Anda di halaman 1dari 22

FAKTUR PAJAK

Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak
(PKP) yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) atau penyerahan Jasa Kena
Pajak (JKP), atau bukti pungutan pajak karena impor Barang Kena Pajak yang digunakan
oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai.
Faktur Pajak dapat berupa Faktur Pajak Standar, Faktur Pajak Sederhana, atau dokumen
tertentu yang ditetapkan sebagai Faktur Pajak Standardan Faktur Penjualan yang dapat
dipersamakan dengan Faktur Pajak Standar.

Faktur Pajak Standar


Faktur Pajak Standar adalah Faktur Pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak
dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Bentuk dan ukuran Faktur Pajak Standar disesuakan dengan kepentingan PKP.

b. Setiap Faktur Pajak Standar harus menggunakan Kode Faktur Pajak yang diberikan oleh
Kepala KPP kepada Wajib Pajak yang telah dikukuhkan sebagai PKP.

c. Dalam Faktur Pajak Standar harus dicantumkan keterangan tentang penyerahan BKP
atau penyerahan JKP yang paling sedikit memuat :

1) Nama, alamat, NPWP yang menyerahkan BKP atau JKP;

2) Nama, alamat, dan NPWP pembeli BKP atau penerima JKP;

3) Jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau Penggantian, dan potongan harga;

4) PPN yang dipungut;

5) PPn BM yang dipungut;

6) Kode, nomor seri dan tanggal pembuatan Faktur Pajak; dan

7) Nama, jabatan dan tandatangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak.

d. Faktur Pajak Standar paling sedikit dibuat dalam rangkap dua yaitu :

Lembar ke-1 : Untuk Pembeli BKP atau Penerima JKP sebagai bukti Pajak
Masukan.

Lembar ke-2 : Untuk PKP yang menerbitkan Faktur Pajak Standar sebagai bukti
Pajak Keluaran.

Dalam hal Faktur Pajak Standar dibuat lebih dari rangkap dua, maka harus dinyatakan
secara jelas penggunaannya dalam lembar Faktur Pajak yang bersangkutan.

1
e. Dalam hal rincian BKP atau JKP yang diserahkan tidak dapat ditampung dalam satu
Faktur Pajak, maka PKP dapat membuat lebih dari satu Faktur Pajak yang masing-
masing diisi secara lengkap.

f. Sebelum PKP menerbitkan Faktur Pajak Standar diharuskan melaporkan Nomor Seri
Faktur Pajak Standar yang akan digunakan kepada Kepala KPP di tempat PKP
dikukuhkan.

g. Faktur Penjualan yang memuat keterangan dan yang pengisiannya sesuai dengan
ketentuan pada huruf c. di atas dapat dipersamakan sebagai Faktur Pajak Standar.

h. PKP yang menggunakan Faktur Penjualan sebagai Faktur Pajak Standar harus
memberitahukan kepada Kepala KPP di tempat PKP dikukuhkan untuk mendapatkan
Kode Faktur Pajak.

i. Atas Faktur Pajak Standar yang cacat, atau rusak, atau salah dalam pengisian, atau
penulisan, atau yang hilang, PKP yang menerbitkan Faktur Pajak Standar tersebut dapat
membuat Faktur Pajak Standar Pengganti. Tata cara penggantian dan pembetulan Faktur
Pajak Standar dapat dilihat pada Seri PPN 05.

Catatan:
Tata cara penggunaan Faktur Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang mengalami
perubahan NPWP karena Reorganisasi Direktorat Jenderal Pajak:
* PKP masih dapat menggunakan NPWP serta Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak lama
sampai dengan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) baru menerbitkan Surat Pemberitahuan
Perubahan Kode dan Nama KPP;
* PKP wajib melaporkan secara tertulis jumlah Faktur Pajak yang belum digunakan pada
tanggal 1 Mei 2002 kepada KPP yang baru dengan cara melaporkan Nomor Seri Faktur
Pajak yang belum digunakan tersebut, paling lambat tanggal 1 Juni 2002.
* Faktur Pajak yang masih tersisa pada akhir Masa Pajak Desember 2002 harus
dimusnahkan dengan membuat Berita Acara Pemusnahan yang ditandatangani PKP yang
bersangkutan dan dilaporkan kepada KPP yang baru paling lambat tanggal 6 Januari 2003.

Faktur Pajak Sederhana

Faktur Pajak Sederhana adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh PKP untuk
menampung kegiatan penyerahan BKP dan atau JKP yang dilakukan secara langsung kepada
konsumen akhir dan pembeli BKP atau penerima JKP yang tidak diketahui identitasnya.

Pembuatan Faktur Pajak Sederhana harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :

2
a. Bentuk Faktur Pajak Sederhana dapat berupa bon kontan, Faktur Penjualan, segi cash
register, karcis, kuitansi, yang dipakai sebagai tanda bukti penyerahan atau pembayaran
atas penyerahan BKP atau JKP oleh PKP yang bersangkutan.

b. Faktur Pajak Sederhana dibuat sekurang-kurangnya dalam rangkap dua:

Lembar ke-1 : Untuk pembeli BKP/ penerima JKP

Lembar ke-2 : Untuk arsip PKP yang bersangkutan.

Faktur Pajak Sederhana dianggap telah dibuat rangkap dua atau lebih dalam hal Faktur
Pajak Sederhana tersebut dibuat dalam satu lembar yang terdiri dari dua atau lebih bagian
atau potongan yang disediakan untuk disobek atau dipotong, seperti yang terjadi pada karcis

c. Faktur Pajak Sederhana paling sedikit harus memuat :


1 Nama, alamat, dan NPWP yang menyerahkan BKP atau JKP;
)
2 Jenis dan kuantum BKP atau JKP yang diserahkan;
)
3 Jumlah Harga Jual atau Peggantian yang sudah termasuk pajak atau besarnya pajak
) dicantumkan secara terpisah;
4 Tanggal pembuatan Faktur Pajak Sederhana.
)

Faktur Pajak Sederhana yang tidak memenuhi kriteria tersebut, merupakan Faktur Pajak
yang tidak lengkap.

d. Faktur Pajak Sederhana tidak dapat digunakan oleh pembeli BKP atau penerima JKP
sebagai dasar untuk pengkreditan Pajak Masukan.

e. Faktur Pajak Standar yang diisi tidak lengkap bukan merupakan Faktur Pajak Sederhana.

Dokumen Tertentu yang Ditetapkan Sebagai Faktur Pajak Standar


Dokumen tertentu yang diperlakukan sebagai Faktur Pajak Standar paling sedikit harus
memuat :
a. Identitas yang berwenang menerbitkan dokumen;
b Nama dan alamat penerima dokumen;
.
c. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dalam hal penerima dokumen adalah sebagai WP
Dalam Negeri;
d Jumlah satuan barang apabila ada;
.
e. Dasar Pengenaan Pajak;
f. Jumlah pajak yang terutang kecuali dalam hal ekspor.
Dokumen-dokumen tersebut di bawah ini sepanjang memenuhi persyaratan
sebagaimana tersebut di atas diperlakukan sebagai Faktur Pajak Standar, yaitu :
3
a. Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang dilampiri surat setoran pajak dan atau bukti
pungutan pajak oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk impor Barang Kena Pajak;
b Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) yang telah difiat muat oleh pejabat yang
. berwenang dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan dilampiri dengan invoice yang
merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan PEB tersebut;
c. Surat Perintah Penyerahan Barang (SPPB) yang dibuat/ dikeluarkan oleh BULOG/
DOLOG untuk penyaluran tepung terigu;
d Paktur Nota Bon Penyerahan (PNBP) yang dibuat/ dikeluarkan oleh Pertamina untuk
. penyerahan BBM dan atau bukan BBM;
e. Tanda pembayaran atau kuitansi untuk penyerahan jasa telekomunikasi;
f. Ticket, Tagihan Surat Muatan Udara (Airway Bill), atau Delivery Bill, yang dibuat/
dikeluarkan untuk penyerahan jasa angkutan udara dalam negeri;
g Surat Setoran Pajak untuk pembayaran Pajak Pertambahan Nilai atas pemanfaatan BKP
. tidak berwujud atau JKP dari luar Daerah Pabean;
h Nota Penjualan Jasa yang dibuat/ dikeluarkan untuk penyerahan jasa kepelabuhan;
.
i. Tanda pembayaran atau kuitansi listrik.

Saat Pembuatan Faktur Pajak

a. FAKTUR PAJAK STANDAR


Faktur Pajak Standar harus dibuat paling lambat :

- Pada akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan BKP dan atau penyerahan
keseluruhan JKP dalam hal pembayaran diterima setelah bulan penyerahan BKP dan atau
penyerahan keseluruhan JKP, kecual pembayaran terjadi sebelum akhir bulan berikutnya
maka Faktur Pajak Standar harus dibuat paling lambat pada saat penerimaan
permbayaran; atau

- Pada saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum
penyerahan BKP dan atau sebelum penyerahan JKP; atau

- Pada saat pembayaran termijn dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan; atau

- Pada saat PKP rekanan menyampaikan tagihan kepada Pemungut PPN.

b. FAKTUR PAJAK GABUNGAN

Faktur Pajak Gabungan yang merupakan Faktur Pajak Standar harus dibuat paling
lambat pada akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan BKP dan atau JKP

c. FAKTUR PAJAK SEDERHANA

4
Faktur Pajak Sederhana harus dibuat pada saat :

- Penyerahan BKP atau saat penyerahan JKP, atau

- Pada saat pembayaran apabila pembayaran diterima sebelum penyerahan BKP atau JKP.

TATA CARA PENGGANTIAN FAKTUR PAJAK YANG HILANG


Atas Faktur Pajak Standar yang hilang dapat dilakukan penggantian dengan cara
sebagai berikut :
a. PKP Pembeli mengajukan permohonan tertulis kepada PKP Penjual dengan tindasan
kepada KPP setempat dimana PKP Pembeli dan PKP Penjual dikukuhkan sebagai
Pengusaha Kena Pajak.
b. Berdasarkan permohonan dari PKP Pembeli, PKP Penjual membuat copy dari arsip Faktur
Pajak Standar yang disimpan oleh PKP Penjual untuk dilegalisir oleh KPP tempat PKP
Penjual dikukuhkan.Copy dibuat rangkap 2 (dua) yaitu :
- Lembar ke-1 : Diserahkan ke PKP Pembeli melalui PKP Penjual, sebagai pengganti
Faktur Pajak Standar yang hilang.
- Lembar ke-2 : arsip
c. Legalisir diberikan oleh KPP tempat PKP Penjual dikukuhkan setelah meneliti SPT Masa
PPN dari PKP Penjual tersebut.
d. KPP tempat PKP Pembeli dikukuhkan, wajib melakukan penelitian atas SPT Masa PPN
dari PKP Pembeli, apakah Faktur Pajak yang dilaporkan hilang tersebut telah dikreditkan
sebagai Pajak Masukan atau belum.

TATA CARA PEMBETULAN FAKTUR PAJAK STANDAR YANG RUSAK ATAU


CACAT ATAU SALAH DALAM PENGISIAN ATAU SALAH DALAM PENULISAN
- Atas permohonan PKP pembeli Faktur Pajak yang rusak atau cacat atau salah dalam
pengisian atau salah dalam penulisan, PKP Penjual dapat membuat Faktur Pajak Standar
pengganti.
- Pembetulan Faktur Pajak Standar yang rusak atau cacat atau salah dalam pengisian atau
salah dalam penulisan, tidak diperkenankan dengan cara menghapus atau mencoret atau
dengan cara lain, selain dengan cara membuat Faktur Pajak pengganti.
- Penerbitan Faktur Pajak Standar pengganti dilaksanakan seperti halnya pembuatan
Faktur Pajak Standar biasa.
- Faktur Pajak Standar pengganti diisi berdasarkan keterangan yang seharusnya dan
dilampiri dengan Faktur Pajak Standar yang rusak atau cacat atau salah dalam pengisian
atau salah dalam penulisan tersebut.
- Pada Faktur Pajak Standar pengganti dibubuhkan cap yang mencantumkan Nomor Seri,
Kode dan tanggal Faktur Pajak Standar yang diganti tersebut.
- Faktur Pajak Standar pengganti dilaporkan dalam SPT Masa PPN pada Masa Pajak yang
sama dengan Masa Pajak dilaporkannya Faktur Pajak Standar yang diganti.
- Penerbitan Faktur Pajak Standar pengganti mengakibatkan adanya kewajiban untuk
membetulkan SPT Masa PPN pada Masa Pajak terjadinya kesalahan pembuatan Faktur
Pajak tersebut.

5
TATA CARA PEMBETULAN FAKTUR PAJAK STANDAR SEHUBUNGAN
DENGAN PEMBAYARAN DALAM MATA UANG ASING OLEH PEMUNGUT PPN
- PKP Rekanan wajib membuat Faktur Pajak Standar pada saat melakukan penagihan
kepada Pemungut PPN dengan menggunakan kurs yang berlaku menurut SK. Menkeu
pada saat pembuatan Faktur Pajak.
- Besarnya PPN yang terutang harus dikonversi kedalam mata uang Rupiah dengan
menggunakan kurs yang berlaku menurut SK. Menkeu pada saat dilakukan pembayaran
oleh Pemungut PPN.
- Dalam hal kurs pada saat pembuatan Faktur Pajak berbeda dengan kurs yang berlaku
pada saat pembayaran, maka Pemungut PPN dapat membetulkan Faktur Pajak Standar
yang telah diajukan oleh PKP Rekanan dengan menyesuaikan jumlah uang, baik Dasar
Pengenaan Pajak maupun PPN dan PPn BM yang terutang dengan mencoret angka yang
akan diperbaiki dan mencantumkan angka yang seharusnya serta membubuhkan paraf
disamping angka yang diperbaiki tersebut ( tidak boleh dihapus atau ditip-ex)

LARANGAN MEMBUAT FAKTUR PAJAK

Orang Pribadi atau Badan yang tidak dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dilarang
membuat Faktur Pajak.

CONTOH FAKTUR PAJAK

FAKTUR PAJAK STANDAR


Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak: XXXXX-052
Pengusaha Kena Pajak
Nama : PT ABC
Alamat : Jalan D No. 1
NPWP : 01.XXX.XXX.X 052.000
Tanggal Pengukuhan PKP : 1 April 2001
Pembeli Barang Kena Pajak/Penerima Jasa Kena Pajak
Nama : PT XYZ
Alamat : Jalan W No. 2
NPWP : 01.XXX.XXX.X 021.001
No. Nama Barang Kena Pajak/ Harga
Urut Jasa Kena Pajak Jual/Penggantian/Uang
Muka/Termijn

6
Valas *) Rp.
1. Uang Muka atas pembelian 100 unit barang 2.000.000,00
G
Harga Jual/Penggantian/Uang Muka/Termijn 2.000.000,00
Dikurangi Potongan
Harga
Dikurangi Uang Muka yang telah diterima
Dasar Pengenaan Pajak 2.000.000,00
PPN = 10% x Dasar Pengenaan Pajak 200.000,00

Pajak Penjualan Atas Barang Mewah


Tarif DPP PPn BM Jakarta, 5 April 2001
% Rp................ Rp.....
% Rp................ Rp.....
% Rp................ Rp..... Amir
% Rp................ Rp..... ---------------
Direktur
Jumlah Rp.....

Catatan:
Kurs: Rp................../.................

*) Diisi apabila penyerahan menggunakan mata uang asing


**) Coret yang tidak perlu

NOTA RETUR

A. PENGEMBALIAN BARANG KENA PAJAK DAN PEMBUATAN NOTA RETUR

1. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) atas
penyerahan Barang Kena Pajakyang dikembalikan (retur), dapat dikurangkan dari PPN
dan PpnBM yang terutang dalam masa pajak yang sama.

2. Dalam hal terjadi pengembalian Barang Kena Pajak, maka pembeli harus membuat dan
menyampaikan Nota Retur kepada PKP penjual, kecuali diganti dengan BKP yang
jenisnya, tipenya, jumlahnya dan harganya sama.

3. Nota Retur sekurang-kurangnya harus mencantumkan :

a. Nomor urut;

7
b. Nomor dan tanggal Faktur Pajak dari BKP yang dikembalikan;

c. Nama, alamat, dan NPWP pembeli;

d. Nama, alamat, NPWP, yang menerbitkan Faktur Pajak;

e. Jenis barang dan harga jual BKP yang dikembalikan;

f. PPN atas BKP yang dikembalikan;

g. PPn BM atas BKP yang tergolong mewah yang dikembalikan;

h. Tanggal pembuatan Nota Retur;

i. Tanda tangan pembeli.

4. Dalam hal Nota Retur tidak selengkapnya mencantumkan keterangan sebagaimana


dimaksud pada butir 2 di atas maka tidak dapat diperlakukan sebagai Nota Retur
sehingga tidak dapat mengurangi Pajak Keluaran bagi penjual atau Pajak Masukan, atau
harta, atau biaya bagi pembeli.

5. Nota Retur dibuat sekurang-kurangnya dalam rangkap 2 (dua) :

- lembar ke-1 : untuk PKP penjual


- lembar ke-2 : untuk arsip pembeli

6. Nota Retur harus dibuat dalam Masa Pajak yang sama dengan Masa Pajak terjadinya
pengembalian BKP.

7. Bentuk dan ukuran Nota Retur dapat disesuaikan dengan kebutuhan administrasi
pembeli.

B. PENGEMBALIAN BARANG KENA PAJAK YANG TIDAK DIBUATKAN NOTA


RETUR

Dalam hal pengembalian Barang Kana Pajak terjadi masih dalam Masa Pajak yang
sama dengan terjadinya penyerahan Barang Kena Pajak tersebut, tidak harus ditatausahakan
sebagai pengembalian BKP, melainkan dapat ditatausahakan sebagai pembatalan atau
perbaikan atas penyerahan berikut Faktur Pajak yang bersangkutan.Dengan demikian tidak
perlu dibuatkan Nota Retur.

8
C. PELAPORAN NOTA RETUR DALAM SPT MASA PPN

Nota Retur yang dibuat oleh pembeli dan yang diterima oleh PKP penjual harus
dilaporkan dalam SPT Masa PPN, agar dapat mengurangi PPN/ PPn BM yang telah
dilaporkan dalam SPT Masa PPN sebelumnya.

1. Pengurangan PPN dan PPN BM oleh PKP penjual dilakukan dalam Masa Pajak yang
sama dengan Masa Pajak dibuatnya Nota Retur.

2. Dalam hal Nota Retur belum dapat diperhitungkan dalam Masa Pajak yang sama dengan
Masa Pajak dibuatnya Nota Retur, maka Nota Retur dapat diperhitungkan oleh PKP
penjual dalam Masa Pajak diterimanya Nota Retur tersebut.

3. Pengurangan PPN dan PPn BM, harta, atau pengurangan biaya oleh pembeli dilakukan
dalam Masa Pajak dibuatnya Nota Retur.

D. NOTA RETUR MENGURANGI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI/ HARTA/ BIAYA

Pajak Pertambahan Nilai atas penyerahan Barang Kena Pajak yang dikembalikan oleh
pembeli mengurangi :

1. Pajak Keluaran bagi Pengusaha Kena Pajak penjual, sepanjang Faktur Pajak (Faktur
Pajak Standar atau Faktur Pajak Sederhana) atas penyerahan Barang Kena Pajak tersebut
telah dilaporkan dalam SPT Masa PPN.

2. Pajak Masukan bagi Pengusaha Kena Pajak pembeli, sepanjang Pajak Masukannya dapat
dikreditkan dan telah dilaporkan dalam SPT Masa PPN.

3. Harta atau biaya bagi Pengusaha Kena Pajak pembeli, dalam hal Pajak Masukannya
tidak dapat dikreditkan dan telah dikapitalisasi atau telah dibebankan sebagai biaya.

4. Harta atau biaya bagi pembeli yang bukan Pengusaha Kena Pajak.

9
E. NOTA RETUR MENGURANGI PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH/
HARTA / BIAYA

Pajak Penjualan Atas Barang Mewah atas penyerahan Barang Kena Pajak Yang
Tergolong Mewah yang dikembalikan oleh pembeli mengurangi :

1. Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang terutang oleh Pengusaha Kena Pajak yang
menghasilkan dan menyerahkan Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah, sepanjang
Faktur Pajak atas penyerahan Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah tersebut telah
tercantum dalam Faktur Pajak Standar dan telah dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan
Masa PPN.

2. Harta atau biaya bagi Pengusaha Kena Pajak yang bertindak sebagai pembeli.

3. Harta atau biaya bagi pembeli yang bukan Pengusaha Kena Pajak.

NOTA RETUR

Dalam dunia perdagangan, sering terjadi barang yang sudah dijual dikembalikan oleh
pembelinya. Jika atas penjualan barang tersebut sebelumnya sudah dipungut PPN oleh
Pengusaha Kena Pajak (PKP) Penjual, maka sudah semestinya Pajak Keluaran yang sudah
dipungut penjual dan Pajak Masukan yang sudah dikreditkan oleh PKP Pembeli atau PPN
yang sudah dibiayakan oleh pembeli dilakukan koreksi. Inilah esensi dari ketentuan Pasal 5A
Undang-undang PPN 1984 yang peraturan pelaksanaannya adalah Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 65/PMK.03/2010 tentang Tata Cara Pengurangan Pajak Pertambahan Nilai
Atau Pajak Pertambahan Nilai Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah Atas Barang Kena
Pajak Yang Dikembalikan Dan Pajak Pertambahan Nilai Atas Jasa Kena Pajak Yang
Dibatalkan.
Prinsip dasar dari pengembalian atau retur Barang Kena Pajak ini adalah seperti
ditegaskan dalam Pasal 5A Ayat (1) UU PPN 1984, yaitu bahwa PPN atau PPN dan PPnBM

10
atas penyerahan Barang Kena Pajak yang dikembalikan dapat dikurangkan dari PPN atau
PPN dan PPnBM yang terutang dalam Masa Pajak terjadinya pengembalian Barang Kena
Pajak tersebut. Adapun ketentuan pelaksanaannya adalah Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 65/PMK.03/2010 tanggal 18 Maret 2010.

Nota Retur

Retur merupakan bagian dari mekanisme PPN, retur (pengembalian) dapat saja terjadi
pada penyerahan baik BKP atau pun JKP selain itu retur dapat atas semua barang atau
sebagian barang. Beberapa alasan terjadinya pengembalian Barang Kena Pajak (BKP)
diantaranya adalah karena BKP tersebut :

1. Tidak sesuai dengan standar atau pesanan yang telah disepakati antara penjual dan
pembeli.

2. BKP mengalami kerusakan atau cacat.

3. Batal penjualan atau kepentingan lain yang mengakibatkan barang dikembalikan


kepada Perusahaan.

4. dll

Retur dilakukan oleh pembeli, sementara pengakuan adanya retur bisa di pembeli bisa di
penjual. Jika di pihak penjual maka disebut retur penjualan dan sebaliknya jika di pihak
pembeli disebut retur pembelian. Perlakuan retur menurut akuntansi adalah mengurangi. Jika
retur penjualan maka akan mengurangi penjualan. Dan jika retur pembelian maka akan
mengurangi pembelian.

Untuk nota retur mengatur antara lain :

1. Nota retur wajib dibuat oleh pembeli pada saat barang dikembalikan

2. Nota Retur paling sedikit harus memuat nomor urut nota retur; nomor, kode seri, dan
tanggal Faktur Pajak dari Barang Kena Pajak yang dikembalikan; nama, alamat, dan
Nomor Pokok Wajib Pajak Pembeli; nama, alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak
Pengusaha Kena Pajak Penjual: jenis barang, jumlah harga jual Barang Kena Pajak
yang dikembalikan; Pajak Pertambahan Nilai atas Barang Kena Pajak yang
dikembalikan, atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
atas Barang Kena Pajak yang tergolong mewah yang dikembalikan; tanggal
pembuatan nota retur; dan nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani nota
retur.

3. Nota retur dibuat rangkap dua, namun jika pembeli bukan PKP maka nota retur dibuat
rangkap 3 sebagai pelaporan pembeli ke KPP terdaftar.

4. Retur dianggap tidak terjadi jika nota retur tidak selengkapnya keterangan
sebagaiaman yang diisyaratkan, nota retur tidak dibuat pada saat barang
dikembalikan, nota retur tidak dilaporkan ke KPP dimana pembeli terdaftar jika
pembeli bukan PKP, dan ada penggantian barang yang diretur oleh penjual.

11
Nota Pembatalan

Bagi PKP yang produknya berupa jasa maka disebut Pembatalan. Menurut Peraturan
Menteri Keuangan No. 65/PMK.03/2010pembatalan adalah pembatalan seluruhnya atau
sebagian hak atau fasilitas atau kemudahan oleh pihak penerima Jasa Kena Pajak.
Mekanismenya sama dengan Retur yaitu Pengguna Jasa membuat Nota Pembatalan.

Sedangkan untuk nota pembatalan jasa kena pajak diatur antara lain sebagai berikut :

1. Nota pembatalan harus dibuat oleh pengguna jasa kena pajak pada saat jasa kena
pajak dibatalkan baik sebagian atau seluruhnya.

2. Nota pembatalan paling sedikit harus mencatumkan nomor urut nota retur; nomor,
kode seri, dan tanggal Faktur Pajak dari Barang Kena Pajak yang dikembalikan;
nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak Pembeli; nama, alamat, Nomor Pokok
Wajib Pajak Pengusaha Kena Pajak Penjual; jenis barang, jumlah harga jual Barang
Kena Pajak yang dikembalikan; Pajak Pertambahan Nilai atas Barang Kena Pajak
yang dikembalikan, atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah atas Barang Kena Pajak yang tergolong mewah yang dikembalikan; tanggal
pembuatan nota retur; dan nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani nota
retur.

3. Nota pembatalan dibuat rangkap 2(dua) namun jika pengguna jasa bukan PKP maka
nota pembatalan dibuat rangkap 3 (tiga) sebagai bahan untuk disampaiakn di KPP
tempat pengguna jasa terdaftar.

4. Pembatalan dianggap tidak terjadi jika nota pembatalan tidak mencatumkan


keterangan sebagaimana yang diisyaratkan, nota pembatalan tidak dibuat pada saat
jasa kena pajak dibatalkan, dan nota pembatalan tidak disampaiakn ke KPP dimana
pengguan jasa terdaftar dalam hal pengguna jasa bukan PKP.

Nota Retur/Nota pembatalan mengurangi pajak keluaran penjual/pemberi jasa pada


masa diterbitkan nota retur/nota pembatalan oleh pembeli/pengguna jasa begitu pun jika ada
PPnBM-nya.
Nota Retur/Nota pembatalan mengurangi pajak masukan pembeli/pengguna jasa pada
masa diterbitkan nota retur/nota pembatalan oleh pembeli/pengguna jasa begitu pun jika ada
PPnBM-nya.
Sedangkan jika pembeli/pengguna jasa bukan PKP maka atas PPN/PPnBM dari nota
retur/nota pembatalan dapat dibiayakan pada masa pembeli/pengguna jasa menererbitkannya
nota retur atau nota pembatalan.

KEGIATAN MEMBANGUN SENDIRI

Atas kegiatan membangun sendiri akan dikenakan Pajak Pertambahan Nilai. Yang
dimaksud dengan kegiatan membangun sendiri bangunan yang dilakukan tidak dalam

12
kegiatan usaha atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan yang diperuntuhkan bagi tempat
tinggal atau tempat usaha dengan luas bangunan 200 m2 atau lebih. Sedangkan yang
dimaksud dengan bangunan adalah bengunan permanen yang konstruksi utamanya terdiri
dari:
1. Tembok; dan atau
2. Kayu tahan lama; dan atau
3. Bahan lain yang mempunyai kekuatan sampai 20 tahun lebih.
Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan secara bertahap dianggap merupakan satu
kesatuan kegiatan sepanjang tenggang waktu antar tahapan-tahapan tersebut tidak lebih dari 2
tahun.
Kegiatan mendirikan bangunan yang dilakukan melalui kontraktor atau pemborong
bukan merupakan kegiatan membangun sendiri sepanjang dapat dibuktikan bahwa atas
kegiatan membangun tersebut telah dipungut PPN.

Tarif dan Dasar Pengenaan Pajak


Atas kegiatan membangun sendiri dikenakan Pajak Pertambahan Nilai dengan tarif
10% dikalikan dengan Dasar Pengenaan Pajak.
Dasar Pengenaan Pajak atas kegiatan membangun sendiri adalah 40% dari jumlah biaya
yang dikeluarkan dan atau yang dibayarkan untuk membangun sendiri , tidak termasuk harga
perolehan tanah.
Pajak Pertambahan Nilai yang terutang setiap bulan adalah sebesar 10% dikalikan
dengan Dasar Pengenaan Pajak untuk setiap bulan.

PPN=(40% x jumlah biaya yang dikeluarkan) x 10%

Saat dan Tempat Terutang PPN


Saat terutang PPN atas kegiatan membangun sendiri adalah pada saat dimulainya
kegiatan membangun sendiri secara fisik seperti penggalian fondasi, pemasangan tiang
pancang, atau kegiatan fisik lainnya. Sedangkan Tempat Pajak Terutang adalah di tempat
bengunan tersebut didirikan.
Orang pribadi atau badan yang melakukan kegiatan membangun sendiri harus menyetor
PPN yang terutang ke Kas Negara melalui Kantor Pos atau Bank Persepsi paling lambat
tanggal 15 bulan berikutnyasetelah bulan terjadinya pengeluaran, dengan menggunakan Surat
Setoran Pajak.
Orang pribadi atau badan yang melakukan kegaiatan membangun sendiri harus
melaporkan Surat Setoran Pajak lembar ke-3 ke Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah
kerjanya meliputi tempat bangunan tersebut berada paling lambat tanggal 20 pada bulan
penyetoran dilakukan.

Fasilitas Perpajakan Dalam PPN

13
Di Indonesia, dikenal 4 (empat) fasilitas PPN yaitu : Fasilitas PPN Tidak Dikenakan,
PPN Dibebaskan, PPN Tidak Dipungut dan PPN 0% (Nol Persen). Makna keempat fasilitas
tersebut adalah sama-sama tidak dibebani PPN. Namun, ada beberapa perbedaan mendasar
diantara keempat fasilitas tersebut, yaitu :

1. PPN Tidak Dikenakan


a. BKP/JKP dikecualikan dari objek PPN.
b. Apabila tidak ada usaha lain, maka wajib pajak tidak wajib untuk dikukuhkan sebagai
PKP.
c. Pajak Masukan atas perolehan Barang dan/atau Jasa Kena Pajak tidak dapat
dikreditkan.
2. PPN Dibebaskan
a. Ada Objek PPN.
b. Wajib Pajak harus minta dikukuhkan sebagai PKP dan wajib membuat Faktur Pajak
kecuali ada peraturan yang menyatakan tidak diperlukan.
c. Pajak Masukan atas perolehan Barang dan/atau Jasa Kena Pajak tidak dapat
dikreditkan.
3. PPN Tidak Dipungut
a. Ada Objek PPN.
b. Wajib Pajak harus minta dikukuhkan sebagai PKP dan wajib membuat Faktur Pajak
kecuali ada peraturan yang menyatakan tidak diperlukan.
c. Pajak Masukan atas perolehan Barang Kena Pajak dapat dikreditkan.
4. PPN 0% (Nol Persen)
a. Ada Objek PPN.
b. Wajib Pajak harus minta dikukuhkan sebagai PKP.
c. Pajak Masukan atas perolehan BKP dapat dikreditkan.

Kemungkinan besar beberapa perusahaan sudah memahami fasilitas-fasilitas perpajakan


karena pada umumnya perusahaan besar sudah menggunakan konsultan bahkan tax planner
tersendiri, beberapa fasilitas tersebut semisal :

Fasilitas PPh dan PPN yang tersedia langsung didalam UU.

Fasilitas khusus untuk Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)

Fasilitas dalam rangka meningkatkan ekpor Non Migas yaitu Kemudahan Impor
Tujuan Ekspor (KITE).

Fasilitas khusus untuk proyek yang dibiayai dengan hibah/pinjaman luar negeri.

Fasilitas SKB (Surat Keterangan Bebas) dan pengurangan angsuran PPh 25.

Fasilitas Penyusutan Dipercepat, Metode Pencatatan Selisih Kurs

dll

Secara umum kita mengetahui bahwa diantara fungsi pajak disamping untuk mengisi
penerimaan negara (Budgetair) juga untuk mengatur perkenomian suatu negara

14
(Regulerend), berangkat dari mengatur perekonomian negara tersebutlah maka ada fasilitas
tersebut.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga atas
Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa Dan
Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, di dalamnya memberlakukan negative list untuk
pengenaan PPN. Adapun tujuan pemerintah memberlakukan pengecualian untuk transaksi
tertentu diantaranya beralaskan :

1. Untuk efisiensi dan kemudahan administrasi.

2. Untuk mengontrol harga untuk barang-barang strategis

3. Untuk insentif ekonomi di bidang usaha tertentu, semisal barang tambang dari
sumbernya, barang kebutuhan pokok

4. Untuk insentif bidang sosial, semisal jasa pelayanan kesehatan medik, jasa pelayanan
sosial, jasa keagamaan, jasa pendidikan

5. Untuk menghindari timpang tindih pajak berganda dengan pajak daerah, semisal
pajak atas Usaha Perhotelan maupun Restoran

Ditinjau dari sudut objek PPN dapat dibagi menjadi 4 yaitu, (empat)

1. Terutang PPN,

2. Terutang PPN namun Tidak Dipungut (Pasal 16b ayat 1) selanjutnya diatur dalam
Peraturan Pemerintah. Pajak terutang tidak dipungut sebagian atau seluruhnya atau
dibebaskan dari pengenaan pajak, baik untuk sementara waktu maupun selamanya,
untuk : a) Kegiatan di kawasan tertentu atau tempat tertentu di dalam Daerah Pabean;
b) Penyerahan Barang Kena Pajak tertentu atau penyerahan Jasa Kena Pajak tertentu;
c) Impor Barang Kena Pajak tertentu; d) Pemanfaatan Barang Kena Pajak tertentu dari
luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean; e) Pemanfaatan Jasa Kena Pajak tertentu
dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. dan (Pasal 16b ayat 2). Pajak
Masukan yang dibayar untuk perolehan Barang Kena Pajak dan/atau perolehan Jasa
Kena Pajak yang atas penyerahannya tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai dapat
dikreditkan. Contoh : Fasilitas PPN di Kawasan Bebas yaitu Batam, Karimun,
bintan. Dan Fasilitas PPN di Kawasan Berikat serta Proyek Pemerintah yang dananya
berasal dari hibah/bantuan luar negeri.

3. Barang dan Jasa yang Tidak dikenai PPN (Pasal 4a) : Jenis barang yang tidak dikenai
Pajak Pertambahan Nilai adalah barang tertentu dalam kelompok barang sebagai
berikut:

1. barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari
sumbernya;

2. barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak;

15
3. makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan,
warung, dan sejenisnya, meliputi makanan dan minuman baik yang
dikonsumsi di tempat maupun tidak, termasuk makanan dan minuman yang
diserahkan oleh usaha jasa boga atau katering; dan

4. uang, emas batangan, dan surat berharga.

4. Terutang PPN namun dibebaskan (Pasal 16b ayat 2), Pajak Masukan yang dibayar
untuk perolehan Barang Kena Pajak dan/atau perolehan Jasa Kena Pajak yang atas
penyerahannya dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai tidak dapat
dikreditkan. Contoh Impor dan atau penyerahan BKP Tertentu/JKP Tertentu, serta
Impor dan atau penyerahan BKP Tertentu yang bersifat Strategis.

I. Fasilitas Perpajakan Di Kawasan Berikat

Tempat Penimbunan Berikat dapat berupa Suatu Bangunan, Tempat, atau Kawasan yang
memenuhi persyaratan tertentu untuk menimbun barang dengan tujuan tertentu dengan
mendapatkan penangguhan Bea Masuk. (PMK No 147/PMK.04/2011 stdd PMK No
44/PMK.04/2012). Tempat Penimbunan Berikat yang Pengawasan sepenuhnya merupakan
wewenang DJBC, dapat berbentuk :

Gudang Berikat;

Kawasan Berikat;

Tempat Penyelenggaraan Pameran Berikat;

Toko Bebas Bea;

Tempat Lelang Berikat; atau

Kawasan Daur Ulang Berikat.

Kawasan Berikat merupakan tempat Penimbunan Berikat untuk menimbun barang impor,
Dan/atau barang yg berasal dari Tempat Lain Dalam Daerah Pabean (TLDDP) yang diolah
atau digabungkan yang hasilnya terutama untuk di ekspor.

Penyelenggara Kawasan Berikat (PKB) adalah badan hukum yang melakukan kegiatan
menyediakan dan mengelola kawasan untuk kegiatan pengusahaan Kawasan Berikat.
Pengusaha Kawasan Berikat adalah badan hukum yang melakukan kegiatan pengusahaan
Kawasan Berikat. Pengusaha di Kawasan berikat merangkap Penyelenggara di Kawasan
Berikat yang selanjutnya disingkat PDKB adalah badan hukum yang melakukan kegiatan
pengusahaan Kawasan Berikat yang berada di dalam Kawasan Berikat milik Penyelenggara
Kawasan Berikat yang statusnya sebagai badan hukum yang berbeda.

Dalam Pasal 14 ayat (1) PMK Nomor 147/PMK.04/2011 stdd PMK Nomor
44/PMK.04/2012. Diatur bahwa PPN dan PPh Pasal 22 Impor tidak dipungut atas:

16
1. Impor Bahan Baku dan Bahan Penolong untuk diolah lebih lanjut;

2. Impor Barang Modal yang dipergunakan di Kawasan Berikat;

3. Impor Peralatan perkantoran;

4. Pemasukan Barang Hasil Produksi Kawasan Berikat lain untuk diolah lebih lanjut

5. Impor kembali barang hasil produksi Kawasan Berikat

6. Pemasukan kembali barang hasil produksi Kawasan Berikat dari Tempat


Penyelenggaraan Pameran Berikat (TPPB)

7. Impor barang jadi untuk digabungkan dengan barang hasil produksi Kawasan Berikat
yang semata-mata untuk diekspor;

8. Impor pengemas dan alat bantu pengemas untuk menjadi satu kesatuan dengan barang
hasil produksi Kawasan Berikat.

Dalam Pasal 14 ayat (2) PMK Nomor 147/PMK.04/2011 stdd PMK Nomor
44/PMK.04/2012. Diatur bahwa PPN dan PPh Pasal 22 Impor tidak dipungut atas: PPN dan
PPnBM tidak dipungut atas pemasukan barang dari Tempat Lain Dalam Daerah Pabean
(TLDDP), yaitu:

1. Pemasukan barang ke Kawasan Berikat untuk diolah lebih lanjut;

2. Pemasukan kembali barang dan Hasil Produksi Kawasan Berikat dalam rangka
subkontrak dari Kawasan Berikat lain atau perusahaan industri di TLDDP ke
Kawasan Berikat;

3. Pemasukan kembali mesin dan/atau cetakan (moulding) dalam rangka peminjaman


dari Kawasan Berikat lain atau perusahaan di TLDDP ke Kawasan Berikat;

4. Pemasukan Hasil Produksi Kawasan Berikat lain, atau perusahaan di TLDDP yang
Bahan Baku untuk menghasilkan hasil produksi berasal dari tempat lain dalam daerah
pabean, untuk diolah lebih lanjut oleh Kawasan Berikat;

5. Pemasukan hasil produksi yang berasal dari Kawasan Berikat lain, atau perusahaan di
TLDDP yang Bahan Baku untuk menghasilkan hasil produksi tersebut berasal dari
TLDDP, yang semata-mata akan digabungkan dengan barang Hasil Produksi Kawasan
Berikat untuk diekspor; atau

6. Pemasukan pengemas dan alat bantu pengemas dari TLDDP.

Hal yang perlu diperhatikan adalah apabila Pengusaha dalam kawasan berikat dalam
melakukan pembelian dari TLDDP namun dalam hal fasilitas PPN tidak digunakan (PPN

17
dibayar/dipungut) maka PPN yang dibayar tersebut tidak dapat dikreditkan oleh Pengusaha
Kawasan Berikat. Pengusaha Kawasan Berikat yang juga berstatus sebagai WP Patuh atau
PKP Berisiko Rendah tidak dapat memanfaatkan fasilitas pengembalian pendahuluan
kelebihan pembayaran pajak.

Seperti diketahui bahwa pada umumnya pengusaha dalam kawasan berikat dalam melakukan
penjualan untuk diekspor kembali sehingga diperoleh skema sebagai berikut :

PDKB melakukan impor BKP mendapat fasilitas PPN tidak dipungut

PDKB melakukan pembelian dari TLDDP mendapat fasilitas PPN tidak dipungut

PKP yang merupakan TLDDP memungkinkan untuk melakukan restitusi

PDKB melakukan ekspor dikenakan PPN dengan tarif 0%

Namun adakalanya PDKB dalam melakukan penjualan disamping ekspor juga melakukan
penjualan di dalam negeri sehingga diluar dari skema di atas diperhatikan hal-hal sebagai
berikut :

Apabila hasil produksi Kawasan Berikat dijual ke dalam negeri, maka Fasilitas PPN
tidak dipungut atas impor dan pembelian barang harus dibayar.

Atas penjualan tersebut tetap dipungut PPN dalam negeri (Pajak Keluaran).

II. Fasilitas Perpajakan Di Kawasan Bebas

Beberapa waktu lalu tepatnya tanggal 27 April 2012 di Batam, Presiden Republik Indonesia
mengumpulkan semua kepala daerah yang mendapat fasilitas kawasan bebas tentu bertujuan
untuk membahas peluang dan tantangan kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas serta
peluang investasi di perbatasan. Kawasan Bebas di Indonesia itu adalah :

1. Sabang diatur dalam Perpu No. 2 Tahun 2000

2. Batam diatur dalam PP No. 46 Tahun 2007

3. Bintan diatur dalam PP No. 47 Tahun 2007

4. Karimun diatur dalam PP No. 48 Tahun 2007

Adapun dasar hukum tentang Kawasan Bebas diatur dalam pasal 16 B UU PPN, PP No. 10
Tahun 2012 dan PMK No. 62 tahun 2012. Pengaturan Fasilitas Fiskal dalam PP No. 10 Tahun
2012 tersebut, yaitu :

Pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari Kawasan Bebas wajib dilakukan di
Pelabuhan atau bandar udara yang ditunjuk, yakni yang telah mendapatkan izin dari
Menteri Perhubungan dan telah mendapatkan penetapan sebagai Kawasan Pabean
(Pasal 2 ayat (2) dan (3)).

18
Pengusaha di Kawasan Bebas tidak perlu dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak
(Pasal 4 ayat (1)) ;

Penyerahan barang di Kawasan Bebas dibebaskan dari pengenaan PPN (Pasal 4


ayat(2));

Pemasukan barang ke Kawasan Bebas dari luar Daerah Pabean diberikan pembebasan
bea masuk, pembebasan PPN, tidak dipungut PPh Pasal 22 UU PPh, dan/atau
pembebasan cukai ;

Pengaturan BKP Tidak Berwujud dan JKP

1. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak dari luar
Daerah Pabean di dalam Kawasan Bebas, dibebaskan dari pengenaan PPN (Pasal
33 ayat (1))

2. Penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak di dalam
Kawasan Bebas, dibebaskan dari pengenaan PPN (Pasal 33 ayat (2))

3. Penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak dari
Kawasan Bebas ke Kawasan Bebas lainnya, dibebaskan dari pengenaan PPN
(Pasal 33 ayat (3))

4. Penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak dari
Kawasan Bebas ke tempat lain dalam Daerah Pabean, dikenai PPN (Pasal 33 ayat
(4))

5. Dikecualikan dari pengenaan PPN sebagaimana dimaksud pada ayat (4), untuk
penyerahan Jasa Kena Pajak yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan dibebaskan dari pengenaan PPN (Pasal 33 ayat (5))

6. Penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari tempat lain dalam Daerah Pabean
ke Kawasan Bebas, tidak dipungut PPN (Pasal 33 ayat (6))

7. Penyerahan Jasa Kena Pajak dari tempat lain dalam Daerah Pabean ke Kawasan
Bebas yang penyerahannya dilakukan di tempat lain dalam Daerah Pabean, dipungut
PPN (Pasal 33 ayat (7))

8. Penyerahan Jasa Kena Pajak tertentu dari tempat lain dalam Daerah Pabean ke
Kawasan Bebas, tidak dipungut PPN (Pasal 33 ayat (8))

9. Penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud atau Jasa Kena Pajak yang sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dibebaskan dari
pengenaan PPN, tidak dipungut PPN (Pasal 33 ayat (9))

10. Penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak tertentu dari
Tempat Penimbunan Berikat atau Kawasan Ekonomi Khusus ke Kawasan Bebas,
tidak dipungut PPN (Pasal 33 ayat (10))

19
11. Penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak dari
Kawasan Bebas ke Tempat Penimbunan Berikat atau Kawasan Ekonomi Khusus,
dipungut PPN (Pasal 33 ayat (11))

Pengaturan Jasa Angkutan Udara (Pasal 34 PP 10/2012 dan Pasal 7 PMK 62/2012)

1. Atas penyerahan jasa angkutan udara di dalam Kawasan Bebas, dibebaskan dari
pengenaan PPN

2. Atas penyerahan jasa angkutan udara dalam negeri dari tempat lain dalam Daerah
Pabean ke Kawasan Bebas, dikenai PPN

3. Atas penyerahan jasa angkutan udara dalam negeri dari Kawasan Bebas ke tempat
lain dalam Daerah Pabean, dikenai PPN

Pengaturan Jasa Telekomunikasi(Pasal 35 PP 10/2012 dan Pasal 8 PMK 62/2012)

1. Atas penyerahan jasa telekomunikasi di dalam kawasan Bebas, dibebaskan dari


pengenaan PPN

2. Atas penyerahan jasa telekomunikasi dari tempat lain dalam Daerah Pabean atau
Tempat Penimbunan Berikat ke Kawasan Bebas, dikenai PPN

3. Atas penyerahan jasa telekomunikasi dari Kawasan Bebas ke tempat lain dalam
Daerah Pabean atau Tempat Penimbunan Berikat, dikenai PPN

4. Dikecualikan dari ketentuan pengenaan PPN sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
atas penyerahan jasa telekomunikasi dengan menggunakan jaringan berkabel (fixed
line) di Kawasan Bebas

III. Fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE).

Dengan motivasi untuk mendorong pertumbuhan industri dalam negeri dengan cara
memberikan insentif bagi pelaku industri sebagai efesiensi dan penekanan pengeluaran agar
industri dapat maju maka diberikanlah suatu fasilitas KITE sebelumnya dikenal dengan
sebutan drawback system.. Umum memahami bahwa fasilitas KITE merupakan salah satu
fasilitas dari Kementerian Keuangan dalam hal ini Direktorat Bea Cukai yang langsung
berpengaruh dengan Direktorat Jenderal Pajak yaitu untuk meningkatkan ekpor Non Migas.
Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) adalah pemberian pembebasan dan/atau
pengembalian Bea Masuk (BM) dan/atau Cukai serta PPN dan PPnBM tidak dipungut atas
impor barang dan/atau bahan untuk diolah, dirakit, atau dipasang pada barang lain yang
hasilnya terutama untuk tujuan ekspor.

Perbedaan mendasar antara Kawasan Berikat dan KITE adalah, Kawasan Berikat diberikan
terhadap perusahaan/lembaga sedangkan KITE diberikan kepada barangnya (PMK
147/PMK.04/2011). Adapun varian fasilitas yang diberikan adalah pembebasan dan
pengembalian dengan penjelasan sebagai berikut :

20
1. Pembebasan : Barang dan/atau bahan asal impor untuk diolah, dirakit, atau dipasang
pada barang lain di Perusahaan dengan tujuan untuk diekspor dapat diberikan
Pembebasan serta PPN dan PPnBM tidak dipungut. Beberapa karakteristiknya adalah
1). Pada saat impor bahan baku: Bea Masuk / Cukai bebas, PPN / PPnBM tidak
dipungut (tetapi dengan jaminan). 2). PPh Pasal 22 dibayar Jaminan dikembalikan
setelah ekspor/jual ke Kawasan Berikat.

2. Pengembalian : Barang dan/atau bahan asal impor dan/atau hasil produksi dari
Kawasan Berkat untuk diolah, dirakit, atau dipasang pada barang lain yang telah
dibayar BM dan/atau Cukainya dan telah diekspor dapat diberikan Pengembalian saat
1). Pada saat impor Bea Masuk/Cukai/PPN/PPnBM bayar, 2). Pengembalian
diberikan setelah ekspor/jula ke Kawasan Berikat.

Ketentuan Umum lainnya yang perlu diketahui:

Pembebasan atau Pengembalian juga dapat diberikan terhadap hasil produksi yang
bahan bakunya berasal dari impor yang diserahkan ke Kawasan Berikat untuk
diproses lebih lanjut.

Tidak dapat diberikan Pembebasan atau pengembalian KITE terhadap bahan bakar,
minyak pelumas dan barang modal.

Hasil produksi dapat dijual ke dalam negeri setelah ekspor/jual ke kawasan berikat,
maksimum 25%-nya (artinya 75% diperuntukan untuk ekspor). Tetapi tidak diberikan
pembebasan atau pengembalian

Hasil produksi sampingan, sisa hasil produksi, hasil produksi yang rusak dan bahan
baku yang rusak yang bahan bakunya berasal dari impor oleh Perusahaan dapat dijual
ke dalam negeri atau dimusnahkan

Untuk mendapatkan fasilitas KITE, perusahaan harus mendapatkan NIPER (Nomor Induk
Perusahaan) yang terdiri dari NIPER pembebasan dan atau NIPER Pengembalian dari Kepala
Kantor Wilayah Ditjen Bea dan Cukai.

Pertanyaannya adalah, siapakah yang mengawasi bahwa fasilitas yang diberikan berjalan
sesuai dengan koridor yang ditetapkan, DJBC kah? atau DJP? Atau sepenuhnya berharap
kepada pelaku Industri itu sendiri?

Beberapa dasar hukum untuk referensi fasilitas KITE yaitu :

1. PMK No. 253/PMK.04/2011 tentang Pengembalian Bea Masuk yang telah dibayar
atas impor barang dan bahan untuk diolah, dirakit, atau dipasang pada barang lain
dengan tujuan untuk diekspor.

2. PMK No. 254/PMK.04/2011 tentang Pembebasan Bea Masuk yang telah dibayar atas
impor barang dan bahan untuk diolah, dirakit, atau dipasang pada barang lain dengan
tujuan untuk diekspor.

21
3. UU No. 17 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas UU No. 10 Tahun 1995 tentang
Kepabeanan .

22