Anda di halaman 1dari 20

F7.

MINI PROJECT

MINI PROJECT

PENYULUHAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA


I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut
sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat
disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga
sehat secara mental serta sosial kultural. Sekitar 1 milyar manusia atau 1 dari 6
manusia di bumi ini adalah remaja dan 85% diantaranya hidup di negara berkembang
(UNFPA, 2000). Banyak sekali remaja yang sudah aktif secara seksual meski bukan
atas pilihannya sendiri. Kegiatan seksual menempatkan remaja pada tantangan risiko
terhadap berbagai masalah kesehatan reproduksi. Setiap tahun kira-kira 15 juta
remaja berusia 15-19 tahun melahirkan, 4 juta melakukan aborsi, dan hampir 100 juta
terinfeksi. Penyakit Menular Seksual (PMS) yang masih dapat disembuhkan. Secara
global, 40% dari semua kasus HIV/AIDS terjadi pada kaum muda 15-24 tahun.
Perkiraan terakhir adalah setiap hari ada 7000 remaja yang terinfeksi HIV (UNAIDS,
1998). Menurut Depatemen Kesehatan jumlah kasus HIV di Indonesia yang
dilaporkan hingga Maret 2007 mencapai 14.628 orang. Sedangkan kasus AIDS sudah
mencapai 8.914 orang, dimana separuh dari kasus ini adalah kaum muda (umur 15-29
tahun = 57, 4 %).
Berdasarkan data Proyeksi Penduduk Remaja yang diterbitkan oleh Biro Pusat
Statistik, BAPPENAS, dan UNFPA jumlah remaja usia 10 24 tahun pada tahun
2007 adalah sekita 64 juta jiwa atau 28,64 % dari jumlah perkiraan penduduk
Indonesia sebanyak 222 juta jiwa. Permasalahan remaja saat ini sangat kompleks dan
mengkhawatirkan. Hal ini ditunjukkan dengan masih rendahnya pengetahuan remaja
tentang kesehatan reproduksi. Remaja perempuan dan laki-laki yang tahun tentang
masa subur baru mencapai 29,0 % dan 32,3 %. Remaja perempuan dan remaja laki-
laki yang mengetahui risiko kehamilan jika melakukan hubungan seksual sekali,
masing-masing baru mencapai 49,5 % dan 45,5 %. Remaja perempuan dan remaja

1
F7. MINI PROJECT

laki-laki usia 14-19 tahun yang mengaku mempunyai teman yang pernah melakukan
hubungan seksual pranikah masing-masing mencapai 48,6 % dan 46,5 % (SKRRI,
2002-2003).
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Situmorang (2001) didapatkan 27%
remaja laki-laki dan 9% remaja perempuan di Medan mengatakan sudah pernah
melakukan hubungan seksual dan data PKBI (2006) didapatkan bahwa kisaran umur
pertama kali melakukan hubungan seksual adalah 13-18 tahun dan 60% tidak
menggunakan alat kontrasepsi. Risiko kesehatan reproduksi ini dipengaruhi oleh
berbagai faktor yang saling berhubungan misalnya kebersihan organ-organ
reproduksi, hubungan seksual pranikah, akses terhadap pendidikan kesehatan,
kekerasan seksual, pengaruh media massa, gaya hidup yang bebas, penggunaan
NAPZA, akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi yang terjangkau, dan
kurangnya kedekatan remaja dengan kedua orangtuanya dan keluarganya (PATH,
2000).
Pentingnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, remaja perlu mendapat
informasi yang cukup, sehingga mengetahui hal-hal yang seharusnya dilakukan dan
yang seharusnya dihindari (Wardah, 2007). Dengan mengetahui tentang kesehatan
reproduksi remaja secara benar, kita dapat menghindari hal-hal yang negatif yang
mungkin akan dialami oleh remaja yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup
tentang kesehatan reproduksi remaja (Wardah, 2007). Remaja juga perlu menyadari
akan pentingnya pembuatan keputusan untuk menolak setiap kegiatan seksual yang
rentan terjadi pada masa remaja karena setiap kegiatan seksual mempunyai risiko
negatif tentang kesehatan reproduksinya. Hubungan atau kontak seksual pada remaja
di bawah 17 tahun juga berisiko terhadap tumbuhnya sel kanker pada mulut rahim,
penyakit menular seksual, HIV/AIDS, melakukan aborsi, dan lebih jauh dapat
menyebabkan komplikasi berupa ganguan mental dan kepribadian pada remaja
(Ernawati, 2007). Remaja putri merupakan yang paling rentan dalam menghadapi
masalah kesehatan sistem reproduksinya. Hal ini dikarenakan secara anatomis, remaja
putri lebih mudah terkena infeksi dari dari luar karena bentuk dan letak organ
reproduksinya yang dekat dengan anus. Dari segi fisiologis, remaja putri akan

2
F7. MINI PROJECT

mengalami menstruasi, sedangkan masalah-masalah lain yang mungkin akaterjadi


adalah kehamilan di luar nikah, aborsi, dan perilaku seks di luar nikah yang berisiko
terhadap kesehatan reproduksinya. Dari segi sosial, remaja putri sering mendapatkan
perlakuan kekerasan seksual. Risiko kesehatan reproduksi remaja ini dapat ditekan
dengan pengetahuan yang baik tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR).
Pengetahuan tentang KRR ini dapat ditingkatkan dengan pendidikan kesehatan
reproduksi yang dimulai dari usia remaja. Menurut BKNN tahun 2005 pendidikan
kesehatan reproduksi di usia remaja bukan hanya memberikan pengetahuan tentang
organ reproduksi, tetapi juga bahaya akibat pergaulan bebas, seperti penyakit menular
seksual dan kehamilan yang tidak diharapkan atau kehamilan berisiko tinggi. Oleh
karena itu, penelitian ini perlu dilakukan untuk mendapatkan gambaran tingkat
pengetahuan remaja putri tentang kesehatan reproduksi remaja.
1.2 Pernyataan Masalah
Berdasarkan latar belakang pemikiran diatas, adapun pernyataan masalah
yang ingin dicapai dalam mini project ini adalah
1. Sejauhmana pengetahuan remaja terhadap kesehatan reproduksi?
2. Bagaimana sikap remaja terhadap pentingnya pengetahuan terhadap kesehatan
reproduksi?
3. Bagaimana tindakan remaja dalam menjaga kesehatan alat reproduksinya?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja terhadap kesehatan
reproduksi.
1.3.2 Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui Sejauhmana pengetahuan remaja terhadap kesehatan
reproduksi.
b. Untuk mengetahui bagaimana sikap remaja terhadap pentingnya pengetahua
terhadap kesehatan reproduksi
c. Untuk mengetahui bagaimana tindakan remaja dalam menjaga kesehatan alat
reproduksinya.
1.4 Manfaat
a. Hasil mini project ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi pihak
terkait untuk meningkatkan mutu kesehatan di masa mendatang, menyediakan

3
F7. MINI PROJECT

sarana yang cukup, serta melakukan kegiatan promotif dalam hal kesehatan
reproduksi remaja.
b. Hasil mini project ini dapat bermanfaat sebagai bahan pertimbangan bagi
puskesmas dan dinas terkait dalam hal ksehatan reproduksi remaja.
c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan kita
dan dapat dijadikan sebagai salah satu bahan edukas serta acuan bagi mitra-
mitra kerja di tingkat manapun.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kesehatan Reproduksi Remaja
2.1.1. Pengertian Kesehatan Reproduksi Remaja
Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental dan
sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek
yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Atau Suatu
keadaan dimana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya sertamampu
menjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman. Pengertian lain
kesehatan reproduksi dalam Konferensi International Kependudukan dan
Pembangunan, yaitu kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan
sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi, peran & sistem
reproduksi. Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang
menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja.
Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari
kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural.
2.1.2. Remaja
2.1.2.1. Pengertian Remaja
Remaja pada umumnya didefenisikan sebagai orang-orang yang mengalami
masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Menurut Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO), remaja (adolescence) adalah mereka yang berusia 10-19
tahun. Sementara dalam terminologi lain PBB menyebutkan anak muda (youth) untuk
mereka yang berusia 15-24 tahun. Ini kemudian disatukan dalam sebuah terminologi
kaum muda (young people) yang mencakup 10-24 tahun. Sementara itu dalam
program BKKBN disebutkan bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 10-24

4
F7. MINI PROJECT

tahun. Menurut Hurlock (1993), masa remaja adalah masa yang penuh dengan
kegoncangan, taraf mencari identitas diri dan merupakan periode yang paling berat.
Menurut Bisri (1995), remaja adalah mereka yang telah meningalkan masa kanak-
kanak yang penuh dengan ketergantungan dan menuju masa pembentukan tanggung
jawab.
2.1.2.2. Perubahan yang terjadi pada masa remaja
Perubahan-perubahan yang terjadi pada saat seorang anak memasuki usia
remaja antara lain dapat dilihat dari 3 dimensi yaitu dimensi biologis, dimensi
kognitif dan dimensi sosial.
a. Dimensi Biologis
Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan
menstruasi pertama pada remaja putri atau pun mimpi basah pada remaja putra,
secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas menjadikan
seorang anak memiliki kemampuan untuk ber-reproduksi. Pada saat memasuki masa
pubertas, anak perempuan akan mendapat menstruasi, sebagai pertanda bahwa sistem
reproduksinya sudah aktif. Selain itu terjadi juga perubahan fisik seperti payudara
mulai berkembang, panggul mulai membesar, timbul jerawat dan tumbuh rambut
pada daerah kemaluan. Anak lelaki mulai memperlihatkan perubahan dalam suara,
tumbuhnya kumis, jakun, alat kelamin menjadi lebih besar, otot-otot membesar,
timbul jerawat dan perubahan fisik lainnya. Bentuk fisik mereka akan berubah secara
cepat sejak awal pubertas dan akan membawa mereka pada dunia remaja.
b. Dimensi Kognitif
Perkembangan kognitif, remaja dalam pandangan Jean Piaget (2007)
(seorang ahli perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam
tahap pertumbuhan operasi formal (period of formal operations). Pada periode ini,
idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan
masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berpikir para remaja
berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan
banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya.
Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka

5
F7. MINI PROJECT

mampu berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima
informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta
mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka juga mampu
mengintegrasikan pengalaman lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi
konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan.
c. Dimensi Moral
Masa remaja adalah periode dimana seseorang mulai bertanya-tanya
mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar
bagi pembentukan nilai diri mereka. Para remaja mulai membuat penilaian tersendiri
dalam menghadapi masalah-masalah populer yang berkenaan dengan lingkungan
mereka, misalnya: politik, kemanusiaan, perang, keadaan sosial, dan sebagainya.
Remaja tidak lagi menerima hasil pemikiran yang kaku, sederhana, dan absolut yang
diberikan pada mereka selama ini tanpa bantahan. Remaja mulai mempertanyakan
keabsahan pemikiran yang ada dan mempertimbangan lebih banyak alternatif lainnya.
Secara kritis, remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan
membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan
kepadanya.
2.1.3. Anatomi dan Fungsi Organ Reproduksi
2.1.3.1. Wanita
Organ reproduksi wanita terbagi menjadi organ reproduksi bagian luar dan
organ reproduksi bagian dalam. Organ reproduksi bagian luar:
1. Vulva, yaitu daerah organ kelamin luar pada wanita yang meliputi labia majora,
labia minora, mons pubis, bulbus vestibuli, vestibulum vaginae, glandula
vestibularis major dan minor, serta orificium vaginae.
2. Labia majora, yaitu berupa dua buah lipatan bulat jaringan lemak yang ditutupi
kulit dan memanjang ke bawah dan ke belakang dari mons pubis.
3. Mons pubis, yaitu bantalan berisi lemak yang terletak di permukaan anterior
simfisis pubis. Setelah pubertas, kulit mons pubis akan ditutupi oleh rambut ikal
yang membentuk pola tertentu.
4. Payudara / kelenjar mamae yaitu organ yang berguna untuk menyusui.

6
F7. MINI PROJECT

Organ reproduksi bagian dalam:


1. Labia minora, yaitu merupakan labia sebelah dalam dari labia majora, dan berakhir
dengan klitoris, ini identik dengan penis sewaktu masa perkembangan janin yang
kemudian mengalami atrofi. Di bagian tengah klitoris terdapat lubang uretra untuk
keluarnya air kemih saja.
2. Hymen, yaitu merupakan selaput tipis yang bervariasi elastisitasnya berlubang
teratur di tengah, sebagai pemisah dunia luar dengan organ dalam. Hymen akan
sobek dan hilang setelah wanita berhubungan seksual (coitus) atau setelah
melahirkan.
3. Vagina, yaitu berupa tabung bulat memanjang terdiri dari otot-otot melingkar yang
di kanankirinya terdapat kelenjar (Bartolini) menghasilkan cairan sebagai pelumas
waktu melakukan aktifitas seksual.
4. Uterus (rahim), yaitu organ yang berbentuk seperti buah peer, bagian bawahnya
mengecil dan berakhir sebagai leher rahim/cerviks uteri. Uterus terdiri dari lapisan
otot tebal sebagai tempat pembuahan, berkembangnya janin. Pada dinding sebelah
dalam uterus selalu mengelupas setelah menstruasi.
5. Tuba uterina (fallopi), yaitu saluran di sebelah kiri dan kanan uterus, sebagai
tempat melintasnya sel telur/ovum.
6. Ovarium, yaitu merupakan organ penghasil sel telur dan menghasilkan hormon
esterogen dan progesteron. Organ ini berjumlah 2 buah.
Organ-organ reproduksi tersebut mulai berfungsi saat menstruasi pertama kali
pada usia 10-14 tahun dan sangat bervariasi. Pada saat itu, kelenjar hipofisa mulai
berpengaruh kemudian ovarium mulai bekerja menghasilkan hormon esterogen dan
progesteron. Hormon ini akan mempengaruhi uterus pada dinding sebelah dalam dan
terjadilah menstruasi. Setiap bulan pada masa subur, terjadi ovulasi dengan
dihasilkannya sel telur / ovum untuk dilepaskan menuju uterus lewat tuba uterina.
Produksi hormon ini hanya berlangsung hingga masa menopause, kemudian tidak
berproduksi lagi. Kelenjar payudara juga dipengaruhi
oleh hormon ini sehingga payudara akan membesar.
2.1.3.2. Pria

7
F7. MINI PROJECT

Alat kelamin pria juga dibedakan menjadi alat kelamin pria bagian luar dan
alat kelamin pria bagian dalam.
Organ reproduksi bagian luar:
1. Penis, yaitu organ reproduksi berbentuk bulat panjang yang berubah ukurannya
pada saat aktifitas seksual. Bagian dalam penis berisi pembuluh darah, otot dan
serabut saraf. Pada bagian tengahnya terdapat saluran air kemih dan juga sebagai
cairan sperma yang di sebut uretra.
2. Skrotum, yaitu organ yang tampak dari luar berbentuk bulat, terdapat 2 buah kiri
dan kanan, berupa kulit yang mengkerut dan ditumbuhi rambut pubis.
Organ reproduksi bagian dalam:
1. Testis, yaitu merupakan isi skrotum, berjumlah 2 buah, terdiri dari saluran kecil-
kecil membentuk anyaman, sebagai tempat pembentukan sel spermatozoa.
2. Vas deferens, yaitu merupakan saluran yang membawa sel spermatozoa, berjumlah
2 buah.
3. Kelenjar prostat, yaitu merupakan sebuah kelenjar yang menghasilkan cairan
kental yang memberi makan sel-sel spermatozoa serta memproduksi enzim-enzim.
4. Kelenjar vesikula seminalis, yaitu kelenjar yang menghasilkan cairan untuk
kehidupan sel spermatozoa, secara bersama-sama cairan tersebut menyatu dengan
spermatozoa menjadi produk yang disebut semen, yang dikeluarkan setiap kali
pria ejakulasi.
Organ-organ tersebut mulai berfungsi sebagai sistem reproduksi dimulai saat
pubertas sekitar usia 11 -14 tahun. Aktifitas yang diatur oleh organ-organ tersebut
antara lain:
1. Keluarnya semen atau cairan mani yang pertama kali. Hal ini berlangsung selama
kehidupannya.
2. Organ testis yang menghasilkan sel spermatozoa akan bekerja setelah mendapat
pengaruh hormon testosteron yang dihasilkan oleh sel-sel interstisial Leydig dalam
testis.
2.1.4. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan reproduksi remaja

8
F7. MINI PROJECT

Kesehatan reproduksi remaja dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu: kebersihan


alat-alat genital, akses terhadap pendidikan kesehatan, hubungan seksual pranikah,
penyakit menular seksual (PMS), pengaruh media massa, akses terhadap pelayanan
kesehatan reproduksi yang terjangkau, dan hubungan yang harmonis antara remaja
dengan keluarganya.
2.1.4.1. Kebersihan organ-organ genital
Kesehatan reproduksi remaja ditentukan dengan bagaimana remaja tersebut
dalam merawat dan menjaga kebersihan alat-alat genitalnya. Bila alat reproduksi
lembab dan basah, maka keasaman akan meningkat dan itu memudahkan
pertumbuhan jamur. Remaja perempuan lebih mudah terkena infeksi genital bila tidak
menjaga kebersihan alat-alat genitalnya karena organ vagina yang letaknya dekat
dengan anus.
2.1.4.2. Akses terhadap pendidikan kesehatan
Remaja perlu mendapatkan informasi yang benar tentang kesehatan
reproduksi sehingga remaja mengetahui hal-hal yang seharusnya dilakukan dan hal-
hal yang seharusnya dihindari. Remaja mempunyai hak untuk mendapatkan informasi
yang benar tentang kesehatan reproduksi dan informasi tersebut harus berasal dari
sumber yang terpercaya. Agar remaja mendapatkan informasi yang tepat, kesehatan
reproduksi remaja hendaknya diajarkan di sekolah dan di dalam lingkungan keluarga.
Hal-hal yang diajarkan di dalam kurikulum pendidikan kesehatan reproduksi remaja
mencakup tentang tumbuh kembang remaja, organ-organ reproduksi, perilaku
berisiko, Penyakit Menular Seksual (PMS), dan abstinesia sebagai upaya pencegahan
kehamilan, Dengan mengetahui tentang kesehatan reproduksi remaja secara benar,
kita dapat menghindari dilakukannya hal-hal negatif oleh remaja. Pendidikan tentang
kesehatan reproduksi remaja tersebut berguna untuk kesehatan remaja tersebut,
khususnya untuk mencegah dilakukannya perilaku seks pranikah, penularan penyakit
menular seksual, aborsi, kanker mulut rahim, kehamilan diluar nikah, gradasi moral
bangsa, dan masa depan yang suram dari remaja tersebut.
2.1.4.3. Hubungan seksual pranikah

9
F7. MINI PROJECT

Kehamilan dan persalinan membawa risiko morbiditas dan mortalitas yang


lebih besar pada remaja dibandingkan pada wanita yang berusia lebih dari 20 tahun.
Remaja putri yang berusia kurang dari 18 tahun mempunyai 2 sampai 5 kali risiko
kematian dibandingkan dengan wanita yang berusia 18-25 tahun akibat persalinan
yang lama dan macet, perdarahan, dan faktor lain. Kegawatdaruratan yang
berhubungan dengan kehamilan juga sering terjadi pada remaja yang sedang hamil
misalnya, hipertensi dan anemia yang berdampak buruk pada kesehatan tubuhnya
secara umum. Kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja seringkali berakhir
dengan aborsi. Banyak survey yang telah dilakukan di negara berkembang
menunjukkan bahwa hampir 60% kehamilan pada wanita berusia di bawah 20 tahun
adalah kehamilan yang tidak diinginkan atau salah waktu (mistimed). Aborsi yang
disengaja seringkali berisiko lebih besar pada remaja putri dibandingkan pada mereka
yang lebih tua. Banyak studi yang telah dilakukan juga menunjukkan bahwa kematian
dan kesakitan sering terjadi akibat komplikasi aborsi yang tidak aman. Komplikasi
dari aborsi yang tidak aman itu antara lain seperti yang dijelaskan dalambuku Facts
of Life yaitu:
1. Kematian mendadak karena pendarahan hebat
2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal
3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan
4. Rahim yang sobek (Uterine Perforation) Kerusakan leher rahim (Cervical
Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya
5. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita)
6. Kanker indung telur (Ovarian Cancer)
7. Kanker leher rahim (Cervical Cancer)
8. Kanker hati (Liver Cancer)
9. Kelainan pada placenta/ ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat
pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya
10. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy)
11. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease)
12. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)

10
F7. MINI PROJECT

Selain itu aborsi juga dapat menyebabkan gangguan mental pada remaja yaitu
adanya rasa bersalah, merasa kehilangan harga diri, gangguan kepribadian seperti
berteriak-teriak histeris, mimpi buruk berkali-kali, bahkan dapat menyebabkan
perilaku pencobaan bunuh diri.
2.1.4.4. Penyalahgunaan NAPZA
NAPZA adalah singkatan untuk narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat
adiktif lainnya. Contoh obat-obat NAPZA tersebut yaitu: opioid, alkohol, ekstasi,
ganja, morfin, heroin, kodein, dan lain-lain. Jika zat tersebut masuk ke dalam tubuh
akan mempengaruhi sistem saraf pusat. Pengaruh dari zat tersebut adalah penurunan
atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri, ketergantungan, rasa nikmat dan
nyaman yang luar biasa dan pengaruh-pengaruh lain. Penggunaan NAPZA ini
berisiko terhadap kesehatan reproduksi karena penggunaan NAPZA akan
berpengaruh terhadap meningkatnya perilaku seks bebas. Pengguna NAPZAjarum
suntik juga meningkatkan risiko terjadinya HIV/AIDS, sebab virus HIV dapat
menular melalui jarum suntik yang dipakai secara bergantian.
2.1.4.5. Pengaruh media massa
Media massa baik cetak maupun elektronik mempunyai peranan yang cukup
berarti untuk memberikan informasi tentang menjaga kesehatan khususnya kesehatan
reproduksi remaja. Dengan adanya artikel-artikel yang dibuat dalam media massa,
remaja akan mengetahui hal-hal yang harus dilakukan dan dihindari
untuk menjaga kesehatan reproduksinya.

2.1.4.6. Akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi


Pelayanan kesehatan juga berperan dalam memberikan tindakan preventif dan
tindakan kuratif. Pelayanan kesehatan dapat dilakukan di puskesmas, rumah sakit,
klinik, posyandu, dan tempat-tempat lain yang memungkinkan. Dengan akses yang
mudah terhadap pelayanan kesehatan, remaja dapat melakukan konsultasi tentang
kesehatannya khususnya kesehatan reproduksinya dan mengetahui informasi yang
benar tentang kesehatan reproduksi. Remaja juga dapat melakukan tindakan

11
F7. MINI PROJECT

pengobatan apabila remaja sudah terlanjur mendapatkan masalah-masalah yang


berhubungan dengan organ reproduksinya seperti penyakit menular seksual.
2.1.4.7. Hubungan harmonis dengan keluarga
Kedekatan dengan kedua orangtua merupakan hal yang berpengaruh dengan
perilaku remaja. Remaja dapat berbagi dengan kedua orangtuanya tentang masalah
keremajaan yang dialaminya. Keluarga merupakan tempat pendidikan yang paling
dini bagi seorang anak sebelum ia mendapatkan pendidikan di tempat
lain. Remaja juga dapat memperoleh informasi yang benar dari kedua orangtua
mereka tentang perilaku yang benar dan moral yang baik dalam menjalani kehidupan.
Di dalam keluarga juga, remaja dapat mengetahui hal-hal yang perlu dilakukan dan
yang harus dihindari. Orang tua juga dapat memberikan informasi awal tentang
menjaga kesehatan reproduksi bagi seorang remaja.
2.1.4.8. Penyakit Menular Seksual
Penyakit menular seksual adalah penyakit yang penularannya terutama
melalui hubungan seksual. Cara penularannya tidak hanya terbatas secara
genitalgenital saja, tetapi dapat juga secara oro-genital, atau ano-genital. Sehingga
kelainan yang timbul akibat penyakit kelamin ini tidak hanya terbatas pada daerah
genital saja, tetapi juga pada daerah-daerah ekstra genital. Penyakit menular seksual
juga dapat terjadi dengan cara lain yaitu kontak langsung dengan alat-alat seperti
handuk, pakaian, termometer dan lain-lain. Selain itu penyakit menular seksual dapat
juga ditularkan oleh ibu kepada bayinya ketika di dalam kandungan. Penyakit
menular seksual yang umum terjadi di Indonesia antara lain:gonore, vaginosis
bakterial, herpes simpleks, trikomoniasis, sifilis, limfogranuloma venerium, ulkus
mole, granuloma inguinale, dan Acquired immune deficiency syndrom (AIDS).
III. METODE
III.1 Jenis Mini Project
Metode mini project yang dilakukan adalah memberikan kuisioner sebelum
melakukan penyuluhan dan sesudah penyuluhan untuk mengetahui sejauh mana
pengetahuan peserta terhadap kesehatan reproduksi remaja.
III.2 Lokasi penelitian

12
F7. MINI PROJECT

Mini Project ini dilakukan di empat sekolah terdiri dari 2 sekolah MTS dan 2
sekolah MA yaitu MTS-MA Manongkoki dan MTS-MA Muhammadia Palekko
di Kecamatan Polobangkeng Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
III.3 Waktu penelitian
Pelaksanaan Mini Project dilakukan selama 2 hari yaitu
III.4 Sasaran
Sasaran mini project ini adalah remaja usia pubertas 13-18 tahun sehingga
peserta dalam penelitian dan penyuluhan ini adalah siswa sekolah menengah
pertama dan sekolah menengah atas.
III.5 Penyajian
Disajikan dalam bentuk kuisioner sebelum dan sesudah penyuluhan. Penyuluhan
disajikan dalam bentuk power point serta dilakukan diskusi terbuka setelah
penyuluhan.
IV. HASIL
IV.1Profil Komunitas Utama dan Data Geografis
Wilayah kerja puskesmas Polobangkeng Utara berada pada kecamatan Polobangkeng
Utara yang berbatasan dengan :
a. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Gowa
b. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar
c. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Gowa dan Kabupaten Jeneponto
d. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Gowa
Luas wilayah kerja kira-kira 3003 km2, terdiri atas 5 kelurahan dan 2 desa. Jumlah
penduduk di wilayah Puskesmas Polobangkeng Utara sebanyak 21.764 jiwa degan kepadatan
penduduk kira-kiraa 5.934 jiwa dan mempunyai 2 musim kemarau dan musim hujan. Sarana
kesehatan dalam wilayah Puskemas Polobangkeng Utara terdiri atas 4 pustu, 2 puskesdes, 1
pokestren dan 28 posyandu.
Tabel 4.1 Luas Daerah dan Kepadatan Penduduk Menurut Desa

NO Desa/Kelurahan Luas Daerah Jumlah KK Kepadatan Rata-Rata


(km2)
Penduduk Jiwa KK
1 Panrannuangku 7,59 1013 536 4,02
2 Manongkoki 4,28 1001 920 3,94
3 Malewang 2,13 886 1594 3,83
4 Palekko 2,45 874 1270 3,56
5 Matompodalle 4,08 858 765 3,64
6 PaRapungata 5,25 738 509 3,62

13
F7. MINI PROJECT

7 Parang Baddo 4,25 392 340 3,69


Jumlah 3,003 5762 5934 2,630
Sumber: Laporan tahunan Polobangkeng Utara tahun 2011

4.2 Sumber Daya Kesehatan

Tabel 4.2.1 Sumber Daya Tenaga Puskesmas

Puskesmas/PTT
NO Macam Tenaga Kesehatan
PNS PTT Magang
1 Master Kesehatan 1 - -
2 Dokter Umum 2 - -
3 Dokter Gigi 2 - -
4 Dokter Spesialis - - -
5 Perawat Profesi 1 - 1
6 S1 Keperawatan 2 - 2
7 DIII Keperawatan 9 - 4
8 SPK 2 - -
9 SMK Kesehatan - - 2
10 DIV Kebidanan 2 - -
11 DIII Kebidanan 4 6 9
12 SPK+Kebidanan 1 - -
13 S1 Kesmas (AKK) 2 - 1
14 S1 Kesmas (Epidemiologi) - - 2
15 Sarjana Sosial 1 - -
16 DIII Perawat gigi 5 - 1
17 DIV Kesling 1 - -
18 DIII Kesling 1 - 1
19 Asisten Apoteker 1 - -
20 S1 Gizi 1 - -
21 DIII Gizi 1 - 1
22 Farmasi 1 - -
23 Laboratorium Analis 1 - -
24 Pekarya 1 - -
25 Tenaga Administrasi 4 - -
26 Sopir 1 - -
27 Cleaning Servis 1 - -
Sumber: Laporan tahunan Polobangkeng Utara tahun 2011

Tabel 4.2.2 Sumber Daya Perlengkapan Medis


NO Desa/Kelurahan PKM Pustu Poskesdes Posyandu
1 Panrannuangku - 1 - 5
2 Manongkoki - 1 - 4
3 Malewang - - 1 5
4 Palekko 1 - - -
5 Matompodalle - 1 - 3
6 PaRapungata - 1 - 3

14
F7. MINI PROJECT

7 Parang Baddo - - 1 4
Jumlah 1 4 2 28
Sumber: Laporan tahunan Polobangkeng Utara tahun 2011

Tabel 4.2.3 Jumlah Sumber Daya Sarana Fisik


Puskesmas/Pustu
NO. Jenis Sarana
Baik Rusak
1 Gedung Puskesmas 1 -
2 Gedung Pustu 4 -
3 Posyandu 28 -
4 Poskesdes 2 -
5 Meubel:
-lemari 10 1
-kursi 30 -
-tempat tidur 8 -
-meja 23 -
6 Kenderaan:
-roda empat 1 -
-roda dua 7 -
7 Perlengkapan lain-lain:
-kulkas 3 -
-radio - -
-televisi - 2
Sumber: Laporan tahunan Polobangkeng Utara tahun 2011

4.3 Data Kesehatan Masyarakat (Primer)


Berdasarkan kuisioner yang di berikan pada siswa-siswi MTS dan MA
Manongkoki Kabupaten Takalar, didapatkan hasil gambaran gambaran pengetahuan
remaja terhadap kesehatan reproduksi :
Tabel 4.1 Frekuensi Umur Peserta Penyuluhan Kesehatan Reproduksi
di MTS-MA Monongkoki dan MTS-MA Muhammadiyah Palekko, Kabupaten Takalar
Umur (tahun) Frekuensi Persen (%)
13-15 60 60
16-18 40 40
Total 100 100
Sumber: Data Sekunder
Tabel 4.2 Jenis Kelamin Peserta Penyuluhan Kesehatan Reproduksi
di MTS-MA Monongkoki dan MTS-MA Muhammadiyah Palekko, Kabupaten Takalar
Jenis Kelamin Frekuensi Persen (%)
Laki-Laki 30 30

15
F7. MINI PROJECT

Perempuan 70 70
Total 100 100
Sumber : Data Sekunder
a. Prevalensi Masalah Kesehatan Masyrakat Sebelum dan Sesudah Intervensi
Sebelum melakukan tindakan intervensi yaitu melakukan penyuluhan Kesehatan
Reproduksi, peserta mengisi kuisioner terlebih dahulu. Adapun hasil kuisioner pre-
test adalah sebagai berikut :
Tabel 4.3 Gambaran Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja pada Siswa-Siswi
MTS-MA Monongkoki dan MTS-MA Muhammadiyah Palekko, Kabupaten Takalar
Jenis Kelamin Frekuensi Persen (%)
Baik 10 10
Cukup 30 30
Kurang 60 60
Total 100 100
Sumber : Data Sekunder
Setelah menyimak penyuluhan yang disampaikan oleh panitia, peserta kembali
mengisi kuisioner sebagai bahan evaluasi dan di dapatkan hasil kuisioner post-test
adalah sebagai berikut :
Tabel 4.4 Gambaran Pengetahuan Peserta Setelah dilakukan Penyuluhan Kesehatan
Reproduksi Remaja di MTS-MA Monongkoki dan MTS-MA Muhammadiyah Palekko,
Kabupaten Takalar
Jenis Kelamin Frekuensi Persen (%)
Baik 55 33
Cukup 35 35
Kurang 10 10
Total 100 100
Sumber : Data Sekunder
b. Perilaku Kesehatan Masyarakat sebelum dan sesudah intervensi
Sebelum melakukan tindakan intervensi yaitu melakukan penyuluhan Kesehatan
Reproduksi, maka peserta mengisi kuisioner terlebih dahulu. Adapun hasil kuisioner
pre-test adalah sebagai berikut :
Tabel 4.3 Gambaran sikap peserta terhadap pentingnya Kesehatan Reproduk Remaja di
MTS-MA Monongkoki dan MTS-MA Muhammadiyah Palekko, Kabupaten Takalar
Jenis Kelamin Frekuensi Persen (%)
YA 61 61
TIDAK 39 39

16
F7. MINI PROJECT

Total 100 100


Sumber : Data Sekunder
Tabel 4.4 Gambaran tindakan reproduksi peserta sebelum dilakukan penyuluhan Kesehatan
Reproduk Remaja di MTS-MA Monongkoki dan MTS-MA Muhammadiyah Palekko,
Kabupaten Takalar
Jenis Kelamin Frekuensi Persen (%)
YA 55 55
TIDAK 45 45
Total 100 100
Sumber : Data Sekunder

Setelah menyimak penyuluhan yang dibawakan oleh panitia, peserta kembali


mengisi kuisioner sebagai bahan evaluasi dan di dapatkan hasil kuisioner post-test
adalah sebagai berikut :
Tabel 4.5 Gambaran sikap peserta setelah dilakukan penyuluhan Kesehatan Reproduksi
Remaja di MTS-MA Monongkoki dan MTS-MA Muhammadiyah Palekko, Kabupaten
Takalar
Jenis Kelamin Frekuensi Persen (%)
YA 90 90
TIDAK 10 10
Total 100 100
Sumber : Data Sekunder
Tabel 4.6 Gambaran tindakan reproduksi peserta setelah dilakukan penyuluhan Kesehatan
Reproduk di MTS-MA Monongkoki dan MTS-MA Muhammadiyah Palekko, Takalar
Jenis Kelamin Frekuensi Persen (%)
YA 85 85
TIDAK 15 15
Total 100 100
Sumber : Data Sekunder
4.4 Pembahasan dan Diskusi
Karakteristik umur responden yaitu berumur 13-15 tahun sebanyak 60 orang
(60%) dan 16-18 tahun sebanyak 40 orang (40%) , dimana ini adalah usia seseorang
mengalami Pubertas yaitu masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik,
psikis, dan pematangan fungsi seksual. Pada usia ini remaja menempuh pendidikan di
sekolah mengengah pertama dan sekolah menengah atas. Pada masa ini memang
pertumbuhan dan perkembangan berlangsung dengan cepat. Pada wanita pubertas

17
F7. MINI PROJECT

ditandai dengan menstruasi pertama (menarche), sedangkan pada laki-laki ditandai


dengan mimpi basah.[1]. Kini, dikenal adanya pubertas dini pada remaja. Penyebab
pubertas dini ialah bahwa bahan kimia DDT sendiri, DDE, mempunyai efek yang
mirip dengan hormon estrogen. Hormon ini diketahui sangat berperan dalam
mengatur perkembangan seks wanita.
Karakteristik jenis kelamin responden yaitu perempuan sebanyak 70 orang (70%)
dan laki-laki sebanyak 30 orang (30%). Seorang anak akan menunjukkan tanda-tanda
awal dari pubertas, seperti suara yang mulai berubah, tumbuhnya rambut-rambut pada
daerah tertentu dan payudara membesar untuk seorang gadis. Untuk seorang anak
perempuan, tanda-tanda itu biasanya muncul pada usia 10 tahun ke atas dan pada
anak laki-laki, biasanya lebih lambat, yaitu pada usia 11 tahun ke atas. Perubahan
fisik yang terjadi pada masa pubertas bertanggung-jawab atas munculnya dorongan
seks. Pemuasan dorongan seks masih dipersulit dengan banyaknya tabu sosial,
sekaligus juga kekurangan pengetahuan yang benar tentang seksualitas. Namun sejak
tahun 1960-an, aktivitas seksual telah meningkat di antara remaja; studi akhir
menunjukkan bahwa hampir 50 persen remaja di bawah usia 15 dan 75 persen di
bawah usia 19 melaporkan telah melakukan hubungan seks.
Sebelum melakukan tindakan intervensi yaitu melakukan penyuluhan Kesehatan
Reproduksi, peserta mengisi kuisioner terlebih dahulu dan di dapatkan hasil antara
lain pengetahuan peserta tentang kesehatan reproduksi sebelum penyuluhan di bagi
menjadi tiga kategori yaitu baik,cukup dan kurang dan di dapatkan hasil yang
menjawab dengan baik yaitu hanya 10 orang (10%), menjawab cukup sebanyak 30
orang (30%) dan yang menjawab kurang yaitu sebanyak 60 orang (60%). Hal ini
memperlihatkan masih kurangnya pengetahuan peserta tentang kesehatan reproduksi.
Sikap peserta terhadap kesehatan reproduksi dibagi menjadi dua kategori yaitu ya
atau setuju sebanyak 69 orang (69%) dan tidak atau tidak setuju sebanyak 31 orang
(31%). Hal ini memperlihatkan peserta telah peduli terhadap pentingnnya
pengetahuan tentang kesehatan reproduksi.
Tindakan reproduksi remaja dibagi menajdi dua kategori yaitu ya dan tidak. Ya
berarti peserta peduli melakukan tindakan reproduksi dan sebaliknya. Hasilnya di

18
F7. MINI PROJECT

dapatkan yang peduli melakukan tindakan reproduksi sebanyak 55 orang (55%) dan
yang belum peduli sebanyak 45 orang (45%).
Setelah menyimak penyuluhan yang disampaikan oleh panitia, peserta kembali
mengisi kuisioner sebagai bahan evaluasi dan di dapatkan hasil kuisioner post-test
adalah pengetahuan peserta tentang kesehatan reproduksi setelah penyuluhan
dapatkan hasil yang menjawab dengan baik yaitu 55 orang (55%), menjawab cukup
sebanyak 35 orang (35%) dan yang menjawab kurang yaitu sebanyak 10 orang
(10%). Hal ini memperlihatkan setelah penyuluhan terjadi peningkatan pengetahuan
peserta tentang kesehatan reproduksi.
Sikap peserta setelah menyimak penyuluhan kesehatan reproduksi sebanyak 90
orang (90%) ya atau setuju dan tidak atau tidak setuju sebanyak 10 orang (10%). Hal
ini memperlihatkan peningkatan peserta yang peduli terhadap pentingnnya
pengetahuan tentang kesehatan reproduksi.
Tindakan reproduksi remaja setelah menyimak penyuluhan kesehatan reproduksi
dibagi menajdi dua kategori yaitu ya dan tidak. Ya berarti peserta peduli melakukan
tindakan reproduksi dan sebaliknya. Hasilnya di dapatkan yang peduli melakukan
tindakan reproduksi sebanyak 85 orang (85%) dan yang belum peduli sebanyak 15
orang (15%). Hal ini memperlihatkan peningkatan kepedulan peserta terhadap
tindakan reproduksi sehat setelah menyimak penyuluhan.
4.5 Saran
1. Bagi Institusi Pendidikan Pihak sekolah diharapkan untuk dapat membantu siswa
untuk mendapatkan informasi-informasi tentang kesehatan reproduksi pada
remaja sehingga membantu mereka dalam pencegahan perilaku negatif dalam
lingkup kesehatan reproduksi remaja
2. Bagi Orang tua Diharapkan dari hasil penelitian ini para orang tua dapat
mengetahui dan menambah wawasan mengenai kesehatan reproduksi remaja dan
hubungannya dengan keluarga sehingga orang tua dapat mencegah terjadinya
masalah yang berdampak pada kesehatan reproduksi anaknya.
3. Bagi peneliti selanjutnya. Untuk penelitian selanjutnya yang berminat untuk
mengangkat tema yang sama diharapkan menggunakan penelitian ini sebagai
acuan, sehingga dapat mpertimbangkan variabel lain yang lebih mempengaruhi

19
F7. MINI PROJECT

pengetahuan dan sikap remaja tentang kesehatan reproduksi seperti interaksi


dengan orang yang lebih dewasa atau teman sebaya, cara pergaulan atau kualitas
lingkungan dan disarankan juga untuk menggunakan alat ukur yang memiliki
realibilitas yang lebih tinggi. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah
menggunakan data tambahan seperti observasi dan wawancara agar hasil yang
didapat lebih mendalam dan sempurna, karena tidak semua hal dapat diungkap
dengan kuesioner.

Peserta Pendamping

(dr. Irma Noviana Iskandar) ( dr. Aztiah )

20