Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Stroke atau cerebrovascular accident, merupakan gangguan neurologis yang paling


banyak terjadi dan menjadi masalah paling utama penyebab gangguan gerak dan fungsi tubuh
pada orang dewasa. Selain itu stroke merupakan penyebab kematian nomor dua di dunia. Dua
pertiga stroke terjadi di negara-negara yang sedang berkembang. Selama perjalanan hidup
manusia, sekitar empat dari lima keluarga akan memiliki seorang anggota mereka yang
terkena stroke.

Stroke adalah gangguan otak paling destruktif dengan konsekuensi berat, termasuk
be-ban psikologis, fisik, dan keuangan yang besar pada pasien, keluarga pasien, dan
masyarakat. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Agency for Healthcare Policy and
Research, tahun 1995 menunjukkan insidensi rata-rata terjadinya stroke adalah 114 dari
100.000 orang. Stroke pertama terjadi sebanyak 75% dari total kasus dan sisanya merupakan
stroke ulangan. Angka insidensi ini menjadi 20 kali lipat lebih tinggi pada usia di atas 55
tahun. Pria berkulit hitam mempunyai resiko 50% lebih tinggi untuk terkena stroke daripada
pria berkulit putih sedangkan wanita berkulit hitam mempunyai resiko 130% lebih tinggi
daripada wanita berkulit putih. Angka tertinggi terjadinya stroke ulang adalah satu (1) tahun
setelah serangan pertama, terjadi pada stroke karena trombus, dan pada pria. Pria mempunyai
resiko 30-80% lebih tinggi untuk terkena stroke ulang daripada wanita. Secara global, pada
saat tertentu sekitar 80 juta orang menderita akibat stroke.

Terdapat sekitar 13 juta korban stroke baru setiap tahun, dimana 4,4 juta diantaranya
meninggal dalam waktu 12 bulan. Ada 250 juta anggota keluarga yang berinteraksi langsung
dengan para penderita stroke yang bertahan hidup. Pada insan pasca stroke salah satu masalah
yang perlu mendapatkan perhatian ada-lah menurunnya kemampuan mobilitas untuk dapat
melakukan aktivitas. Masalah-masalah yang ditimbulkan oleh stroke bagi kehidupan manusia
pun sangat kompleks. Adanya gangguan-gangguan fungsi vital otak seperti gang-guan
koordinasi, gangguan keseimbangan, gangguan kontrol postur, gangguan sensasi, dan
gangguan refleks gerak akan menurunkan kemampuan aktivitas fungsional individu sehari-
hari termasuk diantaranya adalah fungsi berjalan individu (Susanti, 2008).

1
Delapan puluh persen penderita stroke mempunyai defisit neuromotor sehingga
membe-rikan gejala kelumpuhan sebelah badan dengan tingkat kelemahan bervariasi dari
yang lemah hingga berat, kehilangan sensibilitas, kegagalan sistem koordinasi, perubahan
pola jalan dan terganggunya keseimbangan (Arif, 2008). Hal ini mempengaruhi
kemampuannya untuk mela-kukan aktivitas hidup sehari-hari. Oleh karena itu setelah
serangan stroke, penderita harus mempelajari kembali hubungan somatosensori baru atau
lama untuk melakukan tugas-tugas fungsionalnya.

Seseorang terkena serangan stroke disebabkan oleh dua hal utama, yaitu penyumbatan
arteri yang mengalirkan darah ke otak (disebut stroke iskemik/non perdarahan) dan karena
adanya perdarahan di otak (disebut stroke perdarahan/hemoragik). Seseorang yang terserang
stroke akan mengalami keadaan dimana kemampuan beraktivitas akan menurun. Gangguan
keseimbangan pada stroke dikarenakan tidak adanya integrasi yang baik pada system
sensorik (vestibular, visual, dan somatosensorik termasuk proprioceptor) dan musculoskeletal
(otot, sendi, dan jaringan lunak lain) yang diatur di dalam otak (control motorik, sensorik,
basal ganglia, cerebellum, area asosiasi) sebagai respon terhadap perubahan kondisi internal
dan eksternal.

Keseimbangan yang baik pada pasien stroke merupakan komponen penting untuk
dapat melakukan gerak dan fungsi. Tanpa adanya keseimbangan maka pasien stroke akan
mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas, hal tersebut tidak hanya bagi pasien stroke,
akan tetapi begitu juga pada orang tanpa gangguan stroke.

Gangguan keseimbangan pada pasien stroke terjadi karena banyak faktor diantaranya
karena kerja otot - otot tubuh yang tidak sinergis, selain itu juga bisa karena adanya gangguan
pada komponen keseimbangan tubuh misal pada siatem visual, vestibular dan
somatosensorik. Keseimbangan timbul dari interaksi yang kompleks dari sensory dan
musculoskeletal system yang terintegrasi dan dimodifikasi di Sistem saraf Pusat (SSP) yang
direspon untuk menyesuaikan kondisi lingkungan baik internal maupun eksternal.

Beberapa bidang yang dilatih adalah berdiri, berjalan, mengambil dan menggunakan
benda-benda. Adapun ragam latihan yang bisa digunakan oleh fisioterapi diataranya dengan
metode Brunnstrom, metode Rood, metode Johnstone, PNF, MRP, latihan aktivitas fungsional
sehari-hari dan salah satunya dengan metode Bobath. Metode latihan ini dikembangkan oleh

2
Karel Bobath (Neurolog) dan istrinya, Bertha Bobath (Fisioterapis). Intervensi dengan
metode Bobath ini mempunyai tujuan yaitu mengatasi masalah-masalah yang timbul pada
penderita kelumpuhan otak serta optimalisasi fungsi dengan peningkatan kontrol postural dan
gerakan selektif melalui fasilitasi, sebagaimana yang dinyatakan oleh IBITA tahun 1995 The
goal of treatment is to optimize functionby improving postural control and selective
movement through facilitation. (IBITA 1995).

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari Terapi Bobath
2. Untuk mengetahui tujuan Terapi Bobath pada pasien stroke
3. Untuk mengetahui latihan Terapi Bobath pada pasien stroke
4. Untuk menganalisis bagaimana Aplikasi Terapi Bobath pada pasien stroke
C. Manfaat
1. Penulis
Meningkatkan kemampuan dalam menganalisis suatu trend dan isu yang sedang

berkembang dalam tatanan profesi keperawatan khususnya dalam keperawatan

medical bedah yang diharapkan bisa meningkatkan pengetahuan dan wawasan

berfikir ilmiah.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Stroke

3
1. Pengertian

Stroke adalah gangguan neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau
terhentinya suplai darah ke otak (Price& Wilson, 2005).
Stroke adalah suatu gangguan yang timbul karena terjadi gangguan peredaran darah di otak
yang menyebabkan terjadinya kematian jaringan otak sehingga mengakibatkan seseorang
menderita kelumpuhan atau kematian (Batticaca, 2008).

Stroke atau gangguan peredaran darah otak (GPDO) merupakan penyakit neurologis
yang sering dijumpai dan harus ditangani secara cepat dan tepat. Stroke merupakan kelainan
fungsi otak yang timbul mendadak yang disebabkan karena terjadinya gangguan peredaran
darah otak dan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja (Muttaqin, 2008).

2. Penyebab Stroke
Menurut Mutaqin (2008), penyebab stroke terdiri dari:
a. Trombosis Serebral
Trombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi sehingga
menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapat menimbulkan oedema dan kongesti di
sekitarnya. Trombosis biasanya terjadi pada orang tua yang sedang tidur atau bangun
tidur. Hal ini dapat terjadi karena penurunan aktivitas simpatis dan penurunan darah yang
menyebabkan iskemi serebral. Tanda dan neurologis sering kali memburuk pada 48 jam
setelah thrombosis.

b. Hemoragi
Perdarahan intrakranial atau intraserebral termasuk dalam perdarahan dalam ruang
subaraknoid atau ke dalam jaringan otak sendiri. Perdarahan ini dapat terjadi karena
aterosklerosis dan hipertensi. Akibat pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan
perembesan darah ke dalam parenkim otak yang dapat mengakibatkan penekanan,
pergeseran dan pemisahan jaringan otak yang berdekatan, sehingga otak akan
membengkak, jaringan otak membengkak, sehingga terjadi infark otak, edema, dan
mungkin herniasi otak.

c. Hipoksia Umum

4
Beberapa penyebab yang berhubungan dengan hipoksia umum adalah hipertensi
yang parah, henti jantung-paru, curah jantung yang turun akibat aritmia.

d. Hipoksia Setempat
Beberapa penyebab yang berhubungan dengan hipoksia setempat adalah spasme
arteri serebral yang disertai dengan subaraknoid dan vasokontriksi arteri otak disertai
sakit kepala migren.

3. Faktor Risiko Stroke


Ada sejumlah faktor risiko yang dapat memicu terjadinya stroke. Menurut University
of Pittsburgh Medical Center (2003) dan American Heart Association (2007), ada dua
jenis faktor risiko stroke yaitu faktor risiko yang tidak dapat diubah/ dikontrol dan faktor
risiko yang dapat dikontrol.
1. Faktor risiko stroke yang tidak dapat diubah yaitu : Usia, jenis Kelamin, riwayat
keluarga, dan ras.
2. Faktor risiko yang dapat dikontrol yaitu : Tekanan darah tinggi, merokok diabetes
mellitus, obesitas, penyakit pada arteri carotis, kurangnya aktivitas fisik, alkohol, kopi,
penggunaan obat-obatan, kurang nutrisi, stres dan estrogen.

4. Klasifikasi Stroke
Menurut Muttaqin (2008), stroke dikelompokan atas dua yaitu:
a. Stroke Hemoragi
Stroke hemoragi merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan
subaraknoid yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada area otak tertentu.
Stroke in biasanya kejadiannya saat melakukakn aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga
terjadi pada saat istirahat. Kesadaran klien umumnya menurun.

b. Stroke Nonhemoragik
Stroke nonhemoragik dapat berupa iskemia atau emboli dan thrombosis serebral.
Stroke ini biasanya terjadi saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi
hari. Tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan
selanjutnya dapat timbul edema sekunder.

5. Manifestasi Klinis Stroke

5
Manifestasi klinis stroke menurut Smeltzer & Suzane (2001) adalah:
a. Kehilangan motorik
Stroke adalah penyakit motor neuron atas dan mengakibatkan kehilangan kontrol
volunteer terhadap gerakan motorik. Disfungsi motorik paling umum adalah hemiplegia
(paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada sisi otak yang berlawanan. Hemiparesis
atau kelemahan salah satu sisi tubuh adalah tanda yang lain.

b. Kehilangan komunikasi
Fungsi otak lain yang dipengaruhi oleh stroke adalah bahasa dan komunikasi.
Stroke adalah penyebab afasia paling umum. Disfungsi bahasa dan komunikasi dapat
dimanifestasikan oleh hal berikut:
1) Disartria (kesulitan berbicara), ditunjukkan dengan bicara yang sulit dimengerti yang
disebabkan oleh paralisis otot yang bertanggung jawab untuk berbicara.
2) Disfasia atau afasia (bicara defektif atau kehilangan bicara) yang terutama ekspresif
atau reseptif.
3) Apraksia (ketidakmampuan melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya), seperti
terlihat ketika pasien mengambil sisir dan berusaha untuk menyisir rambutnya.

c. Gangguan persepsi
Gangguan persepsi merupakan ketidakmampuan menginterpretasikan sensasi.
Stroke dapat mengakibatkan disfungsi persepsi visual, gangguan dalam hubungan visual
spasial, dan kehilangan sensori.
1) Disfungsi persepsi visual karena gangguan jaras sensori primer di antara mata dan
korteks visual. Hominus heminopsia (kehilangan setengah lapang pandang) dapat terjadi
karena stroke dan mungkin sementara atau permanen. Sisi visual yang terkena berkaitan
dengan sisi tubuh yang paralisis. Kepala pasien berpaling dari sisi tubuh yang sakit dan
cenderung mengabaikan bahwa tempat dan ruang pada sisi tersebut. Hal ini disebut
amorfosintesis. Pada keadaan ini, pasien tidak mampu melihat makanan pada setengah
mampan dan hanya setengah ruangan yang terlihat.

2) Gangguan hubungan visual spasial (mendapatkan hubungan dua atau lebih objek
dalam area spasial) sering terlihat pada pasien dengan hemiplegia kiri. Pasien mungkin
tidak dapat memakai pakaian tanpa bantuan karena ketidakmampuan untuk mencocokan
pakaian ke bagian tubuh.

6
3) Kehilangan sensori karena stroke dapat berupa kerusakan sentuhan ringan atau
mungkin lebih berat, dengan kehilangan propriosepsi (kemampuan untuk merasakan
posisi dan gerakan bagian tubuh) serta kesulitan dalam menginterpretasikan stimuli
visual, taktil, dan auditorius.

d. Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologik


Bila kerusakan telah terjadi pada lobus frontal, mempelajari kapasitas, memori,
atau intelektual kortikal yang lebih tinggi mungkin rusak. Disfungsi ini dapat ditunjukkan
dalam lapang perhatian terbatas, kesulitan dalam pemahaman, lupa, dan kurang motivasi,
yang menyebabkan pasien ini menghadapi masalah frustasi dalam program rehabilitasi
mereka. Depresi umum terjadi dan mungkin diperberat oleh respon alamiah pasien
terhadap penyakit katastrofik ini. Masalah psikologik lain juga umum terjadi dan
dimanifestasikan oleh labilits emosional, bermusuhan, frustasi, dendam, dan kurang kerja
sama.

e. Disfungsi kandung kemih


Pasien pasca stroke mungkin mengalami inkontinensia urinarius sementara
karena konfusi, ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan
menggunakan urinal/ bedpan karena kerusakan control motorik dan postural. Kadang-
kadang setelah stroke, kandung kemih menjadi atonik, dengan kerusakan sensasi dalam
respon terhadap pengisian kandung kemih. Kadang-kadang kontrol sfingter urinarius
eksternal hilang atau berkurang. Inkontinensia ani dan urine yang berlanjut menunjukkan
kerusakan neurologik luas.

6. Rehabilitasi
Rehabilitasi merupakan bagian penting dalam proses pemulihan stroke. Tujuan
rehabilitasi ini adalah untuk menolong penderita stroke untuk memperoleh kembali apa
yang mungkin dapat dipertahankan untuk memaksimalkan fungsi tubuh pada penderita
stroke (Stroke and Heart Foundation, 2010).

Lumbantobing (2004) menyatakan bahwa tujuan rehabilitasi ialah menjaga atau


meningkatkan kemampuan jasmani, rohani, keadaan ekonomi dan kemampuan kerja
semaksimal mungkin. Berbagai usaha dilakukan untuk mencapai tujuan ini, diantaranya

7
terapi fisik/ fisioterapi, latihan bicara, latihan mental, terapi okupasi, psikoterapi ,
memberi alat bantu, ortotik prostetik, dan olah raga.

Bentuk tindakan di atas tentunya disesuaikan dengan berat ringan cacat, bentuk
cacat, kemampuan atau tingkat mental penderita. Young & Forster (2007) dan Duncan et
al (2005) menyatakan bahwa penanganan rehabilitasi merupakan pendekatan
multidisiplin, beberapa ahli di berbagai bidang bekerja sama, misalnya dokter keluarga,
ahli rehabilitasi medik, ahli saraf, perawat dan anggota keluarga. Koordinator tindakan
rehabilitasi ini sebaiknya dipegang oleh dokter keluarga, yang lebih banyak mengetahui
penderita, keluarganya, latar belakang pendidikannya, serta tugas jabatan. Dokter
keluarga dapat bertidak sebagai motivator, memberi bimbingan dan petunjuk kepada
penderita dan keluarganya (Bradford Institute for Health Research, 2010).

7. Perawatan Penderita Stroke di Rumah


Menurut Batticaca (2008), penanganan dan perawatan penderita stroke di rumah
antara lain, berobat secara teratur ke dokter, tidak menghentikan atau mengubah dan
menambah dosis obat tanpa petunjuk dokter, meminta bantuan petugas kesehatan atau
fisioterapi untuk memulihkan kondisi tubuh yang lemah atau lumpuh, memperbaiki
kondisi fisik dengan latihan teratur di rumah, membantu kebutuhan klien, memotivasi
klien agar tetap bersemangat dalam latihan fisik, memeriksakan tekanan darah secara
teratur, dan segera bawa klien ke dokter atau rumah sakit jika timbul tanda dan gejala
stroke.

Vallery (2006) dalam Agustina,dkk (2009) mengemukakan bahwa pasien dan


orang yang merawat/ keluarga perlu menyadari semua tantangan dan tanggung jawab
yang akan dihadapi sebelum meninggalkan rumah sakit atau fasilitas rehabilitasi lain.
Meskipun sebagian besar pasien telah mengalami pemulihan yang cukup bermakna
sebelum di pulangkan, sebagian masih memerlukan bantuan untuk turun dari tempat tidur,
mengenakan pakaian, makan, dan berjalan. Keluarga sebaiknya mengetahui tentang
layanan komunitas lokal yang dapat memberikan bantuan, termasuk dokter keluarga,
perawat kunjungan rumah, ahli fisioterapi, petugas sosial, ahli terapi wicara, dan layanan
relawan. Kebutuhan pasien pasca rawat dapat meliputi kebutuhan fisiologis, psikologis,
sosial dan spiritual.

8
Berikut ini merupakan perawatan penderita stroke yang dapat membantu aktivitas
fisik setelah stroke dimana penderita stroke perlu melakukan kembali aktivitas
sebelumnya sebanyak mungkin. Jenis aktivitas yang mungkin dilakukan bergantung pada
efek stroke. Penderita stroke yang tidak banyak mengalami masalah fisik dapat mencoba
berjalan, menggunakan sepeda statis, dan melakukan aktivitas olahraga yang biasa
mereka lakukan. Penderita stroke yang masalahnya lebih berat, misalnya penderita stroke
dengan hemiplegia, mungkin memerlukan bantuan ahli fisioterapi atau spesialis olahraga.
Secara umum, seperti pada orang lain, sebaiknya penderita stroke melakukan sekitar
setengah jam aktivitas yang menyebabkan pasien merasa hangat, sedikit terengah-engah,
dan sedikit berkeringat, tiga kali seminggu atau lebih. (Thomas, 2000).

Penderita stroke dengan masalah orientasi ruang atau apraksia sering


membutuhkan bantuan untuk mengenakan busana karena ketidakmampuan menggunakan
kedua lengan dengan benar, bahkan meskipun mereka tidak mengalami kelemahan yang
nyata pada anggota badan. Penderita stroke dengan masalah orientasi ruang atau apraksia
kadang-kadang mengenakan busana di bagian yang salah dan sering tidak dapat
memasukkan kancing. Penting bagi orang yang merawat penderita untuk berhati-hati agar
sendi yang lumpuh tidak teregang, terutama sendi bahu. (Graham, 2006).

B. Keseimbangan
Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan pusat gravitasi pada
bidang tumpu terutama ketika saat posisi tegak. (Pengertian keseimbangan menurut
OSullivan). Keseimbangan statis adalah kemampuan tubuh untuk mejaga kesetimbangan
pada posisi tetap. Keseimbangan dinamis adalah kemampuan untuk mempertahankan
kesetimbangan ketika bergerak.

Keseimbangan merupakan interaksi yang kompleks dari integrasi atau interaksi


sisem sensorik (vestibular, visual, dan somatosensorik termasuk proprioceptor) dan
musculoskeletal (otot, sendi, dan jaringan lunak lain) yang dimodifikasi atau diatur dalam
otak (control motorik, sensorik, basal ganglia, cerebellum, area asosiasi) sebagai respon
terhadap perubahan kondisi internal dan eksternal.
Dipengaruhi juga oleh factor lain seperti, usia, motivasi, kognisi, lingkungan,
kelelahan, pengaruh obat dan pengalaman terdahulu. Eksistensi aktivitas postural yang
mendahului gerakan dikembangkan oleh Balenkii dengan Coleganya (1967) yang

9
mendemonstrasikan bahwa subjek diminta untuk mengangkat satu lengan secepat
mungkin dan dilihat dengan menggunakan EMG pada otot tertentu (deltoid anterior) dan
gerakan lengan disiapkan oleh aktivitas otot biceps femoris dari sisi ipsilateral kaki dan
otot-otot collateral sacrolumbal.

Meskipun kita jarang berdiri tegak dengan kondisi betul-betul diam, ketika
melakukan gerakan tubuh yang kecil maka adaptasi based of support akan timbul untuk
memperbaiki balance yang disebut sway. Dengan kata lain walaupun kita berdiri diam dan
kemudian melakukan gerakan kecil maka akan timbul proses yang aktif dari otot yang
merubah aktivitasnya. Pada posisi berdiri seimbang, susunan saraf pusat berfungsi untuk
menjaga pusat massa tubuh (center of body massa)dalam keadaan stabil dengan batas
bidang tumpu tidak berubah kecuali membentuk batas bidang tumpu lain. Selain itu
masukan (input)visual berfungsi sebagai control keseimbangan, pemberi informasi, serta
memprediksi datangnya gangguan. Masukan (input) dari kulit di telapak kaki juga
merupakan hal yang penting untuk mengatur keseimbangan saat berdiri. Postur adalah
posisi atau sikap tubuh.

C. Terapi Bobath
1. Pengertian
Metode latihan ini dikembangkan oleh Karel Bobath (Neurolog) dan istrinya,
Bertha Bobath (Fisioterapis). Metode Bobath pada awalnya memiliki konsep perlakuan
yang didasarkan atas inhibisi aktivitas abnormal refleks (Inhibition of abnormal reflex
activity) dan pembelajaran kembali gerak normal (The relearning of normal movement),
melalui penanganan manual dan fasilitasi.Tehnik Bobath pertama kali ditemukan oleh
Bertha Bobath, seorang fisioterapis. Metode ini juga dikenal dengan sebutan NDT
Neoro Developmental Treatment. Tehnik ini sering digunakan pada kasus-kasus
gangguan motorik dan keseimbangan akibat post trauma cerebri dan post immobilisasi
lama.

Metode Bobath adalah suatu metode terapi latihan pada stroke yang berasumsi
bahwa penderita stroke seolah-olah pasien stroke kembali pada usia bayi sehingga
pertumbuhan dan perkembangannya sesuai dengan pertumbuhan bayi normal. Oleh karena
itu stroke harus dilatih mulai dari posisi berbaring, miring, tengkurap, merangkak, duduk,
berdiri, dan berjalan. Jangan mencoba untuk latihan berdiri kalau miring saja belum bisa.

10
Jangan juga latihan untuk berdiri kalau duduk saja belum stabil. Di samping itu untuk
mengatasi tonus otot yang berlebihan, berikan posisi inhibisi (posisi yang dapat
menghambat terjadinya hypertonus) dan fasilitasi (posisi yang dapat mengurangi
hypertonus). Setelah itu baru latihan gerak pada pola norma.

Metode Bobath pada awalnya memiliki konsep perlakuan yang didasarkan atas
inhibisi aktivitas abnormal reflex dan pembelajaran kembali gerak normal, melalui
penanganan manual dan fasilitasi. Dengan perkembangan ilmu dan teknologi, maka
konsep bobath juga mengalami perkembangan dimana konsep bobath terkini adalah :
Pendekatan problem solving dengan cara pemeriksaan dan tindakan secara individual yang
diarahkan pada tonus otot, gerak dan fungsi akibat lesi pada system saraf pusat.

2. Tujuan Intervensi Bobath


Tujuan dari intervensi metode bobath adalah optimalisasi fungsi dengan
peningkatan kontrol postural dan gerakkan selektif melalui fasilitasi, sebagaimana yang
dinyatakan oleh IBITA tahun 1995. The goal of treatment is to optimize function by
improving postural control and selective movement trought fasilitation(IBITA 1995).
Sedangkan tujuan utama latihan ini adalah meningkatkan kualitas gerakan pada sisi yang
lumpuh sehingga kedua sisi tubuh dapat bekerja semaksimal mungkin secara harmonis
dengan menurunkan spasitas dan memberikan pola latihan gerakan yang lebih selektif,
otomatis dan volunteer untuk persiapan ketrampilan fungsional.

3. Prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam intervensi bobath.


1). Pola Gerakan
a) Gerakan yang ada dalam suatu pola yang telah dikontrol oleh system persarafan,
yaitu saraf pusat (bukan gerakan perotot)
b) Gerakan yang dilakukan untuk meningkatkan aktivitas anak dilakukan berdasarkan
pada pola gerakan dan perkembangam normal.
c) Dilakukan pada gerakan yang dikarenakan oleh : Perkembangan pola gerakan yang
abnormal, kompensasi / adaptasi terhadap abnormalitas.
d) Tujuan penerapan Bobath : Seluruh gerakan diajarkan dalam kondisi yang normal
atau kondisi yang mendekati normal, meningkatkan kwalitas dari gerakan.
e) Harus memahami pola pola gerakan yang abnormal untuk menimbulkan lebih
banyak pola gerakan yang normal.

11
2). Komponen Gerakan
a). Tonus postural yang normal untuk menahan gravitasi bila bagian lain bergerak.
b). Gerakan yang responsive dan efektif hanya terjadi pada penanganan yang benar.
c). Penanganan untuk menormalisasi postural, meningkatkan sikap dari gerakan,
meningkatkan keterampilan dan meningkatkan adaptasi terhadap rangsang.

3). Konsep / prinsip kerja terapi bobath, meliputi ;


a) Fasilitasi, suatu bentuk bantuan yang diberikan untuk memudahkan pasien dalam
melaksanakan aktivitasnya sehari hari, hal ini dapat dilakukan dengan tehnik
posisioning. Fasilitasi adalah salah satu cara yang menggunakan kontrol sensory dan
proprioceptive untuk mempermudah gerakan.

Pemberian fasilitasi adalah bagian dari satu proses belajar secara aktif (IBITA
1997) dimana individu memungkinkan untuk mengatasi inersia, inisiatif, melanjutkan
atau menyelesaikan satu tugas fungsional. Pemberian fasilitasi digunakan untuk
membantu individu dalam pemecahan masalah, memungkinkan dia untuk melakukan
gerakan yang sebaik mungkin selama bekerja. Memberikan kinerja fasilitasi -
terhadap performance bisa ditingkatkan dengan pengulangan dalam latihan.

b) Stimulasi, merupakan suatu bentuk pemberian rangsangan yang terdiri dari dua
bentuk antara lain ;
1). Stimulasi verbal (dengan aba aba, suara/bunyi bunyian)
2). Stimulasi non verbal (menggunakan rangsang taktil dan propioseption)

c) Stability, merupakan salah satu bagian dari teknik terapi yang bertujuan untuk
membentuk stability untuk mengurangi gerakan yang abnormal. Stabilisasi yang
diberikan antara lain postural stability dan proximal stability.
4. Aplikasi metode Bobath pada pasien stroke
Pada prinsipnya bentuk latihan dengan pendekatan metode bobath bersifat
individual, tergantung problem yang di temukan pada pemeriksaan. Langkah awal
dalam terapi latihan bobath yaitu dengan aktifasi otot-otot internal trunk (otot
abdominal, otot para spinal,otot pelvic floor). Otot-otot tersebut merupakan otot yang
memberikan stabilitas yang utama pada postur. Dengan stabilitas postur yang adekuat,

12
maka fungsi mobilitas dari ekstremitas menjadi lebih mudah. Berikut adalah bentuk
latihan dalam pendekatan metode bobath yang diberikan pada pasien stroke, yaitu :

Latihan (Gambar 2.1)

Gambar 2.1 Posisi tangan saat fasilitasi gerak

Dengan posisi lumbrikal seperti pada gambar 2.1, maka informasi sensoris yang
diberikan oleh fisioterapis saat melakukan fasilitasi gerakan akan lebih mudah untuk
diinterpretasikan oleh pasien stroke/klien. Selain itu, posisi lumbrikal akan meminimalisasi
support saat gerakan dilakukan, sehingga memberikan kecenderungan pada insan stroke
untuk melakukan gerakan secara lebih aktif.
Langkah awal dalam terapi latihan yang akan diberikan adalah dengan aktifasi dari
otot-otot internal trunk, otot Transversus abdominis, otot Multifidus, otot Oblique internus,
otot-otot para spinal, otot-otot pelvic floor.

13
Gambar 2.2 Otot-otot stabilisator postur yang utama

Otot-otot tersebut merupakan otot yang memberikan stabilitas utama pada postur.
Dengan kemampuan stabilitas postur yang adekuat, maka fungsi mobilitas dari ekstremitas
menjadi lebih mudah. Yang terpenting dalam hal ini adalah bukan hanya tentang rekrutmen
otot tersebut, akan tetapi bagaimana memberikan fasilitasi yang tepat agar secara selektif
otot-otot tersebut dapat teraktifasi.
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa pada sistem lokomosi manusia, maka gerak
dengan pola normal dapat dibentuk jika kerja otot yang sinergy antara otot agonist dan
antagonist serta adanya sinergy fungsi stabilitas (stability) dan fungsi gerak (mobility). Untuk
dapat memahami fungsi stability, maka akan sangat berhubungan dengan pembahasan
tentang core stability yang merupakan bagian stabilitas tubuh paling utama.
Perlu diperhatikan bahwa pendekatan metode bobath menggunakan prinsip problem
solving, sehingga intervensi yang akan diberikan bersifat individual yang disesuaikan dengan
masalah gerak yang telah diidentifikasi. Tidak semua gerakan pada makalah ini harus
diaplikasikan pada pasien stroke, akan tetapi berdasarkan problem gerak yang ditemukaan
melalui pemeriksaan fisioterapi.
Beberapa jenis fasilitasi gerak yang dapat dilakukan dalam berbagai posisi, namun
dimungkinkan menggunakan variasi lainnya.

1) Posisi Tidur Diatas Bed


Pada posisi tidur diatas bed, maka fisioterapis dapat memberikan program-program
latihan untuk meningkatkan tonus otot postural. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa untuk
dapat melakukan pola gerak normal, maka dibutuhkan stabilitas postur yang adekuat, latihan
yang dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Latihan (Gambar 2.3)


a) Posisi awal pasien stroke tidur terlentang
b) Tekuk kedua lutut 900
c) Kedua tangan berada di samping badan dengan posisi pronasi
d) Berikan instruksi untuk mengangkat pelvic secara bersamaan dan seimbang kearah
tegak lurus (Pelvic tilt).
e) Lakukan dengan 7 kali pengulangan.

14
f) Umumnya insan stroke mampu melakukan gerakan tersebut, jika terdapat kesulitan,
maka dapat diberi bantuan minimal oleh fisioterapis.

Gambar 2.3 Latihan aktif pada abdominal

Latihan ini merupakan bagian dari key point pelvic control yang akan meningatkan
mobilitas daerah lumbal dan pelvic. Yang perlu diperhatikan adalah pada saat melakukan
gerakan tersebut, telapak kaki, tangan dan thorakal bagian atas sebagai Base of Support, serta
pada area knee, punggung atas dan kepala sebagai stabilisator.

Latihan (Gambar 2.4)


a) Posisi awal pasien stroke tidur terlentang
b) Tekuk kedua lutut 900
c) Kedua tangan berada di samping badan dengan posisi pronasi
d) Berikan instruksi untuk melakukaan secara aktif gerakan foreward dan backward pada
pelvic.
e) Setiap gerakan dilakukan bersamaan dengan ekspirasi (dapat dilakukan dengan
meniup).
f) Lakukan dengan 7 kali pengulangan.
g) Untuk latihan ini sangat dibutuhkan sehingga untuk meningkatkan aktifasi otot maka
hendaknya dilakukan perlahan.
Seringkali pasien stroke mengalami kesulitan untuk melakukan sendiri, untuk itu
diperlukan fasilitasi yang tepat (Gambar. 2.4), yaitu dengan memfasilitasi otot abdominal dan
gluteal untuk melakukan kontraksi secara sinergi.

15
Gambar 2.4 Letak fasilitasi gerak pada abdomen dan pelvic

Fasilitasi dilakukan dengan posisi tangan fisioterapis lumbrikal, agar stimulasi dan
fasilitasi yang diberikan mudah untuk dimengerti oleh insan stroke terutama mengenai arah
dan otot yang perlu diaktifkan.

Latihan (Gambar 2.5)


a) Posisi awal pasien stroke tidur terlentang
b) Berikan fiksasi pada bagian pelvic.
c) Letakkan tangan pada sisi lateral telapak kaki sebagai fasilitasi
d) Berikan instruksi melakukan gerakan menekuk pada lutut dengan tetap
e) mempertahankan alignment dari tungkai.

Gambar 2.5 Latihan gerak fleksi pada tungkai bawah

Latihan ini merupakan bagian dari proximal key point, hasil yang diharapkan adalah
teraktifasinya otot-otot abdominal seperti Rektus abdominis dan Abdominis transversus untuk
menstabilisasi gerak hip (fleksi-ekstensi). Saat fasilitasi dilakukan, maka hal yang terpenting
diperhatikan oleh fisioterapis adalah kemampuan pasien stroke untuk mempertahankan
stabilitas gerak pada alignment yang benar. Perhatikan dengan baik, gerak lutut pasien stroke
tidak mengarah ke luar (terjadi eksternal rotasi hip) atau ke dalam (internal rotasi hip).
Kemampuan melakukan fasilitasi akan sangat menetukan teraktifasinya otot-otot
terasebut sehingga pola gerak yang dibentuk adalah pola gerak normal.

Latihan (Gambar 2.6)


a) Posisi insan stroke tidur terlentang
b) Salah satu tungkai ditekuk (fleksi 900).
c) Berikan fiksasi pada panggul (hip joint).

16
d) Berikan fasilitasi pada lutut tungkai yang ditekuk dengan memberikan stimulasi
kearah lateral (abduksi hip).
e) Berikan instruksi untuk melakukan gerakan secara aktif dan perlahan.
f) Lakukan minimal sebanyak 7 kali pengulangan.

Gambar 2.6 Latihan untuk otot internal obligue.

Pada latihan (Gambar 2.6) ini target otot yang diaktivasi adalah otot Internal obligue.
Fiksasi tangan fisioterapis seminimal mungkin serta fasilitasi hanya untuk memberikan
arahan tentang gerak yang akan dilakukan oleh insan stroke. Berikan instruksi agar pasien
stroke saat melakukan gerakan juga mempertahankan (stabilisasi) alignment pada tungkai
yang lurus.

Latihan (Gambar 2.7)


a) Posisi pasien stroke tidur terlentang
b) Posisi awal fleksi lutut dan hip
c) Pegangan fisioterapis pinggung dan telapak kaki yang memberikan stimulasi kearah
dorsal fleksi saat tungkai di gerakkan.
d) Berikan stabilisasi pada sisi lateral lutut untuk menjaga alignment tungkai.
e) Berikan instruksi untuk melakukan gerakan ekstensi lutut (seperti menendang dengan
tumit) dengan dorsofleksi pada ankle dan internal rotasi untuk menjaga alignment
tungkai.
f) Lakukan secara perlahan minimal 7 kali pengulangan.

17
Gambar 2.7 Latihan gerak aktif pada tungkai bawah

Latihan ini akan dapat meningkatkan reaksi kerja otot sinergi pada pola berjalan.
Sangat perlu diperhatikan dalam latihan ini adalah pasien stroke aktif melakukan gerakan
secara perlahan dimana arah gerakan meluruskan kaki searah dengan tumit, untuk itu gerakan
fleksi hip, ekstensi lutut, dan dorsofleksi palmar dilakukan beriringan atau secara sinergis.
Reaksi stabilisasi diharapkan muncul pada pelvic dan bahu pada sisi yang berlawanan.

Latihan (Gambar 2.8)


a) Posisi pasien stroke tidur terlentang dengan lengan posisi supinasi
b) Pegangan fisioterapis pada proksimal lengan bawah insan stroke.
c) Pegangan berbentuk lumbrical grip.
d) Instruksikan agar kepala fleksi hingga dagu mencapai sternum (head control).
e) Berikan fasilitasi agar insan stroke melakukan gerakan mengangkat tubuh 45 0 ,
tidak sampai pada posisi duduk.
f) Kemudian kembali baringkan ke bed secara perlahan.
g) Instruksikan agar insan stroke tetap bernafas biasa (tdk menahan nafas).
h) Lakukan pengulangan minimal sebanyak 7 kali.

Gambar 2.8 Latihan gerak postural set

Latihan ini merupakan bagian dari postural set dan alignment body segment. Adapun
yang perlu diperhatikan pada latihan ini adalah terjadinya pola gerak dimana diawali oleh
adanya gerakan fleksi pada leher yang mengarahkan kepala mendekati sternum yang
kemudian dilanjutkan aktifasi pada abdominal. Pada insan stroke pola yang dimaksud
seringkali mengalami deviasi yaitu gerakan fleksi leher/kepala sering terlambat dilakukan.
Dengan gerakan seperti pada gambar diatas, maka inisiasi gerak dapat terbentuk dengan baik
yaitu melalui gerakan fleksi leher, serta optimalisasi aktifitas abdominal membentuk stabilitas
postural yang sangat baik.

18
Latihan (Gambar 2.9)
a) Posisi awal insan stroke tidur terlentang
b) Berikan sanggahan berupa box sehingga hip dan knee membentuk sudut fleksi 900.
c) Lakukan koreksi alignment kepala terhadap sternum
d) Berikan fasilitasi agar kepala mengarah ke sternum (fleksi leher)
e) Berikan fasilitasi agar insan stroke mengangkat tubuh kearah fleksi.
f) Berikan fasilitasi pada area upper thorakal untuk melakukan gerakan fleksi
g) Berikan instruksi agar insan stroke meniup setiap gerakan dilakukan.

Gambar 2.9 Latihan aktif abdominal

Pada latihan ini fisioterapis hendaknya mengaktifasi kepala kearah fleksi terlebih
dahulu hingga membentuk stabilisasi pada daerah cervical (head control). Kemudian dapat
dilanjutkan dengan memfasilitasi pada daerah thorakal untuk mengaktifasi otot-otot
abdominalis untuk melakukan gerakan fleksi. Fisioterapis harus mampu menyesuaikan antara
fasilitasi gerakan dan bantuan gerakan agar gerakan dapat dilakukan oleh pasien stroke.
Urutan gerak yang dilakukan akan memberikan perubahan fungsi mobilitas dan stabilitas.
Pada mobilitas gerak kepala maka akan mengaktifasi stabilitas pada daerah sternum,
kemudian pada gerakan fleksi thoraks akan mengaktifasi stabilitas pada abdominal.

Latihan (Gambar 2.10)


a) Posisi awal pasien stroke tidur terlentang.
b) Kedua tungkai disanggah dengan paha fisioterapis
c) Arahkan kedua tungkai insan stroke 450 kontra lateral.
d) Berikan fasilitasi pada sisi lateral pelvic dan abdominal.
e) Berikan fasilitasi untuk elevasi pelvic
f) Lakukan secara perlahan dengan 7 kali pengulangan.

19
Gambar 2.10 Latihan aktif lateral abdominal

Latihan ini ditujukan untuk mengaktifasi otot-otot core stability, khususnya pada otot
eksternal dan internal oblique. Dengan bentuk latihan ini, maka kontrol pelvic dapat
ditingkatkan saat melakukan fungsi-fungsi tertentu yang melibatkan pergerakan pada pelvic.
Pada beberapa fungsi seperti berjalan, maka stabilitas pelvic menjadi syarat yang utama
untuk terbentuknya pola gerak normal. Kemampuan melakukan adaptasi berupa perubahan
fungsi mobilitas dan stabilitas pelvic akan sangat menentukan kemampuan inisiasi gerak pada
tungkai.

Latihan (Gambar 2.11)


a) Posisi awal pasien stroke tidur terlentang.
b) Kedua tungkai berada di tepi bed
c) Berikan fasilitasi pada siku untuk melakukan tumpuan.
d) Berikan fiksasi pada salah satu sisi pelvic (ipsilateral dengan tumpuan siku)
e) Berikan fasilitasi pada lengan sisi kontra lateral agar mengangkat tubuh diawali
dengan fleksi kepala sejajar dengan sternum (head control).
f) Lakukan secara perlahan agar terjadi tumpuan tubuh pada salah satu sisi dari pinggul
(os ischii/tulang duduk)

Gambar 2.11 Latihan aktif persiapan posisi tidur ke duduk.

Latihan ini di arahkan agar insan stroke dapat membentuk pola gerak yang benar
sehingga gerakan menjadi efisien dalam melakukan ambulansi yaitu dari posisi tidur ke posisi
duduk. Tujuan utama latihan ini mengarah pada pembelajaran gerak berupa urutan gerak
yang sinergis untuk menghasilkan fungsi yang baik. Pada saat gerakan rotasi tubuh, maka
stabilitas satu sisi tubuh akan terbentuk. Saat fasilitasi diberikan kearah anterior dengan
sedikit mengangkat tubuh, maka stabilitas akan terbentuk pada daerah bahu dan pelvic sisi

20
unilateral. Pada saat posisi pasien stroke setengan duduk, maka stabilitas terbentuk pada
daerah siku, bahu dan pelvic.

2) Latihan Dengan Posisi Duduk Ditepi Bed


Latihan (Gambar 2.12)
a) Posisi awal pasien stroke duduk di tepi bed.
b) Gunakan bed dimana telapak kaki dapat menyentuh lantai.
c) Berikan koreksi kepada kedua telapak kaki agar menapak dengan sempurna (BOS
yang baik).
d) Berikan koreksi pada tungkai atas (paha) agar posisi dengan alignment yang benar.
Koreksi ini akan memperbaiki posisi duduk terhadap bed (BOS pada bed)
e) Posisi fisioterapis di samping pasien stroke (Gambar 2.12)
f) Berikan fasilitasi pada abdominal dan back muscle agar melakukan gerakan backward
dan foreward. Lakukan agar antara otot bekerja secara sinergi.
g) Perhatikan reaksi stabilisasi pada upper trunk sehingga gerak pelvic dapat dilakukan
secara selektif.
h) Dapat pula dimodifikasi dengan posisi fisioterapis di belakang pasien stroke (Gambar
2.13)

Gambar 2.12 Fasilitasi pada abdominal dan back muscle

Gambar 2.13 Fasilitasi dari belakang

21
Pada latihan tersebut diatas, maka dikatakan tepat jika gerakan yang dilakukan secara
selektif pada pelvic diikuti oleh reaksi tegak (righting reaction) pada postur . Postur bagian
atas (upper trunk) bekerja sebagai stabilisator. Jika pasien stroke sulit melakukan gerakan
secara selektif pada pelvic, maka dapat dibantu dengan memberikan support pada kedua
tangan pasien stroke yaitu dengan cara pasien stroke memegang tepi meja.

Latihan (Gambar 2.14)


a. Posisi pasien stroke duduk dengan tangan diletakkan pada dinding.
b. Lakukan persiapan dengan memberikan korekasi pada BOS telapak kaki, alignment
tungkai dengan hip dan knee 900.
c. Berikan rangsangan pada pelvic bagian atas kearah foreward dan backward.
d. Berikan rangsangan stabilisasi pada daerah bahu.
e. Lakukan pengamatan terhadap adanya reaksi tegak dari postur, dan arahkan agar
alignment yang dibentuk tegak.
f. Reaksi tegak yang dihasilkan diikuti oleh terjadinya alongasi pada sisi tubuh
mengukuti posisi lengan pada dinding.
g. Lakukan pengulangan sebanyak 7 kali

Gambar 2.14 Fasilitasi postur dan lengan

Pada latihan ini pusat perhatian utama fisioterapis adalah adanya reaksi tegak
(righting reaction) yang dihasilkan dari fasilitasi yang diberikan pada pelvic. Reaksi tegak
yang dihasilkan merupakan bentuk gerakan aktif yang dilakukan pasien stroke yang sangat
dibutuhkan saat melakukan fungsi anggota gerak. Kemampuan menghasilkan reaksi tegak
yang sesuai, akan meningkatkan kemampuan kontrol postural dan stabilitas postural. Hal ini
sangat dibutuhkan untuk memberikan stabilisasi yang cukup dalam menghasilkan gerakan
pada anggota gerak atas maupun bawah.

Latihan (Gambar 2.15)

22
a. Posisi pasien stroke tidur tengkurap atau duduk ditepi bed
b. Berikan topangan pada kedua tangan insan stroke dengan meletakkan di tepi meja.
c. Berikan stabilisasi pada daerah bahu.
d. Posisi tangan fisoterapis pada sisi margomedial dan angulus inferior scapula
e. Lakukan mobilisasi pada daerah scapula dengan arah medial dan lateral serta rotasi
scapula.
f. Lakukan pengulangan sebanyak 7 kali

Gambar 2.15 Mobilisasi pada scapula

Latihan tersebut diberikan untuk memperbaiki pola gerak scapulohumeral joint. Pola
gerak antara scapula dan humerus dikenal dengan istilah Scapulohumeral Rhythm.
Scapulohumeral rhythm dapat digambarkan sebagai berikut :
- Pada 300 pertama gerak abduksi atau elevasi glenohumeral maka akan terjadi sedikit
gerak dan tidak konsisten pada scapula sehingga dapat dikatakan scapula tidak
mengikuti gerak glenohumeral joint.
- Pada derajat berikutnya maka gerak glenohumeral joint diikuti rotasi kearah lateral oleh
scapula dengan perbandingan 2 : 1. yang berarti bahwa setiap terdapat 20 gerakan pada
glenohumeral akan diikut 10 gerakan pada scapula.
Pola gerak ini akan sangat menentukan stabilitas dan mobilitas gerak pada lengan.
Umumnya banyak dijumpai pada pasien stroke abnormal pattern pada daerah ini, akibat
adanya hipo tonus atau kontraktur dari otot Rhomboid dan Teres major dan minor. Untuk itu
pada saat melakukan pemeriksaan inspeksi, fisioterapis hendaknya lebih teliti untuk
mengamati pola gerak dari scapulohumeral rhythm.

Latihan (Gambar 2.16)


a) Posisi pasien stroke duduk di tepi bed
b) Berikan fasilitasi pada kedua tungkai untuk berposisi menapak dan membentuk
alignment yang baik.

23
c) Berikan stimulasi agar postur pasien stroke tegap.
d) Tempatkan jari tangan di sisi medial scapula atau berada diantara margo medialis
scapula.
e) Berikan instruksi agar pasien stroke melakukan gerak retraksi pada scapula atau
mempertemukan kedua sisi medial scapula.
f) Lakukan sebanyak 7 kali

Gambar 2.16 Fasilitasi pada scapula

Latihan ini akan mampu meningkatkan stabilitas pada daerah scapula serta
mengurangi terjadinya hipotonus pada otot rhomboid, sehingga diharapkan akan membentuk
pola gerak normal dalam menopang fungsi gerak ekstremitas atas. Gerakan diarahkan pada
terbentuknya kerja otot postural secara sinergi. Peningkatan kerja sinergi otot postural akan
memberikan peningkatan pada kemampuan kontrol postural yang menjadi landasan bagi
aktivitas selektif pada ekstremitas.
Kemampuan ekstremitas melakukan gerakan selektif dan fungsional hanya dapat
dicapai dengan adanya kontrol postural yang dapat menghasilkan inisiasi gerak pada
ektremitas. Latihan (gambar 2.16) lebih diarahkan untuk aktivitas selektif pada ekstremitas
atas.

Latihan (Gambar 2.17)


a. Posisi pasien stroke duduk di tepi bed.
b. Pegangan fisioterapis pada lengan bawah.
c. Berikan fasilitasi gerak pada lengan pasien stroke kearah fleksi bahu yang diikuti
oleh eksternal rotasi mulai pada 900 fleksi shoulder dengan mengarahkan secara
aktif siku bergerak kedalam.

24
Gambar 2.17 Fasilitasi area lengan
Pada latihan ini (gambar 2.17) yang perlu diperhatikan adalah pasien stroke aktif
melakukan gerakan, dan tidak melakukan kompensasi berupa elevasi pada bahu dan internal
rotasi shoulder. Fisioterapis hendaknya mengamati reaksi stabilisasi pada postur dan tungkai.
Pola gerak abnormal yang sering muncul saat insan stroke melakukan latihan ini adalah
adanya kecenderungan melakukan gerak siku ke sisi lateral (luar).
Jika terjadi perubahan posisi pada pelvic dan kaki (posisi BOS), maka lakukan
koreksi terlebih dahulu kemudian berikan arahan agar kembali melakukan gerakan secara
ritmik dengan pola gerak normal dimana posisi pelvic dan kaki tetap dipertahankan.

Latihan (Gambar 2.18)


a) Posisi duduk di tepi bed.
b) Pegangan fisioterapis pada area abdominal dan lumbal.
c) Berikan instruksi pada insan stroke untuk melakukan gerakan dorsal fleksi pada
kaki dengan mempertahankan sikap tegak pada postur.
d) Berikan stimulasi pada abdonimal untuk melakukan stabilisasi saat melakukan
gerakan dorsofleksi.
e) Lakukan sebanyak 7 kali pengulangan.

Gambar 2.18 Latihan dorsofleksi dan core stability

Pada latihan (Gambar 2.18) yang perlu diperhatikan oleh fisioterapis adalah adanya
aktivitas stabilisasi pada area abdominal dan punggung saat gerakan dorsal fleksi kaki.
Lakukan perpindahan posisi kaki ke sisi lateral kemudian kembali pada posisi semula.
Latihan ini juga akan memberikan proses pembelajaran input sensoris pada kaki.

25
3) Latihan Dengan Posisi Berdiri
Pada aplikasi latihan dengan posisi berdiri, maka beberapa hal yang perlu
diperhatikan adalah prinsip dasar dari Base of Support, distribusi berat badan (weight
distribution), kontrol kepala (head control), stabilitas dan mobilitas anggota gerak. Sebagai
persiapan, lakukan beberapa penguluran pada sisi lateral telapak kaki sebagai persiapan dari
Base of Support yang adekuat. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa umumnya pada pasien
stroke mengalami masalah pada penumpuan berat badan saat posisi berdiri.
Pada pasien stroke sering menggunakan penumpuan berat badan pada sisi lateral
telapak kaki, sehingga informasi proprioceptive menjadi tidak adekuat. Hal ini akan
mengakibatkan terjadinya instabilitas dari Base of Support (BOS) sehingga saat melakukan
aktivitas berjalan, tubuh akan terkompensasi berupa adanya ayunan berlebihan kearah sisi
lateral. Aktivitas terus menerus dapat mengakibatkan terjadinya kontraktur jaringan pada area
kaki. Untuk meningkatkan stabilitas Base of Support, maka fisioterapis perlu memberikan
manipulasi berupa penguluran kearah lateral pada punggung dan telapak kaki.

Gambar 2.19 Penguluran pada punggung dan telapak kaki.

Intervensi ini merupakan upaya pencegahan terjadinya kontraktur dan peningkatan


input sensoris bagi proses gerak pasien stroke. Sebagai mahluk bipedal (berdiri dengan dua
kaki), maka kemampuan komponen-komponen pada kaki akan sangat menentukan
kemampuan aktivitas yang lebih kompleks. Kecenderungan menunduk pada insan stroke saat
melakukan aktivitas berdiri dan berjalan merupakan indikator dari adanya gangguan input
sensoris dari proprioceptif dan cutaneus. Kebiasaan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk
mendapatkan tambahan informasi tentang posisi melalui visual.

Latihan (Gambar 2.20)


a) Posisi pasien stroke berdiri dengan topangan meja.

26
b) Pastikan agar kedua telapak kaki menapak dengan sempurna.
c) Buatlah sudut 450 fleksi knee dan hip, serta berikan sanggahan pada kedua lengan
pasien stroke.
d) Berikan fasilitasi daerah pelvic agar secara aktif insan stroke melakukan gerakan
foreward dan backward rotation.
e) Stabilisasi ada pada area knee dan upper thoracal.
f) Perhatikan reaksi stabilitas pada postur.
g) Anjurkan pasien stroke untuk menatap kedepan (kepala tidak menunduk)
h) Lakukan pengulangan gerakan sebanyak 7 kali dengan perlahan.

Gambar 2.20 Fasilitasi pelvic control

Pada pemberian latihan (gambar 2.20), sebaiknya memanfaatkan fasilitas berupa meja
dimana pasien stroke dapat menggunakannya sebagai stabilitas. Posisi dengan semifleksi
akan mempermudah dilakukannya gerakan selektif pada daerah pelvic. Hal ini dimungkinkan
karena terdapat stabilitas yang cukup baik pada daerah lutut dan area punggung atas, serta
alignment tungkai terhadap pelvic lebih sempurna.

Latihan (Gambar 2.21)


a) Posisi pasien stroke berdiri dengan ditopang meja.
b) Pastikan agar kedua telapak kaki menapak dengan sempurna.
c) Posisi tungkai lurus (netral)
d) Posisi tangan full ekstensi siku dan 350 450 ekstensi bahu.
e) Berikan fasilitasi pada kedua lengan.
f) Perhatikan reaksi stabilitas pada postur.
g) Anjurkan pasien stroke untuk menatap kedepan (kepala tidak menunduk)
h) Anjurkan untuk mempertahankan posisi yang benar.

27
Gambar 2.21 Fasilitasi posisi berdiri

Pada latihan (Gambar 2.21) ditujukan untuk meningkatkan kontrol postural dengan
mengaktifkan otot-otot anti gravitasi. Hal yang perlu diperhatikan saat melakukan latihan ini
adalah kerja otot-otot yang sinergi antara sisi kiri dan sisi kanan tulang belakang. Jika tampak
adanya ketidak simetrisan kerja otot ekstensor, maka lakukan fasilitasi yang mengarahkan
secara aktif terbentuknya kerja otot yang simetris. Fasilitasi yang diberikan berupa gerak
lateral fleksi dan gerak rotasi. Jika kesimetrisan kerja otot telah terbentuk, maka instruksikan
untuk mempertahankan posisi tersebut.

Latihan (Gambar 2.22)


a) Posisi pasien stroke berdiri dengan atau tanpa ditopang pada knee dan berikan
topangan dengan kotak pada sisi depan dada.
b) Gunakan ball exercise untuk memfasilitasi gerakan tangan kedepan.
c) Perhatikan reaksi dari kontrol kepala untuk membentuk stability dengan alignment
yang baik.
d) Gerakan bola dapat disesuaikan kesisi kiri atau kanan untuk menghasilkan reaksi
kepala membentuk alignment yang baik.

Gambar 2.22 Fasilitasi kontrol kepala

Pada latihan (Gambar 2.22) ditujukan untuk meningkatkan aktifasi otot-otot


antigravity pada bagian belakang tubuh. Aktifasi otot-otot tersebut berperan sebagai stability
untuk ekstremitas atas. Latihan ini juga ditujukan untuk meningkatkan kemampuan kontrol

28
kepala. Gerakan lengan dilakukan secara perlahan kearah depan mengikuti putaran bola.
Peningkatan kontrol kepala akan sangat membantu peningkatan keseimbangan dan
koordinasi gerak dalam aktivitas statis dan dinamis. Indikator yang diharapkan pada latihan
ini adalah terbentuknya alignment yang baik pada kepala terhadap trunk.

Latihan (Gambar 2.23)


a) Posisi pasien stroke berdiri
b) Letakkan alat bantu dengan menggunakan kotak atau benda lainnya setinggi 30 cm
yang dapat menopang salah satu kaki.
c) Tempatkan salah satu kaki diatas kotak, sehingga membentuk sudut 900 fleksi.
d) Posisi tangan fisioterapis pada sisi abdominal dan gluteal.
e) Lakukan fasilitasi pada pelvic kearah backward dan superior.
f) Lakukan secara bergantian kearah foreward.

Gambar 2.23 Latihan stabilisasi postur

Pada latihan ini (Gambar 2.23), yang perlu diperhatikan adalah fasilitasi fisioterapis
pada daerah abdominal dan lutut. Posisi tangan fisioterapis berbentuk lumbrikal, dengan arah
fasilitasi ke backward dan superior agar pasien stroke secara aktif menjaga stabilitas postur.
Aktifasi otot ini sangat penting untuk mempertahankan postur dan centre of gravity pada fase
menapak dan fase mengayun. Ketidak mampuan menjaga alignment tubuh mengakibatkan
kompensasi berupa adanya gerak sirkuler pada saat insan stroke berjalan.

Latihan (Gambar 2.24)


Sebagai persiapan berikan stimulasi pada sisi lateral telapak kaki berupa goresan kecil
agar mudah teraktifasi dan membentuk BOS yang sempurna.

29
Gambar 2.24 Stimulasi manual

Latihan (Gambar 2.25)


a) Posisi pasien stroke berdiri
b) Berikan topangan pada postur dengan eksternal rotasi lengan.
c) Berikan fasilitasi kepada insan stroke untuk melakukan pemindahan berat badan ke
salah satu sisi (salah satu tungkai).
d) Berikan instruksi agar insan stroke mempertahankan pelvic dengan gerakan
backward.
e) Berikan fasilitasi pada tungkai bawah agar melakukan gerakan melangkah.
f) Pegangan pada sisi lateral telapak kaki, kemudian berikan fasilitasi agar punggung
kaki melakukan gerakan dorsal fleksi.
g) Berikan instruksi kepada pasien stroke agar menjaga kepala tetap tegap (tidak
menunduk).
h) Berikan instruksi agar fase menapak diawali oleh tumit atau gerakan searah dengan
tumit.

Gambar 2.25 Fasilitasi pola berjalan


Pada latihan (Gambar 2.25) mengarah pada terbentuknya pola dorsal fleksi ankle pada
setiap gerakan tungkai. Pola gerak tersebut mengikuti pola jalan yang normal dimana setiap
gerakan yang dilakukan diawali oleh perpindahan berat tubuh dan stabilitas pelvic. Latihan
ini juga akan bermanfaat untuk melatih keseimbangan setiap fase yang terdapat pada pola
jalan normal. Perhatikan untuk selalu menghindari terjadinya gerakan kompensasi. pasien
stroke dapat menggunakan pegangan minimal untuk menjaga keseimbangan.

Latihan (Gambar 2.26)

30
a) Posisi pasien stroke berdiri
b) Posisi fisioterapis di depan atau dibelakang insan stroke. Biasanya pasien stroke
merasa lebih aman bila posisi fisioterapis didepan.
c) Pegangan fisioterapis pada kedua sisi lateral pelvic.
d) Berikan fasilitasi kepada pasien stroke untuk melakukan pemindahan berat badan ke
salah satu sisi (salah satu tungkai).
e) Berikan rangsangan agar pasien stroke mempertahankan pelvic dengan gerakan
backward.
f) Berikan instruksi kepada pasien stroke agar menjaga kepala tetap tegap (tidak
menunduk).
g) Berikan instruksi agar fase menapak diawali oleh tumit atau gerakan searah dengan
tumit.

Gambar 2.26 Fasilitasi pola jalan

Pada latihan pemindahan berat badan akan memberikan memberikan informasi


proprioseptif yang sangat baik sebagai proses awal untuk berjalan. Fasilitasi pada lengan,
akan membantu insan stroke mendapatkan alignment postur yang baik, serta aktifasi otot
stabilisator postur menjadi lebih baik. Perlu diperhatikan adalah saat peralihan berat badan
pada salah satu sisi (misalnya pada sisi kanan), maka secara normal alignment yang dibentuk
pada sisi kanan lebih panjang atau terjadi alongasi dibandingkan sisi kiri. Sementara itu, pada
pasien stroke kecenderungan terjadi adalah sisi kanan lebih pendek dibandingkan sisi kiri.
Perubahan pola gerak yang abnormal saat perpindahan berat badan (weightbearing)
mengakibatkan pola gerak pada tungkai saat berjalan menjadi abnormal.

Latihan (Gambar 2.27)


a) Posisikan tangan pasien stroke lumbrikal
b) Gunakan benda yang mudah untuk digenggam
c) Lakukan koreksi pada jari-jari agar menggenggam dengan sempurna.
d) Berikan gerakan fleksi dan ekstensi pada pergelangan tangan (wrist joint)
e) Lakukan gerakan dengan 7 kali pengulangan

31
Gambar 2.27 Fasilitasi pada tangan

Pada latihan tersebut diatas diharapkan agar terjadi peningkatan mobilitas pada daeran
pergelangan tangan (wrist joint) serta stabilitas pada daerah punggung tangan
(metacarpophalangeal joint) dan jari-jari (phalangs). Banyak dijumpai pada pasien stroke
dimana ketidakmampuan fungsi tangan (prehension) diakibatkan oleh adanya instabilitas dari
pergelangan tangan serta hiperekstensi dari sendi metacarpophalangeal. Hal ini terjadi akibat
kesalahan penanganan dan atau penguluran yang berlebihan pada jari-jari yang dilakukan
oleh insan stroke sendiri. Perlu diketahui bahwa, fungsional jari-jari dimungkinkan jika
terdapat stabilitas yang baik pada pergelangan tangan serta mobilitas yang baik pada jari-jari.
Optimalisasi fungsi tangan hanya dapat dilakukan jika tangan berbentuk lumbrikal.

Latihan (Gambar 2.28)

Gambar 2.28 Fasilitasi pada tangan posisi lumbrikal.


Pada latihan ini (Gambar 2.28) memberikan fasilitasi terbentuknya stabilisasi aktif
pada wrist joint. Fasilitasi yang diberikan juga mengaktifkan otot fungsional tangan secara
sinergi membentuk posisi tangan lumbrikal. Fasilitasi diberikan melalui rangsangan pada
permukaan dorsal setiap jari tangan dan sela-sela jari. Posisi tangan lumbrikal secara aktif
memungkinkan terjadinya mobilitas jari tangan yang lebih mudah dalam melakukan fungsi-
fungsi prehension.

Latihan (Gambar 2.29)

32
Gambar 2.29 Fasilitasi untuk stabilisasi pada pergelangan tangan

Latihan (Gambar 2.29) Secara prinsip latihan ini sama dengan latihan sebelumnya
yaitu melakukan pola gerak pada tangan degan posisi lumbrikal. Latihan ini memberikan
fasilitasi secara bersamaan dalam membentuk gerakan pada metacarpophalangeal joint dan
wrist joint. Perhatikan fasilitasi yang diberikan oleh fisioterapis, pada sisi phalangs diberikan
stimulasi kearah proksimal sedangkan pada wrist joint diberikan stimulasi kearah distal.

Latihan (Gambar 2.30)

Gambar 2.30 Fasilitasi pada tangan dan jari-jari.

Latihan (Gambar 2.30) dilakukan dengan mengikuti bentuk target obyek yang akan
digenggam. Sebelumnya diberikan latihan membentuk posisi lumbrikal pada tangan. Dengan
adanya obyek yang menjadi target gerakan, maka diharapkan terjadi proses planning,
programming, adjustment, terhadap gerakan yang akan dilakukan. Fisioterapis harus mampu
memberikan fasilitasi sedemikian rupa agar selama proses gerakan terbentuk secara aktif
dilakukan oleh pasien stroke. Fasilitasi yang diberikan berupa aktifasi otot stabilisator dengan
ekstensi pada pergelangan tangan, kemudian mobilitas jari-jari membentuk posisi lumrikal
serta abduksi ibu jari. Jika kita perhatikan dari seluruh rangkaian latihan, maka fasilitasi yang
diberikan oleh fisioterapis adalah peningkatan aktifasi otot untuk memelihara stabilitas
postural sebagai persiapan gerak (mobilitas). Gerakan akan terbentuk dengan pola yang
benar, jika stabilitas postural dan proksimal anggota gerak dapat terpenuhi.

33
BAB III

PEMBAHASAN

A. Terapi Bobat Pasien Stroke

Metode latihan bobath ini berlandaskan pada konsep bahwa hipertoni yang terjadi
pada penderita kelumpuhan otak hanyalah merupakan gejala, oleh karena adanya aktivitas
reflex postural yang tidak normal. Tekhnik dasarnya adalah anggota gerak yang spastic
diletakkan secara pasif dalam posisi yang berlawanan dengan pola spastic. Dengan cara

34
seperti ini spastisitas dapat dikurangi akan tetapi tidak memungkinkan melakukan gerakan
yang lebih normal/aktif, maka dikembangkan suatu tehnik dari inhibiting postures menjadi
reflek inhibiting movement pattern yang lebih dinamis. Dengan teknik yang baru ini tidak
hanya mengadakan inhibisi terhadap reaksi postural yang abnormal tetapi dalam waktu yang
bersamaan juga digunakan untuk memfasilitasi gerakan-gerakan kea rah normal.

Pada penderita stroke terjadi spastisitas pada ototo-otot yang melawan gravitasi
sehingga terjadi pola spastic hemiplegia pasca stroke yaitu :

a) Bahu tertarik ke belakang dan kebawah


b) Lengan atas endorotasi
c) Siku fleksi, lengan bawah pronasi, pergelangan tangan fleksi
d) Panggul retraksi, paha eksorotasi
e) Sendi coxa, lutut dan pergelangan kaki ekstensi (kaki plantar fleksi dan inverse)

Pola antispastik :

a) Bahu potraksi (beri ganjal dibawah bahu jika tidur terlentang)


b) Lengan atas eksorotasi
c) Siku ekstensi
d) Lengan bawah supinasi
e) Pergelangan tangan dan jari-jari ekstensi. Dengan ibu jari abduksi
f) Panggul protraksi (beri ganjal dibawah panggul jika tidur terlentang)
g) Paha agak endorotasi
h) Sendi paha, lutut, fleksi, pergelangan kaki dorsofleksi
i) Leher sedikit ekstensi (merangsang timbulnya symmetrical tonic neck reflex)
Posisi anti spastic dilakukan selama 24 jam per hari. Posisi terbaik adalah miring
dengan sendi paha dalam ekstensi dan lutut dalam fleksi 90. Bila tidur miring ke sisi lumpuh,
bahu kedepan, siku ekstensi dan supinasi. Bila miring kesisi sehat, bahu sisi yang lumpuh ke
depan, siku ekstensi dan tungkai pada posisi fleksi.

Menurut Bobath tahap pemulihan dibagi 3 yaitu tahap initial flaccid atau shock tahap
spastic dan tahap penyembuhan relative. Pada tahap pertama untuk merangsang kembalinya
fungsi motorik digunakan advanced reactions dari beban tumpuan pada sisi sakit. Pada tahap
spastisitas latihan menggunakan tehnik Reflex Inhibitory Movement Pattern (RIPs) sampai
tonus otot menjadi normal. Latihan pada tahap terakhir lebih mengarah ke pergerakan
selektif. Bobath tidak terlalu memperhatikan sinergi.

B. Kendala Aplikasi Terapi Bobath


1. Masih terbatasnya pengetahuan tenaga kesehatan tentang aplikasi ilmu bidang terapi

latihan terutama implementasi bobath pada pemulihan pasien pasca stroke.

35
2. Pelatihan dan workshop untuk terapi bobath latihan pasien pasca stroke masih sangat

jarang atau tidak pernah di lakukan.


3. Pelayanan kesehatan masih banyak menggunakan farmakologis, padahal ada

sebagaian masalah kesehatan bisa diselesaikan dengan non farmakologis seperti

halnya latihan pemulihan secara rutin.

C. Alasan Terapi Bobath Menjadi Trend

Tidak semua tenaga medis terutama perawat mengetahui tentang terapi latihan atau
aplikasi terapi bobath ini. Dan dari segi disiplin ilmu fisioterapi terapi Bobath merupakan
bagian penting yang harus dipelajari namun dari segi persepsi hasil penelitian mereka belum
memiliki standar yang baik bagaiman cara melakukan terapi bobath, hal ini didasarkan pada
keharusan fisioterapi maupun tenaga medis lain seperti perawat untuk mengikuti kursus lebih
lanjut tentang terapi ini.

D. Kemungkinan Penerapan Terapi Bobath di Banda Aceh

Aplikasi metode Bobath memerlukan kemampuan khusus bagi fisioterapis,


pemahaman tentang metode Bobath terus mengalami perubahan, sehingga sering kali
fisioterapis menganggap telah memberikan pelatihan dengan metode tersebut, namun
sesungguhnya telah jauh dari prinsip dasar metode Bobath. Hal ini didasarkan oleh penelitian
Tyson SF, Connel LA, Busse ME, Lenno S, (2009). Melakukan penelitian dengan judul What
is Bobath? A survey of UK stroke physio-therapists' perceptions of the content of the Bobath
concept to treat postural control and mobility problems after stroke. Menunjukkan bahwa
persepsi fisioterapis tidak seluruhnya memenuhi konten Metode Bobath terkini karena
kebanyakan hanya memahami metode Bobath dari aspek control postural dan fasilitasi saja,
padahal metode Bobath terkini mengalami perkembangan dengan pemanfaatan
fasilitas/perlengkapan latihan dalam aplikasi metode Bobath.

Hal ini bisa menjelaskan bahwa tidak menutup kemungkinan bahwa penerapan
metode Bobath di Aceh bisa dilakukan dengan syarat tingkat keterampilan yang harus
memadai. Aplikasi metode Bobath diberikan oleh fisioterapis dengan standar pemahaman
metode Bobath yang baik dengan legitimasi telah mengikuti minimal Bobath basic course
yang berisikan tentang pendekatan metode Bobath terkini.

36
E. Hasil Penelitian Terkait

Dalam jurnal Clinical Rehabilitation Magdeburg, Germany (2005) ; 19 : 714-724


oleh T Platz, C Elckhof, S van Kalck, U Engel, C Pinkowski, membahas tentang Penurunan
Orientasi latihan atau terapi Bobath untuk lengan akibat paresis pasca stroke. Didapatkan
kesimpulan bahwa Implikasi klinis utama jenis pelatihan lebih penting untuk pemulihan
gerak selektif kontrol setelah stroke. Dengan demikian , ada alasan untuk menganggap bahwa
pengobatan bisa memiliki klinis yang relevan berdampak pada rehabilitasi stroke. Pelatihan
telah dipilih sebagai penurunan-pelatihan yang berorientasi secara terstruktur dan konten
mencerminkan defisit neurobiologis yang spesifik masalah klinis yang spesifik terutama pada
lengan yang deficit neurologis akibat paresis. Menunjukkan bahwa manfaat(Kaur, 2014)
rehabilitasi terapi bisa mendapatkan keuntungan dari neuroscience diterapkan untuk praktek
klinis .

Dalam jurnal Clinical Rehabilitation Istanbul, Turkey. 26 (8) 705-715 (2012) oleh
Burcu Ersoz Huseyinsinoglu, Arzu Razak Ozdincler and Yakup Krespi, membahas tentang
Konsep Bobath dibandingkan dengan terapi gerakan kendala - diinduksi untuk meningkatkan
pemulihan fungsional lengan pada pasien stroke. Didapatkan kesimpulan bahwa Terapi
gerakan kendala - diinduksi dan Konsep Bobath memiliki efisiensi yang sama dalam
meningkatkan kemampuan fungsional, kecepatan dan kualitas gerakan di lengan paretic
antara pasien stroke dengan tingkat tinggi fungsi. Terapi gerakan kendala - diinduksi
tampaknya menjadi sedikit lebih efisien daripada Konsep Bobath dalam meningkatkan
jumlah dan kualitas yang terkena dampak penggunaan lengan.

Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Irfan (2012) tentang Aplikasi Terapi
Latihan Metode Bobath Dan Surface Electromyography (Semg) Memperbaiki Pola Jalan
Insan Pasca Stroke didapatkan jumlah sampel untuk kelompok I dengan intervensi metode
Bobath dan surface Electromyography sebanyak 9 orang dan pada kelompok II dengan
intervensi konvensional sebanyak 8 orang. Pengujian hipotesis III dengan menggunakan uji
beda dua rata-rata yaitu Independent sample t-test didapatkan nilai p<0,05 yang berarti bahwa
ada perbedaan yang bermakna rata-rata nilai pola jalan kelompok perlakuan I (Aplikasi
metode Bobath dan surface Electromyography) dengan kelompok perlakuan II (Aplikasi
Metode Konvensional). Secara kesimpulan di dapatkan bahwa aplikasi metode Bobath dan
Surface Electromyography memperbaiki pola jalan normal pada insan pasca stroke. Aplikasi
metode konvensional memperbaiki pola jalan normal pada insan pasca stroke dan Metode

37
Bobath dan Surface Electromyography lebih efektif daripada metode konvensional untuk
memperbaiki pola jalan normal pada insan pasca stroke.

Penelitian yang dilakukan oleh Gusti Putu Artha (2012) tentang Pelatihan Dengan
Pendekatan Metode Bobath Lebih Efektif Dari Pada Pelatihan Aktivitas Fungsional Untuk
Meningkatkan Keseimbangan Berdiri Static Pada Pasien Stroke Sub Akut dengan metode:
eksperimental dengan 2 kelompok sampel, masing-masing 10 orang. Kelompok pertama
diberikan latihan metode Bobath. Kelompok kedua diberikan latihan fucntional 12 kali dalam
sebulan. Hasilnya didapatkan : ada perbedaan signifikan keseimbangan berdiri statis pada
kelompok I (dengan metode Bobath) dan kelompok II (latihan aktivitas fucntional) p = 0,03
(p <0,05). Kesimpulannya adalah : Latihan Bobath metode 6 kali dalam satu bulan lebih
efektif untuk meningkatkan keseimbangan berdiri statis dari latihan aktivitas fucntional
dalam pasien stroke sub akut di poliklinik fisioterapi dari Rumah Sakit Indra Provinsi Bali.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Metode Bobath adalah suatu metode terapi latihan pada stroke yang berasumsi
bahwa penderita stroke seolah-olah pasien stroke kembali pada usia bayi sehingga
pertumbuhan dan perkembangannya sesuai dengan pertumbuhan bayi normal. Oleh karena
itu stroke harus dilatih mulai dari posisi berbaring, miring, tengkurap, merangkak, duduk,
berdiri, dan berjalan. Jangan mencoba untuk latihan berdiri kalau miring saja belum bisa.
Jangan juga latihan untuk berdiri kalau duduk saja belum stabil. Di samping itu untuk
mengatasi tonus otot yang berlebihan, berikan posisi inhibisi (posisi yang dapat
menghambat terjadinya hypertonus) dan fasilitasi (posisi yang dapat mengurangi
hypertonus). Setelah itu baru latihan gerak pada pola norma.

B. Saran

38
1. Bagi profesi perawat dan tenaga kesehatan untuk mencari informasi tentang Terapi
Bobath pada pasien stroke. Metode Bobath ini nantinya dapat diterapkan di setiap proses
rehabilitasi pasien stroke di Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin Banda Aceh dan
Rumah Sakit lain yang ada di Provinsi Aceh khususnya.

2. Terapi Bobath dapat disosialisasikan secara dini melalui pelatihan kepada keluarga atau
kerabat pasien yang mengalami stroke.

3. Bagi intitusi pendidikan keperawatan agar menjadikan Terapi Bobath ini bagian
terpenting dalam pemulihan pasien pada pembelajaran mata kuliah medical bedah.

DAFTAR PUSTAKA

Artha. I. G. P. (2012). Pelatihan dengan pendekatan metode bobath lebih Efektif dari pada
pelatihan aktivitas fungsional Untuk meningkatkan keseimbangan berdiri statik
Pada pasien stroke sub akut. Jurnal. Program studi fisioterapi, universitas
udayana, denpasar-bali.
Bobath B. (1972). Adult Hemiplegi Evaluation and Treatment. Second edition : Wiliam
Hameman Medical Hook Limeted
Feigin, Valery. (2006). Stroke, Jakarta, Bhuana Ilmu Populer.
Huseyinsinoglu, B. E., Ozdincler, A. R., & Krespi, Y. (2012). Bobath Concept versus
constraint-induced movement therapy to improve arm functional recovery in
stroke patients: a randomized controlled trial. Clinical Rehabilitation, 26(8),
705-715.
Info Stroke. http://infostroke.wordpress.com/konsep-bobath/ diakses tanggal 6 desember
2014

39
Irfan. M. (2012). Aplikasi Terapi Latihan Metode Bobath Dan Surface Electromyography
(Semg) Memperbaiki Pola Jalan Insan Pasca Stroke. Jurnal Vol 12 No. 1.
Fakultas Fisioterapi, Universitas Esa Unggul, Jakarta
________. ( 2010). Fisioterapi Bagi Insan Stroke, Yogyakarta, Graha Ilmu.
Lesmana, S, I.,Irfan, M.,Meidian, A, C. (2013). Modul Praktikum Mata Kuliah Terapi
Latihan. Fakultas Fisioterapi. Universitas Esa Unggul. Jakarta
Marlow, C. (2008). Stroke Practical Mana-gement, 3th. Ed. UK, Blackwell Publishing.
Platz, T., Eickhof, C., Kaick, S. v., Engel, U., Pinkowski, C., Kalok, S., et al. (2005).
Impairment-oriented training or Bobath therapy for severe arm paresis after
stroke: a single-blind, multicentre randomized controlled trial. Clinical
Rehabilitation, 19(7), 714-724.
Sulistiwi. (2000). Hasil Latihan Bobath Terhadap Spastisitas Penderita Hemiparesis
Pasca Stroke Di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Laporan Penelitian. Program
Studi Rehabilitasi Medik-FK UNDIP. Semarang
Usman. (2012). http://www.fisio-usman.net/2012/12/normal-0-false-false-false-in-x-none-
x.html diakses tanggal 6 desember 2014

40