Anda di halaman 1dari 6

AKUNTANSI SYARIAH

REVIEW JOURNAL

Judul Sebuah kajian mengapa akuntansi syariah masih sulit


tumbuh subur di Indonesia

Jurnal Jurnal Akuntansi & Invenstasi

Download http://journal.umy.ac.id/index.php/ai/article/view/486

Volume & Vol. 13 No. 2, halaman: 161-179


Halaman

Tahun 2012

Penulis Virginia Nur Rahmanti

Reviewer Tengku Eka Susiawaty

Tanggal 01 Mei 2017

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil dari analisis dari pihak
akademis dan penyusunan standart atas stereotipe masyarakat yang
menganggap bahwa akuntansi syariah tidak berbeda secara
substansial dengan akuntansi konvensional.

Rumusan Masalah
Apakah yang mendasari stereotipe masyarakat masih menganggap bahwa
perbankan syariah tidak berbada dengan perbankan konvensional

1
Landasan Teori
Lahirnya sistem syariah dilatarbelakangi oleh semakin berkembangnya
masyarakat muslim di Indonesia yang diiringi dengan kesadaran
mereka terhadap ketidakadilan skema perbankan konvensional. Alasan
lain diungkapkan oleh Setiawan (2006) bahwa pergeseran sistem
konvensional ini disebabkan pula oleh keinginan perubahan terhadap
sistem sosiol politik dan ekonomi yang berlandaskan prinsip-prinsip
Islam dan kepribadian Islam yang lebih kuat. Keinginan umat Islam
akan lahirnya bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip
syariah Islam (bank syariah) sesungguhnya sudah sejak lama digagas
oleh para tokoh dan cendikiawan muslim Indonesia. Seiring dengan
semakin lamanya kontroversi mengenai hukum bunga bank di kalangan
ulama, gagasan-gagasan mendirikan Bank Syariah semakin sering
disuarakan umat Islam di Indonesia. Sampai pada tahun 2012
peningkatan kuantitas Lembaga Keuangan Syariah (LKS) baik yang
berlevel makro maupun mikro (LKMS) tidak bisa diremehkan lagi. Kabar
baik ini diiringi oleh semangat dewan penyusun standar syariah yang
mulai menggeliat kontribusi pemikirannya, terlebih ketika kabar bahwa
perbankan syariah mampu bediri tegak di tengah pusaran badai krisis
global yang terjadi pada tahun 2008 silam. Namun demikian, ternyata
upaya melahirkan sebuah system baru tidak semudah membalik
telapak tangan, ternyata eksistensi LKS tidak lepas dari kritikan
masyarakat. Sebagian besar dari mereka masih menyimpulkan bahwa
mekanisme perbankan syariah tidak berbeda dengan konvensional
(Zaidi, 2012; Primasari, 2010). Lebih jauh mereka mengungkapkan
bahwa ternyata LKS hanyalah institusi konvensional yang
menggunakan bahasa Arab untuk indetifikasi produk dan transaksinya.

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan paradigma interpretif dengan pendekatan
fenomenologi. Menurut Mulawarman (2010) memaparkan bahwa sama
halnya dengan paradigma fungsionalis, paradigma interpretif
menganut sosiologi keteraturan, tetapi menggunakan pendekatan
subjektifisme dalam analisis sosialnya, sehingga hubungan mereka
dengan sosiologi keteraturan bersifat implisit/tersirat. Lebih lanjut
tentang pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini, Burrel and
Morgan (1974) membagi pandangan dalam paradigma interpretif
menjadi fenomenologi transedental dan eksistensial. Fenomenologi
transendental/murni ini menghubungkan antara kesadaran dengan
fenomena dunia.

1
Sumber & Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan secara empiris dengan memilih informan yang
meliputi praktisi (pengelola lembaga keuangan),dewan penyusun
standar (DSAS) dan akademisi (dosen dan mahasiswa). Pihak praktisi
yang dipilih oleh peneliti adalah perwakilan dari beberapa bank umum
syariah yang berlevel makro dan beberapa LKMS seperti BPRS dan BMT
yang berlokasi di Malang dan Tulungagun.
Menurut (Amiruddin & Asikin : 2004) penelitian empiris adalah penelitian
yang berfokus meneliti suatu fenomena atau keadaan dari objek
penelitian secara detail dengan menghimpun kenyataan yang terjadi
serta menggembangkan konsep yang ada. Metode pengumpulan data
dengan menggunakan analisis literatur, wawancara dan observasi.

1
Hasil & Pembahasan
Dari pihak pengelolah lembaga keuangan menyampaikan adanya
Ketidaksinkronan pada model laporan keuangan versi PSAK syariah
yang telah diterbitkan oleh IAI pada tahun 2011. Ketidaksesuaian
antara standar PSAK syariah dan implementasinya pada perbankan,
menjadi salah satu sasaran kritik bagi para pemikir/pengamat syariah,
khususnya PSAK nomor 100 tentang Kerangka Dasar Penyusunan dan
Penyajian Laporan Keuangan serta nomor 101 tentang Penyajian
Laporan Keuangan Syariah. Sebagai sebuah produk dari hasil pemikiran
manusia yang menginginkan kondisi yang sempurna, peluang
terjadinya deviasi antara standar dan praktik atas PSAK syariah tidak
dapat dihindari.
Dari pihak penyusun standar yang menilai bahwa kegagalan
impelementasi PSAK syariah karena ada 3 faktor yaitu: regulasi,
pelaksana (SDM) dan msyarakat. Yang mana ketiganya saling berkaitan
terhadap berhasil atau tidaknya implementasi PSAK syariah tersebut.
Pengelola LKMS pada salah satu BMT di Malang, peneliti mencoba
untuk mengeksplorasi praktik syariah dalam lembaga tersebut. Dari
paparan sang manajer, menurut penilaian beliau praktik syariah yang
selama ini dijalankan telah sesuai dengan prinsip syariah. Demikian
pula dari penilaian peneliti bahwa tidak ada permasalahan dengan
praktik syariah di dalam BMT tersebut, namun ada hal lain yang
diungkapkan beliau terkait kesulitannya dalam hal penyusunan laporan
keuangan. Minimnya keahlian (skill) yang dimiiki personil pengelola
BMT tentang penyusunan laporan keuangan telah membuat model
laporan keuangan yang disusunnya tidak informatif. Dan ada juga yang
berpendapat PSAK menjadi standar yang tidak implementatif karena
tidak sesuai dengan kebutuhan LKMS yang cenderung lebih sederhana
dibandingkan dengan bank umum syariah.
Dari bidang akademisi menyampaikan pula suatu hasil pengamatan
berkunjung ke bank syariah ada seorang nasabah yang ingin
mengajukan pinjaman. Ternyata pihak bank meminta si nasabah untuk
menyiapkan laporan proyeksi selama 10 tahun ke depan. Fenomena ini
ditunjang dengan pengkajian sebuah artikel karangan Weil (1990) yang
mengupas habis penggunaan Time Value of Money (TVM) pada
beberapa aktivitas, seperti dana pensiun. Weil (1990) menjelaskan
sebenarnya akuntansi selalu menggunakan time value of money
berkenaan penentuan waktu (timing) terhadap transaksi nilai investasi
serta kepastian penilaian yang dipengaruhi nilai uang. Dari kejadian
diatas beliau menyampaikan pula bahwa akuntansi syariah sama
halnya dengan akuntansi konvensional. Satu pernyataan beliau yang
sangat menarik disampaikan, dalam merumuskan akuntansi syariah,
seharusnya syariah yang masuk ke akuntansi, bukan sebaliknya
akuntansi yang masuk syariah. Ketidaksyariahan akuntansi syariahkini
terjadi adalah karena akuntansi yang memasuki syariah, jadi konsep
syariah dipaksa untuk mengikuti akuntansi konvensional yang selama
ini telah tertancap di dalam pemikiran masyarakat luas.

1
1
Kesimpulan
Ternyata penilaian praktik perbankan syariah di Indonesia masih jauh dari
syariat Islam adalah benar. Benar karena telah melalui pembuktian empiris
dengan observasi ke LKS dan dari pengakuan si pelaku (pengelola
perbankan syariah).
Stereotipe masyarakat yang menganggap bahwa akuntansi syariah tidak
berbeda substansial dengan akuntansi konvensional dalah benar.
Terbukti dari hasil penelitian tentang kritik terhadap PSAK syariah yang
dilakukan oleh pihak akademisi baik dosen maupun mahasiwa. Dari
hasil penelitian empiris diatas, ternyata permasalahan mendasar yang
menyebabkan penyimpangan praktik syariah dari syariat Islam adalah
karena faktor SDM. Kekurangpahaman dan keengganan mereka untuk
memahami syariah secara holistic menjadikan praktik syariah dinilai
sebagai hasil duplikasi dari akuntansi konvensional. Pada akhirnya, jika
kondisi seperti ini diacuhkan, maka kejayaan umat seperti yang
diharapkan dalam Islam sulit tercapai.

Kelebihan Penelitian
Secara konten keseluruhan jurnal ini sudah terlihat sangat baik dalam hal
mendeskripsikan apa yang ingin disampaikan oleh peneliti dan mudah
dipahami maksud dan tujuannya oleh pembaca.

Kelemahan Penelitian
Penulis perlu menambah literatur-literatur untuk dijadikan bahan
pembanding dalam melakukan penelitian karena dilihat dari daftar
pustaka yang dicantumkan penulis terdapat jurnal-jurnal penelitian
terdahulu sebagai bahan pembanding tetapi tidak dimasukan kedalam
jurnal. Dalam sebuah penelitian sumber pustaka tidak hanya
bersumber dari buku, tetapi juga bersumber dari jurnal-jurnal, internet,
sumber hukum, makalah/paper, surat kabar, majalah, dll..