Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I

PENDAHULUAN

Pertanian merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting bagi


kehidupan manusia berupa cara pemenuhan kebutuhan pangan manusia. Pertanian
sendiri secara garis besar dibagi 2 berdasarkan cara pembudidayaannya yaitu
pertanian organik dan pertanian konvensional. Pertanian organik adalah pangan
yang diproduksi menggunakan pupuk organik seperti pupuk kandang serta
kompos dan tidak menggunakan pupuk kimia. Manusia sekarang lebih memilih
hasil tanaman dari pertanian organik daripada konvensional karena hasilnya lebih
sehat. Kesadaran tentang bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia
sintetis dalam pertanian menjadikan pertanian organik menarik perhatian baik di
tingkat produsen maupun konsumen. Kebanyakan konsumen akan memilih bahan
pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan, sehingga mendorong
meningkatnya permintaan produk organik. Prinsip-prinsip yang diterapkan dalam
pertanian dengan pengertian luas, termasuk bagaimana manusia memelihara
tanah, air, tanaman, dan hewan untuk menghasilkan, mempersiapkan dan
menyalurkan pangan dan produk lainnya. Prinsip pertanian organik penting
diterapkan di Indonesia karena prinsip ini juga mendukung keberlanjutan
pertanian di Indonesia.
Tujuan dari praktikum pertanian organik adalah untuk menerapkan pupuk
organik pada budidaya tanaman jagung, melakukan penanaman dengan pupuk
kandang (pukan sapi) dicampur dengan MOL (Mikro Organisme Lokal),
melakukan penanaman dengan MOL saja, mengamati bahan organik dan nitrogen
tanah awal dan analisis tanah setelah akhir tanam, mengamati pertumbuhan
tanaman jagung dengan perlakuan yang berbeda, serta mengamati komponen hasil
panen meliputi bobot segar dan bobot kering. Manfaat dari praktikum pertanian
organik adalah mahasiswa dapat mengetahui pola penanaman, pemberian pupuk
dan pertumbuhan tanaman yang baik serta mahasiswa dapat mengetahui manfaat
penggunaan pupuk kandang terhadap tanaman dan kesuburan tanah.
2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tanaman Jagung

Jagung merupakan tanaman semusim (annual) yang memiliki satu siklus


hidup diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap
pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif.
Susunan morfologi tanaman jagung terdiri dari akar, batang, daun, bunga, dan
buah (Wahab, 2007). Tanaman jagung (Zea mays L.) dalam sistematika tumbuh-
tumbuhan menurut Warisno (2007) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Class : Monocotyledonae
Ordo : Poales
Family : Poaceae
Genus : Zea
Species : Zea mays L.
Jagung dapat tumbuh hingga ketinggian 3 meter, Akarnya tergolong akar
serabut sebagian besar berada pada kedalaman 2 m tidak seperti tanaman biji-
bijian lainnya, tanaman jagung merupakan satu satunya tanaman yang bunga
jantan dan betinanya terpisah (Belfield dan Brown, 2008). Setiap daun jagung
terdiri dari helaian daun, ligula dan pelepah daun yang erat melekat pada batang.
Jumlah daun umumnya berkisar 10-18 helai, rata-rata munculnya daun yang
terbuka sempurna adalah 3-4 hari setiap daun. Tanaman jagung di daerah tropis
mempunyai jumlah daun relatif lebih banyak dibanding di daerah beriklim sedang
(temperate) (Paliwal, 2000).

2.2. Pupuk Kandang Sapi


3

Pupuk kandang adalah pupuk yang terbuat dari kotoran hewan yang
mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman seperti fosfor, kalium,
magnesium, zinc dan nitrogen. (Astiningrum, 2005). Bentuk pupuk kandang
sendiri dibagi menjadi dua yaitu pupuk kandang dalam bentuk padat berupa
kotoran hewan dan dalam bentuk cair berupa urine hewan (Sutanto, 2006).
Komposisi unsur hara pada masing-masing pupuk kandang berbeda
tergantung pada jumlah dan jenis makanan hewan yang diambil kotorannya.
Pupuk kandang memiliki kandungan unsur hara lebih rendah daripada pupuk
kimia sehingga pemberian pupuk kandang lebih besar daripada pupuk kimia
(Widowati et al., 2005). Pupuk kandang sapi mempunyai kadar serat yang tinggi
seperti selulosa, hal ini terbukti dari hasil pengukuran parameter C/N rasio yang
cukup tinggi yaitu lebih dari 40% (Widowati et al., 2005).

2.3. Mikro Organisme Lokal

Mikro Organisme Lokal (MOL) yang terbuat dari nasi telah dijamurkan
mudah untuk difermentasikan dan tidak membutuhkan waktu yang lama. Hasil
dari MOL dapat disemprotkan langsung ke tanaman dan dapat digunakan sebagai
dekomposer dalam pengomposan (Pranata, 2004). MOL dapat digunakan
langsung disemprotkan ke tanaman dalam meningkatkan kesuburan tanaman dan
kesuburan tanah (Pranata, 2004).
MOL dapat digunakan dalam proses penguraian pengomposan, seperti
pengomposan pupuk kandang ayam dan pupuk kandang sapi karena MOL
mengandung bakteri pengurai di dalam larutannya (Pranata, 2004). Manfaat dari
MOL adalah sebagai penyedia unsur hara yang sangat cepat karena berupa
larutan, digunakan sebagi dekomposer dalam pengomposan, mengendalikan hama
dan penyakit dan tanaman, mengurangi penggunaan pestisida yang dapat
menurunkan kualitas tanaman, dan dengan adanya MOL maka nasi dan buah-
buahan yang busuk ataupun yang lain dapat dimanfaatkan (Wahyudi, 2013)
2.4. Bobot Basah dan Bobot Kering
4

Berat basah tanaman yaitu berat segar seluruh bagian tanaman dari akar
sampai daunnya yang masih memiliki kadar air tinggi, sekitar 70 - 90% berat
basah tanaman berupa air yang merupakan media penunjang untuk
berlangsungnya reaksi biokimia (Sutanto, 2002). Semakin baik hara yang terserap
oleh tanaman, maka ketersediaan bahan dasar bagi proses fotosintesis yang
berlangsung akan semakin baik. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak
kompos yang diberikan maka berat basah tanaman akan semakin bertambah
begitu pula sebaliknya (Rosmarkan dan Yuwono, 2002).
Berat kering tanaman merupakan hasil pengeringan seluruh bagian
tanaman dari akar sampai daun dengan menggunakan oven atau sinar matahari.
(Sutedjo, 2002). Pertumbuhan tinggi tanaman, batang dan jumlah daun yang baik
akan menghasilkan berat kering tanaman yang lebih baik. Laju fotosintesis akan
berpengaruh terhadap berat kering tanaman, dimana semakin tinggi laju
fotosintesis maka semakin meningkat pula berat kering tanaman (Sutanto, 2002).
5

BAB III

MATERI DAN METODE

Praktikum Pertanian Organik dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2016


pukul 15.00-17.00 WIB di Lahan Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas
Diponegoro, Semarang.

3.1. Materi

Alat yang digunakan dalam praktikum pertanian organik antara lain panci
untuk tempat pembuatan MOL, penyaring untuk menyaring hasil MOL, botol
penyimpanan untuk menyimpan MOL yang telah jadi, pot sebagai tempat untuk
menanam jagung, sekop untuk mengambil tanah kedalam pot, penggaris untuk
mengukur tinggi tanaman, ember sebagai alat untuk mengambil air untuk
penyiraman, alat tulis untuk mencatat hasil pengamatan pertumbuhan tanaman.
Bahan yang digunakan dalam praktikum pertanian organik antara lain nasi
berjamur, air sumur, gula pasir, benih tanaman jagung (Zea mays L.), tanah, pupuk
kandang sapi.

3.2. Metode

3.2.1. Pembuatan MOL

Menyiapkan nasi yang berjamur lalu melarutkan 1 liter air dengan 5


sendok makan gula pasir. Mencampurkan nasi berjamur dan larutan gula di panci
kemudian mengaduk dan meremas sampai halus. Mendiamkan campuran selama
1 minggu sampai berbau tape. Memanen MOL yang sudah berbau tape,
menyaringnya dan memasukkannya kedalam botol. Melarutkan MOL dan air
dengan perbandingan 1 : 5 lalu menyiramkan MOL ke media tanam sebagai
starter kompos.
6

3.2.2. Penanaman Jagung

Menyiapkan 7 buah pot dengan menandai label A, B, C, D, E, F, G dan


mengisinya dengan 10 kg tanah lalu mendiamkan selama 1 minggu. Menyiapkan
MOL dan pupuk kandang. Memasukkan 0,5 kg pupuk kandang ke pot D, E, dan
F. Menyiramkan 1 liter MOL ke pot A, B, C, D, E, dan F lalu menginkubasi
selama 2 minggu. Menanam biji jagung ke dalam setiap pot dengan mengisi 1 pot
3 buah biji jagung. Mengamati pertumbuhan tanaman setiap minggu dengan
mengukur tinggi tanaman dan jumlah daun sampai akhir bulan Mei.
Selesai mengamati pertumbuhan tanaman kemudian membongkar tanaman
dengan memisahkan bagian atas dan bagian akar lalu timbang berat segarnya.
Memasukkan bagian tanaman yang telah dipanen kemudian memotong-
motongnya dan memasukkan kedalam kanting kertas. Selanjutnya dioven dengan
suhu 600C selama 24 jam dan menimbang berat keringnya. Mengamati kondisi
fisik tanah dan menganalisis kadar air, bahan organik dan nitrogen tanah.

3.2.3. Kadar Air Tanaman

Mengambil tanaman jagung yang berada dalam pot lalu menimbangnya.


Memasukan sampel ke dalam amplop coklat yang telah diberi lubang. Mengoven
dengan suhu 60 C selama 24 jam lalu menimbang bobot kering tanaman jagung.
Mencatat hasil timbangan dari bobot kering. Menghitung persen berat kering
tanaman menggunakan rumus yang telah ditentukan.

3.2.4. Analisis Bahan Organik

Menghaluskan 3 sampel tanah dari pada 3 pot berbeda perlakuan yaitu dari
pot kontrol, pot pupuk kandang dan MOL serta pot dengan diberi MOL.
Menimbang berat cawan kosong lalu menimbang tanah yang sudah dihaluskan
dan memasukkan 10 gr tanah ke masing-masing cawan. Memasukkan tanah
7

kedalam tanur selama 4 jam pada suhu 600C kemudian menimbang tanah dan
cawan setelah ditanur.

3.2.5. Analisis Nitrogen

Mengambil 3 sampel tanah yaitu tanah pada pot kontrol, pot MOL dan
pupuk kandang serta pot MOL. Mengeringkan 3 sampel tanah dan menghaluskan
3 sampel tanah. Menimbang tanah dengan timbangan analitik masing-masing
sampel 0,5-1 gr lalu memasukkannya ke dalam tabung kedjeldah dan menambah
selenium sebanyak 1 sendok kecil. Metambahkan asam sulfat 10 ml dan destruksi
selama 45 menit hingga berubah warna menjadi putih keruh. Setelah proses
destruksi selesai memindahkan ke erlenmeyer dan menambahkan aquades 90 ml,
NaOH 45% sebanyak 40 ml lalu melakukan destilasi. Erlenmeyer kecil diisi
dengan asam borat 4% sebanyak 20 ml lalu ditambah indikator MRMB (Metil
Red Metil Blue) 2 ml. Mendestilasi sampai volume pada erlenmeyer kecil
mencapai 100 ml kemudian mentitrasi menggunakan HCl 0,1 N dari warna hijau
hingga warnanya berubah menjadi biru keuguan (kembali ke warna sebelumnya).
8

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Pertumbuhan Tanaman Jagung

4.1.1. Pertumbuhan Tinggi Tanaman Jagung

Berdasarkan praktikum diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 1. Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman Jagung


Tinggi Tanaman (cm) Rata-Rata
Sampel
Pertambahan
Tanaman I II III IV Tinggi (cm)
A 9 11 15 19 13,5
B 6 7,5 11 13 9,37
C 9 11 15 18 13,25
D 8 14 27 29,5 19,62
E 17 27 38 41 30,75
F 8 9 21 23,5 15,37
G 8 9,5 20 23 15,12
Rata-Rata 9,29 12,71 21 23,8 16,71
Sumber: Data Primer Praktikum Pertanian Organik, 2016.

Berdasarkan praktikum pertanian organik pertumbuhan tinggi tanaman


jagung diperoleh hasil pada pot A, pot B, dan pot C dengan perlaukan taah yang
diberi MOL menunjukkan rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman jagung yang
lebih besar dibandingkan dengan pot G dengan tanpa perlakuan khusus. Pot D, pot
E, dan pot F dengan perlakuan tanah yang diberi pukan dan MOL menunjukkan
rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman jagung yang paling besar. Hal tersebut
menunjukkan bahwa pukan (pupuk kandang) dan MOL berpengaruh terhadap
pertumbuhan tanaman jagung, yaitu dapat mempercepat proses pertumbuhan
tinggi tanaman Hal ini sesuai dengan pendapat Palungkuan dan Budiarti (2000)
yang menyatakan bahwa pertumbuhan tanaman jagung sangat dipengaruhi oleh
keadaan lingkungan dimana tanaman tersebut tumbuh, adanya perbedaan nyata
9

diantara pertumbuhan tanaman jagung pada minggu pertama hingga minggu


keempat dikarenakan pada perlakuan pemberian pukan dan MOL tidak merata
sehingga mempengaruhi pada pertumbuhan tanaman tersebut.

4.1.2. Pertambahan Jumlah Daun Tanaman Jagung

Berdasarkan praktikum diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 2. Hasil Pengamatan Jumlah Daun Tanaman Jagung


Rata-Rata Jumlah
Sampel Jumlah Daun Tanaman (helai) Daun Tanaman
Tanaman (helai)
I II III IV
A 3 4 5 4 4
B 2 5 5 5 4,25
C 3 4 6 6 4,75
D 3 5 6 8 5,5
E 2 7 8 6 5,75
F 3 4 6 6 4,75
G 3 4 6 7 5
Rata-Rata 2,71 4,71 6 6 4,8
Sumber: Data Primer Praktikum Pertanian Organik, 2016.

Berdasarkan praktikum pertanian organik diperoleh hasil bahwa rata-rata


pertambahan tinggi tanaman dari minggu 1 sampai 4 adalah 1 12 cm dan rata-
rata pertambahan jumlah daun adalah 1 - 2 helai. Tinggi tanaman dan jumlah daun
pada setiap pot berbeda karena diberikan jumlah nutrisi atau unsur hara yang
berbeda-berbeda yaitu pot A, B, C ditambahkan MOL, pot D, E, F ditambahkan
pupuk kandang dan MOL sedangkan pot G adalah kontrol. Pertumbuhan daun
antara tanaman satu dengan tanaman lainnya tidak sama, ada beberapa tanaman
pada daun tiap minggunya bertambah, tetapi ada pula tanaman pada pertumbuhan
daunnya dari minggu ke minggu tidak bertambah maupun berkurang. Penurunan
jumlah daun ini mungkin saja terjadi karena ada daun yang patah ataupun rusak
dikarenakan kekurangan air maupun gangguan hewan-hewan disekitar. Hal ini
sesuai dengan pendapat Tjahjadi (2008) yang menyatakan bahwa hampir semua
10

tanaman tidak tahan dengan kekurangan air. Apabila terjadi kekurangan air
tanaman akan cepat layu dan perlahan akan merusak mulai dari daun, akar, biji
yang menyebabkan tanaman mati. Hal ini diperkuat dengan pendapat Cahyono
(2005) yang menyatakan bahwa akibat serangan hama ataupun penyakit lainnya
mengakibatkan daun-daun patah dan rusak.

4.2. Kadar Air Tanah

Berdasarkan praktikum diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 3. Hasil Perhitungan Kadar air


Sampel Bobot Basah Bobot Kering
Kadar air (%)
Tanaman (kg) (kg)
A 0,0105 0,0010 90,48%
B 0,0720 0,0075 89,58%
C 0,0355 0,0035 90,14%
Sumber: Data Primer Praktikum Pertanian Organik, 2016.

Berdasarkan praktikum pertanian organik diperoleh hasil bahwa bobot


basah tanaman berbeda-beda karena mendapatkan perlakuan yang tidak sama
untuk A adalah tanaman kontrol, B adalah tanaman dengan penambahan pupuk
kandang dan MOL sedangkan C adalah tanaman dengan penambahan MOL saja.
Bobot basah dan bobot kering tanaman B paling besar dari pada tanaman A dan C
karena nutrisi yang diberikan lebih banyak daripada yang lain.
Sampel tanah menghasilkan kadar air yang berbeda, pada tanah TP kadar
air 6,6 % dengan penambahan MOL adalah 13,64 % dan dengan penambahan
MOL + PUKAN adalah11,11% . Dari hasil praktikum kandungan kadar air
tergolong pada kadar air rendah. Kadar air merupakan sejumlah air yang ada pada
tanah. Hanafiah (2007) air merupakan komponen utama penyusun tubuh tanaman
bahkan hampir 90% sel-sel tanaman dan mikroba terdiri dari air. Air yang diserap
tanaman disamping berfungsi sebagai komponen penyusun sel-selnya, juga
berfungsi sebagai media reaksi pada proses metabolismenya melalui mekanisme
taranspirasi yang bersama-sama dengan penguapan dari tanah sekitarnya yang
11

disebut evapitranspirasi. Hal ini sesuai denan pendapat Hardjowigeno (2007)


bahwa banyaknya kandungan air dalam tanah berhubungan erat dengan besarnya
tegangan air dalam tanah tersebut.
Kadar air mempengaruhi pertumbuhan tanaman yang menunjukkan
ketersediaan air tanah untuk mensuplai kebutuhan nutrisi tanaman. Menurut
Madjid (2010) Ketersediaan air dalam tanah dipengaruhi banyaknya curah hujan
atau air irigasi, kemampuan tanah menahan air, besarnya evapotranspirasi
(penguapan langsung melalui tanah dan melalui vegetasi), tingginya muka air
tanah, kadar bahan organik tanah, senyawa kimiawi atau kandungan garam-
garam, dan kedalaman solum tanah atau lapisan tanah. Dan diperkuat dengan
pendapat (Yanet et al., 2015). Faktor yang mempengaruhi tanaman adalah kadar
air tanah. Gangguan lingkungan tanah, seperti perubahan penggunaan lahan atau
pengolahan tanah, dapat menggeser komunitas mikroba dan dapat memiliki efek
merugikan pada siklus hara tanah.

4.3. Analisis Tanah

Sampel tanah dari lahan tergolong ke dalam tanah yang kurang subur
untuk bercocok tanam karena tanah hanya mempunyai kandungan bahan organik
sebesar 1,69%. Tanah yang baik untuk bercocok tanam adalah tanah yang
memiliki kandungan bahan organik lebih dari 2%. Sampel tanah juga tidak
tergolong ke dalam tanah yang memiliki bahan organik tinggi karena memiliki
kandungan nitrogen yang terbatas. Kandungan nitrogen dalam tanah hanya
sebesar 1,38%. Hal ini sesuai dengan pendapat Hairiah et al. (2000) yang
menyatakan bahwa tanah dikategorikan subur apabila mengandung bahan organik
tanah minimal 2,5-4%. Bahan organik yang berkualitas tinggi (kandungan N >
2,5%, kandungan lignin < 15% dan polifenol < 4%) dapat dimineralisasi dengan
cepat dan cepat menyediakan N dalam jumlah yang besar. Nitrogen berfungsi
untuk memacu pertumbuhan tanaman salah satunya tanaman jagung. Tanaman
jagung harus mendapatkan asupan nitrogen yang tepat agar pertumbuhannya dapat
12

optimal. Hal ini sesuai dengan pendapat Jumin (2002) yang menyatakan bahwa
tersedianya nitrogen maka tanaman akan membentuk bagian-bagian vegetatif
yang cepat, yang disebabkan karena jaringan meristem yang akan melakukan
pembelahan sel, perpanjangan dan pembesaran sel-sel baru dan protoplasma
sehingga pertumbuhan tanaman berlangsung dengan baik.

4.4. Analisis Bahan Organik

Berdasarkan hasil praktikum bahan organik tanah, diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 4. Bahan Organik


Sampel Tanah Bahan Organik
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - %- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
A 15
B 35
C 20
Sumber: Data Primer Praktikum Pertanian Organik, 2016.
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh kadar bahan organik dalam tanah
berbeda setiap pot karena mendapat perlakuan ang berbeda, kandungan bahan
organik yang paling tinggi adalah tanah yang ditambahkan pupuk kandang dan
MOL karena MOL dan pukan merupakan sumber dari bahan organik, dan bahan
organik itu sendiri sangat berpengaruh terhadap kesuburan tanah. Hal ini sesuai
dengan pendapat Wahyudi (2013) yang menyatakan bahwa menyediakan MOL
artinya memenuhi ketersediaan bahan organik unsur hara yang sangat cepat
karena sudah berupa larutan, dapat digunakan sebagi dekomposer dalam
pengomposan. Selain mendapat perlakuan yang berbeda bahan organik juga
dipengaruhi faktor lingkungan.. Hal itu sesuai pendapat Sutanto (2005) bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi bahan organik dalam tanah adalah kedalaman
tanah, iklim, drainase, tekstur tanah dan vegetasi.

4.5. Analisis Nitrogen


13

Berdasarkan hasil praktikum bahan organik tanah, diperoleh data sebagai


berikut :

Tabel 5. Kadar Nitrogen


Sampel Tanah Kadar Nitrogen
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - %- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
A 0,013
B 0,258
C 0,228
Sumber: Data Primer Praktikum Pertanian Organik, 2016.
Berdasarkan hasil praktikum kadar nitrogen tanah tersebut, dapat diketahui
bahwa kadar nitrogen tertinggi dimiliki oleh tanah dengan penambahan MOL dan
pukan, selanjutnya tanah dengan penambahan MOL dan yang terendah yaitu tanah
tanpa perlakuan. Pertumbuhan tanaman jagung yang paling tinggi terdapat pada
tanah yang memiliki kadar nitrogen terbesar (yang diberi MOL dan pukan). Hal
ini didukung oleh pendapat Jumin (2002) yang menyatakan bahwa tersedianya
nitrogen akan menjadikan tanaman membentuk bagian-bagian vegetatif yang
cepat, yang disebabkan karena jaringan meristem yang akan melakukan
pembelahan sel, perpanjangan dan pembesaran sel-sel baru sehingga pertumbuhan
tanaman berlangsung dengan baik. Tanah dengan penambahan MOL dan pukan
memiliki kadar nitrogen yang tinggi, karena tanah tersebut ditambahkan pupuk
organik yang dapat mengingkatkan kadar nitrogen dalam tanah.
14

BAB V

SIMPULAN

5.1. Simpulan

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan


bahwa penambahan pupuk kandang sapi dan MOL mempengaruhi pertumbuhan
tanaman jagung. Tinggi tanaman, banyaknya daun, kadar air, kadar bahan organik,
dan kadar nitrogen dari hasil praktikum yang paling baik adalah tanah yang
ditambahkan pupuk kandang sapi dan MOL selanjutnya baru tanah yang
ditambahkan MOL dan terakhir adalah tanah yang tidak ditambahkan apapun.

5.2. Saran

Tanaman jagung memerlukan nutrisi berupa unsur hara yang diperoleh


dengan penambahan pupuk kandang dan pupuk hayati sehingga tanaman dapat
tumbuh dengan baik karena nutrisi yang dibutuhkan terkecukupi.
15

DAFTAR PUSTAKA

Astiningrum, M. 2005. Manajemen Persampahan. Majalah Ilmiah Dinamika


Universitas Tidar Magelang, Magelang.
Belfield, S. dan C., Brown. 2008. Field Crop Manual. Maize, Canberra.

Cahyono, B. 2005. Teknik Budi Daya dan Analisis Usaha Tani. Kanisius,
Yogyakarta.

Hairiah, K., U. S. R Widianto, D. Suprayogo, S. M. Sitompul, Sunaryo, B. Lusiana,


R Mulia, N. M. Van dan G. Cadisch, 2000. Pengelolaan Tanah Masam
Secara Biologi. ICRAF, Bogor.

Jumin, H. B. 2002. Agronomi. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Paliwal, R. L. 2000. Tropical maize morphology. In: tropical maize: improvement


and production. Food and Agriculture Organization of the United Nations,
Rome. p 13-20.
Palungkuan, R. dan Budiarti. 1991. Sweet Corn, Baby Corn.Penebar Swadaya,
Jakarta.

Parnata, A. S. 2004. Pupuk Organik Cair dan Mikro Organisme Lokal. Agromedia
Pustaka, Jakarta.
Rachman, S. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Kanisius, Yogyakarta.
Rosmarkan, A. dan N. W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius,
Yogyakarta.
Sutanto, R. 2006. Penerapan Pertanian Organik (Pemasyarakatan dan
Pengembangannya). Kanisius, Yogyakarta.
Sutedjo. 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta.
Tjahjadi, N. 2008. Hama dan Penyakit Tanaman. Kanisius, Yogyakarta.

Wahab, W. 2007. Karakteristik Dan Klasifikasi Tanaman Jagung. Fakultas


Pertanian, IPB, Bogor.
Warisno. 2007. Jagung Hibrida. Kanisius, Yogyakarta.
Widowati, L. R., S. U. Widati, Jaenudin, dan W. Hartatik. 2005. Pengaruh
Kompos Pupuk Organik yang Diperkaya dengan Bahan Mineral dan Pupuk
Hayati terhadap Sifat-sifat Tanah, Serapan Hara dan Produksi Sayuran
Organik.Laporan Proyek Penelitian Program Pengembangan Agribisnis,
Balai Penelitian Tanah.
16

LAMPIRAN

Lampiran 1. Perhitungan Kadar Air

Hasil Pengamatan Bobot Basah


Sampel
Akar Tajuk Total
Tanaman
A 0,0015 0,0090 0,0105
B 0,0055 0,0655 0,0720
C 0,0055 0,0300 0,0355

Hasil Pengamatan Bobot Kering


Sampel
Akar Tajuk Total
Tanaman
A 0,0000 0,0010 0,0010
B 0,0005 0,0070 0,0075
C 0,0005 0,0030 0,0035

BB - BK
KA A = BB x 100 %

0,0105 0,0010
= 0,0105 x 100 %

= 90,48%
BB - BK
KA B = BB x 100 %

0, 0720 0, 00 75
= 0,0720 x 100 %

= 89,58%
BB - BK
KA C = BB x 100 %

0, 0355 0, 00 35
= 0,0355 x 100 %

= 90,14%
17

Lampiran 2. Perhitungan Bahan Organik

Pengamatan berat cawan Berat sampel tanah


Sebelum oven Sesudah oven
.................................................................(g).............................................................
TP 22 10 (28,5-22)
MOL 23,5 10 (31,5-23,5)
PUKAN + MOL 20,5 10 (29-20,5)

( Sebelum Sesudah )
BO Tanah TP (Tanpa perlakuan) = 10 x 100 %

(2 9 20 ,5)
= 10 x 100 %

= 15%
( Sebelum Sesudah )
BO tanah+ MOL = 10 x 100 %

10 (3 1 ,5 23,5)
= 10 x 100 %

= 20 %
( Sebelum Sesudah )
BO Tanah+MOL+PUKAN = 10 x 100 %

10 (28,5 22)
= 10 x 100 %

= 35 %

Kadar abu tanaman


Kadar abu TP = 100% -BO
= 100%- 35%
= 65%
Kadar abu MOL=100% -BO
18

= 100%- 20%
= 80%
Kadar abu PUKAN+ MOL=100% -BO
= 100%- 15%
= 85%
Lampiran 3. Perhitungan Kadar Nitrogen

1
%N TP = (Vtitrasi - Vblanko) x Ar N x NHCl x Bobot sampel (mg) x

1
100% = (1,09 0,12) x 14,008 x 0,1 x 10000 x 100%

= 0,013%
1
%N MOL = (Vtitrasi - Vblanko) x Ar N x NHCl x Bobot sampel (mg) x

100%
1
= (1,77 0,12) x 14,008 x 0,1 x 1014 x 100%

= 0,228 %
% N MOL
1
+PUKAN = (Vtitrasi - Vblanko) x Ar N x NHCl x Bobot sampel (mg) x

100%
1
= (2,31 0,12) x 14,008 x 0,1 x 1146 x 100%

= 0,258 %
19