Anda di halaman 1dari 15

PROSES KEPERAWATAN KLIEN DENGAN SYOK KARDIOGENIK

A. Konsep Dasar Penyakit

1. Definisi
Syok kardiogenik merupakan keadaan gawat darurat jantung yang disebabkan oleh kegagalan
fungsi pompa jantung yang mengakibatkan curah jantung menjadi berkurang atau berhenti sama
sekali . Syok ini dapat timbul akibat infak miokard akut (IMA) yang luas menimbulkan iskemik,
injuri sampai infaks dengan gangguan irama jantung, atau sebagai fase terminal dari beberapa
penyakit jantung lainnya.

2. Epidemiologi
Angka kejadian 1 dari 6 penderita IMA yang dirawat berakhir dengan syok kardigenik dan
merengut nyawa sekurang kurangnya 100.000 orang setiap tahun di Amerika Serikat. Upaya di
beberapa Negara telah berhasil menurunkan mortalitas IMA dari 30 % menjadi 15 %. Sedangkan
70-80 % penderita dengan syok kardiogenik tidak berhasil di diselamatkan dibanding dengan
komplikasi lainnya, misalnya payah jantung kongesti berat dengan angka kematian 50 % dan
tanpa penyulit motalitasnya kurang dari 10 %.

3. Etiologi dan factor predisposisi


a. Etiologi
Syok kardiogenik biasanya disebabkan oleh gangguan mendadak pada fungsi jantung
atau akibat penurunan fungsi kontraktil jantung kronik.
Seperti :
- Infak miokard akut dengan segaala komplikasinya
- Miokarditis akut
- Tamponade jantung akut
- Endokarditis infektif
- Trauma jantung
- Ruptur korda tendinea spontan
- Kardiomiopati pada tingkat akhir
1
- Stenosis varvular berat
- Regurgitasi valvular akut
- Miksoma atrium kiri
- Komplikasi bedah jantung
b. Predisposisi
Dari beberapa penelitian dilaporkan adanya factor factor
predisposisi timbulnya syok kardiogenik, seperti :
- Umur yang relative tua ( > 60 tahun )
- Riwayat payah jantung
- Infak lama dan baru
- IMA yang meluas secara progresif
- Komplikasi mekanik IMA ( septum robek, insufisiensi
mitral, disenergi ventrikel)
- Faktor ekstramiokardial : obat-obat penyabab hipotensi
atau hipovolemia.

4. Patofisologi
Syok kardiogenik merupakan kondisi yang terjadi sebagai serangan jantung pada
fase termimal dari berbagai penyakit jantung. Berkurangnya ke aliran darah koroner
berdampak pada supply O2 kejaringan khususnya pada otot jantung yang semakin
berkurang, hal ini akan menyababkan iscemik miokard pada fase awal, namun bila
berkelanjutan akan menimbulkan injuri sampai infark miokard. Bila kondisi tersebut
tidak tertangani dengan baik akan menyebabkan kondisi yang dinamakan syok
kardiogenik. Pada kondisi syok, metabolisme yang pada fase awal sudah mengalami
perubahan pada kondisi anaerob akan semakin memburuk sehingga produksi asam
laktat terus meningkat dan memicu timbulnya nyeri hebat seperti terbakar maupun
tertekan yang menjalar sampai leher dan lengan kiri, kelemahan fisik juga terjadi sebagai
akibat dari penimbunan asam laktat yang tinggi pada darah. Semakin Menurunnya
kondisi pada fase syok otot jantung semakin kehilangan kemampuan untuk berkontraksi
utuk memompa darah. Penurunan jumlah strok volume mengakibatkan berkurangnnya
cardiac output atau berhenti sama sekali. Hal tersebut menyebakkan suplay darah

2
maupun O2 sangatlah menurun kejaringan, sehingga menimbulkan kondisi penurunan
kesadaran dengan akral dinging pada ektrimitas, Kompensasi dari otot jantung dengan
meningkatkan denyut nadi yang berdampak pada penurunan tekanan darah Juga tidak
memperbaiki kondisi penurunan kesadaran. Aktifitas ginjal juga terganggu pada
penurunan cardiac output,yang berdampak pada penurunan laju filtrasi glomerulus
(GFR ). Pada kondisi ini pengaktifan system rennin, angiotensin dan aldostreron akan ,
menambah retensi air dan natrium menyebabkan produksi urine berkurang( Oliguri <
30ml/jam. Penurunan kontraktilitas miokard pada fase syok yang menyebabkan
adanya peningkatan residu darah di ventrikel, yang mana kondisi ini akan semakin
memburuk pada keadaan regurgitasi maupun stenosis valvular .Hal tersebut dapat
mennyebabkan bendungan vena pulmonalis oleh akumulasi cairan maupun refluk aliran
darah dan akhirnya memperberat kondisi edema paru.

5. Manifestasi Klinis

Timbulnya kardiogenik syok dalam hubungannya dengan IMA dapat dikategorikan


dalam :

1.Timbulnya tiba-tiba dalam waktu 4-6 jam setelah infark akibat gangguan miokard
masih atau ruptur dinding bebas ventrikel kiri
2. Timbulnya secara perlahan dalam beberapa hari sebagai akibat infark berulang
3. Timbul tiba-tiba 2 hingga 10 hari setelah infark miokard disertai timbulnya bising
mitral sistolik, ruptur septum atau disosiasi elektromekanik. Episode ini dapat disertai
atau tanpa nyeri dada, tetapi sering disertai dengan sesaknafas akut.

Keluhan nyeri dada pada infark miokard akut biasanya di daerah substernal, rasa seperti
ditekan, diperas, seperti diikat, rasa dicekik dan disertai rasa takut.Rasa nyeri menjalar ke
leher, rahang, lengan dan punggung. Nyeri biasanya hebat, berlangsung lebih dari jam,
tidak menghilang dengan obat-obatan nitrat. Syok kardiogenik yang berasal dari penyakit
jantung lainnya, keluhan sesuai dengan penyakit dasarnya.

Manifestasi lain syok kardiogenik yang ditandai sebagai berikut :

3
Tekanan darah sistol <90 mmHg
Laju jantung >100x/menit
Denyut nadi lemah
Bunyi jantung berkurang
Perubahan sensorium
Kulit dingin, pucat, lembab
Urine output <30 ml/jam
Nyeri dada
Disritmia
Takipneu
Krakles
Penurunan curah jantung
Index cardiac <2.2 L/min/m2
Peningkatan tekanan arteri pulmonari
Peningkatan tekanan atrial kanan
Peningkatan resisten vaskuler sistemik

6. Pemeriksaan fisik
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik yang sering timbul :
- Gejala hipoperfusi jaringan kulit ; dioforesis (Kulit Lembab), pucat, akral dingin, sianosis,
vena-vena pada punggung tangan dan kaki kolaps.
- Gangguan fungsi mental, gelisah, berontak,apatis, bingung.penurunan kesadaran hingga
koma
- Oliguria(<30/jam )
- Pernapasan cepat ( Takipnea) dan dalam, Ronki akibat bendungan paru.
- Denyut nadi cepat ( Kecuali dijumpai blok A-V)
- Bunyi jantung lemah dengan bunyi jantung S 3
- Prikardium diskinetik
- Bising jantung berasal dari disfungsi valvular ( Aorta atau Mitral )
- Pulsus paradoksus pada infark atau tamponade jantung.
- Tekanan arterial sistolik < 90 mmHG (hipotensi absolute) atau paling tidak 60 mmHg
dibawah tekan basal ( hipotensi relative ).
4
7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan medis syok kardiogenik :
1. Pastikan jalan nafas tetap adekuat, bila tidak sadar sebaiknya dilakukan intubasi.
2. Berikan oksigen 8-15 liter/menit dengan menggunakan masker untuk mempertahankan
PO2 70-120 mmHg
3. Rasa nyeri akibat infark akut yang dapat memperbesar syok yang ada harus diatasi dengan
pemberian morfin.
4. Koreksi hipoksia, gangguan elektrolit, dan keseimbangan asam basa yang terjadi.
5. Bila mungkin pasang CVP.
6. Pemasangan kateter Swans Ganz untuk meneliti hemodinamik.

Medikamentosa :
1. Morfin sulfat 4-8 mg IV, bila nyeri
2. Ansietas, bila cemas
3. Digitalis, bila takiaritmi dan atrium fibrilasi
4. Sulfas atropin, bila frekuensi jantung < 50x/menit
5. Dopamin dan dobutamin (inotropik dan kronotropik), bila perfusi jantung tidak adekuat
Dosis dopamin 2-15 mikrogram/kg/m.
6. Dobutamin 2,5-10 mikrogram/kg/m: bila ada dapat juga diberikan amrinon IV.
7. Norepinefrin 2-20 mikrogram/kg/m
8. Diuretik/furosemid 40-80 mg untuk kongesti paru dan oksigenasi jaringan. Digitalis bila
ada fibrilasi atrial atau takikardi supraventrikel.

8. Pemeriksaan diagnostic
Evaluasi umum
a. Pemeriksaan laboratorium
- Elektrolit; mungkin berubah karena perpindahan cairan atau penurunan fungsi ginjal, terapi
diuretic.
- AGD; Gagal ventrikel kiri ditandai alkalosis respiratorik atau hipoksemia dengan peningkatan
tekanan karbondioksida.
- Enzim jantung; meningkat bila terjadi kerusakan jaringan-jaringan jantung,missal infark
miokard (Kreatinin fosfokinase/CPK, isoenzim CPK dan Dehidrogenase Laktat/LDH,
isoenzim LDH).

5
b. Radiologi.
- Menunjukkan pembesaran jantung atau normal Bayangan mencerminkan dilatasi atau
hipertrofi bilik atau perubahan dalam pembuluh darah atau peningkatan tekanan pulmonal.
- Edema paru interstisial / alveolar
- Mungkin ditemukan efusi pleura

c. Elektrokardiogram
Memberikan evaluasi umum seperti :
- Umumnya menunjukkan infark miokard akut dengan atau gelobang Q
- Elektrikal alternans menunjukkan adanya efusi pericardial dengan tamponade jantung

Evaluasi Khusus
a. Elektrokardiografi
Evaluasi khusus sangat penting untuk menilai :
- Hipokonesis berat ventrikel difus atau segmental ( bila berasal dari infark miokard )
- Efusi pericardial
- Katup mitral dan aorta yang mengalami regurgitasi maupun stenosis
- Ruptur septum

9. Diagnosis
Diagnosis kemungkinan berikut ini harus dipertimbangkan dan dieleminir secara cepat dan
tepat. Akan tetapi tidak boleh ada penundaan pemantauan hemodinamika dan pemberian
terapi , seperti :
- Syok hipovolemik atau sepsis
- Diseksi aorta
- Emboli paru
- Tamponade jantung akut
- Pengaruh obat obatan yang berlebihan
- Ketoasidosis diabetic
- Penyakit pembuluh darah otak
- Perdarahan internal akut
- Pneumotoraks tension
- Insufisiensi pernapasan akut

10. Theraphy / tindakan penanganan


- Etiologi syok harus ditentukan secapat mungkin
- Pemantauan hemodinamik ( kalau mungkin memakai kateter Swan Ganz )
- Pemberian oksigen( kalau mungkin oksigen 28-48 % dengan venture face mask )
- Menghilangkan nyeri dengan morfin bisa diberikan 4-8 mg intravena
- Berikan dopamin 2-15g /kg/m, norepineprin2-20 g /kg/m atau dobotamin2,5-10 g
/kg/m untuk meningkatkan tekanan perfusi arterial dan kontraktilitas. Boleh juga diberikan
amrinor intravena ( kalau ada )
- Cairan intavena mutlak diberikan , kalau mungkin berikan dextran 40.
- Furosemid 40 80 mg atau asam etakrinik 50 mg( bila ada bendungan paru ) .Diuretik
diberikan untuk membantu vasodilatasi vena dan diuresis, hingga bendungan paru dan
kelebihan volume cairan tubuh dapat berkurang sehinga oksigenasi darah meningkat.

6
- Digitalis hanya diberikan pada takikardia supraventrikel dan fibrilasi atrial
- Vasodilatasi hanya diberikan bila dijumpai vasokontriksi perifer hebat dan penderita
dipantau ketat secara hemodinamik.
- Tindakan pintas koroner dan angioplasty darurat kalu perlu
- Bila mungkin pasang CVP.

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Data dasar pengkajian pasien dengan syok kardiogenik , dengan data fokus pada :
a. Aktivitas
- Gejala : kelemahan, kelelahan
- Tanda : takikardia, dispnea pada istirahat atau aktivitas, perubahan warna kulit
kelembaban, kelemahan umum
b. Sirkulasi
- Gejala : riwayat AMI sebelumnya, penyakit arteri koroner, GJK, masalah
TD, diabetes mellitus
- Tanda : tekanan darah turun <90 mmhg atau dibawah, perubahan postural dicatat dari
tidur sampai duduk berdiri, nadi cepat tidak kuat atau lemah, tidak teratur, BJ ekstra S3
atau S4 mungkin menunjukan gagal jantung atau penurun an kontraktilitas ventrikel,
Gejala hipoperfusi jaringan kulit ; dioforesis ( Kulit Lembab ), pucat, akral dingin,
sianosis, vena vena pada punggung tangan dan kaki kolaps
c. Eliminasi
- Gejala : Produksi urine < 30 ml/ jam
- Tanda : oliguri
d. Nyeri atau ketidaknyamanan
- Gejala : nyeri dada yang timbulnya mendadak dan sangat hebat, tidak hilang dengan
istirahat atau nitrogliserin, lokasi tipikal pada dada anterio substernal, prekordial, dapat
menyebar ketangan, rahang, wajah, Tidak tentu lokasinya seperti epigastrium, siku,
rahang,abdomen,punggung, leher, dengan kualitas chorusing, menyempit,
berat,tertekan , dengan skala biasanya 10 pada skala 1- 10, mungkin dirasakan
pengalaman nyeri paling buruk yang pernah dialami.
- Tanda : wajah meringis, perubahan postur tubuh, meregang, mengeliat, menarik diri,
kehilangan kontak mata, perubahan frekuensi atau irama jantung, TD,pernafasan, warna
kulit/ kelembaban ,bahkan penurunan kesadaran.
e. Pernafasan
- Gejala : dyspnea dengan atau tanpa kerja, dispnea nocturnal, batuk dengan atau tanpa
produksi sputum,penggunaan bantuan pernafasan oksigen atau medikasi,riwayat
merokok, penyakit pernafasan kronis
- Tanda : takipnea, nafas dangkal, pernafasan laboret ; penggunaan otot aksesori
pernafasan, nasal flaring, batuk ; kering/ nyaring/nonprodoktik/ batuk terus
menerus,dengan / tanpa pembentukan sputum: mungkin bersemu darah, merah muda/

7
berbuih ( edema pulmonal ). Bunyi nafas; mungkin tidak terdengar dengan crakles dari
basilar dan mengi peningkatan frekuensi nafas, nafas sesak atau kuat, warna kulit; pucat
atau sianosis, akral dingin.

2. Diagnosa Keperawatan Prioritas


a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktiliti
b. Ketidakseimbangan nutrisi Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan peningkatan
metabolisme kurangnya nutrisi exogenous

NANDA NOC NIC


Penurunan curah Keefektifan pompa Perawatan Cardiac
jantung jantung Aktivitas :
berhubungan Indikator: 1. Evaluasi nyeri dada (ex :
dengan perubahan 1.Tekanan darah, hasil intensitas, lokasi, penjalaran,
kontraktiliti yang diharapkan. durasi, dan faktor penyebab
Definisi: Keadaan 2. Kecepatan jantung dan faktor yang mengurangi
pompa darah oleh yang diharapkan. nyeri
jantung yang tidak 3. Index jantung yang 2. Melakukan penilaian yang
adekuat untuk diharapkan. komprehensive terhadap
mencapai kebutuhan 4. Fraksi ejeksi yang sirkulasi periferal (ex: periksa
metabolisme tubuh diharapkan. tekanan periferal, edema,
5. Aktivitas toleransi kapiler refill, warna, dan
Batasan yang diharapkan Nadi temperatur ekstremitas)
Karakteristik: perifer kuat 3. Dokumentasikan adanya
1.Perubahan 6. Ukuran jantung kardiak distrimia
kecepatan jantung/ normal 4.Catat tanda dan gejala
irama. 7. Warna kulit penurunan curah jantung
2. Bradikardi 8. Distensi vena leher 5. Monitor frekuensi tanda
3. Perubahan EKG tidak ada vital
4. Palpitasi 9. Disaritmia tidak ada 6. Monitor status
5. Takikardi 10. Bunyi jantung kardiovaskuler
6. Perubahan preload abnormal tidak ada 7. Monitor distrimia kardiak,
7. Edema 11. Angina tidak ada termasuk gangguan kedua
8. Penurunan tekanan 12. Edema peripheral irama dan konduksi
vena central tidak ada 8. Monitor status respirasi
9. Penurunan tekanan 13. Edema pulmonal untuk gejala gagal jantung
arteri paru tidak ada 9. Monitor abdomen untuk
10. Kelemahan 14. Diaporesis adanya indikasi penurunan
11. Peningkatan sedalam-dalamnya perfusi
tekanan vena central tidak ada 10. Monitor keseimbangan

8
12. Peningkatan 15. Kelemahan yang cairan (ex: intake/output dan
tekanan arteri paru ekstrim tidak ada berat badan setiap hari)
13. Distensi vena Monitor pacemaker yang
jugularis berfungsi, jika diperlukan
14. Murmur Status Sirkulasi 11. Mengenali adanya
15. Peningkatan BB Indikator : perubahan tekanan darah
16. Perubahan 1.Tekanan darah 12. Mengenali efek psikologis
afterload sistolik yang yang menekankan kondisi
17. Kulit berkeringat diharapkan 13. Evaluasi respon pasien
18. Dispnea 2. Tekanan darah pada ektopi atau distrimia
19. Penurunan nadi diastolik yang 14. Menyediakan terapi
perifer diharapkan antiaritmia berdasarkan unit
20. Penurunan 3. Tekanan nadi yang kebijaksanaan (obat
resistensi pembuluh diharapkan antiaritmia,
darah pulmonal 4. Rata-rata tekanan kardioversion/defibrilasi), jika
21. Penurunan darah yang diharapkan diperlukan
tahanan tekanan 5. Tekanan vena 15. Monitor respon pasien
darah sistemik central yang terhadap pengobatan
22. Peningkatan diharapkan antiaritmia
resistensi pembuluh 6. Tekanan pulmonal 16. Instruksikan pasien dan
darah pulmonal paru yang diharapkan keluarga pada pembatasan
23. Peningkatan 7. Hipotensi ortostatik aktivitas dan progresi
tahanan tekanan tidak ada 17. Atur periode latihan dan
darah sistemik 8. Kecepatan jantung istirahat untuk menghindari
24. Oliguria yang diharapkan kelelahan
25. Pengisian kembali 9. Bunyi jantung Monitor toleransi aktivitas
dari perifer abnormal tidak ada klien
26. Perubahan warna 10. Angina tidak ada
kulit 11. Gas darah yang
27. Hasil pembacaan diharapkan
tekanan darah 12. Arteri-vena
berbeda-beda oksigen berbeda
4. 28. Perubahan dengan yang
kontraktilitas diharapkan
29. Ronki basah 13. Bunyi nafas
30. Batuk adventitious tidak ada
31. Fraksi ejeksi < ventrikel kiri
40% 14. Penurunan index
32. Penurunan index volume gerak
beban kerja ventrikel 15. Penurunan index

9
kiri jantung
32. Penurunan index 16. Ortopnea
volume gerak 17. Dispnea nocturnal
34. Penurunan index paroksismal
jantung 18. S3 atau S4 (bunyi
35. Ortopnea jantung)
36. Dispnea nocturnal
paroksismal 19. Tingkah laku/
37. S3 atau S4 (bunyi emosional
jantung) 20. Kegelisahan
38. Tingkah laku/ 21. Keresahan Edema
emosional perifer tidak ada
39. Kegelisahan 22. Asites tidak ada
40. Keresahan 23. Status kognitif
yang diharapkan
24. Kelemahan ekstrim
tidak ada

Ketidakseimbangan Status nutrisi : Manajemen nutrisi


nutrisi Kurang dari Indikator: Aktivitas :
kebutuhan tubuh 1. Intake nutrisi 1. Menanyakan jika pasien
berhubungan 2. Intake makan dan memiliki alergi makanan
dengan peningkatan minum apapun.
metabolisme 3. Energi 2. Memastikan preferensi
Definisi : Keadaan 4. Massa tubuh makanan pasien.
individu yang 5. Berat badan 3. Menentukan, bekerjasama
mengalami 6. Tindakan biokimia dengan diet sebagai jumlah
kekurangan asupan 7. Asupan makanan kalori yang tepat, dan jenis gizi
nutrisi untuk melalui oral yang diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan Status nutrisi: intake memenuhi persyaratan gizi
metabolic makanan dan cairan 5. Mendorong asupan kalori
Batasan Indikator : yang tepat bagi tubuh jenis dan
karakteristik : 1. Asupan makanan gaya hidup
1. Kram abdomen melalui selang 6. Mendorong peningkatan
2. Nyeri abdomen 2. Asupan cairan asupan protein, besi, dan
3. Keengganan untuk melalui oral vitamin C, yang sesuai.
makan 3. Asupan cairan 7. Menawarkan makanan
4. BB kurang dari 4. Asupan total ringan (mis.; sering minuman,
20% atau lebih di parenteral nutrisi jus buah-buahan/buah segar)
bawah ideal yang sesuai

10
5. Kapiler rapuh 8. Memberikan makanan
6. Diarrhea ringan, bubur, dan hambar,
7. Rambut rontok yang sesuai
8. Bising usus 9. Menyediakan pengganti
hiperaktif gula, yang sesuai
9. Kurangnya 10. Memastikan bahwa diet
makanan termasuk makanan tinggi serat
10. Kurang informasi untuk mencegah sembelit
11. Kurang minat pada 11. Menawarkan bumbu dan
makanan rempah-rempah sebagai
12. Kehilangan berat alternatif garam
badan dengan intake 12. Menyediakan pasien
yang adekuat dengan protein tinggi, kalori
13. Miskonsepsi tinggi, bergizi jari makanan
14. Misinformasi dan minuman yang dapat
15. Luka membrane mudah dikonsumsi, yang
mukosa sesuai
16. Merasakan tidak 13. Menyediakan makanan
mampu menelan pilihan
makanan 14. Menyesuaikan diet untuk
17. Kehilangan tonus gaya hidup pasien yang sesuai
otot 15. Pasien mengajarkan cara
18. Melaporkan untuk menjaga buku harian
perubahan sensasi makanan, yang diperlukan
rasa 16. Memantau rekaman asupan
19. Melaporkan intake gizi konten dan kalori
makanan kurang dari 17. Menimbang pasien interval
RDA waktu yang tepat
20. Merasa segera 18. Mendorong pasien untuk
kenyang setelah memakai gigi palsu benar
memasukan makanan dipasang dan/atau
21. Luka rongga mulut mendapatkan perawatan gigi
22. Steatorhea 19. Memberikan informasi
23. Kelemahan otot yang tepat tentang kebutuhan
menelan atau gizi dan bagaimana untuk
mengunyah bertemu dengan mereka
20. Mendorong safe makanan
persiapan dan pelestarian
teknik
21. Menentukan presentase

11
pasien kemampuan untuk
memenuhi kebutuhan gizi
22. Membantu pasien
menerima bantuan dari
program gizi masyarakat yang
sesuai, yang diperlukan

3. Intervensi Keperawatan

1. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d penurunan reflek batuk

Tujuan: setelah dilakuakn tindakan keprawatan, pasienmenunjukkan jalan napas paten

Kriteria hasil:

a. Tidak ada suara snoring

b. Tidak terjadi aspirasi

c. Tidak sesak napas

Intervensi :

1) Kaji kepatenan jalan napas

2) Evaluasi gerakan dada

3) Auskultasi bunyi napas bilateral, catat adanya ronki

4) Catat adanya dispnu,

5) Lakukan pengisapan lendir secara berkala

6) Berikan fisioterapi dada

7) Berikan obat bronkodilator dengan aerosol.

2. Kerusakan pertukaran gas b.d. perubahan membran kapiler-alveolar

12
Tujuan : setelah dilakukan tindakan kerpawatan, pasien dapat menunjukkan oksigenasi dan
ventilasi adekuat

Kriteria hasil:

a. GDA dalan rentang normal

b. Tidak ada sesak napas

c. Tidak ada tanda sianosis atau pucat

Intervensi:

1) Auskultasi bunyi napas, catat adanya krekels

2) Berikan perubahan posisi sesering mungkin

3) Pertahankan posisi duduk semifowler

3. Penurunan curah jantung b.d. perubahan kontraktilitas miokardial/perubahan


inotropik.Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan, pasien menunjukkan tanda
peningkatan curah jantung adekuat.

Kriteria hasil:

a. Frekuensi jantung meningkat

b. Status hemodinamik stabil

c. Haluaran urin adekuat

d. Tidak terjadi dispnu

e. Tingkat kesadaran meningkat

f. Akral hangat

Intervensi:

1) Auskultasi nadi apikal, kaji frekuensi, irama jantung

2) Catat bunyi jantung

3) Palpasi nadi perifer


13
4) Pantau status hemodinamik

5) Kaji adanya pucat dan sianosis

6) Pantau intake dan output cairan

7) Pantau tingkat kesadaran

8) Berikan oksigen tambahan

9) Berikan obat diuretik, vasodilator.

10) Pantau pemeriksaan laboratorium.

4. Kelebihan volume cairan b.d. meningkatnya produksi ADH dan retensi natrium/air.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien mendemonstrasikan volume cairan


seimbang

Kriteria hasil:

a. Masukan dan haluaran cairan dalam batas seimbang

b. Bunyi napas bersih

c. Status hemodinamik dalam batas normal

Berat badan stabil

Tidak ada edema

Intervensi :

1) Pantau / hitung haluaran dan masukan cairan setiap hari

2) Kaji adanya distensi vena jugularis

3) Ubah posisi

4) Auskultasi bunyi napas, cata adanya krekels, mengi

5) Pantau status hemodinamik


14
6) Berikan obat diuretik sesuai indikasi

4. Evaluasi

Berhasil tidaknya penanggulangan syok tergantung dari kemampuan mengenal


gejala-gejala syok, mengetahui, dan mengantisipasi penyebab syok serta efektivitas dan
efisiensi kerja kita pada saat-saat/menit-menit pertama penderita mengalami syok.

15