Anda di halaman 1dari 4

Sejarah pulau miangas

Pulau Miangas adalah pulau terluar di Indonesia. Pulau Miangas merupakan salah
satu pulau yang terletak dalam wilayah kecamatan Nanusa, kabupaten kepulauan Talaud
di Sulawesi Utara. Pulau Miangas sendiri hanya memilki luas wilayah sebesar 3.15 km 2.
Adapun Pulau Miangas memang memiliki banyak potensi ekonomi. Indahnya pantai,
birunya laut serta melimpah ruahnya kekayaan alam dapat kita jumpai di Pulau Miangas.
Oleh karena itu, tak mengherankan jikalau banyak pihak yang menginginkan untuk
memiliki pulau tersebut. Salah satu pihak yang dimaksud adalah Filipina. Sesungguhnya
sengketa perebutan Pulau Miangas antara Indonesia dengan Filipina telah ada pada tahun
1979. Akan tetapi sesungguhnya, perebutan wilayah Pulau Miangas sudah sejak dahulu
sebelum adanya Indonesia dan Filipina. Pada tahun 1928, Amerika sebagai penguasa
Filipina dan Belanda sebagai penguasa Indonesia khususnya Sulawesi Utara tengah
memperebutkan pulau Miangas. Akhirnya pada tanggal 4 April 1928, Pulau Miangas
resmi menjadi milik Belanda. Beruntunglah berkat putusan arbiter internasional yang
bernama DR. Max Huber , maka Pulau Miangas sah ditetapkan menjadi milik Belanda.
Sehingga secara otomatis pasca kemerdekaan Indonesia atas Belanda maka Pulau
Miangas secara resmi menjadi bagian dari wilayah Indonesia.
Sesungguhnya, sejarah keberadaan Pulau Miangas tidak hanya sampai disitu. Sejarah
keberadaan Pulau Miangas memang panjang dan penuh perjuangan. Apalagi mengingat
bahwa Pulau Miangas sebagai bagian dari kabupaten kepulauan Talaud. Maka dalam
pembahasan sejarah keberadaan Pulau Miangas pun tidak dapat dipisahkan dari sejarah
keberadaan kabupaten kepulauan Talaud itu sendiri.
Pada tahun 1421, kawasan Sulwesi Utara memiliki pulau besar terkenal yang bernama
Sangihe, Talaud dan Sitaro. Menurut ahli sejarah F. Valentijn, kawasan Sangihe, Talaud
dan Sitaro dikuasai oleh dua kerajaan yakni kerajaan tabukan dan kerajaan kalongan.
Akan tetapi pada tahun 1670, dalam wilayah Sangihe, Talaud dan Sitaro telah terdapat
sembilan kerajaan yaitu kerajaan kendahe, kerajaan taruna, kerajaan kolongan, kerajaan
manganitu, kerajaan sawang (saban), dan kerajaan tamako. Selanjutnya, pada tahun 1900-
an, di wilayah Sangihe, Talaud dan Sitaro hanya tersisa empat kerajaan yakni kerajaan
tabukan, kerajaan manganitu, kerajaan siau dan kerajaan kendahe-taruna (gabungan
kerajaan kendahe dan taruna). Baik kerajaan tabukan maupun kerajaan kendahe-taruna
ternyata memang menjalin hubungan yang baik dengan kerajaan sulu mindanau di
Filipina. Oleh karena itu, tidak mengherankan jikalau pada saat itu sudah mulai terjadi
perkawinan campuran antara pihak kerajaan tabukan ataupun kendahe-taruna dengan
pihak kerajaan sulu mindanau, Filipina. Adapun kerajaan kendahe-taruna selanjutnya
lebih dikenal dengan nama kerajaan taruna. Kerajaan taruna merupakan kerajaan yang
menguasai pulau Miangas saat itu.
Pada tahun 1677 sampai dengan 1800an, kawasan Sangihe dan Talaud berada dalam satu
wilayah administrasi yakni berada dibawah kesultanan Ternate. Akan tetapi dalam
praktek pemerintahan sehari-hari, baik kawasan Sangihe maupun Talaud tetap dipimpin
oleh raja-raja lokal di daerah masing-masing. Kemudian pada tahun 1800 an, saat
pemerintah Belanda tengah menguasai wilayah Hindia Belanda termasuk kawasan
Sangihe, Talaud dan Sitaro maka sebagai penguasa wilayah, pemerintah Belanda pada
tahun 1825 telah menetapkan wilayah Sangihe, Talaud dan Sitaro sebagai bagian wilayah
keresidenan Manado namun tetap dalam sistem gubernemen Ternate. Selanjutnya, pada
tahun 1859, kawasan Sangihe, Talaud dan Sitaro mulai terpisah dari sistem gubernemen
Ternate.

Pulau Miangas, Desa Miangas, Kecamatan Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi
Utara (di peta pulau nomor 28).

Salah satu gugusan Kepulauan Nanusa yang berbatasan langsung dengan Filipina, luas sekitar
3,15 kilometer persegi. Jarak Pulau Miangas dengan Kecamatan Nanusa sekitar 145 mil,
sedangkan jarak ke Filipina hanya 48 mil. Ada penduduknya yang mayoritas Suku Talaud,
perkawinan dengan warga Filipina tidak bisa dihindarkan lagi. Dilaporkan mata uang yang
mereka gunakan adalah peso, jumlah penduduk tahun 2003 sebanyak 678 jiwa, sudah ada listrik
dari PLTD 10 KVA. Belanda menguasai pulau ini sejak tahun 1677, sejauh ini Filipina yang sejak
tahun 1891 memasukkan Miangas dalam wilayahnya sudah menerima Pulau Miangas sebagai
wilayah Indonesia berdasarkan keputusan Mahkamah Arbitrase Internasional. Rawan terorisme
dan penyelundupan.

VIVAnews - Perebutan wilayah perbatasan bisa memanaskan hubungan antar negara.


Baru-baru ini Filipina mengklaim ada wilayah lautnya masuk ke wilayah Pulau Myangas,
Sulawesi Utara, perbatasan Indonesia-Filipina sebagai daerah teritorialnya. Kepala Staf
Angkatan Laut, Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno menegaskan Pulau Myangas adalah
wilayah Indonesia.
"Silahkan saja mereka [Filipina] punya perhitungan demikian. Tapi, tidak bisa mengklaim
otomatis bahwa itu adalah wilayahnya dia," kata Tedjo Edhy saat ditemui di Gedung
Dewan, Senayan, Jakarta, Kamis 12 Februari 2009.
Pulau Myangas, kata Tedjo, memang dekat dengan Filipina, namun secara geografis,
pulau yang berbatasan langsung dengan Filipina itu adalah wilayah Indonesia. "Itu adalah
titik dasar pengembangan wilayah kita ke depan," lanjut Tedjo.
Soal beda perhitungan, tambah dia, harus dibicarakan secara diplomatis. "Melalui
Departemen Perhubungan tentunya," tambah dia.
Meski ada masalah klaim-mengklaim, kata Tedjo, Angkatan Laut Indonesia dan
Angkatan Laut Filipina tak lantas berseteru di perairan. Keduanya justru melakukan
patroli bersama di wilayah perbatasan. " Dia [Filipina] mengamankan wilayah kita tapi
tidak bicara masalah klaim. Kita sangat akrab dengan mereka," tambah Tedjo.
Indonesia, yang kepulauan, punya banyak batas wilayah dengan negara lain. Wilayah
darat Indonesia berbatasan dengan Malaysia, Papua Nugini, dan Timor Leste. Sedangkan
di laut berbatasan dengan Malaysia, Papua Nugini, Timor Leste, dan Singapura.
Sementara itu, wilayah yurisdiksi Indonesia di laut berbatasan dengan Australia, Filipina,
India, Malaysia, Papua Nugini, Republik Palau, Vietnam, Thailand, dan Timor Leste.
Sebelumnya, Indonesia dan Singapura telah menyepakati perbatasan baru yakni Pulau
Nipa bagian utara. Tindak lanjutnya kesepakatan resmi soal perbatasan baru akan
ditandatangani kedua negara pada bulan Februari 2009.

Pulau Miangas
Koordinat: 5342LU,1263454BT Miangas adalah pulau terluar Indonesia yang
terletak dekat perbatasan antara Indonesia dengan Filipina. Pulau ini termasuk ke dalam
desa Miangas, kecamatan Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud, provinsi Sulawesi
Utara, Indonesia. Miangas adalah salah satu pulau yang tergabung dalam gugusan
Kepulauan Nanusa yang berbatasan langsung dengan Filipina.Pulau ini merupakan salah
satu pulau terluar Indonesia sehingga rawan masalah perbatasan, terorisme serta
penyelundupan. Pulau ini memiliki luas sekitar 3,15 km. Jarak Pulau Miangas dengan
Kecamatan Nanusa adalah sekitar 145 mil, sedangkan jarak ke Filipina hanya 48 mil.
Pulau Miangas memiliki jumlah penduduk sebanyak 678 jiwa (2003) dengan mayoritas
adalah Suku Talaud. Perkawinan dengan warga Filipina tidak bisa dihindarkan lagi
dikarenakan kedekatan jarak dengan Filipina. Bahkan beberapa laporan mengatakan mata
uang yang digunakan di pulau ini adalah peso.Belanda menguasai pulau ini sejak tahun
1677. Filipina sejak 1891 memasukkan Miangas ke dalam wilayahnya. Miangas dikenal
dengan nama La Palmas dalam peta Filipina. Belanda kemudian bereaksi dengan
mengajukan masalah Miangas ke Mahkamah Arbitrase Internasional. Mahkamah
Arbitrase Internasional dengan hakim Max Huber pada tanggal 4 April 1928 kemudian
memutuskan Miangas menjadi milik sah Belanda (Hindia Belanda). Filipina kemudian
menerima keputusan tersebut.Kondisi geografi Indonesia sebagai negara kepulauan yang
dipersatukan oleh lautan dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa telah melahirkan
suatu budaya politik persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam usaha mencapai kepentingan, tujuan dan cita-cita nasional, bangsa Indonesia
dihadapkan pada tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang harus ditanggulangi.
Salah satu bentuk ancaman tersebut adalah masalah perbatasan NKRI yang mencuat
beberapa pekan terakhir ini yaitu klaim Negara Philipina atas pulau Miangas yang secara
posisi geografis kedudukannya lebih dekat dengan negara tetangga yang diindikasikan
memiliki keinginan memperluas wilayah. Pulau Miangas ini adalah salah satu pulau
terluar Indonesia yang memiliki luas 3, 15 km2 dan masuk dalam desa Miangas,
Kecamatan Nanusa Kabupaten Talaud Propinsi Sulawesi Utara. Pulau Miangas dan Pulau
Manoreh berdasarkan peta Spanyol 300 tahun lalu dan Trakat Paris tahun 1989,
merupakan wilayah Philiphina. Pernyataan Konsulat Jenderal RI untuk Davao City
Philipina yang mengejutkan bahwa Pulau Miangas dan Pulau Manoreh berdasarkan peta
Spanyol 300 tahun lalu merupakan wilayah Philiphina, bahkan masalah ini dengan UU
pemerintah Philipina yang baru, kedua pulau ini telah masuk pada peta pariwisata
Philipina. Pemerintah Philipina mengakui keberadaan pulau Miangas sebagai miliknya
berdasarkan Trakat Paris tahun 1989, Trakat Paris tersebut memuat batas-batas
Demarkasi Amerika serikat (AS) setelah menang perang atas Spanyol yang menjajah
Philipina hingga ke Miangas atau La Palmas. Trakat itu sudah dikomunikasikan Amerika
Serikat ke Pemerintah Hindia Belanda, tetapi tidak ada reservasi formal yang diajukan
pemerintah hindia Belanda terhadap Trakat itu. Hingga kini Indonesia dan Philipina
belum mengikat perjanjian batas wilayah tersebut.
Putusan Mahkamah Internasional/MI,International Court of Justice (ICJ) tanggal 17-12-
2002 yang telah mengakhiri rangkaian persidangan sengketa kepemilikan P. Sipadan dan
P. Ligitan antara Indonesia dan Malaysia mengejutkan berbagai kalangan. Betapa tidak,
karena keputusan ICJ mengatakan kedua pulau tersebut resmi menjadi milik Malaysia.
Disebutkan dari 17 orang juri yang bersidang hanya satu orang yang berpihak kepada
Indonesia. Hal ini telah memancing suara-suara sumbang yang menyudutkan pemerintah
khususnya Deplu dan pihak-pihak yang terkait lainnya. Dapat dipahami munculnya
kekecewaan di tengah-tengah masyarakat, hal ini sebagai cermin rasa cinta dan
kepedulian terhadap tanah air.
Sengketa Indonesia dengan Filipina adalah perairan laut antara P. Miangas (Indonesia)
dengan pantai Mindanao (Filipina) serta dasar laut antara P. Balut (Filipina) dengan
pantai Laut Sulawesi yang jaraknya kurang dari 400 mil. Disamping itu letak P. Miangas
(Indonesia) di dekat perairan Filipina, dimana kepemilikan P. Miangas oleh Indonesia
berdasarkan Keputusan Peradilan Arbitrage di Den Haag tahun 1928. Di Kecamatan
Nanusa, Kabupaten Talaud, Pulau Miangas merupakan titik terluar yang paling jauh dan
berbatasan dengan Filipina. Dalam adat Nanusa, Miangas disebut Tinonda. Konon, pulau
ini sering menjadi sasaran bajak laut. Selain merebut harta benda, perompak ini
membawa warga Miangas untuk dijadikan budak di Filipina. Di masa Filipina dikuasai
penjajah Spanyol, Miangas dikenal dengan sebutan Poilaten yang memiliki arti: Lihat
pulau di sana. Karena di Miangas banyak ditumbuhi palm mulailah disebut Las Palmas.
Lambat laun pulau ini disebut Miangas. Miangas bukan hanya menjadi sasaran
perompakan. Pulau ini memiliki sejarah panjang karena menjadi rebutan antara Belanda
dan Amerika. Amerika mengklaim Miangas sebagai jajahannya setelah Spanyol yang
menduduki Filipina digeser Amerika. Tapi, Belanda keberatan. Sengketa berkepanjangan
terjadi, kasus klaim Pulau Miangas ini diusung ke Mahkamah Internasional. Secara
geografis, penjajah Amerika Serikat mulai bersentuhan dengan Sulawesi bagian utara
sejak akhir abad ke 19. Di tahun 1898 itu, Amerika baru saja menguasai Filipina, setelah
memerangi Spanyol yang ratusan tahun menduduki negara kepulauan itu. Setelah
Spanyol ditaklukkan, muncul sengketa antara Amerika dengan Hindia Belanda. Sejumlah
warga Karatung mempertahankan pulau itu sebagai bagian dari gugusan Kepulauan
Nanusa. Saat penentuan demarkasi antara Amerika dan Belanda, wakil raja Sangihe dan
Talaud, serta tokoh adat Nanusa dihadirkan di Miangas. Dalam pertemuan untuk
menentukan pulau itu masuk jajahan Belanda atau Spanyol, salah seorang tokoh adat
Petrus Lantaa Liunsanda mengucapkan kata-kata adat bahwa Miangas merupakan bagian
Nanusa. Gugusan Nanusa mulai dari Pulau Malo atau disebut tanggeng kawawitan (yang
pertama terlihat) hingga Miangas.
Setelah Indonesia merdeka, kehidupan di Kepulauan Nanusa ini tidak berubah. Di masa
Soekarno menjadi Presiden, hampir tak ada pembangunan di daerah itu. Terutama untuk
fasilitas umum, seperti sekolah. Sekolah di pulau-pulau ini paling banyak dijalankan
Yayasan Pendidikan Kristen. daerah perbatasan tampaknya selalu berarti wilayah
terisolasi, tertinggal. Ini merupakan dampak kebijakan pembangunan nasional di masa
lalu. Potensi sumber daya laut yang dapat menjadi sumber kemakmuran masyarakat
kepulauan, tidak mendapat perhatian. Sebanyak 16 pulau di Talaud sendiri telah
membentuk kabupaten. Dari jumlah itu, sembilan pulau belum didiami dan tujuh pulau
lainnya sudah berpenghuni. Pembentukan kabupaten ini tidak lepas lantaran rendahnya
tingkat pengembangan daerah perbatasan selama ini.