Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sectio Caesarea adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan
melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat
dinding dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram. Sectio
Caesarea merupakan kelahiran bayi melalui insisi trans abdominal. Menurut
(Mochtar, 1998) Sectio Caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan
membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina
atau Sectio Caesarea adalah suatu histerotomia untuk melahirkan janin dalam
rahim.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Sectio
Caesarea merupakan suatu pembedahan untuk melahirkan janin dengan
membuka dinding perut dan dinding uterus.
Di Indonesia angka persalinan dengan seksio sesaria di 12 Rumah Sakit
Pendidikan berkisar antara 2,1%-11,8%. Di RS Sanglah Denpasar insiden seksio
sesaria selama sepuluh tahun (1984-1994) 8,06%-20,23%; rata-rata pertahun
13,6%, sedangkan tahun 1994-1996 angka kejadian seksio sesaria 17,99% dan
angka kejadian persalinan bekas seksio 18,40%.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

1
Seksio sesaria atau persalinan sesaria didefinisikan sebagai melahirkan
janin melalui insisi dinding abdomen (laparatomi) dan dinding uterus
(histerotomi). Definisi ini tidak mencakup pengangkatan janin dari kavum
abdomen dalam kasus ruptur uteri/kehamilan abdominal. Tindakan ini dilakukan
untuk mencegah kematian ibu dan bayi karena kemungkinan-kemungkinan
komplikasi yang dapat timbul bila persalinan tersebut berlangsung pervaginam.

2.2 Epidemiologi
Seksio sesarea atau persalinan sesaria adalah prosedur pembedahan
untuk melahirkan janin melalui sayatan perut dan dinding rahim. Seksio sesaria
makin meningkat sebagai tindakan akhir dari berbagai kesulitan persalinan.
Indikasi yang banyak dikemukakan adalah; persalinan lama sampai persalinan
macet, ruptura uteri iminens, gawat janin, janin besar, dan perdarahan antepartum.
Sejak tahun 1986 di Amerika satu dari empat persalinan diakhiri dengan
seksio sesaria. Di Inggris angka kejadian seksio sesaria di Rumah Sakit
Pendidikan relatif stabil yaitu antara 11-12 %, di Italia pada tahun 1980 sebesar
3,2% - 14,5%, pada tahun 1987 meningkat menjadi 17,5%. Dari tahun 1965
sampai 1988, angka persalinan sesarea di Amerika Serikat meningkat progresif
dari hanya 4,5% menjadi 25%. Sebagian besar peningkatan ini terjadi sekitar
tahun 1970-an dan tahun 1980-an di seluruh negara barat. Pada tahun 2002
mencapai 26,1%, angka tertinggi yang pernah tercatat di Amerika Serikat.1,2,3,4
Di Indonesia angka persalinan dengan seksio sesaria di 12 Rumah Sakit
Pendidikan berkisar antara 2,1%-11,8%. Di RS Sanglah Denpasar insiden seksio
sesaria selama sepuluh tahun (1984-1994) 8,06%-20,23%; rata-rata pertahun
13,6%, sedangkan tahun 1994-1996 angka kejadian seksio sesaria 17,99% dan
angka kejadian persalinan bekas seksio 18,40%.

2.3 Indikasi Seksio Caesarea


Dalam persalinan ada beberapa faktor yang menentukan keberhasilan
suatu persalinan, yaitu passage (jalan lahir), passenger (janin), power (kekuatan
ibu), psikologi ibu dan penolong. Apabila terdapat gangguan pada salah satu

2
faktor tersebut akan mengakibatkan persalinan tidak berjalan dengan lancar
bahkan dapat menimbulkan komplikasi yang dapat membahayakan ibu dan janin
jika keadaan tersebut berlanjut (Manuaba, 1999).
Indikasi untuk sectsio caesarea antara lain meliputi:
1. Indikasi Medis
Terdiri dari 3 faktor : power, passanger, passage
2. Indikasi Ibu
a. Usia
b. Tulang Panggul
c. Persalinan sebelumnya dengan section caesarea
d. Faktor hambatan jalan lahir
e. Kelainan kontraksi rahim
f. Ketuban pecah dini
g. Rasa takut kesakitan
3. Indikasi Janin
a. Ancaman gawat janin (fetal distress)
b. Bayi besar (makrosemia)
c. Letak sungsang
d. Faktor plasenta : plasenta previa, solution plasenta, plasenta accreta
e. Kelainan tali pusat : prolapsus tali pusat, terlilit tali pusat

2.4 Kontraindikasi Seksio Caesarea


Pada prinsipnya seksio sesarea dilakukan untuk kepentingan ibu dan janin
sehingga dalam praktik obstetri tidak terdapat kontraindikasi pada seksio sesarea.
Dalam hal ini adanya gangguan mekanisme pembekuan darah ibu, persalinan
pervaginam lebih dianjurkan karena insisi yang ditimbulkan dapat seminimal
mungkin.

2.5 Perawatan Pasca Sectio Caesarea

Menurut Mochtar (1998) perawatan pasca bedah meliputi :

1. Perawatan luka insisi

3
Luka insisi dibersihkan dengan alkohol dan larutan betadin dan
sebagainya, lalu ditutup dengan kain penutup luka. Secara periodik
pembalut luka diganti dan luka dibersihkan.

2. Tempat perawatan pasca bedah

Setelah tindakan di kamar operasi selesai, pasien dipindahkan ke


dalam kamar rawat khusus yang dilengkapi dengan alat pendingin
kamar udara selama beberapa hari. Bila pasca bedah kondisi gawat
segera pindahkan ke ICU untuk perawatan bersama-sama dengan unit
anastesi, karena di sini peralatan untuk menyelamatkan pasien lebih
lengkap. Setelah pulih barulah di pindahkan ke tempat pasien semula
dirawat.

3. Pemberian cairan

Karena selama 24 jam pertama pasien puasa pasca operasi, maka


pemberian cairan perinfus harus cukup banyak dan mengandung
elektrolit yang diperlukan, agar tidak terjadi dehidrasi.

4. Nyeri

Nyeri pasca operasi merupakan efek samping yang harus diderita


oleh mereka yang pernah menjalani operasi, termasuk bedah Caesar.
Nyeri tersebut dapat disebabkan oleh perlekatan-perlekatan antar
jaringan akibat operasi. Nyeri tersebut hampir tidak mungkin di
hilangkan 100%, ibu akan mengalami nyeri atau gangguan terutama
bila aktivitas berlebih atau melakukan gerakan-gerakan kasar yang tiba-
tiba.

Sejak pasien sadar dalam 24 jam pertama rasa nyeri masih


dirasakan didaerah operasi. Untuk mengurangi rasa nyeri tersebut dapat
diberikan obat-obat anti nyeri dan penenang seperti suntikan

4
intramuskuler pethidin dengan dosis 100-150 mg atau morfin sebanyak
10-15 mg atau secara perinfus.

5. Mobilisasi

Mobilisasi segera tahap demi tahap sangat berguna untuk


membantu jalanya penyembuhan pasien. Mobilisasi berguna untuk
mencegah terjadinya thrombosis dan emboli. Miring ke kanan dan kiri
sudah dapat dimulai sejak 6-10 jam setelah pasien sadar. Latihan
pernafasan dapat dilakukan pasien sambil tidur terlentang sedini
mungkin setelah sadar. Pada hari kedua pasies dapat didukukan selama
5 menit dan dan diminta untuk bernafas dalam-dalam lalu
menghembuskanya disertai batuk-batuk kecil yang gunanya untuk
melonggarkan pernafasan dan sekaligus menumbuhkan kepercayaan
pada diri pasien bahwa ia mulai pulih. Kemudian posisi tidur terlentang
dirubah menjadi setengah duduk (semi fowler).selanjutnya secara
berturut-turut, hari demi hari pasien dianjurkan belajar duduk selama
sehari, belajar berjalan dan berjalan sendiri pada hari ke 3 sampai 5
pasca bedah.

BAB III
REGIONAL ANASTESI SUBARANOID BLOCK

1.1. Definisi RA-SAB


Anastesi regional adalah pemberian anestesi ke bagian tubuh tanpa
terjadihilangnya kesadaran atau berkurangnya kesadaran. Ada dua kelompok
teknik central neuraxis blockade (blokade epidural atau subarachnoid) dan
peripheral nerve blockade.

5
Persiapan analgesia spinal terdiri dari melakukan informed consent (izin dari
pasien), pemeriksaan fisik (ada tidaknya kelainan punggung), dan pemeriksaan
laboratorium anjuran (hemoglobin, hematokrit, PPT dan aPTT). Peralatan yang
diperlukan dalam analgesia spinal ini terdiri atas peralatan monitor seperti tekanan
darah, nadi, pulse oxymetry, dan EKG; peralatan resusitasi/anestesi umum; serta
jarum spinal dengan ujung tajam (Quincke-Babcock) atau jarum spinal dengan
ujung pensil.

1.2. Indikasi, Kontraindikasi, Komplikasi


Tabel.Indikasi, Kontraindikasi, dan Komplikasi Analgesia Spinal

6
Teknik Anastesi
Teknik anestesi spinal dimulai dengan memposisikan pasien duduk atau
posisi tidur lateral. Posisi ini adalah yang paling sering dikerjakan. Perubahan
posisi berlebihan dalam 30 menit pertama akan menyebabkan menyebarnya obat.
Berikut teknik anesthesia spinal dengan blok subarachnoid :
a. Setelah dimonitor, tidurkan pasien misalnya dalam posisi dekubitus lateral.
Beri bantal kepala, selain enak untuk pasien juga supaya tulang spinosus
mudah teraba. Posisi lain adalah duduk.
b. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua Krista iliaka dengan
tulang punggung ialah L4 atau L4-5. Tentukan tempat tusukannya,
misalnya L2-3, L3-4, atau L4-5. Tusukan pada L1-2 atau di atasnya
berisiko trauma medulla spinalis.
c. Sterilkan tempat tusukan dengan betadin atau alkohol.

7
d. Beri anestetik lokal pada tempat tusukan, misalnya dengan lidokain 1-2%
2-3 ml.
e. Cara tusukan median atau para median. Untuk jarum spinal sebesar 22 G,
23 G atau 25 G dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk yang kecil 27
G atau 29 G, dianjurkan menggunakan introducer (penuntun jarum), yaitu
jarum suntik biasa semprit 10cc. Tusukkan introduser sedalam kira-kira 2
cm agak sedikit kearah sefal, kemudian masukkan jarum spinal berikut
mandrinnya ke lubang jarum tersebut. Setelah resistensi menghilang,
mandarin jarum spinal dicabut dan keluar likuor, pasang semprit berisi
obat dan obat dapat dimasukkan pelan-pelan (0,5 ml/detik) diselingi
aspirasi sedikit, hanya untuk meyakinkan posisi jarum tetap baik. Untuk
analgesia spinal kontinyu dapat dimasukkan kateter.
Berat jenis cairan serebrospinalis (CSS) pada suhu 37C adalah 1,003
1,008. Anestetik lokal dengan berat jenis sama dengan CSS disebut isobarik.
Anestetik local dengan berat jenis lebih besar dari CSS disebut hiperbarik.
Anestetik lokal dengan berat jenis lebih kecil dari CSS disebut hipobarik.
Anestetik lokal yang sering digunakan adalah jenis hiperbarik diperoleh dengan
mencampur anestetik lokal dengan dekstrosa. Untuk jenis hipobarik biasanya
digunakan tetrakain diperoleh dengan mencampur dengan air injeksi.

3.3. Preoperatif
a. Penilaian Preoperatif
Penilaian preoperative merupakan langkah awal dari serangkaian tindakan
anesthesia yang dilakukan terhadap pasien yang direncanakan untuk menjalani
tindakan operatif. 5 Tujuan:
Mengetahui status fisik pasien praoperatif
Mengetahui dan menganalisis jenis operasi
Memilih jenis atau teknik anesthesia yang sesuai
Meramalkan penyulit yang mungkin terjadi selama operasi dan
atau pascabedah

8
Mempersiapkan obat atau alat guna menanggulangi penyulit yang
diramalkan.Tatalaksana evaluasi.
Anamnesis
Anamnesis baik autoanamnesis maupun hetero anamnesis, yakni meliputi
identitas pasien, anamnesis khusus yang berkaitan dengan penyakit bedah yang
mungkin menimbulkan kerusakan fungsi organ, dan anamnesis umum yang
meliputi riwayat penyakit sistemik, riwayat pemakaian obat-obatan, riwayat
operasi/anesthesia terdahulu, kebiasaan buruk, dan riwayat alergi.
Pemeriksaan fisik.
Yakni memeriksa status pasien sayang meliputi kesadaran, frekuensi nafas,
tekanan darah, nadi, suhu tubuh, berat dan tinggi badan untuk menilai status
gizi/BMI. Disamping itu juga dilakukan pemeriksaan fisik umum yang meliputi
pemeriksaan status psikis, saraf, respirasi, hemodinamik, penyakit darah,
gastrointestinal, hepato-bilier, urogenital dan saluran kencing, metabolik dan
endokrin, otot rangka.
Pemeriksaan laboratorium, radiologi dan yang lainnya.
Meliputi pemeriksaan rutin yakni pemeriksaan darah dan urin. Selain itu
pada pasien yang akan operasi besar dan pasien yang menderita penyakit sistemik
tertentu diperlukan pemeriksaan khusus sesuai indikasi yang meliputi
pemeriksaan laboratorium lengkap, pemeriksaan radiologi.
Konsultasi dan koreksi terhadap kelainan fungsi organ vital.
Konsultasi dilakukan dengan lab/staf medis fungsional yang terkait bila
dijumpai gangguan fungsi organ, konsultasi bisa dilakukan berencana atau
darurat. Koreksi dapat dilakukan bila dianggap perlu, pada kasus elektif koreksi
dapat dilkukan mandiri oleh staf medis fungsional ataupun bersama dengan staf
medis lain di bangsal, pada kasus darurat koreksi dilakukan bersama diruang
resusitasi IRD atau di kamar operasi IRD
Menentukan prognosis pasien properatif.
Hal ini dapat menggunakan klasifikasi yang dibuat oleh American Society
of Anesthesiologist (ASA) Tabel 1. Klasifikasi ASA Klasifikasi status fisik ASA
bukan merupakan alat prakiraan risiko anestesi, karena efek samping anestesi

9
tidak dapat dipisahkan dari efek samping pembedahan. Penilaian ASA
diklasifikasikan menjadi 5 kategori.Kategori ke-6 selanjutnya ditambahkan untuk
ditujukan terhadap brain-dead organ donor. Status fisik ASA secara umum juga
berhubungan dengan tingkat mortalitas perioperatif. Karena penyakit yang
mendasari hanyalah satu dari banyak faktor yang berkontribusi terhadap
komplikasi periopertif. Meskipun begitu, klasifikasi status fisik ASA tetap
berguna dalam perencanaan manajemen anestesi, terutama teknik monitoring.

b. Persiapan Preoperatif
1. Masukan oral
Reflek laring mengalami penurunan selama anestesi. Regurgitasi isi
lambung dan kotoran yang terdapat dalam jalan nafas merupakan resiko
utama pada pasien yang menjalani anestesi. Untuk meminimalkan risiko
tersebut, semua pasien yang dijadwalkan untuk operasi elektif
dengananestesi harus dipantangkan dari masukan oral (puasa) selama
periode tertentu sebelum induksi anestesi. Pada pasien dewasa
umumnya puasa 6-8jam, anak kecil 4 6 jam dan pada bayi 3 4 jam.
Makanan tak berlemak diperbolehkan 5 jam sebelum induksi
anestesi. Minuman bening, air putih, teh manis sampai 3 jam dan untuk
keperluan minum obat air putih dalam jumlah terbatas boleh 1 jam
sebelum induksi anesthesia.
2. Terapi Cairan
Pasien yang puasa tanpa intake cairan sebelum operasi akan mengalami
deficit cairan karena durasi puasa .Dengan tidak adanya intake oral, defisit
cairan dan elektrolit bisa terjadi cepat karena terjadinya pembentukan urin,
sekresi gastrointestinal, keringat, dan insensible losses yang terus menerus
dari kulit dan paru.Defisit bisa dihitung dengan mengalikan kebutuhan
cairan maintenance dengan waktu puasa.
3. Premedikasi

10
Premedikasi ialah pemberian obat 1- 2 jam sebelum induksi anestesi
dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari
anestesi diantaranya:
Meredakan kecemasan dan ketakutan
Memperlancar induksi anestesi
Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus
Meminimalkan jumlah obat anestetik
Mengurangi mual muntah pasca bedah
Menciptakan amnesia
Mengurangi isi cairan lambung
Mengurangi reflek yang membahayakan
Kecemasan merupakan reaksi alami, jika seseorang dihadapkan pada
situasi yang tidak pasti. Membina hubungan baik dengan pasien dapat
membangun kepercayaan dan menentramkan hati pasien. Obat pereda kecemasan
bias digunakan diazepam peroral 10-15 mg beberapa jam sebelum induksi
anestesi. Jika disertai nyeri karena penyakitnya dapat diberikan opioid misalnya
petidin 50 mg intramuskular.
Cairan lambung 25 ml dengan pH 2,5 dapat menyebabkan pneumonitis
asam. Untuk meminimalkan kejadian di atas dapat diberikan antagonis reseptor
H2 histamin misalnya simetidin 600 mg atau oral ranitidin 150 mg 1-2 jam
sebelum jadwal operasi. Untuk mengurangi mual-muntah pasca bedah sering
ditambahkan premedikasi suntikan intramuskular untuk dewasa droperidol 2,5-5
mg atau ondansetron 2 4 mg.
Sebelum dilakukan anestesi, pasien diberikan premedikasi berupa
pemberian injeksi Metoclopramide 10 mg dan injeksi Ranitidine 50 mg untuk
profilaksis dari PONV (postoperative nausea and vomiting). Metoclopramide
digunakan sebagai anti emetik dan untuk mengurangi sekresi kelenjar. Pemilihan
metokloperamide dikarenakan obat ini mempunyai efek menstimulasi asetilkolin
pada otot polos saluran cerna, meningkatkan tonus sfinger esofagus bagian bawah,
mempercepat pengosongan lambung dan menurunkan volume cairan lambung

11
sehingga efek efek ini akan menimalisir terjadinya pnemonia aspirasi.
Metokloperamide juga mempunyai efek analgesik pada kondisi-kondisi yang
berhubungan dengan spasme otot polos (seperti kolik bilier atau ureter, kram
uterus, dll). Selain itu metokloperamide juga berefek memblok receptor
Dopamine pada chemoreceptor trigger zone pada sistem saraf pusat sehingga
sangat berguna untuk pencegahan muntah pasca operasi. Obat premedikasi lain
yang digunakan adalah ranitidin. Pemilihan ranitidine dikarenakan obat ini
mempunyai fungsi sebagai anti reseptor H2 sehingga dapat mengurangi produksi
asam lambung yang nantinya dapat mengurangi risiko pneumonia aspirasi
c. Durante Operasi
1. Persiapan Pasien
Pasien dilakukan monitor balans cairan. Perlu juga untuk mengatur suhu
pendingin ruangan.
2. Pemakaian Obat Anastesi
Infiltrasi lokal menggunakan lidokain 5% di area L4-5 dengan menyusuri
Krista iliaka. Dilanjutkan dengan bupivacaine 0.5%.
3. Terapi Cairan
Terapi cairan intravena dapat terdiri dari infus kristaloid, koloid, atau
kombinasi keduanya.Cairan kristaloid adalah cairan dengan ion low
molecular weight (garam) dengan atau tanpa glukosa, sedangkan cairan
koloid juga mengandung zat-zat high molecular weight seperti protein atau
glukosa polimer besar. Cairan koloid menjaga tekanan onkotik koloid
plasma dan untuk sebagian besar intravaskular, sedangkan cairan kristaloid
cepat menyeimbangkan dengan dan mendistribusikan seluruh ruang cairan
ekstraseluler. Cairan dipilih sesuai dengan jenis kehilangan cairan yang
digantikan. Untuk kehilangan terutama yang melibatkan air, penggantian
dengan cairan hipotonik, juga disebut cairan jenis maintenance. Jika
kehilangan melibatkan baik air dan elektrolit, penggantian dengan cairan
elektrolit isotonik, juga disebut cairan jenis replacement. Karena
kebanyakan kehilangan cairan intraoperatif adalah isotonik, cairan jenis
replacement yang umumnya digunakan. Cairan yang paling umum

12
digunakan adalah larutan Ringer laktat. Meskipun sedikit hipotonik,
menyediakan sekitar 100 mL free water per liter dan cenderung untuk
menurunkan natrium serum 130 mEq/L, Ringer laktat umumnya memiliki
efek yang paling sedikit pada komposisi cairan ekstraseluler dan
merupakan menjadi cairan yang paling fisiologis ketika volume besar
diperlukan. Kehilangan darah durante operasi biasanya digantikan dengan
cairan RL sebanyak 3 hingga empat kali jumlah volume darah yang hilang.
Metode yang paling umum digunakan untuk memperkirakan kehilangan
darah adalah pengukuran darah dalam wadah hisap/suction dan secara
visual memperkirakan darah pada spons atau lap yang terendam darah.
Untuk 1 spon ukuran 4x4 cm dapat menyerap darah 10 cc sedangkan untuk
lap dapat menyerap 100-150 cc darah. Pengukuran tersebut menjadi lebih
akurat jika spons atau lap tersebut ditimbang sebelum dan sesudah
terendam oleh darah.
4. Monitoring
Salah satu tugas utama dokter anestesi adalah menjaga pasien yang dianestesi
selama operasi. Karena proses monitoring sangat membantu dalam
mempertahankan kondisi pasien, oleh karena itu perlu standard onitoring
intraoperatif yang diadopsi dari ASA (standard monitor berikut ini adalah
standard minimal monitoring)
Standard Basic Anesthetic Monitoring
Standard ini diterapkan di semua perawatan anestesi walaupun pada
kondisi emergensi, appropriate life support harus diutamakan.
Standard ini ditujukan hanya tentang basic anesthetic monitoring, yang
merupakan salah satu komponen perawatan anestesi. Pada beberapa
kasus yang jarang atau tidak lazim (1) beberapa metode monitoring ini
mungkin tidak praktis secara klinis dan (2) penggunaan yang sesuai
dari metode monitoring mungkin gagal untuk mendeteksi
perkembangan klinis selanjutnya.
Standard I

13
Personel anestesi yang kompeten harus ada di kamar operasi selama
general anestesi, regional anestesi berlangsung, dan memonitor
perawatan anestesi.
Standard II
Selama semua prosedur anestesi, oksigenasi, ventilasi, sirkulasi, dan
temperature pasien harus dievalusi terus menerus. Parameter yang
biasanya digunakan untuk monitor pasien selama anestesi adalah :
Frekuensi napas, kedalaman, dan karakter
Heart rate, nadi, dan kualitasnya
Warna membran mukosa, dan capillary refill time
Kedalaman/stadium anestesi (tonus rahang, posisi mata,
aktivitas reflek palpebra)
Kadar aliran oksigen dan obat anestesi inhalasi
Pulse oximetry : tekanan darah, saturasi oksigen, suhu.

d. Postoperatif
1. Pemindahan Pasien dari Kamar Operasi ke Recovery Room
Segera setelah operasi, pasien akan dipindah ke post-anesthesia care unit
(PACU), biasa disebut dengan recovery room. Di tempat ini, pasien akan
diobservasi dengan ketat, termasuk vital sign dan level. Pemindahan pasien
dari kamar operasi ke PACU memerlukan pertimbangan-pertimbangan
khusus. Pertimbangan ini di antaranya ialah letak insisi bedah, perubahan
vaskular, dan pemajanan. Letak insisi bedah harus selalu dipertimbangkan
setiap kali pasien pasca operasi dipindahkan. Banyak luka ditutup dengan
tegangan yang cukup tinggi, dan setiap upaya dilakukan untuk mencegah
regangan sutura yang lebih lanjut. Selain itu, pasien diposisikan sehingga
tidak berbaring pada posisi yang menyumbat drain dan selang drainase.
Hipotensi arteri yang serius dapat terjadi ketika pasien digerakkan dari satu
posisi ke posisi yang lain. Bahkan memindahkan pasien yang telah
dianestesi ke brankard dapat menimbulkan masalah vaskular juga. Untuk itu

14
pasien harus dipindahkan secara perlahan dan cermat. Segera setelah pasien
dipindahkan ke brankard atau tempat tidur, gaun pasien yang basah (karena
darah atau cairan lainnya) harus segera diganti dengan gaun yang kering
untuk menghindari kontaminasi. Selama perjalanan transportasi tersebut
pasien diselimuti dan diberikan pengikat di atas lutut dan siku serta side rail
harus dipasang untuk mencegah terjadinya risiko injury. Selain itu, hal
tersebut di atas untuk mempertahankan keamanan dan kenyamanan pasien.
Selang dan peralatan drainase harus ditangani dengan cermat agar dapat
berfungsi dengan optimal. Pasien ditransportasikan dari kamar operasi ke
PACU. Jika PACU terletak jauh dari kamar operasi, atau jika kondisi umum
pasien jelek, monitoring adekuat terhadap pasien sangat diperlukan. Dokter
anestesi bertanggung jawab untuk memastikan bahwa proses transfer
tersebut berjalan dengan lancer

2. Perawatan Post Anastesi di Recovery Room


Recovery dari anestesi terjadi ketika efek obat-obatan anestesi hilang dan
fungsi tubuh mulai kembali. Perlu beberapa waktu sebelum efek anestesi
benar-benar hilang. Setelah anestesi, sejumlah kecil obat masih terdapat
dalam tubuh pasien, tetapi efeknya minimal. 7Waktu recovery dari anestesi
bergantung pada jenis anestesi, usia pasien, jenis operasi, durasi operasi,
pre-existing disease, dan sensitivitas individu terhadap obat-obatan.
Perkiraan waktu recovery yang tepat dapat ditentukan jika semua spesifikasi
pembedahan, riwayat pasien dan jenis anestesi diketahui. Observasi ketat
harus terus dipertahankan hingga pasien benar-benar pulih dari anestesia.
Observasi klinis harus dilakukan dengan pemantauan seperangkat alat
berikut . Pulse oximeter Non-invasive blood pressure monitor
Elektokardiograf Nerve stimulator Pengukur suhu Capnograph Risiko Pasca
anesthesia, dibagi dalam 3 kelompok :
Kelompok I : pasien dengan risiko tinggi gagal nafas dan
goncangan kardiovaskular pasca anesthesia/bedah, sehingga perlu

15
nafas kendali pasca anesthesia/bedah, pasien ini langsung dirawat
di Unit Terapi Intensif pasca anesthesia/bedah.
Kelompok II : sebagian besar pasien masuk dikelompok ini,
perawatan pasca anesthesia bertujuan menjamin agar pasien
secepatnya mampu menjaga respirasi yang adekuat.
Kelompok III: pasien yang menjalani operasi kecil, singkat dan
rawat jalan. Pada pasien ini respirasi adekuat harus dipertahankan
selain itu juga harus bebas dari rasa ngantuk, ataksia, nyeri dan
kelemahan otot sehingga pasien dapat kembali pulang.
Ruang Pulih
Tujuan perawatan pasca anesthesia di ruang pulih: memantau secara
kontinyu dan mengobati secara cepat dan tepat masalah respirasi dan
sirkulasi, mempertahankan kestabilan sistem respirasi dan sirkulasi,
memantau perdarahan luka operasi, mengatasi/mengobati masalah nyeri
pasca bedah.
Pasien yang tidak memerlukan perawatan pasca anesthesia di ruang pulih:
pasien dengan anesthesia lokal yang kondisinya normal, pasien dengan
risiko tinggi tertular infeksi sedangkan di ruang pulih tidak ada ruang
isolasi, pasien yang tidak memerlukan terapi intensif, pasien yang akan
dilakukan tindakan khusus di ruangan. Pemantauan dan penanggulangan
kedaruratan Medik.
Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu meliputi pemulihan kesadaran,
respirasi (sumbatan jalan nafas dan depresi nafas), sirkulasi (tekanan darah
dan denyut jantung), fungsi ginjal dan saluran kencing, fungsi saluran
cerna, aktivitas motorik, suhu tubuh, masalah nyeri, posisi pasien,
pemantauan pasca anesthesia dan criteria pengeluaran yakni dengan
menggunakan Skor Aldrete. Pasien tetap berada dalam PACU sampai pulih
sepenuhnya dari pengaruh anestesi, yaitu tekanan darah stabil, fungsi
pernapasan adekuat, saturasi oksigen minimal 95%, dan tingkat kesadaran
baik.

16
Kriteria penilaian yang digunakan untuk menentukan kesiapan pasien
untuk dikeluarka dari PACU adalah :
Fungsi pulmonal yang tidak terganggu
Hasil oksimetri nadi menunjukkan saturasi oksigen yang adekuat
Tanda-tanda vital stabil, termasuk tekanan darah
Orientasi pasien terhadap tempat, waktu, dan orang
Produksi urin tidak kurang dari 30 ml/jam
Mual dan muntah dalam control
Nyeri minimal
Kontrol nyeri postoperatif, mual dan muntah, dan mempertahankan
normotermia sebelum pasien di discharge sangat dibutuhkan. Sistem skoring
untuk discharge digunakan secara luas. Sebagian besar kriteria yang dinilai adalah
SpO2 (atau warna kulit), kesadaran, sirkulasi, respirasi, dan aktivitas motorik.
Sebagian besar pasien memenuhi kriteria discharge dalam waktu 60 menit di
PACU. Sebagai tambahan dari kriteria diatas, pasien dengan general anestesi
seharusnya juga menunjukkan adanya resolusi dari blokade sensoris dan motoris.
Postoperative nausea and vomiting (PONV) merupakan masalah yang sering
terjadi setelah prosedur general anestesi, terjadi pada sekitar 20-30% pasien.
Bahkan, PONV bisa terjadi ketika pasien di rumah 24 jam setelah discharge
(postdischarge nausea and vomiting). Etiologi PONV biasanya multifaktorial
yang meliputi agen anestesi, tipe atau jenis anestesi, dan factor pasien sendiri.
Terjadi peningkatan insiden mual setelah pemberian opioid selama
anestesi, setelah pembedahan intraperitoneal (umumnya laparoskopi), dan operasi
strabismus. Insidensi tertinggi terjadi pada wanita muda. Meningkatnya tonus
vagal bermanifestasi sebagai sudden bradikardi yang seringkali mendahului atau
bersamaan dengan emesis. Anestesi propofol menurunkan insiden PONV.
Selective 5-hydroxytryptamine (serotonin) receptor 3 (5-HT3) antagonis seperti
ondansetron 4 mg (0.1 mg/kg pada anak-anak), granisetron 0.010.04 mg/kg, dan
dolasetron 12.5 mg (0.035 mg/kg pada anak-anak) juga sangat efektif untuk
mencegah PONV dan menerapi

17
PONV yang sudah terjadi. Metoclopramide, 0.15 mg/kg intravena, kurang
efektif tetapi obat ini merupakan alternatif yang bagus.5-HT3 antagonis tidak
berhubungan dengan manifestasi akut extrapyramidal (dystonic) dan reaksi
disforik yang mungkin ditimbulkan oleh metoclopramide atau phenothiazine-type
antiemetics. Dexamethasone, 410 mg (0.10 mg/kg in children), bila
dikombinasikan dengan antiemetik lainnya biasanya efektif untuk mual dan
muntah yang refrakter. Bahkan efektif hingga 24 jam sehingga bisa digunakan
untuk postdischarge nausea and vomiting. Profilaksis non farmakologis untuk
mencegah PONV misalnya hidrasi yang adekuat (20 mL/kg) setelah puasa dan
stimulasi P6 acupuncture point (pergelangan tangan). Pada kasus ini, tidak
didapatkan mual muntah postoperatif, tetapi untuk pencegahan tetap diberikan
metoclopramide 3x10 mg dan ranitidine 2x50 mg intravena. Jika terjadi muntah
.diberikan ondansetron 4 mg, kepala dimiringkan, dan suction aktif.

18
Status Pasien
I. Identitas Pasien
Nama : Ari Handayani
Usia : 33 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Tembung
Status : Menikah
Pekerjaan : IRT
Suku : Jawa
Agama : Islam
Tanggal Masuk Rumah Sakit : 17 April 2016
No. RM : 24-54-70

II. Anamnesa
Ny. A, 30 tahun,G1PoAo, Islam, SMA, IRT, datang ke RS Haji Medan
pada tanggal 17 April 2016 dengan :
Keluhan Utama : Rencana Operasi
Telaah : Pasien direncanakan operasi tanggal 18 April 2016, pasien
rawatan poliklinik Obgyn RS Haji, riwayat keluar cairan 2 hari yang lalu,
riwayat keluar darah dari kemaluan (-), riwayat keluar lendir (-), BAK
(+)normal, BAB(+)normal.
RPT : DM (-), Hipertensi (-), Asma (-), Darah Tinggi (-)
RPO : (-)
Riwayat Menstruasi : Menarche : 12 tahun
Siklus : 28 hari
Lama Haid : 6 hari
Volume : 2-3 kali ganti doek/hari
Dismenorhea : (-)
HPHT : 26-07-2015
TTP : 03-05-2016
Riwayat Perkawinan : Menikah 1 kali, Usia 30 tahun
Riwayat Persalinan : 1. Hamil ini
Riwayat KB : (-)

19
Riwayat Operasi : (-)

III. Pemeriksaan Fisik


TB : 155cm
BB : 56 Kg

Pemeriksaan Kepala
Mata : Conj. palpebra inferior pucat (-), sklera ikterik (-), pupil
isokor, Refleks cahaya (+/+)
Hidung : Sekret (-), deviasi (-)
Bibir : Mukosa bibir basah, sianosis (-)
Gigi : Caries (-)

Pemeriksaan Leher
Pembesaran KGB (-)
Axilla :
Pembesaran KGB axilla (-)
Pemeriksaan Thoraks :
Paru-paru:
Depan
Inspeksi : Simetris fusiformis
Palpasi : Stem fremitus kanan = kiri , nyeri (-)
Perkusi : Sonor kedua lapangan paru
Auskultasi : Suara pernapasan : vesikuler
Suara tambahan : (-)
Belakang
Inspeksi : Simetris fusiformis
Palpasi : Stem fremitus kanan = kiri
Perkusi : Sonor kedua lapangan paru
Auskultasi : Suara pernapasan : vesikuler
Suara tambahan : (-)
Jantung

20
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Perkusi : Dalam batas normal
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II normal, regular
Status Lokalis
At Regio Abdomen
Inspeksi : Membesar asimetris
Palpasi : Soepel, nyeri tekan (-)
Perkusi : tidak dilakukan pemeriksaan
Auskultasi : Peristaltik (+) normal
Genitalia
Inguinal : pembesaran KGB (-)
Pemeriksaan penunjang :
Hasil Laboratorium :
Darah rutin
Hb : 10,6 gr/dl
HT : 30,5 %
Eritrosit : 3,7 x 1066/l
Leukosit : 10.400 /l
Trombosit : 223.000 /l
Metabolik
KGDS : 75 mg/dL
Fungsi Hati
SGOT :-
SGPT :-
Fungsi Ginjal
Ureum :-
Kreatinin :-
Urine Rutin
Makroskopis : -
Mikroskopis : -

21
DIAGNOSA KERJA
PG + KDR (39-40)minggu + CPD + Hemorroid + AH
RENCANA TINDAKAN
Tindakan : SC
Anastesi : RA-SAB
PS-ASA :2
Posisi : Supinasi
Pernafasan : Spontan, terpasang nasal canul

KEADAAN PRA BEDAH


PRE OPERATIF

B1 (BREATH)
Airway : Clear
RR : 20 x/menit
SP : Vesikuler ka=ki
ST : Ronki (-), Wheezing (-/-)

B2 (BLOOD)
Akral : Hangat/Merah/Kering
TD : 100/80 mmHg
HR : 64 x/menit

B3 (BRAIN)
Sensorium : Compos Mentis
Pupil : Isokor ka=ki 3mm/3mm
RC : +/+

B4 (BLADDER)

22
UOP : 100 cc
Kateter : 50 cc

B5 (BOWEL)
Abdomen : membesar asimetris
Peristaltik : Normal (+)
Mual/Muntah : +/+

B6 (BONE)
Oedem :-

Durasi Operatif
Lama Anastesi : 06.20 Selesai
Lama Operasi : 06.25 07.30
Jenis Anestesi : RA-SAB (Regional Anasthesi Subrachnoid Block)
Teknik Anestesi : Posisi duduk (LLD,FLD,SITTING)Identifikasi L3-L4
desinfektan betadine + alcoholinsersi spinocain 25G CSF (+),
darah(-) inj.BupivacaineAtur blok setinggi T4
Teknik anestesia :
1. Memposisikan pasien dengan kondisi duduk, meluruskan punggung dan kaki,
tapi tetap dalam keadaan tidak tegang, dan menundukkan kepala.
2. Lokasi injeksi diberi antiseptik
3. Identifikasi ruang interspinosus diantara L4 L5.
4. Dilanjutkan anestesi dengan insersi spino catheter ukuran 27 gauge, darah (-)
dan cairan serebrospinal (+).
5. Injeksi bupivacaine 0.5% 15 mg kemudian dilakukan pengecekan area sensoris,
motoris dan tanda tanda toksikasi pada pasien.
Obat-obatan
Premedikasi :
o-

23
Medikasi
o Fentanyl 25 g
o Bupivacain 0,5 % 15 mg
o Syntosinon 20 IU
o Metylergometrin 0,4 mg
Induksi :
o O2 2L
Relaksan : -
Jumlah Cairan
PO : RL 500cc
DO : RL 1.000 cc
Produksi urin : Tidak memakai kateter
Perdarahan
Kassa basah : 15x10 = 150 cc
Kassa basah: 20x5 = 100 cc
Suction : 200cc
Total : 450 cc

Catatan
EBV : 56 kg x 65 = 3.640 cc
EBL :
10% = 364 cc
20% = 728 cc
30% = 1.092 cc

Panjang Bayi : 50 cm
BB Bayi : 3 Kg
APGAR Skor
1 menit : 10
5 menit : 10
Durasi Operatif

24
Lama Anastesi : 06.20 Selesai
Lama Operasi : 06.25 07.30

Post Operasi
Operasi berakhir pukul 07.30 WIB
Setelah operasi selesai pasien di observasi di Recovery Room. Tekanan Darah,
Nadi, Pernafasan
dipantau hingga kembali normal.
Pasien boleh pindah ke ruangan bila Alderette Score > 8
Pergerakan :2
Pernafasan :2
Warna Kulit :2
Tekanan Darah: 2
Kesadaran :2
Dalam hal ini, pasien memiliki score 10 sehingga bisa dipindahkan ke ruang
rawat.

Perawatan Post Operasi


Setelah operasi selesai, pasien dibawa ke ruang pemulihan, setelah dipastikan
pasien pulih dari anastesi dan keadaan umum, kesadaran serta vital sign
stabil, pasien dipindahkan ke bangsal dengan anjuran bedrest 24 jam, tidur
telentang, karena obat anastesi masih ada.

Terapi Post Operasi


Istirahat sampai pengaruh obat anastesi hilang
IVFD RL 30gtt/menit
Minum sedikit sedikit bila sadar penuh dan keadaan umum sudah membaik
Inj. Ketorolac 30mg/8jam IV

25
DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom KD.
Kehamilan multijanin. Dalam: Hartono A, Suyono YJ, Pendit BU (alih bahasa).
Obstetri Williams. Volume 1 edisi 21. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC,
2006. h. 852-897 33
2. Liewellyn-Jones D. Kelainan presentasi janin. Dalam: Hadyanto, editor edisi
bahasa Indonesia. Dasar-dasar Obstetri dan Ginekologi. Edisi 6. Hipokrates,
Jakarta. 2002: 160-162
3. Zach T. Multiple births. Dalam: emedicine from WebMD, 2006. Available at
URL http://www.emedicine.com/med/topic2599.htm
4. Morales AJ et al. Multifetal pregnancy reduction. Dalam: Ethics in Obstetric
and Gynecology, 1999. Available at URL
http://www.acog.com/from_home/publications/ethics/ethics041.pdf
5. Suririnah. Proses terjadinya kehamilan kembar atau kehamilan lebih dari satu.
2005. Available at URL http:////ww.infoibu.com/mod.php
6. Guttmacher AF, Schuyler GK. The Fetus of Multiple Gestations. Obstet
Gynecol, 1958; 528-41.
7. Kalaichandran S. Twin Pregnancy Double Trouble or Twice The Jay. Lecturere
Unversity of Ottawa Obstetric and Gynaecology, 1999 in
http://www.teinspregnancy/obstetric.html
8. Kliegman RM. Kehamilan multipel. Dalam: Wahab AS, editor bahasa
Indonesia. Ilmu kesehatan anak Nelson. Volume 1 edisi 15. Jakarta: Penerbit
buku kedokteran EGC, 2000. h. 559-561Thilo EH, Rosenberg AA. Multiple
births. Dalam: Hay WW (ed). Current pediatric diagnosis & treatment.
16thedition. Europe: McGraw Hill Education, 2002. h. 56-57

26