Anda di halaman 1dari 267

ULUMUL QURAN

ACEP HERMAWAN

NADIA NOVIANA 1502090172

ALYA LARAS JAYANTI 1502090112

NUR RISMAWATI 1502090036

GILANG RAMADHAN 1502090138

REFI LIANA 1502090171

PROBO HARTATO 1502090168

PUTRI PINTO DENAI 1502090169

ANGGI SAPUTRI 1502090056

SITI EKA WAHYUNI 1502090178

1
DI BUAT OLEH : NADIA NOVIANA

NPM : 1502090172

PRODI : HUKUM EKONOMI SYARIAH

MATA KULIAH : ULUMUL QURAN

BAB 1
Mukadimah

A. Definisi Ulumul Quran


Istilah Ulumul Quran berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu
Ulum dan Al-Quran merupakan bentuk jamak dari kata ilm, yang berarti
ilmu-ilmu. Istilah ilm merupakan bentuk masdhar (kata kerja yang
dibendakan) yang artinya pemahaman dan pengetahuan sesuai dengan makna
dasarnya, yaitu Al-fahmu wa Al-Idrak (pemahaman dan pengetahuan).
Kemudian, pengetahuan dikembangkan pada kajian berbagai masalah yang
beragam dan standar ilmiah. Kata ilm juaga berarti idrak Al-Syai bi
haqiqatih (mengetahui sesuatu dengan sebenarnya) (Ibrahim, II/1985: 647)
Kata ulum adalag bentuk jamak dari kata ilm, yang berasal dari kata
dasar alima-yalamu-ilman, yang berarti mendengarkan atau mengetahui
sesuatu dengan jelas atau menjangkau sesuatu dengan keadaan yang
sebenarnya. Ia berasal dari akar kata dengan huruf-huruf ain, lam dan
mim, yang berarti asrun bi Al-syai yatamayyazu bihi an gairihi (keunggulan
yang menjadikan sesuatu yang berbeda dengan yang lainnya), atau sesuatu yang
jelas, bekas (hati, pikiran, pekerjaan, tingkah laku dan karya-karya) sehingga
sesuatu itu terlihat dan diketahui sedemikian jelas, tanpa menimbulkan sedikit
keraguan (Mardan, 2009: 15-16).
Ulumul Quran adalah ilmu yang membahas masalah-masalah yang
berhubungan dengan Al-Quran dari segi asbab an-nuzul (sebab-sebab turunnya
Al-Quran), pengumpulan dan penerbitan Al-Quran, pengethuan tentang surah-

2
surah Makkiyah dan Madaniyah, an-nasikh wal mansukh dan senagainya. Ilmu ini
dinamakan juga deangan Ushul Al-Tafsir (dasar-dasar tafsir), kerana yang dibahas
berkaitan dengan beberapa masalah yang harus diketahui oleh seoarang musafir
sebagai sandaran dalam menafsirkan Al-Quran.
Al-Quran menurut ulama usul fiqih dan ulama bahasa adalah Kalam Allah
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw yang lafaz-lafaznya mengandung
mukjizat, membacanya mengadung nilai ibadah, yang diturunkan secara
mutawatir, dan yang ditulis dengan mushaf, mulai dari surah Al-Fatihah sampai
surah An-Nas, dengan demikian, secara bahasa Ulumul Quran adalah ilmu-ilmu
(pembahasan-pembahasan) yang berkaitan dengan Al-Quran (Anwar, 2007: 11).
Adapun definisi Ulumul Quran secara istilah para ulama memberikan
redaksi yang berbeda-beda, sebagai berikut.
1. Menurut Al-Qaththan
Ilmu yang mencangkup pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan Al-
Quran dari sisi informasi tentang Asbab An-Nuzul, kodifikasi dan tertib
penulisan Al-Quran, ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah dan ayat-ayat yang
diturunkan di Madinah dan hal-hal yang berkaitan dengan Al-Quran. (Al-
Qaththan, tt: 15-16)
2. Menurut Al-Zarqaniy
Beberapa pembahasan yang berkaiatan dengan Al-Quran, dari sisi turunnya,
urutan penulisan, kodifikasi, cara membaca, kemukjizatan, Nasikh, Mansukh,
dan hal-hal yang menimbulkan keraguan terhadapnya serta hal-hal lain
(Anwar, 2007:12).
3. Menurut Abu Syahbah
Sebuah ilmu yang memiliki banyak objek pembahasan yang berhubungan
dengan Al-Quran, mulai proses penurunannya, urutan penulisan, kodifikasi,
cara membaca, penafsiran, kemukjizatan, nasikh-mansukh, muhkam-
mutasyabihat, sampai pembahasan-pembahasan lain. (Anwar, 2007: 12)
4. Menurut Al-Suyuthi
Suatau ilmu yang membahas tentang keadaan Al-Quran dari segi turunya,
sanadnya, adabnya, makna-maknanya baik yang berhubungan dengan lafal-
lafalnya maupun yang berhubungan dengan hokum-hukumnya dan
sebaginya. (Syadali, 1997: 11).

3
Para Mutakallimin menetapkan, bahwa hakikat Al-Quran adalah makna yang
berarti zat Allah. Ulama-ulama Mutazilah berpendapat, bahwa hakikat Al-Quran
adalah huruf-huruf yang dijadikan Allah yang setelah berwujud lalu hilang dan
lenyap. Kata Al-Ghazali dalam Mustashfa: Hakikat Al-Quran adalah kalam yang
berdiri pada zat Allah, suatau sifat yang qadim dari sifat-sifat-Nya, dalam kalam
itu lafaz mustarak, dipergunakan untuk lafaz yang menunjukan pada makna,
sebagaimana untuk makna yang ditunjuk oleh lafaz (Al-Shiddieqy, 1992:10).
Dari definisi-definisi tersebut di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa
Ulumul Quran adalah suatu ilmu yang lengkap dan mencakup semua bidang ilmu
yang ada hubungannya dengan Al-Quran baik berupa ilmu-ilmu agama, seperti
ilmu tafsir, maupun berupa ilmu-ilmu bahasa Arab seperti ilmu irabul Quran,
dan sebagainya.
Ulumul Quran berbeda dengan ilmu yang merupakan cabang dari Ulumul
Quran, misalnya ilmu tafsir yang menitikberatkan pembahasannya pada cara
membaca lafal-lafal Al-Quran khusus dalam Ilmu Tajwid seperti makharijul
huruf, ikhfa, izhar, idhgam, iqlab, madd dan sebagainya, sedangkan Ulumul
Quran membahas Al-Quran dari segala segi yang ada relevansinya dengan Al-
Quran. Artinya semua pembahasan yang berkaitan dengan Al-Quran disebut
Ulumul Quran. Oleh karena itu diberi nama Ulumul Quran dengan bentuk
mufrad (singular)

B. Perkembangan Ulumul Quran


Jika berbicara perkembangan Ulumul Quran, tentu bahasanya sangat luas dan
paling tidak memerlukan referensi yang lengkap. Untuk itu, Penulis
membahasnya pada bagian-bagian yang dianggap terkait langsung dengan
perkembangan Ulumul Quran.
Al-Quran adalah mukjizat Islam yang kekal dan selalu diperkuat oleh
kemauan ilmu pengetahuan. Ia diturunkan Allah kepada Rasulullah, Muhammad
Saw untuk mengeluarkan manusia dari suasana yang gelap menuju yang terang,
serta membimbing mereka ke jalan yang kurus. Rasulullah Saw menyampaikan
Al-Quran kepada para sahabatnya-----orang-orang Arab asli-----sehingga mereka
dapat memahami berdasarkan naluri mereka. Apabila mereka mengalami ketidak

4
jelasan dalam memhami suatu ayat, mereka menanyakan kepada Rasulullah Saw.
(Al-qaththan, tt: 1)
Nabi Saw bagi para sahabat merupakan mahaguru dan sumber ilmu. Hanya
kepada Nabi, mereka menyakan segala sesuatau yang tidak mereka pahami
termasuk makan atau pengertian ayat-ayat Al-Quran. Sebagai ilustrasi, berikut ini
dikemukakan beberapa contoh.
Sahabat bertanya kepada Nabi Saw. Mengenai makna ghairil
magdhubialaihim wa ladhdhallin yang terdapat dalam surah Al-Fatihah, Nabi
Saw menjawab: Al-magdhubi alaihim adalah orang-orang Yahudi sedangkan
Al-dhalllin adalah orang-orang Nasrani.

Setelah turunya surah Al-Anam ayat 82:







Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan
kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu
adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (Al-Anam [6]:82).

Para sahabat bertanya kepada Nabi: Ya Rasulullah, siapa


diantara kami yang tidak menzalimi dirinya Rasul menjawab
dengan menafsirkan kata zhulm (zalim) dalam ayat itu kepada
syirk (menyekutukan Tuhan). Nabi menunjukan kepda ayat
yang terdapat dalam surah Luqman ayat 13, yaitu:


Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang
besar (Luqman [31]: 13).

Abdullah bin umar mengatakan bahwa seorang laki-laki dating


kepada nabi Saw kemudian bertanya tentang makna Al-sabil

5
yang terdapat dalam surah Ali Imran ayat 93. Maka Rasulullah
Saw menjawab, Al-Sabil artinya bekal (Al-Zad) dan kedatangan
(Al-Rihlah) (Kadar M.Yusuf, 2009: 5).
Wahyu Allah kepada nabi-nabi-nya adalah pengetahuan-
pengetahuan yang Allah tuangkan ke dalam jiwa mereka agar
mereka menyampaikan kepada manusia untuk menunjuki
mereka dan memperbaiki mereka di dunia serta mebahagiakan
mereka di akhirat. Nabi, sudah menerima wahyu itu, mempunyai
kepercayaan yang penuh bahwa diterimanya itu adalah dari
Allah.
Manusia sebagai makhluk yang sempurna sekaligus sebagai
makhluk yang memilki banyak permasalahan sangat pantas
mendapat petunjuk beruap Al-Quran untuk dijadikan sebagai
pedoman dalam mengelola dan mengatur alam semesta beserta
isinya
Nabi mengetahui dan memahami semua ayat Al-Quran
Karena Allah telah mengajarkan kepadanya. Allah Swt berfirman:











6
Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah
segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. tetapi mereka
tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat
membahayakanmu sedikitpun kepadamu. dan (juga karena) Allah telah
menurunkan kitab dan Hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa
yang belum kamu ketahui. dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu (An-
Nisaa [4]: 113)

Penjelasan di atas menunjukan bahwa Ulumul Quran mulai


tumbuh semenjak masa Rasulullah Saw. Beliau adalah musafir
awal, tetapi penafsirannya tidak ditulis (secara resmi) oleh para
sahabat. Penafsirannya hanya disampaikan kepada sahabat yang
lain dan tabiin dengan periwayatan dari mulut ke mulut. Ada
beberapa sebab mengapa penafsiran Rsulullah, sebagai bagian
Ulumul Quran, tidak ditulis oleh para sahabat.
1. Ada larangan dari Rasulullah Saw menulis sesuatu selain Al-

Quran, karena dikhawatirkan perhatian para sahabat menjadi


terbagi; tidak sepenuhnya kepada Al-Quran, padahal
penurunan Al-Quran masih berlangsung, atau khawatir
tercampurnya dengan suatu yang bukan Al-Quran
2. Para sahabat tidak merasa perlu menulis sebab mereka
orang-orang yang dhabit, dan jika ada problem mereka akan
langsung bertanya kepada Nabi Saw.
3. Banyak para sahabat yang tidak pandai menulis.
Beberapa periode setelah Rasulullah dapat dijelaskan di
bawah ini.

1. Abad 1 dan II Hijriyahs


Pada masa Nabi, Abu Bakar, dan Umar, Ulumul Quran belum
dibekukan. Namun, dengan merujuk pada definisi Ulumul Quran
sebelunya, sesungguhnya pada masa ini, ia mulai tumbuh dan
berkembang. Selanjutnya pada masa Usman, penulis Al-Quran
diseragamkan untuk menjaga persatuan umat Islam. Yang

7
dilakukan oleh Usman tersebut merupakan rintisan bagi lahirnya
Ilmu Al-Rasm Al-Usmani.
Pada masa berikutnya, Abu Al-Aswad Al-Duali meletakkan
dasar-dasar gramatika Al-Quran (Qawaid Al-Nahwiyyah) atas
perintah khalifah Ali bin Abi Thalib untuk memproteksi
perafalannya. Hal ini karena pada masa ini ekspensi kerajaan
Islam menyebar ke berbagai daerah dan penduduk non-Arab,
sehingga semakin besar yang memeluk Agama Islam. Pada saat
itulah timbul keresahan pada Ali seihingga beliu member
perintah kepada Abu Al-Aswad Al-Duali untuk merusmakan
kaidah grametika bahasa Atab agar Bahasa Al-Quran bisa
dipahami secara sestematis. Masa ini disebut sebagai permulaan
Ilmu Irab Al-Quran (Al-Qaththan, tt: 10)
Pada saat Nabi masih hidup, setiap kali sahabat menanyakan
sesutau ayat, mereka langsung menayakan kepada beliau.
Namun saat Nabi telah wafat, mereka berijtihad dalam memberi
Panafsiran Al-Quran. Selanjutnya para sahabat berpencar
diberbagai Negara dan mereka mempunyai murid di setiap
tempat tinggal mereka yang baru. Gabungan dari tiga sumber di
atas, yaitu penafsiran Nabi, penafsiran sahabat, dan penafsiran
tabiin dikelompokkan menjadi satu kelompok yang dinamai
Tafsir Al-Matsur. Masa ini dapat dijadikan periode pertama dari
perkembangan Ilmu Tafsir Al-Quran (Quraish Shihab, 2007: 106).

Abad ke-2 Hijriyah dikenal senbai masa pembukuan (Ashr Al-


Tadwin) khususnya dalam pembukuan Hadis dengan beragan
babnya. Pada masa ini juag terdapat pembukuan pada tafsir Al-
Quran (bi Al-mathur) baik rujuakan dari Rasul, sabahat maupun
para tabiin. para pelopor tafsir yang dikenal pada masa ini
adalah Yzid bin Harun Al-Salami (w.117 H), Syubah bin Al-Hajjaj
(w. 160 H), Waki bin Al-Jirah (w.197 H), Sufyan bin Uyainah (w.
197 H), Abd Al-Razzaq bin Himam (w. 211 H) mereka semua

8
termasuk juga dalam jajaran ulama Hadis. Mereka menghipun
tafsir dengan menukil pendapat dari kalangan sahabat dan
tabiin. Namun, tidak ada satu pun dari tulisan mereka yang kita
dapati saat ini (al-Qaththan, tt: 12). Setalah masa ini, beberapa
ulama mulai menulis beberapa kitab tafsir, salah satunya yang
terkenal sehingga saat ini adalah Ibn Jarir Al-Thabariy (w. 310 H).

Demikianlah proses tersebut berjalan. Awalnya Al-Quran


didapat dengan metode naqliyyah dengan cara talaqqi dan
periwayatan. Berlanjut pada penulisan tafsir berdasarkan bab-
bab kitab Hadis, kemudian penafsiran tersebut berdiri dengan
caranya sendir. Bermula dari tafsir Al-Matsur disusul tafsir bi Al-
ray (logika)

2.Abad III dan IV Hijriyah


Beberapa cabang Ulumul Quran pada abad ini mulai bertambah.
Beberapa diantaranya adalah sebagaimana berikut.
a. Ilmu Asbab Al-Nuzul yang disusun oleh Ali ibn Al-Madiniy
(w.234 H)
b. Ilmu Al-Nasikh wa Al-Mansukh dan Ilmu Al-Qiraat yang
disusun oleh Abu Ubaid ibn Salam (w. 224 H).
c. Ilmu Al-Makki wa Al-Madini yang disusun oleh Muhammad ibn
Ayyub Al-Dhirris (w. 294 H).
d. Ilmu Gharin Al-Quran yang disusun oleh Abu Bakar Al-Sijitsani
(w. 330 H).

Selain itu, terdapat beberapa ulama yang menyusun beberapa


kitab seputar Ulumul quran, seperti :
a. Muhammad ibn Khalaf Al-Marzuban (w. 309 H) yang
menyusun kitab Al-Hawi fi Ulum AL-Quran sebanyak 27 juz.
b. Abu Bakar Muhammad ibn Qosim Al-Anbari (w. 328 H) yang
menyusun kitab Aja ibu Ulum Al-Quran. Kitab ini berisi
penjelasan mengenai tujuh huruf (bentuk), tentang penulisan
mushaf, jumlah bilangan surah, ayat dan kata-kata dalam Al-
Quran.

9
c. Abu Hasan Al-Asyiariy (w. 324 H) yang menyusun kitab Al-
Mukhtazan fi Ulum Al-Quran.
d. Abu Muhammad Al-Qassab Muhammad ibn Ali Al-Karakhi (w.
360 H) yang menyusun kitab Nakat Al-Quran Al-Daallah ala
Al-Bayan fi AnwaI Al-Ulum wa Al-Ahkam Al-Munbiah an
Ikhtilafi Al-Anam.
e. Muhammad ibn Ali Al-Adwafi (w. 388 H) menyusun kitab Al-
Istighna fi Ulum Al-Quran sebanyak 20 jilid (Masjfuk Zuhdi,
1980: 28-29).

3. Abad V dan VI Hijriyah


Pada masa ini cabang Ulumul Quran semakin bertambah,
terutama dengan munculnya Ilmu Irab Al-Quran dan Ilmu
Mubhamat Al-Quran. Adpun Ulama yang berjasa dalam
perkembangan Ulumul Quran pada masa ini adalah sebagai
berikut :
a. Ali ibn Ibrahim nin Saad Al-Hufi (w.430 H). Selain memelopori
Ilmu Iran Al-Quran, dia juga menyusun kitab Al-Buhram fi
Ulum Al-Quran yang terdiri dari 30 jilid. Kitan ini selain
menafsirkan Al-Quran seluruhnya juga menerangkan ilmu-
ilmu AL-Quran yang berhubungan dengan ayat-ayat Al-Quran
yang ditafsirkan. Karena itu dalam kitab ini, Ulumul Quran
diuraikan secara terpencar, tidak terkumpul dalam urutan
bab, atau bisa disebut tidak tersusun sitematis. Meskipun
demikian, katab ini adalah karya besar seorang ulama yang
telah merintis penulisan kitab yentang, Ulumul Quran yang
lengkap.
b. Abu Amr Al-Dani (w. 444 H) yang menyusun kitab Al-Taysir fi
Qiraat Al-SabI dan kitab Al-Muhkam fi Al-Nuqat.
c. Abu Al-Qashim ibn Abdirrahman Al-Suhaili (w. 581) yang
menyusun kitab tentang Mubhamat Al-quran (menjelaskan
maksud kata-kata dalam Al-Quran yang tidak jelas apa atau
siapa yang dimaksud)

10
d. Ibn Al-Jauzi (w.597 H) menyusun kitab Funun Afnan fi Ajaib
Al-Quran dan Al-Mujtaba fi Ulum Tataallaq bi Al-Quran
(Musjfuk Zuhdi, 1980: 28-29).

4. Abad VII dan VIII Hijriyah


Pada masa ini Ulumul Quran mempunyai cabang baru, yaitu
Ilmu Majaz Al-Quran dan tersusun pula Ilmu Al-Qiraat. Berikut ini
merupakan cabang-cabang Ulumul Quran yang muncul dan
berkembang pada masa ini:
a. Ilmu Majaz Al-Quran yang dipelopori oleh Ibn abd Salam yang
terkenal dengan nama Al-Izz (w. 660 H)
b. Ilmu BadaI Al-Quran yang disusun oleh Ibn Abi Al-Isba. Kitab
tersebut membahas tentang kaidah bahasa dan kandungan
AL-Quran.
c. Ilmu Aqsam Al-Quran yang disusun oleh Ibn Al-Qayyim (w.
752 H). ilmu tersebut membahas tentang sumpah-sumpah
yang terdapat dalam Al-Quran.
d. Ilmu Hujjaj Al-Quran atau Ilmu Jadal Al-Quran ( ilmu yang
membahas tentang bukti-bukti yang dipakai oleh Al-Quran
untuk menetapkan sesuatau) yang dipelopori oleh Najm AL-
Din Al-Thufi (w. 761 H).
e. Ilmu Amstal Al-Quran (ilmu yang membahas tentang
perumpamaan perumpamaan yang terdapat dalam Al-Quran)
yang dipelopori oleh Abu Hasan Al-Mawardi.
f. Ilmu Al-Qiraat yang disusun oleh Alamudin Al-Sakhawi (w.
643 H) dalam kitabnya Jamal Al-Quran wa Kamal Al-Iqra.

Selaian itu, terdapat juga beberapa ulama yang menyusun


kitab-kitab seputat Ulumul Quran pada masa ini, yaitu:
a. Badrudin Al-Zarkasyi (w. 794 H) yang menyusun kitab Al-
Burhan fi Ulum Al-Quran.
b. Abu Syamah (w.655 H) menyusun kitab Al-Mursyid Al-Wajiz fi
ma Yataallaq bi Al-Quran.

5. Abad IX dan X Hijriyah

11
Pada abad ke IX dan permulaan abad X, karangan yang ditulis
para ulama tentang Ulumul Quran semakin banyak. Masa ini
merupakan masa produktif dalam penulisan diskursus Ulumul
Quran dan merupakan puncak kesempurnaan masa penulisan.
Jalaludin Al-Bulqini menyusun kitab Mawaqi Al-Ulum min Al-
Mawaqi Al-Nujum. Al-Suyuthi memandang Al-Bulqini sebagai
ulama yang mempelopori penyususn kitan Ulumul Quran yang
lengkap, sebab di dalamnya telah tersusun 50 macam ilmu-ilmu
Al-Quran.
Muhammad ibn Sulaiman Al-Kafiyaji (w. 879 H) menyusun
kitab Al-Taisiri fi Qawa;id Tafsir.
Al-Suyuthiy (w. 911 H) mneyusun kitab Al-Tahbir fi Ulum Al-
Tafsir. Penyususnan kitab ini selesai pada tahun 872 H dan
merupakan kitab tentang Ulumul Quran yang paling lengkap
karena memuat 102 mavam ilmu Quran. Namun Al-Suyuthiy
masih belum puas atas karya ilmiah tersebut sehingga kemudia
ia menyusun kitab Al-Itqan fi Ulum Al-Quran yang membahas
sejumlah 80 macam ilmu Al-Quran.
Setelah Al-Suyuthiy wafat pada tahun 911 H, perkembangan
ilmu-ilmu Al-Quran seolah-olah telah mencapai puncaknya dan
berhenti. Stagnasi ini terus berlanjut hingga akhir Abad XII H
(Masjfuk Zuhdi, 1980:30).

6. Abad XIV Hijriyah


Setelah memasuki abad XIV H ini, penulis diskursus Ulumul
Quran dengan berbagai cabang ilmunya mulai berkembang
kembali, antara ialin:
Muhammad Abdul Adhim Al-Zarqaniy yang menyusun kitab

Munahil Al-Irfan ulum Al-Quran


Thanthawi Al-JAuhari yang mengarang kitab Al-Jawahir fi Tafsir
Al-Quran dan kitab Al-Quran wa Ulum Al-Ashriyyah.
Mustafa Al-Maraghi yang menyusun risalah tentang Boleh
menerjemahkan Al-Quran.

12
Sayyid Quthb yang mengarang kitab Al-Tashwir Al-Fann fi Al-
Quran dan Fi Zhilal Al-Quran
Muhammad Rasyid Ridha yang mengarang kitab Tafsir Al-
Quran Al-Hakim. Kitab ini menafsirkan Al-Quran secara ilmiah
dan juga membahas Ulumul Quran.
Muhammad Al-Ghazali yang mengarang kitab Nadzratun fi Al-
Quran.
Dr. subhi AL-Shalih yang mengarang kitab Mabahits fi Ulum
Al-Quran (Masjfuk Zuhdi, 1980: 31)
Dari semua uraian di atas, bis akita simpulkan bahwa kali
pertama istilah Ulumul Quran digunakan dan dirintis oleh Ibn Al-
Marzuban (309 H) pada abad ke III. Dilanjutkan oleh Ali Ibn
Ibrahim Ibn Said Al-Hufi (430 H) pada abad ke V. kemudian
dikembangkan oleh Ibn Al-Jauzi (597 H) pada abad ke VI dan
ditruskan oleh Al-Shakawi (643 H) pada abad ke VII. Selanjutnya
disempurnakan oleh Al-Zarkasyi (794 H) pada abad ke VIII dan
ditingkatkan lagi oleh Al-Bulqini (824 H) dan Al-Kafiyaji (879 H)
hingga akhirnya disempurnakan lagi oleh Al-Suyuthiy pada akhir
abad IX dan awal abad XIII H.

C. Tema dan Ruang Lingkup Ulumul Quran


Pembahasan Ulumul Quran memang banyak, tetapi kita dapat memberikan
klasifikasi berdasarkan tema-temanya.
Pertama, pembahasan-pembahasan yang berpautan dengan Nuzul Al-Quran,
yaitu:
a. Auqat Al-Nuzul wa Mawathin Al-Nuzul
Tema ini berkenaan dengan ayat-ayat yang diturunkan di Mekah yang dinamai
ayat Makkiyah, ayat-ayat yang diturunkan dikala Nabi berada di kampong
atau disebut Hadlariyah, ayat-ayat yang diturunkan di dalam safar dinamai
Safariyah, ayat-ayat yang diturunkan pada siang hari dinamai Nahriyah, ayat-
ayat yang diturunkan pada malam hari yang dinamai Lailiyah.
b. Asbabun nuzul
Tema ini berkenaan dengan sebab-sebab turunya Al-Quran.
c. Tarikhun Nuzul

13
Tema ini berkenaan dengan ayat yang mula-mula diturunkan dalam kaitan
waktu, yang berulang-ulang diturunkannya, yang terakhir hukumnya dari
turunnya, yang turun tidak berurutan, yang turun dalam kesatuan, dan lain-
lain.
Kedua, pembahasan masalah sanad. Hal ini berhubungan dengan enam macam
persoalan, yakni yang mutawatir, ahad, syadz, beragam qiraat Nabi, para perawi
dan huffazh, kaifiyat Al-tahammul (cara penerimaan riwayat).
Ketiga, masalah bacaan (tata cara membaca) yaitu soal waqaf, ibtida, imalah,
madd, men-tafkhfif-kan (meringankan bacaan) hamzah, idgam, dan lain-lain.
Keempat, masalah pembahasan lafaz. Hal ini berkaitan dengan beberapa soal,
yaitu gharib, murab, majaz, musytarak, mutaradif, istiarah, dan tasyibih.
Kelima, masalah makna-makna Al-Quran yang berpautan dengan hukum seperti
masalah lafaz am yang ditetapkan dalam keumumanya, am yang dimaksudkan
khusus, am yang dikhususkan dengan sunnah, am dikhususkan sunnah, nash
yang zhahir, mujmal, mufashshal, manthuq, mafhum, muthlaq, muqayyad,
muhkam, mutasyabih, musykil, nasikh dan mansukh, miqaddam, muakhkhar dan
lain-lain.
Keenam, masalah makna-makna Al-Quran yang berpautan dengan lafaz, yaitu
fashl dan washl, ijaz ithnab, musawah dan qashr (Ash-Shiddieqy, 1997:96-97)
Sebagai mana terbaginya Uluml Quran dalam dua ranah, secara umum
pembahasan Ulumul Quran juga terbagi ke dalam dua ilmu, pertam, Ilmu Al-
Riwayah sebagai ilmu yang diperoleh melalui jalan riwayat atau naql. Artinya
dengan cara menceritakan kembali atau mengutip. Misalnya pengetahuan tentang
macam-macam bacaan (Al-Qiraat), tempat turunya ayat, waktu dan sebab-
sebabnya. Kedua, Ilmu Diriyah, sebagai ilmu yang diperoleh dengan jalan
pembahasan dan penelitian. Misalnya pengetahuan tentang lafaz-lafaz yang
gharib (asing), ayat Al-nasikh dan Al-mansukh dan lain-lain.
Ruang lingkup ulumul Quran dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: Dirasah Ma fi
Al-Quran, sebagai kajian yang dilakuan berkenaan dengan materi-materi yang
terdapat dalam Al-Quran seperti tafsir Al-Quran; Dirasah Ma Haula Al-Quran,
sebagai kajian yang dilakukan berkenaan dengan materi-materi seputar Al-Quran
tetapi lingkupnya di luar materi dalam seperti kajian mengenai Asbab Al-Nuzul;

14
dan Living Quran, sebagai kajian mengenai penerapan dan aplikasi Al-Quran pada
masyarakat.

DI BUAT OLEH : NADIA NOVIANA

NPM : 1502090172

PRODI : HUKUM EKONOMI SYARIAH

MATA KULIAH : ULUMUL QURAN

BAB 2
Makna dan Nama Lain Al-Quran

A. Makna Al-Quran
Bila seseorang mendengar kata Al-Quran atau Quran disebut, ia segera
mengetahui bahwa yang dimaksud adalah kalam Allah atau kalamullah
subhanahu wa taala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.;
membacanya ibadah, susunan kata dan isinya merupakan mukjizat, termaktub di
dalam mushaf dan dinukil secara mutawatir.
Predikat kalam Allah untuk Al-Quran ini bukan dating dari Nabi Muhammad.
Apalagi dari sahabat atau siapa pun. Akan tetapi, dari Allah. Dialah yang
memberikan nama kiab suci agama Islam ini Quran atau Al-Quran sejak ayat
pertamanya turun, yaitu


bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, (Al-Alaq
[9]:1)

15
Pada surah lain yang terbilang pertama diturunkan, Allah juga
telah memperkenalkan, bahwa kitab suci agama ini bernama Al-
Quran. Firman Allah:






Hai orang yang berselimut , bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari,
kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua
itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan tartil.
(QS Al-Muzammil [73]:1-4)

Setalah ayat di atas, pemebrian nama Al-Quran untuk kitab


suci Islam ini berulang-ulang dikemukakan di dalam berbagai
surah. Jumlahnya mencapai sekitar 68 kali. Di antaranya dalam
surah; Al-Baqarah, ayat 185; Al-Nisa. Ayat 82; Al-Maidah, ayat
101; Al-Anam, ayat 19; dan Al-Aaraf, ayat 204.
Mengapa kitab suci ini dinamai Al-Quran? Imam Al-SyafiI tidak
merasa perlu mengupas asal-usul pemberian nama ini, karena
Allah memang member demikian. Sama saja dengan kita Allah
member nama Taurat dan Injil untuk kitab suci yang ditutnkan
kepada Nabi Musa dan Isa.
Akan tetapi, ada ulam-ulama yang berusaha menggali asal-
usul nama Al-Quran ini. Al-Quran, kata mereka, bisa jadi berasal
dari kata yang berarti ( pengeumpulan), dan
( penggabungan). Kata-kata, ayat-ayat, dan surah-surah yang terdapat
dalam Al-Quran memang bergabung saling mendukung membawa pesan yang
sama. Atas dasar itu, orang boleh saja menyebut kitab suci ini ( Quran),
yang ditulis tanpa huruf hamzah setelah huruf ra-nya.

16
Pendapat yang dikemukakan di atas dinilai tidak kuat (dhaif) oleh Dr. Abdu
Al-Munim Al-Namr. Al-Zarqasyi di dalam kitab Al-Burhan fi Ulum Al-Quran
menurunkan pendapat yang mengatakan Al-Quran diambil dari kata ( Al-
Qaryu) yang berarti ( Al-Jamu) atau kumpulan. Pengertian ini diangkat
dari kebiasaan orang Arab yang biasa mengucapkan kalimat

( Aku mengumpulkan air dalam kolam). Alasannya,
menurut Al-Raghib, karena Al-Quran merupakan kumpulan kitab-kitab yang
diturunkan sebelumnya. Alasan lainnya, karena Allah menghimpun berbagai
macam ilmu. Ini sejalan dengan keterangan Allah di dalam surah Al-Anam ayat
38 yang mengatakan.. .. ( Kami tidak
mengapalkan sesuatupun di dalam Al-Kitab).
Pendapat ini disebut belakang ini dibantah oleh kalangan yang
oleh Al-Zarqasyi disebut mutaakhkhirin. Yang lebih tepat dalam
pandangan generasi yang datang belakangan ini, kata Quran
berasal dari kata ( qaraa) yang berarti dan yang
tampak, jelas atau gamblang,. Alasanya, karena jika orang
membaca Al-Quran, berarti ia menampakan dan mengeluarkan
Al-Quran.
Al-Qurthubiy berpendapat lain. Menurut ahli tafsir dan sejarah
ini, kitab suci agama Islam harus disebit Quran (tanpa hamzah)
karena diangkat dari kata qarain yang berarti mitra.
Alasannya, satu ayat dan ayat lainnya adalah mitra yang saling
mendukung dan saling membenarkan.
Menanggapi huruf hamzah yang dibuang Al Qurthubiy, Al-
Wahidiy membantah. Dibuangnya hamzah dari bukan karena
kata itu berasal dari kata qarain, tetapi sekadar takhfif, atau
meringankan dalam mengucap.
Dr. Abdu Al-Munim Al-Namr dari Mesir sepakat dengan Dr. TM.
Habsi Ash-Shiddieq dari Indonesia. Kedua ulama ini berpendapat
dalam pengertian lah yng tersa lebih tepat. Al-Quran, kata

mereka, adalah mashdar yang mempunyai makna isim maful.


Dengan demikian Al-Quran berarti ( yang dibaca). Di dalam

17
Al-Quran sendiri terdapat beberapa ayat yang mendukung
pengertian ini. Misalnya ayat yang berbunyi:


Jika Kami telah usai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. (QS Al-
Qiyamah[20]: 18)

Ayat lainnya berbunyi:





Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum
disempurnakan mewahyukannya kepadamu (QS Thaha [20]: 114).

Maksudnya, jaganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Quran,


hai Muhammad, sebelum Jibril usai membacakan Al-Quran
kepadamu.

B. Nama- Nama Lain Al-Quran


Al-Qadhi Abu Al-Maaliy Aziziy bin Abdu Al-Malik, seperti dikutib
Al-Zarkasyi di dalam Burhan (jilid 1. Hlm.273) mengatakan bahwa
Al-Quran memiliki 55 buah nama. Untuk mendukung
pendapatnya ini, Ibnu Abd Al-Malik menggunakan ayat-ayat Al-
Quran. Di antaranya
1. Kitab (Ad-Dukhan, ayat 1 dan 2)
2. Quran (Al-Waqiah, ayat 77)
3. Kalam (At-Taubah, ayat 6)
4. Nur (An-Nisa, ayat 174)
5. Hudan (Luqman, ayat 3)
6. Rahmah (Yunus, 58)
7. Furqan (Al-Furqan, ayat 1)
8. Syifa (Al-Isra, ayat 82)
9. Mauizhah (Yunus, ayat 57)
10. Dzikra (Al-Anbiya, ayat 50)
11. Karim (Al-Waqiah, ayat 77)
12. Ali (Al-Zukhruf, ayat 41)
13. Hikmah (Al-Qamar, ayat 5)
14. Hakim (Yunus, ayat 1 dan 2)
15. Muhaymin (Al-Maidah, ayat 48)

18
16. Mibaraq (Shad, ayat 29)
17. Habl (Ali Imran, ayat 103)
18. Shirath (Al-Anam, ayat 153)
19. Al-Qayyim (Al-Kahfi, ayat 1 dan 2)
20. Fadhla (At-Thariq, ayat 13)

Nama-nama Al-Quran yang disodorkan Ibnu Abd Al-Malik


memang bermakna bagus, akan tetapi terkesan dipaksakan.
Ambilah missal Rahmah. Ibn abd Al-Malik mengambil kataini
untuk Al-Quran dari sebuah ayat Al-Quran juga. Logikanya yaitu
karena orang yang memahaminya mendapat rahmat, sedangkan
ayat yang dijadikan dalilnya adalah surah Yunus ayat 58, yang
berbunyi:



Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu
mereka bergembira.(QS Yunus [10]: 58)

Rahmat Allah memang sesuatu yang diharapkan oleh semua


orang yang beriman, tetapi rahmat bukanlah nama kitab suci
kaum Muslimin, atau nama lain dari Al-Quran. Sebutan yang
terasa relevan, lebih mengena untuk nama lain dari Al-Quran
adalah sebagai berikut.
1. Al-Kitab. Dinamakan Kitab karena ayat-ayat Al-Quran tertulis
dalam bentuk kitab. Dalinnya :



Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertaqwa.(QS Al-Baqarah[2]:2),

19


Suatu kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar kamu
membebaskan dari kegelapan kepada cahaya terang benderang .(QS
Ibrahim [14]: 1)

Menurut pengertian yang dapat ditangkap dari beberapa ayat


Al-Quran yang lainya (misalnya Surah Al-Furqan ayat 35 dan
Maryam, ayat 30) Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa
dan Injil utnuk Nabi Isa, juga disebut Al-Kitab. Dan Penganut
agama yang memegang kedua kitab ini di sebut Ahl Al-Kitab.
Firman Allah:




Katakanlah: "Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat
(ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kalian.. (Ali-
Imran [3]: 64)

Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpilan bahwa


semua kitab suci yang diturunkan oleh Allah kepada nabi-Nya
disebut Kitab atau Al-Kitab.

2. Al-Furqan yang berarti pembeda. Artinya Al-Quran


menjelaskan antara yang hak dan yang batil, antara yang
benar dan yang salah, dan antara yang baik dan yang buruk.
Dalil kepada firman Allah yang berbunyi:



20
Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada
hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (QS
Al-furqan [25]:1)

Seperti halnya kitab dipakai untuk sebutan semua kitan suci


yang diturunkan Allah, Al-furqan pun demikian. Sebab Al-
Furqan diturunkan pula kepada Nabi Musa dan Harun. Mari
kita simak ayat berikut ini:


dan Sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun Al-
Furqan.. (QS AL-Anbiya [21]: 48)
3. Al-Dzikr. Disebut Al-Dzir yang berarti peringatan karena
menurut Al-Zrakasyi, Al-Quran mengandung peringatan-
peringatan, nasihat-nasihat, serta informasi mengenai umat
yang telah lalu yang tentu saja sebagai peringatan dan
nasihat bagi orang yang bertakwa. Ayat Al-Quran yang
menunjuk di dalam Surah Ali Imran, Al-Hijr, dan Al-Nahl.
Misalnya ayat yang berbunyi:



Dan mereka berkata: "Hai orang yang diturunkan kepadanya Al-Dzikir,
(QS Al-Hijr [15]:6)





dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu(Muhammad) Al-Dzikr
agar kamu menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada
mereka (QS Al-Nahl [16]: 44)

21
4. Al-Mushaf, Allah menyebut suhuf untuk kitab-kitab yang
diturunkan kepada Nabi Ibrahim dan Musa. Mari kita simak
ayat berikut ini:



Sesungguhnya ini terdapat di dalam suhuf yang terdahulu (yaitu) suhuf
Ibrahim dan Musa (QS Al-Ala [87]; 18-19)

Pada zaman Rasulullah Saw. Para sahabat menulis Al-Quran


pada kayu,batu, kulit dan pelepah kurma. Benda-benda yang
telah ditulisi dengan ayat-ayat Al-Quran itu disebut suhuf.
Setelah suhuf-suhuf itu dikumpulkan dan digabung menjadi
satu, maka para sahabt menyebutnya Mushaf. Misalnya
Mushaf Ali dan Mushaf Abdullah bin Masud.
Sebuah Mushaf menjadi semakin popular setalah Utsman bin
Affan membentuk panitia penghimpunan ayat-ayat Al-Quran
dan medistribusikan mushaf-mushaf salinan Panitia Empat itu
ke beberapa wilayah kekuasaan Islam. Sejak itu, pengertian
Al-Mushaf berkembang menjadi sebuah nama yang member
identitas pada Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad, tertulis di dalam lembaran-lembaran,
membacanya merupakan ibadah, susunan kata dan isinya
mukjizat, dinukil sacara mutawatir, dimulai deengan surah Al-
Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Nas. Al-Quran inilah
yang akan dibahas dalam kesempatan-kesempatan
berikutnya, insya Allah.

22
DI BUAT OLEH : ALYA LARAS JAYANTI

NPM : 1502090112

PRODI : HUKUM EKONOMI SYARIAH

MATA KULIAH : ULUMUL QURAN

BAB III

ROSULULLOH MENERIMA WAHYU

A. Cara turun nya wahyu


Allah swt. Berfirman di dalam surat Asy-syura ayat 51 sebagai berikut :








Dan tidak (terdapat) bagi seseorang manusia bahwa allah bercakap-
cakap kepadanya kecuali dengan wahyu,atau dari balik hijab, atau dia
mengirim utusan lalu mewahyukan dengan izin-nya (Qs. Asy-Syura
42:51)

23
Menurut ayat ini, untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya, allah
berkomunikasi dengan manusia melalui tiga cara. Pertama, melalui wahyu. Jika
disimak dari ayat al-quran menyangkut wahyu, akan di dapati beberapa
pengertian, sebagai berikut

1. Isyarat

Pengertian seperti ini bisa disimak pada surah maryam ayat 11. Ayat tersebut
mengisahkan Nabi Zakariya yang banyak menghabiskan waktunya di mihrab
untuk beribadah. Suatu saat, Zakariya keluar dari mihrab tempat ia bias beribaah.
Lalu, menurut ayat itu, Zakariya mewahyukan kepada kaumnya agar mereka
bertasbih di waktu pagi dan petang. Jelasnya, ada pada ayat ini berbunyi sebagai
berikut.







Maka ia (Zakariya)keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu
member isyarat kepada mereka, hendaklah kamu bertasbih di
waktu pagi dan petang. (QS. Maryam 19:11)

Kata awha ( )pada ayat di atas oleh para pakar Ulum Al-Quran
seperti Prof. Dr. Abdu Al-Munim Al-Namr tidak diartikan memberi wahyu,
tetapi memberi isyarat. Tidak mungkin Nabi Zakariya memberi wahyu
sebagaimana Allah Swt.

2. Bisikan

24
Janggal, bahkan tidak tepat, bila dikatakan setan memberi wahyu. Oleh karena
itu, di dalam surah Al-Anam Allah menggunakan kata yuhi()
untuk setan berbentuk jin dan setan berbentuk manusia.

Lihatlah ayat tersebut :

Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan- setan
(dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin sebagian mereka membisikan kepada
sebagian yang lain perkataan yang indah-indah untuk menipu. (QS. Al-anam
6:112)

3. Ilam (member insting)

Wahyu dalam pengertian ini dapat ditemui di dalam Al-Quran surah Al-Nahl
ayat 68. Dalam ayat tersebut, Allah Swt. Berfirman:

25
Dan tuhanmu memberi insting kepada lebah agar ia membuat rumah dari
gunung. (Qs. Al-Nahl 16:68)

Sangat tidak mungkin bila dikatakan lebah menerima wahyu seperti halnya
Nabi Muhamad Saw., yang menerima wahyu dari Allah melalui Jibril.Kalau
dalam kehidupannya binatang yang bernama lebah mengambil tanah dari gunung
untuk dijadikan tempat tinggal, itu karena insting yang diberikan Allah
kepadanya. Itulah sebabnya, tidak tepat bila kata awha ( )pada ayat di artikan
mewahyukan. Jelas, kata awha di situ di artikan member insting.

4. Ilham

Di dalam surah Al-Qashash ayat 7, allah berfirman :

Dan kami telah mengilhamkan kepada ibu Musa agar menyusuinya. (Qs. Al-
Qashash 28:7)

Kemudian pada surah lain Allah swt. Berfirman :

26

Dan kami sungguh telah mengaruniaimu pada kesempatan yang lain.


Tatkala kami memberi ilham kepada ibumu sesuatu yang diilhamkan. Yaitu (agar)
letakkanlah dia di peti dan lemparkanlah dia ke pantai (Qs. Thaha [20]:37-39)

Kata Kami telah mengilhamkan dan Kami memberi ilham pada


terjemahan surah Al-Qoshsh ayat 7 dan surah thaha ayat 38, adalah terjemahan
dari kata auhayna ( ).kata auhayna pada kedua ayat diatas
tidaklah mungkin secara istilah diartikan Kami telah memberi wahyu, karena
manusia biasa seperti ibunya Musa tidak menerima wahyu.

Kedua,cara lain Allah berkomunikasi dengan manusia (menurut surah Al-


Asyura ayat 51) dari balik hijab. Maksudnya, Allah swt.Berkomunikasi langsung
kepada para Nabi-nya tanpa perantara seperti yang terjadi ketika Rasulloh
Saw.Mengalami peristiwa Isra miraj.

Ketiga,dengan mengirim utusan. Cara inilah yang sering terjadi, di mana


Allah mengutus malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu kepada para nabi.

Pertanyaan yang timbul sekarang adalah : bagaimanakah jibril, sang


utusan Allah Swt., berhubungan dengan nabi untuk menyampaikan pesan yang di
sebut wahyu itu? Dan bagaimana Rasulullah Saw. Menerima Jibril alaihi Al-
Salam?

Di dalam hadis mengenai turunnya wahyu Al-Quran pertama yang


diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan muslim, dari Aisyah, disebutkan bahwa ketika
Rasulullah. Taabud

(Mengisolasi diri untuk beribadah), beliau didatangi sesuatu.Pada riwayat ini


tidak disebutkan sosok jibril. Akan tetapi, pada hadis lain dari Abu Hurairah yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan bahwa komunikasi antara Jibril dan

27
Rasulullah saw. Berlangsung dalam suasana biasa, tak ubahnya hubungan sesama
manusia.

Menurut riwayat itu, ketika Rasulullah tengah berkumpul bersama kaum


muslimin, tiba-tiba beliau kedatangan seseorang. Tamu itu, menurut riwayat
muslim, mengenakan pakaian berwarna putih bersih dan berambut hitam legam.
Melihat penampilanya, tak ada kesan bahwa orang itu dating dari
jauh.Anehnya tak seorangpun sahabat Rasulullah tahu siapa gerangan orang yang
baru dating itu.Sang tamu, masih menurut riwayat Muslim dan Abu Hurairah,
langsung duduk berhadapan dengan Nabi Muhammad Saw.Dan meletakkan
tangan nya di atas paha Rasulullah. Kemudian ia bertanya kepada Rasuullah Hai
Muhammad, beritahulah aku, apa itu iman? setelah Rasulullah menyebutkan satu
per satu rukun iman, ia kembali bertanya :Apa itu Islam? lagi lagi Rasululah
menjawab pertanyaanya. Selanjutnya tamu itu bertanya tentang ihsan,dan Rasul
pun menjawabnya lagi. Ketika tamu itu bertanya kapan datangnya hari kiamat,
Rasulullah menjawab: Yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang
bertanya.Setelah tamu itu pergi, Rasulullah menceritakan kepada para sahabat,
bahwa yang baru saja dating itu adalah jibril.Ia dating untuk mengajarkan
manusia urusan agama mereka,kata Rasulullah kepada hadirin yang
menyaksikan peristiwa unik itu.

Ketika menjelaskan hadis dari Abu Hurairah yang diriwayatkan muslim di


atas, Prof.Dr.Musa Syahin Lasyin menurunkan beberapa cara jibril berhubungan
dengan Rasulullah di samping cara yang di kemukakan hadis di atas. Terkadang
Jibril datang seperti bunyi lonceng tanpa bias dilihat bentuknya. Kadang-kadang
pula, ia datang dalam bentuk Dhiyah Al-Kilabiy, seorang sahabat yang mahsyur
kegantengannya.(lihat Fathu Al-mumin; syarh shahih muslim,jilid1,hlm.33dan
34)

Dalam bentuk seperti di atas Jibril menyampaikan wahyu sesuai yang ia


terima dari Allah Swt. Karena seperti kata Al-Quran,seseorang utusan hanya

28
berkewajiban menyampaikan,dan Rasul sendiri mengakui,bahwa ia hanya
mengikuti apa yang di wahyukan :

Aku tidak mengikuti, kecuali yang di wahyukan kepadaku. (Qs. Al-Anam[6]:50)

Jadi tidak beralasan bila dikatakan bahwa Jibril hanya menerima makna
Al-Quran untuk di sampaikan kepada Rasulullah Saw.Dan bukan kalimat-
kalimatnya seperti pendapat sebagian orang.Mereka mengatakan bahwa jibril
hanya menyampaikan makna Al-Quran.

Dalil yang mereka pegang adalah ayat yang berbunyi :

Ruh Al-amin (jibril) turun dengan (membawa)nya di atas hatimu agar kamu
menjadi salah seorang di antara orang-orang yang member peringatan.(Qs. As-
syuara[26]:193-194)

Ayat ini, kata mereka, menunjukan bahwa yang disampaikan Jibril


hanyalah makna Al-Quran. Jika saja mata mereka digerakkan sedikit untuk
memandang ayat selanjutnya, maka mereka akan tahu kalimat berikut yang
berbunyi :

29
..dengan bahasa arab yang jelas. (Qs. As-syuara, ayat 195)

Kalau di katakana bahasa, tentu berupa lafaz dan kalimat yang bias di
ucapkan.

B. Ayat-ayat yang pertama dan terahir turun

Mungkin saja timbul pertanyaan : Apakah kegunaan mengetahui ayat mana


yang lebih dahulu turun di banding ayat lainya? Pertanyaan seperti ini memang
bias saja timbul terutama dari orang yang awam terhadap hakikat Al-Quran.
Untuk menjawab pertanyaan di atas,ada baiknya apa yang ditulis oleh Syekh
Muhamad Abd Al-Azhim Al-Zarqaniy. Penulis kitab Manahil Al-Irfanini melihat
sedikitnya ada tiga faedah yang dapat di petik dari mengetahui hal seperti ini,yaitu
sebagai berikut.
I. Untuk membedakan ayat mana yang nasikh dan mana yang
mansukh. Jika terdapat dua atau beberapa ayat berbeda mengenai
sebuah masalah, maka dengan mengetahui ayat yang mana turun
lebih dahulu dan belakangan,dapat di ketahui mana yang nasikh dan
mana yang mansukh.
II. Untuk mengetahui tarikh tasyri. Artinya, perjalanan sejarah
penetapan hukum Islam dapat di tangkap secara lebih jelas dengan
mengetahui hal ini.
III. Untuk dapat mengikuti secara pasti perjalanan turunnya Al-Quran
yang berangsur-angsur itu. Dengan demikian, bias di tangkap
strategi dakwah islam Islam di dalam mengajak orang kepada jalan
Allah swt.

Mengenai ayat yang pertama turun, Al-Bukhari meriwayatkan dua buah


hadis yang berbeda. Salah satunya mengatakan bahwa ayat yang pertama turun
adalah lima ayat pertama surat Al-Alaq.

30







Bacalah dengan nama Tuhan mu yang telah menciptakan.


Dia menciptakan manusia dari alaq(darah yang kental yang menempel pada
dinding rahim)
Bacalah, dan tuhan mu mahamulia. (Dia)yang telah mengajarkan dengan pena.
Dia mengajarkan manusia apa yang belum diketahui (nya). Qs Al-Alaq [96]:1-5

Hadis riwayat Al-Bukhari yang bersumber dari Aisyah ini dinyatakan


sahih oleh dua tokoh hadis lain, yaitu oleh Al-Hakim dalam Al-mutadraknya dan
oleh Al-Baihaqiy dalam Dalil-nya. Kemudian Al-Thabrany dalam kitab Al-kabir
dengan sanadnya sendiri yang bersumber dari Abi Raja Al-Aththardiy
mengatakan, Abu Musa mengajarkan kami mengaji.beliau menyuruh kami
duduk berhalaqah (riungan).Beliau mengenakan dua baju berwarana putih. Jika
beliau membeca surah ini:

Bacalah dengan nama tuhan mu yang telah menciptakan. (Qs. Al-Alaq[96]:1)

Beliau mengatakan,ini adalah surat pertama yang turun kepada Muhamad


Saw.

31
Akan tetapi hadis Al-Bukhari lainnya (yang ia riwayatkan bersama Imam Muslim)
mengatakan bahwa yang pertama turun adalah surah Al-Mudatsir.Bedanya, kali
ini hadis bersumber dari Abu Salamah bin Abd Al-Rahman bin Auf.
Rupanya bukan hanya Al-Bukhari yang meriwayatkan hadis berbeda
dalam satu masalah ini, Al-Baihaqiy pun demikian.Tokoh hadis yang di sebut
terahir ini meriwayatkan hadis dari sumber Maisarah Umar Bin Syarabil. Menurut
riwayat itu, ayat yang pertama turun adalah
Surah Al-Fatihah berikut basmalah.Di dalam hadis dari Maisarah riwayat Al-
Baihaqiy itu disebutkan bahwa Rasulullah Saw. Pernah mengatakan kepada
Khadijah: Sesungguhnya aku,ketika aku seorang diri, aku mendengar suatu
panggilan. Demi Allah aku sungguh takut kalau ini sesuatu yang menimpa
diriku.Khadijah kemudian berkata, Aku berlindung kepada Allah. Allah akan
berbuat (yang kau takutkan). Sesungguhnya engkau menyampaikan amanat,
menyambung silaturahmi dan membenarkan ucapan. Tatkala Abu Bakar masuk
(ke rumah Muhamad Saw.) ia (Khadijah) menyampaikan apa yang telah di
ucapkan Rasulullah. Setelah itu, Khadijah meminta Abu Bakar untuk bersama
Muhamad Saw. Pergi menemui Waraqah. Kata khadijah kepada Abu Bakar ,
Tolonglah, Anda pergi bersama Muhamad ke waraqah. Mereka lalu berangkat
memenuhi saran Khadijah. Dihadapan Waraqah mereka menceritakan apa yang
telah terjadi dan mengatakan,Ketika aku duduk seorang diri, aku mendengar
suara panggilan dari belakangku: Hai Muhammad, Hai Muhammad! Aku lalu
pergi.Waraqah kemudian berkata kepada Muhammad Saw.Jangan kau lakukan
itu jika ia datang kepadamu. Tetaplah di tempat sampai kau mendengar apa yang
ia katakana. Setelah itu datanglah kepadaku dan beri tahukan aku. Di lain waktu,
Muhammad Saw. Kembali duduk seorang diri.Ia lalu mendengar suara yang
mengatakan, Hai Muhammad, katakana Bismillahi Al-Rahmani Al-Rahim. Al-
Hamdu Lillahi Rabbil Al-Alamin hingga sampai wa la aldhallin.
Al-Zarqaniy menilai hadis riwayat Al-Baihaqiy dari Maisarah ini tidak
bias dijadikan hujjalisebagai peristiwa datangnya wahyu yang pertama kali
kepada Nabi Muhammad Saw. Alasannya ada dua.

32
Pertama, riwayat itu tidak bias di pahami bahwa Al-Fatihah didengar
sebagai wahyu pertama yang beliau terima. Al-Fatihah yang didengar Nabi itu
terjadi setelah wahyu pertama kali, karena sebelumnya Muhammad Saw.Telah
menerima wahyu beberapa kali yang kemudian menyebabkan beliau menemui
Waraqah.Padahal, kata Al-Zarqaniy.Pembicaraan kita sekarang menyangkut
wahyu yang pertama kali turun.Bahkan yang termasuk pertama turun.
Kedua, hadis dari Maysarah yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy ini
mursal.Salah satu sanadnya adalah gugurnya seorang sahabat.Oleh karena itu,
hadis ini tidak mungkin dapat menandingi kekuatan hadis dari Aisyah yang
diriwayatkan oleh Al-Bukhari yang didukung oleh riwayat Al-Hakim, Al-
Thabraniy dan Al-Baihaqiy sendiri.
Jika memang hadis Maisarah dianggap lemah, maka pertanyaan yang
timbul sekarang adalah bagaimana menggabungkan kedua riwayat Al-Bukhari di
atas?
Al-Bukhari memang meriwayatkan dua hadis yang sekan-akan berbeda
membahas satu masalah ayat mana yang pertama turun. Mari kita simak riwayat
Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Salamah bin Abd Al-Rahman bin Auf yang
mengatakan, Aku pernah bertanya kepada Jabir bin Abdullah: (Ayat) Al-Quran
manakah yang turun lebih dahulu?ia menjawab, Ya Ayyuha Al-Muddastsir. Lalu
kukatakan, Ataukah iqrabismi rabbika? Ia (Jabir) lalu mengatakan, Akan
kuceritakan kepadamu, apa yang diceritakan Rasulullah.
Rasulullah pernah bersabda: Sesungguhnya aku pernah berada di Gua
Hira. Seusai aku menyendiri di sana, aku keluar menuruni lembah. Kemudian aku
dipanggil. Aku melihat ke depan dan ke belakangku, kemudian aku dipanggil.
Aku melihat ke depan dan kebelakangku, ke kanan dan ke kiriku. Kemudian aku
menatap ke langit.Tiba-tiba dia (maksudnya jibril) tengah duduk di atas Arsy
antara langit dan bumi.Aku gemetar.Maka, kudatangi Khadijah dan dia
menyelimutiku. Kemudian Allah menurunkan: Ya ayyuha Al-Muddastsir, Qum fa
andzir. (Wahai orang yang tengah berselimut.Bangunlah.Berilah
peringatan).

33
Sedikitnya ada dua hal yang perlu diperhatikan menyangkut hadis di
atas.Pertama, kalimat Abu Salamah yang berbunyi : Ataukah iqra bismi
rabbika? ini artinya, Abu Salamah tidak serta merta menerima keterangan Jabir
yang mengatakan bahwa ayat yang pertama turun adalah Ya ayyuha Al-Mudastsir
itu. Dan, kalimat Abu Salamah yang berbentuk pertanyaan (ataukah iqra bi ismi
Rabbika?) itu sesungguhnya bantahan secara halus terhadap keterangan Jabir.
Akan tetapi, oleh karena dalam masalah ini status Abu Salamah sebagai orang
yang bertanya (katakanlah murid), tentu ia harus bersikap sopan dan tidak
membantah ulang keterangan Jabir bin Abdullah.
Kedua, kecuali hadis di atas, Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis
yang lain dari Abu Salamah dan dari Jabir. Intinya berbunyi :

Ketika aku ( maksudnya Rasulullah Saw) tengah berjalan, tiba-tiba aku


mendengar suatu jenis suara dari langit. Aku lalu mengarahkan pandangan
ke arah langit. Rupanya malaikat yang telah mendatangiku di Gua Hira
tengah duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Aku takut sampai-
sampai aku terperosok ke tanah. Aku kemudian mendatangi keluargaku
dan kukatakan : Selimuti aku, selimuti aku. Lalu Allah menurunkan
ayat :

Wahai orang yang tengah berselimut.Bangun dan beri peringatanlah.Dan


Tuhanmu agungkanlah. Dan pakaianmu,sucikanlah,serta perbuatan dosa,
jauhkanlah! (Qs. Al-Mudatstsir[74]:1-5)
Adanya pengakuan Rasululah yang berbunyi: Rupanya malaikat yang
tengah mendatangiku di Hira menunjukkan bahwa sebelum peristiwa turunya
Surah Al-Muddatstsir, Rasulullah telah bertemu Jibril di Hira.
Dengan dasar dua alasan tadi, kebanyakan ulama mengatakan bahwa ayat
Al-Quran yang pertama sekali turun adalah ayat 1-5 surah Al-Alaq.Sementara itu,
Surah Al-Muddastsir mereka nyatakan sebagai ayat-ayat Al-Quran yang terbilang
pertama turun, bukan yang pertama kali turun.

34
Setelah pembahasan ayat yang pertama turun, kini giliran ayat yang paling
terakhir turun.
Dalam masalah ayat yang paling terakhir turun, tak satu pun terdapat riwayat yang
maruf kepada Nabi Muhammad Saw.Semua riwayat yang ada bersumber dari
sahabat dan tabiin.itulah sebabnya saat mencari tahu ayat yang paling akhir turun,
terjadi kesimpangsiuran dan persilangan pendapat. Bersama ini kita turunkan
beberapa riwayat, di antaranya sebagai berikut.
1) Ayat yang paling akhir turun adalah firman Allah Swt.




Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada)hari yang pada waktu itu
kamu sekalian dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing di diberi
balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dilakukannya. Sedang mereka
sedikitpun tidak dizalimi. (Qs. Al-Baqarah[2]:281)
Dalil yang dipegang itu :
a. Riwayat yang dikeluarkan oleh NasaI dari ikhrimah, dari Ibnu Abbas;
b. Riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Said Bin Jubair;
c. Riwayat Ibnu Jarir dari Ibnu Juraij;
d. Riwayat Al-Baihaqiy dari Ibnu Abbas
2) Ayat yang terahir turun adalah:





Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisi
riba (yang belum kamu pungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (Qs. Al-
Baqarah [2]:278)

35
Riwayat yang sama dikeluarkan oleh Al-Baihaqiy.

3) Ayat yang terahir turun adalah :

36




















Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai
untuk waktu yang tidak di tentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan
hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar.Dan
janganlah penulis enggan menuliskannya sebagai mana Allah telah
mengajarkannya, maka hendaklah ini menulis. Dan hendaklah orang yang
berutang itu mengimlakan (mendiktekan apa yang hendak ditulis). Dan
hendaklah ia bertakwa kepada Allah, Tuhannya. Dan janganlah ia mengurangi

37
sedikitpun dari hutangnya. Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya
atau lemah keadaaanya, atau dia sendiri tidak mampu mendiktekan, maka
hendaklah walinya mendiktekan dengan jujur.Dan persaksikanlah dengan dengan
dua orang saksi diantara kamu. Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh)
seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi yang kamu rela, supaya jika
seorang lupa, maka yang seorang lagi mengingatkan nya. (Qs. Al-Baqarah
[2]:282)

Pendapat ini merujuk pada :


a. Riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Jarir, dari Said bin Al-Musayyab
b. Riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Ubaid, dari Ibnu Syihab

Mengomentari ketiga riwayat ini, Dr. Ahmad Said Al-Kumiy dan Dr. Muhammad
Yusuf Al-Qasim yang dalam masalah ini sepakat dengan Imam Al-Suyuthiy
mengatakan, ketiga riwayat ini mungkin sekali dikompromikan.Jelas, kata
kedua guru besar ilmu Al-Quran dari Universitas Al-Ahzar Ini, Bahwa ketiga ayat
yang ditunjukan oleh ketiga riwayat diatas di turunkan sekaligus karena letaknya
yang boleh dibilang berurutan dan kisahnya masih satu rangkaian. (Ulum Al
Quran, Hlm.45)

4) Ayat kalalah
adalah ayat Al Quran yang terahir turun.pendapat ini merujuk pada hadis
Mutaffaqun alaihi (riwayat Al-Bukhari dan Muslim) dari Al-Barra bin Azib.
Riwayat itu menyatakan bahwa surah yang paling akhir turun adalah Baraah (At-
Taubah) dan akhir ayat yang turun adalah yasthafunaka (yang dikenal dengan ayat
kalalah, yakni ayat 176 Surah An-Nisa)

5) Banyak yang mengatakan yang paling terahir turun adalah ayat ini.


38


Hari ini Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan Aku sempurnakan atasmu
nikmat-Ku, dan aku rela Islam sebagai agama untukmu. (Qs. Al-Maidah[5]:3)

Syekh Muhammad Al-Khudhariy dalam kitabnya, Tarikh Al-Tasyri Al-


Islami dan Syekh Abdu Al-Aziz Al-Khuli dalam kitabnya, Al-Quran: Wasf fuhu,
Hidayatuha, Atsaru Ijazihi, termasuk yang memegang ayat 3 surah Al-Maidah
ini sebagai ayat yang diturunkan paling akhir.
Memang beralasan karena ayat yang disebut terakhir ini berbicara mengenai
penyempurnaan agama.Penyempurnaan ini selalu ada di paling akhir.

Ayat di atas, turun pada Haji Wada, haji paling akhir yang dikerjakan
Rasulullah Saw.Waktu itu, menurut Al-Wahid, Rasululah sedang berada di atas
umatnya.Setelah menerima ayat ini, Rasulullah sempat menikmati hidup di dunia
selama 81 hari.Beralasan memang.Namun, bagi Imam Al-Suyuthiy yang di
anggap suhu dalam masalah ilmu-ilmu Al-Quran, alasan itu tidak lantas beliau
terima.

Al-Suyuthiy menolak ayat 9 surah Al-Maidah sebagai ayat yang paling


terahir turun dengan alasan bahwa yang dimaksud dengan menyempurnakan
agama adalah menyempurnakan kekuasaannya, meninggikan kalimatnya, dan
memperkuat wibawanya.Hal ini tidaklah berarti menafikan bahwa dikemudian
hari setelah itu turun ayat-ayat tentang halal, haram, nasihat, dan
peringatan.Kedua, yang dimaksud dengan penyempurnaan agama adalah
menyempurnakan hukum-hukum halal dan haram. Dengan kata lain, tidak berarti
setelah itu turun lagi ayat-ayat mengenai peringatan dan nasihat. (lihat pula Ulum
Al Quran,oleh Dr. Ahmad Al-Sayid Al-Kumiy dan Dr. Muhammad Ahmad Yusuf
Al-Qasim hlm.50). sesungguhnya masih banyak lagi pendapat lain. Kata Imam
Al-Suyuthiy, masing-masing pendapat bertahan dengan merujuk pada riwayat
yang ada padanya(lihat Al-Itqan,jilid 1,hlm. 27)

39
Akan tetapi Imam Al Zarkasyi punya pilihan lain. Penulis kitab Al-Burhan
fi Ulum Al-Quran ini menulis : Al-Qadhi Abu Bakar mengatakan dalam (kitab)
Al-Intishar: Tak satu pun dari ucapan-ucapan ini yang marfu kepada Nabi Saw.
Boleh jadi, perawinya mengatakannya sebagai suatu jenis ijtihad dan
kecenderungan dugaan.Mengetahui demikian bukan termasuk kewajiban
agama.Ada kemungkinan, masing-masing mereka menginformasikan (ayat) yang
terahir yang didengarnya dari Rasulullah pada hari kematian beliau atau beberapa
saat sebelum beliau sakit(Al-Burhan fi Ulum Al-Quran, jilid 1,
hlm.210).Wallahu Alain bi Al-Shawab.

DI BUAT OLEH : ALYA LARAS JAYANTI

NPM : 1502090112

PRODI : HUKUM EKONOMI SYARIAH

MATA KULIAH : ULUMUL QURAN

BAB IV

NUZULUL AL-QURAN

A. Definisi dan Waktu Nuzul Al-Quran

Nuzul Al-Quran atau yang di Indonesia sering ditulis Nuzulul Quran terdiri
dari dua kata, yakni Nuzul dan Al-Quran. Kata nazala di dalam bahasa arab berarti
Yakni, meluncur dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Dalam

40
Konteks ini, misalnya, bias ditemui kalimat di dalam salah satu ayat Al-Quran
yang berbunyi :




.tuhan, turunkanlah padaku sesuatu berkah, karena Engkau adalah zat
pemberi berkah yang paling baik. (Qs. Al-Mumin[23]:29)

Nuzul juga berarti singgah atau tiba di tempat tertentu. Makna nuzul dalam
pengertian yang disebut terahir ini bias disimak di dalam Al-Qamus Al-Muhith,
jilid IV, hlm. 56,57. Bahkan Al-Zamakhsyari, seperti terdapat di dalam kitab Asas
Al-Balaghah, menganggap makna ini sebagai makna hakiki. Orang Arab, kata
Zamakhsyari lebih lanjut, sering mengucapkan kalimat:
yang bila diartikan menjadi Polan singgah/tiba di kota anu.

Rupanya Nuzul tak hanya punya dua makna. Dr. Muhammad Ahmad
Yusuf Al-Qasim dalam buku yang mereka tulis bersama, menginventarisasi lima
buah makna Nuzul, dua diantaranya yang telah di sebutkan di atas sedangkan dua
makna lainnya adalah: (tertib,teratur) dan (pertemuan). Makna yang terahir
(kelima), menurut kedua guru besar Ulum Al-Quran dari Al-Ahzar Kairo ini,
Nuzul berarti turun secara berangsur dan terkadang sekaligus. (lihat Ulum Al
Quran, oleh Dr. Muhammad Ahmad Yusuf Al-Qasim dan Dr. Ahmad Sayyid Al-
Kumiy, Hlm.23).

Di dalam hubungannya dengan pembahasan Nuzul Al-Quran.Kata Syekh


Abd Al-Wahhab Abd Al-Majid Ghazlan di dalam Al-Bayan fi Mabahitsi Ulum
Al-Quran-nya. Yang dimaksud dengan Nuzul adalah turunnya sesuatu dari tempat
yang tinggi ke tempat yang lebih rendah dan sesuatu itu tidak lain adalah Al-
Quran. Hanya kemudian Syekh Gazlan berkomentar, Oleh karena yang turun itu
bukan yang berbentuk fisik, maka pengertian Nuzul disini bisa mengandung

41
pengertian kiasan (majazi), dan apabila yang dimaksud turun adalah lafaz, maka
Nuzul berarti Al-Ishal (penyampaian) dan Al-Ilam (penginformasian).

Akan tetapi, Ibnu Taimiyah agaknya tak ingin bertele-tele dengan


perngertian yang bermacam-macam itu. Menurut ulama yang diberi gelar Syaikh
Al-Islam ini, Di dalam Al-Quran, juga di dalam sunnah, tidak ada kata Nuzul
kecuali dalam pengertian yang lazim. Alasannya, karena Al-Quran di turunkan
dengan bahasa Arab, sedangkan bahasa Arab tidak mengenal kata Nuzul kecuali
dengan makna ini.

Sesungguhnya bukan hanya Ibnu Taimiyah yang tak ingin memperpanjang


kalam dalam membahas arti lughawi dari kata Nuzul ini.Mereka lebih tertarik
untuk mendefinisikan Nuzul Al-Quran itu, misalnya Al-Zakarsyi.Namun begitu
masuk ke dalam dendefinisian, mereka lantas terbentur dengan penuntasan kata
Nuzul lagi. Simaklah misalnya kalimat yang diturunkan Al-Zarkasyi berikut ini :
Ahlu Sunah sepakat bahwa kalam Allah itu diturunkan. Mereka bersilang
pendapat tentang perngertian Nuzul.Ada yang mengatakan, Nuzul Al-Quran
berarti menampakkan Al-Quran. Sementara ada pula yang mengatakannya, bahwa
Allah Swt. Memberikan pemahaman mengenai Kalam Allah Swt. Yang disebut
Al-Quran itu, Jibril lalu meneruskannya untuk disampaikan kepada Nabi
Muhammad Saw.

Di dalam Al-Quran terdapat beberapa ayat yang mengatakan bahwa Al-


Quran turun :

1. Pada bulan Ramadan :




Bulan Ramadan dimana diturunkan Al-Quran(Qs. Al-Baqarah [2]:185)

42
2. Pada malam yang diberi berkah :


Sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Quran) di malam yang di beri berkah


(Qs.Al-Dukhan[44]:3)

3. Pada malam Al-Qadar :



Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) di malam Al-Qadar.(Qs. Al-


Qadar [97]:1)

Menurut tiga ayat di atas, Al-Quran turun sekaligus pada bulan Ramadan
dimana terdapat malam Al-Qadar, suatu malam yang penuh berkah. Dengan
demikian, bila umat Islam di Indonesia misalnya memperingati Malam Nuzul Al-
Quran, maka Nuzul (turun) yang dimaksud bukan Nuzulnya Al-Quran kepada
Nabi Muhammad Saw. Menerima ayat-ayat Al-Quran bukan sekaligus, tetapi
beliau menerimanya berangsur-angsur lebih dari 20 tahun.

Andaikan, ketiga ayat yang di maksud di atas itu di takwil dengan


mengatakan bahwa yang di maksud ketiga ayat di atas adalah permulaan turunya
wahyu Al-Quran, maka takwil semacam itu pun mengandung kelemahan karena
yang dimaksud ketiga ayat di atas menyangkut turunya Al-Quran secara
keseluruhan. Ayat-ayat itu bukan berbicara tentang permulaan turunnya Al-
Quran.oleh karena itu, jumhur ulama sepakat untuk mengambil zhahir makna ayat
tanpa menakwilkannya.Jumhur ulama sepakat bahwa pengertian yang dimaksud
ketiga ayat di atas menyangkut turunnya Al-Quran sekaligus dari Lauh Al-

43
Mahfuzh, ke suatu tempat yang di sebut Sama Al-Dunya.Dari Sama Al-Dunya
atau tepatnya dari Bait Al-Izzah yang terdapat Sama Al-Dunya itulah kemudian
Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.Secara berangsur-
angsur.Dalam hal ini sedikitnya ada tiga hadis yang di jadikan pegangan (lihat,
manahil Al-Irfan, jilid I, hlm. 44) yaitu sebagai berikut.

1. Hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dengan sanad-nya sendiri dari


said bin jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan:

Al-Quran dipisah dan Al-Dzikir lain di letakkan di Bait Al-Izzah di sama Al-
Dunya dan dibawa Jibril turun kepada Nabi Muhammad Saw.

2. Hadis yang diriwayatkan oleh Al-NasaI dan Al-Hakim serta Al-Baihaqiy


melalui jalur Daud bin Abi Hind, dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang
mengatakan:

Al-Quran diturunkan sekaligus ke Sama Al-Dhunya pada lailatul Al-


Qadr.Kemudian diturunkan sepanjang (sekitar) dua puluh tahun.

3. Hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Al-Baihaqiy serta lainnya


dari jalur Manshur, dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas, Berkata:

Al-Quran diturunkan sekaligus ke Sama Al-Dunya.Sebelumnya, (Al-Quran di


tempatkan) di tempat bintang-bintang.Lalu Allah menurunkannya kepda
Rasulullah secara berangsur.

Ketiga hadis di atas, Menurut Al-Suyuthiy seperti dikutip Al-Zarqaniy di


dalam manahil Al-Irfan, adalah shahih.Hadis-hadis di atas, sekalipun mauquf bagi
Ibnu Abbas, tetapi menurut Al-Zarqaniy lebih lanjut, mempunyai bobot marfu

44
kepada Nabi Saw.Alasanya, turunnya Al-Quran ke Bait Al-Izzah termasuk berita
gaib yang hanya bersumber dari orang-orang mashum (Nabi). Dan, Ibnu Abbas
sendirinya diketahui tak pernah mengambil riwayat israiliyyat.

Dari Sama Al-Dunya, atau persisnya di Bait Al-Izzah kemudian Jibril


membawa lafaz Al-Quran kepada Nabi Muhammad Saw. Secara berangsur-
angsur, dan lafaz yang dibawa malaikat Jibril untuk disampaikan kepada Nabi
Muhammad Saw.Adalah Kalam Allah yang disebut Al-Quran.

Baik Jibril yang menyampaikan kepada Nabi Muhammad Saw. Maupun


Nabi Muhammad sendiri yang menerima kalam Allah itu, sama sekali tidak
mempunyai otoritas menyusun apalagi mengubahnya. Segala sesuatu baik dalam
susunan kalimat maupun maknanya merupakan wewenang Allah Swt. Susunan
kalimat, berikut isi kandungan Al-Quran adalah mmmmm

Mujiz, artinya, susunan dan tata letak huruf-huruf Al-Quran adalah


mukjizat yang tak tertandingi oleh susunan kata dan huruf makhluk mana pun.

Selain hadis Rasulullah Saw., ada beberapa ayat Al-Quran yang


dengan tegas menyebut bahwa Al-Quran diturunkan berangsur-angsur. Misalnya
Firman Alah Swt. Yang berbunyi :

Dan Al-Quran, kami angsur dia, agar kamu (Muhammad)


membacakannya dengan pelan-pelan ( Qs. Al-Isra [17]:106)

Dibawah ini dikutip sebagian hikmah diturunkannya Al-Quran secara tidak


sekaligus, seperti yang ditulis oleh Syekh Abd Al-Azhim Al-Zarqaniy dalam
manahil Al-Irfan-nya

45
1. Pemantapan dan penguatan hari Rasulullah. Untuk mendukung pertanyaan
ini. Al-Zarqaniy menggunakan beberapa alasan. Di antaranya:
a. Datangnya kembali wahyu Al-Quran dan malaikat yang diutus
Allah Swt. Kepada Rasulullah Saw. Merupakan kebahagiaan bagi
diri Nabi Muhammad Saw.;
b. Datangnya wahyu secara berangsur merupakan kemudahan yang
diberikan Allah Swt. Kepada Rasulullah Saw untuk menghafal dan
memahami ayat-ayat Al-Quran.
2. Penahapan di dalam mendidik umat yang sedang tumbuh, baik ilmu
maupun amal, keuntungannya:
a. Memudahkan umat untuk menghafal Al-Quran
b. Memudahkan umat untuk memahami Al-Quran
c. Mencabut akidah dan syariat batil secara bertahap
d. Menanamkan aqidah dan syariat yang hak secara bertahap
e. Memantapkan dan memp
f. ersenjatai kaum muslimin dengan senjata sabar dan yakin.

Mengenai rentang waktu Nabi Muhammad menerima Al-Quran, Abd Al-


Wahhab Abd Al-Majid Ghazlan dalam Mabahitsfi Ulum Al-Qurannya
menurunkan tiga pendapat.Pertama, bahwa Al-Quran diturunkan berturut-turut
selama dua puluh tahun.Kedua, bahwa Al-Quran diturunkan selama dua puluh tiga
tahun.Ketiga, Nabi Muhamad menerima Al-Quran selama dua puluh lima tahun.

Ketiga pendapat yang diturunkan Al-Ghazlan di atas tak satu pun yang
menunjuk secara cermat mengenai masa di mana Rasulullah menerima Al-
Quran.Sepertinya mereka memilih menggenapkan bilangan masa itu ketimbang
merincinya. Seperti diketahui, bahwa pengangkatan Muhammad Bin Abdullah
yang lahir tanggal 12 Rabiul Al-Awwal menjadi nabi dan rasul pada saat usia
beliau mencapai 40 tahun, sedangkan pertama kali beliau menerima wahyu pada
tanggal 12 Rabiul Al-Awwal saat beliau bermimpi (ruya shadiqah). Enam bulan
kemudian, pada tahun itu juga, yakni di bulan Ramadhan, beliau menerima ayat
Al-Quran yang pertama turun, sedangkan Rasulullah Saw.wafat padausia 63
tahun. Dengan demikian, bias ditarik kesimpulan, bahwa Rasulullah
Saw.Menerima wahyu Al-Quran selama 22 tahun 6 bulan.

46
B. Asbab Nuzul

Di pandang dari segi peristiwa Nuzulnya, ayat Al-Quran ada dua


macam.Pertama, ayat yang diturunkan tanpa ada keterkaitanya dengan sebab
tertentu, semata-mata sebagai hidayah bagi manusia.Kedua, ayat-ayat Al-Quran
yang diturunkan lantaran adanya sebab atau kasus tertentu. Misalnya, pertanyaan
yang di ajukan oleh umat islam atau bukan Muslim kepada Rasulullah Saw. Atau
adanya kasus tertentu yang memerlukan jawaban sebagai sikat Syariat Islam
terhadap kasus tersebut. Ayat-ayat macam inilah yang di bahas dalam kaitannya
dengan pembicaraan Asbab Nuzul

Para pakar ilmu-ilmu Al-Quran, misalnya Syekh Abd Al-Azhim Al-Zarqaniy


dalam Manahil Al-Irfan-nya mendefinisikan Asbab Nuzul atau Sabab Nuzul
sebagai kasus atau sesuatu yang terjadi yang ada hubungannya dengan turunnya
ayat, atau ayat-ayat Al-Quran sebagai penjelasan hukum pada saat terjadinya
kasus.

Kasus yang di maksud dalam definisi di atas, tentu saja, terjadi pada
zaman Rasulullah Saw.Demikian juga pertanyaan-pertanyaan yang di
ajukan.Setelah terjadinya kasus tertentu atau pertanyaan tertentu yang diajukan
kepada Rasulullah Saw., kemudian turun satu atau beberapa ayat Al-Quran yang
menjelaskan hukum kasus yang terjadi atau menjawab pertanyaan yang di ajukan
kepada Rasulullah Saw.Hakikatnya, Rasulullah hanyalah pembawa risalah.Beliau
tidak memegang otoritas untu menetapkan suatu hukum syariat.Hukum itu sendiri
datang dari Allah Swt. Melalui wahyu yang dibawa oleh malaikat Jibril.

C. Sebab-Sebab Pesan Umum

Subjudul ini adalah terjemahan dari kata (Suatu pesan diperoleh dari
umumnya lafaz,bukan khususnya sebab). Dalam kaitan ini,ada dua haluan
ulama. Haluan pertama, yaitu haluan yang menjadi anutan Jumhur Ulama
terutama mereka yang berkecimpung di dalam takhashshush (spesialisasi)

47
Ushul Fiqh.Mereka memegang pendapat bahwa pelajaran atau pesan yang di
tangkap dari suatu ayat sesuai dengan umumnya lafaz, bukan bergantung pada
khususnya sebab yang berkaitan dengan turunnya ayat itu.Untuk mendukung
pendapatnya, mereka menggunakan ayat-ayat berikut.

1. Ayat Al-Zhahir (menganggap istri sebagai ibunya). Allah berfirman :

Orang-orang yang menzihar (menganggap istri sebagai ibunya)istrinya di antara


kamu (padahal) istri mereka itu bukan ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain
adalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka benar-benar
mengucapkan perkataan yang munkar dan dusta.Dan sesungguhnya Allah
pemaaf lagi maha pengampun. (Qs. Al-Mujadalah [58]:2)

Ayat ini turun sehubungan dengan peristiwa atau kasus Salamah bin
Shakhr. Ada juga yang mengatakan sehubungan dengan kasus Aus bin Al-Shamit.
Namun, hukumnya tidak berlaku sebatas Salamah atau Aus. Ketentuan larangan
menganggap istri seperti ibu berlaku umum untuk semua orang.

2. Ayat Lian, yaitu Firman Allah Swt. Yang berbunyi :

48









Dan orang yang menuduh (istrinya) berbuat zina, padahal mereka tidak
memiliki saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu adalah
empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk
orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima bahwa laknat Allah atasnya,
jika ia termasuk orang-orang yang berdusta. (Qs. An-Nur [24]:6-7)

Ayat ini turun sehubungan dengan kasus Hilal bin Umayyah yang
menuduh istrinya berzina dengan Syarik bin Sahma di hadapan Nabi Saw.
Sekalipun ayat ini turun sehubungan dengan kasus pasangan suami istri tersebut,
tetapi pesan hukumnya berlaku pula untuk semua orang yang menuduh istrinya
berzina.Kepada mereka berlaku Hukum Lian.

3. Firman Allah Swt. Yang bunyinya:




Dan pencuri laki-laki dan pencui perempuan, maka potonglah tangan


mereka.(Qs. Al-Madah[5]:38)

49
Ayat ini diturunkan sehubungan dengan seorang wanita yang mencuri pada
zaman Nabi Muhammad Saw.Meski terjadi pada masa silam hukumnya tetap
berlaku bagi semua pencuri, di mana dan kapan saja.

Memberikan komentar masalah ini Ibnu Taimiyah mengatakan.Sering


kali terjadi dalam (pembahasan) persoalan ini, orang-orang mengatakan bahwa
ayat ini turun sehubungan dengan peristiwa anu, lebih-lebih bila yang di tunjuk
adalah seseorang. Misalnya ayat zhihar Kalalah (seseorang yang mati tidak
meninggalkan ayah dan anak) turun sehubungan dengan kasus Jabir bin Abdullah.
Firman Allah Swt. Yang berbunyi :ini (dan hendaklah kamu berhukum sesuai
dengan yang diturunkan Allah) turun sehubungan dengan kasus Bani Quraizhah
dan Bani Nadhir dan yang semisalnya yang turun sehubungan dengan kaum
Musyrikin di Mekkah, atau kelompok orang-orang Yahudi dan Nasrani, atau suatu
kelompok kaum Muslimin. Mereka yang mengatakan demikian, tidak bertujuan
bahwa hukum ayat itu khusus berlaku bagi mereka yang menjadi sebab tanpa
lainnya karena pendapat seperti ini tidak akan keluar dari seorang Muslim dan
mutlak tidak pula (keluar) dari seorang yang berakal. Ayat yang mempunyai sebab
(nuzul) tertentu; jika itu berbentu perintah (amar)atau larangan (nahyi), maka
pesan (hukumnya) beraku bagi orang itu sendiri dan juga orang lain yang
posisinya sama (Dirasat fiUlum Al-Quran, hlm.81)

Halaman kedua menyatakan bahwa pesan hanya berlaku untuk tokoh yang
menjadi sebab turunnya ayat.Kalangan pakar ilmu-ilmu Al-Quran menyebutnya
Al-Ibrah bi khushushi Al-sabab la bi umumi Al-Lafzh Artinya, hukum yang
dikandung oleh suatu ayat berlaku terbatas untuk tokoh yang menjadi sebab
turunnya ayat tersebut. Di luar tokoh itu, sekalipun mempunyai kasus yang sama,
tak terkena ketentuan yang dikandung oleh ayat tadi lantaran tidak turun
sehubungan dengan kasusnya. Akan tetapi, ini tidak berarti seorang yang terbukti
mencuri tidak dikenakan hukuman.Hukuman tetap di jatuhkan kepada si pencuri.
Hanya, hukuman itu di tetapkan tidak berdasarkan umumnya lafaz tetapi melalui
proses qiyaz (analogi) atau melalui dalil lain yang juga bersumber kepada Al-
Quran dan sunah.

50
Para pendukung haluan ini beranggapan bahwa lafaz yang umum itu hanya
menunjukan gambaran sebab khusus semata,tidak lebih. Sementara hukumnya
tidak bias diangkat untuk bias mencakup semua persoalan serupa.

Penganut-penganut haluan kedua ini pun berdalil kepada beberapa ayat al-
Quran. Misalnya:

Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang bergembira


dengan apa yang mereka telah kerjakan dan mereka sukai supaya dipuji terhadap
apa yang belum mereka kerjakan.(Qs. Ali Imran[3]:188)

Ayat ini, menurut pendukung haluan kedua, tidak bias dianggap membawa
pesan umum. Pesaan ayat ini, kata mereka, terbatas untuk suatu kelompok
manusia tertentu, yang sehubungan dengan mereka turun ayat tersebut.Mereka
adalah Ahlu Al-kitab.Demikian pengertian yang dipersepsikan Ibnu Abbas. Akan
tetapi, menurut penulis kitab Al-Itqan, Ibnu Abbas tetap menangkap pengertian
bahwa ayat tersebut tidak sebatas yang dianut kelompok haluan kedua, ibnu
Abbas hanya menjelaskan bahwa lafaz disini adalah lafaz khusus. Bukan
hukumnya yang berlaku khusus. Sama halnya dengan penafsiran Nabi
Muhammad Saw, mengenai zalim pada firman Allah Swt. Yang berbunyi: dan
mereka tidak mencampuradukan keimanan mareka dengan kezaliman beliau
tafsyirkan dengan syirik. dalam ayat lain Allah Swt, berfirman :Sesungguhnya
syirik itu adalah zalim yang besar.padahal pada waktu itu para sahabat
Rasulullah Saw. Menafsirkannya umum, dan bukan sekedar syirik.

Dr, Amir Abd Al-Aziz sepakat dengan Al-Suyuthiy, penulis Al-Itqan. Kata
Dr. Amir, pendapat jumhur ulamalah yang bias dipegang dan lebih kuat yaitu

51
pendapat yang mengatakan : Al-Ibrah bi Umumi Al-Lafzh, ia bi Khushushi Al-
Sabab, yang dalam subjudul ini ditulis menjadi Satu Sebab Pesan Umum.

D. Faedah Mengetahui Asbab Nuzul

Beberapa pakar Ulum Al-Quran misalnya Al-Zarqaniy dan Al-Suyuthiy,


mensinyalir adanya kalangan yang beranggapan bahwa mengetahui Asbab Nuzul
tidak ada gunanya.Hal itu dianggapnya tidak lebih daripada turunnya ayat yang
tidak ada kaitannya dengan pemahaman Al-Quran.Angapan semacam ini, oleh
kebanyakan ulama termasuk diantaranya Ibnu Taimiyah yang mendalami ilmu-
ilmu Al-Quran, dinilai sebagai pandangan yang keliru karena banyak sekali hal
yang dapat dibantu oleh pemahaman Asbab Nuzul di dalam upaya pemahaman Al-
Quran. Faedah-faedah itu diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Membantu dalam memahami sekaligus mengatasi ketidakpastian di dalam


menangkap ayat-ayat Al-Quran. Untuk itu simaklah firman Allah berikut
ini :



Dan kepunyaan Allah Swt. Ialah timur dan barat. Maka kemana pun kamu
menghadap disitulah wajah Allah Swt. (Qs. Al-Baqarah[2]:115)

Menurut zahir, ayat ini, orang yang salat, boleh menghadap kea rah mana
saja, sesuai kehendak hatinya.Ia seakan-akan tidak berkewajiban
menghadap kabah saat salat, dan zahir ayat ini membolehkan orang
menghadap kearah mana saja, baik ketika bermukim maupun dalam
perjalanan. Akan tetapi, setelah memahami Asbab Nuzul ayat di atas
ternyata tidak demikian.Orang yang didalam solatnya dibenarkan
menghadap arah mana saja hanyalah orang yang tidak tahu arah kiblat dan

52
kemudian dia berijtihad. Dalilnya, hadis dari Ibnu Umar (lihat Manahil
Al-Irfan fi Ulum Al-Quran, jilid 1,hlm 110)

Contoh lainnya, Urwah pernah keliru dalam menangkap makna ayat :






Sesungguhnya shafa dan marwah adalah bagian dari syair Allah. Maka
barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa
baginya mengerjakan sai antara keduanya(Qs. Al-Baqarah [2]:158)

Kekeliruan Urwah terletak pada pemahamannya mengenai pernyataan


tidak ada dosa baginya.Artinya, menurut yang dipahami Urwah,
seseorang yang mengerjakan ibadah haji tidak berdosa bila tidak
mengerjakan saI antara Shafa dan Marwah karena di kepala Urwah
tergantung peristiwa yang terjadi pada zaman jahiliyah.pada zaman itu,
orang-orang mengerjakan saI untuk beribadah kepada berhala yang
bernama Isaf yang ada di bukit Shafa, dan patung Nailah yang ada di
Marwah.Barang kali, di dalam benak Urwah terbetik alasan, sikap orang-
orang jahiliyah yang menyembah patung Isaf dan Nailah di Bukit Shafa
dan Marwah itulah yang membuat Al-Quran menetapkan hukum seperti
pada ayat di atas.Untung Urwah ragu. Pasalnya, ia menyaksikan semua
kamum Muslimin yang tengah mengerjakan ibadah haji berlari-lari kecil
antara kedua bukit itu. Urwah kemudian menghampiri Aisyah binti Abu
Bakar untuk mencari kejelasan dan duduk persoalan yang
sebenarnya.Setelah di jelaskan oleh Aisyah, Urwah baru tahu kalau ayat
itu di turunkan sehubungan dengan orang-orang Anshar.Sebelum masuk
Islam, mereka biasa mondar-mandir antara Shafa dan Marwah untuk

53
menyembah berhala. Setelah masuk islam, mereka bertanya kepada
Rasulullah Saw. Lalu turunlah ayat yang mengatakan bahwa saI (berlari-
lari kecil) antara Shafa dan Marwah bukanlah dosa justru sebaliknya. Di
dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari,Aisyah mengatakan
kepada Urwah: Rasulullah Saw. Telah mensunahkan saI di antara
keduanya.Tak seorang pun yang di suruh meninggalkan saI di antara
keduanya.
2. Mengatasi keraguan terhadap ayat yang di duga mengandung pengertian
umum.Misalnya firman Allah Swt. Yang berbunyi:







Katakanlah:Tidak kudapati di dalam apa yang di wahyukan kepadaku


sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau
makanan itu (berupa) bangkai,atau darah yang mengalir, atau daging
babi,karena semua itu kotor, atau binatang yang disembelih atas nama selain
Allah.(Qs. Al-Anam[6]:145)

Menurut Imam SyafiI, pengertian yang dimaksud ayat ini tidaklah umum
(hashr). Untuk mengatasi kemungkinan adanya keraguan dalam
memahami ayat di atas, Imam Syafi I menggunakan alat bantu Nuzul
ayat. Ayat ini, seperti diturunkan Al-Zarqaniy, menurut Syafi I diturunkan
sehubungan dengan orang-orang kafir yang tidak mau memakan sesuatu
kecuali yang telah mereka halalkan. Telah menjadi kebiasaan orang-orang
kafir, terutama Yahudi, mengharamkan apa saja yang dihalalkan Allah

54
Swt. Dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah Swt. Selanjutnya
turunlah ayat 145 surah Al-Anam di atas untuk menetapkan pengharaman
dan bukan untuk menetapkan penghalalan makanan yang tidak disebut
ayat tersebut.

3. Aisyah pernah menjernihkan kekeliruan Marwan. Menurut Marwan,


surah Al-Ahqaf, ayat 17, diturunkan sehubungan dengan Abd Al-Rahman
bin Abu Bakar. Ayat itu berbunyi :



Dan orang yang mengatakan kepada orang tuanya: Cis kamu berdua.

Untuk meluruskan persoalan, Aisyah mengatakan kepada Marwan :

Demi Allah, bukan dia-maksudnya bukan Abd Al-Rahman bin Abu Bakar.
Dan jika aku mau menyebut namanya (orang yang menjadi Sabab Nuzul
yang sebenarnya), maka aku mampu menyebutnya.

Dengan mengetahui Asbab Nuzul persoalan bias didudukan pada proporsi


yang sebenarnya. Seperti pada kasus tuduhan Marwan terhadap Abd Al-
Rahman bias tercemar sepanjang sejarah kalau tidak ada katerangan yang
meluruskan dari Aisyah.
Demikianlah antara lain faedah mengetahui Asbab Nuzul dalam upaya
memahami Al-Quran

E. Cara Mengetahui Ashab Nuzul

Ashab Nuzul adalah peristiwa yang terjadi pada zaman Rasulullah Saw.
Oleh karena itu, tidak ada jalan lain untuk mengetahuinya selain mengambil
sumber dari orang yang menyaksikan peristiwa tersebut dalam hal ini, riwayat
para sahabat Rasulullah Saw. Yang mendengar dan menyaksikan kejadian yang
berhubungan dengan turunya ayat tertentu.Dengan demikian, dalam membahas
Ashab Nuzul, pendapat ataupun penafsiran tidak mempunyai peran yang
berarti.Syekh Imam Abi Hasan Ali bin Ahmad Al-Wahidiy Al-Nisaburiy dalam

55
kitab Ashab Al-Nuzul-nya mengatakan Di dalam pembicaraan Ashab Nuzul Al-
Quran, tidak di benarkan kecuali dengan riwayat dan mendengar dari mereka yang
secara langsung menyaksikan peristiwa nuzul. Dan bersungguh-sungguh di dalam
mencari(nya).

Para ulama Ulum Al-Quran, termasuk Al-Wahidiy Al-Nisaburiy,


tampaknya tidak berani mereka-reka atau menakwil sendiri sesuatu yang memang
bukan menjadi otoritas rasio karena di dalam masalah Al-Quran, sikap Rasulullah
Saw. Amat tegas.Tak seorangpun di benarkan berbicara sesuatu yang diterima dari
Rasulullah Saw.Tanpa informasi ang akurat. Rasulullah Saw. Bersabda:

Berhati-hatilah (dalam soal) riwayat dari sumberku, kecuali apa yang


telah kalian ketahui.karena sesungguhnya, barang siapa yang sengaja berdusta
atasku, maka bersiap-siaplah untuk menempati tempat duduk dari api (di
keluarkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi)

Pesan Rasulullah Saw. Yang bernada tegas ini ternyata cukup efektif. Para
ulama menempatkan studi-studi menyangkut hadis Rasulullah Saw. Sebagai suatu
studi kesejarahan yang paling selektif dibandingkan studi sejarah manapun. Oleh
karena itu, sekali pun misalnya usaha pen-takhashshush-an (spesialisasi) studi
Asbab Nuzul baru dimulai dua ratus tahun lebih setelah Rasulullah wafat, tetapi
nilai akurasinya bias dipertanggungjawabkan secara turun temurun dari satu
generasi kegenerasi berikutnya. Riwayat-riwayat menyangkut Al-Quran, mulai
Ashab Nuzulnya, penafsirannya dan hal-hal lainnya selalu di pelajari secara
sungguh-sungguh,kemudian dihafal,dipelihara baik-baik, dan dijaga sekitar tahun
200 H, timbul ide dari Ali bin Al-Madiniy untuk membukukan Asbab Nuzul dalam
karya ilmiah tersendiri yang ia beri judul Asbab Al-Nuzul.

Usaha Ali Al-Madiniy ini kemudian secara berturut-turut disusul oleh Abu
Al-Mutharrif Abd Al-Rahman bin Muhammad Al-Qurthubiy dengan bukunya
berjudul Al-Qishash wa Al-Asalib allati Nazala min FajlihaAl-Quran. Disusul
kemudian setelah itu Abu Al-Hasan Ali bin Ahmad (wafat 597 H) menulis kitab

56
Asbab Al-Nuzul. Menyusul setelah itu, di akhir Abad IV Hijrah, Abu Al-Faraj bin
Al-Juzi (wafat 591 H). Menulis kitab Al-Ijab fi Bayan Al-Asbab.Dan pada tahun-
tahun pertama abad X Hijjriah, Syekh Jallaludin Al-Suyuthiy (wafat 911
H).Menulis kitab Lubab Al-Nuqul, fi Asbab Al-Nuzul.

Selain itu, yang paling sering dijadikan rujukan di dalam masalah Asbab
Nuzul adalah Hadis-hadis Rasulullah Saw,. Al-Maghaziy ( Riwayat Peperangan)
dan sirah Rasulullah Saw.

DI BUAT OLEH : NUR RISMAWATI

NPM : 1502090O36

PRODI : HUKUM EKONOMI SYARIAH

57
MATA KULIAH : ULUMUL QURAN

BAB 5

Tujuh Huruf Al-Quran

O
rang yang terlibat di dalam percakapan sehari-hari mengerti apa itu
huruf karena persoalannya sudah sangat jelas. Hal ini menyebabkan
lawan bicara tak perlu meminta penjelasan. Demikian juga yang
berbicara, ia tak perlu menjelaskan arti huruf itu. Namun, bila huruf ini masuk
ke dalam pembicaraan mengenai Al-Quran, masalahnya akan menjadi lain karena
huruf yang dengannya diturunkan Al-Quran ditafsirkan berbeda-beda. Di sekitar
huruf itu banyak persilangan pendapat. Bukan hanya satu dua ulama yang
terlibat ikhtilaf disekitarnya. Kalaulah tidak ada hadits yang kuat, mungkin ulama
lebih senang mendiamkannya, tak mau angkat suara tentang huruf itu. Bukankah,
keluar dari perbedaan pendapat itu lebih disukai?

Mari kita simak riwayat berikut. Menurut hadits yang diriwayatkan oleh
imam Al-Bukhari dan Muslim, Umar bin Al-Khathtab pernah perang.
Peristiwanya terjadi ketika Rasulullah SAW masih hidup. Pasalnya, suatu ketika
Hisyam bin Hakim salat. Ia membaca Surah Al-Furqan. Rupanya Umar yang
memperhatikan bacaan Hisyam bin Hakim itu mendengar kejanggalan bacaan
Hisyam. Ada beberapa lafaz Hisyam yang belum pernah diketahui Umar. Padahal,
sepengetahuan Umar, Rasulullah tak pernah mengajarkan bacaan yang baru saja
dibaca Hisyam. Sahabat Rasulullah SAW yang terkenal spontan ini nyaris tak
sabar, ingin langsung menegur Hisyam. Untungnya Umar mampu bertahan,
menanti sampai Hisyam usai salat. Begitu selesai salat, Umar langsung menegur.
Siapa yang mengajarkanmu membaca surah ini? tegur Umar dengan perang.
Aku diajarkan membacanya oleh Rasulullah SAW, jawab Hisyam. Tapi rupanya

58
Umar tak percaya dengan jawaban Hisyam. Ia langsung mendamprat Hisyam
dengan mengatakan : Kau bohong! dan untuk membenarkan tuduhnya, Umar
pun tak segan-segan bersumpah, bahwa Rasulullah SAW tak pernah
mengajarkannya bacaan yang baru saja ia dengar. Tidak cukup sampai di situ.
Umar kemudian menuntun Hisyam menghadap Rasulullah SAW. Setelah bertemu
Rasulullah SAW, Umar langsung mengadu : Wahai Rasulullah, aku baru saja
mendengar orang ini membaca surah Al-Furqan dengan huruf yang tidak
kuajarkan padaku. Padahal engkau telah mengajarkanku surah Al-Fuqan.
Rasulullah lalu mengatakan, Ajaklah dia ke sini, hai Umar. Rasulullah lalu
menyuruh Hisyam membaca surah Al-Furqan yang tadi dianggap berbeda oleh
Umar. Setelah mendengar bacaan Hisyam, Rasulullah membenarkannya dan
bersabda :





.


Sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah yang
mudahnya.

Cerita Umar menggiring Hisyam ke hadapan Rasulullah SAW, yang


diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim ini, sesungguhnya bukan satu-satunya
riwayat disekitar tujuh huruf Al-Quran. Imam Muslim menurunkan pula riwayat
lain, dari Ubai bin Kaab yang bisa saja pelaku kasusnya berbeda. Dalam riwayat
itu dikisahkan bahwa pada suatu ketika Kaab berada di masjid. Lalu datang
seseorang dan salat, Ubai bin Kaab yang mendengar bacaan salat orang itu
menganggap aneh. Kemudian masuk lagi seseorang yang lain. Orang yang kedua
itu pun membaca ayat Al-Quran dengan huruf yang berbeda dengan bacaan
orang yang sebelumnya. Ubai yang merasa belum pernah diajari Rasulullah

59
bacaan yang baru saja ia simak dari dua orang tadi mengajak mereka menemui
Rasulullah. Begitu Ubai usai menuturkan pengaduannya, Rasulullah SAW
menyuruh kedua orang tadi membaca ulang bacaan yang baru saja didengar Ubai
Anehnya, setidak-tidaknya demikian anggapan Ubai bin Kaab. Rasulullah
justru memuji bacaan kedua orang tadi, dan mengatakan bagus. Mendengar
ucapan Rasulullah SAW, Ubai (masih dalam riwayat Muslim) merasa shock berat.
Ia seolah-olah telah menuduh orang lain berbuat bohong, suatu tuduhan yang
dirasakan Ubai datang akibat bisikan setan.

Rasulullah SAW seperti diriwayatkan oleh Muslim dari Ubai ini, memang
meminta semacam dispensasi kepada utusan Allah yang menyampaikan wahyu,
yakni Jibril. Permintaan Rasulullah SAW yang pertama dikabulkan. Ini artinya
umat Nabi Muhammad SAW diperkenankan membaca kitab sucinya dengan dua
huruf. Keringanan dua huruf ini masih dirasa Rasulullah belum cukup. Beliau
pun meminta lagi dispensasi dan dikabulkan lagi. Setelah Rasulullah SAW tiga
kali meminta permintaan keringanan, Jibril memberi tahu bahwa Al-Quran
diturunkan dengan tujuh huruf. Dalam riwayat Imam Muslim yang lain dari
Ubai bin Kaab pula terdapat tambahan kalimat Jibril seperti berikut : Dengan
huruf yang mana pun mereka membaca (salah satu dari tujuh huruf), berarti
mereka benar.

Persoalan tentang Al-Quran yang diturunkan dengan tujuh huruf ini sulit
dibantah. Menurut pakar di bidang ini, riwayat tujuh huruf dinyatakan kuat.
Narasumbernya adalah para sahabat terkemuka dengan jumlah yang cukup
banyak. Menurut Amir Abdulah Aziz jumlahnya sekitar 40 orang.

Di antaranya yaitu Ubai bin Kaab, Anas bin Malik, Hudzaifah bin Al-
Yamani, Zaid bin Arqam, Samurah bin Jundad, Abdullah bin Masud, Abdullah
bin Abbas, Abdullah Al-Rahman bin Auf, Utsman bin Affan, Umar bin Al-
Khaththab, Muadz bin Jabal, dan Hisyam bin Hakim. Mari kita ikuti sebagian
riwayat itu.

1. Dari Ibnu Abbas r.a diriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW, bersabda :

60





.




Jibril membacakan (Al-Quran) kepadaku dengan satu huruf. Aku kembali
kepdanya kemudian meminta tamba. Ia lalu menambahkan padaku sampai aku
)menyelesaikan tujuh huruf. (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim

2. Dari Ubai bin Kaab, berkata :



.
.
Rasulullah pernah berjumpa Jibril alaihil di batu-batu Marwah, lalu berkata :
Sesungguhnya aku diutus kepada suatu umat yang ummiy ; diantara mereka ada
orang tua, ada orang jompo dan ada anak-anak. (Jibril) berkata : Suruhlah
mereka membaca Al-Quran sesuai dengan (salah satu) tujuh huruf. (Riwayat Al-
)Tirmidzi

3. Al-Thabariy dan Al-Thabraniy meriwayatkan dari Zaid bin Arqan berkata :

:

61
Seseorang datang kepada Rasulullah dan mengatakan : Aku diajari oleh ibnu
Masud suatu surah yang pernah diajarkan Zaid bin Tsabit kepadaku. Dan Ubai
bin Kaab pun mengajarkan kepadaku. Bacaan mereka berbeda-beda. Bacaan
mereka yang manakah yang mesti kuambil?

Mendengar pertanyaan orang yang tidak disebut namanya dalam riwayat Al-
Thabariy dan Al-Thabraniy tadi, Rasulullah SAW tetap diam tak menjawab. Ali
yang waktu itu berada disamping Rasulullah SAW kemudian mengatakan :

.
Hendaknya setiap orang di antara kamu membaca (Al-Quran) sesuai yang
diajarkan, sesungguhnya itu bagus, indah.

4. Qasim Ibnu Ushaibah Al-Andalusi mengeluarkan hadits dari Abu Hurairah


yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda :





.
Sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah tidak
mengapa. Tetapi jangan kamu ganti menyebut rahmat dengan azab, jangan pula
(kau ganti) menyebut azab dengan rahmat.

Celah-celah untuk membantah tujuh huruf yang dengannya Al-Quran diturunkan


boleh dibilang tertutup. Dalam waktu yang bersamaan, tidak ada informasi yang
menunjuk kepastian wujud dari tujuh huruf itu. Tak ada satu pun riwayat yang
memberi kejelasan tujuh huruf yang dimaksud Rasulullah SAW. Oleh karena itu,
sekalipun para ulama sepakat Al-Quran diturunkan dengan tujuh huruf, mereka
berbeda pendapat mengenai hakikat tujuh huruf itu. Persilangan pendapat para

62
ulama mengenai tujuh huruf ini begitu tajam. Jumlah pendapatnya pun banyak
sekali, misalnya sebagai berikut :

1. Bahwa tujuh huruf yang dimaksud hadis-hadis diatas tidak akan mungkin
ditangkap hakikat atau maksudnya oleh manusia.
Sebabnya hakikat tujuh huruf itu tidak mungkin diinterpresentasikan
sebagai huruf hijaiyah, kalimat, atau arah. Padahal dari segi bahasa, tidak
dikenal pengertian lain, kecuali tiga makna yang disebut diatas;
2. Bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf itu bukan hakikat bilangan,
melainkan Al-tashil, Al-tasyir (kemudahan) dan Al-saah (keleluasaan,
kelapangan);
3. Bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh qiraat;
4. Bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tempat terjadinya
perubahan. Ketujuh tempat dijelaskan dibawah ini :
a. Kata yang berubah harakat-nya, sementara bentuk tulisan dan
maknanya tetap tidak berubah. Misalnya, firman Allah yang berbunyi :
( mereka )wanita( lebih suci bagimu) berubah menjadi
Harakat dhammah pada huruf ra berubah menjadi fathah.
Sementara maknanya, baik huruf ra itu berharakat dhammah (ath-
haru) atau fathah (ath-hara) ia tetap bermakna sama : mereka (wanita)
lebih suci bagimu.
b. Kata yang berubah maknanya karena perubahan kedudukan tata
bahasa, sementara bentuk tulisannya tidak berubah. Misalnya firman
Allah berbunyi menjadi , Rabbuna (
)berubah menjadi Rabbana ( )dan kata baada ( )berubah
menjadi baid (.). Bila pada kalimat pertama bermakna : Tuhan
kami telah menjauhkan antara perjalanan kami, maka setelah berubah,
kalimat itu bermakna : Tuhan kami, jauhkanlah antara perjalanan
kami.
c. Kata yang mengalami perumahan makna karena berubahnya huruf,
tetapi bentuk tulisannya tetap. Misalnya, nunsyizuha ( )berubah
menjadi nunsyiruha ()
d. Kata yang bentuknya berubah tapi maknanya tidak berubah. Misalnya :
berubah menjadi

63
e. Kata yang bentuk tulisan dan maknanya mengalami perubahan.
menjadi
Misalnya firman Allah :
f. Perubahan susunan kalimat dengan taqdim (mendahulukan) dan
takhir (mengakhirkan). Misalnya : ( dan
datanglah sakaratul maut dengan benar) menjadi
(dan datanglah sakarat yang sebenarnya dengan kematian).
g. Perbedaan yang di dalam lahjah (logat) yang terjadi pada fathah,
imalah tarqiq, tafkhim, izhhar, idgam dan lain-lain.
5. Bahwa yang dimaksud tujuh huruf adalah tujuh macam kalam di dalam
Al-Quran yang satu sama lainnya berbeda. Misalnya berbentuk amar
(perintah), nahyi (larangan), wad (janji), waid (ancaman), halal, haram,
muhkam, dan mutasyabih.
6. Bahwa yang dimaksud tujuh huruf adalah tujuh lafaz yang berbeda, tetapi
mempunyai pengertian yang sama. Misalnya aqbil (), taala (),
ajjil (), dan asri (). Lafaz-lafaz semacam ini meringankan kaum
Muslim dalam membaca Al-Quran sekaligus menangkap maksud.

Pendapat yang kelima merujuk pada sejumlah hadits. Diantaranya hadits


dari Abu Hurairah yang mengatakan :
.
Al-Quran diturunkan atas tujuh huruf, Aliman (Maha tahu), Hakiman
(Maha bijaksana), Ghafuran (Maha pengampun), dan Rahiman (Maha
Penyayang).

Pendapat keenam juga merujuk kepada suatu riwayat yang mengatakan


bahwa Abdullah bin Masud membaca :

.
Al-Thahawiy mengomentari keragaman pelafalan dan bacaan dengan
pengertian yang sama ini termasuk bab rukhshah karena banyak anggota
masyarakat dari kabilah tertentu yang sulit melafalkan satu kata tertentu.

7. Bahwa yang dimaksud tujuh huruf adalah tujuh istilah. Misalnya muthlaq,
muqayyad, am, khash, nash, muawwal, nasikh, mansukh, mujmal, dan
mufassar.

64
8. Bahwa yang dimaksud tujuh huruf adalah tata cara membaca dan
mengucapkan, seperti pada masalah-masalah berikut : Idgam, izhar,
tafkhim, tarqiq, imalah, isyba, mad, dan qashr, serta lain-lain.
9. Bahwa yang dimaksud tujuh huruf adalah tujuh logat pada tujuh kabilah
Arab. Menurut penganut mazhab ini, bukan berarti satu huruf bisa satu
macam, tetapi tujuh logat bahasa Arab yang digunakan oleh kabilah-
kabilah Arab digunakan dalam bahasa Al-Quran. Sebagian ayat-ayat Al-
Qurann, menurut penganut haluan ini, diturunkan dengan logat kabilah
Quraisy. Sementara sebagian lainnya dengan logat Hudzail. Ada pula yang
dengan logat Tamim, Azd, Rabiah, dan Hawazin.

Para pendukung haluan ini memegang dalil ucapan Utsman ketika beliau
menginstrupsikan penulis Al-Quran. Waktu itu Utsman berpesan kepada
Panitia Empat yang menggarap penulisan Al-Quran sebagai berikut :
Jika terdapat lafal dimana kalian berbeda dengan Zaid bin Tsabit, maka
tulislah dengan bahasa (logat) Quraisy, karena sesungguhnya dia (Al-
Quran) paling banyak diturunkan dengan logat mereka.

Di luar Sembilan pendapat yang baru saja ditampilkan, sesungguhnya


masih ada lagi pendapat lain yang mewakili sudut pandang tertentu.
Misalnya, kalangan ahli bahasa dan pakar gramatika (nahwu). Para pakar
bahasa menafsirkan tujuh kata yang dimaksud oleh hadits Rasulullah
SAW adalah hadzf, shilah, taqdim, dan takhir, qalb, istiarah, tikrar,
kinayah, haqiqah, majaz, serta mujmal dan mufasar, sedangkan ahli nahwu
(gramatika bahasa Arab) menafsirkannya dengan : tadkir, tanits, syarth,
dan jaza, tashrif, dan Irab, iqsam dan jawab qasam, jama, dan tafriq,
serta tashghir dan tazhim.
Banyaknya pendapat yang jumlahnya (menurut Dr. Amir Abd Al-
Aziz 40 pendapat, tentu menyulitkan orang walaupun sekedar menentukan
pilihan. Apalagi bila melihat pendapat-pendapat itu lebih banyak bermain
logika atau menafsirkan nash. Sementara nash sendiri (seperti disinggung
di atas) tidak menyebut hakikat tujuh huruf itu. Sekadar menurunkan
pilihan ulama, berikut ini di kemukakan bahwa Al-Zarqaniy menjagokan

65
pendapat nomor empat. Alasan penulis kitab Manahil Al-Irfan memilih
pendapat itu, karena menurutnya paling tepat untuk menafsirkan bahwa
hadits-hadits mengenai Al-Quran diturunkan dengan tujuh huruf.

DI BUAT OLEH : NUR RISMAWATI

NPM : 1502090O36

PRODI : HUKUM EKONOMI SYARIAH

MATA KULIAH : ULUMUL QURAN

BAB 6

Makkiyah dan Madinah

S
eorang alim bernama Abu Al-Qasim Al-Nisaburiy pernah berkata,
Ilmu-ilmu Al-Quran yang paling mulia, di antaranya adalah
mengenai nuzulnya, tempat dan urutan (ayat) yang turun di Mekah
dan Madinah, ayat yang turun di Mekah hukumnya Madaniyah, ayat
yang turun di Madinah hukumnya Makkiyah, ayat yang turun di Mekah tentang
penduduk Madinah, ayat yang turun di Madinah tentang penduduk Mekah, ayat
yang turun di Madinah mirip Makkiyah, ayat yang turun di Juhfah, ayat yang
turun di Bait Al-Maqdis, ayat yang turun di Thaif, ayat yang turun di Hudaibiyah,
ayat yang turun di malam hari, ayat yang turun di siang hari, ayat yang turun di
saksikan sejumlah malaikat, ayat yang turun tanpa di saksikan sejumlah malaikat,
ayat-ayat Madaniyah di surah-surah Makkiyah, ayat-ayat Makkiyah di surah-
surah Madaniyah , ayat-ayat yang dibawa dari Mekah ke Madinah, ayat-ayat yang

66
dibawa dari Madinah ke Mekah, ayat-ayat yang dibawa dari Madinah ke Habsyah,
ayat-ayat yang turun secara global, ayat-ayat yang turun berikut tafsirnya, dan
ayat-ayat yang status kategorinya diperselisihkan sebagian mengatakan
Madaniyah dan sebagian lainnya mengatakan Makkiyah (Dirasat fi Ulum Al-
Quran, hlm. 56)

Dua puluh permasalahan yang disebutkan Anu Al-Qasim dalam kalimat


yang melelahkan pembaca di atas memang sangat penting untuk dikuasai oleh
mereka yang ingin mengenal lebih jauh kitab sucinya. Bahkan Dr. Amir Abu Al-
Aziz menilai bahwa orang yang tidak mnguasai dan tidak mampu menangkap
perbedaan permasalahan yang diutarakan Al-Qasim di atas tidak halal berbicara
mengenai Kitabullah Al-Quran (Dirasat fi Ulum Al-Quran, hlm. 56)

Begitu pentingnya arti pengelompokan yang diutarakan Al-Quran di atas.


Pada umunya, para pakar Ulum Al-Quran membahas permasalahan ini dalam
suatu maudhu yang lazim disebut Makkiyah dan Madaniyah. Bila tidak
menguasainya, banyak faedah yang tidak dapat dipetik, dan banyak mengalami
kesulitan dalam mendalami Al-Quran. Bahkan seseorang yang hendak mengetahui
Al-Quran tanpa memahami ayat-ayat Makkiyah dan itu ayat-ayat Madaniyah bisa-
bisa terjebak ke dalam kesalahan yang fatal.

A. Definisi Makkiyah dan Madaniyah

Studi tentang ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah sesungguhnya tidak lebih dari
memahami pengelompokan ayat-ayat Al-Quran berdasarkan waktu dan tempat
turunnya. Dalam hubungan ini, sekurang-kurangnya ada tiga definisi (tarif) yang
sering di kemukakan para pakar di bidang ini, yaitu :

1. Makkiyah adalah ayat-ayat Al-Quran yang turun sebelum hijrah dan


Madaniyah adalah ayat-ayat Al-Quran yang turun sesudah hijrah. Tarif ini
menetapkan, ayat-ayat yang turun setelah hijrah, sekalipun itu terjadi di
sekitar Mekah tetap diklarifikasikan sebagai ayat Madaniyah.

67
2. Makkiyah adalah ayat-ayat yang turun di Mekah sekalipun ayat
Madaniyah. Ayat itu setelah hijrah, dan Madaniyah adalah ayat-ayat yang
turun di Madinah.
Bila definisi ini diterima, mungkin ada semacam kesulitan kecil untuk
mengklasifikasikan ayat-ayat yang diterima Rasulullah SAW ketika beliau
dalam perjalanan. Misalnya, ayat yang turun ketika Rasulullah SAW di
tabuk. Akan dikelompokan kemana ayat-ayat ini?
3. Makkiyah adalah ayat-ayat yang khithab-nya ditujukan kepada penduduk
Mekah, dan Madaniyah adalah ayat-ayat yang khithab-nya ditujukan
kepada penduduk Madinah.

Ketiga definisi di atas pada dasarnya merupakan bagian dari usaha


pengklasifikasian ayat-ayat Al-Quran. Akan tetapi, untuk menghindari kerancuan,
kita lebih suka memilih definisi pertama. Dengan pengklasifikasikan yang teliti
berdasarkan tempat dan waktu turunnya ayat, akan diketahui ayat-ayat mana saja
yang turun lebih dahulu dan turun kemudian. Selanjutnya akan diketahui pula
kronologi turunnya ayat tertentu. Dari pengetahuan mengenai Makkiyah dan
Madaniyah ini,sekurang-kurangnya akan didapati tiga faedah.

Pertama, mengtahui ayat-ayat mana saja yang nasikh dan ayat-ayat mana
saja yang mansukh bila terlihat adanya dua ayat yang berbeda pesan. Tentang
nasikh-mansukh ini, insya Allah dikupas dalam kesempatan berikut.

Kedua, bahwa makna dan pesan yang dikandung ayat tertentu sering kali
berkaitan dengan sebab tertentu pada kasus dan tempat kejadian tertentu pula.
Dengan adanya klasifikasi ini, usaha memahami ayat Al-Quran secara benar akan
sangat terbantu dan kekeliruan akan dapat ditekan sekecil mungkin.

Ketiga, bahwa kehidupan Rasulullah SAW adalah uswah hasanah, suru


teladan bagi setiap mukmin. Dengan melihat ayat-ayat yang turun di Mekah dan
Madinah, akan diketahui pendekatan pembinaan pribadi maupun masyarakat
mukmin yang dilakukan Al-Quran (masyarakat Mekah adalah masyarakat yang
berbeda dengan Madinah, dan kondisi umat maupun kalangan bukan Muslim

68
setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah berbeda dengan keadaannya ketika
sebelum Rasulullah SAW hijrah, last but not least, karakter penduduk Mekah
berbeda dengan penduduk Madinah).

B. Cara Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah

Studi Makkiyah adalah studi sejarah, studi sirah, dan studi tentang kejadian
tertentu yang memerlukan penyaksian langsung. Oleh karena itu, tak ada jalan lain
yang dapat membantu di dalam memahami ayat-ayat mana saja yang terbilang
Makkiyah dan ayat-ayat mana saja yang termasuk Madaniyah, kecuali riwayat
dari para sahabat Rasulullah SAW karena merekalah yang mengikuti perjalanan
hidup Rasulullah SAW baik di Mekah maupun di Madinah. Dari segi sumbernya,
Makkiyah dan Madaniyah sama saja dengan Sabab Nuzul, artinya Makkiyah
maupun Madaniyah hanya dapat diketahui melalui riwayat demi riwayat yang
diturunkan secara estafet dari satu generasi ke generasi berikutnya sebelum
kemudian dibukukan atau ditulis dalam suatu bentuk catatan. Sekalipun demikian,
ada semacam isyarat-isyarat yang bisa ditangkap untuk membedakan ayat
Makkiyah dengan ayat Madaniyah. Isyarat-isyarat yang biasa disebut dhawabith
itu adalah sebagai berikut.

Cirri-ciri Surah Makkiyah

1. ) di sebagian besar atau seluruh ayatnya.


Terdapat kata kalla (
2. Terdapat sujud tilawah di sebagian atau seluruh ayat-ayatnya.
3. Diawali huruf tahajji seperti qaf (), nun (), dan ha min ().
4. Memuat kisah Adam dan iblis (kecuali surah Al-Baaqarah)
5. Memuat kisah para nabi dan umat-umat terdahulu.
6. Di dalamnya terdapat khithab (seruan) kepada semua manusia (wahai
semua manusia...)
7. Menyeru dengan kalimat Anak Adam
8. Isinya memberi penekanan pada masalah akidah.
9. Ayatnya pendek-pendek.

69
Ciri-ciri Madaniyah

1. Terdapat kalimat orang-orang yang beriman pada ayat-ayatnya.


2. Terdapat hukuman-hukuman faraidh, hudud, qishahsh dan jihad di
dalamnya.
3. Menyebut orang-orang munafik (kecuali Al-Ankabut).
4. Memuat bantahan terhadap Ahlu Al-Kitab (Yahudi dan Nasrani).
5. Memuat hukum syara seperti ibadah, muamalah dan Al-ahwal Al-
syakhshiyah.
6. Ayatnya panjang-panjang.

Ada suatu hal yang perlu diingat, bahwa surah Makkiyah maupun surah
Madaniyah tidak selalu bermuatan ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah. Bisa jadi
di dalam surah yang diklasifikasikan Makkiyah terdapat ayat-ayat Madaniyah.
Demikian pula sebaliknya, misalnya surah Al-Baqarah. Surah ini diklasifikasikan
sebagai surah Madaniyah, tetapi pada surah tersebut terdapat kalimat
(hai sekalian manusia...) yang menjadi dhawabith ayat-ayat Makkiyah.
Demikian pula pada surah yang diklasifikasikan Makkiyah. Misalnya, surah Al-
Hajj. Disana terdapat kalimat yang menjadi cirri surah Madaniyah, yaitu kalimat

( hai orang-orang yang beriman).

Isyarat-isyarat atau ciri-ciri yang lazim disebut dhawabith, baik itu pada
Madaniyah maupun Makkiyah, bukanlah sesuatu yang pasti. Ketetapan itu diambil
berdasarkan taghlib, yakni kebanyakan atau kebiasaan. (Dirasat fi Ulumul Al-
Quran, hlm. 62). Dengan demikian, selanjutnya bisa disusun semacam
pengelompokan surah-surah Al-Quran sebagai berikut.

1. Surah Makkiyah yang keseluruhan ayat-ayatnya Makkiyah. Misalnya surah


Al-Muddatstsir. Juga surah Madaniyah yang keseluruhan ayatnya
Madaniyah pula. Misalnya Surah Al Imran.
2. Surah Makkiyah yang sebagian besar ayat-ayatnya Makkiyah, kecuali
beberapa ayat lainnya yang Madaniyah. Misalnya surah Al-Araf. Hamper
keseluruhan ayat dalam surah ini adalah Makkiyah, kecuali ayat 163
sampai dengan ayat 171.

70
3. Surah Madinah yang hamper keseluruhan ayatnya Madaniyah, kecuali
beberapa ayat. Misalnya, surah Al-Hajj yang keseluruhan ayatnya
Madaniyah, kecuali empat ayatnya yang Makkiyah, yaitu ayat 52 sampai
ayat 55.

Antara ayat Makkiyah dan Madaniyah sesungguhnya masih ada semacam


kemiripan-kemiripan yang sulit ditangkap menggunakan isyarat-isyarat yang
dikemukakan di atas. Imam Al-Suyuthiy mengingatkan hal ini dengan
memberikan beberapa contoh. Misalnya ayat yang berbunyi :


.

Mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain
kesaahan-kesalahan kecil. (QS. Al-Najm [53]:32)

( perbuatan-perbuatan keji) oleh sebagian ulama dianggap pelanggaran


hukum yang mengakibatkan had, sedangkan ( dosa-dosa besar) adalah semua
dosa yang mengakibatkan pelakunya mendapat ganjaran neraka. yang disini
diterjemahkan menjadi kesalahan-kesalahan kecil, kata Al-Suyuthiy, adalah
kesalahan yang mempunyai bobot di antara kabair dan Al-fawahisy. Padahal
waktu itu di Mekah belum dikenal adanya had, sedangkan surah ini adalah surah
Makkiyah. Oleh karena itu, Al-Suyuthiy lebih suka memilih mendefinisikan
fawahisy dengan kabair atau dosa besar. Sementara kabair sendiri ia definisikan
sebagai pelanggaran yang membuat besar (keras) siksaan.

Sementara itu, menurut Suyuthiy ada sebagian ulama yang mengecualikan


ayat ini sebagai ayat Madaniyah pada surah Makkiyah (Lihat Manahil Al-Irfan,
hlm. 201). Pengecualian ini barangkali dimaksudkan agar sesuai dengan
definisinya yang mengatakan fawahisy adalah dosa yang mengakibatkan had,
maka ayat 32 surah Al-Najm ini dianggap Madaniyah.

Lebih lanjut, Suyuthiy mengungkapkan bahwa memang ada sebagian


ulama yang di dalam menetapkan pengecualian suatu ayat, dalam surah Makkiyah

71
demikian juga Madaniyah, menggunakan pendekatan ijtihad (Lihat Al-Itqan, jilid
I, hlm. 23). Pendekatan semacam ini oleh Dr.Subhi Shalih dinilai sebagai sesuatu
yang wajar dan tidak bertentangan dengan pesan riwayat Ibnu Abbas yang
berbunyi : Apabila pembukaan suatu surah turun di Mekah, surah itu dinyatakan
Makkiyah.... Subhiy meengambil contoh surah Al-Isra Surah ini, kata Subhiy
adalah Makkiyah, tetapi di dalam surah itu terdapat ayat yang dikecualikan, yaitu
ayat 73. Oleh karena sejak pembukaannya Makkiyah dan hamper keseluruhan ayat
pada surah itu Makkiyah, maka tak ada kesulitan di dalam menetapkan Makkiyah-
nya surah ini.

Agak sulit tampaknya di dalam menangkap maksud Dr. Shubhiy ketika ia


menjelaskan proses ijtihad pada pengambilan keputusan Makkiyah atau
Madaniyah-nya suatu surah atau suatu ayat yang dikemukakannya di atas.
Mungkin kita lebih mudah menangkap bila yang dicontohkannya dalah surah Al-
Fatihah. Beberapa ulama, seperti Imam Mujahid, mengatakan surah ini termasuk
Madaniyah, tetapi Ibnu Abbas, Al-Dhahak, Muqatil dan Atha berpendapat surah
ini bukan termasuk klasifikasi Madaniyah, tetapi Makkiyah (Lihat Al-Burhan fi
Ulumul Al-Quran, jilid I, hlm. 194).

Jika yang dilacak hanya sekedar menyangkut tempat di mana surah itu
diturunkan, maka persoalannya bisa selesai dengan kompromi kedua pendapat
yang ada, yaitu dengan mengatakan ayat itu turun tidak satu kali, tidak sebelum
hijrah saja dan tidak sesudah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah saja. Hanya saja
bila yang ditargetkan bukan sekedar itu, misalnya bila target itu untuk kepentingan
penyusunan kronologi turunnya surah, maka cara melakukan kompromi dua
pendapat seperti di atas tidaklah cukup. Dalam keadaan seperti ini diperlukan
ijtihad. Al-Wahidiy misalnya, mempertanyakan leabsahan pendapat yang
mengatakan surah Al-Fatihah turun sesudah hijrah. Belasan tahun Rasulullah
SAW salat di Mekah, tidak mungkin di dalam shalat beliau tidak membaca Al-
Fatihah. Penulis kitab Asbab al Nuzul yang terkenal ketat di dalam memegang
riwayat dan sanad ini pun dalam keadaan tertentu menggunakan pendekatan
agumentatif atau berijtihad. Al-Wahidiy tidak selamanya ngotot berpatokan

72
pada riwayat dan menolak ijtihad di dalam mengatasi kasus yang tengah kita
bahas ini seperti ketika beliau mempersoalkan Madaniyah-nya surah Al-Fatihah
ini.

1. Surah-Surah yang Turun di Mekah

Imam Badruddin Muhammad bin Abdullah Al-Zarkasyi dalam kitabnya


berjudul Al-Burhan fi Ulumul Al-Quran menulis bahwa surah-surah yang turun di
Mekah berjumlah 83 buah. Angka ini berbeda dengan yang disodorkan Ibnu Jarih
dalam Al-Fihrist. Tokoh yang disebut terakhir ini meriwayatkan dengan sumber
dari Atha dari Ibnu Abbas, sebagai berikut : Surah yang turun di Mekah
berjumlah 85 buah dan yang turun di Madinah 28 buah.

Bila disimak lebih jauh, sesungguhnya perbedaan antara kedua pendapat di


atas bukan sekadar pada angka, tetapi juga pada urutannya. Misalnya surah Al-
Insyirah menurut urutan yang disusun Ibnu Nadim dengan sanad Muhammad bin
Numan bin Nasyir seperti dimuat Al-Fihrist, surah ini di tempatkan di urutan ke-
8, sedangkan Al-Zarkasyi menetapkan pada urutan ke-11.

Berikut ini adalah kronologi turunnya ayat-ayat Al-Quran di Mekah menurut


kitab Al-Fihrist yang diambil dari buku Wawasan Baru Tarikh Al-Quran karya
Syekh Abu Abdullah Al-Zanjani.

1. Iqra s.d Maa lam yalam


2. Nun wa Al-Qalam
3. Ya ayyuha Al-Muzammil
4. Al-Muddatstsir
5. Tabbat (surah Al-Lahab) menurut riwayat Mujahid.
6. Idza Al-Syamsu Kuwwirat (Al-Tawir)
7. Sabbih isma Rabbika (Al-ala)
8. Alam Nasyrah (Al-Insyirah)
9. Al-Ashar.
10. Al-Fajr.
11. Wa Al-Dhuha.
12. Wa Al-Laili.
13. Wa Al-Adiyat
14. Inna Athainaka (Al-Kautsar)
15. Alhakumu Al-Takatsur (Al-Takatsur)

73
16. Araita alladzi yukadzdzibu bi Al-Din
17. Qul ya ayyuha Al-Kafirun (Al-Kafirun)
18. Alam tara kayfa (Al-Fil)
19. Qul Huwa Allahu Ahad (Al-Ikhlas)
20. Qul audzu bi Rabbi Al-Falaq (Al-Falaq)
21. Qul audzu bi Rabbi Al-Nas (Al-Nas)
22. Wa Al-Najm (Al-Najm)
23. Abasa.
24. Inna anzalnahu (Al-Qadr)
25. Wa Al-syamsi.
26. Wa al Samai zati Al-Buruj (Al-Buruj)
27. Wa Al-Tin.
28. Li Ilafi Quraisyin (Quraisy)
29. Al-Qariah
30. La uqsimu bi yaumi Al-Qiyamah
31. Al-Humazah.
32. Al-Mursalaat.
33. Qaf wa Al-Quran.
34. La uqsimu bi hadza Al-Balad (Al-Balad)
35. Al-Rahman.
36. Qul Uhiya (Al-Jin).
37. Yasin.
38. Alif Lam Mim Shad.
39. Al-Furqan.
40. Al-Malaikah.
41. Alhamdillillahi fathiri Al-samawat.
42. Maryam.
43. Thata.
44. Idza waqaat (Al-Waqiah)
45. Tha Sin Mim (Al-Syuara)
46. Tha Sin.
47. Tha Sin Mim (Al-Akhirah)
48. Bani Israil.
49. Hud.
50. Yusuf.
51. Yunus.
52. Al-Hijr.
53. Al-Shaffat.
54. Luqman (ayat akhirnya Madaniyah).
55. Qad afalaha Al-Muminun (Al-Muminun)
56. Saba
57. Al-Anbiya.
58. Al-Zumar.
59. Ha Min Al-Mumin
60. Al-Sajdah.
61. Ha Mim Ain Sin Qaf.

74
62. Al-Zukhruf.
63. Ha Mim Al-Dukhan
64. Ha Mim Al-Syariah
65. Ha Mim Al-Ahqaf (padanya terdapat beberapa ayat Madaniyah).
66. Al-Dzariyat.
67. Hal ataka haditsu Al-Ghasyiyah.
68. Al-Kahfi (ujungnya Madaniyah)
69. Al-Anam.
70. Al-Nahl (Ayat terakhirnya Madaniyah)
71. Nuh.
72. Ibrahim.
73. Al-Sajdah (Alif Lam Mm Sajdah)
74. Al-Thur
75. Tabaraka alladzi bi yadihi (Al-Mulk).
76. Al-Haqqah.
77. Saala Sailun
78. Amma yatasaalun (Al-Naba)
79. Al-Naziat
80. Al-Infithar
81. Al-Insyiqaq.
82. Al-Rum.
83. Al-Ankabut.
84. Al-Muthaffifin.
85. Iqtarabat Al-Saah.
86. Al-Thariq.
87, 88, dan 89. Berdasarkan sumber Al-Tsauriy dan Firas dari Al-Syabiy
berkata : Surah Al-Nahl turun di Mekah, kecuali ayat Wa in aqabtum fa
aqibu bi mitsli ma uqibtum bihi.

2. Surah-Surah yang Turun di Madinah


Berikut ini adalah surah-surah yang turun di Madinah.
1. Al-Baqarah.
2. Al-Anfal.
3. Al-Araf.
4. ALI Imran.
5. Al-Mumtahanah.
6. Al-Nisa.
7. Idza Zulzilat Al-Ardh.
8. Al-Hadid.
9. Alladzina kafaru.
10. Al-Rad.
11. Hal ata ala Al-Insan.

75
12. Ya Ayuha Al-Nabiyu idza thallaqtum Al-Nisa.
13. LamYakun alladzina kafaru.
14. Al-Hasyr.
15. Ida jaa Nashrullah.
16. Al-Nur.
17. Al-Hajj.
18. Al-Munafiqun.
19. Al-Mujadalah.
20. Al-Hujurat.
21. Ya Ayyuha Al-nabiyu lima tuharrimu (Al-Tahrim)
22. Al-Jumuah.
23. Al-Taghabun.
24. Al-Hawariyun.
25. Al-Fath.
26. Al-Maidah.
27. Al-Taubat.
28. Al-Muawwizatain (Al-Falaq dan Al-Nas)

3. Ayat-ayat yang Turun di Mekah dan Hukumnya


Madaniyah

Ayat-ayat yang turun di Mekah dan hukumnya Madaniyah adalah sebagai


berikut.

1. Ayat 13 surah Al-Hujurat.


2. Ayat 3 sampai dengan 5 surah Al-Maidah.
3. Ayat 13 surah Al-Hujurat, turun pada waktu Fathu Mekah.

Ayat ini dinyatakan Madaniyah karena turun sesudah hijrah, dan tiga ayat
surah Al-Maidah, yakni ayat 3, 4, dan 5turun pada hari Jumat. Kala itu umat
islam tengah wuquf di Padang Arafah dalam peristiwa Haji Wada. Haji ini
dilaksanakan Raulullah SAW setelah beliau berhijrah. Maka, ketiga ayat di
atas diklasifikasikan sebagai ayat-ayat Madaniyah kendati pun turun di Arafah
dan seperti diketahui Arafah adalah kawasan disekitar Mekah.

76
4. Ayat-Ayat yang Turun di Madinah dan Hukumnya
Makkiyah
1. Al-Mumtahanah
2. Ayat 41 surah Al-Nahl
Surah Al-Mumtahanah turun ketika Rasulullah hendak berangkat menuju
Mekah menjelang Futuh Mekah. Ini terjadi setelah hijrah. Kisahnya
sebagai berikut : Mengetahui Rasulullah SAW hendak berangkat ke
Mekah, seorang bernama Hattab bin Abi Baltaah menulis surah untuk
disampaikan kepada orang Quraisy di Mekah, isinya menginformasikan
rencana Rasulullah SAW dan kaum Muslim yang akan berangkat ke kota
yang disebut paling terakhir.
Entah mengapa Al-Zarkasyi mengklasifikasikan ayat-ayat ini sebagai
Makkiyah. Ia tak menjelaskan alasannya. Ada kemungkinan penulis kitab
Al-Burhan fi Ulumul Al-Quran ini sepakat dengan pendapat yang
mengatakan ayat Makkiyah adalah ayat-ayat yang khithab-nya diturunkan
kepada penduduk Mekah.
Bila melihat kasus ayat 41 surah Al-Nahl, tampaknya kemungkinan itu
benar, sebab Al-Zarkasyi juga memasukan ayat yang turun setelah hijrah
ini sebagai ayat Madaniyah yang hukumnya Makkiyah, oleh karena
khithab-nya ditujukan kepada Ahlu Mekah.
3. Awal surah Al-Taubat sampai dengan ayat 28. Ayat-ayat ini sesungguhnya
Madaniyah tetapi khithab-nya diturunkan kepada penduduk Mekah (Al-
Burhan fi Ulumul Al-Quran, jilid I, hlm. 196)

5. Makkiyah Mirip Madaniyah

Pada pembahasan terdahulu disinggung kasus ayat 32 surah Al-Najm. Di sana ada
kata .............. yang statusnya bisa jadi membingungkan banyak orang karena
hampir semua ulama mendefinisikan sebagai : Pelanggaran hukum yang
mengakibatkan had. Padahal sebelum Rasulullah SAW meninggalkan Mekah
menuju Madinah untuk berhijrah, hukuman itu belum dikenal. Ayat-ayat seperti

77
inilah yang disebut Makkiyah mirip Madinah. Al-Zarkasyi memasukan ayat 114
surah Hud ke dalam kategori ayat jenis ini. Ayat itu, kata Al-Zarkasyi turun
sehubungan dengan Abu Muqabbal Al-Husain Umar bin Qais dan seorang wanita
yang membeli kurma kepadanya.

6. Madaniyah Mirip Makkiyah

Kita masih merujuk pada kitab Al-Burhan fi Ulumul Al-Quran. Kitab ini memang
terbilang lengkap dalam menyajikan materi di seputar Makkiyah dan Madaniyah.
Di dalam kitab itu, hanya ada tiga ayat Madaniyah yang mirip Makkiyah yaitu.

1. Ayat 17 surah Al-Anbiya yang turun sehubungan dengan kedatangan


delegasi kaum Nasrini Najran.
2. Ayat 1 surah Al-Adiyat.
3. Ayat 32 surah Al-Anfal.

Selain itu, terdapat ayat-ayat yang turun di beberapa tempat. Di Al-Juhfah, turun
ayat 85 surah Al-Qashash; di Bait Al-Maqdis, Palestina, turun ayat 45 surah Al-
Zukhruf; di Thaif; turun ayat 45 surah Al-Furqan dan ayat 22, 23, dan 24 surah Al-
Insyiqaq; dan di Hudaibiyah turun ayat 30 surah Al-Rad.

7. Ayat-Ayat yang turun pada Malam Hari

Tak banyak yang dicatat Al-Burhan fi Ulumul Al-Quran tentang ayat yang turun
pada malam hari. Hanya ada tiga buah, yaitu :

1. Ayat 1 surah Al-Hajj ayat ini turun ketika terjadi peperangan Bani Al-
Mushthaliq;
2. Ayat 67 surat Al-Maidah;
3. Ayat 56 surah Al-Qashash.

Selain ayat-ayat yang diturunkan Al-Zarkasyi dalam kitab Al-Burhan fi Ulumul


Al-Qurannya seperti desebut di atas, Amir Abdul Aziz menambahkan beberapa
ayat lagi yang turun pada waktu malam, yaitu :

78
1. Ayat 190 s.d akhir surah Ali Imran, yang berarti keseluruhannya
berjumlah 10 ayat. Diriwayatkan, bahwa suatu malam Bilal hendak
mengumandangkan azan subuh. Sebelum itu ia mendapati Rasulullah
SAW tengah menangis. Bilal langsung menanyakan, apa gerangan yang
telah membuat Rasulullah menagis? Rasul SAW menjawab : Apa yang
menghalangku untuk menangis? Baru saja diturunkan kepadaku mala
mini... (Rasulullah SAW lalu membacakan ayat 90 surah Ali Imran
sampai dengan akhir surah itu). Usai membacakan ayat-ayat yang baru
saja beliau terima, Rasulullah kemudian mengatakan kepada Bilal :
Celakalah bagi orang yang membacanya, tetapi tidak memikirkannya.
2. Surah Al-Anam. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkata : Surah Al-
Anam turun di Mekah sekaligus pada malam hari, dikawal seribu
malaikat dengan mengumandangkan tasbih.
3. Surah Maryam,. Diriwayatkan dari Abu Maryam Al-Ghassaniy, berkata :
Aku pernah mendatangi Rasulullah SAW, lalu kukatakan aku punya
tetangga yang malam ini melahirkan bayi wanita, beliau (Rasulullah SAW)
lalu mengatakan, Mala mini diturunkan kepadaku surah Maryam. Berilah
dia nama Maryam.

DI BUAT OLEH : GILANG RAMADHAN

NPM : 1502090138

PRODI : HUKUM EKONOMI SYARIAH

MATA KULIAH : ULUMUL QURAN

BAB 7
PENULISAN AL QURAN

79
Orang Mesir kuno, menurut Syekh Abu Abdullah Al-Zanjani,
mempunyai tiga macam jenis tulisan, yaitu tulisan Hieroglif,
Herotik dan Demotik. Yang pertama, yakni Hieroglif adalah
tulisan yang dipakai khusus oleh para pemuka agama.
Sementara yang kedua (Herotik) adalah jenis tulisan resmi yang
dipakai di kantor-kantor pemerintahan, sedangkan yang ketiga
(Demotik) digunakan oleh masyarakat umum.
Di dalam sejarahnya, dari tiga jenis tulisan yang dimiliki oleh
orang Mesir Kuno itu, Demotik dianggap sebagai bagian penting
dari cikal bakal khat (tulisan) Arab. Tulisan Demotik dianggap
sebagai perkembangan tahap awal tulisan Arab. Tulisan ini
dijiplak oleh orang Phoenesia yang mendiami kawasan dekat
daratan Kanan di tepi Laut Tengah. Untuk keperluan dagangnya,
orang-orang Phoenesia yang berasal-usul dari keturunan bangsa
Semit ini mengambil lima belas buah huruf Demotik. Setelah
sedikit mengubah tulisan Demotik, orang-orang Phoenesia ini
(menurut Maspero, seorang ahli arkeologi) menambahkannya
dengan beberapa huruf. Perkembangan pada fase terakhir ini
(penambahan dengan beberapa huruf) dianggap sebagai
perkembangan tahap kedua. Perkembangan selanjutnya, atau
tahap ketiga, merupakan perpaduan kedua proses yang disebut
dengan tulisan yang berasal dari Al-Musnad, yaitu tulisan orang-
orang Arami, bagian dari bangsa Semit yang mendiami negeri
Palestina.
Para sejarawan Arab sendiri mengakui bahwa tulisan mereka
berasal dari penduduk Hirah dan Anbar. Hirah adalah sebuah
kota di daerah Najaf yang terletak 3 mil dari Kufah, sedangkan
Anbar adalah kota di tepi sungai Eufrat yang terletak sekitar 30
mil dari Bagdad.

80
Orang Anbar dan Hirah sendiri sesungguhnya bukan
termasuk pencipta tulisan. Mereka mendapatkan tulisan dari
orang-orang Kindah (dari Kabilah Kahlan yang tinggal di sebelah
selatan Jazirah Arabia) dan dari orang Nabthi. Bangsa yang
disebut paling akhir ini pernah mempunyai kerajaan yang
kekuasaannya membentang dari Damaskus sampai ke Wadi Qura
dekat Madinah sampai ke Teluk Suez. Orang-orang Nabthi,
menukil tulisan mereka dari Al-Musnad, jenis tulisan yang dipakai
oleh orang Arami (lihat Wawasan Baru Tarikh Al Quran, hlm. 39).
Para sejarawan Arab, kata Al Zanjani, sependapat bahwa
tulisan Arab dikenal di Mekah melalui seorang bernama Harb bin
Umayyah bin Abu Al-Syams, dan Harb belajar kepada Bisyr bun
Abd Al-Malik, saudara Ukaidir, si tokoh Daumatu Al-Jandal.
Sampai Islam datang, telah banyak penduduk Mekah yang
menguasai tulisan yang dibawa Harb ini, sekalipun tak sedikit
pula yang masih buta huruf (ummiy), termasuk diantaranya
Rasulullah SAW. Di dalam surah al-Ankabut ayat 48, Allah
berfirman sebagai berikut:



Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran)
sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab
dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca
dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).
(QS. al-Ankabut [29] : 48).

Buta hurufnya Rasulullah Saw justru (bagi beliau dan bagi


Islam) merupakan sesuatu yang positif. Kalau saja orang yang
mengemban wahyu ini mampu membaca dan menulis, tentu

81
para pembangkangnya mempunyai alas an untuk mengatakan
bahwa Al Quran itu adalah karangan Muhammad Saw.

A. TRADISI HAFALAN AL QURAN

Di dalam kamus Ulum Al-Quran dikenal istilah Jamu Al-


Quran. Istilah ini, menurut Dr. Shubhy Shalih dalam Mabahits fi
Ulum Al-Quran mempunyai dua pengertian, yaitu Al-hifzhu
(menghafal) dan Al-kitabah, yakni menulis Al-Quran pada benda-
benda yang dapat ditulis. Uraian singkat berkut ini akan
mengulas kedua jenis Jamu Al-Quran tersebut.
Rasulullah Saw pernah ditegur Allah Swt karena beliau dinilai
terlau tergesa-gesa. Begitu Jibril dating kepada Rasulullah Saw,
beliau sudah tak sabar lagi ingin segera menguasai ayat-ayat
yang baru beliau terima dari Jibril. Karena sikap itulah, Allah
menasihatkan agar jangan terburu-buru menggerakkan lidah.
Kasus ini direkam di dalam surah Al-Qiyamah mulai ayat 16
sampai dengan 19. Bunyinya sebagai berikut:
.
.
.

Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran
karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas
tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan
(membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai
membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian,
Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya. (QS. Al-
Qiyamah [75] : 16-19).

82
Sikap tergopoh-gopoh Rasulullah Saw ini oleh para mufasir
dianggap wajar, oleh Muhammad Ali Al-Shabuniy, misalnya.
Penulis Shafwatu Al-Tafaasir ini menganggap sikap Rasulullah
Saw seperti itu tidaklah aneh bila dipandang dari sudut
kecintaan, kerinduan, dan minat yang besar untuk segera
menguasai ayat-ayat yang beliau terima melalui Jibril. Rasulullah
Saw, kata Ali Al-Shabuniy, ketika menafsirkan ayat surat Al-
Qiyamah, sangat khawatir kalau-kalau ada di antara ayat-ayat
yang beliau terima itu tercecer atau luput dari penguasaannya,
baik bacaan maupun maknanya. Oleh karena itu, teguran Allah di
atas tidaklah lain untuk menghilangkan kekhawatiran Rasulullah
Saw, bahwa Allah menjamin akan menjelaskan ayat-ayat Allah
Swt yang diterima Rasulullah Saw. Ayat-ayat yang baru maupun
yang telah lama diterima oleh Rasulullah Saw itu tidak akan
hilang. Sesungguhnya menghafalkan dan membacakannya
merupakan tanggungan Kami. Demikian penegasan Allah
kepada Rasul-Nya.
Jadi, setiap kali menerima wahyu Al-Quran, kata Ibnu Katsir
ketika menjelaskan pengertian ayat 16-20 surah Al-Qiyamah, ada
tiga tahap penting yang dilalui Rasulullah Saw.
Pertama, tahap penghimpunan Al-Quran di benak
Rasulullah Saw, yakni penghafalan.
Kedua, tahap pembacaan ayat-ayat Al-Quran. Artinya Jibril
membacakan ayat-ayat yang baru saja ia sampaikan di hadapan
Rasulullah Saw.
Ketiga, tahap penjelasan atau tahap bayan. Pada tahap yang
terakhir ini, Rasulullah Saw diberitahukan pengertian atau
maksud ayat yang beliau terima.
Oleh karena pesan Al-Quran tidak hanya untuk Rasulullah
Saw tetapi untuk semua orang terutama yang bertakwa (lihat Al-

83
Baqarah, ayat 2), langkah Rasulullah Saw selanjutnya adalah
tablig, yakni menyampaikan Al-Quran kepada para sahabat
tanpa kecuali.
Rasulullah Saw bersabda:

Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelaari Al-Quran


dan mengajarkannya.

Kalimat Rasulullah ini, ternyata menjadi semacam alat


pemacu yang mamapu menggerakkan kaum muslimin untuk
berlomba-lomba menguasai Al-Quran sebanyak mungkin. Tidak
sedikit di antara para sahabat Rasulullah Saw. Yang menguasai
keseluruhan ayat Al-Quran yang diterima Rasulullah Saw itu.
Dalam tempo yang relatif singkat, menurut Al-Qurthubiy, di
peristiwa Bir Maunah saja, terdapat sekitar tujuh puluh orang
hafiz yang gugur. Bila jumlah hafiz yang gugur saja sebanyak itu,
dapat dibayangkan berapa banyak hafiz Al-Quran yang dimiliki
kaum muslimin pada waktu itu, karena memang, para sahabat
Rasulullah Saw. Menurut Al-Zarkasyi di dalam Al-Burhan fi ulum
Al-Quran-nya, berlomba-lomba menguasai Al-Quran baik bacaan
maupun tulisan. Mereka tak ingin kalau sampai ada ayat Al-
Quran yang tidak mereka kuasai. Misalnya, Abdullah bin Masud,
Zaid bin Tsabit, Ubai bin Kaab, selain empat sahabat Rasulullah
Saw. Yang sempat menduduki kursi khalifah, atau yang biasa
juga disebut empat besar, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan
Ali radhiallahu anhum.
Imam Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam dalam kitabnya, Al-
Qiraat, menyebut sejumlah sahabat yang menguasai Al-Quran
sepenuhnya, mereka adalah sebagai berikut.

1. Dari kalangan Muhajirin Abu Bakar

84
:
Umar bin Al-Khattab
Utsman bin Affan
Ali bin Abi Thalib
Thalhah
Sad
Ibnu Masud
Khudzaifah
Salim
Abu Hurairah
Abdullah bin Saib
Ibnu Zubair
Abdullah bin Umar
Abdullah bin Abbas
Amr bin Al-Ash
Muawiyah bin Abu Sufyan

2. Dari kalangan Anshar Ubai bin Kaab


:
Abu Darda
Zaid bin Tsabit
Anas bin Malik
Ubadah bin Al-Shamit
Muadz alias Abu Hulaimah
Mujamma bin Jariah
Fadhalah bin Ubaid
Maslamah bin Mukhallad

Akan tetapi, apabila kita ikuti riwayat-riwayat Al-Bukhari di


dalam shahih-nya, jumlah mereka tidak lebih dari tujuh orang,
dan, yang ketujuh orang itu pun namanya tidak dapat di dalam
satu riwayat, tetapi dalam tiga riwayat. (lihat Al-Itqan fi Ulum Al-
Quran, jilid I, hlm. 121 dan silahkan periksa Shahih Bukhari, bab
XVII dari kitab Manaqib Al-Anshar).
Riwayat pertama dari Abdullah bin Amr bin Al Ash.
Bunyinya:

85
Aku mendengar Rasulullah bersabda : Ambillah Al-Quran
dari empat orang: dari Abdullah bin Masud, Salim, Muadz, dan
Ubai bin Kaab.

Riwayat kedua, dari Qatadah, berbunyi:

Aku (Qatadah) pernah bertanya kepada Anas bin Malik:


Siapakah yang mengumpulkan Al-Quran pada masa Rasulullah?
Ia (Anas) mengatakan: Ada empat orang, semuanya dari
kalangan Anshar: Ubai bin Kaab, Muadz bin Jabal, Zaid bin
Tsabit dan Abu Zaid. Lalu kutanyakan: Siapakah Abu Zaid? Ia
(Anas) menjawab: Salah seorang pamanku.

Riwayat ketiga melalui jalur Tsabit dari Anas.

Rasulullah wafat, dan Al-Quran tidak dihimpun selain oleh


empat orang: Abu Darda, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan
Abu Zaid.

86
Oleh karena itulah, orientalis Blachere memvonis bahwa
hadis nabawiy tidak mengenal hafidz Al-Quran kecuali tujuh
orang saja (lihat Mabahits fi Ulum Al-Quran, hlm. 65). Mereka
adalah Abdullah bin Masud, Salim bin Muaqqal, Muadz bin
Jabal, Ubai bin Kaab, Zaid bin Tsabit, Abu Zaid bin Sakan, dan
Abu Darda.
Kesimpulan Blachere dianggap terlalu mentah oleh para
pakar Ulum Al-Quran. Artinya, ia hanya melihat riwayat Al-
Bukhari tanpa menoleh hadis atau riwayat-riwayat lain. Padahal
tak sedikit pula di luar hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim yang
juga shahih dan akurasinya dapat dipertanggungjawabkan.
Misalnya saja data-data yang disodorkan Imam Abu Ubaid Al-
Qasim bin Salam di atas.
Dari sekian banyak hafiz (gelar untuk mereka yang hafal Al
Quran) yang dimiliki generasi pertama Islam ini, beberapa
diantaranya mendapat kehormatan dari Rasulullah Saw untuk
menjadi guru mengaji bagi ikhwan mereka lainnya. Al-Suyuthiy
dalam Al-Itqan menyebut di antaranya Ubai bin Kaab. Para
sahabat yang belajar kepada guru mengaji yang disebut terakhir
ini, di antaranya Abu Hurairah, Ibnu Abbas, dan Abdullah bin Al-
Saib. kemudian nama lainnya menurut catatan Al-Suyuthiy
adalah Zaid bin Tsabit yang di antara muridnya adalah Ibnu
Abbas dan sejumlah tabiin karena banyaknya sahabat yang
belajar Al-Quran kepada ikhwan sendiri, suasana perkampungan,
menurut gambaran Dr. Shubhiy Shalih, tak ubahnya madrasah
untuk mempelajari dan mengkaji sekaligus menghafalkan Al-
Quran. Untuk daerah-daerah yang jauh dari tempat keberadaan
Rasulullah Saw, beliau mengutus guru mengaji. Misalnya
Mushab bin Umair dan Ibnu Ummi Maktum. Ketika Rasulullah
masih tinggal di Mekah, kedua sahabat ini beliau utus untuk

87
menjadi guru di Madinah. Kemudian Rasulullah Saw mengutus
Muadz bin Jabal ke Yaman.
Sahabat Rasulullah bernama Ubadah bin Al-Shamit merasa
begitu terkesan dengan suasana pengajian pada zaman
Rasulullah Saw. Tak seorang sahabat pun, menurut Ubadah,
yang luput dari bergabung dalam kelompok mengaji. Apabila
seorang lelaki hijrah, oleh Rasulullah Saw digabungkan dengan
lelaki lain di antara kami untuk diajari Al-Quran, demikian kata
Ubadah. Di masjid Nabi (Masjid Nabawi) terdengar gemuruh
suara bacaan Al-Quran, lanjut Ubadah mengenang.
Minat mempelajari Al-Quran di kalangan sahabat Rasulullah
Saw demikian tingginya. Hal ini terlihat pada Hadis riwayat Al-
Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash. Rasulullah,
menurut riwayat itu, bersabda: Baca (maksudnya khatam-kan)-
lah Al-Quran sekali dalam setiap bulan. Rupanya bagi Abdullah
yang mempunyai semangat membara untuk menguasai Al-
Quran dengan baik merasa satu bulan sekali khatam Al-Quran
baginya tidak cukup. Masih terlalu sedikit. Abdullah kemudian
mengatakan kepada Nabi Muhammad Saw, Sesungguhnya aku
mendapati diriku merasa kuat. Melihat kesanggupan Abdullah,
Rasulullah Saw berpesan padanya: Bacalah (tamatkanlah)
dalam dua puluh malam. Dua puluh malam pun masih terlalu
lama untuk menamatkan Al-Quran yang sangat ia minati itu.
Abdullah lagi-lagi menyatakan energinya masih ia rasakan lebih
bila hanya menamatkan Al-Quran sekali setiap dua puluh
malam. Sekali lagi, Rasulullah Saw berpesan: Bacalah
(tamatkanlah) dalam setiap tujuh hari sekali. Jangan lebih dari
itu.
Generasi sahabat, menurut Syekh Muhammad bin
Muhammad bin Muhammad (penulis buku Al-Nasyr fi Al-Qiraat

88
Al-Asyr), lebih banyak mengandalkan hafalan ketimbang tulisan.
Artinya, mereka lebih suka menghafalkannya. Hal ini dapat
dimengerti mengingat pada zaman itu tidak banyak orang yang
mampu baca-tulis. Penggunaan alat tulis-menulis masih jauh dari
populer. Selain itu, dengan menghafal, ayat-ayat Al-Quran yang
mereka hafal itu segera mereka pakai untuk bacaan salat.
Meskipun demikian, tidak berarti penulisan Al-Quran belum
dikenal generasi mereka.

B. PENULISAN AL-QURAN PADA ZAMAN RASULULLAH

Untuk penulisan ayat-ayat Al-Quran, Rasulullah Saw


mengangkat beberapa orang sebagai juru tulis. Tugas mereka
adalah merekam dalam bentuk tulisan semua wahyu yang
diturunkan kepada Rasulullah Saw. Mereka adalah Abu Bakar,
Umar, Ali, Zaid bin Tsabit, Ubai bin Kaab, Tsabit bin Qais, dan
beberapa sahabat lainnya.
Alat-alat yang mereka gunakan masih sangat sederhana.
Para sahabat menulis Al-Quran pada usub (pelepah kurma),
likhaf (batu halus berwarna putih), riqa (kulit), aktaf (tulang
unta), dan aqtab (bantalan dari kayu yang biasa dipasang di atas
punggung unta). Salah seorang juru tulis wahyu yang
mendapat kepercayaan dari Rasulullah Saw, yaitu Zaid bin Tsabit,
menuturkan pengalamannya dalam riwayat Al-Bukhari sebagai
berikut: Dahulu kami di sisi Rasulullah menyusun Al-Quran dari
riqa, Aku mengumpulkan dari riqa, aktaf (tulang unta) dan
hafalan-hafalan orang.
Untuk menghindari kerancuan akibat bercampuraduknya
ayat-ayat Al-Quran dengan lainnya, misalnya hadis Rasulullah
Saw, maka beliau tidak membenarkan seorang sahabat menulis

89
apapun selain Al-Quran. Hal ini bisa dilihat dari hadis riwayat
Muslim dari Abi Said Al-Khudriy yang berbunyi:

Janganlah kalian tulis dariku sesuatu kecuali Al-Quran.


Barang siapa yang telah menulis dari (sumberku) selain Al-
Quran supaya menghapusnya.

Larangan Rasulullah untuk tidak menuliskan selain Al-Quran


ini oleh Dr. Adnan Muhammad Zarzur dipahami sebagai suatu
usaha yang sungguh-sungguh untuk menjamin nilai akurasi Al-
Quran (Ulum Al-Quran, Madkhal ila Tafsir Al-Quran wa Bayan
Ijazihi, hlm. 86). Setiap kali turun ayat Al-Quran, Rasulullah Saw
memanggil juru tulis wahyu. Hal ini bisa disimak pada hadis
riwayat Imam Ahmad yang dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban
dan Al-Hakim, dari Abdullah bin Abbas, dari Utsman bin Affan.
Setelah memanggil mereka, Rasulullah Saw berpesan, agar
meletakkan ayat-ayat yang turun itu di surah yang beliau
sebutkan.
Keseluruhan Al-Quran menurut Al-Suyuthiy, telah ditulis
sejak zaman Rasulullah Saw, tetapi masih belum terhimpun di
dalam suatu tempat. Agak berlebihan rasanya bila riwayat Al-
Hakim di dalam Al-Mustadrak-nya mengatakan, Penghimpunan
Al-Quran berlangsung tiga kali. Salah satunya disaksikan oleh
Rasulullah Saw, kejanggalan riwayat Al-Hakim lebih terasa pada
saat pembahasan sampai pada penghimpunan Al-Quran pada
zaman Abu Bakar dam Utsman bin Affan.

90
C. PENGHIMPUNAN AL-QURAN PADA ZAMAN ABU BAKAR

Setelah Rasulullah Saw wafat, Abu Bakar As-Shiddiq terpilih


menjadi khalifah pertama. Sejak hari-hari pertama sebagai
kepala Negara sahabat yang juga mertua Rasulullah Saw ini telah
diadang sejumlah masalah berat. Satu diantaranya adalah soal
murtadnya sejumlah orang dari Islam.
Pasalnya, Musailamah yang digelari al-kadzab atau si
pembohong mengaku sebaga Nabi. Artinya bukan Muhammad
Saw yang diangkat sebagai nabi terakhir oleh Allah Swt.
Dakwaan Khurafat Musailamah ini berhasil memperdayai Bani
Hanifah di Yamamah dan mereka akhirnya hanyut menjadi orang-
orang murtad bersama Musailamah si nabi palsu itu.
Abu Bakar sebagai kepala negara melihat gerakan
Musailamah ini sebagai bahaya besar. Beliau bertekad
menumpas gerakan itu. Sekitar 4000 serdadu pasukan berkuda
beliau siapkan. Tujuannya menggempur Musailamah dan para
pengikutnya yang murtad itu. Pasukan muslimin, Alhamdulillah,
berhasil. Musailamah dan para pengikutnya dapat dilumpuhkan.
Tapi sayang, pasukan muslimin yang dikomandoi Panglima Khalid
bin Walid itu mengalami banyak korban jiwa. Sedikitnya 700
hafidz Al-Quran gugur. Termasuk di antaranya Zaid Ibn Al-
Khaththab, saudara kandung Umar bin Al-Khaththab yang
masyhur itu.
Pengalaman pahit ini oleh Umar dilihat dengan kacamata
tersendiri. Tokoh yang terkenal kaya dengan gagasan ini melihat
bahwa gugurnya sejumlah besar hafiz Al-Quran merupakan
bahaya yang dapat mengancam kelestarian Al-Quran. Maka hal
itu harus segera diatasi. Umar segera datang menemui Abu

91
Bakar, khalifah pertama, agar ia berkenan menginstruksikan
pengumpulan Al-Quran dari berbagai sumber, baik yang
tersimpan di dalam hafalan maupun tulisan.
Zaid bin Tsabit, salah seorang juru tulis wahyu, menurut
riwayat Al-Bukhari, setelah peristiwa berdarah yang menimpa
sekitar 700 orang hafiz Al-Quran, diminta bertemu Abu Bakar.
Turut hadir dalam pertemuan itu Umar bin Al-Khaththab. Abu
Bakar membuka pertemuan itu dengan mengatakan, Umar
telah mendatangiku dan mengatakan bahwa peperangan di
Yamamah telah berlangsung sengit dan meminta korban
sejumlah qari Al-Quran. Aku khawatir hal ini meluas kepada
para penduduk. Kalau demikian, akan banyak (hafiz) Al-Quran
yang hilang. Aku memandang perlunya penghimpunan Al-
Quran.
Setalah Abu Bakar berbicara, kini giliran Zaid bin Tsabit.
Kalimatnya ia arahkan kepada Umar karena usul penulisan
datangnya dari Umar, Bagaimana mungkin kita melakukan
sesuatu yang belum dilakukan Rasulullah Saw?, kata Zaid. Umar
lalu menjawab, Demi Allah, ini sesuatu yang baik. Dan ketika
Umar masih belum usai mengucapkan kalimatnya kea rah Zaid,
Allah telah melegakan hati Zaid tentang perlunya penghimpunan
Al-Quran.
Kini giliran Abu Bakar lagi yang berucap kepada Zaid, Kau
adalah seorang lelaki yang masih muda dan pintar. Kami tidak
menuduhmu (cacat mental). Dahulu kau menulis wahyu untuk
Rasulullah Saw. (Sekarang) lacaklah Al-Quran dan
kumpulkanlah.
Tidak syak, ketiga tokoh yang disebut di atas berperan
penting dalam pengumpulan Al-Quran. Umar yang terkenal
dengan terobosan-terobosan jitunya menjadi pencetus ide ini

92
tentu punya arti tersendiri. Dan Zaid, sudah barang tentu
mendapat kehormatan besar, karena ia dipercaya menghimpun
kitan suci Al-Quran yang memerlukan kejujuran, kecermatan,
dan ketelitian juga kerja keras. Tak bisa disangkal dalam hal ini
Khalifah Abu Bakar sebagai decision maker menduduki posisi
tersendiri. Tak berlebihan bila Ali bin Abi Thalib memujinya
dengan mengatakan, Orang yang paling besar pahalanya di
dalam masalah mushaf adalah Abu Bakar. Dialah orang yang
pertama yang (mengambil keputusan) mengumpulkan Kitab
Allah.
Bagi Zaid, tugas yang dipercayakan Khalifah Abu Bakar
padanya bukan hal yang ringan. Hal ini bisa dipahami dari
kalimat yang terlontar dari mulutnya di hadapan Abu Bakar dan
Umar pada waktu itu. Demi Allah, jika sekiranya orang-orang
membebaniku memindahkan suatu gunung, hal itu bagiku tidak
lebih berat daripada apa yang kau perintahkan kepadaku untuk
menghimpun Al-Quran.
Apa yang dirasakan Zaid dapat dimengerti mengingat
tanggung jawab yang harus dipikulnya. Zaid harus menghimpun
ayat-ayat Al-Quran yang tertulis di kayu, di pelepah kurma, di
tulang, dan di batu. Selain itu, Zaid harus mencocokkan catatan-
catatan yang ada padanya dengan yang dimiliki oleh sahabat
lainnya. Dan yang tak kalah beratnya, catatan-catatan tertulis itu
harus pula ia cocokkan dengan hafalan para sahabat. Tanggung
jawab yang harus diemban semacam itulah yang membuat ia
merasa diberi tanggung jawab yang lebih berat daripada
memindahkah sebuah gunung.
Oleh karena menghimpun Al-Quran merupakan tugas berat,
Abu Bakar menunjuk Zaid. Khalifah pertama ini tahu, Zaid

93
berkecakapan untuk melaksanakan tugas itu. Ia masih muda,
pintar, dan memiliki mental yang terpuji.
Benar saja, begitu mendapat mandate, Zaid yang dibantu
oleh Umar segera bergerak. Aku lalu melcaka keseluruhan Al-
Quran yang terdapat pada Usub, likhaf, dan hafalan orang, ujar
Zaid.
Kesungguhan Zaid dalam menjalankan tugas terlihat jelas
pada kelanjutan haids riwayat Al-Bukhari yang disebut di atas.
Yakni ketika ia mengetahui ada satu ayat yang tertinggal, belum
ia temukan kepastian bunyinya, ia terus melacak. Sampai
akhirnya, menurut pengakuan Zaid dalam riwayat itu, Hingga
aku mendapati akhir suratAt-Taubah pada Khuzaimah Al-
Anshariy.
Dari uraian singkat di atas, dapat ditangkap bahwa apa yang
dihimpun oleh Zaid bukan sekedar dari catatan-catatan tertulis
yang sebetulnya sudah ada sejak zaman Rasulullah Saw. Zaid
juga mencocokkan catatan-catatan yang ia kumpulkan itu
dengan hafalan para sahabat. Oleh karena itu, Dr. Adnan
Muhammad Zarzur dalam Ulum Al-Quran, Madkhal ila Tafsir Al-
Quran wa Bayan I jazih, menagkap kalimat Zaid yang berbunyi:
Hingga aku mendapati akhir surah At-Taubah pada Abu
Khuzaimah Al-Anshariy, bukanlah berarti tak seorang sahabat
pun yang hafal akhir surah At-Taubah tersebut. Zaid memang
tidak mendapati ayat itu dalam bentuk tulisan, tetapi tidak
sedikit sahabat yang hafal dengan baik ayat itu. Apa yang
dilakukan Zaid ini semata-mata karena ingin mendapat kepastian
yang lebih meyakinkan. Hal ini bisa dibuktikan. Misalnya, jika ada
sahabat yang mempunyai catatan ayat atau ayat-ayat Al-Quran
tertentu, maka Zaid, menurut Syekh Al-Sakhawiy, baru bisa
menerimanya bila memang ayat itu ditulis di hadapan Rasulullah

94
Saw dan disaksikan oleh dua orang sahabat lainnya. Dan Umar
yang dalam hal ini menjadi partner Zaid mengambil sikap yang
sama, yakni untuk sumber-sumber dari hafalan sahabat, juga
berlaku penyaksian dua orang sahabat pria lainnya.
Ini semua dilakukan sebagai terobosan untuk menjaga
kesucian dan keaslian Al-Quran.

D. PENGHIMPUNAN AL-QURAN PADA ZAMAN UTSMAN

Penghimpunan Al-Quran pada masa Abu Bakar Al-Shiddiq


bisa disebut pengimpunan terpadu. Bisa juga disebut
pengkodifikasian Al-Quran secara resmi karena telah melibatkan
berbagai unsure. Gagasan disodorkan oleh Umar. Keputusan
diambil oleh kepala negara. Kemudian dilaksanakan oleh suatu
tim yang di dalam pelaksanaan tugasnya melibatkan
masyarakat umum. Mereka yang menyimpan tulisan ayat-ayat
Al-Quran berpartisipasi dengan mushaf yang disimpannya.
Sementara para hafiz ikut andil dengan hafalan yang ada
padanya.
Umar yang disebut-sebut sebagai anggota tim yang aktif
berpesan kepada sahabat-sahabat Rasulullah Saw lainnya: siapa
saja yang pernah mendapatkan sesuatu berupa Al-Quran dari
Rasulullah Saw agar segera membawanya. Melihat ucapan ini,
seakan-akan semua catatan ayat Al-Quran yang dimiliki oleh
sahabat tertentu dapat diterima untuk kemudian dapat dihimpun
dalam bentuk mushaf. Sesungguhnya tidak demikian. Yang
diterima oleh tim penghimpun Al-Quran ini hanya catatan
yang mempunyai dua syahid atau dua saksi. Ketentuan dua
saksi ini ditetapkan berdasarkan keputusan Khalifah Abu Bakar.
Dalam pesannya kepada Zaid dan Umar, Abu Bakar mengatakan,

95
Duduklah kalian di pintu masjid. Siapa saja yang datang
kepada kalian membawa catatan Al-Quran dengan dua saksi,
maka catatlah.

Di dalam menerangkan pengertian dua saksi, riwayat


yang para perawinya oleh Suyuthiy dinyatakan tsiqah ini, kiranya
peru disimak pendapat Ibnu Hajar. Menurut tokoh hadis
kenamaan ini yang dimaksud syahidain yakni dua saksi di sini
tidak harus keduanya dalam bentuk hafalan, atau keduanya
dalam bentuk tulisan. Sahabat tertentu yang membawa ayat
tertentu itu, sudah bisa diterima ayatnya bila ayat yang
disodorkan kepada tim didukung oleh dua hafalan dan atau
tulisan sahabat lainnya. Demikian juga suatu hafalan ayat
tertentu yang dibawa oleh sahabat tertentu baru bisa diterima
bila dikuatkan oleh dua catatan dan atau hafalan sahabat
lainnya. Pengertian Ibnu Hajar tentang syahidain ini sedikit
berbeda dengan yang ditangkap Al-Sakhawiy. Bagi ulama yang
terakhir disebut ini, syahidain di sini artinya catatan sahabat
tertentu mengenai ayat tertentu yang sudah dapat diterima bila
memiliki dua saksi yang memberikan kesaksian bahwa catatan
itu memang ditulis di hadapan Rasulullah Saw.
Andaikata penafsiran syahidin Sakhawiy yang diterima, itu
saja sesungguhnya sudah cukup. Penetapan kriteria semacam itu
dapat membendung kemungkinan buruk yang menimpa Al-
Quran. Tujuan mereka menerapkan ketentuan semacam ini,
seperti kata Abu Syamah, adalah agar tidak ada tulisan lain

96
kecuali sesuai dengan apa yang ditulis di hadapan Rasulullah
Saw.
Tokoh-tokoh sahabat yang terlibat di dalam penghimpunan
Al-Quran pertama ini tidak ingin mushaf-mushaf yang mereka
kumpulkan itu hanya mendasari sumbernya pada hafalan
semata. Oleh karena itu, ketika Zaid (seperti diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dan Muslim) tidak mendapati akhir surah Al-Taubah, ia
segera melacaknya ke sana kemari sampai akhirnya ia
menjumpai ayat itu pada Abu Khuzaimah Al-Anshariy.
Kerja tim berjalan lancar. Tak kurang satu apa. Kalaupun
ada, itu segera teratasi. Seperti ketika Zaid tidak mendapati data
tertulis tentang ayat terakhir surah Al-Taubah tadi.
Setelah pekerjaan tim rampung berkat partisipasi aktif
semua pihak, mushaf Al-Quran itu disimpan oleh Khalifa Abu
Bakar sampai beliau wafat. Setelah itu, Mushaf ini berpindah ke
tangan khalifah selanjutnya, yakni Umar bin Al-Khattab. Mushaf
itu pun berada di tangan khalifah kedua sampai wafatnya.
Setelah Umar wafat, mushaf tidak lagi langsung berada di tangan
khalifah selanjutnya, yakni Utsman bin Affan, tetapi disimpan
oleh Hafshah, istri Rasulullah Saw, putrid Umar bin Al-Khattab.
Mungkin timbul pertanyaan, mengapa mushaf itu tidak
diserahkan saja kepada khalifah setelah Umar? Pertanyaan itu
logis. Umar, menurut Dr. Zarzur punya pertimbangan lain.
Sebelum wafat, Umar ingin memberikan kesempatan kepada
enam orang sahabat untuk bermusyawarah memilih soerang di
antara mereka untuk menjadi khalifah. Kalau Umar memberikan
mushaf yang ada padanya kepada salah seorang di antara enam
sahabat itu, ia khawatir diinterprestasikan sebagai dukungan
kepada sahabat yang memegang mushaf. Padahal Umar ingin
memberikan kebebasan sepenuhnya kepada enam sahabat itu

97
untuk memilih di antara mereka yang layak menjadi khalifah.
Oleh sebab itu, ia menyerahkan mushaf itu kepada Hafshah yang
sesungguhnya lebih dari layak memegang mushaf yang sangat
bernilai itu.
Ada hal penting yang perlu dicatat dari kebijaksanaan yang
diambil Khalifah Abu Bakar tentang penghimpunan Al-Quran ini.
Menurut Dr Zarzur, Abu Bakar tetap tidak ingin menjadi hakim
sendiri. Beliau tetap membiarkan mushaf-mushaf yang dimiliki
oleh para penulis wahyu berada di tangan mereka masing-
masing, karena memang mushaf-mushaf itu tidak berbeda
dengan yang disusun Zaid dan kawan-kawan kecuali pada dua
hal, yaitu pada kronologi surah dan sebagian bacaan yang
merupakan penafsiran yang ditulis dengan lahjah tersendiri.
Memang, mushaf-mushaf itu merupakan catatan pribadi mereka
masing-masing. Misalnya mushaf yang dimiliki oleh Ibnu Masud,
Abu Musa Al-Asyariy, Miqdad bin Amar, Ubai bin Kaab, dan Ali
bin Abi Thalib.
Akan tetapi, dengan masih adanya mushaf-mushaf itu di
samping mushaf Abu Bakar yang kemudian disusul dengan
menyebarluasnya para qari ke berbagai penjuru, pada gilirannya
melahirkan sesuatu yang tidak diinginkan. Lebih-lebih setelah
terjadinya transformasi bahasa dan akulturasi akibat
bersentuhan dengan bangsa-bangsa bukan Arab.
Keadaan seperti ini jelas berakibat buruk bagi perjalanan
bahasan Al-Quran. Hudzaifah bin Al-Yaman menyaksikan hal ini
dengan cemas pada waktu ia berperang bersama orang Syam
dan Irak dalam penaklukan Armenia dan Azerbaijan. Apa yang
dilihatnya itu lalu disampaikan kepada Khalifah Utsman. Ia
memperingatkan Utsman akan bahaya yang mungkin akan
menimpa Al-Quran.

98
Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan bahwa Anas bin Malik
meriwayatkan cerita kedatangan Hudzaifah kepada Khalifah
Utsman. Ia merasa cemas melihat perselisihan kaum Muslimin
tentang bacaan Al-Quran. Maka Hudzaifah mengatakan kepada
Utsman, Wahai Amir Al-Mukminin, selamatkanlah umat ini
sebelum mereka berselisih paham dalam (masalah) Al-Quran
seperti yang terjadi pada pada umat Yahudi dan Nasrani.
Untung Khalifah Utsman segera meminta mushaf yang disimpan
Hafshah. Kemudian ia perintahkan Zaid bin Tsabit, Said bin
Al-Ash, dan Abd Al-Rahman bin Al-Harits untuk menyalinnya ke
dalam beberapa mushaf. Kepada tiga orang dari Quraisy, Utsman
berpesan: Jika kamu berselisih dengan Zaid bin Tsabit mengenai
qiraat, tulislah dengan bahasa Quraisy, karena Al-Quran
diturunkan dengan bahasa mereka. (lihat shahih Al-Bukhari, jilid
VI, hlm. 99, dan Wawasan Baru Tarikh Al-Quran, hlm. 89).
Beberapa riwayat lain yang bisa ditemui dalam Al-Itqan dan
Al-Burhan menjelaskan bahwa perbedaan qiraat itu terlihat pada
waktu pertemuan pasukan perang Islam yang datang dari Irak
dan Syiria. Sementara mereka yang datang dari Syam (Syiria)
mengikuti qiraat Ubai bin Kaab, mereka yang berasal dari Irak
membaca sesuaui qiraat Ibnu Masud. Tak jarang pula di antara
mereka yang mengikuti qiraat Abu Musa Al-Asyariy. Sangat
disayangkan, masing-masing pihak merasa bahwa qiraat yang
dimilikinya lebih baik. Bacaan kami lebih baik dari pada qiraat
kalian, kata masing-masing pihak. (Lihat Al-Itqan, jilid I hlm.
102; dan Al-Burhan fi Ulum Al-Quran, hlm. 139). Abu Daud
mengeluarkan riwayat dari jalur Abi Qalabah, bahwa ia
mengatakan, Pada masa khalifah Utsman, seorang guru
mengajarkan qiraat tokoh tertentu, dan guru (lainnya)
mengajarkan qiraat tokoh (lainnya). Anak-anak bertemu dan

99
berpecah. Persoalan itu terangkat sampai kepada para guru yang
pada gilirannya sampai saling mengkafirkan. Hal itu sampai
kepada Utsman, Ia berkhotbah dan mengatakan, Kalian di sisi
aku berpecah. Siapakah dari daerah-daerah yang lebih dahsyat
perpecahannya dari pada menjauh membelakangiku?.
Ibnu Al-Atsir dalam Al-Kamil-nya meriwayatkan bahwa
peduduk Himsh menganggap qiraat mereka lebih baik dari qiraat
orang lain. Mereka seperti halnya penduduk Damaskus yang
mengambil qiraat dari Al-Miqdad, menganggap qiraat penduduk
Kufah tidak baik. Semestara itu, penduduk Kufah yang
mengambil qiraat dari Abdullah bin Masud memandang qiraat
penduduk Damaskus dan Himsh tidak baik pula. Dalam hal itu,
orang-orang Bashrah berbangga dengan qiraat yang mereka
ambil dari Abu Musa Al-Asyariy dengan mushafnya yang biasa
disebut Lubabu Al-Qulub. (Lihat Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan
Pengantar Ilmu Al Quran, hlm. 103).
Perselisihan-perselisihan itulah yang dilaporkan kepada
Khalifah Utsman bin Affan. Dan Utsman pun segera tanggap. Ia
lalu membentuk panitia empat yang diketuai oleh Zaid bin
Tsabit.
Bila riwayat Al-Bukhari dan Anas bin Malik dikawinkan
dengan riwayat Abu Daud dan Abi Qalabah, bisa jadi informasi
yang diterima Utsman tentang perpecahan umat akibat qiraat
tidak hanya datang dari Hudzaifah dan bisa jadi pula informasi
tentang masalah tersebut telah diterima Utsman sebelum ia
menerimanya dari Hudzaifah. Pemimpin tidak layak menerima
suatu informasi yang hanya datang dari satu orang saja,
sehingga begitu Hudzaifah menyampaikan usulnya, Utsman
langsung menyetujuinya.

100
Keputusan Utsman membentuk Panitia Empat, yang terdiri
dari Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Al-Ash, dan
Abd Al-Rahman bin Al-Harits, adalah langkah konkrit untuk
mengatasi kenyataan pahit yang terjadi. Apabila masa-masa dua
khalifah sebelumnya, Mushaf Abu Bakar hanya disimpan di
rumah, maka Utsman melihat perlunya memasyarakatkan
mushaf itu. Langkah Utsman memang lebih tepat dianggap
memasyarakatkan Mushaf Abu Bakar sekaligus menyatukan
bacaan. Alasannya? Utsman tetap menyertakan Zaid bin Tsabit di
dalam Panitia Empat. Zaid yang sejak zaman Rasulullah Saw
dan Abu Bakar terlibat langsung dalam penulisan dan
penghimpunan Al-Quran, dapat dipastikan lebih banyak
berperan ketimbang tiga anggota panitia lainnya. Sehingga
kemungkinan terjadinya perubahan, penambahan atau hilangnya
kalimat tertentu dapat ditekan sampai pada titik nol dan keaslian
Al-Quran tetap terjamin. Kemudian penyalinan mushaf itu
diambil berdasarkan informasi dan usul Hudzaifah bin Al-Yaman
dan disalin menjadi beberapa mushaf yang lalu dikirim ke
beberapa daerah guna menyeragamkan qiraat. Langkah Utsman
lainnya, semua mushaf yang ada ditarik dan dibakar. Dengan
demikian, kaum muslimin hanya mengenal satu mushaf.
Beberapa riwayat yang bisa dipegang mengatakan bahwa Panitia
Empat berhasil menyalin enam buah mushaf, sedangkan aslinya
dikembalikan kepada Hafshah. Mushaf yang kemudian dikenal
dengan sebutan Mushaf Utsmani itu dikirim ke Mekah, Syam,
Yaman, Bahrain, Bashrah dan Kufah. (Lihat Tarikh Al-Quran, oleh
Ibrahim Al-Abyari, hlm. 90).
Langkah Utsman ini mendapat sambutan baik dari kaum
Muslimin. Hanya Abdullah bin Masud yang membantah
membakar mushafnya, tetapi kemudian Ibnu Masud pun

101
menyadari bahwa apa yang dilakukan Utsman semata-mata
untuk menyatukan kalimat dan menutup celah-celah timbulnya
perpecahan. (Mabahits fi Ulum Al-Quran, hlm. 83).

E. UTSMAN MEMBAKAR MUSHAF

Utsman melalui Panitia Empat yang dibentuknya, berhasil


menyalin dan menggandakan mushaf. Mushaf-mushaf itu
dikirimkan ke beberapa wilayah kekuasaannya. Kini tinggal satu
lagi usaha, yaitu membakar mushaf lainnya. Ia khawatir kalau-
kalau mushaf yang bukan salinan Panitia Empat itu tetap
beredar. Padahal pada mushaf-mushaf yang peredarannya
dikhawatirkan itu terdapat kalimat yang bukan Al-Quran karena
merupakan catatan khusus sahabat-sahabat tertentu. Di sana
terdapat juga beberapa kalimat yang merupakan tafsiran, dan
bukan Kalam Allah.
Utsman memutuskan agar mushaf-mushaf yang beredar
adalah mushaf yang memenuhi persyaratan berikut.
1. Harus terbukti mutawatir, tidak ditulis berdasarkan riwayat
ahad.
2. Mengabaikan ayat yang bacaannya di-nasakh dan ayat
tersebut tidak diyakini dibaca kembali di hadapan Nabi pada
saat-saat terakhir.
3. Kronologi surah dan ayat seperti yang dikenal sekarang ini,
berbeda dengan Mushaf Abu Bakar yang susunan surahnya
berbeda dengan Mushaf Utsman.
4. System penulisan yang digunakan Mushaf mampu mencakupi
qiraat yang berbeda sesuai dengan lafadz-lafadz Al-Quran
ketika turun.
5. Semua yang bukan termasuk Al-Quran dihilangkan. Misalnya
yang ditulis di mushaf sebagian sahabat di mana mereka juga

102
menulis makna ayat di dalam mushaf, atau penjelasan
nasikh-mansukh.

Bagaimana dengan Mushaf Abu Bakar? Setelah dipinjam


untuk disalin, Utsman mengembalikannya kepada Hafshah.
Mushaf itu tetap berada di tangannya hingga ia wafat. Dalam
buku Mabahits fi Ulum Al-Quran, Dr. Shubhiy Shalih yang
mengutip keterangannya dari kitab Al-Mashhanif, karya Ibnu Abi
Daud, menurunkan riwayat sebagai berikut: Marwan telah
berusaha mengambilnya (mushaf) dari tangannya (Hafshah)
untuk kemudian membakarnya, tetapi ia (Hafshah) tidak mau
menyerahkannya. Sampai ketika ia (Hafshah) wafat, Marwan
mengambil mushaf tersebut dan membakarnya. (hlm. 83).
Bila dianalisis baik keengganan Hafshah menyerahkan
mushaf maupun Marwan yang bersikeras meminta mushaf yang
ada pada Hafshah dapat dimengerti. Hafshah enggan
menyerahkan Mushaf Abu Bakar yang ia terima dari ayahnya,
Umar, karena ia tahu, mushaf itulah yang disalin oleh Utsman
untuk disebarluaskan ke beberapa daerah. Sementara Marwan
berkeinginan agar masyarakat hanya mengenal satu mushaf,
demi persatuan. Marwan tahu bahwa penulisan mushaf Utsman
atau Mushaf Utsmani dilakukan dengan menggunakan kaidah-
kaidah tertentu tetapi memperhatikan qiraat-qiraat yang
dibenarkan Rasulullah Saw.

DI BUAT OLEH : GILANG RAMADHAN

103
NPM : 1502090138

PRODI : HUKUM EKONOMI SYARIAH

MATA KULIAH : ULUMUL QURAN

BAB 8
RASM AL-QURAN DAN PERKEMBANGANNYA

A. KAIDAH PENULISAN AL-QURAN

Rasm Al-Quran atau Rasmul Quran adalah tata cara


menulis Al-Quran yang ditetapkan pada masa Khalifah Utsman
bin Affan. Mushaf Utsman ditulis dengan kaidah-kaidah tertentu.
Para ulama meringkas kaidah-kaidah itu menjadi enam istilah
yaitu Al-Hadzf, Al-Ziyadah, Al-Hamzah, Al-Badal, dan Al-Fashl wa
Al-Washl.

Al-Hadzf
Al-Hadzf berarti membuang menghilangkan atau
meniadakan huruf.
1. Menghilangkan Huruf Alif.
a. Dari Ya Nida. Misalnya
b. Dari Ha Tanbih. Misalnya :
c. Dari kata Na Misalnya :
d. Dari lafaz jalalah ()
e. Dari dua kata dan
f. Sesudah huruf Lam. Misalnya
g. Setelah dua huruf Lam. Misalnya
h. Dari semua mutsanna. Misalnya

104
i. Dari setiap jama tashih baik mudzakkar maupun
muannats. Misalnya
dan
j. Dari semua jama yang se-wazan dengan dan
k. Dari semua kata bilangan. Misalnya
l. Dari basmalah

2. Menghilangkan huruf Ya
Huruf ya ( )dibuang dari setiap manqush munawwan baik
berharakat rafa maupun jar. Misalnya
Termasuk yang dihilangkan huruf ya kata
dan
Kecuali pada beberapa pengecualian.

3. Menghilangkan huruf wawu


Huruf wawu apabila terletak bergandengan. Misalnya
dan
4. Menghilangkan huruf Lam
Huruf lam dihilangkan apabila dalam keadaan idgham.
Misalnya dan

Di luar penghilangan empat huruf di atas, ada penghilangan


huruf yang tidak masuk kaidah. Misalnya penghilagan (hadzf)
huruf alif pada kata dan hadzf ya dari kata

hadzf wawu pada empat fiil (kata kerja) berikut:


dan

Al-Ziyadah

Ziyadah berarti penambahan. Kata yang ditambah hurufnya


dalam Rasm Utsmani adalah alif, ya, dan wawu.

105
1. Menambah huruf Alif
a. Menambah huruf alif setelah wawu pada akhir setiap Istim
Jama atau yang mempunyai hukum jama. Misalnya
dan
b. Menambah alif setelah hamzah marsumah wawu (hamzah
yang terletak di atas tulisan wawu). Misalnya
c. Menambah huruf ( )pada kalimat

Kaidah Hamzah

Apabila hamzah berharakat sukun, maka ditulis dengan


huruf berharakat yang sebelumnya, misalnya kecuali
pada beberapa kata yang dieksepsikan.
Adapun jumlah hamzah yang ber-harakat, jika ia berada di
awal kata, dan bersambung dengannya (dengan hamzah) huruf
tambahan, mutlak harus ditulis dengan alif, dalam keadaan ber-
harakat fathah atau kasrah. Misalnya:

kecuali beberapa kata yang dieksepsikan.


Adapun bila hamzah terletak ditengah, maka ia ditulis sesuai
dengan huruf harakat-nya. Kalau fathah dengan alif, kalau
kasrah dengan ya dan kalau dammah dengan wawu. Misalnya
.
Akan tetapi, apabila huruf yang sebelum hamzah itu sukun,
maka tidak ada tambahan. Misalnya
Di luar ketentuan ini, ada beberapa kata yang dieksepsikan.

106
Badal

1. Huruf alif ditulis dengan wawu sebagai penghormatan pada


kata dan serta kata kecuali yang
dieksepsikan.
2. Huruf alif ditulis dengan pada kata-kata berikut:
yang berarti
(bagaimana),
3. - Huruf alif diganti dengan nun pada taukid kahfifah kata
, dalam surah Al-
Baqarah, Al-Araf, Hud, Maryam, Al-Rum dan Al-Zukhruf.
- Huruf Ha Tanits ditulis dengan Ta Maftuhah pada kata
yang terdapat dalam
surah Al-Baqarah, Al-Imran, Al-Maidah, Ibrahim, An-Nahl,
Luqman, Fathir, dan Al-
Thur. Demikian juga pada yang
terdapat pada surah Al-
Mujadilah

Washal dan Fashal

Washal artinya menyambung. Yang dimaksud di sini adalah


metode penyambungan kata (dalam bahasa Arab disebut huruf,
jadi penyambungan dua huruf) yang mengakibatkan hilang atau
dibuangnya huruf tertentu.
1. Bila an (dengan harakat fathah pada hamzahnya) disusul
dengan la maka penulisannya bersambung dengan
menghilangkan huruf nun. Misalnya tidak ditulis dengan
Kecuali pada kalimat dan

107
2. Min yang bersambung dengan mad penulisannya
disambung dan huruf nun pada min-nya tidak ditulis. Misalnya
kecuali pada yang terdapat di dalam surah Al-
Nisa dan Al-Rum serta pada surah Al-Munafiqun.
3. Min yang disusul dengan man ditulis bersambung
dengan menghilangkan huruf nun. Sehingga menjadi
bukan
4. An yang disusul dengan ma ditulis bersambung

dengan menghilangkan nun . Sehingga menjadi bukan


Kecuali pada firman Allah yang berbunyi

5. In yang disusul dengan ma ditulis bersambung dengan

meniadakan nun . Sehingga menjadi Kecuali pada firman


Allah
6. An yang disusul dengan ma mutlak disambung dan
huruf nun-nya ditiadakan. Sehingga menjadi
7. Kul yang diiringi ma disambung. Sehingga menjadi
Ketentuan ini dieksepsikan pada firman Allah yang berbunyi
dan

Kata yang Bisa Dibaca Dua Bunyi

Suatu kata (di dalam bahasa Arab, kata yang kita maksud
disebut kalimat) yang bisa (boleh) dibaca dua bunyi,
penulisannya disesuaikan dengan salah satu bunyinya. Di dalam
mushaf Utsmani, penulisan kata semacam itu ditulis dengan
menghilangkan alif. Misalnya
dan Ayat-ayat ini boleh dibaca
dengan menetapkan alif (yakni dibaca dua alif), boleh juga
dengan hanya menurut bunyi harakat (biasa disebut satu alif).

108
Demikianlah kaidah yag ditetapkan untuk penulisan Mushaf
Utsmani. Kaidah penulisan ini berbeda dengan yang biasa
digunakan dalam penulisan bahasa Arab yang biasa dipakai. Di
dalam bahasa Arab dikenal tiga macam metode penulisan.
Pertama, penulisan Mushaf Utsmani yang baru saja disinggung
secara singkat. Kedua, penulisan Arudl, yaitu ilmu alat untuk
menimbang syair-syair. Pada tulisan jenis kedua ini, semua bunyi
divisualisasikan dalam bentuk huruf. Ketiga, penulisan biasa.
Maksudnya, tata cara menulis yang biasa dipakai sehari-hari.

B. BABAK LANJUTAN RASM UTSMANI

Ketika ditulis oleh Panitia Empat (terdiri dari tiga orang


Quraisy yakni Abdullah bin Zubair, Said bin Al-Ash dan Abd Al-
rahman bin Al-Harist, dan satu Anshar, yaitu Zaid bin Tsabit).
Mushaf Utsman masih belum bertitik dan ber-syakl atau baris.
Perkembangan yang ada pada saat itu tidak menuntut demikian.
Para sahabat sudah mampu membaca mushaf tanpa harus
dibimbing dengan tanda-tanda baca apapun. Dalam kondisi
seperti itu Mushaf Utsmani dibaca kaum muslimin, seperti
diungkapkan oleh Abu Ahmad Al-Askariy (wafat tahun 382 H)
selama sekitar 40 tahun, atau tepatnya sampai masa khilafah
Abdu Al-Malik.
Islam terus berkembang. Umatnya semakin banyak. Islam
tidak lagi hanya dianut oleh orang-orang Arab. Banyak orang-
orang bukan Arab yang telah masuk Islam. Sebagai akibat
logisnya, benturan-benturan kultural antara masyarakat Arab
dengan orang-orang Ajam itu pun tak terelakkan adanya. Sejak
itulah perkembangan yang dirasa menggembirakan itu ternyata
juga membawa kekhawatiran yaitu terancamnya keselamatan

109
bahasa Arab. Di kalangan masyarakat Islam sering terjadi
kesalahan melafalkan Al-Quran. Hal itu terutama pada kata yang
memang terbuka kemungkinan dibaca dengan salah. Misalnya
Menurut Rasm Utsmani, kata ini ditulis tanpa alif setelah huruf
qaf, cukup diberi tanda yang menunjukkan huruf qaf dibaca dua
alif.
Pada masa pemerintahan Abd Al-Malik bin Marwan dirasa
perlu adanya pembeda huruf-huruf yang berbentuk sama.
Misalnya huruf ( sin) dengan ( syin). Demikian juga antara
huruf ( fa') dengan ( qaf). Tanpa tanda pembeda memang
orang sulit mengenal secara pasti huruf-huruf ( ba), ( ta),
(tsa). Pembeda ini disebut ijam.
Abu Al-Aswad yang banyak dijagokan sebagai peletak titik
dan harakat mushaf pertama, menurut riwayat yang diturunkan
Al-Zarkasyi di dalam Al-Burhan-nya, pernah mendengar
seseorang (yang sesungguhnya sengaja, atas perintah Ziyad)
membaca 3 ayat surah At-Taubah. Ayat itu dibaca begini
Padahal seharusnya bunyi potongan ayat itu demikian:
yang berarti: Sesungguhnya Allah dan Ras ul-Nya berlepas diri
dari orang-orang musyrik dan Rasul-Nya. Kata dibaca
Abu Al-Aswad terkejut. Ia langsung berucap: Maha
Besar Allah; bagaimana mungkin Dia (Allah) berlepas diri dari
Rasul-Nya? Setelah itu Abu Al-Aswad segera datang menemui
Ziyad, Gubernur Bashrah. Kalau dahulu Abu Al-Aswad menolak
ketika diminta gubernur itu meletakkan tanda baca pada rasm Al-
mushaf, maka kini ia sendiri (ahli gramatika Arab) yang datang
menawarkan diri kepada Ziyad seraya berkata:
(Aku telah mengabulkan apa yang kau minta).
Andaikata kekhawatiran akan timbulnya kesalahan
melafalkan Al Quran sudah ada sejak zaman sahabat,

110
sesungguhnya hal itu tidak berlebihan dan bukan mengada-ada.
Orang-orang awam selalu ada, dan tidak semua memahami
dengan baik tata bahasanya. Buktinya seperti yang didengar Abu
Al-Aswad tadi.
Memang kesalahan bisa terjadi saat orang membaca Al-
Quran. Sebab pada masa itu tulisan Al-Quran belum dilengkapi
titik, harakat, atau baris. Kemungkinan orang membacanya tidak
dengan benar selalu terjadi. Kekhawatiran itulah yang kemudian
melahirkan gagasan untuk mengupayakan alat bantu membaca
Al-Quran dapat ditekan sebisa mungkin. Tersebutlah nama
Ubaidillah bin Zayyad (wafat 67 H). Tokoh ini memerintahkan
seorang pria asal Persia meletakkan huruf alif pada kata (dalam
bahasa Arab, disebut kalimat) yang berdasarkan Rasm Utsmani
justru dibuang. Misalnya yang dalam Rasm Utsmani
ditulis
Dengan disebutnya nama Ubaidillah, berarti bukan hanya
Abu Al-Aswad (lahir di Bashrah 45 H), yang disebut-sebut sebagai
pemula yang berusaha mencarikan jalan keluar guna
menghindari kesalahan di dalam membaca Al-Quran.
Nama lainnya yang disebut adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Al-
Tsaqfiy (wafat 95 H). Tokoh ini, konon, merehabilitasi Rasm Al-
Quran di sebelas tempat. Setelah Rasm Al-Quran direhab Al-
Hajjaj, menurut Abu Daud, orang lebih mudah membaca dan
memahami Al-Quran. Sayangnya, Abu Daud tidak menyebut,
tempat mana saja yang direhab Al-Hajjaj.
Selain nama-nama di atas, masih terdapat nama lain, yaitu
Yahya bin Yamur dan Nashr bin Ashim Al-Laitsi. Kedua nama
yang terakhir ini, menurut Syekh Abdullah Zanjani adalah murid
Abu Al-Aswad.

111
Siapapun di antara nama-nama di atas yang memang paling
dahulu meletakkan titik dan harakat atau tanda baca lainnya,
suatu hal yang penting adalah mereka telah berusaha ikut andil
di dalam usaha menutup kemungkinan salah dalam membaca Al-
Quran sekaligus memperbagus Rasm Al-Quran.
Bahan-bahan yang dapat dijadikan rujukan mengenai andil
apa saja yang telah mereka kontribusikan, sulit didapat, kecuali
mengenai Abu Al-Aswad. Menurut riwayatnya, setelah Abu Al-
Aswad menyatakan kesediaannya kepada Ziyad, menurut
Zanjani, pakar ilmu nahwu itu meminta disiapkan seorang staf
untuk dijadikan juru tulis. Ziyad malah menyiapkan sebanyak 30
orang, tetapi Abu Aswad tetap memilih seorang di antara
mereka. Orang itu adalah kabilah Qais. Abu Al-Aswad kemudian
memerintahkan juru tulis dari kabilah Qais itu mengambil mushaf
dan zat pewarna yang berbeda dengan yang digunakan untuk
menulis musuhaf yang diambil orang tadi. Selanjutnya Abu
Aswad berpesan kepada staf itu: jika kau lihat bibirku terbuka
lebar waktu menyebut huruf bersuara a (fathah) letakkanlah satu
titik di atasnya. Dan jika kedua bibirku agak terkatup (bersuara i)
letakkanlah satu titik di bawahnya. Jika bibirku mencuat ke muka
(bersuara u), letakkanlah titik di tengah huruf, dan jika bunyi
suaraku dengung (ghunnah), letakkanlah dua titik di atasnya.
Setelah itu, Abu Al-Aswad dengan perlahan-lahan membaca Al-
Quran. Sementara itu, juru tulisnya sibuk bekerja sesuai perintah
Abu Al-Aswad. Apabila mereka mendapatkan salah satu huruf
halq, mereka meletakkan salah satu titik lebih tinggi dari pada
yang lain sebagai tanda suara ( nun) jelas, jika tidak jelas
mereka meletakkan di samping sebagai tanda apabila suara
(nun) tidak terdengar (atau bersembunyi) (Lihat Wawasan Baru
Tarikh Al-Quran, hlm. 116).

112
Pada perkembangan selanjutnya, menurut Syekh Abu
Abdullah Al-Zanjani, penduduk Madinah menciptakan bentuk
melengkung(). Kemudian, pengikut Abu Al-Aswad
menambahkan tanda-tanda lain, yaitu dengan meletakkan garis
horizontal di atas huruf yang terpisah, baik hamzah maupun
bukan. Sebagai tanda alif washal, pengikut Abu Al-Aswad
meletakkan garis vertikal jika sebelumnya fathah, dan ke bawah
jika sebelumnya dlammah.
Peletakan titik dan kode harakat pada mushaf, sekalipun
tampak sederhana dan telah dilakukan, tapi mencatat perjalanan
cukup rumit. Masalahnya, tidak semua orang, terutama ulama,
menerima ide baru yang dianggapnya bidah itu, karena memang
benih kontra titik dan harakat sebenarnya sudah ada sejak
zaman sahabat. Bermula dari Abdullah bin Masud, sahabat yang
pernah memiliki mushaf ini, mewanti-wanti sahabat lainnya,
Bebaskan Al-Quran dan jangan campur dengan apa pun.
Rupanya, ucapan Abdullah bin Masud ini terus dipegang sampai
pada generasi tabiin dan tabiAl-tabiin.
Akan tetapi, Imam Malik yang terbilang generasi sesudah
tabial-tabiin membolehkan peletakan titik, khusus untuk
mushaf-mushaf yang dipakai belajar, sedangkan penitikan pada
mushaf-mushaf umum tetap tidak dibenarkan. Sampai akhirnya
muncul ulama-ulama yang oleh Dr. Shubhiy Shalih dianggap
moderat. Ulama-ulama moderat ini membedakan antara nuqath
(titik) dan tasyir. Tasyir artinya peletakan tanda pada setiap
sepuluh. Sejak itu, seperti diriwayatkan Abu Abdullah Husain bin
Al-Hasan Al-Hulaimiy Al-Jurjaniy, peletakan titik mulai tidak
dianggap pelanggaran. Alasannya, titik bukanlah bentuk suatu
tulisan yang dapat menyeret orang mengira sesuatu yang bukan
bagian dari Al-Quran sebagai Al-Quran. Yang tetap dinyatakan

113
Makruh hanyalah tasyir, akhmas (penandaan pada setiap lima
ayat), nama-nama surah, dan bilangan ayatnya karena orang
masih memegang erat ucapan Abdullah bin Masud yang
menyuruh menanggalkan Al-Quran dari tulisan-tulisan tadi.
Ucapan Imam Nawawiy, yang bernama lengkap Al-Imam Al-
Hafiz Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Al-Nawawiy
(wafat 676 H), boleh dibilang suatu terobosan baru. Pengarang
kitab Syarh Shahih Muslim ini bukan saja membolehkan
peletakan titik pada mushaf. Ia bahkan menganggap, memasang
titik dan harakat (syakl) mushaf hukumnya mushtahab atau
sunah. Alasannya, meletakkan syakl (baris = harakat) berarti
mengupayakan Al-Quran terbebas dari apa yang ia sebut tahrif,
yakni penyimpangan atau kesalahan.
Hal-hal lain yang pada mulanya dianggap bidah dhalalah
adalah tanda-tanda pembatas ayat yang disertai nomor ayat.
Termasuk pengkodean dengan huruf '( ain) pada akhir setiap
sepuluh ayat. Hajat untuk mengetahui batas-batas ayat ini
akhirnya menjebol doktrin bidah itu menjadi sesuatu yang
mubah.
Sementara itu, penandaan-penandaan yang ditulis di setiap
awal (suah termasuk nama surah dan keterangan yang menunjuk
Makkiyah atau Madaniyahnya surah itu) masih mendapat
serangan sengit. Sikap kontra yang berlebihan terutama datang
dari kalangan yang-oleh Shubhiy Shalih disebut-konservatif.
Sikap keras itu lahir karena anggapan susunan kronologi surah
tauqify, artinya ditetapkan bukan berdasarkan ijtihad para
sahabat, tetapi berdasarkan petunjuk Rasulullah. Sementara
pihak yang membolehkan penandaan-penandaan di awal surah
pun terus berjalan. Mereka seolah-olah tak pernah mendengar
kritik dan serangan kalangan ulama konservatif yang menentang

114
penandaan itu. Para pendukung mazhab ini malah melangkah
lebih jauh lagi. Al-Quran pun mereka kelompokkan dalam juz-juz
menjadi tiga puluh. Dan juz juz yang berjumlah 30 itu pun
mereka pilah menjadi hizb-hizb. Satu juz dibagi menjadi dua hizb.

DI BUAT OLEH : REFI LIANA

NPM : 1502090171

PRODI : HUKUM EKONOMI SYARIAH

MATA KULIAH : ULUMUL QURAN

BAB 9

Sekitar Surah dan Ayat

A . Surah

Dari segi lughawi-nya , surah berarti manzilah atau kedudukan . Arti


lainnya adalah syaraf , atau kemuliaan . Menurut definisi dikenal dalam

115
hubungannya dengan Al-quran , surah adalah kelompok tersendiri dari
ayat-ayat Al-quran yang mempunyai awal dan akhir . Abdul wahhab
,Abdul majid ghazlan mendefinisikan lain lagi . Menurutnya , surah
adalah kelompok tersendiri dari Al-quran yang terdiri dari sedikitnya 3
ayat .

Para ulama mengelompokan surah-surah Al-quran yang berjumlah 114


itu menjadi empat . Sandaran mereka adalah hadis marfu yang
dikeluarkan oleh abu ubaid dari basyir , dari Qatadah , dari abi Al-mulih
dari wailah bin Al-Asyqa dari Nabi Muhammad Saw . Hadis marfu itu
berbunyi :



Aku diberi (oleh Allah ) tujuh ( surah ) thiwal pada posisi taurat . Dan
aku diberi miin pada posisi injil . Dan aku diberi matsani pada posisi zabur .
Dan , aku dilebihkan dengan
mufashshal .

Sekalipun oleh Al-zarkasyi dalam Al-burhan fi ulum Al-quran-nya


hadis ini dinyatakan gharib , tetapi istilah-istilah surah thiwal , miin
atau matsani dan mufashal ,demikaian populer dikalangan pengkaji
ulum Al-quran . Al-zakasyi sendiri ,dalam kitab Al-burhan yang ia
tulis , membahas dengan cukup panjang masalah ini . Demikian juga
tokoh ulum Al-quran lainnya , misalnya AL-zarqany . Dan pembhasan
mengenai masalah kelompok surah-surah ini terbilang seru . Disana
banyak pendapat berbeda . mungkin karenatidak adanya riwayat sahih
yang dengan terperinci yang meneybuta surah-surah mana saja yang
termasuk thiwal , miun , matsani dan munfashal untuk dijadikan
pijakan . Apa sesungguhnya keempat kelompok surah tersebut ?

1. Al-thiwal ( baca: At-thiwal ) , yaitu surah yang panjang-panjang


kelompok surah ini ada enam surah yang disepakati sebagai At-thiwal

116
adalah Al-Baqarah , Aliimran , Al-nisa , Al-maidah ,Al-anam , dan Al-
araf sedangkan satu surah lainnya yang dipertentangkan status thiwal-
nya adalah Al-anfal dan Baraah ( Al-taubah ) . kedua surah ini dianggap
satu karena tidak pisah dengan basmalah . surah-surah ini disebut Al-
thiwal karena panjang .

2. Al-miun atau Al-miin , yaitu surah-surah Al-quran yang jumlah ayatnya


sekitar 100 ayat .

3. Al-matsani , yaitu surah-surah yang ayatnya kurang dari seratus buah .


Disebut matsani yang berarti diulang-ulang karena surah ini sering
dibaca ulang , lebih dari surah-surah Al-miun atau Al-thiwal .

4. Al-mufashal , yaitu surah yang lebih pendek dari Al-matsani disebut Al-
mufashal yang berarti terputus-putus ,karena seringnya terputus .
Sebabnyasurah itu pendek .

Didalam menetapkan khir surah kelompok AL-matsani yang sekaligus


berarti permulaan Al-mufashal persilangan pendapat ulama cukup seru .
Sedikitnya ada 12 pendapat yang berhasil direkam Al-zarkasyi dalam
kitab ilmu-ilmu Al-quran yang ditulisnya . Ada yang mengatakan surah
Al-jatsiah , ada pula yang mengtakan Al-hujurat , sementara pendapat
lain mengatakan Al-shaffat , sedangkan tokoh lainnya mengatakan Al-
shaf . Sementara itu ada lagi yang berpendapat tabarak ( Al-mulk) , inna
fatahna (Al-fath) , Al-rahman , Al-insan , Al-dhuha da nada pula yang
berpendapat bahwa surah al-mufashal dimulai dari sabbaha . Entah
sabbaha mana yang dimaksud . Sebab surah Al-quran yang dimulai
dengan kata itu tidak satu .Wallahu Aalam .

Persilangan pendapat disekitar surah berlanjut sampai pada


penyusunanya didalam Al-quran , Sementara ulama mengatakannya
tauqifiy , artinya disusun berdasarkan perintah Rasullah Saw. Taka ada
satu surah pun yang diletakkan diposisi tertentu kecuali atas perintah
rasulullah . Para pendukung haluan ini , berargumentasi pada ketetapan

117
yang diambil dalam penulisan mushaf utsman . Pada waktu itu , semua
sahabat sepakat (ittifaq) . Tak seorangpun diantara mereka yang
menentang dalam susunan mushaf utsman ini , bisa disimpulkan karena
para sahabat tahu bahwa susunan surah-surah Al-quran itu dating dari
Nabi . Tidak hanya itu , para sahabat yang ada waktu itu pun mengubah
susunan yang ada pada mushaf-mushaf yang mereka miliki dan bahkan
membakarnya . Selanjutnya , mereka merujuk kepada mushaf utsmani
dengan segala susunan dan cara penulisannya . Salah seorang dari
pendukung mazhab ini bernama abu jafar Al-nuhas ini , ia
mengatakan yang bisa dipilih , adalah bahwasannya tertib urutan
surah-surah datang dari Rasulullah . Dalil yang dipegang Al-nuhas ini ,
adalah hadis wailah yang berbunyi :


Aku beri tujuh surah yang panjang yang posisinya sama dengan taurat .

Ibnu asytah meriwayatkan dari sumber ibnu wahb , dari sulaiman bin
bilal , berkata , aku mendengar rabiah bertanya : kenapa Al-baqarah
dan Ali imran didahulukan , padahal sebelum kedua surah itu telah
diturun dimekah lebih dari 80 surah , dan kedua surah itu ( al-baqarah
dan Ali imran) diturunkan dimadinah ? pertanyaan itu kemudian
mendapat jawaban sebagai berikut , kedua surah itu didahulukan , dan
Al-quran disusun berdasarkan pengetahuan yang menyusun dan orang-
orang yang berpartisipasi . ijma mereka juga sesuai dengan pengetahuan
mereka tentang itu . Itulah yang bisa dicapai dan jangan bertanya tentang
itu ( susunan surah ) .

Ibnu Al-hishar malah lebih semangat lagi . Tokoh ini berpendapat ,


urutan ( tartib) surah-surah didalam Al-quran ditetapkan dengan wahyu .
Ia memegang riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah pernah
bersabda : letakkanlah ayat ini disurah ini . penyusunan surah-surah
didalam mushaf dimata ibnu hishar telah mencapai suatu keyakinan

118
dengan sumber naql dari Rasulullah Saw . yang atas dasar itu pra
sahabat berijma untuk menyusunnya didalam mushaf . Lihat Abdul
Wahhab , Abdul Mjid Ghazlan , dalam mabahits fi ulum Al-quran , hal .
232.

Oaleh karena kedudukan susunan surah dalam mushaf seperti yang


diyakini ibnu Al-hishar , seperti dimuat dal Al- itqan ibnu Al-anbari
dengan lantang menyuarakan , barang siapa yang mendahulukan suatu
surah atau mengakhirinya , ia berarti merusak Al-quran .

Jumhur ulama menurut Al-suyuthiy adalah ijtihadi . Artinya , surah-


surah Al-quran disusun didalam mushaf tidak berdasarkan petunjuk
Rasulullah Saw , tetapi dilakukan berdasarkan pertimbangan para
sahabat . Diantara pendukung pendapat ini terdapat nama iman malik
dan Al-qadhi abu bakar .

Oleh karena penyusunan surah berdasarkan ijtihad itulah ,terjadi


perbedaan dalam kronologi mushaf-mushaf yang dimilki bebrapa
sahabat Rasulullah Saw . Ali biN Abi Thalib karramallahu wajhah
misalnya , sepupu yang sekaligus menantu Rasulullah Saw . ini
menyusun surah didalam mushafnya berdasarkan turunnya ayat . Dengan
demikian , surah pertama didalam mushaf Ali , menurut Al-itqan ,
bukannya surah surah Al-fatihah tetapi surah Al-alaq . Surah
selanjutnya adalah Al-muddatstsir , Al-nur , Al-muzammil ,Al-lahab lalu
Al-Takwir . Sementara itu mushaf Abdullah bin masud lain lagi .
Susunan surah dalam mushaf sahabat yang satu ini dimulai dengan Al-
baqarah , lalu Al-nisa , Al-nur , dan Ali Imran.

Bila diamati , pada susunan yang terdapat pada mushaf ali dengan
mushaf Abdullah bin masud menurut syekh jalaluddin Abd Al-rahman
Al-suyuthiy dalam Al-itqan nya , terdapat perbedaan yang mencolok .
Demikian pula perbedaan yang ada antara mushaf kedua shabat ini dan
mushaf sahabat lainnya ( jilid 1 , hlm.820 )

119
Susunan surah-surah Al-quran seperti disaksikan sekarang adalah
susunan surah mushaf utsman , karena memang sejak penulisan Al-quran
pada zaman utsman dan diseragamkannya tata cara penulisan Al-
quran oleh utsman , kesempatan untuk beredarnya mushaf-mushaf
sahabat lain sangat kecil sekali , bahkan dikatakan tertutup total .

Al-zarkasyi , kelihatan tidak ingin meruncingkan kedua perbedaan


diatas ia berusaha menetralisir kedua pendapat itu dengan mengatakan
bahwa perbedaan mereka hanya sebatas kata bukan sebenarnya .

Dengan tidak bermaksud memperuncing perbedaan , tetapi sekedar


menentukan pilihan , pendapat yang mengatakan susunan surah tersebut
memang sulit diterima . Walaupun mungkin itu tak sesulit menjatuhkan
vonis bahwa Ali bin Abi Thalib , Abdullah bin masud dan Ubai bin
kaab merusak Al-quran .

Ditengah-tengah sengitnya perbedaan dua kubu diatas , muncul aliran


ketiga . Aliran ketiga ini sebut saja aliran moderat . Mereka surah Al-
quran disusun didalam mushaf berdasarkan perintah rasul saw , tetapi
tidak semuanya . Selain surah-surah yang disusun tauqifiy , tak jarang
pula yang diletakkan berdasarkan ijtihad sahabat . Jadi , ijtihadiy . Kitab
manahil al-irfan menurunkan pendapat Al-qadhi Abu Muhammad ibn
athiyah yang berbunyi : banyak surah yang telah diketahui urutan
penempatan (tartib)-nya pada masa Rasulullah hidup . Misalnya , tujuh
surah thiwal ,hawamim,dan mufashshal. Di luar itu mungkin
( penyusunannya didalam mushaf ) diserahkan kepada umat sesudah
beliau (jilid 1 ,hlm.357)

Baik surah-surah itu didata berdasarkan ijtihad , lebih-lebih bila


tauqifiy .Al-zarqaniy menghimbau umat islam untuk menghormatinya .
Sekali pun hal itu produk ijtihad para sahabat , bukaakah itu berarti
menjadi hujjah ? menyimpang dari aturan yang ditetapkan berdasarkan
ijtihad sekalipun , kata syekh zarqany , dapat menggiring perpecahan ,

120
padahal menutup celah timbulnya perpecahan serta kehancuran
hukumnya wajib .

Pertanyaan yang timbul sekarang Mengapa Al-quran terdiri dari


surah-surah ? Mungkin pertanyaan berikutnya : apa perlunya surah-
surah itu ? pertanyaan semacam itu bisa saja timbul . Lebih-lebih bila
segala macam yang menyangkut Al-quran hendak ditangkap secara
rasional . Beruntung , Al-zarqaniy didalam manahil alirfan-nya
memberikan jawaban pertanyaan diatas cukup bagus .Beliau justru
melihat pemilah-milahan Al-quran menjadi beberapa surah ternyata
mengandung banyak hikmah dan faedah , di antaranya sebagai berikut .

1. Mempermudah umat pemegang kitab suci ini untuk mempelajarinya .


Dalam waktu yang sama , bisa membuat orang rindu , karena sekalipun
ia terbagi-bagi menjadi beberapa surah , pada hakikatnya mengandung
pesan yang sama satu sama lain kait-mengkait dan selalu berhubungan;

2. Suatu surah menunjukkan kerangka pembahasan bagi suatu


permasalahan karena setiap surah membawakan tema tertentu yang
ditonjolkan . Ambillah contoh surah Al-anfal . Pada surah itu dibahas
tuntas hal-hal yang menyangkut perang badar mulai penyusunan
kekuatan, kekompakan pasukan , kebergantungan kepada Allah swt .
Sampai pada akibat yang terjadi setelah kemenangan dapat diraih .

3. Sebagai isyarat bahwa panjangnya suatu surah bukanlah merupakan


syarat ijas-nya ayat-ayat Al-quran . Betapapun pendeknya surah tetap
merupakan mukzizat yang tak bisa tertandingi oleh daya kreasi makhluk
manapun .

Banyak lagi hikmah dan faedah di balik pemilahan Al-quran menjadi


beberapa surah ini . Semua itu dapat dirasionalkan andai kata membaca
Al-quran dianalogikan dengan orang yang menempuh perjalanan
panjang dan surah-surah itu merupakan stasiun-stasiun . Perjalanan yang
terlalu panjang tentu melelahkan . Dengan adanya perhentian-

121
perhentian , musafir dapat beristirahat , memompa semangat lagi da nada
kesenangan tersendiri karena telah menempuh bagian tertentu dari
perjalanan yang seharusnya ia tuntaskan .

Akan tetapi , dibalik hikmah dan faedah yang bisa saja


dirasionalisasikan , ada satu hal penting bahwa nama-nama surah
ditetapkan oleh Zat yang membuat surah-surah , yaitu Allah swt . Ini
berarti didalam Al-quran terkandung rahasia yang tak terjangkau akal
pikiran manusia . Sejauh yang bisa ditangkap manusia , penamaan surah-
surah Al-quran mengambil dari : kadang-kadang kata yang terdapat pada
awal surah dan kadang-kadang mengambil tema tertentu yang paling
menonjol dari sisi keseluruhan surah .

B . Ayat
Apabila satu surah terdiri dari beberapa ayat , tentu paling diketahui :
apa sesungguhnya ayat itu ? Setiap muslim berusaha seoptimal mungkin
mengenal kitab sucinya , termasuk mengenal ayat kitab suci ini .

Bagi umat islam , lebih-lebih dalam membahas masalah Al-quran tak


ada sumber yang lebih bernilai ketimbang Al-quran itu sendiri .
Informasi menyangkut jati diri seseorang , misalnya , yang paling bisa
dipertanggungjawabkan adalah bila datang dari orang itu sendiri , saat
yang dibahas adalah masalah Al-quran , maka yang paling berhak
menerangkan jati dirinya adalah Al-quran itu sendiri .

Didalam Al-quran , terdapat bermacam-macam atri ayat :

Pertama , ayat berati tanda . Ini bisa disimak didalam surah Al-baqarah ,
ayat 248 yang berbunyi :

122
Sesungguhnya tanda ia menjadi raja , adalah kembalinya tabut
kepadamu

Kedua , ayat berarti ibrah atau pelajaran . pengertiannya yang


ini banyak sekali didapati di dalam Al-quran . Misalnya , dalam
surah Al-baqarah , ayat 164 yang berbunyi :

Sesungguhnya didalam penciptaan langit dan bumi , silih


bergantinya malam dan siang bahtera yang berlayar di laut membawa apa
yang berguna bagi manusia , dan apa yang Allah turunkan dari langit
berupa air .Lalu dengan air itu ( dia hidupkan bumi setelah mati (kering)nya
, dan Dia sebarkan dibumi itu segala jenis hewan , dan pengisaran angin
dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi , sungguh merupakan
pelajaran bagi orang yang berakal . (Qs Al-baqarah[2]:164)

Ketiga , ayat juga berati mukjizat , Ayat dalam pengertian ini


dapat dilihat dalam surah Al-baqarah juga . Ayat itu berbunyi :

123
Tanyakan kepada Bani israil : Berapa banyaknya mukjizat yang nyata yang
telah kami berikan kepada mereka (Qs Al-baqarah [2]:211)

Keempat , ayat berarti hal yang aneh . Al-Zarqaniy mengartikan


kata ayat pada surah Al-muminun , ayat 50 menjadi Al-amru
al-ajib . Yakni pekara atau hal yang . Mari simak bunyi ayat itu :

Dan putra Maryam beserta ibunya adalah hal yang aneh . Dan lindungi
mereka suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang rumput
dan sumber-sumber air bersih yang mengalir . (Qs Al-muminun [23]:50)

Maryam yang hamil dan melahirkan putranya isa , tak disangkal


sebagai suatu keanehan , lain dari kebiasaan yang yang berlaku
umum . Isa pun termasuk keanehan dunia . Sebab , hanya beliaulah
yang dilahirkan tanpa melalui proses hubungan biologis pasangan
pria dan wanita .

Kelima , berarti dalil , burhan atau bukti . Misalnya ayat yang


berbunyi :

Dan sebagian dari pada bukti (kebesaran-Nya , penciptaan langit dan bumi
dan berlain-lainan bahasa dan warna kulitmu (Qs Al-rum [30]:22)

Didalam bahasa yang sering digunakan masyarakat arabpun ayat


terkadang mempunyai arti khusus . Orang arab sering mengucapkan
kalimat :(kharaja al-qaumu bi ayatihim ) yang berarti kaum keluar

124
dengan jamaah mereka . kata bi ayatihim pada kalimat itu bermakna
dengan jamaah atau kelompok mereka , bukan dengan tanda mereka

Pembahasan selanjutnya bukan mempersoalkan pengertian-pengertian


lughawi ayat , tetapi berkisar pada seluk-beluk satuan kata terkecil yang
terdapat pada surah-surah Al-quran . Misalnya tujuh satuan yang
terdapat pada surah Al-fatihah .

Berbicara mengenai penempatan ayat-ayat di dalam surah-surah Al-


quran berbeda dengan penempatan surah . Dalam pembahasan
penyusunan surah , persilisihan pendapat berlangsung cukup seru .
Disana perimbangan antara pendukung tauqifiy dengan ijtihadiy boleh
dibilang sama-sama kuat . Sekalipun akhirnya bisa dinilai mana yang
lebih kuat . Di dalam pembahasan penepatan ayat-ayat perselisihan tidak
setajam di atas kalau tidak dikatakan tidak ada sama sekali .Dalil-dalil
naqli-nya pun dinilai cukup kuat . Misalnya hadis yang diriwayatkan
oleh ahmad tirmidzi , Abu daud dan nasai , dari ibnu abbas .Ibnu abbas
pernah berkata kepada ustman sebagai berikut :

alasanmu sengaja menyatukan surah Al-anfal yang termasuk golongan


golongan surah Al-matsaniy dengan baraah (At-taubah ) padahal dia
termasuk miun . Kamu gabung antara keduanya dan tidak kamu tulis
diatara keduanya dengan bismillahi Al-Rahman Al-Rahim kemudian kamu
letakkan dia di (kelompok) tujuh thiwal?

Ustman kemudian menjawab :

125

Dahulu turun atas Rasulullah surah yang banyak ayatnya . Beliau , bila
turun sesuatu atasnya memanggil sebagian juru tulis . Lalu
mengatakan :Letakkanlah ayat-ayat ini disurah yang beliau sebutkan
padanya begini dan begini .Al-anfal termasuk surah-surah yang pertama
turun dimadinah , dan baraah terbilang Al-quran yang terakhir turun
kisahnya (baraah) mirip dengan kisahnya(Al-anfal). Maka aku mengira
bahwasnya dia (baraah) teramsuk bagian darinya (Al-
anfal ).Kemudian Rasulullah diambil (wafat) sebelum beliau menjelaskan
kepada kami bahwasanya (Baraah) bagian darinya (Al-anfal).karena itu
,aku gandeng keduanya tanpa kutuliskan diantara keduanya dengan
bismillahi Al-Rahmani Al-Rahimi, kemudian kutempatkan dia di (kelompok
tujuh) Thiwal .

Riwayat diatas cukup panjang , tetapi yang ditonjolkan untuk


dijadikan pegangan dalil adalah kalimat yang berbunyi : Letakkanlah
ayat-ayat ini disurah yang beliau sebutkan padanya begini dan begini .
Kalimat ini menunjukkan bahwa Rasulullah Saw , yang menyuruh para
juru tulis meletakkan ayat tertentu disurah tertentu . Bukan atas kebiasan
mereka .

Dalil lainya , riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Ibnu
Umar yang mengatakan , Aku tak pernah bertanya sesuatu kepada
Rasulullah Saw , yang lebih banyak dari apa yang kutanyakan tentang
kalalah. Beliau sampai menusukkan jari tangannya ke dadaku dan
bersabda :

Cukup buatmu ayat Al-shaif yang terdapat diakhir surah Al-nisa.

126
Selain kedua dalil diatas , banyak riwayat yang mendukung hal yang
sama . Di antaranya dari jalur Huzhaifah bin Al-yaman . Riwayat itu
mengatakan bahwasannya Rasulullah Saw , membaca surah Al-Araf
didalam shalat magrib . Al-nasai pun meriwayatkan bahwasannya
Rasulullah membaca surah Al-muminun waktu salat subuh . Dan imam
muslim meriwayatkan , Rasulullah Saw . Membaca surah Qaf ketika
khotbah , dan banyak lagi

Riwayat-riwayat diatas membuktikan bahwa peletakan ayat-ayat


didalam surah-surah Al-quran adalah tauqifty dimana sahabat tak
mempunyai peran apapun . Mereka meletakkan ayat-ayat Al-quran di
dalam surah tertentu sesuai dengan yang mereka dengar dari Rasulullah
Saw . Itulah sebabnya taka da mushaf yang dimilki sahabat yang berbeda
dalam peletakan ayat pada surah . Semuanya seragam . Al-suyuthiy
didalam Al-itqan-nya menurunkan sejumlah komentar sebagian ulama
yang menegaskan bahwa urutan ayat disusun berdasarkan perintah
Rasulullah Saw.

Panjang ayant tidak seragam . Ada yang panjang sekali . Dan , tak
jarang ada ayat-ayat Al-quran yang pendek . Bahkan hanya satu huruf .
Betapapun pendeknya suatu ayat , mengetahuinya tetap berfaedah . Al-
zarqaniy melihat ada tiga faedah mengetahiu ayat , yaitu sebagai
berikut .

1. Mengetahui bahwa setiap tiga ayat pendek-pendek pun mengandung


mukzizat . Allah swt , yang berfirman demikian didalam salah satu ayat-
ayat yang berbunyi :

127

Jika kalian ragu terhadap apa yang kamu turunkan kepada hamba kami ,
datangkanlh satu surah . Ajaklah pentolan-pentolan kalian selain Allah
jika memang kalian benar (Qs Al-Baqarah [2]:23)

Satu surah sudah menjadi mukzizat yang bakal bisa ditandingi


produk makhluk manapun . Padahal satu surah yang pendek hanya terdiri
dari tiga ayat . Tiga ayat sudah cukup melumpuhkan kesanggupan
makhluk mana pun .

2. Sebagian ulama mengatakan bahwa berhenti membaca pada setiap akhir


ayat adalah sunah . Ketetapan ini memegang dalil riwayat Abu Daud dari
Ummu Salamah yang mengtakan : Bahwasanya Rasulullah Saw. Bila
membaca (Al-quran) memutus bacaannya ayat demi ayat Beliau
membaca : Bismillahi Al-rahmani Al-rahimi, lalu berhenti . Kemudian
Al-rahmani Al-rahimi , lalu berhenti .

3. Didalam khotbah ada keharusan membaca ayat secara utuh . Artinya


membaca satu ayat secara keseluruhan . Tanpa pengetahuan batas-batas
ayat , sulit untuk menjalankan ketentuan ini .

Banyak umat Islam yang ingin menjalankan ibadah sebaik mungkin


Misalnya shalat . Ada riwayat yang menyatakan bahwa ketika shalat
subuh , Rasulullah saw . Membaca Al-quran antara 60 sam 100 ayat . ini
juga termasuk kegunaan mengetahui ayat .

128
DI BUAT OLEH : REFI LIANA

NPM : 1502090171

PRODI : HUKUM EKONOMI SYARIAH

MATA KULIAH : ULUMUL QURAN

BAB 10

Fawatih Al-Suwar dan Khawatim Al-Suwar

Study atas Al-quran telah banyak dilakukan oleh para ulama dan
sarjana tempo dulu , termasuk para sahabat pada zaman Rasulullah Saw.
Hal itu tidak lepas dari disiplin dan keahlian yang dimiliki oleh mereka
masing-masing . Al-quran adalah lautan ilmu yang tidak akan habis-
habisnya untuk dikaji dari berbagai sisi . Bahkan orientalis pun tidak
ketinggalan untuk mengetahui rahasia dibalik teks-teks Al-quran
tersebut ada yang mencoba mengelaborasi dan melakukan dan
melakukan explorasi lewat perspektif keimanan , historis , bahasa dan
sastra , pengkodifikasian , kemukjizatan , penafsiran dan telah huruf-
hurufnya . sosio-kultural dan hermeneutika .

129
Salah satu pengkajian , sekaligus pembuktian kemukjizatan Al-
quran adalah kajian terhadap kata-kata pembuka dan kata-kata penutup
Al-quran . surah-surah Al-quran yang terdiri atas 114 surah , ternyata
diawali dengan beberapa macam pembuka (fawatih Al-suwar) dan
diakhiri dengan bebagai macam penutup (khawatim Al-suwar). Pembuka
dan penutup ini memiliki maksud dan tujuan tertentu yang semuanya
akan berimplikasi pada pengungkapan isi suatu surah .

A. Fawatih Al-Suwar

Istilah fawatihadalah jamak dan kata fatih yang secara lughawi


berarti pembuka. Sedangkan suwar adalah jamak dari kata surah
sebagai sebutan dari sekumpulan ayat-ayat Al-quran yang diberi nama
tertentu . Jadi Fawati Al-suwar berarti pembukaan-pembukaan surah ,
karena posisinya berada diawal surah-surah dalam Al-quran . Diantara
pembuka itu ada yang berbentuk huruf terpisah (Al-muqatahaat) , kata
maupun kalimat semua bentuk ini memberi pesan tertentu yang hanya
bisa dipahami oleh mereka yang memahami tafsir Al-quran .

Banyak ulama telah melakukan kajian mendalam tentang pembukaan


surah-surah Al-quran , seperti ibnu Abi Al-asba yang menulis sebuah
kitab tentang bab ini , yaitu kitab Al-khawatir Al-sawanih fi asrar Al-
fawatih ia mencoba menggambarkan tenatang beberapa katagori dari
pembukaan-pembukaan surah yang ada didalam surah yang ada
dipertama, pujian terhadap Allah Swt . Yang dinisbahkan kepada sifat-
sifat kesempurnaan Tuhan . Keduan , dengan menggunakan huruf-huruf
hijaiyah , yang terdapat dalam 29 surah . Ketiga , dengan menggunakan
kata seru ( ahrufun nida) yang terdapat dalam 10 surah . Keempat ,
kalimat berita (jumlah khabariyah) yang terdapat dalam 23 surah .
Kelima, dalam bentuk sumpah (Al-qasam) yang terdapat dalam 15 surah
( Muhammad chirzin , Al-quran dan ulumul quran ,1998:62).

130
Menurut Baddrudin Muhammad Al-zarkasyi ( Al-quran fi ulumul
quran , CD rom Maktabah Syamilah , juz 1:64) Allah Swt telah
memberikan pembukaan terhadap kitab-Nya dengan 10 macam bentuk
dan tidak ada satu surah pun yang keluar dari 10 macam pembukaan itu .
Pernyataan ini dikuatkan oleh Al-qasthalani dalam penjelasan dibawah
ini ( lihat supian dan karman , ulumul quran 2002:172 )

1. Pembukaan dengan pujian kepada Allah ( Al-istiftah bi Al-tsana ) pijian


kepada ada 2 macam, yaitu :

a) Menetapkan sifat-sifat terpuji dengan menggunakan (a) hamdalah yakni


dibuka dengan yang terdapat pada 5 surah , yaitu Al-Fatihah ,
Al-Anam ,Al-kahfi ,saba , dan fathir (b) mengunakan lafal yang
terdapat dalam 2 surah , yaitu Al-furqan dan Al-mulk .

b) Mensucikan Allah dari sifat-sifat negatif dengan menggunakan lafal


tasbih yang terdapat pada 7 surah , yaitu Al-isra , Al-hadid , Al- hasyr,
Al-shaff , Al-jumah , dan Al-taghabun .

2. Pembukaan dengan huruf-huruf yang terputus-putus ( Al-ahruf Al-


muqathaah ) pembukaan dengan huruf-huruf ini terdapat dalam 29
surah dengan memakai 14 huruf tanpa diulang yaitu:

Pengunaan surah-surah tersebut dalam pembukaan surah-surah Alquran


disusun dalam 14 rangkaian , yang terdiri atas kelompok berikut ini .

a) Kelompok sederhan yakni pembukaan yang hanya satu huruf terdapat


pada 3 surah , yakni ( ) surah shad , ( ) surah qal , dan ( )
surah Al-qalam .

b) Kelompok yang terdiri atas 2 huruf , terdapat pada 9 surah yakni , ( )


surah Al-mumin , Al-sajdah , Al-zukhrul, Al-dukhan , Al-jatsiyah , dan

131
Al-ahqal ; ( ) surah thaha : ( ) surah Al- naml ; dan( )
surah yasin.

c) Kelompok yang terdiri atas 3 huruf terdapat pada 13 surah yakni ( )


surah Al-baqarah , Ali Imran , Al-rum , Luqman dan sajdah : ( )
surah yunus ,hud , Ibrahim , yusuf , dan Al-hijr : dan ( ) surah
Al-qasdhash dan surah Al-syuara.

d) Kelompok yang terdiri atas 4 huruf , terdapat pada 2 surah yakni (


) surah Al-rad dan ( ) surah Al-araf .

e) Kelompok yang terdiri atas 5 huruf , terdapat pada 2 surah yakni (


) surah Maryam dan ( ) surah Al-syura ) .

3. Pembukaan panggilan (Al-istiftah bin Al-nida ) . Nida ini ada 3 macam


terdapat pada 9 surah, yakni sebagai berikut .

a) Nida untuk Nabi dengan term ( ) pada surah Al- ahzah ,


Al-tahrim ,dan Al-thalaq

b) Nadi untuk Nabi dengan term( ) pada surah Al-


muzammil .

c) Nida untuk Nabi dengan term ( ) pada surah Al-


mudatstsir .

d) Nida untuk orang-orang yang beriman dengan term (


)pada surah Al-maidah , Al-hujurat , dan Al- muhtahanah .

e) Nida untuk orang-orang secara umum dengan term (


) pada surah Al-nisa dan Al-hajj .

4. Pembukaan dengan kalimat berita ( Al-istiftah bi Al-jumlah Al-


khabariyah ) . Kalimat berita ( Al-jumlah Al-khabariyah ) dalam
pembukaan surah ada 2 macam yaitu :

132
a) Kalimat nomina ( Al-jumlah Al-ismiyah ) kalimat ini terdapat pada 11
surah , yaitu surah Al-taubah , Al-nur , Al-zumar , Muhammad , Al-
fath ,Al-rahman , Al-haqqah , Nuh , Al-qadr , Al-qariah , dan Al-
kautsar .

b) Kalimat verba (Al-jumlah al-filiyah ) kalimat ini terdapat pada 12


surah , yaitu Al-anfal ,Al-nahl , Al-qamar , Al-muminun , Al-anbiya, Al-
mujadalah , Al-maarij , Al qiyamah , Al-balad , Abasa , Al-bayinah ,
Al-bayinah , Al-takatsur .

5. Pembukaan dengan sumpah ( Al istiftah bi Al-qasam ) . Sumpah yang


digunakan dalam pembukaan surah-surah Al-quran ada 3 macam dan
terdapat dalam 15 surah . pembahasannya akan dibicarakan pada bagian
tersendiri .

6. Pembukaan dengan syarat (Al-istiftah bil-syarth) . Syarat-syarat yang


digunakan dalam pembukaan surah-surah Al-quran ada 2 macam dan
digunakan dalam 7 surah , yakni surah Al-takwir , Al-infithar , Al-
insyiqaq, Al-waqiah , Al-munafiqun , Al-zalzalah dan Al-nashr .

7. Pembukaan dengan kata kerja perintah (Al-istiftah bi Al-amr),


Berdasarkan penelitian para ahli , ada sekitar 6 kata kerja perintah yang
menjadi pembukaan surah-surah Al-quran , yaitu pada surah Al-alaq ,
jin , Al-kafirun , Al-ikhlash ,Al-falaq, dan Al-nas.

8. Pembukaan dengan pertanyaan (Al-istiftah bi Al-istifham) bentuk


pertanyaan ini ada 2 macam , yaitu :

a) Pertanyaan positif , yaitu pertanyaan dengan mengunakan pada 4 surah


yaitu surah Al-dahr , Al-naba, Al-ghasyiyah , dan Al-maun .

b) Pernyataan negatif , yaitu pertanyaan dengan menggunakan kalimat


negatif , yang hanya terdapat pada 2 surah , yaitu surah Al-insyirah dan
Al-fil .

133
9. Pembukaan dengan doa (al-istiftahbi Al-dua) pembukaan dengan doa
ini terdapat pada 3 surah , yaitu surah Al-muthaffifin ,Al-humazah, dan
Al-lahab.

10. Pembukaan dengan alasan (Al-istiftah bi al-talil ) pembukaan dengan


alasan ini hanya terdapat dalam quraisy .

Selanjutnya As-sututhiy mengatakan pembukaan dengan doa dapat saja


dimasukkan kedalam pembagian Al-khabar , begitu juga pembukaan
dengan pujian seluruhnya dapat dimasukkan kedalam jenis Al-khabar
kecuali surah Al-Ala dapat dimasukkan kedalam bagian Al-amr dan ayat
yang dadahului dengan subhana dapat dapat mengandung Al-amr dan
Al-khabar (lihat Al-suyuthiy, Al-itqan fi ulum Al-quran , 11/tt:106).

B. Khawatim Al-Suwar

Sebgaimana pembuka surah , penutup surah pun memiliki keidahan


tertentu . Alasanya , penutup surah merupakan akhir kesan yang dengar
(dibaca) dari surah yang bersangkutan. Oleh karena itu , penutup surah
memuat kandungan yang sarat dengan makna .

Istilah khawati adalah bentuk jamak dari khatim, yang berarti


penutup atau penghabisan . Menurut bahasa khawatim Al-suwar
berati penutup surah-surah Al-quran . Menurut istilah khawatim Al-
suwar adalah ungkapan yang menjadi penutup dari surah-surah Al-
quran yang memberi isyarat berakhirnya pembicaraan sehingga
merangsang untuk mengetahui hal-hal yang dibicarakan sesudahnya .

Imam Al-suyuthiy dalam membahas jhawatim Al-suwar tidak begitu


terperinci sebagaimana menerangkan fawatih Al-suwar . Ia menerangkan
beberapa bentuk term sebagai penutup dari surah-surah tersebut . Disitu
diterangkan bahwa penutup surah diantara berupa doa, wasiat faraidh ,
tahmid , tahlil , nasihat-nasihat , janji dan ancaman , dan lain-lain (Al-
suyuthiy, ibid .,tt: 107 ).

134
Menurut sementara penelitian , sedikitnya ada 16 macam khawatim
Al-suwar ( supian op.cit.,2002:178):

1. Penutupan dengan mengagungkan Allah (Al-tazim) penutup ini terdapat


pada 17 surah , yaitu srah Al-maidah , Al-anfal , Al-anbiya , Al-nur ,
luqman , fathir, fushilat, Al-hujarat , Al-hadid , Al-hasyr , Al-jumah , Al-
munafiqun , Al-taghabun, Al-thalaq, Al-jin, Al-mudatstsir, Al-qiyamah,
Al-tin . Ada yang berpendapat bahwa penutup pada surah-surah ini bisa
dimasukkan kedalam pertanyaan .

2. Penutup dengan anjuran ibadah dan tasbih (Al-ibadah wa Al-tasbih)


penutup ini terdapat pada 6 surah , yaitu surah Al-araf , Al-hijr, Al-thur,
Al-najm, Al-alaq .

3. Pentup dengan pujian (Al-tahmid) walaupun pujian ini tidak persis di


akhir surah , melainkan sebelumnya , tetapi tetap digolongkan sebagai
penutup . Penutup ini terdapat pada 11 surah , yaitu surah Al-isra , Al-
naml, yasin, Al-shaff, Al-shafat, Al-zumar, Al-jatsiyah , Al-rahman , Al-
waqiah, Al-haqqah, dan Al-nashr .

4. Penutup dengan doa , penutup ini terdapat pada surah Al-muminun dan
Al-baqarah .

5. Penutup dengan wasiat, penutup ini terdapat pada 7 surah , yaitu Al-
rum , Al-dukhan , Al-shaff, Al-ala, Al-fajr, Al-dhuha, Al-ashr.

6. Pentup dengan perintah dan masalah taqwa , penutup ini terdapat pada
surah Ali Imran, Al-nahl, dan Al-qamar.

7. Penutup dengan masalah kewarisan , penutup ini terdapat pada surah Al-
nisa.

8. Penutup dengan janji dan ancaman (Al-wad wa Alwaid) penutup ini


antara lain terdapat pada surah Al-muzammil, Al-humazah.

135
9. Penutup dengan hiburan bagi Nabi Saw , penutup ini antara lain terdapat
pada surah Al-kautsar , Al-kafirun.

10. Penutup dengan sifat-sifat Al-quran , penutup ini antara lain terdapat
surah yusuf , shad dan Al-qalam .

11. Penutup dengan bantahan (Al-jadl) penutup ini antara lain terdapat pada
surah Al-rad.

12. Penutup dengan ketauhidan , penutup ini antara lain terdapat pada surah
Al-taubah, Ibrahim, Al-kahfi, Al-qashash.

13. Penutup dengan kisah , penutup ini antara lain terdapat pada surah
Maryam , Al-tahrim , abasa , dan Al-fil .

14. Penutup dengan anjuran jihad, penutup ini antara lain terdapat pada
surah Al-hajj.

15. Penutup dengan perinician maksud penutup ini antara lain terdapat ,
penutup ini antara lain terdapat pada surah Al-fatihah , Al-syuara, dan
Al-takwir .

16. Penutup dengan pertanyaan , penutup ini antara lain terdapat pada surah
Al-mulk, Al-tin, dan Al-mursalat .

C . Aqsam (sumpah) dalam Al-quran .

Ibnu qayim secara khusus mengulas masalah aqsam ini dalam


kitabnya , yaitu Al-tubyan fi ulum Al-quran. Kedudukan aqsam
dalam Al-quran ada yang diawal surah dan ada pula selain di awal
surah .Dalam hal ini , aqsam hanya yang berkaitan dengan fawatih
Al-suwar .

1. Definisi Aqsam dan Unsur-unsurnya

136
Kata aqsam adalah bentuk jamak dari qasam, artinya half
dan yamin yang keduanya berarti sumpah . aqsam selanjutnya
didefinisikan sebagi pengikat jiwa(hati) melakukan atau tidak
melakukan sesuatu , dengan suatu makna yang dipandang besar dan
agung baik secara hakiki maupun secara Itiqadi ( keyakinan ) oleh
orang yang bersumpah itu . Aqsam Al-quran , yaitu sumpah-
sumpah yang disampaikan oleh Allah Swt untuk meyakinkan
kebenaran risalah yang dibawa oleh utusan-Nya Muhammad Saw .

Unsur-unsurnya yang membentuk qasam ada 3 , yaitu fil Al-


qasam , Al-muqasam bih, dan Al-muqsam alaih .

a) Fil Al-qasam

Unsur pembentuk (sighah) asli qasam adalah fiil atau kata


kerja Aqsam atau ahlafa yang ditransitifkan ( di-
mutaaddi-kan) dengan huruf ba untuk sampai kepada Al-
muqasam bih . Oleh karena qasam sering digunakan dalam
percakapan maka ia diringkas yaitu , fil Al-qasam
dihilangkan dan dicukupkan dengan huruf ba. Kemudian
huruf ba pun diganti dengan huruf wawu yang dikenal
dengan wawuqasam.

Dalam fawatih Al-suwar , fil Al-qasam dignkan dalam 2


surah saja , yaitu surah Al-balad dan surah Al-qiyamah .
Surah-surah yang diawali dengan sumpah semuanya surah
makiyyah.

b) Al-muqasam bih

Al-muqasam bih adalah sesuatu yang digunakan untu


bersumpah , atau alat untuk bersumpah . Allah bersumpah
dengan zat-Nya yang kudus dan mempunyai sifat-sifat
khusus atau dengan ayat-ayat-Nya yang mementapkan

137
eksitensi dan sifat-sifat-Nya . Sumpah-Nya dengan sebagian
makhluk menunjukkan bahwa makhluk itu termasuk salah
satu ayat-Nya yang besar , misal :

Demi matahari dan cahayanya dipagi hari . Dan bulan


apabila mengiringinya .Dan siang apabila
menampakkannya. Dan apabila menutupinya .Dan langit
serta pembinaanya . Dan bumi serta
penghamparannya .Dan jiwa serta penyempurnaanya.
(ciptaannya) (al-syams[91]:1-7).

Al-muqsam bih pada ayat tersebut adalah : matahar , bulan,


siang, malam, langit, bumi, dan jiwa.

c) Al-muqsam alaih

Al-muqasam alaih adalah sesuatu yang karenanya sumpah


diucapkan yang dinamakan dengan jawab qasam . Menurut
Ibnu Al-qyim ( Al-tibyan fi aqsam Al-quran , tt:3), hakikat
yang disumpah ada 5 hal , yaitu;

1) Pokok-pokok keimanan , seperti ada firman Allah:

138





Demi (rombongan) yang ber shaf-shaf dengan


sebenar-benarnya. Dan demi (rombongan) yang
melarang dengan sebenar-benarnya(dari
perbuatan-perbuatan maksiat).Dan demi
(rombongan)yang membacakan pelajaran
.Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa (Al-
shaffat[37]:1-4)

2) Kebenaran Al-quran , seperti pada firman


Allah :

139


Haa miim. Demi kitab (Al-quran) yang


menjelaskan. Sesungguhnya kami
menurunkannya pada suatu malam yang
diberkahi , dan sesungguhnya kami-lah yang
memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan
segala urusan yang penuh hikamah ( yaitu )
urusan yang besar dari sisi kami , sesungguhnya
kami adalah yang mengutus rasul-rasul(Al-
dukhan[44]:1-5)

3) Allah bersumpah bahwa Rasul itu benar , seperti


pada firman Allah :

Yaa siin . Demi Al-quran yang penuh hikmah .


Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-
rasul .(yang berada) Diatas jalan yang lurus .

140
(sebagai wahyu) Yang diturunkan oleh yang Maha
perkasa lagi Maha Penyayang (yasin[36]:1-5).

4) Allah bersumpah bahwa balasan , janji , dan


ancaman itu benar akan terjadi , seperti pada
firman Allah:

Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan


kuat . Dan awan yang mengandung hujan . Dan
kapal-kapal yang berlayar dengan mudah . Dan
(malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan.
Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu
pasti benar. Dan sesungguhnya (hari) pembalasan
pasti terjadi (Al-dzariyat[51]:1-6)

5) Keadaan manusia seperti pada firman Allah :

141







Demi malam apabila menutupi (cahaya siang) .


Dan siang apabila terang benderang . Dan
penciptaan laki-laki dan perempuan .
Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda
(Al-lail[92]:1-4).

2. Macam-macam dan Faedah Qasam

Qasam itu adakalanya zhahir (jelas/tegas) dan adakalanya


mudhmar (tersembunyi, tersirat).

a. Qasam zahir

Qasam zahir adalah sumpah yang didalamnya


disebutkan fil Al-qasam dan Al-muqsam bih . Di
antaranya ada yang dihilangkan fil Al-qasam-nya ,
sebagaimana pada umunya , karena dicukupkan dengan
huruf jar berupa huruf ba, wawu , ta.

b. Qasam mudhamar

Qasam mudhamar , yaitu yang di dalamnya tidak


dijelaskan fil Al-qasam dan tidak pula Al-muqasam
bih , tetapi ia ditunjukkan oleh lam taukid (lam

142
penguat) yang masuk kedalam jawab qasam seperti pada
firman Allah:

Kami sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu


dan dirimu , dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan
mendengar dari orang-orang yang diberi kitab
sebelum kamu dan dari oran-orang yang
mempersekutukan Allah , gangguan yang banyak
yang menyakitkan hati (Ali Imran [3]:186)

Al-quran diturunkan untuk seluruh manusia yang


berbeda-beda sikap terhadapnya . Di antaranya ada yang
meragukan , ada yang mengingkari da nada pula yang
amat yang memusuhi . Karena itulah dipakai qasam
dalam kamullah , guna menghilangkan keraguan ,

143
melenyapakan kesalah pahaman , menegaskan hujjah ,
menguatkan kabar dan menetapkan hokum dengan cara
paling sempurna .

Sebagaimana diterangkan diatas , bahwa pada


fawatih Al-suwar terdapat qasam karena yang dihadapi
adalah orang-orang arab jahiliyah yang notabene
meragukan keesaan Allah Swt dan kebenaran Nabi
Muhammad Saw. Gibb mengatakan : pada awal
Muhammad Saw mwenyiarkan agama , wejangan-
wejangan dikeluarkan dalam gaya orakel yang ngotot ,
bernbentuk kalimat pendek bersajak , kerap kali samar ,
dan kadang-kadang didahului oleh satu atau beberapa
sumpah menurut adat (lihat Islam dalam Lintasan
Sejarah oleh Sir Hamilton Alexander Rosskeen
Gibb,1983). Maka Allah Swt memakai sumpah-sumpah
dengan apa yang mereka kagumi.

D . Kaitan Fawatih Al-suwar, khawatim Al-


suwar, dan Aqsam dengan Pesan Surah

Al-quran memang benar-benar wahyu dari Allah Swt. Yang


mengandung kemukzizatan dalam berbagai segi , termasuk dalam
fawatih Al-suwar dan khawatimAl-suwar . Dalam hal ini para
ulama telah berupaya untuk menangkap pesan dibaliknya untuk
diaktualisasikan dalam kehidupan praktis .

Menurut balaghah , Fawatih Al-suwar merupakan husn Al-ibtida


(kebagusan permulaan). Kalimat permulaan adalah ungkapan yang
pertama kali dicerna oleh pembaca/pendengar yang akan memiliki
kesan dan pengaruh melekat pada jiwa pembaca/pendengar sebagai
kesan pertama . Pengaruh yang sama pun akan terjadi pada

144
khawatim Al-suwar , sebagai ungkapan terakhir . Secara
psikologis , penutup yang indah akan memberikan kesan yang
indah yang membuat si pendengar atau si pembaca penasaran ingin
mendengarkan ungkapan selanjutnya . Al-suyuthiy mengatakan
bahwa, dengan sampainya pada penutup surah , pembaca sangat
puas atas uraian yang telah dikemukakan oleh surah bersangkutan
sehingga tidak ada perasaan heran yang tersisa ( lihat Muhammad
bin alawy , zubdah Al-itqan fi ulum Al-quran , 1999:299).

Sebagaimana telah disebutkan bahwa diantara fawatih Al-suwar


ada huruf-huruf muqathaah (terpisah) yaitu huruf-huruf abjad yang
terletak pada permulaan sebagian dari surah-surah Al-quran ,
seperti alif-lam-mim,alif-lam-ra, alif-lam-mim-shad, dan
sebagainya . Didalam tafsir ibnu katsir disebutkan : Diantara Ahli-
ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah
karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyabihat , dan ada pula
yang menafsirkannya. Dibawah ini adalah beberapa pendapat
tentang fawatih Al-suwar (Al-ahruf Al-muqathaah):

Sebagian golongan memandangnya sebagai nama surah ,


sebagaimana pendapat Abdurrahman bin zaid bin Aslam (ibnu
katsir , tafsir Al-quran Al-Azhim 1/1991:61) . Ada pula yang
memandang bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik
perhatian para pendengar supaya memperhatikan Al-quran itu , dan
untuk mengisyaratkan bahwa Al-quran itu diturukan dari Allah
dalam bahasa arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad . Klau
mereka tidak percaya bahwa Al-quran diturunkan dari Allah dan
hanya buatan Muhammad Saw semata-mata , maka cobalah mereka
buat semacam Al-quran itu . Adapula yang memandang bahwa itu
adalah nama dari nama-nama Allah Swt . Pendapat ini
dikemukakan , misalnya , oleh salim bin Abdullah dan Al-sudi yang
bersumber dari ibnu abbas dengan menerangkan bahwa alif-lam-

145
mim masing-masing bermakna : alif adalah ana , lam dan Allah ,
dan mim adalah alamu (ibnu katsir, ibid.).

Al-Razi berpendapat bahwa huruf-huruf itu isyarat mengenai


masa keberadaan kaum yang diterangkan dalam surah tersebut .
Misalnya alif masa satu tahun , lam masa 30 tahun , dan mim masa
40 tahun (ibnu katsir, ibid.).

Menurut Al-hubbi , awal surah yang berupa huruf-huruf tepisah


merupakan bentuk peringatan kepada Nabi Saw . Dikatakan bahwa
Allah mengetahui bagian-bagian waktu Nabi sebagai seorang
menusia kadang sibuk . Maka dari itu jibril menyampaikan Firman
Allah seperti alf-lam-mim dengan suara jibril, supaya Nabi
menerima dan memperhatikannya (chirzin, op.cit.,1998:63)

Nashr Hamid menerangkan , apabila pendapat-pendapat


mengenai huruf-huruf muqathaah dikoleksi , akan dicapai 13
takwil . Masing-masing ulama tidak memaksakan pendapatnya
pada satu pendapat (Mafhum Al-Nash: Dirasah fi ulum Al-quran,
2000:194).

Dalam kitab Al-qawaid Al-hisan fi tafsir Al-quran (juz 1 ,


halaman 499, CD Al-maktabah Al-syamilah ) disebutkan bahwa
Allah Swt. Menutup ayat-ayat-Nya dengan Al-asma Al-husna
dengan tujuan menjelaskan bahwasannya hokum yang disebutkan
dalam surah tersebut berkaitan dengan nama-Nya . Selanjutnya
didalam kitab tersebut disebutkan kalau kita mencermati ayat-ayat
yang diakhiri dengan Al-asma Al-husna , kita akan mendapati
bahwasannya syariat , perintah untuk makhluk semuanya berasal
dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya .

Ada keserasian yang mendalam antara pembuka , ayat setelahnya


bahkan dengan penutup surah yang bersangkutan , sebagai contoh :

146

Tunjikilah kami jalan yang lurus (Al-fatihah[1]:6)

Ayat diatas mengandung permohonan untuk memperoleh hidayat


. Dalam surah Al-baqarah , Allah Swt mengabulkan permohonan
tersebut dengan membuka dengan tiga huruf yang terpotong-potong
disambung dengan ayat keduanya dengan menerangkan bahwa
petunjuk yang dipinta itu adalah Al-quran yang tidak diragukan lagi
. Selanjutnya diterangkan berbagai aturan yang harus dijalankan .
Selanjutnya Allah menuntun kita , manusia , sebagai makhluk
lemah dengan doa diakhiri surah Al-baqarah . Doa itu berupa
permohonan agar jangan diberi beban yang terlalu berat, agar
dikuatkan dalam melaksanakannya , dan agar diberi pertolongan
dalam mengemban tugas tersebut dari gangguan-ganguan 0rang-
orang yang tidak menyukai petunjuk Allah tegak dimuka bumi ini .

147
DI BUAT OLEH : PROBO HARTATO

NPM : 1502090168

PRODI : HUKUM EKONOMI SYARIAH

MATA KULIAH : ULUMUL QURAN

BAB 11

TAFSIR, TA`WIL, DAN TARJAMAH

A. Definisi Tafsir, Ta`Wil Dan Tarjamah

Secara etimologis kata Tafsir berasal dari kata Fassara yang


berarti menjelaskan, menyingkap, menampakkan, atau
menerangkan, makna yang abstrak. Kata Al-Fasr berarti
menyingkapkan sesuatu yang tertutup ( Al-Qaththan, Mabahits Fi
`Ulum Al-Quran, tt: 323).
Secara termilogis tafsir berarti ilmu untuk mengetahui kitab
allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan penjelasan
maknanya serta pengambilan hukum dan makna-maknanya ( Az-
Zarkasyi, I/1972:13). Definisi lain tentang tafsir ditemukan oleh Al-
Shabuniy ( 1985:66 ), bahwa tafsir adalah ilmu yang membahas
tentang Al-Quran dari segi pengertianya terhadap maksud allah
sesuai dengan kemampuan manusia.

148
Pengertian Ta`Wil, menurut berbagai ulama`, sama dengan
tafsir. Namun, ulama yang lain membedakanya bahwa ta`wil adalah
mengalihkan makna sebuah lafas ayat kemakna lain yang lebih
sesuai karena alasan yang dapat diterima oleh akal ( Al-Suyuthi,
I/1979:173 ). Sehubungan dengan itu, Al-Syathibhi [ t.t: 100 ]
mengharuskan adanya dua syariat untuk melakukan penta`wilan,
yaitu :
1). Makna yang dipilih dengan hakikat kebenaran yang diakui
oleh para ahli dalam bidangnya [ tidsak bertentangan
dengan syara`/akal sehat ].
2.). makna yang dipilih sudah dikenal dikalangan masyarakat
arab klasik pada saat turunnya Al-Quran.

Dari pengertian kedua istilah ini dapat disimpulkan bahwa, tafsir


adalah penjelasan terhadap makna lahiriyahdari ayat alquran yang
pengertianya secara tega menyatakan mksud yang dikehendaki oleh
allah. Sedangkan ta`wil adalah pengertian yang tersirat yang
diistambathkan dari ayat al-quran berdasarkan alasan-alasan
tertentu.
Sedangkan tarjamah, secara etarmologis berarti
memindahkan lafal dari suatu bahasa kebahasa lain. Dalam hal ini,
memindahkan lafal ayat-ayat Al-Quran yang berbahasa arab
kedalam bahasa indonesia. Dalam pelaksanaanya, tarjamah terbagi
kepada tiga bentuk :
1. Tarjamah Harfiyah/Lafzhiyah, yaitu memindahkan lafal dari
suatu bahasa kebahasa lain dengan cara
memindahbahasakan kata demi kata, serta tetap mengikuti
susunan (struktur) bahasa yang diterjemahkan.
2. Tarjamah Ma`Nawiyah/Tafsiriyah, sebagian ulama ada yang
membedakan antara tarjamah ma`nawiyah dengan
tarjamah tafsiriyah, sedangkan sebagian lainnya
menganggap keduanya adalah sama.

B. Macam-Macam Tafsir

149
1. Bedasarkan Sumbernya
Bedasarkan sumber penafsirannya, tafsir terbagi dalam dua
bagian :
a) Tafsir Bi Al-Ma`Tsur dan Tafsir Bi Al-Ra`Yi.
1) Tafsir Al-Quran Al-`Azhim, karangan Abu Al-Fida` Ismail Bin
Katsir.
2) Tafsir Jami` Al-Bayyan Fi Tafsir Alquran, karangna Abu Ja`Far
Muhammad Bin Jarir Al-Thabary, dikenal dengan sebutan Ibnu
Jarir Al-Thabary.
3) Tafsir ma`alim al-tanzil, dikenal dengan sebutan Al Tafsir Al-
Manqul, karangan husein bin Mas`Ud Bin Muhammad Bin Al-
Farra Al-Baghawy Al-Syafi`I, dikenal dengan sebutan Imam Al-
Baghawy.
4) Tafsir Tanwir Al-Miqyas Min Tafsir Ibn ~Abbas karangan Majd
Al-Din Abu Al-Tahir Muhammad Bin Ya`Qub Bin Muhammad
Bin Ibrahim Bin Umar Al-Syairazi Al-Fairuzabadi, dikenal
dengan sebutan Al-Fairuzabadi.
5) Tafsir Al-Bahr, karangan Al-`Allamah Abu Al-Layts Al-
Samarqandi.
b) Tafsir bi al-ra`yi adalah tafsir yang menggunakan rasio atau akal
sebagai sumber penafsirannya, contoh ;
1) Mafatih al-ghaib, karangan fakhr al-din al-razi.
2) Al-bakhr al-mukhith, karangan abu hayyan al-andalusi
al-gharnathi.
3) Al-kasysyaf `an haqa`in al-tanzil wa `uyun al-aqawil fi
wujuh al-ta`wil karangan al-zamakkhasyari.

2. Berdasarkan Corak Penafsirannya


Corak penafsiran yang dimaksud dalam hal ini adalah bidang
keilmuan yang mewarnai suatu kitab tafsir. Hal ini terjadi karena
mufasir memiliki latar belakang keilmuan yang berbeda-beda,
sehingga tafsir yang dihasilkanya pun memiliki corak sesuai dengan
disiplin ilmu yang dikuasainya. Diantarannya sebagai berikut :
a). Tafsir Shuhufi atau Isyari, corak penafsiran ilmu tashawwuf
yang dari segi sumbernya termasuk Tafsir Is`Yary. Nama-nama
kitab tafsir yang termasuk corak Shufi ini, antara lain :
1) Tafsir Al-Quran Al-Adzhim, karya Sahl Bin Abdullah Al-Tustari

150
2) Haqaiq Al-Tafsir, karya Abu Adirahman Al-Silmi, terkenal dengan
sebutan Tafsir Al-Silmi.
3) Al-Kasyf Wa Al-Bayan, karya Ahmad Bin Ibrahim Al-Naisabury,
terkenal dengan nama Tafsir Al-Naisabury.
4) Tafsir Ibnu Araby, karya Muhyidin Ibnu Araby, terkenal dengan
nama Tafsir Ibnu `Araby.
5) Ruh Al-Ma`Ani, karya Syuhabuddin Muhammad Al-Alusy, terkenal
dengan nama Tafsir Al-Alusiy (Al-Shabuniy, 1985: 2001).
b). Tafsir fiqhi, corak penafsiran yang lebih banyak menyoroti
masalah-masalah fiqih. Dari segi sumber penafsirannya, tafsir
bercorak fiqhi ini termasuk Tafsir Bi Al-Ma`Tsur. Kitab-kitab tafsir
yang termasuk corak ini antara lain :
1) Ahkam Al-Quran, karya Al-Jashshash, yaitu Abu Bakar Ahmad
Bin Ali Al-Razi, dikenal dengan nama Tafsir Al-Jashshash.
Tafsir ini merupakan tafsir yang penting dalam fiqih mazhab
hanafi.
2) Ahkam al-quran, karya Ibnu `Arabi, yaitu Abu Bakar
Muhammad Bin Abdullah Bin Ahmad Al-Mu`Arifi Al-Andalusi
Al-Isybili. Kitab kitab tafsir ini menjadi rujukan penting dalam
ilmu fiqih bagi pengikut mazhab maliki.
3) Al-jama` li ahkam al-quran, karya imam al-qurthubiy, yaitu
abu abdillah muhammad bin ahmad bin abu bakar bi farh al-
anshariy al-khazrazi al-andalusi. Kitab ini dikenal dengan
nama kitab tafsir al-qurthubiy, yang pendapat-pendapatnya
tentang fiqih cenderung pada pemikiran mazhab maliki.
4) Al-tafsirat al-ahmadiyah fi bayyan al-ayat al-syari`ah, karya
mula geon.
5) Tafsir ayat al-ahkam, karya muhammad al-sayis.
6) Tafsir ayat al-ahkam, karya manna` al-qaththan.
7) Tafsir adhwa` al-bayan, karya syeikh muhammad al-syinqiti
(al-qaththan, tt: 376-377).
c. yaitu tafsir yang dalam penjelasannya menggunakan
pendekatan filsafah, termasuk dalam hal ini adalah tafsir yang
bercorak kajian ilmu kalam. Dari segi sumber penafsirannya
tafsir bercorak falsafi ini termasuk tafsir bi Al-Ra`yi. Kitab-kitab
tafsir yang termasuk dalam kategori ini antara lain :
1) Tanzih Al-Quran `an al-matha `in, karya al-qadhi abdul
jabbar. Tafsir ini bercorak kalam aliran mu`tazilah. Dilkiohat

151
dari segi metode yang digunakannya, tafsir ini termasuk
tafsir Bi Al-Ra`yi.
2) Mir`at al-anwar wa misykat al-asrar, dikenal dengan tafsir al-
misykat, larya abdul lathif la-kazarani. Tafsir ini becorak
kalamaliran syi`ah.
3) Al-tibyan al-jami` li kuklli `ulum al-quran, karya Abu Ja`Far
Muhammad Bin Al-Hassan Bin `Ali Al-Thusi. Tafsir ini
bercoraqk kalam aliran Syi`Ah `Asyariyah.
d. tafsir `ilmi, yaitu tafsir yang lebih menekankan pembahasannya
dengan pendekatan ilmu-ilmu pengetahuan umum. Dari segi
sumber penafsirannya tafsir bercorak `Ilmiy ini juga termasuk
tafsir bi Al-Ra`yi. Salah satu contoh kitab tafsir yang bercorak
`ilmiy adalah kitab tafsir al-jawahir, karya thanthawi jauhari.
e. tafsir al-adab al-ijtima`i, yaitu tafsir yang menekankan
pembahasanya pada masalah-masalah sosial kemasyarakatan.
Dari segi sumber penafsirannya tafsir bercorak al-adab al-ijtima`i
ini termasuk tafsir bi Al-Ra`yi. Namun ada juga sebagian ulama
yang mengategorikannya sebagai tyafsir Bi Al-Izdiwaj (tafsir
campuran), karena presentase atsar dan akal sebagai sumber
penafsiran dilihatnya seimbang. Salah satu contoh tafsir yang
bercorak demikia ini adalah tafsir al-manar, buah pikiran syeikh
muhammad abduh yang dibukukan oleh muhammad rasyid
ridha.

152
3. Berdasarkana Metodenya

Para ulama al-quaran telah membuat klasifikasi tafsir berdasarkan metode


penafsirannyamenjadi empat macam, yaitu : (1) tahlili, (2) ijmali, (3) muqaram, dan (4)
maudhu`i. Keempat metode ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

A. Metode tahlili ( metode analisis )

Metode tahlili adalah metode penafsiran ayat-ayat al-quran secara analisis dengan
memaparkan segala aspek yang terkandung dalam ayat yang ditafsirkannya sesuia dengan
bidang keahlian mufasir tersebut. Urainnya antara lain menyangkut pengertian kosa kata
(makna mufradat), keserasian redaksi dan keindahan bahasanya (fashahah dan
balaghah), keterkaiatan makna ayat yang sedang ditafsirkan dengan ayat sebelum
maupun sesudahnya (munasabah al-ayat) dan sebab-sebabturunnya ayat (Asbah Al-
Nuzul). Demikian pula penafsiran denga metode ini melihat keterkaitan makna ayat yang
ditafsirkannya dengan penjelasan yang pernah diberikan oleh Nabi, para sahabat, Tabi`in
dan ulama-ulama sebelumnya yang telah lebih dahulu memberikan penafsiran terhadap
ayat-ayat tersebut. Oleh karena itu, kitab-kitab tafsir yang menggunakan metode ini pada
umunya memerlukan volume kitab yang sangat besar, berjilid-jilid sampai 30 jilid
banyaknya.

Penafsiran dengan metode ini dilakukan secara berurutan dan berkesinambungan


terhadap ayat demi ayat dan surah demi surah, sesuai dengan urutannya yang terdapat
dalam mushhaf `utsmani yang ada sekarang. Mulia dari awal surah al-fatihah sampai
dengan ahir surah An-nash.

B. Metode Ijmali (Metode Global)

Metode ijmali, yaitu penafsiran al-quran secara singkat dan global, tanpa uraian
panjang lebar, tetapi mencakup makna yang dikehendaki dalam ayat. Dalam hal ini
musafir hanay mejelaskan arti dan maksud ayat dengan uraian singkaat yang dapat
menjelaskan artinya sebatas maknayang terkait secara langsung, tanpa menyinggung hal-
hal tidak terkait secara langsung dengan ayat. Tafsir dengan metode ini sangat praktis
untuk mencari makna mufradat kalimat-kalimat yang gharib dalam al-quran. Diantara
kitab-kitab tafsir yang termasuk menggunakan metode ijmali ini antara lain :

1) Tafsir Al-Quran Al-Azhim, karya muhammd Farid Wajdi.

153
2) Al-Tafsir Al-Wasith, produk lembaga pengkajian univeritas al-azhar, kairo
3) Tafsir Al-Jalalail, karya jalaludin al-suyuthiy dan Jalaludin Al-Mahlli.
4) Shafwah Al-Bayan Li Ma`Ani Al-Quran, karya Syeikh Husanain Muhammad
Makhlut.
5) Tafsir Al-Quran, karya ibnu Abbas Yang dihimpun oleh fayruzabadi.
6) Al-Tafsir Al-Muyassar, karya syeikh Abdul Jalil Isa.
7) Taj Al-Tafsir, Karya Muhammad Utsman Al-Mirghani (al-`aridh, 1992:74;
baidan, 1998:12).

C. Metode Muqaram (Metode Komporasi/Perbandingan)

Tafsir dengan metode muqaram adalah menafsirkan al-quran dengan cara


mengambil sejumlah ayat al-quran, kemudian mengemukakan pendapat para ulama tafsir
dan membandingkan kecenderungan para ulama tersebut, kemudian mengambil
kesimpulan dari hasil perbandingannya (al-`aridh, 1992: 75), namun menurut baidan
(1998: 65), metode komparatif (muqaram) adalah sebagai berikut :

1) Membandingkan teks (nash) ayat-ayat al-quran yang memiliki persamaan atau


kemiripan redaksi dalam dua kasus atau lebih, dan atau memiliki redaksi yang
berbeda tentang satu kasus yang sama.
2) Membandingkan ayat al-quran dengan hadits, yang sepintas terlihat bertentangan.
3) Membandingkan pendapat berbagai ulama tafsir dalam menafsirkan suatu ayat.

D. Metode Maudhu`I (Metose Tematik)

Tafsir dengan metode maudhu`i adalah menjelaskan konsep al-quran tentang suatu
masalah/tema terentu dengan cara menghimpun seluruh ayat al-quran yang
membicarakan tema tersebut. Kemudian masing-masing ayat tersebut dikaji secara
komprehensif, mendalam, dan tuntasdari berbagai aspek kajiannya. Baik dari segi Asbab
Al-Nuzul-nya, munasabahnya, makna kosa katanya, pendapat para musafir tentang
makna masing-masing ayat secara parsial, serta aspek-aspek lainnya yang dipandang
penting. Ayat-ayat tersbut dipandang sebagai satu kesatauan yang integral membicarakan
suatu tema (maudhu`) tertentu didukung oleh berbagai fakta dan data, dikaji secara ilmiah
dan rasional.

Demikian luasnya sudut pandang yang digunakan dalam metode tafsir ini, maka
sebagian ulamamenyebutnya sebagai metode yang paling luas dan lengkap. Bahkan
ketiga metode yang disebutkan sebelumnya, semuanya diterapkan secara intensif dalam
metode ini.

154
Ciri utama metode ini adalah terfokusnya perhatian pada tema, baik tema yang ada
dalam al-quran itu sendiri, maupu tema-tema yang muncul ditengah-tengahkehidupan
masyarakat. Oleh sebab itu, metode ini dipandang sebagai metode yang paling tepat
untuk mengatasi berbagai masalah dalam kehidupan umat manusia oleh karena ia dapat
memberikan jawaban dengan konsep al-quran terhadap berbagai persoalan yang dihadapi
umat manusia.

Lebih dari itu, jawaban al-quran yang disajikan melalui metode tafsir maudhu`i ini
dapat memperkecil kontroversi pemahaman tentang sesuatu masalah. Ayat-ayat yang
ditafsirkannya dipahami secara integral, tidak parsial sehingga pemahamannya tidak
berkotak-kotak pada suatu ayat tertentudan pendapat mufasir tertentu pula.

Kitab-kitab tafsir yang disusun dengan menggunakan metode Maudhu`I, tidak


didapati dalam bentuk kitab-kitab tafsir dengan metode yang lain. Karena sifatnya
tematik, maka pemunculannya berupa buku-buku mengenai tema tertentu yang digali
dari al-quran. Contohnya sebagai berikut :

1) Al-Insan Fi Al-Quran, Dan Al-Mar`Ah Fi Al-Quran, karya Abbas Mahmud Al-


Aqqad.
2) Al-Riba Fi Al-Quran, karya Abu Al-A`La Al-Maududi.

Aplikasi metode maudhu`i bisa dilakukan denga langkah-langkah berikut ini.

1) Menetapkan masalah yang akan dibahas.


2) Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut.
3) Menyusun urutan kronologis turunnya ayat-ayat disertai pengetahuan tentang
sebab nuzulnya.
4) Memahami korelasi (munasabah) ayat-ayat tersebut dalam surahnya masing-
masing.
5) Menyusun outline (kerangka pembahasan yang sistematis).
6) Melengkapi pembahasan dengan hadits-hadis yang relevan dengan masalah yang
dikaji.

155
DI BUAT OLEH : PROBO HARTATO

NPM : 1502090168

PRODI : HUKUM EKONOMI SYARIAH

MATA KULIAH : ULUMUL QURAN

BAB 12

Munasabah Al-Quran

sejumlah pengamat barat memandang al-quran sebagai sama kitab yang


sulit dipahami dan diapresiasi bahasa, gaya dan aransemen kitab ini pada umunya
menimbulkan maslah khusus bagi mereka. Sekalipun bahasa arab yang digunakan
dapat dipahami, terdapat bagian-bagian didalamnya yang sulit dipahami , saudi al-
quran, terjemah taufiq, adnan amali, 1995. Katam muslim sendiri, membutuhkan
banyak kitab tafsir dan ilmu-ilmu yang berkaitan al-quran untuk memahaminya.
Sekalipun demikian masih diakui bahwa berbagai kitab itu masih menyisakan
persoalan terkait dengan belum secepatnya mampu mengungkap rahasia al-quran
dengan sempurna.

Lahirnya pengetahuan tentang teori munasabah (korelasi) ini tampaknya


berawal dari kenyataan bahasa sistematika al-quran sebagaimana terdapat kalam
mushaf utsmani sekarang tidak berdasarkan atas fakta kronologis hurufnya.
Sehubungan dengan ini, ulama salaf berbeda pendapat tentang urutan surah
diadalam al-quran, segolongan dari mereka berpendapat bahwa hal itu didasarkan
pada muaqifiy dari Nabi Saw. Golongan lain berpendapat bahwa hal itu
didasarkan atas ijhali para sahabat setelah bersepakat dan memastikan bahwa
susunan ayat-ayat adalah muaqifiy golongan ketiga berpendapat serupa.

156
pendapat pertama didukung antara lain oleh al-qadhi abu bakr dalam satu
pendapatnya, abu bakr ibn al-anbari, al-kirmani dan ibn al-hisar. Pendapat kedua
didukung oleh malik, al-qadhi abu bakar dalam pendapatnya yang lain, dan ibn al-faris,
sedangkan pendapat yang ketigadianut oleh al-baihaqiy, slah satu perbedaan pendapat ini
adalah adanya mushaf-mushaf ulama salaf yang bervariasi dalam urutan surahnya. Ada
yang menyusunnya berdasarkan kronologis turunnya, seperti mushaf `ali yang dimulai
dengan ayat iqra`, kemudian sisanya disusun berdasarkan tempat turunnya (makki
kemudian madani). Adapun mushaf ibn mas`ud dimulai dengan surah al-baqarah,
kemudian al-nisa`, kemudian ali-`imran (lihat al-suyuthiy, asnar tartib al-quran, tt: 68-69).

Ilmu munasabah merupakan bagian dari ilmu-ilmu al-quran yang posisinya


sangat penting dalam rangka menjadikan keseluruhan ayat al-quran sebagai satu kesatuan
yang utuh (holistik). Hal ini karena suatu ayat dengan yang lain memiliki keterkaitan,
sehingga bisa saling menafsirkan. Dengan demikian al-quran adalah kesatuan yang utuh
yang jika dipahami sepotong-potong akan terjadi model penafsiran atomistik.

A. Definisi Munasabah

Kata munasabah secara etimologis berarati musyakalah (keserupaan)


dan muqarabah (kedekatan). Adapun menurut pengertian terminologis,
beberapa ulama mendefinisikannya sebagai berikut.

Menurut al-zarkasyi, munasabah adalah mengaitkan bagian-bagian


permulaan ayat dan ahirnya, mengautkan lafaz umum dan lafaz khusus, atau
hubngan antara ayat yang terkait dengan sebab akibat, `illat dan ma`lul, kemiripan
ayat, pertentangan (ta`arudh) dan sebagainya. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa
kegunaan ilmu ini adalah menjadikan bagian-bagian kalam saling berkait
sehingga penyusunannya menjadi seperti bangunan yang kokoh yang bagian-
bagiannya tersusun harmonis (lihat al-zarkasyi, al-burhan fi `ulum al-quran,
1972, h. 35-36).

Dengan redaksi yang agak berbeda, al-qaththan berkata, munasabah adalah


menghubngkan antara jumlah dengan jumlah dalam suatu ayat, atau abtara ayat

157
dengan ayat pada sekumpulan ayat, atau antara surah dengan surah ( lihat al-
qaththan, mabahits fi `ulum, tt: 97).

Menurut ibnu al- `arabi, munasabah adalah keterikatan ayat-ayat al-quran


sehingga seolah-olah merupakan satu ungkapan yang mempunyai satu kesatuan
makna dan keteraturan redaksi (lihat ashim w. Al-hafiz, kamus ilmu al-quran,
2005: 197).

Sebagai kesimpulannya munasabah adalah pegetahuan tentang berbagai


hubungan unsur-unsur dalam al-quran, seperti hubungan antara jumlah dengan
jumlah pada suatu ayat, ayat dengan ayat pada suatu surah, surah dengan surah
pada sekumpulan surah, surah dengan surah, termasuk hubungan antara nama
surah dengan isi atau tujuan surah, antara fawatih al-suwar dengan isi surah,
fashilah (pemisah) dengan isi ayat, dan fawatih al-suwar dengan khawatim al-
suwar.

B. Urgensi Munasabah

jika ilmu tentang asbab al-nuzul mengaitkan satu ayat atau sejumlah ayat
dengan konteks historisnya, maka illmu munasabah melampaui kronologi histori
dalam bagian-bagian teks untuk mencari sisi kaitan antar ayat dan surah menurut
urutan teks, yaitu yang disebut dengan urutan pembacaan sebagai lawan dari
urutan turunnya ayat (nasr hamid abu zaid, tekstualitas al-quran: kritik terhadap
ulumul quran, 2011: 213).

Jumhur ulama telah sepakat bahwa urutan ayat dalam satu surah
merupakan urutan-urutan tauqifiy, yaitu urutan yang sudah ditentukan oleh
Rasulullah sebagai penerima wahtu. Akan tetapi, mereka berselisih pendapat
tentang urutan-urutan surah dalam mushaf, apakah itu taufiqiy atau ijtihadi
(pengurutannya berdasarkan ijtihad penyusun mushaf).

Abu zaid, wakil dari ulama kontemporer, berpendapat bahwa urutan-


urutan surah dalam mushaf sebagai taufiqiy, karena menurutnya, pemahaman

158
sperti itu sesuai dengan konteks wujud teks imanen yang sudah ada di lauh
mahfudz. Perbedaan antara urutan turun dan urutan pembacaan merupakan
perbedaan yang terjadi dalam susuan dan penyusunan yang pada gilirannya dapat
mengungkapkan persesuian antara ayat dalam satu surah, dan antara surah yang
berbeda, sebagai usaha menyingkap sisi lain dari i`jaz (kemukjizatan) (abu zaid,
ibid., 2011: 214-215).

Secara sepintas jika diamati urutan teks dalam al-quran, terdapat kesan
bahwa al-quran memberikan informasi yang tidak sitematis dan melompat-
lompat. Satu sisi realitas teks ini menyulitkan pembacaan secara utuh dan
memuaskan, tetapi sebagaimana telah disinggung oleh abu zaid, realitas teks itu
menunjukkan stilistika (retorika bahasa) yang merupakan bagian dari
kemukjizatan al-quran pada aspek kesustraan dan gaya bahasa, maka dalam
konteks pembacaan secara holistik pesan spiritual al-quran, salah stu instrumen
teoritiknya adlah dengan `ibn munasabah.

Keseluruhan dalam teks alquran, sebagaimana juga telah disinggung


dimuka, merupakan kesatuan struktural yang bagian-bagiannya saling terkait.
Keseluruhan teks al-quran menghasillkan welthanschauung (pandangan dunia)
yang pasti. Dari sinilah umat islam dapar memfungsikan al-quran sebagai kitab
petunjuk (hudaan) yang betul-betul mencerahkan (enlighten) dan mencerdaskan
(educate). Akan tetapi, fazlur rahman mensinyalir adanya kesalahan umum
dikalangan umat islam dalam memahami pokok-pokok keterpaduan al-quran, dan
kesalahan ini terus dipelihara sehingga dalam praktiknya, umat islam dengan
kokohnya berpegang pada ayat-ayat secara terpisah-pisah. Fazlur rahman
mencatat, akiba pendekatan atomostik ini adalah sering kali uma islam terjebak
dalam pada penetapan hukum yang diambil atau didasrkan dari ayat-ayat yang
tidak dimaksudkan sebagai hukum (lihat fazlur rahman, islam dan modernitas:
tentang transformasi intelektual, trjemah ahsin mohammad, 1995: 2-3).

Sepertinya fazlur rahman dipengaruhi oleh al-syatubi (w.1388), seorang


yuris maliki yang terkenal, dalam bukunya al-muwafiqat, tentang betapa

159
mendesak dan logisnya keharusan memahami al-quran sebagai suatu ajaran ynag
padu dan kohesif (syafi`i ma`arif dalam kata pengantar fazlur rahman, ibid, 1995:
vi). Dari sudut pandang ini, yang bernilai mutlak dalam al-quran adalah prinsip-
prinsip umumnya (al-ushul al-kulliyah) bukan bagian-bagiannya secara ad hoc.
Bagian-bagian ad hoc al-quran adalah respon spontanitasnya atas realitas historis
yang tidak bisa langsung diambil sebagai problem solving atas masalah-masalah
kekinian. Namun, bagian-bagian itu harus direkonstruksi kembali dengan
mempertautkan antara satu dengan yang lain, lalu diambil ide pokok syar`inya
(hikmah at-tasyari`) sebagai pedoman normatif (idea moral), kemudian di
kontekstualisasikan unutk menjawab problem-problem kekinian.

Tentu untuk melakukan pembacaan holistik terhadap al-quran tersebut


membutuhkan metodologi dan pendekatan yang memadai. Metodologi dan
pendekatan yang telah dipakai oleh para musafir klasik menyisakan masalah
penafsiran, yaitu belum bisa menyuguhkan pemahaman utuhkomprehensif, dan
holistik. Ibn munasabah sebenarnya memberi langkah strategis untuk melakukan
pembacaan dengan cara baru (al-qira`ah al-muasyirah) asalkan metode yang
digunakan untuk melakukan perajutan antar surah dan antar ayat adalah tepat.
Untuk itu perlu dipikirkan penggunaan metode dan pendekatan hermeneutika dan
antropologi filogis dalam ibn munasabah.

Maha suci allah, yang telah memperjalankan hamba_Nya


pada suatu malam dari masjid haram ke masjid aqsha yang
telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan
kepadanaya sebagai dari tanda-tanda (kebesaran) kami.
Sesungguhnya dia adalah maha mendengar lagi maha
mengetahui (al-isra` [17]: 1)

160
C. Macam-macam munasabah

Dalam pembagin munasabah ini, para ulama juga berbeda pendapat


mengenai pengelompokkan munassabah dan jumlahnya, hal ini dipengaruhi
bagaimana seorang ulama tersebut memandang suatu ayat, dari berbeda. Menurut
chaerudin A. Chalik (`ulum al-quran, 2007: 110) munasabah dapat dilihat dari sua
segi, yaitu sifat dan materinya.

1. Sifat

Dilihat dari segi sifatnya, terbagi menjadi dua, yaitu :


1. Zhahir Al-Irtibath, yaitu persesuaian atau kaitan yang tampak jelas, karena
kaitan kalimat yang satu dengan yang lain erat sekali sehingga yang satu
tidak bisa menjadi kalimat yang sempurna bila dipisahkan dengan kalimat
lainnya, seolah-olah ayat tersebut merupakan satu kesatuan yang sama.
misalnya, dapat kita cermati ayat 1 dan 2 surah al-isra:




Maha suci allah, yang telah memperjalankan hamba_Nya


pada suatu malam dari masjid haram ke masjid aqsha yang
telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan
kepadanaya sebagai dari tanda-tanda (kebesaran) kami.
Sesungguhnya dia adalah maha mendengar lagi maha
mengetahui (al-isra` [17]: 1)

161



Dan kami berikan kepada musa kitab (taurat) dan kami
jadikan kitab
Munasabah taurat
antar itu ayat
kedua petunjuk
tersbutbagi banijelas,
tampak israilyaitu
(dengan
bahwa kedua nabi
firman) : janganlah kamu mengambil penolong selain aku (al-
(muhammad Saw dan musa A.s.) diangkat oleh Allah SWT sebagai nabi dan rasul,
isra`[17]: 2)
dan keduanya di-isra` kan. Nabi Muhammad dari masjid haram ke masjid aqsa,
sedangkan nabi musa dari mesir, ketika ia keluar dari negeri tersebut dalam
keadaan ketakutan menuju madyan.
2. Khafiy al-iribath, yaitu persesuaian atau kaitan yang sama
antara ayat yang satu dengan ayat lain sehingga tidak
tampak adanya hubungan antara keduanya bahkan seolah-
olah masing-maing ayat/surah itu berdiri sendiri-sendiri, baik
karena ayat yang satu itu di athafkan kepada yang lain,
maupun karena yang satu bertentangan dengan yang lain.
Misalnya dapat kita lihat surah al-baqqarah ayat 189 dan
190 :











162
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit, katakanlah:
bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi
ibadah) haji, dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari
belakangnya, akan tetapi kabajikan itu adalah kebajikan orang-orang
yang bertaqwa. Dan masuklah kerumah-rumah itu dari pintu-pintunya,
dan bertaqwalah kepada allah agar kamu beruntung. (al-baqarah[2]:
189).

dan perangilah dijalan Allah orang-orang yang memerangi


kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui
batas (al-baqarah[2]: 190).

munasabah antara kedua ayat tersebut adalah ketika


waktu haji umat islam dilarang perang, tetapi jika umat islam
diserang lebih dulu, maka serangan musuh itu harus di balas,
walaupun pada musim haji.

2. Materi

Munasbah dari segi materinya, terbagi menjadi dua, yaitu


munasabah antar ayat dan munasabah antar surah.

a). Munasabah Antar Ayat

munasabah antar ayat, yaitu munasabah antar ayat yang


satu dengan ayat yang lain, berbentuk persambungan-
persambungan ayat, meliputi, pertama di athafka-kannya ayat
yang satu pada ayat yang lain, kedua tidak di-athaf-kannya,

163
ketiga digabungkannya dua hal yang sama, keempat
dikumpulkannya dua hal yang kontradiksi, kelima dipindakanya
satu pembicaraan ke pembicaraan yang lain. Munasabah antar
ayat dapat dilihat, mislanya antar ayat 2 dan 3 surah al-
baqarah :




Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi
mereka yang bertaqwa. (al-baqarah [12]: 2).

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan


shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan
kepada mereka.
(al-baqarah [12]: 3).

Munasabah antar kedua ayat tersebut adalah ayat pertama


menjelaskan peranan al-quran dan hakikatnya bagi orang
bertaqwa, sedangkan ayat kedua menjelaskan karakteristik dari
orang-orang bertaqwa.

Munasabah antar ayat mencakup beberapa bentuk, yaitu

1. Munasabah antara nama surah dan tujuan turunnya

164
Setiap surah tema pembicaraan yang menonjol, dan itu tercermin
pada namanya masing-masing, seperti surah Al-Baqarah (2), dan
Surah Yusuf (18), surah An-Naml (27), dan surah Al-Jinn (72).
Seperti dapat dilihat pada firman allah berikut :
dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya:
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi
betina." mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan Kami
buah ejekan?", Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah
agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil ". (al-
baqarah [1]: 67).

mereka menjawab: " mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami,


agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina Apakah itu." Musa
menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu
adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan
antara itu; Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu".
(al-baqarah [2]: 68).

mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia


menerangkan kepada Kami apa warnanya". Musa menjawab:
"Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina
yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang
yang memandangnya.".(al-baqarah [2]: 69).

mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia


menerangkan kepada Kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena
Sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi Kami dan Sesungguhnya Kami
insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)." (al-
baqarah [2]: 70).

Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu


adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah
dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada
belangnya." mereka berkata: "Sekarang barulah kamu menerangkan
hakikat sapi betina yang sebenarnya". kemudian mereka
menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah
itu. (al-baqarah [2]: 71)

165
Cerita yang ada pada ayat tersebut adalah tentang lembu
betina (Al-Baqarah) yang selanjutnya dijadikan nama surah,
yaitu al-baqarah (surat kedua dalam Al-Quran). Cerita
tersebut mengandung inti pembicaraan tentang kekuasaan
Allah yang membangkitkan orang mati. Dengan perkataan
lain, tujuan surah ini berkaitan dengan kekuasaan tuhan dan
keimanan pada hari kemudian, sedangkan slah satu bukti
keimanan orang-orang dalam surah itu harus ditujukkan
dengan sikap taat melaksanakan perintah Allah dengan ikhlas
melalui Rasul-Nya, yaitu Musa a.s., antara lain dengan
penyembelihan sapi.

2. Munasabah antar bagian surah


Munasabah anatar bagian surah (ayat atau beberapa ayat)
sering berbentuk korelasi Al-tadhadadh (perlawanan) seperti
terlihat pada firman Allah berikut ini :











Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: kemudian
Dia bersemayam di atas arsy, Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam
bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan

166
apa yang naik kepada-Nya. dan Dia bersama kamu di mama saja kamu
berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (al-hadid [57]: 4)

3. Munasabah Antar Ayat Yang Letaknya Berdampingan


Munasabah antar ayat yang letaknya berdampingan
sering terlihat dengan jelas, tetapi sering pula tidak jelas.
Munasabah antar ayat yang tafsir (penjelasan), i`tiradh
(bantahan), dan tasyidid (penegasan). Munasabah antar ayat
yang menggunakan pola ta`kid, yaitu apabila salah satu ayat
atau bagian ayat yang terletak di sampingnya. Mislanya pada
firman Allah :



dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang.
(Al-Fatihah [1]: 1)

segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. (Al-Fatihah [1]: 2)

ungkapan rabb al`amin pada ayat kedua memperkuat kata Al-


rahman dan Al-rahim pada ayat pertama.

Munasabah antar ayat menggunaka pola tafsir apabila


makna satu ayat atau bagian ayat tertentu ditafsirkan oleh ayat
atau bagian ayat disampingnya. Mislanya pada firman Allah :

167


Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka
yang bertaqwa. (al-baqarah [2]: 2).

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan


shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan
kepada mereka.

dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah
diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan
sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat (al-
baqarah[2]: 4)

168
dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha suci
Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang
mereka sukai (Yaitu anak-anak laki-laki).(al-nahl [16]: 57).

kata subhanahu pada ayat diatas merupakan bentuk i`tidhadh dari dua ayat yang
mengantarkannya. Kata itu merupakan bantahan bagi kaum orang-orang kafir
yang menetapkan anakperempuan bagi Allah.

4. Munasabah antara suatu kelompok ayat dengan kelompok ayat disampingnya


Dalam surah al-baqarah ayat 1 sampai ayat 20 misalnya, Allah memulai
penjelasannya entang kebenaran dan fungsi Al-Quran bagi orang-orang
bertaqwa. Dalam kelompok ayat berikutnya dibicarakan tentang tiga
kelompok manusia dan sifat mereka yang berbeda-beda yaitu, mukmin, kafir
dan munafik.

5. Munasabah antara washilah (pemisah) dari isi ayat


Munasabah ini mengandung tujuan tertentu. Diantaranya memantapkan
makna yang terkandung dalam ayat.

6. Munasabah antaa awal dengan ahir sunah yang sama


Munasabah ini arti bahwa awal suatu surah menjelaskan pikiran tertentu lalu
pikiran ini dikuatkan kembali di ahir surah ini. Mislanya, terdapat pada surat
al-hasyr munasabah ini terletak dari sisi kesamaan kondisi, yaitu segala yang
ada baik dilangit maupun dibumi menyucikan Allah sang pencipta keduanya.




telah bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan bumi; dan
Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (al-hasyr [59]: 1}

169







.

Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk


Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di
langit dan bumi. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (al-
hasyr [59]: 24}

B. Munasabah antar surah


munasabah antar surah tidak lepas dari pandangan holistik al-quran yang
menyatakan al-quran sebagai satu kesatuan yang bagian-bagian strukturnya
terkait secara integral. Pembahasan tentang munasabah antar sunah dimulai
denagn memposisikan surah al-fatihah sebagai tanm alkitab (induk al-quran),
sehingga penempatan surah tersebut sebagai surah pembuka adalah sesuai dengan
posisinya yang merangkum keseluruhan isi al-quran. Penerapan munasabah antar
surah bagi surah al-fatihah dengan surah sesudahnya atau bahkan keseluruhan
surat dalam al-quran menjadi kajian paling awal dalam pembahasan tentang
masalah ini.
Surah al-fatihah menjadi umum al-kitab, seba didalamya terkandung
masalah tauhid, peringatan dan hukum-hukum, yang dari masalah pokok itu
berkembanglah sistem ajaran islam yang sempurna melalui penjelasan ayat-ayat
dalam surah-surah setelah surah al-fatihah. Ayat 1-3 surah al-fatihah mengandung
isi tentang tauhud, pujian hanya untuk Allah karena Dia-lah penguasa alam
semesta dan hari ahir, yang penjelasan perincinya dapat dijumpai secara tersebar
diberbagai surah al-quran. Salah satunya adalah surah al-ikhlas yang konon

170
dikatakan sepadan dengan sepertiga al-quran. Ayat 5 surah al-fatihah mendapatkan
penjelasan lebi terperinci tentang apa itu jalan yang lurus dipermulaan surah al-
baqarah. Atas dasar itu dapat disimpulkan bahwa teks dalam surah al-fatihah dan
teks dalam surah al-baqarah berkesesuaian (munasabah).
Contoh lain dari munasabah antar surah adalah tampak dari munasabah
antar surah al-baqarah dengan surah ali-imran. Keduanya menggambarkan
hubungan antara dalil dengan keragu-raguan akan dalil. Maksudnya, surah al-
baqarah merupakan surah yang mengajukan dalil mengenai hukum, karena surah
ini memuat kaidah-kaidah agam. Sementara surah ali-imran sebagai jawaban atas
keragu-raguan para musuh islam.
lantas bagaimana hubungan antara surah ali imran
dengan surah sesudahnya ? pertanyaan itu dapat dijawab
dengan menampilkan fakta bahwa setelah keragu-raguan
dijawab oleh surah ali `imran, maka surah berikutnya (An-Nisa`)
banyak memuat hukum-hukum yang ini diperluas
pembahasannya dalam surah al-maidah yang memuat hukum-
hukum yang mengatur hubungan perdagangan dan ekonomi. Jika
legislasi, baik dalam hubungan sosial ataupun ekonomi, hanya
merupakan instrumen bagi tercapainya tujuan dan sasaran lain,
yaitu perlindungan terhadap keamanan masyarakat, maka tujuan
dan sasaran tersebut terkandung dalam surah Al-A`Raf.

DI BUAT OLEH : PUTRI PINTO DENAI

NPM : 1502090169

PRODI : HUKUM EKONOMI SYARIAH

MATA KULIAH : ULUMUL QURAN

BAB 13

171
QIRAAT

Qiraat merupakan salah satu cabang ilmu-ilmu Al-Quran,


tetapi tidak banyak orang yang tertarik kepadanya, kecuali
orang-orang tertentu saja, biasanya kalangan akademik. Banyak
faktor yang menyebabkan hal itu, di antaranya adalah ilmu ini
tidak berhubungan langsung dengan kehidupan dan muamalah
manusia sehari-hari; tidak seperti ilmu fiqih , hadis dan tafsir
misalnya, yang dapat dikatakan berhubungan langsung dengan
kehidupan manusia. Hal ini karena ilmu qiraat tidak mempelajari
masalah-masalah yang berkaitan secara langsung dengan halal
atau haram atau hukum-hukum tertentu dalam kehidupan
manusia.

Selain itu, ilmu ini juga cukup rumit untuk dipelajari karena
banyak hal yang harus dikuasai, antara lain penguasaan bahasa
arab secara mendalam, penguasaan ilmu ini sangat berjasa
dalam menggali, menjaga, dan mengajarkan berbagai cara
membaca Al-Quran yang benar sesuai dengan yang telah
diajarkan Rasulullah Saw.

Para ahli Qiraat telah mencurahkan segala kemampuannya


demi mengembangkan ilmu ini. Ketelitian dan kehati-hatian
mereka telah menjadikan Al-Quran terjaga dari adanya
kemungkinan penyelewengan dan masuknya unsur-unsur asing
yang dapat merusak kemurnian Al-Quran.

Qiraat secara etimologi berarti bacaan, sedangkan secara


terminologi umumnya berarti sesuatu mazhab yang dianut oleh
seorang imam qurra (ahli bacaan Al-Quran) yang berbeda
dengan yang lainnya dalam pengucapan, dan metode, dan

172
riwayatnya. Walaupun merupakan sisi bacaan Al-Quran, qiraat
berimplikasi pada makna dan penafsiran yang harus
dipertanggung jawabkan. Itulah sebabnya, banyak terjadi
perbedaan di antara imam qurra.

A. Sikap para Ulama terhadap Qiraat

Pada dasawarsa pertama Abad IV Hijriah, seorang ulama dari


Bagdad pernah dikecam. Menurut tuduhan yang dijatuhkan
kepada ulama itu, ia telah mengakibatkan kerancuan
pemahaman orang banyak terhadap pengertian tujuh kata
yang dengannya Al-Quran diturunkan.

Abu Bakar Ahmad, alias Ibnu Mujahid, demikian nama ulama


yang dituduh itu sesungguhnya tidak sengaja melahirkan
sesuatu yang baru dan telah menyebabkan ia dituduh
menyesatkan banyak orang. Padahal apa yang ia lakukan waktu
itu hanyalah mengoleksi qiraat-qiraat para imam qiraat
terkemuka. Akan tetapi, agaknya ulam-ulama yang menuduhnya
sesat, misalnya Abu Al-Abbas bin Amar, tidak mau tau apa
sesungguhnya yang telah dibuat Abu Bakar. Abu Al-Abbas secara
pedas mengecap Abu Bakar sebagai Si Pembuat Tujuh. Si
Pembuat Tujuh ini telah berbuat sesuatu yang tak layak baginya.
Ia telah mengaburkan persoalan dengan meresahkan orang-
orang yang berpandangan picik bahwa qiraat ini (tujuh huruf)
yang disebut didalam Al-Hadis, kecam Abu Al-Abbas bin Amar
(dilihat Dr. Shubhiy Shalih dalam Mabahits FiUlum Al-Quran, hlm.
248).

Serangan pedas Abu Al-Abbas bin Amar yang di awal abad V


hijriah tersohor sebagai Imam Muqri ini gara-gara Ibnu Mujahid

173
tertarik membukukan Qiraat (bacaan Al-Quran) tujuh tokoh
madinah,Mekah,Irak, dan Syam yang ia kagumi, tetapi karena
qiraat itu belum memasyarakat, maka banyak orang mengira
bahwa tujuh huruf yang dimaksud Rasulullah Saw. Di dalam hadis
riwayat Umar bin Al-Khaththab dan Ubai bin Kaab. Tak aneh bila
Abu Al-Abbas mengecam Ibnu Mujahid dengan begitu pedasnya.

Istilah qiraat sabah pada zaman Abu Al-Abbas memang


belum populer, tetapi tidak berarti tidak ada. Qiraat ini
sesungguhnya sudah akrab di dunia akademis sejak Abad II
Hijriah. Yang membuat tidak atau belum memasyarakatnya
qiraat itu karena kecenderungan ulama-ulama saat itu hanya
mengambil sekaligus memasyarakatkan satu jenis qiraat saja.
Sementara qiraat-qiraat lainnya jika tidak dianggap tidak benar,
maka ditinggalkan dan tidak ditoleh. Apa yang dilakukan Ibnu
Mujahid adalah terobosan baru di dunia qiraat. Seperti sering
terjadi, terobosan-terobosan baru memang kerap kali mendapat
tantangan. Ibnu Mujahid-lah orang yang pertama kali
menginventarisasi tujuh bacaan tokoh-tokoh yang mempunyai
sanad bersambung langsung kepada Sahabat Rasulullah Saw.
yang terkemuka. Mereka yaitu :

1. Abdullah bin Katsir Al-Dariy dari mekah (Wafat 120 H). Al-
Dariy termasuk generasi Tabiin. Qiraat yang ia riwayatkan
diperolehnya dari Abdullah bin Zubair dan lain-lain. Sahabat
Rasulullah Saw. yang sempat ditemui Al-Dariy di antaranya
Anas bin Malik, Abu Ayyub Al-Anshariy, Abdullah bin Abbas,
dan Abu Hurairah.
2. Nafibin Abd Al-Rahman bin Abu Naim, dari madinah (Wafat
169 H). Tokoh ini belajar qiraat kepada 70 orang Tabiin. Dan
para tabiin yang menjadi gurunya itu belajar kepada Ubai bin
Kaab, Abdullah bin Abbas, dan Abu Hurairah.

174
3. Abdullah Al-Yahshibiy, yang terkenal dengan sebutan Abu
Amir Al-Dimasyqiy dari Syam, (Wafat 118). Beliau mengambil
qiraat dari Al-Mughirah bin Abi Syaibah Al-Mahzumiy, dari
Utsman bin Affan. Tokoh Tabiin ini sempat berjumpa dengan
sahabat Rasulullah Numan bin Basyir dan Wailah bin Al-
Asyqo. Sebagian riwayat mengatakan bahwa Abdullah Al-
Yahshibiy sempat berjumpa dengan Utsman bin Affan
langsung.
4. Abu Amar dan Yakub. Kedua tokoh ini berasal dari Bashrah,
Irak. Nama lengkap Abu Amar adalah Zabban bin AlAla bin
Ammar, (Wafat 154). Ia meriwayatkan qiraat dari Mujahid bin
Jabr, Said bin Jubair yang mengambil qiraat dari Abdullah bin
Abbas dan Ubai bin Kaab, sedangkan Yakub bernama
lengkap Ibnu Ishak Al-Hadhramiy, (Wafat 205 H). Yakub
belajar qiraat pada Salam bin Sulaiman Al-Thawil yang
mengambil qiraat dari Ashim dan Abu Amar.
5. Hamzah dan Ashim. Nama lengkap Hamzah adalah Ibnu
Habib Al-Zayyat, (Wafat tahun 188 H). Hamzah belajar qiraat
pada Sulaiman bin Mahram Al-Amasy, dari yahya bin
Watstsab, dari Zar bin Hubaisy, dari Utsman bin Affan, Ali bin
Abi Thalib dan Ibnu Masud. Adapun nama lengkap Ashim
adalah Ibnu Abi Al-Najud Al-Asadiy, (wafat 127 H) ia belajar
qiraat pada Zar bin Hubaisy, dari Abdullah bin Masud.

Ketika Ibnu Mujahid menghimpun qiraat-qiraat mereka, ia


meniadakan nama Yakub yang berasal dari Bashrah untuk
kemudian posisinya digantikan dengan Al-Kasai (Wafat 182 H).
Penggeseran ini memberi kesan seolah-olah Ibnu Mujahid
menganggap cukup qari Bashrah diwakili oleh Abu Amr.
Sementara itu, Ibnu Mujahid menetapkan tiga nama untuk Kufah.
Mereka adalah Hamzah, Ashim, dan Al-Kasai.

175
Bila hanya tujuh tokoh diatas yang diturunkan Ibnu Mujahid,
maka tidaklah berarti hanya ulama-ulama itu yang menguasai
qiraat. Masih ada tokoh-tokoh lain yang sebetulnya menguasai
qiraat. Misalnya Khalaf bin Hisyam dan Yasid bin Qaga. Ketujuh
tokoh ini dipilih Ibnu Mujahid dengan pertimbangan merekalah
yang paling terkemuka, paling masyhur bacaannya bagus,
memiliki kedalaman ilmu dan panjang umurnya. Dan yang tak
kalah pentingnya adalah bahwa merekalah yang dijadikan imam
qiraat masyarakat mereka masing-masing (Lihat Dirasat Fi
ulum Quran, hlm.98).

Kemasyhuran ketujuh tokoh qiraat di atas semakin luas


setelah Ibnu Mujahid secara khusus membukukan qiraat-qiraat
mereka. Walaupun sesungguhnya, diluar yang tujuh itu, sesuai
dengan persyaratan yang ditetapkan, sedikitnya masih ada tiga
tokoh lain yang qiraatnya memenuhi persyaratan sehingga wajib
diterima. Oleh karena itu, dikenal pula kemudian qiraat Al-Asyr
(Qiraat Sepuluh), dan bahkan Qiraat Al-Arba Asyarah (Qiraat
Empat Belas).

Yang dimaksud dengan qiraat sepuluh adalah qiraat tokoh-


tokoh yang ditetapkan Ibnu Mujahid ditambah dengan: 1) Qiraat
Yakub (Tokoh yang namanya digeser oleh Ibnu Mujahid untuk
digantikan dengan Al-Kasai, seperti disinggung diatas). 2) Qiraat
Khalaf bin Hisyam (Wafat 229 H) tokoh yang disebut terakhir ini
belajar qiraat pada Salim bin Isa bin Hamzah bin Habib Al-Zayyat,
dan 3) Qiraat Yazid bin Al-Qaga yang masyhur dengan sebutan
Abu Jafar (Wafat 130 H). Yazid mengambil qiraat dari Abdullah
bin Abbas dan Abu Hurairah, dari Ubai bin Kaab.

176
Kemudian, yang dimaksud dengan qiraat empat belas
adalah sepuluh qiraat yang telah disebutkan ditambah dengan
qiraat empat tokoh lainnya. Mereka yaitu :

1. Hasan Al-Bishri, yang populer itu, (Wafat 110 H)


2. Muhammad bin Abdu Al-Rahman, yang masyhur dengan
sebutan Ibnu Muhaishan (Wafat 123 H ).
3. Yahya bin Al-Mubarak Al-Yazidiy (Wafat 202 H)
4. Abu Al-Faraj Muhammad bin Ahmad Al-Syanbudzi (Wafat 388
H ).

Untuk menentukan diterimanya sebuah qiraat, para ulama


menetapkan kriteria-kriteria sebagai berikut.

1. Mutawatir, yaitu qiraat yang diturunkan dari beberapa orang


dan tidak mungkin terjadi kebohongan.
2. Sesuai dengan kaidah bahasa arab.
3. Sesuai dengan tulisan Mushaf Utsman.
4. Mempunyai Sanad yang sahih.

Seperti halnya didalam menetapkan hukum Syara, ulama


ber-istinbath kepada riwayat-riwayat yang ber-Sanad Sahih,
demikian pula di dalam penerimaan sebuah qiraat. Suatu qiraat
hanya bisa diterima apabila terbukti bernarasumber (diambil dari
sumber utama) dari generasi sebelumnya melalui belajar
membaca qiraat tersebut. Cara ini dikenal dengan istilah
Musyafahah (mendengar) sehingga sanadnya benar-benar
menyambung dengan sahabat Rasulullah Saw. yang mengambil
(belajar) qiraat kepada Rasulullah Saw. Dengan sanad yang
menyambung dengan Rasulullah Saw, ini membuat para ulam
menganggap qiraat-qiraat yang dapat diterima itu Tauqifiy.
Artinya bukan dibikin oleh tokoh tertentu dan bahkan buatan
Rasulullah Saw. sendiri, tetapi datang dari dan sesuai dengan
yang diajarkan Allah kepada Rasulullah melalui Jibril.

177
Dengan diyakininya qiraat sebagai sesuatu yang Tauqifiy,
maka anggapan qiraat itu Ikhtiariyah (ditetapkan melalui proses
Ijtihad) tidak dapat diterima oleh ulama-ulama qiraat. Mereka
membantah anggapan Al-Zamakhsyari yang mengatakan bahwa
qiraat merupakan produk tokoh-tokoh yang fasih membaca Al-
Quran dan mempunyai kemampuan berbahasa dengan baik.
(lihat Al-Itqan, hlm. 130; Ithaf Faudala Al-Basyar, hlm. 185).
Qiraat-qiraat yang sekalipun sesuai dengan kaidah bahasa
arab tetapi tidak diriwayatkan melalui sanad yang sahih,
dianggap tidak Absah dan ditolak. Sebaliknya, tak sedikit qiraat
yang oleh ahli ilmu Nahwu (gramatika bahasa arab) tidak
dibenarkan, tetapi tetap dianggap sahih karena mempunyai
sanad yang sahih. Misalnya pada kasus disukunkannya kata



(menyuruh kamu) dan meng-Khofadh-kan kata
dan
lain-lain.
Para ahli qiraat pernah bersikap keras terhadap Abu Bakar
bin Miqsam. Tokoh ini memilih Qiraat yang ia anggap sahih
karena sesuai kaidah bahasa arab, tetapi karena oleh qiraat
pilihan Abu Bakar itu berbeda dengan Naqliy yang diturunkan
dengan sanad sahih, maka Abu Bakar bin Miqsam dikecam
pedas. Sikap keras terhadap Abu Bakar ini diambil oleh para ahli
qiraat setelah mereka bersidang. Keputusannya, sidang sepakat
tidak membenarkan qiraat Abu Bakar Bin Miqsam yang hanya
sesuai dengan kaidah bahasa arab, tetapi menyalahi Naqliy itu.
Sidang lain pernah pula diadakan sehubungan dengan kasus
Ibnu Syanbudz yang bernama lengkap muhammad bin Ahmad
bin Ayyub bin Syanbudz. Bin Syanbudz diminta bertobat lantaran
pernah memiliki qiraat yang oleh para Qari dinilai tidak
memenuhi persyaratan. Kedua sidang ini disponsori oleh Ibnu
Mujahid yang di atas di jelaskan sebagai orang pertama yang

178
menginventarisasi qiraat-qiraat. Perlu dicatat, bahwa Ibnu
Mujahid dan Ibnu Syanbudz pernah sama-sama mengambil
qiraat dari Ibnu Syadzan Al-Raziy. Oleh karena pertimbangan
menjaga Al-Quran, dan komitmennya terhadap kesepakatan
ulama untuk hanya memegang qiraat yang paling akurat dan
sahih, Ibnu Mujahid tak segan-segan menyerang Ibnu Syanbudz.
Ketetapan ulama qiraat untuk hanya mengambil qiraat yang
akurat dan sahih bukan yang hanya benar menurut kaidah
bahasa arab ini, kemudian melahirkan tradisi yang dipegang kuat
oleh para ulama. Kendati demikian masih terdapat ahli-ahli
bahasa yang tidak menggubris tradisi itu. Tujuan ahli-ahli bahasa
itu bisa jadi mulanya sekadar memperkenalkan apa yang disebut
Qiraat Syadz atau Qiraat yang meragukan. Mereka itu misalnya,
Ibnu Khalwin (Wafat 370 H) yang menulis kitab Al-Mukhtashar fi
syawadz Al-Qiraat (ringkasan Qiraat Syadz). Kemudian muncul
kitab Al-Muhatasab fi Taujid Al-Qiraat Syadz-dzah karya Abu Al-
Fatah Ibnu janiy (Wafat 392 H) kita masih menemukan kitab lain
tentang qiraat Syadz ini. Diantaranya Imla Ma Manna bihi Al-
Rahman min Wujuhi Al- Irab wa Al-Qiraat fi jami Al-Quran buah
karya Abdullah bin Al-Husain yang masyhur dengan sebutan Abi
Al-Baqa Al-Ukbariy (Wafat 626 H).
Kehadiran kitab-kitab mengenai Qiraat Syadz ini ada
gunanya. Dengan begitu, pembacanya akan tahu mana qiraat
yang boleh diterima dan mana pula yang tidak boleh. Atau
setidak-tidaknya orang diperkenalkan kepada jenis qiraat yang
lain dari qiraat yang harus diterima. Hanya, dari segi efisiensi,
tentu saja semacam itu hanyalah menyia-nyiakan waktu. Dr.
Shubhiy Shalih Menilai, kerja semacam itu sebagai suatu jenis
pemborosan ilmiah. (lihat mabahits fi ulum Quran, hlm. 253).
Kalaupun ada faedahnya, kata Dr. Shubhiy, hanya sedikit sekali
dan jarang terjadi. Mereka, menurut Shubhiy lebih lanjut,

179
melupakan, bahwa semua qiraat yang tidak memenuhi
persyaratan tidak boleh dibaca baik ketika salat maupun pada
kesempatan lain. Imam Al-Nawawi di dalam syarh Al-
Muhadzdzab nya menyatakan pendapat yang sama. Menurut
Nawawi : tidak boleh membaca qiraat syadz di dalam salat
maupun pada kesempatan lain, karena qiraat syadz bukan Al-
Quran. Qiraat Al-Quran diriwayatkan secara mutawatir. Qiraat
Syadz, diriwayatkan dengan tidak melalui jalur yang mutawatir.
Orang yang berpendapat lain adalah keliru dan bodoh. Para
fuqaha Bagdad sepakat tentang perlunya tobat bagi siapapun
yang membaca qiraat Syadz. Dan Ibnu Abd Al-Bar menurunkan
pendapat yang sama: tidak boleh salat dan bermakmum
kepada orang yang di dalam salatnya membaca qiraat syadz.
(lihat Al-Burhan, jilid I, hlm. 333).

B. Qiraat Syadz

Qiraat Syadz adalah qiraat yang sanadnya tidak sahih, yakni


tidak memenuhi persyaratan yang diminta untuk keabsahan
sebuah qiraat. Misalnya tidak mutawatir, atau tidak sesuai
dengan kaidah bahasa arab, atau tidak sesuai dengan tulisan
Mushaf Utsman.

Di samping mutawatir dan Syadz, juga terdapat juga jenis


qiraat lain yang dikenal didalam dunia Ilmu Al-Quran, yang
dijelaskan dibawah ini.

1. Masyhur. Qiraat Masyhur adalah qiraat yang sanadnya sahih


karena diriwayatkan oleh tokoh yang adil, Dhabith
(mempunyai ketelitian tulisan atau hafalan yang baik), sesuai
dengan kaidah bahasa arab, dan sesuai dengan tulisan
mushaf Utsman. Selain itu, qiraat yang bisa dikatakan

180
Mansyhur juga mempunyai riwayat yang berasal dari qari
yang Tsiqat, dan qari itu terkenal di kalangan para qari
lainnya. Yang membedakan qiraat yang disebut terakhir ini
dengan qiraat Mutawatir hanya pada derajatnya yang tidak
memenuhi kriteria riwayat yang Mutawatir, yaitu suatu
informasi yang disampaikan oleh orang banyak dan kepada
orang banyak pula. Misalnya, qiraat yang diriwayatkan oleh
satu dari tujuh qari terkemuka yang diinventarisasi Ibnu
Mujahid, sementara tokoh-tokoh qari lainnya tidak
meriwayatkan qiraat tersebut.
2. Shahih Sanad. Qiraat macam ini sanadnya sahih, tetapi tidak
sama dengan tulisan Mushaf Utsman atau tidak seterkenal
Qiraat Mansyhur dan Mutawatir. Qiraat yang disebut terakhir
ini tidak boleh dibaca dan tidak wajib diyakini kebenarannya.
Misalnya qiraat yang dikeluarkan oleh Al-Hakim dari jalur
Ashim Al-Jahdariy, dari Abu Bakrah, bahwasanya Nabi
Muhammad Saw. Pernah membaca :







Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan
permadani-permadani yang indah. (Qs Al-Rahman [55]: 76)

Qiraat yang mutawatir berbunyi :











Jadi dan bukannya dan

3. Maudhu. Qiraat ini hanya dinisbahkan kepada orang tanpa


asal usul yang pasti, bahkan tanpa asal-usul sama sekali.
Misalnya qiraat yang dikumpulkan oleh Muhammad bin Jafar
Al-Khuzai dan ia mengatakannya bersumber dari Abu

181
Hanifah, padahal bukan Al-Khuzai yang membaca firman
Allah Swt. Yang berbunyi :










... Sesungguhnya yang takut kepada
allah di antara hamba-hambanya
hanyalah para ulama...(Qs Fathir [35] :
28)

Harakat (baris) Fathah pada lafaz Allah


)) dan Dhammah
para lafaz Ulama di balik. Ia Fathah-kan dan ia Dhammah-kan

kata (
) sehingga bila potongan ayat yang harakatnya diubah
akan diterjemahkan, menjadi : Allah takut kepada hamba-
hambanya yang ulama Kata Al-Ulama ()yang seharusnya
Fail (subjek) diubah menjadi Maful (objek)

4. Yang terakhir adalah Qiraat Tambahan, yaitu bacaan


sesungguhnya sekadar penafsiran, tetapi dianggap qiraat.
Misalnya yang terjadi pada firman allah yang berbunyi :







Tidak mengapa bagi (atas)-mu mencari kelebihan
(rezeki) dari tuhanmu.
(Qs. Al-Baqarah
[2]: 198)

Ada tradisi yang berlaku dikalangan masyarakat qari Al-


Quran. Bahwa seseorang tidak berhak menyandang prediket qari
sekalipun orang itu hafal kesepuluh atau keempat belas qiraat
bila ia tidak menguasai melalui proses mendengar langsung dari
guru dan melalui proses membaca di hadapan guru. Proses ini
dikenal sebagai Musyafahah.

182
C. Sebab Perbedaan para Qari

Di atas, secara sepintas telah disinggung adanya perbedaan


qiraat. Ada qiraat sabah (qiraat tujuh), qiraat asyarah (qiraat
sepuluh), qiraat arbaataasyar (qiraat empat belas), dan
seterusnya. Hal ini terjadi akibat salah satu atau beberapa sebab
berikut ini.

1. Perbedaan dalam Irab atau harakat kalimat tanpa perubahan


makna dan bentuk kalimat. Misalnya pada firman Allah Swt,
yang berbunyi :








... Mereka yang kikir dan menyuruh orang berlaku kikir ...(Qs
Aliimran [3]:180)

Kata yang berarti kikir disini bisa dibaca Fathah pada


huruf ba-nya sehingga menjadi Bi Al-bakhli. Bisa pula dibaca
dengan dhammah pada huruf ba-nya sehingga menjadi bi Al-
bukhli.

2. Perbedaan pada Irab dan harakat (baris) kalimat sehingga


mengubah maknanya. Misalnya pada firman Allah Swt. Yang
berbunyi :




... Wahai tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami... (Qs
Saba [34]:19)

Kata yang diterjemahkan menjadi jauhkanlah di atas adalah


kata
karena statusnya sebagai Fiil Amar. Boleh juga

183
dibaca yang berarti kedudukannya menjadi Fiil Madhi
sehingga dalam bahasa Indonesia, kata itu menjadi jauh.

3. Perbedaan pada perubahan huruf tanpa mengubah Irab dan


bentuk tulisannya, sementara maknanya berubah. Misalnya
firman Allah Swt :

...Lihatlah tulang belulang, bagaimana kami


menyusunnya kembali.. (Qs Al-Baqarah [2]: 259)

Kata

( kami menyusunnya kembali) yang ditulis dengan
huruf Zay ( )diganti dengan huruf ( ) sehingga berbunyi


yang berarti kami hidupkan kembali.

4. Perubahan pada kalimat dengan perubahan pada bentuk


tulisan, tetapi tanpa perubahan maknanya. Misalnya pada
firman Allah :






Dan gunung-gunung bagaikan bulu-bulu yang bertebaran
(Qs Al-Qariah [101:5)

Beberapa qiraat mengganti kata dengan ,




sehingga yang mulanya bermakna bulu-bulu berubah
menjadi bulu-bulu domba. Perubahan seperti ini,
berdasarkan Ijma ulama, tidak dibenarkan karena
bertentangan dengan Mushaf Utsmani.

5. Perbedaan pada kalimat di mana bentuk dan maknanya


berubah pula. Misalnya pada kata



menjadi


184
6. Perbedaan pada mendahulukan kata dan mengakhirkannya.
Misalnya pada firman Allah Swt, yang berbunyi :






Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya...
(Qs Qaf [50]: 19)

Konon, menurut suatu riwayat, Abu Bakar pernah


membacanya menjadi





. Abu Bakar menggeser kata Al-Maui
ke belakang, sementara kata Al Haq ia majukan ke tempat
yang ia geser ke belakang. Setelah mengalami pergeseran
ini, bila kalimat itu menjadi Dan datanglah sekarat yang
benar-benar dengan kematian dalam bahasa indonesia.
Qiraat semacam ini juga tidak bisa dipakai, karena jelas
menyalahi ketentuan yang berlaku.

7. Perbedaan dengan menambah atau mengurangi huruf,


seperti pada firman Allah swt.:








Kata

dalam ayat ini dibuang, dan pada ayat serupa yang
tanpa
justru ditambah.
Bila diperhatikan, tujuh sebab yang mengakibatkan terjadinya
perbedaan ini mirip sekali dengan penafsiran Ima Abu Al-
Fadhal Al-Razi tentang tujuh huruf dalam hadis Rasulullah
Saw. yang mengatakan bahwa Al-Quran diturunkan dengan
tujuh huruf. Wallahu Alam.

185
DI BUAT OLEH : PUTRI PINTO DENAI

NPM : 1502090169

PRODI : HUKUM EKONOMI SYARIAH

MATA KULIAH : ULUMUL QURAN

BAB 14
MUHKAM dan MUTASYABIH

Orang bisa saja mengatakan bahwa semua ayat Al-Quran


adalah Muhkamat apabila yang dimaksudkannya adalah
keindahan karena semua ayat Al-Quran itu indah dan tersusun
dengan rapi. Lihatlah firman Allah Swt. Berikut ini :






...(Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi...
(Qs Hud[11]:1)

Dan orang pun bisa saja mengatakan bahwa semua ayat Al-
Quran mutasyabihat, jika yang dimaksudkannya adalah
kesamaan tingkatan ijaz (mukjizat yang tak tertandingi) dalam
kefasihan bahasa. Sehingga kesamaan tingkatannya itu, menurut
Dr. Shubhiy, sulit untuk ditangkap kelebihan antara satu bagian
dan bagian lainnya. Marilah simak ayat Allah Swt. Di bawah ini :

186
Allah telah menurunkan ungkapan yang paling baik, yaitu kita
(Al-Quran) yang serupa
(mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang (Qs Al-zumar [39]:32)

Di dalam pembahasan Ulum Al-Quran, bukan Muhkam dan


mutasyabih (atau dengan menjamakkannya : Muhkamat dan
Mutasyabihat) yang dimaksud kedua ayat diatas. Pembahasan
mengenai Muhkamat dan mutasyabihat yang menjadi tugas
ulum Al-Quran adalah yang dimaksudkan dalam surat Ali Imran,
ayat 7, yang berbunyi :

















Dialah yang telah menurunkan Al-Kitab (Al-Quran)kepadamu.
Diantara (isi)-nya ada ayat-ayat yang muhkamat dan yang lain
(ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang didalam
hatinya ada kecondongan kepada kesehatan, maka mereka
mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat darinya karena untuk
menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal
tidak ada yang mengetahui takwilnya, kecuali Allah: dan orang-
orang yang ilmunya mendalam berkata : Kami beriman
kepadanya. Semuanya datang dari sisi Tuhan kami dan tidak
dapat mengambil pelajaran (darinya) kecuali orang-orang yang
berakal. (Qs Ali-Imran [3]:7)

187
Menurut ayat ini, jelas bahwa ada ayat-ayat Al-Quran yang
Muhkamat dan yang mutasyabihat. Atas dasar itulah para ulama
memberi definisi kedua jenis ayat itu, Dr. Amir Aziz dalam Dirasat
Fi Ulum Al-Quran mengiventarisasi enam definisi dalam masalah
ini.
Pertama, definisi yang oleh Dr. Amir dinyatakan sebagai
pendapat Ahlu Sunah. Muhkam atau muhkamat adalah ayat yang
bisa dilihat pesannya dengan gamblang atau dengan melalui
takwil, karena ayat yang perlu ditakwil itu mengandung
pengertian lebih dari satu kemungkinan. Adapun Mutasyabihat
adalah ayat-ayat yang pengertian pastinya hanya diketahui oleh
Allah Swt. Misalnya saat datangnya hari kiamat dan makna huruf
tahajji, yakni huruf-huruf yang terdapat pada awal surah seperti
Qaf, Alif, Lam Min, dan lain-lain.
Kedua, definisi dari Ibnu Abbas, Muhkam adalah ayat yang
penakwilannya hanya mengandung satu makna, sedangkan
mutasyabih adalah ayat yang mengandung bermacam-macam
pengertian.
Ketiga, Muhkam adalah ayat yang maknanya rasional.
Artinya, dengan akal manusia saja pengertian ayat itu sudah
dapat ditangkap, tetapi ayat-ayat mutasyabih mengandung
pengertian yang tidak dapat dirasionalkan. Misalnya, bilangan
Rakaat di dalam salat lima waktu. Demikian juga menetapkan
kewajiban shaum yang dijatuhkan pada bulan Ramadhan, bukan
bulan Syaban atau muharam.
Keempat, ayat-ayat Al-Quran yang muhkam adalah ayat
yang nasikh dan mengandung pesan pernyataan halal, haram,
hudud, faraidh dan semua yang wajib diimani dan diamalkan.
Adapun mutasyabih. Yaitu ayat yang padanya terdapat mansukh
dan qasam (sumpah), serta yang wajib diimani, tetapi tak wajib
diamalkan lantaran tidak tertangkapnya makna yang dimaksud.

188
Definisi ini, menurut Dr. Amir Abd Al-Aziz, juga dinisbatkan
kepada Ibnu Abbas.
Kelima, ayat-ayat muhkamat adalah ayat yang mengandung
halal dan haram. Ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat
tersebut.
Keenam, ayat muhkam adalah ayat yang tidak ter-nasakh
(tidak mansukh). Sementara ayat mutasyabihat adalah ayat
yang di-Nasakh.

Dari enam definisi yang disodorkan Dr. Amir Abd Al-Aziz,


kelihatannya yang bisa diterima adalah definisi pertama, yakni
definisi yang menjadi panutan Ahlu Sunah. Definisi ini, kecuali
menyatakan muhkam sebagai ayat yang pesannya dapat
ditangkap secara jelas, juga tercakup di dalamnya soal halal,
haram, amar, nahi, janji (wad) dan ancaman (waid). Karena itu,
Al-Quran menggambarkannya sebagai ummu Al-Kitab yang
didalamnya terhimpun semua pengertian Al-Haq dan Al-Khair
baik itu menyangkut persoalan akidah, syariat, maupun akhlak.
Berbeda dengan ayat-ayat mutasyabihat. Ayat-ayat pada
kelompok ini tidak jelas maksudnya. Artinya tidak dengan mudah
bisa ditangkap, karena mengundang penafsiran yang berbeda-
beda dan bisa jadi mengandung pengertian yang bermacam-
macam. Termasuk dalam kategori ini tentu ayat-ayat yang
menunjukkan pengertian mujmal, muawwal dan musyakkal.

Persoalannya sekarang, bisakah manusia mengetahui


makna ayat-ayat mutasyabihat dengan jelas ?
Dalam menjawab pertanyaan ini, sedikitnya ada dua
mazhab ulama. Perbedaan mereka bersumber dari satu huruf,
yaitu huruf wawu ( ) yang terdapat pada ayat 7 surah Ali imran.
Sementara ulama mengatakan bahwa huruf wawu sebelum kata
Al-Rasikhun adalah huruf athaf kepada Allah Swt. Dengan
demikian, Al-Rasikhun (orang-orang yang mendalam ilmunya)

189
pun dapat mengetahui takwil ayat-ayat mutasyabihat. Salah
seorang ulama yang memegang pendapat ini menurut Dr.
Shubhiy Shalih, adalah Abu Al-Hasan Al-Asyariy. Menurutnya,
ayat-ayat mutasyabihat mengenai sifat Allah Swt. Termasuk yang
di takwil. Misalnya ayat mengenai yadullah atau yadallah.

Bagi Abu Al-Hasan Al-Asyari, ayat : ... ... ia artikan
tidak secara harfiah, tetapi ditakwilkan menjadi kekuasaan Allah
di atas kekuasaan mereka, dan bukan tangan Allah di atas
tangan mereka, jadi kata yad ( ) bukan berarti tangan,
karena mustahil Allah memiliki tangan. Demikian juga ayat





Bagi Abu Hasan dan ulama-ulama yang menakwil ayat
istiwa, Allah tidak duduk atau tersinggasana diatas arsy tetapi
dia memerintah dari suatu kedudukan yang tak tertara
dibandingkan kekuasaan mana pun.
Pendapat ini mendapat dukungan dari Abu Ishak Al-Syiraziy.
Menurut ulama yang bernama lengakap Ibrahim bin Ali binYusuf
ini, sekiranya mereka (ulama termasuk Al-Rasikhun fi Al-Ilm)
tidak mengetahui maknanya, tentu mereka tak ubahnya dengan
orang-orang awam.bagi tokoh ini, dimaktubkannya kata Al-
Rasikhun dalam ayat 7 surah Ali Imran justru merupakan pujian
terhadap mereka yang tidak sama dengan kebanyakan orang,
termasuk di dalam memahami Kitabullah.
Pendapat atau katakan saja mazhab Abu Hasan ini berbeda
dengan mazhab yang menamakan dirinya kaum salafiy. Bagi
kalangan yang disebut terakhir ini, wawu () yang termaktub
sebelum kata Alrasikhun


adalah wawu istinaf


alias wawu permulaan. Dengan demikian, mereka
membaca ayat ini menjadi

( dan tidak ada yang
mengetahui takwilnya kecuali allah). Setelah itu, kalimat dimulai
lagi dengan :




( dan orang-orang yang
mendalam ilmunya berkata). Bila ditangkap secara utuh,

190
pengertiannya adalah hanya Allahlah yang mengetahui
takwilnya, hatta mereka yang ilmunya mendalam sekalipun tidak
mengetahui takwil ayat-ayat mutasyabihat seperti bagaimana
wujuud yadullah itu.
Kaum salafi tidak mentakwil ayat-ayat mutasyabihat
menyangkut sifat Allah. Mereka cukup mengimaninya saja, Imam
Malik pernah ditanya tentang istiwa (duduknya Allah di atas
Arsy). Ia mengatakan :

Istiwa adalah diketahui. dan bagaimana (istiwaitu ) adalah


sesuatu yang tak diketahui. Bertanya tentangnya adalah bidah,
dan aku menyangkamu (orang yang bertanya) sebagai orang
yang tidak baik. Keluarkan dia ini dariku (lihat Al-Itqan, jilid 1 hlm.
8;dan Mabahits Fi ulum Quran, hlm.284)

Di luar pendapat kedua aliran di atas, ada pula pendapat lain.


Tokohnya bernamaAl-Raghib Al-Ashfahaniy. Ia memilih jalan
tengah. Artinya, tidak semua ayat mutasyabihat hanya diketahui
maknanya oleh Allah. Dari segi penguasaan maknanya,
Ashfahaniy membagi ayat-ayat mutasyabihat menjadi tiga
macam.

Pertama, ayat-ayat yang tidak bisa ditangkap maknanya


kecuali oleh Allah. Misalnya, mengenai kedatangan hari kiamat.

Kedua, ayat-ayat yang manusia mungkin saja menangkap


maknanya dengan melalui sebab tertentu.

191
Ketiga, ayat-ayat yang tidak bisa ditangkap maknanya oleh
kebanyakan orang, tetapi bisa ditangkap oleh orang tertentu,
yaitu mereka yang oleh Al-Quran disebut Al-Rasikhuna Fi Al-Ilmi.
Kata Ashfahaniy, inilah yang ditunjuk oleh ayat 7 surah Ali-Imran
yang menyatakan kemampuan Al-Rasikhuna Fi Al-Ilmi di dalam
menangkap makna ayat Mutasyabihat. Al-Ashfahaniy kemudian
memperkuat argumentasinya dengan mengutip riwayat yang
menceritakan doa nabi Muhammad Saw. untuk Ibnu Abbas yang
berbunyi :







Allahumma ya Allah perdalamlah dia dalam penguasaan agama
dan ajarkanlah dia takwil (lihat Al-Itqan, jilid1, hlm.73 dan
Mabahits fi ulum Al-Quran, hlm. 283)

Pendapat Al-Raghib Al-Ashfahaniy ini bisa dimengerti.


Karena memang zat dan hakikat, sifat Allah tidak bisa diketahui
kecuali oleh Allah sendiri. Begitu juga hal-hal yang menyangkut
Ilmu Al-Ghayb. Firman Allah :

Sesungguhnya, hanya allah sajalah yang memiliki pengetahuan


tentang hari kiamat. Dan dialah yang menurunkan hujan, dan
mengetahui apa yang berada dalam rahim. Dan tidak seorang

192
pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan
diusahakannya besok hari, dan tiada seorang pun yang dapat
mengetahui di bumi mana dia mati, sesungguhnya Allah maha
mengetahui lagi maha mengenal, (Qs Luqman [31]:34

Bahkan di dalam menafsirkan huruf-huruf Al-tahajji yang


terdapat di awal surah pun, para musafir tidak lebih dari
mereka-reka hakikat huruf tersebut. Dan bila disimak lebih
jauh, penafsiran mereka akan huruf-huruf itu hanya sebatas
menyangkut hikmahnya. Mereka tidak sampai menjangkau
hakikat keberadaannya. Di balik tak terungkapnya masalah ini,
tersembul hikmah betapa terbatasnya pengetahuan manusia.
Bila hal ini disadari, insyaallah tak akan terlahir sifat takabur.
Wallahu Aalam bi muradihi.

DI BUAT OLEH : PUTRI PINTO DENAI

NPM : 1502090169

PRODI : HUKUM EKONOMI SYARIAH

MATA KULIAH : ULUMUL QURAN

BAB 15
193
PROBLEMATIKA NASAKH

Dalam pembahasan nasakh, disebut-sebut adanya ayat Al-


Quran yang mansukh. Jumlahnya pun cukup banyak. Sampai ada
yang menetapkan jumlah ayat mansukh sebanyak 100 buah.
Besar kemungkinan penetapan jumlah yang cukup
memprihatinkan itu akibat keracunan dalam menangkap makna
nasakh. Terjadinya pencampuran yang cukup banyak antara
pengertian nasakh di satu sisi, dan istilah-istilah yang bisa
digunakan di dalam ushul fiqih di sisi lain pada gilirannya
membuat keracunan di dalam penetapan ayat-ayat nasakh-
mansukh. Pencampuradukan ini dilihat oleh Dr. Amir Abd Al-Aziz
dalam dirasat fiulum Al-Quran-nya. Istilah-istilah ushul fiqih yang
dimaksud adalah mansa (

) , Takhshish Al-am ( )
taqyid Al-muthlaq (

) dan tabyin Al-mujmal ((




. istilah-istilah ushul yang disebut di atas, insya Allah akan
menjadi pembahasan bab keracunan di sekitar nasakh ini.

A. Mansa

Dilihat dari segi bahasa, mansa berarti


( yang diakhirkan)
atau

( yang ditunda). Mansa di dalam Al-Quran bermakna
ayat-ayat yang mengandung hukum lantaran bersifat sementara.
Dengan hilangnya sebab yang hanya bersifat sementara itu,
maka berakhirlah masa berlaku hukum yang kemudian posisinya
digantikan oleh hukum lain yang baru. Contoh yang bisa
dikemukakan dalam hal ini adalah perintah kepada kaum
muslimin untuk bersabar dan memaafkan orang-orang bukan
muslim yang menyakiti kaum muslimin. Perintah bersabar dan
memaafkan itu lahir lantaran adanya sebab, yakni kekuatan
kaum muslimin jauh dibawah kekuatan bukan muslimin yang

194
menyakiti. Akan tetapi, setelah sebab itu hilang, yakni kaum
muslimin memiliki kekuatan politis, ekonomis maupun lainnya,
posisi bersabar dan memaafkan, digantikan oleh ketentuan lain,
yakni melawan mereka yang menyakiti kaum muslimin. Dengan
demikian, kaum muslimin diharuskan bersabar dan memaafkan
musuh-musuh karena pada saat itu mereka dalam keadaan
lemah tak berdaya. Setelah kondisi mereka berubah menjadi
kuat, barulah diganti dengan keharusan berperang melawan
musuh-musuh mereka.

Menurut Amir Abd Al-Aziz, proses perubahan semacam ini


tidak bisa dianggap sebagai nasakh, dimana perintah bersabar
dan memaafkan mansukh oleh perintah memerangi. Proses
semacam ini, kata Amir lebih lanjut, terbilang mansa, bukan
nasakh.

Ketika islam datang, dunia telah mengenal beberapa syariat


samawi yang telah berakar di masyarakat berabad-abad
lamanya. Selain itu, ada pula tradisi-tradisi, baik bersifat lokal
maupun datang akibat sosialisasi antara suatu masyarakat
dengan masyarakat lainnya, bahkan mungkin antar bangsa. Di
tengah-tengah keadaan semacam itulah, islam datang. Di
mekah, ajaran islam bertemu dengan tradisi Arab jahiliyah. Di
madinah, syariat islam berhadapan dengan ajaran-ajaran Yahudi
dan Nasrani. Kecuali tiga tradisi yang telah berurat berakar di
masyarakat arab itu, infiltrasi budaya dari masyarakat sekitarnya
pun telah berakumulasi sehingga menjadi bagian dari peradaban
bangsa arab. Misalnya, budaya yang datang dari persia, sisa-sisa
peradaban Babilonia, Romawi, dan India.

Islam hadir justru untuk mengubah ajaran-ajaran yang telah


ada dan bertentangan dengan kodrat insani. Dengan kata lain,

195
islam datang untuk mencabut atau membatalkan syariat-syariat
lama (yang lapuk dan tidak layak anut). Pembatalan-pembatalan
itu termaktub di dalam sebuah kitab suci yang bernama Al-
Quran. Persoalannya yaitu, kalau pembatan syariat semacam ini
dianggap sebagai nasikh, tentulah semua isi Al-Quran sebagian
besarnya disebut nasikh karena telah menghapuskan semua
atau sebagian besar syariat dan tradisi yang ada sebelumnya,
baik itu yang tumbuh dikalangan orang-orang musyrik maupun
yang berlaku masyarakat Ahli Al-Kitab. Misalnya, meminum
khamar, mempraktikkan riba, memakan bangkai dan daging babi
(yang boleh syariat dan tradisi pra-islam dianggap mubah, alias
boleh-boleh saja). Semua perbuatan yang disebutkan diatas
kemudian oleh islam diharamkan. Perbuatan-perbuatan yang
oleh syariat dan tradisi pra-islam dibolehkan kemudian
diharamkan oleh islam ini tidak bisa dimasukkan ke dalam bab
nasakh, karena pada hakikatnya dipandang dari kacamata islam
termasuk pengharaman sejak awal. Yang dimaksud nasakh
adalah praktik-praktik yang pernah dibenarkan Islam, yang
kemudian dibatalkan juga oleh syariat Islam.

B. Takhshish AlAm

Di sebuah masjid di pinggir kota metropolitan, diibaratkan ada


seorang mubalig yang dengan semangat menggebu-gebu
mengatakan, muda-mudi sekarang telah hanyut dalam
kehidupan amoral. Mereka telah terkena penyakit wahan; yakni
bergelimang dalam kecintaan terhadap dunia dan takut mati.
Kecuali muda-mudi yang sering datang menghadiri pengajian
dan ceramah-ceramah agama. Ditinjau dari sudut yang ingin
dibahas dibawah ini, kalimat mubalig itu sama dengan misalnya

196
ucapan menteri pemuda dan olahraga yang bunyinya seperti
berikut : kita harus waspada, jangan sampai budaya negara
asing menyusup ke dalam pola tingkah laku pemuda-pemuda
kita, kecuali budaya intelektual muslim.

Sekiranya kalimat yang keluar dari mulut seorang mubalig itu


dibagi dua, maka paruh pertamanya memvonis pemuda telah
hanyut kelembah kebobrokan moral, sangat mencintai dunia.
Dan tidak siap bahkan takut menghadapikematian. Karena yang
disebut pemuda-pemudi adalah umum, atau yang dalam
pembahasan sekarang ini disebut Am (

) . Sementara diparuh
kedua, yang dimulai dengan kata kecuali adalah pengecualian
atau pengkhususan dari bentuk umum. Dalam bahasa arab,
pengkhususan disebut takhshih (


) . Dengan adanya
penghususan ini, maka selain muda-mudi yang berakhlak
bobrok, cinta dunia, dan takut mati, ada pula pemuda yang
masih baik-baik. Mereka adalah pemuda dan pemudi yang sering
mengikuti pengajian dan rajin pergi kemasjid.

Contoh-contoh takhshish terhadap kata atau kalimat am


banyak dijumpai di dalam Al-Quran. Misalnya pada firman Allah
berikut ini :







Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang sesat.
Tidaklah kamu melihat, bahwasanya mereka mengembara di
tiap-tiap lembah. Dan bahwasanya mereka suka mengatakan
apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya. (Qs Al-Syura
[26]:224-226)

197
Menurut ayat ini, semua penyair diikuti oleh orang-orang
sesat. Sifat-sifat penyair lainnya adalah pengembara dan
mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan. Tak ada pengikut
penyair yang tak sesat. Ini namanya am. Ke-am-an ayat ini di-
takhshish oleh ayat berikutnya.








Kecuali mereka (penyair) yang beriman dan beramal saleh dan
banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah
menderita kezaliman. Dan orang-orang zalim itu kelak akan
mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. (Qs Al-
Syuara [26]:ayat 227)

Dengan adanya takhshish, selain banyak penyair yang


diikuti orang sesat, suka mengembara, dan mengatakan apa
yang tidak mereka lakukan, ada pula penyair lain yang tidak
memiliki sifat tercela tersebut. Mereka yang dikecualikan itu
adalah penyair yang beriman, beramal saleh, banyak berzikir dan
sifat-sifat positif lainnya.
Takhshish am, bisa pula disimak pada ayat :






Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang (ketika
menyembelih) tidak disebut nama Allah... (Qs Al-Anam [6]:121)

198





Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Dan makanan
(sembelihan) Ahl Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu
halal (pula) bagi mereka... (Qs Al-Maidah [5]:5).

Sesungguhnya, ayat 5, surah Al-Maidah bukan nasikh bagi ayat


121, surah Al-Anam. Ayat 121, Al-Anam di atas tidak mansukh.
Bacaan maupun hukumnya tetap berlaku. Hanya, pengertiannya
yang am (umum) di takhshish. Sehingga ada binatang, kambing
misalnya, yang disembelih tanpa menyebut nama Allah, tetapi
tetap dibolehkan dimakan alias halal, yaitu kambing yang
disembelih oleh Ahl Al-Kitab.

Contoh lainnya bisa diambil dari surah Al-Taubah, ayat 97,


yang berbunyi :




Orang-orang arab badui itu, lebih dahsyat kekafiran dan
kemunafikannya. (Qs Al-Taubat [9]: 97)

Membaca ayat yang bersifat Am ini, seakan-akan kekafiran


dan kemunafikan semua orang arab badui lebih dahsyat, tetapi
setelah membaca ayat berikutnya (ayat 99), diketahui bahwa
ada pen-takhshish-an. Mari simak ayat pen-takhshish itu.

199
















Dan diantara orang-orang Arab Badui itu, ada orang-orang yang


beriman kepada Allah dan hari Akhirat, dan memandang apa
yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu sebagai jalan
mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai jalan untuk
memperoleh doa rasul. Ketahuilah bahwa sesungguhnya nafkah
itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri
(kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam
rahmat (surga)-nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha penyayang. (Qs Al-Taubah [9]:99)

Ayat-ayat seperti di atas, tidak bisa dimasukkan dalam


pembahasan nasakh. Sekiranya pen-takhshish-an ayat-ayat yang
membawa pesan Am itu dikategorikan dalam bab nasakh, maka
dapat dipastikan jumlah ayat nasikh maupun mansukh akan
sangat banyak, mungkin berjumlah ratusan buah. Di dalam Al-
Quran ditemui sejumlah ayat yang menggunakan kata yang
berpengertian am. Berikut ini diperkenalkan beberapa kata yang
mengandung pengertian umum itu, yaitu :


(Semua)

( Yang ; untuk maskulin)


( Yang ; untuk feminim)

200
( Mana saja)

(Apa)


( Siapa)

Dan banyak lagi.

Melihat bentuk-bentuk kalimat am di dalam Al-Quran,


maka am dibagi menjadi tiga kelompok.

Pertama, am yang bersifat permanen. Misalnya firman Allah


yang banyak dijumpai di dalam Al-Quran, yaitu :





Dan Allah mengetahui segala sesuatu.




Dan tuhanmu tidak menzalimi seseorang.

Kedua, am tersebut memiliki maksud khusus. Am umum


semacam ini dapat ditangkap pada firman Allah berikut ini.

201
Orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada
mereka ada orang-orang yang mengatakan: sesungguhnya
manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu,
karena itu takutlah mereka, maka perkataan itu menambah
keimanan mereka dan mereka menjawab : cukuplah Allah
menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.
(Qs AliImran [3]: 173)

( orang-orang
Pada ayat ini, Allah menggunakan kata
( ia mengatakan).
atau mereka) yang digandeng dengan
Melihat sabab nuzul-nya, yang dikatakan orang-orang yang
adalah satu orang, yaitu Naim
berkata (menggunakan kata
bis Masud (lihat dirasat fi ulum Al-Quran, hlm.211)

Ketiga, Am yang makhshush. Artinya, umum yang khusus.


Am jenis ini banyak dijumpai di dalam Al-Quran. Sampai-sampai
di dunia ulum Al-Quran ada semboyan: Tak ada satu am pun
kecuali telah dikhususkan. Am yang dikhususkan. Adakalanya
direct (muttashil), adakalanya pula indirect (munfashil), ada lima
macam muttashil, yaitu sebagai berikut :

1. Istitna (pengecualian). Misalnya :











Dan orang-orang yang menuduh (berzina) wanita yang baik-
baik dan mereka tidak menghadirkan empat orang saksi,
maka deralah mereka (yang menuduh) delapan puluh kali

202
dera, dan jangan terima kesaksian mereka selama-lamanya.
Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. (Qs Al-Nur [24]:4)

2. Washf, yakni umum yang berkriteria. Misalnya firman Allah :







... Anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri
yang telah kamu campuri. (Qs An-Nisa [4]:23)

Washf yang menyatakan pengkhususan am pada potongan


ayat di atas adalah anak-anak yang dalam tanggungan dari
istri yang telah dicampuri. Maksudnya, jika seorang pria
menikah dengan seorang wanita, dan wanita itu membawa
anak, maka bila kedua pasangan suami istri itu telah
melakukan hubungan biologis lalu mereka bercerai, sang
suami tidak dibenarkan menikahi putri dari istrinya itu.
Namun jika anak-anak itu berasal dari istri yang belum
pernah disetubuhi, maka boleh dikawini.

3. Syarat. Misalnya firman Allah Taala yang berbunyi :














Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan
perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka
jika kamu mengetahui pada mereka terdapat kebaikan. (Qs
Al-Nur[24]:33)

203
Pada ayat ini, perintah untuk melakukan perjanjian di
takhshish dengan syarat si majikan mengetahui adanya
kebaikan, baik sebelum maupun sesudah menandatangani
perjanjian.

4. Ghayah. Terjemahan kata ghayah adalah batas penghabisan.


Misalnya larangan agar tidak menggauli istri. Larangan ini
tidak bersifat permanen, tetapi ada batas di mana setelah
limit yang ditentukan berakhir, maka berakhir pulalah
larangan itu. Dengan kata lain, larangan mendekati istri di
takhshish dengan huruf ghayah yaitu
( sehingga).mari
lihat ayat berikut ini :




...Dan janganlah kamu menggauli mereka sampai mereka
suci. (Qs Al-Baqarah[2]:196)

5. Badal yang menjadi bagian dari keseluruhan (badal badh


min kul)









Kewajiban manusia terhadap Allah adalah berhaji ke baitullah
bagi orang yang sanggup melakukan perjalanan kepadanya.
(Qs AliImran[3]:97)

Di sini, orang Muslim disuruh melakukan haji ke


Baitullah. Ini perintah umum. Akan tetapi, kalimat berikutnya
men-takhshish sifat keumumannya. Bunyi kalimat pen-
takhshish itu adalah. bagi orang yang sanggup melakukan
perjalanan menujunya.
Mukhashshish Am tidak langsung atau pengkhusus
umum tak langsung, adalah pentakhsishan terhadap suatu

204
ayat oleh ayat lain. Pengertian suatu ayat yang bersifat
umum, diberikan alamat kekhususan oleh ayat lainnya.
Misalnya pen-takhsish-an yang dialami ayat yang berbunyi :






Wanita-wanita yang dicerai, hendaklah menahan diri
(menunggu) tiga kuli quru.
(Qs Al-Baqarah[2]:228)

Menurut ayat ini, semua wanita yang baru saja ditalak


(dicerai suaminya) diwajibkan menunggu, tidak boleh
menikah kecuali setelah melewati tiga quru, Quru dapat
diartikan suci atau haid. Ketetapan ini bersifat umum, berlaku
untuk semua wanita, tetapi keumuman ayat 228, surah Al-
Baqarah di atas, di-takhshis oleh ayat lain yang berbunyi :









Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menikahi wanita
yang beriman kemudian wanita itu kamu talak sebelum kamu
menyetubuhinya, maka tidak wajib atas merekaiddah... (Qs
Al-Ahzab[33]:49)

Dengan adanya pen-takhshish-an oleh ayat yang


disebut terakhir ini, tidak semua wanita yang baru saja
dicerai suaminya menunggu selama tiga quru baru kemudian
dibolehkan menikah. Ketentuan menunggu tiga quru hanya

205
berlaku bagi wanita yang telah disetubuhi, sedangkan yang
belum disetubuhi, tidak ada ketentuan iddah.

C. Taqyid Muthlaq

Subjudul ini, bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia


berarti mengaitkan sesuatu yang mutlak. Prof. Hasbi Ash-
Shiddieq dalam sejarah pengantar ilmu Al-quran/tafsirnya,
mendefinisikan muqayyad sebagai berikut: Nash Muqayyad
adalah Nash yang merujuk pada satu dan dikaitkannya dengan
suatu sifat. Dalam hal ini Hasbi mengambil contoh ungkapan
yang berbunyi: seorang budak yang beriman. Kalau dikatakan :
seorang budak yang beriman, tentu tidak termasuk budak.
Simaklah firman Allah berikut ini :






Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan dunia, kami
berikan kepadanya sebagian keuntungan dunia. (Qs Al-
Syura[46]:20)

Kalimat semacam ayat di atas adalah muthlaq (mutlak), di


mana semua yang menginginkan dunia akan diberikan oleh Allah
sebagian keuntungan dunia. Namun, kemutlakan ayat ini dibatasi
atau diikat dengan firman Allah lainnya yang berbunyi :

206
Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka
kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki
bagi orang yang kami kehendaki (Qs Al-Isra [17]:18)

Kalimat Bagi orang yang kami kehendaki di atas telah


mengikat orang yang diberikan kehidupan dunia (materi yang
berkecukupan dan lain-lainnya) terbatas untuk orang yang
dikehendaki Allah. Dan, kehidupan dunia yang diberikan-nya pun
terbatas pada apa yang dikehendaki Allah. Taqyid muthlaq
bukanlah nasakh.

D.Tabyin Al-Mubham

Tabyin berarti memperjelas dan Al-Mubham artinya kabur, tidak


terang dan masih mengundang pertanyaan. Bagi yang membaca
Al-Quran dengan teliti dan cermat akan bisa menangkap bahwa
ayat :









Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki suatu
rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan
memberi salam kepada penghuninya.
(Qs Al-Nur[24]:27)

Masih mubham, masih mengundang pertanyaan. Rumah


yang bagaimanakah ? berlaku jugakah ketentuan ini untuk rumah
yang tidak dihuni? Dengan adanya ayat :

207








Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak
berpenghuni yang didalamnya terdapat keperluanmu, dan
Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang
kamu sembunyikan. (Qs Al-Nur [24]:29)

Maka jelaslah bahwa keharusan meminta izin dan memberi


salam itu hanya berlaku untuk rumah yang dihuni, tabyin Al-
mubham seperti halnya taqyid Al-muthlaq adalah bukan nasakh.

E. Mujmal

Mujmal, secara lughawi, berarti global. Dalam pengertian


istilahnya, mujmal dalam hubungannya dengan ayat Al-Quran,
menurut Dr. Amir.Abd Al-Aziz, mempunyai definisi sebagai
berikut: sesuatu yang belum jelas tampak penunjukan
(kalalah)-nya dan tidak diketahui maksud yang dikehendakinya
secara sempurna. (Dirasat fi ulum Al-Quran, hlm. 217).

Ada dua macam mujmal. Pertama, sesuatu yang tidak bisa


dijadikan rujukan pembebanan, karena pesannya yang bersifat
global, kabur atau tidak jelas, misalnya pada firman Allah :

208








Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepadamu. Di


antara (isi)nya ayat-ayat yang
Muhkamat, itulah mutasyabihat. Adapun orang-orang yang
dalam hatinya condong
Kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang
mutasyabihat darinya untuk
Menimbulkan fitnah dan mencari-cari. Padahal tidak ada yang
mengetahui takwilnya
Kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya dalam berkata
kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya
itu dari sisi tuhan kami. Dan tidak ada yang dapat
Mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan orang-orang yang
berakal.
(Qs AliImran [3]:7)

Kedua, mujmal yang melahirkan taklif (pembebanan,


kewajiban). Ayat-ayat semacam ini harus dicari maksudnya,
sampai terbongkar maksud yang dikandungnya dan pada
akhirnya orang yang mukallaf mengamalkannya.
Mujmal terjadi karena beberapa sebab berikutini.

1. Isytirak, yakni pengertian ganda. Misalnya :





Demi malam apabila telah kelam. (Qs Al-Takwir [81]:17)

Kata yang dalam bahasa Indonesia menjadi kelam,


mempunyai dua pengertian. Ia bisa berarti menjelang malam
dan bisa pula segera meninggalkan malam. Gelap malam,

209
bisa terjadi ketika malam baru saja datang, dan bisa pula saat
malam segera akan berakhir.

2. Mengandung pengertian athaf dan istinaf.


Dalam susunan kalimat untuk kata yang terdapat pada ayat
7 surah Ali Imran di atas yang diterjemahkan menjadi
orang-orang yang ilmunya dalam bisa berkedudukan sebagai
athaf. Dengan demikian, ayat 7 surah Ali- Imran bermakna,
tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah dan
orang-orang yang ilmunya dalam. Bisa pula berkedudukan
sebagai istinaf seperti yang digunakan dalam
menerjemahkan ayat 7, surah Ali Imran di atas. Mungkin
saja, ayat-ayat Al-Quran yang bersifat mujmal ini ditangkap
sebagai ayat mansukh, padahal sesungguhnya tidak.

Untuk mencari kejelasan pengertian ayat yang bersifat


mujmal tidak ada ada keharusan hanya dnegan ayat Al-Quran
pula karena antara satu ayat Al-Quran dan ayat lainnya saling
menafsirkan. Mujmal bisa disingkat pula melalui sunah.
Wallahu Alam.

210
DI BUAT OLEH : ANGGI SAPUTRI

NPM : 1502090056

PRODI : HUKUM EKONOMI SYARIAH

MATA KULIAH : ULUMUL QURAN

BAB 16
NASIKH MANSUKH

A. Definisi Nasikh-Mansukh dan Pro-Kontra para Ulama

Pembahasan tentang Nasikh-Mansukh berangkat dari ayat Al-Quran yang


berbunyi:

211
Artinya: Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia)
lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang
sebanding dengannya.. (QS. Al-Baqarah: 106)

Dari segi bahasanya,ada kesepakatan ulama mengenai makna kata nasakh,


khususnya yang terdapat pada ayat tersebut. Para penulis Ulum Al-Quran
biasanya menurunkan nasakh dalam beberapa makna. Ia bias berarti Izalah yang
bila diterjemahkan menjadi penghilangan. Dalam pengertian nasakh yang satu
ini, ulama misalnya Al-Zarqaniy, Shubhiy Shalilh merujuk pada sebuah ayat Al-
Quran. Ayat itu berbunyi:


Artinya: . Maka Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan
itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- Nya. (QS. Al-Hajj: 52)

Orang Arab sering juga mengucapkan kalimat Dalam


ungkapan tersebut, nasakh bias diartikan menghilangkan, bisa pula melenyapkan
dan bisa pula menghapus. Sehingga bila ungkapan itu diterjemahkan ke dalam
Bahasa Indonesia menjadi: Matahari melenyapkan (menghilangkan, menghapus)
bayangan. Bila seorang pelajar menyalin tulisan dari suatu kitab ke dalam buku
catatannya, maka pelajar itu dikatakan me- nasakh. Nasakh juga bias diartikan Al-
Ihthal yakni membatalkan.
Sampai dengan pengertian lughawi-nya, perbedaan ulama tetap bermuara
pada pengertian ini. Perbedaan yang mengundang pro dan kontra di kalangan
ulama terjadi ketika mereka memasuki pembahasan kata ayat yang terdapat
pada, surah Al-Baqarah ayat 106 yang disebut di atas. Hasbi Ash-Shiddieqi
menurunkan beberapa nama yang menafsirkan ayat dengan mukjizat.
Diantaranya Syekh Muhammad Abduh (1325 H) dan Abu Muslim Al-Ashfahaniy
(322 H). Kelompok lainnya yang menjadi mazhab mayoritas ulama, tidak
mengartikan ayat di atas dengan pengertian lain. Mereka tidak mengartikan kata
ayat, kecuali dengan kata ayat itu sendiri.

212
Dengan demikian, bila surah Al-Baqarah ayat 106, di atas diterjemahkan
oleh pengikut Abduh dan Ashfahaniy, kalimatnya menjadi: Kami (Allah) tidak
mengganti suatu mukjizat atau Kami menghilangkannya, melainkan Kami
datangkan dengan yang lebih baik dari padanya atau yang sepadan dengannya.
Menurut kubu ini yang di- nasakh oleh Allah adalah mukjizat, buka ayat Al-
Quran, baik bacaan atau hukumnya, apalagi keduanya. Di dalam Al-Quran
terdapat ayat yang bermakna mukjizat. Misalnya kata ayat yang terdapat pada
surah Al-Anbiya ayat 5. Di sana Allah berfirman:



Artinya : bahkan mereka berkata (pula): "(Al Quran itu adalah) mimpi-mimpi
yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan Dia sendiri seorang penyair, Maka
hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagai-mana Rasul-
rasul yang telah lalu di-utus".

Al-Quran oleh orang yang mengingkarinya dianggap sebagai mimpi


buruk dan suatu yang mengada-ada. Karena itu orang-orang kafir meminta
kepada Nabi Muhammad Saw suatu mukjizat yang oleh Al-Quran diungkapkan
dalam surah Al-Anbiya ayat 5.
Hasbi Ash-Shiddieqi dalam bukunya Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-
Quran/Tafsir menamakan salah satu bab bukunya itu dengan Problema Naskhul
Quran. Hasbi yang tidak sepakat dengan terjadinya naskh Al-Quran menurunkan
argumentasi ulama yang semazhab dengannya, yaitu Abu Muslim Al-Ashfahaniy
yang mengatakan, Jika dihukumi ada ayat yang telah di-mansukh-kan dalam Al-
Quran berarti membatalkan sebagian isinya. Membatalkan itu berarti menetapkan
bahwa di dalam Al-Quran ada yang batal (yang salah). Lebih lanjut, Al-
Ashfahaniy berargumentasi seperti dikutip Habsi, bahwa di dalam Al-Quran
sendiri ada ayat yang menerangkan bahwasanya Allah tidak bakal mendatangkan
kebatilan. Ayat itu berbunyi:

213


Artinya: yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan
maupun dari belakangnya. (QS. Fushilat : 42)

Kemudian, dalam pandangan kelompok yang tidak menyetujui nasakh ayat


Al-Quran ini, adanya ayat-ayat yang kelihatannya bertentangan satu dengan
lainnya, sesungguhnya bisa dikompromikan atau digabungkan. Misalnya dengan
jalan mentakwil salah satu ayat yang dipandang kontradiktif itu. Contohnya, ayat
yang berbunyi:




Artinya: diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan
(tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk
ibu-bapak dan karib kerabatnya. (QS. Al-Baqarah : 180)

Ayat ini dianggap batal (mansukh) oleh kelompok pendukung terjadinya


nasikh-mansukh pada ayat Al-Quran. Pe-nasakh-nya adalah ayat-ayat pusaka
(mawarits). Akan tetapi, oleh kubu Ashfahaniy ayat ini dinilai tidak bertentangan
dengan ayat mawarits, karena tidak ada pertentangan antara memberi pusaka
dengan berwasiat mengenai sebagian pemeberian Allah. Sekiranya tetap
dipandang mansukh, maka ayat pusaka dianggap sebagai pen-takhshish (ayat-ayat
wasiat) yang insha Allah dibahas setelah setelah masalah nasakh ini. Ayat wasiat
menurut Hasbi, mewajibkan untuk kerabat, sedangkan pusaka mengecualikan
kerabat yang menerima pusaka di dalam umumnya ayat. Lebih jauh Hasbi
berargumentasi, ibu bapak tidak selamanya mengambil waris. Ibu bapak kadang-
kadang mengambil pusaka, kadang-kadang tidak, lantaran perbedaan agama,
perbudakan, dan pembunuhan.
Dalam hal itu, kelompok lain, diantaranya Imam Syafii, tetap
menerjemahkan kata ayat yang terdapat di dalam surah Al-Baqarah ayat 106

214
dengan ayat pula, bukan menjadi mukjizat. Dengan demikian para pendukung
Imam Syafii ini menerjemahkan ayat yang baru saja disebut sebagai berikut:
Kami tidak me-nasakh suatu ayat, atau Kami me-nasakh-nya, melainkan Kami
datangkan yang lebih baik darinya, atau sepadan dengannya.
Adanya dua visi penafsiran tentang kata ayat ini pada gilirannya
melahirkan sikap pro dan kontra mengenai pe-nasakh-an ayat-ayat Al-Quran.
Sudah jelas, kubu Abduh dan Ashfahaniy tidak sepakat dengan adanya ayat
nasikh (yang me-nasakh) dan mansukh (yang di-nasakh). Dan, oleh karena kubu
lainnya tetap menafsirkan ayat dengan ayat, maka tak ada jalan lain bagi kubu
ini kecuali membuktikannya sesuai dengan keluhuran dan kesucian syariat Islam
yang bersumber dari Allah. Selanjutnya pembahasan di sekitar nasikh-mansukh
ini pun menjadi kajian yang menarik.
Nasakh bagi kalangan yang mengingkarinya dianggap sebagai mimpi
buruk dan suatu yang mengada-ada. Karena itu orang-orang kafir meminta
kepada Nabi Muhammad Saw suatu mukjizat yang oleh Al-Quran diungkap
dalam ayat 5, surah Al-Anbiya dengan kata ayat seperti yang diturunkan oleh
para Rasul sebelumnya.
Nasakh secara istilah berarti Mencabut berlakunya hukum syara dengan
dalil syara yang datang belakangan. (Amir Abd Al-Aziz, hlm. 188). Ia dianggap
oleh para pendukungnya sangat mungkin dan logis. Penetapan maupun
pencabutan suatu hukum didasarkan atas pertimbangan kemaslahatan. Dr.
Shubhiy Shalih memberi alasan dalam konteks ini dengan menganalogikan
turunnya Al-Quran kepada Nabi Muhammad Saw secara berangsur-angsur. Ayat-
ayat Al-Quran diturunkan oleh Allah sesuai dengan kasus yang terjadi , sesuai
dengan realitas yang berkembang dan memperhatikan kesanggupan manusia yang
mukallaf terhadap pesan yang dibawa oleh Al-Quran. Di mata Shubhiy, nasikh
tidak lain adalah suatu jenis pendekatan dalam pengangsuran hukumn syara.
Berbeda dengan kubu kontra nasakh, Shubhiy justru melihat nasakh yang terjadi
pada ayat-ayat Al-Quran dengan kaca mata positif. Bagi penulis kitab Mabahits
fi Ulum Al-Quran ini, nasakh berarti kebijakan Allah di dalam mendidik
manusia.

215
Dengan nada membela nasakh pula Sayyid Abu Al-Qasim Al-Khui dalam
kitabnya Al-Bayyan fi Tafsir Al-Quran seolah-olah membela Shubhiy. Menurut
Khui, bisa jadi, suatu hukum ditetapkan untuk masa tertentu dan masa itu hanya
Allah yang tahu. Apabila Allah memandang, masa berlaku suatu hukum itu telah
berakhir, tidak ada salahnya Dia mencabut hukum itu dan menggantinya dengan
hukum lain sesuai dengan kemaslahatan yang bisa jadi hanya diketahui Allah. Al-
Khui mengambil misal sebagai berikut: Jika bisa saja, waktu tertentu, hari
tertentu minggu tertentu, atau bulan tertentu berpengaruh pada perbuatan tertentu,
baik maslahat maupun mafsadatnya, maka hal itu pun mungkin terjadi dalam
pelaksanaan hukum. Seperti halnya, penetapan hukum, mungkin sekali terjadi
tanpa mengaitkannya dengan masa, apa salahnya bila pendapatnya pun dikaitkan
dengan masa tertentu. (Al-Khui, hlm. 280).
Di mata pendukung-pendukungnya, nasakh bukanlah aib bagi Allah yang
Maha Sempurna. Oleh karena itu, ulama seperti Shubhiy Shalih, Al-Khui, dan
Amir Abd Al-Aziz dalam pembahasan Ulum Al-Quran mereka, langsung masuk
ke dalam materi Nasikh-Mansukh. Pada umumnya, mereka membagi masalah
yang tengah dibahas ini menjadi tiga kategori.
Pertama, ayat yang bacaan dan hukumnya di-nasakh. Ayat-ayat yang
terbilang kategori ini tidak dibenarkan dibaca dan tidak dibenarkan diamalkan.
Dalam hal ini, Dr Amir Abd al Aziz mengambil misal sebuah riwayat Al-Bukhari
dan Muslim, yaitu hadis dari Aisyah r.a. yang mengatakan:

Dahulu termasuk yang diturunkan (ayat Al-Quran) adalah sepuluh


radhaat (isapan menyusu) yang diketahui, kemudian di-nasakh dengan lima
(isapan menyusu) yang diketahui. Maka Rasulullah Saw wafat.

Maksudnya, mula-mula ditetapkan bahwa dua orang anak yang berlainan


ibu sudah dianggap bersaudara apabila salah seorang di antaranya keduanya
menyusu kepada ibu salah seorang diantara mereka sebanyak sepuluh isapan.

216
Ketetapan sepuluh isapan ini kemudian di-nasakh menjadi lima isapan. Ayat
tentang sepuluh atau lima isapan dalam menyusu kepada seorang ibu ini sekarang
tidak termaktub di dalam mushaf karena baik bacaan maupun hukumnya telah di-
nasakh. Hadis sahih ini, sekalipun mauquf kepada Aisyah, tetapi menurut
Muhammad Abd alAzhim Al-Zarqaniy mempunyai nilai marfu. Alasan
Zarqaniy, masalah seperti itu tidak terbilang pendapat, tetapi berdasarkan tauqifiy
dari Rasulullah Saw.
Contoh kategori-kategori ini dari naskah lainnya adalah hadis yang
diriwayatkan dari Abdullah bin Masud r.a berkata:Rasulullah Saw.mengajariku
suatu ayat, maka aku menghafal dan menulisnya di mushafku. Tatkala malam tiba,
kulihat ulang mushafku. Aku tak menemui sesuatu pun. Yang ada hanyalah
lembaran putih. Lalu kuberitahukan Rasulullah Saw.Rasulullah kemudian
bersabda: Wahai Ibnu Masud, itu diangkat (dicabut) kemarin (lihat, Ashab Al-
Nuzul wa bihamisyihi Al-Nasikh wa Al-Mansukh, hlm. 12).
Kedua ayat yang bacaannya di-nasakh , sedangkan hukumnya tidak. Contoh
jenis ini biasanya, diambil tentang ayat rajam. Mula-mula, ayat rajam ini terbilang
ayat Al-Quran, kemudian bacaannya di-nasakh, sementara hukumnya tetap
berlaku. Ayat yang dinyatakan mansukh (di-nasakh) bacaannya sementara
hukumnya tetap berlaku itu berbunyi:

Artinya: Jika seorang pria tua dan wanita tua berbuat zina, maka rajamlah
keduanya

Cerita tentang ayat orang tua berzina di atas diturunkan Amir Abd Aziz
berdasarkan riwayat Ubai bin Kaab. Abi Umamah bin Sahl menurunkan bunyi
yang berbeda mengenai ayat yang dianggap bacaannya mansukh itu. Umamah
mengatakan: Rasulullah telah mengajarkan kami membaca ayat rajam:

217
Artinya: Seorang pria tua dan wanita tua, rajamlah mereka lantaran apa yang
mereka perbuat dalam bentuk kelezatan (zina).

Pertanyaan sekarang; Hikmah apa yang tersimpan di balik nasakh macam


ini? Bukankah bila bacaan dan hukumnya tetap berlaku akan dapat mengundang
lahirnya pahala berganda ketimbang hanya melaksanakan hukumnya? Pertanyaan
semacam ini wajar dan logis. Menjawab pertanyaan semacam ini, Al-Zarkasui
dalam Al-Burhan fi Ulum Al-Quran-nya menurunkan jawaban penulis Al-Funun
sebagai berikut: .. agar tampak kadar ketaatan umat ini di dalam bersiap segera
mengusahakan diri memenuhi panggilan dengan jalan zhann tanpa menuntut jalur
pasti. (Ummat) bergegas seringan mungkin, seperti bergegasnya Al-Khalil (Nabi
Ibrahim a.s.) menyembelih putranya (melalui perintah yang ia terima) dengan
jalan mimpi. Mimpi, (seperti dimaklumi) adalah jalan wahyu yang terendah. (Al-
Burhan, II hlm. 37).
Ketiga, ayat yang bacaannya tetap berlaku, tetapu hukumnya tidak. Nasakh,
dalam kategori inilah yang menjadi pembahasan luas pakar di Ulum Al-Quran.
1
Dalam masalah ini pulalah, perselisihan pendapat di antara ulama terjadi.
Misalnya mengenai surah Al-Baqarah ayat 240, yang berbunyi:

Artinya: dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara


kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah Berwasiat untuk isteri-
isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak
disuruh pindah (dari rumahnya). akan tetapi jika mereka pindah
(sendiri), Maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang
meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma'ruf terhadap
diri mereka. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

218
Mulanya, jika seorang suami meninggal, sang istri, setelah berakhirnya
masa iddah, menanti selama satu tahun penuh tanpa mendapatkan warisan apa-
apa. Akan tetapi, ketetapan ini di-nasakh dengan firman Allah yang berbunyi:


3


Artinya: orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan
meninggalkan isteri-isteri (hendaklah Para isteri itu)
menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari..
(QS. Al-Baqarah : 234).
4

Setelah mengenal tiga macam aspek nasakh, berikut ini diperkenalkan


nasakh, dilihat dari segi hubungannya dengan pelaksanaan hukum. Di dalam
masalah ini, nasakh juga dibagi menjadi tiga macam.
Pertama, nasakh perintah sebelum perintah sendiri itu dilaksanakan.
Misalnya perintah Allah kepada Nabi Ibrahim menyembelih putranya, Ismail.
Perintah tu segera dicabut justru sebelum Ibrahim memotong leher putranya.
Pencabutan perintah semacam ini bisa disimak pula pada ayat berikut ini:




Artinya: Hai orang-orang beriman, apabila kamu Mengadakan
pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu
mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum
pembicaraan itu. yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih
bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan)

219
Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (QS. Al-Mujadilah : 12).

Ayat ini, menurut Al-Zarkasyi, di-nasakh oleh ayat berikutnya yang


berbunyi:






Artinya: Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu
memberikan sedekah sebelum Mengadakan pembicaraan
dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah
telah memberi taubat kepadamu Maka dirikanlah shalat,
tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah
Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah :
13)

Kedua, apa yang disebut nasakh tajawwuz. Yakni, nasakh terhadap perintah
yang diwajibkan kepada umat sebelum Islam. Misalnya, pembatalan terhadap
berkiblat ke Bait Al-Maqdis diganti menuju Kabah. Berkiblat ke Bait Al-Maqdis
diwajibkan kepada umat sebelum Islam. Kemudian perintah ini di-nasakh.
Selanjutnya umat Islam diwajibkan berkiblat ke Kabah.
Ketiga, nasakh terhadap perintah yang karena sebab tertentu yang kemudian
dibatalkan lantaran hilangnya sebab. Nasakh semacam ini mungkin nasakh yang
unik. Al-Zarkasyi mengambil missal, ketika umat Islam masih dalam keadaan
lemah dan berjumlah sedikit diperintahkan bersabar tanpa diwajibkan ber-amar
maruf nahi munkar, jihad, dan lainnya, tetapi setelah sebab itu sendiri hilang atau
dengan kata lain setelah umat Islam kuat dan berjumlah besar, maka diwajibkan
ber-amar maruf nahi munkar serta berjihad. Untuk lebih jelasnya, silakan buka
ayat 14 Surah Al-Jatsiyah.

220
B. Ayat-ayat yang Terkena Nasakh

Setelah memperkenalkan tiga jenis nasakh yang berhubungan dengan Al-


Quran. Mari lihat, pada ayat mana saja terjadi nasakh? Setelah melakukan
penelitian, para ulama dan ahli ushul bertemu kata. Mereka sepakat, bahwa
nasakh hanya terjadi pada ayat amar (perintah) dan nahi (larangan). Hatta amar
dan nahi itu berbentuk khabar (kalimat berita) yang mempunyai pesan thalab
(permintaan). Sementara pada kalimat berbentuk khabar yang bukan bermakna
thalab, nasakh tidak janji (wad) ancaman (waid) dan cerita-cerita mengenai
berbagai umat. Contohnya:

1

Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, (QS.
Al-Muminun : 1-2)




Artinya: Hai orang-orang beriman, apabila kamu Mengadakan
pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu
mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum
pembicaraan itu. yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih
bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan)
Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (QS. Al-Mujadilah : 12).

221

3

Artinya: Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada
kaumnya, (dia berkata): "Sesungguhnya aku adalah pemberi
peringatan yang nyata bagi kamu, (QS. Hud : 25).

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan


cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan
perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, Maka bagi
mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang
membakar. (QS. Al-Buruj : 10)

Ayat yang hukumnya mansukh, tetapi bacaannya tetap berlaku cukup


banyak. Syekh Imam Abu Al-Hasan Ali bin Ahmad Al-Wahidiy Al-Nisaburiy
dalam Asbab Al-Nuzul wa Bihamisyihi Al-Nasikh wa Al-Mansukh-nya
menurunkan ucapan Abu Al-Qasim. Menurut ulama yang namanya disebut paling
akhir ini, dalam hubungannya dengan nasikh mansukh, surat-surat Al-Quran
dibagi menjadi empat kelompok:
Pertama, surah yang di dalamnya tidak terdapat ayat-ayat nasikh dan tidak
terdapat ayat mansukh. Jumlahnya sebanyak 43 surah. Masing-masing adalah
surah:
1. Al-Fatihah
2. Yusuf
3. Yaasin
4. Al-Hujurat
5. Al-Rahman

222
6. Al-Hadid
7. Al-Shaf
8. Al-Jumuah
9. Al-Tahrim
10. Al-Mulk
11. Al-Haqqah
12. Nuh
13. Al-Jin
14. Al-Mursalat
15. Al-Naba
16. Al-Naziat
17. Al-Infithar
18. Al-Muthaffifin
19. Al-Insyiqaq
20. Al-Buruj
21. Al-Fajr
22. Al-Balad
23. Al-Syamsu
24. Al-Lail
25. Al-Dhuha
26. Alam Nasyrah
27. Al-Alaq
28. Al-Qadr
29. Al-Infithar
30. Al-Zalzalah
31. Al-Adiyat
32. Al-Qariah
33. Al-Takatsur
34. Al-Humazah
35. Al-Fil
36. Al-Quraisy

223
37. Al-Maun
38. Al-Kautsar
39. Al-Nashr
40. Al-Lahab
41. Al-Ikhlas
42. Al-Falaq
43. Al-Nas

Jika diperhatikan, keempat puluh tiga surah yang disodorkan Abu Al-Qasim
sebagai surah yang bebas nasikh-mansukh di atas adalah surah yang di dalamnya
tidak terdapat amar dan nahi. Sementara sebagiannya lagi hanya terdapat di
dalamnya amar tanpa nahi. Nasikh dan Mansukh memang menurut kubu pro-
nasakh pun, tidak menyentuh ayat-ayat yang membawa pesan amar (perintah) dan
nahi (larangan).
Kedua, surah yang di dalamnya terdapat nasikh tetapi tak terdapat mansukh.
Jumlahnya hanya enam surah, yaitu:
1. Al-Fath
2. Al-Hasyr
3. Al-Munafiqun
4. At-Taghabun
5. Al-Thalaq
6. Al-Ala

Ketiga, surah yang di dalamnya terdapat ayat-ayat mansukh, tetapi tidak


terdapat padanya nasikh. Dari segi bilangannya, kelompok surah ini menempai
peringkat kedua setelah surah yang tidak kemasukan nasikh dan tidak pula
kemasukan mansukh, yaitu:
1. Al-Anam
2. Al-Araf
3. Yunus
4. Hud
5. Al-Rad

224
6. Al-Hijr
7. Al-Nahl
8. Bani Isra
9. Al-Kahfi
10. Thaha
11. Al-Mumin
12. Al-Naml
13. Al-Qashash
14. Al-Ankabut
15. Al-Rum
16. Luqman
17. Al-Mashabih
18. Al-Malaikah
19. Al-Shaffat
20. Shad
21. Al-Zumar
22. Al-Zukhruf
23. Al-Dukhan
24. Al-Jatsiyah
25. Al-Ahqaf
26. Muhammad
27. Al-Basiqat
28. Al-Najm
29. Al-Qamar
30. Al-Imtihan
31. Al-Qalam
32. Al-Maarij
33. Al-Muddatstsir
34. Al-Qiyamah
35. Al-Insan
36. Abasa

225
37. Al-Thariq
38. Al-Ghasiyah
39. Al-Tin
40. Al-Kafirun

Keempat, surah yang mengandung nasikh dan mansukh berjumlah 25 surah,


yaitu:
1. Al-Baqarah
2. Ali Imran
3. Al-Nisa
4. Al-Maidah
5. Al-Anfal
6. Al-Taubah
7. Ibrahim
8. Al-Kahfi
9. Maryam
10. Al-Anbiya
11. Al-Haj
12. Al-Nur
13. Al-Furqan
14. Al-Syuara
15. Al-Ahzab
16. Saba
17. Muminin
18. Al-Syura
19. Al-Dzariyat
20. Al-Thur
21. Al-Waqiah
22. Mujaadilah
23. Al-Muzammil
24. Al-Kautsar
25. Al-Ash

226
C. Ayat-ayat yang Kena dan Bebas Nasakh

Mungkin saja ada sebagian pihak yang gemetar melihat inventarisasi surah
yang kemasukan nasakh. Sebab dari 114 surah yang ada di dalam Al-Quran,
hanya 43 surah yang bebas nasakh. Ini berarti sebagian besar surah Al-Quran
menjadi nasikh. Oleh karena itu dikatakan ada ayat yang menggantikan status
hukum ayat tertentu, maka sudah jelas ada ayat yang status hukumnya digantikan
atau bahkan dihilangkan (mansukh). Orang yang melihat ayat Al-Quran ada yang
nasikh dan mansukh sudah gemetar, mungkin keluar keringat dingin setelah ia
mempersentasikan bilangan ayat-ayat pada surah yang dinyatakan kemasukan
nasikh mansukh. Pasalnya, surah-surah itu dilihat dari segi bilangan ayatnya
thiwal dan miun termasuk yang dinyatakan kemasukan nasikh dan mansukh.
Bisa jadi, keringat dingin orang yang diandaikan di atas segera berhenti
mengucur setelah dia tahu, bahwa sesungguhnya keadaan itu tidak sebegitu jauh
memprihatinkannya. Tidak semua ayat yang terdapat dalam surah yang
dinyatakan kena dan kemasukan nasakh (nasikh dan mansukh) itu berubah
hukumnya. Lagi pula, ulama-ulama yang mendukung adanya nasakh pun
memberi kriteria pada ayat yang dimungkinkan mansukh. Nasakh tidak mungkin
terjadi kecuali pada ayat-ayat yang membawa pesan perintah dan larangan.
Sementara ayat yang susunan kalimatnya berbentuk kabar, termasuk di dalamnya
wad (janji) dan waid (ancaman), maka di sana nasakh tidak bisa masuk (lihat
Al-Itqan, II, hlm. 27).
Dalam kaitannya dengan ayat yang kemasukan nasikh atau mansukh,
kiranya menarik disimak di sini komentar Dr. Shubhiy Shalih. Penulis kitab
Mabahits fi Ulum Al-Quran ini menilai bahwa tidaklah berlebih-lebihan bila
suatu ayat dipotong menjadi dua. Separuh diantaranya dinyatakan nasikh.
Sementara yang sepotong lagi mansukh. Shubhiy mengambil missal langkah Ibnu
Al-Arabiy yang memotong ayat 105, surat Al-Maidah menjadi sebagian mansukh
dan sebagian lagi menjadi nasikh. Bunyinya:

227



Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; Tiadalah
orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila
kamu telah mendapat petunjuk.

Menurut pendapat Ibnu Al-Arabiy, kalimat


(kewajibanmu atas dirimu) mansukh oleh kalimat
berikutnya.

D. Ayat-ayat yang Tidak Kena Nasakh

Para ulama ushul, kata Dr. Amir Abd Al-Aziz, sepakat bahwa nasakh hanya
mungkin terjadi pada ayat yang menyangkut amar maruf dan nahi munkar.
Termasuk dalam kategori ini ayat-ayat yang bentuk kalimatnya khabar (berita)
bermakna thalab (permintaan, tuntutan). Di luar ayat-ayat yang bentuk kalimatnya
semacam ini, nasakh tidak terjadi. Berikut ini diturunkan beberapa ayat berbentuk
khabar yang tidak mengandung makna thalab, janji (wad) dan kisah yang tidak
mungkin terjadi nasakh.

1.

228
Artinya: dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan
saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh
(rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah,
lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan
segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang
belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami
jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah
Allah, Pencipta yang paling baik. (QS. Al-Muminun : 12-14)

2.

Artinya: Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.


perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang
tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di
dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang
bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari
pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak
di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya),
yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun

229
tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah
membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan
Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia,
dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Nur : 35)

2.

Artinya: Dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka


shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-
kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan
kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu
pemakmurnya[726], karena itu mohonlah ampunan-Nya,
kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku
Amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-
Nya)." (QS. Hud : 61)

4.





230

Artinya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang


beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh
bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa
dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang
sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan
bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan
Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah
mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap
menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu
apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah
(janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. (QS. Al-
Nur : 55).

5.

Artinya: Dan Sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa


Taurat lalu diperselisihkan tentang Taurat itu. kalau tidak ada
keputusan yang telah terdahulu dari Rabb-mu, tentulah orang-
orang kafir itu sudah dibinasakan. dan Sesungguhnya mereka
terhadap Al Quran benar-benar dalam keragu-raguan yang
membingungkan. (QS. Fushshilat : 45)

Lima ayat di atas hanyalah sekadar contoh. Tak perlu dikesankan bahwa
hanya ayat-ayat yang senada dengan contoh di ataslah yang tak kena nasakh,

231
karena pada prinsipnya semua ayat Al-Quran baik bacaan maupun hukumnya
tetap berlaku, kecuali sedikit saja ayat yang dianggap kena nasakh.

E. Ayat-ayat yang Dinilai Mengandung Kontradiksi

Ayat-ayat Al-Quran tidak mungkin mengandung kontradiksi satu sama


lainnya. Hal itu mendapat jaminan langsung dari Allah Swt seperti difirmankan
dalam salah satu ayatnya yang berbunyi:



Artinya: Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran?
kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka
mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. An-Nisa
: 82)

Yang menjadi pembahasan kali ini bukan soal apakah di dalam Al-Quran
terdapat ayat yang bertentangan satu sama lainnya? Bukan! Karena ayat-ayat Al-
Quran satu sama lainnya tidak bertentangan. Yang dibasah masalah yang kadang-
kadang oleh pembacanya dianggap bertentangan. Misalnya, ayat 51, surah Al-
Baqarah yang berbunyi:

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa
(memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam. (QS. Al-
Baqarah : 51)

Informasi Allah menjanjikan Taurat kepada Musa pada ayat ini sekilas
tampak terjadi perbedaan (dengan informasi yang diberikan ayat lain. Yaitu ayat
142 surah Al-Araf yang berbunyi:

232
Artinya: Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan
Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami
sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi)
(QS. Al-Araf : 142)

Pembaca yang kurang cermat mungkin saja menangkap ayat yang disebut
paling akhir ini berlawanan dengan ayat 51 surat Al-Baqarah di atas yang
menyebut bilangan 40 malam, karena ayat ini menyebut bilangan 30 malam.
Pembaca baru segera tahu jika jumlah 30 itu digabung dengan 10 sehingga
menjadi 40. Ayat-ayat semacam ini dianggap bertentangan, menurut Al-Zarkasyi
di dalam Al-Burhan fi Ulum Al-Quran karena beberapa sebab.
Pertama, karena berita yang diinformasikan masih terjadi proses dan
keadaan yang tidak sama. Misalnya, pada ayat-ayat yang berbicara mengenai
penciptaan manusia pertama, yakni Nabi Adam, a.s. Pada ayat 159, surah Ali
Imran dikatakan Adam diciptakan dari debu. Pada surah Al-Hijr, ayat 26, 28
dan 33 dikatakan manusia diciptakan dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
Sementara itu pada ayat 11, surah Al-Shaffat, Allah berfirman, bahwa manusia
berasal dari tanah liat. Selain itu, Allah menyebut dalam surat Al-Rahman ayat
14, bahwa bahan kejadian manusia itu dari tanah kering seperti tembikar.
Ditinjau dari asal muasalnya ayat-ayat tersebut tidak bisa dikatakan mengandung
kontradiksi (ikhtilaf). Semua itu adalah proses kejadian sebelum sampai pada
bentuk kejadian manusia pertama.
Kedua, ikhtilaf yang disebabkan oleh berbedanya topic yang dibicarakan.
Misalnya firman Allah yang berbunyi:

Artinya: Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena Sesungguhnya
mereka akan ditanya. (QS. Al-Shaffat : 24)

dan firman Allah yang berbunyi:

233
Artinya: Maka Sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat
yang telah diutus Rasul-rasul kepada mereka dan Sesungguhnya
Kami akan menanyai (pula) Rasul-rasul (Kami) (QS. Al-Araf : 6)

Pada surah lain Allah berfirman:

Artinya: Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang
dosanya. (QS. Al-Rahman : 39).

Ketiga ayat di atas berbicara tentang suatu peristiwa yang


akan dilalui manusia di hari kiamat kelas. Ayat 24, surat Al-
Shaffat dan ayat 6 surah Al-Araf seolah-olah bertentangan
dengan ayat 39, surah Al-Rahman, karena kedua ayat yang
disebut lebih dahulu menyebutkan bahwa di akhirat kelak
manusia akan diminta pertanggung jawaban melalui soal yang
akan diajukan, tetapi pada ayat yang disebut terakhir, baik
manusia maupun jin tidak bakal ditanya mengenai apa yang
telah mereka lakukan di dunia. Segala apa yang dilakukan
manusia dapat dilihat di layar monitor yang akan dipasang
nanti.



Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat
dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan
Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun,
niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Al-Zalzalah :
7-8)

234
Ayat-ayat yang mungkin dianggap kontradiktif itu
sesungguhnya tidak. Topik yang dibicarakan berbeda. Menurut
Al-Hulaimi, seperti diturunkan Al-Zarkasyi, ayat 24 surah Al-
Shaffat menyangku soal (pertanyaan tentang tauhid) dan
pembenaran rasul-rasul. Sementara ayat 39 surah Al-Rahman
berbicara menyangkut amal manusia di dunia yang tidak akan
lolos dari monitor Allah, dan amal baik maupun amal buruk itu
akan tampak kelak.
Al-Zarkasyi pun menyebut penafsiran lain dari ketiga ayat di
atas, yakni berbedanya tempat. Di hari kiamat nanti terdapat
beberapa perhentian. Ada tempat di mana manusia ditanya. Ada
tempat lagi di mana manusia diperlakukan dengan lembut dan
ada tempat di mana manusia diperlakukan denga kejam, sesuai
dengan dosa yang dibuatnya di dunia. (lihat Al-Burhan fi Ulum
Al-Quran, hlm. 55).
Ketiga, perbedaan dari segi fiil. Kesan ini mungkin terjadi
pada ayat seperti:

Artinya: Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh
mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka. (QS. Al-
Anfal : 17)

Dilihat dari pelaku langsungnya, yang membunuh orang-


orang musyrik di Perang Badar adalah kaum Muslimin. Tetapi dari
sudut pengaruh, sesungguhnya berkat bantuan Allah berupa
malaikat yang ikut berperang pada waktu itu, hujan yang turun
sebagai rahmat dan kekuatan mental, sesungguhnya semua itu
datang dari Allah. Karena itu, kata jumhur ulama, menurut
penuturan Al-Zarkasyi, afal (perbuatan) adalah makhluk Allah
yang diusahakan oleh manusia.

235
Kemungkinan salah tangakap bisa terjadi juga pada ayat
seperti:

Artinya: Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu
melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (QS. Al-Anfal : 17)

Ceritanya begini. Menurut Asbab Nuzul, ayat 17 ini, pada


waktu Perang Badar, kaum Muslimin gentar melihat kekuatan
pasukan musyrik. Nabi kemudian bermunajat kepada Allah agar
ia berkenan memberi tambahan kekuatan kepada pasukan
Muslimin yang beliau pimpin. Di antara doa yang dipanjatkan
Nabi Muhammad Saw kala itu adalah:

Allahumma ya Allah, jika Kau binasakan pasukan ini, maka


sekali-kali Kau tidak akan disembah lagi di atas permukaan bumi.

Maksudnya sekiranya pasukan Muslimin hancur, maka


Agama Allah akan lenyap karena mereka yang hadir di Perang
Badarlah yang sangat diharapkan oleh Rasulullah sebagai
balatentara yang akan memperjuangkan agama Islam. Saking
khusuknya Rasulullah berdoa, menurut riwayatnya, sampai
surbannya jatuh pun beliau tidak tahu, sampai kemudian Abu
Bakar meletakkan kembali surban Rasul yang jatuh tertiup angin
itu. Doa Rasulullah yang dipanjatkan dengan kesungguhan hati
ini rupanya dikabulkan Allah. Melalui Jibril Allah berpesan: Hai
Muhammad, ambillah segenggam pasir, dan lemparkanlah di
wajah mereka. Masih dalam Asbab Nuzul ayat ini; segenggam
pasir yang dilemparkan Rasulullah itu ternyata bisa membuat
mata pasukan musyrik yang berjumlah sekitar 900 orang
menjadi rabun. Maka dalam keadaan semacam itulah orang-

236
orang Muslim berhasil memporakporandakan pasukan musyrik
yang jumlahnya sekitar tiga kali lipat pasukan Muslimin.
Lemparan dengan segenggam pasir itulah yang dikatakan
bukan oleh Nabi Muhammad, tetapi lemparan Allah. Sebab
segenggam pasir yang dilemparkan seorang manusia kalau
bukan dengan izin Allah tidak mungkin bisa mengenai mata yang
jumlahnya Sembilan ratus pasang.
Keempat, ikhtilaf karena perbedaan hakikat dan kiasan
(majaz). Di dalam percakapan sehari-hari, orang biasa
menggunakan kalimmat atau kata-kata majazi. Orang
mendengar sebenarnya tidak. Orang melihat sesungguhnya
tidak, karena yang dilihat hanyalah kulit. Sementara isinya tidak.
Orang melihat alam, tetapi apa yang ia lihat itu tidak
memberikan arti apa-apa karena ia hanya melihat dengan mata
secara sekilas, tidak memperhatikan apa yang ia lihat itu. Di
dalam Al-Quran ungkapan semacam ini bisa ditemui. Misalnya:


Artinya: Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang
(munafik) vang berkata "Kami mendengarkan, Padahal mereka
tidak mendengarkan. (QS. Al-Anfal : 21)

Juga bisa disimak pada ayat:




Artinya: . dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang
kepadamu Padahal ia tidak melihat. (QS. Al-Araf : 198)

Kelima, ikhtilaf karena dua ungkapan. Orang yang membaca


ayat:

237


Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka
manjadi tenteram dengan mengingat Allah. (QS. Al-Rad : 28)

Dan ayat:


Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka
yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka. (QS. Al-
Anfal : 2)

Mungkin akan sulit memahami pesan kedua ayat ini. Bisa


jadi salah tangkap, sehingga menganggap di dalam kedua ayat
di atas terjadi pertentangan, karena ayat 28 surah Al-Rad
mengatakan, orang beriman bila berdzikir hatinya tenteram.
Sementara ayat 2, surah Al-Anfal mengatakan justru gemetar.
Gemetar berlawanan dengan tenteram. Padahal, pada surah Al-
Rad ayat 28, hati orang mukmin tenteram karena dadanya lega
dengan sebab mengenal tauhid, merasa ada yang melindungi
perasaan-perasaan lain yang membuat hatinya tenang.
Sementara ayat 2surah Al-Anfal menyebut orang mukmin
gemetar hatinya, karena merasa bahwa dirinya sangat
bergantung kepada Allah. Ia takut kalau hidayah yang telah ia
terima dicabut atau berkurang, atau karena ia ingat akan amal
baiknya belum seimbang bila dibandingkan dengan nikmat yang
diterimanya.

F. Diskusi di Sekitar Ayat yang Dianggap Mansukh

238
Perdebatan di sekitar nasikh-mansukh tidak terbatas pada
boleh tidaknya proses ini terjadi di dalam Kitabullah. Pada
akhirnya kebanyakan ulama termasuk Al-Zarkasyi yakin adanya.
Yang shahih adalah simai dan aqli, nasakh boleh dan terjadi,
ujar Al-Zarkasyi yakin.
Sekalipun dalam masalah nasakh Al-Zarkasyi telah
menetapkan pilihan, tetapi, tidak berarti penulis kitab Al-Burhan
ini (begitu juga ulama lainnya) telah menganggap sudah tak ada
masalah soal nasakh. Sebab, setelah itu timbul lagi persoalan
baru, yakni berapa banyak ayat Al-Quran yang dianggap
mansukh? Ayat mana saja itu?
Sekali lagi penganut agama Islam mungkin dikejutkan oleh
informasi yang boleh jadi baru diketahuinya. Apa pasalnya? Ayat-
ayat Al-Quran yang dianggap telah dibatalkan hukumnya, tetapi
masih tetap dibaca alias mansukh menurut hitungan Al-Nahas
(388 H) seperti dikutip Hasbi dalam Sejarah dan Pengantar Ilmu
Al-Quran/Tafsir-nya jumlahnya mencapai 100 buah. Keseratus
ayat Allah itu dianggap Al-Nahas berlawanan dengan ayat-ayat
lainnya. Dan tentu setelah diteliti ternyata hukumnya tak berlaku
lagi. Akan tetapi, rupanya tak semua ulama setuju dengan Vonis
nahas itu. Maka jauh ke belakang setelah Al-Nahas, seorang
ulama lain berasal dari provinsi Asyuth (karena dijuluki Al-
Suyuthiy) menghitung ulang ayat-ayat yang telah batal
hukumnya itu. Al-Suyuthiy berusaha mengkompromikan ayat-
ayat yang dipandang mansukh dengan yang dianggap nasikh.
Kesimpulan Suyuthiy, ada 20 ayat-yang, oleh karena tidak
mungkin dikompromikan dengan ayat yang dipandang nasikh-
terpaksa dinyatakan mansukh.
Angka ayat mansukh semakin menciut dalam hitungan
seoroang ulama lain. Adalah Al-Syaukaniy yang hidup sampai

239
dengan tahun 1250 H melihat 12 ayat yang dianggap Suyuthiy
tidak mungkin digabungkan ternyata olehnya bisa. Maka jadilah
hitungan ayat mansukh menurut Syaukaniy hanya 8 buah.
Sayang sekali habsi yang menurunkan tiga macam bilangan yang
dikutip di sini tidak menggelar proses pengompromian ayat yang
dianggap bertentangan sehingga melahirkan angka 100, 20 dan
8. Sekalipun begitu, proses itu masih bisa diikuti dalam uraian
singkat ini, karena kitab Al-Bayan fi Tafsir Al-Quran
menggelarnya. Silakan ikuti!
1. Ayat yang berbunyi:



Artinya: Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat


mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki
yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.
Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-
Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah :
109)

Menurut riwayat yang dikatakan bersumber dari Ibnu Abbas, Qatadah dan
Al-Suddiy, ayat ini mansukh oleh ayat perang yang berbunyi:

240



Artinya: Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak
(pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang
diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang
benar (agama Allah), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada
mereka, sampai mereka membayar jizyah[638] dengan patuh sedang mereka
dalam Keadaan tunduk.

Jika pada kedua ayat di atas dinyatakan terjadi nasikh-mansukh, maka itu
baru bisa bergantung pada konsistensi terhadap dua hal yang oleh Al-KhuI,
dianggap fasid alias invalid. Kedua hal itu adalah sebagai beriku:
Pertama, bahwa pembatalan hukum diberi batasan waktu masa berakhirnya.
Padahal nasakh hanyalah terjadi pada hukum yang justru tidak mengenal dua hal,
yaitu, tidak mengenal pembatasan waktu dan tidak mengenal tayid, karena
nasakh merupakan pembatalan hukum yang konstan (tsabit), jelas, mutlak
keberlangsungannya tanpa pengkhususan dengan masa tertentu.
Kedua, bahwa Ahl Al-Kitab termasuk yang diperintah agar diperangi. Ini
jelas tidak benar, karena ayat-ayat yang membawa pesan menyuruh perang hanya
tertuju untuk berjihad melawan orang-orang musyrik. Adapun Ahl Al-Kitab tidak
dibenarkan diperangi kecuali adanya salah satu sebab lain. Dan sebab itu, yakni:
a. karena mereka memerangi kaum Muslimin. Dalilnya:


Artinya: dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu,
(tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Baqarah : 190).

241
b. karena mereka menyebar fitnah di tengah-tengah kaum Muslimin berdalil
kepada firman
Allah yang berbunyi:

Artinya: .dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan (QS. Al-
Baqarah : 191)

c. karena membangkang mengeluarkan upeti (jizyah). Dalilnya, ayat 29 surah Al-


Taubah di
atas.

Tanpa salah satu dari tiga sebab ini, orang kafir tidak dibenarkan diperangi.
Islam tidak menyuruh memerangi orang hanya karena keyakinan orang itu
berbeda dengan Islam. Dalam urusan agama, tidak ada pemaksaan. Yang
menyebabkan orang-orang bukan Muslim diperangi adalah karena adanya aksi
yang mereka buat dan aksi itu merugikan Islam dan kaum Muslimin.

2. Friman Allah yang berbunyi:




Artinya: dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu
menghadap di situlah wajah Allah. (QS. Al-Baqarah : 115)

Ayat ini dianggap mansukh. Menurut satu riwayat yang dinisbatkan kepada
Ibnu Abbas, dikatakan bahwa nasikh (yang me-nasakh)-nya adalah:


Artinya . dan dimana saja kamu (sekalian) berada, Maka Palingkanlah
wajahmu ke arahnya (QS. Al-Baqarah : 150)

242
Artinya: dan dari mana saja kamu (keluar), Maka Palingkanlah wajahmu ke
arah Masjidil Haram. (QS. Al-Baqarah : 150)

Kedua untaian kalimat Qurani yang dinyatakan nasikh ini adalah potongan
ayat 150 surah yang sama, yakni Surah Al-Baqarah.
Riwayat turunnya ayat 115 Al-Baqarah seperti dikisahkan Al-Wahidiy Al-
Nisaburiy alam Asbab Al-Nuzid wa Bihamisyihi Al-Nasikh wa Al-Mansukh
demikian: Setiap kali Nabi Muhammad Saw., mengerjakan salat, wajahnya
menengadah ke langit dan berseru: Wahai Jibril, sampai kapankah daku salat
menghadap ke kiblat orang Yahudi. Mendengar keluhan Rasulullah Saw., Jibril
hanya mampu berucap: Aku hanyalah hamba yang diperintah. Tanyalah
Tuhanmu. Tiba-tiba saja turun ayat 115, Al-Baqarah ini. (lihat hlm. 42-43).
Masih merujuk pada kitab Al-Wahidiy Al-Nisaburiy yang disebut di atas dan
masih ada hubungannya dengan orang Yahudi, mendengar kiblat Rasulullah
berpindah dari Bait Al-Muqaddas ke Masjid Al-Haram, orang Yahudi berkoar:
Dalam hubungannya dengan berpindahnya kiblat, Muhammad tidak lepas dari
dua perkara. Adakalanya ia benar. Dan adakalanya ia salah. Kalau ia benar, kata
orang-orang Yahudi, berarti ia telah meninggalkan kebenaran. Sekiranya ia
berjalan di atas kesalahan, untuk apa ia diturut. (hlm. 40-41).
Berdasarkan sabab nuzul di atas, perubahan kiblat dari Al-Maqdis
disebabkan kerisian Nabi, karena mengikuti kiblat orang Yahudi. Kerisian Nabi
itu mendorong beliau mengadu kepada Jibril. Tapi sayang, Jibril tidak berdaya.
Karena seperti diakui Jibril sendiri, dia hanyalah pesuruh. Keluhan Nabi
Muhammad ini ditanggapi oleh Allah dan turunlah ayat 50 surah, Al-Baqarah.
Padahal bila diperiksa ayat Al-Quran sebelumnya jelas-jelas dinyatakan bahwa
perubahan kiblat itu berdasar kehendak Allah dan semata-mata karena
kemaslahatan yang hanya diketahui Allah. Dan perubahan itu bertujuan untuk
menguji kadar kesetiaan pengikut Rasulullah Saw. Mari kita simak ayat berikut
ini:

243


Artinya: Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang)
melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan
siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa Amat berat,
kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. (QS. Al-
Baqarah : 143)

Yang pasti, Al-Baqarah ayat 115 di atas menjelaskan bahwa ada arah
tertentu di mana Allah berada. Ke arah mana saja orang menghadap dalam shalat,
doa maupun ibadah lainnya ia berarti telah menghadap kepada Allah. Mari
perhatikan sabab nuzul yang diturunkan secara mauquf kepada sahabat yang biasa
dihukumi marfu kepada Nabi. Riwayat ini diturunkan pula oleh Al-Wahidiy Al-
Nisaburiy dalam kitab yang disebut tadi. Riwayatnya demikian: sekelompok
manusia yang semuanya terdiri atas orang Muslim tentu diutus Nabi, tengah
menempuh suatu perjalanan. Di tengah perjalanan itu mereka buta arah kiblat,
karenanya mereka salat menghadap bukan ke arah kiblat. Setelah tahu bahwa
mereka telah keliru dan kemudian kembali kepada Rasulullah, mereka
mengadukan hal mereka kepada Rasulullah. Setelah itu turunlah ayat 115, Al-
Baqarah.
Tidak disebutkan Al-Nisaburiy, salat apakah yang dikerjakan para musafir
ketika mereka keliru arah kiblat. Informasi tentang jenis salat para musafir itu bisa
didapat melalui kitab lain. Yakni Al-Khui dalam kitabnya Al-Bayan fi Tafsir Al-
Quran, menyebut bukan salat fardu. Kemudian, anggapan peristiwa ini terjadi
sebelum turunnya perintah menghadap ke arah Masjid Al-Haram tidak bisa
dibuktikan kebenarannya, atau menurut Al-Khui tidak Tsabit. Itulah sebabnya,
Khui menolak telah terjadi proses nasikh-mansukh pada surah Al-Baqarah ayat
150 dan 115, di atas. Wallahu Alam.

244
DI BUAT OLEH : SITI EKA WAHYUNI

NPM : 1502090178

PRODI : HUKUM EKONOMI SYARIAH

MATA KULIAH : ULUMUL QURAN

17
Israiliyyat dalam Penafsiran Al-Quran

Teks Al-Quran adalah wahyu Allah yang tidak akan berubah oleh campur
tangan manusia,tetapi pemahaman terhadap Al-Quran tidak tetap,selalu berubah
sesuai dengan kemampuan orang yang memahami isi kandungannya.dalam rangka
mengaktualkannya dalam bentuk konsep yang bisa dilaksanakan.Ini akan terus
berkembang sejalan tuntutan dan permasalahan hidup yang dihadapi
manusia,maka di sinilah celah-celah orang yang ingin menghancurkan Islam
berperan.

Pada masa Rasulullah Saw hidup,umat Islam tidak banyak menemukan


kesulitan dalam memahami petunjuk dalam mengarungi hidupnya,sebab manakala
menemukan kesulitan dalam satu ayat,mereka akan langsung bertanya kepada

245
Rasulullah Saw,kemudian beliau menjelaskan maksud kandungan ayat
tersebut.Akan tetapi,sejak Rasulullah Saw tiada,umat Islam banyak menemukan
kesulitan karena meskipun mereka mengerti bisa dijangkau oleh pikiran orang-
orang Arab.Oleh karena itu,mereka membutuhkan tafsir yang bisa membimbing
dan menghantarkan mereka untuk memahami isyarat-isyarat seperti itu.

Langkah pertama yang mereka ambil adalah melihat pada hadis Rasulullah
Saw,karena mereka berkeyakinan bahwa beliaulah satu-satunya orang yang paling
banyak mengetahui makna-makna wahyu Allah.Di samping itu,mereka
mengambil langkah dengan cara menafsirkan satu ayat dengan ayat yang
lainnya,langkah selanjutnya yang mereka tempuh adalah menanyakannya kepada
sahabat yang terlibat langsung serta memahami konteks posisi ayat tersebut.Pada
saat mereka tidak menemukan jawaban dalam keterangan Nabi atau
sahabat,mereka terpaksa melakukan ijtihad dan lantas berperang kepada
pendapatnya sendiri,khususnya mereka yang mempunyai kapasitas intelektual.

Selain bertanya kepada para sahabat senior,mereka pun bertanya juga


kepada Ahli Kitab,yaitu kaun Yahudi dan Nasrani.Hal itu mereka lakukan lantaran
sebagian masalah dalam Al-Quran memiliki persamaan dengan yang ada dalam
kitab suci mereka,terutama berbagai tema yang menyangkut umat-umat
terdahulu.Penafsiran seperti ini terus berkembang sejalan dengan perkembangan
pemikiran manusia dan kebutuhannya terhadap pemahaman Al-Quran sebagai
petunjuk bagi kehidupannya.Tanpa disadari,bercampurlah tafsir dengan
Israiliyyat.Kehadiran israiliyyyat dalam penafsiran Al-Quran itulang yang menjadi
ajang polemik di kalangan para ahli tafsir Al-Quran.

A.Defini Israiliyyat

Secara etimologis istilah israiliyyat adalah bentuk jamak dari kata


israiliyah,yakni bentuk kata yang dinisbahkan pada bangsa Israil (Israel) yang
cikal bahasanya adlah Ibrani.Kata Israil tersusun dari dua kata,yaitu Isra yang
berati hamba dan II yang berati Tuhan.Jadi,Israil adalah hamba Tuhan.Secara

246
historis, Israil berkaiatan erat dengan Nabi Yaqub bin Ishaq bin Ibrahim
a.s.,.bahwa keturunan beliau yang berjumlah 12 orang disebut Bani Israil
(keturuna israil).Di dalam Al-Quran banyak disebutkan Bani Israil yang
dinisbahkan kepada Yahudi (lihat Al-Dzahabi,Al-Israilyyat fi Al-Tafsir wa Al-
Hadis,terjemah:Didin Hafiduddin,1993:8).Misalnya pada firman Allah,yang
artinya:

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israli dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam.Yang
demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas (Al-Maidah [5]:78).

Dan telah kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu,sesungguhnya kamu akan membuat
kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan
kesombongan yang besar (Al-Isra [17]:4).

Sesungguhnya Al-Quran itu menjelaskan kepada Bani Israil sebagiad besar dari (perkara-perkara)
yang mereka berselisih tentangnya (Al-Naml [27]:78).

Secara terminologis,para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan


israiliyyat.Menurut Al-Dzahabi,israiliyyat mengandung dua
pengertian,pertama:kisah dan dongeng yang disusupkan dalam tafsir Al-Quran
dan Hadis yang asal periwayatannya kembali kepada sumbernya,yaitu
Yahudi,Nasrani,dan yang lainnya.Kedua:cerita-cerita yang sengaja diselundupkan
oleh musuh-musuh islam ke dalam tafsir Al-Quran dan Hadis yang sama sekali
tidak dijumpai dasarnya dalam sumber-sumber lama (Al-Dzahabi,ibid., 1993: 9-
10).

Defini lain dari Al-Syarbasi adalah kisah-kisah dan berita-berita yang


berhasil diselundupkan oleh orang-orang Yahudi ke dalam islam.Kisah-kisah dan
kebohongan mereka kemudian diserap oleh umat islam,selain dari Yahudi mereka
pun menyerapnya (Rosihan Anwar,Melacak unsur-unsur Israiliyyat dalam tafsir
Al-Thabariy dan Ibnu Katsir, 1999: 24-25).

Satu definisi lagi yang hampir sama,Israiliyyat adalah riwayat-riwayat


yang bersal dari Ahli Kitab,baik yang berhubungan dengan agama mereka

247
maupun yang tidak ada hubungannya sama sekali.Penisbahan riwayat Israiliyyat
kepada orang-orang Yahudi karena para perawinya berasal dari kalangan mereka
yang sudah masuk islam (Ahmad Khalil,Dirasah fi Al-Quran, 1961: 113).

Dari tiga definisi tersebut di atas tampaknya ulama-ulama sepakat bahwa


yang menjadi sumber Israiliyyat adalah Yahudi dan Nasrani dengan penekanan
Yahudi yang sumber utamanya sebagaimana tecermin dari istilah israiliyyat
itu.Abu Syubah mengatakan pengaruh Nasrani dalam tafsir sangat kecil.Lagi pula
pengaruhnya tidak begitu membahayakan akidah umat islam karena umumnya
hanya menyangkut urusan akhlak,nasihat dan pembersihan jiwa (Khalil,ibid).

Formulasi tentang israiliyyat tersebut terus berkembang di kalangan para


pakar tafsir Al-Quran dan Hadis sesuai dengan perkembangan pemikiran
manusia.Bahkan di kalangan mereka ada yang berpendapat bahwa israiliyyat
mencakup informasi-informasi yang tidak ada dasarnya sama sekali dalam
manuskrip kuno dan hanya sekadar sebuah manipulasi yang dilancarkan oleh
musuh islam yang diselundupkan pada tafsir Al-Quran dan Hadis untuk merusak
akidah umat islam dai dalam.

Meskipun Israiliyyat banyak diwarnai oleh kalangan Yahudi,kaum Nasrani


juga turut ambil bagian dalam konstalasi versi israiliyyat ini.Hanya saja dalam hal
ini,kaum Yahudi lebih populer dan dominan.Karenanya kata Yahudi lebih
dimenangkan lantaran selain Yahudi lebih lama berinteraksi dengan umat islam,di
kalangan mereka juga banyak yang masuk islam.

B.Proses Masuk dan Berkembangnya Israiliyyat dalam Tafsir Al-Quran.

Infiltrasi kisah Israiliyyat dalam tafsir Al-Quran tidak lepas dari kondisi
sosiokultural masyarakat Arab pada zaman jahiliyah.Pengetahuan mereka tentang
Israiliyyat telah masuk ke dalam banak keseharian mereka sehingga tidak dapat
dihindari adanya interaksi kebudayaan Yahudi dan Nasrani dengan kebudayaan
Arab yang kemudian menjadi jazirah islam itu.

248
Sejak tahun 70 M terjagi imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Jazirah
Arab karena adanya ancaman dan siksaan dari penguasa romawi yang bernama
Titus.Mereka pindah bersama dengan kebudayaan yang mereka ambil dari Nabi
dan Ulama mereka.Mereka mempunyai tempat yang bernama Midras sebagai
pusat pengajian kebudayaan warisan yang telah mereka terima.Mereka juga
menemukan tempat tertentu sebagai tempat beribadah dan penyebaran agama
mereka (Al-Dzahabi, op.cit.,1993:25).

Selain itu,bangsa Arab sering berpindah-pindah,baik ke arah timur maupun


barat.Mereka memiliki dua tujuan dalam bepergian.Bila musim panas pergi ke
Syam dan bila musim dingin pergi ke Yaman.Pada waktu itu di Yaman dan Syam
nanyak sekali Ahli Kitab yang sebagian besar adalah bangsa Yahudi.Karena itu
tidaklah mengherankan bila antara orang Arab dengan Yahudi terjalin hubungan.

Kontak ini memungkinkan merembesnya kebudayaan Yahudi kepada


bangsa Arab.Di saat yang demikian islam hadir dengan kitabnya yang bernilai
tinggi dan mempunyai ajaran yang bernilai tinggi pula.Dakwah Islam disebarkan
dan Madinah sebagai tempat tujuan Nabi hijrah,yang tinggal di sana beberapa
bangsa Yahudi yaitu Qurayqa,Bani Quraidah,Bani Nadzir,Yahudi
Haibar,Tayma,dan Fadak.Karena orang Yahudi bertetangga dengan kaum
muslimin,lama kelamaan terjadi pertemuan yang intensif antara keduanya,yang
akhirnya terjadi pertukaran ilmu pengetahuan.Rasulullah menemui orang
Yahudi,dan Ahli Kitab lainnya untuk mendakwahkan islam.Orang Yahudi sendiri
sering datang kepada Rasulullah Saw.untuk menyelesaikan suatu problem yang
ada pada mereka ,atau sekadar untuk mengajukan suatu pertanyaan.

Pada era Rasulullah Saw,informasi dari kaum Yahudi dikenal sebagai


Israiliyyat tidak berkembang dalam penafsiran Al-Quran,sebab hanya beliau satu-
satunya penjelas (mubayin) berbagai masalah atau pengertian yang berkaitan
dengan ayat-ayat Al-Quran,misalnya saja,apabila para sahabat mengalami
kesulitan mengenai pengertian yang berkaitan dengan sebuah ayat Al-Quran,baik
makna atau kandungannya,mereka pun langsung bertanya kepada Rasulullah.

249
Kendatipun demikian ,Rasulullah Saw juga telah memberikan semacam
green light pada umat Islam untuk menerima informasi yang menyebarkan
informasi dari Bani Israil.Hal ini tampak dalam hadis beliau:







( )
Sampaikanlah yang datang dariku walaupun satu ayat ,dan ceritakan (apa yang kamu
dengar)dari Bani Israil dan hal itu tidak ada salahnya.Barang siapa yang berdusta Ayatku,maka
siap-siaplah untuk menempati tempatnya di nereka (Hadis Ahmad dan Bukhari).

Demikian pula dalam hadis lain beliau bersabda:

:





( )






Janganlah kamu benarkan orang-orang ahli Kitab dan jangan pula kamu dustakan
mereka.Berkatalah kamu sekalian,kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan
kepada kami dan kepada apa yang diturunkan kepada kalian.Tuhan kami dan Tuhan kalian
satu,kami berserah diri kepadanya (hadis Riwayat Bukhari).

Dua Hadis di atas sebenarnya memberikan peluang atau kebebasan pada


umat Islam untuk mengambil atau menerima riwayat-riwayat dari ahli Kitab.Dua
hadis di atas juga memberikan semacam warning akan perlunya sikap selektif dan
hati-hati terhadap riwayat Ahli Kitab.

250
Dari uraian tersebut di atas dapat di atrik kesimpulan bahwa Israiliyyat
sebenarnya sudah lama muncul dan berkembang di kalangan bangsa Arab jauh
sebelum Rasulullah Saw,yang kemudian terus bertahan pada era Rasulullah
Saw.Hanya saja ia belum menjadi khazanah yang merembes dalam penafsiran Al-
Quran.

Setelah Rasulullah wafat,tidak seorang pun yang berhak menjadi penjelas


wahyu Allah.Dalam kondisi ini para sahabat mencari sumber dari Hadis.Apabila
mereka tidak menjumpai,mereka berijtihad.Riwayat dan Ahli Kitab menjadi salah
satu rujukan.Hal ini terjadi karena ada persamaan antara Al-Quran,Taurat,dan Injil
dalam hal-hal tertentu.Hanya saja Al-Quran berbicara secara singkat dan
padat,sementara Taurat dan Injil berbicara panjang lebar.

Pada era sahabat inilah Israiliyyat mulai berkembang dan tumbuh


subur.Hanya saja dalam menerima riwayat dari kaum Yahudi dan Nasrani pada
umumnya mereka amat ketat.Mereka hanya membatasi kisah-kisah dalam Al-
Quran secara global dan Nabi sendiri tidak menerangkan kepada mereka kusah-
kisah tersebut.Di samping itu mereka terkenal sebagai orang-orang yang
konsekuen dan konsisten pada ajaran yang di terima dari Rasulullah Saw,sehingga
jika mereka menjumpai kisah-kisah israiliyyat yang bertentangan dengan syariat
islam,mereka menentangnya,sedangkan apabila diperselisihkan,mereka
menangguhkannya.

Melihat begitu selektifnya para sahabat,maka keterlibatan mereka dalam


meriwayatkan Israiliyyat tidak berlebih-lebihan dan dalam batas kewajaran.

Pada era Tabiin,penukilan dari Ahli Kitab semakin meluas dan cerita-
cerita Israiliyyat dalam tafsir semakin berkembang.Sumber cerita ini adalah
orang-orang yang masuk islam dari kalangan Ahli Kitab yang jumlahnya cukup
banyak dan ditunjang oleh keinginan yang kuat dari orang-orang untuk
mendengar kisah-kisah yang ajaib dalam kitab mereka.Oleh karena itu,pada masa
tersebut muncul sekelompok mufasir yang bersumber dari orang-orang Yahudi
dan Nasrani.Akibatnya,tafsir-tafsir tersebut menjadi simpang siur dan kadang-

251
kadang mendekati takhayul dan khurafat.Di antara mereka adalah Muqatil bin
Sulaiman.

Pada perkembangan selanjutnya sikap selektif dalam periwayatan menjadi


hilang.Banyak periwayatan yang tidak melalui jalur kode etik metodologi
penelitian Ilmu Hadis dengan tidak menuliskan sanadnya secara lengkap.Setelah
era Tabiin tumbuh kecintaan yang luar biasa terhadap cerita Israiliyyat dan di
ambil secara tidak teliti,setiap cerita tersebut tidak lagi ada yang di tolak.Mereka
tidak lagi mengambil cerita tersebut dari Al-Quran walaupun tidak dimengerti
oleh akal.Mereka menganggap tidak perlu membuang cerita-cerita dan kisah-kisah
yang tidak dibenarkan untuk menafsirkan Al-Quran.

Ahmad Syadali dan Ahmad Rafii (Ulumul Quran,1997:242-243)


menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan masuknya israiliyyat dalam tafsir
yaitu:pertama,perbedaan cara antara Al-Quran,Taurat,dan Injil dalam
menerangkannya dengan global dan ringkas,karena titik tekannya adalah
memberikan petunjuk jalan yang benar bagi manusia,sedangkan Taurat dan Injil
menjelaskannya secara terperinci dalam hal waktu dan tempatnya.Ketika
menginginkan pengetahuan secara lebih terperinci tentang kisah-kisah umat Islam
bertnya kepada kelompok Yahudi dan Nasrani yang di anggap lebih mengetahui.

Kedua,ada pula pendapat yang mengatakan rendahnya kebudayaan


masyarakat Arab karena dalam kehidupan mereka banyak yang kurang pandai
dalam hal tulis menulis (ummi).Meskipun pada umumnya Ahli Kitab juga selalu
berpindah-pindah,pengetahuan mereka tentang sejarah masa lampau lebih luas.

Ketiga,ada justifikasi dari dalil-dalil naqliyah yang dipahami masyarakat


Arab sebagai pembenaran nagi mereka untuk bertanya pada Ahli
Kitab.Keempat,adalah heterogonitas penduduk.Menjelang masa kenabian
Muhammad Saw jazirah Arab dihuni jiga oleh kelompok Yahudidan
Nasrani.Kelima,adanya rute perjalanan niaga masyarakat Arab,rute Selatan adalah
Yaman yang dihuni oleh kalangan Nasrani,sedangkan rute ke Utara adalah Syam
yang dihuni oleh kalangan Yahudi.Menurut Rosihan Anwar (op.cit,1999:37)

252
sumber israiliyyat dimotori oleh tokoh-tokoh primer,yaitu Abdullah bin
Salam,nama lengkapnya adalah Abu Yusuf bin Al-Ansari.ia menyatakan
keislamannya sesaat setelah Rasulullah tiba di Madinah dlam peristiwa
hijrah,dalam perjuangan menegakkan islam,Ia termasuk dalam pejuang dalam
Perang Badar dan ikut menyaksikan penyerahan Bait Al-Maqdis ke tangan umat
Islam.Riwatay-riwayatnya banyak diterima oleh kedua putranya,Yusuf dan
Muhammad,Auf bin Malik,Abu Hurairah.Imam Bukhari pun memasukkan
beberapa riwayat darinya.

Lebih lanjut Anwar menambahkan selain tokoh tersebut tercatat nama


Kaab Al-Ahbar,nama aslinya adalah Abu Ishaq Kaab bin Mani Al-Humari yang
terkenal dengan Kaab Al-Ahbar karena pengetahuannya yang dalam,ia berasal
dari Yahudi Yaman dan memeluk Islam pada masa Umar bin Khattab.Dalam
perjuangan menegakkan Islam ia turut berjuang menuju Syam bersama kaum
muslimin lainnya.Banyak cerita Israiliyyat yang dinisbahkan kepadanya.Riwayat-
riwayatnya diterima oleh Muawiyah,Abu Hurairah,Ibnu Abbas,Malik bin Abi
Amir Al-Asbani,Atha bin Abi Rabbah,dan lain-lain.Keistikhlafannya menjadi
perdebatan para ulam,bahkan ada yang meragukan keagamaannya.

Nama lain yang terkenal saat itu adalah Wahab bin Munabbih,nama
lengkapnya adalah Abu Abdillah bin Munabbih bin Sij Al-Yamani.Ia masuk Islam
pada masa Rasulullah Saw.Dia dipandang sebagai orang yang jujur,terpecaya,dan
mendapat kepercayaan dari jumhur ulama.

C.Pengaruh Israiliyyat dalam Penafsiran Al-Quran

Menurut Zainul Hasan Rifai dalam Kisah-kisah Israiliyyat dalam Penafsiran Al-
Quran (Jurnal Hikmah No.13,Edisi Zulqaidah,1414 Muharrah 1415:12)
,masuknya Israiliyyat dalam penafsiran Al-Quran terutama yang bertentangan
dengan prinsip asasinya banyak menimbulkan pengaruh negatif pada Islam.Di
antaranya adalah merusak akiadah umat islam,seperti yang di kemukakan oleh
Muqatil maupun Muhammad dengan Zainab binti Jahsyi yang keduanya

253
mendiskreditkan pribadi Nabi yang mashum.Hal ini membawa kesan bahwa
Islam adalah agama khufarat,takhayul dan menyesatkan.Hal ini tampak pada
riwayat Al-Qurthubiy ketika menafsirkan firman Allah Swt:Para malaikat
memikul arsy dan para malaikan yang ada di sekitarnya bertasbih memuji
Tuhan... (Al-Mumin [40]:7).

Ayat ini ditafsirkan dengan mengatakan : Kaki malaikat memikul arsy


berada di bumi paling bawah,sedangkan kepalanya menjulang ke arsy
(Rifai,ibid., 1415:12).

Ditambahkannya masuknya Israiliyyat ini memalingkan perhatian umat


Islam dalam mengkaji soal-soal keilmuan Islam.Dengan larutnya umat Islam ke
dalam keasyikan menikmati kisah-kisah Israiliyyat,mereka tidak lagi antusias
memikirkan hal-hal makro yang justru berkaitan langsung dengan persoalan
umat,seperti sibuk dengan nama dan anjing Ashabul Kahfi,jenis kayu dari tongkat
Nabi Musa a.s., nama binatang yang ikut serta dalam perahu Nabi Nuh a.s., dan
sebagainya.Perincian itu tidak dinamakan Al-Quran karena memang tidak
bermanfaat.Sekiranya bermanfaat,tentu Al-Quran menjelaskan seperlunya.

Selanjutnya Al-Dzahabi (op.cit.,1993:32-33) mengatakan,Israiliyyat akan


merusak akidah kaum muslimin karena mengandung unsur penyerupaan dang
pengkonkretan (tasbih dan tajsim) kepada Allah dan mensifati Allah dengan sifat
yang tidak sesuai keagungan dan kesempurnaan-Nya.Cerita itu pun mengandung
unsur ishmah (terpeliharanya) Nabi dan para Rasul dari dosa,dan
menggambarkan mereka dalam bentuk yang menonjol syahwatnya,mendorong
mereka pada perbuatan-perbuatan buruk yang tidak pantas dan layak bagi orang
yang adil,apabila orang yang menjadi Nabi.

Israiliyyat juga memberikan gambaran seolah-olah Islam agama khufarat


dan kebohongan yang tidak ada sumbernya.Di samping itu,Israiliyyat bisa
menghilangkan kepercayaan umat Islam kepada sebagian ulama salaf,baik dari
kalangan Sahabat maupun Tabiin.Tidak sedikit cerita Israiliyyat yang munkar ini

254
disandarkan kepada Sahabat atau Tabiin,seperti Abdullah bin Salam,Kaab Al-
Ahbar,dan Wahab bin Munabbih.

Terhadap Israiliyyat,ulama salaf yang tokohnya antara lain Ibnu Taimiyah


melihat tiga bagian.Ada yang sejalan denagn Islam,ini perlu dibenarkan dan
diriwayatkan,tetapi yang masuk bagian yang tidak sejalan harus ditolak dan tidak
diriwayatkan.Selainnya tidak perlu dibenarkan dan didustakan,tetapi boleh
diriwayatkan.Pendapat serupa dikemukakan oleh Ibu Hajar Al-Asqalani
(Anwar,op.cit.,1999:42).

Di kalangan ulama Khalaf seperti Muhammad Abduh,Rasyid


Ridha,Musthafa Al-Maraghi,Mahmud Syaltut,Abu Zahrah dan Al-Biqai,ada yang
gencar mengkritik keberadaan Israiliyyat,terutama Muhammad Abduh.Menurut
Abduh ,menggunakan Israiliyyat adalah cara yang mendistorsi pemahaman
terhadap Islam.Sikap keras serupa diperlihatkan oleh Rasyid Ridha (murid
Abduh).Ia mengatakan riwayat Israiliyyat yang secar ekstrem diriwayatkan oleh
para ulama telah keluar daro konteks Al-Quran.Sikap yang sama juga,
diperlihatkan oleh Muhammad Syaltut,baginya Israiliyyat hanya mengalangi umat
Islam menemukan petunjuk Al-Quran.Kesibukan mempelajarinya telah
memalingkan mereka dari intan dan mutiara yang terkandung dalam Al-
Quran.Abu Zahrah mengatakan,Israiliyyat harus dibuang karena tidak berguna
dalam memahami Al-Quran.Bahkan Al-Biqai berargumentasi,Israiliyyat adalah
sesuatu yang mungkar (Anwar,ibid,1999:43).

Beberapa contoh penafsiran berdasarkan Israiliyyat banyak kita


jumpai,misalnya dalam tafsir Al-Thabariy.Sebagai contoh ,ayat yang
mengabadikan kisah penyembelihan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim.as:

255
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama dengan Nabi
Ibrahim,Nabi Ibrahim berkata : Hai anakku,sesungguhnya aku melihat dalam mimpi aku
menyembelihmu.Pikirkanlah apa pendapatmu?Ia menjawab,Wahai Bapakku,kerjakanlah apa
yng diperintahkan kepadamu,Inya Allha kamu akan mendapatkanku termasuk orang-orang yang
sabar.(Al-Shafat [37]:102).

Kunci persoalan yang sering menjadi perdebatan para ulama berkaitan


dengan tema ini adalah uraian tentang siapa sebenarnya yang disembelih (Al-
dzabih) pada ayat diatas.Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud itu
adalah Ismail putra Nabi Ibrahim a.s dari Siji Hajar.Sebagian ulama berpendapat
bahwa yang dimaksud adalah Ishaq a.s putranya dari Siji Sarah.Pendapat
terakhir,menurut Ibnu Katsir dan mufasir lainnya berasal dai Israiliyyat
(Muhammad Nazib Rifai,Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir,IV/2000:40).Karena
sumber tafsiran ini berasal dari keinginan mengangkat nenek moyang bangsa
Yahudi yaitu Ishaq a.s.Bahkan menurut Ibnu Katsir lagi,pendapat mereka itu
bertentangan dengan sumber-sumber ahli mereka (Rifai,ibid,IV/2000:43).

Ada dua kelompok riwayat yang masing-masing mewakili dua pendapat di


atas.Riwayat yang menjelaskan bahwa yang dimaksud Al-dzabih adalah
Ishaq,diterima dari Abi Kuraib ,Zaid bin Habil,Al-Hasan bin Dinar,dari Ali bin
Zaid bin Zadan,dari Al- Ahnaf bin Qaid dan Al- Abbas bin Abdul Muthalib dari
Nabi.Sanad Israiliyyat yang di sandarkan kepada Nabi ini ditolak oleh para
ulama.Menurut Ibnu Katsir sebagaimana ditulis oleh Syubah,riwayat itu lemah
(dhaif),gugur dan tidak dapat dijadikan hujjah sebab salah satu rawinya yaitu
Hasan bin Dinar dan gurunya Zaid bin Zadan,harus ditinggalkan periwayatannya.

Namun kelemahan-kelemahan ini tidak dikemukakan oleh Al-Thabariy


(Anwar,op.cit.,1999:83).Bahkan ia cenderung memihak kepada Israiliyyat yang
mengatakan yang disembelih adalah Ishak a.s.,meskipun tidak mengomentari
sanadnya ,ia mengomentari matannya.Ia juga mengatakan Al-Quran mendukung
riwayat itu.Untuk mendukung pendapatnya ,ia mengajukan berbagai
argumentasi ,umpamanya iya berargumentasi bahwa permintaan Nabi Ibrahim
a.s,agar dikaruniai putra ketika berpisah dengan kaumnya dan hendak hijrah ke

256
Syambersama istrinya Sarah,terjadi ketika ia belum mengenal Hajar istrinya yang
kedua.Setelah peristiwa Hijrah itu Tuhan mengabulkan doanya.Anak itulah yang
menurutnya kemudian disembelih sebagaimana yang dilihatnya dalam tiga
mimpinya.

Dalam Al-Quran,Ishak-lah yang disebut-sebut sebagai kabar gembira bagi


Nabi Ibrahim a.s.:



Maka kami memberi kabar gembira kepadanya seorang anak yang sabar (Al-Shaffat
[37]:101).

Diantara Israiliyyat yang mewarnai tafsir ada juga yang sejalan dengan Al-
Quran,tetapi jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan Israiliyyat yang
bertentangan dengan Al-Quran.Yang sejalan dengan Al-Quran,antara lain
Israiliyyat tentang firman Allah yang dikutip oleh Ibnu Katsir,yaitu:














Yaitu orang0orang yang mengikuti Rasul,Nabi Ummi yang (namanya) mereka dapati di
dalam Tauran dan Injil yang berada di sisi mereka Nabi yang menyuruh mereka mengerjakan
perbuatan maruf dan melanggar perbuatan munkar serta menghalalkan bagi mereka segala yang
baik (Al-Araf [7]:157).

Ketika menafsirkan ayat ini,Ibnu Katsir mengutip Israiliyyat yang


disampaikan oleh Al-Thabariy dari Al-Mutsanna dari Utsman bin Umar dari
Fulaih dari Hilal bin Athabin Yasar,ia berkata :Aku bertemu dengan Abdullah bin
Amr bin Ash dan bertanya kepadanya,ceritakan olehmu kepadaku tentang sifat
Rasulullah Saw yang diterangkan dalam Taurat sama seperti yang diterangkan
dalam Al-Quran:Wahai Nabi sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai

257
saksi,pemberi kabar gembira,pemberi peringatan dan pemelihara yang
ummi,engkau adalah hamba-ku,namamu dikagumi,engkau tidak kasar tidak pula
keras.Allah tidak akan mencabut namamu sebelum agama Islam tegak lurus,yaitu
setelah diucapakan tiada Tuhan yang patut disembah dengan sebenar-benarnya
kecuali Allah,dengan perantaraan engkau pula Allah akan membuka hati yang
tertutup,membuka telinga yang tuli dan membuka mata yang buta.

Ibnu Katsit mengaitkan Israiliyyat itu dengan pernyataan bahwa Imam


Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya yang diterima dari
Muhammad bin Sinan dari Fulaih,dari Hilal bin Ali dengan tambahan redaksinya
berbunyi,dan bagi Sahabat-sahabatnya di pasar,Nabi tidak pernah membalas
keburukan dengan keburukan,tetapi ia senantiasa mempunyai sifat
pemaaf.Keberadaan Israiliyyat itu dalam Shahih Bukhari menunjukkan bahwa
kualitas sanadnya shahih.

Demikian pula Israiliyyat ada yang memiliki kualifikasi tidak dapat


diterima dan tidak pula dapat didustakan kebenarannya (mauquf),contohnya
tentang kenaikan Isa Al-Masih:surah an-Nisa 158 tentang kenaikan Isa Al-Masih:







Tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya dan adalah Maha
Pengasih lagi Maha Bijaksana (Al-Nisa [4]:158).

Al-Quran yang tidak membahas secara terperinci bagaiman proses


penyerupaan dan kenaikan Isa .s.sehingga persolan ini kerap kali menjadi bahan
kontroversi di kalangan umat Islam.Umpamanya masih diperselisihkan apakah
yang serupakan dengannya itu?Kemudian yang dibunuh oleh orang-orang Yahudi
hanya satu orang atau semua sahabatnya yang ketika kejadian itu berlangsung
berada dirumah dengannya?Bila ada uraian tentang hal itu sudah bisa di pastikan
bersumberpada Israiliyyat.

Dalam hal ini Al-Thabariy mengutip Israiliyyat itu.Ia mengemukakan dua


macam riwayat yang masing-masing didukung oleh banyak sanad.Riwayat

258
pertama berasal dan Wahbah bin Munabbih yang mengatakan bahwa yang
diserupakan dengan Nabi Isa a.s. adalah seluruh sahabatnya.Ketika memasuki
rumah tersebut dan hendak membunuhnya,orang-orang Yahudi kebingungan
karena seisi rumah itu wajahnya sama,akhirnya mereka membunuh salah seorang
sahabatnya,sedangkan Nabi Isa a.s. diangkat ke langit.Riwayat kedua yang berasal
dari Qatadah yang mengatakan bahwa yang diserupakan dengannya adalah salah
seorang sahabatnya saja,ketika masuk oarng-orang Yahudi membunuh orang yang
diserupakan itu,sedangkan Nabi Isa a.s diangkat ke langit.

Ath-Thabariy lebih cenderung kepada pendapat Wahab bin Munabbih


dengan pertimbangan rasionya lebih mendekati kebenaran,jika salah satu saja
yang diserupakan,tentu para sahabatnya yakin yang dibunuh adalah oarng yang
diserupakan.Padahal sebenarnya mereka merasa kebingungan siapa yang
sebenarnya yang mereka bunuh tersebut.

Dari berbagai Israiliyyat yang mewarnai kitab tafsir,menurut penuli


setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh mufasir.Pertama mufasir
harus bersikap ekstra hati-hati kepad cerita Israiliyyat.Metodenya adalah
melakukan studi krisis sanad,dengan menyebutkan nama-nama rawi yang terlibat
dalam transmisi sebuah riwayat sehingga didapati riwayat yang didasarkan pada
sanad yang shahih.Pencantuman Israiliiyat dalam tafsir harus diberi komentar
tidak sekadar taken for garnted saja agar tidak membingungkan para pembaca
tafsir,apa pendapat pengarang sebenarnya?Apakah mendukung atau tidak terhadap
Israiliyyat yang dicantumkan pada tafsirnya?Kedua,harus diperhatikan
kesesuaiannya dengan syariat Islam.Kesesuaian ini harus dilihat dengan
membandingkannya dengan konten Al-Quran dan Hadis Nabi.Ketiga,apakah
sesuai dengan rasio atau tidak?.

259
Glosarium

Akhlak :budi pekerti;kelakuan

Akidah :kepercayaan dasar,keyakinan pokok.

Al-Dzikr :peringatan

Al-Furqan :pembeda

Al-Kitab :kitab suci yang diturunkan Allah kepada nabi-Nya

Al-quran :kitab suci umat islam yang berisi firman Allah yang

diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.Dengan


perantaraan malaikat Jibril untuk dibaca,dipahami,dan
diamalkan sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi umat
manusia.

Anshar :para pembantu perjuangan atau sahabat Nabi Muhammad


Saw dari kalangan penduduk Madinah setelah Beliau hijrah
dari Mekah ke Madinah.

Apresiasi :kesadaran terhadap nilai seni dan


budaya;penilaian/penghargaan

terhadap sesuatu.

Ashab an-nuzul :sebab-sebab turunnya Al-Quran.

260
B

Bayan :nyata,terang.

Bidah :perbuatan atau cara yang tidak pernah dikatakan atau


dicontohkan Rasulullah atau sahabatnya,kemudian
dilakukan seolah-olah menjadi ajaran Islam;pembaharuan
ajaran islam tanpa berpedoman pada Al-Quran dan
hadis;kebohongan,dusta.

Dalil :keterangan yang dijadikan bukti atau alasan suatu


kebenaran (terutama berdasarkan ayat Al-Quran);pendapat
yang dikemukakan dan dipertahankan sebagai suatu
kebenaran.

Fiqih :ilmu tentang hukum islam.

Had :batas,hingga

Hadis :sabda,perbuatan,takrir (ketetapan)Nabi Muhammad Saw


yang diriwayatkan atau diceritakan oleh sahabat untuk
menjelaskan dan menetapkan hukum, islam;sumber ajaran
islam yang kedua setelah Al-Quran.

Hafiz :penghafal Al-Quran

Harakat :baris tanda bunyi a (fatah),i (kasrah),u (damah),untuk


menandai an,in un (tanwin).

261
Holistik :berhubungan dengan sistem keseluruhan sebagai suatu
kesatuan lebih dari pada sekadar kumpulan bagian.

Ijtihad :usaha sungguh-sungguh yang dilakukan para ahli agama


untuk mencapai suatu putusan (simpulan) hukum syara
mengenai kasus yang penyelesaiannya belum tertera dalam
Al-Quran dan Sunnah.

Ilham :petunjuk tuhan yang timbul di hati;pikiran yang timbul dari


hati;sesuatu yang menggerakkan hati untuk mencipta.

Isyarat :segala sesuatu (gerakan tangan,anggukan kepala dan


sebagainya)yang dipaki sebagai tanda atau alamat.

Justifikasi :putusan (alasan,pertimbangan,dan


sebagainya);penyesuaian.

Kabilah :suku bangsa;kaum yang berasal dari satu ayah.

Kontradiksi :pertentangan antara dua hal yang sangat berlawanan.

Korelasi :hubungan timbal balik atau sebab akibat.

Lafaz :ucapan

Makhraj :daerah artikulasi;ketepatan ucapan.

Mansukh :batal.ditiadakan;terhapus;tidak berlaku lagi.

262
Mazhab :haluan atau aliran mengenai hukum fikih yang menjadi
ikutan umat islam (dikenal empat mazhab,yaitu mazhab
Hanafi,Maliki,Syafii,dan Hambali).

Mufasir :orang yang menerangkan makna (maksud) ayat Al-


Quran;ahli tafsir.

Mukjizat :kejadian (peristiwa) ajaib yang sukar di jangkau oleh


kemampuan akal manusia.

Munasabah :cocok,sesuai;tepat benar;kesesuaian,kesamaan.

Naqliyah :berdasarkan Al-Quran dan hadis.

Nasikh :hapus;menghapuskan.

Nuzul Al-Quran :Nuzulul Quran;turunnya (wahyu) Al-Quran pertama kali


kepada Nabi Muhammad Saw.ketika Beliau menyepi di
Gua Hira pada tanggal 17 Ramadan pada usia Beliau 40
tahun.

Qari :pembaca Al-Quran (laki-laki).

Qiraat :hal-hal yang berhubungan dengan cara pembacaan Al-


Quran;pembacaan ayat-ayat Al-Quran;bacaan.

Rasm Al-Quran :tata cara menulis Al-Quran

Rukhshah :kemudahan yang diberikan Allh Swt.kepada seseorang


karena suatu sebab tidak dapat melaksanakan
(menunaikan)ibadah wajib (salat dan puasa secara
sempurna).

263
S

Sai :berjalan dan berlari-lari kecil peluang pergi tujuh kali dari
Safa ke Marwa pada waktu pelaksanaan ibadah haji atau
umrah.

Syariat :hukum agama yang menetapkan peraturan hidup


manusia,hubungan manusia dengan Allah Swt.hubungan
manusia dengan manusia dan alam sekitar berdasarkan Al-
Quran dan hadis.

Tawil :keterangan;penjelasan;penafsiran makna ayat Al-


Quran,mengandung pengertian yang tersirat (implisit).

Tafsir :keterangan atau penjelasan tentang ayat-ayat Al-Quran


agar maksudnya lebih mudah
dipahami;keterangan,penjelasan.

Takhshish :pembatasan,pengkhususan.

Tarikh :perhitungan tahun;angka


(bilangan(tahun;tanggal;sejarah;riwayat.

Tarjamah :menyalin (memindahkan)suatu bahasa ke bahasa


lain;mengalihbahasakan.

Ulama :orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama
islam.

Ulumul Quran :ilmu yang membahas masalah-masalah yang berhubungan


dengan Al-Quran.

264
Umat :para penganut (pemeluk,pengikut)suatu agama;penganut
nabi;makhluk manusia.

Urgensi :keharusan yang mendesak;hal yang sangat penting.

Wahyu :petunjuk dadi allah yang diturunkan hanya kepada para


nabi dan rasul melalui mimpi dan sebagainya.

265
Daftar Pustaka

Amal, Taufik Adnan. 2001. Rekonstruksi Sejarah Al-Quran.Yogyakarta:Forum


Kajian

Agama dan Budaya.

Anwar, Rosihan. 2007.Ilmu Al-Quran. Cet. I; Bandung: Pustaka Setia.

Baidan, Nashruddin. 1998. Metodologi Penafsiran Al-Quran. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar.

CD Rom Maktabah Syamilah.

Chirzin, Muhammad. 1998. Al-Quran dan Ulumul Quran. Yogyakarta: Dana


Bhakti Prima

Yasa.

Departemen Agama RI. 1990. Tafsir dan Ilmu Tafsir. Cet. II. Jakarta:Direktorat
Jenderal

Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.

Departemen Agama RI. 2005. Al-Quran dan terjemahnya. Cet. V. Bandung: CV.

Diponegoro.

Dzahabi, Muhammad Husain. 1976. Al-Tafsir wa Al-Mufassirun. Mishr: Dar al-


Kutub wa al

Hadits.

266
Dzahabi, Muhammad Husain . 1993. Al Israiliyyat fi Tafsir wa Al-Hadits.
Terjemah Didin

Hafiduddin. Jakarta: Litera Antar-Nusantara.

Ghani, Busthami Abdul. 1986. Al-Quran sebagai Mukjizat dan Hidayat dalam
Beberapa

Aspek Ilmiah tentang Al-Quran. Jakarta: Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran


(PTIQ).

Ibrahim, 1985. Al-Mujam al Wasith. Cet . III. Kairo: Dar al-Handasiah.

Jauziyah, Ibnu al-Qayim. Tt. Al-Tibyan fi Aqsam Al-Quran. Birut: Dar al-Fikr.,
Husni,

Muhammad bin Alawy al-Maliki. 1999. Zubdah al-Itqan fi Ulumul Al-


Quran. Birut:

Dar al-Fikr.

Katsir, Ibnu. 1991. Tafsir Al-Quran al-Azhim. Juzl. Birut: Dar al- Fikr.

Khalil, Sayyid Kamal. 1961. Dirasah fi Al-Quran. Mishr: Dar al-Marifah.

Mabad, Muhammad Ahmad. 1996. Nafhat min Ulum Al-Quran. Mishr; Dar al-
Salam

Mardan. 2009. Al-Quran: Sejarah Pengantar Memahami Al-Quran Secara


Utuh. Jakarta:

Pustaka Mapan.

Menurut Zainal Hasan Rifai. 1415. Kisah-kisah Israiliyat dalam penafsiran Al-
Quran.

Jurnal Hikmah No. 13,Edisi Zulqaidah, 1414 Muharrah.

267