Anda di halaman 1dari 17

BAB II

KERANGKA KONSEPTUAL

2.1. Konsep Dasar Gerakan Perlawanan

Gerakan perlawanan muncul di Indoenesia dilakukan oleh rakyat yang bertujuan menolak
perubahan-perubahan struktural akibat dominasi ekonomi, politik dan kultural dari pemerintah
kolonial. Dominasi itu menimbulkan perlawanan-perlawanan dan pemberontakan agresif yang
termanifestasi dalam gerakan sosial. Gerakan perlawann perlawanan banyak sekali terjadi di
Jawa, karena memang pulau Jawa memeiliki lahan yang cukup subur, sehingga menarik
pemerinah kolonial untuk meguasai dan mengeksploitasinya. Selain itu letak Jawa sangat
strategis dan memiliki kepadatan penduduk yang potensial sebagai sasaran ekploitasi. Praktek
eksploitasi itu dilakukan dengan melibatkan perubahan struktural yang sangat berdampak negatif
terhadap pribumi, akhirnya menimbulkan banyak sikap pelawanan. Dominasi itu juga dilakukan
dengan cara menciptakan kontrol sosial ekonomi, politik kultural masyarakatnya, termasuk
menarik pungutan pajak yang sangat memberatkan. Gerakan perlawanan bukan hanya terjadi di
wilayah pedesaan, melainan pula diperkotaan. Perlawanan masyarakat di perkotaan biasannya
dilakukan oleh para buruh yang mendapatkan perlakuan eksploitatif dari majikannya.

Di bidang politik, terjadi perubahan dari sistem politik tradisional menjadi sistem politik modern.
Pemerintah kolonial mengenalkan dan memaksakan penetrasi sistem administrasi yang berisfat
legal rasional dan mengesampingka elit lokal tradisional. Akibatnya, elit lokal tradisional ini
kehilangan pengaruhnya dalam bidang politik. Kepala desa misalnya, mulai kehilangan pegaruh
politik terhadap masyarakatnya. Bahkan otoritas kepemimpinannya hanya dijadikan alat
kepanjangan tangan kolonial untuk memanfaat sumber daya di wilayahnya. Hal itu menimbulkan
rasa ketersingkiran, yang pada akhirnya menginspirasi untuk menggalang dukungan dan
mengorganisir untuk menciptakan gerakan-gerakan perlawanan.

Bidang sosial ekonomi, penguasa tradisional diletaakkkan pada posisi paling bawah dalam
hirarki sistem eksploitasi ekonomi. Elit lokal yang dahulu mengembangkan sistem ekonomi
tradisional yang berbasis sumber daya lokal digeser menuju sistem yang didominasi ekonomi
perdagangan. Selain itu elit lokal tradisional ini mendapatka pengawasan yang sangat ketat oleh
kelas ekonomi di atasnya, tidak lain adalah kolonial asing. Petani yang dahulu sejahera dengan
ke-subsistensiannya menjadi semakin msikin akibat rendahnya pedapatan ekonomi dari sistem
ekonomi baru itu. Bahkan petani memperoleh tekanan ekonomi dan pajak, kerja wajib yang
diluar batas tenaganya. Pendapatan yang diperoleh tidak seimbang dengan pengeluara kebutuhan
hidup yang harus dipenuhinya. Dalam situasi seperti itu, elit lokal tidak bisa berperan apa pun
untuk melindungi masyarakatnya, bahkan sekali lagi menjadi kepanjagan tangan kolonial asing.
Dominasi berupa kontrol dan tekanan eksploitatif inilah yang turut menjadi penyebab
munculnakan perlawnanya gerakangerakan perlawanan di banyak wilayah di Indonesia.

Mengenai gerakan perlawanan dikenal juga gerakan perlawanan berupa pembanditan sosial.
Pembanditan merupakan gerakan perlawanan secara individual atau sekelompok orang yang
menyerang dan merampok dengan cara kekerasan. Pembanditan biasanya dilakuka oleh orang
atau kelompok orang-orang yang sudah tidak berdaya menghadapi tekanan eksploitasi sosial
ekonomi dan tidak mampu mengambil resiko mengahadapi secara langsung pihak yang
mendominasinya. Pembanditan ini biasa disebut juga perlawanan sehari-hari dalam bentuk
tindakan penipuan dan pencurian.

Di gerakan perlawanan yang biasa terjadi di Indonesia biasanya berskala lokal. Meski demikian
gerakan ini memiliki sifat yang sama-sama agresif dan radikal. Gerakan perlawanan memeiliki
beberapa kategori jika dilihat dari ideologi yang mendasarinya, yaitu nativistik (mengharap
kembalinya masyarakat asli), milleniaristis (mengharapkan akan datangnya zaman keemasan),
messianistis (mengharapkan datang tokoh ratu adil), perang sabi dan revivalisme.

Nativisme menunjukkan ausaha untuk mengembalikan atau memeprtaankan berbagai segi dari
ebudayaan asli. Dalam tradisi daerah masih tersimpan ingatan akan adanya zaman keemasan
pada masa lampauiketika daerah masih menikmati sebuah kebahagiaan. Nativisme ini
merupakan dorongan untuk melawan golongan kolonial yag telah mengacaukan sendi-sendi
tradisi lokal yang sudah lama berjalan. Contohnya, perlawanan Nyai Gumpara yang mempunya
tujuan mengembalikan kesultanan Banten pada 1818. Gerakan Bagus Jedit alias Pandito
Panembaha Syekh yang terjadi di Surakarta pada 1839, Pangeran Suriono Mangkudiningrat yang
menyebar tulisan proapaganda dan menyebarkan jimat pada 1840 dan gerakan Ahmad Daris di
Kedu yang menyebarkan ajaran yang menghapus semua pangkat hirarkis yang akan mengancam
penguasa.

Gerakan Mesianisme dipimpin oleh tokoh yang dipandang oleh masyarakat sebagai imam mahdi
atau ratu adil. Tokoh rat adil mendapat mandat dan dipercaya dapat mendatangkan perubahan
menuju zaman keemasan. Misalnya, peristiwa di Bekasi pada 1869 ketika Bapa Rama berbicara
tentang masa kegelapan. Masa kegelapan itu dikaitka pula dengan perubahan politik ekonomi
dan sosial yang diakibatkan oleh kekuasaan bangsa kolonial barat saat itu.

Terdapat banyak perbedaan dalam memahami konsep ratu adil, biasanya identik dengan
kepercayaan keagamaan. Dalam islam dikenal ratu adil, yaitu Imam mahdi yang kelak di hari
kiamat datang menjadi juru selamat membenahi kerusakan dan membawa kembali kebenaran
dalam Islam. Bahkan dalam islam pun terdapat perbedaan pandangan tentang mahdi ini. Syiah
baik imamiyah maupun Ismailiyah, mempercayai bahwa Mahdi kelak datang bukan dari
golongan mereka. Sementara ada dari kelompok Islam ortodoks meyakini mahdi adalah Isa
Almasih yang diturunkan oleh Allah sebagai seorang penyelamat Islam dan pertanda kiyamat
sudah sangat dekat (Abdurrrahman Wahid, 1997: 64-65). Selain Islam konsep mahdi ini dikenal
pula pada agama-agama lainnya.

Ada satu kesamaan dalam semua konsep yang dikenal Mahdi sebagai penyelamat, yaitu gerakan
perlawanan terhadap kebatilan dan menggantinya dengan kebenaran dan kebahagiaan. Sebagai
mana yang dipercayai oleh masyarakat Jawa tentang mahdiisme, dalam naskah Barandes karya
Jaya Baya yang disusun tahun 1715 apus segala angmengisahkan harapan akan datangnya ratu
adil. Tokoh ratu adil ini kelak akan membawa misi perdamaian dan menghapus segala angkara
murka yang ada di muka bumi. (Sartono, : 172) Tidak lain, apap pun bentuknya, pandagan
mahdiisme ini muncul sebagai akibat dari keresahan sosial yang disebabkan dari banyak sebab
pula yang saling bertian satu sama lain (Sartono: 1973 : 88)

Gerakan perlawanan yang dilandasi mahdiisme ini benyak terjadi di Jawa. Peristiwa Ciomas
misalnya, terjadi pada 1886 yaitu perlawanan rakyat terhadap kolonial Belanda yang dipimpin
oleh Muhammad Idris. Gerakan ini diarah keada para tuan-tuan tanah yang telah menarik
pungutan pajak yang sangat memberatkan karena terlalu besar. Pada 20 Mei 1886 Muhammad
Idris bersama rakyat menyerang suatu upacara para tuan tanah. Saat itu Muhammad Idris
mengemban gelar Panembahan dan satu tokoh lain bernama Arpan menerima peran sebagaia
Imam Mahdi yag menyerukan Jihad. Jelas dalam peristiwa Ciomas ini tidak pembebasan lepas
dari perjuangan pembebasan dari tekanan ekonomi yang dilandasi ideologi agama (Sartono, 1977
: 258).

Perang sabil merupakan konsep yang mengacu pada suatu peperangan yang dilandasi atas
perintah agama untuk menyelamatkan diri dari kerusakan kemanusiaan. Dalam Islam perang
sabil adalah perang yang mempunyai panduan jelas dari wahyu Ilahi dan contoh nyata dari
prilaku Nabi Muhammad SAW. Bukan hanya Islam,. semua agama yang bermuara pada ajaran
Nabi Ibrahim (alaihis-Salam), Yahudi, Kristen dan Islam mempunyai ajaran dengan definisi
konkrit berkaitan dengan perang. Yahudi dengan istilah Yahyeh-War (Perang Tuhan), Kristen
dengan Crusades (Perang Salib) atau Holy-War dan Islam dengan istilah Perang Sabil (Perang fi
Sabilillah). Selain itu dapat kita tambahkan juga bahwa, agama Hindu pun mempunyai ajaran
tentang perang-sucinya sendiri yang tertulis dalam Kitab Mahabrata; Perang Bratayuda;
dimana orang yang membacanya dinilai sebagai kebaktian dalam agama mereka. Singkatnya,
persang sabil adalah perang yang diinspirasi oleh perintah Tuhan untuk melawan kemungkaran
di dunia. Di Nusantara ada beberapa perang yang sering disebut-sebut sebagai perang sabil yaitu:
(1) Perang Aceh 1873-1904. (2) Perang Banjar 1859-1905 dan (3) Perang Darul-Islam
(DI) 1947-1965. Serta dilengkapi dengan contoh Yahyeh War (Yahudi) dan Crusades (Nashrani).
Beberapa gerakan perlawanan yang dipaparkan di atas tidak lain masih dalam koridor perjuangan
rakyat dalam mencegah kerusakan dan segala bentuk penindasan. Sebagaimana yang dilakukan
kaum tani, seringkali sebagai pihak yang melawan ketidakadilan yang terjadi. Suhartono (1995)
menggambarkan bentukbentuk protes petani melalui gerakan perkecuan atau bandit yang dari
sisi masyarakat yang termarjinalkan dianggap sebagai tindakan heroik yang membantu
masyarakat. Karakteristik utama pola perlawanan tipe ini adalah kecu bergerak sendiri dan
daerah jangkauannya masih bersifat lokal. Secara spasial, skala operasional perbanditan lebih
bersifat terbatas dan lokal, dan tidak tampak adanya jaringan (Suhartono, 1995). Alasan dibalik
perlawanan petani dikemukakan melalui tulisan Scott (1993) sebagai respon atas tercerabutnya
prinsip subsistensi yang selama ini menjadi sandaran kehidupan petani. Hubungan patron-klien
yang memudar turut memicu perlawanan petani dan konflik vertikal. 18 Rangkaian kajian
gerakan petani diramaikan oleh tulisan Kartodirdjo (1984) tentang pemberontakan petani di
Banten. Berbagai gerakan petani di hampir semua karesidenan di Jawa memperlihatkan
karakteristik yang sama. Pemberontakan -pemberontakan itu bersifat tradisional, lokal atau
regional, dan berumur pendek7 . Pada dasarnya, pemberontakan petani mengantarkan
pembahasan pada bangkitnya petani melawan tirani kekuasaan yang membelenggu ruang gerak
petani. Pemberontakan juga dimaksudkan untuk mempertahankan nilai-nilai tradisional yang
mulai diintervensi oleh nilai-nilai kapitalisme. Dalam konteks agraria, tulisan Pelzer (1991)
tentang sengketa antara petani dan perkebunan melahirkan bentuk perlawanan yang tidak kalah
menarik dan turut menyumbang deretan perlawanan kaum tani di masa kolonialisme. Memasuki
era baru, perlawanan petani banyak dipicu oleh ketimpangan struktur agraria yang dihasilkan
oleh perbedaan kepentingan para stakeholders terhadap sumber-sumber agraria yang ada.
Tindakan represif pemerintah orde baru menyumbang deretan kasus perlawanan petani. Meski
literatur dan fakta menunjukkan perlawanan petani pernah menjadi alat yang ampuh dalam
melawan pemerintah, namun dalam banyak hal tidak ditemukan sifat perlawanan petani yang
terorganisir dengan baik. Beberapa literatur menunjukkan bahwa kasus perlawanan petani yang
muncul menunjukkan bahwa perlawanan petani tidak serta merta terkait dengan
pengorganisasian petani. Perlawanan petani hanya sebagai simbol protes terhadap kondisi yang
ada tanpa disertai pembentukan organisasi petani sebagai basis massa. Organisasi petani dalam
bentuk yang nyata baru muncul pada periode 1952-1959 ketika muncul Barisan Tani Indonesia
(BTI) yang berafiliasi dengan partai sejenis yaitu pemuda rakyat, SOBSI, Gerwani, Lekra, dan
HSI untuk bersama-sama membangun Partai Komunis Indonesia (PKI) (Mortimer,1974). Barisan
Tani Indonesia sebagai organisasi petani, seperti halnya organisasi lain 7 Sebagai gerakan sosial,
pemberontakan-pemberontakan itu semuanya tidak menunjukkan ciri-ciri modern seperti
organisasi, ideologi-ideologi modern, dan agitasi yang meliputi seluruh negeri. Pemberontakan
lebih bersifat lokal dan tak mempunyai hubungan satu sama lain. Implikasi atas hal tersebut
adalah tidak disusunnya rencana-rencana yang realistis seandainya pemberontakan berhasil.
Ketidakmampuan membangun organisasi juga dipengaruhi oleh tidak terciptanya hubungan
antara pemimpin agama yang saat itu menjadi pemimpin gerakan petani. 19 merupakan alat
kepentingan partai yang saat itu sangat diperlukan. Dalam hal ini kegiatan yang ada dalam BTI
diarahkan pada kepentingan partai. Gambaran organisasi petani dilanjutkan pada kurun waktu
1980-an. Pada masa orde baru, gerakan dan organisasi petani mengalami tantangan yang keras
terkait dengan arah politik pemerintah yang bertujuan mempertahankan status quo. Rezim orde
baru melakukan pendiktean terhadap partai politik sekaligus melakukan penggembosan terhadap
kekuatan dan kemandirian organisasi massa. Aturan tidak tertulis menyatakan bahwa semua
organisasi massa harus berada di bawah pengawasan pemerintah. Khusus untuk petani, semua
organisasi dipaksa digabung dalam Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sebagai upaya
pemerintah menghegemoni kekuatan petani (Firmansyah, dkk. 1999). Pertengahan tahun 1980
mulai bangkit gerakan petani yang ditujukan pada perlawanan. Petani mulai berkenalan dengan
organisasi mahasiswa dan mulai melakukan kegiatan aksi dan demonstrasi. Ciri gerakan pada
masa ini lebih pada kegiatan memobilisasi petani untuk aksi-aksi tertentu yang bersifat insidental
dengan tipe kegiatan demonstrasi. Fenomena tersebut berlanjut pada sekitar tahun 1997-an,
kondisi politik dan moneter Indonesia turut menyumbang lahirnya pengorganisasian di tingkat
petani yang juga dipicu oleh konstelasi politik dan kondisi moneter di Indonesia. Karakteristik
organisasi pada era ini masih spontan dan sporadis tanpa pengorganisasian yang jelas. Aksi dan
demonstrasi baru dilakukan ketika muncul permasalahan yang dihadapi petani. Petani
mengembangkan perlawanan dalam berbagai bentuk dan sesuai dengan karakternya sebagai
petani. Scott (1993) menyatakan bahwa petani dapat melakukan perlawanan sehari-hari atas
kekuasaan yang lebih besar. Dilatarbelakangi adanya suatu konsep dasar tentang peningkatan
bargaining position ketika dihadapkan pada relasi sosial yang lebih kompleks yang menekan
petani, maka perlu ada suatu perlawanan. Definisi Scott tentang perlawanan merujuk pada
perlawanan (resistence) penduduk desa dari kelas yang lebih rendah adalah tiap (semua)
tindakan oleh (para) anggota kelas itu dengan maksud untuk melunakkan atau menolak tuntutan-
tuntutan (misalnya sewa, pajak, penghormatan) yang dikenakan pada kelas itu oleh kelas-kelas
yang lebih atas (misalnya tuan tanah, negara, pemilik mesin, pemberi pinjaman uang) atau untuk
20 mengajukan tuntutan-tuntutannya sendiri (misalnya pekerjaan, lahan, kemurahan hati,
penghargaan) terhadap kelas-kelas atasan (Scott, 1993). Penjelasan definisi tersebut sampai
pada pemahaman bahwa 1) tidak ada keharusan bagi perlawanan untuk mengambil bentuk aksi
bersama. 2) tujuantujuan dibentuk kedalam definisi itu. 3) definisi tentang perlawanan yang
relatif longgar yang dikemukakan Scott membawa pada pengakuan terhadap bentuk perlawanan
simbolis atau ideologis (misalnya gosip, fitnah, penolakan terhadap kategori-kategori yang
dipaksakan, penarikan kembali sikap hormat) sebagai bagian yang terpisahkan dari perlawanan
berdasarkan kelas. Berbagai literatur tentang bentuk perlawanan yang dilancarkan petani tentang
perlawanan dalam definisi Scott misalnya dikemukakan oleh (Heryanto, 2000) tentang
perlawanan dalam kepatuhan sebagai protes petani dalam merespon doktrin ideologi stabilitas
kesatuan negara jaman Soeharto, atau tulisan Samandawai (2001) tentang Mikung, sebuah
komunitas yang menarik diri dari program-program pembangunan dengan cara mendorong
kemandirian di tingkat komunitasnya. Perdebatan tentang definisi perlawanan ini sampai pada
upaya membuat satu garis batas yang jelas antara perlawanan yang bersifat politis dengan
perlawanan sehari-hari. Apabila kedua perspektif ini digabungkan, akan tampak sebuah dikotomi
antara perlawanan sesungguhnya di satu pihak dan tanda-tanda kegiatan yang bersifat
insidental, bahkan epifenomenal. Perlawanan yang sesungguhnya, bersifat 1) terorganisasi,
sistematis, dan kooperatif. 2) berprinsip atau tanpa pamrih, 3) mempunyai akibat-akibat
revolusioner, dan/atau 4) mengandung gagasan atau tujuan yang meniadakan dasar dari dominasi
itu sendiri. Dengan penjelasan di atas, ada kecenderungan untuk menegaskan bahwa perlawanan
yang bersifat politis harus diwujudkan dalam bentuk yang lebih sistematis.
2.2. Gerakan Perlawanan sebagai Gerakan Sosial

Sebagai bentuk aktivisme yang khas, gerakan sosial didefinisikan sebagai sebentuk aksi
kolektif dengan orientasi konfliktual yang jelas terhadap lawan sosial dan politik tertentu,
dilakukan dalam konteks jejaring lintas kelembagaan yang erat oleh aktor-aktor yang diikat
oleh rasa solidaritas dan identitas kolektif yang kuat melebihi bentuk-bentuk ikatan dalam
koalisi dan kampanye bersama (Donatella Della Porta and Mario Diani [2006] Social
Movements and Introduction (second editions), Blackwell Publishing, USA. Ciri lain dalam
gerakan sosial adalah tujuannya yang bukan untuk mencapai kekuasaan, sekalipun dalam
beberapa hal gerakan sosial ditujukan untuk mengganti rezim rezim yang berkuasa. Ini berbeda
dengan gerakan politik yang umumnya ditujukan untuk merebut kekuasaan baik yang
dilakukan dengan cara damai atau lewat kekerasan. Ikatan gerakan sosial adalah pada cita-
citanya tentang perubahan. Selain definisi yang diberikan Diani dan Porta (2006),
McCarthy & Zald (2003) mendefinisikan gerakan sosial sebagai seperangkat opini dan
kepercayaan (opinion and belieft) dalam suatu kelompok masyarakat yang mencerminkan
preferensi bagi perubahan pada sebagian elemen struktur social dan atau distribusi kemanfaatan
dalam tatanan masyarakat yang lebih luas (Mayer N Zald & John D Mc Carthy [2003],
Social Movement in an Organizational Society, Transaction Publishers, New Jersey). Tilly dan
Wood (1999) mendefinisikan sebagai perlawanan yang terus menerus atas nama kelompok
yang dirugikan terhadap pemegang kekuasaan melalui berbagai ragam protes publik, termasuk
tindakan-tindakan di luar jalur partisipasi politik formal yang diatur oleh hukum dan
perundangan, untuk menunjukkan bahwa kelompok tersebut solid, berkomitmen, serta
mewakili jumlah yang signifikan (Charles Tilly, Lesley J. Wood [2009] Social movements,
1768-2008, Paradigm Publishers, USA). Protes ini bisa berlangsung panjang, naik turun,
koalisi tidak harus permanen, dan kadang kala berlangsung ketegangan antar pelaku gerakan
sosial. Namun demikian ikatan sosial politiknya bisa terus berlangsung sampai tujuan gerakan
tercapai.

Dalam definisi tersebut, gerakan sosial tidak hanya melibatkan aksi kolektif terhadap
suatu masalah bersama namun juga dengan jelas mengidentifikasi target aksi tersebut dan
mengartikulasikan dalam konteks sosial maupun politik tertentu. Aksi kolektif bisa berasosiasi
dengan gerakan sosial selama dianggap sebagai perlawanan terhadap perilaku atau legitimasi
aktor politik maupun sosial tertentu dan tidak ditujukan bagi masalah-masalah yang tidak
disebabkan secara langsung oleh manusia. Gerakan sosial tidak dapat direpresentasikan oleh
suatu organisasi tertentu. Oleh karenanya pelaku gerakan sosial tidak tunggal. Gerakan sosial
direpresentasikan oleh cita- cita yang akan diusung, oleh karena itu gerakan sosial memiliki ciri
inklusif, tidak didominasi dan direpresentasikan oleh satu atau dua organisasi. Karena ciri yang
inklusif dimana setiap pihak yang setuju dengan cita-cita gerakan dapat terlibat dalam gerakan,
maka sebuah gerakan sosial sesungguhnya merupakan pertukaran berbagai pihak yang bersedia
bekerja untuk perubahan. Sebagai sebuah proses, gerakan sosial melibatkan pertukaran sumber
daya yang berkesinambungan bagi pencapaian tujuan bersama di antara beragam aktor individu
maupun kelembagaan mandiri. Strategi, koordinasi dan pengaturan peran dalam aksi kolektif
ditentukan dari negosiasi yang terus menerus diantara aktor-aktor yang terlibat diikat oleh
identitas kolektif. Sebagaimana yang disampaikan oleh Habermas, Offe maupun Melucci,
gerakan sosial adalah ruang antara yang menjembatani masyarakat sipil dan negara
(Canel, 1997). Gerakan sosial adalah ruang antara pasifisme publik dengan pembusukan negara
(abuse of power). Dengan sendirinya gerakan social mengambil tanggung jawab public atas
peran-peran yang seharusnya dijalankan oleh negara seperti jaminan keamanan, jaminan
kesejahteraan, partisipasi yang lebih luas dan lain sebagainya. Melalui ruang tersebut gerakan
sosial mampu mempolitisasi civil society tanpa harus mereproduksi kontrol, regulasi, dan
intervensi seperti yang dilakukan oleh negara (E. Canel, New Social Movement Theory and
Resource Mobilization Theory: The Need Integrati, dalam M Kauffman dan HD Alfonso (Ed)
[1997], Community Power and Grassroots Democracy; The Transformation of Social Life, Zed
Book). Dalam pandangan Canel (1997), proses politisasi dalam ruang antara telah
memampukan gerakan sosial untuk menyampaikan pesan mereka kepada masyarakat secara
keseluruhan dan kepada aktor politik di luar MS.

Pengertian umum gerakan sosial adalah tindakan atau agitasi terencana yang dilakukan
yang dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat yang disertai program terencana dan ditujukan
pada suatu perubahan atau sebagai gerakan perlawanan untuk melestarikan pola-pola dan
lembaga masyarakat yang ada. Gerakan sosial umumnya lahir dari situasi yang dianggap tidak
adil sehingga diperlukan sejumlah tindakan untuk merubahnya. Gerakan sosial secara
sederhana dimaknai sebagai gerakan yang lahir dari dan atas prakarsa masyarakat dalam
menuntut perubahan institusi, kebijakan atau struktur kekuasaan. Dalam konteks ini gerakan
sosial memandang bahwa ketiga hal diatas tidak sesuai dengan kehendak mayoritas. Gerakan
sosial merupakan upaya kolektif untuk mengejar kepentingan bersama diluar lingkup lembaga
lembaga yang sudah mapan.

Berkaitan dengan penjelasan di atas, kita dapat menarik kesimpulan mengenai ciri
pokok gerakan sosial dengan membandingkan orientasi pokoknya, pertama, gerakan sosial
melibatkan tantangan kolektif, yakni upaya-upaya terorganisasi untuk mengadakan perubahan
di dalam arasemen-arasemen kelembagaan. Tantangan ini bisa berpusat pada kebijakan publik
atau ditujukan untuk mengawali perubahan yang lebih luas dalam struktur lembaga sosial
politik, kesejahteraan, atau berkaitan dengan hak-hak warga negara. Kedua, gerakan sosial
biasanya memiliki corak politik. Ini terutama berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai oleh
gerakan sosial, yang secara spesifik biasanya berkaitan dengan distribusi kekuasaan. Secara
singkat gerakan sosial memiliki ciri yaitu (1) lahirnya kekerasan atau protes baru dengan
semangat muda yang dibentuk secara independen, (2) bertambahnya jumlah (dan peserta) aksi
protes yang mendukung gerakan dan umumnya berlangsung secara cepat, (3) kebangkitan
opini, (4) seluruh kekuatan ditujukan kepada lembaga sentral (5) gerakan sosial merupakan
usaha untuk melahirkan perubahan struktur pada lembaga-lembaga sentral.

Gidden (1993) menyatakan bahwa gerakan sosial adalah upaya kolektif untuk mengejar
suatu kepentingan bersama; atau gerakan mencapai tujuan bersama melalui tindakan kolektif
(collective action) di luar lingkup lembaga-lembaga yang sudah mapan (Anthony Giddens and

Philip W Sutton [2010] Sociology : Introductory Reading (3rd Edition), Polity Press, UK).
Pengertian yang sama diutarakan Tarrow (1998) yang menempatkan gerakan sosial sebagai
politik perlawanan yang terjadi ketika rakyat biasa, yang bergabung dalam kelompok
masyarakat yang lebih berpengaruh, menggalang kekuatan untuk melawan elit, pemegang
otoritas, dan pihak-pihak lawan lainnya. Ketika perlawanan ini didukung oleh jaringan sosial
yang kuat, dan digaungkan oleh resonansi kultural dan simbol-simbol aksi, maka politik
perlawanan mengarah ke interaksi yang berkelanjutan dengan pihak-pihak lawan, dan
hasilnya adalah gerakan social. Menurut Tarrow (1998), tindakan yang mendasari politik
perlawanan adalah aksi kolektif yang melawan. Tindakan kolektif bisa mengambil banyak
bentuk, yang singkat maupun yang berkelanjutan, terlembagakan ataupun cepat bubar,
membosankan atau dramatis. Umumnya tindakan kolektif berlangsung dalam institusi ketika
orang yang bergabung di dalamnya bertindak untuk mencapai tujuan bersama. Aksi kolektif
memiliki nuansa penentangan ketika aksi itu dilakukan oleh orang-orang yang kurang memiliki
akses ke institusi-institusi untuk mengajukan klaim baru atau klaim yang tidak dapat diterima
oleh pemegang otoritas atau pihak-pihak yang ditentang lainnya. Aksi kolektif yang melawan
merupakan basis dari gerakan social, karena aksi itu seringkali merupakan satu-satunya
sumber daya yang dimiliki oleh orang-orang yang berada diluar struktur (Sidney Tarrow
[1998] Power in Movement: Social Movements, Collective Action, and Politics, 2nd ed.:
Cambridge University Press , Cambridge, UK). Pada dataran teoritis, hal itulah yang telah
melahirkan berbagai teori tentang gerakan social, seperti teori tindakan kolektif (collective
action /behavior), teori nilai tambah (value added), teori mobilisasi sumber daya (resource
mobilization), teori proses politik (political process), dan teori gerakan social baru (new social
movement).

Dalam segala bentuk dan ukurannya, gerakan sosial dapat diklasifikasikan ke dalam tujuh
tipologi gerakan berdasarkan hakekat perubahan yang diinginkan, yaitu 1 : Pertama, Gerakan
sosial yang berbeda menurut bidang perubahan yang diinginkan. Ada yang terbatas tujuannya;
hanya untuk mengubah aspek tertentu kehidupan masyarakat tanpa menyentuh inti struktur
institusinya, gerakan yangn hanya menginginkan perubahan di dalam ketimbang perubahan
masyarakatnya sebagai keseluruhan. Ini disebut gerakan reformasi. Gerakan lain mengupayakan
perubahan yang lebih mendalam yang menyentuh landasan organisasi sosial. Karena landasan
sentral (strategis) institusi yang mereka serang, maka, bila efektif, perubahan akan meluas
melampaui target semula dan akan menghasilkan transformasi masyarakatnya ketimbang
perubahan di dalam masyarakat itu semata. Ini disebut gerakan radikal.
Kedua, Gerakan sosial yang berbeda dalam kualitas perubahan yang diinginkan. Ada gerakan
yang menekankan pada inovasi, berjuang untuk memperkenalkan institusi baru, hukum baru,
bentuk kehidupan baru dan keyakinan baru. Singkatnya, gerakan ini ingin membentuk
masyarakat ke dalam suatu pola yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Orientasi gerakan
ini adalah ke masa depan.
Perubahan diarahkan ke masa depan dan menekankan pada sesuatu yang baru. Ini dapat disebut
gerakan progresif. Perubahan yang diajukan dengan diarahkan ke belakang dan tekanan
diletakkan pada tradisi. Ini disebut gerakan konservatif. Perbedaan antara gerakan progresif dan
konservatif dapat dikaitkan dengan perbedaan haluan politik kiri dan kanan. Gerakan sayap kiri
sering dianggap berorientasi progresif sedangkan gerakan sayap kanan biasanya konservatif.
Ketiga, Gerakan sosial yang berbeda dalam target perubahan yang diinginkan. Ada yang
memusatkan perhatian pada perubahan struktur sosial; ada yang pada perubahan individual.
Gerakan perubahan struktural ada dua bentuk: (a) Gerakan sosial politik yang berupaya
mengubah stratifikasi politik, ekonomi dan kelas. Gerakan ini senantiasa menentang penguasa
negara atas nama rakyat yang mempunyai kekuasaan formal sangat kecil. (b) Gerakan sosio-
kultural yang ditujukan pada aspek yang kurang teraba dari kehidupan sosial, mengusulkan
perubahan keyakinan, nilai, norma, simbol dan pola hidup sehari-hari. Dengan menggabungkan
kriteria target dan kriteria bidang perubahan yang diinginkan, David Aberle mengemukakan
klasifikasi rangkap empat gerakan sosial: (1) Gerakan transformasi yang bertujuan perubahan
total dalam struktur; (2) Gerakan reformasi yang bertujuan perubahan sebagian dalam struktur;
(3) Gerakan penyelamatan yang bertujuan perubahan total individu anggotanya; dan (4) Gerakan
alternatif yang bertujuan perubahan sebagian kepribadian individu anggotanya.

1
Sztompka, Pitr, Sosiologi Perubahan Sosial, Prenada Media, Jakarta, 2005.
Keempat, Gerakan sosial yang berbeda mengenai arah perubahan yang diinginkan. Kebanyakan
gerakan mempunyai arah positif. Gerakan seperti itu mencoba memperkenalkan perubahan
tertentu, membuat perbedaan. Arah positif ini juga dipertahankan ketika gerakan dimobilisasi
untuk mencegah perubahan; baru kemudian arahnya negatif. Kasus khas terjadi ketika gerakan
dimobilisasi untuk merespon perubahan yang dinilai negatif yang timbul segera setelah
kecenderungan sosial umum menimbulkan dampak sampingan yang tak diharapkan.
Kelima, Gerakan sosial yang berbeda dalam strategi yang melandasi atau logika tindakan
mereka. Ada yang mengikuti logika instrumental; gerakan ini berjuang untuk mendapatkan
kekuasaan politik dan dengan kekuatan politik itu memaksakan perubahan yang diinginkan
dalam peraturan hukum, institusi dan organisasi masyarakat. Tujuan utama mereka adalah
kontrol politik. Bila berhasil, gerakan seperti itu berubah menjadi kelompok penekan atau partai
politik. Gerakan lain mengikuti logika pernyataan perasaan (expressive) yang berjuang untuk
menegaskan identitas, untuk mendapatkan pengakuan bagi nilainilai mereka atau pandangan
hidup mereka, untuk mencapai otonomi, persamaan hak, emansipasi politik dan kultural bagi
anggotanya atau untuk mendapatkan pendukung lebih banyak.
Keenam, Perbedaan tipe gerakan sosial yang ditemukan sangat menonjol dalam epos sejarah
berlainan. Ada dua tipe besar gerakan yang berkaitan dengan sejarah modern. Gerakan yang
menonjol di fase awal modernitas memusatkan perhatian pada kepentingan ekonomi; anggotanya
umumnya direkrut dari satu kelas sosial tertentu, organisasinya kaku, desentralisasi. Contoh
klasik seperti gerakan buruh dan petani yang disebut gerakan sosial lama. Dengan
berkembangnya modernitas maka muncul gerakan sosial baru seperti gerakan ekologi,
perdamaian dan feminis. Ada tiga ciri khas gerakan sosial baru, (a) Gerakan ini memusatkan
perhatian pada isu baru, kepentingan baru dan medan konflik sosial baru, (b) Keanggotaannya
tidak dikaitkan dengan kelas khusus tertentu tetapi lebih saling berpotongan dengan pembagian
kelas tradisonal, mengungkap masalah penting yang dihadapi anggota berbagai kelas yang
berlainan, (c) Gerakan sosial baru biasanya mengambil bentuk jaringan hubungan luas dan relatif
longgar ketimbang menggunakan organisasi yang kaku dan hierarkis. Singkatnya, desentralisasi.
Ketujuh, Tiap gerakan menciptakan kondisi untuk memobilisasi gerakan tandingan. Dengan
menganjurkan perubahan, menyerang kepentingan yang sudah mapan, memobilisasi
simbolsimbol dan meningkatkan biaya pihak lain, gerakan menciptakan keluhan dan
menyediakan peluang munculnya upaya gerakan tandingan.
Gejolak sosial menurut Smelser, dinamakan collective behavior, adalah mobilisasi atas
dasar suatu belief, keyakinan, yang mendefinisikan kembali gerakan sosial. Dalam pandangan
Smelser(1962), gejolak sosial dapat terjadi apabila terdapat sejumlah determinan atau necessary
conditions yang berturut-turut terdiri atas hal-hal sebagai berikut: (1) kekondusifan struktural
(structural conduciveness), yaitu kondusif atau tidaknya struktur sosial budaya masyarakat
terhadap gejolak sosial, (2) ketegangan struktural yang timbul, misalnya berupa ancaman atau
deprivasi ekonomi, (3) penyebaran keyakinan yang dianut, (4) faktor pencetus berupa sesuatu
yang dramatik. Krisis keuangan misalnya, dapat diartikan sebagai deprivasi ekonomi yang
melahirkan ketegangan struktural dan dapat pula menjadi faktor pencetus terjadinya gejolak
sosial. Setelak gejolak sosial muncul sebagai akibat berbagai faktor diatas, (5) mobilisasi untuk
mengadakan aksi berkembang menjadi gerakan sosial. Situasi dapat dimulai dengan agitasi
untuk reform. (6) pengorganisasian kontrol sosial yang mencegah, mengganggu, membelokkan,
merintangi gejolak tersebut.

Menurut Gamson (1992), sebuah kerangka aksi kolektif adalah seperangkat keyakinan
dan pemaknaan yang berorientasi pada tindakan, yang memberi aspirasi dan melegitimasi
berbagai kegiatan dan kampanye gerakan sosial. Gamson membedakan tiga komponen
kerangka aksi kolektif (1) rasa ketidakadilan, (2) elemen identitas, dan (3) faktor agensi.
Rasa ketidakadilan muncul dari kegusaran moral yang berhubungan dengan kekecewaan, seperti
ketidakadilan ekonomi, pemberian fasilitas kepada sekelompok orang, dan lain sebagainya.
Kegusaran moral ini seringkali berhubungan dengan ketidaksetaraan yang tidak memiliki
legitimasi yaitu perlakuan yang tidak simbang terhadap individu atau kelompok yang
dipersepsikan sebagai ketidakadilan (Folger, 1986; Major, 1994). Pengindentifikasian mereka
(penguasa, kelompok elite) yang dianggap bertanggungjawab atas sebuah situasi negatif
menyiratkan adanya kita sebagai lawannya. Rasa ketidakadilan atau rasa berindentitas
merupakan kondisi yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam gerakan, tetapi merasakan
ketidakpuasan bersama dan menemukan penguasa yang dapat dipersalahkan semata-mata
tidak cukup dapat mendorong orang untuk melibatkan diri dalam lapangan aksi kolektif.
Individu harus menjadi yakin bahwa mereka memiliki kekuatan untuk mengubah kondisi
mereka.

Salah satu faktor penentu keberhasilan gerakan sosial terletak pada tujuan gerakan social
diterima oleh seluruh aktor gerakan (Gamson, 1996) keberhasilan gerakan sosial terletak pada
bagaimana aktor-aktor gerakan memformulasikan tujuannya sehingga diterima secara luas.
Keberhasilan gerakan sosial diantaranya ditentukan oleh sejauh mana khalayak mempunyai
pandangan yang sama atas suatu isu, musuh bersama atau tujuan bersama. Gerakan sosial bukan
hanya membutuhkan bingkai bagaimana setiap aktor harus bertindak, melainkan juga bingkai
apa yang sedang dihadapi. Keberhasilan dari suatu gerakan sosial tergantung pada bagaimana
keberhasilan kelompok dalam mendefinisikan frame/bingkai atas apa apa yang harus dilakukan
bersama (David A. Snow, 1986). Gamson menyimpulkan bahwa wacana media adalah sumber
informasi penting yang dapat diambil orang ketika mereka mencoba mencari penjelasan atas
isu-isu yang mereka bicarakan.
Gerakan sosial membutuhkan partisipasi yang luas dari para pendukungnya. Menurut
Klandermans (2005) terdapat empat langkah menuju partisipasi dalam gerakan sosial. (1)
potensi mobilisasi. Untuk menciptakan potensi mobilisasi, suatu gerakan harus mendapatkan
simpati dari beberapa kelompok. Seperti yang telah kita ketahui potensi mobilisasi mengacu
kepada para anggota masyarakat, yang secara potensial dapat dimobilisasi dengan suatu cara
tertentu oleh gerakan sosial, termasuk di dalamnya adalah semua orang yang mempunyai sikap
positif terhadap gerakan; tidak terbatas pada kelompok-kelompok yang kepentingannya
dipertahankan atau diwakili oleh gerakan. Bahkan orang-orang yang tidak mendapatkan mafaat
langsung dari gerakan sosial pu dapat bersimpati kepada gerakan, sehingga bisa menjadi calon
potensial untuk dimobilisasi. (2) Jaringan perekrutan dan potensi mobilisasi. Seberapapun besar
potensi mobilisasi sebuah gerakan, bila gerakan tersebut kurang memiliki jaringan perekruitan
untuk aksi, maka gerakan tidak akan efektif. Untuk membentuk dan mengaktifkan jaringan
perekrutan, suatu gerakan harus mampu menyatukan kekuatan dengan organisasi-organisasi lain
dan menjalin hubungan dengan jaringan formal maupun informal yang telah ada, selain itu
gerakan harus mampu mengembangkan organisasinya sendiri baik lokal maupun nasional.
(Wilson dan Orum, 1976; Farree dan Miller, 1985).

Jaringan perekrutan gerakan sosial menentukan upaya-upaya jangkauan mobilisasinya.


Semakin luas jaringan dan semakin erat hubungannya dengan organisasi-organisasi dan
jaringan-jaringan lain, maka semakin banyak pula orang akan berada dalam barisan gerakan
(McAdam & Pulsen, 1993). (3) Motivasi untuk terlibat dalam gerakan. Untuk menstimulasi
motivasi, suatu gerakan harus mempengaruhi keuntungan dan kerugian jika seseorang terlibat
dalam gerakan sosial. Jika keutungan yang diperoleh dalam gerakan sosial lebih besar dari
kerugian, kemungkinan untuk berpartisipasi juga semakin besar. Partisipasi dalam gerakan
sosial berupa keterlibatan kongkret dan spesifik seperti mengikuti rapat umum atau
demonstrasi, menyumbangkan sejumlah uang, bergabung dalam barisan pemogokan, dan lain
sebagainya. Kita tidak dapat mengasumsikan bahwa seseorang yang telah berpartisipasi dalam
sebuah gerakan yang spesifik, kemudian akan ikut berpartisipasi dengan gerakan lain. (4)
Penghalang berpartisipasi. Motivasi menunjukkan kesediaan untuk berpartisipasi, tetapi itu saja
tidak cukup. Kesediaan itu hanya akan berubah menjadi partisipasi sejauh niat itu dapat
dilaksanakan. Tetapi penghalang dapat diatasi bila orang benar-benar termotivasi dalam
gerakan. Dengan demikian seseorang akan berpartisipasi atau tidak tergantung pada bagaimana
cara dia merespon penghalangnya. Jadi gerakan sosial di tahap akhir harus menerapkan salah
satu atau kedua strategi berikut, yaitu (a) mempertahankan atau menguatkan motivasi dan (b)
menyingkirkan penghalang. Kladermans (2005) memberikan gambaran sebagai berikut
mengenai keputusan apakah seseorang akan melibatkan diri (berpartisipasi) dalam gerakan atau
tidak.

Seorang berpartisipasi dalam suatu gerakan berarti terlibat dalam sebuah kegiatan seperti
mogok, demontrasi, menghadiri pertemuan, dan lain sebagainya. Dengan demikian setiap orang
atau kelompok dalam sebuah gerakan dapat mengambil keputusan untuk berpartisipasi terus
atau menghentikan partisipasinya. Model ini mengkombinasikan teori nilai harapan dan teori
aksi kolektif (Klandermans, 2005). Menurut teori nilai harapan , perilaku individu atau
kelompok merupakan fungsi nilai dari hasil yang diharapkan. Semakin besar kemungkinan
suatu perilaku untuk menghasilkan hasil yang spesifik, dan semakin tinggi penilaian terhadap
hasil tersebut, maka kemungkinan besar juga kemungkinan untuk terlibat dalam gerakan sosial.

Dalam gerakan sosial, inti teori aksi kolektif adalah perbedaaan antara insentif
kolektif dan insentif selektif (Oliver, 1980). Insentif kolektif dihubungkan dengan pencapaian
tujuan kolektif. Sebaliknya insentif selektif hanya mempengaruhi orang-orang yang
berpartisipasi dalam suatu aksi kolektif. Untuk melibatkan diri dalam suatu gerakan sosial
membutuhkan ketersediaan insentif kolektif maupun selektif. Hanya sebagian kecil orang yang
mau berpatisipasi hanya untuk alasan mendapatkan insentif selektif semata. Pun, banyak
kelompok atau orang tidak siap untuk berpartisipasi di dalam suatu kegiatan yang tidak
menyediakan apapun selain insentif kolektif, meskipun bersimpati terhadap tujuan gerakan
sosial. Oleh karena itu, sebuah kampanye yang bertujuan meyakinkan orang untuk
berpartisipasi dalam sebuah gerakan sosial tidak hanya menekankan nilai tentang tujuan aksi
tersebut dan mengontrol insentif selektif, kampanye juga harus mampu meyakinkan para aktor
bahwa cukup banyak yang terlibat dalam gerakan sosial. Disinilah relevansi teori Gamson
mengenai framing dimana media memiliki peran dalam menebarkan keyakinan mengenai tujuan
gerakan.

2.3. Gerakan Perlawanan sebagai Aksi Kolektif (Collective Action)

Suatu gerakan perlawanan salalu menuntut adanya perubahan sosial menuju keadaan yang lebih
baik. Gerakan perlawanan ini tentu tidak lepas dari tindakan kolektif massa yang mengalami
dominasi berupa kontrol dan tekanan. Suatu pelawanan tanpa adanya kolektifitas suatu gerakan
tidak memeliki kekuatan yang memadai dalam konteks perubahan yang besar. Perlawanan ini
biasanya berupa protesasi sosial, demonstrasi dan pemberontakan.
Charles Tilly seorang ahli gerakan sosial memilih menyebutnya sebagai aksi sosial dari pada
istilah protes sosial atau yang lainnya. Beberapa konsep yang terakhir itu menurut Tilly,
mencerminkan pendakwaan terhadap maksud dan posisi politik para aktor dari kacamata
pemegang kekuasaan.2
Secara substansial tindakan kolektif sebenarnya tidak berbeda dengan protes sosial. Keduanya
merupakan bentuk tindakan bersama massa untuk menantang (melawan) pemegang kekuasaan.
Sydney Tarrow (1994) misalnya, mendefinisikan tindakan kolektif sebagai perlawanan bersama
oleh rakyat (people) dengan upaya bersama dan solidaritas dalam interaksi yang berlanjut dengan
elite, musuh - musuhnya dan pemegang kekuasaan. Tindakan kolektif bisa hadir dalam bentuk
asosiasi kepentingan, gerakan protes sosial, pemberontakan, pembangkangan, atau revolusi.
Aksi kolektif tersebut dilakukan masyarakat selalu hadir dalam kontradiksi penguasa dan rakyat
yang dikuasai. Represi adalah sumberdaya yang dimiliki oleh penguasa, dan protes atau
perlawanan adalah sumber daya atau senjata milik rakyat (James Scott, 1985). Secara sederhana
tindakan kolektif diawali dengan sekelompok orang ber-kumpul, kemudian melakukan aksi
secara bersama-sama. Setiap tindakan tentu disertai dengan penyebab yang menjadi penentu.
Faktor-faktor penentu tersebut dapat berasal dari aspek psikologis, sosiologis, politis, cultural,
ekonomis dan lainnya atau kombinasi dari beberapa faktor tersebut.
Charles Tilly melalui model mobilisasi dalam tindakan kolektif me-ngatakan yang menentukan
dalam mobilisasi adalah: organisasi, kepentingan, peluang dan ancaman serta kemampuan
kelompok dalam menyikapi represi. Tindakan kolektif yang dilakukan oleh korban Lumpur
merupakan perlawanan terhadap kekuasaan Negara dan Korporasi. Yang keduanya itu saling
berhadap-hadapan dengan kepentingan mereka.3

Sebaliknya, dalam beberapa hal teori konflik Tilly (1978) juga memandang Negara pada
dasarnya sebagai paksaan yang diorganisir. Bagian terpenting dari masyarakat model Tilly adalah
definisinya tentang pemerintah sebagai suatu organisasi yang mengendalaikan sarana-sarana
pemaksaan utama dalam masyarakat. Negara ada dan menjadi ada sebagai alat (pada dasarnya
memaksa) yang dikendalikan kelompok-kelompok anggota dari pemerintahan, kelompok-
kelompok yang mempunyai pemerintahan dalam masyarakat yang bersangkutan.4

Aksi-aksi kolektif terrealisasi dalam bentuk perlawanan terhadap penjajah Barat. Kasus Tindakan
kolektif ini terwujud dalam bentuk aksi pemberontakan kepada pihak yang mendominasi dan
mengekploitasi. Dalam perjalanan sejarah perlawanan berupa aksi-aksi klektif tidak lepas dari
dua aktor penguasan dan yang dikuasai. Seringkali yang dikuasai ini mendapatkan titik temu
kesadarannya akan adanya suatu kondisi yang menunjukkan suatu ketimpangan baik dala sosial
ekonomi, politik dan kultur.

2
Charles Tilly.1978. From Mobilizaion to Revolution. London: Addison-Wesley Publishing
Company
3
Ibid
4
Ibid
Selain sebab yang saling kait-mengait, ada beberapa hal yang menjadi pendorong dan
penginspirasi lahirnya Bayak kasus pemberontakan, terutama kaum tani yang notabene
merupakan mayoritas bangsa Indoesia kala itu. Pemberontakan-pemberontakan kaum tani
mempunyai ciri-ciri ideologis yang ditemukan dalam semua gerakan, di mana pemberontakan itu
umumnya dinyatakan sebagai gerakan juru selamat (mesianisme), gerakan ratu adil
(milenarisme), gerakan kepribumian (nativisme), dan gagasan-gagasan perang suci. Beberapa
kasus pemberontakan petani antara lain peristiwa Cikandi Udik (1845), kasus Bekasi (1868),
kasus Amat Ngisa (1871), pemberontakan Cilegon (1888), kerusuhan Ciomas (1886),
pemberontakan Gedangan (1904) dan pemberontakan Dermajaya (1907).

Beberapa kasus lain berkaitan dengan penggusuran tanah garapan maupun perkampungan rakyat
oleh perkebunan Belanda (onderneming) yang mengantongi hak erfpacht di beberapa daerah di
Jawa Barat mendapat perlawanan. Sejumlah sengketa pecah menjadi konflik terbuka, misalnya
Peristiwa Langen di daerah Banjar, Ciamis (1905), Peristiwa Cisarua dan Koja, Plered (1913-
1914), dan Peristiwa Rawa Lakbok, Ciamis (1930). Di samping gerakan-gerakan yang berdasar
ciri-ciri ideologis di atas terdapat kerusuhan-kerusuhan yang merupakan manifestasi dari protes
petani terhadap kondisi yang menghimpitnya, antara lain dalam bentuk perkecuan, pembunuhan,
pembakaran-pembakaran kebun, pencurian, dan sebagainya. Meskipun kerusuhan tersebut
merupakan resistensi petani terhadap sumber ketidakadilan yang menyengsarakan, tetapi oleh
pemerintah kolonial dianggap sebagai tindakan-tindakan kriminal yang perlu diberantas habis.

Gerakan sosial tersebut merupakan suatu bentuk perilaku kolektif. Gerakan sosial ditandai oleh
adanya tujuan dan kepentingan bersama. Sejumlah ahli sosiologi menekankan pada segi kolektif
dari gerakan sosial ini, sedangkan diantara mereka ada pula yang menambahkan segi
kesengajaan, organisasi dan kesinambungan. Dalam pandangan Jary dan Jary gerakan sosial
didefinisikan sebagai aliansi sejumlah besar orang yang berserikat untuk mendorong ataupun
menghambat suatu segi perubahan sosial dalam suatu masyarakat. 5 Mengingat keanekaragaman
gerakan sosial sangat besar, maka berbagai ahli sosiologi mencoba mengklasifikasikan dengan
menggunakan kriteria tertentu. Kesuksesan sebuah gerakan adalah bagaimana dominasi aktifitas
peran kelompok (group) yang ada dalam gerakan sosial tersebut. Peran kelompok ini hanya
dapat dianalisa melalui pola perilakunya atau perilaku kolektifnya. Berawal dari pola perilaku
kolektif inilah bagaimana perilaku kelompok berkembang menjadi kekuatan perubahan sosial.
Secara garis besar terdapat dua perilaku kelompok yang paling umum untuk diketahui (Sunarto,
2004) yaitu pertama, perilaku kelompok yang cenderung berpedoman pada institusi yang ada
dalam masyarakat, dan yang kedua,perilaku kelompok yang cenderung perilakunya tidak
berpedoman pada institusi yang ada. Dalam tulisan ini yang akan dibahas adalah perilaku
5
Sunarto, Kamanto, Pengantar Sosiologi-Edisi Revisi, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia, Jakarta, 2004.
kelompok kategori kedua, dimana dalam sosiologi dinamakan Collective Behaviour (Perilaku
Kolektif). Perilaku kolektif merupakan perilaku yang pertama, dilakukan bersama sejumlah
orang. Kedua, tidak bersifat rutin dan ketiga, tanggapan terhadap rangsangan tertentu. Intinya,
perilaku kolektif merupakan tindakan bersama sejumlah besar orang. Oleh Light, Keller dan
Calhoun, perilaku kolektif ini dipicu oleh suatu rangsangan yang sama seperti peristiwa, benda
atau ide.6
Dalam tinjauan perspektif sosiologi menurut Smelser, perilaku kolektif ditentukan oleh enam
faktor yang berlangsung secara berurutan dan masingmasing dari keenam faktor ini memberikan
nilai tambah pada faktor yang mendahuluinya sehingga peluang untuk terjadinya perilaku
kolektif semakin besar.7 Faktor yang pertama adalah Structural Conduciveness, yaitu faktor
struktur situasi sosial yang memudahkan terjadinya perilaku kolektif. Sebagian dari faktor ini
merupakan kekuatan alam yang berada di luar kekuasaan manusia, namun sebagian merupakan
faktor yang terkait dengan ada tidaknya pengaturan melalui institusi sosial. Faktor kedua ialah
Structural Strain (ketegangan struktural); semakin besar ketegangan struktural, semakin besar
pula peluang terjadinya perilaku kolektif. Faktor ketiga ialah Growth and Spread of a
Generalized Belief (berkembang dan menyebarnya suatu kepercayaan umum) merupakan
prasyarat berikut bagi terjadinya perilaku kolektif. Faktor keempat terdiri atas faktor yang
mendahului (Precipitating factors). Faktor ini merupakan faktor penunjang kecurigaan dan
kecemasan yang dikandung masyarakat. Faktor kelima ialah mobilisasi peserta untuk melakukan
tindakan. Perilaku kolektif terwujud manakala khalayak dimobilisasikan oleh pimpinannya untuk
bertindak, baik untuk bergerak menjauhi suatu situasi berbahaya ataupun untuk mendekati orang
atau benda yang mereka anggap sebagai sasaran tindakan.Faktor keenam dan terakhir ialah
berlangsungnya pengendalian sosial (The Operation of Social Control). Faktor keenam ini
merupakan kekuatan yang menurut Smelser justru dapat mencegah, mengganggu ataupun
menghambat akumulasi kelima faktor penentu sebelumnya.
Dari penjelasan komprehensif di atas dapat diambil intisari bahwa perubahan sosial benar-benar
terwujud ketika sebuah gerakan sosial sebagai aktor utama yang berperan sebagai agen
transformer mampu mengaktualisasikan, merealisasikan dan merepresentasikan serangkaian
gagasan, keyakinan dan tujuan demi pencapaian perubahan situasi dan kondisi infrastruktur atau
suprastruktur yang diharapkan oleh gerakan sosial tersebut. Mengapa disebut sebagai gerakan
sosial? Karena gerakan ini pertama, melibatkan sekumpulan individu yang memiliki pola pikir,
pola tindak, pola keputusan dan eksekusi yang terintegrasi dalam satu frame arah dan tujuan
pergerakan yang bebas dari ikatan institusi formal dan legal yang terdapat dalam masyarakat.
Frame yang sama dibentuk oleh unifikasi perilaku mereka dalam ruang lingkup aktifitas

6
Ibid
7
Ibid
pergerakan yang disebut sebagai perilaku kolektif. Kedua, karena terdapat unsur perilaku kolektif
sebagai cirikhas gerakan sosial maka terdapat kebersamaan tujuan dan kepentingan jangka
panjang para anggota gerakan, yang berusaha mengubah ataupun mempertahankan masyarakat
atau institusi yang ada di dalamnya. Pada akhirnya gerakan sosial mampu berperan sebagai agen
perubahan karena didukung oleh kapasitas personal individu-individu yang tergabung dalam
gerakan tersebut dalam memobilisasi kapasitas, kemampuan, kebutuhan, sikap dan
kecenderungan potensialnya dalam melakukan berbagai jenis tindakan dalam scope pencapaian
perubahan sosial yang dibangun.