUMD;
4. Bank Indonesia, BULOG, TELKOM, PLN, PPA (Perusahaan Pengelolaan Aset), Pertamina;
5. Badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri, semen, industri kertas, industri
baja dan industri otomotif;
6. Produsen atau importir bahan bakar minyak gas, dan pelumas atas penjualan bahan bakar
minyak, gas, dan pelumas;
7. Industri dan eksportir yang bergerak dalam sektor perhutanan, perkebunan, pertanian dan
perikanan yang ditunjuk oleh Direktur Jendral Pajak;
8. Wajib Pajak Badan yang melakukan penjualan barang yang tergolong sangat mewah.
Sejak tanggal 1 Mei 2001, Bulog tidak lagi ditunjuk sebagai Pemungut PPh 22 atas
penyaluran gula pasir dan tepung terigu (SE-13/PJ.43/2001)

c) Pengertian PPh Pasal 23


Pajak Penghasilan Pasal 23 mengatur mengenai pemotongan pajak atas penghasilan yang
diterima atau diperoleh wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap yang berasal dari
modal, penyertaan modal, penyerahan jasa, atau penyelenggaraan kegiatan, selain yang dipotong
pajak penghasilan pasal 21.

3
Pemotong PPh Pasal 23:
PPh Pasal 23 merupakan salah satu jenis uang muka PPh yang dibayar selama tahun
berjalan oleh Wajib Pajak dalam negeri dan BUT melalui sistem pemotongan oleh pihak lain.
1. Badan Pemerintah;
2. Subyek Pajak Badan dalam negeri;
3. Penyelenggara kegiatan;
4. Bentuk Usaha Tetap (BUT) atau perwakilan perusahaan luar negeri;
5. Orang pribadi sebagai wajib pajak dalam negeri yang ditunjuk oleh Dirjen Pajak, yaitu:
a. Akuntan, arsitek, dokter, notaris, PPAT (kecuali Camat), pengacara, konsultan, yang
melakukan pekerjaan bebas.
b. Orang pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan pembukuan atas
pembayaran berupa sewa.

d) Pengertian PPh Pasal 26


Pajak Penghasilan yang diperoleh wajib pajak luar negeri (orang pribadi maupun badan),
selain bentuk usaha tetap dalam PPh pasal 26 adalah pajak atas penghasilan yang bersumber dari
Indonesia. Penerima penghasilan yang dipotong PPh pasal 26 berdasarkan Keputusan ini adalah
orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari
183 hari dalam jangka waktu 12 bulan serta badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia yang menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap.
Pemotong PPh Pasal 26:
1. Badan Pemerintah;
2. Subjek Pajak dalam Negeri;
3. Penyelenggaran kegiatan;
4. Bentuk Usaha Tetap;
5. Perwakilan perusahaan luar negeri lainnya;
6. Pembeli yang ditunjuk sebagai pemotong PPh Pasal 26.

2. PENERIMA PENGHASILAN YANG DIPOTONG

a) PPh Pasal 21
Orang pribadi dengan status sebagai Subjek Pajak dalam negeri yang menerima atau
memperoleh penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun, sepanjang tidak dikecualikan
dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak, baik itu sebagai pegawai maupun bukan pegawai,
termasuk penerima pensiun. Penerima Penghasilan Bukan Pegawai antara lain meliputi:

4
a. Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari pengacara, akuntan, arsitek,
dokter, konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris;
b. Pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang sinetron, bintang
iklan, sutradara, kru film, foto model, peragawan/peragawati, pemain drama, penari,
pemahat, pelukis, dan seniman lainnya;
c. Olahragawan;
d. Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator;
e. Pengarang, peneliti, dan penerjemah;
f. Pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik komputer dan sistem aplikasinya,
telekomunikasi, elektronika, fotografi, ekonomi, dan sosial serta pemberi jasa kepada suatu
kepanitiaan;
g. Agen iklan;
h. Pengawas atau pengelola proyek;
i. Pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang menjadi perantara;
j. Petugas penjaja barang dagangan;
k. Petugas dinas luar asuransi;
l. Distributor perusahaan multilevel marketing atau kegiatan sejenis lainnya.

b) PPh Pasal 22
Pihak yang dipungut PPh Pasal 22:
1. Mereka yang melakukan kegiatan impor barang;
2. Rekanan yang menerima pembayaran dari Direktorat Jenderal Anggaran, Bendaharawan
Pemerintah Pusat/Daerah, BUMN/BUMD BPPN, dan Bank Indonesia atas penyerahan/
penjualan barang yang pembayarannya berasal dari dana APBN/ APBD;
3. Penyalur atau agen Pertamina;
4. Penyalur atau agen badan usaha selain Pertamina yang bergerak di bidang bahan bakar
minyak jenis premix dan gas;
5. Penyalur dan agen gula pasir dan tepung terigu dari Bulog, serta pembeli lainnya yang
langsung dari Bulog;
6. Penyalur, dealer, agen, dan grosir semen, rokok putih dan rokok kretek, kertas, baja, dan
otomotif, atas penjualan hasil produksinya di dalam negeri.

c) PPh Pasal 23
Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap yang berasal dari modal,pemberian jasa,
atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah dipotong pajak

d) PPh Pasal 26
Wajib Pajak luar negeri dari Indonesia.

3. OBJEK PAJAK

5
a) PPh Pasal 21
Objek Pemotongan
1. Penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai tetap, baik berupa penghasilanyang
bersifat teratur maupun tidak teratur;
2. Penghasilan yang diterima atau diperoleh penerima pensiun secara teratur berupa uang
pensiun atau penghasilan sejenisnya;
3. Penghasilan sehubungan dengan pemutusan hubungan kerja dan penghasilan sehubungan
dengan pensiun yang diterima secara sekaligus;
4. Penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas, berupa upah harian, upah
mingguan, upah satuan, upah borongan atau upah yang dibayarkan secara bulanan;
5. Imbalan kepada bukan pegawai, antara lain berupa honorarium, komisi, fee, dan imbalan
sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan;
6. Imbalan kepada peserta kegiatan antara lain berupa uang saku, uang representasi, uang
rapat, honorarium,hadiah atau penghargaan dengan nama apapun;
7. Penerimaan dalam bentuk natura dan atau kenikmatan lainnya dengan namadan dalam
bentuk apapun.
Bukan Obyek Pemotongan PPh Pasal 21 (KEP-545/PJ/2000)
1. Pembayaran klaim asuransi dari perusahaan asuransi, baik asuransi kesehatan, asuransi
kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, maupun asuransi beasiswa;
2. Imbalan dalam bentuk natura, kecuali : yang diberikan oleh bukan subyek pajak, diberikan
di daerah terpencil, atau diberikan oleh pemerintah;
3. Iuran pensiun yang dibayar pemberi kerja kepada dana pensiun, iuran taspen yang dibayar
pemberi kerja kepada Badan Penyelenggara Taspen, iuran THT/tunjangan hari tua yang
dibayar pemberi kerja kepada dana pensiun, iuran jamsostek yang dibayar pemberi kerja
kepada Badan Penyelenggara Jamsostek. (pengenaan pajaknya akan dilakukan pada saat
penerimaan uang pensiun atau tunjangan hari tua);
4. Kenikmatan berupa pajak yang ditanggung oleh pemberi kerja;
5. Penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan lainnya dengan nama apapun yang
diberikan oleh Pemerintah;
6. Zakat yang diterima oleh orang pribadi yang berhak dari badan atau lembaga amil zakat
yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah.

b) PPh Pasal 22
Obyek Pemotongan PPh 22
1. Impor barang;
2. Pembayaran atas pembelian barang yang dilakukan oleh Direktorat Jendral
Anggaran,Bendaharawan Pemerintah baik di tingkat pusat daerah maupun pusat;
3. Pembayaran atas pembelian barang yang dilakukan Badan Usaha Milik Negara dan Badan
Usaha Milik Daerah;
6
4. Penjualan hasil produksi di dalam negeri yang dilakukan oleh badan usaha yang bergerak di
bidang industri semen, industri semen, industri rokok, industri kertas, industri baja dan
industri otomotif;
5. Penjualan hasil produksi yang dilakukan oleh Pertamina dan badan usaha selain Pertamina
yang bergerak di bidang bahan bakar minyak jenis dan gas;
6. Pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau ekspor industri dan eksportir yang
bergerak dalam sektor perhutanan, perkebunan, pertanian dan perikanan dari pedagang
pengumpul;
7. Penjualan barang yang tergolong sangat mewah.
Bukan Obyek Pemotongan PPh Pasal 22 (254/KMK.03/2001 Jo 392/KMK.03/2001 Jo
236/KMK.03/2003 Jo SE-13/PJ.43/2001)
1. Impor barang atau penyerahan barang di dalam negeri yang berdasarkan Peraturan
Perundang-undangan tidak terutang Pajak Penghasilan;
2. Impor barang yang dibebaskan dari bea masuk, yaitu terdiri dari:
Barang perwakilan negara asing dan pejabatnya yang bertugas di Indonesia
berdasarkan asas timbal balik;
Barang untuk keperluan badan internasional dan pejabatnya yang bertugas di Indonesia
yang dinyatakan sebagai bukan subyek pajak;
Barang untuk musium, kebun binatang, dan tempat sejenis untuk kepentingan umum;
Barang kiriman hadiah untuk keperluan ibadah umum, agama, sosial, dan kebudayaan;
Barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;
Barang untuk keperluan tuna netra dan penyandang cacat lainnya;
Persenjataan, amunisi, perlengkapan militer, suku cadang untuk keperluan pertahanan
dan keamanan Negara;
Barang yang diimpor oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah untuk
kepentingan umum;
Peti mati atau kemasan lain yang berisi jenazah atau abu jenazah;
Buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama;
Barang pindahan;
Barang pribadi penumpang, awak sarana pengangkutan, pelintas batas, barang kiriman
(sampai nilai pabean tertentu);
Barang dan bahan yang dipergunakan untuk menghasilkan barang bagi keperluan
pertahanan dan dan keamanan negara;
Vaksin Polio dalam rangka pelaksanaan program Pekan Imunisasi Nasional (PIN);
Kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau, dan kapal angkutan
penyeberangan, kapal pandu, kapal tunda, kapal penangkap ikan, kapal tongkang, dan
suku cadang serta alat keselamatan pelayaran atau alat keselamatan manusia yang
diimpor dan digunakan oleh Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional atau perusahaan
penangkapan ikan nasional;

7
Pesawat udara dan suku cadang serta alat keselamatan penerbangan atau alat
keselamatan manusia, peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan yang diimpor dan
digunakan oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional;
Kereta api dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan serta
prasarana yang diimpor dan digunakan oleh PT Kereta Api Indonesia;
Peralatan yang digunakan untuk Penyediaan data batas dan photo udara wilayah Negara
Republik Indonesia yang dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia;
3. Impor sementara yang semata-mata untuk diekspor kembali;
4. Pembayaran oleh Bendaharawan Pemerintah (beban APBN/APBD) atas pembelian
barang/jasa yang nilainya paling banyak Rp 1.000.000,00 (tanpa penerbitan SKB);
5. Pembayaran oleh Bendaharawan Pemerintah (beban APBN/APBD) atas pembelian bahan
bakar minyak, listrik, telepon, gas, air PAM, benda-benda pos (tanpa penerbitan SKB);
6. Emas batangan yang diproses untuk menghasilkan barang perhiasan emas untuk tujuan
ekspor;
7. Pembayaran/pencairan dana Jaring Pengaman Sosial (JPS) oleh Kantor Perbendaharaan dan
Kas Negara (tanpa SKB);
8. Impor kembali (re-impor) atas barang-barang yang telah diekspor atau barang yang diimpor
kembali untuk perbaikan, pengerjaan dan pengujian sepanjang memenuhi syarat yang
ditentukan oleh Dirjen Bea dan Cukai;
9. Pembayaran untuk pembelian gabah dan/atau beras oleh BULOG

c) PPh Pasal 23
Obyek Pemotongan PPh 23
1. Deviden, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk deviden dari perusahaan
asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian hasil usaha koperasi;
2. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang;
3. Royalti;
4. Hadiah, penghargaan bonus, dan sejenisnya;
5. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa tanah
dan/atau bangunan; dan
6. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan,
dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong.
Bukan Obyek Pemotongan PPh Pasal 23 (Pasal 23 Undang- Undang Nomor 17 Tahun
2000)
1. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank;
2. Sewa yang dibayar atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha dengan hak opsi
(capital lease);

8
3. Dividen yang dibayarkan atau terutang kepada Perseroan Terbatas (PT), Koperasi, Yayasan
atau sejenisnya, BUMN/BUMD, yang merupakan wajib pajak dalam negeri dari penyertaan
modal pada badan usaha yang didirikan dan berkedudukan di Indonesia, sepanjang :
a. Dividen tersebut berasal dari cadangan laba yang ditahan;
b. Dalam hal penerima dividen adalah perseroan terbatas, BUMN, dan BUMD,
kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% dari
jumlah modal yang disetor dan harus memiliki usaha aktif di luar kepemilikan saham
tersebut;
4. Bunga obligasi yang dibayar atau terutang kepada reksa dana selama 5 tahun pertama sejak
pendirian perusahaan atau pemberian ijin usaha;
5. Sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh Koperasi kepada angotanya; dan
6. Bunga simpanan Koperasi yang tidak melebihi batas tertentu yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan (Rp 240.000,00) yang dibayar oleh Koperasi kepada anggotanya.

d) PPh Pasal 26
Obyek Pemotongan PPh 26
1. Deviden, bunga termasuk premium diskonto, dan imbalan sehubungan dengan jaminan
pengembalian utang, royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan
harta, imbalan sehubungan jasa, pekerjaan dan kegiatan, hadiah dan penghargaan,pensiun
dan pembayaran berkala lainnya, prem, keuntungan karena pembebasan utang;
2. Penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta di indonesia;
3. Premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri;
4. Penjualan atau pengalihan saham antara yang didirikan atau bertempat kedudukan di negara
yang memberikan perlindungan pajak yang mempunyai hubungan istimewa dengan badan
yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia atau Bentuk Usaha tetap di
Indonesia; dan
5. Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha tetap di Indonesia
pajak sebesar 20%, kecuali penghasilan tersebut ditanamkan kembali di Indonesia, yang
ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

4. PENGURANGAN YANG DIPERBOLEHKAN


Pengurangan yang diperbolehkan untuk menghitung Penghasilan Kena Pajak
Pengurangan-pengurangan yang diperobolehkan untuk menghitung Penghasilan Kena Pajak
untuk pegawai tetap:
1. Biaya jabatan sebesar 5% dari penghasilan bruto, maksimum Rp 6.000.000,00 per tahun,
atau Rp 500.000,00 per bulan;

9
2. Iuran yang terkait dengan gaji yang dibayar oleh pegawai ke dana pensiun atau
penyelenggara Tabungan Hari Tua atau Jaminan hari Tua, yang pendiriannya disahkan
Menteri Keuangan, maksimal Rp 2.400.000,00 per tahun, atau Rp 200.000,00 per bulan;
3. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP):
a. Rp 15.840.000,00 (tiga belas juta dua ratus ribu rupiah) untuk diri Wajib Pajak orang
pribadi;
b. Rp 1.320.000,00 (satu juta dua ratus ribu rupiah) tambahan untuk Wajib Pajak yang
kawin;
c. Rp 15.840.000,00 (tiga belas juta dua ratus ribu rupiah) tambahan untuk seorang isteri
yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8 ayat (1);
d. Rp 1.320.000,00 (satu juta dua ratus ribu rupiah) tambahan untuk setiap anggota
keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat,
yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap
keluarga.
Dalam hal karyawati kawin, PTKP yang dikurangkan hanya untuk dirinya sendiri, dan
dalam hal tidak kawin pengurangan PTKP selain untuk dirinya sendiri juga ditambah dengan
PTKP keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat,
yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang.
Untuk pegawai tidak tetap pengurangan yang diperkenankan dalam menghitung
Penghasilan Kena Pajak adalah hanya Penghasilan Tidak Kena Pajak.
Untuk pensiunan pengurangan yang diperbolehkan dikurangkan dalam menghitung Penghasilan
Tidak Kena Pajak adalah:
a. biaya pensiun adalah sebesar 5% dari jumlah pensiun bruto, maksimum Rp 432.000,00 per
tahun atau Rp 36.000,00 per bulan.
b. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).
Untuk pegawai harian, mingguan, pemagang, dan pegawai tidak tetap lainnya
pengurangan yang diperkenankan adalah pengurang sebesar Rp 150.000,00 per hari, dengan
syarat penghasilan dalam satu bulan takwim tidak melebihi Rp 1.320.000,00 dan upahnya tidak
dibayarkan secara bulanan.
Dalam hal penghasilan dalam satu bulan takwim melebihi Rp 1.320.000,00 atau upahnya
dibayarkan secara bulanan, maka PTKP yang dapat dikurangkan adalah PTKP sebenarnya.
Untuk kasus penghasilannya melebihi Rp 1.320.000,00 PTKP yang dikurangkan adalah PTKP
sebenarnya dibagi dengan 360. Untuk kasus yang upahnya dibayar bulanan PTKP yang
dikurangkan PTKP sebenarnya.

10
5. PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK
Penghasilan Tidak Kena Pajak, disingkat PTKP adalah pengurangan terhadap penghasilan
bruto orang pribadi atau perseorangan sebagai wajib pajak dalam negeri dalam menghitung
penghasilan kena pajak yang menjadi objek pajak penghasilan yang harus dibayar wajib pajak di
Indonesia. PTKP diatur dalam pasal 7 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008
tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan. Besarnya PTKP tersebut adalah:
Rp 15.840.000,00 (lima belas juta delapan ratus empat puluh ribu rupiah) untuk diri Wajib
Pajak orang pribadi;
Rp 1.320.000,00 (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah) tambahan untuk Wajib Pajak
yang kawin;
Rp 15.840.000,00 (lima belas juta delapan ratus empat puluh ribu rupiah) tambahan untuk
seorang isteri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami;
Rp 1.320.000,00 (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah) tambahan untuk setiap anggota
keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang
menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap keluarga.
Besaran PTKP menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 ini berlaku mulai 1
Januari 2009.

6. PERHITUNGAN PPh 21, 22, 23, 26


a) PPh Pasal 21
Tarif PPh Orang Pribadi
a. Tarif pasal 17 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagimana diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008, dengan ketentuan sebagai berikut:
Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak
Sampai dengan Rp 50.000.000,00 5%
Diatas Rp 50.000.000,00 s/d Rp 10%
250.000.000,00
Diatas Rp 250.000.000,00 s/d Rp 15%
500.000.000,00
Diatas Rp 500.000.000,00 30%

b. Tarif 5% (lima persen)


c. Tarif 15% (lima belas persen)
d. Tarif khusus

11
Tarif pajak penghasilan pasal 21 yang diterapkan terhadap Wajib Pajak yang tidak
memiliki NPWP menjadi lebih tinggi 20% daripada tarif yang ditetapkan terhadap Wajib Pajak
yang dapat menunjukkan NPWP.

Contoh:
Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 600.000.000,00
PPh yang harus dipotong bagi Wajib Pajak yang memiliki NPWP:
5% x Rp 50.000.000,00 Rp 2.500.000,00
15% x Rp 200.000.000,00 Rp 30.000.000,00
25% x Rp 250.000.000,00 Rp 62.500.000,00
30% x Rp 100.000.000,00 Rp 30.000.000,00
Rp 125.000.000,00
PPh yang harus dipotong bagi Wajib Pajak yang tidak memiliki NPWP:
5% x 120% x Rp 50.000.000,00 Rp 3.000.000,00
15% x 120% x Rp 200.000.000,00 Rp 36.000.000,00
25% x 120% x Rp 250.000.000,00 Rp 75.000.000,00
30% x 120% x Rp 100.000.000,00 Rp 36.000.000,00
Rp 150.000.000,00

Tarif PPh Badan


Mulai tahun pajak 2009, tarif PPh Badan menganut sistem tarif tunggal atau single tax
yaitu 28% dan akan menjadi 25% pada tahun 2010. Jadi berapapun penghasilan kena pajaknya,
tarif yang dikenakan adalah satu yaitu 28% atau 25%. Khusus untuk perusahaan terbuka yang
memenuhi syarat tertentu, tarif PPh Badan nya adalah 5% lebih rendah dari tarif umum.

b) PPh Pasal 22
Besarnya Pungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 ditetapkan sebagai berikut:
1. Atas impor:
1) yang menggunakan Angka Pengenal Impor (APl), sebesar 2,5% (dua setengah persen)
dari nilai impor, kecuali atas impor kedelai, gandum dan tepung terigu sebesar 0,5%
(setengah persen) dari nilai impor;
2) yang tidak menggunakan Angka Pengenal Impor (API), sebesar 7,5% (tujuh setengah
persen) dari nilai impor; dan/atau
3) yang tidak dikuasai, sebesar 7,5% (tujuh setengah persen) dari harga jual lelang;

12
2. Atas pembelian barang yang dilakukan oleh bendahara pemerintah, bendahara pengeluaran,
dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), dikenakan tarif sebesar 1,5% dari harga pembelian
dan tidak final;
3. Atas penjualan bahan bakar minyak, gas, dan pelumas oleh produsen atau importir bahan
bakar minyak, gas dan pelumas adalah sebagai berikut:
1) Bahan Bakar Minyak sebesar:
a. 0,25% (nol koma dua puluh lima persen) dari penjualan tidak termasuk Pajak
Pertambahan Nilai untuk penjualan kepada SPBU Pertamina;
b. 0,3% (nol koma tiga persen) dari penjualan tidak termasuk Pajak Pertambahan
Nilai untuk penjualan kepada SPBU bukan Pertamina dan Non SPBU;
2) Bahan Bakar Gas sebesar 0,3% (nol koma tiga persen) dari penjualan tidak termasuk
Pajak Pertambahan Nilai;
3) Pelumas sebesar 0,3% (nol koma tiga persen) dari penjualan tidak termasuk Pajak
Pertambahan Nilai;
4. Atas penjualan hasil produksi di dalam negeri oleh badan usaha yang bergerak dalam
bidang usaha industri semen, industri kertas, industri baja, dan industri otomotif:
1) penjualan kertas di dalam negeri sebesar 0,1% (nol koma satu persen) dari dasar
pengenaan pajak Pajak Pertambahan Nilai;
2) penjualan semua jenis semen di dalam negeri sebesar 0,25% (nol koma dua puluh lima
persen) dari dasar pengenaan pajak Pajak Pertambahan Nilai;
3) penjualan semua jenis kendaraan bermotor beroda dua atau lebih di dalam negeri
sebesar 0,45% (nol koma empat puluh lima persen) dari dasar pengenaan pajak Pajak
Pertambahan Nilai;
4) penjualan baja di dalam negeri sebesar 0,3% (nol koma tiga persen) dari dasar
pengenaan pajak Pajak Pertambahan Nilai;
5. Atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau ekspor oleh badan usaha industri
atau eksportir yang bergerak dalam sektor kehutanan, perkebunan, pertanian, dan perikanan
yang ditunjuk sebagai pemungut Pajak Penghasilan Pasal 22 dari pedagang pengumpul
sebesar 0,25% (nol koma dua puluh lima persen) dari harga pembelian tidak termasuk Pajak
Pertambahan Nilai.

c) PPh Pasal 23
Dalam ketentuan baru Undang-undang Pajak Penghasilan, struktur tarif PPh pasal 23
adalah:
1. Tarif 15% x Penghasilan Bruto dan bersifat tidak final dikenakan terhadap penghasilan
berupa dividen, bunga, royalti dan hadiah, penghargaan dan bonus selain yang sudah
dipotong PPh Pasal 21;
2. Sebesar 2% (dua persen) dari jumlah bruto atas:

13
a. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa dan
penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta yang telah dikenai Pajak
Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2); dan
b. imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa
konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 21.
Berdasarkan Pasal 23 ayat (1a) Undang-undang Pajak Penghasilan yang baru, Wajib Pajak
yang menerima atau memperoleh penghasilan yang merupakan objek pemotongan PPh Pasal 23
dan tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), maka besarnya tarif pemotongan PPh
Pasal 23 adalah lebih tinggi 100% (seratus persen) daripada tarif PPh Pasal 23 umumnya.

d) PPh Pasal 26

1. Dikenakan PPh Pasal 26 = 20% dari jumlah bruto penghasilan wajib pajak luar negeri
berupa:
1) Dividen;
2) Bunga, termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan jaminan
pengembalian utang;
3) Royalti, sewa, dan imbalan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
4) Imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan;
5) Hadiah dan penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apapun;
6) Pensiun dan pembayaran berkala lainnya;
2. Dikenakan PPh Pasal 26 = 20% dari Perkiraan Penghasilan Netto atas penghasilan wajib
pajak luar negeri berupa:
1) Penghasilan dari penjualan harta di Indonesia;
2) Penghasilan berupa premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi di luar
negeri, yaitu:
a. 20% x 50% x Premi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi di Luar Negeri;
b. 20% x 10% x Premi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi LN oleh
perusahaan asuransi yang berkedudukan di Indonesia;
c. 20% x 5% x Premi yang dibayarkan kepada perusahaan reasuransi LN oleh
perusahaan asuransi yang berkedudukan di Indonesia;
3) Dikenakan PPh Pasal 26 sebesar 20% dari Laba Neto setelah pajak dari suatu BUT di
Indonesia (Branch Profit Tax), kecuali jika ditanamkan kembali di Indonesia;
4) Dalam hal telah dilakukan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda antara Pemerintah
RI dengan negara lain (treaty partner), penghitungan besarnya PPh Pasal 26 didasarkan
pada Tax Treaty tersebut (dibebaskan dari pengenaan PPh Pasal 26 atau dikenakan PPh
Pasal 26 dengan tarif yang lebih rendah).

7. PENGHASILAN YANG DIKENAKAN PPh FINAL


14
a) Pemotong PPh Final:
1. Badan Pemerintah;
2. Subyek Pajak Badan dalam negeri;
3. Penyelenggara kegiatan;
4. Bentuk Usaha Tetap (BUT) atau perwakilan perusahaan luar negeri;
5. Orang pribadi sebagai wajib pajak dalam negeri yang ditunjuk oleh Dirjen Pajak, yaitu:
a. Akuntan, arsitek, dokter, notaris, PPAT (kecuali Camat), pengacara, konsultan, yang
melakukan pekerjaan bebas;
b. Orang pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan pembukuan atas
pembayaran berupa sewa.

b) Jenis-jenis dan Obyek Pemotongan PPh Final:


Pajak Penghasilan atas Bunga, Sewa dan Imbalan Jasa Konsultan dan Jasa Konstruksi yang
diatur dengan Peraturan Pemerintah (PPh Pasal 4 ayat 2)
Pasal 4 ayat 2 Undang-undang Pajak Penghasilan menyebutkan, bahwa:
Atas penghasilan berupa bunga deposito, dan tabungan-tabungan lainnya, penghasilan
dari transaksi saham dan sekuritas lainnya di bursa efek penghasilan dari pengalihan harta
berupa tanah dan atau bangunan serta penghasilan tertentu lainnya, pengenaan pajaknya
diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Penghasilan tertentu sebagaimana dimaksud dalam UU PPh Pasal 4 ayat 2, dikenakan
taruf khusus. Jenis penghasilan tersebut antara lain:
1. Penghasilan berupa bunga deposito/ tabungan, diskonto SBI dan jasa giro (tarif final 20%);
2. Penghasilan dari transaksi penjualan saham, baik saham pendiri maupun bukan saham
pendiri (tarif final 0,1%);
3. Penghasilan dari transaksi penjualan obligasi;
4. Penghasilan dari penyerahan hadiah undian (tarif final 25%);
5. Penghasilan dari sewa tanah dan bangunan (tarif final 10%);
6. Penghasilan dari penyerahan jasa konstruksi;
7. Penghasilan dari pengalihan hak atas tanah/ dan bangunan;
8. Penghasilan dari jasa pelayaran atau penerbangan luar negeri (tarif final 2,64%);
9. Penghasilan dari jasa penerbangan dalam negeri (tarif final 1,8%);
10. Penghasilan dari jasa pelayaran dalam negeri (tarif final 1,2%).
Dikecualikan dari Pemotongan Pajak penghasilan:
1. Bunga dan diskonto yang diterima atau diperoleh bank yang didirikan di Indonesia atau
cabang bank luar negeri di Indonesia;
2. Bunga deposito dan tabungan serta Serifikat Bank Indonesia, sepanjang jumlah deposito
dan tabungan serta Sertifikat Bank Indonesia tersebut tidak melebihi Rp 7.500.000,00 (tujuh
juta lima ratus ribu rupiah) dan bukan merupakan jumlah yang terpecah-pecah;
3. Bunga deposito dan tabungan, serta diskonto SBI yang diterima atau diperoleh dana pensiun
yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan;
4. Bunga tabungan pada bank yang ditunjuk pemerintah dalam rangka pemilikan rumah
sederhana dan sangat sederhana, kaveling siap bangun untuk rumah sederhana dan sangat
15
sederhana, atau rumah susun sederhana sesuai dengan ketentuan yang berlaku, untuk dihuni
sendiri;
5. Bunga deposito dan tabungan, serta diskonto SBI yang diterima atau diperoleh bukan
Subjek Pajak.

8. PENCATATAN AKUNTANSI ATAS PAJAK DIPOTONG/DIPUNGUT


a) PPh Pasal 21
Dalam hal ini perusahaan sebagai pihak pemotong PPh 21, terjadi pemotongan yang telah
dilaksanakan, timbul utang kepada pemerintah sampai dilakukan penyetoran ke kas Negara,
dibuatkan jurnal sebagai berikut:
Pada saat pemotongan (dilakukan saat pembayaran gaji)
Biaya Gaji xxx
Utang PPh Pasal 21 xxx
Kas(gaji yang dibayarkan) xxx
Pada saat menyetor ke kas Negara
Utang PPh Pasal 21 xxx
Kas xxx

b) PPh Pasal 22
PPh pasal 22 adalah pemungutan pajak yang dilakukan oleh pihak ketiga sehubungan
dengan pembayaran atas penyerahan barang, impor barang, dan kegiatan usaha di bidang-bidang
tertentu (seperti penyerahan barang oleh rekanan kepada bendaharawan pemerintah). Jurnal
pencatatan PPh Pasal 22 oleh Importir pada saat barang impor diterima adalah sebagai berikut:
Pembelian xxx
Pajak dibayar dimuka (PPh Pasal 22) xxx
Kas xxx

c) PPh Pasal 23
PPh pasal 23 adalah pemotongan pajak yang dilakukan oleh pihak ketiga sehubungan
dengan penghasilan tertentu (seperti deviden, bunga, royalti, sewa, dan jasa) yang diterima WP
badan dalam negeri dan BUT. Jurnal Pencatatan PPh Pasal 23 oleh pemotong pajak adalah
sebagai berikut:

16
Pada saat pemotongan (dilakukan pada saat pembayaran imbalan jasa)
Beban Jasa xxx
Utang PPh Pasal 23 xxx
Kas xxx

Pada saat penyetoran ke kas Negara


Utang PPh Pasal 23 xxx
Kas xxx

Sedangkan jurnal PPh Pasal 23 oleh penerima imbalan jasa adalah sebagai berikut:
Kas xxx
Pajak dibayar dimuka (PPh Pasal 23) xxx
Pendapatan Jasa xxx

D. Pengaruh Penerapan Withholding Tax System


Withholding Tax System diterapkan karena pemerintah menganggap cara ini adalah cara
termudah untuk mengoptimalkan penerimaan pajak, karena dalam sistem ini Wajib Pajak
diwajibkan untuk memungut dan mengadministrasikan pajaknya pihak lain (Wajib Pajak lain).
Dengan cara ini, pemerintah akan dengan mudah mengumpulkan pajak tanpa memerlukan
upaya dan biaya yang besar. Walaupun akan sedikit kerumitan pada penghitungan, hal ini
disederhanakan dengan penerapan tariff yang sederhana dengan menggunakan prosentase
tertentu saja. Selain itu penggunaan withholding tax system dalam pemotongan pajak
penghasilan telah menguntungkan dari segi efisiensi waktu, akuntabilitas data, biaya, serta
kinerja terhadap diri wajib pajak (WP) dan fiskus.
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa berdasarkan prinsip kemandirian maka
penerimaan negara dari sisi pajak adalah hal yang paling efektif serta memberikan kepastian
yang penuh dalam menyokong anggaran negara. Oleh karena itu, peran serta rakyat dalam
perpajakan sangat penting akan hal ini dan apabila dihubungkan dengan penerimaan pajak,
optimalisasi penerimaan pajak merupakan proses atau cara yang paling mungkin dilakukan
pemerintah untuk meningkatkan dan mengamankan penerimaan negara yang atau menjadi lebih
baik. Selanjutnya demi kelancaran serta suksesnya penerimaan pjak yang tinggi maka
pemerintah perlu menerapkan kebijakan-kebijakan perpajakan.
Selain Indonesia, tentu banyak negara yang menerapkan Withholding Tax System
disebabkan manfaat yang diperoleh. Akan tetapi, terdapat perbedaan antara Withholding Tax
System yang berlaku di Indonesia dan di banyak negara. Di banyak negara, penerapan
Withholding Tax System dibatasi hanya terhadap penghasilan yang dikategorikan sebagai
passive income (seperti: gaji, upah, bunga, royalti, dividen, dan sewa) dan sedikit negara yang
17
menerapkan atas penghasilan dari kegiatan usaha (active income). Apabila ada, hanya diterapkan
atas beberapa jenis penghasilan usaha. Hal ini disebabkan karena pemungutan pajak atas
penghasilan usaha biasanya dilakukan melalui mekanisme angsuran masa yang jumlahnya
dihitung sendiri oleh Wajib Pajak (dalam konteks perpajakan Indonesia, biasa dikenal dengan
nama angsuran masa PPh Pasal 25). Sedangkan di Indonesia, penerapan Withholding Tax System
hampir meluas dikenakan terhadap seluruh penghasilan dari kegiatan usaha seperti yang diatur
dalam PER-70/PJ./2007. Dalam konteks UU PPh, Withholding Tax System ini diperlakukan
sebagai angsuran pembayaran pajak dan sebagai pemungutan pajak final.

Withholding Tax System merupakan cara termudah bagi pemerintah untuk memungut
pajak, tetapi di pihak lain, yaitu pihak Wajib Pajak, Withholding Tax System ini menimbulkan
beban pemenuhan kewajiban perpajakan (cost of compliance) yang tinggi, misalnya beban
administrasi, beban sanksi administrasi kalau terlambat memotong dan/atau menyetorkan, atau
alpa tidak/belum memotong pajaknya pihak lain. Dengan kata lain, dalam Withholding Tax
System ini, Wajib Pajak diwajibkan untuk memungut dan mengadministrasikan pajaknya pihak
lain (Wajib Pajak lain) yang mana kewajiban untuk mengadministrasikan pajaknya pihak lain
tersebut sebenarnya adalah tanggung jawab pemerintah (dalam hal ini wewenang ada pada
Direktorat Jenderal Pajak).

Dalam Withholding Tax System yang berlaku saat ini di Indonesia, Direktorat Jenderal
Pajak memiliki kewenangan penuh dalam menentukan jenis-jenis penghasilan yang merupakan
objek Withholding Tax. Tidak ada pembatasan mengenai jenis-jenis penghasilan yang layak dan
tidak layak dikenakan Withholding Tax. Hal ini tentunya akan memberi keleluasaan bagi
Direktorat Jenderal Pajak untuk terus memperluas pengenaan Withholding Tax ini. Alasannya
adalah karena penerimaan pajak akan mudah terkumpul dan tugas Direktorat Jenderal Pajak
cukup mengawasi saja, dan kalau ada Wajib Pajak tidak menjalankan Withholding Tax System
tersebut dengan benar, maka Direktorat Jenderal Pajak tinggal menerapkan sanksi administrasi,
yang tentunya akan menambah pundi-pundi penerimaan negara. Akan tetapi, bagi Wajib Pajak,
perluasan Withholding Tax ini tentunya menimbulkan cost of compliance yang tinggi, karena
mereka dibebani untuk memungut pajaknya pihak lain yang seharusnya bukan tanggung jawab
mereka untuk memungut dan mengadministrasikannya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini
bermula dari luasnya pendelegasian wewenang yang diberikan oleh UU PPh yang berlaku
sekarang kepada Direktorat Jenderal Pajak untuk menentukan sendiri jenis-jenis penghasilan
yang akan dikenakan Withholding Tax.

Selain itu ada beberapa faktor penghambat penerapan dan pelaksanaan kebijakan
Withholding Tax System baik dari aspek yuridis, aspek SDM, maupun asek moralitas. Misalnya

18
sering terjadi penambahan/ perubahan peraturan perpajakan, baik fiskus dan pihak ketiga
pemotong pajak (Tax Withholder) sangat terbatas, serta kurangnya kesadaran para pihak. Status
kinerja Tax Withholder dan fiskus belum diatur secara spesifik dalam UU Pajak Penghasilan,
sehingga bila terjadi kesalahan dan pelanggaran yang paling dirugikan adalah dari Wajib Pajak
dan akan menanggung akibat hukumnya.
Berdasarkan penjelasan diatas, selain memiliki manfaat yang besar terdapat kekurangan
serta beberapa faktor penghambat dalam penerapan dan pelaksanaan Withholding Tax System.
Oleh karena itu, perlu adanya pembatasan terhadap pengenaan Withholding Tax atas penghasilan
usaha dan kalaupun ada, jenis-jenis penghasilan yang akan dikenakan Withholding tax tersebut
harus dinyatakan dengan jelas dan tegas dalam Undang-undang dan bukan didelegasikan kepada
Direktorat Jenderal Pajak sepenuhnya. Kenapa harus dinyatakan dalam Undang-undang? Hal ini
terkait dengan filosofi dari pajak yang intinya adalah bahwa pajak yang akan dipungut oleh
negara harus berdasarkan kesepakatan antara warga negara dan negara yang dituangkan dalam
Undang-undang. Pasal 23A UUD 1945 juga menyatakan secara tegas bahwa pajak dan pungutan
lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dalam Undang-undang. Sedangkan di
AS dikenal dengan istilah taxation without representation is robbery dan di Inggris dikenal
dengan istilah no taxation without representation. Selain itu, sebagai bentuk penghargaan
kepada Wajib Pajak yang yang telah banyak membantu pemerintah dalam mengumpulkan pajak
melalui sistem Withholding Tax perlu dipertimbangkan adanya pemberian kompensasi, seperti
yang dilakukan di negara bagian Amerika Serikat yang memberikan kompensasi kepada
pemotong/pemungut pajak untuk menutupi biaya yang telah dikeluarkannya dalam rangka
melakukan administrasi pemotongan dan pelaporan pajak.

19