Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

Pendidikan Karakter & Anti Korupsi

Disusun oleh:

Nama Stambuk

1. Nia Heriani G 701 14 005


2. Ni Putu Evi Primayanti G 701 14 008
3. Andi Martini G 701 14 065
4. Sofia Angelin Anastasia G 701 14 074
5. Nurul Jannah G 701 14 080
6. Komang Renaldi Adi putra G 701 14 083
7. Sakina G 701 14 086
8. A. Devi Adriani Lestari G 701 14 098
9. Resti Wiyandari G 701 14 128
10. Siti Atika G 701 14 134
11. Suciatmih G 701 14 176
12. Ercela Ayu Nuramita G 701 14 214

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS TADULAKO

2015

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat,
taufik, serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun Tuga Pendidikan Karakter & Anti
Korupsi ini dengan baik dan tepat waktu.
Seperti yang telah kita ketahui Pendidikan Karakter itu sangat penting bagi anak
bangsa dari mulai dini. Semua akan dibahas pada makalah ini kenapa Pendidikan Karakter
itu sangat dibutuhkan dan layak dijadikan sebagai materi pelajaran.
Tugas ini kami buat untuk memberikan penjelasan tentang keberadaan Pendidikan
Karakter bagi kemajuan bangsa. Semoga makalah yang kami buat ini dapat membantu
menambah wawasan kita menjadi lebih luas lagi.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam menyusun makalah ini.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan guna
kesempurnaan makalah ini.Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Pembina mata
Pendidikan Karakter & Anti Korupsi yang telah membimbing kami.
Atas perhatian dan waktunya, kami sampaikan banyak terima kasih.

Palu , 19 februari 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
Bab II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pendidikan Karakter
2.2 Faktor-Faktor Pendidikan Karakter
2.3 Pentingnya pendidikan karakter
2.4 Pilar-Pilar Pendidikan Karakter
2.5 Tujuan,Fungsi dan Media Pendidikan Karakter & Nilai-Nilai Pembentukan
Karakter
2.6 Pendidikan karakter di universitas
2.7 Contoh Kasus yang Terkandung Didalamnya
Bab III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai
sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumber daya manusia
tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20
Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa
pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Seperti yang akan kami bahas pada makalah ini yaitu contoh kasus yang
mengandung nilai-nilai religius, disiplin, kerja keras, kejujuran dan toleransi. Salah satu
contoh yang akan kami bahas yaitu kasus maraknya korupsi akibat merosotnya pendidikan di
indonesia.
Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap
jenjang, termasuk di sekolah harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan
tersebut.
Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu
bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan
penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata
kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis
(hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill).
Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill
dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil
dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini
mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk
ditingkatkan. Melihat masyarakat Indonesia sendiri juga lemah sekali dalam penguasaan soft
skill. Untuk itu penulis menulis makalah ini, agar pembaca tahu betapa pentingnya
pendidikan karakter bagi semua orang, khususnya bangsa Indonesia sendiri.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian dari pendidikan karakter itu?
2. Apa saja faktor pendidikan karakter ?
3. Apa saja pilar pilar pendidikan karakter ?
4. Bagaimana tujuan, fungsi dan media pendidikan karakter serta nilai nilai pendidikan
karakter ?
5. Bagaimana pentingnya pendidikan karakter ?
6. Bagaimana pendidikan karakter di tingkat universitas ?
7. Apa saja contoh kasus serta yang terkandung di dalamnya ?

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pendidikan Karakter

Istilah karakter dihubungkan dan dipertukarkan dengan istilah etika, ahlak, dan atau
nilai dan berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi positif, bukan netral. Sedangkan
Karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) merupakan sifat-sifat kejiwaan,
akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Dengan demikian
karakter adalah nilai-nilai yang unik-baik yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan
dalam perilaku. Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah rasa
dan karsa, serta olahraga seseorang atau sekelompok orang.

Karakter juga sering diasosiasikan dengan istilah apa yang disebut dengan
temperamen yang lebih memberi penekanan pada definisi psikososial yang dihubungkan
dengan pendidikan dan konteks lingkungan. Sedangkan karakter dilihat dari sudut pandang
behaviorial lebih menekankan pada unsur somatopsikis yang dimiliki seseorang sejak lahir.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses perkembangan karakter pada seseorang
dipengaruhi oleh banyak faktor yang khas yang ada pada orang yang bersangkutan yang juga
disebut faktor bawaan (nature) dan lingkungan (nurture) dimana orang yang bersangkutan
tumbuh dan berkembang. Faktor bawaan boleh dikatakan berada di luar jangkauan
masyarakat dan individu untuk mempengaruhinya. Sedangkan faktor lingkungan merupakan
faktor yang berada pada jangkauan masyarakat dan ndividu. Jadi usaha pengembangan atau
pendidikan karakter seseorang dapat dilakukan oleh masyarakat atau individu sebagai
bagian dari lingkungan melalui rekayasa faktor lingkungan. (pndkarakter.wordpress.com)

2.2 Faktor pendidikan Karakter

Faktor lingkungan dalam konteks pendidikan karakter (pndkarakter.wordpress.com)


memiliki peran yang sangat peting karena perubahan perilaku peserta didik sebagai hasil dari
proses pendidikan karakter sangat ditentunkan oleh faktor lingkungan ini. Dengan kata lain
pembentukan dan rekayasa lingkungan yang mencakup diantaranya lingkungan fisik dan
budaya sekolah, manajemen sekolah, kurikulum, pendidik, dan metode mengajar.
Pembentukan karakter melalui rekasyasa faktor lingkungan dapat dilakukan melalui strategi :

1. Keteladanan

2. Intervensi

3. Pembiasaan yang dilakukan secara Konsisten

4. Penguatan.

Dengan kata lain perkembangan dan pembentukan karakter memerlukan


pengembangan keteladanan yang ditularkan, intervensi melalui proses pembelajaran,
pelatihan, pembiasaan terus-menerus dalam jangka panjang yang dilakukan secara konsisten
dan penguatan serta harus dibarengi dengan nilai-nilai luhur.
2.3 Pilar pilar Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter didasarkan pada enam nilai-nilai etis bahwa setiap orang dapat
menyetujui nilai-nilai yang tidak mengandung politis, religius, atau bias budaya. Beberapa
hal di bawah ini yang dapat kita jelaskan untuk membantu siswa memahami Enam Pilar
Pendidikan Berkarakter (pndkarakter.wordpress.com) yaitu sebagai berikut :

1. Trustworthiness (Kepercayaan)

Jujur, jangan menipu, menjiplak atau mencuri, jadilah handal melakukan apa yang
anda katakan anda akan melakukannya, minta keberanian untuk melakukan hal yang benar,
bangun reputasi yang baik, patuh berdiri dengan keluarga, teman dan negara.

2. Recpect (Respek)

Bersikap toleran terhadap perbedaan, gunakan sopan santun, bukan bahasa yang
buruk, pertimbangkan perasaan orang lain, jangan mengancam, memukul atau menyakiti
orang lain, damailah dengan kemarahan, hinaan dan perselisihan.

3. Responsibility (Tanggungjawab)

Selalu lakukan yang terbaik, gunakan kontrol diri, disiplin, berpikirlah sebelum
bertindak mempertimbangkan konsekuensi, bertanggung jawab atas pilihan anda.

4. Fairness (Keadilan)

Bermain sesuai aturan, ambil seperlunya dan berbagi, berpikiran terbuka;


mendengarkan orang lain, jangan mengambil keuntungan dari orang lain, jangan
menyalahkan orang lain sembarangan.

5. Caring (Peduli)

Bersikaplah penuh kasih sayang dan menunjukkan anda peduli, ungkapkan rasa
syukur, maafkan orang lain, membantu orang yang membutuhkan.

6. Citizenship (Kewarganegaraan)

Menjadikan sekolah dan masyarakat menjadi lebih baik, bekerja sama, melibatkan diri
dalam urusan masyarakat, menjadi tetangga yang baik, mentaati hukum dan aturan,
menghormati otoritas, melindungi lingkungan hidup.

2.4 Tujuan, Fungsi dan Media Pendidikan karakter & Nilai-nilai


Pembentuk Karakter

2.4.1 Tujuan, Fungsi dan Media Pendidikan karakter

Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh,


kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik,
berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai
oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.
Pendidikan karakter berfungsi untuk (pndkarakter.wordpress.com):

1. mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik

2. memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur

3. meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.


Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga,
satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan
media massa.

2.4.2 Nilai-nilai Pembentuk Karakter

Satuan pendidikan sebenarnya selama ini sudah mengembangkan dan melaksanakan


nilai-nilai pembentuk karakter melalui program operasional satuan pendidikan masing-
masing. Hal ini merupakan prakondisi pendidikan karakter pada satuan pendidikan yang
untuk selanjutnya pada saat ini diperkuat dengan 18 nilai hasil kajian empirik Pusat
Kurikulum. Nilai prakondisi (the existing values) yang dimaksud antara lain takwa, bersih,
rapih, nyaman, dan santun Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter
telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan
pendidikan nasional (pndkarakter.wordpress.com) yaitu:

1. Jujur

2. Toleransi

3. Disiplin

4. Kerja keras

5. Kreatif

6. Mandiri

7. Demokratis

8. Rasa Ingin Tahu

9. Semangat Kebangsaan

10. Cinta Tanah Air

11. Menghargai Prestasi

12. Bersahabat/Komunikatif

13. Cinta Damai

14. Gemar Membaca


15. Peduli Lingkungan

16. Peduli Sosial

17. Tanggung Jawab

18. religius

Meskipun telah terdapat 18 nilai pembentuk karakter bangsa, namun satuan


pendidikan dapat menentukan prioritas pengembangannya dengan cara melanjutkan nilai
prakondisi yang diperkuat dengan beberapa nilai yang diprioritaskan dari 18 nilai di atas.
Dalam implementasinya jumlah dan jenis karakter yang dipilih tentu akan dapat berbeda
antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lain. Hal itu tergantung pada
kepentingan dan kondisi satuan pendidikan masing-masing. Di antara berbagai nilai yang
dikembangkan, dalam pelaksanaannya dapat dimulai dari nilai yang esensial, sederhana, dan
mudah dilaksanakan sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah/wilayah, yakni bersih,
rapih, nyaman, disiplin, sopan dan santun.

2.5 Pentingmya Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi

Secara khusus, Pemerintah Indonesia melalui kebijakan nasional


pembangunan karakter bangsa, menekankan perlunya pendidikan karakter bagi bangsa
dengan beberapa alasan adanya (1) disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila;
(2) keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila; (3)
bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; (4) memudarnya
kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa; ancaman disintegrasi bangsa; dan (5)
melemahnya kemandirian bangsa (Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter
Bangsa 2010-2025, dalam Siswanto 2011). Melalui UU no 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional ditegaskan komitmen tentang pendidikan karakter sebagaimana termuat
dalam rumusan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam kaitannya dengan
perguruan tinggi, Peraturan Pemerintah no 17 tahun 2010 pasal 84 ayat 2, menyebutkan
bahwa perguruan tinggi memiliki tujuan membentuk insan yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur, sehat, berilmu
dan cakap, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri, dan berjiwa wirausaha, serta toleran,
peka sosial dan lingkungan, demokrtis dan bertanggung jawab. (Muhammad Fauzi Ahmad -
Academia.edu )

Berdasarkan UU Sisdiknas tahun 2003 dan PP no 17 tahun 2010 diatas, nampak jelas
bahwa pemerintah Indonesia memberikan dukungan secara konkrit pada pendidikan karakter
ini. Mengingat keberhasilan institusi pendidikan terletak tidak saja pada penguasaan ilmu
pengetahuan namun juga pada pembentukan karakter yang baik pada anak didiknya, maka
tanggungjawab pembentukan karakter baik tidak hanya terletak pada tingkat pendidikan
sekolah dasar dan menengah namun juga perguruan tinggi. Meskipun demikian, yang selama
ini terjadi adalah penerapan pendidikan karakter dominan dilakukan pada pendidikan dikedua
level sebelumnya, dan belum pada level perguruan tinggi.
Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menekankan pada pembentukan nilai-
nilai karakterpada anak didik. Saya mengutip empat ciri dasar pendidikan karakter yang
dirumuskan oleh seorang pencetus pendidikan karakter dari Jerman yang bernama FW
Foerster:

1. Pendidikan karakter menekankan setiap tindakan berpedoman terhadap nilai normatif.


Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan berpedoman pada norma
tersebut.

2. Adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan keberanian, dengan begitu
anak didik akan menjadi pribadi yang teguh pendirian dan tidak mudah terombang-
ambing dan tidak takut resiko setiap kali menghadapi situasi baru.

3. Adanya otonomi, yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan aturan dari luar
sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadinya. Dengan begitu, anak didik mampu
mengambil keputusan mandiri tanpa dipengaruhi oleh desakan dari pihak luar.

4. Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan anak didik dalam
mewujudkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan marupakan dasar penghormatan
atas komitmen yang dipilih.

Pendidikan karakter penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter akan


menjadi basic atau dasar dalam pembentukan karakter berkualitas bangsa, yang tidak
mengabaikan nilai-nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling
membantu dan mengormati dan sebagainya.Pendidikan karakter akan melahirkan pribadi
unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki karakter yang
mampu mewujudkan kesuksesan. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika
Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan
kemampuan teknis dan kognisinyan (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola
diri dan orang lain (soft skill).

Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen hard


skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Dan, kecakapan soft skill ini terbentuk melalui
pelaksanaan pendidikan karater pada anak didik. Berpijak pada empat ciri dasar pendidikan
karakter di atas, kita bisa menerapkannya dalam polapendidikan yang diberikan pada
anak didik. Misalanya, memberikan pemahaman sampai mendiskusikan tentang hal yang baik
dan buruk, memberikan kesempatan dan peluang untuk mengembangkan dan mengeksplorasi
potensi dirinya serta memberikan apresiasi atas potensi yang dimilikinya, menghormati
keputusan dan mensupport anak dalam mengambil keputusan terhadap dirinya,
menanamkan pada anakdidik akan arti keajekan dan bertanggungjawab dan berkomitmen atas
pilihannya. Kalau menurut saya, sebenarnya yang terpenting bukan pilihannnya, namun
kemampuan memilih kita dan pertanggungjawaban kita terhadap pilihan kita tersebut, yakni
dengan cara berkomitmen pada pilihan tersebut.

Pendidikan karakter hendaknya dirumuskan dalam kurikulum, diterapkan


metode pendidikan, dan dipraktekkan dalam pembelajaran. Selain itu, di lingkungan keluarga
dan masyarakat sekitar juga sebaiknya diterapkan pola pendidikan karakter. Dengan begitu,
generasi-generasi Indonesia nan unggul akan dilahirkan dari sistem pendidikan karakter.

2.6 Model-Model Implementasi Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi


Sebagai individu dewasa, mahasiswa dicirikan dengan ciri-ciri (Muhammad Fauzi
Ahmad - Academia.edu ) antara lain:
1. Merupakan pribadi mandiri yang memiliki identitas diri
2. Pentingnya keterlibatan / partisipasi
3. Mengharapkan pengakuan, saling percaya dan menghargai
4. Tidak senang dipaksa atau ditekan
5. Memiliki kepercayaan dan tanggung jawab diri
6. Pengawasan dan pengendalian berada disekililingnya
7. Belajar mengarahkan pada pencapaian pemantapan identitas diri
8. Belajar merupakan proses untuk mencapai aktualisasi diri (self actualization)

Selain sebagai orang dewasa, mahasiswa juga disebut sebagai pebelajar dewasa (adult
learner/adult student) adalah individu yang sedang dalam proses belajar yang oleh lingkungan
sosialnya sudah dianggap dewasa, baik dalam pendidikan formal maupun non formal.
Pebelajar dewasa dicirikan belajar berbasis masalah dan mencari ilmu untuk memecahkan
solusi tertentu dank arena suatu kebutuhan yang jelas, terutama berhubungan dengan karier
dan kehidupannya (Budu:2012).

Mahasiswa dengan berbagai karakternya memiliki peranan dan fungsi yang sangat
strategi dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Ada tiga peran dan fungsi utama
mahasiswa, yaitu: agent of change, social of control, dan moral force (manggala:2011).
Sebagai agen perubahan (agent of change), mahasiswa memiliki tanggung jawab yang besar
dalam membuat perubahan-perubahan mendasar dalam masyarakat.

Melihat peran dan fungsi mahasiswa yang begitu strategis, mahasiswa perlu memiliki
karakter yang kuat. Karakter tersebut tidak bisa dibentuk secara otomatis. Seorang mahasiswa
yang menyelesaikan pendidikan disebuah perguruan tinggi misalnya, tidak serta merta
memiliki karakter mulia tertentu secara otomatis setelah melalui semua proses
pembelajarannya.

Karakter mahasiswa dapat dikembangkan diperguruan tinggi. Karena karakter


seseorng dapat tumbuh secara perlahan dan berkelanjutan melalui proses pendidikan.
Perguruan tinggi merupakan jenjang pendidikan kelanjutan dari jenjang-jenjang pendidikan
sebelumnya, dari TK, SD, SMP dan SMA. Seorang tidak mungkin menjadi mahasiswa tanpa
melalui jenjang-jenjang pendidikan sebelumnya.

Buchori(2010) mengungkapkan: pembentukan karakter perlu waktu panjang, dari


masa kanak-kanak sampai usia dewasa ketika seseorang mampu mengambil keputusan
mengenai dirinya sendiri dan mempertanggung jawabkan kepada dirinya sendiri.

Berdasarkan pada pemikiran bahwa karakter mahasiswa dapat dikembangkan secara


perlahan dan berkelanjutan, pendidikan karakter diperguruan tinggi haruslah memperhatikan
bahwa terbentuknya karakter seseorang dipengaruhi banyak factor. Djohar(2011)
mengidentifikasi tiga factor yang mempengaruhi terbentuknya karakter seseorag yaitu:

1. Modal budaya yang dibawa sejak kecil


2. Dampak lingkungannya
3. Kekuatan individu orang merespons dampak lingkungannya.

2.7 Contoh Kasus Serta Nilai Yang Terkandung di dalamnya


2.7.1 kasus bullying

Saat ini publik tengah dihebohkan dengan beredarnya video kekerasan sejumlah siswa
di salah satu Sekolah Dasar Swasta di Kota Bukittinggi Sumatera Barat. Dalam video yang
diunggah di jejaring youtube tersebut- tampak seorang siswi berpakaian seragam SD dan
berjilbab- berdiri di pojok ruangan. Sementara beberapa siswa termasuk siswi lainnya- secara
bergantian melakukan pemukulan dan tendangan. Sang siswi yang menjadi obyek kekerasan
tersebut tampak tidak berdaya/pasrah dan menangis- menerima perlakuan kasar teman-
temannya itu. Tampak pula adegan tendangan salah seorang siswa yang dilakukan sambil
melompat bak aktor laga. Di sela-sela penyiksaan, ada juga siswa yang tertawa-tawa sambil
menghadap kamera dan terdengar pula ungkapan dalam bahasa minang yang meminta agar
aksi tersebut dihentikan

Beredarnya video kekerasan tersebut sontak memunculkan respons negatif publik.


Rata-rata publik menyatakan kekesalan/keprihatinan terhadap aksi kekerasan yang terjadi dan
juga mempersoalkan peredaran tayangan tersebut di media sosial. Komisi Perlindungan
Anak Indonesia (KPAI) meminta Bareskrim Polri dibantu Kementerian Komunikasi
dan Informatika menangkap pengunggah dan penyebar video kekerasan itu. Pihak KPAI
berpendapat bahwa video kekerasan tidak boleh di-upload di media publik, seperti youtube,
karena dapat ditiru oleh anak-anak (Kompas.com, Senin 13 oktober 2014). Sementara itu, ada
juga pihak yang mempertanyakan lemahnya kontrol pihak sekolah sehingga tindakan
kekerasan tersebut bisa terjadi di lingkungan sekolah. Mereka juga meminta agar pihak
sekolah diberi sanksi yang tegas atas kejadian ini oleh institusi yang bertanggung jawab
(baca: dinas pendidikan) setempat

Apa yang kita saksikan di youtube tersebut sejatinya merupakan salah satu bentuk
bullying yang terjadi di ranah pendidikan. Kita khawatir bahwa kejadian tersebut laksana
fenomena gunung es- dimana yang muncul dan mencuat ke ruang publik hanya sedikit dan
diduga masih banyak kasus lain yang hingga kini belum terekspos. Kasus yang terjadi di
Bukittinggi tersebut mencuat akibat ada pihak yang merekam dan kemudian mengunggahnya
ke media sosial. Menurut KPAI, saat ini- kasus bullying menduduki peringkat teratas
pengaduan masyarakat. Dari 2011 hingga agustus 2014, KPAI mencatat 369 pengaduan
terkait masalah tersebut. Jumlah itu sekitar 25% dari total pengaduan di bidang pendidikan
sebanyak 1.480 kasus. Bullying yang disebut KPAI sebagai bentuk kekerasan di sekolah,
mengalahkan tawuran pelajar, diskriminasi pendidikan, ataupun aduan pungutan liar
(republika, rabu 15 oktober 2014)

Merujuk pada penjelasan Andrew Mellor tersebut, kasus kekerasan lingkungan


pendidikan sebagaimana yang terjadi saat ini merupakan bentuk bullying fisik dan ini
termasuk persoalan serius dan membahayakan, tidak hanya terhadap korban- tetapi juga
pelaku dan saksi. Dampak bullying, sebagaimana menurut
Victorian Departement of Education and Early Chilhood Development dapat terjadi pada: (1)
pelaku, bullying yang terjadi pada tingkat SD dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan
pada jenjang pendidikan berikutnya; pelaku cenderung berperilaku agresif dan terlibat dalam
gank serta aktivitas kenakalan lainnya; pelaku rentan terlibat dalam kasus kriminal saat
menginjak usia remaja; (2) korban, memiliki masalah emosi, akademik, dan perilaku jangka
panjang, cenderung memiliki harga diri yang rendah, lebih merasa tertekan, suka menyendiri,
cemas, dan tidak aman, bullying menimbulkan berbagai masalah yang berhubungan dengan
sekolah seperti tidak suka terhadap sekolah, membolos, dan drop out; (3) Saksi, mengalami
perasaan yang tidak menyenangkan dan mengalami tekanan psikologis yang berat, merasa
terancam dan ketakutan akan menjadi korban selanjutnya, dapat mengalami prestasi yang
rendah di kelas karena perhatian masih terfokus pada bagaimana cara menghindari menjadi
target bullying dari pada tugas akademik

Adapun item-item yang menjadi indikator kualitas karakter- menurut Ratna


Megawangi (2003), meliputi 9 (sembilan) pilar, yaitu (1) cinta Tuhan dan segenap ciptaan-
Nya; (2) tanggung jawab, disiplin dan mandiri; (3) jujur/amanah dan arif; (4) hormat dan
santun; (5) dermawan, suka menolong, dan gotong-royong; (6) percaya diri, kreatif dan
pekerja keras; (7) kepemimpinan dan adil; (8) baik dan rendah hati; (9) toleran, cinta damai
dan kesatuan. Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model
pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the
good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja.
Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana
merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang bisa membuat orang senantiasa mau
berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku
kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan
kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan. Jadi, menurut Ratna
Megawangi, orang yang memiliki karakter baik adalah orang yang memiliki kesembilan pilar
karakter tersebut

2.7.1.1 Nilai yang Terkandung dalam Kasus Bullying

Bullying adalah perilaku yang disengaja yang menyebabkan orang lain terganggu baik
melalui kekerasan verbal, serangan secara fisik, maupun pemaksaan dengan cara-cara halus
seperti manipulasi. Secara harfiah bullying berasal dari kata bully yang artinya pemarah,
orang yang suka marah.

Praktek bullying sendiri dibagi dalam 3 bagian, yaitu :


1. Bullying secara fisik: tindakan menikam, memalak, mencubit, memukul, meludah,
menarik leher kerah baju, mendorong, yang semuanya dilakukan dengan sengaja
(deliberately).
2. Bullying secara verbal: mengolok olok, menertawakan, memanggil nama orangtua,
mencemooh, menghina bahkan memfitnah, dan lagi-lagi dilakukan dengan sengaja.
3. Bullying secara psikologis: mendiamkan, mengucilkan, tidak diajak dalam kegiatan
apapun, dibiarkan sendirian.
Semua praktek bullying, tentu saja sangat menyakitkan bagi seorang anak maupun remaja,
karena masa mereka adalah masa berkawan, dan di-bully merupakan hal yang paling dibenci
oleh seluruh anak dan remaja diseluruh dunia, dan hal ini harus dicegah, oleh berbagai pihak.
Faktor- faktor moral yang mempengaruhi bullying
1. Toleransi
-Status sosial
Status sosial menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi bagaimana masing-
masing orang saling menghargai. Di saat seseorang memiliki status sosial tinggi
misalnya seseorang yang berpengaruh di suatu wilayah (Ex. Gubernur,walikota,
Ustad, dst.), tingkat pendapatan, memiliki banyak kenalan pejabat, pasti ia akan
memiliki tingkat penghargaan yang lebih tinggi pula. Begitu juga di saat seseorang
yang tidak memiliki status sosial yang tinggi
-Status ekonomi
-Hak asasi
-Pengaruh media

2. Religius
Kurangnya pendidikan agama (dendam)

3. Tanggung jawab
Perbuatan yang dilakukan tidak didasari tanggng jawab (menyebarkan gossip yang
membuat seseorang dibully)

2.7.2 Kasus Korupsi kecurangan UN


Bangsa Indonesia yang konon katanya adalah bangsa yang religius ternyata menjadi
gudang korupsi. Hasil survei bisnis yang dirilis Political & Economic Risk Consultancy atau
PERC menyebutkan Dalam survei tahun 2010, Indonesia menempati peringkat pertama
sebagai negara terkorup dengan mencetak skor 9,07 dari nilai 10. Angka ini naik dari 7,69
poin tahun lalu. Posisi kedua ditempati Kamboja, kemudian Vietnam, Filipina, Thailand,
India, China, Malaysia, Taiwan, Korea Selatan, Makao, Jepang, Amerika Serikat, Hongkong,
Australia, dan Singapura sebagai negara yang paling bersih. Korupsi terjadi diberbagai
bidang, juga diberbagai tempat bahkan Departemen Agama yang seharusnya menjadi contoh
bagi departemen-departemen yang lain ternyata menjadi tempat dimana korupsi paling besar
terjadi. Berbagai cara telah dilakukan yang paling nyata adalah pembentukan Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK). Walaupun sejauh ini KPK telah berhasil mengusut bahkan
membuikan orang-orang yang melakukan korupsi baik pejabat pemerintah mau pun anggota
DPR, tetapi KPK sepertinya belum bisa mencabut akar korupsi terbukti kasus korupsi tetap
marak terjadi. Bahkan akhir-akhir ini KPK sedang mengalami konflik yang mengakibatkan
menurunnya kinerja mereka. Yang menjadi permasalahannya adalah konflik yang terjadi
malah diakibatkan oleh permasalahan tiap anggota KPK mulai dari kasus Antasari sampai
kasus Bibit-Chandra. Sehingga KPK pun sepertinya malah disibukkan oleh urusan rumah
tangga sendiri.

Persoalan karakter bangsa sebenarnya sangat identik dengan persoalan pendidikan


Indonesia. Karena dalam pendidikanlah karakter dan moral anak bangsa ditempah. Hanya
perntanyaannya, apakah pendidikan sedang membangun karakter dan moral bangsa? Untuk
menjawabnya mari kita perhatikan lebih dahulu keadaan pendidikan Indonesia.

Pendidikan yang tidak Mendidik


Berbicara apa yang terjadi dalam pendidikan di Indonesia sepertinya kita akan lebih
nyaman jika memulainya dengan topik yang masih hangat yaitu Ujian Nasional (UN). Sejak
awal diberlakukannya UN memang sudah menuai kritik dari berbagai pihak. Bahkan pada
tanggal 14 September 2009, Mahkamah Agung telah memenangkan gugatan warga Negara
(citizen lawsuit), yaitu melarang pemerintah melaksanakan UN.

Namun pemerintah tetap kekeh melaksanakannya. Padahal dalam pelaksanaannya UN


telah diwarnai oleh ketidakjujuran. Pasalnya, Komunitas Air Mata Guru (KAMG) melalui tim
investigasinya menemukan sejumlah kecurangan salah satunya beredarnya soal secara bebas
dan dijual dengan harga yang murah Rp100.000 per paket (Sumut Post, 23/3). Persoalan lain
yang menyangkut kejujuran UN antara lain

(1) Ditemukannya soal bahasa Indonesia tertukar dengan bahasa Inggris di Bali;

(2) Ditemukannya lembar jawaban UN yang rusak di Bali;

(3) Jual beli soal UN yang belum diketahui asli atau palsu di Sumbar;;

(4) ada guru mata pelajaran bahasa Indonesia ikut menjaga ujian bahasa Indonesia, padahal
dalam standar operasional pelaksanaan, hal itu jelas-jelas dilarang;

(5) Ada laporan yang masuk di posko pengaduan UNAS di Kemendiknas (Sumut Post, 23/3).

Sebenarnya UN-pun telah mereduksi hakikat pendidikan. Hakikat pendidikan dalam


UU No.20 Tahun 2003 tentang Sidiknas disebutkan adalah sebagai usaha sadar dan terencana
untuk suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan Negara. Pendidikan sebagaimana dikatakan oleh UU tersebut adalah
pendidikan yang holistik (menyeluruh), tidak hanya sebatas lulus UN, masuk Perguruan
Tinggi Negeri (PTN) atau pun sekadar prasyarat mencari kerja.

2.7.2.1 Nilai yang Terkandung Dalam Kasus Korupsi kecurangan UN

Korupsi terjadi karena bobroknya karakter bangsa. Pendidikan tidak lagi menjalankan
perannya dalam pembentukan karakter. Tidak sedikit juga ditemukan korupsi terjadi dalam
pendidikan. Pendidikan yang seharusnya adalah senjata melawan korupsi tidak lagi memiliki
amunisi. Hal ini terbukti dari pemaparan di atas dimana pendidikan karakter telah hilang dari
pendidikan.

Berdasarkan contoh kasus yang telah di paparkan di atas dapat kami simpulkan bahwa
nilai nilai yang terkandung di dalamnya adalah nilai Religius dan kejujuran yang masih
sangat buruk yang berkaitan dengan maraknya tindakan Korupsi di negri ini. Nilai lainnya
adalah kurangya kerja keras serta kedisiplilnan dari kalangan pendidik dalam membangun
pendidikan yang jujur serta berkwalitas.
2.7.3 Kasus Pencurian Sandal Jepit
Beberapa waktu yang lalu saya sempat mendatangi polsek kecamatan saya, dimana
kebetulan saya ingin mengurus surat keterangan hilang ATM dari kepolisian setempat untuk
mengajukan pembuatan kartu ATM baru yang memang salah satu syarat bagi bank yang saya
gunakan. Tepat setelah saya selesai mengurus surat tersebut -yang memang membutuhkan
waktu hanya 15 menitan- saya mendadak terdiam... Seorang petugas melaporkan bahwa ada
anak kecil berusia 13 tahun yang ditangkap pada saat itu karena kedapatan sedang mencuri
sendal orang, dan anak itu ada di depan saya, meringkuk, menangis, dan dengan badan yang
sangat kotor serta -yang paling membuat saya pilu- adalah luka lebam di wajah dan mungkin
sekujur tubuhnya. sumpah ini bukan lebay, bukan soal keterampilan mendramatisir, sok
tersentuh, atau apalah itu... Ini hanya sekedar jeritan hati seorang kakak perempuan yang juga
mempunyai adik laki-laki persis seumuran bocah itu saat ini.

Dunia pendidikan kita menurut saya masih sangat belum merata, meskipun memang
dari tahun ke tahun mengalami kemajuan terbukti dengan anak-anak di pedalaman yang
mulai banyak bersekolah, namun negeri yang kaya akan sumber daya alam dan segala
potensinya ini masih kurang baik dalam memanfaatkannya untuk kemajuan sumber daya
manusia. Anak yang memiliki latar pendidikan yang baik, yang memiliki pengetahuan, kasih
sayang yang cukup dari keluarga, maka tentunya akan mempengaruhi mental dan perilaku
anak tersebut menjadi lebih baik. Heran sebenarnya melihat sebesar apa sumber daya alam
yang dapat menghasilkan banyak keuntungan untuk negeri ini namun banyak juga dari anak
bangsa yang tidak mendapatkan hak pendidikan dengan layak. Perlu ada perubahan besar
dalam sistem di negara ini untuk mewujudkan mental dan karakter yang lebih baik untuk
generasi muda.

2.7.3.1 Nilai yang Terkandung Dalam Kasus Pencurian Sandal Jepit

Dari kasus di atas,kita dapat mengambil pelajaran bahwa mencuri itu perbuatan yang
tidak baik dan dilarang oleh agama karena memperlihatkan bahwa orang itu tidak miliki
sifat jujur. Namun disisi lain kita juga sebagai masyarakat tidak boleh main hakim sendiri
untuk mengadili orang yang bersalah. Apalagi menghakimi seorang anak kecil dengan
memukulinya sampai luka lebam,selaknya anda memukuli pencuri dewasa. Karakter
masyarakat seperti ini perlu diubah karena tidak memperlihatkan sifat
beprikemanusiaan.Masyarakat hanya berfungsi melaporkan perbuatan anak kecil itu kepada
pihak yang berwenang bukan malah sebaliknya menghakimi sendiri orang yang bersalah.
Biarlah pihak yang berwenang yang memberikan sanksi kepada anak itu sesuai dengan
perudang-undangan di negara kita. Tetapi alangkah baiknya jika kasus anak itu diselesaikan
secara kekeluargaan. Jika kita lihat kasus anak ini sama halnya dengan kasus anak di kota
palu yang kedapatan mencuri sandal milik anggota polri Pengadilan yang menyidangkan
kasus ini pun telah memutuskan bahwa terdakwa AAL dinyatakan bersalah melakukan
perbuatan pidana.

Kasus yang menimpa AAL ini menjadi sorotan publik. Banyak kalangan
menyesalkan proses hukum atas kasus Sandal Jepit ini, apalagi terdakwa masih remaja dan
bersekolah. Dengan adanya kasus ini gerakan seribu sandal keadilan pun di lakukan oleh
KPAI untuk memperjuangkan hak-hak anak di negri ini. kasus yang menimpa AAL dapat
berdampak negatif terhadap perkembangan psikologi anak. Mungkin masuknya hukuman
tersebut ingin mendidik, namun yang terjadi adalah hak anak sudah dirampas. Belum pasti,
anak itu yang mengambil. Saya kira masih banyak cara lain yang lebih positif untuk
mendidik anak, penegakan hukum memang harus dilakukan. Namun bila yang menjadi
tersangka adalah seorang anak, maka perlu memperhatikan perkembangan
psikologisnya.Kejadian ini bisa menimbulkan gangguan stres akut dengan gejala perubahan
perilaku yang cenderung pendiam, halusinasi, dan ketakutan yang berlebihan. Pada kondisi
ini, peran keluarga sangat dibutuhkan untuk selalu mendukung dan mendampingi anak agar
tidak terjadi depresi.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan di atas penulis dapat menyimpulkan beberapa kategori yaitu:


Bangsa Indonesia telah berusaha untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan
karakter melalui Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan
dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan
akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang. Bila pendidikan karakter telah
mencapai keberhasilan, tidak diragukan lagi kalau masa depan bangsa Indonesia ini akan
mengalami perubahan menuju kejayaan. Dan bila pendidikan karakter ini mengalami
kegagalan sudah pasti dampaknya akan sangat besar bagi bangsa ini, negara kita akan
semakin ketinggalan dari negara-negara lain. Maka dari makalah yang telah kami susun
dengan memasukkan lima nilai yang telah kami pilih yaitu nilai religius, toleransi, jujur, kerja
keras, dan disiplin kami dapat menyimpulkan bahwa pendidikan karakter sangat penting di
tingkat sekolah baik sd, smp, sma, bahkan perguruan tinggi guna memperbaiki karakter anak
didik negara Indonesia

3.2 Saran
Pemerintah harus selalu memantau atau mengawasi dunia pendidikan, karena dari dari
dunia pendidikan Negara bisa maju dan karena dunia pendidikan juga Negara bisa hancur,
bila pendidikan sudah disalah gunakan. Selain mengajar, seorang guru atau orang tua juga
harus mendoakan anak atau muridnya supaya menjadi lebih baik, bukan mendoakan
keburukan bagi anak didiknya. Guru harus memberikan rasa aman dan keselamatan kepada
setiap peserta didik di dalam menjalani masa-masa belajarnya, karena jika tidak semua
pembelajaran yang di jalani anak didik akan sia-sia. Semoga karya tulis dapat bermanfaat
bagi kita semua, khususnya bagi pembaca. Amiiin..

DAFTAR PUSTAKA

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Keempat . Jakarta: Pusat Bahasa/PT Gramedia
Pustaka Utama, 2008

Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025, dalam


Siswanto 2011

Alma, Buchari. (2010). Kewirausahaan (edisirevisi), Bandung: CV Alfabeta

Kompas.com, Senin 13 oktober 2014

Sumut Pos, 23 maret 2014

http://www.pendidikankarakter.com/peran-pendidikan-karakter-dalam-melengkapi-
kepribadian/
http://www.pendidikankarakter.com/kurikulum-pendidikan-karakter/

http://pndkarakter.wordpress.com/

https://www.academia.edu/3317403/MODEL_PENDIDIKAN_KARAKTER_DI_PERGURU
AN_TINGGI_AGAMA_ISLAM_Studi_tentang_Pendidikan_Karakter_Berbasis_Ulul_albab_di_Univ
ersitas_Islam_Negeri_

http://news.metrotvnews.com/read/2014/10/13/304302/kpai-sanksi-bagi-bocah-pelaku-
bullying-bukan-penjara

http://www.republika.co.id/berita/koran/halaman-1/14/10/15/ndh4sp-aduan-bullying-tertinggi