Anda di halaman 1dari 16

SISTEM PENGENDALIAN

MANAJEMEN SEKTOR PUBLIK

A. Sistem Pengendalian Manajemen Sektor Publik


Setiap organisasi baik organisasi publik maupun swasta memiliki tujuan yang hendak
dicapai. Untuk mencapai tujuan organisasi tersebut diperlukan strategi yang dijabarkan dalam
bentuk program-program atau aktivitas. Organisai memerlukan sistem pengendalian
manajemen untuk memberikan jaminan dilaksanakannya strategi organisasi secara efektif dan
efisien sehingga tujuan organisasi dapat dicapai. Pengendalian manajemen meliputi beberapa
aktivitas yaitu :
1. Perencanaan
2. Koordinasi antar bagian dalam organisasi
3. Komunikasi informasi
4. Pengambilan Keputusan
5. Memotivasi orang-orang dalam organisasi agar berperilaku sesuai dengan tujuan
organisasi
6. Pengendalian
7. Penilaian Kinerja.

B. Tipe Pengendalian Manajemen


Tipe pengendalian manajemen dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu :
1. Pengendalian preventif
2. Pengendalian operasional
3. Pengandalian kinerja

C. Struktur Pengendalian Manajemen


Struktur pengendalian manajemen termanifestasi dalam bentuk struktur pusat
pertanggung jawaban (responsibility centers). Pusat pertanggung jawaban adalah unit
organisasi yang dipimpin oleh manajer yang bertanggung jawab terhadap aktivitas pusat
pertanggung jawaban yang dipimpinnya.
Pusat-pusat pertanggugjawaban
Pada dasarnya terjadi empat jenis pusat pertanggung jawaban, yaitu :
1. Pusat Biaya
2. Pusat Pendapatan
3. Pusat Laba
4. Pusat Investasi
Hubungan antara pusat pertanggung jawaban dengan pengendalian anggaran. Manajer
pusat pertanggungjawaban, sebagai holder memiliki tanggung jawab yang untuk
melaksanakan anggaan. Pengendalian anggaran meliputi pengukuran terhadap output dan
belanja yang riil dilakukan dibandingkan dengan anggaran. Adanya perbedaan atau varians
antara hasil yang dicapai dengan yang dianggarkan kemudian dianalisis untuk diketahui
penyebabnya dan dicari siapa yang bertangungjawab atas terjadinya varians tersebut.
Struktur pusat pertanggungjawaban hendaknya sejalan denngan program atau struktur
aktivitas organisai. Setiap jenis pusat pertanggungjawaban membutuhkan data pengeluaran
dan output yang dihasilkan selama masa anggaran.
Keberadaan departemen anggaran dan komite anggaran pada pusat
pertanggungjawaban sangat perlu untuk membantu terciptanya anggaran yang efektif.
Departemen anggaran memiliki fungsi sebagai berikut ;
1. Menetapkan prosedur dan formulir untuk persiapan anggaran
2. Mengkoordinasikan dan membuat asumsi-asumsi sebagai dasar anggaran
3. Membantu mengkonsumsikan anggaran ke seluruh bagian organisasi
4. Menganalisis anggaran yang daiajukan dan membuat rekomendasi kepada budgetee
dan manajer pusat pertanggungjawaban
5. Menganalisis kinerja anggaran yang dilaporkan, menginterprestasikan hasil, dan
menyiapkan ikhtisar laporan untuk manajer pusat pertanggungjawaban
6. Menyiapkan pembuatan revisi anggaran jika diperlukan

D. Proses Pengendalian Manajemen Sektor Publik


Pengendalian Manajemen dapat dilakukan secara formal maupun non formal
Saluran komunikasi formal terdiridari aktiivitas formal dalan organisasi yang meliputi :
1. Perumusan strategi
2. Perencanaan strategis
3. Penganggaran
4. Operasional
5. Evaluasi Kinerja
Perumusan strategi adalah proses penentuan visi, misi, tujuan, sasaran, target (outcome),
arah dan kebijakan, serta strategi organisasi. Perumusan strategi menghasilkan strategi global
(makro) atau disebut corporate level strategy. Salah satu metode penentuan strategi adalah
analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat).
Lima proses perumusan strategi :
Pernyataan misi dan tujuan umum organisasi
Analisis atau scanning lingkungan
Profil internal dan audit sumber daya
Perumusan, evaluasi, dan pemilihan strategi
Implementasi dan pengendalian rencana strategi

Sementara ini terdapat delapan langkah perumusan strategi, Perencanaan strategi adalah
proses penentuan program-program, aktivitas atau proyek. Tujuan utama perencanaan
strategic adalah untuk meningkatkan komunikasi antara manajer puncak dengan manajer
dibawahnya.
Perencanaan strategis dapat digunakan untuk menbantu mengantisipasi dan
memberikan arahan perubahan. Perencanaan strategis perlu ditranslasikan dalam bentuk
tindakan kongkrit, maka harus didukung oleh hal-hal dibawah ini yaitu :
1. Struktur pendukung
2. Proses dan praktik implementasi dilapangan
3. Kultur Organisasi.
Struktur organisasi hendaknya dapat mendukung pelaksanaan strategi. Perencanaan
strategis tidak akan efektif jika prosedur dan sistem pengendalian tidak sesuai dengan
strategis.
Tahap penganggaran dala proses pengandalian menejemen merupakan tahap dominan.
Pengandalian manajemen melalui system penilaian kinerja dilakuakn dengan cara
menciptakan mekanisme reward & punishment. Imbalan (reward) dapat berupa financial
seperti pshycological reward dan social reward.
AKUNTANSI YAYASAN
A. KARAKTERISTIK DAN LINGKUNGAN YAYASAN
1. Pengertian Dan Ruang Lingkup Yayasan
Menurut UU No. 16 Tahun 2001, sebagai dasar hukum positif yayasan, pengertian
yayasan adalah badan hukum yang kekayaannya terdiri dari kekayaan yang dipisahkan dan
diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu dibidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan.
Yayasan dapat melakukan kegiatan usaha untuk menunjang pencapaian maksud dan
tujuannya dengan cara mendirikan badan usaha dan/atau ikut serta dalam suatu badan usaha.
Yayasan berbeda dengan perkumpulan karena perkumpulan pengertian yang lebih
luas, yaitu meliputi suatu persekutuan, koperasi, dan perkumpulan saling menanggung.
Selanjutnya, perkumpulan terbagi atas 2 jenis, yaitu:
a. Perkumpulan yang berbentuk badan hukum, seperti PT, Koperasi, dan perkumpulan saling
menanggung.
b. Perkumpulan yang tidak berbentuk badan hukum, seperti persekutuan perdata, CV, dan
Firma.
Dilain pihak, yayasan merupakan bagian dari perkumpulan yang berbentuk badan
hukum dengan pengertian yang dinyatakan dalam pasal 1 Butir 1 UU No 16 Tahun 2001
tentang yayasan, yaitu suatu badan hukum yang kekayaannya terdiri dari kekayaan yang
dipisahkan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan
dengan tidak mempunyai anggota.
Yayasan sebagai suatau Badan Hukum mmpu dan berhak serta berwewenang untuk
melakukan tindakan-tindakan perdata. Hak dan kewaiban yang dimiliki oleh yayasan dan
perkumpulan yang berbentuk Badan Hukum adalah sama, yaitu sebagai berikut:
Hak : berhak untuk mengajukan gugatan
Kewajiban : wajib mendaftarkan perkumpulan atau yayasan kepada instansi yang berwenang
untuk mendapatkan status badan hukum

2. Sifat Dan Karakteristik Yayasan


a. Tujuan Yayasan
Setiap organisasi, termasuk yayasan, memiliki tujuan yang spesifik dan unik yang
dapat bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Tujuan yang bersifat kuantitatif mencakup
pencapaian laba maksimum, penguasaan pangsa pasar, pertumbuhan organisasi, dan
produktifitas. Sementara tujuan kwalitatif dapat di sebutkan sebagai efensiensi dan
efektivitas organisasi, manajemen organisasi yang tangguh, moral karyawan yang tinggi,
reputasi organisasi, stabilitas pelyanan kepada masyarakat, dn citra perusahaan.
b. Visi
Visi merupakan pandangan kedepan dimana suatu organisasi akan diarahkan. Dengan
mmpunyai visi, yayasan dapat berkarya secara konsisten dan tetap eksis, antisipatif, inovatif,
serta produktif.

c. Misi
Seluruh unsur yayasan dan pihak yang berkepentingan dapat mengetahui serta
mengenal keberadaan dan peran yayasannya. Misi harus jelas dan sesuai dengan tugas pokok
dan fungsi. Misi juga terkait dengan kewenangan yang dimiliki oleh yayasan berdasarkan
peraturan perundangan atau kemampuan penguasaan teknologi sesuai strategi yang dipilih.
d. Sumber Pembiayaan/Kekayaan
Sumber pembiayaan yayasan berasal dari sejumlah kekayaan yang dipisahkan dalam
bentuk uang atau barang. Selain itu, yayasan juga memperoleh sumbangan atau bantuan yang
tidak mengikat seperti berupa:
a) Wakaf
b) Hibah
c) Hibah Wasiat
d) Perolehan lain yang tidak bertentanagn dengan anggaran dasar yayasan atau peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

e. Pola Pertanggung Jawaban


Pertanggungjawaban manajemen merupakan bagian terpenting bagi kredibilitas
manajemen di yayasan. Tidak terpenuhinya prinsip pertanggungjawaban tersebut dapat
menimbulkan implikasi yang luas.
f. Struktur Organisasi Yayasan
Struktur organisasi yayasan merupakan turunan dari fungsi, startegi, dan tujuan
organisasi. Sementara itu, tipologi pemimpin, termasuk pilihan dan orientasi organisasi,
sangat berpengaruh terhadap pilihan struktur birokrasi pada yayasan. Kompleksitas organisasi
sangat berpengaruh pada struktur organisasi.
g. Karakteristik Anggaran
Anggaran merupakan artikulasi dari hasil perumusan strategi dan perencanaan
strategik yang telah dibuat. Dalam bentuk yang paling sederhana, anggaran merupakan suatu
dokumen yang menggambarakan kondisi keuangan yayasan yag meliputi informasi mengenai
pendapatan, belanja, dan aktivitas
h. Sistem Akuntansi
Sistem akuntansi merupkan prinsip akuntansi yang menentukan kapan transaksi
keuangan harus diakui untuk tujuan pelaporan keuangan. Sistem akuntansi ini berhubungan
dengan waktu pengukuran dilakukkan dan pada umumnya, bisa dipilih menjadi sistem
akuntansi berbasis kas dan berbasis aktual.

3. Kedudukan Hukum Yayasan


a. Kedudukan Hukum Yayasan dalam Sistem Hukum Indonesia
Yayasan adalah suatu entitas hukum yang keberadaannya dalam lalu lintas hukum di
Indonesia sudah diakui oleh masyarakat berdasarkan realita hukum positif yang hidup dan
berkembang dalam masyarakat Indonesia. Kecenderungan masyarakat memilih bentuk
yayasan disebabkan karena:
a) Proses pendiriannya sederhana
b) Tanpa memerlukan pengesahan dari pemerintah
c) Persepsi masyarakat bahwa yayasan bukan merupakan subjek pajak
Pengakuan yayasan sebagai badan hukum berarti ada subjek hukum yang mandiri.
Secara teoretis, adanya kekayaan yang terpisah, tidak membagi kekayaan atau
penghasilannya kepada pendiri atau pengurusnya, mempunyai tujuan tertentu, mempunyai
organisasi yang teratur, dan didirikan dengan akta notaris merupakan karakter yayasan.
Berdasarkan hukum kebiasaan dan asumsi hukum yang berlaku umum di masyarakat, ciri-ciri
yayasan dapat dirinci sebagai berikut:
1) Eksistensi yayasan sebagai entitas hukum di Indonesia belum didasarkan pada perturan
perundang-undangan yang berlaku.
2) Pengakuan yayasan sebagai badan hukum belum ada dasar yuridis yang tegas, berbeda
halnya dengan PT. Koperasi, dan badan hukum yang lain.
3) Yayasan dibentuk dengan memisahkan kekayaan pribadi pendiri untuk tujuan nirlaba, tujuan
religius, sosial keagamaan, kemanusiaan, dan tujuan ideal yang lain.
4) Yayasan didirikan dengan akta notaris atau dengan surat keputusan pejabat yang
bersangkutan dengan pendirian yayasan.
5) Yayasan tidak memiliki anggota dan tidak memiliki oleh siapapun, namun memunyai
pengurus atau organ untuk merealisasikan tujuan yayasan.
6) Yayasan mempunysi keduduksn ysng mandirir sebagai akibat adanya kekayaan yang terpisah
dari kekayaan pribadi pendiri atau pengurusnya, dan mempunyai tujuan sendiri yang berbeda
atau lepas dari tjuan pribadi pendiri atau pengurus
7) Yayasan diakui sebagai badan hukum seperti halnya orang, sebagai subjek hukum mandiri
yang dapat menyandang hak dan kewajiban mandiri, didirikan dengan akta, dan didaftarkan
di kantor kepaniteraan pengadilan negeri setempat
8) Yayasan dapat dibubarkan oleh pengadilan dalam kondisi pertentangan tujuan yayasan
dengan hukum, likuidasi, dan pailit. (Sri Rejeki, 1999 : 56, Tobing, 1990 : 6-8)
Berdasarkan UU No. 16 Tahun 2001, yayasan telah diakui sebagai badan hukum privat
dimana subjek hukum para pendiri atau pengurusnya. Sebagai subjek hukum mandiri,
yayasan dapat menyandang hak dan kewajiban, menjadi debitor maupun kreditor, dan
melakukan hubungan hukum apapun dengan pihak ketiga. Legalisasi badan hukum menurut
UU Yayasan adalah saat akta pendiriannya, yang dibuat di hadapan Notaris, disahkan oleh
menteri Hukum dan Perundang-undangan dan HAM.
Yayasan yang tidak menyesuaikan Anggaran Dasarnya dalam jangka waktu 5 tahun, dapat
dibubarkan berdasarkan putusan pengadilan atas permohonan kejaksaan atau pihak yang
berkepentingan.
b. Yayasan Sebagai Entitas Hukum Privat
Ditinjau dari cara pendirian atau pembentukannya, yayasan dapat dibagi menjadi dua,
yaitu yayasan yang didirikan oleh penguasa atau pemerintah, termasuk BUMN serta BUMD
dan yayasan yang didirikan oleh individu atau swasta.
Yayasan yang didirikan oleh pemerintah, sebelum keluarnya UU yayasan, disahkan
dengan surat keputusan dari pejabat yang berwenang dan/atau akta notaris. Kekayaan awal
yayasan seperti ini dapat diambil dari kekayaan negara yang dipisahkan atau dilepaskan
penguasaannya dari pemerintah dan dari kekayaan pribadi. Sebelumnya pernah
diperdebatkan: Apakah pada tempatnya penguasa atau pemerintah mendirikan yayasan yang
pada hakikatnya merupakan entitas hukum privat.? Peraturan perundang-undangan yang
melarang hal itu memang belum ada. Pertanyaannya lebih ditujukan pada urgensi pendiriaan
yayasan oleh pemerintah atau BUMN dan BUMD tersebut. Yayasan tersebut akan berada
dalam bingkai hukuman privat dengan segala konsekuensi yuridisnya. Kedudukan kekayaan
negara yang dipisahkan atau dilepaskan penguasaannya itu secara yuridis mirip dengan
hibah, sehingga segala konsekuesi penggunaan, pengelolaan, dan pengawasan atas
kekayaan tersebut akan lepas sama sekali dari pihak yang memberi atau yang menghibahkan.
Yayasan yang diberikan oleh swasta atau perorangan, menurut UU yayasan, harus
didirikan dengan akta Notaris. Kekayaannya di pisahkan dari milik para pendiri atau
pengurus yayasan yang bersangkutan. Akta notaris tersebut harus didaftarkan di kantor
kepaniteraan pengadilan negeri setempat.
Dewasa ini, banyak yayasan didirikan dengan tujuan yang berbeda dan menyimpang
dari tujuan semula, yaitu sebagai usaha yang menguntungkan seperti sebuah perusahaan yang
melakukan lalu lintas dagang. Unsur-unsur menjalankan perusahaan, seperti dokumen
perusahaan, mempunyai izin usaha, dikenai pajak, menggaji pengurus, memperhitungkan
atau menghitung untung rugi lalu mencatatnya dalam pembukuan adalah ciri-ciri suatu
kegiatan yang berbentuk hukum perusahaan. Tanda-tanda yayasan mulai menyimpang dari
tujuan semula, yang secara nyata, dituangkan dalam anggaran dasar suatu yayasan.
Dalam anggaran dasar diatur beberapa hal seperti keanggotaan yayasan yang abadi
dimana pendiri mempunyai kekuasaan mutlak dan abadi bahkan kedudukannya dapat
diwariskan. Yayasan tersebut bergerak dalam bidang pendidikan. Pendiri berasumsi bahwa
keuntungan yang diperoleh suaut saat akkan dikendalikan.
Dengan keluarnya UU yayasan, eksistensi dan landasan yuridis Yayasan sebagai
entitas hukum privat tidak perlu dipermasahkan lagi atau tidak perlu diragukanDengan
demikian, yayasan pada hakikatnya adalah :
a. Harta kekayaan yang dipisahkan
b. Harta kekayaan tersebut diberi badan hukum
c. Keberadaannya untuk tujuan tertentu di bidang sosial, manusia dan keagamaan
Secara teoritis, yayasan dapat didirikan oleh satu orang, dua orang, atau lebih,
yayasan tidak mempunyai anggota (semacam pemegang saham dalam PT) dan eksistensinya
hanya diperuntukkan guna mencapai tujuan tertentu dalam bidang sosial, kemanusiaan, dan
keagamaan. Oleh karena itu, semua kegiatan yayasan harus diabadikan ke pencapaian tujuan
tersebut. UU yayasan menegaskan hal ini dengan melarang pembagian hasil usaha kepada
organ yayasan, dengan ancaman pidana.
Praktek peradilan selama ini terfokus pada syarat pemisahan harta kekayaan akta
notaris sebagai syarat pendirian yayasan. Syarat pemisahan harta kekayaan sangat banyak
djadikan alasan menurut pengurus yayasan, karena pada umumnya hasil usaha yayansan telah
diajdikan obyek perebutan dalam kepengurusan. Anak keturunan para pendiri sering menjadi
pihak yang berperkara, karena kelemahan organisasi yayaysan nampak dengan alasan
subjektif. Isi akte pendirian sering dijadikan alasan untuk mengalihkan harta kekayaan
yayasan, seolah-olah akta pendirian itu dapat diubah setiap saat sesuai dengan keinginan
pengurus yayasan (Penggabean, 2001, Pramono, 2001).
Praktek-praktek seperti diuraikan sebelumnya mulai diluruskan dengan UU yayasan.
Yayasan akan ditempatkan pada kedudukan yuridis sebagai badan hukum yang berfungsi
sosial, idiil, dan keagamaan. Yayasan boleh menggunakan kegiatan usaha, boleh mempunyai
sisa hasil usaha, tetapi tidak boleh profit orientet sudah seperti halnya PT. Sisa hasil usaha
belum ada, tetapi tidak boleh dibagi kepada organ yayasan. Yayasan mendirikan badan usaha,
misalnya PT, dengan modal usaha maksiamal 25% dari seluruh aset.
Yayasan harus membuat laporan keuangan, diamana laporan keuangan itu harus
diperiksa oleh akuntan pubik untuk yayasan yang memilik aset seniali Rp. 20 milyar lebih
dan yang mendapat bantuan senilai Rp. 500 juta ke atas. Laporan keuangan tersebut harus
diumumkan dan tembusannya harus disampaikan kepada Menteri.

4. Pengembangan Organisasi Yayasan


Pada dasarnya, yayasan merupakan suatu organisasi sehingga pendekatan yang
digunakan dalam pengembangannya juga tidak jauh berbeda dengan pendekatan yang
digunaka dalam pengembangan organisasi pada umumnya.
Pengembangan yayasan adalah suatu usaha jangka panjang untuk memperbaiki
proses-proses pemecahan masalah dan pembaharuan organisasi, terutama melalui manajemen
budaya organisasi yang lebih efektif dan kolaboratif dengan teanan khusus pada budaya tim
kerja formal dengan bantuan pengantar perubahan, katalisator, dan penggunaan teori serta
teknologi ilmiah keperilakuan terapan termasuk riset kegiatan.
Melaui proses pembaharuan, para pengelolah yayasan menyesuaikan gaya dan tujuan
pemecahan masalah untk memenuhi berbagai permintaan perubahan lingkungan yayasan.
Jadi, salah satu tujuan pengembangan yayasan adalah untuk memperbaiki proses pembaharua
itu sendiri, sehingga para pengelolah dapat lebih cepat mengambil gaya manajemen yang
sesuai dengan msalah-masalah baru yang dihadapi.
Riset kegiatan merupakan metode perubahan organisasi dalam menjalankan aspek-
aspek yayasan yang perlu diperbaiki. Kegiatan riset meliputi :
1) Diagnosis pendahuluan terhadap masalah pengantar perubahan pengembangan yayasan,
2) Pengumpulan data untuk mendukung diagnosis,
3) Umpan balik datar kepada para anggota pengelola,
4) Eksplorasi data oleh para anggota pengelola,
5) Perencanaan kegiatan yang tepat,
6) Pengambilan kegiatan yang tepat.
Teknik-Teknik Pengembangan Yayasan
Teknik pengembangan organisasi dapat diguanakan untuk memperbaiki efektifitas
perseorangan, hubungan pekerjaan antara dua atau 3 individu, pemfungsian kelompok-
kelompok, hubungan antara kelompok atau efektifitas yayasan secara keseluruhan. Teknik
yang digunakan untuk kelompok sasaran yaitu:
1) Pengembangan organisasi untuk perseorangan
2) Pengembangan organisasi untuk dua atau tiga orang
3) Pengembangan organisasi untuk tim atau kelompok
4) Pengembangan organisasi untuk hubungan antar kelompok
5) Pengembangan organisasi untuk organisasi keseluruhan

Grid OD (Grid Organizational Development)


Salah satu teknik pengembangan organisasi yaitu Grid OD didasarkan atas kisi
manajerial dari Robert Blake dan Jane Mouton. Kini manajerial mengidentifikasika berbagai
kombinasi produksi dan karyawan, agar perhatian terhadap variabel tersebut meningkat
dalam grid OD pengantar perubahan mempergunakan daftar pertanyaan untuk menentukan
gaya pada manajer atau pengelola sekarang, membantu mereka untuk menguji kembali
gayanya, dan bekerja menuju efektivitas.

Metode Pengembangan Organisasi OCA (Organizational Capacity Assessment)


Salah satu metode pengembanganorganisasi yang lain adalah Penjajakan kapasitas
organisasi. OCA merupakan metode pengembangan organisasi sejak dari menyusun
perangkap, melakukan penjajakan, hingga menyusun rencana pengembangan organisasi serta
pelaksanaan rencana pengembangan dan evaluasi atas pelaksanaan rencana tersebut. Seluruh
tahapan itu dilakukan oleh seluruh bagian yang ada dalam organisasi atau secara representatif
mewakili seluruh bagian yang ada. Prinsip oca adalah partisipatif dalam seluruh proses
pelaksnaan OCA serta kerahasiaan atas proses dan hasil OCA.

B. MANAJEMEN YAYASAN
Dalam mengelola suatu yayasan, diperlukan pehaman dan keahlian dasar tentang
manajemen. Keahlian pertama adalah pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.
Seorang pengelola dapat menggunakan pendekatan tertentu untuk memecahkan masalah dan
mengambil keputusan. Hal ini disebabkan karena tidak semua masalah dan keputusan yang
dibuat bisa dipecahkan dengan pendekatan rasional. Keahlian yang kedua adalah
perencanaan, yaitu pemilihan sekumpulan kegiatan dan pemutusan selanjutnya tentang apa
yang harus dilakukan, kapan, bagaimana, dan oleh siapa. Keahlian yang ketiga adalah
pendelegasian, yaitu ketika pengawas memberikan tanggung jawab dan kewenangan kepada
bawahannya untuk melengkapi tugas, dan menggambarkan bagaimana tugas tersebut dapat
diselesaikan. Pendelegasian yang efektif dapat mengembangkan orang menjadi lebih
produktif. Keahlian yang keempat adalah dasar-dasar komunikasi internal, yaitu terjalinnya
komunikasi secara eektif yng akan menjadi darah kehidupan bagi suatu organisasi.
Keahlian yang kelima adalah manajemen rapat, yaitu penerapan sistem rapat secara efektif
untuk memecahkan persoalan yang dihadapi yayasan, baik persoalan eksternal maupun
internal.
Pengelola yayasan harus melakukan penggalian dana untuk memenuhi kebuthan
keuangan organisasi. Hal ini penting karena yayasan tidak melakukan kegiatan yang
berorientasi profit. Dalam penggalian dana ini, keterlibatan semua pihak sangat diperlukan.
Program kerja yang disusun dengan baik dan logis akan meringankan persoalan klasik
dan pelik bagi institusi yayasan, yaitu perencanaan. Pengelola lembaga harus mampu
menyusun rencana program yang baik dan logis untuk pelaksana dan donor. Program yang
koheren dan logis akan meyakinka dan donor untuk mendukungnya.
Komponen kunci dari penilaian keadaan yayasan adalah evaluasi efisiensi dan
efektivitas program. Evaluasi ini akan memberikan data mengenai apakah masing-masing
program akan dilanjutkan atau tidak, mempertahankan program tersebut pada tingkat yang
ada, memperluas atau mengubah arah program tersebut, dan memasarkannya secara agresif.
Pengelolaan keuangan dalam suatu yayasan akan memberikan keseluruhan perspektif
proses dasar bagi manajemen keuangan yayasan. Pengelolaan keuangan yang baik akan
tergambar dari laporan keuangan atau sistem akuntansi yang ditetapkan oleh yayasan
tersebut. Dalam sistem akuntansi, siklus akuntansi meliputi pembukuan, penyusunan laporan
keuangan, dan analisis informasi dari laporan keuangan.
Tim adalah sekelompok orang yang bekerja dengan tujuan bersama
Team building adalah suatu proses yang memungkinkan tim mencapai tujuan tersebut.
tahap-tahap yang ada termasuk menjelaskan tujuan, mengidentifikasi hambatan, dan
menghilangkan hambatan tersebut.
Sifat dasar team building bervariasi dalam suatu skala, dan apa yang dicoba untuk dicapai :
Jenis Team Building Skala Apa Yang Berubah
Individual (individu) 1 orang Persepsi dan keahlian individu
Small Team (Tim Kecil) 2 12 orang Hubungan antarorang
Team Islands (Kelompok Tim) 2 tim atau lebih Hubungan antartim
Organization (Organisasi) 15 + orang Budaya organisasi
C. PERENCANAAN YAYASAN
Perbedaan utama antara rencana strategis dan rencana jangka panjang adalah focus
pengembangan. Pada umumnya, perencanaan jangka panjang dipertimbangkan dalam
rencana tindakan untuk suatu tujuan atau serangkaian tujuan selama beberapa tahun. Asumsi
utama rencana jangka panjang adalah terpenuhinya informasi tentang kondisi masa depan.
Sebagai contoh, dalam lima puluh tahun terakhir dan enam puluh pertama, ekonomi Amerika
secara relative stabil dan oleh karena itu, dapat diprediksi. Perencanaan jangka panjang
sangat banyak modelnya; dan semuanya dilandasi oleh lingkungan asumsi yang tidak dapat
diprediksi. Focus perencanaan adalah penyelesaian tujuan yang telah disepakati.
Yayasan, sebagai suatu organisasi nonprofit, mengarahkan proses perencanaan dan
sumber daya yang tersedia untuk memaksimalkan manfaat yang akan diperoleh. Sumber daya
utama yang diperlukan untuk perencanaan adalah waktu pengelola, waktu Pembina, dan uang
(seperti penelitian pasar, para konsultan, dan sebagainya).
Suatu pernyataan visi yang realistik dan dipercaya harus ditetapkan secara baik dan
dapat dipahami secara mudah, tepat, ambisius, serta responsif terhadap perubahan. Suatu visi
juga harus berorientasi pada energi kelompok dan berperan sebagai pedoman terhadap
tindakan. Visi harus konsisten dengan nilai yayasan. Serta singkat, suatu visi dapat
menantang dan memberikan inspirasi kepada kelompok untuk mecapai misinya.
Hasil perencanaan sangat ditentukan oleh informasi yang diperoleh dan pilihan atas
eksploitasi sumber daya. Implementasi ide yang luar biasa tentang produk, jasa, dan program
lembaga tergantung pada sumber daya serta skala prioritas. Jadi, rencana evaluasi program
dipengaruhi oleh proses pembuatan keputusan. Manajemen biasanya dihadapkan dengan
pembuatan keputusan untuk menurunkan dana, komplain yang terus menerus, kebutuhan
yang tidak terpenuhi diantara para pelanggan dan klien, serta kebutuhan untuk memperbaiki
penyampaian jasa; seperti, apakah lebih banyak catatan yang harus dibuat dalam perjalanan
program, apakah pelaksanaan program mencapai tujuan yayasan atau tidak, dan pengaruh
program terhadap pelanggan? Informasi yang dibutuhkan merupakan kombinasi dari berbagai
pertanyaan diatas. Fokus pengujian evaluasi perlu ditetapkan agar pelaksanaan evaluasi lebih
efisien dari segi biaya, waktu, dan sumber daya yang dicurahkan.

D. AKUNTABILITAS YAYASAN
Pemakai laporan keuangan yayasan memiliki kepentingan bersama, yaitu untuk menilai :
a) Jasa yayasan dan kemampuan yayasan untuk memberikan jasa secara berkesinambungan.
b) Mekanisme pertanggungjawaban dan aspek kinerja pengelola.
Kemampuan yayasan dalam mengelola jasa dikomunikasikan melalui laporan posisi
keuangan, dimana informasi mengenai aktiva, kewajiban, aktiva bersih, dan informasi
mengenai hubungan diantara unsur-unsur tersebut, akan disampaikan. Laporan ini harus
menyajikan secara terpisah aktiva bersih baik yang terikat maupun yang tidak terikat
penggunaannya. Pertanggungjawaban pengelola yayasan tentang hasil pengelolaan sumber
daya yayasan disajikan melalui laporan aktifitas akan dan laporan arus kas. Laporan aktifitas
akan menyajikan informasi mengenai perubahan yang terjadi dalam kelompok aktiva bersih.
Tujuan utama laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang relevan dalam
memenuhi kepentingan para penyumbang, anggota pengelola, kreditur, dan pihak lain yang
menyediakan sumber daya bagi yayasan.
Pengelola yayasan perlu mengembangkan keahlian dasar tentang manajemen
keuangan. Dalam suatu yayasan, tugas lainnya adalah mengelola keuangan yang secara jelas
merupakan tugas yang sulit. Keahlian dasar dalam manajemen keuangan mulai dari bidang
kritis manajemen kas dan pembukuan, harus dilakuakan sesuai dengan kontrak keuangan
tertentu untuk memastikan keterpaduan proses pembukuan. Pengelola yayasan sebaiknya
mempelajari bagaimana menyusun laporan keuangan (dari jurnal pembukuan) dan
menganalisis laporan tersebut agar dapat memahami kondisi keuangan dari aktivitas yayasan
tersebut dengan benar. Analisis keuangan akan memperlihatkan realitas keadaan aktifitas
yayasan sebagaimana yang terlihat dalam manajemen keuangan sebagai salah satu dari
sebagian besar praktek penting dalam manajemen.

E. PENGENDALIAN KEUANGAN
Sistem pengendalian keuangan (akuntansi) adalah serangkaian prosedur yang
melindungi praktek manajemen secara umum maupun dari segi keuangan. Prosedur
pengendalian akuntansi bertujuan agar :
Informasi keuangan reliable (dapat dipercaya) sehingga pengelola dapat memperoleh
informasi yang akurat untuk perencanaan program dan keputusan lainnya.
Aktiva dan catatan-catatan organisasi tidak dicuri, disalahgunakan, atau dirusak dengan
sengaja.
Kebijakan-kebijakan yayasan diikuti.
Peraturan-peraturan pemerintah terpenuhi.
Langkah pertama dalam pengembangan sistem pengendalian akuntansi yang efektif
adalah mengidentifikasi bidang dimana penyalahgunaan atau kesalahan-kesalahan sangat
mungkin terjadi. Beberapa akuntan akan memberikan checklist (daftar pengecekan)
menyangkut bidang dan pertanyaan tentang waktu perencanaan sistem. Price Waterhouses
booklet, Effective Internal Accounting Control for Nonprofit Organizations : A Guide for
Directors and Management, memasukkan bidang dan tujuan pengembangan sistem
pengendalian akuntansi yang efektif.
Sistem pengendalian akuntansi diperlukan untuk memastikan pencatatan yang tepat
atas barang yang didermakan, sumbangan, dan penerimaan lainnya. Laporan keuangan dan
pengembalian informasi harus dicatat secara akurat dan tepat waktu, serta memenuhi
peraturan pemerintah lainnya.

F. INVESTASI YAYASAN
Dalam melaksanakan fungsi pelayanan masyarakat, yayasan dihadapkan pada
masalah pengambilan keputusan investasi yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan
program, kegiatan, dan fungsi yang menjadi prioritas kebijakan. Pengeluaran untuk investasi
harus mendapat perhatian yang lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran rutin, karena
pengeluaran investasi/modal memiliki dampak jangka panjang, sedangkan pengeluaran rutin
lebih berdampak jangka pendek. Kesalahan dalam mengambil keputusan investasi tidak saja
akan berdampak terhadap anggaran tahun berjalan, tetapi juga akan membebani anggaran
tahun-tahun berikutnya.
Investasi memiliki kaitan yang erat dengan penganggarn modal/investasi.
Penganggaran modal/investasi merupakan proses untuk menganalisis proyek-proyek dan
memutuskan apakah proyek tersebut dapat diakomodasi oleh anggaran modal/investasi.
Untuk menberikan mekanisme dalam nengatur proyek investasi secara lebih efisien dan
efektif, perlu dilakukan analisis investasi secara mendalam. Analisis investasi berhubungan
erat dengan penganggaran fungsional, alokasi sumber daya, dan praktek manajemen
keuangan disektor publik. Selain itu, program investasi juga merupakan bentuk dari dual
budgeting, yaitu pemisahan anggaran modal/investasi dari anggaran rutin..

G. AUDIT YAYASAN
Audit adalah proses pengujian keakuratan dan kelengkapan informasi yang disajikan
dalam laporan keuangan yayasan. Proses pengujian ini akan memungkinkan akuntan publik
independen yang bersertifikasi mengeluarkan suatu pendapat atau opini mengenai seberapa
baik laporan keuangan yayasan mewakili posisi keuangan yayasan, dan apakah laporan
keuangan tersebut memenuhi prinsip-prinsip akuntansi yang berterima umum atau Generally
Accepted Accounting Principles (GAAP). GAAP ditetapkan oleh the American Institute of
Certified Public Accountants (AICPA). Anggota dewan pengurus, staf, dan sanak kelurganya
tidak dapat melakukan audit, karena hubungan kekeluargaan dengan yayasan akan
mempengaruhi independensi auditor.
Diindonesia, permasalahan agen audit sektor publik merupakan hal yang serius. Ini
berarti kejelasan tentang peristilahan perlu dilakukan sebelum membahas audit dan
pengawasan. Dalam buku ini, istilah auditor merupakan sebutan bagi seseorang yang
melakukan pemeriksaan eksternal disektor publik, seperti Badan Pemeriksa Keuangan dan
Kantor Akuntan Publik.
Disisi lain, peristilahan pegawas digunakan untuk sebutan auditor internal. Saat ini,
auditor internal yang ada dalam pemerintahan seperti Badan Pengawas Keuangan dan
Pembangunan, Inspektur Jendral, dan Badan Pengawas Daerah, selalu dikaitkan dengan
peristilahan pengawas. Diyayasan, pengawas ditunjuk oleh dewan pengurus, yang bisa
berasal dari staf bagian keuangan atau bendahara dewan pengurus.
Dalam audit, penetapan tujuan perlu dimulai untuk menentukan jenis audit apa yang
akan dilaksanakan serta standar audit apa yang harus diikuti oleh auditor. Audit dapat
mempunyai gabungan tujuan dari audit keuangan dan audit kinerja, atau dapat juga
mempunyai tujuan yang terbatas pada beberapa aspek dari masing-masing jenis audit.
Misalnya, dalam pelaksanaan audit atas kontrak pemborongan pekerjaan atau atas bantuan
Pemerintah kepada yayasan atau badan hokum lainnya; tujuan audit yang demikian sering
kali mencakup baik tujuan audit keuangan maupun tujuan audit kinerja. Audit semacam ini
umumnya disebut audit kontrak, yang contohnya adalah audit atas pelaksanaan sistem
pengendalian internal, atas masalah yang berkaitan dengan ketaatan pada peraturan
perundang-undangan, atau atas suatu sistem berbasis computer.

H. PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN AUDIT YAYASAN

Terdapat banyak pendekatan yang dapat digunakan dalam melakukan pekerjaan audit,
dan tidak ada satu pendekatan pun yang paling tepat. Hal ini mungkin akan menimbulkan
kebingungan bagi pendatang baru dalam pekerjaan audit.
Sebagai suatu proses, audit berhubungan dengan prinsip dan prosedur akuntansi yang
digunakan oleh suatu yayasan. Auditor mengeluarkan suatu opini atas laporan keuangan
yayasan. Laporan keuangan merupakan hasil dari sebuah sistem akuntansi dan diputuskan
atau dibuat oleh pihak pengelola. Pengelola yayasan menggunakan data-data mentah
akuntansi untuk kemudian dialokasikan ke masing-masing laporan surplus-defisit dan neraca
serta menyajikan hasilnya dalam bentuk laporan yang dipublikasikan.
Hubungan antara akuntansi dengan auditing bersifat tertutup. Auditor selalu
menggunakan data-data akuntansi dalam melaksanakan proses auditing. Lebih jauh lagi,
auditor harus membuat suatu keputusan tentang pengalokasian data-data akuntansi yang
dimiliki oleh pihak manajemen. Auditor juga harus memutuskan apakah laporan keuangan
yang disajikan telah sesuai atau terdapat salah saji. Untuk membuat semua keputusan
tersebut, auditor tidak dapat membatasi dirinya hanya dengan menggunakan perekaman bukti
akuntansi dan rekening-rekening yang ada dalam yayasan. Dalam kenyataannya, auditor juga
harus memperhatikan seluruh hal yang ada dalam yayasan, karena perilaku yayasan tidak
hanya akan mempengaruhi data yang ada, tetapi juga, yang lebih penting lagi, kebijakan
pengelola berkaitan dengan akuntansi dan pelaporan data.

daftar pustaka
Bastian, Indra. 2007. Akuntansi Yayasan dan Lembaga Publik. PSAP. Erlangga; Jakarta.
Nainggolan, Pahala. 2005. Akuntansi Keuangan Yayasan dan Lembaga Nirlaba Sejenis. PT.
Rajagrafindo Persada; Jakarta.
Nordiawan, Deddi. 2009. Akuntansi Sektor Publik. Salemba 4; Jakarta.