Anda di halaman 1dari 3

Presiden: Sikap Masyarakat Pulau Miangas Emosi Sesaat

Kapanlagi.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan


tindakan masyarakat Pulau Miangas Sulawesi Utara yang mengibarkan
bendera Filipina akibat insiden pemukulan oleh Kapolsek, hanyalah emosi
sesaat.

"Kita harus melihat apakah hanya karena pemukulan, lantas hari itu juga
saudara kita di Miangas meninggalkan keluarga besar Indonesia, mungkin
itu perasaan sesaat," kata Yudhoyono dalam pertemuan dengan masyarakat
Indonesia di Wisma Indonesia, Tokyo, Rabu (01/06). Penegasan tersebut
disampaikan kepala negara menanggapi pertanyaan dari Winda Mercedes
Mingkid, dosen Univeritas Sam Ratulangi Manado yang sedang mengambil
program S3 di Tokyo. Kepala negara berjanji mengecek langkah
penyelesaian dalam kasus pemukulan tersebut. Yudhoyono menegaskan
semua pihak harus memahami bahwa Pulau Miangas pada 1976 dinyatakan
sah sebagai bagian dari wilayah RI.

"Ketika saya bertemu dengan Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo di


Laos, sempat diangkat masalah pulau itu tapi dengan jelas kita sampaikan
Miangas adalah wilayah RI," katanya. Dia mengatakan jika ada masalah
seputar pulau tersebut, Indonesia akan menyelesaikan secara baik-baik dan
dengan semangat persahabatan kedua negara. Presiden mengatakan
Miangas, wilayah daratan terpencil maupun pulau lainnya harus menjadi
perhatian dan pemerintah harus melakukan sesuatu untuk warga di daerah-
daerah tersebut. "Kalau tidak diperhatikan, bukan tidak mungkin warga di
daerah perbatasan justru merasa lebih dekat dan lebih diperhatikan oleh
negara tetangga karena mereka lebih mendapatkan kesejahteraan dari
komunitas terdekat yang bukan negara RI," katanya. Lebih lanjut presiden
mengemukakan mulai 2005 pemerintah melakukan pembangunan pada
daerah perbatasan dan daerah terpencil agar warga di tempat tersebut
tidak merasa terlupakan. Pembangunan di perbatasan dan daerah terpencil
itu meliputi pembangunan keamanan dan kesejahteraan. (*/lpk)

Hassan Wirajudha: Status Pulau Miangas Bukan Masalah


JAKARTA | SURYA Online - Menteri Luar Negeri (Menlu), Hassan Wirajudha
mengkritik pihak-pihak yang meributkan masalah status Pulau Miangas. Menlu
menegaskan, secara hukum dan politis, Indonesia memiliki posisi kuat sebagai
pemilik pulau yang berada di kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara itu.

Pulau Miangas adalah salah satu dari 92 pulau terluar Indonesia, serta
salah satu dari 12 pulau terluar yang rawan terhadap infiltrasi asing.
Kita sering ribut tanpa tahu masalahnya. Buang waktu, buang energi,
cetus Hassan di Jakarta, Jumat (13/2), saat menjawab pertanyaan tentang
kekhawatiran sebagian pihak baru-baru ini bahwa Filipina akan mengklaim
kepemilikan Pulau Miangas.

Ia menjelaskan, pada masa Indonesia dijajah Belanda serta Filipina dijajah


Amerika Serikat, Pulau Miangas menjadi obyek sengketa Amerika dan
Belanda. Sengketa tersebut kemudian diserahkan kepada mahkamah
arbitrase, pada tahun 1928, hakim tunggal mahkamah tersebut, Max
Hubber memutuskan, bahwa Pulau Miangas merupakan milik
Belanda.Karena itu sekarang menjadi milik Indonesia, kata Hassan.

Menlu juga menekankan bahwa status kepemilikan Indonesia atas Pulau


Miangas telah dipertegas pada tahun 1976 dalam anex atau protokol
perjanjian ekstradisi Indonesia-Filipina.Di dokumen sepanjang satu halaman
itu, lanjut Hassan, sangat jelas menyebutkan pengakuan Filipina atas
kepemilikan Indonesia atas Pulau Miangas.

Jadi secara hukum, tidak ada keraguan. Secara politis juga Filipina sampai
saat ini juga tidak pernah mengajukan klaim, kata Menlu.Itu yang saya
maksud dengan ribut-ribut. Buang energi, buang tenaga tanpa tahu duduk
jelas perkaranya. Bagi Deplu, itu bukan masalah, katanya.

Cara penyelesaian

Sesungguhnya, sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, secara resmi Pulau


Miangastelah menjadi bagian dari wilayah Negara Republik Indonesia. Ada
pun alasany a n g m e n d a s a r i n y a
a d a l a h :

Pe r t a m a , s t a t u s k e p e m i l i k a n P u l a u M i a n g a s m e m a n g p e r n a h
m e n j a d i s e n g ke t a antara Indonesia dan Filipina hingga ke Mahkamah
Internasional. Bahkankeputusan Mahkamah Internasional tentang Pulau
Miangas menjadi salah satujurisprudensi dalam penyelesaian sengketa
kepemilikan pulau-pulau di perbatasan.Namun sengketa tersebut dimenangkan
Indonesia (dalam hal ini KerajaanKepulauan Talaud), dan karenanya status
Miangas sebagai bagian dari wilayah RItelah fi nal diakui masyarakat
internasional berdasarkan Konvensi Hukum
LautI n t e r n a s i o n a l 1 9 8 2 y a n g
s e c a r a f o r m a l .
Kedua, pengetahuan masyarakat Indonesia tentang Miangas memang
minim danterbatas. Ini akibat letak pulau tersebut jauh dari pusat, sehingga
kurang mendapatperhatian media massa.

apa latar belakang terjadinya sengketa?

Latar belakang terjadinya sengketa adalah klaim Negara Filipina atas pulauMiangas
yang diindikasikan memiliki keinginan memperluas wilayah jugamemanfaatkan
kekayaan pulau tersebut karena Sebelum menjadi daerahp e r b a t a s a n ,
d a h u l u k a w a s a n p u l a u i n i d i k e n a l s e b a g a i l i n t a s a n n i a g a . Pertama,
dengan rute pelayaran dari daratan Cina lewat Filipina dan Sulu, m e n u j u
p u l a u p e n g h a s i l r e m p a h - r e m p a h d i M a l u k u U t a r a a k a n m e l a l u i Nusa
Utara. Kedua, untuk ke Maluku, jalur pelayaran pelaut dan pedagangmelayu dari
Malaka, melalui Borneo Utara, Kepulauan Sulu dan melintas d i
l a u t S u l a w e s i ( s t r a t e g i s ) .