Anda di halaman 1dari 5

Nama : ARIF BUDI SANTOSO

Nim : 017760064
Fak/Prodi : Fisip/Ilmu Hukum
Upbjj : 79/Kupang
Tugas makalah Persaingan Usaha
BAB I
PENDAHULUAN

Dalam Baron Dictionary, perse didefinisikan sebagai: Dengan


sendirinya. Suatu terminologi berkenaan dengan keadaan yang tidak
memerlukan bukti yang tidak berhubungan (extraneous evidence) atau
pendukung atas suatu kejadian.
Lebih lanjut dalam Wikipedia menyatakan : Istilah perse illegal berarti illegal
dengan sendirinya. Terminologi ini berkenaan dengan keadaan yang tidak
memerlukan bukti yang tidak relevan atau pendukung atas suatu kejadian.
Perse berarti suatu tindakan yang dengan sendirinya adalah ilegal. Jadi,
suatu tindakan adalah ilegal yang tidak memerlukan bukti lain dari keadaan
di sekitarnya atau pendukung lain. Tindakannya adalah illegal karena
undang-undang atau hukum.
Karena itu perse illegal merupakan sebuah larangan yang sangat
keras. Apa pun alasannya suatu perbuatan yang memenuhi syarat sebuah
larangan maka perbutan tersebut dianggap melanggar hukum, kendati pun
perbuatan itu bermaksud atau berdampak baik. Sebaliknya perbuatan
tersebut dibebaskan dari pelanggaran hukum bila tidak memenuhi syarat
sebuah larangan, kendati pun perbuatan tersebut bermaksud dan
berdampak tidak baik. Sebagai contoh orang berbaju merah dilarang masuk
rumah, apapun alasannya orang berbaju merah dilarang masuk rumah.
Sebaliknya apa pun alasannya orang yang tidak berbaju merah boleh masuk
rumah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Perse illegal dan Rule Of reason
Asri Sitompul mendefinisikan rule of reason adalah suatu pendekatan
dengan menggunakan pertimbangan akan akibat suatu perbuatan, apakah
mengakibatkan praktek monopoli dan akan menimbulkan kerugian dipihak
lain. Sedangkan Susanti Adi Nugroho rule of reason adalah pertimbangan
yang digunakan untuk menentukan suatu perbuatan yang dituduhkan
melanggar hukum persaingan dimana penggugat dapat menunjukkan akibat-
akibat yang menghambat persaingan, atau kerugian nyata terhadap
persaingan. Dari dua definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa rule of
reason merupakan
a) Suatu pertimbangan hakim untuk menentukan apakah suatu
perbuatan tertentu melanggar hukum persaingan atau tidak,
b) Prinsip yang akan digunakan \untuk menentukan perbuatan tertentu
melanggar atau tidak didasarkan pada akibat yang muncul dari
perbuatan yaitu menghambat persaingan atau melahirkan kerugian
pada pelaku usaha lain.
Perse illegal adalah suatu perbuatan yang secara inheren bersifat
dilarang atau illegal. Adalah suatu perbuatan atau tindakan atau praktek
yang bersifat dilarang atau illegal tanpa perlu pembuktian terhadap dampak
dari perbuatan tersebut. Per se rule didefinisikan oleh Asril Sitompul suatu
pendekatan dimana perbuatan dinyatakan sebagai pelanggaran dan dapat
dihukum tanpa perlu melakukan pertimbangan apakah perbuatan tersebut
mengakibatkan kerugian atau menghambat persaingan. Sedangkan Susanti
mendefinisikan per se rule sebagai larangan yang jelas dan tegas tanpa
mensyaratkan adanya pembuktian mengenai akibat-akibatnya atau
kemungkinan akibat adanya persaingan. Dari kedua definisi dapat
disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan per se rule adalah perbuatan
tersebut secara jelas dan tegas akan dianggap pelanggaran oleh hakim
tanpa melihat apakah terdapat akibat yang merugikan atau menghambat
persaingan.
Para ahli hukum persaingan usaha Indonesia dalam memberikan
definisi rule of reason dan per se rule dapat melakukannya secara tepat
namun hanya sebatas memberikan definisi tanpa melihat latar belakang
kemuncullannya. Berbeda dengan penulis dari AS yang selalu melihatrule of
reason dan per se rule secara kontekstual artinya prinsip tersebut muncul
karena putusan hakim dalam mengadili suatu perkara persaingan usaha.
Hampir semua negara menghukum praktek kartel secara per se illegal,
bahkan anggota kartel pada umumnya menghadapi tanggung jawab atas
potensi kriminal. Namun ketentuan dalam Pasal 11 Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1999 menetapkan, bahwa pelaku usaha dilarang membuat perjanjian
dengan para pesaingnya untuk mempengaruhi harga hanya jika perjanjian
tersebut dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan/atau
persaingan tidak sehat. Ketentuan ini mengarahkan pihak komisi (KPPU)
untuk menggunakan pendekatan rule of reason dalam menganalisis kartel.
Larangan yang berkaitan dengan kartel ini hanya berlaku apabila
perjanjian kartel tersebut dapat mengakibatkan terjadinya monopoli
dan/atau persaingan usaha tidak sehat. Berarti, pendekatan yang digunakan
dalam kartel adalah rule of reason . Keunggulan dari Rule of Reason adalah
dapat dengan akurat dari sudut efisiensi menetapkan apakah suatu tindakan
pelaku usaha menghambat persaingan. Sedangkan kekurangannya,
penilaian yang akurat tersebut bisa menimbulkan perbedaan hasil analisa
yang mendatangkan ketidakpastian. Kesulitan penerapan rule of
reason antara lain penyelidikan akan memakan waktu yang lama dan
memerlukan pengetahuan ekonomi.
1. Larangan yang Bersifat Per Se Ilegal
Larangan yang bersifat per se rule adalah bentuk larangan yang tegas
dalam rangka memberikan kepastian bagi para pelaku usaha dalam
memaknai norma-norma larangan dalam persaingan usaha. Dalam praktik,
pengaturan ini berguna agar pelaku usaha sejak awal mengetahui rambu-
rambu larangan terhadap perbuatan apa saja yang dilarang dan harus
dijauhkan dalam praktik usahanya guna menghindari munculnya potensi
resiko bisnis yang besar di kemudian hari sebagai akibat pelanggaran
terhadap norma-norma larangan tersebut.
2. Larangan yang Bersifat Rule of Reason
Dalam lingkup doktrin rule of reason, jika suatu kegiatan yang dilarang
dilakukan oleh seorang pelaku usaha dilihat seberapa jauh efek negatifnya.
Jika terbukti secara signifikan adanya unsur yang menghambat persaingan,
baru diambil tindakan hukum. Ciri-ciri pembeda terhadap larangan yang
bersifat rule of reason, pertama dalah bentuk aturan yang menyebutkan
adanya persyaratan tertentu yang harus terpenuhi sehingga memenuhi
kualifikasi adanya potensi bagi terjadinya praktik monopoli dan atau praktik
persaingan usaha yang tidak sehat.
Perbuatan-perbuatan dan kegiatan yang dilarang dalam Undang-undang
No. 5 Tahun 1999 yang bersifat rule of reason antara lain apabila pelaku
usaha melakukan beberapa hal berikut
1. Perjanjian yang bersifat oligopoli (Pasal 4)
2. Perjanjian pembagian wilayah pemasaran atau alokasi pasar (Pasal 9)
3. Perjanjian yang bersifat kartel (Pasal 11)
4. Perjanjian yang bersifat trust (Pasal 12)
5. Perjanjian yang bersifat oligopsoni (Pasal 13)
6. Kegiatan usaha yang melakukan praktik Monopoli (Pasal 17)
7. Kegiatan usaha yang melakukan praktik monopsoni (Pasal 18)
8. Kegiatan penguasaan pasar (Pasal 19)
9. Kegiatan menjual di bawah harga pokok (predatory pricing) dalam
Pasal 20
10. Jabatan rangkap dalam perusahaan-perusahaan yang saling
bersaing (interlocking directorate) dalam Pasal 26
11. Penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan perusahaan lain
(Pasal 28)
Perbuatan-perbuatan yang dimaksud jika terbukti merupakan perbuatan
yang menghalangi persaingan (antikompetitif) selain menghadapi sanksi
administratif (vide Pasal 47) juga diancam sanksi pidana, baik pidana pokok
(vide Pasal 48 ayat 1) maupun pidana tambahan (vide Pasal 49).
Penyusun undang-undang juga melihat bahwa salah satu sarana untuk
melakukan tindakan persaingan yang tidak sehat adalam membuat
perjanjian atau kontrak dengan para pelaku usaha tertentu. Dalam hubungan
ini, Pasal 1 ayat (7) memberikan definisi tentang perjanjian sebagai berikut.
Perjanjian adalah suatu perbuatan satu atau lebih pelaku usaha untuk
mengikatkan diri terhadap satu atau lebih pelaku usaha lain dengan nama
apa pun, baik tertulis maupun tidak tertulis.
BAB III
PENUTUP
Dalam perdebatan sering orang mempertentangkan antara
pendekatan perse illegal dan pendekatan rule of reason. Menurut saya tidak
perlu dipertentangkan keduanya justru komplemen saling melengkapi. Perse
illegal sangat penting khususnya untuk mencegah perbuatan-perbuatan
yang berbahaya yang dampaknya sangat luas, karena itu secara keras
dilarang tanpa pembuktian mengenai dampak. Sementara pendekatan rule
of reason juga sangat penting agar kita tidak semena-mena menghukum
pelaku usaha secara serampangan. Tindakan keras dan serampangan akan
sangat distortif, mengganggu, dan bahkan mematikan kreatifitas dan
inovatisi yang diperlukan bagi kemajuan ekonomi. Sebaliknya kita juga harus
menghindarkan diri dari upaya untuk mempertukarkan antara pasal perse
dan pasal rule of reason, jika pasalnya perse harus diperlakukan secara
perse, dan jika pasalnya rule of reason harus diperlakukan secara rule of
reason. Menkaburkan antara keduanya hanya menambah ketidak pastian
hukum di negeri ini.
Reff///
A.M. Tri Anggraini, Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak
Sehat Perse Illegal dan Rule of Reason, , Hukum Persaingan Usaha, Hukum
Persaingan Usaha ,
http://yakubadikrisanto.wordpress.com/2008/06/03/prinsip-rule-of-reason-
dan-per-se-illegal/