Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit Campak adalah penyakit yang bersifat akut dan menular yang
disebabkan oleh virus morbili. Campak merupakan penyakit yang ditandai
dengan adanya gejala seperti demam, pilek, batuk, mata yang sakit dan
merah, serta ruam yang meluas ke seluruh tubuh yang berlangsung selama 4
hingga 7 hari. Apabila penyakit ini tidak tertangani dengan baik, maka
komplikasi yang terjadi dapat berupa infeksi telinga, diare, pneumonia dan
radang otak.1
Campak merupakan salah satu penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan
imunisasi dan masih masalah kesehatan di Indonesia. Campak dalam
sejarah anak telah dikenal sebagai penyebab utama kematian anak di negara
berkembang termasuk Indonesia., meskipun adanya vaksin telah
dikembangkan lebih dari 30 tahun yang lalu, virus campak ini menyerang 50
juta orang setiap tahun. 1,4 juta kematian anak diakibatkan karena penyakit
yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) dan 38 % kematian karena
PD3I disebabkan oleh penyakit campak.1
Program imunisasi campak di Indonesia dimulai pada tahun 1982,
kemudian pada tahun 1991 berhasil dicapai status imunisasi dasar lengkap
atau Universal Child Immunization (UCI) secara nasional. Sejak tahun 2000
imunisasi campak kesempatan kedua diberikan kepada anak sekolah kelas I-
VI (Catch Up) secara bertahap yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian
imunisasi campak secara rutin kepada anak sekolah dasar kelas I SD (BIAS).
Untuk mempercepat tercapainya perlindungan campak pada anak, sejak
tahun 2005 sampai Agustus 2007 dilakukan kegiatan Crash Program campak
terhadap anak usia 6- 59 bulan dan anak usia sekolah dasar di seluruh
provinsi dalam 5 tahap.2 Angka kejadian campak di Indonesia sejak tahun
3
1990 sampai 2002 masih tinggi sekitar 3000-4000 per tahun
Dari data pengawasan UNICEF terakhir tahun 2010 menunjukkan cakupan
imunisasi campak total di 11 propinsi mencapai hampir 90%. Bahkan 4
propinsi seperti Riau, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau dan NTT mencapai
95% target untuk imunisasi campak. Hanya Papua Barat yang mencapai di
bawah 80% target. Total lebih dari 3,2 juta anak usia 9-59 bulan telah
diimunisasi campak. Program UCI campak secara nasional pada tahun 1990
minimal 80%. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun
2008, di Indonesia cakupan imunisasi campak sebesar 81,6%. Cakupan
imunisasi campak di Propinsi Riau tahun 2010 sebesar 89,65% menurun jika
dibandingkan dengan tahun 2009 yaitu sebesar 93,66%. 3
Dari data statistik WHO pada tahun 2010 menyebutkan bahwa 1%
kematian pada anak usia dibawah lima tahun disebabkan oleh campak.3
Indonesia termasuk negara berkembang yang insiden kasus campaknya
cukup tinggi. Dari profil kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2010
dilaporkan Incidence Rate campak di Indonesia sebesar 0,73 per 10.000
penduduk. Sedangkan CFR pada KLB campak pada tahun 2010 adalah
0,233.3
Menurut Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional
pada tahun 2007 prevalensi campak klinis selama 12 bulan terakhir di
Indonesia adalah 1,2 %. Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas
Kawal didapatkan bahwa terjadi peningkatan signifikan pada kasuskejadian
Campak di wilayah Tirta Madu desa Malang Rapat sebanyak 26 kasus dan
tergolong pada kejadian luar biasa.

B. Permasalahan
Dari latar belakang diatas diketahui adanya peningkatan kasus campak di
Puskesmas Kawal Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan pada tahun 2017
sebanyak 26 kasus dan tergolong dalam Kejadian Luar Biasa.
C. Tujuan

1. Tujuan Umum
Diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan
kasus campak di Tirta Madu Desa Malang Rapat wilayah kerja Puskesmas
Kawal Kabupaten Bintan Tahun 2017

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya hubungan status gizi dengan kejadian campak di Tirta


Madu desa Malang Rapat Kecamatan Kawal yang termasuk dalam
wilayah kerja Puskesmas Kawal Kabupaten Bintan Tahun 2017.
b. Diketahuinya gambaran riwayat imunisasi campak di Tirta Madu desa
Malang Rapat Kecamatan Kawal yang termasuk dalam wilayah kerja
Puskesmas Kawal Kabupaten Bintan Tahun 2017.
c. Diketahuinya hubungan riwayat kontak dengan kejadian campak di
Tirta Madu desa Malang Rapat Kecamatan Kawal yang termasuk
dalam wilayah kerja Puskesmas Kawal Kabupaten Bintan Tahun 2017.
d. Diketahuinya hubungan kepadatan hunian dan sanitasi dengan
kejadian campak di Tirta Madu desa Malang Rapat Kecamatan Kawal
yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Kawal Kabupaten
Bintan Tahun 2017.
e. Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu terkait kejadian campak di
Tirta Madu desa Malang Rapat Kecamatan Kawal yang termasuk
dalam wilayah kerja Puskesmas Kawal Kabupaten Bintan Tahun 2017.

D. Manfaat

1. Bagi Puskesmas

a. Untuk mendapatkan informasi yang dapat memberikan masukan


agar terjadi penurunan jumlah kasus campak di Puskesmas Kawal
Kabupaten Bintan.
b. Diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan
meningkatkan kemampuan petugas dalam melakukan diagnosa dini,
pengobatan yang tepat, rujukan dan upaya untuk mengurangi faktor
risiko serta penularan penyakit campak.
.
2. Bagi masyarakat
a. Mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik di Puskesmas.
b. Memperoleh pengetahuan dan informasi tentang penyakit campak
sehingga dapat mengubah perilaku masyarakat untuk hidup sehat.
c. Mengetahui pentingnya imunisasi campak dan pemberian vitamin A.
d. Sebagai media komunikasi, informasi dan edukasi tentang Penyakit
campak.

E. Sasaran

Masyarakat yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Kawal


Kabupaten Bintan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Campak adalah suatu penyakit akut yang sangat menular, disebabkan
oleh infeksi virus yang umumnya menyerang anak. ditandai oleh tiga stadium:
(1) stadium inkubasi sekitar 10 14 hari; (2) stadium prodromal dengan
enantem ( bercak koplik ) pada mukosa bukkal dan faring, demam ringan
sampai sedangm konjungtivitis ringan, coryza, dan batuk yang semakin berat;
dan (3) stadium akhir dengan ruam macular yang muncul berturut turut
pada leher dan muka, tubuh, lengan dan kaki yang disertai oleh demam
tinggi.1

B. EPIDEMIOLOGI
Penyakit campak dikenal juga sebagai Morbili atau measles, merupakan
penyakit yang sangat menular (infeksius) yang disebabkan oleg virus moblili,
90 % anak yang tidak kebal akan terserang peyakit campak. 2
Di seluruh dunia diperkirakan terjadi penurunan 56% kasus campak yang
dilaporkan yaitu 852.937 kasus pada tahun 2000 menjadi 373.421 kasus
pada tahun 2006. Sejak vaksinasi campak diberikan secara luas, terjadi
perubahan epidemiologi campak terutaa di negara berkembang. Dengan
tingginya cakupan imunisasi, terjadi penurunan campak. 2
Pada 24 Mei 2011 Centers for Disease Control melaporkan bahwa
Amerika Serikat telah memiliki 118 kasus campak sejauh tahun ini. Dari 118
kasus, 105 (89%) dari 118 pasien belum divaksinasi.5
Di Indonesia, menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) morbili
menduduki tempat ke-5 dalam urutan macam penyakit utama pada bayi
(0,7%) dan tempat ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada anak
usia 1-4 tahun (0,77%).1
Kejadian luar biasa morbili lebih sering terjadi di daerah pedesaan terutama
daerah yang sulit dijangkau oleh pelayanan kesehatan, khususnya dalam
program imunisasi1
Angka kejadian campak di Indonesia sejak tahun 1990 sampai 2002 masih
tinggi sekitar 3000-4000 per tahun demikian juga frekuensi terjadinya kejadian
luar biasa tampak meningkat dari 23 kali per tahun menjadi 174, namun case
fatality rate telah dapat diturunkan dari 5,5% menjadi 1,2%. Umur terbanyak
menderita campak adalah <12 bulan, diikuti kelompok umur 1-4 dan 5-14
tahun.3
Bayi mendapat imunitas transplasenta dari ibu yang telah menderita
campak atau imunisasi campak. Imunitas ini biasanya sempurna selama
umur 4 6 bulan pertama dan menghilang pada frekuensi yang bervariasi.
Walaupun kadar antibodi ibu secara umum tidak dapat dideteksi pada bayi
dengan uji yang biasa dilakukan sesudah umur 9 bulan, beberapa proteksi
menetap, yang mengganggu pemberian imunisasi sebelum umur 15 bulan.
Walau cakupan imunisasi cukup tinggi, KLB campak mungkin saja masih
akan terjadi yang diantaranya disebabkan adanya akumulasi anak-anak
rentan ditambah 15 % anak yang tidak terbentuk imunitas. 2
1. Daerah risiko campak 2,9

Yang dimaksud daerah risiko campak yaitu daerah yang berpotensi


terjadinya KLB campak, dilihat dari:

Daerah dengan cakupan imunisasi yang rendah (<80%)


Lokasi yang padat dan kumuh
Daerah rawan gizi
Daerah sulit dijangkau atau jauh dari pelayanan kesehatan
e. Daerah dimana budaya masyarakatnya tidak menerima imunisasi
C. ETIOLOGI 7
Virus berada di sekret nasofaring dan di dalam darah, minimal selama
masa tunas dan dalam waktu yang singkat sesudah timbulnya ruam. Virus
tetap aktif minimal selama 34 jam pada temperatur kamar, 15 minggu di
dalam pengawetan beku, minimal 4 minggu disimpan dalam temperatur 35C,
dan beberapa hari pada suhu 0C. Virus tidak aktif pada pH rendah.
D. CARA PENULARAN 7
Campak menyebar melalui respirasi (kontak dengan cairan dari hidung
orang yang terinfeksi dan mulut, baik secara langsung atau melalui transmisi
aerosol), dan sangat menular. Masa inkubasi terjadi asimtomatik 10-14 hari
dari paparan awal. Penderita campak biasanya dapat menularkan penyakit
dari saat sebelum gejala timbul sampai empat hari setelah ruam timbul.

E. PATOGENESIS 7

Patogenesis Campak tanpa Penyulit

Tabel 1. Patogenesis campak tanpa penyulit

Hari Manifestasi

0 Virus campak dalam droplet kontak dengan permukaan epitel


nasofaring atau kemungkinan konjungtiva infeksi pada sel
epitel dan multipikasi virus.

1-2 Penyebaran infeksi ke jaringan limfatik regional

2-3 Viremia primer

3-5 Multiplikasi virus campak pada epitel saluran nafas di tempat


infeksi pertama dan pada RES regional maupun daerah yang
jauh

5-7 Viremia sekunder

7-11 Manifestasi pada kulit dan tempat lain yang bervirus, termasuk
saluran nafas

11-14 Virus pada darah, saluran nafas dan organ lain

15-17 Viremia berkurang lalu hilang, virus pada organ menghilang.


Gambar 1. Patogenesis campak

F. ANAMNESIS 6

1. Adanya demam tinggi terus menerus 38,5C atau lebih disertai batuk,
pilek, nyeri menelan, mata merah dan silau bila terkena cahaya (fotofobia),
seringkali diikuti diare.
2. Pada hari ke 4-5 demam timbul ruam kulit, didahului oleh suhu yang
meningkat lebih tinggi dari semula. Pada saat itu anak mulai mengalami
kejang demam.
3. Saat ruam timbul, batuk dan diare dapat bertambah parah sehingga anak
mengalami sesak nafas atau dehidrasi. Adanya kulit kehitaman dan
bersisik (hiperpigmentasi) dapat merupakan tanda penyembuhan.
G. PEMERIKSAAN FISIK 6

Gejala klinis terjadi setelah masa tunas 10-12 hari terdiri dari 3 stadium:

1. Stadium prodromal : berlangsung 2-4 hari, ditandai dengan demam yang


diikuti dengan batuk, pilek, faring merah, nyeri menelan, stomatitis dan
konjungtivitis. Tanda patognomonik timbulnya enantema mukosa pipi
depan molar tiga disebut bercak koplik
2. Stadium erupsi : ditandai dengan timbulnya ruam makulopapular yang
bertahan selama 5-6 hari. Timbulnya ruam dimulai dari batas rambut
dibrlakang telinga kemudian menyebar ke wajah, leher dan akhirnya
ekstremitas.
3. Stadium penyembuhan (konvalesen): setelah 3 hari ruam berangsur-
angsur menghilang sesuai urutan timbulnya. Ruam kulit menjadi
kehitaman dan mengelupas yang akan menghilang setelah 1-2 minggu.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG 6

Darah tepi : jumlah leukosit normal atau meningkat apabila ada


komplikasi infeksi bakteri

Pemeriksaan untuk komplikasi :

1. Ensepalopati dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinal, kadar


elektrolit darah dan analisis gas darah

2. Enteritis : feses lengkap.

3. Bronkopneumonia : dilakukan pemeriksaan rontgen thorak dan analisa


gas darah.

I. DIAGNOSIS 6
Diagnosis dibuat dari gambaran klinis, selama stadium prodromal, sel
raksasa multinuklear dapat ditemukan pada apusan mukosa hidung. Virus
dapat diisolasi pada biakan jaringan. Angka leukosit cenderung rendah
dengan limfositosis relatif. Pungsi lumbal pada penderita dengan ensefalitis
campak biasanya menunjukkan kenaikan protein dan sedikit kenaikan
limfosit. Kadar glukosa normal. Bercak koplik dan hiperpigmentasi adalah
patognomonis untuk rubeola/campak.

J. DIFERENSIAL DIAGNOSIS 2
Diagnosis banding penyakit campak yang perlu dipertimbangkan adalah:
1. Rubella (Campak Jerman), terdapat pembesaran kelenjar getah bening
di belakang telinga.
2. DHF atau DBD, dalam 2-3 hari bisa terjadi mimisan, turniket test
(Rumple Leede) positif, perdarahan diikuti shock, laboratorium
menunjukkan trombosit < 100.000/ml dan serologis positif IgM DHF.
3. Varisella (cacar air), ditemukan vesikula atau gelembung berisi cairan.
4. Alergi obat, kemerahan di tubuh setelah minum obat/ disuntik, serta
gatal-gatal.
5. Miliaria atau keringat buntet : gatal-gatal, bintik kemerahan..
6. Eksantema subitum (campak mini) karena sangat mirip, kelainannya
bersifat diskrit makulopapular berwarna merah tua dan biasanya timbul
di daerah dada pada awalnya kemudian menyebar ke muka dan
ekstremitas. Beda utama dengan campak adalah tidak adanyabercak
koplik.

K. KOMPLIKASI 2,5,6

Sebagian besar penderita campak akan sembuh, komplikasi sering terjadi


pada anak usia < 5 tahun dan penderita dewasa usia >20 tahun. Kasus
campak pada penderita malnutrisi dan defisiensi Vitamin A serta imun
defisiensi (HIV), campak dapat menjadi lebih berat atau fatal. Komplikasi yang
sering terjadi yaitu :

2. Enteritis
3. Konjungtivitis
4. Laringitis akut
5. Bronkopneumonia
6. Ensefalitis
7. SSPE (Subacute Sclerosing Panencephalitis)
8. Otitis media

2,5,6
L. PENATALAKSANAAN

1. Pasien campak tanpa penyulit dapat berobat jalan. Anak harus diberikan
cukup cairan dan kalori, sedangkan pengobatan bersifat simtomatik,
dengan pemberian cairan yang cukup, suplemen nutrisi, antipiretik,
antitusif, ekspektoran, dan antikonvulsan bila diperlukan. Sedangkan pada
campak dengan penyulit, pasien perlu dirawat map. Di rumah sakit pasien
campat dirawat di bangsal isolasi sistem pernafasan, diperlukan
perbaikan keadaan umum dengan memperbaiki kebutuhan cairan dan
diet yang memadai.
2. Diet makanan cukup cairan, kalori yang memadai. Jenis makanan
disesuaikan dengan tingkat kesadaran pasien dan ada tidaknya
komplikasi.
3. Indikasi rawat : hiperpireksia (suhu > 39C), dehidrasi, kejang, asupan
oral sulit,atau adanya komplikasi
4. Tanpa komplikasi:
a. Tirah baring di tempat tidur
b. Vitamin A 100.000 IU per oral diberikan satu kali, apabila terdapat
malnutrisi dilanjutkan 1500 IU tiap hari
1) Usia 6 bulan 1 tahun : 100.000 unit dosis tunggal p.o.
2) Usia > 1 thn : 200.000 unit dosis tunggal p.o.
3) Dosis dapat diulang pada hari ke-2 dan 4 minggu kemudian bila
telah didapat tanda defisiensi vitamin A.
4) Vitamin A diberikan untuk membantu pertumbuhan epitel saluran
nafas yang rusak, menurunkan morbiditas campak juga berguna untuk
meningkatkan titer IgG dan jumlah limfosit total.
5. Dengan komplikasi :
a. Bronkopneumonia
1) Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis intravena
dikombinasikan dengan kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari Intravena
dalam 4 dosis, sampai gejala sesak berkurang dan pasien dapat
minum obat per oral selama 7-10 hari.
2) Oksigen 2 liter/menit.
3) Koreksi gangguan analisis gas darah dan elektrolit
b. Enteritis: koreksi dehidrasi sesuai derajat dehidrasi
c. Otitis media: disebabkan oleh karena infeksi sekunder, sehingga
perlu diberikan antibiotik kotrimoksazol- sulfametokzasol (TMP 4
mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis)
d. Ensefalopati,
1) Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis intravena
dikombinasikan dengan kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari
2) Kortikosteroid : deksametason 1 mg/kbb/hari sebagai dosis awal
dilanjutkan 0,5 g/kgbb/hari dibagi dalam 3 dosis sampai kesadaran membaik
(bila pemberian lebih dari 5 hari dilakukan tappering off).
3) Jumlah cairan dikurangi menjadi kebutuhan serta koreksi
gangguan elektrolit.

1,7
M. PENCEGAHAN

Pencegahan terhadap penyakit campak diantaranya:

1. Menjaga kebersihan dan kesehatan


2. Menghindari kontak langsung dengan penderita lain
3. Imunisasi
Dosis baku minimal untuk pemberian vaksin campak yang
dilemahkan adalah sebanyak 0,5 ml. Cara pemberian yang dianjurkan
adalah subkutan, walaupun dari data yang terbatas dilaporkan
bahwa pemberian secara intramuskular tampaknya mempunyai
efektivitas yang sama dengan subkutan.
Indikasi kontra pemberian imunisasi campak berlaku bagi mereka
yang sedang menderita demam tinggi, sedang mendapat terapi
imunosupresi, hamil, memiliki riwayat alergi, sedang memperoleh
pengobatan imunoglobulin atau bahan-bahan berasal dari darah.
Imunisasi tambahan MMR , vaksin MMR (Mumps Measles Rubella)
adalah campuran tiga jenis virus yang dilemahkan, yang disuntikkan
untuk imunisasi melawan campak (measles), gondongan (mumps) dan
rubella (german measles). Vaksin MMR umumnya diberikan kepada
anak usia 12-15 bulan dengan booster diberikan sebelum
memasuki usia sekolah (4-6 tahun).
Pemberian imunisasi aktif diberikan pada bayi berumur 9 bulan atau
lebih. Program imunisasi campak secara luas baru dikembangkan
plaksanaannya pada tahun 1982. Strategi reduksi campak terdiri atas :
a. Pengobatan pasien campak dengan memberikan vitamin A.
b. Imunisasi campak :
1) PPI : diberikan pada umur 9 bulan, Imunisasi campak dapat
diberikan bersama vaksin MMR pada umur 12-15 bulan.
2) Mass campaign, bersamaan dengan Pekan Imunisasi Nasional.
3) Catch up immunization, diberikan pada anak sekolah dasar
kelas 1-6
c. Surveilans

N. PROGNOSIS 5,6
Prognosis baik pada anak dengan keadaan umum yang baik, tetapi
prognosis buruk bila keadaan umum buruk, anak yang sedang menderita
penyakit kronis, gizi kurang/buruk atau bila ada komplikasi.

Sebagian besar sering terjadi komplikasi termasuk bronkitis, dan


panencephalitis yang berpotensi fatal. Juga, bahkan jika pasien tidak peduli
tentang kematian, orang tersebut dapat menyebarkan penyakit ini kepada
pasien immunocompromised, yang mempunyai risiko kematian jauh lebih
tinggi, karena komplikasi seperti pneumonia.

Biasanya sembuh dalam 7-10 hari setelah timbul ruam. Bila ada penyulit
infeksi sekunder/malnutrisi berat akan menyebabkan penyakit berat.
Kematian disebabkan karena penyulit (pneumonia dan ensefalitis).

O. Definisi KLB Campak2,8


1. Tersangka KLB : adanya 5 atau lebih kasus klinis dalam waktu 4 minggu
berturut-turut yang terjadi mengelompok dan dibuktikan adanya hubungan
epidemiologi.
2. Pasti KLB: apabila minimum 2 spesimen positif IgM campak dari hasil
pemeriksaan kasus pada tersangka KLB campak.
3. Penanggulangan KLB
a. Laporkan segera (dalam waktu 24 jam ) kasus-kasus tersangka
campak yang ditemukan dan lakukan kegiatan imunisasi yang
komprehensif bagi semua orang yang rentan untuk mencegah
penularan. Jika terjadi KLB campak di tempat penitipan anak, sekolah
dan perguruan tinggi, maka terhadap semua orang yang
tidak memiliki Catatan vaksinasi pada waktu bayi dengan 2
dosis dengan interval minimal 1 bulan harus diimunisasi, kecuali
jika mereka memiliki Catatan dari dokter bahwa mereka pernah
menderita campak atau memiliki bukti laboratorium tentang
status imunisasinya.
b. Pemberian Vitamin A dosis tinggi diberikan pada penderita usia 6
bulan- 5 tahun sebanyak 2 kapsul, yaitu kapsul pertama diberikan saat
penderita ditemukan, kapsul kedua diberikan keesokan harinya sesuai
umur penderita.
c. Apabila KLB terjadi di suatu institusi, penghuni baru harus diberi
vaksinasi atau IG.
d. Dinegara berkembang, CFR campak masih tinggi. Apabila vaksin
tersedia, pemberian vaksinasi pada awal suatu KLB membantu
mencegah penyebaran lebih lanjut. Apabila persediaan vaksin
terbatas, prioritas harus diberikan kepada anak-anak dengan risiko
yang paling

e. Analisis data KLB


1) Attack Rate (AR) :
Attack Rate merupakan insiden rate, biasanya dinyatakan dalam
persen, digunakan pada populasi terpapar terhadap campak pada
periode waktu terbatas. Attack rate menggambarkan jumlah kasus
campak di populasi terpapar dan luasnya epidemik
Cara Perhitungan :

Attack Rate = Jumlah kasus campak pada kelompok umur x 100 %


Jumlah Populasi at risk (kelompok umur tersebut)
2) Case Fatality Rate (CFR)
Cara perhitungan Case Fatality Rate yaitu :

CFR = Jumlah kasus campak Meninggal x 100 %

3) Efikasi Vaksin Jumlah kasus campak


Data yang didapat dari penyelidikan epidemiologi memberikan
informasi tentang efikasi vaksin yang dihitung dengan cara sebagai
berikut :

Efikasi Vaksin = AR Tak Imunisasi AR Imunisasi x 100 %

AR Tak Imunisasi
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan


pendekatan observasional dengan cross sectional, yaitu penelitian non
eksperimental yang mempelajari dinamika korelasi faktor-faktor yang
berhubungan dengan kejadian penyakit campak dengan variabel yang
akan diteliti yaitu status gizi, status imunisasi, kepadatan hunian, ventilasi,
riwayat kontak dan tingkat pengetahuan ibu tentang campak (Sumantri,
2011).

3.2. Populasi dan Sample

Total populasi anak yang terdaftar di Posyandu Kencana 5


Puskesmas Kawal adalah 146 anak. Adapun tekhnik sampling yang
digunakan pada penelitian ini adalah total sampling sebanyak 26 anak
dengan riwayat campak terhitung sejak Januari 2017. Untuk sample
kontrol digunakan tekhnik purposive sampling sebanyak 50 anak.

3.3. Pengumpulan data


Tekhnik pengumpulan data dilakukan dengan melakukan
pengukuran langsung, kuesioner dan observasi rumah tinggal. Selain itu
peneliti juga mengumpulkan data dari kader posyandu terkait dan data
dari Puskesmas Kawal.
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang hubungan antara


status gizi, riwayat kontak, sanitasi rumah tinggal, status imunisasi, tingkat
pengetahuan ibu dengan kejadian campak di Puskesmas Kawal tahun 2017
dengan menggunakan design penelitian kasus kontrol, dengan 24 balita yang
mengalami campak sebagai kasus dan 76 balita yang tidak mengalami campak
sebagai kontrol, didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 1
Proporsi Status Gizi Anak

Status Gizi Frekuensi Presentase


Baik 84 84%
Kurang 16 16%
Total 100 100%

Gambar 1

Dari data diatas tampak bahwa sebagian besar sampel adalah anak dengan gizi baik
sebanyak 84%.
Tabel 2

Hubungan antara Status Gizi Anak dengan Kejadian Campak

Status Gizi * Kejadian Campak Crosstabulation

Kejadian Campak

Ya (Kasus) Tidak (kontrol) Total

Status Gizi Baik 24 60 84

Kurang 0 16 16

Total 24 76 100

Berdasarkan data diatas diketahui bahwa sampel dengan gizi baik memiliki
frekuensi lebih banyak sejumlah 84 sampel dan sampel dengan gizi kurang
sejumlah 16 sampel.

4.2. Analisis Bivariat.

Analisa bivariat yang dilakukan adalah untuk menghubungkan masing-


masing variabel independen dengan variabel dependen dengan tingkat
pemaknaan alpha 0,05

4.2.1. Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Campak

Hasil analisis didapatkan odds ratio sebesar 0,714 dengan 95%


confidence interval CI : 0,024 < 0,714 < 0,818 dan nilai P = 0,008
(<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa status gizi memiliki hubungan
dengan kejadian campak dimana anak dengan status gizi kurang
memiliki risiko 0,7 x lebih besar dibandingkan anak dengan status gizi
baik.