Anda di halaman 1dari 15

TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER

MANAGEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

Oleh:

Samsurizal

NPM : 15420046

Dosen

Dr. Marsal Usman, Drs.,M.Kes

KELAS MPK A

PROGRAM STUDI MAGISTER KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MALAHATI
TAHUN 2016
1. Dua domain utama Manajemen Sumber Daya Manusia adalah
perencanaan/rekrutmen tenaga kerja dan retensi pegawai. Jelaskan beberapa
fungsi Sumber Daya Manusia yang termasuk dalam masing-masing domain
tersebut dan jelaskan manfaatnya bagi MSDM.
2. Definisikan istilah berikut : kelelahan kerja, kepuasan kerja, retensi dan
penggantian pegawai (turnover). Mengapa istilah tersebut penting dalam
mengatur tenaga kesehatan yang professional?
3. Bagaimana pengaruh Globalisasi terhadap pengembangan sumber daya
manusia, khususnya SDM Kesehatan. Jelaskan dengan data-data yang
saudara ketahui.
4. Bagaimana SDM Kesehatan merespon UU.No.22/1999 dan UU.No.25/1999
dilingkungan kerja Sdr (Dinkes, Rumah Sakit dan Puskesmas), dan menurut
sdr apakah sudah sesuai dengan program menuju MDGs 2015?
5. Fleksibilitas development staf, karena mereka telah dipersiapkan untuk dapat
bekerja di berbagai bagian organisasi, dapat merupakan investment yang
mahal. Bagaimana sdr merancang minimalisasi cost, namun tetap dengan
hasil yang sesuai dengan design pengembangan performance staf sdr. Apa
risiko sdr dengan kebijakan itu?
6. Indonesia mungkin akan mengalami resesi berat. Seandainya itu terjadi,
strategi apakah yang sdr pikirkan untuk meningkatkan atau paling tidak
menjaga performance organisasi sdr, mengingat sdr tidak mungkin
mengabaikan kondisi eksternal organisasi
7. Beri komentar, kritik, analisis, harapan tentang kuliah MSDM yang sdr ikuti
selama satu semester ini. Diharapkan komentar sdr adalah komentar yang
jujur.

1. Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia - Sudah merupakan tugas utama


dari seorang manajer sumber daya manusia untuk mengelola sumber daya
manusia yang dimiliki dengan seefektif mungkin, supaya bisa diperoleh
suatu satuan sumber daya manusia yang tidak mengecewakan, merasa puas
dan sangat memuaskan. Manajemen sumber daya manusia adalah satu
bagian dari manajemen yang memfokuskan diri pada sumber daya manusia.
Fungsi perencanaan manajemen sumber daya manusia adalah upaya
sadar dalam pengambilan sebuah keputusan yang sudah diperhitungkan
dengan matang mengenai hal apa saja yang akan dilakukan dimasa
mendatang oleh suatu perusahaan untuk mencapai tujuan yang sudah
ditentukan.
Schermerhorn menyatakan bahwa rekrutmen (Recruitment)
merupakan suatu proses dalam penarikan kandidat guna mengisi posisi
posisi yang kosong. perekrutan yang efektive akan memberikan suatu
peluang kerja kepada orang orang yang memiliki kemampuan dan
ketrampilan yang memeuhi kualifikasi dan spesifikasi dari perkerjaan.
Retensi adalah tindakan penahan dimana ini merupakan kemampuan
untuk menlanjutkan kerja individu yang berkualitas, yaitu perawat
dan/penyedia layanan kesehatan lainnya/perusahaan asosiasi yang
dinyatakan akan meninggalkan organisasi. Dampak dari tindakan ini adalah
untuk menjaga stabilitas dan meningkatkan kualitas layanan serta
mengurangi biaya bagi organisasi.
Sudah mutlak menjadi tugas manajemen SDM untuk mengelola
kemampuan manusia seefektif mungkin, agar keefektifan itu diperoleh
satuan SDM yang akan merasa puas dan bisa memuaskan pihak lain. Pihak
lain tersebut bisa orang lain, atasan maupun pihak perusahaan. Manajemen
sumber daya manusia memiliki fungsi dan tugas tertentu. Fungsi itulah yang
akan mengatur SDM yang ada di sebuah perusahaan.

Manfaatnya tidak terlepas dari fungsi-frungsi SDM itu sendiri.


Manfaat dari manajemen sumber daya manusia adalah selain bisa
merencanakan apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh perusahaan,
perusahaan juga bisa melakukan pengorganisasian terhadap SDM yang
mereka miliki.

Selain itu perusahaan bisa melakukan poengarahan kepada para


karyawan yang menjadi sumber daya manusia yang ada di perusahaan itu
agar lebih produktif dan lebih berkualitas dalam bekerja. Begitu pentingnya
melakukan manajemen karyawan bagi seb uah perusahaan, jika ada
perusahaan yang tidak berkembang dan tidak maju maka penting bagi
perusahaan tersebut untuk segera melakukan manajemen SDM.

Referensi : http://ilmumanajemensdm.com/fungsi-utama-dalam-
manajemen-sdm-yang-perlu-anda-kuasai-untuk-menjadi-manajer-sdm-andal/

2. Kelelahan menunjukkan kondisi yang berbeda-beda dari setiap individu,


tetapi semuanya bermuara pada kehilangan efisiensi dan penurunan
kapasitas kerja serta ketahanan tubuh (Tarwaka, 2004). Kelelahan adalah
aneka keadaan yang disertai penurunan efisiensi dan ketahanan dalam
bekerja (Sumamur, 1989). Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan
menambah tingkat kesalahan kerja (Eko Nurmianto,2003). Kelelahan kerja
(job bournout) adalah sejenis stress yang banyak dialami olehorang-orang
yang bekerja dalam pekerjaan-pekerjaan pelayanan terhadap
manusiaUniversitas Sumatera Utaralainnya seperti perawat kesehatan,
transportasi, kepolisian, dan sebagainya. (Schuler,1999).
Mengenai batasan atau definisi kepuasan kerja belum ada
keseragaman.Walaupun demikian tidaklah terdapat perbedaan yang prinsipil
daripadanya. Menurut beberapa ahli antara lain : menurut Wexley & Yukl,
kepuasan kerja adalah the way anemployee feels about his / her job, artinya
perasaan seseorang terhadap pekerjaan.
Sedangkan menurut Athanasiou, kepuasan kerja adalah sebagai
positive emosionalstate. Vroom menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah
refleksi dari job attitude yang bernilai positif dan Hoppeck manyatakan
bahwa kepuasan kerja merupakan penilaiandari pekerja yaitu seberapa jauh
pekerjaannya secara keseluruhan memuaskankebutuhannya. Luthan
mengatakan bahwa kepuasan kerja karyawan biasanyabersumber pada (1)
pekerjaan itu sendiri (Intrinsic factory) ; (2) lingkungan kerjakaryawan yang
bersangkutan (Ekstrinsic factors) ; dan (3) proses kerja dan hasil kerja
(Satisfaction on the work process and outcome).(Asad, 1998).
Data tentang retensi perawat dapat disimpulkan dari data jumlah
perawat yang keluar disuatu rumah sakit atau institusi lain yang
mendayagunakan perawat. Berikut ini beberapa data tentang perawat yang
keluar dari suatu rumah sakit atau institusi. Penelitian Sebolt (1978) dalam
Gillies (1994) jumlah perawat yang keluar adalah 35% hingga 60%
pertahun. Sedangkan Duldt (1981) dalam Gillies (1994) sekitar 70%.
Keadaan demikian disebabkan oleh ketidaksesuaian antara kebutuhan
institusi dengan kebutuhan perawat. Kebutuhan institusi adalah bagaimana
mendayagunakan perawat sehingga produktif dan efektif dalam penggunaan
dana, kemudian dapat membayar utang-utang institusi dengan cepat.
Sedangkan kebutuhan perawat antara lain terpenuhinya rasa aman diri,
pengembangan keterampilan diri, sosialisasi, kepuasan kerja, kepuasan
imbalan jasa, peningkatan aktualisasi diri dan perencanaan karir yang jelas
serta kualitas asuhan keperawatan yang adekuat (Gillies, 1994).
Summers (2002), berpendapat bahwa untuk meningkatkan retensi
perawat di rumah sakit diperlukan beberapa hal antara lain: seleksi calon
perawat secara professional, disepakati mengenai imbalan jasa yang akan
diterima, kelanjutan pendidikan yang akan diperoleh, mengikutsertakan
sertifikasi kekhususan, peningkatan komunikasi dengan perawat, dan
pemberian waktu yang fleksibel bagi setiap perawat. Perilaku menyimpang
atau menarik diri dipengaruhi oleh persepsi seseorang yang berhubungan
dengan pekerjaannyayang didefinisikan sebagai kepuasan kerja.

Referensi : jtptunimus-gdl-mardekawat-5786-1-bab1re-I
3. Pada era globalisasi ini, pelaku bisnis juga harus mampu mengintregasikan
semua dimensi lingkungan hidup sebab masyarakat akan menuntut
tanggung jawab perusahaan akan factor lingkungan. Pelaku bisnis harus
tanggap menghadapi isu globalisasi dengan bijaksana. Selain itu, flexibility
dan continuous learning merupakan karakteristik yang sangat penting dan
yang sudah perlu dipertimbangkan oleh pelaku bisnis untuk menjawab
tantangan perdagangan bebas yang semakin kompetitif. Perusahaan dituntut
berpikir global serta mempunyai visi dan misi yang jauh berwawasan ke
depan.
Adanya perkembangan global secara langsung dan tidak langsung
juga memiliki pengaruh terhadap organisasi dan manusia di dalamnya.
Budaya global berinteraksi dengan budaya regional, nasional, organisasi dan
fungsi-fungsi organisasi termasuk sikap dan perilaku individu di dalamnya
sehingga perubahan global juga dapat direspon dan mempunyai hubungan
dan pengaruh dengan aktivitas manusia dalam organisasi. Perkembangan
global memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan ilmu MSDM
karena pada dasarnya memang perubahan itu terjadi pada segenap manusia
yang selama ini berada dalam organisasi-organisasi. Perubahan merupakan
fenomena yang tidak mungkin dihindari, tetapi bagaimana SDM dapat
memanfaatkan perubahan tersebut bagi kepentingan organisasi dan anggota-
anggota di dalamnya. Jika tidak dapat beradaptasi dengan perubahan
lingkungan yang terjadi maka organisasi akan berakhir pada pengurangan
bahkan pemusnahan organisasi di masa yang akan datang.
Jika kita lihat para pemimpin Negara ASEAN pada tahun 1992
memutuskan mendirikan AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang bertujuan
meningkatkan keunggulan bersaing regional. pada kompetisi tingkat
ASEAN saja, kita dituntut benar-benar siap, apalagi menghadapi persaingan
dunia. Kotter (1992) mengingatkan bahwa globalisasi pasar dan kompetisi
menciptakan suatu perubahan yang sangat besar.
Strategi yang tepat harus diaplikasi untuk meraih keberhasilan
melalui pemanfaatan peluang-peluang yang ada pada lingkungan bisnis
yang bergerak cepat dan semakin kompetitif. Implikasi globalisasi pada
MSDM tampaknya masih kurang diperhatikan secara proporsional saat ini
karena tolak ukur keefektifannya yang kurang memiliki keterkaitan
langsung dengan strategi bisnis. Alat ukur keefektifan organisasi dan
aktivitas sumber daya manusia perlu dirancang secara profesional. Capital
Intellectual dan pengukurannya akhir-akhir ini sering dipertimbangkan
sebagai alternative yang menjanjikan kendati pengimplementasiaannya
tidak semudah yang diperkirakan.
Dunia bisnis akan semakin berorientasi global terlebih lagi jika
implementasi perdagangan bebas menjadi kenyataan. Dalam hal ini
perusahaan perlu di dukung oleh SDM yang berkualitas agar mampu
bersaing dan menggerakan roda pembangunan. Mendapatkan calon
karyawan yang berkualitas dan professional di Indonesia tidak selalu
mudah. Kenyataan menunjukkan bahwa lebih dari seratus ribu lowongan
pekerjaan di Indonesia tidak terisi. Hal tersebut disebabkan antara lain
karena ketidaksesuaian antara job requirements dengan kompetensi calon.
Bajak-membajak tenaga profesional dan headhunting masih sering terjadi
hingga saat ini. Tenaga profesional asing masih banyak dipekerjakan untuk
menduduki posisi-posisi tertentu terutama di perusahaan besar yang
berorientasi internasional. Bahkan tidak tertutup kemungkinan bahwa akan
lebih banyak lagi expatriate yang akan bekerja di Indonesia di mendatang.
Berdasarkan kenyataan ini, sedini mungkin SDM handal dan berkompetensi
tinggi harus disiapkan. SDM di negara kita tampaknya masih kurang
menunjukkan kompetensi yang diharapkan.

Referensi: :
https://ranggaputra14ekonomi.wordpress.com/2013/12/27/dampak-
globalisasi-terhadap-perkembangan-msdm-dan-sdm/

4. Dalam UU ini DPRD terpisah dengan Pemerintahn Daerah, hal ini bisa
mengakibatkan DPRD memposisikan diri berseberangan dengan Kepala
Daerah dan Perangkat Daerah. DPRD mempunyai kedudukan yang sejajar
dengan Kepala Daerah, namun walaupun memiliki kedudukan yang sama
Kepala Daerah mempertanggung jawabkan pelaksanakan kebijakan Daerah
kepada DPRD. Hala ini sebenarnya memberi peluang untuk terciptanya
hubungan yang tidak sehat antara Kepala Daerah dengan DPRD. Walaupun
pada prinsipnya sebagaimana telah dijelaskan dalam UU N0. 22 Tahun 1999
memberikan peluang kepada DPRD dalam menjalani pengawasan kepada
Kepala Daerah agar tidak bertindak berlebihan. Dan DPRD juga bisa
mengberhentikan Kepala Daerah apabila perbaikan Laporan Pertanggung
Jawaban (LPJ) Tahunan ditolak.
Otonomi daerah merupakan suatu kadaan untuk mewujudkan
kemandirian suatu daerah dalam kaitan pembuatan dan pengambilan
keputusan mengenai kepentingan daerahnya sendiri tanpa intervensi pihak
lain. Dalam hal ini otonomi daerah sering dikatakan sebagai konsep
desentralisasi kekuasaan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.
Pemberlakuan otonomi daerah khususnya dalam UU No. 22 Tahun
1999 Tentang Pemerintahan Daerah perlu dicermati kembali. Karena hal ini
hanya memindahkan potensi korupsi dari Pusat ke Daerah, yang mana
otonomi daerah ini juga memunculkan raja-raja kecil yang mempersubur
kolusi, korupsi, dan nepotisme di daerah. Disamping itu arogansi DPRD
semakin tidak jelas karena mereka merupakan elite lokal yang berpengaruh,
karena perannya itu ditengah demokrasi yang sepenuhnya belum terlaksana
ditingkat lokal, DPRD akan menjadi kekuatan politik yang baru yang sangat
rentan terhadap korupsi. Dan dalam pengambilan keputusan belum
melibatkan publik dan masih berada di lingkaran elite lokal provinsi dan
kabupaten/kota. Belum terlibatnya publik dalam pembuatan kebijakan itu
tercermin dari pembuatan peraturan daerah (perda).
Selain itu otonomi daerah juga memiliki dampak positif yaitu
memunculkan kesempatan identitas lokal yang ada di masyarakat.
Berkurangnya wewenang dan kendali pemerintah pusat mendapatkan respon
tinggi dari pemerintah daerah dalam menghadapi masalah yang berada di
daerahnya sendiri. Bahkan dana yang diperoleh lebih banyak daripada yang
didapatkan melalui jalur birokrasi dari pemerintah pusat. Dana tersebut
memungkinkan pemerintah lokal mendorong pembangunan daerah serta
membangun program promosi kebudayaan dan juga pariwisata.
Penjelasan dalam UU ini tentang kedudukan dan kewenangan yang
dimiliki oleh Pemerintah Daerah dan Pemerintahan Provinsi harus lebih
diperjelas. Karena hal ini dapat menimbulkan perselisihan antara
Pemerintah Kabupaten atau Kota dengan Pemerintahan Provinsi yang
nantinya jika keharmonisan keduanya rusak bakal membuat kewalahan
Pemerintahan Pusat, untuk itu Pemerintah Pusat harus segera memperjelas
tentang hal ini.
Kemudian fungsi dan peran DPRD juga harus ditinjau kembali
agar tidak terjadi kolusi, korupsi, dan nepotisme di tingkat daerah yang
nantinya bakal sangat mengganggu pembangunan daerah tersebut.

Referensi : http://ronibintara.blogspot.co.id/2012/04/otonomi-daerah-
berdasakan-uu-no22-tahun.html

5. Berbagai permasalahan yang ditinggalkan oleh sistem pembangunan dengan


pendekatan konsep Maksimalisasi utility menegaskan bahwa saat ini dan
kedepan Indonesia harus berbenah diri dalam merumuskan kebijakan
pembangunannya. Konsep maksimalisasi utility dinilai tidak lagi mampu
menyelesaikan masalah-masalah ekonomi seperti kesenjangan dan
kemiskinan. Saatnyalah perumusan kebijakan pembangunan baik di tingkat
nasional maupun di tingkat daerah selayaknya mengedepankan pendekatan
pembangunan yang berorientasi pada pola meminimalkan risiko terjadinya
ekonomi biaya tinggi. Pola pembangunan seperti ini sangat sesuai untuk
daerah-daerah kepulauan. Sebab di setiap daerah pada wilayah kepulauan,
seringkali menghadapi masalah ekonomi biaya tinggi sebagai konsekuensi
dari terbatasnya akses terhadap kebutuhan barang dan jasa dengan harga yang
berbeda-beda. Kenapa pendekatan ini sangat penting.

Pertama, Secara geografis Indonesia adalah negara kepulauan terbesar


dengan jumlah penduduknya terbesar keempat didunia dan pola penyebaran
penduduknya yang tidak merata maka dituntut manajemen pengelolaan
pembangunan yang se-efesien mungkin. Selama ini orientasi pembangunan
yang ada adalah landed oriented bukan kelautan (ocean oriented) padahal
negara kita adalah negara maritim terbesar dengan karaketeristik pulau-pulau
dan kepulauan yang tersebar dari ujung barat pulau Rondo di sabang sampai
ke ujung timur pulau Liki di Papua. Sebagai negara kepulauan jika hanya
mengandalkan pada optimalisasi anggaran seperti yang terjadi selama ini
maka pola pembangunan akan cenderung menuju kedaerah-daerah yang
memang secara infrastruktur lebih baik. Investasi akan banyak mengalir
kedaerah-daerah tertentu saja terutama di pulau Jawa. Hal ini dikarenakan
daerah tersebut mampu memberikan jaminan investasi yang baik. Sementara
daerah-daerah tertinggal yang minim infrastruktur harus sabar dan gigit jari
untuk mendatangkan investasi. Faktor biaya logistik yang mahal adalah salah
satu masalah mendasar bagi daerah-daerah yang bercirikan pulau dan
kepulauan.

Kedua, konektivitas antar wilayah pulau-pulau kecil dan kepulauan


menjadi hal mendesak untuk segera direalisasikan terutama bagi daerah-
daerah atau pulau-pulau terluar yang berbatasan langsung dengan wilayah
negara lain. Mengingat kebijakan pembangunan untuk daerah-daerah
perbatasan dan terluar kurang mendapat perhatian dari pemerintah sehingga
Indonesia dikenal sebagai negara yang sangat mudah untuk kegiatan
penyelundupan seperti illegal fishing dan illegal logging. Akibatnya tidak
sedikit uang yang lari ke luar negeri melalui perairan-perairan bebas
melewati perbatasan yang minim pengawasan dan control dari pemerintah
daerah setempat. Hal ini terus menerus terjadi dan seakan-akan pemerintah
pusat metutup mata dan cenderung membiarkan apalagi kegiatan
penyelundupan tersebut ditengarai juga melibatkan aparat negara. Kerugian
negara akibat kegiatan illegal ini ditaksir mencapai ratusan triliun rupiah.
Dengan memperkuat konektivitas antar wilayah dan antar pulau terutama
yang berbatasan langsung dengan negara lain maka diharapkan kegiatan
penyelundupan dapat dicegah dan dihentikan. Konektivitas yang baik juga
akan berdampak pada penurunan biaya logistik antar wilayah terutama antar
pulau-pulau.

Ketiga, daya saing nasional. Sampai dengan tahun 2013 menurut


laporan Global Competitiveness Report indeks daya saing Indonesia berada
pada rangking 38 dari 148 negara yang disurvei. Faktor infrastruktur dan
institusi masih menjadi kendala besar untuk meningkatkan daya saing
nasional. Disisi lain indeks performance logistic tahun 2014 Indonesia
berada pada rangking 53 sehingga jika ingin meningkatkan kinerja logistik
dalam rangka meningkatkan daya saing di tingkat global maka masalah
infrastruktur dan pengelolaan institusi kelembagaan harus mendapatkan
perhatian yang besar dan menjadi fokus arah kebijakan pembangunan
kedepan.

Atas dasar ketiga permasalahan diatas sehingga dibutuhkan model


pendekatan baru dalam kebijakan pembangunan terutama bagaimana negara
dapat berperan memberikan insentif khususnya bagi daerah-daerah yang
masih tertinggal secara ekonomi. Penguatan kelembagaan dan peningkatan
mutu sumberdaya manusia adalah salah satu upaya untuk memperkuat
proses pelaksanaan pembangunan dengan pendekatan konsep minimalisasi
cost. Semua stake holder pembangunan, para pelaku pasar, pemerintah,
investor, perusahaan dan pelaku ekonomi kecil dapat bersinergi
merumuskan kebijakan pembangunan yang pro terhadap minimalisasi biaya
dan resiko. Sehingga maksimalisasi anggaran untuk pembiayaan
pembangunan diarahkan kepada kebijakan yang lebih menekankan pada
usaha mengurangi biaya ekonomi yang tinggi akibat dari buruknya sistem
logistik nasional.
Referensi : http://jikti.bakti.or.id/updates/maksimalisasi-utility-versus-
minimalisasi-cost
6. Krisis ekonomi di negara-negara penggerak ekonomi dunia tidak diketahui
kapan berakhirnya. Krisis ekonomi tersebut semakin sulit ditangani karena
ada polarisasi politik dalam negeri di Amerika Serikat, Uni Eropa (UE), dan
Jepang. Karena melemahnya ekonomi mereka, momentum pertumbuhan
juga melambat di negara-negara berkembang, termasuk China, Brasil, India,
dan Korea. World Development Outlook Update IMF tanggal 16 Juli 2012
memperkirakan bahwa tingkat laju pertumbuhan ekonomi dunia masih akan
lemah, 3,5 persen tahun 2012 dibandingkan 3,9 persen tahun 2011.

Pengaruh krisis global pada ekonomi nasional tecermin pada neraca


pembayaran luar negeri yang mencatat transaksi barang, jasa, dan keuangan.
Dampak pertama krisis ekonomi global adalah penurunan nilai ekspor
karena merosotnya volume dan tingkat harga komoditas primer di pasar
dunia. Lebih dari 10 tahun terakhir, ekspor Indonesia sangat bergantung
pada ekspor komoditas primer hasil pertambangan dan pertanian.

Tujuan utama ekspor bahan mentah adalah China dan India yang
ekonominya tumbuh pesat 9-10 persen setahun selama lebih dari tiga
dasawarsa terakhir. Proses mekanisasi, motorisasi, dan urbanisasi di kedua
negara tersebut memerlukan segala jenis bahan mentah. Rakyatnya yang
semakin makmur memerlukan bahan makanan yang lebih berkualitas,
seperti ikan laut dan berdarmawisata ke luar negeri. Kedua negara itu
memerlukan batubara, minyak, dan gas bumi untuk menghasilkan listrik
yang diperlukan oleh industri manufaktur dan memompa air tanah untuk
keperluan pengairan pertanian.

Bencana alam berupa kekeringan dan banjir di berbagai pelosok dunia


telah mengganggu produksi pertanian dan meningkatkan harganya. Hal ini
sudah terasa pada kenaikan harga kacang kedelai dan gandum yang
meningkatkan nilai impor. Pada gilirannya, gabungan penurunan ekspor
dengan peningkatan impor akan menyebabkan defisit neraca perdagangan
kita. Defisit neraca perdagangan juga terjadi karena besarnya komponen
impor pengeluaran negara, produksi nasional, investasi, dan konsumsi
masyarakat.

Peningkatan penganggur di sejumlah negara akan mengurangi


permintaan internasional akan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang pada
umumnya memiliki pendidikan serta keahlian terbatas. Resesi ekonomi
global tersebut bukan saja akan mengurangi kiriman uang dari TKI
(remittances) ke kampung halaman, melainkan pemulangan mereka ke
Tanah Air juga menambah jumlah penganggur.

Murahnya harga impor karena penguatan nilai tukar rupiah telah


menyumbang pada upaya penurunan tingkat laju inflasi. Namun, di lain
pihak, harga barang impor yang terlalu murah karena apresiasi rupiah telah
mematikan produksi dalam negeri pesaing impor yang pada gilirannya
mengurangi lapangan kerja. Harga barang China menjadi lebih murah lagi
karena mata uangnya dibiarkan lemah serta adanya perjanjian perdagangan
bebas China-ASEAN (CAFTA) yang memangkas tarif ataupun nontarif.

Gabungan antara penurunan permintaan, harga komoditas primer,


dan krisis yang melanda industri keuangan di negara-negara maju akan
mengurangi pemasukan investasi modal swasta ataupun modal jangka
pendek. Dalam beberapa tahun terakhir, investasi modal swasta di
Indonesia, terutama di sektor pertambangan dan perkebunan. Investasi di
sektor industri manufaktur terhambat karena gabungan antara kurs rupiah
yang dibiarkan menguat, kelangkaan infrastruktur, seperti listrik dan
transportasi ataupun iklim usaha yang kurang kondusif.

Modal asing berjangka pendek adalah terutama membeli Sertifikat


Bank Indonesia (SBI), Surat Utang Negara (SUN), dan surat-surat berharga
yang dijual oleh dunia usaha. Walaupun bunga SUN lebih tinggi dibanding
di negara maju, investor asing sudah mulai waswas karena penurunan
volume dan tingkat harga komoditas primer langsung mengganggu ekspor
ataupun penerimaan negara dari royalti serta pajak pendapatan perusahaan
tambang dan perkebunan.

Referensi : https://lautanopini.com/2012/08/14/menghadapi-resesi-dunia/

8. Aspek kognitif:
Saya tahu bahwa perlu adanya keragaman dan kesetaraan dalam pekerjaan
nantinya dalam bekerja kita bersikap lebih bijaksana dalam memperlakukan
kryawan.
Saya tahu bahwa di dalam pekerjaan terdapat k3 yang merupakan hal yang
penting dalam suatu organisasi.
Saya tahu bahwa ada beberapa analisis yang digunakan untuk mengevaluasi
seberapa efisien dan efektif suatu aktivitas dalam organisasi dari audit
msdm,metric, dan riset msdm.
Saya tahu bahwa para buruh membutuhkan serikat pekerja agar karyawan
tetap dilindungi hak-haknya.
Aspek afektif:
Saya merasa mata kuliah ini memberikan pengetahuan pada kita tentang
kehidupan kerja yang nanti kita hadapi.
Saya juga merasa senang karena selama ini kita saling berdiskusi dan
bertukar pikiran membahas topik yang berbeda-beda.
Saya merasa mengatur sumber daya manusia merupakan hal yang paling
penting.

Aspek psikomotorik:
Bidang MSDM merupakan bidang yang paling vital karena berhubungan
dengan para karyawan oleh sebab itu kita harus memperhatikan karyawan
kita dengan sebuah keluhan tertulis ataupun face to face.
Mencoba menyelesaikan permasalahan yang dialami dan melakukan
evaluasi atas kinerja karyawan.
Apabila nantinya akan menajdi seorang pemilik perusahaan.Belajar MSDM
berhubungan dengan pihak intern maka mengelola perusahaan harus dengan
bijak.