Anda di halaman 1dari 14

KIMIA ANORGANIK LANJUT

TERMODINAMIKA SENYAWA KOMPLEKS

KELOMPOK 4

HERAWATI HM
NURWAHIDAH
RENY
SERNA HAMID

PENDIDIKAN KIMIA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2017
TERMODINAMIKA SENYAWA KOMPLEKS

A. Kestabilan Termodinamika
Semua ion logam mempunyai kemampuan membentuk ion kompleks. Ion
dengan jari-jari pendek dan muatan besar khususnya ion-ion logam golongan
transisi yang mempunyai orbital d kosong, benar-benar sangat mudah membentuk
senyawa kompleks. Sesungguhnya, bahkan ion Na+ yang mempunyai jari-jari
relative panjang dan muatan kecil juga membentuk senyawa kompleks tetapi
kompleks natrium ini segar teruarai oleh air dan mungkin membentun spesies yang
lebih stabil [Na(H2O)N]+.
Dikenal 2 macam kestabilan senyawa kompleks, yaitu kestabilan
termodinamika dan kestabilan kinetika. Kestabilan termodinamika menunjuk pada
perubahan energi bebas Gibs (G) yang terjadi dalam perubahan dari reaktan
menjadi produk, sedang kestabilan kinetika menunjuk pada energi aktivasi (G o)
pada substitusi reaksi pertukaran ligan.
Kestabilan termodinamika senyawa kompleks lebih sering dinyatakan
dengan konstanta kesetimbangan (ingat G = -RT ln K) dalam reaksi ion logam
terhidrasi dengan ligan yang sesuai selain air. Harga K memberikan gambaran
tentang konsentrasi relatif masing-masing spesies dalam kesetimbangan. Jika harga
K besar berarti konsentrasi kompleks jauh lebih besar dibanding konsentrasi
komponen-komponen pembentuknya. Suatu kompleks stabil bilamana harga K
dalam reaksi pembentukan kompleks tersebut besar.
Pembentukan kompleks dalam suatu larutan berlangsung melalui sejumlah
tahapan. Untuk setiap tahapan, tetapan stabilitasnya dapat dituliskan dalam suatu
persamaan. Misalkan pembentukan kompleks MLn, terbentuk melalui sejumlah n
tahapan. Tetapan stabilitas untuk setiap tahapan tersebut dapat dituliskan sebagai
berikut :
M+L ML, K1 = [ML]
[M][L]
ML + L ML2, K2 = [ML2]
[ML][L]
. .. ..
MLn-1 + L MLn Kn = [MLn]
[MLn-1][L]
Tetapan stabilitas K1, K2, ., Kn disebut sebagai tetapan stabilitas berurutan.
Umumnya harga K1 > K2 > K3 > .> Kn
Selain dinyatakan secara berturutan seperti di atas, tahapan pembentukan
kompleks dan tetapan stabilitas juga dapat dinyatakan sebagai berikut :
M+L ML, 1 = [ML]
[M][L]
M + 2L ML2, 2 = [ML2]
[M][L]2
. .. ..
M + nL MLn n = [MLn]
[M][L]n
Harga 1, 2, , n disebut sebagai tetapan stabilitas total (overall stability
constants) dari kompleks tersebut dengan n sebagai tetapan stabilitas total ke-n.
Harga K dan dari suatu kompleks saling berhubungan satu sama lain.
Misalkan saja pada suatu kompleks MLn, harga 3nya adalah :
3 = [ML3]
[M][L]3
Sementara harga K1, K2 dan K3 berturut-turut adalah
K1 = [ML] K2 = [ML2] K3 = [ML3]
[M][L] [ML][L] [ML2][L]
Perhatikan bahwa :
3 = [ML3] = [ML] x [ML2] x [ML3]
[M][L]3 [M][L] [ML][L] [ML2][L]
3 = K1 x K2 x K3
Berarti:
n = K1 x K2 x . x Kn
log n = log K1 + log K2 + .. + log Kn
Misalnya untuk reaksi pembentukan Cu(NH3)42+ :
[Cu(H2O)4]2+ + NH3 [Cu(H2O)3(NH3)]2+ K1 = ([Cu(H2O)3(NH3)]2+)/([Cu(H2O)4]2+)( NH3)
[Cu(H2O)3(NH3)]2+ + NH3 [Cu(H2O)2(NH3)2]2+ K2 = ([Cu(H2O)2(NH3)2]2+)/[Cu(H2O)3(NH3)]2+( NH3)
[Cu(H2O)2(NH3)2]2+ + NH3 [Cu(H2O)(NH3)3]2+ K3 = ([Cu(H2O)(NH3)3]2+)/[Cu(H2O)2(NH3)2]2+( NH3)
[Cu(H2O)(NH3)3]2+ + NH3 [Cu(NH3)4]2+ K4 = ([Cu(NH3)4]2+)/[Cu(H2O)(NH3)3]2+( NH3)
Konstanta kesetimbangan juga dapat ditulis secara keseluruhan (over-all stability
consant) denga notasi . Untuk reaksi tersebut di atas :
[Cu(H2O)4]2+ + NH3 [Cu(H2O)3(NH3)]2+ 1 = ([Cu(H2O)3(NH3)]2+)/([Cu(H2O)4]2+) ( NH3)
[Cu(H2O)4]2+ + 2NH3 [Cu(H2O)2(NH3)2]2+ 2 = ([Cu(H2O)2(NH3)2]2+)/([Cu(H2O)4]2+) ( NH3)2
[Cu(H2O)4]2+ + 3NH3 [Cu(H2O)(NH3)3]2+ 3 = ([Cu(H2O)(NH3)3]2+)/([Cu(H2O)4]2+) ( NH3)3
[Cu(H2O)4]2+ + 4NH3 [Cu(NH3)4]2+ 4 = ([Cu(NH3)4]2+)/([Cu(H2O)4]2+) ( NH3)4

Harga n merupakan ukuran dari stabilitas suatu senyawa kompleks. Makin


besar harga n, makin stabil kompleks tersebut. Kadang-kadang dinyatakan 1/Kn
sebagai konstanta instabilitas dari suatu kompleks.

Dalam reaksi pembentukan kompleks tersebut seringkali ligan H2O tidak


ditulis karena jumlah molekul H2O yang menghidrasi masing-masing ion pada
umumnya belum diketahui secara pasti, molekul-molekul air tidak mempengaruhi
konstanta kesetimbangan (walaupun terlibat dalam reaksi), dan dalam larutan encer
aktivitas air dapat dianggap 1.

B. Termodinamika Senyawa Kompleks


Suatu senyawa kompleks dikatakan stabil (secara termodinamika), jika
dapat dinyatakan dengan nilai tetapan disosiasi, Kd, yang realtif kecil dalam
bentuk hubungan G = -2,303 RT log Kd. Semakin kecil nilai Kd suatu senyawa
kompleks semakin kecil kecenderungan kompleks yang bersangkutan terdisosiasi
dan oleh karena itu dikatakn ketsabilan senyawa kompleks semakin besar. Nilai
Kd beberapa senyawa kompleks ditunjukkan dalam tabel 1.
Tabel 1. Tetapan disosiasi beberapa senyawa kompleks pada 25oC

Kompleks Kd = 1/Kf Kompleks Kd = 1/Kf Kompleks Kd = 1/Kf


Aluminium Tembaga Raksa
[AlF6]3- 3. 10-20 [Cu (SCN)2] 1,8 . 10-4 [HgCl4]2- 2 . 10-16
Kalsium [CuCl2]+ 1,15 . 10-5 [Hg(SCN)4]2- 2,0 . 10-22
[Ca(P2O7)]2+ 1 . 10-5 [Cu(P2O7)]2+ 2,0 . 10-7 Paladium
Kadmium [Cu(C2O4)2]2+ 6 . 10-11 [PdBr4]2+ 8,0 . 10-14
[CdCl4]2+ 9,3 . 10-3 [Cu(NH3)4]2+ 1 . 10-13 [PdCl4]2+ 6 . 10-14
[Cd(SCN)4]2+ 1 . 10-3 [Cu(ghy)2] 5,6 . 10-16 Perak
[CdBr4]2+ 2 . 10-4 [Cu(OH)4]2- 7,6 . 10-17 [Ag(OH)3]2+ 1,7 . 10-5
[Cd(NH3)6]2+ 1 . 10-5 [Cu(edta)]2- 1,38 . 10-19 [Ag(en)]+ 1 . 10-5
[CdI4]2- 8 . 10-7 Besi [AgCl2]- 9 . 10-6
[Cd(NH3)4] 1 . 10-7 [Fe(C2O4)3]4- 6 . 10-4 [AgCl4]3- 5 . 10-6
[Cd(en)4]2+ 2,6 . 10-11 [Fe(SCN)3] 5 . 10-7 [AgBr2]- 7,8 . 10-8
[Cd(CN)4]2- 8,2 . 10-18 [Fe(C2O4)2]2- 2 . 10-8 [Ag(NH3)2]+ 6,2 . 10-8
Kobalt [Fe(C2O4)3]3- 3 . 10-21 [Ag(SCN)4]3- 2,1 . 10-10
[Co(NH3)6]2+ 9 . 10-6 [Fe(CN)6]4- 1,3 . 10-37 [Ag(CN)2]- 1 . 10-22
[Co(C2O4)3]4- 2,2 . 10-7 [Fe(CN)6]3- 1,33 . 10-44 Zink
[Co(en)4]2+ 1,52 . 10-14 Magnesium [Zn(NH3)4]2+ 3,46 . 10-10
[Co(en)4]3+ 2,04 . 10-49 [Mg(P2O7)]2- 2 . 10-6 [Zn(ghy)2] 1,1 . 10-10
Nikel Timbal [Zn(edta)2]2- 2,63 . 10-17
[Ni(NH3)6]2+ 1 . 10-9 [Pb(SCN)2] 3 . 10-3 [Zn(CN)4]2- 2,4 . 10-20
[Ni(CN)4]2- 1 . 10-22 Emas [Zn(OH)4]2- 5 . 10-21
[Au(CN)2]- 5 . 10-39

Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan termodinamika suatu


senyawa kompleks sebagai berikut:
1. Pengaruh Logam Pusat
Berikut ini beberapa sifat logam pusat yang menentukan stabilitas dari
suatu senyawa kompleks.
a. Ukuran dan Muatan Logam Pusat
Stabilitas kompleks umumnya menurun dengan kenaikan jari-jari ion
logam pusatnya. Perhatikan urutan stabilitas kompleks dengan logam
alkali sebagai ion pusat terhadap jari-jari ionnya sebagai berikut :
Li+ (r = 0,60) > Na+ (r = 0,95) > K+ (r = 1,33 ) > Rb+ (r = 1,48) >
Cs+ (r= 1,69)
Jika ditinjau dari muatan ion logam pusatnya, maka stabilitas kompleks
menurun seiring dengan penurunan muatan ion logam pusat tersebut.
Misalkan untuk ion Th4+, Y3+, Ca2+ dan Na+, urutan stabilitas kompleks
dari logam tersebut dengan ligan yang sama adalah sebagai berikut :
Th4+ (r = 0,95) > Y3+ (r = 0,93) > Ca2+ (r = 0,99) > Na+ (r = 0,95)
Jika kedua faktor tersebut (jari-jari ion dan muatan ion pusat)
digabungkan, maka secara umum dapat dilihat bahwa makin besar
perbandingan harga muatan (q) dan jari.jari (r) kation logam, kompleks
yang terbentuk akan semakin stabil. Hal ini dikarenakan dengan harga
q/r yang makin besar medan listrik dari logam pusat semakin besar
pula.
Jari-jari ion
Logam Pusat q/r
()

Kestabilan meningkat
Li+ 0,60 1/0,60 = 1,6
q/r meningkat

Ca2+ 0,99 2/0,99 = 2,0


Ni2+ 0,72 2/0,72 = 2,97
Y3+ 0,93 3/0,93 = 3,22
4+
Th 0,95 4/0,95 = 4,20
3+
Al 0,50 3/0,50 = 6,0
2+
Be 0,31 2/0,31 = 6,45
b. Faktor CFSE (Crystal Field Stabilization Energy)
Pada logam unsur-unsur transisi, adanya pemecahan orbital d yang
memberikan harga CFSE tertentu mempengaruhi stabilitas dari
kompleks yang terbentuk. Adanya CFSE akan meningkatkan kestabilan
kompleks, sehingga harga K maksimum dapat diramalkan akan
diperoleh pada kompleks dengan logam pusat yang memiliki
konfigurasi elektron d3 dan d8, karena konfigurasi ini akan memberikan
harga CFSE yang paling besar.
Secara umum, urutan stabilitas kompleks berdasarkan konfigurasi
elektron pada orbital d mengikuti urutan sebagai berikut :
d0 < d1 < d2 < d3d4 < d5 < d6 < d7 < d8 d9 < d10
Urutan d3 > d4 dan d8 > d9 akan terjadi pada kompleks dimana efek
Jahn-Taller cukup lemah dan kompleks memiliki bilangan koordinasi 6.
Sedangkan urutan d3 < d4 dan d8 < d9 akan terjadi pada kompleks
dengan efek Jahn-Taller yang cukup kuat dan memiliki bilangan
koordinasi 4.
Efek dari faktor CFSE tersebut dapat diamati pada urutan stabilitas
kompleks dengan logam berikut :

Ion Mn2+ Fe2+ Co2+ Ni2+ Cu2+ Zn2+


Jari-jari ion () 0,91 0,83 0,82 0,78 0,69 0,74
Konfigurasi
d5 d6 d7 d8 d9 d10
elektron d
Urutan
Mn2+ < Fe2+ < Co2+ < Ni2+ < Cu2+ < Zn2+
stabilitas

c. Elektronegativitas dan Kemampuan Polarisasi Logam


Kompleks yang terbentuk dari logam dengan elektonegativitas yang
tinggi akan menghasilkan kopmpleks yang lebih stabil, karena
kecenderungan logam untuk menarik pasangan elektron yang
didonasikan oleh ligan akan lebih kuat. Dalam hal yang sama, logam
dengan kemampuan polarisasi yang lebih besar juga akan menghasilkan
kompleks yang lebih stabil.
d. Logam Jenis a dan Jenis b
Logam dapat dikategorikan menjadi 3 golongan :
-Logam kelas a : logam-logam yang lebih elektropositif, seperti logam
alkali dan alkali tanah, logam transisi pertama, logam pada deret
Lantanida dan Aktinida
-Logam kelas b : logam-logam yang lebih elektronegatif, seperti Pt, Au,
Hg, Pb, logam-logam transisi ringan dengan bilangan oksidasi yang
rendah
-Logam perbatasan (borderline)
Logam kelas a akan membentuk kompleks yang lebih stabil dengan
ligan dimana atom yang mendonorkan elektron merupakan unsur pada
periode kedua (N, O, F). Sedangkan logam golongan b membentuk
kompleks yang stabil dengan ligan yang donor elektronnya adalah atom
dari periode ketiga (P, S, Cl). Selain itu, logam golongan a dan b
memiliki urutan stabilitas yang berkebalikan jika membentuk kompleks
dengan ligan-ligan berikut :
Urutan Kestabilan
- - - -
Logam golongan F > Cl > Br > I
O >> S > Se> Te
a N >> P > As > Sb > Bi
- - - -
Logam golongan F < Cl < Br < I
O << S Se Te
b N << P < As < Sb < Bi

Logam dari golongan b memiliki sejumlah elektron d di luar inti gas


mulianya yang dapat digunakan untuk membentuk ikatan dengan
atom ligan. Adanya ikatan ini akan meningkatkan kestabilan
kompleks. Dengan demikian, logam golongan b akan lebih stabil jika
membentuk kompleks dengan ligan yang memiliki orbital d kosong
yang dapat digunakan untuk membentuk ikatan seperti PMe 3, S2- dan
I-.
2. Pengaruh Ligan
Selain pengaruh dari logam sebagai ion pusat dari kompleks, ligan yang
terikat pada logam tersebut juga menentukan kestabilan dari kompleks yang
terbentuk. Berikut beberapa factor dari ligan yang mempengaruhi
kestabilan kompleks.
a. Ukuran dan Muatan Ligan
Ligan yang berukuran lebih kecil akan lebih mudah mendekat ke arah
logam pusat untuk membentuk ikatan yang lebih kuat. Dengan
demikian ligan yang ukurannya lebih kecil akan membentuk kompleks
yang lebih stabil. Ditinjau dari muatannya, semakin besar muatan yang
dimiliki ligan, gaya tarik menarik antara ligan dengan logam pusat juga
makin kuat, sehingga ikatan yang terbentuk otomatis juga menjadi lebih
kuat. Dari dua hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa kompleks yang
stabil akan terbentuk dari ligan yang berukuran kecil dan memiliki
muatan yang besar.
b. Momen Dipol dari Ligan
Analog dengan faktor muatan, makin besar momen dipol dari suatu
ligan, stabilitas kompleks yang terbentuk makin besar. Hal ini dapat
menjelaskan urutan kestabilan dari sejumlah ligan netral berikut : amina
> etilamin > dietilamin > trietilamin
c. Sifat Basa Ligan
Interaksi antara logam dengan ligan dapat ditinjau sebagai interaksi
Asam-Basa Lewis. Oleh karena itu, makin basa suatu ligan, kompleks
yang terbentuk akan semakin stabil. Hal ini dikarenakan ligan yang
sifatnya lebih basa akan lebih mudah mendonorkan pasangan elektron
bebas yang dimilikinya pada logam. Atas dasar hal ini, maka ligan NH3
dapat membentuk kompleks yang lebih stabil dibandingkan H2O.
d. Kemampuan Membentuk Ikatan
Adanya ikatan dapat memperkuat ikatan logam dengan ligan dalam
kompleks. Oleh karena itu, ligan-ligan yang dapat membentuk ikatan
dengan logam membentuk kompleks yang lebih stabil. Misalnya saja
ligan CN-, CO, PR3, dan alkena.
e. Efek Sterik
Adanya efek sterik dapat melemahkan ikatan logam dengan ligan
karena adanya gaya tolak menolak antar ligan yang terikat.
f. Efek Khelat
Ligan yang merupakan suatu ligan pengkhelat membentuk kompleks
yang lebih stabil dibandingkan ligan bukan khelat. Hal ini dikarenakan
ligan berikatan dengan logam melalui lebih dari satu atom donor,
sehingga otomatis ikatan yang terbentuk akan lebih kuat. Kestabilan
ligan pengkhelat sendiri dipengaruhi beberapa faktor sebagai berikut :
-ukuran cincin khelat, umumnya makin besar ukuran cincin khelat,
makin stabil kompleks yang terbentuk
-efek resonansi, adanya resonansi akan meningkatkan kestabilan

C. Tetapan Keseimbangan Senyawa Kompleks Dalam Larutan


Pemahaman pembentukan senyawa kompleks dalam larutan (air) sangat
penting. Menurut Bjerrum, pembentukan suatu senyawa kompleks dalam larutan
berlangsung sacara bertahap (step-wise) terhadap pengikatan ligan pada atom
pusat. Jadi, apabila sebuah ligan netral L membentuk senyawa kompleks dengan
ion metal Mx+, maka dapat dibentuk sejumlah tetapan keseimbangan yang
berurutan, K1, K2,.. dan Kn (n = jumlah maksimum liganyang terikat pada ion
metal dalam kondisi eksperimental khusus). Oleh karena ion metal dalam larutan
air tidak berada sebagai ion sederhana Mx+ melainkan sebagai ion kompleks
[M(H2O)n]x+, maka reaksi pembentukan senyawa kompleks pada pengikat ligan L
dapat dinyatakan dengan suatutahapan reaksi sebagai berikut:
[M(H2O)n]x+ + L [M(H2O)n-1L]x+ + H2O

[M(H2O)n-1L]x+ + L [M(H2O)n-2L]x+ + H2O

..

Oleh karena konsentrasi [H2O] dalam larutan (ar) relatif tetap maka secara
[M(H2O)n-1L]x+ + L [M Ln]x+ + H2O
keseluruhan (overall) diperoleh harga tetapan keseimbangan pembentukan:
Kf = K1 x K2 x . x Kn
Sebagai contoh, pembentukan senyawa kompleks [Ag(NH3)]+, dapat
dinyatakan dalam dua tahapan berikut:

Step 1: Ag+ (aq) + NH3 (aq) [Ag(NH3)]+ (aq)

1
=2,3 x 10 3
Kf (1) = Kd (2)

Step 2: [Ag(NH3)]+ (aq) + NH3 (aq) [Ag(NH3)2]+ (aq)

1
=6,9 x 10 3
Kf (2) = Kd (1)
Termodinamika dan kinetika senyawa kompleks

Total: Ag+ (aq) + NH3 (aq) [Ag(NH3)2]+ (aq)

NH 3

+
Ag

NH 3 2


+

{ Ag ( 2 }


K f =

Tetapan pembentukan bertahap untuk sebagian besar senyawa kompleks


belum dapatdi ketahui, melainkan hanya produk totalnya saja (Kf) yang telah
ditentukan secara eksperimen, dan beberapa dapat diperiksa pada tabel 2.

Harga K1 yang relatif besar pada pembentukan [Zn(H2O)3NH3]2+ dari


reaksinya [Zn(H2O)4]2+ dengan NH3, menunjukan bahwa Zn2+ mempunyai
mempunyai afinitas yang lebih besar terhadap NH 3 (basa Lewis lebih kuat)
daripada afinitasnya terhadap H2O pendesakan H2O oleh NH3 bahkan dapat terjadi
dengan mudah sekalipun jumlah molekul H2O (yang berarti dalam larutan yang
sangat encer). Kenyataan bahwa harga tetapan pembentukan bertahap menurun
.......
secara teratur dalam proses pendesakan (K1 > K2 > K3 > > Kn) dapat dijelaskan
menurut pertimbangan statistic sebagai berikut. Molekul NH3 mempunyai
kesempatan yang paling besar pada proses pendesakan satu molekul pertama H 2O
dalam [Zn(H2O)4]2+ karena semua posisi koordinasi ditempati oleh H2O; tetapi,
kesempatan berikutnya akan menjadi lebih kecil dalam [Zn(H2O)3NH3)2+ karena
salah satu posisi koordinasi telah ditempatkan oleh NH3, demikian seterusnya.

Tabel 2. Tetapan pembentukan bertahap beberapa senyawa kompleks

Spesies K1 K2 K3 K4 K5 K6
[Ag(NH3)2]+ 2,0 x 7,9 x
[Zn(NH3)4]2 103 103 1,0 x 5,0 x
+
3,9 x 2,1 x 102 101
[Cu(NH3)4]2 102 102 1,0 x 1,5 x 5,6 1,
+
1.9 x 3,9 x 103 102 1
[Ni(NH3)6]2+ 104 103 5,4 x 1,5 x
[Cu(en)4]2+ 6,3 x 1,7 x 101 101
[Ni(en)3]2+ 102 102
5,2 x 2,0 x 1,8x 104
[Ni(EDTA)] 1010 109
2-
3,3 x 1,9 x
107 106

4,2 x
1018

Harga tetapan pembentukan sering sangat besar (perhatikan kebalikan dari


tetapan disosiasi tabel 1). Hal ini menunjukan bahwa perubahan energi bebas untuk
pembentukan senyawa kompleks sangat diuntungkan. Pada reaksi pembventukan
senyawa kompleks:

[Ni(H2O)6]2+ (aq) + 6 NH3 (aq) [Ni(NH3)6]2+ (aq) + 6 NH3 (l)

Harga H dan S untuk pembentukan [Ni(NH3)6]2+ (aq) masing-

masing adalah -79 kJ mol-1, dan -0,116 kJ mol-1 K-1.

Dengan menggunakan persamaan Gibbs = H - T S , perubahan

energi bebas G pada 25oC dapat dihitung yaitu -44 kJ mol-1. Jadi, walaupun

perubahan entropi ( S tidak menguntungkan, harga H cukup negatif

untuk memungkinkan reaksi pendesakan ligan air oleh amonia berlangsung


spontan.
Sebaliknya sifat disosiasi senyawa kompleks dalam larutannya dapat
dinyatakan secara bertahap pula, yaitu dengan pelepasan ligan satu demi satu dari
ion pusatnya. Untuk ion kompleks perakdiamin, tahapan disosiasinya adalah:

Step 1: [Ag(NH3)2]+ (aq) [Ag(NH3)]+ (aq) ) + NH3 (aq)

4
Kd (1) = 1,45 x 10

Step 2: [Ag(NH3)]+ (aq) Ag+ (aq) + NH3 (aq)

4
Kd (2) = 4,3 x 10

Total: [Ag(NH3)2]+ (aq) Ag+ (aq) + 2NH3 (aq)

+
Ag

2
NH 3

NH 3

{ Ag ( 2 } + 8
x K d ( 1) x K d ( 2) =6,2 x 10


K d=

Contoh soal:
Dari pasangan-pasangan kompleks berikut ini, manakah dari tiap pasang
yang merupakan kompleks yang lebih stabil? Jelaskan mengapa!
a. K4[Fe(CN)6] dan K3[Fe(CN)6]
b. [Co(H2O)6]2+ dan [Co(NH3)6]2+
c. [Cu(en)2]Cl2 dan [Cu(NH3)4]Cl2
Jawab:
a. K4[Fe(CN)6] dan K3[Fe(CN)6]
Berdasarkan muatan logam pusat maka K3[Fe(CN)6] lebih stabil dari
K4[Fe(CN)6].
b. [Co(H2O)6]2+ dan [Co(NH3)6]2+
Berdasarkan sifat basa ligan maka [Co(NH3)6]2+ lebih stabil dari
[Co(H2O)6]2+
c. [Cu(en)2]Cl2 dan [Cu(NH3)4]Cl2
Berdasarkan efek khelat senyawa maka [Cu(en) 2]Cl2 lebih stabil dari
[Cu(NH3)4]Cl2

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2014). Diktat Kimia Koordinasi.

Sugiyarto, K. H. (2012). Dasar-dasar Kimia Anorganik Transisi (pp. 180-187).


Yogyakarta: Graha Ilmu.

Suyanta. (2010, May 16). Kestabilan Senyawa Kompleks. Retrieved May 1, 2017,
from www.suyantakimiafmipaugm.wordpress.com